Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 HIV - AIDS

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 11, 12, 13  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Mon Jun 14, 2010 8:46 am

ARV : TUMPUAN PENDERITA HIV
RACIKAN KHUSUS - Edisi Desember 2006 (Vol.6 No.5) Farmacia

Penderita HIV dapat berharap pada obat ARV, namun ada berbagai ’persyaratan’ untuk terapinya.
”Dapatkah penyakit ini diobati, Dok?” Pertanyaan itu meluncur dari seorang wanita yang mengetahui suaminya terkena HIV. Dokter secara perlahan memberikan penjelasan tentang obat antiretroviral (ARV) yang bisa diandalkan untuk terapi HIV.

Terapi ARV bertujuan untuk menghambat perjalanan penyakit HIV, hingga dapat memperpanjang usia dan memperbaiki kualitas hidup. Virus HIV menyerang sel CD4 dalam sistem kekebalan tubuh serta menggunakan sel ini untuk bereplikasi. Akibatnya, jumlah sel ini dalam tubuh pun semakin menurun. Obat ini bekerja dengan cara menghambat proses pembuatan virus dalam sel CD4, hingga jumlah CD4 pun dapat ditingkatkan.

Wanita tersebut lega. Ia langsung meminta dokter untuk memberikan obat itu pada suaminya. Eit! Tunggu dulu. Ada beberapa kriteria sebelum obat ini diberikan kepada pasien, karena tidak semua orang yang terinfeksi dapat diberikan ARV.

Salah satu yang diajukan kriteria untuk memulai terapi ARV, adalah dengan menggunakan ukuran jumlah CD4. Jika jumlah CD4 masih di atas 350 sel/mm3, terapi tidak perlu dilakukan dan tetap dilakukan monitor ketat terhadap CD4. Sedangkan jumlah CD4 antara 200-350 sel/mm3 dipertimbangkan untuk memulai terapi sebelum sel CD4 turun di bawah 200 sel/mm3. Sedangkan jika sel CD4 berjumlah kurang di bawah 200 sel/mm3 maka dilakukan terapi, karena penurunan CD4 di bawah 200 diasosiasikan dengan terjadinya infeksi oportunistik dan kematian.

Gejala klinis dapat dijadikan kriteria untuk memulai terapi berdasarkan riwayat infeksi oportunistik dan penyakit yang berhubungan dengan HIV. Beberapa infeksi oportunistik dapat dibuat sebagai tanda untuk mempertimbangkan penggunaan ARV. Misalnya infeksi jamur kandida di dalam mulut atau vagina, kehilangan lebih dari 10 persen berat badan atau demmam lebih dari satu bulan.

Sebelum memulai terapi ARV, beberapa faktor perlu dijadikan pertimbangan untuk memilih regimen ARV yang sesuai. Misalnya, ketersediaan formulasi obat, khususnya obat kombinasi tetap, adanya penyakit yang telah ada sebelumya seperti tuberkulosis dan hepatitis B, pemantauan laboratorium, harga dan efektifitas biaya.

Satu hal lagi, kepatuhan minum obat pada pasien merupakan faktor yang penting untuk mengurangi terjadinya resistensi dan putus pengobatan. ”Kita tidak akan memberikan terapi sebelum pasien mengerti benar tentang pengobatan ARV ini ,” ujar Dr. Teguh Harjono K. SpPD. Jadi, pemberian konselling merupakan hal yang perlu dilakukan sebelum memulai terapi awal. Isi dari konseling tersebut adalah mengenai cara pemakaian, efek samping, manfaat, target terapi, kegagalan, dan sebagainya. Selain konseling, program pengawasan dalam melanjutkan pemakaian ARV harus terus dilaksanakan sehingga terapi berjalan baik.

Berbagai Jenis ARV
Beberapa jenis obat-obatan ARV diungkapkan oleh Teguh. Obat-obatan ini dibagi dalam 3 golongan yaitu Nucleosid Reverse Transcriptase inhibitor (NRTI), Non Nucleosid Reverse Transcriptase Inhibitor (NNRTI), dan Protease Inhibitor (PI).

Obat yang termasuk dalam golongan NRTI dieliminir terutama melalui ginjal dan tidak berinteraksi dengan obat lain yang melalui cytocrom P-450. Obat-obatan ini juga dapat diokombinasikan dengan obat dari golongan PI dan NNRTI tanpa dilakukan penyesuaian dosis. Yang termasuk dalam golongan obat ini adalah Zidovudine (AZT), Didanosine (DDL), Zalcitabine (ddC), Stavudin (d4T), Lamivudine (3TC), Abacavir (ABC), Tenofovir (TDF), dan Emtricitabine (FTC).

Zidovudine (AZT, ZDV, Retrovir) memiliki efek samping anemia, netropenia, mual, muntah, rasa lemah, lelah, asidosis laktat. Dengan dosis pemakaian 2x300 mg per hari obat ini tidak boleh dipakai bersama Stavudine (d4T). Sedangkan Stavudine (d4T, Zerit) memiliki efek samping neuropati, lipoatrofi. Dosis pemakaiannya berdasarkan berat badan. Bila >60 kg maka dosisnya adalah 2x40 mg per hari dan bila <60 kg adalah 2x30 mg per hari. Lamivudine (3TC, Epivir, Hiviral) biasanya dapat ditoleransi baik dengan efek samping ringan. Dosisnya adalah 2x150 mg per hari.

Obat yang termasuk dalam golongan NNRTI adalah Nevirapine (NVP), Delavirdine (DLV), Efavirenz (EFV). Obat ini dapat menghambat atau menginduksi aktivitas cytocrom P-450 di hati sehingga dapat berinteraksi dengan obat-obat lain yang melalui cytokrom P-450. Obat ini memerlukan lebih, apabila akan dikombinasikan dengan ARV lain. Nevirapin akan menurunkan kadar Indinavir dan Saquinavir. Efavirenz akan menurunkan kadar plasma Indinavir, Lopinavir, Saquinavir, Amprenavir dan akan menaikkan kadar plasma Ritonavir dan Nelvinavir. Nevirapine dan Efavirenz juga akan menurunkan plasma konsentrasi Metadon sebesar 50 persen sehingga pemakaian bersama dengan kedua obat ARV ini, harus berhati-hati terhadap gejala withdrawal serta membutuhkan dosis yang lebih tinggi.

Nevirapine (Viramun, Neviral) memiliki efek samping rash karena alergi, steven johnsons syndrome, anafilaksis, meningkatnya SGOT/PT, menurunkan konsentrasi rifampisin dan ketokonazol dalam darah. Dosis yang digunakan dadalah 1x200 mg per hari untuk 2 minggu pertama, dan selanjutnya 2x200 mg per hari. Efavirenz (stocin, sutiva) dimakan pada malam hari dengan dosis 600 mg per hari. Efek samping mengonsumsi obat ini adalah teratogenik, gejala sistem saraf pusat (dizziness, sakit kepala ringan, mimpi buruk) yang akan hilang pada mingggu pertama pertama.

Golongan obat ketiga dari ARVadalah PI, yang terdiri dari Saquinavir (SQV), Indinavir (IDV), Ritonavir (RTV), Nelvinafir (NFV), Amprenavir (APV), Lopinavir/Kaletra (LPV/r), Atazanavir (ATV). Obat-obatan ini menghambat CYP3A4 sehingga harus berhati-hati jika digunakan bersama obat lain. Golongan obat ini memiliki kontraindiksi jika dipakai bersama dengan obat antiaritmia, hinotik-sedatif, dan derivat ergot serta menurunkan knsentrasi plasma lovastatin dan simvastatin secara umum.

Terapi Lini Pertama
WHO pada Kongres HIV Internasional 2006 di Toronto merekomendasikan pemakaian terapi lini pertama pada orang dewasa terdiri dari 2 kombinasi NRTI dan 1 NNRTI. Rekomendasi ini didasarkan bahwa regimen ini memiliki efikasi yang baik, lebih murah dibanding regimen lain, memiliki versi generik, dan tidak memerlukan rantai dingin. Namun ada beberapa kelemahan yaitu waktu paruh obat yang berbeda dan adanya fakta mutasi diasosiasikan dengan resistensi beberapa obat misalnya 3TC dan beberapa NNRTI.

Analog thiacytadine (3TC atau FTC) digunakan sebagai pilihan pertama digabungkan dengan nukleoside atau analognya yang pilihannya adalah AZT, TDF, ABC, atau d4T. Akhirnya kombinasi ketiga adalah EFV atau NVP.

Pilihan terapi lini pertama ARV

AZT atau d4T EFV
3TC atau FTC
TDF atau ABC NVP

Regimen tiga NRTI dapat dipertimbangkan sbagai alternative terapi lini pertama saat pilihan NNRTI mengakibatkan terjadinya kompikasi dan ketika golongan PI dirancang untuk terapi lini kedua. Hal ini misalnya pada wanita dengan jumah CD4 antara 250-350 sel/mm3, ko-infeksi dengan virus hepapatitis atau tuberkulosis, atau adanya reaksi terhadap NVP atau EFV. Kombinasi 3 NRTI yang direkomendasikan adalah zidovudine+lamivudine+abacavir dan zidovudine+lamivudine+tenofovir.

Monoterapi atau dual terapi tidak dapat digunakan untuk terapi infeksi HIV kronik. Kombinasi ini hanya digunakan untuk setting PMTCT (Prevention Mother to Child Transmission) dan profilaksis pasca paparan. Beberapa kombinasi pasangan NRTI juga tidak dapat digunakan. KOmbinasi itu adalah d4T+AZT, d4T+ddl dan 3TC+FTC.

Berhasil atau Gagal?
Keberhasilan terapi dapat dilihat dari tanda-tanda klinis pasien yang membaik setelah 6 bulan terapi, misalnya berat badan bertambah. Ukuran jumah sel CD4 menjadi prediktor terkuat terjadinya komplikasi HIV. Jumlah CD4 yangmenurun diasosiasikan sebagai perbaikan yang lambat dalam terapi, meski pada kenyataannya pasien yang memulai terapi pada saat CD4 rendah, akan menunjukkan perbaikan yang lambat. Namun jumlah CD4 di bawah 100 sel/mm3 merepresentasikan risiko yang signifikan untuk terjadinya penyakit HIV yang progresif. Maka, kegagalan imunologik dikatakan terjadi jika jumlah CD4 kurang dari angka tersebut.

Selain itu, uji viral load merupakan cara yang informatif dan sensitif untuk mengidentifikasikn kegagalan terapi. Pengobatan dikatakan sukses secara virulogik jika tingkat RNA plasma HIV-1 berada di bawah 400 copy/ml atau 50 copy/ml setelah 6 bulan terapi.
Jika gagal, maka dapat dipertimbangkan untuk mengganti regimen atau masuk ke terapi lini kedua. (Ika)


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:30 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Mon Jun 14, 2010 8:48 am

ARV ( ANTI RETRO VIRAL )
Obat ARV bertujuan untuk mengurangi / menghilangkan HIV dari dalam tubuh.
Umumnya obat ini diberikan dalam bentuk kombinasi.
Obat ini sangat bermanfaat untuk pengobatan penyakit HIV / AIDS, hal ini dicapai dengan pulihnya sistim kekebalan akibat HIV dan pulihnya kerentanan terhadap infeksi.

Obat ARV menekan angka kesakitan dan angka kematian akibat HIV / AIDS, juga penyakit infeksi pada HIV / AIDS menjadi lebih mudah diatasi dan lebih jarang ditemukan.
Kualitas hidup penderita AIDS meningkat tajam sehingga penderita dapat produktif kembali.
Namun demikian perlu dihindari kesalah pahaman sehingga penderita tidak menganggap dirinya sembuh serta menghentikan pengobatan.
Hambatan pengobatan HIV antara lain adalah kesukaran minum obat secara teratur, efek samping obat , harga obat ARV yang mahal.

Sumber: Bunga Rampai Masalah Kesehatan Iluni FKUI 1983


Last edited by gitahafas on Sat Jul 17, 2010 5:37 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sat Jun 19, 2010 10:16 am

OBAT HIV TINGKATKAN HARAPAN HIDUP 13 TAHUN
Jumat, 25 Juli 2008 | 19:23 WIB
Kompas.com - Kerja keras para ilmuwan dunia mengembangkan terapi antiretroviral guna memperpanjang harapan hidup pasien HIV ternyata tak sia-sia. Kemajuan di bidang pengobatan HIV sejak akhir 1990-an mampu meningkatkan angka harapan hidup pasien HIV hingga rata-rata 13 tahun, demikian dilaporkan sebuat riset terbaru.
Menurut para ahli, seperti dilaporkan jurnal The Lancet, kemajuan ini dapat diartikan bahwa HIV sekarang bisa disejajarkan dengan jenis penyakit kronis seperti diabetes.Tim peneliti, terdiri dari ilmuwan Eropa dan Amerika Utara yang tergabung dalam Antiretroviral Therapy Cohort Collaboration, mengambil kesimpulan tersebut setelah meriset 43.000 pasien pengidap HIV. Hasil studi menemukan, seseorang yang diagnosa HIV di usia 20 tahun saat ini diharapkan mampu bertahan hidup hingga 70 tahun. Secara keseluruhan, angka harapan hidup meningkat dengan rata-rata 13 tahun antara 1996 -2005 dan akan terus meningkat seiring dengan perbaikan dan penemuan baru di bidang terapi.

Professor Jonathan Sterne, anggota Antiretroviral Therapy Cohort Collaboration yang berasal dari Universitas Bristol, Inggris mengatakan: "Ada sebuah revolusi dalam terapi obat untuk HIV sejak 1996. Hal itu telah mengubah HIV secara cepat dari penyakit mematikan menjadi satu penyakit dengan rata-rata kematian seperti diabetes. Tiba-tiba kami dapat menghentikan replikasi virus dan mengembalikan sistem kekebalan," ujarnya. Meskipun kabar ini menggembirakan, para peneliti memperingatkan bahwa angka harapan ini masih terlalu rendah untuk populasi yang lebih luas di mana angkanya mencapai sekitar 80 tahun.

Terapi menggunakan antiretroviral dilakukan dengan memberikan obat kepada pasien HIV yang berfungsi untuk melawan infeksi dengan cara memperlambat replikasi virus dalam tubuh. Metode terapi ini diperkenalkan pada 1990-an, dan sejak itu terbukti menjadi cara yang efektif dan dapat ditoleransi dengan lebih baik oleh pasien.
Dalam studinya, peneliti menghitung angka harapan hidup dalam tiga periode setelah pengenalan obat-obat antiretroviral - yakni 1996-9, 2000-2 and 2003-5 - di negara-negara yang berpendapatan tinggi. Tercatat 2.000 pasien meninggal selama periode penelitian. Riset menemukan, meskipun pasien didiagnosa HIV di usia 20 tahun pada era 1990-an diperkirakan mampu hidup 36 tahun, harapan hidupnya meningkat lagi selama 13 tahun menjelang 2003-5.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sat Jun 19, 2010 10:18 am

OBAT ARV, CEGAH 1 JUTA INFEKSI HIV

Pemakaian obat antiretroviral ( ARV ) mampu mencegah 1 juta infeksi HIV pada tahun 2020, sehingga perkiraan jumlah orang hidup dengan HIV/AIDS ( ODHA ) tahun tersebut 600.000 orang. Jika ARV tidak tersedia atau ODHA tidak mampu mengakses ARV, maka jumlah ODHA 1,6 juta orang, demikian Guru Besar FKUI Prof DR Dr Syamsuridjal Djauzi dalam seminar HIV/AIDS yang diselenggarakan PT Kimia Farma di Jakarta, Rabu 16 Desember 2009.

ODHA yang memakai ARV pada tahap dini, akan mencegah penularan HIV ke orang lain.
Saat ini diperkirakan ODHA yang memerlukan ARV sebanyak 43.000 orang, namun yang mendapat terapi baru 20.000 orang dengan subsidi dari pemerintah dan bantuan dana global.

Perlu dipersiapkan anggaran yang lebih besar agar seluruh ODHA yang membutuhkan ARV bisa menjalani terapi ARV.
Sejak ARV digunakan sejak tahun 2001, ditemukan resistensi ARV lini satu pada tahun 2007 kurang dari 5%.
Resistensi terjadi antara lain karena ketidak patuhan minum obat.
Effektivitas ARV untuk menurunkan jumlah HIV didalam tubuh, sangat tergantung kepada kepatuhan minum ARV.
Berdasarkan survei, jika kepatuhan mencapai 95% maka effektivitas ARV 80% dan jika kepatuhan 90%, maka effektivitas menurun menjadi 60%.

Sumber: Suara Pembaruan Minggu, 20 Desember 2009.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:20 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Wed Jun 23, 2010 7:56 pm

KONSUMSI OBAT AIDS NAIK DOBEL
Selasa, 20 Juli 2010 | 16:54 WIB
Kompas.com - Jumlah orang yang mengonsumsi obat AIDS terus meningkat dari 1,2 juta tahun lalu menjadi 5,2 juta. Sejak tahun 2003 hingga 2010 tercatat kenaikan jumlah hingga 12 kali lipat. Demikian menurut laporan badan kesehatan dunia (WHO). "Kami sangat bangga dengan peningkatan ini. Sejauh ini peningkatan tersebut yang paling besar," kata Gottfried Hirnschall, direktur WHO departemen HIV/AIDS. Menurutnya, peningkatan tersebut disebabkan karena perbaikan akses pada obat di seluruh dunia, terutama di sub-Sahara Afrika. WHO mempresentasikan data tersebut dalam konferensi internasional tentang AIDS di Austria yang dihadiri ribuan pakar dan aktivitis AIDS. Bill Clinton, dalam pidato sambutannya mengakui keberhasilan tersebut namun tetap menilai jumlah itu masih jauh dari cukup.

"Lima juta orang yang sedang dalam pengobatan sangat banyak dibandingkan dengan yang kita mulai. Kita tidak bisa menghakhiri epidemi ini tanpa dana yang lebih banyak dan aksi nyata untuk menggunakannya," katanya. Para pengguna obat AIDS itu, kata Clinton, di berbagai tempat mendapat stigma dan hak asasi mereka telah dilanggar. "Hal itu seharusnya menjadi perhatian kita semua," katanya.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:16 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Jun 24, 2010 8:17 am

OBAT HIV TINGKATKAN RISIKO SERANGAN JANTUNG
KILAS - Edisi Mei 2008 (Vol.7 No.10) Farmacia
Selama ini, pengobatan HIV dilakukan dengan pemberian kombinasi obat antiretroviral protease inhibitor dan nucleoside reverse transcriptase inhibitor, semisal abacavir atau didanosine. Namun hasil sebuah studi terbaru memperingatkan, agar lebih berhati-hati menimbang risk and benefit abacavir dan didanosine. Menurut studi yang hasilnya dipublikasikan dalam jurnal Lancet ini, kedua obat telah sangat dikenal itu ternyata meningkatkan risiko serangan jantung. Dan berdasarkan data ini, U.S. Food and Drug Administration(FDA) sekarang tengah me-review kembali keamanan dan potensi risiko dari kedua obat ini.

Menurut Dr. Jens D. Lundgren, dari University of Copenhagen, Denmark, yang mengomandoi studi tersebut, risiko aktual memiliki serangan jantung saat menggunakan kedua obat itu bervariasi. Peningkatan risiko juga tergantung dari apakah pasien telah memiliki faktor serangan jantung sebelumnya. Misalnya saja, pasien yang berisiko mengalami serangan jantung, risikonya meningkat 38% dengan penggunaan baik abacavir maupun didanosine.Tapi, bila faktor risiko serangan jantung sangat kecil, maka peningkatannya juga sedikit.

Pada studi tersebut, tim Lundgren's mengumpulkan data 33,347 HIV pasien yang berpartisipasi dalam Data Collection on Adverse Events of Anti-HIV Drugs study (D:A:D). Peneliti kemudian mengamati hubungan antara obat HIV dan serangan jantung.

Untuk nucleoside reverse transcriptase inhibitors yang biasa digunakan, semisal zidovudine, stavudine atau lamivudine, peneliti menemukan tidak ada poeningkatan risiko serangan jantung. Tapi, untuk nucleoside reverse transcriptase inhibitors (abacavir dan didanosine) terkait dengan peningkatan risiko serangan jantung. Untuk pasien yang menggunakan abacavir, ada peningkatan risiko dua kali lipat untuk serangan jantung. Sedang untuk yang menggunakan didanosine, risiko meningkat sekitar 50%.

Oleh karena itu, peneliti menyarankan bagi pasien yang memiliki peningkatan risiko kardiovaskular, maka dipertimbangkan untuk menggantinya dengan obat yang lebih aman. Dengan menghentikan penggunaan obat ini, risiko serangan jantung bisa berkurang dalam 6 bulan.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:21 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sat Jun 26, 2010 9:09 pm

PILIHAN TERAPI UNTUK KO-INFEKSI HEPATITIS C-HIV/AIDS
GERAI - Edisi Mei 2007 (Vol.6 No.10) Farmacia

Koinfekasi Hepatitis C pada pasien HIV adalah kasus yang sering dijumpai, khususnya pada pengguna narkoba suntik. Di Indonesia, prevalensi infeksi hepatitis C pada pengguna narkotika cukup tinggi mencapai sekitar 50-90%. Hasil penelitian cohort di Eropa (EuroSida) yang melibatkan 3.048 pasien penderita HIV/AIDS (odha) menunjukkan, 75% pengguna narkotika terinfeksi hepatitis C.

Sebagian besar odha yang berobat jalan di berbagai kota di Indonesia berasal dari pengguna narkotika. Koinfeksi ini menimbulkan berbagai masalah. Koinfeksi meningkatkan penularan penularan hepatitis C melalui hubungan seksual dan juga penularan hepatitis C dari ibu ke anak. Masalah lain, adalah terjadinya sirosis hati akibat hepatitis C, yang prevalensinya 3 kali lebih sering ditemukan pada penderita HIV/AIDS dibandingkan pada orang yang tidak terinfeksi HIV (Poynard 2005).
Pengobatan koinfeksi hepatitis C saat ini masih menggunakan antiretroviral (ARV). Beberapa jenis ARV yang sudah bisa didapatkan secara gratis di Indonesia antara lain duviral (zidovudine + lamivudine) dan neviral (nevirapine). Sedangkan efavirenz (Stocrin) tersedia gratis dalam jumlah yang amat terbatas. Obat lain yang tersedia di Pokdisus AIDS FKUI RS Cipto Mangunkusumo adalah stavudine (stavir), didanosine (videx), dan nelfinavir (nelvex, nelvir).

Kini juga tersedia pengobatan dengan interferon dan ribavirin. Namun penggunaan kombinasi obat ini tidak boleh digunakan bersamaan dengan ARV, terutama didanosine atau stavudin karena beratnya efek samping terhadap gangguan faal hati. Demikian pula penggunaan zidovudine, termasuk Duviral dan Retrovir harus ketat dipantau bila digunakan bersama ribavirin (untuk pengobatan hepatitis C), karena masing-masing memudahkan timbulnya anemia. Anemia bisa diantisipasi dengan pemberian eritropoetin atau transfusi darah. Neviral dapat mengganggu faal hati. Jadi, kadar hemoglobin dan leukosit serta tes faal hati (SGOT, SGPT, bilirubin dll) harus dipantau ketat.

Pegobatan dengan inteferon dapat menekan CD4 dan lekosit, sehingga penderita HIV/AIDS dengan CD4 rendah, sebaiknya memusatkan prioritas untuk pengobatan HIV/AIDS Untuk odha dengan CD4 > 200, pengobatan sebaiknya dimulai dengan pegylated interferon-ribavirin. Sedangkan untuk odha dengan CD4 kurang dari 200, pengobatan dimulai dengan ARV, setelah CD4 naik, baru dipertimbangkan pegylated interferon-ribavirin. Konsensus Paris 2005 menganjurkan pemberian pegylated interferon-ribavirin selama 48 minggu. Durasi terapi menggunakan kombinasi pegylated interferon dengan ribavirin pada infeksi hepatitis C kronis adalah 24 minggu untuk hepatitis C genotipe 2 dan 3, dan 48 minggu untuk genotipe1.
Sayangnya kombinasi terapi Pegylate interferon alfa dan ribavirin untuk saat ini belum disahkan BPOM



Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:22 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sat Jun 26, 2010 9:16 pm

UU NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN
Pasal 64
(1) Penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan dapat dilakukan melalui transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh, implan obat dan/atau alat kesehatan, bedah plastik dan rekonstruksi, serta penggunaan sel punca.
(2) Transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan hanya untuk tujuan kemanusiaan dan dilarang untuk dikomersialkan.
(3) Organ dan/atau jaringan tubuh dilarang diperjualbelikan dengan dalih apapun.

Pasal 65
(1) Transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
(2) Pengambilan organ dan/atau jaringan tubuh dari seorang donor harus memperhatikan kesehatan pendonor yang bersangkutan dan mendapat persetujuan pendonor dan/atau ahli waris atau keluarganya.
(3) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan transplantasi organ dan/atau jaringan tubuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 66
Transplantasi sel, baik yang berasal dari manusia maupun dari hewan, hanya dapat dilakukan apabila telah terbukti keamanan dan kemanfaatannya.

Pasal 67
(1) Pengambilan dan pengiriman spesimen atau bagian organ tubuh hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan serta dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
(2) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara pengambilan dan pengiriman spesimen atau bagian organ tubuh sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

Pasal 68
(1) Pemasangan implan obat dan/atau alat kesehatan ke dalam tubuh manusia hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan serta dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.
(2) Ketentuan mengenai syarat dan tata cara penyelenggaraan pemasangan implan obat dan/atau alat kesehatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 70
(1) Penggunaan sel punca hanya dapat dilakukan untuk tujuan penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan, serta dilarang digunakan untuk tujuan reproduksi.
(2) Sel punca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) tidak boleh berasal dari sel punca embrionik.
(3) Ketentuan lebih lanjut mengenai penggunaan sel punca sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri.

Pasal 70 ( Penjelasan )
Ayat (1)
Yang dimaksud dengan “sel punca” dalam ketentuan ini adalah sel dalam tubuh manusia dengan kemampuan istimewa yakni mampu memperbaharui atau meregenerasi dirinya dan mampu berdiferensiasi menjadi sel lain yang spesifik.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 6:00 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sat Jun 26, 2010 9:18 pm

SEL PUNCA UNTUK HIV/AIDS
Pengetahuan tentang Stem Cell atau Sel Punca telah lama dikenal didunia biologi sel, namun baru akhir abad ini penggunaan Stem Cell diketahui berguna untuk terapi berbagai macam penyakit yang tidak bisa disembuhkan selama ini seperti Diabetes Melitus, Alzheimer, Parkinson, penyakit jantung bahkan AIDS dan kanker.

Khusus untuk penanganan HIV/AIDS Stem Cell Therapy mengarah ke modifikasi genetika, sehingga membuat sistim immune/sistim kekebalan dalam tubuh penderita meningkat secara signifikan. Stem Cell mampu meningkatkan jumlah sel darah putih pasien sehingga daya tahan tubuh mereka menjadi lebih baik.

Sampai saat ini beberapa pengobatan HIV/AIDS seperti ARV ( Anti Retro Viral ) hanya untuk memperlambat agar virus tidak cepat berkembang biak.
Stem Cell berperan dalam regenerasi organ dan jaringan yang rusak. Sel ini memiliki kemampuan membelah diri secara terus menerus, dan dengan induksi yang spesifik dapat diarahkan membelah diri menjadi sel yang dinginkan seperti sel jantung atau sel syaraf atau sel otot, dsb.

Berdasarkan sumbernya, Stem Cell dibagi menjadi:
1. Stem Cell Embryo ( Embryonic Stem Cell )
2. Stem Cell Darah talipusat ( Umbilical Cord Blood Stem Cell )
3. Stem Cell Dewasa ( Adult Stem Cell )

Namun Stem Cell dewasa dianggap kurang optimal hasilnya dibanding Stem Cell embrionik dalam hal tipe jaringan yang bisa dibentuk.
Tetapi saat ini Embryonic Stem Cell banyak ditentang penggunaanya karena dianggap menghilangkan nyawa.
Terapi Stem Cell menjadi terobosan terbaru untuk upaya penanggulangan HIV/AIDS.

Stem Cell sendiri bisa diambil dari tubuh pasien sendiri, dari orang lain ataupun dari mamalia.
Stem Cell Dewasa dapat diperoleh dari sumsum tulang, darah tepi ataupun jaringan lemak
Pengambilan Stem Cell Dewasa memerlukan prosedur yang lebih sulit, rumit dan invasif. Menimbulkan rasa nyeri, perlu waktu lebih lama dan beresiko infeksi bahkan memerlukan pembiusan total sehingga sekarang ini pengambilan Stem Cell dari darah tali pusat yang lebih berkembang.

Disamping prosedur pengambilannya mudah, cepat, tanpa rasa nyeri dan tanpa resiko bagi ibu dan bayi, pemakaian Stem CEll Darah Tali Pusat mempunyai beberapa keuntungan antara lain:
1. Darah tali pusat merupakan sumber terkaya Stem Cell karena memiliki kemampuan yang lebih tinggi, sekitar 10 kali lipat kemampuannya membentuk sel sel darah baru dibandingkan Stem Cell dari sumsum tulang.

2. Penerimanya bisa bervariasi, selain diri sendiri juga anggota keluarga bahkan orang lain. Pencangkokan Stem Cell Darah Tali Pusat menunjukkan sel donor dapat menerima meskipun tidak ada kecocokan sedangkan Stem Cell sumsum tulang memerlukan kecocokan sempurna.

3. Suatu komplikasi fatal dari proses pencangkokan yang disebut graft versus host disease, jarang terjadi pada pencangkokan Stem Cell Darah Tali Pusat karena Stem Cell Darah Tali Pusat yang masih murni, belum 'terdidik' untuk menyerang sel atau jaringan penerima yang berbeda.

4. Stem Cell Darah Tali Pusat ini umumnya sesuai ( matching ) secara immunologik, jika didonorkan baik ke individu yang sama maupun ke individu yang berbeda.

5. Pemanfaatan Stem Cell Darah Tali Pusat juga memungkinkan tersedianya donor yang cocok secara lebih cepat untuk pasien yang membutuhkan, dibandingkan dengan pemanfaatan Stem Cell sumsum tulang yang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencari donor yang cocok.

6. Stem Cell Darah Tali Pusat hampir dapat dipastikan belum tercemar virus maupun bakteri yang dapat menimbulkan resiko bagi penerimanya.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:59 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sun Jun 27, 2010 9:47 am

STEM CELL EMBRIONIK
Pemuka penganut agama agama yang ada di Indonesia berpendapat, penerapan terapi Stem Cell EMBRIONIK untuk pengobatan penyakit tidak dibenarkan oleh agama. Hal ini disampaikan dalam diskusi panel mengenai perkembangan terapi Stem Cell yang diselenggarakan PB IDI di Jakarta pada hari Sabtu tanggal 26 Juli 2009.
Diskusi panel dihadiri pemuka agama Islam, Katholik, Kristen, Hindu dan Budha.
Mereka berdiskusi tentang penggunaan Stem Cell yang diambil dari embrio manusia.

H.A.F Wibisono dari Muhammadiyah
Penggunaan Stem Cell Embrionik untuk keperluan apapun tidak dibolehkan kecuali saat terapi itu menjadi satu satunya solusi untuk menyelamatkan nyawa manusia. Karena menurut pemikiran yang berkembang di Muhammadiyah, embrio terbentuk setelah konsepsi, artinya sudah ada kehidupan disana.
Jadi mengambilnya sama dengan melakukan aborsi. Ia hanya memberi pengecualian pada sel sel yang diambil pada sisa embrio hasil proses bayi tabung yang dibuat dari sperma dan sel telur pasangan suami istri.

H.M.Ridwan Lubis dari NU ( Nahdlatul Ulama )
Juga berpendapat terapi Stem Cell hanya bisa dilakukan bila sudah tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan manusia.
Kalaupun aplikasi terapi Stem Cell Embrionik pada manusia dilakukan, harus dengan sangat hati hati, dengan memperhatikan dampaknya terhadap manusia.

Pendeta Robert P Borong dari Persekutuan Gereja Gereja Indonesia ( PGI )
Agama Kristen menganggap embrio, baik yang dihasilkan didalam rahim ataupun diluar rahim, sebagai kehidupsn baru dan harus dihargai dan dihormati.

Pastor Agung Prihartana dari Konferensi Waligereja Indonesia ( KWI )
Juga mengatakan bahwa secara tegas gereja melarang pengambilan sel embrio untuk keperluan apapun.
Yang dihasilkan dari proses fertilisasi, adalah kehidupan baru yang harus dihormati.

Pernyataan serupa juga dikemukakan oleh Ketut Wilamurti dari Parisada Hindu Dharma Indonesia ( PDHI )dan Bhikku Dhammasubho Mahathera dari Konferensi Sangha Agung Indonesia (KASI ).

Sumber: Repubika


Last edited by gitahafas on Sat Jul 17, 2010 5:45 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Tue Jun 29, 2010 8:47 pm

PERUSAHAAN AGAR BANTU PEKERJANYA YANG MENGIDAP AIDS
Ayu Fitriana - detikHealth - Selasa, 29/06/2010 14:00 WIB
Jakarta, Perusahaan diharapkan bersedia memperluas program jaminan kesehatan dan sosial bagi pekerjanya yang terkena virus HIV. Dengan demikian masalah kesehatan bisa cepat tertangani dan produktifitas kerja tidak terganggu. Demikian himbauan Direktur PPSDM Kemenakertrans I Gusti Made Artha dalam lokakarya 'Perlindungan Sosial dan Kesehatan Bagi Pekerja'. Acara yang diikuti LSM kesehatan dan persuhaan tersebut berlangsung di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa (29/6/2010). "Pekerja diharapkan menghindari AIDS dan perusahaan diharapkan bisa memberi biaya pengobatan bagi pekerjanya yang terkena penyakit menular seperti AIDS. Ini akan kami sosialisasikan," kata dia.

Berdasar data dari Kementerian Kesehatan, diketahui bahwa jumlah pengidap AIDS di Indonesia berjumlah 390 ribu orang. Sebanyak 60 persen di antaranya ternyata pekerja dan masih berada dalam usia yang tergolong produktif. Sayangnya sejauh ini jaminan kesehatan yang diberikan perusahaan pada umumnya masih pada penyakit ringan. Bila ada pekerja yang terkena penyakit berat, langkah yang diambil biasanya sebatas mengantar ke rumah sakit tetapi tidak sampai pada membantu pembiayaannya.

Pada kesempatan sama Peter Van Rooij dari ILO, mendorong pekerja yang terindikasi tertular virus HIV untuk melaporkan diri. Sehingga bisa cepat diambil langkah-langkah mencegah penularan dan kian parahnya kesehatan. Dia menambahkan bahwa merupakan hak dari pekerja penderita AIDS untuk mendapatkan bantuan kesehatan. Terutama tidak melakukan diskriminasi seperti memecat si pekerja yang bersangkutan. "Perusahaan jangan diskriminatif terhadap pekerjanya. Ini merupakan rekomendasi internasional agar perusahaan memperhatikan masalah HIV-AIDS di tempat kerja," ujarnya.
(ir/ir)


Last edited by gitahafas on Wed Jul 21, 2010 12:08 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Wed Jul 14, 2010 11:47 am

HIV / AIDS
Senin, 13/07/2009 11:43 WIB
HIV (Human Immunodeficiency Virus) menyebabkan rusaknya/melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia.Virus HIV membutuhkan sel-sel kekebalan kita untuk berkembang biak. Secara alamiah sel kekebalan kita akan dimanfaatkan, bisa diibaratkan seperti mesin fotocopy. Namun virus ini akan merusak mesin fotocopynya setelah mendapatkan hasil copy virus baru dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga lama-kelamaan sel kekebalan kita habis dan jumlah virus menjadi sangat banyak.

HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cairan yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain

Sedangkan CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol)

Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan berbagai macam infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang beredar, entah itu berada dalam udara, makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi sakit, karena CD4 masih bisa berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4 berkurang, mikroorganisme yang patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke tubuh kita dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia

Bisa dilihat dari 2 gejala yaitu gejala Mayor (umum terjadi) dan gejala Minor (tidak umum terjadi):

Gejala Mayor
- Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
- Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
- Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
- Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
- Demensia/ HIV ensefalopati

Gejala Minor
- Batuk menetap lebih dari 1 bulan
- Dermatitis generalisata
- Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang
- Kandidias orofaringeal
- Herpes simpleks kronis progresif
- Limfadenopati generalisata
- Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
- Retinitis virus sitomegalo

Pengobatan
Hingga saat ini belum diketemukan obat untuk HIV.

(Sumber: Komunitas AIDS Indonesia)


Last edited by gitahafas on Mon Jul 26, 2010 8:05 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Jul 15, 2010 5:24 am

PENCEGAHAN HIV / AIDS
Bagaimana infeksi HIV dapat dicegah?
Penularan HIV secara seksual dapat dicegah dengan:
* berpantang seks
* hubungan monogami antara pasangan yang tidak terinfeksi
* seks non-penetratif
* penggunaan kondom pria atau kondom wanita secara konsisten dan benar

Cara tambahan yang lain untuk menghindari infeksi:
* Bila anda seorang pengguna narkoba suntikan, selalu gunakan jarum suntik atau semprit baru yang sekali pakai atau jarum yang secara tepat disterilkan sebelum digunakan kembali.
* Pastikan bahwa darah dan produk darah telah melalui tes HIV dan standar standar keamanan darah dilaksanakan.

Apakah “seks aman” itu?
Tak ada seks yang 100% aman. Seks yang lebih aman menyangkut upaya-upaya kewaspadaan untuk menurunkan potensi penularan dan terkena infeksi menular seksual (IMS), termasuk HIV, saat melakukan hubungan seks. Menggunakan kondom secara tepat dan konsisten selama melakukan hubungan seks dianggap sebagai seks yang lebih aman.

Seberapa efektifkah kondom dalam mencegah HIV?
Kondom yang kualitasnya terjamin adalah satu-satunya produk yang saat ini tersedia untuk melindungi pemakai dari infeksi seksual karena HIV dan infeksi menular seksual (IMS) lainnya. Ketika digunakan secara tepat, kondom terbukti menjadi alat yang efektif untuk mencegah infeksi HIV di kalangan perempuan dan laki-laki. Walaupun begitu, tidak ada metode perlindungan yang 100% efektif, dan penggunaan kondom tidak dapat menjamin secara mutlak perlindungan terhadap segala infeksi menular seksual (IMS). Agar perlindungan kondom efektif, kondom tersebut harus digunakan secara benar dan konsisten. Penggunaan yang kurang tepat dapat mengakibatkan lepasnya atau bocornya kondom, sehingga menjadi tidak efektif.

Bagaimana cara memasang kondom pria?
* Kondom berpelumas lebih sedikit kemungkinan untuk robek saat dikenakan atau digunakan. Pelumas berbasis minyak, seperti vaselin, hendaknya tidak digunakan karena dapat merusak kondom.
* Hanya buka bungkusan berisi kondom saat akan digunakan, kalau tidak kondom akan mengering. Berhati-hatilah agar kondom tidak rusak atau sobek ketika anda membuka bungkusnya. Bila kondom ternyata sobek, buang kondom tersebut dan buka bungkusan yang baru.
* Kondom dikemas tergulung dalam bentuk lingkaran gepeng. Pasanglah kondom yang tergulung itu di ujung penis. Peganglah ujung kondom di antara ibu jari dan jari telunjuk untuk menekan udara supaya keluar dari ujung kondom. Tindakan ini akan menyisakan ruang untuk tempat cairan semen setelah terjadinya ejakulasi. Tetap pegang ujung kondom dengan satu tangan. Dengan tangan yang satunya, gulunglah sepanjang penis yang berereksi ke arah rambut kemaluan. Jika pria pemakai tidak disunat, ia harus menarik kulup ke arah pangkal penis sebelum menggulung kondom.
* Bila kondom tidak cukup berpelumas, pelumas berbasis air (seperti silikon, gliserin, atau K-Y jelly) dapat ditambahkan. Bahkan air ludah dapat berfungsi dengan baik sebagai pelumas. Pelumas yang terbuat dari minyak-minyak goreng atau lemak, minyak bayi atau minyak mineral, jeli berbasis bahan turunan minyak bumi seperti vaselin dan olesan lainnya – hendaknya jangan digunakan karena dapat merusak kondom.
* Setelah berhubungan seks, kondom perlu segera dilepaskan secara benar.
* Segera setelah si pria pemakai mengalami ejakulasi, ia harus menahan pada ujung dekat pangkal penis untuk memastikan agar kondom tidak terlepas.
* Kemudian, si pria harus menarik keluar penisnya selagi masih dalam keadaan ereksi.
* Ketika penis mengecil kembali, lepaskan kondom dan buanglah kondom pada tempat yang tepat. Jangan membuang kondom ke dalam toilet dan menyentornya dengan air.
* Bila anda akan melakukan hubungan seks lagi, gunakan kondom baru, dan ulangi proses di atas dari awal.

Apakah kondom perempuan?
Kondom perempuan merupakan metode kontrasepsi pertama dan satu-satunya yang dikendalikan oleh perempuan. Kondom perempuan adalah sarung yang terbuat dari bahan polyuretan yang kuat, lembut, dan tembus pandang yang dimasukkan ke dalam vagina sebelum melakukan hubungan seks. Kondom tersebut sepenuhnya mengikuti bentuk vagina dan karenanya dengan penggunaan yang benar dan konsisten, ia akan memberikan perlindungan dari kemungkinan hamil sekaligus infeksi menular seksual (IMS). Kondom perempuan tidak memiliki risiko dan efek samping, dan tidak memerlukan resep atau intervensi dari staf perawatan kesehatan.

Bagaimana cara memasang kondom perempuan?
* Ambil kondom dari dalam bungkus pelindungnya. Bila dipandang perlu, tambahkan pelumas ekstra pada cincin-cincin kondom bagian dalam dan luar.
* Untuk memasukkan kondom, berjongkoklah, duduk dengan kedua lutut terbuka lebar, atau berdirilah dengan satu kaki bertumpu di atas bangku kecil atau kursi rendah. Pegang kondom dengan bagian ujung yang terbuka menghadap ke arah bawah. Sambil memegang cincin atas “kantung” (ujung kondom yang tertutup), pencet cincin diantara ibu jari dan jari tengah.
* Kemudian letakkan jari telunjuk di antara ibu jari dan jari tengah. Dengan jari-jari dalam posisi tersebut, jagalah agar bagian ujung kondom tetap terjepit dalam bentuk lonjong pipih. Gunakan tangan yang satunya untuk membuka bibir vagina dan masukkan ujung “kantung” yang tertutup.
* Setelah ujungnya masuk, gunakan jari telunjuk anda untuk mendorong “kantung” sampai ke ujung vagina. Pastikan bahwa ujung kondom telah terletak melewati tulang kemaluan anda dengan menekukkan jari telunjuk ke arah atas setelah jari berada beberapa inci di dalam vagina. Anda dapat mengenakan kondom perempuan maksimal delapan jam sebelum melakukan hubungan seksual.
* Pastikan bahwa kondom tersebut tidak terpelintir dalam vagina anda. Jika demikian, keluarkan, berikan satu atau dua tetes cairan pelumas dan masukkan kembali. Catatan: Kira-kira satu inci dari ujung kondom yang terbuka akan berada di luar tubuh anda. Jika pasangan anda memasukkan penisnya di bawah atau di sebelah kantung, mintalah ia untuk menarik keluar kembali. Copot kondomnya, buang dan gunakan yang baru. Sampai anda dan pasangan anda terbiasa dengan kondom perempuan, akan sangat berguna jika anda menggunakan tangan anda untuk membantu memasukkan penisnya ke vagina.
* Setelah pasangan anda berejakulasi dan menarik keluar penisnya, pencet dan putar ujung kondom yang terbuka agar sperma tidak tumpah. Keluarkan perlahan-lahan. Buanglah kondom bekas tersebut (namun jangan membuangnya ke lubang toilet).
* Tidak disarankan untuk menggunakan ulang kondom perempuan.

Bagaimana pengguna narkoba suntik (IDU) dapat mengurangi risiko tertular HIV?
Bagi pengguna narkoba, langkah-langkah tertentu dapat diambil untuk mengurangi risiko kesehatan masyarakat maupun kesehatan pribadi, yaitu:
* Beralih dari napza yang harus disuntikkan ke yang dapat diminum secara oral.
* Jangan pernah menggunakan atau secara bergantian menggunakan semprit, air, atau alat untuk menyiapkan napza.
* Gunakan semprit baru (yang diperoleh dari sumber-sumber yang dipercaya, misalnya apotek, atau melalui program pertukaran jarum suntikan) untuk mempersiapkan dan menyuntikkan narkoba.
* Ketika mempersiapkan napza, gunakan air yang steril atau air bersih dari sumber yang dapat diandalkan.
* Dengan menggunakan kapas pembersih beralkohol, bersihkan tempat yang akan disuntik sebelum penyuntikan dilakukan.

Bagaimana penularan dari ibu ke anak dapat dicegah?
Penularan HIV dari seorang ibu yang terinfeksi dapat terjadi selama masa kehamilan, selama proses persalinan atau setelah kelahiran melalui ASI. Tanpa adanya intervensi apapun, sekitar 15% sampai 30% ibu dengan infeksi HIV akan menularkan infeksi selama masa kehamilan dan proses persalinan. Pemberian air susu ibu meningkatkan risiko penularan sekitar 10-15%. Risiko ini tergantung pada faktor- faktor klinis dan bisa saja bervariasi tergantung dari pola dan lamanya masa menyusui.

Penularan dari Ibu ke Anak dapat dikurangi dengan cara berikut:
* Pengobatan: Jelas bahwa pengobatan preventatif antiretroviral jangka pendek merupakan metode yang efektif dan layak untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke anak. Ketika dikombinasikan dengan dukungan dan konseling makanan bayi, dan penggunaan metode pemberian makanan yang lebih aman, pengobatan ini dapat mengurangi risiko infeksi anak hingga setengahnya. Regimen ARV khususnya didasarkan pada nevirapine atau zidovudine. Nevirapine diberikan dalam satu dosis kepada ibu saat proses persalinan, dan dalam satu dosis kepada anak dalam waktu 72 jam setelah kelahiran. Zidovudine diketahui dapat menurunkan risiko penularan ketika diberikan kepada ibu dalam enam bulan terakhir masa kehamilan, dan melalui infus selama proses persalinan, dan kepada sang bayi selama enam minggu setelah kelahiran. Bahkan bila zidovudine diberikan di saat akhir kehamilan, atau sekitar saat masa persalinan, risiko penularan dapat dikurangi menjadi separuhnya. Secara umum, efektivitas regimen obat-obatan akan sirna bila bayi terus terpapar pada HIV melalui pemberian air susu ibu. Obat-obatan antiretroviral hendaknya hanya dipakai di bawah pengawasan medis.
* Operasi Caesar: Operasi caesar merupakan prosedur pembedahan di mana bayi dilahirkan melalui sayatan pada dinding perut dan uterus ibunya. Dari jumlah bayi yang terinfeksi melalui penularan ibu ke anak, diyakini bahwa sekitar dua pertiga terinfeksi selama masa kehamilan dan sekitar saat persalinan. Proses persalinan melalui vagina dianggap lebih meningkatkan risiko penularan dari ibu ke anak, sementara operasi caesar telah menunjukkan kemungkinan terjadinya penurunan risiko. Kendatipun demikian, perlu dipertimbangkan juga faktor risiko yang dihadapi sang ibu.
* Menghindari pemberian ASI: Risiko penularan dari ibu ke anak meningkat tatkala anak disusui. Walaupun ASI dianggap sebagai nutrisi yang terbaik bagi anak, bagi ibu penyandang HIV-positif, sangat dianjurkan untuk mengganti ASI dengan susu formula guna mengurangi risiko penularan terhadap anak. Namun demikian, ini hanya dianjurkan bila susu formula tersebut dapat memenuhi kebutuhan gizi anak, bila formula bayi itu dapat dibuat dalam kondisi yang higienis, dan bila biaya formula bayi itu terjangkau oleh keluarga.

Badan Kesehatan Dunia, WHO, membuat rekomendasi berikut:
Ketika makanan pengganti dapat diterima, layak, harganya terjangkau, berkesinambungan, dan aman, sangat dianjurkan bagi ibu yang terinfeksi HIV-positif untuk tidak menyusui bayinya. Bila sebaliknya, maka pemberian ASI eksklusif direkomendasikan pada bulan pertama kehidupan bayi dan hendaknya diputus sesegera mungkin.

Prosedur apakah yang harus ditempuh oleh seorang petugas kesehatan untuk mencegah penularan dalam setting perawatan kesehatan?
Para pekerja kesehatan hendaknya mengikuti Kewaspadaan Universal (Universal Precaution). Kewaspadaan Universal adalah panduan mengenai pengendalian infeksi yang dikembangkan untuk melindungi para pekerja di bidang kesehatan dan para pasiennya sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit yang disebarkan melalui darah dan cairan tubuh tertentu.

Kewaspadaan Universal meliputi:
* Cara penanganan dan pembuangan barang-barang tajam (yakni barang-barang yang dapat menimbulkan sayatan atau luka tusukan, termasuk jarum, jarum hipodermik, pisau bedah dan benda tajam lainnya, pisau, perangkat infus, gergaji, remukan/pecahan kaca, dan paku);
* Mencuci tangan dengan sabun dan air sebelum dan sesudah dilakukannya semua prosedur;
* Menggunakan alat pelindung seperti sarung tangan, celemek, jubah, masker dan kacamata pelindung (goggles) saat harus bersentuhan langsung dengan darah dan cairan tubuh lainnya;
* Melakukan desinfeksi instrumen kerja dan peralatan yang terkontaminasi;
* Penanganan seprei kotor/bernoda secara tepat.

Selain itu, semua pekerja kesehatan harapnya berhati-hati dan waspada untuk mencegah terjadinya luka yang disebabkan oleh jarum, pisau bedah, dan instrumen atau peralatan yang tajam. Sesuai dengan Kewaspadaan Universal, darah dan cairan tubuh lain dari semua orang harus dianggap telah terinfeksi dengan HIV, tanpa memandang apakah status orang tersebut baru diduga atau sudah diketahui status HIV-nya.

Apa yang harus dilakukan bila anda menduga bahwa anda telah terekspos HIV?
Bila anda menduga bahwa anda telah terpapar HIV, anda hendaknya mendapatkan konseling dan melakukan testing/pemeriksaan HIV. Kewaspadaan hendaknya diambil guna mencegah penyebaran HIV kepada orang lain, seandainya anda benar terinfeksi HIV.

©2010, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional


Last edited by gitahafas on Tue Jul 27, 2010 5:11 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Tue Jul 20, 2010 11:12 am

PERAWATAN HIV / AIDS
Adakah obat untuk HIV?
Tidak. Tidak ada obat yang dapat sepenuhnya menyembuhkan HIV/AIDS. Perkembangan penyakit dapat diperlambat namun tidak dapat dihentikan sepenuhnya. Kombinasi yang tepat antara berbagai obat-obatan antiretroviral dapat memperlambat kerusakan yang diakibatkan oleh HIV pada sistem kekebalan tubuh dan menunda awal terjadinya AIDS.

Jenis pengobatan dan perawatan apakah yang tersedia?
Pengobatan dan perawatan yang ada terdiri dari sejumlah unsur yang berbeda, yang meliputi konseling dan tes mandiri (VCT), dukungan bagi pencegahan penularan HIV, konseling tindak lanjut, saran-saran mengenai makanan dan gizi, pengobatan IMS, pengelolaan efek nutrisi, pencegahan dan perawatan infeksi oportunistik (IOS), dan pemberian obat-obatan antiretroviral.

Apakah obat anti retroviral itu?
Obat antiretroviral digunakan dalam pengobatan infeksi HIV. Obat-obatan ini bekerja melawan infeksi itu sendiri dengan cara memperlambat reproduksi HIV dalam tubuh.

Bagaimana cara kerja obat antiretroviral?
Dalam suatu sel yang terinfeksi, HIV mereplikasi diri, yang kemudian dapat menginfeksi sel-sel lain dalam tubuh yang masih sehat. Semakin banyak sel yang diinfeksi HIV, semakin besar dampak yang ditimbulkannya terhadap kekebalan tubuh (immunodeficiency). Obat-obatan antiretroviral memperlambat replikasi sel-sel, yang berarti memperlambat penyebaran virus dalam tubuh, dengan mengganggu proses replikasi dengan berbagai cara.

* Penghambat Nucleoside Reverse Transcriptase (NRTI)
HIV memerlukan enzim yang disebut reverse transcriptase untuk mereplikasi diri. Jenis obat-obatan ini memperlambat kerja reverse transcriptase dengan cara mencegah proses pengembangbiakkan materi genetik virus tersebut.

* Penghambat Non-Nucleoside Reverse Transcriptase (NNRTI)
Jenis obat-obatan ini juga mengacaukan replikasi HIV dengan mengikat enzim reverse transcriptase itu sendiri. Hal ini mencegah agar enzim ini tidak bekerja dan menghentikan produksi partikel virus baru dalam sel-sel yang terinfeksi.

* Penghambat Protease (PI)
Protease merupakan enzim pencernaan yang diperlukan dalam replikasi HIV untuk membentuk partikel-partikel virus baru. Protease memecah belah protein dan enzim dalam sel-sel yang terinfeksi, yang kemudian dapat menginfeksi sel yang lain. Penghambat protease mencegah pemecah-belahan protein dan karenanya memperlambat produksi partikel virus baru.

Obat-obatan lain yang dapat menghambat siklus virus pada tahapan yang lain (seperti masuknya virus dan fusi dengan sel yang belum terinfeksi) saat ini sedang diujikan dalam percobaan-percobaan klinis.

Apakah obat antiretroviral efektif?
Penggunaan ARV dalam kombinasi tiga atau lebih obat-obatan menunjukkan dapat menurunkan jumlah kematian dan penyakit yang terkait dengan AIDS secara dramatis. Walau bukan solusi penyembuhan, kombinasi terapi ARV dapat memperpanjang hidup orang penyandang HIV-positif, membuat mereka lebih sehat, dan hidup lebih produktif dengan mengurangi varaemia (jumlah HIV dalam darah) dan meningkatkan jumlah sel-sel CD4+ (sel-sel darah putih yang penting bagi sistem kekebalan tubuh).

Supaya pengobatan antiretroviral dapat efektif untuk waktu yang lama, jenis obat-obatan antiretroviral yang berbeda perlu dikombinasikan. Inilah yang disebut sebagai terapi kombinasi. Istilah ‘Highly Active Anti-Retroviral Therapy’ (HAART) digunakan untuk menyebut kombinasi dari tiga atau lebih obat anti HIV.

Bila hanya satu obat digunakan sendirian, diketahui bahwa dalam beberapa waktu, perubahan dalam virus menjadikannya mampu mengembangkan resistensi terhadap obat tersebut. Obat tersebut akhirnya menjadi tidak efektif lagi dan virus mulai bereproduksi kembali dalam jumlah yang sama seperti sebelum dilakukan pengobatan. Bila dua atau lebih obat-obatan digunakan bersamaan, tingkat perkembangan resistensi dapat dikurangi secara substansial. Biasanya, kombinasi tersebut terdiri atas dua obat yang bekerja menghambat reverse transcriptase enzyme dan satu obat penghambat protease. Obat-obatan anti retroviral hendaknya hanya diminum di bawah pengawasan medis.

Mengapa ARV tidak siap tersedia?
Di negara-negara berkembang, hanya sekitar 5% dari mereka yang membutuhkan dapat memperoleh pengobatan antiretroviral, sementara di negera-negara berpendapatan tinggi akses tersebut hampir universal. Masalahnya adalah harga obat-obatan yang tinggi, infrastruktur perawatan kesehatan yang tidak memadai, dan kurangnya sumber pembiayaan, menghalangi penggunaan perawatan kombinasi ARV secara meluas di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Sebanyak 12 obat-obatan ARV telah diikutsertakan dalam Daftar Obat-obatan Esensial WHO (WHO Essential Medicines List). Diikutsertakannya ARV dalam Daftar Obat-obatan Esensial WHO akan mendorong pemerintah di negara-negara dengan epidemi tinggi untuk lebih memperluas pendistribusian obat-obatan esensial tersebut kepada mereka yang memerlukannya. Sementara itu, meningkatnya komitmen ekonomi dan politik di tahun-tahun terakhir ini, yang distimulir oleh orang yang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA), masyarakat sipil dan mitra lainnya, telah membuka ruang bagi perluasan akses terhadap terapi HIV secara luar biasa.

Perawatan jenis apakah yang tersedia ketika akses ARV tidak tersedia?
Unsur-unsur perawatan lain dapat membantu mempertahankan kualitas hidup tinggi saat ARV tidak tersedia. Unsur-unsur ini meliputi nutrisi yang memadai, konseling, pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik, dan menjaga kesehatan pada umumnya.

Apakah PEP itu?
Perawatan Pencegahan Pasca Pajanan terdiri dari pengobatan, tes laboratorium dan konseling. Pengobatan PEP harus dimulai dalam hitungan jam dari saat kemungkinan pajanan HIV dan harus berlanjut selama sekitar empat minggu. Pengobatan PEP belum terbukti dapat mencegah penularan HIV. Kendatipun demikian, kajian-kajian penelitian menunjukkan bahwa bila pengobatan dapat dilaksanakan lebih cepat setelah kemungkinan pajanan HIV (idealnya dalam waktu dua jam dan tak lebih dari 72 jam setelah pajanan), pengobatan tersebut mungkin bermanfaat dalam mencegah infeksi HIV.

©2010, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional


Last edited by gitahafas on Tue Jul 27, 2010 5:14 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Wed Jul 21, 2010 5:11 am

PENGGUNA OBAT AIDS MELONJAK
Tuesday, 20 July 2010
PENYEBARANHIV/AIDS kian mengkhawatirkan saja.WHO melansir jumlah terbaru pengguna obat AIDS yang terus bertambah hingga berkali-kali lipat.
Jumlah penderita HIV/AIDS terus melonjak. Hal itu tercermin dari lonjakan luar biasa orang yang menggunakan obat AIDS dari 1,2 juta orang pada tahun lalu menjadi 5,2 juta orang. Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia PBB (World Health Organization/WHO),antara 2003 hingga 2010, jumlah pasien yang mendapatkan pengobatan antiretroviral meningkat hingga dua kali lipat.

“Kami sangat tergugah dengan lonjakan ini. Ini benar-benar peningkatan terbesar yang pernah kami lihat dalam satu tahun,” ujar Gottfried Hirnschall, Direktur bidang HIV/AIDS WHO, Senin (19/7). Dia dalam wawancara dengan The Associated Press mengatakan, lonjakan jumlah pengguna obat AIDS ini terkait dengan semakin terbukanya akses pengobatan di seluruh dunia, terutama di kawasan Sahara Afrika. WHO menyampaikan data terbaru itu di ajang konferensi AIDS Internasional di Wina, Austria.

Sementara itu, di kawasan Eropa Timur, secara proporsional jumlah mereka yang menggunakan obat AIDS lebih sedikit ketimbang di kawasan lain,sebab pengguna obat ini sering kali dikucilkan dan tak diberikan akses yang cukup. Hirnschall menuturkan, para pemakai obat AIDS di Eropa Timur kerap dikriminalisasi dan sering mendapat stigma buruk.Sementara kalau di Afrika, AIDS merupakan epidemi di kalangan heteroseksual, tetapi di Eropa Timur penularan AIDS terjadi di kalangan pengguna obat-obatan terlarang. Dari data yang disampaikan WHO mengenai jumlah pemakai obat AIDS itu Mbelum mencerminkan jumlah penderita AIDS yang sebenarnya. Sebab, jumlah pengguna obat ini mungkin hanya sepertiga dari jumlah penderita HIV/- AIDS di seluruh dunia.

Dari situ terlihat bahwa betapa epidemik AIDS ini begitu sulit diatasi, terutama jika tidak dibarengi oleh dukungan pemerintah dan masyarakat. Sementara di tempat yang sama, dipaparkan penelitian terkait metode deteksi dini HIV/- AIDS. Kasus penularan HIV/AIDS sering kali terjadi karena banyak orang yang belum tahu bahwa seseorang di sebuah komunitas sudah tertular virus mematikan itu.Untuk itulah,selama bertahuntahun dicari cara yang dapat mendeteksi kasus HIV lebih dini. Nah, dalam upaya meningkatkan metode untuk deteksi dini HIV, para peneliti mencoba menentukan apakah program menggunakan pengujian asam nukleat (NAT) akan meningkatkan jumlah kasus yang bisa terdeteksi lebih awal. Dalam uji coba itu, ternyata program NAT dapat mendeteksi HIV 23% lebih awal. Tes asam nukleat ini mekanismenya adalah mencari jejak bahan genetik dari organisme penyebab infeksi. Ini berbeda dari metode pendeteksian standar yang mengandalkan titik antibodi sistem kekebalan tubuh untuk patogen.

Kata para peneliti dari University of California,Amerika Serikat tersebut, meskipun program pencegahan HIV di Amerika Serikat sudah dilakukan sejak puluhan tahun lalu,namun tingkat kejadian HIV tetap meningkat. Tahap awal infeksi HIV adalah ketika orang yang paling mungkin untuk menulari orang lain sehingga deteksi dini dan akurasi sangat penting dalam upaya untuk mengendalikan penyebaran HIV, virus penyebab AIDS. Penelitian ini melibatkan lebih dari 3.000 orang yang melakukan tes HIV di beberapa klinik di wilayah San Diego,Amerika Serikat. Peserta pertama diuji dengan tes air liur cepat. Kalau positif, pasien diberi tahu dan darah diambil untuk tes HIV standar. Jika hasilnya negatif, darah diambil untuk NAT. Hampir seperempat dari kasus orang dengan HIV telah diidentifikasi positif hanya dengan tes NAT.

Penelitian ini juga menemukan bahwa lebih dari dua pertiga pasien dengan hasil tes NAT negatif menggunakan komputer atau voice-mail untuk mendapatkan hasilnya. “Memperluas penggunaan NAT untuk program tes HIV rutin dapat membantu menurunkan tingkat insiden HIV dengan mengidentifikasi orang dengan infeksi akut yang seharusnya dapat terjawab melalui pemeriksaan rutin,” kata penulis studiDrSheldonMorris,pengajardi University of California,San Diego’s Antiviral Research Center,Amerika Serikat.

“Selain itu,pelaporan otomatis hasil negatif dapat membuktikan alternatif yang dapat diterima dan mengurangi pelaporan tatap muka yang intens,”tambah Morris dalam studinya yang dimuat di jurnal Annals of Internal Medicine edisi 14 Juni itu. Diketahui, AIDS merupakan singkatan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome. AIDS merupakan suatu penyakit yang ditimbulkan sebagai dampak berkembang biaknya virus HIV di dalam tubuh manusia. Virus ini menyerang sel darah putih (sel CD4) sehingga mengakibatkan rusaknya sistem kekebalan tubuh.

Hilangnya atau berkurangnya daya tahan tubuh membuat si penderita mudah terjangkit berbagai macam penyakit, termasuk penyakit ringan sekalipun.Virus HIV menyerang sel CD4 dan menjadikannya tempat berkembang biak virus HIV baru kemudian merusaknya sehingga tidak dapat digunakan lagi. Sebagaimana kita ketahui bahwa sel darah putih sangat diperlukan untuk sistem kekebalan tubuh. Tanpa kekebalan tubuh, maka ketika tubuh kita diserang penyakit, tubuh kita lemah dan tidak berupaya melawan jangkitan penyakit. Akibatnya, kita dapat meninggal dunia meski terkena influenza atau pilek biasa.Ketika tubuh manusia terkena virus HIV, maka tidaklah langsung menyebabkan atau menderita penyakit AIDS, melainkan diperlukan waktu yang cukup lama bahkan bertahuntahun bagi virus HIV untuk menyebabkan AIDS atau HIV positif yang mematikan. (rendra hanggara)


Last edited by gitahafas on Wed Jul 21, 2010 12:12 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
 

HIV - AIDS

View previous topic View next topic Back to top 
Page 3 of 13Goto page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 11, 12, 13  Next

 Similar topics

-
» AIDS - Where Did AIDS Come From?
» Keningau banyak AIDS
» NEW AND OLD RESEARCH ON HIV-AIDS VIRUS -
» Condom versus HIV / AIDS
» Lebih 87000 AIDS di Malaysia sejak 1986

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-