Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 HIV - AIDS

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 11, 12, 13  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Wed Jul 21, 2010 5:17 am

BOLEHKAH PUNYA ANAK?
Minggu, 27 Juni 2010 | 04:14 WIB - Kompas cetak

Dr Samsuridjal Djauzi
Suami teman saya mengidap penyakit hepatitis C dan HIV. Rupanya sewaktu sekolah dulu suaminya pernah menggunakan narkoba suntikan. Meski hanya setahun, ternyata suaminya tersebut sudah tertular. Sekarang berkat perjuangan yang cukup berat, suaminya sudah bersih bahkan dapat kuliah kembali dan lulus. Saya mengenal suaminya dan dia merupakan pria yang menarik, ramah, dan suka menolong. Saya agak heran juga pria sebaik itu dapat terjerumus ke dunia narkoba.

Suami teman saya menjaga agar teman saya tak tertular. Oleh karena itu, mereka selalu memakai pengaman jika berhubungan seks. Setelah setahun kawin, mereka sudah berniat mempunyai keturunan. Sudah tentu timbul masalah besar karena teman saya tak ingin tertular. Apalagi sejak diketahui positif HIV dan hepatitis C, sejak tiga tahun lalu suaminya belum pernah berobat karena merasa kesehatannya baik saja.

Apakah ada cara medis agar sahabat saya dapat punya anak tanpa tertular? Bagaimana kemajuan terapi AIDS sampai sekarang ini? Apakah suami teman saya sudah harus mendapatkan terapi meski tidak ada keluhan? Saya sendiri sekarang agak khawatir dalam mencari suami, apakah calon suami harus tes HIV sebelum menikah? Terima kasih atas informasi dokter.

N di J

Penggunaan narkoba suntikan biasanya dilakukan dengan menggunakan jarum bersama. Penggunaan jarum bersama ini dapat menularkan berbagai penyakit, di antaranya hepatitis C dan HIV.

Masa remaja merupakan masa pancaroba. Pada umumnya remaja punya rasa ingin tahu yang kuat dan ingin mencoba sesuatu yang baru. Pengaruh teman sebaya juga amat kuat. Karena itu, memang tak jarang remaja yang menggunakan narkoba termasuk sebenarnya remaja yang baik-baik. Banyak remaja yang tak mampu menolak ajakan teman meski sebenarnya dia tak mau menggunakan narkoba.

Kebiasaan menggunakan narkoba tersebut dapat menyebabkan penularan hepatitis C ataupun HIV. Sudah tentu yang penting sekarang adalah melihat ke depan bagaimana sahabat Anda dan suaminya dapat hidup produktif, mempunyai keluarga yang bahagia. Tingginya kemungkinan tertular hepatitis C dan HIV di kalangan pengguna narkoba suntikan hendaknya mendorong mereka yang pernah menggunakan narkoba suntikan untuk melakukan tes hepatitis C dan HIV.

Tes HIV
Sudah tentu kebiasaan melakukan hubungan seks tak aman juga menularkan HIV. Karena itu, jika ada risiko perilaku tersebut, hendaknya juga memeriksakan diri. Tes HIV sekarang sudah tersebar di mana-mana dan dapat dilakukan dengan cara sederhana. Para petugas kesehatan sekarang berusaha mendorong pasien untuk melakukan tes HIV.

Menurut pedoman WHO yang baru, penggunaan obat HIV yang disebut Antiretroviral (ARV) hendaknya dimulai lebih dini. Namun sayangnya, kebanyakan pasien yang berobat ke rumah sakit sudah dalam stadium yang lanjut, sudah timbul infeksi oportunistik yang dapat mengancam nyawa.

Jadi, jika infeksi HIV dapat didiagnosis lebih dini sebelum ada infeksi oportunistik, keberhasilan terapi jauh lebih tinggi. Karena itu, suami teman Anda amat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter dan dapat dipertimbangkan apakah sudah waktunya untuk menggunakan obat ARV. Obat ini amat bermanfaat. Jika diminum secara teratur, jumlah virus di darah dalam waktu enam bulan dapat menjadi tak terdeteksi, kekebalan tubuh yang diukur dengan CD4 akan meningkat, secara klinis terjadi perbaikan nyata biasanya yang bersangkutan akan bertambah berat badannya.

Jika seseorang terinfeksi HIV, jumlah virusnya banyak, kemungkinan dia menularkan kepada orang lain akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang dalam keadaan virus tak terdeteksi. Karena itulah, terapi ARV sekaligus juga bersifat pencegahan penularan. Penularan HIV dari suami ke istri karena dalam cairan sperma suami terdapat sel limfosit yang mengandung HIV. Jika suami meminum ARV dan viral load-nya dalam darah tak terdeteksi, biasanya jika dilakukan pemeriksaan viral load pada sperma hasilnya juga tak terdeteksi atau hanya sedikit.

Pencucian sperma
Seperti dikemukakan, jika jumlah HIV sedikit, risiko penularan juga kecil. Namun untuk meningkatkan keamanan dapat dilakukan pencucian sperma sehingga risiko penularan dapat lebih kecil lagi. Sperma yang telah dicuci dimasukkan ke rahim istri dengan cara inseminasi.

Setiap orang memang harus menjaga diri agar tetap sehat dan terhindar dari penularan penyakit. Keluarga yang sehat harus dimulai dari calon suami dan istri yang sehat. Memang ada negara yang mewajibkan calon pengantin untuk tes HIV. Namun, kewajiban ini juga ada kekurangannya karena nantinya yang diutamakan adalah surat keterangan bebas HIV dan bukan kesehatan secara keseluruhan. Bahkan, ada juga calon pengantin perempuan yang seharusnya menjalani vaksinasi tetanus hanya mencari surat keterangan telah menjalani vaksinasi tetanus tetapi tak mau divaksin tetanus.

Padahal, tujuan peraturan ini adalah untuk melindungi perempuan dari risiko tetanus, terutama pada masa melahirkan nanti. Jadi, meski tak ada peraturan, amat dianjurkan bagi calon pengantin untuk menjalani pemeriksaan penyakit menular seksual, termasuk HIV, hepatitis B, hepatitis C, dan sifilis, karena sifilis sekarang sudah meningkat kembali.

Jangan lupa juga periksa kemungkinan terkena talasemia agar anak yang dilahirkan nanti tak terkena talasemia. Mari kita tingkatkan kesehatan kita dan kita jaga agar generasi baru Indonesia menjadi lebih sehat, produktif, dan mencintai negara kita.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:20 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Wed Jul 21, 2010 7:49 pm

SEBELUM MENIKAH SEBAIKNYA TES VIRUS HIV
Selasa, 1 Desember 2009 | 20:12 WIB
KOMPAS/RADITYA HELABUMI
MEDAN, KOMPAS.com - Calon pasangan perlu memeriksa kesehatan terkait bebas HIV sebelum memutuskan untuk melangsungkan pernikahan, upaya itu guna menghindari bayi yang dilahirkan, terinfeksi virus mematikan ini. "Pasangan perlu memeriksa kesehatan guna mengetahui apakah salah satu di antara mereka, terjangkit virus HIV," kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak, Seto Mulyadi, di Medan, Selasa (1/12).

Penyebaran virus HIV kini sudah sangat mengkhawatirkan dan menghantui seluruh masyarakat, sehingga perlu tindakan pencegahan dan pemeriksaan sejak dini.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAID) Sumatera Utara, Zahrin Piliang menambahkan, orangtua dan calon pasangan yang hendak menikah, hendaknya perlu memikirkan secara matang, apakah kehadiran seorang anak penting dalam kehidupan rumah tangga. Memikirkan hal itu penting sebelum memutuskan untuk menikah, karena terkait masa depan anak yang akan lahir nantinya. Bila kehadiran anak sangat penting, maka orangtua harus menjaga komitmen itu saat anaknya lahir.

Terkait tes bebas HIV, Zahrin berpendapat, tanpa bermaksud mencurigai salah satu pasangan, bagi pasangan yang hendak menikah maupun telah menikah, perlu memeriksa kesehatan mereka. Upaya itu penting dilakukan, agar memastikan apakah mereka bersih dari penyakit menular yang sering berasal dari hubungan seks bebas dengan beragam pasangan. Bila salah satu pasangan ternyata terjangkit HIV, maka pasangan itu, harus disepakati mencari solusi bagaimana agar dapat melahirkan anak tanpa harus menularkan penyakit nista itu. "Kalau salah satu pasangan terjangkit HIV, maka bila hendak mempunyai anak harus tempuh cara aman, seperti bayi tabung," katanya.

Menurut Zahrin, selama ini anak selalu menjadi sasaran kesalahan orangtua, bahkan, disalahkan bila melakukan kesalahan yang seharusnya menjadi tanggungjawab orangtua untuk mendidik dengan baik. "Itu pentingnya memikirkan alasan kehadiran anak, apakah penting atau hanya korban pelampiasan nafsu libido orangtua saja," katanya menanggapi komitmen orangtua. Data KPAID Sumut, pada tahun 2009, tercatat 3 anak terjangkit HIV akibat tertular dari orangtua, 57 orang tahun 2007 dan 33 anak pada 2006


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:19 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Jul 22, 2010 8:15 am

ANAK ODHA PUNYA KANS TIDAK TERTULAR
Rabu, 2 Desember 2009 | 13:29 WIB
Bandung, Kompas - Peningkatan jumlah pengidap HIV/AIDS usia dini bisa ditekan bila orang dengan HIV/AIDS (ODHA) mau mengikuti program Prevention of Mother to Child HIV Transmission (PMTCT). Lewat program ini anak berpeluang tidak akan tertular HIV/AIDS dari orangtuanya. "Sejak 2008 ada 12 pasangan yang bapak atau ibunya positif HIV/AIDS sudah ikut PMTCT di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Semua anak yang dilahirkan ternyata tidak tertular HIV/AIDS dari orangtuanya," kata Wakil Ketua Penanggulangan HIV/AIDS RSHS Rachmat Sumantri, Selasa (1/12) di Bandung. Rachmat mengatakan, program PMTCT ini tidak membutuhkan biaya mahal atau persiapan merepotkan. Kuncinya, orangtua pengidap HIV/AIDS disiplin mengikuti PMTCT. Hingga September 2009 anak balita pengidap HIV/AIDS di Jabar mencapai 94 orang.

