Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 HIV - AIDS

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1 ... 8 ... 12, 13, 14  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Dec 01, 2011 6:46 pm

KENALI BEDA HIV DENGAN AIDS
Lusia Kus Anna | Kamis, 1 Desember 2011 | 09:53 WIB
KOMPAS.com — Badan PBB untuk Masalah AIDS (UNAIDS) menyatakan, Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki peningkatan tercepat dalam kasus HIV/AIDS di Asia. Sungguh pun demikian, pemahaman masyarakat akan penyakit HIV/AIDS masih sangat rendah. Berbagai mitos yang salah masih dianggap sebagai kebenaran sehingga menimbulkan stigma dan diskriminasi. Untuk lebih memahami penyakit ini, simak mitos seputar HIV/AIDS dan temukan faktanya.

HIV sama dengan AIDS
Fakta: Human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus yang menghancurkan sel imun tubuh CD4, ini adalah sel yang melawan penyakit. Dengan terapi pengobatan yang baik, seseorang bisa terinfeksi HIV selama bertahun-tahun tanpa berkembang menjadi AIDS. Seseorang didiagnosa AIDS ketika terjadi penurunan sistem imun yang bermanifestasi dengan munculnya berbagai penyakit opotunistik keganasan, misalnya TBC, herpes, toksoplasma, dan masih banyak lagi. Pada fase ini, penyakit flu pun bisa menyebabkan kematian.

HIV dan AIDS adalah penyakit homoseksual dan PSK
Fakta: Sebagian besar orang dengan HIV/AIDS (ODHA) adalah heteroseksual (berhubungan seks dengan lawan jenis) serta para pengguna narkoba jarum suntik. Data di Indonesia pada tahun 2011 sebanyak 76,3 persen kasus AIDS baru didapatkan dari penularan seks heteroseksual.

HIV/AIDS bisa menular lewat kontak biasa
Fakta: Kita tidak akan tertular atau menyebarkan HIV hanya dengan memeluk, mencium, berjabat tangan, atau menggunakan handuk yang sama dengan ODHA. Transmisi virus HIV hanya terjadi melalui hubungan seks beresiko tanpa kondom, menggunakan jarum suntik yang sama, serta penularan dari ibu kepada bayi.

HIV/AIDS adalah penyakit kutukan Tuhan
Fakta: Penyakit ini menular melalui darah, hubungan seksual, dan dari ibu ke bayi. Penyakit ini bisa mengenai siapa saja; pria, wanita, bayi, dewasa, homoseksual, atau heteroseksual.

Positif HIV berarti akan segera meninggal
Fakta: Setiap orang yang positif HIV memiliki ketahanan tubuh berbeda-beda. Ada sebagian orang yang perjalanan infeksi HIV menjadi AIDS berlangsung puluhan tahun dan hidup normal, seperti Magic Johnson. Tetapi ada juga yang baru hitungan bulan sudah terkena AIDS. Saat ini, tersedia obat untuk memperlambat laju perkembangan virus, yakni terapi ARV (antiretroviral).
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Dec 01, 2011 6:53 pm

MENGAPA TES HIV HARUS DIULANG 3x?
Lusia Kus Anna | Kamis, 1 Desember 2011 | 12:18 WIB
Kompas.com - Orang yang sudah terinfeksi HIV bisa tampak sangat sehat karena virus itu baru menampakkan gejala sampai 10 tahun kemudian. Karena itu kita tidak bisa mengetahui seseorang terinfeksi atau tidak hanya berdasarkan pengamatan kasat mata saja. Satu-satunya cara untuk mengetahuinya adalah melalui tes darah. Pemeriksaan HIV, menurut dr.Ekarini Aryasatiani, Sp.OG, harus dilakukan secara sukarela. "Pasien yang dicurigai tertular HIV juga akan dilakukan konseling oleh petugas mengenai prosedur dan keuntungan pemeriksaan," papar ketua kelompok kerja HIV di RSUD Tarakan Jakarta Pusat ini beberapa waktu lalu.

Setiap orang yang akan menjalani tes HIV memang harus berkonsultasi dengan dokter atau konselor terlatih agar mendapat pemahaman mengenai langkah-langkah apa saja yang akan ditempuh terhadap hasil tes tersebut. Bentuk pemeriksaan HIV terdiri dari 4 macam, yakni pemeriksaan antibodi, pemeriksaan kultur, pemeriksaan virus, serta antigen. Namun yang paling banyak digunakan adalah tes antibodi HIV. Tes HIV, lanjut Ekarini, harus dilakukan sampai tiga kali karena pemeriksaan bisa memberikan hasil palsu. "Bila seseorang tertular HIV, selama 12 minggu atau lebih pasca penularan, orang tersebut bila diperiksa anti HIV hasilnya akan negatif karena pada masa tersebut antibodi HIV belum terbentuk. Fase ini disebut juga sebagai window period," paparnya.

Ia menambahkan, pada periode jendela tersebut sebenarnya seseorang sudah terinfeksi HIV dan pada masa ini HIV sangat efektif ditularkan kepada orang lain. Untuk mendiagnosa HIV, dokter akan melakukan tiga kali pengulangan tes dengan kandungan reagen yang berbeda dan memebri hasil positif. Pengulangan tes dengan bahan baru ini dilakukan sedikitnya 14 hari sesudah tes pertama. Karena proses pemeriksaan yang tidak sederhana ini setiap orang yang akan diperiksa harus dikonseling.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Dec 01, 2011 7:05 pm

4 PRINSIP PENULARAN HIV
Lusia Kus Anna | Kamis, 1 Desember 2011 | 11:38 WIB
Kompas.com - Human imunodefisiensi virus (HIV) ditularkan melalui kontak langsung antara membran mukosa atau aliran darah dengan cairan tubuh yang mengandung HIV, seperti darah, sperma, cairan vagina, atau air susu ibu. Menurut penjelasan dr.Ekarini Aryasatiani, Sp.OG, dari RSUD Tarakan Jakarta Pusat, secara umum ada 4 prinsip penularan HIV, yakni:

1. Exit.
Ini berarti virus harus keluar dari tubuh orang yang terinfeksi, baik melalui hubungan seksual, transfusi darah, jarum suntik yang terkontaminasi.

2. Survive.
Untuk dapat menularkan HIV, virus harus bisa bertahan hidup di luar tubuh.
"Virus ini tidak bisa bertahan lama di luar tubuh. Untuk peralatan kedokteran yang dipakai dan menyentuh darah pasien positif HIV biasanya direndam dalam larutan klorin 0,5 persen virusnya akan mati," paparnya.

3. Sufficient.
Hal ini berarti jumlah virusnya harus cukup untuk dapat menginfeksi.
"Jika virusnya hanya sedikit tidak akan berpengaruh. Karena itu jangan percaya dengan orang yang menakut-nakuti ada tusuk gigi atau jarum di tempat umum yang berasal dari orang positif HIV, selain jumlah virusnya sangat sedikit, pasti virusnya juga sudah mati," paparnya.

