Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 HIV - AIDS

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3, ... 11, 12, 13  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Fri May 21, 2010 6:44 pm

CARA BARU PENCEGAHAN HIV
Vera Farah Bararah - detikHealth - Selasa, 25/05/2010 10:38 WIB
Pittsburgh, Selama ini cara agar tidak tertular virus AIDS adalah dengan menggunakan kondom. Tapi peneliti mengungkapkan bahwa tablet dan cincin vagina bisa efektif melindung seseorang dari AIDS. Peneliti melaporkan bahwa tablet vagina, cincin vagina dan lapisan film mengandung obat untuk membantu melindungi perempuan dan laki-laki dari infeksi virus AIDS. Cara pendekatan seperti itu disebut dengan microbicide. Cara ini kemungkinan bisa membantu mengatasi beberapa risiko penolakan obat yang biasa timbul jika seseorang menggunakan obat pil untuk mencegah infeksi.

Beberapa temuan yang telah dilaporkan dalam International Microbicides Conference di Pittsburgh, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (25/5/2010), yaitu:
1. Cincin vagina yang fleksibel
Sebuah cincin fleksibel yang dirancang untuk digunakan di vagina bisa secara terus menerus sama seperti memberikan dua obat AIDS selama satu bulan. Alat ini ditemukan oleh Andrew Loxley dari Bethelem, Pennsylvania. Cincin ini diuji di laboratorium untuk mengetahui efek dari dapivirine serta obat inhibitor maraviroc. Namun alat ini belum diujicobakan pada manusia.

2. Tablet vagina
Sebuah tablet vagina bekerja hampir sama dengan cincin vagina yaitu dengan melepaskan obat maraviroc dan obat HIV lain yang disebut dengan DS003. Hasil ini ditemukan oleh Sanjay Grag dari University of Auckland di New Zealand. Tablet ini menggunakan polimer yang dirancang untuk menahan lapisan lembab di dalam vagina.

3. Menggunakan lapisan (film)
Alat ini ditemukan berdasar hasil penelitian Anthony Ham dari ImQuest BioSciences of Frederick, Maryland. Imquest adalah pengujian obat HIV IDP-9528 yang terdapat di dalam lapisan kecil dan tipis, bahkan lebih tipis dari permen karet atau mirip dengan strip obat kumur.

Susan Schader dan rekannya dari McGill University di Montreal, Kanada menuturkan orang-orang akan mengalami infeksi yang resisten terhadap obat di dalam microboside ketika orang tersebut sudah terinfeksi. Berdasarkan data dari United National AIDS (UNAIDS) hingga kini virus HIV telah menginfeksi lebih dari 33 juta orang di seluruh dunia dan telah menyebabkan 25 juta kematian. Selain itu lebih dari setengah orang dengan HIV adalah perempuan dan sebagian besar terinfeksi dari suami atau pasangan tetapnya yang tidak mau menggunakan kondom. Sebenarnya para pakar AIDS telah lama mencari microbicide berupa krim, gel atau cincin yang bisa digunakan oleh laki-laki atau perempuan dan berfungsi sebagai perisai untuk melindungi diri dari transmisi seksual dari virus yang mematikan dan belum bisa disembuhkan ini. (ver/ir)


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:52 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sat May 22, 2010 7:56 am

LIMA LANGKAH CEGAH HIV/AIDS
Minggu, 22 Juni 2008 | 16:17 WIB
Kompas.com - SEKSOLOG Dr. Boyke Dian Nugraha menyarankan masyarakat untuk ikut membantu mencegah dan menekan penularan penyakit HIV/AIDS. Menurutnya, ada lima langkah yang dapat dilakukan guna mencegah penularan penyakit yang mematikan dan belum ada obatnya tersebut.

"Yang pertama adalah menghindari berhubungan seks bebas," ungkapnya usai memaparkan seminar pengaruh globalisasi terhadap hubungan seks para generasi muda di Pangkalpinang, Sabtu (21/6). Bila seseorang menyukai hubungan seks bebas, menurut Boyke hampir dipastikian kemungkinan untuk tertular atau menularkan HIV/AIDS menjadi sangat besar.

Sedangkan strategi selanjutnya menurutnya adalah setiap pria atau wanita harus setia kepada pasangannya sehingga meminimalisir masuknya virus HIV yang dapat menghancurkan sistem kekebalan tubuh manusia. "Banyak masyarakat yang tak puas dengan pasangan mereka sehingga mencari pasangan lain di luar yang kondisi kesehatannya tidak jelas apakah ia terkena HIV AIDS atau penyakit kelamin lainnya," ujarnya. Di samping itu, masing-masing pasangan harus bisa mempertahankan hubungan yang harmonis pada keluarganya agar tidak terjadi kejenuhan dan polemik dalam keluarga yang menjadi pemicu awal.

Strategi berikutnya adalah menggunakan selalu kondom saat melakukan hubungan intim dan hal ini dilakukan setelah strategi pertama dan kedua tidak berhasil diterapkan. Selanjutnya untuk menghindari HIV/AIDS adalah masyarakat khususnya para generasi muda agar menghindari penggunaan jarum suntik secara bergantian yang keseterilannya sangat diragukan.

Sedangkan strategi terakhir menurut pria yang pernah mendapat predikat Dokter Puskesmas Teladan se-Provinsi Lampung tahun 1985 adalah menghindari penularan melalui transfusi darah dengan cara selektif dan ketat dalam menjalani transfusi darah. Menurutnya, banyak sekali problem remaja mulai dari soal seks, pacaran, hamil diluar nikah, komplikasi aborsi yang dapat menyebarkan HIV AIDS yang harus dihindari. Seminar yang diprakarsai Dinas Pendidikan Kota Pangkalpinang itu diikuti sedikitnya 800 orang Mahasiswa dan pelajar se-kota Pangkalpinang.



Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:53 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Tue May 25, 2010 12:28 pm

AJARI SI KECIL MENGENAI BAHAYA HIV/AIDS
Selasa, 6 Oktober 2009 | 12:39 WIB
KOMPAS.com — Sekitar tiga juta remaja mengalami kontak setiap tahunnya dengan penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV. Bayangkan jika di antara mereka ada anak-anak kita. Mengetahui bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan mereka untuk membicarakan mengenai HIV bisa membantu mengurangi angka tersebut dan tentu saja membantu mereka untuk mengambil keputusan yang benar.

Berikut tips-tips untuk mengajak mereka berbicara dari hati ke hati mengenai HIV. Tingkat kesulitannya memang besar dan waktu yang diperlukan tidak bisa terukur alias selama masih diperlukan, kita akan terus mengajak mereka untuk lebih mengenal bahaya HIV.

Langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengingat bahwa sebelum semua percakapan dimulai, Anda sendiri harus mengetahui informasi seperti apa yang mau disampaikan kepada mereka dan bagaimana cara menyampaikannya. Intinya, Anda harus mengetahui segala detail mengenai HIV/AIDS dan carilah kebenaran dari setiap pernyataan di dalamnya.

Lalu, bagaimana mengetahui informasi yang baik mengenai HIV/AIDS? Mudah, carilah informasi mengenai hal tersebut di internet dari situs web yang terpercaya, jangan lupa untuk mencari dari situs web pemerintah yang menyediakan edukasi HIV. Anda juga bisa menambahkan informasi dari situs web yang bisa dipercaya. Jika Anda merasa internet kurang banyak menyediakan info, silakan cari di buku-buku mengenai HIV/AIDS atau buku medis.

Sebagai langkah pendekatan terhadap buah hati, pilihlah waktu yang santai dan nyaman, misalnya saat mengerjakan pekerjaan rumah bersama atau membaca majalah bersama. Ungkapkan perasaan Anda dan biarkan mereka mengungkapkan apa yang mereka rasakan.

Hindari nada yang berkesan menasihati atau menggurui. Ajak mereka berbicara seperti layaknya kepada teman. Jika Anda merasa telah menyampaikan kalimat yang cukup panjang dan lama, tanyakan pada mereka bagaimana pendapat mereka terhadap pernyataan Anda, biarkan mereka mengungkapkan semua yang mereka rasakan dan cobalah untuk mengerti dari sudut pandang mereka meskipun akan sangat sulit bagi Anda untuk memosisikan sebagai mereka.

Cobalah untuk bertanya kepada mereka bagaimana pendapat mereka mengenai seks dan berikan mereka bahan atau situs web yang menyediakan informasi yang cukup bisa dimengerti oleh seorang anak. Dengan ini anak bisa belajar dengan privat dan mungkin mereka akan lebih merasa nyaman dibandingkan harus berbicara dengan orangtuanya.

Sebagai tips, sesuaikan tutur bahasa dan cara bicara Anda saat bicara dengan anak Anda sesuai dengan umur mereka. Persiapkanlah diri Anda dari kemungkinan mendengar pertanyaan atau bahkan pernyataan tentang seks dan hubungan seksual.

Oleh dr. Intan Airlina Febiliawanti


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:53 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu May 27, 2010 9:29 am

GEL VAGINA BISA KURANGI RISIKO INFEKSI HIV
Selasa, 20/07/2010 10:45 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
KwaZulu-Natal, Selama ini untuk mencegah penyebaran infeksi HIV dilakukan dengan penggunaan kondom pada saat melakukan hubungan seksual. Kini penggunaan gel vagina secara konsisten juga dapat mengurangi risiko terinfeksi HIV. Sebuah penelitian yang telah dipresentasikan di Konferensi AIDS Internasional di Wina, Senin (19/7/2010), menemukan bahwa gel vagina yang digunakan secara konsisten sebelum dan setelah berhubungan seksual, dapat mengurangi 50 persen risiko infeksi HIV.

Efektifnya gel vagina ini karena mengandung tenofovir (Viread), yaitu obat antiretroviral yang digunakan untuk mengobati HIV / AIDS.
"Jika ini diimplementasikan dan digunakan pada perempuan-perempuan dalam populasi umum, dapat mencegah 1,3 juta infeksi selama lebih dari 20 tahun mendatang," tutur Dr Salim S. Abdool Karim, direktur Centre for the AIDS Programme of Research in South Africa (CAPRISA) dan peneliti di University of KwaZulu-Natal, Afrika Selatan, seperti dilansir dari MSNNews, Selasa (20/7/2010).

Secara global, perempuan adalah kelompok mayoritas yang terinfeksi HIV baru. Oleh karena itu, perempuan membutuhkan metode yang dapat mengendalikan dan melindunginya dari infeksi. Hasil uji mikrobisida (senyawa yang akan diterapkan ke vagina atau dubur untuk mencegah infeksi penyakit menular seksual) yang dilakukan CAPRISA adalah langkah maju yang menarik untuk pencegahan HIV.

Hal lain yang menggembirakan adalah gel ini juga dapat mengurangi risiko tertular herpes genital sebesar 51 persen. Ini dapat memperlambat penyebaran HIV secara signifikan, mengingat orang dengan herpes genital memiliki dua kali risiko tertular HIV. Tapi meski hasil penelitian ini menjanjikan, gel ini masih perlu diteliti lebih lanjut, serta membutuhkan lisensi dan persetujuan dari pihak-pihak berwenang. Gel ini juga belum mungkin tersedia dalam 1 atau 2 tahun mendatang.

"Walaupun temuan ini perlu dikonfirmasi dengan studi lain untuk memenuhi persyaratan lisensi oleh US Food and Drug Administration dan badan pengawas lainnya di seluruh dunia, mereka berpendapat bahwa kami segera dapat memiliki metode baru untuk membantu mengurangi infeksi HIV pada perempuan di seluruh dunia," ujar Dr Kevin Fenton, direktur National Center for HIV/AIDS, Viral Hepatitis, STD, and TB Prevention di U.S. Centers for Disease Control and Prevention. (mer/ir)


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:55 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu May 27, 2010 9:33 am

GEL VAGINA TERBUKTI CEGAH HIV
Selasa, 20 Juli 2010 | 09:49 WIB
Kompas.com — Untuk pertama kalinya, gel vagina terbukti efektif mencegah virus AIDS. Para ilmuwan menyebutnya sebagai terobosan yang selama ini dicari untuk membantu kaum perempuan, terutama yang pasangannya menolak menggunakan kondom. Hasil penelitian yang dilakukan di Afrika Selatan ini memang masih harus dibuktikan oleh riset lain, tetapi para ahli optimistis. "Kami ingin memberi harapan kepada kaum perempuan sebagai kelompok yang tertular HIV baru yang paling banyak," kata Michel Sidibe, Direktur Eksekutif WHO untuk Program UNAIDS.