Ia menyebutkan, bila pengidap HIV/AIDS itu laki-laki, ia harus bersiap menurunkan jumlah virus dalam darah hingga tidak terdeteksi. Selain itu, indikator sel darah putihnya pun harus meningkat minimal 400 sel per milimeter kubik. Ia juga harus tidak mempunyai luka terbuka dan sedang dalam masa subur.
"Sebaiknya ia membuka kondom hanya pada masa subur. Kalau tidak dalam masa subur, ia harus memakai kondom setiap berhubungan seksual," katanya.

Tanpa ASI
Sementara itu, bila ibu yang mengidap HIV/AIDS, si ibu harus rutin mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) sejak usia kehamilan tujuh bulan. Ia juga harus melahirkan lewat proses caesar dan anak tidak boleh menerima air susu ibu (ASI) selamanya. Selain itu, dalam jangka waktu satu bulan setelah kelahiran, anak harus rutin mendapatkan obat ARV. "Informasi mengenai PMTCT juga bisa didapatkan warga Kota Bandung di Puskesmas Pasirsalam, Sukajadi, Kiaracondong, dan Pasirkaliki," kata Rachmat. Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Alma Lucyati mengatakan, semua komponen masyarakat harus terlibat menanggulangi peningkatan penularan virus HIV dari ibu kepada anak.

Menurut Alma, gerakan penanggulangan HIV/AIDS tidak melulu berupa pelayanan pengobatan kepada pengidap, tetapi juga bisa melalui pembinaan terhadap keluarga. Dengan penanganan dan upaya yang tepat, tidak tertutup kemungkinan bagi pengidap HIV/AIDS untuk memiliki anak. Data Dinas Kesehatan Provinsi Jabar hingga September 2009 menunjukkan, dari 4.929 pengidap HIV/AIDS di Jabar, 3,3 persen tertular melalui hubungan parental.(CHE/NDW-Litbang Kompas)


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:21 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Jul 22, 2010 10:13 am

KASUS HIV ANAK DI INDONESIA MENINGKAT 700 PERSEN
Vera Farah Bararah - detikHealth - Rabu, 23/06/2010 18:00 WIB
Jakarta, Penyakit HIV selama ini banyak terfokus pada orang dewasa. Padahal jika diteliti lebih lanjut banyak anak-anak yang memiliki HIV yang dalam kurun waktu 4 tahun terjadi peningkatan kasus HIV pada anak sebesar 700 persen. Kasus HIV pada anak biasanya paling sering ditemukan akibat transmisi dari ibu yang sudah memiliki HIV ke anaknya. Kemungkinan besar perpindahan virus ini terjadi selama proses kehamilan dan juga persalinan.

"Pada tanggal 15 Januari 2004 diketahui jumlah HIV sebanyak 158 anak, lalu pada tanggal 1 Desember 2009 diketahui jumlahnya sudah meningkat menjadi 691 anak. Dan baru-baru ini saya mengecek kembali sudah ada 1.119 anak. Berarti terdapat kenaikan sebesar 700 persen dalam waktu 4 tahun saja," ujar DR Dr Tb Rachmat Sentika, SpA, MARS dalam acara konferensi pers Gerakan Nasional Kesehatan Ibu dan Anak menuju Pencapaian MDGs 2015, di Hotel Milenium, Jakarta, Rabu (23/6/2010).

Penularan HIV dari ibu hamil ke anak bisa terjadi karena infeksi yang melewati plasenta, saat proses persalinan atau menyusui. Sumber infeksi ini bisa dari darah ibu, plasenta, cairan amnion dan ASI. Penularan ibu hamil yang memiliki HIV ke anak bisa menjadi ancaman yang serius, karena bisa menyebabkan anak tidak memiliki peluang hidup panjang. Untuk mengurangi ancaman anak yang dilahirkan tertular HIV dari ibu yang hamil, maka pemberian obat antiretroviral bisa sangat berguna. Pemberian obat ini dapat menurunkan secara drastis kemungkinan bayi tertular HIV di masa kehamilannya.

"Pada November 2009 lalu, WHO merekomendasikan bahwa ibu yang HIV bisa tetap memberikan IMD (Inisiasi Menyusu Dini), memberikan ASI eksklusif pada bayinya dan juga pemberian obat antiretroviral (ARV)," ujar dr Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC. dr Utami menuturkan karena itu sebaiknya penyebaran obat anti retroviral bisa merata di seluruh pelosok daerah, sehingga masyarakat bisa dengan mudah mengakses obat ARV ini. Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah merekomendasikan tiga hal, yaitu inisiasi dini antiretroviral therapy (ART) untuk orang dewasa dan remaja. Pemberian obat ARV yang lebih mudah dan ramah. Serta penggunaan jangka panjang obat ARV untuk mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke anak.

Berdasarkan hasil rekomendasi ini, memungkinkan bagi ibu yang positif HIV untuk tetap bisa menyusui bayinya selama 6 bulan atau bahkan hingga 2 tahun.
"Setelah pemberian ASI eksklusif, maka sebaiknya dilanjutkan dengan pemberian makanan bayi berstandar emas. Karena berdasarkan penelitian diketahui makanan MP-ASI (makanan pemdamping ASI) yang tepat dan cukup bisa membantu mengurangi angka kematian bayi sebesar 6 persen," ungkap dokter yang juga Ketua Sentra Laktasi Indonesia. Hal ini disebabkan dalam ASI terdapat berbagai antibodi yang bisa berguna meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak. Karena diketahui infeksi virus HIV yang terus menerus bisa menurunkan sistem kekebalan tubuh seseorang. Selain itu pemberian ASI ini bisa membantu ibu-ibu yang kurang mampu untuk tetap bisa memberikan nutrisi terbaiknya bagi sang buah hati, sehingga tidak perlu lagi membeli susu formula. (ver/ir)


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:24 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Jul 22, 2010 11:07 am

GAMBARAN HIV PADA ANAK
SIMPOSIA - Edisi April 2007 (Vol.6 No.9) Farmacia

Anak menunjukkan diagnosis infeksi HIV yang terlambat. Namun hal itu dapat dimaklumi, karena pada anak, gejala sangatlah bervariasi
Penderita HIV/AIDS pada bayi dan anak kian meningkat. Bertambahnya prevalensi ini diduga mudahnya jalur penularan: selama kehamilan, persalinan atau selama menyusui. Odha yang tidak mendapat terapi ARV berisiko 15 – 45 persen anaknya tertular. Angka tersebut bisa ditekan dengan penggunaan ARV selama kehamilan, metode persalinan operasi sectio cesarean dan pemberian makanan pengganti ASI pada bayi baru lahir. Sementara diketahui bahwa risiko penularan HIV lewat ASI mencapai 5 – 20 persen.

Jalur penularan yang relatif mudah tidak sebanding dengan pengobatannya. Pada awal kelahiran, diagnosa HIV sangat sulit ditegakkan lantaran si bayi terpapar dengan antibodi dari ibu hingga berusia 18 bulan. “HIV pada anak muncul dengan gejala dan tanda yang sangat bervariasi. Kebanyakan si anak mengalami malnutrisi, dan imunosupresi berat,” kata Prof. DR. Ismoedijanto, dr, DTM&H, SpA(K-IPT), pada Pernas HIV/AIDS III di Surabaya, awal Februari lalu

Derajat 1 (Asimtomatik)
• Tanpa gejala
• Limfadenopati generalisata yang persisten

Derajat 2 (Ringan)
• Persisten hepatosplenomegali tanpa sebab yang jelas
• Erupsi pruritus papular
• Infeksi jamur pada kuku
• Angular cheilitis
• Eritema pada garis gingiva
• Infeksi wart virus yang luas
• molluscum contagiosum
• ulkus pada rongga mulut yang tidak sembuh
• pembesaran kelenjar parotis tanpa ada sebab yang jelas
• Herpes zoster
• Infeksi saluran nafas atas yang kronis (otitis media, otorrhoea, sinusitis, tonsillitis)

Derajat 3 (Lanjut)
• Moderate malnutrisi
• diarrhoea kronis (14 days or more)
• demam lama (lebih dari 37.5º C intermittent atau menetap, selama lebih dari 1 bulan)
• kandidiasis oral persisten (setelah umur 6–8 minggu)
• Oral hairy leukoplakia
• Acute necrotizing ulcerative Gingivitis/ periodontitis
• Limfadenitis TB
• TB paru
• Pneumonia bakterial yang kambuhan
• Gejala intersisial pneumonitis limfoid
• Bronchiectasis dan infeksi oportunistik paru lain
• anemia (<8 g/dl), neutropenia (<0.5 x 109/L3) atau thrombositopenia kronis (<50 x 109/L3)

Derajat 4 (Berat)
• malnutrisi yang tidak membaik dengan terapi standart
• Pneumocystis pneumonia
• Infeksi bakteri (e.g. empyema, pyomyositis, infeksi tulang atau sendi, meningitis)
• herpes simplex kronis (orolabial, kulit dan visceral selama lebih dari 1 bulan)
• kandidiasis esophageal/trakea/bronkus/paru
• TB ekstra paru
• Kaposi sarcoma
• Cytomegalovirus: retinitis atau CMV yang lebih dari 1 bulan
• toxoplasmosis (setelah umur 1 bulan)
• cryptococcosis ekstra paru (termasuk meningitis)
• encephalopati HIV
• endemic mycosis (extrapulmonary histoplasmosis, coccidioidomycosis)
• infeksi mycobacterium non TB
• cryptosporidiosis kronis (dengan diarrhoea)
• isosporiasis kronis
• non-Hodgkin lymphoma sel B atau serebral
• leukoencephalopathy progresif
• HIV-associated nefropati atau HIV-associated cardiomyopati

Sementara WHO mengklasifikasikan derajat HIV/AIDS berdasarkan hitung sel CD4. CD4 bisa sebagai deteksi awal karena jumlahnya yang rendah sebelum gejala klinis progresif terjadi. CD4 juga salah satu pertimbangan untuk memberikan terapi ART. Pada anak yang usianya lebih muda kadar CD4-nya lebih tinggi dibanding yang tua atau dewasa.
Sumber: WHO 2005

Pemeriksaan CD4 sebaiknya dilakukan sebelum umur 5 tahun, mengingat kadarnya tidak terlalu bervariasi. Pada umur ≥ 5 tahun, baik CD4% maupun kadar CD4 absolute dapat dipakai, namun lebih disarankan kadar CD4 absolut. Kadar CD4 yang rendah pada kasus imunodefisiensi berat pada anak ≥ 1 tahun meningkatkan risiko mortalitas. Pada anak < 1 tahun, terutama < 6 bulan, kadar CD4 kurang bisa diprediksi mortalitasnya. bahkan jika CD4 tinggi, risiko kematian tetaplah tinggi.

Pada anak dengan imunodefisiensi parah, diagnosa menggunakan TLC (total lymfocyte count). TLC menjadi pilihan saat pemeriksaan CD4 tidak tersedia pada anak dengan stadium klinis WHO 2. Pemeriksaan ini tidak bisa digunakan untuk anak tanpa gejala. TLC juga tidak bisa digunakan untuk monitoring ARV. Rumus TLC = % limfosit x total jumlah sel darah putih
Sumber : WHO 2005

RSU Dr Sutomo tahun 2004-2007 telah merawat 15 anak berusia 3 - 8 tahun, dengan 12 kasus karena transmisi perinatal, 7 diantaranya pada stadium 3, dan 6 diantaranya stadium 4. Kedua belas pasien tersebut mengalami malnutrisi, diare, moniliasis dan 10 orang infeksi saluran nafas. Semua anak tersebut lahir spontan dan mendapat ASI. Sepuluh ibu diantaranya HIV positif, dua lainnya sudah stadium AIDS. 6 orang ayah mereka HIV positif. Transmisi pada ketiga anak lainnya sulit diketahui, karena ibu mereka meninggal. Lima ayah yang meninggal, dan dua diantaranya diketahui positif.
Jika ditelusuri latar belakang sosial pasien-pasien tersebut, para ibu mereka diantaranya berprofesi sebagai penjual jasa seksual, belum menikah, dan korban perkosaan. Sedangkan ayah diketahui adalah pekerja pabrik yang tidak pernah pulang, pelaut, tukang becak, TKI pulang dari luar negeri dan pengguna narkoba.

Jika ditinjau manifestasi klinisnya, menurut Ismoe yang sejak tahun 1995 telah menjadi anggota panitia Medik untuk HIV AIDS RSU DR Soetomo, pada anak sangatlah bervariasi. Beberapa anak terlihat gejala khas infeksi HIV pada tahun pertamanya. Sedangkan pada anak lainnya cenderung asimptomatik selama lebih dari setahun dan bertahan hingga beberapa tahun.

Gejala dan Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis bervariasi, dipengaruhi juga oleh lokasi geografis. Pasien yang tinggal di negara berkembang pada umumnya menunjukkan gejala yang lebih jelas Endemisitas dan pengetahuan masyarakat setempat tentang HIV penting untuk mendukung diagnosis awal dan manajemen yang dibutuhkan.

Penurunan asupan makanan bukan penyebab ketidaknormalan metabolik yang nampak pada infeksi HIV. Metabolisme protein dan lipid pada pasien ini tidak normal lagi. Respon terhadap nutrisi telah kacau. Kebanyakan anak yang menderita infeksi HIV mengalami malnutrisi yang parah, hanya 3 yang malnutrisi ringan. Intervensi nutrisi telah dilakukan, namun peningkatan berat badan tidak tercapai secara adequat sama sekali.

Hampir semua anak, kecuali satu orang dengan HIV stadium I tidak menunjukkan gejala klinis. Empat anak mengalami sepsis yang dari pemeriksaan kuman menunjukkan infeksi Acinetobacter, Klebsiella pneumonia, Escheriscia coli 1-11, Staphylococcus coagulase negative serta sensitif dengan antibiotik: cefotaxim, ceftriaxon, meronem, amikin. Limfadenopati ditemukan pada 12 anak. Hepatomegali terdapat pada 8 anak.

Secara epidemiologi, pasien HIV/AIDS di negara berkembang 90 persen mengalami diare kronis. Namun sulit dibuktikan penyebabnya pada hampir separuh kasusnya. Pada pemeriksaan feses menunjukkan adanya lendir dan netrofil, namun tidak didapatkan darah. Seperti ditemukan pada pasien di RSU Dr Soetomo, dehidrasi terjadi pada salah satu pasien. Ada sebelas orang mengalami moniliasis oral. Dan dua orang mengalami malabsorbsi lemak. E Coli patogen ditemukan pada 2 pasien. Terapi yang dilakukan adalah rehidrasi, antibiotik, vitamin A dan probiotik. ARV diberikan pada 5 orang dan diare kronisnya membaik. Namun diare masih tetap terjadi pada anak yang belum diterapi dengan ARV.

Penyakit lain, seperti gangguan pernafasan, Pneumocystic Carinii Pneumonia (PCP) masih menjadi tersangka utama penyebab morbiditas di negara industri. Insiden PCP pada anak cukup rendah ditemukan di negara-negara Afrika, kepulauan Karibia dan India. Pneumonia bakterial lebih banyak terjadi di India dan negara tropis lainnya. Mungkin mencerminkan infeksi bakteri yang cukup tinggi di negara tropis dan mungkin juga karena terbatasnya sarana diagnosis untuk PCP. Pemberian profilaksis untuk neonatus pada ibu yang positif mencegah kematian pada anak tersebut. Di RSU DR Soetomo, penyakit paru dan saluran nafas yaitu Bronkopneumonia ditemukan pada 3 anak, PCP pada 6 anak dan Tuberculosis pada 3 anak.

Dari pengamatan kulit, kelainan yang didapatkan dari pasien-pasien HIV yang nampak adalah xerosis cutis, impetigo crustosa, prurigo von hebra, furunculosis, dermatosis dan crustae. Manifestasi klinis lain yang muncul adalah exanthem karena virus, meningitis, keterlambatan motorik, anemia, jaundice, recurrent otitis, choroiditis kronis, gonitis TB, efusi pericardium, clubbing finger, pigeon chest, microcephali dan myodegeneratif cordis.

Sepsis
Selain berbagai infeksi dan manifestasi penyakit di atas, dr. Boerhan Hidajat yang juga panitia medik HIV AIDS dari RSU DR Soetomo menjelaskan bahwa anak ODHA akan rawan sekali jatuh pada kondisi sepsis. Dari segi patofisiologi, HIV terjadi karena adanya gangguan pada sistim kekebalan yang diakibatkan oleh adanya gangguan baik pada fungsi maupun jumlah dari sel imun. Menurut Boerhan, gangguan sistem kekebalan ini sering terjadi bertahap, kecuali pada bayi yang sering terjadi secara cepat. Gangguan sistem kekebalan ini dapat memicu kerentanan terjadinya berbagai macam infeksi maupun keganasan. Kondisi imunodefisien yang paling menonjol adalah berkurangnya sel limfosit CD4 baik dalam jumlah maupun persentasenya. Perhitungan jumlahnya sangat berguna sebagai petanda prognostik serta untuk meramal risiko progresivitas dari suatu infeksi oportunistik, serta respons terhadap pengobatan yang diberikan. Perhitungan jumlah CD4 harus dikombinasi dengan jumlah kopi virus yang terdapat dalam plasma serta gejala klinik yang ada, sebagai gambaran kebenaran penanganannya.

Penderita HIV yang terkena infeksi mempunyai resiko yang tinggi terhadap beberapa kuman tertentu. Kuman yang sering diketemukan pada penderita AIDS-anak dengan sepsis: Salmonella nontifoid, Streptococus pneumonia, Staphylococus epidermidis, Escherichia coli, Enterococus faecalis dan Campylobacter jejuni. Sedangkan penyakit yang sering terkait dengan kejadian sepsis pada penderita AIDS anak: pneumania, infeksi saluran kemih (ISK), gastroenteritis, serta bakteremia akibat pemasangan kateter. “Dalam hal ini pengenalan terhadap infeksi serta pengobatannya secara dini sangat menentukan keberhasilan pengobatannya,” jelas Boerhan.


Last edited by gitahafas on Fri Jul 23, 2010 8:36 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Jul 22, 2010 11:08 am

SAATNYA MEMBERIKAN TERAPI ARV PADA ANAK DENGAN HIV
SIMPOSIA - Edisi April 2007 (Vol.6 No.9) Farmacia
Pemberian ART hanya diberikan pada anak yang sudah pasti menderita infeksi HIV. Terapi ARV terkini menggunakan prinsip kombinasi karena secara imunologi dan virologi terbukti lebih baik daripada terapi mono dan dual ARV.

Kasus HIV/AIDS telah menjadi agenda kesehatan yang penting hampir di seluruh negara di dunia. Persoalan yang ditimbulkan jasad renik ini cukup pelik hingga menyentuh anak, bahkan bayi yang baru lahir. Meski patogenesis, virologi dan prinsip dasar pengobatan HIV dengan antiretroviral (ARV) pada semua orang yang terinfeksi itu sama, namun, pada bayi dan anak ada beberapa pertimbangan khusus dalam tatalaksananya.

Suatu meta analisis studi kohort dan uji klinis di USA dan Eropa menunjukkan bahwa HIV/AIDS memberikan risiko kematian yang lebih tinggi pada usia yang lebih muda. Hal ini didasarkan pada gambaran presentasi CD4. Mengingat hal tersebut maka pemberian ARV pada bayi selalu dalam bentuk terapi kombinasi, seperti protokol HAART (Highly Active Antiretroviral Therapy).

Dr. Arwin Akib, SpA(K), pada Pernas HIV III di Surabaya, 6 Februari lalu, mengatakan, ada beberapa pertimbangan untuk inisiasi ART (Anti Retroviral Therapy) pada anak. Diantaranya, banyak infeksi pada masa perinatal, risiko pajanan zidovudin atau ARV lain pada masa in utero, kebutuhan pemeriksaan virologi untuk diagnosis infeksi HIV perinatal pada anak usia kurang dari 18 bulan, perbedaan kuantitatif petanda imunologi (misalnya hitung sel CD 4) menurut usia, perubahan parameter farmakokinetik menurut usia sesuai dengan perkembangan anak dan maturasi organ yang terlibat dalam metabolisme obat, perbedaan manifestasi klinis dan virologik pada infeksi perinatal yang merupakan infeksi primer pada individu yang sedang tumbuh dengan sistem imun yang imatur, dan hal khusus yang menyangkut keterikatan/adherens ART bagi bayi/anak.

ART pada Bayi
Lalu pada usia berapa bayi mendapatkan ART? Awalnya sebagian besar klinisi mengharuskan pemberian ART pada bayi berusia <12 bulan, mengingat risiko progresifitas pada bayi cukup tinggi. Sejak tahun 2004, The Working Group on Antiretroviral Therapy and Medical Management of HIV-Infected Children (USA) memberi rekomendasi untuk memulai ART bagi bayi berusia <12 bulan yang menunjukkan kelainan klinis atau imunologi tanpa melihat kadar RNA HIV serta pertimbangan untuk terapi bagi bayi asimptomatik dengan parameter imun normal.

Namun lain lagi pada pasien dengan status berbeda. Misalnya, pada anak usia > 12 bulan, ART harus diberikan bila terdapat gejala AIDS (Klasifikasi Klinis C) atau defisiensi imun berat (Klasifikasi imun 3) dan perlu dipertimbangkan bagi golongan klasifikasi klinis ringan-sedang (A dan B), supresi imun sedang (Klasifikasi imun 2)dan konfirmasi hitung RNA HIV plasma > 100.000 kopi/mL (Tabel 1). Kebanyakan ahli memilih untuk menunda ART pada anak > 1 tahun bila status imun normal dan risiko progresivitas klinis rendah (hitung RNA HIV < 100.000 kopi/mL).

Saat ini, sebagian ahli menganjurkan ART langsung pada bayi < 6 bulan yang terbukti terinfeksi HIV, sedangkan bagi bayi usia 6-12 bulan diberikan sesuai dengan parameter klinis dan imunologi yang ditemukan. Bagi anak usia > 1 tahun tetap dengan anjuran yang sama, yaitu menunda terapi, bila status imunnya normal dan risiko progresifitas penyakit rendah.

Kategori N (asimptomatik) adalah anak dengan tidak adanya tanda-tanda infeksi HIV atau hanya salah satu kondisi kategori A. Kategori A (ringan) ditandai dengan 2 atau lebih kondisi penyakit berikut : limfadenopati, hepatomegali, splenomegali, dermatitis, parotitis dan infeksi saluran nafas atas, sinusitis, otitis media yang berulang. Kategori B adalah anak yang menunjukkan gejala penyakit : anemia, neutropenia atau trombositopenia yang menetap > 30 hari; meningitis bakterial, pneumonia atau sepsis; candidiasis > 2 bulan; cardiomyopati, infeksi CMV sebelum umur 1 bulan; diare kronis atau berulang; hepatitis; stomatitis berulang lebih dari 2 kali setahun karena herpes simpleks (HSV); bronkitis, pneumonitis atau esofagitis HSV sebelum umur 1 bulan; herpes zooster lebih dari 1 dermatom; leiomyosarcoma; lymphoid interstitial pnumonia (LIP); nefropati; nocardiosis, demam > 1 bulan; toxoplasmosis sebelum umur 1 bulan; dan varicella. Kategori C (berat) adalah anak sesuai kondisi definisi surveillance AIDS tahun 1987 dengan pengecualian LIP (karena sudah termasuk kategori B).

Rekomendasi ARV pada Anak
Sejatinya, ARV baru diberikan pada anak yang sudah terbukti terinfeksi HIV dan mengalami defisiensi imun. Jika hanya tampak limfadenopati atau hepatomegali saja, pemberian ARV tidak dianjurkan. Zidovudin dipakai sebagai obat dasar untuk memulai terapi.

Terapi ARV terkini menggunakan prinsip kombinasi karena secara imunologi dan virologi terbukti lebih baik daripada terapi mono dan dual ARV. Peningkatan penggunaan inhibitor protease (PI) dan terapi kombinasi (HAART) menunjukkan penurunan mortalitas yang sangat berarti dari 5% (1995/1996) menjadi 1% (1997/1998). Namun yang harus tetap menjadi patokan adalah bahwa ART bukan terapi kuratif, karena provirus HIV DNA tetap dapat terdeteksi dalam limfosit darah tepi dan replikasi virus akan berlangsung kembali bila ART dihentikan.

Data uji klinik paling luas pada anak dan dewasa diperoleh dari protokol pengobatan yang memakai basis 3 kelas utama ART, yaitu basis inhibitor protease (2 NRTI + inhibitor protease); basis NNRTI (2 NRTI + 1 NNRTI); dan basis NRTI ( 3 NRTI) (tabel 3).

Tabel Rekomendasi WHO untuk ARV lini pertama pada bayi dan anak
Regimen 2 NRTI + NNRTI :
AZT + 3TC + NVP/EFV
d4T + 3TC + NVP/EFV
ABC + 3TC + NVP/EFV
Dikutip dengan modifikasi WHO, Februari 2006.
AZT=Zidovudine 3TC=Lamivudine ABC=Abacavir NVP=Nevirapin EFV=Efavirenz

Tabel ARV untuk bayi dan anak di RSCM Jakarta
1. Zidovudin (AZT)
Neonatus kurang bulan: ,5 mg/kgBB/12 jam sampai usia 2 minggu, kemudian 2 mg/kgBB/8 jam
Neonatus cukup bulan (sampai bayi usia 90 hari): oral 2 mg/kgBB/6 jam (oral), IV:1,5mg/kgBB/6 jam
Pediatrik (rentang dosis 90 mg-180 mg/m2 LPB/6-8 jam: Oral: 160 mg/m2 LPB/8 jam, IV intermitten: 120 mg/m2 LPB/6 jam, IV rumatan: 20 mg/m2 LPN/jam
Adolescen 3x200 mg/hari, atau 2x300 mg/hari

2. Stavudin (d4T)
Neonatus (sedang dalam evaluasi PACTG 332)
Pediatrik 1 mg/kgBB (sampai berat 30 kg), 2x sehari
Adolesen/dewasa BB > 60 kg 2 x 40 mg, BB< 60kg 2x30 mg sehari

3. Lamivudin (3TC)
Neonatus (bayi < 30 hari) 2 mg/kgBB, 2x sehari
Pediatrik 4 mg/kgBB, 2x sehari
Adolesen BB > 50kg: 2 x 150 mg/hari; BB< 50 kg: 2 mg/kgBB, 2x sehari

4. Nevirapin (NVP)
Perinatal profilaksis 2 mg/kgBB (oral) pada usia 48 jam
Neonatus (sampai usia 2 bulan), 14 hari pertama: 5 mg/kgBB atau 120mg/m2 1x sehari
14 hari kedua : 120 mg/m2 2x sehari, berikutnya : 200mg/m2 2x sehari sampai usia 2 bulan
Pediatrik 14 hari pertama: inisial 120 mg/m2 2x sehari(max. 200mg) kemudian naikkan sampai dosis penuh 120-200 mg/m22x sehari (max 200mg) bila tidak terdapat rash atau reaksi simpang obat lainnya, atau dosis penuh (sesudah inisial) anak usia < 8 tahun 7 mg/kgBB 2x sehari dan anak usia > 8 tahun 4 mg/kgBB sehari
Adolesen inisial 1x200 mg sehari selama 14 hari, kemudian naikkan menjadi 2x200 mg bila tidak terdapat rash atau reaksi simpang obat lainnya

5. Nelfinavir (NVF)
Neonatus 40 mg/kgBB, 2x sehari
Pediatrik 20-30 mg/kgBB, dapat sampai 45 mg/kgBB, 3x sehari
Adolesen 2x1250 mg/hari, atau 3x750 mg/hari

Sedangkan, protokol pengobatan berbasis protease inhibitor untuk anak, baru dianjurkan untuk anak yang lebih besar, bahkan WHO tidak mencantumkannya sama sekali dalam rekomendasinya (Tabel 4). Disesuaikan dengan obat yang ada di Indonesia, RSCM Jakarta memutuskan untuk memakai ART dengan basis NNRTI: zidovudine + lamivudine + nevirapin sebagai terapi awal (Tabel 5).

Sesuai dengan bukti uji klinis, terapi kombinasi ART selalu merupakan kombinasi minimal 3 jenis obat. Umumnya pada saat ini, pengobatan HIV dilakukan dengan basis inhibitor protease yang pada anak baru dianjurkan untuk anak besar. Akhirnya, meski berbagai protokol terapi telah diteliti dan dipaparkan para ahli, namun demikian keberhasilan ART tergantung kontinuitas pengobatan dengan melakukan konseling pada pasien dan keluarga sebaik mungkin.


Last edited by gitahafas on Fri Jul 23, 2010 8:33 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Jul 22, 2010 11:14 am

AGAR BAYI TAK TERTULAR HIV DARI IBU HAMIL
Senin, 15/03/2010 16:30 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Penularan virus HIV (Human Immunodeficiency Virus) dari ibu hamil ke anak merupakan kasus penularan HIV paling besar setelah proses transfusi darah. Bisakah si jabang bayi terhindar dari ibu yang positif HIV ketika sedang mengandung? Penularan HIV dari ibu hamil ke anak bisa terjadi karena infeksi melewati plasenta, saat proses persalinan atau menyusui. Sumber infeksi ini bisa dari darah ibu, plasenta, cairan amnion dan ASI.

dr Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC ketika dihubungi detikHealth, Senin (15/3/2010) mengatakan kemungkinan bayi tertular HIV dari ibunya pada masa kehamilan adalah 15-20 persen. Sedangkan pada saat kelahiran 10-15 persen, dan pada saat menyusui adalah 15-20 persen. Meski lebih banyak peluang tidak tertular, namun ancaman penularan ibu hamil HIV ke anak tetap menjadi ancaman serius karena bisa membuat si anak tak punya peluang hidup panjang.

Untuk mengurangi ancaman anak yang dilahirkan tertular HIV dari ibu hamil, menurut dr Utami semua ibu hamil HIV harus diberi obat ARV (Antiretroviral). Pemberian ARV ini dapat menurunkan secara drastis kemungkinan bayi tertular HIV pada masa kehamilan. Sedangkan penularan pada saat melahirkan dapat dicegah dengan proses kelahiran caesar. Sementara penularan pada saat menyusui dapat dicegah dengan memberikan susu formula pada bayi.

Pemberian obat ARV ini telah mendapat persetujuan dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang merekomendasikan tiga hal, yaitu inisiasi dini antiretroviral therapy (ART) untuk orang dewasa dan remaja. Pemberian obat ARV yang lebih mudah dan ramah. Serta penggunaan jangka panjang obat ARV untuk mengurangi risiko penularan HIV dari ibu ke anak.

Rekomendasi WHO ini, memungkinkan ibu positif HIV dapat menyusui bayinya dengan ASI eksklusif selama 6 bulan bahkan hingga 2 tahun. Pemberian ARV bisa dihentikan pada saat ibu mulai menyapih anaknya. "Hal ini sangat membantu ibu-ibu yang kurang mampu dan tak sanggup membeli susu formula, khususnya di negara berkembang seperti Indonesia," kata dr Utami.

Menurutnya, walaupun pemerintah telah membantu memberikan susu formula untuk daerah terpencil guna pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak, namun terkadang jarak yang jauh masih menjadi kendala. Tapi dengan pemberian ARV diharapkan jumlah penderita HIV di dunia dan Indonesia khususnya dapat berkurang.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 1:52 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Jul 22, 2010 11:15 am

WASPADAI PENULARAN HIV SAAT PENANGANAN KEDARURATAN
SIMPOSIA - Edisi Maret 2007 (Vol.6 No.Cool Farmacia

Terdapat stigma di kalangan ahli bedah dan tim dalam menghadapi kasus HIV/AIDS sehingga sering menolak pembedahan HIV/AIDS, karena khawatir terkontak virus.

Tim gabungan Perserikatan Bangsa-bangsa untuk AIDS sepenuhnya mendukung diselenggarakannya Pertemuan Nasional HIV & AIDS ke-3 pada tanggal 4 – 8 Februari 2007 di Surabaya Jawa Timur, serta mengakuinya sebagai salah satu kegiatan terpenting dalam upaya penanggulangan AIDS di Indonesia. Pada pertemuan tersebut dibahas berbagai hal mengenai HIV/AIDS. Data Depkes menyebutkan terdapat 5.230 kasus HIV serta 8.194 kasus AIDS yang dilaporkan sejak tahun 1987. Estimasi resmi menyebutkan angka antara 169.000 hingga 216.000 orang hidup dengan HIV dan AIDS di Indonesia.

HIV dan Kasus Bedah
Meningkatnya insiden kasus HIV / AIDS di dunia tersebut, kurang lebih memiliki implikasi yang sama dengan kondisi di Indonesia, khususnya di RSU Dr.Soetomo Surabaya. Kepala IRD RSU Dr Soetomo, dr. Urip MurtedjoSp.B.KL.PGD.Pall.Med.(ECU), menyebutkan bahwa Bed Turn Over Rate (BOR) di ruang perawatan khusus HIV / AIDS (Ruang Pipi) di RSU Dr.Soetomo cenderung meningkat, sekitar 88,75%. Pada umumnya pasien yang dirawat disana adalah pasien AIDS dengan stadium lanjut. Namun bagaimana dengan penderita HIV yang belum mengalami menifestasi gejala AIDS. Hal ini merupakan persoalan penting khususnya bagi bagian Bedah di Instalasi Gawat Darurat. Karena kasus HIV dan AIDS Trauma (Bedah) dan non Trauma seringkali melalui Instalasi Rawat Darurat (IRD) RSU Dr.Soetomo.

Pada kasus bedah, pasien yang masuk ke IRD harus mendapatkan penanganan secara cepat. Oleh karena itu sangat sulit untuk mengetahui apakah pasien yang masuk juga menderita infeksi HIV atau tidak.

Universal Precaution
Akhir-akhir ini terjadi peningkatan jumlah pasien yang melalui pintu masuk IRD RSU Dr.Soetomo. Untuk itu menurut Urip yang juga menjabat sebagai Wakil Direktur Bidang Diklit RSU Dr Soetomo, dibutuhkan penerapan kewaspadaan (universal precaution) bagi petugas kesehatan di IRD, meski resikonya kecil (0,3 – 0,5%).

Dalam tindakan bedah, resiko terhadap kecelakaan berupa tertusuk jarum, pisau, gunting yang mengandung darah penderita atau terciprat darah penderita ke mulut dan mata sangatlah mungkin. Meski saat ini diketahui bahwa penularan hanya melalui darah, air mani, dan cairan vagina penderita HIV / AIDS, besar kemungkinan dokter dan perawat maupun keluarga pasien yang merawat saat di IRD mengalami kontak karena adanya blood expose.

Ada beberapa kemungkinan yang terjadi bila ada kasus HIV / AIDS yang masuk melalui pintu masuk IRD. Kasus tersebut bias terdiagnosa dengan klinis maupun laboratorik. Kemungkinan kedua adalah tidak terdiagnosa saat masuk tetapi terdiagnosa beberapa jam hingga beberapa hari setelah dirawat. Namun yang paling fatal adalah bila tidak terdiagnosa baik saat masuk RS sampai setelah keluar RS. Kenyataannya, banyak pasien yang masuk pintu IRD tanpa terdeteksi status HIV / AIDS.

Untuk mencegah transmisi virus yang tidak dikehendaki, prinsip tindakan bedah adalah memperlakukan darah dan cairan tubuh lainnya sebagai bahan infeksius (universal precaution). Misalnya seperti tindakan membersihkan brankard dari tindakan infeksius. Universal precaution adalah mengantisipasi percikan darah dan cairan tubuh dengan ketentuan misalnya dilarang makan, minum, merokok di dalam kamar bedah / kamar operasi. Tangan dilarang memakai cincin, jam tangan, gelang, kuku selalu pendek – bersih tanpa cat kuku. Rambut panjang harus diikat dan ditutupi. Cuci tangan sebelum bekerja, sebelum memakai sarung tangan, setelah membuka sarung tangan dan sebelum keluar ruangan. Dilarang bekerja bila menderita luka terbuka pada kulit tangan dan lengan bawah serta luka harus diobati sampai sembuh. Luka lecet ringan harus ditutupi dengan plester kedap air. Kamar bedah / operasi diatur alur, jumlah petugas dibatasi, aliran udara diatur. Dilarang menaruh barang pribadi di kamar operasi. Tumpukan bahan cair didekontaminasi dan didesinfektan. Pembuangan sampah medis dilakukan sesuai protab dekontaminasi.

Karena IRD bisa dianggap sebagai pintu masuk kasus HIV / AIDS, sehingga Urip menyatakan pihaknya berupaya maksimal di dalam melakukan Universal Precaution (UP) dan mencegah terjadinya kecelakaan kerja. Mencegah terjadinya kecelakaan kerja didalam hal mencegah terkontaminasinya darah atau cairan tubuh melalui tusukan luka, percikan pada mukosa mata, hidung, mulut atau kulit yang tidak utuh. Selain itu juga melaporkan kejadian bila terkontaminasi pada K3RS, Komite Safety Patient, imunisasi dan konseling. Kasus di Ruang Observasi Intensif (ROI) IRD bila tidak hati-hati, bisa terjadi Kecelakaan Kerja.

Jika terjadi kecelakaan kerja, menurut Urip tindakan pertama yang harus dilakukan adalah cuci dengan air mengalir dan memakai sabun septik. Di IRD setiap petugas melakukan cuci tangan yang berguna mencegah infeksi silang yaitu cuci tangan higienik / rutin dengan menggunakan sabun deterjen. Cuci tangan aseptik dilakukan sebelum tindakan aseptik pada pasien dengan menggunakan antiseptik. Cuci tangan bedah (surgical handscond) dilakukan sebelum melakukan tindakan bedah aseptik dengan antiseptik.

Di Rumah Sakit Emergency (IRD) upaya pencegahan infeksi diterapkan kewaspadaan universal dan khusus yaitu kewaspadaan penularan melalui udara (airbone), percikan (droplet), dan kontak langsung. Kewaspadaan terhadap penularan melalui udara antara lain pintu ruangan tetap tertutup, pasien tetap di dalam ruangan, bisa juga dengan memberi pasien masker bedah. Namun hal ini akan sulit untuk direalisasikan bila jumlah pasien “Overload”. Kewaspadaan terhadap penularan melalui percikan dan melalui kontak antara lain dengan menempatkan pasien di dalam ruang / penyakit sejenis, ruang emergency bedah atau medik. Cleaning service IRD juga perlu diberi pengetahuan tentang universal precaution. Penerapan universal precaution harus dilakukan pada seluruh kegiatan bedah maupun staf dan orang yang terlibat di dalamnya.

Urip menegaskan bahwa test HIV / AIDS saja diyakini tidak mampu memberikan perlindungan. Test tidak dapat mendeteksi HIV hingga 100%. Banyak mikroorganisme patogen dapat ditularkan melalui darah atau cairan tubuh. Pasien HIV / AIDS di bidang Bedah baik traumatologi & non traumatologi (kasus infeksi dan lain-lain) tetap mengalami prosedur penanganannya yang sama yaitu triage, primary survey ( airway, breathing, circulation, disability, environment), resusitasi, secondary survey (head to toe examination), stabilisasi dan terapi definitif. Tambahan pada kegiatan primary survey & resusitasi yang biasanya diperlukan di IRD adalah monitor EKG, pemasangan kateter urine & kateter lambung, monitor blood gases (pulse oximetry), pemeriksaan foto rontgen radiologi cervical, toraks, pelvis maupun diagnostic peritoneal lavage (USG Abdomen). Sedangkan tambahan pada kegiatan secondary survey di RSU Dr Soetomo adalah diagnostik yang lebih spesifik, misal foto tulang belakang / ekstremitas, CT scan kepala, dada, abdomen, spine, angiografi, dan bronkoskopi.

Pembicara lain dalam acara yang sama, dr. Sudjatmiko Sp.B., KBD, menyebutkan bahwa sebagai seorang ahli bedah, kontak dengan penyakit adalah menjadi risiko dari pekerjaan yang ditekuninya. HIV potensial menyebabkan infeksi sehingga ia menekankan kepada setiap petugas kesehatan yang berhubungan dengan penderita HIV/AIDS bahwa risiko pekerjaan tetap ada walaupun kecil. Center for Disease Control and Prevention 1999 (CDC) dalam jurnalnya menyebutkan, dari 138 kasus pekerja di lingkungan kesehatan yg diduga HIV, tercatat 57 kasus yang positip HIV namun belum satupun tercatat ahli bedah. Infeksi HIV yang terjadi saat tindakan pembedahan di USA yang paling sering adalah akibat jarum yg berlubang. Terjadi pada 0,2% - 0,3% kasus dan belum ada laporan infeksi HIV akibat jarum pejal.

Dalam keadaan gawat maupun keperluan cito karena operasi, penderita bedah terkadang memerlukan transfusi darah. Virus yang sering menyertai transfusi darah adalah HBV, CMV dan HIV. Saat ini, kemungkinan infeksi HIV pada tranfusi darah makin kecil dengan dilakukannya skrining dan transfusi yang selektif. Perlu diketahui bahwa risiko infeksi HIV pada transfusi terjadi sekitar 1 di antara 2 juta unit (disebutkan dalam Journal of Parenter Enteral Nutr 25, 2001).

Menurut Flum dalam East and Central African Journal of Surgery, 2004 risiko penularan HIV di OK (sebutan untuk kamar operasi) terjadi karena tusukan jarum dan benda tajam sebanyak 6% dari tindakan. Sedangkan transmisi HIV setelah perlukaan 0,3% dan transmisi HIV dari penderita ke ahli bedah sekitar 1/130.000. Kontak langsung darah/cairan tubuh 1 penularan per 4000 kontak.

Sudjatmiko yang juga konsultan bedah digestif inimenyampaikan bahwa saat ini terdapat stigma di kalangan ahli bedah dan tim dalam menghadapi kasus HIV/AIDS sehingga sering menolak pembedahan HIV/AIDS, karena khawatir terkontak virus. Ahli bedah yang diketahui menderita HIV/AIDS akan hancur kariernya. Namun ia menyarankan seyogyanya secara etis ahli bedah harus merawat penderita dan secara profesional harus mencegah kaidah infeksi silang melalui tindakan pembedahan yang penuh dengan kewaspadaan universal.

Pada persiapan pembedahan wadah dan alat sedapat mungkin jenis yang disposable. Untuk itu, memerlukan wadah khusus untuk benda tajam, tidak tembus dan diberi klorin 5%. Juga perlu wadah plastik untuk kasa bekas yang tercemar. Untuk operator / asisten dan instrumentator yang bekerja, disarankan oleh Sudjatmiko untuk menggunakan pelindung tubuh berupa sarung tangan, pelindung wajah (masker dan kaca mata), jubah plastik, topi bedah, dan sepatu boot karet. Meja bedah sebaiknya dilindungi dg plastik transparan.

Saat pembedahan berlangsung diupayakan menghindari kontak langsung dengan cairan tubuh penderita. Jika ada cairan tubuh yang melekat pada tubuh penderita hendaknya sesegera mungkin untuk dibersihkan. Tindakan memakai sarung tangan dilaksanakan pada setiap kali memasang infus, menyuntik, memasang endotrakeal tube dan lain-lain. Kacamata dan masker digunakan untuk menghindari percikan cairan. Menurut Journal of Bone and Joint Surgery tahun 2005 kebocoran sarung tangan terjadi pada 18,5% pembedahan konvensional. Kebocoran pada pembedahan minimal invasif 5,8%. Sarung tangan sebaiknya berlapis dan sering diganti. Diketahui bahwa risiko kontaminasi darah terjadi 13 kali lebih besar pada 1 lapis sarung tangan dibandingkan sarung tangan rangkap 2.

Setelah kegiatan bedah selesai dilaksanakan, semua alat dan bahan harus didesinfeksi dan dimusnahkan (kubur/bakar). Alat yang bisa dipakai kembali didekontaminasi dengan cara merendam dalam klorin 0,5% selama 10 menit, kemudian dibersihkan dan disuci hamakan. Baju operasi direndam dalam desinfektan selama 30 menit kemudian dicuci dan disucihamakan. Semua petugas harus diberitahu status penderita yang terinfeksi HIV dan petugas tersebut wajib menjaga kerahasiaannya.

Apabila sudah diketahui status pasien di IRD tersebut sebagai kasus HIV / AIDS maka diberlakukan prosedur penanganan kasus HIV / AIDS dan merupakan kasus Team Work dengan tim HIV / AIDS RSU Dr.Soetomo.

Berbagai Kejadian Akut pada Pasien HIV
Sudjatmiko menjelaskan adanya anggapan umum yang mungkin menyatakan bahwa penderita HIV+ akan menjadi jelek apabila dilakukan pembedahan. Pada dasarnya penderita dengan HIV+ terkontrol yang mengalami pembedahan akan menunjukkan morbiditas dan mortalitas yang sama dengan penderita non HIV. Penderita urgen dan elektif dilakukan pembedahan setelah HIV+ terkontrol. Pada semua penderita darurat bedah dapat dilakukan pembedahan tanpa memperhatikan status serologisnya.

Penyakit yang sering dijumpai di Unit Gawat Darurat misalnya adalah gangguan di sistem gastrointestinal. Terjadi apendisitis akut disebabkan infeksi CMV atau Kaposi sarkoma. Disebutkan dalam American Journal of Surgery 164, 1992, bahwa insiden mencapai 30% dari kasus HIV/AIDS yang menunjukkan gejala apendisitis. Seringkali hal ini mengalami keterlambatan karena diagnosanya sering rancu dengan penyakit dasarnya. Kejadian perforasi usus juga meningkat pada HIV/AIDS tingkat lanjut. Penyebab yang paling sering adalah infeksi dari CMV, Kaposi sarkoma dan tuberkulosis. Perforasi sering terjadi pada ileum terminal dan kolon. Diagnosa dengan menemukan occlusion body pada nukleus. Kejadian ini memerlukan tindakan bedah darurat dan prognosanya cukup jelek.

Membahas tentang penyakit saluran pencernaan lainnya, ternyata obstruksi usus juga bisa terjadi pada kasus infeksi HIV. Penyebabnya di antaranya karena gastric outlet (pada limfoma), usus halus yang terinfeksi mycobacterium, invaginasi karena Kaposi Sarcoma dan mega kolon toksik karena CMV. Kejadian ini memerlukan pembedahan. Kadang perlu tindakan endoskopi, dan sebaiknya terapi dilakukan secara konservatif, kecuali terjadi gangguan hemodinamik yang memerlukan tindakan bedah untuk resusitasi.

Di area anus dan rektum seringkali ditemukan infeksi human papilomavirus yang biasa kita sebut condyloma acuminata. Papilomavirus juga bisa menginduksi skuamous sel karsinoma sehingga perlu pembedahan.

Di organ retikuloendotelial, terjadi splenomegali yang juga sering muncul pada penderita HIV/AIDS. Infeksi CMV dan M.pneumonitis menyebabkan fibrosis portal. Infeksi Limfoma dan Kaposi menyebabkan splenomegali. Pembedahan dilaksanakan bila terjadi ruptur membakat, ruptur spontan atau trauma. Penyakit hepato-bilier sering terjadi pada penderita HIV/AIDS. Diantaranya adalah infeksi parenchim hati karena C.albican dan M.avium yang membentuk mikro abses hati. Abses hati bisa pula karena infeksi E. histolitika. Sklerosis sistem bilier terjadi karena Cryptosporium dan CMV. Jika terjadi sumbatan pada duktus sistikus yang menyebabkan kolesistitis akut dan keadaan di atas tindakan biopsi atau bedah harus dilakukan.

Di kelenjar getah bening, limfoma sel B merupakan neoplasma yang paling sering pada HIV/AIDS. Human herpes virus 8 merupakan biang penyebab Kaposi sarkoma. Dapat mengenai sistem gastro-intestinal, paru, maupun kulit. Pembedahan dilakukan untuk diagnosa serta untuk mengatasi komplikasi baik perdarahan, perforasi, dan intususepsi yang ditimbulkan.

Menyangkut organ kardiovaskuler, penyakit vaskular pada pembuluh darah terkait HIV disebabkan karena infeksi pembuluh darah oleh S.aureus atau Salmonella. Mekanisme proses ini terjadi karena afinitas bakteri dengan plaque athero-sklerotik. Afinitas mengakibatkan infeksi pembuluh darah dan aneurisma. Aneurisma sangat berpotensi menjadi ruptur sehingga dilakukan terapi reseksi dan rekonstruksi.

Ahli bedah beserta timnya seharusnya merasa aman dalam menangani penderita. HIV/AIDS yg memerlukan pembedahan asal tindakan pencegahan standar (universal precaution) terhadap bahaya penularan HIV/AIDS dijalankan dengan benar. Jika terdapat petugas kesehatan yang mempunyai status HIV+, dianjurkan tidak dilibatkan dalam tindakan pembedahan (terutama pembedahan besar). Prosedur pembedahan pada penderita HIV/AIDS sama seperti non HIV/AIDS. Tidak ada beda bermakna keberhasilan antara HIV dan non HIV dalam pembedahan. Profesionalisme, tanggung jawab moral dan etik akan mendapatkan hasil pembedahan yang optimal, demikian kata Sudjatmiko dan Urip menutup presentasinya yang terkait dengan kegawatdaruratan HIV/AIDS dalam PERNAS HIV AIDS III di Surabaya Februari lalu.


Last edited by gitahafas on Fri Jul 23, 2010 8:25 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Jul 22, 2010 11:18 am

IBU POSITIF HIV BISA BERIKAN ASI EKSKLUSIF PADA BAYINYA
Senin, 21/12/2009 15:00 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Ibu yang telah didiagnosa positif HIV biasanya tidak mau memberikan ASI pada anaknya karena takut si bayi tertular virus tersebut. Tapi ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya justru bisa mencegah penularan tersebut.

Ibu yang mengidap HIV cenderung tidak ingin memiliki anak dan kalaupun punya anak tidak mau menyusuinya karena tidak ingin si anak tertular penyakitnya. Namun Badan kesehatan dunia (WHO) pada 1 Desember 2009 menyatakan bahwa ibu yang positif HIV bisa menyusui anaknya secara eksklusif.

"Ibu yang positif HIV bisa menyusui anaknya secara eksklusif asalkan si ibu mengonsumsi obat antiretroviral (ARV) sejak awal kehamilannya," ujar dr Henny Hendiyani Zainal seorang konselor AIMI dalam acara coffee morning Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) di Restoran Sambara, Jakarta, Senin (21/12/2009). Jika ibu yang positif HIV, maka sejak awal kehamilannya harus sudah mengonsumsi obat antiviral agar virus yang ada dalam tubuh ibu tidak ditularkan pada anaknya. Hal ini berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap ibu yang positif HIV di Afrika Selatan.

"Didapatkan bayi yang mendapat ASI eksklusif menunjukkan hasil negatif terhadap virus HIV hingga bayi tersebut berusia 2 tahun dan tidak didapatkan penurunan daya tahan tubuh (imunitas) dari anak tersebut," ungkap dr Henny. dr Henny menuturkan hal ini kemungkinan di dalam tubuh ibu yang positif HIV sudah terbentuk antibodi secara alami, sehingga antibodi inilah yang akan masuk ke tubuh si anak untuk melindunginya dari penyakit HIV.

Namun penelitian yang dilakukan di Afrika Selatan ini baru sebatas melihat efek jika bayi diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan, dalam arti bayi tidak mendapatkan asupan lain selain air susu ibunya saja. Untuk itu bagi ibu yang sudah dinyatakan positif tertular HIV tidak salahnya untuk memberikan ASI eksklusif pada sang buah hati, tapi dengan syarat si ibu tetap mengonsumsi obat antiviral sejak masa kehamilannya.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 2:09 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Jul 22, 2010 11:19 am

TES HIV
Apakah tes HIV?
Tes HIV merupakan pengujian untuk mengetahui apakah HIV ada dalam tubuh seseorang. Tes HIV yang umumnya digunakan adalah yang mendeteksi antibodi yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh dalam merespons HIV, karena antibodi itu lebih mudah (dan lebih murah) dideteksi dibanding pendeteksian virus itu sendiri. Antibodi diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh dalam merespons suatu infeksi.

Bagi sebagian besar orang, antibodi tersebut memerlukan waktu tiga bulan untuk berkembang. Dalam beberapa kasus yang jarang terjadi, antibodi ini perlu sampai enam bulan untuk berkembang.

Setelah kemungkinan pajanan, berapa lamakah saya harus menunggu sebelum menjalani tes HIV?
Hendaknya anda menunggu tiga bulan setelah pajanan sebelum dites HIV. Walaupun tes antibodi HIV sangat sensitif, ada “periode jendela” selama tiga sampai 12 minggu, yang merupakan periode antara terinfeksi HIV dengan kemunculan antibodi yang dapat dideteksi. Dalam hal tes anti HIV paling sensitif yang saat ini direkomendasikan, ?periode jendela?-nya adalah sekitar tiga minggu. Periode ini bisa saja lebih lama bila tes yang kurang sensitif yang digunakan.

Selama “periode jendela”, orang yang terinfeksi HIV tidak memiliki antibodi yang dapat dideteksi oleh tes HIV dalam darahnya. Kendatipun demikian, seseorang mungkin sudah memiliki HIV dalam kadar tinggi dalam cairan tubuhnya seperti darah, cairan semen, cairan vagina, dan ASI. HIV dapat ditularkan ke orang lain selama “periode jendela” ini, walau tes HIV mungkin saja tidak menunjukkan bahwa anda tidak terinfeksi HIV.

Mengapa saya harus menjalani tes HIV?
Ada dua keuntungan penting bila anda mengetahui status HIV. Pertama, bila anda terinfeksi HIV, anda dapat mengambil langkah-langkah yang dipandang perlu sebelum gejala muncul, yang secara potensial dapat memperpanjang hidup anda selama beberapa tahun. Kedua, bila anda tahu bahwa anda terinfeksi, anda dapat mengambil segala kewaspadaan yang dipandang perlu untuk mencegah penyebaran HIV kepada orang lain.

Di mana saya dapat menjalani tes/ pemeriksaan?
Banyak tempat di mana anda dapat dites HIV: di kantor praktek dokter swasta, departemen kesehatan setempat, rumah sakit, klinik keluarga berencana, dan tempat-tempat yang secara khusus dibangun untuk pengetesan HIV. Cobalah untuk mencari tahu tentang tes di tempat dimana konseling HIV/AIDS diberikan.

Apakah hasil tes saya bersifat rahasia?
Semua orang yang melakukan tes HIV harus memberikan izin sebelum dites. Hasil tes harus mutlak dijaga kerahasiaannya.

Ada berbagai jenis tes yang tersedia:
* Tes HIV rahasia
Para ahli kesehatan yang menangani tes HIV menyimpan hasil tes dalam data medis secara rahasia. Hasil tidak dapat dibagi dengan orang lain tanpa izin tertulis dari orang yang dites.

* Tes HIV Anonim
nama orang yang dites tidak digunakan dalam kaitannya dengan tes tersebut. Sebagai gantinya, sebuah nomor kode diterakan dalam tes, yang memungkinkan individu yang dites menerima hasil tes. Tidak ada dokumen tersimpan yang dapat mengaitkan orang dengan tesnya.

Kerahasiaan bersama (shared confidentiality) dianjurkan, dalam artian kerahasiaan tersebut juga dipegang oleh orang lain yang mungkin meliputi anggota keluarga, orang yang dicintai, para pengasuh, dan teman-teman yang layak dipercaya. Namun perlu hati-hati dalam membuka hasil tes HIV karena dapat menimbulkan diskriminasi dalam perawatan kesehatan, serta lingkungan profesi dan sosial. Oleh karena itu keputusan atas kerahasiaan bersama harus sepenuhnya atas kehendak orang yang akan dites. Walaupun hasil tes HIV sebaiknya tetap dijaga kerahasiaannya, para ahli seperti konselor, pekerja sosial, dan pekerja kesehatan perlu juga untuk mengetahui status HIV-positif seseorang dalam upaya memberikan perawatan yang sesuai.

Apa yang harus saya lakukan ketika saya terjangkit HIV?
Berkat perkembangan pengobatan baru, kini terdapat lebih banyak orang yang hidup dengan HIV (ODHA) dapat menjalani hidup yang lebih sehat dan lebih lama. Sangatlah penting bagi anda untuk memiliki dokter yang tahu bagaimana cara perawatan HIV. Konselor atau perawat terlatih dapat memberikan konseling dan merekomendasikan dokter yang tepat.

Selain itu, anda dapat melakukan hal-hal berikut agar tetap sehat:
* Ikuti petunjuk dokter anda. Atur dan tepai janji dengan dokter. Bila dokter anda memberi resep, minumlah sesuai dengan yang tertera dalam resepnya.
* Lakukan imunisasi (suntikan) untuk mencegah infeksi seperti pneumonia dan flu (setelah berkonsultasi dengan dokter anda).
* Bila anda merokok atau anda menggunakan obat-obatan yang tidak diresepkan oleh dokter anda, segera hentikan.
* Makan makanan yang sehat.
* Berolahragalah secara teratur agar tetap sehat dan kuat.
* Tidur dan beristirahatlah dengan cukup.

Apa artinya bila tes HIV saya hasilnya negatif?
Hasil tes yang negatif berarti bahwa di dalam darah anda, tidak terdapat antibodi HIV saat Anda melakukan tes. Bila anda negatif, pastikan bahwa anda tetap seperti itu: pelajari berbagai fakta mengenai penularan HIV dan hindarkan diri agar tidak terjerumus dalam perilaku yang tidak aman.

Kendatipun demikian, masih terdapat kemungkinan terinfeksi, karena sistem kekebalan tubuh memerlukan waktu sampai tiga bulan untuk memproduksi antibodi dalam jumlah yang cukup untuk mengindikasikan infeksi dalam tes darah anda. Sangat disarankan untuk melakukan tes ulang beberapa waktu setelah tes pertama itu, dan seraya menunggunya, anda bersifat waspada. Selama “periode jendela” sangat besar kemungkinan seseorang untuk menularkan, dan karenanya, anda hendaknya melakukan berbagai upaya untuk mencegah kemungkinan terjadinya penularan.

©2010, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional


Last edited by gitahafas on Tue Jul 27, 2010 5:17 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Jul 22, 2010 11:20 am

5 FAKTA PENTING TENTANG HIV/AIDS
Rabu, 21 Juli 2010 - 16:51 wib
PENYEBARAN HIV/AIDS kian mengkhawatirkan saja. WHO melansir jumlah terbaru pengguna obat AIDS yang terus bertambah hingga berkali-kali lipat.
Agar bebas penyakit, Anda harus mengetahui fakta menarik tentang HIV/AIDS. Di antaranya:

1. HIV tidak pandang bulu
Sejak epidemi HIV dimulai 20 tahun lalu, stereotipe yang beredar di masyarakat tentang penderita HIV yaitu para gay, pemakai narkoba dan para pekerja seks komersial-lah yang mendapat label tersebut. Faktanya, semua orang bisa terkena HIV, dari usia tua, muda, kaya, miskin, wanita, pria, maupun anak-anak dan dari berbagai macam profesi.

2. Seks oral tak seaman yang dipikir
Oral seks sering kali dianggap sebagai cara "aman" melakukan hubungan seksual. Faktanya, berdasar penelitian, cairan tubuh yang terinfeksi seperti semen dan sekresi vagina yang mengandung konsentrasi virus HIV tinggi bisa memasuki aliran darah melalui membran mukosa mulut.

3. Jangan cuma khawatir hamil
Banyak remaja percaya, satu-satunya risiko berhubungan seks tanpa proteksi adalah kehamilan. Karena itu dipakailah pil KB, oral seks dan ejakulasi di luar demi mencegah kehamilan. Padahal, banyak hal yang harus dikhawatirkan selain kehamilan yakni adanya penyakit menular seksual (PMS) seperti sifilis, herpes, termasuk HIV yang bisa mengancam kehidupan.

4. Kadang orang tidak mengatakan sesungguhnya dan kita tidak tahu kenyataannya
Coba Anda pikir sejenak kalimat di atas. Berapa banyak orang yang mengakui bahwa mereka menderita HIV/AIDS jika ditanya oleh pasangan barunya? Berapa banyak orang yang mengakui kehidupan seksual mereka ketika mereka baru mengenal seseorang? Berapa banyak orang yang benar-benar mengetahui status HIV mereka dan status kesehatan orang-orang yang bersama mereka sebelumnya? Sebuah pernyataan "partner saya tidak mengidap HIV" hanya bisa diterima jika disertai dengan bukti nyata tes HIV negatif. Tanyalah dengan jelas status HIV mereka dan mintalah mereka melakukan tes sebagai bukti.

5. Belum ada obat untuk si pembunuh
Meski orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bisa hidup lebih lama berkat obat antiretroviral, obat ini tidak menyembuhkan. Kalau pun obat-obat ini melindungi dari infeksi opportunistik ini bukanlah "jalan pintas" dari infeksi HIV. Ot ini bahkan menyebabkan efek samping seperti diare, kelelahan berlebihan, kemerahan, mual dan muntah.
(Koran SI/Koran SI/tty)


Last edited by gitahafas on Thu Jan 27, 2011 1:47 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Fri Jul 23, 2010 8:17 pm

KONDOM PEREMPUAN DIBAGIKAN GRATIS
Selasa, 6 Juli 2010 | 09:05 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Terus meningkatnya jumlah perempuan penderita HIV di Indonesia mendorong pemerintah terus melakukan antisipasi. Dengan menggandeng sejumlah pihak, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) membagikan satu juta kondom gratis kepada masyarakat menengah ke bawah melalui program Kondom Komprehensif.

"Yang kami utamakan adalah warga, khususnya ibu rumah tangga. Bukan berarti (yang) tidak punya uang tidak bisa terlindungi," kata Sekretaris KPAN, dr Nafsiah Mboi, saat Penandatanganan Kesepakatan Program Kondom Komprehensif antara KPAN, BKKBN, dan Yayasan PBB untuk Aktivitas Populasi (UNFPA), Senin (5/7/2010) di Jakarta. Menurut dr Nafsiah, keunikan kondom komprehensif ini terletak pada kebebasan perempuan untuk menggunakan kondom guna melindungi dirinya tanpa harus tergantung pada pria.

Kondom perempuan diperlukan karena tingkat penggunaan kondom laki-laki masih rendah dan ini mengancam hidup pasangannya. Perempuan, kata Nafsiah, berhak melindungi dirinya terhadap penularan penyakit dan kehamilan yang tak direncanakan. Penularan pada perempuan bisa berakibat penularan pada anak/bayi.

Satu juta kondom yang tersedia bakal didistribusikan ke 12 provinsi di Indonesia dengan pembagian 90 persen kepada KPAN yang nantinya akan didistribusikan melalui outlet-outlet yang terdapat di daerah rawan AIDS, seperti Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Jawa, Bali, dan Papua. Sementara itu, 10 persen akan diberikan kepada BKKBN untuk digunakan sebagai kampanye penggunaan kondom.

Selain itu, KPAN akan menggunakan jasa trainer untuk mengajarkan cara pemakaian kondom yang benar. Trainer tersebut harus lebih dahulu menggunakan kondom tersebut. "Kalau sudah married dan dia (trainer) wanita, maka harus mencobanya. Kalau dia laki-laki, coba pada istrinya. Kalau belum married, minta orang coba karena ada session tanya-jawab tentang ini," lanjut dr Nafsiah. Hingga saat ini, outlet kondom yang tersedia di Indonesia telah ditempatkan di wilayah-wilayah lokalisasi. Hingga Juli ini telah dibangun 3.000 unit. Rencananya dalam 5 tahun mendatang akan ada penambahan jumlah outlet kondom sebanyak 20.000 unit.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 27, 2010 5:40 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sat Jul 24, 2010 5:10 am

INFEKSI MENULAR SEKSUAL ( IMS )
IMS umumnya menular melalui hubungan seksual, baik secara kelamin-kelamin ( sex vagina ), kelamin-dubur ( seks anal ) maupun kelamin-mulut ( seks oral ) karena bakteri atau virus penyebabnya terdapat dalam cairan kelamin pria, cairan vagina dan darah.
Harus diingat bahwa kontak seksual meliputi lebih dari hubungan seksual, karena termasuk diantaranya berciuman serta penggunaan alat seks misalnya vibrator dan dildo. Sebagian besar orang mengira bahwa berciuman itu merupakan aktivitas seks yang aman. Pada kenyataannya sifilis, herpes serta lainnya dapat ditularkan melalui kegiatan yang nampaknya tidak beresiko ini. Air liur dapat menularkan beberapa jenis penyakit menular seksual bila terdapat luka kecil didalam atau sekitar mulut sehingga luka sifilis bisa timbul di bibir atau di dalam rongga mulut.

IMS juga dapat menular melalui kontak langsung dengan daerah yang telah terinfeksi, misalnya luka herper bisa mengenai jari tangan. Darah yang tercemar atau jarum suntik dapat menyebarkan beberapa IMS seperti sifilis, HIV, Hepatitis B. Wanita yang mengidap IMS dapat menularkan kepada bayi dalam kandungan pada waktu melahirkan atau pada masa menyusui. Seseorang dapat tertular IMS lebih dari sekali dan seseorang dapat terkena beberapa iMS sekaligus pada saat yang bersamaan.
Bila seseorang mengidap HIV serta IMS lainnya, kemungkinannya bertambah besar untuk menularkan HIV kepada pasangan seksualnya. Bila seseorang tidak mengidap HIV, namun mengidap IMS lainnya, maka kemungkinannya bertambah besar untuk tertular HIV dari pasangan yang mengidap HIV.

Resiko tertular IMS bertambah besar bila:
1. Melakukan hubungan seksual dengan mulut, kelamin atau dubur dengan seseorang yang telah terinfeksi.
2. Pasangan seksualnya sedang atau pernah terkena IMS.
3. Melakukan hubungan seksual dengan pasangan seksual baru dikenal.
4. Seseorang atau pasangan seksualnya juga melakukan hubungan seksual dengan orang lain.
5. Melakukan hubungan seksual dibawah pengaruh alkohol atau obat terlarang.
6. Menggunakan bersama sama jarum suntik atau peralatan untuk obat terlarang atau alat seks.

Jenis IMS:
1. Gonore
2. Infeksi Chlamydia
3. Sifilis
4. Herpes kelamin
5. Kutil kelamin
6. Trikomoniasis
7. Vaginosis bakterial
8. Hepatitis B
9. HIV / AIDS

Sumber: Bunga Rampai Masalah KesehatanIluni FK 1983
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sat Jul 24, 2010 5:26 am

PEREMPUAN AIDS MAYORITAS IBU RT
Senin, 12 Juli 2010 | 17:23 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional mencatat, mayoritas perempuan penderita AIDS adalah ibu rumah tangga, bukan pekerja seks! Sekretaris KPA Nasional Nafsiah Mboi mengatakan, ibu rumah tangga pengidap AIDS jumlahnya mencapai 59,9 persen dari total perempuan penderita. "Yang paling banyak terinfeksi bukanlah pekerja seks, melainkan justru ibu rumah tangga, lho," ungkapnya di Balai Kota, Senin (12/7/2010).

Nafsiah melanjutkan, total jumlah perempuan penderita AIDS hanyalah 25,08 persen dari total penderita AIDS. Ibu rumah tangga penderita AIDS mencapai 1.970 orang dari total 3.525 perempuan penderita AIDS dalam kurun waktu 10 tahun terakhir sampai 2009. "Mereka ini perempuan pernikahan monogami, tidak pernah selingkuh fisik dan tidak pernah nyuntik. Kemungkinan besar suami mereka yang nyuntik atau doyan jajan," tuturnya.

Nafsiah menyayangkan rendahnya kesadaran menggunakan kondom dalam kehidupan rumah tangga. Padahal, kondom berguna untuk mencegah penularan HIV/AIDS. Sementara itu, pekerja seks "tertolong" karena memang mengikuti program penggunaan kondom, berbeda dengan ibu rumah tangga. "Jadi, penggunaan kondom, meski sudah berumah tangga, itu sangat penting," ungkapnya.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 6:01 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sat Jul 24, 2010 5:31 am

PENGIDAP HIV PILIH MERAHASIAKAN STATUSNYA KEPADA PASANGAN
Jumat, 23/07/2010 13:33 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Wina, Ketika harus mengungkap kondisinya, seorang pengidap HIV/AIDS sering berhadapan dengan risiko terkucilkan. Banyak yang memilih untuk menyembunyikannya, bahkan pada pasangan karena khawatir akan mendapat stigma negatif. Dalam sebuah survei internasional yang diungkap dalam konferensi AIDS di Wina, 17 persen pengidap HIV/AIDS di seluruh dunia tidak terbuka pada partner seksualnya. Diduga hal ini disebabkan oleh faktor psikologis, karena data lainnya mengungkap bahwa 37 persen pengidap HIV juga mengalami depresi.

Dikutip dari WebMD, Jumat (23/7/2010), survei tersebut melibatkan tak kurang dari 2.000 orang pria dan wanita. Seluruh partisipan merupakan pengidap HIV positif yang diambil dari belasan negara di seluruh dunia. Selain masalah keterbukaan dengan pasangan, para ahli juga mengkhawatirkan kurangnya komunikasi dengan dokter. Padahal seseorang yang hidup dengan HIV/AIDS umumnya rentan terhadap berbagai penyakit penyerta.

"Penyakit penyerta bisa muncul karena HIV itu sendiri, maupun akibat pengobatan antiretrovirus," ungkap Prof Jurgen Rockstroh, MD, PhD dari University of Bonn.
Adanya gap antara pasien dengan dokter dikhawatirkan akan berpengaruh pada kualitas hidup dan kondisi kesehatan jangka panjang. Sebab dalam memberikan pengobatan, dokter harus memperhatikan kondisi idividual termasuk lingkungan dan faktor lain misalnya kebiasaan merokok.

Kurangnya sikap terbuka dari para pengidap membuktikan bahwa diskriminasi dan stigma negatif masih menghantui para pengidap HIV/AIDS.
Hasil yang terungkap dalam survei tersebut adalah sebagai berikut:

1. 17 persen pengidap HIV/AIDS di seluruh dunia tidak terbuka pada partner seksualnya
2. 97 persen mengaku puas dengan layanan kesehatan, 84 persen yakin telah mendapat penanganan sesuai kebutuhan individual masing-masing
3. 74 persen mengatakan manfaat perawatan HIV/AIDS lebih besar daripada efek samping yang didapatkan
4. Lebih dari setengah mengaku hidup dengan satu atau lebih penyakit penyerta yang tergolong berat misalnya penyakit jantung, gangguan pencernaan dan hepatitis C
5. 65 persen pengidap yang mempunyai risiko tinggi mengalami sakit jantung tidak pernah mengomunikasikan kondisi jantungnya pada dokter
6. 62 persen pengidap tidak pernah mendiskusikan rencana untuk berhenti merokok pada dokter
7. 69 persen tidak pernah memeriksakan diri untuk risiko hepatitis C.
(up/ir)


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 6:01 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
 

HIV - AIDS

View previous topic View next topic Back to top 
Page 4 of 13Goto page : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 11, 12, 13  Next

 Similar topics

-
» AIDS - Where Did AIDS Come From?
» Keningau banyak AIDS
» NEW AND OLD RESEARCH ON HIV-AIDS VIRUS -
» Condom versus HIV / AIDS
» Lebih 87000 AIDS di Malaysia sejak 1986

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-