4. Enter.
Berarti virusnya harus masuk ke tubuh orang lain melalui aliran darah. Hal ini berarti melalui pertukaran darah antara ibu dan bayi selama kehamilan, bersalin atau menyusui, hubungan seksual, baik anal atau vaginal, serta alat tusuk tidak steril yang menembus kulit. Hubungan seksual yang berpotensi menularkan HIV berlaku bagi semua pasangan apabila salah satunya positif mengidap HIV, baik pasangan homoseksual, heteroseksual, mau pun biseksual, baik di dalam atau di luar perkawinan.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Dec 01, 2011 7:12 pm

PEMBERIAN OBAT HIV/AIDS KINI DILAKUKAN LEBIH DINI
Kamis, 01/12/2011 13:46 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Salah satu pengobatan yang diberikan untuk orang dengan HIV/AIDS adalah pemberian obat ARV (anti retroviral). Kini pemberian ARV dilakukan lebih dini yaitu jika angka CD4 sudah mencapai 350. Pada buku pedoman penanggulangan pasien yang terdahulu, seseorang yang terinfeksi HIV/AIDS akan diberikan obat ARV (Anti retroviral) jika nilai CD4 nya mencapai angka 200. Tapi dalam buku pedoman penanggulangan pasien yang baru, orang yang terinfeksi HIV akan diberikan ARV jika angka CD4 nya mencapai 350.

"Sekarang kita pakai patokan angka CD4 350 yang artinya pengobatan itu diberikan lebih awal atau lebih dini daripada sebelumnya," ujar Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kemenkes, Prof dr Tjandra yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE disela-sela acara launching hasil Survei Terpadu Biologis dan Perilaku 2011 di Gedung Kemenkes, Jakarta, Kamis (1/12/2011). Prof Tjandra menuturkan angka CD4 yang dimiliki oleh seseorang awalnya tinggi, tapi jika orang tersebut semakin lama semakin sakit maka secara otomatis angka CD4 nya akan menurun. "Tentu ini memerlukan dampak logistik yang lebih besar, tapi memang sejauh ini pemerintah memberikan obat ARV kepada semua penderita AIDS yang memang memerlukan obat ARV," ujar Prof Tjandra. Nilai CD4 menunjukkan nilai imunitas/kekebalan/daya tahan tubuh yang diindikasikan oleh sel T dalam darah. Jika nilai CD4 semakin kecil maka orang tersebut akan semakin berisiko terkena infeksi oportunistik.

Kemungkinan infeksi yang bisa dialami oleh ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) di Indonesia adalah tuberkulosis (tb), infeksi jamur, toksoplasma, cryptococcosis, infeksi mata CMV dan ko-infeksi virus hepatitis. Untuk itu ada beberapa prinsip dalam penatalaksanaan untuk HIV/AIDS yaitu dengan mengonsumsi obat antiretroviral (ARV), pengobatan infeksi oportunistik yang dimiliki serta pengobatan dasar. Sedangkan pengobatan suportif yang bisa dilakukan adalah memperbaiki keadaan umum ODHA, memperhatikan gizi, dukungan psikososial serta obat simtomatik sehingga ODHA bisa melakukan aktivitasnya.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sat Dec 03, 2011 6:43 pm

PENTINGNYA NUTRISI BAGI PENDERITA AIDS
Jumat, 02 Desember 2011 16:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Prita Daneswari
TAMPAKNYA, saat seseorang didiagnosis menderita HIV/AIDS, yang terpenting adalah pemberian obat-obatan, seperti antiretroviral. Padahal ada hal lain yang perlu diperhatikan yakni nutrisi. Dr Tirta Prawita Sari MSc, Ketua Yayasan Gema Sadar Gizi sekaligus dosen Gizi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Jakarta mengingatkan bahwa manfaat pemberian nutrisi kepada pasien HIV/AIDS sering terlupakan. Menurutnya, HIV dalam tubuh manusia menyebabkan terjadinya pelepasan mediator inflamasi yang menyebabkan terganggunya metabolisme nutrisi makro (karbo, protein, lemak). Ini akan mengakibatkan gangguan metabolisme seperti hiperglikemia, dislipidemia dan hipoalbuminemia. Mediator inflamasi (sitokin) yang dilepaskan juga dapat menyebabkan proteolisis atau pemecahan protein tubuh. Inilah yang menyebabkan terjadinya muscle wasting. Gangguan metabolisme dan muscle wasting menyebabkan nutrien tesebut tidak dapat digunakan sebagai energi sehingga status gizi menurun. Lebih lanjut, Dr Tirta menyampaikan buruknya nafsu makan dan meningkatnya kebutuhan tubuh ditambah kehilangan nutrisi akan menyebabkan nutrien tidak seimbang. Padahal, nutrisi yang baik terbukti memengaruhi sistem imun. Nutrisi yang baik, katanya, diberikan dengan penuh kasih sayang dan dimasak dengan cara yang membangkitkan selera. Ini akan membantu meningkatkan asupan nutrisi sehingga pasien akan menjalani masa akhir hidupnya dengan baik. Nutrisi pada penderita HIV/AIDS mutlak diberikan pada semua stadium karena akan memberi pengaruh lebih besar yaitu secara signifikan dapat memperlambat progresifitas penyakit dengan memperbaiki sistem imun. Nutrisi yang adekuat bisa memperbaiki status gizi. (Pri/OL-06)
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Mon Dec 05, 2011 10:18 am

PEDOMAN TATA LAKSANA KLINIS HIV DILUNCURKAN
Evy Rachmawati | Marcus Suprihadi | Minggu, 4 Desember 2011 | 16:38 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com- Kementerian Kesehatan meluncurkan Buku Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral Pada Orang Dewasa 2011. Pedoman ini secara resmi mengubah kriteria untuk mulai terapi anti retroviral. "Kami berharap buku ini dapat meningkatkan program penanggulangan HIV," kata Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, melalui surat elektronik, Minggu (4/12/2011), di Jakarta. Pedoman yang sangat dinantikan ini secara resmi mengubah kriteria untuk mulai terapi anti retroviral (Anti Retroviral Therapy/ART), terutama meningkatkan batas jumlah CD4 dari 200 menjadi 350. Jadi, seseorang menjadi lebih awal atau lebih dini dapat pengobatan. Selain itu, ART bila mungkin dimulai oleh ibu hamil terinfeksi HIV. Pedoman juga mengusulkan agar bila mungkin dilakukan tes HbsAg (tes antibodi hepatitis B/HBV) sebelum mulai ART. Kalau dibutuhkan terapi untuk virus Hepatitis, ART harus dimulai tidak memandang jumlah CD4.

Terkait pemantauan, dianjurkan evaluasi fungsi ginjal (kreatinin) untuk yang memakai TDF dilakukan sebelum mulai, setiap tiga bulan pada tahun pertama dan kemudian jika stabil, setiap enam bulan. Panduan mengenai kepatuhan juga disediakan, termasuk faktor yang memengaruhinya, tiga langkah yang harus dilakukan petugas sebelum ART dimulai, lengkap dengan pedoman mengenai kesiapan pasien. Buku ini mencantumkan pedoman amat rinci yang bersifat teknis diagnosis, pengobatan dan pemantauan. Salah satunya, saat memulai ART, semua pasien dewasa dengan infeksi HIV dengan CD4 <350 harus memulai ART, terlepas ada tidaknya gejala klinis.

