Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 HIV - AIDS

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 5, 6, 7 ... 11, 12, 13  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Fri Aug 27, 2010 6:54 am

HIV / AIDS
DEFINISI
AIDS adalah kondisi kronis mengancam nyawa yang disebabkan oleh virus HIV. HIV menyebabkan kemampuan tubuh anda menurun dalam melawan infeksi virus, bakteri dan jamur dengan merusak sistem imun. HIV juga menyebabkan anda lebih rentan mengalami kanker. Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah istilah tahap selanjutnya dari infeksi HIV.

Virus HIV dapat menular melalui darah, air mani atau cairan vagina yang masuk ke dalam tubuh. Tetapi anda tidak akan terinfeksi dengan kontak fisik biasa, seperti berpelukan, berciuman, berdansa atau berjabat tangan dengan seseorang yang terinfeksi HIV atau AIDS. Jadi jangan kucilkan mereka.
GEJALA
Gejala HIV dan AIDS bervariasi berdasarkan fase infeksinya.

- Infeksi awal
Ketika infeksi HIV pertama, anda mungkin tidak akan mengalami tanda atau gejala apapun. Tetapi dalam beberapa minggu anda dapat mengalami:
• Demam
• Sakit kepala
• Radang tenggorokan
• Pembengkakan kelenjar limpa
• Ruam

- Infeksi selanjutnya
Anda mungkin tidak akan mengalami gejala apapun dalam waktu 8 sampai 9 tahun, atau bahkan lebih. Tapi seiring dengan virus yang melipatgandakan diri dan merusak sistem imun, anda mungkin akan mengalami infeksi ringan atau gejala kronis seperti:
• Pembengkakan node limpa – sering merupakan tanda awal infeksi HIV
• Diare
• Hilang berat badan
• Demam
• Batuk atau napas yang pendek

- Infeksi tahap akhir
Dalam waktu sekitar 10 tahun atau lebih setelah infeksi pertama, masalah yang lebih serius dapat terjadi dan diistilahkan dengan AIDS dan dapat terjadi:
• Infeksi yang terjadi ketika sistem imun lemah, seperti pneumocystis carinii pneumonia (PCP)
• Kadar CD4 lymphocyte 200 atau lebih rendah – normalnya adalah antara 800 sampai 1.200

Seiring dengan perkembangan AIDS, sistem imun anda telah mengalami kerusakan parah. Infeksi akan mudah terjadi. Tanda dan gejalanya adalah:
• Berkeringat di malam hari
• Menggigil atau demam lebih dari 38 Celcius untuk beberapa minggu
• Batuk kering dan napas pendek
• Diare kronis
• Noda putih pada lidah atau mulut
• Sakit kepala
• Pandangan kabur
• Hilang berat badan

Anda juga dapat mengalami tanda dan gejala pada tahap lanjut infeksi virus HIV itu sendiri, seperti:
• Rasa lelah yang tidak hilang dan tidak terjelaskan
• Berkeringat pada malam hari
• Menggigil atau demam tinggi untuk beberapa minggu
• Pembengkakan node limpa lebih dari tiga bulan
• Diare kronis
• Sakit kepala yang tidak hilang

Jika anda terinfeksi virus HIV, anda juga lebih rentan mengalami kanker, khususnya kanker servik, lymphoma dan Kaposi’s sarcoma.

- Gejala HIV pada anak-anak
Anak-anak dengan HIV positif dapat mengalami:
• Sulit menambah berat badan
• Sulit berkembang secara normal
• Sulit berjalan
• Penundaan perkembangan mental
• Dapat mengalami infeksi telinga, pneumonia dan tonsilis

Penyebab & Faktor Risiko
Penyebab
Normalnya sel darah putih dan antibodi menyerang dan menghancurkan organism easing yang masuk ke dalam tubuh. Respon ini diatur oleh sel darah putih bernama limposit CD4. Limposit ini juga merupakan target utama HIV. Sekali masuk ke dalam tubuh, virus memasukkna material genetiknya ke dalam limposit dan melipatgandakan diri. Ketika salinan virus baru keluar dari sel induk dan masuk ke dalam aliran darah, virus akan menyerang sel lain. Sebagai efeknya sel CD4 akan mati. Siklus ini terus berulang. Pada akhirnya menyebabkan kerusakan sistem imun yang berarti tubuh tidak akan mempu melawan infeksi bakteri dan virus lain.

Faktor risiko
Faktor risiko terinfeksi AIDS antara lain:
• Tidak memakai pelindung ketika melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan
• Tidak memakai pelindung ketika melakukan hubungan seksual dengan orang dengan HIV positif
• Memiliki penyakit menular seksual lain seperti syphilis, herpes, chlamydia, gonorrhea atau bacterial vaginosis.
• Bergantian dalam memakai jarum suntik
• Mendapatkan transfusi darah yang terinfeksi virus HIV
• Memiliki sedikit salinan gen CCL3L1 yang membantu melawan infeksi HIV
• Ibu yang memiliki HIV

Pencegahan
Tidak ada vaksin untuk mencegah infeksi HIV dan tidak ada penyembuh untuk AIDS. Jaga kesehatan dan lindungi diri anda dari faktor-faktor risiko adalah jalan terbaik.
Jika anda HIV negatif maka tindakan yang terbaik adalah:
• Ketahui apa itu HIV dan bagaimana penularannya
• Ketahui status kesehatan pasangan seksual anda
• Gunakan kondom setiap kali melakukan hubungan seksual
• Pertimbangan untuk melakukan penyunatan pada laki-laki
• Gunakan jarum suntik steril
• Waspada terhadap darah transfusi
• Periksakan kesehatan secara teratur

Jika anda positif mengidap HIV maka anda harus melindungi orang di sekeliling anda dengan:
• Lakukan hubungan seksual yang aman dengan memakai kondom
• Beritahukan pasangan anda bahwa anda mengidap HIV
• Jika pasangan anda hamil, beritahukan bahwa anda mengidap HIV dan lakukan perawatan untuk menjaga kesehatannya dan bayinya
• Katakan kepada orang lain yang anda rasa perlu untuk tahu bahwa anda mengidap HIV
• Jangan berbagi jarum suntik
• Jangan donorkan darah dan organ anda
• Jangan berbagi pisau cukur atau sikat gigi
• Jika anda hamil, ambil perawatan medis secepatnya
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Wed Sep 01, 2010 8:12 am

OBAT HIV HARUS DIMINUM SEUMUR HIDUP DAN TEPAT WAKTU
Rabu, 01/09/2010 07:52 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Penyakit HIV merupakan salah satu penyakit yang belum ditemukan obatnya. Virus yang ada di dalam tubuh penderita ini tidak bisa keluar, sehingga seseorang harus mengonsumsi obat ARV (Antiretroviral) seumur hidupd an tepat waktu. Jadwal ketat minum obat HIV ini tidak boleh meleset agar bisa menekan jumah virus di tubuhnya. Jika tidak disiplin maka obat akan menjadi resisten terhadap tubuh.

HIV (human immunodeficiency virus) adalah retrovirus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia, terutama sel T CD4 dan makrofaga yang merupakan komponen vital dari sustem kekebalan tubuh. Hal inilah yang membuat ODHA memiliki sistem kekebalan tubuh lemah dan mudah terkena infeksi. Karenanya seseorang harus mengonsumsi obat ARV untuk mempertahankan kekebalan tubuhnya.

"ARV memiliki tugas meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan jumlah virus, dalam arti mencegah agar virus tidak berkembang biak," ujar dr Aritha Herawati, kepala bidang terapi rehabilitasi KPA Provinsi DKI Jakarta, dalam acara temu media dan buka puasa bersama di Jakarta, Selasa (31/8/2010).
Lebih lanjut dr Aritha menuturkan virus yang ada di dalam tubuh seseorang ini tidak bisa keluar, sehingga seseorang harus mengonsumsi obat ARV seumur hidup.
"Pemberian obat ARV tidak sama dengan pemberian obat antibiotik. Kalau antibiotik cukup ditulis dua kali sehari, sedangkan obat ARV harus ditulis setiap 12 jam sekali dan ODHA harus mengonsumsinya tepat setiap 12 jam," ujar Dr Paul F Matulessy, MN. PGK. DSpGK dari RS UKI.

Pengaturan minum obat ARV ini sangat ketat karena terkait langsung dengan tingkat perkembangan HIV di dalam darah. Jika waktu aturan minum diubah, maka akan membuat konsentrasi obat di dalam darah menurun yang bisa memberi peluang bagi virus untuk berkembang biak. Dr Paul menuturkan konsentrasi tertentu ARV di dalam darah mampu menjadi benteng pertahanan agar virus tidak bisa masuk atau menorobos ke sel target (CD4). Sehingga jika seseorang tidak tepat mengonsumsinya atau terlupa, maka konsentrasi ARV di dalam darah akan menurun.

Kondisi ini akan membuat virus bisa masuk ke sel hingga menuju inti sel. Nantinya virus ini akan berkembang biak di dalam inti dengan bantuan DNA manusia, setelah itu ia akan keluar dari sel dan menyebar mencari sel target baru. Beberapa jam setelah mengonsumsi obat, maka aktivitas dari obat ini akan meningkat dan mampu menekan pertumbuhan virus. Tapi setelah mencapai masa puncaknya di dalam darah, aktivitas obat ini akan menurun. Itulah sebabnya jadwal minum obat sangat ketat agar perkembangan virus bisa tetap dikontrol. "Kalau seseorang minum obat ARV tidak sesuai dengan waktu, maka virus akan merasa tidak ada polisi yang mengawasinya sehingga ia bebas berkembang biak," ungkap dr Aritha.

Sementara itu jika ARV yang dikonsumsi berlebih bisa menyebabkan overdosis dan membuat virus menjadi resisten dan juga toksik (racun) bagi tubuh. Jika virus sudah resisten dengan pengobatan lini 1, maka harus masuk ke lini 2 yang harga obatnya jauh lebih mahal serta belum sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah sehingga odha harus membeli sendiri.

Mengonsumsi obat yang sama seumur hidup, sangat memungkinkan seseorang mengalami kejenuhan atau kebosanan. Namun untuk mencegah kebosanan atau kejenuhan dibutuhkan dukungan dari keluarga dan juga masyarakat sekitar. Sehingga ODHA tidak merasa putus asa dan tetap memiliki pemikiran bahwa ia memiliki tanggung jawab terhadap keluarga dan dirinya sendiri.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Wed Sep 01, 2010 8:55 am

AGAR PENDERITA HIV/AIDS PANJANG UMUR
Rabu, 01/09/2010 08:25 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Meski penyakit ini belum bisa diobati, penderita HIV AIDS masih bisa optimistis menjalani hidupnya. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan penderita HIV agar umurnya panjang. Pada kebanyakan kasus memang setelah dinyatakan positif terkena HIV ada masa 5-10 tahun virus ini benar-benar bisa 'melumpuhkan' penderitanya. Tapi banyak pula penderita HIV AIDS yang bisa berumur panjang. Caranya selain melakukan terapi ARV (Antiretroviral) seumur hidup dan tepat waktu juga melalui asupan gizi yang baik dan tepat. "Asupan gizi yang baik pada ODHA bisa membantu tubuh untuk membangun sel kekebalan tubuh yang dikenal dengan sel CD4," ujar Dr Paul F Matulessy MN, PGK, DSpGK dalam acara temu media dan buka bersama Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta di Jakarta, Selasa (31/8/2010).

Gizi terdiri dari dua jenis yaitu kelompok makro nutrien yang terdiri dari karbohidrat, protein dan juga lemak. Dan satu lagi kelompok mikro nutrien yang terdiri dari vitamin, mineral dan air. Setiap makronutrien yang masuk ke dalam tubuh akan diubah menjadi kalori, misalnya 1 gram karbohidrat dan protein akan menghasilkan 4 kalori, sedangkan 1 gram lemak menghasilkan 9 kalori.

Dr Paul menuturkan bahwa ODHA tidak meninggal karena virus yang ada di tubuhnya, melainkan karena adanya IO (infeksi opportunitis).
IO ini akan muncul jika seseorang memiliki nilai CD4 yang rendah, sehingga salah satu cara untuk mencegah IO atau menjaga kekebalan tubuhnya adalah dengan mengonsumsi asupan gizi yang baik. IO sendiri adalah infeksi-infeksi yang sebenarnya tidak membuat seseorang sakit, atau pada orang yang sehat infeksi ini mungkin tidak berbahaya. Tapi bagi ODHA infeksi-infeksi ini bisa berbahaya dan IO bisa membuat status gizi seorang ODHA menjadi semakin rendah.

Pada ODHA, jika asupan gizinya baik maka akan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk membangun kembali CD4 sehingga sistem kekebalan tubuhnya akan meningkat. Nilai CD4 yang tinggi akan membuat seorang ODHA sehat dan tidak terlihat seperti orang yang sakit. Selain itu dengan nilai CD4 yang tinggi akan membuatnya terhindar dari IO. "Asupan kalori pada ODHA berbeda dengan orang sehat, terutama jika ia memiliki IO. Karena setiap 1 IO yang dimilikinya, maka ia harus menambahkan 5-10 persen dari asupan kalori yang dibutuhkannya dalam satu hari," ungkap dokter spesialis gizi klinis di RS UKI.

Dr Paul menuturkan gabungan antara penggunaan ARV yang teratur dan tepat waktu dengan asupan gizi yang baik harus dilakukan terus menerus. Karena ARV akan mencegah virus masuk ke dalam sel CD4 sedangkan makanan bergizi akan membantu tubuh membentuk CD4 lebih banyak. Sementara itu dr Aritha Herawati selaku Kepala Bidang Terapi rehabilitasi di KPA Provinsi DKI Jakarta menuturkan ada 5 prinsip ODHA, yaitu:

1. Mengubah perilakunya menjadi lebih baik, seperti kurangi begadang dan berhenti merokok.
2. Mengubah pola makan yaitu dengan mengonsumsi makanan yang bergizi.
3. Mengonsumsi ARV secara teratur dan tepat waktu.
4. Melakukan penanganan terhadap infeksi dengan baik, jika menemukan adanya infeksi maka segera berobat.
5. Dukungan dari keluarga dan juga masyarakat sekitar, dalam hal ini masyarakat harus mengerti dan mensupport ODHA sehingga tidak perlu ada stigma.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Sep 09, 2010 7:03 pm

HIV DI KALANGAN GAY MENYEBAR TAK TERKENDALI
Kamis, 9 September 2010 | 11:26 WIB
KOMPAS.com — Kendati prevalensi penyakit HIV yang tertinggi masih di kalangan pengguna jarum suntik untuk narkoba, tetapi dalam beberapa tahun ke depan mulai bergeser pada pelaku kegiatan seksual tidak aman atau tanpa kondom. Hal itu terlihat pada hasil penelitian yang dilakukan di Perancis yang menyebutkan bahwa penyebaran virus HIV/AIDS tampaknya "tak terkendali" di kalangan kelompok lelaki yang berhubungan seksual dengan lelaki atau kaum gay.

Tim peneliti dari Lembaga Nasional Perancis Urusan Pengawasan Kesehatan Masyarakat mendapati hampir separuh dari 7.000 orang yang baru terinfeksi HIV di negeri pada tahun 2008 adalah pria gay. Peristiwa itu di kalangan pria homoseksual 200 kali lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk heteroseksual. Para ahli mengatakan, temuan itu memperlihatkan bahwa Pemerintah Perancis perlu mengubah dan memperbarui strategi pencegahan serta menjamin mereka secara layak menjadi kelompok yang paling berisiko terserang HIV sebagai sasaran.

Studi yang dimuat di jurnal Lancet Infectious Diseases mendapati, HIV di Perancis merosot tajam dari 8.930 penularan baru pada 2003 menjadi 6.940 pada 2008. Tetapi, jumlah penularan baru di kalangan pria gay stabil kendati ada penurunan di kelompok lain, dan berjumlah 48 persen dari kasus baru di Perancis pada 2008.
Jumlah infeksi baru di kalangan pengguna narkotika dengan jarum suntik—kelompok tempat wabah HIV menular cepat di bagian lain Eropa—rendah dan stabil di Perancis selama lebih dari 5 tahun masa studi itu.

Sejak AIDS muncul pada 1980-an, 60 juta orang telah terserang virus yang menyebabkannya dan 25 juta orang telah tewas. HIV menyebar di dalam darah, selama hubungan seks, dan dalam pemberian air susu. Pemakai narkotika dapat menyebarkannya dengan menggunakan jarum suntik secara bersama-sama dengan orang yang terinfeksi.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Tue Sep 14, 2010 5:44 pm

PRIA HIV BISA PUNYA ANAK SEHAT DENGAN SPERMA BEKU CEPAT
Selasa, 14/09/2010 10:46 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Chili, Pria dengan jumlah sperma sedikit, menderita kanker atau virus seperti HIV sering mengalami kesulitan untuk memiliki keturunan yang sehat. Tapi dengan teknologi sperma beku cepat, pria-pria tersebut memungkinkan untuk memiliki anak-anak yang sehat. Para ahli menemukan bahwa teknik sperma pembekuan cepat (fast-freezing sperm) dapat mempertahankan sperma untuk berenang ke arah telur jauh lebih efisien daripada metode pembekuan yang digunakan sebelumnya.

Teknologi yang ada sekarang, yaitu sperma pembekuan lambat (slow-freezing sperm) hanya dapat mempertahankan 30 sampai 40 persen dari aktivitas sperma.
Tapi dengan teknologi terbaru, sperma pembekuan cepat atau juga dikenal sebagai vitrifikasi, aktivitas sperma dapat meningkat hingga 80 persen. Hal ini memungkinkan pria dengan jumlah sperma sedikit, menderita kanker atau virus seperti HIV, untuk memiliki anak-anak yang sehat. Dalam vitrifikasi, ditambahkan cryopreservation untuk mengurangi kadar air dalam sel dan mencegah terbentuknya kristal es.

Plasma dipisahkan dan dibuang, kemudian sperma ditempatkan dalam larutan sukrosa sebelum dimasukkan ke dalam nitrogen cair untuk pembekuan cepat.
Pembuangan plasma ini dimaksudkan agar HIV dan virus lainnya dapat dihilangkan. Hal ini memberi kesempatan pada pria dengan HIV positif untuk menjadi ayah tanpa menularkan virus ke ibu atau bayinya. Pria dengan jumlah sperma rendah dan kualitas sperma buruk juga daoat mengambil manfaat dari teknologi yang sedang dikembangkan ini.

"Karya ini menunjukkan bahwa kita dapat melestarikan fungsi sperma melalui vitrifikasi, yang memberikan peluang sukses yang lebih besar untuk pasien dengan jumlah sperma rendah dan HIV," tutur Professor Raul Sanchez, peneliti utama dari La Frontera University di Chili, seperti dilansir dari Dailymail, Selasa (14/9/2010).
Selain itu, Prof Sanchez juga menjelaskan bahwa keuntungan lain dari teknik ini adalah dapat menghilangkan sumber-sumber potensial infeksi seperti AIDS atau hepatitis B, yang hadir dalam plasma mani.

Teknologi vitrifikasi juga telah diterapkan dengan sukses pada pembekuan cepat sel telur dan embrio. "Ini merupakan teknik yang sangat menarik karena prosedurnya jauh lebih cepat dari pembekuan konvensional yang digunakan sebelumnya," jelas Ian Cooke, profesor emeritus di Sheffield University dan direktur pendidikan International Federation of Fertility Societies. Penelitian yang dilakukan oleh para ahli di Chili dan Jerman ini akan dipresentasikan pada Kongres Dunia Fertility and Sterility di Munich.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Sep 16, 2010 5:04 am

MENKES: PERLU PENANGANAN LEBIH SERIUS
Kamis, 16 September 2010 | 04:20 WIB
PADANG, KOMPAS.com - Ledakan kasus AIDS di Indonesia perlu penanganan serta penanggulangan lebih serius dari berbagi pihak. "Terjadinya ledakan kasus AIDS di seluruh kota/kabupaten di Indonesia saat ini perlu ditangani lebih serius lagi," kata Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, di Padang, Rabu (15/9/2010). Saat ini sebanyak 21.770 kasus AIDS terjadi di seluruh kota/kabupaten Indonesia. Kasus tersebut merupakan ancaman yang sangat serius. "Kasus AIDS yang terjadi di seluruh kota/Kabupaten di Indonesia sebanyak iku dihitung hingga 30 Juni 2010," katanya.

Rata-rata penderita kasus AIDS tersebut berusia 20 tahun hingga 29 tahun mencapai 37,2 persen. "Sedangkan penderita AIDS yang berusia 40 hingga 49 tahun hanya mencapai 11,8 persen saja," katanya. Dia mengatakan, dari kasus AIDS tersebut, jumlah perbandingan penderita AIDS laki-laki dan perempuan sebesar tiga berbanding satu. "Saat ini sudah ada pergeseran pola penyebaran AIDS, penyebaran terbesar terjadi lewat hubungan seks,bukan lagi jarum suntik," katanya.

Menurutnya, jumlah penderita AIDS dari seluruh Indonesia yang terbanyak di Provinsi Papua di ikuti daerah Bali, kemudian DKI Jakarta. "Sedangkan penderita HIV yang dominan yakni DKI Jakarta mencapai 9.804, Jawa Timur mencapai 5.973," katanya. Dia menambahkan, penyadaran dan pendampingan terhadap penderita HIV/AIDS perlu terus ditingkatkan, agar jumlah mereka dapat diminimalkan. "Minimal kita dapat memberikan konseling dan bimbingan terhadap mereka tentang pentingnya kesadaran untuk mau berobat secara teratur, dan menyebarkan hal itu kepada penderita lainnya," katanya.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Mon Sep 20, 2010 10:51 am

NENEK MOYANG HIV LEBIH TUA DARI DUGAAN
Senin, 20/09/2010 10:16 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Arizona, Jika dirunut dari silsilahnya, nenek moyang virus HIV ternyata sudah ada sejak puluhan ribu tahun yang lalu. Proses evolusi yang begitu panjang itu mengindikasikan bahwa HIV belum akan bisa diatasi dalam waktu dekat ini. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh tim gabungan dari University of Arizona dan Tulane University mengungkap bahwa usia HIV bukan hanya ratusan tahun seperti yang diperkirakan. Jauh sebelum itu, nenek moyangnya sudah ada di Afrika.

Simian immunodeficiency virus (SIV) merupakan cikal bakal human immunodeficiency virus (HIV) yang usianya diperkirakan antara 32.000 hingga 75.000 tahun. Virus ini menjangkiti monyet-monyet di Pulau Bioko, di pantai barat Afrika. Wilayah itu merupakan bekas semenanjung yang terpisah dari benua Afrika pada zaman es sekitar 10.000 tahun yang lalu. Sejak saat itu, Pulau Bioko menjadi wilayah yang terisolasi dengan populasi primata yang masih asli. Berbeda dengan HIV, SIV tidak menyebabkan sindrom melemahnya sistem kekebalan tubuh atau AIDS. Sifat virus yang tidak mematikan ini diyakini muncul setelah melalui proses evolusi yang panjang.

"HIV merupakan virus yang unik karena sifatnya paling mematikan dibanding virus sejenis yang menjangkiti spesies lain, yang sudah lebih dulu ada sejak ribuan tahun lalu," ungkap Michael Worobay dari University of Arizona, seperti dikutip dari Sciencedaily, Senin (20/9/2010). Peneliti meyakini hal ini sebagai indikasi bahwa HIV belum akan bisa teratasi dalam waktu dekat ini. Jika SIV butuh waktu sedemikian panjang untuk mencapai bentuk yang tidak mematikan, maka HIV yang baru mewabah di awal abad ke-20 masih butuh waktu yang sangat lama jika tidak dibantu dengan riset obat-obatan.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sun Sep 26, 2010 12:16 pm

SANG PENOLONG ODHA
Kamis, 26/11/2009 17:11 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Hingga kini belum ada obat yang bisa menyembuhkan Orang Dengan HIV AIDS (ODHA). Satu-satunya sang penolong adalah obat ARV (Antiretroviral). Meski tak bisa membasmi virusnya, ARV bisa membuat hidup ODHA lebih baik atau memberi peluang hidup yang agak lama. Penderita HIV/AIDS yang rutin mengonsumsi ARV terbukti bisa beraktivitas kembali dan mengurangi jumlah penularan. Orang yang mengonsumsi ARV juga bisa mengurangi jumlah virus dalam tubuhnya, karena jumlah virus merupakan faktor prediksi utama dalam hal penularan penyakit HIV/AIDS. Seperti dituturkan Prof Dr Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM bagaimana obat ARV bisa sangat membantu ODHA. Dia menceritakan seorang laki-laki ODHA yang berusia 35 tahun dengan punggung penuh tato, kini memiliki fisik yang baik, nilai CD4 tinggi dan sudah bisa beraktivitas kembali setelah rutin mengonsumsi ARV.

Meski diberikan cuma-cuma banyak ODHA yang tidak mengonsumsi ARV karena telat diidentifikasi penyakitnya. Menurut Dr Zubairi ada kasus tahanan narkoba yang meninggal di rumah tahanan setelah 1,5 tahun dipenjara akibat tidak terdeteksi HIV/AIDS. Padahal jika saja terdeteksi dan minum ARV ada kemungkinan fisiknya lebih kuat menghadapi ganasnya virus HIV. Pengobatan dengan ARV sampai saat ini masih menjadi andalan dalam mengurangi infeksi HIV/AIDS. Karena diketahui dalam 8 tahun terakhir terjadi pengurangan infeksi baru di Asia Tenggara sebesar 10 persen, Afrika sebesar 17 persen dan Asia Timur sebesar 25 persen. Dengan mengonsumsi ARV membuat kondisi ODHA bisa beraktivitas kembali dan mengurangi jumlah virus yang ada.

"Pada tahun 2010 diharapkan 75 persen ODHA sudah bisa mendapatkan ARV, saat ini dari 200-an ribu ODHA hanya sekitar 18 ribu saja yang mendapatkan obat ARV," ujar Prof Dr Zubairi Djoerban, SpPD, KHOM, selaku Ketua Masyarakat Peduli AIDS Indonesia (MPAI) dalam acara Seminar Advokasi "Akses Universal dan Hak Asasi Manusia" di ruang serba guna depkes, Jakarta, Kamis (26/11/2009). Banyaknya penderita HIV/AIDS yang meninggal dikarenakan telatnya melakukan pemeriksaan dan baru diketahui setelah memasuki stadium lanjut. Oleh karena Dr Zubairi mengusulkan agar setiap pasien yang datang ke dokter bisa melakukan tes HIV apapun keluhan si pasien. "Pasien apapun baik yang datang dengan keluhan sakit perut atau sakit gigi, diharapkan melakukan tes HIV. Dan pasien yang memiliki nilai CD4 antara 350-200 atau di bawah 200 harus sudah diberikan ARV," ujar Dr Zubairi.

Penyakit HIV/AIDS ini seringkali tidak menimbulkan gejala, kecuali sudah memasuki stadium lanjut. Sehingga pemeriksaan dini penting dilakukan untuk mengurangi jumlah infeksi baru penyakit HIV/AIDS. Data Departemen Kesehatan hingga bulan September 2009 diketahui penderita HIV/AIDS di Indonesia mencapai 227 ribu orang. Angka penularan tertinggi terjadi akibat perilaku metroseksual yaitu sebesar 49 persen dan akibat penggunaan jarum suntik (Injecting Drug Users/IDU) sebesar 40 persen. "Diketahui penggunaan obat ARV bisa menurunkan penderita HIV AIDS hingga 17 persen," ungkap Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) depkes Prof. Tjandra Yoga Aditama.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sun Sep 26, 2010 7:55 pm

PENANGANAN HIV/AIDS JAUH DARI HARAPAN
Sabtu, 25 September 2010 | 09:43 WIB
Jakarta, Kompas - Target Tujuan Pembangunan Milenium untuk pengendalian HIV/AIDS diakui sulit tercapai. Peningkatan kasus HIV/AIDS di lapangan semakin memprihatinkan akibat penanganan yang tidak menyentuh persoalan sosial kultural, pola pikir, dan perilaku seksual. Berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan, kasus AIDS meningkat pada lima tahun terakhir. Jumlah kasus menjadi delapan kali lipat—2.684 kasus pada 2004 menjadi 17.699 kasus pada pertengahan 2009. Sampai Juni 2010, tercatat 21.770 kasus AIDS. Sekitar 49,3 persen penularan HIV melalui hubungan seksual heteroseksual. Setelah itu, penularan lewat jarum suntik di kalangan pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (napza) sebesar 40,4 persen. Pengguna narkoba dengan jarum suntik umumnya berusia muda dan juga beraktivitas seksual.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan, Jumat (24/9) di Jakarta, target sasaran 6 Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) ialah memerangi HIV/AIDS, malaria, dan tuberkulosis. Untuk tuberkulosis, target-target telah tercapai. Deteksi kasus telah mencapai 70 persen dan kesembuhan mencapai 85 persen. ”Jika dahulu Indonesia masuk tiga besar dunia untuk penderita tuberkulosis, sekarang negara kelima terbesar, sesuai laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) baru-baru ini,” ujarnya. Tjandra mengatakan, tingginya temuan kasus HIV/AIDS tidak lepas dari penggalakan voluntary counseling and testing (VCT). Di Indonesia, penyebaran HIV/AIDS belum mencapai puncaknya. Pemerintah telah memberikan obat antiretroviral (ARV) pada yang harus meminumnya.

Soal kultur
Kendala besar pengendalian HIV/AIDS, yaitu adanya hambatan secara sosial, kultur, dan pola pikir terhadap seks serta perilaku seks. ”Sebagai contoh, masih banyak tentangan terhadap kewajiban memakai kondom dan harm reduction (pengurangan dampak), seperti pemberian jarum suntik steril dan terapi rumatan metadon, dianggap melegitimasi perilaku negatif,” ujarnya. Padahal, itu merupakan kebijakan spesifik.

Hal lain yang dianggap masih meleset dari harapan ialah belum signifikannya edukasi terhadap masalah HIV/AIDS, harm reduction, dan pemakaian kondom.
Aktivis HIV/AIDS sekaligus Guru Besar Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya Prof Irwanto mengatakan, target MDGs untuk pengendalian HIV/AIDS sangat sulit tercapai pada 2015. ”Di daerah seperti Papua, HIV/AIDS masuk ke populasi umum,” ujarnya. Dia berpendapat, arah upaya pemerintah dan berbagai organisasi sudah tepat, tetapi cakupannya belum memadai. ”Untuk itu, berbagai sektor harus berperan aktif. Perlu intervensi struktural dan komitmen berbagai sektor,” ujarnya. (INE)
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sun Sep 26, 2010 7:58 pm

BERPERANG MELAWAN HIV/AIDS
Jumat, 3 September 2010 | 02:56 WIB
MuDAers, banyak orang berpikir pelajar Kota Jakarta cuma bisa hura-hura atau bikin rusuh. Anggapan itu tak bisa ditampik begitu saja karena faktanya memang ada pelajar yang seperti itu. Tapi yang jelas, enggak semua pelajar Jakarta seperti itu lho. Kami, pelajar dari SMKN 2 Jakarta, tak mau cuma hura-hura, atau bikin rusuh. Kami memanfaatkan energi masa muda kami untuk ikut serta memerangi virus mematikan HIV/AIDS. Hmm, mau tahu apa saja yang kami lakukan?

Awalnya, kami mengikuti pelatihan yang diadakan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), PT Unilever, dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Dari pelatihan itu kami mendapat pelajaran bagaimana cara menyampaikan informasi seputar HIV/AIDS kepada masyarakat, khususnya pelajar. Mulai body language (bahasa tubuh), cara bicara, menanggapi respons pendengar, sampai mengatasi grogi saat bicara di depan umum Setelah mendapat pelatihan itu, kami mengambil langkah aktif dalam program penyuluhan HIV/AIDS. Kami tahu ini hal yang berat, tapi ini menjadi tantangan yang menarik untuk dijalani.

Tanggapan positif
Untuk menjalankan program ini, kami mendatangi sekolah-sekolah di Jakarta. Kami dan para pelajar dari sekolah lain yang juga turut dalam pelatihan dikenal sebagai Duta Jakarta Stop AIDS. Namun, sebelum menyuluh di luar sekolah, kami menyuluh di dalam sekolah dulu. Ternyata tanggapan teman-teman sekolah kami positif.
Banyak di antara mereka ingin bergabung. Sebagai gambaran, saat awal memulai kerja ini jumlah kami hanya empat orang, tapi kini mencapai 38 orang. Dengan bantuan guru, kami lalu mendirikan ekstrakurikuler yang diberi nama ”Zona Abu-Abu” (ZAA). Calon anggota baru harus memenuhi syarat anti-narkotik, anti-minuman keras, anti-rokok, dan mempunyai dasar pengetahuan tentang HIV/AIDS. Setelah penyuluhan di dalam sekolah kami rasa cukup, kami mencari sekolah lain sebagai sasaran, yaitu sekolah tingkat pertama (SMP) dan SMA/SMK sederajat. Mengapa? Karena sesuai data BNN, penderita AIDS didominasi remaja usia 20-29 tahun. Dengan masa inkubasi virus HIV antara 5-10 tahun, kemungkinan besar mereka tertular virus itu pada usia 13-19 tahun. Usia tersebut adalah usia sekolah.

Penyuluhan yang kami lakukan tak hanya di sekolah di Jakarta, tapi juga sampai ke Depok. Kami biasanya menggunakan beberapa cara, seperti dengan media poster, secara lisan, dan menggunakan layar LCD. Kami juga melakukan beberapa permainan yang berhubungan dengan materi yang diberikan. Ini kami lakukan jika responden terlihat jenuh. Terkadang jika kami mendapat tambahan dana, kami memberi hadiah walau hanya makanan ringan atau alat tulis kepada responden yang dapat menjawab pertanyaan. Biasanya kami lakukan ini ketika menyuluh di SMP. Kami juga memberi kuisioner agar mereka mengingat dengan mendalam materi yang diberikan.

Materi penyuluhan
Oh ya, pada awalnya materi yang kami berikan hanya seputar HIV-AIDS. Namun, seiring berjalannya waktu, sering kami perlebar dengan materi narkotik. Baru-baru ini kami juga memulai dengan kesehatan reproduksi remaja. Pertama, kami sangat menekankan kepada para pelajar bahwa HIV berbeda dengan AIDS. HIV adalah virusnya, sedangkan AIDS adalah penyakitnya. Kami juga menambah informasi dengan fakta yang terjadi di Indonesia. Hal ini dimaksudkan agar mereka sadar akan bahaya dan akibat yang bisa terjadi kelak. Di antaranya fakta tentang jumlah pengidap HIV/AIDS di Indonesia. Berdasar data BNN, dari 3,2 juta pengidap HIV/AIDS di Indonesia (sampai Desember 2008), 80 persen di antaranya remaja usia 12-24 tahun. Di antara mereka juga banyak yang belum mengerti bagaimana virus ini menular. Oleh karena itu, kami juga memberikan informasi bagaimana penularan virus HIV/AIDS terjadi.

Antara lain:
• Penggunaan jarum suntik secara bergantian
• Melalui hubungan seks berisiko HIV
• Transfusi darah
• Ibu menyusui

Dengan fakta itu diharapkan mereka mengerti dan memahami bahaya virus ini.

TIM SMKN 2 Jakarta: Edwin Kurnia, Agung Mahendra, Ismi, Eka, Titin Purwita S, Wahyu Ningsih F, Mega Restu M, Jefry Hidayat, Aditya Safari, dan Hammid M R
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sun Sep 26, 2010 8:00 pm

CEGAH HIV/AIDS DARI IBU HAMIL
Jumat, 3 September 2010 | 15:13 WIB
Sleman, Kompas - Upaya pencegahan penularan HIV/AIDS perlu dilakukan juga terhadap ibu hamil. Meskipun upaya ini tidak mudah, efektivitas upaya ini mampu menurunkan risiko dan jumlah orang yang terjangkit HIV/AIDS. Di banyak negara, upaya pencegahan melalui ibu hamil menunjukkan hasil positif. "Harus mulai dipikirkan caranya. Intinya, bahaya dan pentingnya pencegahan AIDS ini juga diketahui ke ibu hamil," ujar Yandri Subroto, dokter spesialis penyakit dalam Rumah Sakit Umum Pusat Dr Sardjito, dalam pertemuan forum jurnalistik untuk HIV/AIDS, Kamis (2/9).

Puskesmas, menurut Yandir, cocok dipilih sebagai tempat dilakukannya upaya ini. Sejumlah puskesmas, ujar Yandri, sudah mulai memiliki layanan jarum suntik steril bagi pecandu narkoba. Sebuah "pijakan" yang bisa dicoba untuk mulai memasukkan pemahaman dan konsultasi tentang AIDS. "Untuk posyandu, saya rasa sulit. Iklimnya belum terbentuk. HIV/AIDS masih dianggap hal asing. Di posyandu biasanya hanya berkutat seputar pemenuhan gizi balita dan imunisasi. Dari semua daerah di Indonesia, konsep seperti ini tampaknya paling mudah dijalankan di Papua yang penderita HIV/AIDS-nya tinggi dan poster HIV/AIDS ada di mana-mana," tuturnya.

Sejak dini
Namun, Yandri berkeyakinan, pemahaman HIV/AIDS lewat posyandu akan menuai banyak hasil. Hal ini karena orang sadar bahwa penderita AIDS juga bisa ibu hamil dan bayinya. Anggapan bahwa AIDS hanya bisa diderita orang dewasa harus dipatahkan perlahan.

Ia mencontohkan Afrika Selatan yang dalam beberapa tahun terakhir ini mulai banyak mengucurkan dana kesehatan dan obat untuk pencegahan AIDS bagi ibu hamil. Padahal, sebelumnya, negara itu hanya memfokuskan pada orang dewasa. Delegasi Afrika Selatan memaparkan itu saat berbicara dalam International AIDS Conference di Vienna (18-23 Juli 2010). "Afrika Selatan mengucurkan dana sampai ke lembaga setara posyandu dan puskesmas. Hasilnya HIV/AIDS di sana turun. Artinya, tidak rugi menginvestasikan uang untuk mencegah AIDS. Semakin dini dicegah adalah semakin baik," ujarnya, dalam acara yang diadakan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Yogyakarta itu.

Sekretaris KPA Kota Yogyakarta Lumowah SW mengatakan, pemeriksaan darah di Kota Yogyakarta pernah dilakukan tahun 2009 di Puskesmas Gedongtengen dan Puskemas Umbulharjo I. Masing-masing ada 30 ibu hamil. Dari tes itu, tidak ditemui satu pun ibu hamil yang positif HIV/AIDS. "Mereka sebelumnya sudah diberi tahu tentang pemeriksaan darah ini dan tidak menolak. Dengan penyampaian yang tepat, mereka mau bekerja sama," ujar Lumowah.

Terpinggirkan
Yandri menambahkan, isu tentang HIV/AIDS harus terus digencarkan tanpa putus karena beberapa tahun terakhir berkurang gaungnya. Isu HIV/AIDS belakangan tergusur isu pemanasan global. Isu HIV/AIDS yang berkurang akan terkait dengan bantuan dana yang dikucurkan negara- negara mapan sebagai pendonor. (PRA)
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Sep 30, 2010 7:15 am

PERKEMBANGAN HIV/AIDS DI INDONESIA SAMPAI JUNI TAHUN 2010
Pada periode triwulan kedua tahun 2010 terdapat penambahan kasus AIDS sebanyak 1.206 kasus. Sebanyak 36 kabupaten/kota dari 16 provinsi melaporkan hal tersebut yaitu NAD, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Bengkulu, Kepulauan Bangka Belitung, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Bali, NTB, Kalimantan Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara. Dengan demikian, sampai tanggal 30 Juni 2010, secara kumulatif kasus AIDS yang dilaporkan sejak tahun 1978 berjumlah 21.770 dari 32 provinsi dan 300 kabupaten/kota. Rasio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 3:1. Kasus terbanyak dilaporkan dari Provinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, Riau dan Sumatera Barat.

Rate kumulatif kasus AIDS nasional sampai 30 Juni 2010 adalah 9,44 kasus per 100.000 penduduk. Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari Provinsi Papua (14,34 kali angka nasional), Bali (5,2 kali angka nasional), DKI Jakarta (4,4 kali angka nasional), Kep. Riau (2,4 kali angka nasional), Kalimantan Barat (1,8 kali angka nasional), Maluku (1,5 kali angka nasional), Bangka Belitung (1,2 kali angka nasional), Papua Barat, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Jawa Barat, Sumatera Barat, Riau (1,0 kali angka nasional).

Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 20-29 tahun (48,1%), diikuti kelompok umur 30-39 tahun (30,9%), dan kelompok umur 40-49 (9,1%). Sementara cara penularan terbanyak adalah melalui hubungan heteroseksual (49,3%), Injection Drug Use/IDU (40,4%), Lelaki Seks Lelaki (3,3%), dan perinatal (2,7%).

Proporsi kasus AIDS yang dilaporkan meninggal sebesar 19,0%. Infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah TBC (10.648 kasus), diare kronis (6.392 kasus), Kandidiasis oro-faringenal (6.412 kasus), Dermatitis generalisata (1.623 kasus), dan Limfadenopati generalisata persisten (770 kasus). Sementara untuk kasus HIV positif, sampai dengan 30 Juni 2010 secara kumulatif berjumlah 44.292 kasus dengan positive rate rata-rata 10,3%. Jumlah kasus baru pada triwulan kedua 2010 sebanyak 3.916 kasus. Daerah yang paling banyak terjadi kasus HIV positif adalah DKI Jakarta (9.804 kasus), Jawa Timur (5.973 kasus), Jawa Barat (3.798 kasus), Sumatera Utara (3.391 kasus), Papua (2.947 kasus), dan Bali (2.505 kasus).

Sampai saat ini HIV/AIDS belum ada vaksin maupun obatnya. Obat yang ada adalah (ARV=Anti Retroviral Virus) yang berfungsi hanya untuk menekan perkembangan virus. Perawatan HIV di Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2005 dengan jumlah yang masih dalam pengobatan ARV pada tahun 2005 sebanyak 2.381 (61% dari yang pernah menerima ARV). Kemudian sampai 30 Juni 2010 terdapat 16.982 ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang masih menerima ARV (60,3% dari yang pernah menerima ARV). Jumlah ODHA yang masih dalam pengobatan ARV tertinggi berasal dari DKI Jakarta (7.242), Jawa Barat (2.001), Jawa Timur (1.517), Bali (984), Papua (685), Jawa Tengah (575), Sumatera Utara (570), Kalimantan Barat (463), Kepulauan Riau (426), dan Sulawesi Selatan (343). Kematian ODHA menurun dari 46% pada tahun 2006 menjadi 18% pada tahun 2009.

Demikian laporan situasi perkembangan HIV/AIDS di Indonesia triwulan kedua tahun 2010 berdasarkan data dari Sub Direktorat AIDS dan Penyakit Menular Seksual Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP &PL) Kemenkes.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail puskom.publik@yahoo.co.idThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it , info@depkes.go.idThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it , kontak@depkes.go.idThis e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Sep 30, 2010 3:18 pm

AIDS: BENARKAH AKIBAT 'ITUNYA' DIPAKAI SEMBARANGAN?
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Kamis, 30/09/2010 11:25 WIB
Jakarta, Perilaku seks bebas sering disebut-sebut sebagai penyebab utama penularan HIV/AIDS. Akibatnya, penderitanya mendapatkan stigma negatif di masyarakat. Benarkah HIV hanya menular melalui hubungan seks? dr Aritha Herawati, Kepala Bidang Terapi dan Rehabilitasi Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi DKI Jakarta mengaku prihatin dengan anggapan semacam itu. Berdasarkan data yang ia miliki, penularan HIV melalui hubungan seks justru bukan yang tertinggi. Jadi AIDS tak selamanya karena akibat hubungan seks. "Penularan melalui hubungan seks memang tinggi, tapi yang tertinggi tetap melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian yakni sekitar 60 persen," ungkap dr Aritha saat dihubungi detikHealth, Kamis (30/9/2010).

Menurutnya, saat ini pemakaian jarum suntik paling berisiko menularkan HIV karena populasi pengguna narkoba suntik masih sangat tinggi. Karena ilegal dan dilakukan diam-diam, umumnya perilaku para pecandu lebih sulit dikendalikan. Risiko penularan melalui hubungan seks juga tinggi, namun belum melebihi 40 persen. Menurut dr Aritha, angka itu sudah termasuk ibu-ibu rumah tangga yang tertular HIV dari suaminya sendiri. "Ibu rumah tangga juga berisiko lho, misalnya kalau suaminya suka jajan sembarangan. Sampai di rumah berhubungan dengan istrinya, lalu istrinya tertular. Istrinya juga berisiko menularkannya lagi ke anaknya," ungkap dr Aritha.

Anak-anak yang tertular HIV dari ibunya inilah yang seringkali menanggung dosa akibat stigma negatif yang berkembang di masyarakat. Saat tumbuh dewasa, bisa jadi orang akan mengiranya sebagai pengguna narkoba atau pelaku seks bebas. Untuk itu dr Aritha menghimbau agar stigma negatif mulai disingkirkan. Ia tidak ingin membenarkan perilaku seks bebas maupun narkoba, namun mengucilkan penderita HIV/AIDS dan melabelinya dengan stigma negatif menurutnya tidak manusiawi.
"Siapapun bisa tertular, jadi tidak usah main cap atau stigma. Yang penting jaga diri sajalah agar tidak tertular, salah satunya memang dengan selalu setia pada pasangan tetap," ungkap dr Aritha.

Salah satu joke yang dinilai ikut melestarikan stigma tersebut dilontarkan oleh Menkominfo Tifatul Sembiring melalui Twitter, Rabu (29/9/2010) malam. Dalam akunnya, Tifatul mengutip pernyataan mantan Menkes Prof Sujudi bahwa AIDS adalah singkatan dari 'Akibat Itunya Dipakai Sembarangan'. Data United Nations Programme on HIV/AIDS (UNAIDS) menujukkan penularan kumulatif kasus AIDS tertinggi pada tahun 2009, adalah melalui heteroseksual (50,3 persen), diikuti penggunaan jarum suntik (40,2 persen), dan homoseksual (3,3 persen).

Sementara Dr dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH dr ph dalam acara seminar 'How to deal with HIV AIDS' di aula FKUI Salemba pada Juni 2010, menuturkan dalam upaya pengendalian HIV AIDS tetap harus menghormati harkat, martabat, norma dan agama, serta memperhatikan keadilan, kesejahteraan dan juga jenis kelamin. Hal lain yang juga penting adalah harus melindungi ODHA (orang dengan HIV AIDS) agar tidak dihakimi masyarakat. HIV AIDS merupakan salah satu penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sehingga bisa menurunkan kualitas hidup orang tersebut. Untuk itu diperlukan langkah-langkah yang tepat agar bisa membantu mengurangi angka pengidap HIV AIDS.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Oct 14, 2010 4:55 am

PANDUAN BARU TERAPI HIV/AIDS
Jumat, 1 Oktober 2010 | 04:11 WIB
JAKARTA, KOMPAS - Organisasi Kesehatan Dunia mengeluarkan panduan baru terapi antiretroviral bagi orang dengan HIV/AIDS. Negara berkembang diminta mempercepat pemberian obat antiretroviral sehingga tingkat kematian dan penularan tertekan. Demikian terungkap dalam Clinical Research Meeting 2010 yang diselenggarakan Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia, Kamis (30/9). Prof Zubairi Djoerban dari Pusat Pelayanan Terpadu HIV RS Cipto Mangunkusumo mengatakan, keberadaan obat antiretroviral memberikan harapan. Kerusakan sistem imun yang progresif akibat infeksi HIV dapat dicegah dengan memulai terapi antiretroviral sejak dini, saat orang yang terinfeksi belum menunjukkan gejala apa pun.

Panduan antiretroviral Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendorong diagnosis lebih awal dan memulai penanganan ketika hasil perhitungan CD4 kurang dari 350 sel per mm. CD4 merupakan salah satu penanda kekebalan tubuh. Terapi dini itu juga dianjurkan bagi pasien dengan tuberkulosis, infeksi hepatitis B kronik, dan perempuan hamil untuk menekan risiko kematian. Dalam panduan sebelumnya, pemberian antiretroviral setidaknya dimulai sejak hitungan CD4 kurang dari 200 sel per mm.

Zubairi mengatakan, terapi sejak dini lebih baik karena angka kematian menurun. Pemberian obat antiretroviral lebih dini mengurangi kematian hingga 75 persen. ”Bahkan, terapi antiretroviral dapat mencegah penularan hingga 92 persen. Angka kejadian tuberkulosis juga dapat ditekan sampai dengan 50 persen,” ujarnya.
Dia berpendapat, Indonesia seharusnya berusaha mengadopsi panduan baru tersebut, mengingat cepatnya laju HIV/AIDS walaupun dalam implementasinya tetap mempertimbangkan infrastruktur dan ketersediaan obat.

Di dunia, pengguna obat antiretroviral mencapai 5,2 juta orang. Di Indonesia sendiri sekitar 25.000 orang dengan HIV/AIDS telah mendapatkan obat. ”Merupakan kejahatan jika orang dengan HIV/AIDS tidak diobati. Siapa pun yang sudah waktunya mendapatkan obat, harus diobati,” ujarnya. Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia Samsuridjal Djauzi mengatakan, sejak program nasional antiretroviral dimulai pada 2004, angka kematian turun dari 46 persen menjadi 17 persen dalam dua tahun. Jika orang dengan HIV/AIDS dapat bertahan dari infeksi oportunistik, biasanya harapan hidupnya bagus. (INE)
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Oct 14, 2010 4:59 am

FTA UNI EROPA - INDIA, PENGIDAP HIV TERANCAM
Rabu, 13 Oktober 2010 | 15:10 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Jaringan Orang Terinveksi HIV Indonesia atau JOTHI menyampaikan penolakannya terhadap rencana Uni Eropa-India dalam perjanjian Free Trade Agreement (FTA). Jika FTA Uni Eropa-India ini diberlakukan, maka negara-negara berkembang akan terkena dampaknya terutama dalam hal peredaran obat antiretroviral (ARV) generik murah dari India. Alhasil, para penderita AIDS di beberapa negara yang terbiasa memakai ARV generik India akan kelimpungan. Mereka tidak dapat meminum obat ARV secara teratur dan terancam mati lebih cepat.

JOTHI menyampaikan penolakan rencana kerjasama FTA Uni Eropa-India dalam aksi unjuk rasa di Kedutaan Besar India, Jakarta, Rabu (13/10/2010). Dalam siaran pers yang dibagikan JOTHI, di Indonesia, perjanjian perdagangan bebas tersebut juga dinilai menghambat mencapaian MDGs indikator ke-6 yang berbunyi memerangi HIV/AIDS. "Tidak sesuai dengan instruksi presiden RI No 3/2010 tentang program pembangunan yang berkeadilan, meningkatkan kualitas dan kuantitas pengobatan ARV," ujar koordinator aksi dari JOTHI, Andreas.

Menurut keterangan salah satu pengunjuk rasa, penandatanganan FTA akan membuat mereka terpaksa membeli obat ARV dari Uni Eropa yang harganya bisa mencapai Rp 100.000.000 per pasien per tahun. "Kalau obat generik India hanya Rp 1.000.000 per tahun per pasien," katanya. Untuk itulah, kata dia, para penderita HIV/AIDS di sejumlah negara juga menggelar aksi menolak penandatanganan perjanjian kedua belah pihak tersebut. Menurut dia, perjanjian FTA Uni Eropa-India semata-mata dilakukan untuk menyelamatkan Uni Eropa dari krisis ekonomi, namun merupakan pembunuhan massal bagi penderita AIDS.

Selain menuntut pemerintah India untuk tidak menandatangani perjanjian, JOTHI juga meminta pemerintah Indonesia berkomitmen mengembangkan kapasitas produksi ARV generik yang harganya terjangkau. Sementara itu, usai berdialog dengan Duta Besar India di Indonesia, JOTHI mendapat jawaban bahwa pemerintah India sebenarnya tidak ingin menandatangani perjanjian itu. Karena, di India sendiri banyak pengidap AIDS yang membutuhkan obat generik. menjanjikan pengawasan hak paten ARV akan ditiadakan dalam perjanjian," kata Andreas.
Back to top Go down
View user profile Online
 

HIV - AIDS

View previous topic View next topic Back to top 
Page 6 of 13Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 5, 6, 7 ... 11, 12, 13  Next

 Similar topics

-
» AIDS - Where Did AIDS Come From?
» Keningau banyak AIDS
» NEW AND OLD RESEARCH ON HIV-AIDS VIRUS -
» Condom versus HIV / AIDS
» Lebih 87000 AIDS di Malaysia sejak 1986

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-