Gel vagina ini yang diberikan bersama dengan obat AIDS tenofoir mampu mengurangi risiko penularan HIV hingga 50 persen setelah dipakai selama satu tahun dan mengurangi risiko hingga 39 persen setelah digunakan selama 2,5 tahun. Untuk bisa dipasarkan di Amerika Serikat, gel ini harus memberikan paling tidak 80 persen perlindungan. Namun, menurut Dr Anthony Fauci dari US National Institute of Health, apabila gel ini dipakai secara konsisten, mungkin efek proteksinya akan lebih besar. Mengingat dalam penelitian di Afrika Selatan ini tingkat kepatuhan para partisipan hanya 60 persen.

Keputusan tiap negara mengenai efek proteksi gel vagina ini mungkin berbeda. Di Afrika Selatan, yang satu dari tiga perempuannya terinfeksi HIV di usia 20 tahun, gel vagina ini akan mencegah 1,3 juta penularan dan 826.000 kematian dalam dua dekade mendatang. Hasil penelitian mengenai gel vagina ini rencananya akan dipresentasikan dalam pertemuan internasional mengenai AIDS di Vienna pada minggu ini. "Sekarang kita memiliki produk yang sangat potensial mencegah epidemi dan menyelamatkan jutaan nyawa," kata Dr Quarraisha Abdool Karim, ketua peneliti.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:56 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Thu Jun 10, 2010 10:29 am

PELUMAS TINGKATKAN RISIKO INFEKSI HIV
Kamis, 27 Mei 2010 | 06:25 WIB
Kompas.com - Penggunaan pelumas (lubrikan) dalam hubungan seks lewat anal tanpa kondom akan meningkatkan risiko penularan HIV, baik pada pria atau wanita.
Kecemasan pada kemungkinan terjadinya penularan itu mencuat dari hasil dua studi. Selain itu risiko infeksi HIV memang lebih tinggi bila infeksi sudah terjadi pada lapisan rektum pada orang yang menerima hubungan lewat anal tersebut.

Pada studi pertama yang dilakukan antara tahun 2006-2008, para peneliti mengamati 900 pria dan wanita yang menggunakan pemulas. Ternyata mereka beresiko tiga kali lebih besar untuk tertular penyakit seksual lewat anal. Walaupun jenis lubrikan yang dipakai secara spesifik tidak berpengaruh, namun mayoritas responden mengatakan mereka menggunakan lubrikan berbahan dasar air (76 persen), sementara itu 28 persen menggunakan lubrikan berbahan silikon, dan 17 persen berbahan minyak. Pada studi kedua, para peneliti dari Universitas Pittsburgh meneliti lima jenis lubrikan yang paling populer di pasaran berdasarkan survei terhadap 9000 pria dan wanita di 100 negara. Seluruh lubrikan yang populer adalah yang berbahan dasar air, kecuali satu jenis yang berbahan silikon.

Para peneliti tidak menguji efek lubrikan ketika dipakai dalam hubungan seks secara nyata, namun diteliti di laboratorium. Ternyata, beberapa jenis lubrikan memiliki efek toksik pada sel dan jaringan di anal. Diduga hal ini karena kandungan garam dan gula yang terdapat di produk lubrikan.
"Kita memang tidak bisa menarik kesimpulan dari penelitian yang sifatnya kecil. Masih dibutuhkan penelitian lanjutan untuk mengetahui apakah lubrikan memang berpotensi menjadi penular HIV," kata peneliti. Menurut data di Amerika, 90 persen pasangan homoseksual melakukan hubungan seks lewat anal. Sementara pada pasangan heteroksesual (pria dan wanita) 10-35 persennya paling tidak pernah melakukan seks anal satu kali. Lubrikan merupakan pendukung hubungan seks anal yang dianggap penting, sedangkan kondom tidak.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 17, 2010 5:33 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sun Jun 13, 2010 4:30 am

PISANG MENGHAMBAT VIRUS AIDS
Rabu, 17/03/2010 14:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Michigan, Berbagai cara dilakukan peneliti agar bisa menghentikan penyebaran virus HIV AIDS. Ternyata buah pisang diduga kuat memegang peran kunci dalam perawatan baru melindungi diri dari virus AIDS. Dalam percobaan di laboratorium, peneliti menemukan salah satu bahan yang terkandung di pisang yaitu BanLec memiliki potensi yang sama kuat dengan dua obat anti-HIV.

Peneliti percaya ini bisa digunakan sebagai terapi murah dan berpotensi menyelamatkan jutaan nyawa. Bahan BanLec yang terkandung tersebut adalah lectin, yaitu suatu bahan kimia alami yang terdapat dalam tumbuhan dan berguna untuk melawan infeksi. Peneliti dari Amerika Serikat menemukan bahwa lectin yang terkandung dalam buah pisang dapat menghambat infeksi HIV dengan cara menghalangi masuknya virus ke dalam tubuh. BanLec bekerja pada protein amplop (envelope) yang membungkus bahan genetik dari HIV.

"Masalah yang selama ini terjadi pada beberapa obat HIV adalah kemampuan virus untuk bermutasi sehingga menjadi resisten (kebal). Tapi hal ini akan sulit terjadi jika ada kehadiran lektin," ujar ketua peneliti Michael Swason dari University of Michigan, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (17/3/2010).
Swason menambahkan lectin dapat mengikat gula yang ditemukan pada tempat berbeda dari envelope HIV-1 dan kemungkinan hal ini dapat membuat virus sulit untuk melakukan mutasi. Hasil penelitian ini akan dilaporkan dalam Journal of Biological Chemistry.

Berdasarkan percobaan di laboratorium peneliti mendapatkan BanLec bisa berfungsi sama efektifnya dengan dua obat anti-HIV yang saat ini masih digunakan yaitu T-20 dan maraviroc. Saat ini Swason dan tim sedang mengembangkan suatu proses untuk mengubah BanLec dan membuatnya agar cocok digunakan untuk pasien manusia.

Para peneliti percaya bahan ini bisa digunakan sendiri atau digunakan bersama-sama dengan obat anti-HIV. Bahkan obat ini diyakini akan cukup sukses dan potensial untuk menyelamatkan jutaan nyawa di seluruh dunia. Saat ini penyebaran infeksi HIV baru semakin meningkat dan diketahui belum semua pasien HIV bisa mendapatkan obat anti-HIV.

"HIV masih merajalela di Amerika Serikat dan bahkan di beberapa negara miskin hal ini terus menjadi masalah yang berkepanjangan. Karena HIV dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya," ujar Prof David Marvovits dari University of Michigan Medical School.
(ver/ir)


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 3:20 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sun Jun 13, 2010 4:33 am

7 PENYAKIT LAIN YANG DIALAMI PENDERITA HIV/AIDS
Vera Farah Bararah - detikHealth - Sabtu, 12/06/2010 16:17 WIB
Jakarta, Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) rentan terkena berbagai infeksi karena sistem kekebalan tubuhnya yang menurun drastis. Setidaknya ada 7 penyakit lain yang menjadi risiko ODHA. "HIV adalah penyakit yang sistemik sehingga bisa menyerang organ atau sistem apa saja seperti darah, jantung, ginjal, saraf perifer, kepikunan, ortopedi dan lainnya," ujar Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi SpPD-KAI FACP dalam acara seminar 'How to deal with HIV/AIDS' di aula FKUI, Salemba, Jakarta, Sabtu (12/6/2010). Prof Samsuridjal menuturkan kemungkinan infeksi yang dialami ODHA di Indonesia adalah tuberkulosis (tb), infeksi jamur, toksoplasmosis, cryptococcosis, infeksi mata CMV dan ko-infeksi virus hepatitis.

"Infeksi oportunistik ini biasanya berhubungan dengan jumlah CD4 di dalam tubuhnya. Jika jumlah CD4 kecil, maka infeksi yang mungkin timbul cenderung lebih berat," ungkap dokter yang juga tergabung dalam kelompok studi khusus AIDS FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo. Nilai CD4 menunjukkan nilai imunitas/kekebalan/daya tahan tubuh yang diindikasikan oleh sel T dalam darah. Umumnya kategori AIDS jika nilai CD4 di bawah 200 dan dengan angka di bawah itu akan mulai terkena infeksi oportunistik.

Infeksi oportunistik yang mungkin timbul pada seseorang dengan HIV/AIDS, yaitu:

1. Tuberkulosis
Jika nilai CD4 lebih dari 200 sel/mm3 maka gejala yang timbul sama dengan tuberculosis lainnya, tapi jika nilai CD4 kurang dari 200 sel/mm3 maka gambaran klinis dan radiologinya tidak khas. Pengobatannya pun dengan ARV serta terapi TB yang disesuaikan dengan jumlah CD4nya.

2. Meningitis kriptokokus
Kondisi ini biasanya ditandai dengan sakit kepala, kesadaran menurun, nilai CD4 kurang dari 100 sel/mm3 serta hasil pemeriksan menunjukkan antigen keriptokokus positif. Terapi yang diberikan adalah amfoterisin B, flukonazol dosis tinggi.

3. Diare
Pada orang dengan HIV/AIDS sering dijumpai mengalami diare kronik akibat adanya infeksi kuman pathogen. Pada kondisi ini terapi rehidrasi sangat penting dan juga dilakukan pemeriksaan feses terhadap bakteri, jamur, parasit atau virus.

4. Sitomegalo
Kondisi ini sering dijumpai pada orang yang memiliki nilai CD4 kurang dari 50 sel/mm3 dan akibat reaktivasi virus yang sudah ada di dalam tubuh. Infeksi ini bisa mempengaruhi retina, saluran cerna, saluran napas dan otak.

5. Kanker yang terkait dengan HIV
Penyakit kanker yang mungkin bisa timbul adalah kanker kelenjar getah bening, kanker leher rahim dan sarcoma Kaposi.

6. Infeksi CMV
Kondisi ini diawali dengan ketajaman penglihatan yang menurun, lalu diikuti dengan seperti ada kilatan cahaya, pandangan berkabut, gangguan lapang pandang serta jika progresif bisa menimbulkan kebutaan dalam waktu 2 bulan tanpa terapi. Biasanya terjadi jika nilai CD4 kurang dari 50 sel/mm3. Karenanya harus dideteksi sesegera mungkin sebelum mengenai retina dan atau makula.

7. Korioretinitis Toksoplasmosis
Seseorang yang mengalami kondisi ini akan memiliki gejala pandangan kabur, nyeri serta terlihat bayangan hitam yang terbang-terbang di mata. Untuk mendiagnosisnya dibutuhkan penemuan klinis serta tes serologi.

"Prinsip penatalaksanaan untuk HIV/AIDS adalah dengan mengonsumsi obat antiviral (ARV), pengobatan infeksi oportunistik dan pengobatan dasar. Sedangkan pengobatan suportif yang bisa dilakukan adalah memperbaiki keadaan umum ODHA, memperhatikan gizi, dukungan psikososial serta obat simtomatik sehingga ODHA bisa melakukan aktivitasnya," jelas Prof Samsuridjal.


Last edited by gitahafas on Wed Jul 21, 2010 12:06 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sun Jun 13, 2010 4:41 am

RISIKO INEFKSI TB PADA ODHA
31-10-2007 | Scientific Medicastore
Penderitaan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) seakan tidak ada habisnya. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, sehingga ODHA rentan terhadap berbagai infeksi penyakit. Salah satunya adalah tuberkulosa (TB) yang dulu lebih dikenal dengan TBC.
Dalam media edukasi yang diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi (KPAP) DKI Jakarta bekerjasama dengan Kemitraan Australia-Indonesia hari Rabu (24/10/07), dr. Titi Sundari, Sp.P dari Rumah Sakit Penyakit Infeksi (RSPI) Sulianti Saroso mengatakan, "kasus TB tidak habis-habis karena ada hubungannya dengan HIV." Lebih lanjut, dalam media edukasi yang bertemakan Risiko TB bagi Orang dengan HIV/AIDS di daerah Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, dr Titi Sundari mengungkapkan bahwa 1 dari 3 orang dengan HIV/AIDS terinfeksi TB. Asia Selatan dan Tenggara memikul beban 40% dari jumlah kasus TB global. Banyaknya jumlah penderita TB di Indonesia membuat negara kita menduduki peringkat ketiga setelah India dan China dengan kasus baru sebanyak 539.000 per tahun. "Bahkan, TB merupakan penyebab kematian akibat infeksi no 1 di Indonesia," kata dr. Titi Sundari.

Lemahnya sistem pertahanan tubuh membuat ODHA dapat mengalami berbagai infeksi oportunistik seperti jamur di mulut, toxoplasma, herpes zoster, hepatitis, TB, dll. Berdasarkan data yang dikumpulkan di RSPI Sulianto Saroso tahun 2006, TB merupakan infeksi oportunistik paling tinggi pada ODHA yaitu sebesar 277 kasus.
"Jika tubuh kemasukan kuman TB, dapat terjadi 3 kemungkinan, orangnya menjadi sakit karena gizi yang kurang bagus, tubuh mampu membunuh kuman sehingga orangnya tidak sakit, dan kuman yang masuk ditahan oleh daya tahan tubuh yang disebut dengan kuman 'tidur'," jelas dr Titi Sundari.

Berbeda antara infeksi TB dengan penyakit TB. Pada infeksi TB, kuman masuk tetapi ditahan oleh tubuh sehingga kuman 'tidur', sedangkan pada penyakit TB orangnya sakit dan dapat menularkan penyakit kepada orang lain. Sebanyak 10% orang dengan infeksi TB diperkirakan akan menjadi penyakit TB.
Penyakit TB dapat terjadi dalam 2 tahun pertama setelah infeksi, terutama jika orang yang terinfeksi tergolong immunocompromized seperti penderita HIV, kanker, sedang menjalani kemoterapi, diabetes yang tidak tekontrol dan malnutrisi.

HIV merupakan faktor risiko utama yang menyebabkan TB aktif. TB menyebabkan kon\disi tubuh menjadi jelek sehingga mortalitas tinggi. Tidak heran jika TB adalah penyebab kematian utama pada ODHA. "Pada kasus koinfeksi TB-HIV/AIDS, diobati TBnya dahulu," kata dr. Titi Sundari. Untuk mengobati TB diperlukan waktu minimal 6 bulan. Obat yang harus diminum setiap harinya pun banyak antara lain, isoniazid, rifampisin, etambutol, pirazinamid. Di Puskesmas kini sudah tersedia fix dosed combination yang terdiri dari 3 tablet yang berisi 4 obat. Baik HIV maupun TB memerlukan kepatuhan dalam minum obat. Jika pengobatannya bersamaan dengan pemberian antiretroviral (ARV) untuk HIV/AIDS maka dikhawatirkan akan drop out (putus obat). Belum lagi efek toksisitas obat TB yang tumpang tindih.

Dalam beberapa kasus, TB justru muncul ketika pengobatan ARV diberikan. Kondisi ini disebut dengan immune reconstitution implementation syndrome (iris). "CD4 yang sudah stabil meningkat karena pemberian ARV dan menyebabkan kuman TBC yang tidur menjadi aktif," papar dr Titi Sundari
Untuk mencegah ODHA terinfeksi TB, Edha Bara Padang, seorang konselor HIV/AIDS RSPI Sulianti Saroso menjelaskan, "pasien HIV diberi gambaran keadaan tubuh tanpa daya tahan tubuh sehingga mudah terinfeksi TB, jalani hidup sehat dengan makan 4 sehat 5 sempurna, dan libatkan keluarga untuk mendukung ODHA."
ODHA juga diberi pengetian sehingga harus berhati-hati dalam perilaku. Salah satu yang diajarkan adalah etika batuk. Kuman TB dapat menular melalui percikan ludah saat batuk. Dengan etika batuk, diharapkan kuman TB tidak menulari orang lain. Upaya menurunkan angka kematian akibat koinfeksi perlu diintensifkan mengingat pengobatan TB yang efektif sesungguhnya telah tersedia di Indonesia. Sayangnya, pada HIV stadium lanjut, gejala TB tidak jelas terlihat sehingga tidak terdeteksi dokter. dr Titi Sundari menjelaskan bahwa RSPI Sulianti Saroso mempunyai standar protokol. Untuk pasien yang datang dengan stadium lanjut dimana tidak khas gejala TBnya, jika diterapi ARV ternyata memburuk, maka ARV tetap dilanjutkan dan diterapi TB. Obati TB, obati HIV/AIDS, berobat sekarang juga.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:50 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sun Jun 13, 2010 4:16 pm

SALAH DIAGNOSTIK TB PADA PASIEN HIV BISA BERAKIBAT FATAL
Vera Farah Bararah - detikHealth - Jumat, 21/05/2010 10:30 WIB
Sn Francisco, Beberapa orang seringkali didiagnosis salah mengenai tuberkulosis (TB palsu). Tapi hal ini bisa menjadi sangat fatal jika terjadi pada pasien yang terinfeksi HIV, karena berisiko kematian. Sebuah studi baru yang dilakukan oleh peneliti dari University of California, San Francisco dan Makerere University, Kampala, menunjukkan bahwa pasien terinfeksi HIV yang salah didiagnosis tuberkulosis memiliki tingkat kematian yang tinggi dibandingkan dengan orang yang memiliki diagnosis benar.

Diagnosis tuberkulosis pada pasien HIV khususnya menjadi hal yang penting karena meningkatkan kerentanan terhadap penyakit dan salah satu tes yang bisa dilakukan adalah melakukan uji dahak untuk mengungkapkan hasilnya. "Di antara orang yang terinfeksi HIV dan mendapatkan diagnosis yang salah mengenai tuberkulosis memiliki risiko yang lebih fatal karena meningkatkan risiko kematiannya," ujar ketua studi Robert Blount dari UCSF School of Medicine, seperti dikutip dari Medicalnewstoday, Jumat (21/5/2010). Dalam studi ini Dr Blount dan rekannya mengevaluasi hasil dari 600 pasien terinfeksi HIV yang dirawat di Mulago Hospital, Kampala, Uganda termasuk pasien yang salah didiagnosis dengan tuberkulosis.

Tuberkulosis masih menjadi penyebab umum penyakit paru di seluruh dunia dan pasien yang terinfeksi HIV sangat rentan terhadap tuberkulosis.
Karenanya diagnosis penyakit ini menjadi tantangan tersendiri bagi para ahli. Dokter dan peneliti telah lama memahami bahwa salah diagnosis tuberkulosis bisa mengakibatkan hasil yang buruk dan meningkatkan risiko kematian. Meskipun hubungan pastinya belum dipahami secara luas, tapi ada kemungkinan karena menurunnya sistem kekebalan tubuh orang tersebut. Dr Blount menuturkan hasil yang lebih buruk didapatkan karena tidak tepatnya perawatan yang diterima oleh pasien akibat salah diagnosa, hal ini menyebabkan kondisi yang mendasari penyakit tersebut tetap tidak terobati karena pengobatan untuk tuberkulosis harus berdasarkan penyakit yang mendasarinya.

"Sebaiknya dokter harus terus memantau pasiennya yang telah didiagnosis memiliki tuberkulosis, hal ini untuk memastikan apakah perawatan yang diberikan sudah bekerja atau dan belum serta untuk menilai kembali diagnosis jika pasien tidak menunjukkan perbaikan," ungkap Dr Blount.
Penelitian lebih lanjut harus difokuskan pada pengembangan tes diagnostik tuberkulosis yang lebih sensitif dan spesifik, sehingga mengurangi risiko kesalahan diagnostik atau hasil palsu. Hasil penelitian ini akan dipresentasikan dalam konferensi internasional ATS 2010 di New Orleans, Amerika Serikat.
(ver/ir)




Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:50 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sun Jun 13, 2010 4:20 pm

JIKA HERPES, RAJA SINGA DAN HIV 'BERSATU'
Vera Farah Bararah - detikHealth - Sabtu, 12/06/2010 17:31 WIB
Jakarta, Hati-hati bagi yang sering gonta ganti pasangan atau melakukan seks tidak aman tanpa alat pelindung. Jika orang dengan penyakit kelamin dan HIV bertemu dalam hubungan intim, penularannya bisa sangat cepat dan makin sulit penyembuhannya. Ahli penyakit kulit dan kelamin dr Farida Zubaier, SpKK(K) mengungkapkan penyakit HIV/AIDS adalah penyakit yang bisa ditulari melalui hubungan seksual. Bersamaan dengan itu juga mempengaruhi penularan penyakit infeksi menular seksual (IMS) lainnya seperti herpes genital dan juga sifilis (raja singa).

"Penyakit Infeksi menular seksual (IMS) yang gejalanya berupa ulkus (luka) pada genital (alat kelamin) cukup sering ditemukan pada orang yang HIV positif. Namun untuk jumlah angka pastinya di Indonesia belum ada," ujar dr Farida dalam acara seminar 'How to deal with HIV/AIDS' di aula FKUI, Salemba, Jakarta, Sabtu (12/6/2010).
Dr Farida menuturkan jika seseorang memiliki penyakit herpes atau sifilis lalu melakukan hubungan seksual dengan orang yang positif HIV, maka virus HIV akan lebih mudah dan lebih cepat masuk ke dalam tubuh si penderita penyakit kelamin. Sebaliknya jika seseorang sudah positif HIV lalu kemudian terinfeksi penyakit kelamin maka pengobatannya akan lebih lama dan juga sulit untuk didiagnosis.

Ada 2 penyakit infeksi menular seksual yang sering dijumpai pada penderita HIV positif, yaitu:

Herpes genital (herpes kelamin)
Herpes genital yang terjadi pada penderita HIV umumnya tidak memiliki gejala yang khas. Namun ukuran ulkus (luka) yang timbul cenderung lebih besar dan juga lebih dalam. Kejadian rekurensi (munculnya) juga cenderung lebih sering yang membuat proses pengobatannya lebih lama dibandingkan dengan orang yang memiliki herpes genital tanpa HIV. Penyakit ini lebih banyak menular melalui hubungan kontak kulit dengan penderita. Umumnya gejalanya adalah timbul bintil-bintil di bagian luar alat kelamin yang bentuknya memerah dan membengkak. Virus ini juga bisa menulari bagian tubuh lain seperti mulut.

Sifilis (Penyakit raja singa)
Penderita HIV yang memiliki penyakit sifilis atau penderita sifilis saja gejalanya tidak berbeda dan tidak menunjukkan gejala yang khas. Perjalanan penyakit ini lebih lambat dalam arti penyakit ini bisa menetap lama di stadium yang sama, serta hasil serologi bisa tidak sesuai dengan stadiumnya. "Namun seringkali seseorang yang mengalami kondisi ini disertai dengan adanya kelainan pada matanya," ujar staf pengajar divisi infeksi menular seksual departemen kulit dan kelamin FKUI/RSCM. Dr Farida menyarankan penderita positif HIV yang memiliki sifilis memeriksakan diri ke bagian saraf, mata dan pendengaran.
Jika ditemukan tanda bercak-bercak merah di telapak tangan dan kulit yang tidak gatal patut dicurigai sebagai sifilis.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:58 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Sun Jun 13, 2010 4:23 pm

LELAKI SEKS LELAKI, INILAH PENDERITA AIDS YANG TERSEMBUNYI
Kamis, 12/11/2009 16:40 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Para pria yang melakukan Lelaki Seks Lelaki (LSL) sebenarnya tidak mempunyai orientasi seksual terhadap lelaki. Tapi karena kondisilah yang membuat dirinya menjadi LSL. Kelompok ini diduga banyak mengidap HIV AIDS namun sulit dideteksi jumlahnya karena tersembunyi. Selama ini penderita HIV AIDS yang terdeteksi adalah dari kelompok wanita pekerja seksual (WPS), waria, pelanggan WPS dan gay. Sedangkan LSL sulit diidentifikasi karena mereka sangat merahasiakannya dan hanya mau berinteraksi dengan komunitasnya.

Perilaku LSL banyak ditemui di komunitas yang mayoritas banyak lelakinya seperti di asrama, penjara, pekerja di tengah laut. Hasrat seksual LSL dengan pasangan wanita tidak tersalurkan karena kondisi lingkungannya tidak ada wanita. "LSL ini adalah suatu kelompok atau sub masyarakat yang paling tersembunyi (hidden) sehingga sulit sekali untuk diidentifikasi," ujar Dr Kemal N Siregar PhD, deputi sekretaris Komisi Pemberantasan AIDS Nasional dalam acara seminar mempercepat target 100 hari sektor kesehatan serta akses universal untuk HIV-AIDS, di Hotel Akmani, Jakarta, Kamis (12/11/2009).

Kemal menambahkan yang bisa berkomunikasi dengan kalangan LSL hanya dari kelompok itu sendiri, sehingga dibutuhkan pengembangan jaringan agar bisa masuk ke komunitas LSL ini. Diperkirakan sampai saat ini terdapat sekitar 1 juta LSL dan kelompok ini juga sangat berisiko terkena AIDS atau penyakit infeksi menular seksual (IMS lainnya.

Sampai saat ini jumlah LSL yang sudah teridentifikasi terkena AIDS baru sekitar 9 persen saja, tapi diperkirakan prevalensi penderita AIDS pada kelompok ini sebenarnya tinggi dan diketahui kelompok ini ada di hampir tiap daerah mulai dari Jakarta, Bandung, Surabaya hingga daerah-daerah lainnya.
"Risiko LSL terkena AIDS lebih tinggi dibanding wanita yang seks dengan wanita, karena pada LSL ini mudah sekali terjadi luka akibat tidak ada lubrikannya sehingga kemungkinan infeksinya lebih besar," tambahnya.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 4:24 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Mon Jun 14, 2010 8:39 am

PEMBELI SEKS SULIT TERJANGKAU PROGRAM
Senin, 14 Juni 2010 | 06:26 WIB
KOMPAS IMAGES/DHONI SETIAWAN
Jakarta, Kompas - Pembeli seks sulit terjangkau program pengendalian HIV/AIDS. Padahal, penularan melalui hubungan seksual kembali menjadi cara penularan HIV tertinggi di Indonesia. ”Jumlah perempuan pekerja seks komersial sekitar 20.000 di Indonesia dan pelanggannya sekitar 2 juta orang. Itu belum terjamah oleh Kementerian Kesehatan,” ujar Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih. Hal itu diungkapkan Endang saat membuka seminar nasional ”How to Deal with HIV/AIDS” di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Sabtu (12/6). Hal mendasar, seperti pendataan akurat terhadap pekerja seks komersial dan pelanggannya, bukan hal mudah. Mereka tidak terlokalisasi di tempat-tempat tertentu dan masuk-keluarnya perempuan ke pekerjaan tersebut terbilang tinggi.

Tidak mudah mengintervensi pembeli seks dengan program- program pemerintah karena menjadi sangat sensitif dan dapat menuai kemarahan berbagai pihak. Cara tidak langsung, seperti menyediakan ATM kondom, juga belum dapat diterima sepenuhnya oleh masyarakat lantaran dikhawatirkan mendorong perilaku seks bebas. Padahal, pembeli seks yang berhubungan seksual tidak aman berisiko tinggi tertular HIV dan menjadi penular. Sekitar 49 persen penularan HIV melalui hubungan seksual hetero; lewat jarum suntik di kalangan pengguna narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lain (napza); lelaki berhubungan seks dengan lelaki; dan perinatal.

Endang, yang mengarang buku Perempuan-Perempuan Kramat Tunggak, terkait fenomena HIV/AIDS dan penyakit menular seksual di dalamnya itu, mengatakan, pengendalian HIV/AIDS tidak semata persoalan kesehatan secara langsung. Sering kali persoalan HIV/AIDS terkait dengan masalah sosial, budaya, dan ekonomi. Dalam kesempatan itu, Endang mengajak berbagai organisasi dan elemen yang ada di masyarakat bersama-sama mengendalikan HIV/AIDS.

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Ratna Sitompul mengatakan, HIV/AIDS termasuk pandemi yang destruktif. Penyakit itu menyebabkan kematian 25 juta orang di seluruh dunia sampai akhir tahun 2009, menurut laporan UNAIDS. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan, Indonesia sebagai negara dengan peningkatan prevalensi tercepat di Asia. (INE)
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Mon Jun 14, 2010 8:41 am

ATM KONDOM GAGAL KURANGI ANGKA HIV
Kamis, 12/11/2009 17:55 WIB Nurul Ulfah - detikHealth
Jakarta, ATM kondom yang dibuat pemerintah sejak tahun 2003 ternyata dalam perkembangannya gagal menekan angka penularan HIV. Dari 42 ATM kondom yang dibuat tahun 2003 hanya 3 hingga 4 ATM yang sampai sekarang masih jalan. Lokasinya di Jakarta 1 dan di Papua 3. Usaha pemerintah untuk mengurangi penularan HIV dan penyakit menular seksual lainnya dengan membuat ATM kondom pun gagal. Jumlah penderita HIV kian meningkat tajam hingga tahun ini.

Hal itu disampaikan oleh Dr Sugiri Syarief, Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Pusat dalam acara yang digelar untuk menyambut Pekan Kondom Nasional dan Hari AIDS Sedunia 2009 di FX mall Jakarta, Kamis (12/11/2009). "Dari 42 ATM kondom yang kita bangun pada tahun 2003 silam, hanya 3 hingga 4 ATM yang sampai sekarang masih jalan. Paling banyak yang masih aktf ada di Papua. Di Jakarta masih ada satu, tapi saya nggak akan kasih tahu tempatnya," ujar Sugiri.

Kurang berhasilnya ATM kondom mengurangi jumlah penderita HIV disebabkan karena masih rendahnya kesadaran masyarakat untuk menggunakan kondom. "Padahal kita sudah pasang di tempat-tempat berisiko seperti di dekat lokalisasi. Tapi ternyata itu tidak berkembang," kata Sugiri. Banyak orang yang malu membeli kondom di tempat umum. Hal itu jugalah yang menyebabkan ATM kondom tidak laku. Meski demikian, sebagai duta kondom Indonesia, Julia Perez yang hadir pada acara tersebut justru masih menganggap ATM kondom penting.

"Justru lebih banyak orang yang malu ke supermarket. Kalau menurut saya, ATM kondom adalah solusi tepat biar orang nggak malu lagi beli kondom. Di luar negeri sana, anak umur 12 tahun saja sudah punya kondom di dompetnya. Mereka selalu bawa untuk jaga-jaga. You'll never know," tutur Jupe, sapaan akrab Julia Perez.

Hingga Juni 2009, Departemen Kesehatan mencatat ada 18.442 orang terkena AIDS dan 28.260 yang terinfeksi HIV. Jumlah ini terus meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2006 jumlahnya adalah 13.424 kasus dengan 1.871 orang. "Bisa dibayangkan jika tidak ada tindakan pencegahan, angka itu bisa terus melonjak," ujar Sugiri.

Menurut Sugiri, yang jauh lebih penting daripada ATM kondom adalah pola pikir masyarakat. "Meski nggak ada ATM kondom, harusnya kalau orang itu sadar dan peduli akan kesehatan dirinya dan orang lain, dia akan beli kondom dimana saja," kata Sugiri. Untuk itu, dalam rangka menyambut Pekan Kondom Nasional ke-3 dan hari AIDS Sedunia 2009, pemakaian kondom harus digalakkan untuk menekan penyebaran virus HIV penyebab AIDS dan juga penyakit-penyakit lainnya.

"Kondom bukan dipromosikan untuk melegalkan seks bebas, tapi untuk melindungi orang yang tidak bersalah, seperti istri yang suaminya punya penyakit atau untuk menunda kehamilan. Persepsi negatif masyarakat harus dihilangkan. Dan jangan menyangkutpautkannya dengan masalah agama," ujar Todd Callahan selaku Country Director untuk DKT (Dharmendra Kmar Tyagi) Indonesia, perusahaan yang memproduksi kondom.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 4:26 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: HIV - AIDS   Mon Jun 14, 2010 8:43 am

MITOS HIV / AIDS
Apakah gigitan nyamuk membawa risiko terinfeksi HIV?
HIV tidak menyebar melalui gigitan nyamuk atau gigitan serangga lainnya. Bahkan bila virus masuk ke dalam tubuh nyamuk atau serangga yang menggigit atau mengisap darah, virus tersebut tidak dapat mereproduksi dirinya dalam tubuh serangga. Karena serangga tidak dapat terinfeksi HIV, serangga tidak dapat menularkannya ke tubuh manusia yang digigitnya.

Apakah saya harus khawatir tertular HIV saat melakukan kegiatan olah raga?
Tidak terdapat bukti bahwa HIV dapat ditularkan ketika seseorang melakukan olah raga.
Bisakah saya terkena HIV dari bersentuhan secara biasa? (berjabat tangan, berpelukan, menggunakan toilet, minum dari gelas yang juga digunakan oleh seseorang yang terkena HIV, atau berada berdekatan dengan seseorang yang terinfeksi yang sedang bersin atau batuk)?
HIV tidak ditularkan oleh kontak sehari-hari dalam kegiatan sosial, di sekolah, ataupun di tempat kerja. Anda tidak dapat terinfeksi lantaran anda berjabat tangan, berpelukan, menggunakan toilet yang sama atau minum dari gelas yang sama dengan seseorang yang terinfeksi HIV, atau terpapar batuk atau bersin penyandang infeksi HIV.

Apakah HIV hanya menjangkiti kaum homoseksual dan pengguna narkoba saja?
Tidak. Setiap orang yang melakukan hubungan seks yang tak terlindungi, berbagi penggunaan alat suntikan, atau diberi transfusi dengan darah yang terkontaminasi dapat terinfeksi HIV. Bayi dapat terinfeksi HIV dari ibunya selama masa kehamilan, selama proses persalinan, atau setelah kelahiran melalui pemberian air susu ibu. Sebanyak 90% kasus HIV merupakan akibat dari penularan seksual dan 60-70%kasus HIV terjadi di kalangan heteroseksual.

Apakah kita dapat mengetahui bahwa seseorang terkena HIV hanya dengan melihat dari penampilannya?
Kita tidak dapat mengetahui bahwa seseorang menyandang HIV atau AIDS hanya dengan melihat penampilan mereka. Seseorang yang terinfeksi HIV bisa saja nampak sehat dan merasa baik-baik saja, namun mereka tetap dapat menularkan virus itu ke anda. Tes darah merupakan satu-satunya cara untuk mengetahui apakah seseorang terinfeksi HIV atau tidak.

Bisakah saya terjangkit lebih dari satu infeksi menular seksual (IMS) pada saat yang bersamaan?
Ya. Anda dapat terkena lebih dari satu infeksi penyakit menular (IMS) pada saat yang bersamaan. Masing-masing infeksi memerlukan pengobatannya sendiri. Anda tidak dapat menjadi kebal terhadap IMS. Anda juga dapat terkena infeksi yang sama berkali-kali. Banyak pria dan wanita yang tidak merasa atau melihat gejala awal apapun ketika mereka pertama kali terinfeksi dengan IMS, kendatipun mereka masih bisa menulari pasangan seksualnya.

Ketika seseorang sedang menjalani terapi antiretroviral, dapatkan dia menularkan HIV kepada orang lain?
Terapi antiretroviral tidak dapat mencegah penularan virus ke orang lain. Terapi dapat membantu menurunkan jumlah virus ke tingkat yang tidak terdeteksi, namun HIV masih tetap ada dalam tubuh, dan dapat ditularkan ke orang lain melalui hubungan seksual, dengan bergantian memakai peralatan suntikan, atau melalui ibu yang menyusui bayinya.

©2010, Komisi Penanggulangan AIDS Nasional


Last edited by gitahafas on Tue Jul 27, 2010 4:53 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
 

HIV - AIDS

View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 13Goto page : Previous  1, 2, 3, ... 11, 12, 13  Next

 Similar topics

-
» AIDS - Where Did AIDS Come From?
» Keningau banyak AIDS
» NEW AND OLD RESEARCH ON HIV-AIDS VIRUS -
» Condom versus HIV / AIDS
» Lebih 87000 AIDS di Malaysia sejak 1986

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-