Selain itu, pasien dengan stadium klinis lanjut (stadium klinis 3 atau 4) harus memulai ART berapapun jumlah CD4-nya. Semua pasien juga perlu mempunyai akses pemeriksaan CD4 untuk rawatan pra-ART dan manajemen ART yang lebih optimum. Pemeriksaan viral load untuk memastikan kemungkinan gagal terapi juga perlu dilakukan. Pemantauan toksisitas obat berdasarkan gejala dan hasil laboratorium Koinfeksi HIV/TB. Berapa pun jumlah CD4-nya, pasien dengan koinfeksi HIV dan TB harus memulai ART sesegera mungkin setelah memulai terapi TB selama 2-8 minggu atau setelah OAT dapat ditoleransi dan stabil. Berapapun jumlah CD4-nya atau stadium klinisnya, pasien yang memerlukan terapi untuk infeksi HBV (hepatitis kronik aktif) perlu memulai ART. Selain itu semua ibu hamil terinfeksi mesti memulai ART pada semua ibu hamil terinfeksi HIV, apapun stadium klinisnya atau berapapun jumlah CD4, bila memungkinkan. "Jangan memakai EFV selama trimester I kehamilan," ujarnya menambahkan.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Mon Dec 05, 2011 10:38 am

PENDERITA HIV-AIDS MASA KINI TAK CUMA MENUNGGU VONIS MATI
Rabu, 30/11/2011 16:53 WIB Dr Andri SpKJ - detikHealth
Jakarta, "Gue HIV/AIDS, So What Gitu Lho!". Kata-kata di atas mungkin tidak akan pernah saya dengar saat saya masih menjadi dokter muda alias koassisten di FKUI. Tahun 2000 awal orang masih ngeri mendengar kata HIV. Kata HIV lebih identik dengan kematian begitu juga penderitanya. Pasien dengan HIV lama-lama akan menjadi AIDS dan akhirnya meninggal karena daya tahan tubuhnya makin menurun. Apalagi hal ini dipercepat dengan stres dan depresi yang dialami pasien akibat menderita HIV-AIDS, kesulitan menerima kondisinya dan ketakutan akan kematian akan memperparah itu. Tapi sekarang saya biasa menemukan pasien yang datang untuk berkonsultasi untuk masalah ketergantungan zat mengatakan dirinya HIV dan tidak ada masalah dengan hal itu. Pasien bisa hidup normal seperti biasa dan bahkan banyak yang berkeluarga. Memang banyak hal-hal yang baru berhubungan dengan perilakunya sebagai manusia. Makan obat antiretroviral (ARV) secara teratur dan berhubungan badan dengan kondom walaupun dengan istri sendiri adalah hanya sebagian dari perubahan pola perilaku yang terjadi pada pasien. Walaupun belum ada obatnya sampai saat ini, pasien dengan HIV-AIDS sekarang sudah lebih mampu menjaga kondisinya dengan obat yang baik dan pola hidup yang sehat. Keterpurukan mental akibat mengidap virus ini juga semakin bisa terkikis karena banyaknya organisasi atau LSM yang bersedia membantu dalam mendukung pasien-pasien yang membutuhkan dorongan untuk tetap bertahana hidup.

Harapan Hidup
Salah satu hal yang menjadi berbeda antara sekarang dengan dahulu adalah Harapan Hidup. Pasien dengan HIV-AIDS di zaman dahulu kesannya sudah tidak mampu lagi berbuat apa-apa. Mereka akan tidak panjang umurnya dan mati sia-sia. Saat ini walaupun mereka mengidap virus HIV bahkan sudah menderita AIDS, mereka mempunyai harapan hidup lebih lama dengan obat dan pola hidup yang sehat. Masalah ketakutan akan kematian sudah tidak menjadi persoalan besar bagi sebagian penderita AIDS. Bahkan untuk yang pernah mendekati ajal sekalipun. Apalagi hal ini kemudian didukung kegiatan yang berguna buat pasien-pasien dengan HIV-AIDS ini. Banyak yang kemudian menjadi konselor HIV-AIDS. Menjadi penyuluh bagi anak-anak muda yang masih perlu mendapatkan pencerahan tentang bahaya narkoba. Menjadi penyemangat dan pendamping buat orang-orang yang sakit juga adalah bagian yang menurut hemat saya paling mempunyai efek buat keberhasilan seorang pasien HIV menjalani hidupnya. Mampu lepas dari bayang-bayang penyakit mematikan lalu membantu orang yang senasib untuk melewatinya adalah hal yang sangat membanggakan. Inilah yang bisa menjadi harapan dalam kehidupan pasien-pasien HIV-AIDS ini.

Perjalanan Panjang
Perjalanan teman-teman yang menderita HIV-AIDS masih panjang. Mereka semua tentunya memerlukan dukungan dari banyak pihak terutama pemerintah. Obat antiretroviral yang mahal mungkin sangat sulit buat sebagian orang memenuhinya. Untungnya sekarang ini diberikan gratis buat mereka. Selain obat tentunya keberdayaan mereka sebagai manusia juga perlu ditingkatkan. Pengidap virus HIV-AIDS bisa hidup layaknya orang normal dengan pengobatan dan pola hidup sehat yang baik. Perkembangan virus bisa ditekan dengan hal ini. Tentunya lebih baik lagi jika rasa bahagia timbul juga sebagai pelawan stres yang bisa saja timbul karena faktor-faktor lingkungan sehari-hari. Berkurangnya stigma bagi para penderita HIV-AIDS juga akan membuat mereka menjadi orang yang lebih baik dan kita bisa berkontribusi cukup dengan sikap empati. Semoga kita semua semakin mampu memahami teman-teman kita yang menderita HIV-AIDS. Selamat Hari AIDS Sedunia 1 Desember.
Salam Sehat Jiwa

Penulis
dr. Andri, SpKJ
Psikiater Bidang Psikosomatik Medis
Anggota The American Psychosomatic Society
Klinik Psikosomatik RS OMNI Alam Sutera Tangerang
email: mbahndi@yah
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Mon Dec 05, 2011 11:12 am

LAUNCHING HASIL STBP, PEDOMAN, SERTA MODUL PENGENDALIAN HIV-AIDS DAN IMS MENDUKUNG PENGENDALIAN HIV-AIDS YANG TERSTANDARISASI
Jakarta, 1 Desember 2011
Hari ini, Kamis (1/12) diluncurkan Hasil Survei Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) terbaru Tahun 2011 oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K) di Jakarta. STBP tahun 2011 dilaksanakan di 22 kabupaten/kota pada 11 provinsi, yaitu: Kota Medan, Deli Serdang, Batam, Bandar Lampung, Lampung Selatan, 5 kota di DKI Jakarta, Bandung, Bekasi, Semarang, Batang, Surabaya, Malang, Banyuwangi, Denpasar, Kupang, Ambon, Jayapura dan Wamena. Prof. Tjandra mengatakan, temuan penting STBP 2011 menunjukkan masih tingginya prevalensi HIV pada kelompok risiko tinggi tertular HIV. Prevalensi HIV tertinggi ditemukan pada penasun, kemudian berturut-turut diikuti oleh Waria, Wanita Pekerja Seks Langsung (WPSL), Lelaki Seks Lelaki (LSL), Napi, wanita pekerja seks tidak langsung (WPSTL), dan Pria berisiko tinggi (risti). Namun demikian terjadi penurunan prevalensi pada Penasun, WPSL, WPSTL, dan Waria, kecuali pada LSL dan Pria risti bila dibandingkan dengan hasil STBP tahun 2007.

Prof. Tjandra menambahkan, penyempurnaan Pedoman Nasional Pengendalian HIV-AIDS dan IMS dari waktu ke waktu diperlukan agar pelaksanaan pengendalian HIV-AIDS terstandardisasi dan disesuaikan dengan perkembangan ilmu dan kemajuan yang ada. Kementerian Kesehatan meluncurkan beberapa Pedoman Pengendalian HIV-AIDS dan IMS terbaru, yaitu Buku Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral, Penanganan Infeksi Menular Seksual, Pedoman Konseling dan Tes HIV Sukarela, Pedoman Konseling dan Tes HIV yang Diprakasai Petugas Kesehatan, dan Pedoman Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak. Untuk melengkapi pedoman, modul pelatihan juga telah disusun sebagai acuan dalam melaksanakan TOT (Training of Trainer) dan pelatihan untuk meningkatkan jumlah tenaga kesehatan terlatih dalam pengendalian HIV AIDS dan IMS. Modul pelatihan tersebut meliputi Modul Pelatihan Konseling Kepatuhan, Modul Konseling dan Tes HIV Sukarela, dan Modul Manajemen Program Pengendalian HIV-AIDS dan IMS, kata Prof. Tjandra.

”Sebenarnya sejak tahun 1986, setahun sebelum kasus AIDS dilaporkan di Indonesia, Kementerian Kesehatan sudah merespon epidemi HIV-AIDS yang berkembang di Indonesia. Berbagai upaya sudah dilakukan, dan upaya tersebut terus ditingkatkan sejalan dengan meningkatnya jumlah kasus, penyebaran dan masalah yang dihadapi” ujar Prof. Tjandra. Ditambahkan Prof. Tjandra, bahwa Kementerian Kesehatan telah melaksanakan kegiatan Surveilans Epidemiologi HIV-AIDS di Indonesia sejak tahun 1988. Sebagai bagian dari kegiatan surveilans, pada tahun 1996 mulai dilaksanakan Surveilans Perilaku pada kelompok populasi tertentu, tahun 2006 dilakukan Surveilans Terpadu HIV dan Perilaku (STHP) pada masyarakat di Tanah Papua. Pada tahun 2007, 2009 dan 2011 dilakukan Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) pada kelompok populasi berisiko tinggi dan rawan terinfeksi HIV di beberapa wilayah di Indonesia. Dari hasil STBP memberikan gambaran tentang perkembangan situasi masalah HIV-AIDS di Indonesia dari waktu ke waktu beserta determinannya.

Tema dari Hari AIDS Sedunia (HAS) Tahun 2011 adalah ”Lindungi Pekerja dan Dunia Usaha dari HIV dan AIDS” dengan Sub Tema: ”Penanggulangan HIV dan AIDS di Tempat Kerja Sebagai Bagian dari Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja”. Adapun slogan untuk HAS 2011: ”Stop HIV dan AIDS, Hapuskan Stigma dan Diskriminasi di Dunia Kerja!”. Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI sebagai Leading Sector HAS 2011, memilih tema tersebut untuk menunjukkan bahwa HIV-AIDS adalah masalah kesehatan yang harus mendapat perhatian serius dari kita semua, bukan hanya dari sektor kesehatan. Pengendalian HIV-AIDS memerlukan komitmen dan penanganan yang terintegrasi, komprehensif dan holistik. Acara Launching Hasil Survei Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) 2011 dan buku Pedoman serta Modul Pengendalian HIV-AIDS dan IMS tersebut dihadiri pula oleh Prof. Djubairi Zoerban, dr. I Nyoman Kandun, Prof. Charles dan Direktur Pengendalian Penyakit Menular langsung, dr. H. M. Subuh, MMPM.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, PTRC: 021-500567, atau alamat e-mail info@depkes.go.id, kontak@depkes.go.id
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Mon Dec 12, 2011 8:16 am

SIAPA PERLU TES HIV?
Lusia Kus Anna | Senin, 12 Desember 2011 | 06:21 WIB Konsultasi dijawab oleh dr Samsuridjal Djauzi
Kompas.com - Sebagai orang awam saya memperhatikan penyuluhan HIV di media massa tahun ini tak seramai tahun-tahun lalu. Padahal, masih banyak remaja yang belum tahu cara menghindarkan diri dari penularan HIV. Saya perhatikan di sekolah juga jarang dibahas mengenai HIV. Bahkan, anak saya, siswa SMA, masih berpendapat bahwa HIV dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk. Karena itu, di meja makan kami mencoba membahas perilaku hidup sehat termasuk cara menghindari HIV. Tahun ini masih ada masalah tentang obat ARV yang terlambat datang. Mudah-mudahan tahun depan tak ada lagi kesulitan dalam memperoleh obat ARV. Setahu saya, untuk obat ARV mendapat bantuan pemerintah sehingga tidak terlalu bergantung pada bantuan asing. Namun, persoalannya adalah masyarakat masih takut melakukan tes HIV. Masih ada perasaan takut dan malu. Biaya tes HIV juga masih lumayan mahal. Mungkinkah pada tahun 2012 dilakukan kampanye besar-besaran untuk tes HIV sehingga mereka yang positif sempat diobati dengan ARV sekaligus juga risikonya menularkan HIV pada orang lain dapat dikurangi? Siapa saja yang perlu tes HIV? Terima kasih atas penjelasan dokter.

N di J

Kita patut bersyukur upaya penanggulangan AIDS di negeri kita mengalami cukup kemajuan meski kita tentu belum puas dan masih banyak yang perlu disempurnakan. Salah satunya adalah upaya kita menanggulangi AIDS di Papua. Belum lama saya bertemu dengan teman-teman penggiat AIDS dari Papua. Mereka mengharapkan lindungan penularan HIV di kalangan remaja, termasuk pelajar, ibu, dan anak. Menurut mereka, penularan di kalangan saudara-saudara kita itu masih marak. Selain itu, mereka juga berharap keberhasilan terapi AIDS di rumah sakit dapat ditingkatkan sehingga angka kematian dapat ditekan. Angka kematian AIDS di negeri kita memang sudah berhasil ditekan. Jika tahun 2006 angka kematian sekitar 42 persen, pada 2008 menjadi sekitar 18 persen. Bahkan, penelitian selama lima tahun mengenai penggunaan ARV di RS Kanker Dharmais sejak 2006 sampai 2011, angka kematian hanya sekitar 5 persen. Anggaran yang disediakan pemerintah kita setiap tahun untuk obat antiretroviral berhasil menyelamatkan nyawa saudara-saudara kita. Selain bermanfaat untuk terapi, obat antiretroviral juga dapat mengurangi risiko penularan. Jika seseorang minum obat antiretroviral dalam waktu enam bulan, jumlah virus dalam darahnya menurun tajam bahkan tak terdeteksi dengan pemeriksaan jumlah virus. Dengan jumlah virus yang amat sedikit ini, risiko menularkan kepada orang lain amat menurun. Bahkan, menurut penelitian di luar negeri, seorang suami yang minum obat antiretroviral secara dini dapat mencegah penularan kepada istrinya sebesar 96 persen. Karena itu, selain untuk terapi, obat antiretroviral juga bermanfaat untuk pencegahan. Masalah yang kita hadapi adalah dari sekitar taksiran orang dengan HIV/AIDS (Odha) di negeri kita yang sebesar 300.000, yang mendapat obat baru 30.000 orang. Jadi, jauh lebih banyak yang belum mendapat obat dan ini disebabkan mereka belum menjalani tes HIV sehingga belum dikenal sebagai orang yang terinfeksi. Jadi upaya untuk menggerakkan masyarakat untuk menjalani tes HIV amatlah penting. Petugas kesehatan diharapkan dapat mengajak masyarakat untuk tes HIV. Afrika Selatan dengan jumlah penduduk sekitar 50 juta orang pada 2011 telah melaksanakan tes HIV untuk 13 juta orang penduduknya. Brasil juga telah melakukan tes terhadap sekitar 25 persen penduduknya.

Malu dan takut
Di Indonesia masyarakat memang masih malu dan takut. Malu karena tes HIV selalu dikaitkan dengan perilaku yang kurang baik dan takut karena masih beranggapan AIDS adalah penyakit mematikan yang tak ada obatnya. Padahal, kemajuan dalam bidang pencegahan dan terapi AIDS amat pesat sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berani menetapkan pada tahun 2015 (empat tahun lagi!) kasus baru HIV di kalangan remaja menurun 50 persen, pada bayi dan anak 90 persen, serta kematian yang berkaitan dengan AIDS menurun 50 persen. Kita tentu berharap akan dapat mencapai target tersebut meski mungkin akan lebih terlambat. Salah satu kuncinya adalah lebih banyak orang yang melakukan tes HIV sehingga diketahui apakah dia terinfeksi atau tidak. Di Amerika Serikat, tak kurang Presiden Barack Obama yang menganjurkan agar masyarakat AS mengetahui status HIV-nya. Infeksi HIV tak hanya terbatas pada kelompok yang berperilaku berisiko lagi. Infeksi ini telah masuk ke keluarga sehingga ibu rumah tangga atau bayi sekalipun dapat tertular HIV. Jadi, amat penting untuk mengetahui siapa yang perlu tes HIV. Pada prinsipnya setiap orang hendaknya mengetahui status HIV-nya, jadi hendaknya menjalani tes ini.

Memang faktor biaya masih menjadi halangan, tetapi bagi yang mampu hendaknya dapat menjalankannya. Petugas kesehatan biasanya menganjurkan tes HIV untuk orang yang pernah menggunakan narkoba suntikan, yang pernah melakukan hubungan seks tak aman, pasangan seksual, ibu hamil, yang pernah terkena penyakit menular seksual, penderita tuberculosis, dan bayi yang lahir dari ibu HIV positif. Sebenarnya, menurut kelakar seorang pakar, masih ada dua S lagi, yaitu saudara dan saya. Jadi, kita perlu menyebarluaskan pentingnya tes HIV, mempermudah akses untuk testing, dan memberi dukungan bagi mereka yang telah melakukan tes. Prof Zubairi, teman saya, mengusulkan kepada pemerintah agar pada 2012 kita melakukan sekitar 15 juta tes HIV. Biayanya mungkin akan besar. Namun, hanya dengan cara mengetahui apakah seorang tertular HIV atau tidak, baru kita dapat melakukan terapi dan sekaligus pencegahan. Kalau kita ingin kasus baru HIV di negeri kita menurun dan angka kematian menurun, kita perlu mempertimbangkan tes HIV secara luas di masyarakat.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Dec 15, 2011 7:31 pm

HIV/AIDS TIDAK MUDAH MENULAR
Bramirus Mikail | Lusia Kus Anna | Kamis, 15 Desember 2011 | 14:20 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Sampai saat ini perlakuan diskriminatif terhadap orang dengan HIV/AIDS di tengah-tengah masyarakat tampaknya masih sangat sulit untuk di hilangkan. Padahal, penularan HIV/AIDS tidaklah semudah yang dibayangkan. Demikian disampaikan oleh Dr. Nafsiah Mboi, Sekretaris Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Nasional, dalam acara bertajuk Menciptakan Lingkungan Tempat Kerja yang Harmonis dengan "Positive Prevention" Positif, Tetap Produktif, di Jakarta Kamis, (15/12/2011). "Banyak orang yang menganggap ini penyakit mematikan, penyakit pendosa, dan gampang menular. Padahal informasi ini tidak benar dan tidak sesuai," katanya. Nafsiah juga menyayangkan masih banyaknya mitos-mitos keliru di tengah masyarakat terkait penularan virus HIV/AIDS. Ia membantah mitos menyesatkan yang mengatakan bahwa penularan HIV dapat terjadi melalui tusuk gigi dan pisau cukur bekas rambut, yang selama ini sering ditakutkan oleh masyarakat. "Tusuk gigi tidak. Pisau cukur salon asalkan dibersihkan juga tidak bermasalah. Karena virus ini jika ada di udara luar dia akan mati. Virus ini tidak mudah menular," tegasnya. Nafsiah mengungkapkan bahwa masyarakat harus betul-betul memahami jalur penularan HIV agar tidak ada ketakutan yang berlebihan terhadap ODHA. Penularan HIV hanya akan terjadi melalui hubungan seks berisiko atau tanpa kondom, transfusi darah, alat suntik yang dipakai secara bergantian dan melalui ibu hamil terinfeksi HIV positif. Intinya, masyarakat tidak perlu khawatir akan tertular virus HIV jika penyampaian edukasi soal HIV/AIDS tersampaikan dengan benar. "Informasi ini belum sampai ke semua orang. Untuk menghapus ketakutan tidak mudah, kecuali kita terus menerus mengatakannya," ungkapnya.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sat Jan 14, 2012 11:05 am

1 DARI 900 HUBUNGAN SEKS TANPA KONDOM TULARKAN AIDS
Jumat, 13/01/2012 11:34 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth
Seattle, Inggris, Orang heteroseksual yang terinfeksi HIV akan menularkan virus kepada pasangannya rata-rata satu kali dari 900 kali hubungan seks tanpa kondom. Demikian menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Afrika. "Namun, berapa pastinya kemungkinan hubungan seksual yang bisa menularkan virus bervariasi pada jumlah virus yang terkandung dalam darah orang yang terinfeksi," kata peneliti, James Hughes dari University of Washington di Seattle. Jumlah virus dalam darah adalah faktor yang paling penting dalam menentukan apakah HIV ditularkan dari pasangan atau tidak. Dalam setiap peningkatan sepuluh kali lipat konsentrasi virus, terjadi peningkatan risiko penularan sekitar tiga kali lipat dalam sekali hubungan seksual. "Orang yang darahnya mengandung virus konsentrasi tinggi malah hanya perlu berhubungan seks sebanyak 10 kali untuk menularkan virus," imbuh Hughes seperti dilansir Myhealthnewsdaily.com, Jum'at (13/1/2012). Temuan baru ini memperkuat gagasan bahwa cara terbaik untuk mengurangi penularan HIV adalah dengan mengurangi konsentrasi virus dalam darah, seperti yang bisa dilakukan obat antiretroviral. Sebuah penelitian yang diterbitkan tahun 2011 menemukan bahwa obat-obatan dapat mengurangi penularan HIV antara pasangan seksual sebesar 96 persen.

Penelitian ini juga mengkonfirmasi bahwa kondom sangat efektif mencegah infeksi HIV. Kondom mengurangi risiko penularan HIV sebesar 78 persen. Sunat pada laki-laki juga dapat mengurangi risiko penularan HIV sebesar 47 persen. Penelitian ini menganalisis data dari 3.297 pasangan dari Afrika sub-Sahara yang memiliki 'HIV-diskordan', artinya salah satu pasangan memiliki HIV, namun lainnya tidak. Orang yang terinfeksi HIV dites secara berkala selama dua tahun untuk mengetahui jumlah HIV dalam darahnya. Pasangan yang tidak terinfeksi juga diwawancarai setiap bulan dan ditanya berapa kali mereka berhubungan seks, dan apakah mereka menggunakan pengaman. Pasangan yang tidak terinfeksi dites secara berkala untuk melihat apakah mereka telah tertular HIV. Para peneliti menggunakan tes genetik virus untuk mengkonfirmasi apakah setiap infeksi HIV baru ditularkan dari pasangannya yang didata pada awal penelitian. Sebanyak delapan puluh enam penularan HIV terjadi selama masa penelitian.

Laki-laki dua kali lebih mungkin menularkan HIV kepada perempuan. Tingginya risiko penularan ini dapat dikaitkan dengan konsentrasi virus dalam darah pria yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Namun perempuan lebih mungkin memiliki herpes kelamin yang meningkatkan kerentanan terinfeksi HIV. 93 persen hubungan seksual dalam penelitian menggunakan kondom, namun para peneliti menduga pengakuan peserta penelitian tersebut dilebih-lebihkan. Oleh karena itu, peneliti menduga keefektifan kondom mencegah penularan HIV bisa jadi lebih dari 78 persen seperti yang diperkirakan. "Risiko rata-rata infeksi HIV per hubungan seksual yang diperkirakan dalam penelitian ini konsisten dengan apa yang telah ditemukan penelitian sebelumnya," kata Dr Myron Cohen, profesor kedokteran, mikrobiologi, imunologi dan kesehatan masyarakat di University of North Carolina di Chapel Hill. "Sebagian besar temuan mungkin dapat digeneralisasikan ke negara lain. Penelitian sebelumnya di Amerika Serikat menemukan tingkat penularan HIV yang lebih rendah. Selain itu, temuan ini hanya berlaku untuk pasangan heteroseksual, bukan laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki. Kelompok homoseksual cenderung memiliki tingkat penularan HIV yang lebih tinggi," pungkas Hughes.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Mon Jan 30, 2012 8:14 pm

OBAT AIDS BANTUAN PEMERINTAH
Lusia Kus Anna | Senin, 30 Januari 2012 | 06:38 WIB
DR SAMSURIDJAL DJAUZI

TANYA:
Adik saya laki-laki, 29 tahun. Enam tahun lalu dia didiagnosis terinfeksi HIV. Kami sekeluarga panik. Meski belum yakin benar, adik saya mengikuti program obat AIDS (ARV) yang dapat diperoleh secara cuma-cuma. Kalau tak salah, obat ini merupakan bantuan WHO dan disalurkan melalui Pemerintah Indonesia. Ternyata, hasil pengobatan baik sekali. Berat badannya naik dan gejala penyakit juga menghilang. Bahkan, dia dapat melakukan kegiatan seperti sebelum sakit, seperti bermain tenis. Dia disiplin minum obat dan sampai sekarang masih berkonsultasi dengan dokter dua bulan sekali. Dia diizinkan dokter untuk menikah dan kemungkinan untuk mempunyai anak yang tak tertular HIV juga besar. Belakangan saya mengikuti berita bahwa bantuan dari luar negeri untuk penanggulangan AIDS di Indonesia mulai berkurang, bahkan mungkin dalam beberapa tahun ke depan akan dihentikan. Saya khawatir dengan nasib adik saya. Jika dia tak mendapat obat bantuan pemerintah lagi, tentu penyakitnya akan kambuh. Namun, di balik itu, ada berita bahwa AIDS tak lama lagi akan dapat disembuhkan. Artinya, orang dengan HIV/AIDS tak perlu lagi minum obat seumur hidup. Benarkah demikian?

P di B

Obat antiretroviral (ARV) gabungan tiga macam obat dinyatakan bermanfaat untuk terapi AIDS sejak tahun 1996. Manfaat obat tersebut di antaranya menurunkan angka kematian berkaitan dengan infeksi HIV, menurunkan angka perawatan di rumah sakit, menekan jumlah virus HIV di darah, dan memulihkan kembali kekebalan tubuh yang menurun. Namun, manfaat yang juga penting adalah bagi mereka yang minum obat ARV secara teratur, risiko menularkan kepada orang lain menjadi amat kecil. Karena itulah ilmu kedokteran sekarang memang dapat mencegah penularan HIV dari suami ke istri atau sebaliknya. Obat ARV yang dipakai oleh adik Anda bukanlah obat bantuan WHO, melainkan dibiayai oleh anggaran pemerintah. Sejak tahun 2005, Pemerintah Indonesia menyediakan obat ARV untuk rakyat secara subsidi penuh (cuma-cuma). Pada akhir tahun 2003, Menteri Kesehatan waktu itu (Achmad Sujudi) mengusulkan kepada pemerintah untuk membatalkan paten obat ARV di Indonesia dan membuat obat generik untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Presiden Megawati menerbitkan keppres mengenai pengadaan obat ARV generik ini. Sejak itulah harga obat ARV paten yang mencapai sekitar 1.000 dollar AS setiap bulan dapat diproduksi dalam bentuk generik dengan harga sekitar Rp 400.000 sebulan. PT Kimia Farma yang waktu itu dipimpin oleh Gunawan Pranoto bersedia memproduksi obat tersebut. Obat tersebut sampai sekarang digunakan oleh sekitar 23.000 orang di negeri kita. Pemerintah tahun ini menyediakan anggaran sekitar Rp 180 miliar untuk penanggulangan AIDS di Indonesia, termasuk untuk pengadaan obat ARV. Global Fund yang dibentuk oleh PBB juga membantu dana untuk upaya pencegahan dan juga terapi, terutama obat ARV lini dua, yang sudah mulai dibutuhkan oleh sekitar 5 persen pengguna ARV di Indonesia. Komitmen pemerintah dalam pengadaan obat ARV cukup tinggi mengingat obat ARV sebenarnya adalah sebuah investasi. Dana yang dikeluarkan untuk obat ARV di samping bermanfaat bagi mereka yang memerlukan obat tersebut juga berguna untuk menurunkan risiko pencegahan (treatment as prevention). Memang benar dana Global Fund semakin menurun karena mulai ada beberapa anggota Global Fund yang tak dapat lagi menyediakan dana, seperti Italia. Namun, kita berharap pengurangan dana tersebut tak banyak pengaruhnya terhadap pengadaan obat ARV di negeri kita.

Menuju penyembuhan AIDS
Kemajuan penelitian belakangan ini memang menimbulkan sikap optimistis. Penyembuhan AIDS tampaknya di depan mata. Tema kongres AIDS sedunia tahun 2012 ini adalah ”Menuju Penyembuhan AIDS”. Jadi, para pakar berharap dalam waktu tak lama lagi AIDS dapat disembuhkan. Obat ARV yang ada sekarang dapat menekan jumlah virus HIV di darah menjadi tak terdeteksi lagi. Namun, HIV di kelenjar getah bening masih dapat berkembang biak. Oleh karena itu, jika obat ARV dihentikan, berarti dalam darah kadarnya rendah, maka HIV dari kelenjar getah bening dapat berkembang biak lagi di darah. Para peneliti mengembangkan dua pendekatan untuk menyembuhkan AIDS. Pertama, dengan obat ARV yang mampu bekerja baik di kelenjar getah bening atau mengombinasikan obat ARV dengan vaksin terapi AIDS. Setiap orang harus tahu cara menghindari diri dari penularan HIV. Kemudian tes HIV harus digalakkan karena masih ada sekitar 200.000 orang lagi di Indonesia yang diperkirakan terinfeksi HIV tetapi belum terdiagnosis karena belum melaksanakan tes HIV. Mereka yang diketahui terinfeksi HIV disiapkan untuk mendapat obat ARV. Karena itulah kebutuhan obat ARV kita pada tahun mendatang akan meningkat. Namun, semakin banyak orang yang diobati, semakin banyak pula nyawa yang diselamatkan dan penularan HIV semakin menurun. Jika dibandingkan dengan Thailand dan Kamboja, jumlah orang yang menggunakan ARV di negeri kita masih relatif sedikit. Di Thailand sekarang ini sekitar 160.000 orang menggunakan ARV, sedangkan di Kamboja, yang penduduknya hanya 14 juta orang, yang menggunakan ARV sudah mencapai 45.000 orang. Sekitar 92 persen orang yang memerlukan obat ARV di Kamboja telah mendapat obat yang bermanfaat ini.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Mar 08, 2012 7:23 pm

PENGENDALIAN HIV-AIDS DI INDONESIA
Jakarta, 3 Maret 2012
Pemerintah serius menangani masalah HIV/AIDS. Hal ini terlihat dari semakin meningkatnya jumlah orang yang diperiksa, seiring dengan meningkatnya jumlah layanan Konseling dan Tes HIV di Indonesia. Jumlah kasus HIV positif yang ditemukan pada penduduk yang melakukan Konseling dan Tes HIV adalah 859 orang HIV positif tahun 2005, 21.591 orang tahun 2010, dan 21.031 orang tahun 2011. Selain itu angka kematian (Case Fatality Rate=CFR) AIDS menurun dari 4,5% pada tahun 2010 menjadi 2,4% pada tahun 2011. Demikian paparan Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH. Dr.PH pada Rapat Koordinasi Bidang Kesejahteraan Rakyat bersama Menko Kesejahteraan Rakyat, Menteri Dalam Negeri, dan Sekjen Komisi Pengendalian AIDS Indonesia, di kantor Kemenkes (2/3). Menkes menyatakan persentase kasus AIDS tertinggi tahun 1987-2011 ada pada kelompok umur 20-29 tahun (46,8%), diikuti kelompok umur 30-39 tahun (30,3%) dan kelompok umur 40-49 tahun (9,4%). Tahun 2011, persentase Kasus AIDS tertinggi ada pada kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 33,4%, diikuti kelompok umur 20-29 tahun (30,2%), dan kelompok umur 40-49 tahun (14,1%). Proporsi kasus pada laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Pada tahun 2011, persentase pada laki-laki sebesar 63,1%, sedangkan pada perempuan sebesar 34%. Namun persentase pada perempuan pada tahun 2011 meningkat dibandingkan dengan persentase kumulatif tahun 1987-2011, yaitu dari 28,2% menjadi 34%, tambah Menkes.

Pada tahun 2011 jumlah Kasus AIDS Menurut Pekerjaan, tertinggi pada Ibu Rumah Tangga (622 kasus), diikuti tenaga non-profesional atau karyawan (587 kasus), dan wiraswasta atau usaha sendiri (544 kasus). Sepuluh provinsi dengan jumlah kumulatif kasus AIDS terbanyak pada tahun 2011 yaitu DKI Jakarta (1122 kasus), Papua (601), Jawa Timur (520), Jawa Tengah (412), Bali (370), Jawa Barat (211), Kalimantan Barat (150), Sulawesi Selatan (129), Riau (99), dan Nusa Tenggara Barat (77). Sementara persentase Kumulatif Kasus AIDS Menurut Faktor Risiko pada tahun 2011 tertinggi ditemui melalui hubungan sex Heteroseksual (71%), Penasun (18,7%), LSL (3,9%), dari Ibu ke Anak (2,7%), Darah Donor dan Produk Darah Lainnya (0,4%), dan Tidak Diketahui (3,3%). “Pemerintah telah merespon Epidemi AIDS sejak tahun 1986, sebelum kasus AIDS ditemukan di Indonesia,” tegas Menkes.

Strategi Pengendalian HIV-AIDS dan IMS di Indonesia dilaksanakan diantaranya melalui peningkatan pemberdayaan masyarakat swasta dan masyarakat madani, Peningkatan pembiayaan, Peningkatan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan pengobatan, pemeriksaan penunjang HIV-AIDS dan IMS serta menjamin keamanan, kemanfaatan, dan mutu sediaan obat dan bahan/alat yang diperlukan dalam pengendalian HIV-AIDS dan IMS. Menkes menegaskan, pembiayaan Pengendalain HIV-AIDS melalui APBN terus meningkat dari tahun ke tahun. Demikian pula untuk pembiayaan pengadaan obat ARV. Tahun 2007 pengadaan ARV sebesar Rp. 17.9 M; Tahun 2008 sebesar Rp. 49.8 M; Tahun 2009 sebesar Rp. 43.2 M; Tahun 2010 sebesar Rp. 84.2 M, Tahun 2011 sebesar Rp. 85.9 M. Untuk Tahun 2012, semua kebutuhan obat ARV sudah dapat terpenuhi melalui anggaran APBN. “Pengendalian HIV-AIDS dan IMS di Indonesia diperkuat dengan Program Aku Bangga Aku Tahu. Suatu kampanye pencegahan penyebaran HIV dan AIDS yang ditujukan kepada kaum muda usia 15-24 tahun. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan yang benar dan komprehensif tentang HIV dan AIDS diantara kaum muda agar mereka dapat menjaga dirinya tidak tertular,” kata Menkes.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faksimili 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): 021-500567 dan 081281562620, atau alamat e-mail info@depkes.go.id, kontak@depkes.go.id
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sun Mar 18, 2012 8:18 pm

PENGENDALIAN HIV-AIDS DI INDONESIA
Jakarta, 3 Maret 2012
Pemerintah serius menangani masalah HIV/AIDS. Hal ini terlihat dari semakin meningkatnya jumlah orang yang diperiksa, seiring dengan meningkatnya jumlah layanan Konseling dan Tes HIV di Indonesia. Jumlah kasus HIV positif yang ditemukan pada penduduk yang melakukan Konseling dan Tes HIV adalah 859 orang HIV positif tahun 2005, 21.591 orang tahun 2010, dan 21.031 orang tahun 2011. Selain itu angka kematian (Case Fatality Rate=CFR) AIDS menurun dari 4,5% pada tahun 2010 menjadi 2,4% pada tahun 2011. Demikian paparan Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH. Dr.PH pada Rapat Koordinasi Bidang Kesejahteraan Rakyat bersama Menko Kesejahteraan Rakyat, Menteri Dalam Negeri, dan Sekjen Komisi Pengendalian AIDS Indonesia, di kantor Kemenkes (2/3). Menkes menyatakan persentase kasus AIDS tertinggi tahun 1987-2011 ada pada kelompok umur 20-29 tahun (46,8%), diikuti kelompok umur 30-39 tahun (30,3%) dan kelompok umur 40-49 tahun (9,4%). Tahun 2011, persentase Kasus AIDS tertinggi ada pada kelompok umur 30-39 tahun sebanyak 33,4%, diikuti kelompok umur 20-29 tahun (30,2%), dan kelompok umur 40-49 tahun (14,1%). Proporsi kasus pada laki-laki lebih tinggi dibanding perempuan. Pada tahun 2011, persentase pada laki-laki sebesar 63,1%, sedangkan pada perempuan sebesar 34%. Namun persentase pada perempuan pada tahun 2011 meningkat dibandingkan dengan persentase kumulatif tahun 1987-2011, yaitu dari 28,2% menjadi 34%, tambah Menkes.

Pada tahun 2011 jumlah Kasus AIDS Menurut Pekerjaan, tertinggi pada Ibu Rumah Tangga (622 kasus), diikuti tenaga non-profesional atau karyawan (587 kasus), dan wiraswasta atau usaha sendiri (544 kasus). Sepuluh provinsi dengan jumlah kumulatif kasus AIDS terbanyak pada tahun 2011 yaitu DKI Jakarta (1122 kasus), Papua (601), Jawa Timur (520), Jawa Tengah (412), Bali (370), Jawa Barat (211), Kalimantan Barat (150), Sulawesi Selatan (129), Riau (99), dan Nusa Tenggara Barat (77). Sementara persentase Kumulatif Kasus AIDS Menurut Faktor Risiko pada tahun 2011 tertinggi ditemui melalui hubungan sex Heteroseksual (71%), Penasun (18,7%), LSL (3,9%), dari Ibu ke Anak (2,7%), Darah Donor dan Produk Darah Lainnya (0,4%), dan Tidak Diketahui (3,3%). “Pemerintah telah merespon Epidemi AIDS sejak tahun 1986, sebelum kasus AIDS ditemukan di Indonesia,” tegas Menkes.

Strategi Pengendalian HIV-AIDS dan IMS di Indonesia dilaksanakan diantaranya melalui peningkatan pemberdayaan masyarakat swasta dan masyarakat madani, Peningkatan pembiayaan, Peningkatan ketersediaan, pemerataan, dan keterjangkauan pengobatan, pemeriksaan penunjang HIV-AIDS dan IMS serta menjamin keamanan, kemanfaatan, dan mutu sediaan obat dan bahan/alat yang diperlukan dalam pengendalian HIV-AIDS dan IMS. Menkes menegaskan, pembiayaan Pengendalain HIV-AIDS melalui APBN terus meningkat dari tahun ke tahun. Demikian pula untuk pembiayaan pengadaan obat ARV. Tahun 2007 pengadaan ARV sebesar Rp. 17.9 M; Tahun 2008 sebesar Rp. 49.8 M; Tahun 2009 sebesar Rp. 43.2 M; Tahun 2010 sebesar Rp. 84.2 M, Tahun 2011 sebesar Rp. 85.9 M. Untuk Tahun 2012, semua kebutuhan obat ARV sudah dapat terpenuhi melalui anggaran APBN. “Pengendalian HIV-AIDS dan IMS di Indonesia diperkuat dengan Program Aku Bangga Aku Tahu. Suatu kampanye pencegahan penyebaran HIV dan AIDS yang ditujukan kepada kaum muda usia 15-24 tahun. Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan yang benar dan komprehensif tentang HIV dan AIDS diantara kaum muda agar mereka dapat menjaga dirinya tidak tertular,” kata Menkes.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faksimili 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): 021-500567 dan 081281562620, atau alamat e-mail info@depkes.go.id, kontak@depkes.go.id
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Wed May 16, 2012 1:30 pm

BANYAK PASIEN HIV MENINGGAL AKIBAT SERANGAN JANTUNG
Bramirus Mikail | Asep Candra | Rabu, 16 Mei 2012 | 11:54 WIB
KOMPAS.com - Beban ganda penyakit ternyata rentan diderita oleh pasien dengan HIV/AIDS. Sebuah riset terbaru mengindikasikan, mereka yang menderita HIV/ AIDS mempunyai risiko jauh lebih tinggi mengalami kematian jantung mendadak (sudden cardiac death) ketimbang populasi umum. Temuan ini dipublikasikan dalam Journal of the American College of Cardiology. Dua profesor dari University of California-San Francisco mengklaim insiden akibat kematian jantung mendadak empat kali lebih tinggi pada pasien HIV/AIDS. "Sebagian besar kematian jantung terjadi secara mendadak dan temuan ini menyiratkan bahwa kita sebagai dokter perlu menyadari masalah kesehatan potensial pada pasien dengan HIV," kata Priscilla Hsue, seorang profesor di UCSF yang juga bertindak sebagai peneliti utama. Hsue dan rekan, Zian Tseng, seorang electrophysiologist, memulai studi mereka pada tahun 2010 setelah Tseng melihat kecenderungan yang mengkhawatirkan dalam penelitian terpisah yang menganalisis kasus kematian mendadak di San Francisco. "Saya memperhatikan bahwa banyak dari kasus ini melibatkan orang dengan infeksi HIV yang mati mendadak. Saya bertanya-tanya apakah ada semacam hubungan antara HIV dan jantung," kata Tseng dalam siaran pers. Dalam kajiannya, Hsue dan Tseng memfokuskan penelitiannya pada 2.860 pasien HIV yang meninggal lebih dari 10 tahun. Semua data terekam dengan baik di San Francisco General Hospital Ward 86. Ward 86 adalah klinik pertama yang mengkhususkan diri dalam HIV/AIDS secara komprehensif mengkarakterisasi semua kematian. Hasil penelitian menunjukkan, sejak tahun 2000-2009, 15 persen pasien meninggal terkait penyakit jantung. Dari kelompok itu, 86 persen meninggal karena kematian jantung mendadak. Studi ini telah dihubungkan terkait usia, ras dan faktor demografis lainnya. "Mereka yang terinfeksi HIV bisa hidup lebih lama dengan manfaat terapi antiretroviral. Namun risiko kematian jantung mendadak semakin meningkat dan menempati posisi teratas dalam daftar penyakit jantung," kata Hsue.
Back to top Go down
View user profile Online
 

HIV - AIDS

View previous topic View next topic Back to top 
Page 13 of 14Goto page : Previous  1 ... 8 ... 12, 13, 14  Next

 Similar topics

-
» Keningau banyak AIDS
» NEW AND OLD RESEARCH ON HIV-AIDS VIRUS -
» Condom versus HIV / AIDS
» Lebih 87000 AIDS di Malaysia sejak 1986
» Hair styling and styling aids

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-