|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Wed Oct 27, 2010 10:29 am | |
| PENDEKATAN HOLISTIK PASIEN HIV/AIDS Senin, 25 Oktober 2010 | 08:35 WIB Kompas.com - Orang dengan HIV/AIDS menghadapi masalah besar. Selain mengalami tekanan biologis dan psikologis, pasien biasanya juga tertekan secara psikososial. Karenanya, penanganan pasien HIV/AIDS harus dilakukan secara holistik. Virus jelas mengganggu fungsi tubuh sehingga membuat panik dan takut ketika dinyatakan terinfeksi. Kondisi pasien makin parah ketika masyarakat dan keluarga memberi stigma serta mendiskriminasi pasien," tutur Prof dr Nasronudin yang dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, Sabtu (23/10).
Dalam pengukuhan ini, Nasronudin menyampaikan orasi berjudul Penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia Berbasis Biopsikososio-Spiritual Excellence. Masalah berat pasien HIV/AIDS dipahami Nasronudin yang saat ini menjabat sebagai Ketua Institut of Tropical Disease (ITD) Unair. Untuk itu, penanganan pasien HIV/AIDS tidak hanya memerlukan perawatan yang komprehensif dan berkesinambungan dari dokter, diperlukan juga dukungan keluarga dan masyarakat. Dokter tidak bisa sekadar mengobati, tetapi juga merawat dengan hati.
Kenyataannya, penyebaran HIV/AIDS sangat pesat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 58 juta jiwa terinfeksi HIV dan 22 juta jiwa di antaranya meninggal karena AIDS pada tahun 2000. Setiap hari 7.000 orang meninggal karena AIDS, sementara 16.000 orang di berbagai belahan dunia baru terinfeksi . Di Indonesia, pada Juni 2010 sudah terdapat 21.770 kasus. Pertambahan ini sangat pesat. Dalam catatan Kementerian Kesehatan, jumlah kasus AIDS pada tahun 2004 masih 2.684. Lima tahun kemudian, jumlah itu meningkat menjadi 17.699 orang.
Unit perawatan Menyadari penularan HIV/AIDS sangat pesat dan masalah yang dihadapi pasien sangat berat, Nasronudin menginisiasi unit pelayanan khusus terpadu pada tahun 2004. ”Tantangannya luar biasa besar ketika merintis UPIPI (Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi). Kesannya pasien HIV/AIDS akan disendirikan dan didiskriminasi. Setelah diketahui pelayanan yang diberikan kelas 1 dengan tarif kelas 3, UPIPI diterima dan bermanfaat,” kata ayah tiga anak itu. Kini, pasien HIV/AIDS mendapat layanan terpadu di UPIPI. Dokter spesialis syaraf, spesialis kejiwaan, spesialis penyakit dalam, spesialis paru, jantung, dan obstetri ginekologi siap membantu. Bahkan, biasanya terdapat pula pemuka agama untuk memberi konsultasi spiritual dan menguatkan hati pasien.
Perangkat laboratorium ITD untuk memeriksa virus HIV/AIDS , kata Nasronudin, kini semakin lengkap. Tahun ini ITD memiliki nucli-sens yang mampu mendeteksi virus HIV yang masih 15 kopi dalam darah atau sekitar 4-11 hari setelah terpapar. Kebanyakan, alat deteksi virus HIV baru mampu memantau keberadaan virus ketika sudah mencapai 400.000 kopi atau 3 minggu hingga 3 bulan setelah terpapar. Semakin dini terdeteksi, pengobatan bisa segera dilakukan. Selain itu, nucli-sens yang diimpor dari Perancis ini diuji untuk memisahkan virus HIV dari sperma pasien. Bila ini bisa dilakukan, kata dia, pasien HIV/AIDS lelaki bisa memiliki keturunan dengan sistem bayi tabung tanpa khawatir menularkan pada istri maupun anak. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Wed Oct 27, 2010 10:36 am | |
| DANA PENANGGULANGAN HIV/AIDS BERGANTUNG ASING Rabu, 27 Oktober 2010 | 06:38 WIB Jakarta, Kompas - Penanggulangan HIV/AIDS masih terlalu bergantung pada pendanaan asing sehingga dikhawatirkan keberlanjutannya. Hal itu terungkap dalam rapat dengar pendapat Panitia Kerja MDGs DPR dengan sejumlah organisasi masyarakat dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Senin (25/10) di Jakarta. Koordinator United Nation General Assembly Special Session (UNGASS) on AIDS Forum Indonesia Aditya Wardhana mengatakan, anggaran penanggulangan HIV/AIDS sejauh ini sekitar 60 persen dari dana asing. Dalam National AIDS Spending Assessment 2010 yang kemudian dituangkan dalam Laporan Kemajuan Negara dalam Program AIDS untuk UNGASS on AIDS 2010, pembelanjaan untuk program AIDS tahun 2010 sebesar 50,8 juta dollar AS dan 60,97 persen masih didominasi oleh pendanaan donor. ”Obat antretroviral itu benar-benar dari dana asing,” ujarnya.
Tingginya ketergantungan itu menimbulkan berbagai kekhawatiran, terutama terkait keberlangsungan berbagai program nantinya. Percepatan ekonomi mengarahkan Indonesia menjadi negara dengan pendapatan menengah dengan konsekuensinya ialah semakin terbatasnya dana asing. Oleh karena itu, perlu dipersiapkan kemandirian pendanaan.
Sekretaris KPAN Nafsiah Mboi mengatakan hal senada. ”Ketar-ketir juga. Sebagian besar dana penanggulangan masih dari dana luar negeri dan dengan sengaja dicari dana itu agar penanggulangan lebih cepat dari penyebaran virusnya. Memang ada kritik, tetapi ini semua agar jangan lebih banyak orang yang sengsara,” ujarnya. Pada Juli 2010, misalnya, terdapat dukungan dana Global Fund untuk 137 kabupaten/kota guna penanggulangan pencegahan, pengobatan, dan mitigasi. (INE) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Mon Nov 15, 2010 10:44 am | |
| OBAT HIV BANTUAN PEMERINTAH Senin, 15 November 2010 | 10:00 WIB Keponakan saya yang berumur 23 tahun, lima tahun yang lalu dinyatakan terinfeksi HIV. Waktu itu dia siswa SMU kelas 3, tetapi karena sakit dia tak dapat melanjutkan sekolah. Pada waktu didiagnosis keadaannya amat parah. Berat badannya turun hampir 10 kilogram, pucat, dan batuk-batuk. Jika menelan makanan tenggorokannya sakit dan biasanya muntah. Dia juga mengalami diare berkepanjangan. Dia dirawat di rumah sakit sekitar satu bulan.
Untunglah keadaannya dapat pulih. Secara bertahap demam, batuk, dan diare hilang. Kami beruntung karena waktu itu pemerintah sudah menyediakan obat HIV gratis. Obat tersebut buatan Kimia Farma. Dia memakannya secara teratur sampai sekarang ini. Sekarang keadaannya dapat dikatakan sudah pulih. Berat badan sudah kembali seperti sebelum sakit dan dia sudah dapat melakukan kegiatan seperti biasa. Saya menganjurkan agar dia mengambil kursus keterampilan dan dia mengikuti kursus reparasi alat pendingin. Ternyata dia berbakat dalam bidang tersebut. Sekarang dia sudah punya perusahaan dengan lima orang karyawan. Langganannya cukup banyak.
Menurut dokter, HIV-nya sudah terkendali. Kekebalannya sudah normal kembali, bahkan jumlah virus dalam darahnya sudah tak terdeteksi. Untuk ke depan masih ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan. Apakah keponakan saya ini dapat berkeluarga, apakah istrinya nanti tak akan tertular HIV. Apakah dia boleh punya anak? Mengenai obat bantuan pemerintah ini sampai kapan kami akan mendapat gratis karena menurut dokter, obat ini perlu dikonsumsi terus-menerus. Keponakan saya ini punya adik laki-laki yang menderita hepatitis B kronik. Menurut dokter, obat untuk virus HIV juga dapat digunakan untuk hepatitis B. Mungkinkah adiknya juga mendapat obat gratis untuk hepatitis B? Mohon penjelasan dokter. Terima kasih.
P di J
Pemerintah kita memang sejak tahun 2005 sudah menyediakan obat HIV yang disubsidi penuh (cuma-cuma). Ini sejalan dengan anjuran WHO agar orang dengan HIV yang memerlukan obat ini dapat menggunakannya dengan mudah. Semula obat HIV yang digunakan di Indonesia merupakan obat impor, tetapi sejak tahun 2004 telah diproduksi sendiri oleh perusahaan pemerintah Kimia Farma.
Manfaat obat HIV yang dikenal sebagai obat antiretroviral (ARV) cukup banyak. Obat ini jika digunakan secara teratur akan dapat menurunkan angka kematian, mengurangi keperluan penderita dirawat di rumah sakit, memulihkan kekebalan tubuh yang rendah, menekan berkembangbiaknya HIV, dan tak kalah pentingnya mengurangi risiko penularan. Mereka yang belum mendapat terapi ARV biasanya jumlah virus dalam tubuhnya tinggi sehingga berisiko menularkan pada orang lain. Penularan HIV dapat terjadi melalui penggunaan jarum suntik bersama, hubungan seksual tak aman, dan juga dari ibu hamil yang HIV positif kepada bayinya. Bila jumlah virus dapat ditekan oleh obat ini, apalagi jika virusnya tak terdeteksi, risiko penularan menjadi amat turun.
Pada kongres AIDS Asia Pasifik di Bali, Pemerintah Indonesia mengungkapkan komitmen yang kuat untuk melalukan upaya pengendalian HIV di negeri kita. Salah satu bentuk komitmen tersebut selain upaya pencegahan adalah penyediaan obat ARV melalui anggaran belanja pemerintah. Tantangan ke depan yang akan kita hadapi adalah kebutuhan obat ARV yang kemungkinan akan meningkat karena masih banyak saudara-saudara kita yang belum menjalani tes HIV. Jika tes HIV positif dan memenuhi kriteria pengobatan, tentu akan diberikan ARV. Begitu pula ibu hamil yang HIV positif perlu mendapat ARV selain untuk dirinya, juga untuk mencegah bayinya tak tertular. Jadi, ARV selain untuk terapi juga dapat digunakan untuk pencegahan.
Saya bergembira keadaan keponakan Anda secara fisik sudah pulih. Bahkan, dia sudah dapat mandiri dengan usahanya. Amatlah wajar jika dia mulai memikirkan untuk berkeluarga dan mempunyai anak. Peluang untuk itu terbuka lebar dan yang perlu dijaga adalah agar istri dan anaknya jangan sampai tertular HIV. Untuk itu, dia dapat berkonsultasi dengan dokter yang mengobatinya.
Memang benar obat ARV, seperti lamivudin dan tenofovir, juga dapat digunakan untuk terapi hepatitis B kronik. Kita berharap Kementerian Kesehatan dapat mempertimbangkan hal ini. Karena dana yang digunakan adalah dana kita sendiri, mudah-mudahan tidaklah sulit membuat kebijakan baru untuk membantu saudara-saudara kita yang tak mampu membeli obat virus hepatitis B. Sekarang ini sekitar 300.000 orang terinfeksi HIV dan menurut perkiraan sampai tahun 2020 jumlah orang yang terinfeksi HIV di negeri kita masih akan meningkat.
Di samping komitmen dan usaha yang telah ditunjukkan oleh pemerintah pusat, kita berharap pemerintah daerah juga memiliki komitmen yang kuat. Pemerintah daerah diharapkan dapat membantu meningkatkan keberhasilan pengendalian HIV di negeri kita. Sebenarnya beberapa pemerintah daerah telah menunjukkan usaha nyata dan kita berharap pemerintah daerah lainnya juga akan menyusul.
Sampai sekarang jumlah bantuan dari luar negeri untuk pengendalian HIV di negeri kita masih tergolong tinggi. Bantuan tersebut kita perlukan dan patut kita hargai. Namun, kita perlu berusaha untuk meningkatkan kapasitas nasional kita sehingga ketergantungan pada bantuan luar secara bertahap dapat berkurang. Banyak negara yang telah berhasil mengendalikan HIV, seperti di ASEAN, misalnya Thailand. Di samping usaha Pemerintah Thailand yang sungguh-sungguh, faktor dukungan masyarakat amatlah penting. Mudah-mudahan dalam waktu yang tak terlalu lama kita juga akan berhasil mengendalikan HIV di negeri kita.
DR Samsuridjal Djauzi |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Thu Nov 18, 2010 11:11 am | |
| 1,6 JUTA PEREMPUAN BERISIKO TERINFEKSI HIV Kamis, 18 November 2010 | 09:36 WIB Jakarta, Kompas — Sekitar 1,6 juta perempuan berisiko terinfeksi HIV lantaran menikah atau berhubungan seksual dengan laki-laki berisiko tinggi. Penularan HIV lewat hubungan heteroseksual saat ini paling sulit dikendalikan. Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Nafsiah Mboi mengatakan di Jakarta, Senin (15/11/2010), berdasarkan pemodelan dari KPAN, laki-laki berisiko tinggi merupakan laki-laki pelanggan atau pembeli seks—jumlahnya sekitar 3,1 juta—dan 230.000 pengguna narkoba jarum suntik yang juga kemungkinan membeli seks. Pria berisiko tinggi karena melakukan aktivitas seksual tidak aman (tanpa kondom) dan kemudian menularkan HIV kepada pihak lain.
Menurut Nafsiah Mboi, masih amat sulit mengubah perilaku, termasuk membiasakan penggunaan kondom. ”Perempuan pekerja seks punya posisi tawar sangat rendah sehingga sulit memastikan pelanggannya memakai kondom. Apalagi ada iming-iming dibayar lebih banyak jika tanpa kondom,” kata Nafsiah. Padahal, berdasarkan survei KPAN, pengetahuan laki-laki sebetulnya cukup tinggi tentang bahaya penularan penyakit dan manfaat penggunaan kondom. ”Kecuali di Jepang yang laki-lakinya terbiasa memakai kondom,” ujarnya.
Upaya penanggulangan HIV/AIDS di kalangan perempuan pekerja seks pun semakin tidak mudah karena pembubaran lokalisasi yang sepertinya bertujuan baik sebenarnya kontraproduktif dengan penanggulangan HIV/AIDS. ”Kebijakan yang menyatakan prostitusi sebagai maksiat dan pembubaran lokalisasi, misalnya, mengakibatkan pekerja seks komersial masuk populasi umum dan rumah-rumah penduduk sehingga sulit terjangkau program penanggulangan HIV dan tes kesehatan,” ujarnya. (INE) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Fri Nov 19, 2010 3:50 pm | |
| BUKAN HIV YANG MEMBUNUH TAPI TBC Jumat, 19/11/2010 15:24 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Johannesburg, HIV/AIDS tidak menyebabkan kematian, tetapi membuka peluang untuk berbagai infeksi penyerta. Dari berbagai jenis infeksi penyerta, yang paling banyak membunuh penderita HIV adalah TBC, pneumonia dan influenza. Laporan terbaru dari badan statistik Afrika Selatan, TBC menyebabkan 7.500 kematian pada pengidap HIV atau hampir 50 persen selama tahun 2008. Peringkat berikutnya ditempati pneumonia dan influenza, yang menyebabkan 45.600 kematian pada tahun yang sama.
Meski wabah HIV/AIDS di Afrika Selatan diyakini telah mencapai puncak pada tahun 2006, kenaikan angka kematian pengidap HIV/AIDS kembali menunjukkan peningkatan pada tahun 2008. Peningkatannya tersebut cukup signifikan, dari 13.561 pada tahun 2007 menjadi 15.097 pada 2008. Angka ini cukup tinggi dibandingkan angka kematian secara umum. Statistik mencatat angka kematian di negara ini mencapai 592.073 selama tahun 2008, sebagian besar karena sebab-sebab alami dan hanya 52.950 yang tidak alami misalnya karena sakit dan kecelakaan.
"Temuan ini didasarkan pada kematian yang tercatat oleh Kementeraian Dalam Negeri. Angka sebenarnya bisa lebih besar lagi," ungkap Pali Lehohla dari Statistics South Africa, seperti dikutip dari Timeslive, Jumat (19/11/2010). Bukan hal yang mengejutkan memang, sebab di negara ini TBC selalu menjadi penyebab terbanyak kematian pada pengidap HIV/AIDS. Statistik mencatat, infeksi TBC telah menduduki peringkat pertama sejak tahun 1997.
Meski dari masa ke masa kematian pengidap HIV/AIDS cukup tinggi, penyakit ini tidak pernah sekalipun dicatat sebagai penyebab kematian. Tanpa ada infeksi penyerta, HIV/AIDS sebenarnya tidak akan menyebabkan kematian. Namun infeksi HIV bisa menyebabkan tubuh kehilangan sistem kekebalan tubuh, sehingga membuka peluang masuknya berbagai infeksi penyerta termasuk TBC. Tanpa ada sistem kekebalan tubuh, infeksi sekecil apapun akan mudah menyebabkan kematian.
Penularan HIV Ketika seseorang terinfeksi maka gejala awal yang muncul terkadang mirip dengan flu atau infeksi virus sedang. Gejala dan tanda awal dari HIV termasuk demam, sakit kepala, kelelahan, mual, diare dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak atau pangkal paha.
Pusat pengendalian penyakit (Center for Disease Control/CDC) mengungkapkan ada beberapa gejala yang menunjukkan stadium lanjut dari HIV yaitu: 1. Kehilangan berat badan dengan cepat tanpa adanya alasan 2. Batuk kering 3. Demam berulang atau berkeringat saat malam hari 4. Kelelahan 5. Diare yang lebih dari seminggu 6. Kehilangan memori 7. Depresi dan juga gangguan saraf lainnya.
HIV disebabkan kebanyakan karena perilaku gonta ganti pasangan seks tanpa menggunakan kondom atau orang-orang yang memakai narkoba karena gantian menggunakan jarum suntik.
HIV menular melalui: 1. Hubungan kelamin dan hubungan seks oral atau melalui anus 2. Transfusi darah 3. Penggunaan bersama jarum terkontaminasi melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan 4. Antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Wed Nov 24, 2010 3:55 pm | |
| TENAGA KESEHATAN SERING DISKRIMINATIF TERHADAP PASIEN DENGAN HIV/AIDS Rabu, 24/11/2010 08:33 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Stigma negatif tak hanya dialami orang dengan HIV/AIDS (ODHA) saat berada di lingkungan kerja dan pergaulan saja. Menurut penelitian, stigma negatif terhadap ODHA justru paling banyak diberikan oleh petugas di tempat-tempat layanan kesehatan. Bisa dipahami jika penularan HIV/AIDS begitu ditakuti, sebab hingga kini memang belum ada obatnya. Namun ketakutan yang berlebihan ditambah kurangnya pengetahuan sering memunculkan stigma negatif, misalnya mengaitkan penyakit ini dengan moral dan mengucilkan penderitanya. Masih segar dalam ingatan, Menkominfo Tifatul Sembiring pernah menuai kritik atas jokenya yang mengandung stigma negatif tentang AIDS pada Rabu (29/9/2010). Ketika itu ia mengutip pernyataan mantan Menkes Prof Sujudi bahwa AIDS adalah singkatan dari 'Akibat Itunya Dipakai Sembarangan'.
Kenyataannya HIV/AIDS tidak selalu ditularkan lewat hubungan seks yang tidak aman. Bahkan dr Aritha Herawati dari Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta saat dihubungi detikHealth, Kamis (30/9/2010), mengatakan risiko penularan HIV paling tinggi adalah lewat jarum suntik. Fakta lain yang sering tidak dipahami adalah bahwa HIV dan AIDS adalah 2 hal yang berbeda. HIV bisa menjangkiti seseorang tanpa menyebabkan AIDS sehingga tetap bisa hidup normal, bahkan yang mengejutkan adalah 9 dari 10 pengidap HIV positif tidak menyadari bahwa dirinya telah terjangkit.
Pandangan-pandangan keliru tentang HIV/AIDS dan ODHA bukan saja dimonopoli oleh orang awam, melainkan juga tenaga kesehatan terutama yang belum paham betul soal HIV dan penularannya. Dalam survei yang dilakukan tahun 2006, kelompok ini justru paling banyak memberikan stigma negatif terhadap ODHA. "Dasarnya adalah ketakutan, sebab waktu itu sebagian besar tenaga kesehatan belum dilatih," ungkap Sekretaris Komisi Penganggulangan AIDS Nasional, Nafsiah Mboi dalam diskusi publik bertema "HIV Positif, Tetap Produktif! Ketahui Status Anda, Lebih Cepat Lebih Baik!" di MU Cafe Sarinah, Jakarta, Selasa (23/11/2010).
Ketakutan itu menurut Nafsiah cukup beralasan sebab tenaga kesehatan sering bekerja dengan jarum suntik sehingga punya risiko tinggi untuk tertular. Namun pada tenaga kesehatan yang sudah diberi pemahaman tentang HIV/AIDS, ketakutan yang berlebihan semacam itu tidak terjadi. Rully Winata, seorang laki-laki sehat pernah merasakan sendiri perlakuan diskriminatif dan stigma negatif dari beberapa perawat di sebuah rumah sakit. Ia mengalami hal itu ketika istrinya, Putri Cherry yang merupakan pengidap HIV positif tengah mengandung anak pertama.
"Sejak trimester pertama istri saya disarankan untuk ikut program terapi ARV (antiretrovirus). Tidak semua, tapi beberapa perawat tampak agak-agak ketakutan ketika harus melayani kami," ungkap Rully yang sudah 3 tahun berumah tangga dengan ODHA namun tidak tertular. Mendapat perlakuan diskriminatif seperti itu, Rully dan Putri tidak lantas rendah hati tetapi berusaha untuk memahami ketakutan para perawat. "Kami tidak ingin drop dengan pikiran-pikiran negatif, kami anggap ini semua demi kebaikan mereka juga agar tidak tertular," katanya dengan tegar. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Wed Nov 24, 2010 4:18 pm | |
| ADA KAITAN HIV DENGAN RESISTENSI INSULIN Rabu, 24 November 2010 | 15:12 WIB WASHINGTON, KOMPAS.com - Para ilmuwan dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington menemukan penyebab mengapa begitu banyak orang yang terserang virus HIV mengalami resistensi insulin yang memicu diabetes dan penyakit jantung. Menurut mereka, masalahnya terletak pada obat yang mencegah perkembangan AIDS dan memperpanjang umur pasien HIV. Para ilmuwan berharap, penemuan itu akan membuka jalan bagi pengembangan obat antiviral yang lebih aman. Riset, yang dipublikasikan bulan ini dalam Journal of Biological Chemistry, menunjukkan, obat inhibitor protease HIV secara langsung mengganggu pengendalian kadar gula darah dalam tubuh. Hal ini memicu resistensi insulin, kondisi yang terjadi saat tubuh memproduksi insulin dalam jumlah cukup tetapi tidak digunakan dengan tepat.
Paul Hruz, guru besar pediatrik dan biologi pada Fakultas Kedokteran itu, memimpin sebuah tim yang menemukan inhibitor protease generasi pertama, termasuk obat ritonavir, sebuah protein yang mengangkut glukosa dari darah ke dalam sel yang memerlukan. Hal itu menaikkan kadar gula darah, sebuah pertanda dari diabetes. "Laboratorium kami menemukan bahwa salah satu efek dari obat ini akan menghambat transportasi glukosa, salah satu langkah paling penting dalam cara kerja insulin. Kini kami menemukan mekanisme utamanya, kami akan mencoba untuk mengembangkan obat baru yang mengobati HIV tapi tidak menyebabkan diabetes," katanya.
Hruz mengatakan sekitar 25 persen pasien HIV mengalami diabetes. Tim tersebut bekerja dengan sebuah pengembang obat untuk menciptakan sebuah obat baru HIV yang juga tidak menyebabkan virus itu menjadi resisten. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menyerang bagian utama sistem kekebalan tubuh, yang menyebabkan tubuh terbuka terhadap serangan infeksi dan penyakit termasuk AIDS, yang merupakan tahap akhir dari penyakit tersebut. Pemerintah AS memperkirakan terdapat lebih dari 56.000 kasus baru HIV setiap tahun dan lebih dari 25 juta orang meninggal akibat AIDS sejak penyakit itu pertama kali ditemukan oleh Pusat untuk Kendali Penyakit AS pada 1981. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Wed Nov 24, 2010 8:40 pm | |
| DITEMUKAN OBAT UNTUK KURANGI RISIKO HIV Rabu, 24 November 2010 | 16:44 WIB Kompas.com — Obat antiretroviral atau ARV yang biasa dipakai untuk menurunkan jumlah virus pada penderita HIV kini dikembangkan untuk mencegah penularan HIV, khususnya di kalangan pria gay dan biseksual. Truvada, nama obat tersebut, merupakan kombinasi antara dua jenis ARV. Obat ini diproduksi oleh perusahaan farmasi California, Gilead Sciences. Dalam sebuah uji coba diketahui bahwa obat ini mampu mengurangi risiko penularan HIV hingga 44 persen.
Penelitian melibatkan sekitar 2.500 pria gay atau biseksual dari Peru, Ekuador, Brasil, Afrika Selatan, Thailand, dan Amerika Serikat. Mereka secara random diberikan pil Truvada dan sisanya mendapat pil placebo. Semua partisipan studi juga diberikan kondom dan konseling mengenai seks yang aman. Setelah empat tahun penelitian, para peneliti menemukan bahwa obat itu cukup efektif mengurangi angka penularan pada kelompok yang mendapat pil Truvada hingga 44 persen. Mereka yang mengonsumsi pil secara rutin diperkirakan risiko infeksinya bisa dikurangi hingga 73 persen.
Akan tetapi, muncul pertanyaan seputar hasil penelitian yang didanai oleh Yayasan Bill & Melinda Gates Foundation ini. Sebagian pakar menilai, penurunan angka infeksi itu bisa disebabkan oleh penggunaan kondom pada kelompok yang mendapat pil. Para ahli juga menyatakan, harga pil yang cukup mahal, yakni 36 dollar AS (sekitar Rp 300.000) sehari, akan membuat pil ini tidak bisa dikonsumsi banyak orang.
Menjawab pertanyaan tersebut, Dr Anthony Fauci dari National Institute of Allergy and Infectious Diseases mengatakan bahwa penelitian ini bersifat random dan obat ini bersifat sebagai pelengkap dalam upaya pencegahan HIV. "Kondom dan setia pada pasangan seksual merupakan cara pencegahan yang utama," katanya. Ia juga menjelaskan bahwa tujuan dari penelitian ini adalah menambahkan sistem pertahanan pada pencegahan infeksi HIV dan bukan menggantikan yang sudah ada sekarang. "Sangat penting untuk menambah upaya pencegahan, terutama pada kelompok paling berisiko," katanya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Thu Nov 25, 2010 3:06 pm | |
| CARA BERMAIN SEKS YANG BERISIKO TINGGI MENULARKAN HIV Kamis, 25/11/2010 12:38 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Selain lewat jarum suntik yang tidak steril, human imunodeficiecy viruses (HIV) juga ditularkan melalui hubungan seks yang tidak aman. Beberapa cara bermain seks juga berisiko menularkan penyakit yang tidak ada obatnya itu. Bergonta-ganti pasangan, tidak menggunakan kondom dan bermain kasar (rough sex) sehingga menimbulkan luka adalah hal-hal yang menjadi pemicu penularan penyakit. Agar tidak terkena penyakit kelamin atau HIV, perlu diketahui perilaku apa saja yang sebenarnya meningkatkan risiko penularannya. Seperti dikutip dari Health24, Kamis (25/11/2010), beberapa perilaku yang berisiko tinggi menularkan HIV adalah:
1. Seks anal (melalui dubur) tanpa pelindung Kurangnya pelumasan pada jenis hubungan seks anal (melalui dubur) bisa menyebabkan lecet pada penis dan mukosa dubur, sehingga mudah menularkan virus. Penggunaan pelumas bisa mengurangi risiko terjadinya luka sementara kondom mencegah penularan.
2. Seks oral tanpa pelindung Kontak seksual antara mulut dengan penis juga bisa menularkan HIV. Apabila ada sariawan di mulut atau luka di penis akibat penyakit kelamin, gunakan kondom untuk menutup penis atau dental dam (lateks penutup gigi) untuk melindungi mulut.
3. Saling bertukar alat bantu seks Meski HIV tidak bisa bertahan lama hidup di luar tubuh manusia, risiko penularan melalui vibrator atau jenis alat bantu seks lainnya tetap ada. Penggunaan pelumas bisa mengurangi risiko abrasi atau pengikisan pada dinding anus, sementara kondom bisa dipakai jika terpaksa harus berbagi alat bantu seks.
4. Hubungan seks saat menstruasi Keluarnya darah dan kemungkinan adanya pembuluh darah yang terbuka jelas meningkatkan risiko penularan virus. Apapun orientasi seksualnya, hubungan seks saat menstruasi sebisa mungkin harus dihindari.
5. Tindik dan cukur rambut kemaluan Gesekan yang terjadi saat berhubungan seks bisa menyebabkan luka pada bibir kemaluan yang menggunakan percing atau tindik, sehingga membuka pintu untuk masuknya virus. Mencukur rambut kemaluan juga bisa memicu luka, dan sebaiknya tidak saling bertukar alat cukur.
6. Bergantian memasukkan jari Dalam hal peningkatan risiko menularkan HIV, perilaku ini sama bahayanya dengan saling bertukar alat bantu seks. Jika kurang nyaman memasangkan kondom pada jari, dianjurkan untuk memakai sarung tangan lateks saat saling menstimulasi vagina. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Thu Nov 25, 2010 3:08 pm | |
| BANCI PALING RENTAN KENA HIV Kamis, 25/11/2010 10:47 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Jakarta, Virus Human Immunodeficiency Virus (HIV) bisa menyebar dimana-mana dan menginfeksi siapa saja. Tapi menurut laporan PBB tentang epidemi AIDS, transgender (banci) berada pada risiko tinggi tertular infeksi HIV karena info yang terbatas. Dari laporan UNAIDS 2010 tentang epidemi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) global ditemukan beberapa kelompok yang paling berisiko tinggi mendapatkan infeksi HIV di India pada tahun 2009 yaitu 9,2 persen pengguna narkoba suntik, 7,3 persen laki-laki homoseksual dan transgender, serta 4,9 persen wanita pekerja seks komersil (PSK). "Transgender (orang yang berperilaku berlawanan dengan jenis kelaminnya) berisiko tinggi karena informasi yang mereka terima tentang HIV/AIDS sangat terbatas, sehingga membuat kelompok ini berada di risiko terbesar," kata Charles Gilks, koordinator UNAIDS India, seperti dilansir Indiavision, Kamis (25/11/2010).
Selain itu, data dari 78 negara menunjukkan bahwa penggunaan kondom pada laki-laki yang berhubungan seksual dengan laki-laki (homoseksual) semakin bertambah, yaitu mencapai lebih dari 50 persen di 54 negara. Laporan penggunaan kondom oleh pekerja seks juga semakin bertambah. Di 69 negara, lebih dari 60 persen pekerja seks sudah menggunakan kondom dengan pasangannya. Sedangkan akses terhadap layanan pencegahan HIV termasuk program pengurangan dampak buruk bagi orang pengguna narkoba suntik telah mencapai 32 persen. Jumlah ini masih jauh dari apa yang dibutuhkan untuk melindungi pengguna narkoba dari infeksi HIV di seluruh dunia. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Fri Nov 26, 2010 5:33 pm | |
| IBU RUMAH TANGGA BANYAK MENGIDAP AIDS Jum'at, 26 November 2010, 15:16 WIB Irina Damayanti, Mutia Nugraheni VIVAnews - Kasus penyakit HIV AIDS di Indonesia tiap tahun makin meningkat. Menurut data Kementerian Kesehatan RI, dalam lima tahun terakhir terjadi peningkatan dalam penyebarannya. Pada 2005, tercatat 5.321 orang terinfeksi HIV dan AIDS sementara pada bulan September 2010 tercatat 22.726 orang. Dilihat dari usia, pengidap AIDS paling banyak terjadi pada kelompok produktif yaitu dengan rentang usia 20 hingga 29 tahun, disusul kelompok umur 30 hingga 39 tahun. Yang sangat mengkhawatirkan, menurut data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, justru ibu rumah tangga yang paling banyak mengidap AIDS. "Dari sisi gender, diketahui ibu rumah tangga lah yang paling banyak mengidap AIDS. Sangat menyedihkan, karena banyak wanita yang tertular dari suaminya padahal perilaku seksual mereka tidak berisiko," kata Nafsiah Mboi, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, dalam acara pembukaan Pekan Kondom Nasional 2010, di Jakarta, 26 November 2011.
Pemicu penularan HIV AIDS terbesar sampai saat ini, menurut data Komisi Penanggulangan AIDS Nasional adalah hubungan seksual yang berisiko. Sebanyak 3,1 juta pria merupakan penikmat seks bebas, lalu 800 ribu lainnya berhubungan seksual sesama jenis. Sedangkan, 230 ribu pengidap terjangkit melalui jarum suntik yang digunakan secara bergantian. "Cara penularan HIV AIDS yang paling banyak adalah hubungan seks heteroseksual yaitu sebanyak 51 persen. Jadi perilaku seksual berisiko benar-benar harus diantisipasi dengan berbagai cara, salah satunya adalah menggunakan kondom," Nafsiah menambahkan. (kd) • VIVAnews |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Fri Nov 26, 2010 5:51 pm | |
| HIV JANGAN DITUTUP TUTUPI Jumat, 26/11/2010 14:38 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Penyakit HIV (human imunodeficiecy viruses) sebenarnya bisa dicegah jika orang mengetahui bagaimana cara penularannya. Karena itu informasi HIV sebaiknya jangan lagi ditutup-tutupi yang malah akan menambah korban yang berjatuhan. Dibutuhkan penyebaran informasi yang benar tentang HIV. Salah satu yang palaing efektif adalah melalui media massa yang dapat menjangkau banyak khalayak sehingga mempermudah upaya pencegahannya. Media dituntut untuk memberikan informasi yang jelas karena bila informasinya tidak akurat, media justru bisa menyesatkan.
Indikasi kurangnya informasi terungkap dalam penelitian yang dilakukan IBBS di berbagai kota di Indonesia pada tahun 2009. Meski 90-100 persen remaja pernah mendengar informasi tentang HIV, hanya kurang dari 40 persen yang benar-benar punya wawasan yang komprehensif. Penelitian yang dilakukan terhadap kelompok remaja usia SLTA ini juga mengungkap bahwa pengetahuan tentang cara pencegahan HIV hanya dimiliki oleh kurang dari 3 persen responden. Padahal sebenarnya 40-50 persen tahu cara penularannya.
Data ini cukup memprihatinkan jika melihat pertumbuhan penderita HIV di Indonesia yang masih cukup tinggi. Hingga tahun 2008, tingkat pertumbuhannya masih tercatat 2,7 juta kasus/tahun. Dirjen Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendiknas, Hamid Muhammad menilai laju penyebaran HIV bisa dihambat dengan pemberian informasi yang benar. Di antaranya mengenai apa saja yang harus dihindari agar tidak tertular. "Semakin ditutup-tutupi, semakin lemah upaya pencegahan yang bisa kita lakukan," kata Hamid saat membuka workshop jurnalistik - peliputan dan penulisan AIDS 2010 di Gedung Kemendiknas, Jakarta, Jumat (26/11/2010). Media massa bisa diandalkan dalam penyampaian informasi yang benar karena bisa menjangkau banyak kalangan. Ia menilai media massa punya tanggung jawab untuk membangkitkan kesadaran atau public awareness tentang HIV.
Namun ia berpesan, media harus memberikan informasi yang akurat, tidak diskriminatif dan bisa membangkitkan semangat para penderita. Informasi yang bias dan cenderung menghakimi hanya akan meresahkan dan tidak bermanfaat. Tahun 2010 ini, Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) menjadi tuan rumah peringatan hari AIDS sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Desember. Tujuan acara peringatan kali ini antara lain membangkitkan kesadaran akan bahaya HIV/AIDS.
Penularan HIV Ketika seseorang terinfeksi maka gejala awal yang muncul terkadang mirip dengan flu atau infeksi virus sedang. Gejala dan tanda awal dari HIV termasuk demam, sakit kepala, kelelahan, mual, diare dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak atau pangkal paha.
Pusat pengendalian penyakit (Center for Disease Control/CDC) mengungkapkan ada beberapa gejala yang menunjukkan stadium lanjut dari HIV yaitu: 1. Kehilangan berat badan dengan cepat tanpa adanya alasan 2. Batuk kering 3. Demam berulang atau berkeringat saat malam hari 4. Kelelahan 5. Diare yang lebih dari seminggu 6. Kehilangan memori 7. Depresi dan juga gangguan saraf lainnya.
HIV disebabkan kebanyakan karena perilaku gonta ganti pasangan seks tanpa menggunakan kondom atau orang-orang yang memakai narkoba karena gantian menggunakan jarum suntik.
HIV menular melalui: 1. Hubungan kelamin dan hubungan seks oral atau melalui anus 2. Transfusi darah 3. Penggunaan bersama jarum terkontaminasi melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan 4. Antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Fri Nov 26, 2010 6:49 pm | |
| INDONESIA HADAPI BEBAN GANDA Jumat, 26 November 2010 | 16:19 WIB Kompas.com - Penularan lewat hubungan seksual kembali menjadi cara penularan HIV/AIDS tertinggi di Indonesia. Sampai dengan bulan September 2010 tercacat 22.726 orang menderita AIDS. Sekitar 51,3 persen penularan berasal dari hubungan seksual pada pasangan heteroseksual dan 39, 6 persen infeksi berasal dari jarum suntik di kalangan pengguna narkoba. "Saat ini Indonesia menghadapi beban ganda dalam cara penularan seksual, yakni lewat jarum suntik dan hubungan seksual. Meski begitu, dibanding dengan sebelumnya tahun ini kasus infeksi baru lewat jarum suntik turun menjadi 39 persen dari 50 persen di tahun 2006," papar Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN), Nafsiah Mboi dalam acara peluncuran Pekan Kondom Nasional di Jakarta (26/11).
Ia menjelaskan, penurunan jumlah infeksi baru di kalangan pengguna narkoba itu antara lain disebabkan makin tingginya pengetahuan para pengguna narkoba mengenai HIV/AIDS. "Bisa dibilang sekarang mereka lebih bertanggung jawab. Bahkan, banyak yang membeli sendiri jarum suntik yang baru dan steril," katanya. Di lain pihak, saat ini terdapat 1,6 juta orang yang hidup dengan HIV karena tertular dari suami atau pasangan seksual mereka. "Jumlah orang yang terinfeksi HIV AIDS menurut pekerjaan, yang paling banyak adalah ibu rumah tangga, baru diurutan berikutnya pekerja seks," tambah Nafsiah.
Karena itu saat ini KPAN gencar mengampanyekan penggunaan kondom terutama untuk hubungan seksual beresiko. "Untuk mengejar target MDG's kini kami melakukan strategi total footbal. Para pekerja seks harus diberdayakan bahwa mereka berhak untuk sehat. Di lain pihak para laki-laki juga ditingkatkan kesadarannya akan tanggung jawabnya sebagai laki-laki untuk mau menggunakan kondom jika mereka memiliki risiko tertular penyakit seksual, termasuk HIV," katanya.
Penggunaan kondom masih dianggap sebagai cara paling mudah dan efektif dalam mencegah laju penyebaran infeksi menular seksual, terutama HIV. Untuk itu menjelang Hari AIDS Sedunia tanggal 1 Desember mendatang, KPAN bekerja sama dengan DKT Indonesia, UNAIDS dan Indonesia Business Coalition on AIDS menyelenggarakan Pekan Kondom Nasional.
DKT Indonesia sebagai produsen kondom juga melakukan peluncuran produk kondom wanita sebagai bagian dari program Pilihan Wanita Karena Wanita Peduli. "Poin utama peluncuran ini adalah memberikan pilihan bagi wanita, khususnya jika pria menolak menggunakan kondom. Setiap wanita berhak melindungi diri," ujar Todd Callahan, country director DKT Indonesia, dalam kesempatan yang sama. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Nov 27, 2010 12:31 pm | |
| PEMAHAMAN REMAJA TENTANG HIV/AIDS MINIM Sabtu, 27 November 2010 | 06:44 WIB Jakarta, Kompas - Pemahaman remaja tentang HIV/ AIDS masih sangat minim. Padahal, remaja termasuk kelompok usia yang rentan dengan perilaku berisiko. Demikian terungkap dalam jumpa pers, Jumat (26/11) di Kementerian Pendidikan Nasional, Jakarta, terkait Peringatan Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2010 yang tahun ini dikoordinasi Kementerian Pendidikan Nasional. Deputi Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Bidang Pengembangan Program Kemal Siregar mengatakan, salah satu indikator kinerja pengendalian HIV/AIDS ialah pengetahuan. Persentase perempuan dan laki-laki usia muda (15-24 tahun) yang mampu menjawab dengan benar cara-cara pencegahan penularan HIV serta menolak pemahaman yang salah mengenai penularan HIV baru 14,3 persen.
Persentase itu antara lain mengindikasikan belum banyak remaja yang menguasai dengan komprehensif dan benar tentang HIV/AIDS. Edukasi remaja menjadi penting karena remaja termasuk orang terinfeksi HIV. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah kasus AIDS (kumulatif) sampai Agustus 2010 dari semua umur 21.770 orang. Direktur Jenderal Pendidikan Nonformal dan Informal Kementerian Pendidikan Nasional Hamid Muhammad mengatakan, edukasi HIV/AIDS selama ini diintegrasikan ke dalam kurikulum melalui Biologi dan Pendidikan Kesehatan Jasmani.
”Pekan depan akan ada review terhadap kurikulum dan pendidikan tentang HIV/AIDS dan lebih luas lagi soal reproduksi. Diusulkan agar lebih gamblang,” ujarnya. Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO Arief Rachman mengatakan, kekhawatiran tentang HIV/AIDS bukan berarti harus disikapi dengan membuat kurikulum khusus tentang hal itu. ”Edukasi tentang HIV/AIDS dapat diintegrasikan ke kurikulum yang sudah ada. Yang tak kalah penting ialah sejauh mana integrasi itu benar-benar terjadi di sekolah,” ujarnya.
Peringatan Hari AIDS Sedunia 2010 di Indonesia bertema Akses Pendidikan Universal dan Hak Asasi Manusia diikuti subtema Peningkatan Hak dan Akses Pendidikan untuk Semua guna menekan laju epidemis HIV di Indonesia dan tercapainya Tujuan Pembangunan Milenium. Pada 1 Desember 2010 secara serentak para kepala sekolah akan membacakan amanat Menteri Pendidikan Nasional terkait AIDS yang diharapkan didengarkan oleh lebih dari 50 juta anak, remaja, dan pemuda. (INE) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sun Nov 28, 2010 4:25 pm | |
| BEGINILAH RASANYA DI VONIS HIV POSITIF Minggu, 28/11/2010 12:18 WIBAN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Ketika hasil tes darah menunjukkan seseorang mengidap HIV positif, kondisi sesungguhnya ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. Tidak hanya akan hidup selamanya dengan virus tersebut, tetapi yang terkadang lebih buruk adalah seseorang harus menghadapi stigma negatif dari masyarakat. Tak mudah untuk menerima kenyataan ketika seseorang pertama kali mengetahui dirinya mengidap HIV. Ibarat menerima vonis mati, reaksinya bisa bermacam-macam. Ada yang biasa saja karena memang belum tahu apa-apa tentang HIV, ada juga yang kaget hingga tak mampu berkata-kata.
Bagaimanapun tidak semua orang bisa menerima dan memperlakukan pengidap HIV seperti manusia pada umumnya. Sebagian masih beranggapan penyakit ini hanya diderita oleh orang-orang yang memiliki perilaku tidak bermoral, misalnya menggunakan narkoba suntik dan seks bebas. Selain itu, pengetahuan tentang cara penularan dan pencegahan HIV juga masih terbatas sehingga banyak yang paranoid atau mengalami ketakutan berlebih terhadap pengidapnya. Tak jarang pengidap HIV dikucilkan dari pergaulan, dipecat dari tempat kerja hingga dikeluarkan dari sekolah.
Kemungkinan-kemungkinan ini tampaknya disadari betul oleh para pengidap yang tergabung dalam komunitas Rumah Philia, sebuah organisasi peduli HIV/AIDS yang berkantor di Rawamangun, Jakarta Timur. Saat berbincang dengan wartawan pada Sabtu (27/11/2010), beberapa orang menyampaikan perasaanya ketika pertama kali mengetahui dirinya HIV positif.
"Shock tentu saja.. ya, shock," ujar Tono, sebut saja demikian, seorang pria dengan HIV positif yang kini malah aktif menjadi relawan pendamping bagi sesama pengidap HIV positif di komunitas tersebut. Ia tampak kesulitan menemukan kata-kata yang sesuai untuk menggambarkan perasaanya. Reaksi kaget atau shock merupakan reaksi paling umum dialami para pengidap HIV ketika pertama kali mengetahui dirinya terinfeksi. Kadang-kadang reaksi ini disertai dengan sikap penolakan atau denial, yakni perasaan tidak percaya pada hasil tes yang mendorongnya untuk melakukan tes ulang.
Namun yang lebih buruk, kadang-kadang kekagetan ini berkembang menjadi depresi berat karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang mungkin dihadapi akibat penyakit ini. Tidak banyak yang bisa melewati tahap ini dan bangkit seperti Tono untuk melakukan hal-hal yang lebih produktif. Sementara itu Sarah, juga bukan nama sebenarnya, tampak lebih tenang dan bisa menyikapi vonis dengan lebih rasional. Ia mengetahui kondisinya memang buruk karena tidak akan bisa sembuh, namun justru respons dari lingkunganlah yang menurutnya akan lebih buruk.
"Kalau ingin tahu rasanya divonis HIV, bayangkan saja jika saudara atau kerabat Anda kena penyakit mematikan misalnya kanker. Rasanya seperti itu, kita sudah tahu bahwa kita tidak akan sembuh. Bedanya kanker tidak perlu malu sementara HIV selalu dianggap negatif. Dikira pemakai narkoba lah, seks bebas lah," katanya. Memang tidak semua orang langsung berpikir soal kemungkinan-kemungkinan buruk. Putri, seorang pengidap HIV positif yang ditemui detikHealth di acara terpisah pada Selasa (23/11/2010), bahkan tidak terkejut sama sekali ketika hasil pemeriksaan sebelum operasi amandel menunjukkan darahnya terinfeksi HIV.
"Waktu itu yang penting bisa operasi amandel saja, tidak kepikiran dampaknya akan seperti apa," ungkap Putri yang baru merasakan bahwa HIV benar-benar mengubah hidupnya ketika ia dipecat dari perusahaan tempat ia bekerja tak lama setelah itu. Karena tidak mudah untuk menerima kenyataan seperti ini, tes HIV tidak bisa sembarangan dilakukan. Tes semacam ini harus didahului dengan konseling dan pendampingan psikologis atau disebut voluntary counseling test (VCT) untuk mengantisipasi reaksi-reaksi yang berakibat buruk bagi kejiwaan. |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |