|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Jul 24, 2010 5:35 am | |
| PENYAMARATAAN HULU HINGGA HILIR Print this article Email this article to friend ETIKOLEGAL - Edisi Desember 2006 (Vol.6 No.5) Agus Purwadianto
Beberapa waktu yang lalu terbaca berita, bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran akan dirasakan oleh seluruh penderita, termasuk HIV/AIDS. Coba simak, fenomena berikut ini. Kenapa ada Hari AIDS sedunia yang juga kita peringati bersama ? Mengapa banyak penelitian termasuk seminar-seminar ilmiah dengan pelbagai kelompok kerja pakar tentang AIDS? Kenapa donor agency yang bermitra dengan LSM lokal yang bergerak di bidang AIDS getol meningkatkan pengembangan kapasitas dokter atau tenaga kesehatan ? Kenapa nyaring sekali dengung hak asasi pasien AIDS? Dan paradoks-nya, kenapa yang segegap gempita tadi tidak kita jumpai pada kusta ? Juga diare, busung lapar, tidak sehat-tidak sakit ? Jawaban yang paling mudah adalah : banyak orang lebih peduli terhadap AIDS dibandingkan dengan semua penyakit lain.
Bawah permukaan AIDS memang fenomenal. Kehadirannya mengguncang peradaban dunia, karena masyarakat menjadi resah. Magnitude-nya sanggup menyibak dunia kehidupan manusia ke kondisi yang 180 derajat berubah. Yang sedang berjaya mendadak runtuh. Yang kuat langsung terhempas. Yang produktif mendadak dependen. AIDS membawa bayangan situasi yang dikotomis. Bangunan sosial atau pandangan masyarakat membingkai bahwa AIDS adalah neraka dunia. Padahal semula sehat. Semula sukses. Berbeda dengan serangan jantung yang langsung menamatkan riwayat, AIDS menyisakan suatu pergulatan bagi penderitanya yang seolah tanpa akhir. Belum terhempas akibat godam virus HIV yang lambat atau cepat menggerogoti kekebalan tubuh kita, stigmatisasi sosial datang bertubi-tubi. AIDS mencampakkan penderitanya sebagai mahluk sosial, sehingga secara hukum, seolah ia mati perdata. Namun ada lagi sisi fenomenal AIDS. Masyarakat hedonis yang suka bernikmat-ria, termasuk dengan kehidupan mengumbar birahi seksualnya, menganggap AIDS sebagai abar yang ”setengah hati”. Ditakuti namun karena tak langsung mati, jadi ”setengah ditakuti”. Akibatnya, si orang kaya yang berpergaulan bebas akan ”setengah hati” ketika bersikap terhadap ORHIDA. Mau menyingkirkan, toh mereka adalah ”mantan teman kelompoknya”. Mau tetap menyatu, mereka berpotensi menularkan. Benci tapi rindu. Karenanya, mereka mempengaruhi semua sumber-sumber iptek untuk mengatasi permasalahan mereka. Jadi fitrah kelompok ini sesungguhnya adalah membebaskan derita atau stgmatisasi teman-teman mereka lebih dahulu dibandingkan dengan jutaan penderita AIDS di negara terbelakang. Karenanya, lantangnya mereka menyuarakan hak asasi penderita AIDS, tetap harus dikritisi biasnya. Jangan-jangan keberpihakan mereka hanya bagi orang berpunya saja yang ”sial” kena AIDS. Keberpihakan yang miop. Fenomena ”bawah permukaan” ini tidak terjadi di ORHIDA di Afrika atau jangan-jangan di sebagian besar pengidap disini. Apalagi untuk kusta atau penyakit tropik dan kemiskinan lainnya.
Keadilan Memang sebentar lagi, AIDS tidak menjadi masalah medis lagi. Para ahli medik bisa berbangga, semuanya sudah selesai. Orang dapat tetap hidup setelah memakan teratur kombinasi antivirus yang sudah mantap EBM-nya menghentikan gerak virus mendekati malaikat Izroil. Persoalan utama kini bergeser ke seberapa jauh akses terhadap obat anti virus tadi. Jadi menjadi soal ”komoditi” belaka. Alias soal ekonomi dan lain-lain. Walaupun sudah ada Doha principles yang membolehkan negara terbelakang untuk langsung ”membajak” formula obat anti AIDS tanpa digugat sebagai pelanggar paten, de facto masyarakat pengidap AIDS di dunia ketiga masih saja rawan. Obat anti AIDS sama kedudukannya dengan kalori yang ada di makanan. Negara rawan pangan, juga rawan AIDS. Bukan karena teknologinya lagi, namun akibat ketidak-merataannya pelayanan, khususnya obatnya. Usainya masalah medis (sebentar lagi) akan berganti dengan masalah etikolegal. Hikmatnya adalah keadilan, yang mendunia. Global justice. Dalam perdebatan ini, terus menerus akan ada dialektika, sepanjang antara dunia pertama dengan dunia ketiga masih terdapat kesenjangan.
Stigmatisasi. Ada lagi dua hal menarik dari ”komplikasi psikososial” AIDS. Yang pertama adalah ”penyamarataan kausal”. Semua orang AIDS dianggap memiliki sumber sakit sama yakni virus HIV, sekaligus sumber penyakit yang sama, yakni penularan heteroseksual yang beraib. Kenapa ? Karena diasosiasikan dengan promiskuitas yang mentolerir hubungan perselingkuhan di luar perkawinan, yang identik dengan perilaku amoral. Jadi antara virus HIV dengan amoralitas menyatu sebagai palu godam ”hulu”. Yang kedua adalah ”penyamarataan akibat” alias di ”hilir”. Semua orang diprediksi akan mati pelan-pelan dengan penuh penderitaan sebelumnya. Habis-habisan hartanya karena toh nyawa tak tertolong. Karena ”penyamarataan kausal – akibat” tersebutlah kian merebakkan stigmatisasi bagi ORHIDA. Mau ditolong, ia dianggap amoral. Mau diinsyafkan, takut ketularan. Mau dibela atau diobati, jangan-jangan harta habis, nyawapun melayang. Penyamarataan hulu - hilir inilah yang mendasari suasana anomik – tak ada norma pemandu – dalam merencanakan, mengobati hingga merehabilitasi penderita AIDS.
Tarik menarik kepentingan. Dalam pengobatan, seringkali AIDS tak diganti perusahaan. Padahal di satu sisi, pemerintah telah memberikan anti virus yang gratis, yang karena keterbatasan stok obatnya, harus melalui beberapa pintu pelayanan saja. Akibatnya, ORHIDA yang cukup VIP yang menginginkan privasinya terjaga, harus membayar mahal. Para dokter sendiri mengalami kesulitan di lapangan, ketika mau melaporkan penyakit pasiennya dengan AIDS, akan menimbulkan efek psikososial, bahkan legal yang tak karuan. Karenanya, beberapa kolega lebih menyukai menyebut penyakit ORHIDA dengan simtom-simtomnya saja. Misalnya pneumonitis. Bukan sindromanya. Hal ini yang menyulitkan pihak asuransi kesehatan yang sejak awal menyingkirkan, untuk tidak menyebutnya mendiskriminasikan, AIDS. Dengan sebutan pneumonitis yang mudah bergeser ke pneumonia, sang dokter akan sanggup mengatasi keinginan luhurnya, membela si pasien yang masih memiliki perlindungan asuransi kesehatannya. Tapi ketika sang dokter memakai kacamata keadilan, yang ia harus menenggang juga pihak lain yang akan dilindungi oleh si asuransi tadi, ia mulai bimbang menengahi dilema etis ini. Dalam etika ”managed care”, kewajiban dokter membela pasien vs membela perusahaan asuransi kesehatan yang menggaji dirinya sering berkonflik. Apalagi ketambahan persoalan AIDS yang membuat penderitanya dari gatra mikronya mulai dari tersipu-sipu, merasa bersalah terus menerus, dendam terhadap lingkungan hingga ke persoalan pengadaan tempat tidur khusus dan pembagian distribusi obat antivirus di tataran makro hingga ancaman pandemi global, perang antara WTO dengan WHO soal hak paten obat anti AIDS, skenario untuhnya ekonomi suatu negara dan berkecamuknya pendekatan keamanan karena ancaman bioterorisme yang menggunakan virus AIDS, walapun tak seoptimal anthrax ataupun sejahat virus flu burung.
Kini terpulang kembali ke penanggulangan wabah AIDS di pelayanan kesehatan kita. Mana strategi yang komprehensif ingin ditempuh? Tim Nasional Penanggulangan AIDS sudah terbina dengan segenap plus minusnya. Namun alangkah lebih indahnya ketika Tim tersebut juga mempertimbangkan sisi fenomenologis AIDS tersebut. Buikan sekedar bahwa penderita boleh menggugat dokter atau rumah sakitnya atas dugaan malpraktek gara-gara uang keluarga sudah menipis sementara penyakit tidak kunjung hilang. Atau salah paham karena atas alasan menyimpan rahasia kedokteran sang dokter tidak berterus terang penyakit yang diderita pasien namun pihak keluarga tak mengetahuinya namun langsung menyalahkan dokter/rumah sakitnya.Satu lagi, karena tampilan ruam-ruam kulit pada AIDS, ada lagi pihak LSM yang menjelekkan dokter karena dianggap ”salah obat”. Nah, komplit pula sindroma etikolegal AIDS di negara tercinta ini.
Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 6:02 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Jul 24, 2010 5:38 am | |
| SEBUAH UPAYA EVALUASI RACIKAN KHUSUS - Edisi Desember 2006 (Vol.6 No.5) Farmacia
Penilaian program HIV/AIDS di masa lalu perlu dilakukan untuk membuat perencanaan aksi yang lebih baik dan tepat
Perasaan takut seketika bersemayam pada diri Keisha ketika mengetahui dirinya positif HIV. Wanita berusia 27 tahun berulangkali bertanya pada dirinya, mengapa hal ini terjadi dan kapan hidupku berakhir? Sejak terdiagnosa adanya virus HIV dalam tubuhnya, Keisha rajin mengikuti konseling mengenai HIV/AIDS dan mulai rakus melahap berbagai informasi mengenai penyakit ini. Dan, kini perasaan ngeri itu bisa dibilang sirna. Dan, ia mampu mengatakan, “Saya bisa mendapatkan hikmah dari semua ini.” Keisha pun merasa beruntung karena banyak pihak telah membantunya untuk tetap berdiri hingga detik ini, terutama pihak yang telah menyediakan obat antiretroviral (ARV) secara gratis.
Sosok Keisha boleh jadi suatu harapan dari upaya berbagai pihak yang peduli terhadap bahaya HIV/AIDS. Berbagai program yang menyatakan perang terhadap HIV/Aids juga telah membuahkan hasil. Begitu pula dengan perkembangan obat, meski ada yang resisten, telah mampu menekan virus ganas ini. Namun semua upaya itu bukan suatu akhir. Perlu adanya perbaikan dari usaha yang dilakukan. Untuk itulah, World AIDS Campaign, menetapkan tema peringatan hari AIDS sedunia kali ini adalah Stop AIDS-Keep The Promise Accountability.
“Tahun 2006 merupakan tahun untuk belajar dari masa lalu dan menetapkan rencana ke depan. Hari AIDS Sedunia merupakan momen penting untuk melakukan akuntabilitas karena kita bisa mengetahui apa yang telah berhasil dan apa saja yang masih kita butuhkan,” kata Direktuf Eksekutif World AIDS Campaign, Marcel van Soest, kepada UNAIDS. Soest mengalamatkan pesan ini kepada semua stakeholder mulai masyarakat luas hingga kalangan bisnis, mulai dari organisasi dunia PBB hingga pemimpin komunitas lokal.
Jika melongok apa yang telah dilakukan untuk pengobatan AIDS, maka ada banyak hal yang nampaknya perlu dibenahi oleh mereka yang berwenang di dunia. Dari Konferensi AIDS Internasional Agustus 2006 lalu di Toronto terungkap, dari sekitar 6,8 juta orang dengan HIV yang tinggal di negara yang penduduknya memiliki tingkat ekonomi rata-rata menengah ke bawah, hanya sebesar 1,6 juta atau hanya 24 persennya, yang memiliki akses obat ARV. Sekitar 76 persen akan menjadi korban sia-sia HIV karena tidak mampu mendapatkan obat penyelamat nyawa tersebut. Sulitnya mendpatkan ARV bukan hanya terjadi pada penderita dewasa, anak-anak pun merasaka hal serupa. Hanya 8 hingga 13 persen dari mereka mendapatkan akses obat ini dari 800 ribu yang membutuhkan. Untuk mereka yang memiliki risiko tinggi terkena infeksi ini, hanya 1 dari 5 orang yang memiliki akses untuk pencegahan yang efektif. ”Negara miskin memang harus menunggu lama untuk dapat memanfaatkan obat ARV karena harga obat ARV amat mahal, sekitar Rp 8 juta rupiah sebulan,” ujar Prof. Dr. Samsuridjal Djauzi., SpPD. Sejak obat ini dinyatakan bermanfaat untuk terapi HIV tahun 1996 hanya negara maju yang bisa memanfaatkannya, kecuali Brazil yang pada tahun 1997 memberikan obat ARV gratis pada masyarakatnya.
Peluang negara miskin dan berkembang untuk memanfaatkan obat ini terbuka sejak India berhasil membuat versi generik ARV pada tahun 2000. Upaya ini sempat mendapat hambatan dari produsen obat paten ARV, yang mengajukan Afrika Selatan dan Thailand ke pengadilan dengan tuduhan melanggar hak paten. Namun dua negara tersebut memenangkan perkara karena menggunakan obat itu untuk keselamatan masyarakat, bukan untuk diperdagangkan.
Melalui perjuangan yang berliku dari para aktivis HIV/AIDS, Indonesia berhasil mendatangkan obat ARV generik dari India dan Thailand pada 2001, dan pada akhirnya perusahaan farmasi plat merah, PT Kimia Farma memproduksinya pada Desember 2003. 5 jenis obat ARV yang diproduksi Kimia Farma adalah Hiviral, Reviral, Duviral, Triviral, dan Neviral.
Samsuridjal mengatakan, hingga saat ini di kawasan ASEAN tiga negara yang telah memproduksi ARV adalah Thailand, Vietnam, dan Indonesia. “Pengadan produksi dalam negeri merupakan upaya menghindari ketergantungan dan tekanan negara produsen obat ARV paten,” ujarnya.
Akuntabilitas di Indonesia Persoalan ketersediaan obat ARV di negeri ini boleh jadi sudah terpecahkan. Namun disisi lain ancaman resistensi mulai mengintai. “Jika pemakaian lebih dari 3 tahun, maka ada kemungkinan terjadi resistensi,” ujar Dr. Teguh Harjono K., SpPD. Kepatuhan minum obat sangat berperan besar. Belum lagi, jika infeksi oportunistik terjadi. Obat yang digunakan untuk mengobati infeksi oportunistik tidak murah. “Untuk infeksi oportunistik pada mata misalnya, cuma untuk obatnya saja membutuhkan biaya Rp 20 juta,” ujar Teguh.
Sayangnya, kasus HIV/AIDS di Indonesia berbeda dibanding negara lain dilihat dari segi pola infeksi oporunistik dan stadium waktu diagnosis ditegakkan. “Sebagian besar kasus AIDS dijumpai pada stadium lanjut sehingga risiko kematian akibat infeksi oportunistik amat tinggi,” ujar Samsuridjal. Infeksi jamur saluran cerna, TBC, toksoplasma otak, meningitis kritokokus, retinitis sitomegalo merupakan infeksi yang sering dijumpai.
“Gambaran ini menunjukkan bahwa upaya penyuluhan dan VCT belum berhasil menjaring kasus baru atau yang dalam stadium ringan.” Kesimpulan Samsuridjal dapat dijadikan salah satu warning dalam melakukan akuntabilitas di Indonesia.
Samsuridjal menampik jika hal tersebut karena tidak adanya perhatian dari pemerintah. “Komitmen pemerintah dan aktivitas LSM dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia cukup tinggi namun kita masih mempunyai banyak kelemahan,” ujarnya. Kelemahan utama adalah pada tingkat pelaksanaan di lapangan. Bebagai kebijakan dan pedoman yang dikeluarkan oleh pusat tidak berjalan baik di lapangan. Kegiatan penanggulangan AIDS lebih terasa gemanya di tingkat nasional dan propinsi. Upaya di tingkat kegiatan kota masih kurang marak. Selain itu infrastruktur kesehatan dan tenaga SDM dapat merupakan hambatan pelaksanaan program ini mengingat bagi sebagian unit layanan permasalahan HIV/AIDS merupakan hal baru sedangkan kebutuhan masyarakat meningkat tajam.
Hal lain yang mengkhawatirkan, adalah tingginya ketergantungan pada pihak luar negeri baik berupa dana maupun konsep. “Upaya penanggulangan AIDS di Indonesia lebih merupakan fotokopi kegiatan di negara maju baik dalam bentuk jargon, pelaksanaan dan prioritas,” kata Samsuridjal yang juga Ketua Gerakan Nasional Meningkatkan Akses Terapi HIV/AIDS (GN-MATHA).
Ketergantungan dana pada pihak luar negeri kerap membuat penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia seperti ‘buka tutup’. Jika lembaga donor menyediakan dana maka kegiatan akan berjalan, namun jika lembaga donor berhenti mengucurkan dana, maka kegiatan juga akan terhenti.
Ledak HIV Kasus HIV/Aids ibarat bom waktu. Data yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan (PPM&PL) Departemen Kesehatan menyatakan secara kumulatif mulai 1 April 1987 hingga 30 September 2006, jumlah pengidap infeksi HIV dan AIDS adalah sebesar 11.604, yang berarti telah berlipat 1.200 kali dibanding 19 tahun lalu yang hanya berjumlah 9 kasus. Jumlah kematian hingga saat ini tercatat 1.651 orang. semntara
Selama 10 tahun pertama kasus HIV/AIDS di Indonesia, pola penularan terbesar adalah melalui hubungan seksual yang tidak aman. Meski kondom dapat digunakan sebagai upaya pencegahan, namun kaum perempuan tidak memiliki ‘suara kuat’ untuk meminta suami sebagai pasangan seksualnya menggunakan kondom. Samsuridjal mengungkapkan, angka penggunaan kondom baru mencapai angka 20 persen. Bayangkan, jika pria sang suami kerap menggunakan jasa PSK, atau memiliki pasangan seksual lebih dari satu, atau menggunakan jarum suntik narkoba. Jika diasumsikan sang kuman HIV dapat masuk ke tubuh pria tersebut, maka akan ada tambahan sederet wanita yang juga dapat tertular HIV.
Nah, perkara penggunaan jarum suntik atau IDU (Injecting Drug User) cukup membuat berbagai pihak di negeri ini pusing kepala. Pola penularan HIV bisa terjadi bolak-balik. Artinya, perempuan bisa menularkan virus HIV ke suaminya yang ‘bersih’ atau sebaliknya. (Baca Boks : ‘Warisan’ yang Tidak Biasa). Padahal perempuan berada pada simpul yang penting, karena ia memiliki fungsi reproduksi yang dapat menularkan virus tersebut pada anak yang dikandungnya.
Yang menakutkan, para pecandu narkoba suntik kerap menggunakan jarum suntik bersama-sama. Hendro, 35 tahun, mantan pengguna narkoba mengatakan satu jarum suntik bisa digunakan oleh lebih dari 3 orang. “Biasanya pake punya BD,” ujarnya. BD adalah sebutannya untuk sang bandar.
Hasil penelitian yang dilakukan Dr. Wigati dari RSCM mengungkapkan, penggunaan jarum suntik secara bersama pada pengguna narkoba mencapai angka 76 persen. Sedangkan frekuensi pemakaian 1 hingga 4 kali sehari mencapai 72 persen, dan sisanya lebih dari 4 kali setiap harinya. Riset yang dilakukan tahun itu juga menemukan, infeksi HIV pada IDU mencapai 80 persen. Tidak cuma HIV, virus hepatits C juga turut menyebar, dengan angka prevalensi sebesar 82 persen.
Data dari Badan Narkotika Nasional bersama Pusat Penelitian UI mendapatkan estimasi pengguna narkoba suntikan sekitar 572.000 orang. “Jika kita ambil angka moderat sebanyak 60 persen, maka dari kelompok ini saja akan terdapat 340 ribu kasus HIV positif,” ujar Samsuridjal.
Maka, jika tahun 1999 jumlah kasus baru HIV dari IDU adalah sepuluh kasus, tahun 2000 jumlah kasus dari IDU menjadi 65 kasus, naik hingga 7 kali lipat hanya dalam tempo satu tahun. Angka ini bertambah menjadi 97 kasus pada tahun 2002, 122 kasus tahun 2003, naik dalam kali lipat menjadi 822 pada tahun 2004, dan tahun 205 mencapai 1420 kasus baru. Jika tak bisa dikendalikan, bom jumlah penderita HIV di Indonesia tinggal menunggu ledakan.
Jaring penularan semakin melebar, karena seperti diungkapkan Hendro, beberapa pengguna narkoba juga kerap menjadi PSK. Dan ada sejumlah pria pengguna jasa PSK, yang memiliki istri atau pasangan seksual. Pengguna narkoba pun memiliki istri atau suami atau berhubungan seksual dengan pasangannya. Wualah! Seks dan narkoba menjadi kombinasi hebat yang saling bersinergi menyebarkan virus ini.
Putuskan Rantai! Salah satu upaya untuk menghentikan laju pertambahan penderita HIV, tidak lain adalah lewat peredaran narkoba. “Lingkaran peredaran narkoba harus diputus,” ujar Teguh. Ini, tentu bukan pe-er yang mudah. Banyak pihak dan institusi terlibat dalam hal ini.
Cakupan layanan AIDS juga mesti diperluas. Pemerintah, menurut Samsuridjal, tahun 2006 ini meluncurkan program layanan komprehensif di 100 kabupaten dan kota. Layanan komprehensif tersebut mencakup upaya pencegahan dan CST (Care, Support, and Treatment) berupa penyuluhan, pencegahan melalui kondom dan harm reduction, VCT (Voluntary Testing and Counselling), MTCT (Mother to Child Transmission) atau pencegahan penularan dari ibu hamil ke bayi, dukungan, pengadaan layanan transfusi darah yang aman serta pengadaan peraturan dan hukum. . Pada tahap pertama masih pada 100 kabupten /kota yang memiliki permasalahan HIV/AIDS menonjol namun selanjutnya akan dilakukan pada kabupaten/kota lain. “Dengan program ini diharapkan layanan dapat didekatkan pada masyarakat yang membutuhkan,” ujar Samsuridjal.
Untuk mengatasi permasalahan sumber daya manusia dalam melaksanankan program HIV/AIDS dapat dilakukan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan. “Namun pelatihan tersebut harus terus dilakukan,” ujar Samsuridjal. Keterlibatan sektor swasta dan kalangan akademisi mungkin akan dapat meningkatkan jumlah cakupan dan mutu pelatihan.
Pemerintah, yang memiliki kemampuan finansial terbatas, harus berupaya untuk meningkatkan potensi nasional dan daerah agar ketergantungan pada pihak luar secara bertahap dapat dikurangi. Semoga, akhir 2006 ini, sukses untuk dijadikan sebagai langkah awal untuk memperbaiki raport penanggulangan HIV/AIDS oleh seluruh komponen bangsa, karena sebagai satu kesatuan masyarakat, HIV dan AIDS adalah masalah kita bersama. (Ika) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Jul 24, 2010 5:39 am | |
| RENCANA STRATEGI PENANGGULANGAN AIDS DKI JAKARTA 2008-2012 28-01-2008 | nita-medicastore.com DKI Jakarta merupakan provinsi dengan angka estimasi kelompok resiko tinggi tertular HIV tertinggi, dengan rerata estimasi jumlah orang dewasa beresiko tinggi terinfeksi HIV sebesar 854.340 dan tingkat prevalensi HIV 3,24%. Jumlah estimasi orang dengan HIV AIDS sejumlah 27.670. Jumlah ODHA yang dilaporkan sebanyak 2.565 kasus,? ucap Rohana Manggala, Kepala Pelaksana Harian Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) DKI Jakarta yang menjadi narasumber dalam diskusi Rencana Strategi Penanggulangan AIDS DKI Jakarta 2008-2012 di Gedung S. Widjojo Center, Jakarta, 24 Januari 2008 yang lalu. Pencapaian program pencegahan HIV yang signifikan sampai saat ini pada wanita penjaja seks sebesar 26%, waria 41%, homoseksual 7%, kelompok pengguna Napza suntik 6% dan pada warga binaan lembaga pemasyarakatan 21%.
Tantangan program yang terbesar saat ini adalah upaya peningkatan pemakaian kondom pada kelompok berprilaku resiko tinggi, yang masih sangat rendah yakni hanya berkisar antara 8-23%. Upaya ini perlu ditingkatkan, mengingat pengaruh transmisi seksual yang besar terhadap peningkatan epidemi HIV. "Kondom hanyalah alat untuk menghindari HIV, namun penanggulangan AIDS yang sesungguhnya adalah dengan perubahan perilaku? tegas Rohana.
Lebih lanjut dijelaskan, rentang waktu rencana strategis HIV dan AIDS ini adalah selama 5 tahun (2008-2012) sesuai dengan rentang otoritas pemerintah provinsi yang dimulai pada akhir tahun 2007 untuk masa 5 tahun. Agar sasaran dan tujuan program dalam rentang waktu ini dapat dirumuskan secara tepat, dibuat permodelan epidemi yang mengacu pada Asian Epidemic Modelling (AEM). Permodelan ini dipakai sebagai dasar untuk menentukan skenario penanggulangan, target sasaran dan target pencapaian program.
Pelaksanaan program penanggulangan HIV dan AIDS di Jakarta difokuskan pada upaya pencegahan pada kelompok resiko tinggi dan upaya perawatan, dukungan dan pengobatan pada ODHA. Target program adalah penjangkauan secara efektif kelompok resiko tinggi transmisi seksual dan jarum suntik sebanyak 80% pada tahun 2010 dengan target perubahan perilaku 60% pada masing-masing kelompok. Fokus program ini terbukti efektif untuk tingkat epidemi yang masih terkonsentrasi pada kelompok resiko tinggi. Skenario pencapaian program ini diperkirakan akan dapat mencegah infeksi baru HIV sebesar 16 ribu pada tahun 2010 dan 32 ribu pada tahun 2012 mendatang. Estimasi kebutuhan dana pada tahun 2008 adalah sebesar 268 milyar dan terus meningkat sebesar 501 milyar pada tahun 2010 dan 629 milyar pada tahun 2012 sesuai dengan peningkatan target cakupan. Dana ini diambil dari APBD. Rencana Stategis Penanggulangan HIV dan AIDS ini dikembangkan melalui proses kajian yang melibatkan beberapa pihak yakni Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Forum LSM Peduli HIV dan AIDS Jakarta, serta pihak donor baik yang bersifat bilateral maupun multilateral.
Narasumber lainnya, Wenita Indrasari, Reporting & Information System Coordinator Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS Nasional memberikan gambaran tentang epidemi HIV di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa epidemi HIV di Indonesia telah berlangsung lama. Sejak tahun 2000, epidemi tesebut telah mencapai tahap terkonsentrasi pada beberapa sub-populasi beresiko tinggi (dengan prevelensi lebih dari 5%) yaitu pada pengguna Napza suntik, wanita penjaja seks, dan waria. Situasi ini menunjukkan umumnya Indonesia berada pada tahap epidemi terkonsentrasi (concentrated epidemic).
Di Papua (provinsi Papua dan Irian Jaya Barat), keadaaan yang meningkat ini ternyata telah menular lebih jauh, yakni telah terjadi penyebaran HIV melalui hubungan seksual beresiko pada masyarakat umum (dengan prevelensi lebih dari 1%). Situasi di Papua menunjukkan tahapan telah mencapai generalized epidemic.
Sampai dengan akhir September 2007, Departemen Kesehatan melaporkan penambahan pasien AIDS sejumlah 2.190 orang pada tahun 2007 atau menjadi 10.384 orang secara kumulatif. Informasi ini masih mengkonfirmasi fakta tingginya laju pertambahan jumlah infeksi baru, dimana Indonesia saat ini tercatat sebagai negara dengan laju epidemi tercepat di Asia. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Jul 24, 2010 5:42 am | |
| JUMLAH KEMATIAN DAN PENDERITA BARU HIV TIDAK LAGI MELONJAK BESAR Rabu, 14/07/2010 11:04 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Wina, Data terbaru jumlah kematian dan penderita baru HIV-AIDS dunia per tahun 2008 cukup membuat tenang karena tidak ada lonjakan kasus secara drastis. Jumlah kematian dan penderita baru HIV sama seperti tahun 2007. Di tahun 2008, jumlah penderita baru yang terkena infeksi HIV sama besarnya seperti 2007, yaitu 2,7 juta jiwa. Begitu juga dengan jumlah kematian di tahun 2008 akibat HIV sama seperti tahun 2007 yang sebesar 2 juta. Tidak adanya lonjakan serius kematian dan penderita HIV diduga karena kesadaran tentang seks yang aman mulai muncul. Begitu juga dengan pengobatan penderita HIV dengan terapi antiretroviral yang sangat aktif yang membantu penderita HIV hidup lebih lama.
Berdasarkan laporan Program Bersama HIV/AIDS PBB (UNAIDS), di tahun 2008 terdapat 33,4 juta jiwa di seluruh dunia diperkirakan terinfeksi human immunodeficiency virus (HIV) yang menyebabkan AIDS. Untuk membahas kemajuan terbaru penyakit ini, ribuan ilmuwan, petugas kesehatan, aktivis dan pejabat pemerintahan akan berkumpul dalam konferensi besar AIDS internasional di Wina pada 18 Juli 2010. Dilansir dari Reuters, Rabu (14/7/2010), berikut beberapa gambaran tentang HIV-AIDS di seluruh dunia:
Gambaran global Kematian global dari AIDS diperkirakan mencapai 2 juta pada tahun 2008, jumlah yang sama seperti pada tahun 2007. Sejak pandemi AIDS dimulai pada awal 1980-an, hampir 60 juta jiwa telah terinfeksi virus ini dan 25 juta jiwa meninggal karena penyebab terkait HIV. Pada tahun 2008, sekitar 430.000 anak lahir dengan HIV. Ini menambah jumlah total menjadi 2,1 juta anak di bawah usia 15 tahun yang hidup dengan HIV. Dan orang muda mencapai sekitar 40 persen dari seluruh dewasa baru (usia 15 tahun ke atas) terinfeksi HIV di seluruh dunia. Jumlah tahunan infeksi HIV baru tetap sama pada tahun 2008 dan 2007, yaitu sebesar 2,7 juta jiwa. Angka ini menurun dari 3 juta pada tahun 2001.
Meskipun 33,4 juta orang terinfeksi HIV pada tahun 2008, kebanyakan dari penderita tersebut telah hidup dengan HIV sebelumnya. Ini setidaknya sebagian disebabkan oleh efek menguntungkan dari obat AIDS, yang dikenal dengan terapi antiretroviral yang sangat aktif. Saat ini, ada 26,3 juta orang dewasa di atas usia 25 tahun yang hidup dengan infeksi HIV.
Afrika dan Asia Sub-Sahara Afrika tetap merupakan wilayah yang paling banyak kasus HIV, jumlah total sebesar 67 persen dari seluruh penderita HIV di seluruh dunia. 71 persen kematian di daerah tersebut terkait dengan AIDS dan 91 persen dari infeksi baru adalah anak-anak. Diperkirakan 1,9 juta orang baru terinfeksi HIV di sub-Sahara Afrika pada tahun 2008. Ini menambah jumlah orang yang hidup dengan HIV di Afrika menjadi 22,4 juta jiwa.
9 negara di Afrika Selatan terus menanggung bagian yang tidak proporsional dari beban global AIDS. Masing-masing memiliki tingkat HIV orang dewasa lebih dari 10 persen. Dengan prevalensi HIV dewasa 26 persen pada tahun 2007, Swaziland, Afrika, memiliki tingkat infeksi terburuk di dunia. Epidemi Lesotho, Afrika, tampaknya telah stabil, dengan tingkat HIV dewasa 23,2 pada tahun 2008. Afrika Selatan terus menjadi rumah bagi populasi terbesar di dunia yang hidup dengan HIV, yaitu 5,7 juta pada tahun 2007. Lebih dari 250.000 warga Afrika Selatan meninggal karena penyakit terkait AIDS pada tahun 2008 dan hampir 2 juta anak di sana telah kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya karena epidemi.
Asia, rumah dari 60 persen populasi dunia, merupakan wilayah kedua setelah sub-Sahara Afrika yang paling banyak terinfeksi HIV. Diperkirakan 4,7 juta jiwa orang hidup dengan HIV di Asia pada tahun 2008. Dan India menyumbang sekitar setengah dari kasus HIV di Asia. Dengan pengecualian Thailand, yang mana HIV mempengaruhi 1,4 persen orang dewasa, setiap negara di Asia memiliki tingkat infeksi HIV dewasa kurang dari 1 persen.
Wilayah lain Tingkat HIV di Eropa Timur dan Asia Tengah meningkat, dengan epidemi yang serius dan terus berkembang di Ukraina dan Rusia. Dengan prevalensi dewasa sebesar 1,6 persen di tahun 2007, Ukraina memiliki prevalensi tertinggi di Eropa. Di Eropa Timur 1,5 juta orang hidup dengan HIV.
Di Amerika Latin, infeksi HIV baru mencapai kira-kira 170.000 pada tahun 2008, menambah jumlah menjadi 2 juta orang yang hidup dengan HIV disana. Diperkirakan 77.000 orang meninggal karena penyakit yang berkaitan dengan ADIS tahun lalu.
Dan ada 2,3 juta orang yang hidup dengan HIV pada tahun 2008 di Amerika Utara, Eropa Barat dan Eropa Tengah. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Jul 24, 2010 5:43 am | |
| HIV/AIDS , Rp 550 MILIAR UNTUK TANGANI PENYAKIT Kamis, 24 Juni 2010 | 06:38 WIB KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Jakarta, Kompas - Indonesia kembali mendapatkan dana penanggulangan HIV/AIDS dari Global Fund. Penerima hibah utama, yakni Kementerian Kesehatan, Nahdlatul Ulama, dan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional atau KPAN, menandatangani kesepakatan pengucuran hibah sebesar 60,7 juta dollar AS atau sekitar Rp 550 miliar dengan Global Fund, Rabu (23/6). Dana tersebut nantinya untuk Kementerian Kesehatan sebesar 39,1 juta dollar AS, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) 18,6 dollar AS, dan Nahdlatul Ulama (NU) sebesar 2,9 juta dollar AS untuk periode pertama, 1 Juli 2010 hingga 30 Juni 2012. Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengatakan, untuk penanggulangan HIV/AIDS, dana dari Global Fund 45 persen dan pemerintah 55 persen.
Global Fund telah memberikan bantuan dalam bentuk hibah kepada Indonesia sejak tahun 2003 guna mendukung program penanggulangan HIV/AIDS, tuberkulosis, dan malaria. Direktur Eksekutif Global Fund Michel Kazatchkine mengatakan, Global Fund merupakan pemberi bantuan dana utama untuk penanggulangan HIV/AIDS, tuberkulosis, dan malaria. Dana yang dikumpulkan dari negara-negara donor, korporat, dan donatur dari seluruh dunia itu merupakan bentuk upaya kolektif untuk penanggulangan penyakit. ”Tidak ada yang mampu mengatasi penyakit sendirian,” ujar Kazatchkin.
Pemakaian dana Direktur Pemberantasan Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan Iwan Mulyono mengungkapkan, dana HIV/AIDS itu akan dipakai untuk penguatan kapasitas kesehatan pada kelompok berisiko tinggi, dukungan kepada rumah sakit untuk pengobatan ARV, penanganan infeksi menular seksual, dan berbagi kegiatan lainnya.
Deputi Sekretaris KPAN Bidang Program Fonny J Silfanus mengatakan, organisasinya akan menggunakan dana itu untuk pencegahan penularan baru, terutama pada populasi kunci. Wakil Ketua Lembaga Kesehatan NU Wan Nedra mengatakan, pihaknya akan bekerja sama dengan organisasi masyarakat lainnya untuk membangun sentra-sentra pencegahan penggunaan narkoba suntik. Selain itu, terdapat program penjangkauan ke kelompok berisiko tinggi. (INE/DAY) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Jul 24, 2010 5:43 am | |
| MENKES: JANGAN HAKIMI PENDERITA HIV AIDS Vera Farah Bararah - detikHealth - Sabtu, 12/06/2010 16:17 WIB Jakarta, Permasalah HIV AIDS di Indonesia hingga kini masih belum bisa teratasi dengan baik. Bukannya menurun jumlah penderitanya terus bertambah. Menteri Kesehatan meminta masyarakat memperlakukan ODHA (orang dengan HIV AIDS) secara bermartabat. "Untuk mengatasi HIV AIDS tidak bisa menggunakan cara keras karena hal ini tidak akan efektif," ujar Menkes Dr dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH dr ph dalam acara seminar 'How to deal with HIV AIDS' di aula FKUI Salemba Jakarta, Sabtu (12/6/2010).
Menkes menuturkan dalam upaya pengendalian HIV AIDS tetap harus menghormati harkat, martabat, norma dan agama, serta memperhatikan keadilan, kesejahteraan dan juga jenis kelamin. Hal lain yang juga penting adalah harus melindungi ODHA (orang dengan HIV AIDS) agar tidak dihakimi masyarakat. HIV AIDS merupakan salah satu penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sehingga bisa menurunkan kualitas hidup orang tersebut. Untuk itu diperlukan langkah-langkah yang tepat agar bisa membantu mengurangi angka pengidap HIV AIDS.
Menkes mengatakan dalam pengendalian HIV AIDS harus secara berkesinambungan serta melibatkan seluruh komponen seperti LSM, pemerintah dan masyarakat dengan prinsip kemitraan. "Jika pengendalian ini tidak bisa efektif maka diperkirakan pada tahun 2020 ada sekitar 1,6 juta orang yang teinfeksi HIV," ujar prof. Dr dr Samsuridjal Djauzi, SpPD-KAI FACP.
Pengendalian angka HIV AIDS ini meliputi penyuluhan dan upaya pencegahan melalui gerakan bersama. Diharapkan jika pengendalian ini bisa berhasil maka angka HIV AIDS bisa menurun di Indonesia. Seperti dikutip Menshealth.about.com, ketika seseorang terinfeksi maka gejala awal yang muncul terkadang mirip dengan flu atau infeksi virus sedang.
Gejala dan tanda awal dari HIV termasuk demam, sakit kepala, kelelahan, mual, diare dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak atau pangkal paha. Gejala-gejala ini hampir sama dengan infeksi virus lainnya. Karena itu banyak orang yang terinfeksi HIV tidak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi hingga bertahun-tahun sehingga mencapai stadium lanjut.
Pusat pengendalian penyakit (Center for Disease Control/CDC) mengungkapkan ada beberapa gejala yang menunjukkan stadium lanjut dari HIV yaitu: 1. Kehilangan berat badan dengan cepat tanpa adanya alasan 2. Batuk kering 3. Demam berulang atau berkeringat saat malam hari 4. Kelelahan 5. Diare yang lebih dari seminggu 6. Kehilangan memori 7. Depresi dan juga gangguan saraf lainnya.
HIV disebabkan kebanyakan karena perilaku gonta ganti pasangan seks tanpa menggunakan kondom atau orang-orang yang memakai narkoba karena gantian menggunakan jarum suntik. HIV menular melalui: 1. Hubungan kelamin dan hubungan seks oral atau melalui anus 2. Transfusi darah 3. Penggunaan bersama jarum terkontaminasi melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan 4. Antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Jul 24, 2010 5:44 am | |
| HENTIKAN DISKRIMINASI TERHADAP PENGIDAP HIV/AIDS Rabu, 2 Desember 2009 | 03:28 WIB Yogyakarta, Kompas - Ratusan orang dari lembaga swadaya masyarakat dan pemerhati masalah HIV/AIDS di Yogyakarta, Selasa (1/12), berunjuk rasa meminta diskriminasi terhadap pengidap HIV/AIDS segera dihilangkan. Mereka menilai diskriminasi di masyarakat masih cukup tinggi. Menurut pengunjuk rasa, HIV/AIDS sama dengan penyakit lainnya sehingga tidak perlu ada pembedaan terhadap pengidap. Penyakit ini juga bisa menyerang semua orang, termasuk ibu rumah tangga baik-baik dan anak mereka. Diskriminasi tidak akan menyelesaikan masalah, justru malah akan menambah beban pengidap.
”Mengapa terjadi diskriminasi? Karena masih kuatnya stereotip di masyarakat bahwa penyakit itu terjadi akibat perilaku menyimpang yang dilakukan orang-orang yang ’tidak baik’,” kata Istikomah dari Institut Hak Asasi Perempuan Yogyakarta, salah satu LSM yang ikut dalam aksi unjuk rasa. Di Surabaya, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf mengatakan, pengidap AIDS di Jawa Timur paling banyak tertular lewat jarum suntik yang digunakan bersama oleh pemakai narkotik. Banyak pengidap yang masih dalam usia produktif. Saifullah Yusuf mengatakan, pemberantasan penggunaan narkotik suntik menjadi prioritas. ”Pemprov menyediakan Rp 10 miliar untuk pencegahan penularan lewat jarum suntik,” kata Saifullah, saat meninjau pasien pengidap AIDS di RSU Dr Soetomo, Surabaya.
Pemprov Jatim juga mencatat, 42 persen pengidap saat ini ada di usia produktif mulai dari 20 tahun hingga 29 tahun. Hal itu berdampak pada produktivitas mereka. Selain itu, sebagian masyarakat masih menjauhi pengidap HIV/AIDS. Akibatnya, pengidap tidak bisa bekerja lagi. ”Kemampuan mereka bagus, tetapi terhambat stigma,” ujarnya. Pemprov Jatim juga mendorong rumah sakit kabupaten/kota ikut merawat pengidap HIV/AIDS. Hal itu untuk mendekatkan pusat perawatan dengan pengidap. ”Saat ini harapan hidup pengidap bisa diperpanjang asal rutin meminum obat. Bukan AIDS yang menyebabkan kematian, tetapi penyakit yang menyerang karena kekebalan tubuh pengidap menurun,” ujarnya.
Akses sosial dibuka Di Malang, Jawa Timur, sekitar 100 aktivis peduli pengidap HIV/AIDS menuntut dihilangkannya stigma negatif atas orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta diberikannya akses sosial yang sama kepada mereka. ”Banyak ODHA meninggal justru karena tidak punya akses sosial atau dikucilkan dan didiskriminasi di semua hal. Meski kondisi fisik ODHA terus dijaga dengan obat-obatan, kalau kondisi mentalnya dilemahkan dengan pengucilan dan diskriminasi, sama saja pengobatan itu tidak ada gunanya,” kata Ketua Ikatan Waria Malang Merlyn Shopjan di tengah aksi memperingati Hari AIDS Sedunia di depan Balaikota Malang. Peringatan Hari AIDS Sedunia juga dilakukan di kota-kota lain, seperti di Solo, Tegal, Banyumas, Bandung, dan Jakarta.(DIA/RAZ/WER/WIE/EKI/HAN/CHE/INE) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Jul 24, 2010 5:45 am | |
| STIGMA DAN PERLAKUAN MENYAKITKAN ITU..... Rabu, 2 Desember 2009 | 05:30 WIB Kompas.com/Kristianto Purnomo KOMPAS.com - Beban paling berat yang dirasakan pengidap HIV/AIDS adalah stigma negatif yang dilekatkan kepada mereka. Masyarakat menilai pengidap HIV/AIDS adalah mereka yang berperilaku seks menyimpang dan ”bukan orang baik-baik”. Stigma itu menyebabkan pengidap HIV/AIDS sering dikucilkan masyarakat dan mendapat perlakuan diskriminatif, bukan cuma oleh masyarakat awam, tetapi juga oleh tenaga medis. Padahal, orang dengan HIV/AIDS bisa disandang siapa saja, termasuk anak-anak dan ibu baik-baik.
Perlakuan diskriminatif itu, misalnya, pernah dirasakan Dini, aktivis Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia (JOTHI). Pada suatu ketika, perempuan muda itu mengalami efek samping obat Nevirapine, salah satu obat antiretroviral yang harus dikonsumsi pengidap HIV/AIDS untuk mempertahankan kualitas hidupnya. Dini pun mencari pertolongan ke unit gawat darurat sebuah rumah sakit di Jakarta. Setelah tenaga kesehatan mengetahui bahwa dia terinfeksi HIV, Dini dipindahkan ke ruang unit gawat darurat bagian kejiwaan.
”Saya kesal dan sedih sekali,” ujar Dini, Selasa (1/12). Selain itu, masih terdapat sejumlah rumah sakit yang tidak mau menerima pasien HIV untuk menjalani rawat inap. Ketua Ikatan Waria Malang Merlyn Shopjan mengatakan, banyak orang dengan HIV/AIDS meninggal karena perlakuan diskriminatif. ”Walaupun minum obat, kondisi fisiknya akan memburuk jika mentalnya tertekan,” kata Merlyn.
Mengecewakan Ines dari organisasi Gay, Waria, dan Lelaki Seks dengan Lelaki (GWL) pun masih kecewa dengan pelayanan fasilitas kesehatan yang ada. Para waria, misalnya, menanggung stigma ganda, yakni identitasnya sebagai waria dan orang dengan infeksi HIV/AIDS. ”Akibatnya, banyak yang kemudian enggan ke rumah sakit atau puskesmas, baik untuk berobat bagi yang sudah terinfeksi maupun memeriksakan diri,” ujarnya. Aditya Wardhana dari UN General Assembly Special Session Forum menambahkan, pemerintah memang telah menyediakan obat gratis bagi orang dengan HIV/AIDS. Namun, layanan kesehatan yang belum ramah terhadap mereka merupakan persoalan besar. Pembinaan rumah sakit dan tenaga kesehatan menjadi sangat penting. Fasilitas kesehatan seharusnya justru menjadi garda depan yang dapat menerima kondisi mereka. ”Begitu mengakui terinfeksi HIV, kami langsung menjadi anak tiri,” ujarnya.
Stigma negatif terhadap orang dengan HIV/AIDS sangat merugikan upaya penanggulangan penyebaran penyakit tersebut. Terlebih lagi stigma terhadap populasi kunci seperti perempuan pekerja seksual, pelanggan perempuan pekerja seksual, waria, lelaki berhubungan seks dengan lelaki, dan pengguna napza suntik. ”Kondisi ini menjadi kontraproduktif dengan berbagai upaya untuk membendung penularan HIV,” ujar Ines. Tak mengherankan jika terjadi fenomena gunung es pada kasus HIV dan AIDS. Berdasarkan data Departemen Kesehatan, jumlah kumulatif kasus AIDS sampai September 2009 sebanyak 18.442 kasus dan kumulatif pengidap infeksi HIV sebanyak 28.260 kasus sehingga total orang dengan HIV/AIDS mencapai 46.708 jiwa. Namun, Departemen Kesehatan memperkirakan jumlah yang terinfeksi sekitar 300.000 kasus.
OLE untuk gerus stigma Salah satu upaya menggerus stigma tersebut ialah dengan mengikuti kisah perjalanan hidup orang dengan HIV/AIDS, yang oleh World Vision Indonesia dikemas dalam bentuk ekshibisi interaktif HIV/AIDS One Life Evolution (OLE). Pengunjung diajak mengikuti lima kisah hidup orang dengan HIV/AIDS dengan latar belakang beragam, mulai dari kisah Retno, seorang ibu rumah tangga, Tasya yang berusia tiga tahun, hingga Ahmad, seorang laki-laki muda. Seiring dengan narasi kisah hidup yang diperdengarkan lewat earphone, pengunjung memasuki lorong seorang diri dari satu ruang ke ruang lain. Ruang ditata sedemikian rupa sehingga menggambarkan kisah dan fase kehidupan tokoh mulai dari kecil hingga terinfeksi HIV. Di ujung perjalanan, pengunjung disodori berbagai pilihan sikap untuk merespons HIV/AIDS. Terdapat pula berbagai informasi seputar penularan HIV dan pesan untuk menghapus stigma negatif.
National Director World Vision Indonesia Trihadi Saptoadi mengatakan, penghapusan stigma membutuhkan kerja sama berbagai unsur di masyarakat. Kampanye tersebut tidak sekadar memberikan informasi, tetapi menggedor afeksi dan empati masyarakat. Communications Director World Vision Indonesia Katarina Hardono mengatakan, HIV sudah menjadi urusan bersama karena siapa pun dapat terinfeksi. Pameran OLE yang pertama kalinya di Indonesia itu dilangsungkan bergilir di tiga kota besar yang memiliki angka penularan HIV tertinggi, yaitu Denpasar, Surabaya, dan Jakarta di lima lokasi strategis. Tujuan utamanya antara lain menghapus stigma negatif yang menyakitkan pengidap HIV/AIDS itu....(DIA) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Jul 24, 2010 5:45 am | |
| HIDUP BERSAMA HIV/AIDS SAMPAI MATI Selasa, 24 Maret 2009 | 20:22 WIB Kompas.com - Gerak-geriknya ringan nan riang. Mata berbinar menangkap setiap obyek yang ditatapnya. Orang tidak mengira kalau dia berstatus sebagai Odha atau Orang Dengan HIV/AIDS. Tanpa ragu dia beranjak lalu duduk disamping Kompas.com. "Nama saya Hendrik Harlina," katanya sambil menyodorkan tangan dengan tetap memelihara senyum keramahan yang sejak awal diperlihatkannya. Menurut penuturannya, ia sudah terinfeksi AIDS. "Saya tertular dari jarum suntik. Sejak tahun 1997 saya memakai narkoba dan baru 2002 berhenti," katanya dengan tenang sambil merapikan rambut depan yang dicat merah itu.
Menurut Prof. Dr. Zubairi Djoerban, Sp.PD dari Pusat Pelayanan Terpadu HIV/AIDS RS Cipto Mangunkusumo Jakarta para Odha, seperti Hendrik, terus bertambah dari tahun ke tahun. Estimasi Odha tahun 2002 berjumlah 108.000, tahun 2006 ada 193.000 sedangkan pada tahun 2008 ada 270.000 orang, kata Zubairi dalam acara Presentasi dan Pameran Usaha Odha di Aula FKUI Jakarta, Selasa (24/3). Jumlah tersebut, lanjut Zubairi, memposisikan Indonesia sebagai negara kelima terbesar yang memiliki Odha, setelah Vietnam. Untuk itu, masalah ini perlu disikapi dengan serius. Ada beberapa cara menghadapi persoalan Odha ini, tetapi yang paling ampuh adalah melakukan pengobatan dengan ARV, kata Zubairi. ARV adalah Anti-retroviral yang adalah obat HIV/AIDS.
AIDS ada Obatnya Sebagaimana disebut di atas, jumlah Odha pada tahun 2008 adalah 270.000. Tetapi, sampai pada akhir 2007, sebagaimana disampaikan Zubairi, baru 17.000 Odha saja yang mendapat ARV. Dengan demikian, masih ada sekitar 253.000 Odha yang belum tersentuh pengobatan. Menurut Zubairi pengobatan dengan ARV ini sangat bermanfaat. Beberapa contohnya, seperti yang dikutip Zubairi dari berbagai penelitian internasional, dapat dikatakan sebagai berikut.
Pertama, Odha dengan Viral Load (VL atau virus) 1500 maka sedikit kemungkinanya ia bisa menularkan HIV. Hal ini juga berguna bagi seorang ibu yang terkena HIV/AIDS yang sedang mengandung. Jika ibu ini mengkonsumsi ARV sejak awal kehamilannya sampai menjelang kelahirannya maka bayinya tidak akan tertular, kata Zubairi.
Kedua, dengan ARV maka prevalensi HIV pasangan turun dari 10,3 persen (1991-1195) menjadi 1.9 persen (1999-2003; P; 0,0061). Selain itu, Odha yang minum ARV membuat penularan HIV turun sampai 80 persen.
Namun, Zubairi menegaskan bahwa berbagai manfaat tersebut akan terjadi jika para Odha teratur minum ARV. Sebulan saja ia tidak teratur maka virusnya akan resisten. Kalau sudah begitu maka harus dilakukan pengobatan lini kedua. Padahal itu sulit dan obatnya sangat terbatas di Indonesia, terang Zubairi. Jika pengobatan dilakukan dengan disiplin maka Odha dengan CD4+ 500 cells/mm3 selama 6 tahun, setelah mendapat ARV Odha tersebut mempunyai tingkat kematian yang sama dengan masyarakat umum. Artinya, dengan ARV dia seperti orang pada umumnya yang tidak terkena HIV/AIDS , tegas Zubairi.
CD4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu oleh karena terinfeksi HIV maka nilai CD4 sem akin lama akan semakin menurun, bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol .
Mau Mati Tua "Semoga saya bisa dipanggil karena tua bukan karena AIDS," kata Hendrik sambil tersenyum. Tampaknya kalimat inilah yang membuatnya selalu rajin menegak 3 jenis ARV tiap hari. "Dalam 24 jam saya makan obat dua kali," kata Hendrik yang dinyatakan positif HIV AIDS tahun 2006. Dan itu diminumnya seumur hidup. Ia mengaku menerima keadaan ini walau sebelumnya ia sempat menyesal karena kelekatannya dengan narkoba membuat virus HIV bersarang pada tubuhnya. Sikap penerimaan ini sangat perlu karena ia telah beristri dan memiliki seorang anak berumur 4,5 tahun. "Tetapi Puji Tuhan, isteri saya negatif dan begitu juga dengan anak saya," kata Hendrik yang bergabung dengan Yayasan Tegak Tegar yang mendampingi para Odha sejak dua tahun terakhir.
Cita-citanya saat ini adalah ingin sekali membesarkan dan mendidik anaknya sampai sukses. "Untuk itulah saya sekarang berjuang untuk terus hidup dan bekerja," kata Hendrik yang mengaku bekerja sebagai sales lakban ini. Untuk menjaga kesehatannya, ia telah menghindari narkoba dan miras yang pernah menjadi bagian dari dirinya. Ia juga mengurangi merokok dan bergadang. Dan yang terpenting makan makanan yang sehat dan teratur minum obat, ungkap Hendrik yang menikah pada tahun 2004.
Segala usaha untuk bertahan dan berelasi khusus dengan keluarga, ternyata masih sulit untuk menembus stigma negatif dari masyarakat. Menurutnya masyarakat masih risih dan alergi untuk dekat dengan Odha. Tidak hanya masyarakat, rumah sakit juga masih bersikap diskriminatif. "Seperti yang dialami banyak teman saya, banyak perawat yang tidak mau memberi perawatan atau dengan sengaja rumah sakit menolak Odha yang hendak rawat inap padahal masih ada kamar kosong," ungkap Hendrik yang mimik mukanya berubah sedih.
Karena stigma negatif yang masih dilekatkan masyarakat ini membuat para Odha menyembunyikan penyakitnya demi melindungi keluarganya. Hal itu tampak sekali diperlihatkan Hendrik dan Caroline Thomas. "Sampai saat ini para tetangga saya tidak tahu kalau saya Odha," kata Hendrik yang bertempat tinggal di Jembatan Lima, Tambora, Jakarta Barat. "Bukannya saya tidak menerima keadaan saya, tetapi saya khwatir anak saya tidak diterima dalam masyarakat, disingkirkan dan yang paling tidak saya harapkan adalah ia tidak bisa sekolah lantaran saya," katanya. Itulah juga yang menjadi alasannya tidak mau difoto oleh Kompas.com.
Hal mirip juga dirasakan Caroline Thomas, anggota Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) yang bergerak dalam pendampingan perempuan Odha. Caroline yang ditemui di stand IPPI yang memamerkan karya Odha tidak mau kisah hidupnya ditulis. "Bukanya tidak mau, tapi saya khawatir dengan suami saya. Saya takut ia akan disingkirkan masyarakat atau mungkin dipecat dari kerjanya gara-gara saya," kata Caroline yang belum lama menikah.
Baik Hendrik maupun Caroline sangat menyesalkan stigma negatif yang disematkan sebagaian besar masyarakat pada kaum Odha. Padahal, dengan pengobatan yang teratur para Odha bisa beraktivitas layaknya orang pada umumnya. Penularannya pun tidak segampang yang masyarakat pikirkan. "Orang mandi bersama dan ciuman aja tidak tertular kok," pungkas Hendrik. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Jul 24, 2010 5:47 am | |
| REMAJA, KELOMPOK TERBESAR TERTULAR HIV / AIDS DI INDONESIA 16-11-2007 | Sri - medicastore.com Berdasarkan angka kumulatif yang dikeluarkan oleh Departemen Kesehatan RI hingga tanggal 30 September 2007 tentang kasus HIV/AIDS, diketahui, bahwa Remaja (usia 15 - 24 tahun) adalah kelompok yang paling banyak tertular HIV/AIDS di banding kelompok usia lainnya dan Provinsi DKI adalah provinsi yang paling banyak ditemukan kasus HIV/AIDS. Faktor risiko penularan aids di Indonesia, khususnya Remaja lebih banyak karena pemakaian narkoba melalui jarum suntik bersama diantara pemakainya (IDU). Dan parahnya berdasarkan penelitian oleh lembaga terkait di Indonesia, banyaknya kasus HIV/AIDS di kalangan remaja disebabkan oleh ketidak mengertian dan ketidakpedulian remaja terhadap HIV/AIDS, akibat kurangnya imformasi HIV/AIDS yang dikemas dengan bahasa yang mudah dimengerti dan cara yang tidak membosankan sekaligus tidak mendikte, sehingga dapat diterima dengan baik oleh para remaja.
Untuk itu, Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta bekerja sama dengan Kemitraan Australia-Indonesia dalam Program Indonesia HIV/AIDS Prevention and Care Project (IHCP) dan Indonesian Youth Partnership (IYP), telah mengadakan acara SPEAK UP YOR RIGHTS! PARTISIPASI REMAJA dan HIV/AIDS pada tanggal 6-8 November 2007 di SMAN 36 Rawamangun. Acara tersebut dihadiri oleh 100 perwakilan Remaja dari berbagai SMA Negeri di Jakarta. Peserta yang hadir diberikan pelatihan singkat SIMULASI SPEAK UP dalam siaran radio, sebagai narasumber yang akan mengulas permasalahan seputar remaja dan HIV/AIDS di salah satu stasiun radio di DKI Jakarta. Selain itu juga peserta melakukan Kampanye Pembuatan Poster, sebagai bentuk pernyataaan sikap dan kepedulian remaja terhadap penularan HIV/ AIDS di Indonesia dan sebagai pentingnya peranan remaja dalam bersama sama memerangi penularan HIV/AIDS. Poster poster tersebut di pajang selama talkshow dan dipajang pada aksi peduli Hari AIDS Sedunia serta Youth Programmes ICAAP 9 2009 di Bali.
Pada acara talkshow di Front Row Cafe Senayan pada tanggal 8 November 2007, dibicarakan seputar Partisipasi Remaja dalam Penanggulangan HIV/AIDS, dengan Narasumber : Drs. Supriyatin SY MM - ketua Pokja HIV/AIDS Sektor Remaja KPAP DKI Jakarta , Ibu Laurike Moeliono konsultan lepas HIV/AIDS dan Kesehatan Reproduksi, Heni Mulyani Youth Focal Point wilayah Jakarta, Loverina Sekarrini sebagai Duta Remaja Indonesia dari Youth Advisory Panel UNFPA dan dihadiri oleh wartawan, siswa SMAN peserta simulasi, dan beberapa LSM terkait.
Drs. Supriyatin SY MM, mengungkapkan bahwa dengan diadakannya pelatihan singkat dan kampanye SPEAK UP YOUR RIGHT yang didukung oleh beberapa LSM, pokja DKI Sektor Remaja sangat terbantu untuk menyampaikan informasi yang tentang HIV/AIDS di kalangan remaja, dengan bahasa dan cara yang lebih mudah diserap oleh para remaja. Sehingga pada akhirnya para remaja diharapkan berperan aktif dalam menekan jumlah penularan AIDS di kalangan Remaja. Drs. Supriyatin SY MM
Pada kesempatan tersebut juga, Ibu Laurike Moeliono, mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian perilaku remaja yang dilakukannya selama 18 bulan dengan sejumlah remaja didaerah marginal, dengan cara merekrut remaja sekitar untuk melakukan penelitian terhadap teman temannya. Dan ditemukan hasil yang cukup "shocking", diantaranya perilaku seksual yang kurang pantas seperti; mengintip pasangan suami istri, onani, dan bila terangsang mereka pergi kelokalisai, dan banyak remaja putrid yang sudah melakukan hubungan seksual terutama dengan pacarnya sampai hamil dan putus sekolah karenanya, belum lagi pemakaian NAPZA terutama yang melalui suntikan. Akibat tindakan coba coba, atau gaya hidup remaja agar dibilang GAUL oleh rekan rekannya, ditambah dengan usia yang labil dan minimnya informasi tentang kesehatan reproduksi dan HIV/AIDS, remaja memang kelompok umur yang paling rentan untuk menderita HIV/AIDS dan penyakit seksual lainnya. Remaja kalangan marginal dan anak jalanan lebih beresiko akibat sulitnya akses informasi disbanding remaja yang berpendidikan dan kurangnya bimbingan dan arahan dari lingkungan sekitarnya. Untuk itu perwakilan LSM yang terdiri dari anak jalanan, mengharapkan agar Pokja KPAP DKI Jakarta, tidak hanya memberikan pelatihan di kalangan anak ? anak SMU tetapi juga dilakukan di kalangan anak ?anak jalanan.
Untuk mendukung program ini, ibu Laurike mengajak dan mensosialisaikan bahwa? Remaja harus menyadari dan mengerti haknya, seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, dan hak kesehatan fisik dan reproduksi, terutama hak Abstinent yaitu hak untuk tidak melakukan ML sebelum nikah. Selain itu ibu laurike juga mengajak lingkungan masyarakat untuk menangani remaja yang terlanjur bermasalah dengan cara yang lebih tepat, sehingga remaja yang bermasalah tidak takut untuk datang ke pelayanan masyarakat untuk menkonsultasikan problem mereka, akibat stigma cap anak nakal. Dengan mengertinya remaja akan hak haknya dan adanya informasi mengenai kesehatan reproduksi, diharapkan remaja dapat menilai dan mengambil sikap yang lebih benar dengan mengetahui resiko yang akan diperoleh bila remaja tidak mengindahkan kesehatan reproduksi mereka dengan menghindarkan perbuatan ? perbuatan yang dapat merusak masa depan mereka. IYP juga aktif memberikan informasi tentang bahaya HIV/AIDS , lengkap dengan cara mencegah dan merawat penderita HIV/AIDS, melalui kegiatan dan selebaran, stiker yang mereka buat.
Sekretariat KPAP DKI Jakarta Gedung LPMJ Jl. Raya Bekasi Timur KM 18, Pulogadung Jakarta Timur 13250 Telp: 021 47880166 Fax : 021 47880165 www.kpapjakarta.com email:kpap_dki@yahoo.com
Indonesian Youth Partnership Community Advisory Board oy Your Rights Jl. Permai 35 No 11 Margahayu Permai Bandung 40218 www.iyp.or.id email: iyp_secretariate@yahoo.co.id
Youth Focal Point DKI Jakarta Jl. Gandaria RT 001/09 No. 31 Pekayon Pasar Rebo Jakarta Indonesia 13170 Email : laila008@yahoo.com
Untuk undangan liputan seminar dan kegiatan lain hubungi redaksi kami di fax. : 021 - 7397069 atau redaksi@medicastore. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Tue Jul 27, 2010 5:43 am | |
| PENJARA TEMPAT PENYEBARAN HIV PALING CEPAT Senin, 26/07/2010 13:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Wina, Virus HIV bisa menyebar dimana-mana dan menginfeksi siapa saja. Tapi dalam konferensi AIDS sedunia diketahui bahwa penjara adalah tempat perkembangbiakan HIV yang sangat baik, sehingga virus ini bisa menyebar dengan cepat secara diam-diam. Data UN Office on Drugs and Crime (UNODC) mengungkap insiden kasus dari human immunodeficiency virus (HIV) lebih tinggi sekitar 30 juta pada tempat-tempat penjara di dunia dibandingkan dengan populasi umum. Dalam konferensi AIDS Internasional di Wina itu juga diungkapkan bahwa meningkatnya kasus HIV ini kemungkinan disebabkan oleh perilaku seks antar narapidana, penggunaan narkoba suntik secara bergantian dan menato (tato) tubuh dengan menggunakan alat yang tidak steril secara bergantian.
Kondisi ini juga diperparah dengan padatnya jumlah narapidana di dalam satu sel penjara, serta kurangnya akses bagi narapidana untuk mendapatkan kondom dan terapi anti-HIV. "Saat ini tidak ada pemeriksaan kesehatan apapun bagi narapidana yang akan masuk ke dalam penjara. Selain itu negara-negara juga tidak memiliki program untuk melakukan tes HIV pada narapidana baru," ujar Katherine Todrys, yang melakukan studi untuk Human Rights Watch, seperti dikutip dari AFP, Senin (26/7/2010).
Dalam studinya, Katherine melakukan penelitian di 6 penjara di Zambia. Diketahui hanya ada 14 petugas kesehatan untuk 15.300 narapidana di 86 penjara Zambia. Petugas ini sebagian besar hanya memberikan perawatan pada narapidana berupa pemberian obat parasetamol, pereda nyeri dan juga penurun demam. Namun bagi narapidana yang didiagnosis HIV, gagal mendapatkan perawatan karena adanya kekhawatiran dan juga kurangnya petugas medis dan non-medis. "Perawatan kesehatan bagi narapidana di penjara-penjara seharusnya minimal setara dengan perawatan yang ada di masyarakat," ungkapnya.(ver/ir) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Jul 31, 2010 5:26 am | |
| HIV / AIDS Direktur Eksekutif Badan Perserikatan Bangsa Bangsa untuk HIV / AIDS ( UNAIDS ), Micheke Sidibe menyatakan, sekitar 33,4 juta orang di seluruh dunia telah terinfeksi virus HIV / AIDS. Dia mengharapkan pemerintah setiap negara memiliki anggaran keuangan yang cukup sehingga tidak akan mengurangi biaya pengobatan dan pencegahan penderita HIV / AIDS, karena apabila berhenti membantu orang orang yang sebagian besar berasal dari segmen masyarakat miskin, maka apa yang akan kita hadapi adalah mimpi buruk universal.
Di Indonesia, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional mencatat terdapat hampir 300.000 orang yang menderita HIV / AIDS di tanah air. Sekitar 75.000 diantaranya perempuan yang tertular dari pasangan mereka. Sementara data Kementerian Kesehatan menyebutkan hingga akhir tahun 2009 tercatat 19.973 kasus AIDS di 32 propinsi di Indonesia, dengan jumlah tertular HIV / AIDS sebanyak 298.000 orang. Penularan kumulatif kasus AIDS tertinggi melalui heteroseksual ( 50,3% ), diikuti penggunaan jarum suntik ( 40,2% ) dan homosekseual ( 3,3% ). Dengan data ini tidak heran Indonesia disebut sebut menjadi wilayah penularan HIV / AIDS tercepat di Asia. " Dalam 2 tahun terakhir masuk dalam area epidemis dengan perkembangan tercepat di Asia," ujar UNAIDS Country Coordinator Nancy Fee saat peluncuran laporan Penularan HIV pada Hubungan Pasangan Intim di Asia, di Jakarta pada hari Kamis 1 April 2010. Dia juga memaparkan Indonesia juga masuk dalam masa transisi pola penularan HIV / AIDS, yang semula melalui penggunaan jarum suntik, kini melalui hubungan seksual.
Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional ( KPAN ), Nafsiah Mboi mengatakan, jumlah perempuan yang terinfeksi HIV / AIDS di Indonesia memang terus meningkat dengan cepat. Pada tahun 2008 hanya terdapat sekitar 4.750 orang yang terinfeksi HIV / AIDS. Hal ini lanjut dia, kebanyakan dipicu oleh adanya hubungan seksual yang dilakukan pasangan mereka dengan pekerja seks komersial. Data yang ada saat ini hanya sebagian kecil dari kasus HIV / AIDS yang terdapat di Indonesia, Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( Meneg PP & PA ) mensinyalir ini bisa merupakan fenomena gunung es.
Sumber: Seputar Indonesia Senin 12 April 2010 |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Wed Aug 04, 2010 9:21 am | |
| HIV/AIDS Human Immunodeficiency Virus (HIV) / AIDS DEFINISI AIDS adalah kondisi kronis mengancam nyawa yang disebabkan oleh virus HIV. HIV menyebabkan kemampuan tubuh anda menurun dalam melawan infeksi virus, bakteri dan jamur dengan merusak sistem imun. HIV juga menyebabkan anda lebih rentan mengalami kanker. Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah istilah tahap selanjutnya dari infeksi HIV.
Virus HIV dapat menular melalui darah, air mani atau cairan vagina yang masuk ke dalam tubuh. Tetapi anda tidak akan terinfeksi dengan kontak fisik biasa, seperti berpelukan, berciuman, berdansa atau berjabat tangan dengan seseorang yang terinfeksi HIV atau AIDS. Jadi jangan kucilkan mereka. GEJALA Gejala HIV dan AIDS bervariasi berdasarkan fase infeksinya.
- Infeksi awal Ketika infeksi HIV pertama, anda mungkin tidak akan mengalami tanda atau gejala apapun. Tetapi dalam beberapa minggu anda dapat mengalami:
• Demam • Sakit kepala • Radang tenggorokan • Pembengkakan kelenjar limpa • Ruam
- Infeksi selanjutnya Anda mungkin tidak akan mengalami gejala apapun dalam waktu 8 sampai 9 tahun, atau bahkan lebih. Tapi seiring dengan virus yang melipatgandakan diri dan merusak sistem imun, anda mungkin akan mengalami infeksi ringan atau gejala kronis seperti: • Pembengkakan node limpa – sering merupakan tanda awal infeksi HIV • Diare • Hilang berat badan • Demam • Batuk atau napas yang pendek
- Infeksi tahap akhir Dalam waktu sekitar 10 tahun atau lebih setelah infeksi pertama, masalah yang lebih serius dapat terjadi dan diistilahkan dengan AIDS dan dapat terjadi: • Infeksi yang terjadi ketika sistem imun lemah, seperti pneumocystis carinii pneumonia (PCP) • Kadar CD4 lymphocyte 200 atau lebih rendah – normalnya adalah antara 800 sampai 1.200
Seiring dengan perkembangan AIDS, sistem imun anda telah mengalami kerusakan parah. Infeksi akan mudah terjadi. Tanda dan gejalanya adalah: • Berkeringat di malam hari • Menggigil atau demam lebih dari 38 Celcius untuk beberapa minggu • Batuk kering dan napas pendek • Diare kronis • Noda putih pada lidah atau mulut • Sakit kepala • Pandangan kabur • Hilang berat badan
Anda juga dapat mengalami tanda dan gejala pada tahap lanjut infeksi virus HIV itu sendiri, seperti: • Rasa lelah yang tidak hilang dan tidak terjelaskan • Berkeringat pada malam hari • Menggigil atau demam tinggi untuk beberapa minggu • Pembengkakan node limpa lebih dari tiga bulan • Diare kronis • Sakit kepala yang tidak hilang
Jika anda terinfeksi virus HIV, anda juga lebih rentan mengalami kanker, khususnya kanker servik, lymphoma dan Kaposi’s sarcoma.
- Gejala HIV pada anak-anak Anak-anak dengan HIV positif dapat mengalami: • Sulit menambah berat badan • Sulit berkembang secara normal • Sulit berjalan • Penundaan perkembangan mental • Dapat mengalami infeksi telinga, pneumonia dan tonsilis
Penyebab Normalnya sel darah putih dan antibodi menyerang dan menghancurkan organism easing yang masuk ke dalam tubuh. Respon ini diatur oleh sel darah putih bernama limposit CD4. Limposit ini juga merupakan target utama HIV. Sekali masuk ke dalam tubuh, virus memasukkna material genetiknya ke dalam limposit dan melipatgandakan diri. Ketika salinan virus baru keluar dari sel induk dan masuk ke dalam aliran darah, virus akan menyerang sel lain. Sebagai efeknya sel CD4 akan mati. Siklus ini terus berulang. Pada akhirnya menyebabkan kerusakan sistem imun yang berarti tubuh tidak akan mempu melawan infeksi bakteri dan virus lain.
Faktor risiko Faktor risiko terinfeksi AIDS antara lain: • Tidak memakai pelindung ketika melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu pasangan • Tidak memakai pelindung ketika melakukan hubungan seksual dengan orang dengan HIV positif • Memiliki penyakit menular seksual lain seperti syphilis, herpes, chlamydia, gonorrhea atau bacterial vaginosis. • Bergantian dalam memakai jarum suntik • Mendapatkan transfusi darah yang terinfeksi virus HIV • Memiliki sedikit salinan gen CCL3L1 yang membantu melawan infeksi HIV • Ibu yang memiliki HIV
Pencegahan Tidak ada vaksin untuk mencegah infeksi HIV dan tidak ada penyembuh untuk AIDS. Jaga kesehatan dan lindungi diri anda dari faktor-faktor risiko adalah jalan terbaik.
Jika anda HIV negatif maka tindakan yang terbaik adalah: • Ketahui apa itu HIV dan bagaimana penularannya • Ketahui status kesehatan pasangan seksual anda • Gunakan kondom setiap kali melakukan hubungan seksual • Pertimbangan untuk melakukan penyunatan pada laki-laki • Gunakan jarum suntik steril • Waspada terhadap darah transfusi • Periksakan kesehatan secara teratur
Jika anda positif mengidap HIV maka anda harus melindungi orang di sekeliling anda dengan: • Lakukan hubungan seksual yang aman dengan memakai kondom • Beritahukan pasangan anda bahwa anda mengidap HIV • Jika pasangan anda hamil, beritahukan bahwa anda mengidap HIV dan lakukan perawatan untuk menjaga kesehatannya dan bayinya • Katakan kepada orang lain yang anda rasa perlu untuk tahu bahwa anda mengidap HIV • Jangan berbagi jarum suntik • Jangan donorkan darah dan organ anda • Jangan berbagi pisau cukur atau sikat gigi • Jika anda hamil, ambil perawatan medis secepatnya Kompas.com |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Wed Aug 18, 2010 6:35 pm | |
| HUKUMAN BAGI YANG SENGAJA MENULARKAN HIV Rabu, 18/08/2010 16:00 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Darmstadt, Orang dengan HIV seharusnya menggunakan pengaman saat melakukan hubungan seks dan dilarang mendonorkan darah agar tidak menulari orang lain. Beberapa negara menerapkan hukuman yang tegas bagi yang sengaja menularkan HIV. Seperti yang dialami Nadja Benaissa, penyanyi pop asal Jerman yang sengaja menipu dan menulari HIV kepada tiga pria pasangan seksnya.
Benaissa tidak pernah memberitahu keadaannya yang tengah terinfeksi virus HIV positif yang menyebabkan AIDS. Ia pun tak pernah menggunakan pengaman (kondom) setiap kali berhubungan badan. Salah satu pasangan seksnya itu kini dinyatakan positif HIV, diduga sebagai akibat melakukan hubungan intim dengannya. Karena masalah tersebut, wanita usia 28 tahun ini terancam hukuman 6 bulan sampai 10 tahun penjara dengan tuduhan membahayakan tubuh orang lain.
Dilansir dari TheSun, Rabu (18/8/2010), mantan anggota grup musik No Angels ini ditangkap bulan April 2009, tapi kasusnya baru disidangkan bulan Agustus dan vonis akan dijatuhi 26 Agustus ini di pengadilan Darmstadt, dekat Frankfurt. Saat di pengadilan, ia mengakui telah melakukan hubungan seks tanpa kondom dan tidak memberitahu pasangan bahwa ia terinfeksi HIV positif. Ia menyesali perbuatannya dengan mengatakan 'maaf'. Menurut laporan, ia telah melakukan hubungan seks tanpa kondom sebanyak lima kali antara tahun 2000 dan 2004 pada tiga orang pria. Ia tak pernah mengatakan apapun pada pasangannya, meski mereka telah saling mengenal sejak tahun 1999.
Edwin Bernard, pengacara dalam proses penuntutan HIV di AS mengatakan bahwa seharusnya tuntutan hukum dan undang-undang mengenai penularan HIV dapat lebih ditegaskan agar bisa mengurangi penyebaran infeksi. Ia memperkirakan sedikitnya ada 600 tuntutan penularan HIV dengan sengaja telah terjadi di lebih dari 40 negara bagian AS. Tersangka penularan HIV umumnya mendapat hukuman penjara, mulai dari hukuman beberapa bulan hingga seumur hidup. Sayangnya, masih sangat sedikit orang yang mau melakukan tuntutan untuk kasus penularan HIV melalui hubungan seksual tersebut. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Fri Aug 20, 2010 5:46 pm | |
| JENIS HIV DIDARAH BEDA DENGAN HIV DI SPERMA Jumat, 20/08/2010 14:20 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth North Carolina, Pemeriksaan HIV pada pria sepertinya harus disertai juga dengan pemeriksaan sperma di semen. Sebab ternyata populasi HIV yang ada di semen berbeda dengan yang ada di darah, sehingga tidak terwakili hanya dengan tes darah saja. Perbedaan ini terungkap ketika tim peneliti membandingkan kode genetik pada permukaan protein HIV yang ada di kedua jenis cairan tubuh tersebut. Diduga, perbedaan itu muncul akibat perubahan yang terjadi di dalam saluran genital tempat semen (cairan pelicin yang keluar saat penis mengalami ereksi) dihasilkan. Di dalam saluran tersebut, peneliti mengungkap ada 2 mekanisme pertumbuhan virus penyebab AIDS tersebut. Meski sama-sama berasal dari darah, HIV akan mengalami perubahan sesuai dengan mekanisme pertumbuhan yang dialami.
Dikutip dari Healthday, Jumat (20/8/2010), mekanisme yang pertama terjadi dalam jangka pendek dan menghasilkan populasi virus yang relatif sama dengan populasi yang lebih kompleks di dalam darah. Karena pertumbuhannya cepat, tidak ada interaksi dengan sel-sel yang ada di saluran genital. Interaksi itu terjadi pada mekanisme yang kedua, yakni pertumbuhan jangka panjang di saluran genital. Sebelum menggandakan diri, HIV menduduki T-cell atau sel darah putih yang memegang peran dalam sistem kekebalan di tingkat sel sehingga menghasilkan jenis virus dengan kode genetik yang berbeda.
Penelitian ini belum berhasil mengungkap lebih lanjut apakah penularan itu mempengaruhi karakteristik dan keganasan virus, maupun pengaruhnya terhadap cara penularan. Namun yang jelas, temuan ini membuktikan pemeriksaan darah saja tidak mewakili populasi virus yang ada di semen. Penelitian ini digarap tim gabungan dari University of North Carolina (AS), Edward Jenner Institute for Vaccine Research (Inggris) dan Baylor Pediatric Center of Excellence (Malawi). Ulasannya telah dipublikasikan secara online di jurnal PLoS Pathogens edisi 19 Agustus 2010. |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |