|
| |
| Author | Message |
|---|
Ali Alkatiri Administrator


Number of posts: 1044 Age: 54 Location: Jakarta Registration date: 2008-08-27
 | Subject: HIV - AIDS Sat Nov 22, 2008 9:54 pm | |
|  Bone-marrow cell MedicalRF.com / Getty The human immunodeficiency virus (HIV) is a pathogen so wily and protean that researchers rarely talk about curing infected patients, focusing instead on treatment and prevention. But in an announcement that caused a flutter of excitement and a wave of prudent skepticism, Berlin-based hematologist Gero Huetter claimed on Thursday that he has cured an HIV infection in a 42-year-old man through a bone-marrow transplant. The patient, a U.S. citizen living in Germany, was suffering from advanced leukemia and HIV two years ago when Huetter treated the cancer with a bone-marrow transplant at Berlin's Charité hospital. As a side experiment, he inserted the bone marrow of a donor naturally resistant to HIV, the virus that causes AIDS. (Researchers have long known that about 1% of Europeans carry a genetic mutation that makes their cells resistant to HIV infection.) Bone marrow produces the cells that HIV attacks. So, the thinking went, inserting marrow that produces HIV-resistant cells might endow the patient with a means to repel the infection. Twenty months after the transplant, Huetter says, the man shows no signs of carrying the virus. Is this a viable cure for HIV? Not by a long shot. Even Huetter says bone-marrow transplants, which kill about a third of patients, are so dangerous that "they can't be justified ethically" in anything other than desperate situations like late-stage leukemia. Nor is it clear that Huetter's claim to have cured his patient is yet justified. HIV has a frustrating ability to hide in hard-to-detect "reservoir" cells in various parts of the body. Current antiviral drugs, for example, can lower a patient's "viral load" to the point that HIV is undetectable in his or her bloodstream. But as soon as such patients are taken off antivirals, the virus comes storming back. Huetter's patient has not received antivirals for two years and remains virus-free even in the known HIV hiding spots of brain and rectal tissue, according to Huetter's tests. But many researchers remain skeptical about whether these tests have been thorough enough. Dr. Andrew Badley, director of the HIV and immunology research lab at the Mayo Clinic, told the Associated Press, "A lot more scrutiny from a lot of different biological samples would be required to say it's not present." But there might be a glimmer of hope in the case. If the transplant does prove to have been a success and can be replicated, researchers say gene therapists might one day be able to re-engineer a patient's cells to change their bone marrow the same way a transplant does, except without the dangers. Such a breakthrough, if it proves possible, would be "decades rather than years away," according to Ade Fakoya, a London-based clinician and senior adviser to the nonprofit Aids Alliance. The treatment would also likely prove too expensive to implement in developing countries where HIV rates are highest, although some proponents of gene therapy say it could eventually be done cheaply through an injection, as with vaccines. Rob Noble of the British AIDS charity Avert says recent setbacks for research into an AIDS vaccine, along with multiple false hopes in the search for a cure, have caused many in the HIV activism community to view Huetter's experiment warily. For many AIDS activists, bone-marrow transplantation is a loaded procedure that evokes a traumatic past: before antivirals were widely introduced in the 1990s, it was one of the aggressive and often fatal procedures doctors tried in their desperate effort to halt the epidemic; some of these transplants even used marrow harvested from baboons. In light of that pessimism about curing HIV in patients, Huetter's announcement was barely discussed at a major international HIV conference in Glasgow today, according to Fakoya, who was attending the event. He said greater attention was paid to more prosaic methods of defense, such as early identification and testing programs. "I'm in the conservative camp — I don't think there will be a cure," he says. "But if you look at antiviral treatment, data was provided at this conference confirming that you can live 30 years on [antiviral-drug] therapy, especially if it's initiated soon after infection. We are getting to a stage where HIV can be managed as a chronic illness. Now, that's not great, but I have a feeling it's the best we can do for the foreseeable future." By Eben Harrell / London Thursday, Nov. 13, 2008TIME magazine _________________
The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.
Last edited by Ali Alkatiri on Fri Dec 18, 2009 2:39 pm; edited 1 time in total |
|  | | Ali Alkatiri Administrator


Number of posts: 1044 Age: 54 Location: Jakarta Registration date: 2008-08-27
 | Subject: Lebih Dini Mengobati, Lebih Baik Hasilnya Thu Sep 03, 2009 12:30 pm | |
| Lebih Dini Mengobati, Lebih Baik Hasilnya
Kamis, 3 September 2009 | 03:07 WIB
Evy Rachmawati
HIV kini bukan akhir segalanya. Dengan kemajuan diagnosis dan terapi antiretroviral sejak dini, orang yang terinfeksi HIV memiliki harapan hidup lebih panjang dan bisa menjalani hidup yang produktif. Bahkan, konsumsi obat-obatan itu mampu mencegah penularan virus ganas tersebut dari ibu ke bayinya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, sekitar 33 juta orang kini hidup dengan HIV dan lebih dari 30 juta di antaranya tinggal di negara-negara berpendapatan menengah ke bawah.
Dari total jumlah itu, diperkirakan sedikitnya 9,7 juta orang butuh obat-obatan antiretroviral (ARV). Pada akhir tahun 2008 sekitar 4 juta orang di negara berkembang menerima ARV. Sekitar 285.000 anak menerima manfaat dari program ARV pada anak atau meningkat 45 persen daripada tahun sebelumnya.
Meski tidak bisa menyembuhkan, terapi ARV bisa memperpanjang hidup pengidap HIV positif dan membuat mereka hidup lebih produktif. Terapi ini mampu mengurangi jumlah virus HIV dalam darah dan meningkatkan jumlah sel CD4 positif (jumlah limfosit yang melindungi tubuh dari infeksi).
Obat-obatan ARV digunakan dalam terapi untuk infeksi HIV. Obat-obatan ini melawan infeksi dengan memperlambat replikasi virus HIV dalam tubuh. Ini berarti menghambat penyebaran virus dengan mengganggu proses reproduksi virus.
Dalam sel yang terinfeksi, virus memperbanyak diri sehingga bisa menginfeksi sel-sel lain yang masih sehat. ”Makin banyak sel terinfeksi, kekebalan tubuh kian turun,” kata Prof Samsuridjal Djauzi, Ketua Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia, yang juga guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.
Untuk mereplikasi diri, HIV butuh enzim reverse transcriptase. Obat-obatan ARV memperlambat kerja enzim itu dan mengacaukan replikasi virus dengan mengikat enzim tersebut untuk menghentikan produksi virus baru. Obat-obatan itu juga menghambat protease-enzim pencernaan pemecah protein dan enzim dalam sel terinfeksi.
Sejak tahun 1987, terapi ARV dengan Zidovudine telah dirintis di Indonesia diikuti kombinasi Azidothymidine (AZT) dan Lamivudine. Pada tahun 1996 terapi kombinasi dari tiga atau lebih obat ARV dinilai lebih efektif daripada aspek imunologi, virologi, epidemiologi. Obat-obatan ARV amat terbatas jumlahnya, antara lain Zidovudine, Lamivudine, Nevirapine, dan Efavirenz.
Apabila menggunakan satu obat, dalam beberapa waktu bisa terjadi resistensi virus terhadap obat itu. Akibatnya, obat jadi tak efektif dan terjadi lagi replikasi virus. ”Penggunaan ARV dalam kombinasi tiga atau lebih obat-obatan menurunkan kematian dan penyakit penyerta terkait AIDS,” ujar Samsuridjal.
Terapi kombinasi dari tiga atau lebih obat ARV (highly active anti-retroviral therapy/HAART) biasanya terdiri dari dua obat yang bekerja menghambat enzim reverse transcriptase dan satu obat penghambat protease.
Dalam Kongres Internasional AIDS Asia Pasifik, di Bali, 9-13 Agustus, terungkap, kini terapi ARV diupayakan diberikan lebih dini. Selama ini ARV biasanya diberikan ketika CD4 kurang dari 200. Belakangan WHO merekomendasikan ARV diberikan jika CD4 kurang dari 350.
Jika CD4 di bawah 200, risiko terkena infeksi oportunistik tinggi, misalnya, tuberkulosis, jamur, dan diare. Seseorang dinyatakan AIDS jika CD4 di bawah 200 tanpa gejala atau CD4 di atas 200 dengan infeksi oportunistik. ”Orang terinfeksi HIV umumnya meninggal karena infeksi oportunistik,” tambahnya.
”Bila ARV diberikan ketika CD4 di bawah 350, infeksi oportunistik bisa dicegah sehingga beban biaya pengobatan dan biaya perawatan di rumah sakit bisa ditekan,” ujarnya. Tantangan pengobatan adalah efek samping dan resistensi virus terhadap ARV karena obat-obatan dikonsumsi seumur hidup.
Pencegahan
Sejumlah bukti yang dipaparkan dalam situs WHO menunjukkan, program terapi ARV dapat diimplementasikan sebagai satu cara yang menekankan pada pencegahan HIV.
Terapi kombinasi ARV untuk menekan jumlah virus yang didukung perubahan perilaku mengurangi penularan HIV. Meski perlu studi lanjutan tentang dampak ARV pada prevalensi HIV di tingkat populasi, terapi ini sebaiknya menjadi bagian dari pencegahan HIV terintegrasi dan komprehensif. Ini bisa meningkatkan efektivitas biaya terapi di negara berkembang.
”ARV efektif untuk pencegahan,” kata Ketua Sentra Layanan Informasi Drugs, HIV/AIDS, dan Reproduksi (Sandar) Prof Djubairi Djoerban. Sejumlah studi menyebutkan, kelompok yang minum ARV pasangannya tidak tertular HIV, prevalensi pasangan turun dari 10,3 persen menjadi 1,9 persen. Orang dengan HIV yang minum ARV risiko penularan turun 80 persen.
Apabila ibu hamil HIV positif minum ARV, risiko penularan ke bayinya sekitar 2 persen dan jika tidak minum ARV, risikonya mencapai 30 persen. ”Obat-obatan ARV mencegah penularan HIV pada petugas kesehatan,” kata Samsuridjal.
Mengingat pentingnya terapi ARV, akses terhadap terapi ini perlu ditingkatkan. Caranya dengan menambah anggaran negara untuk ARV, memproduksi ARV dalam negeri agar pasokan berkesinambungan.
Kini ada paradigma baru tes HIV. Selama ini tes HIV dan konseling sukarela sehingga banyak orang baru tahu terinfeksi HIV ketika mengalami infeksi oportunistik. Agar bisa diterapi lebih dini, sejumlah negara mulai menerapkan tes HIV atas inisiatif penyedia layanan kesehatan dengan persetujuan pasien dan kerahasiaan hasil tes terjaga.
Kompas cetak _________________
The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.
|
|  | | Ali Alkatiri Administrator


Number of posts: 1044 Age: 54 Location: Jakarta Registration date: 2008-08-27
 | Subject: Jumlah Kasus AIDS Menjadi 8 Kali Lipat dalam Kurun 5 Tahun Thu Nov 12, 2009 11:09 am | |
| Jumlah Kasus AIDS Menjadi 8 Kali Lipat dalam Kurun 5 Tahun Rabu, 11 November 2009 | 05:19 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Kasus AIDS meningkat selama lima tahun terakhir. Jumlah kasus menjadi delapan kali lipat, yakni dari 2.684 kasus pada tahun 2004 menjadi 17.699 kasus pada pertengahan 2009. Penanganan HIV/AIDS bagian dari program 100 hari Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih untuk pengendalian penyakit menular, yang dipaparkan dalam rapat kerja dengan Komisi IX DPR yang berlangsung 9 dan 10 November 2009. Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan penurunan daya tahan tubuh seseorang yang disebabkan human immuno deficiency virus (HIV). Rasio penderita antara laki-laki dan perempuan adalah tiga berbanding satu. Virus tersebut merusak sistem kekebalan tubuh manusia yang mengakibatkan menurunnya, bahkan, hilangnya daya tahan tubuh. Indonesia merupakan salah satu negara di Asia yang mengalami epidemi HIV/AIDS dengan prevalensi meningkat tajam. Sejumlah upaya dilakukan, tetapi belum menunjukkan penurunan. Proporsi kasus tertinggi pada kelompok umur produktif 20-29 tahun (50,07 persen) dan 30-39 tahun. Kasus AIDS terbanyak di Jawa Barat, DKI Jakarta, Papua, Jawa Timur, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Kepulauan Riau. Menkes Endang mengatakan, penanggulangan HIV/AIDS memerhatikan nilai-nilai agama dan budaya serta norma kemasyarakatan. Selain itu, terdapat upaya terpadu peningkatan perilaku hidup sehat, pencegahan penyakit, pengobatan dan perawatan berdasarkan fakta ilmiah, serta dukungan terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Selain itu, disiapkan reagent HIV untuk pengamanan darah (950.000 tes), surveilans (200.000 tes), dan diagnostik (1 juta tes). Saat ini jumlah layanan voluntary, counseling, and testing telah tersebar di 190 rumah sakit, 14 rumah sakit jiwa, 119 puskesmas, 115 lembaga swadaya masyarakat, dan 30 lembaga pemasyarakatan. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Adhitama mengatakan bahwa kesulitan menahan laju peningkatan penularan HIV/AIDS, antara lain, karena terkait berbagai faktor, seperti perilaku, keyakinan, norma, budaya, dan masalah sosial. Untuk menahan laju penularan, dibutuhkan peran masyarakat secara luas. Dalam paparan di DPR, disebutkan upaya pencegahan yang efektif memutuskan rantai penularan HIV pada kelompok berisiko tertentu, antara lain, dengan promosi alat atau jarum suntik steril serta terapi rumatan metadon. Lainnya ialah promosi kondom terutama di lokalisasi. ”Untuk persoalan di hilir atau bagi orang dengan HIV/AIDS dengan penyediaan ARV,” ujar Tjandra. Untuk ODHA, telah ada penyediaan antiretroviral (ARV) secara berkesinambungan. Dalam program 100 hari, disediakan ARV untuk 16.000 ODHA. Sementara itu, di Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, sebanyak 34 kasus HIV/AIDS ditemukan selama dua tahun terakhir. Dua di antaranya balita berusia dua tahun dan dua bulan. Kedua balita tersebut positif mengidap HIV karena tertular ibunya. Berdasarkan data Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Kabupaten Tegal, dari 34 pengidap HIV/AIDS, 13 orang meninggal dunia, sementara tujuh lain hingga saat ini masih mendapatkan terapi ARV. Petugas Penyuluh HIV/AIDS PKBI Kabupaten Tegal, Panji Adi, mengatakan, kasus-kasus HIV/AIDS tersebut ditemukan dari hasil voluntary, counseling, and testing. ( INE/WIE) Editor: jimbon Sumber : Kompas Cetak _________________
The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.
|
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Dec 05, 2009 8:07 pm | |
| PERJALANAN PANJANG HIV/AIDS Selasa, 1 Desember 2009 | 16:00 WIB KOMPAS.com - Situasi epidemi HIV/AIDS di dunia terus mengkhawatirkan. Penyakit ini telah membunuh lebih dari 25 juta manusia sejak tahun 1981. Jumlah tersebut merupakan setengah dari korban tewas dalam Perang Dunia II. Yang perlu dicatat, jumlah ini belum berhenti. Diperkirakan 33 juta orang di dunia hidup dengan HIV. Bagaimana perjalanan penyakit ini?
Sekitar tahun 1900, dari monyet ke manusia Antara tahun 1884 dan 1924, di sebuah lokasi dekat Kinshasa di sebelah barat Afrika, seorang pemburu menembak simpanse. Sebagian darah hewan itu masuk ke dalam tubuh manusia, diduga melalui luka terbuka. Darah tersebut membawa virus yang tidak berbahaya untuk simpanse namun mematikan bagi manusia, itulah HIV. Virus ini menyebar lewat koloni manusia. Meski telah menimbulkan kematian, namun sebab kematian masih dianggap karena penyebab lain.
1981, kasus pertama dikenali Pada bulan Juni, Center for Disease Control (CDC), Amerika Serikat, mempublikasikan laporan dari Los Angeles mengenai lima orang pria homoseksual yang sekarat karena PCP pneumonia. Kasus ini sebelumnya belum pernah ditemukan pada manusia yang memiliki sistem imun lengkap. Kini diketahui PCP merupakan infeksi yang menjadi penyebab utama kematian pada orang yang menderita AIDS. Di bulan Juli, CDC kembali melaporkan penyakit kanker kulit yang tidak biasa, yakni Kaposi sarcoma (KS), yang menyebabkan kematian pria muda yang sehat di New York City dan California.
1982 CDC menyebut penyakit baru itu disease acquired immune deficiency syndrome atau AIDS (sekumpulan gejala penyakit yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia). AIDS juga ditemui pada orang yang menderita hemofilia (gangguan pembekuan darah). Hal ini menguatkan dugaan para ilmuwan bahwa penyakit ini menyebar lewat infeksi dari darah yang terkontaminasi. Di tahun ini pula sekelompok pria gay membentuk organisasi pendampingan.
1983 - CDC memperingatkan AIDS menyebar lewat hubungan seks dan bisa ditularkan dari ibu kepada bayinya. - Luc Montagnier, peneliti dari Pasteur Institute dan Francoise Bare-Sinoussi mengisolasi virus dari kelenjar limfa yang bengkak dari pasien AIDS. Mereka menyebutnya lymphadenopathy-associated virus atau LAV. Kemudian peneliti Jay Levy mengisolasi ARV yang terkait dengan virus AIDS. Sebelum tahun 1986, semua ilmuwan sepakat menyebut virus ini HIV, human immunodeficiency virus.
1985 Mekanisme pengujian darah untuk menguji HIV diresmikan dan menjadi sarana skrining yang populer. Di tahun ini pula dilakukan konferensi internasional AIDS yang pertama.
1989 Para ilmuwan menemukan bahwa sebelum gejala AIDS timbul, HIV bisa mereplikasi secara luas dalam darah. Oleh karena itu target pengobatan HIV adalah menjaga agar HIV tetap rendah.
1991-1992 - Pita merah pertama kali diperkenalkan sebagai simbol solidaritas AIDS. - Pemain basket Magic Johnson mengumumkan ia positif HIV. - Vokalis grup band Queen, Freddy Mercury meninggal karena AIDS. - AIDS menjadi penyebab utama kematian orang berusia 25-44 tahun di AS.
1996-1997 Sebuah penemuan besar dalam bidang AIDS. Peneliti David Ho, memperkenalkan highly active anti-retroviral therapy atau HAART yang bisa mengurangi jumlah virus HIV pada kadar yang tak bisa dideteksi, bahkan bisa mengusir virus ini dari tubuh. Nyatanya ia salah. Di kemudian hari diketahui bahwa HIV bersembunyi dalam sel dorman.
1998-2000 Para ahli mulai menyadari berbagai efek samping dari HAART. Para ilmuwan pun berusaha menemukan obat AIDS yang lebih kuat, aman, mudah, dan efektif. Namun hingga saat ini masih tetap belum ditemukan obat AIDS.
2003-2005 Pemerintah AS menggunakan industri video porno untuk menyebarluaskan pentingnya penggunaan kondom untuk mencegah penularan HIV.
2006-2007 - Perusahaan vaksin Merck's gagal dalam percobaan vaksin AIDS. Meski begitu kandidat vaksin lain terus diusahakan oleh berbagai perusahaan vaksin. - UNAIDS merekomendasikan sunat pada pria setelah penelitian menunjukkan hal ini efektif mengurangi penularan HIV khususnya pada daerah yang rawan.
2008 - Infeksi HIV lebih banyak terjadi pada pria yang melakukan hubungan seks dengan sesama jenis. - Luc Montagnier dan Francoise Barre-Sinoussi mendapat hadiah Nobel karena usahanya menemukan HIV. - Lebih dari 33 juta orang hidup dengan HIV, 3 juta di antaranya mendapatkan terapi.
2009 AIDS masih jadi musuh bersama.
Last edited by gitahafas on Sat Jul 17, 2010 5:07 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Fri Dec 25, 2009 7:58 pm | |
| H I V ( HUMAN IMMUNODEFICIENCY VIRUS ) Adalah virus yang dapat merusak sistim kekebalan tubuh manusia. HIV yang menginfeksi manusia ada 2 yaitu HIV-1 dan HIV-2, tetapi HIV-1 lebih ganas, sangat mudah bermutasi, dan lebih mudah menular.
Secara umum HIV ditularkan melalui cairan tubuh, antara lain: 1. Darah 2. Air mani 3. Cairan vagina 4. ASI
Penularan terjadi melalui: 1. Hubungan sex 2. Pemberian transfusi darah 3. Pemakaian jarum suntik yang tidak steril 4. Wanita hamil dapat menularkan kepada bayinya selama masa kehamilan atau persalinan atau juga masa menyusui.
Infeksi HIV dapat diketahui dengan pemeriksaan adanya antibodi HIV. Saat orang terinfeksi HIV maka tubuh akan mengeluarkan zat penangkal virus / kuman yang disebut antibodi. Adanya antibodi terhadap HIV dalam tubuh menunjukkan adanya infeksi virus tersebut. Pembentukan antibodi ini memerlukan waktu 3-8 minggu. Periode sebelum antibodi terbentuk dan dapat didetekksi dikenal dengan nama window period / masa jendela. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan sampel darah, air liur atau air seni. Diagnosis infeksi HIV harus dilakukan dengan hati hati karena dapat menimbulkan dampak yang besar pada orang yang di diagnosis.
Ada 3 kemungkinan hasil yang akan terjadi, yaitu: 1. Hasil test negatif dan bukan dalam periode jendela. Hal ini bukan berarti bebas HIV bila masih ber perilaku resiko tinggi. 2. Hasil test negatif dan dalam periode jendela. Berarti ulang test tersebut 3 bulan kemudian untuk kepastian status HIV nya dan dalam pada itu ubah perilaku resiko tinggi. 3. Hasil test positif. Bukan berarti mati. Perlu konseling tentang pengobatan.
Fase perkembangan HIV sampai menjadi AIDS 1. Infeksi utama dimana pengidap HIV tidak menyadari dengan segera bahwa mereka telah terinfeksi HIV. 2. Fase asimptomatik / fase tanpa gejala, dimana gejala tidak tampak tapi virus tetap aktif. 3. Fase simptomatik / fase gejala, dimana seseorang mulai merasa kurang sehat dan mengalami infeksi infeksi oportunistik yang bukan HIV, melainkan disebabkan oleh bakteri dan virus virus yang berada di sekitar kita. 4. AIDS, yang berarti kumpulan penyakit yang disebabkan oleh virus HIV, merupakan fase akhir.
AIDS ( ACQUIRED IMMUNO DEFICIENCY SYNDROME ) Merupakan kumpulan berbagai gejala dan infeksi sebagai akibat hilangnya sistim kekebalan tubuh yang disebabkan infeksi virus HIV. Jadi HIV merupakan penyebab dasar dari AIDS.
Infeksi yang sering terjadi: 1. Kandidiasis mulut - esofagus ( jamur yang timbul didaerah mulut dan tenggorok ). 2. T B C. 3. Infeksi sitomegalo virus 4. Ensefalitis toxoplasma 5. Radang paru ( Pneumonia P.carinii ). 6. Herpes Simplex. 7. Histoplasmosis paru.
Kanker yang terkait dengan AIDS adalah: 1. Sarkoma Kaposi 2. Limfoma Malignum. 3. Kanker leher rahim.
Gejala AIDS yang muncul: 1. Demam lama. 2. Batuk. 3. Penurunan berat badan. 4. Sariawan dan nyeri menelan. 5. Diare. 6. Sesak napas. 7. Pembesaran Kelenjar Getah Bening. 8. Penurunan kesadaran. 9. Gangguan penglihatan. 10.Gangguan syaraf / neuropati. 11.Gangguan ke otak / enselopati.
Pengobatan HIV / AIDS 1. Pengobatan suportif 2. Pengobatan infeksi 3. Pengobatan antiretroviral ( ARV )
Sumber: Bunga RAmpai Masalah Kesehatan Iluni FKUI 1983
Last edited by gitahafas on Sat Jul 17, 2010 5:08 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sun Jan 03, 2010 5:12 pm | |
| H I V Infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah suatu infeksi oleh salah satu dari 2 jenis virus yang secara progresif merusak sel-sel darah putih yang disebut limfosit, menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) dan penyakit lainnya sebagai akibat dari gangguan kekebalan tubuh. Pada awal tahun 1980, para peneliti menemukan peningkatan mendadak dari 2 jenis penyakit di kalangan kaum homoseksual di Amerika. Kedua penyakit itu adalah sarkoma Kaposi (sejenis kanker yang jarang terjadi) dan pneumonia pneumokista (sejenis pneumonia yang hanya terjadi pada penderita gangguan sistem kekebalan).
Kegagalan sistem kekebalan tubuh yang mengakibatkan timbulnya 2 jenis penyakit yang jarang ditemui ini sekarang dikenal dengan AIDS. Kegagalan sistem kekebalan juga ditemukan pada para pengguna obat-obatan terlarang yang disuntikkan, penderita hemofilia, penerima transfusi darah dan pria biseksual. Beberapa waktu kemudian sindroma ini juga mulai terjadi pada heteroseksual yang bukan pengguna obat-obatan, bukan penderita hemofilia dan tidak menerima transfusi darah. AIDS sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat dengan lebih dari 500.000 orang terjangkit dan 300.000 meninggal sampai bulan Oktober 1995. WHO memperkirakan 30-40 juta penduduk dunia akan terinfeksi HIV pada tahun 2000.
PENYEBAB Terdapat 2 jenis virus penyebab AIDS, yaitu HIV-1 dan HIV-2. HIV-1 paling banyak ditemukan di daerah barat, Eropa, Asia dan Afrika Tengah, Selatan dan Timur. HIV-2 terutama ditemukan di Afrika Barat.
PERJALANAN PENYAKIT Supaya terjadi infeksi, virus harus masuk ke dalam sel, dalam hal ini sel darah putih yang disebut limfosit. Materi genetik virus dimasukkan ke dalam DNA sel yang terinfeksi. Di dalam sel, virus berkembangbiak dan pada akhirnya menghancurkan sel serta melepaskan partikel virus yang baru. Partikel virus yang baru kemudian menginfeksi limfosit lainnya dan menghancurkannya.
Virus menempel pada limfosit yang memiliki suatu reseptor protein yang disebut CD4, yang terdapat di selaput bagian luar. Sel-sel yang memiliki reseptor CD4 biasanya disebut sel CD4+ atau limfosit T penolong. Limfosit T penolong berfungsi mengaktifkan dan mengatur sel-sel lainnya pada sistem kekebalan (misalnya limfosit B, makrofag dan limfosit T sitotoksik), yang kesemuanya membantu menghancurkan sel-sel ganas dan organisme asing. Infeksi HIV menyebabkan hancurnya limfosit T penolong, sehingga terjadi kelemahan sistem tubuh dalam melindungi dirinya terhadap infeksi dan kanker.
Seseorang yang terinfeksi oleh HIV akan kehilangan limfosit T penolong melalui 3 tahap selama beberapa bulan atau tahun: 1. Seseorang yang sehat memiliki limfosit CD4 sebanyak 800-1300 sel/mL darah. Pada beberapa bulan pertama setelah terinfeksi HIV, jumlahnya menurun sebanyak 40-50%. Selama bulan-bulan ini penderita bisa menularkan HIV kepada orang lain karena banyak partikel virus yang terdapat di dalam darah. Meskipun tubuh berusaha melawan virus, tetapi tubuh tidak mampu meredakan infeksi. 2. Setelah sekitar 6 bulan, jumlah partikel virus di dalam darah mencapai kadar yang stabil, yang berlainan pada setiap penderita. Perusakan sel CD4+ dan penularan penyakit kepada orang lain terus berlanjut. Kadar partikel virus yang tinggi dan kadar limfosit CD4+ yang rendah membantu dokter dalam menentukan orang-orang yang beresiko tinggi menderita AIDS. 3. 1-2 tahun sebelum terjadinya AIDS, jumlah limfosit CD4+ biasanya menurun drastis. Jika kadarnya mencapai 200 sel/mL darah, maka penderita menjadi rentan terhadap infeksi.
Infeksi HIV juga menyebabkan gangguan pada fungsi limfosit B (limfosit yang menghasilkan antibodi) dan seringkali menyebabkan produksi antibodi yang berlebihan. Antibodi ini terutama ditujukan untuk melawan HIV dan infeksi yang dialami penderita, tetapi antibodi ini tidak banyak membantu dalam melawan berbagai infeksi oportunistik pada AIDS. Pada saat yang bersamaan, penghancuran limfosit CD4+ oleh virus menyebabkan berkurangnya kemampuan sistem kekebalan tubuh dalam mengenali organisme dan sasaran baru yang harus diserang.
PENULARAN Penularan HIV terjadi melalui kontak dengan cairan tubuh yang mengandung sel terinfeksi atau partikel virus. Yang dimaksud dengan cairan tubuh disini adalah darah, semen, cairan vagina, cairan serebrospinal dan air susu ibu. Dalam konsentrasi yang lebih kecil, virus juga terdapat di dalam air mata, air kemihi dan air ludah.
# HIV ditularkan melalui cara-cara berikut: Hubungan seksual dengan penderita, dimana selaput lendir mulut, vagina atau rektum berhubungan langsung dengan cairan tubuh yang terkontaminasi # Suntikan atau infus darah yang terkontaminasi, seperti yang terjadi pada transfusi darah, pemakaian jarum bersama-sama atau tidak sengaja tergores oleh jarum yang terkontaminasi virus HIV # Pemindahan virus dari ibu yang terinfeksi kepada anaknya sebelum atau selama proses kelahiran atau melalui ASI.
Kemungkinan terinfeksi oleh HIV meningkat jika kulit atau selaput lendir robek atau rusak, seperti yang bisa terjadi pada hubungan seksual yang kasar, baik melalui vagina maupun melalui anus. Penelitian menunjukkan kemungkinan penularan HIV sangat tinggi pada pasangan seksual yang menderita herpes, sifilis atau penyakit menular seksual lainnya, yang mengakibatkan kerusakan pada permukaan kulit. Penularan juga bisa terjadi pada oral seks (hubungan seksual melalui mulut), walaupun lebih jarang.
Virus pada penderita wanita yang sedang hamil bisa ditularkan kepada janinnya pada awal kehamilan (melalui plasenta) atau pada saat persalinan (melalui jalan lahir). Anak-anak yang sedang disusui oleh ibu yang terinfeksi HIV bisa tertular melalui ASI. Beberapa anak tertular oleh virus ini melalui penganiayaan seksual. HIV tidak ditularkan melalui kontak biasa atau kontak dekat yang tidak bersifat seksual di tempat bekerja, sekolah ataupun di rumah. Belum pernah dilaporkan kasus penularan HIV melalui batuk atau bersin penderita maupun melalui gigitan nyamuk. Penularan dari seorang dokter atau dokter gigi yang terinfeksi terhadap pasennya juga sangat jarang terjadi.
GEJALA Beberapa penderita menampakkan gejala yang menyerupai mononukleosis infeksiosa dalam waktu beberapa minggu setelah terinfeksi. Gejalanya berupa demam, ruam-ruam, pembengkakan kelenjar getah bening dan rasa tidak enak badan yang berlangsung selama 3-14 hari. Sebagian besar gejala akan menghilang, meskipun kelenjar getah bening tetap membesar. Selama beberapa tahun, gejala lainnya tidak muncul. Tetapi sejumlah besar virus segera akan ditemukan di dalam darah dan cairan tubuh lainnya, sehingga penderita bisa menularkan penyakitnya. Dalam waktu beberapa bulan setelah terinfeksi, penderita bisa mengalami gejala-gejala yang ringn secara berulang yang belum benar-benar menunjukkan suatu AIDS.
Penderita bisa menunjukkan gejala-gejala infeksi HIV dalam waktu beberapa tahun sebelum terjadinya infeksi atau tumor yang khas untuk AIDS. Gejalanya berupa: - pembengkakan kelenjar getah bening - penurunan berat badan - demam yang hilang-timbul - perasaan tidak enak badan - lelah - diare berulang - anemia - thrush (infeksi jamur di mulut).
Secara definisi, AIDS dimulai dengan rendahnya jumlah limfosit CD4+ (kurang dari 200 sel/mL darah) atau terjadinya infeksi oportunistik (infeksi oleh organisme yang pada orang dengan sistem kekebalan yang baik tidak menimbulkan penyakit). Juga bisa terjadi kanker, seperti sarkoma Kaposi dan limfoma non-Hodgkin.
Gejala-gejala dari AIDS berasal dari infeksi HIVnya sendiri serta infeksi oportunistik dan kanker. Tetapi hanya sedikit penderita AIDS yang meninggal karena efek langsung dari infeksi HIV. Biasanya kematian terjadi karena efek kumulatif dari berbagai infeksi oportunistik atau tumor. Organisme dan penyakit yang dalam keadaan normal hanya menimbulkan pengaruh yang kecil terhadap orang yang sehat, pada penderita AIDS bisa dengan segera menyebabkan kematian, terutama jika jumlah limfosit CD4+ mencapai 50 sel/mL darah.
Beberapa infeksi oportunistik dan kanker merupakan ciri khas dari munculnya AIDS: 1. Thrush. Pertumbuhan berlebihan jamur Candida di dalam mulut, vagina atau kerongkongan, biasanya merupakan infeksi yang pertama muncul. Infeksi jamur vagina berulang yang sulit diobati seringkali merupakan gejala dini HIV pada wanita. Tapi infeksi seperti ini juga bisa terjadi pada wanita sehat akibat berbagai faktor seperti pil KB, antibiotik dan perubahan hormonal. 2. Pneumonia pneumokistik. Pneumonia karena jamur Pneumocystis carinii merupakan infeksi oportunistik yang sering berulang pada penderita AIDS. Infeksi ini seringkali merupakan infeksi oportunistik serius yang pertama kali muncul dan sebelum ditemukan cara pengobatan dan pencegahannya, merupakan penyebab tersering dari kematian pada penderita infeksi HIV 3. Toksoplasmosis. Infeksi kronis oleh Toxoplasma sering terjadi sejak masa kanak-kanak, tapi gejala hanya timbul pada sekelompok kecil penderita AIDS. Jika terjadi pengaktivan kembali, maka Toxoplasma bisa menyebabkan infeksi hebat, terutama di otak. 4. Tuberkulosis. Tuberkulosis pada penderita infeksi HIV, lebih sering terjadi dan bersifat lebih mematikan. Mikobakterium jenis lain yaitu Mycobacterium avium, merupakan penyebab dari timbulnya demam, penurunan berat badan dan diare pada penderita tuberkulosa stadium lanjut. Tuberkulosis bisa diobati dan dicegah dengan obat-obat anti tuberkulosa yang biasa digunakan. 5. Infeksi saluran pencernaan. Infeksi saluran pencernaan oleh parasit Cryptosporidium sering ditemukan pada penderita AIDS. Parasit ini mungkin didapat dari makanan atau air yang tercemar. Gejalanya berupa diare hebat, nyeri perut dan penurunan berat badan. 6. Leukoensefalopati multifokal progresif. Leukoensefalopati multifokal progresif merupakan suatu infeksi virus di otak yang bisa mempengaruhi fungsi neurologis penderita. Gejala awal biasanya berupa hilangnya kekuatan lengan atau tungkai dan hilangnya koordinasi atau keseimbangan. Dalam beberapa hari atau minggu, penderita tidak mampu berjalan dan berdiri dan biasanya beberapa bulan kemudian penderita akan meninggal. 7. Infeksi oleh sitomegalovirus. Infeksi ulangan cenderung terjadi pada stadium lanjut dan seringkali menyerang retina mata, menyebabkan kebutaan. Pengobatan dengan obat anti-virus bisa mengendalikan sitomegalovirus. 8. Sarkoma Kaposi. Sarkoma Kaposi adalah suatu tumor yang tidak nyeri, berwarna merah sampai ungu, berupa bercak-bercak yang menonjol di kulit. Tumor ini terutama sering ditemukan pada pria homoseksual. 9. Kanker. Bisa juga terjadi kanker kelenjar getah bening (limfoma) yang mula-mula muncul di otak atau organ-organ dalam. Wanita penderita AIDS cenderung terkena kanker serviks. Pria homoseksual juga mudah terkena kanker rektum.
DIAGNOSA Pemeriksaan yang relatif sederhana dan akurat adalah pemeriksaan darah yang disebut tes ELISA. Dengan pemeriksaan ini dapat dideteksi adanya antibodi terhadap HIV, hasil tes secara rutin diperkuat dengan tes yang lebih akurat. Ada suatu periode (beberapa minggu atau lebih setelah terinfeksi HI) dimana antibodi belum positif. Pada periode ini dilakukan pemeriksaan yang sangat sensitif untuk mendeteksi virus, yaitu antigen P24 . Antigen P24 belakangan ini digunakan untuk menyaringan darah yang disumbangkan untuk keperluan transfusi.
Jika hasil tes ELISA menunjukkan adanya infeksi HIV, maka pada contoh darah yang sama dilakukan tes ELISA ulangan untuk memastikannya. Jika hasil tes ELISA yang kedua juga positif, maka langkah berikutnya adalah memperkuat diagnosis dengan tes darah yang lebih akurat dan lebih mahal, yaitu tes apusan Western. Tes ini juga bisam enentukan adanya antibodi terhadap HIV, tetapi lebih spesifik daripada ELISA. Jika hasil tes Western juga positif, maka dapat dipastikan orang tersebut terinfeksi HIV.
PENGOBATAN Pada saat ini sudah banyak obat yang bisa digunakan untuk menangani infeksi HIV: 1. Nucleoside reverse transcriptase inhibitor - AZT (zidovudin) - ddI (didanosin) - ddC (zalsitabin) - d4T (stavudin) - 3TC (lamivudin) - Abakavir 2. Non-nucleoside reverse transcriptase inhibitor - Nevirapin - Delavirdin - Efavirenz 3. Protease inhibitor - Saquinavir - Ritonavir - Indinavir - Nelfinavir.
Semua obat-obatan tersebut ditujukan untuk mencegah reproduksi virus sehingga memperlambat progresivitas penyakit. HIV akan segera membentuk resistensi terhadap obat-obatan tersebut bila digunakan secara tunggal. Pengobatan paling efektif adalah kombinasi antara 2 obat atau lebih, Kombinasi obat bisa memperlambat timbulnya AIDS pada penderita HIV positif dan memperpanjang harapan hidup. Dokter kadang sulit menentukan kapan dimulainya pemberian obat-obatan ini. Tapi penderita dengan kadar virus yang tinggi dalam darah harus segera diobati walaupun kadar CD4+nya masih tinggi dan penderita tidak menunjukkan gejala apapun.
AZT, ddI, d4T dan ddC menyebabkan efek samping seperti nyeri abdomen, mual dan sakit kepala (terutama AZT). Penggunaan AZT terus menerus bisa merusak sumsum tulang dan menyebabkan anemia. ddI, ddC dan d4T bisa merusak saraf-saraf perifer. ddI bisa merusak pankreas. Dalam kelompok nucleoside, 3TC tampaknya mempunyai efek samping yang paling ringan.
Ketiga protease inhibitor menyebabkan efek samping mual dan muntah, diare dan gangguan perut. Indinavir menyebabkan kenaikan ringan kadar enzim hati, bersifat reversibel dan tidak menimbulkan gejala, juga menyebabkan nyeri punggung hebat (kolik renalis) yang serupa dengan nyeri yang ditimbulkan batu ginjal. Ritonavir dengan pengaruhnya pada hati menyebabkan naik atau turunnya kadar obat lain dalam darah. Kelompok protease inhibitor banyak menyebabkan perubahan metabolisme tubuh seperti peningkatan kadar gula darah dan kadar lemak, serta perubahan distribusi lemak tubuh (protease paunch).
Penderita AIDS diberi obat-obatan untuk mencegah infeksi ooportunistik. Penderita dengan kadar limfosit CD4+ kurang dari 200 sel/mL darah mendapatkan kombinasi trimetoprim dan sulfametoksazol untuk mencegah pneumonia pneumokistik dan infeksi toksoplasma ke otak. Penderita dengan limfosit CD4+ kurang dari 100 sel/mL darah mendapatkan azitromisin seminggu sekali atau Mycobacterium avium. Penderita yang bisa sembuh dari meningitis kriptokokal atau terinfeksi candida mendapatkan flukonazol jangka panjang. Penderita dengan infeksi herpes simpleks berulang mungkin memerlukan pengobatan asiklovir jangka panjang.
PROGNOSIS Pemaparan terhadap HIV tidak selalu mengakibatkan penularan, beberapa orang yang terpapar HIV selama bertahun-tahun bisa tidak terinfeksi. Di sisi lain seseorang yang terinfeksi bisa tidak menampakkan gejala selama lebih dari 10 tahun. Tanpa pengobatan, infeksi HIV mempunyai resiko 1-2 % untuk menjdi AIDS pada beberapa tahun pertama. Resiko ini meningkat 5% pada setiap tahun berikutnya. Resiko terkena AIDS dalam 10-11 tahun setelah terinfeksi HIV mencapai 50%. Sebelum diketemukan obat-obat terbaru, pada akhirnya semua kasus akan menjadi AIDS.
Pengobatan AIDS telah berhasil menurunkan angka infeksi oportunistik dan meningkatkan angka harapan hidup penderita. Kombinasi beberapa jenis obat berhasil menurunkan jumlah virus dalam darah sampai tidak dapat terdeteksi. Tapi belum ada penderita yang terbukti sembuh. Teknik penghitungan jumlah virus HIV (plasma RNA) dalam darah seperti polymerase chain reaction (PCR) dan branched deoxyribonucleid acid (bDNA) test membantu dokter untuk memonitor efek pengobatan dan membantu penilaian prognosis penderita. Kadar virus ini akan bervariasi mulai kurang dari beberapa ratus sampai lebih dari sejuta virus RNA/mL plasma.
Pada awal penemuan virus HIV, penderita segera mengalami penurunan kualitas hidupnya setelah dirawat di rumah sakit. Hampir semua penderita akan meninggal dalam 2 tahun setelah terjangkit AIDS. Dengan perkembangan obat-obat anti virus terbaru dan metode-metode pengobatan dan pencegahan infeksi oportunistik yang terus diperbarui, penderita bisa mempertahankan kemampuan fisik dan mentalnya sampai bertahun-tahun setelah terkena AIDS. Sehingga pada saat ini bisa dikatakan bahwa AIDS sudah bisa ditangani walaupun belum bisa disembuhkan.
PENCEGAHAN Program pencegahan penyebaran HIV dipusatkan terutama pada pendidikan masyarakat mengenai cara penularan HIV, dengan tujuan merubah kebiasaan orang-orang yang beresiko tinggi untuk tertular. Cara-cara pencegahan ini adalah: 1. Untuk orang sehat - Abstinens (tidak melakukan hubungan seksual) - Seks aman (terlindung) 2. Untuk penderita HIV positif - Abstinens - Seks aman - Tidak mendonorkan darah atau organ - Mencegah kehamilan - Memberitahu mitra seksualnya sebelum dan sesudah diketahui terinfeksi 3. Untuk penyalahguna obat-obatan - Menghentikan penggunaan suntikan bekas atau bersama-sama - Mengikuti program rehabilitasi 4. Untuk profesional kesehatan - Menggunakan sarung tangan lateks pada setiap kontak dengan cairan tubuh - Menggunakan jarum sekali pakai
Bermacam-macam vaksin sudah dicoba untuk mencegah dan memperlambat progresivitas penyakit, tapi sejauh ini belum ada yang berhasil. Rumah sakit biasanya tidak mengisolasi penderita HIV kecuali penderita mengidap penyakit menular seperti tuberkulosa. Permukaan-permukaan yang terkontaminasi HIV dengan mudah bisa dibersihkan dan disucihamakan karena virus ini rusak oleh panas dan cairan desinfektan yang biasa digunakan seperti hidrogen peroksida dan alkohol.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Sat Jul 17, 2010 5:11 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sun Jan 03, 2010 5:27 pm | |
| HIV-AIDS HIV (Human Immunodeficiency Virus) menyebabkan rusaknya/melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia.Virus HIV membutuhkan sel-sel kekebalan kita untuk berkembang biak. Secara alamiah sel kekebalan kita akan dimanfaatkan, bisa diibaratkan seperti mesin fotocopy. Namun virus ini akan merusak mesin fotocopynya setelah mendapatkan hasil copy virus baru dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga lama-kelamaan sel kekebalan kita habis dan jumlah virus menjadi sangat banyak. HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cairan yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air mata dan lain-lain
Sedangkan CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih manusia, terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai nol)
Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan berbagai macam infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang beredar, entah itu berada dalam udara, makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi sakit, karena CD4 masih bisa berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4 berkurang, mikroorganisme yang patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke tubuh kita dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia
Bisa dilihat dari 2 gejala yaitu gejala Mayor (umum terjadi) dan gejala Minor (tidak umum terjadi): Gejala Mayor - Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan - Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan - Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan - Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis - Demensia/ HIV ensefalopati
Gejala Minor - Batuk menetap lebih dari 1 bulan - Dermatitis generalisata - Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang - Kandidias orofaringeal - Herpes simpleks kronis progresif - Limfadenopati generalisata - Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita - Retinitis virus sitomegalo
Pengobatan Hingga saat ini belum diketemukan obat untuk HIV.
(Sumber: Komunitas AIDS Indonesia) - Detik Health
Last edited by gitahafas on Sat Jul 17, 2010 5:27 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Tue Jan 12, 2010 7:16 am | |
| PASIEN DENGAN INFEKSI HIV DAN AIDS Infeksi HIV dan AIDS telah menimbulkan kontroversi dan telah dibahas lebih sering dibandingkan proses penyakit lain dalam sejarah. Bab ini akan mengungkapkan sekilas mengenai patogenesis, pemeriksaan yang diperlukan serta terapi, kerangka kerja hukum yang dibangun untuk menangani masalah yang ditimbulkan penyakit ini, serta tantanga-tantangan hukum dan etika yang masih terus berlanjut.
Penjelasan yang lebih rinci mengenai hal-hal tertentu dapat ditemukan pada beberapa acuan seperti AIDS Bibliography (diterbitkan bulanan oleh National Library of Medicine), AIDS law and litigation reporter (diterbitkan bulanan oleh University publishing Group) dan AIDS Litigation Reporter (diterbitkan dwibulanan oleh Andrews Publications)
Menurut WHO, hingga tahun 2000 di seluruh dunia 30-40 juta orang telah terinfeksi HIV. Pada tanggal 1 Januari 1994 tercatat 346.730 kasus AIDS di Amerika Serikat. Dari jumlah tersebut 208.897 orang telah meninggal dunia akibat AIDS. Perkiraan terkini penderita HIV di AS mencapai 1,5 juta orang.
Pada dekade sebelumnya, Control of Disease Center (CDC) telah mengidentifikasi HIV/AIDS sebagai penyebab kematian utama di AS. Pada lebih dari 60 kota besar AIDS adlah penyebab kematian utama pada kelompok usia 25-44 tahun. Pada tahun 1992, AIDS berada di peringkat ke 4 penyebab kematian terbanyak (meningkat dari peringkat ke 9 pada tahun 1991), menjadi penyebab kedua terbanyak kematian pada usia 25-44 tahun (meningkat dari peringkat ke 3 tahun 1991) dan menyumbang 16,3 % kematian pada kelompok usia tersebut. Di saat penyebab kematian lainnya tetap stabil atau bahkan menurun, kematian akibat AIDS terus meningkat. Pada pergantian abad diperkirakan AIDS akan menjadi peringkat ketiga penyebab kematian utama di AS.
Meskipun cukup mengesankan, angka-angka tersebut ternyata diyakini masih dibawah angka yang sesungguhnya. Beberapa studi menunjukkan tingkat kegagalan yang signifikan dalam mencantumkan HIV/AIDS pada surat kematian. Selain itu, CDC saat ini telah memperluas definisi kasus AIDS sehingga mencakup individu terjangkit HIV yang meninggal akibat beberapa kondisi antara lain pneumonia berulang yang tidak tercakup dalam definisi sebelumnya. Sebagai contoh, pada tahun 1993 saja sekitar 24000 kasus AIDS tambahan telah dilaporkan akibat criteria yang diperluas, dengan meyoritas kasus imunokompresi berat akibat HIV ( hitung CD4+ Limfosit T 200/ml) Patogenesis
AIDS adalah penyakit dimana sistem imun pasien yang terinfeksi perlahan dirusak, yang menimbulkan kerentanan terhadap berbagai infeksi oportunistik dan kondisi keganasan yang biasanya tidak patogen atau tidak dijumpai pada individu dengan system imun yang normal. Jika AIDS telah terjadi, hal itu dapat berakibat fatal. Chang dkk mengadakan studi kohort terhadap 3693 individu dengan AIDS di AS dan mencatat bahwa median lama hidup adalah 11,5 bulan dan ketahanan hidup meningkat dari 5,3 bulan sebelum tahun 1984 hingga 9,3 bulan pada 1984-1986, dan menjadi 13,2 bulan pada 1987-1989. Peningkatan ketahanan hidup tersebut disebabkan terapi anti retroviral dan terapi yang lebih baik terhadap infeksi oportunistik yang menyertainya.
Studi pada pasien HIV yang bertahan hidup lebih dari 8 tahun memberi informasi tentang beberapa sifat yang dianggap penting dalam patogenesis HIV. HIV sekarang diketahui bukanlah virus tunggal melainkan kelompok heterpogen yang terdiri dari beberapa tipe retrovirus (HIV-1, HIV-2, dan Human T-lymphotrophic Virus tipe 1 dan 2 atau HTLV-1 dan HTLV-2)
Meskipun retrovirus telah diidentifikasi sebagai patogen pada hewan selama hampir seabad, peranannya sebagai penyebab signifikan morbiditas dan mortalitas manusia baru diketahui akhir-akhir ini. Retrovirus, berbeda dengan virus lainnya, menyebabkan infeksi dengan menggunakan perangkat milik sel pejamu (dipandu oleh enzim reverse transcriptase virus) untuk membuat DNA virus yang kemudian digabungkan ke dalam kromosom sel pejamu,
HIV ditransmisikan ke tubuh manusia lewat partikel virus infeksius atau melalui sel yang terinfeksi virus. Pengetahuan tentang transfer sel ke sel pada penyebaran HIV penting karena sel yang terinfeksi virus ditemukan 50-100 kali lebih banyak pada cairan tubuh dibandingkan partikel virus bebas. Oleh Karena itu di masa depan upaya pengobatan dan pengembangan vaksin harus mempertimbangkan juga transfer virus melalui rute ini.
Sel pejamu yang mana yang pertama kali terjangkit setelah transmisi HIV masih belum diketahui. Kadangkala pada infeksi akut jaringan limfoid (dan sel darah tepi) terlibat pertama kali. Telah diketahui sedikitnya 4 reseptor terlibat dalam perlekatan virus pada sel pejamu, yaitu molekul CD4, galactosyl ceramide (Gal-C) pada sel otak dan usus serta reseptor pada Fc dan komplemen. Tidak diragukan lagi bahwa reseptor-reseptor yang lain akan segera ditemukan.
Virus yang telah terikat pada antibody, Fc dan komplemen yang merupakan molekul permukaan sel, akan menimbulkan infeksi melalui proses penyangatan yang bergantung antibodi. Bagaimanapun juga, interaksi dengan componen permukaan sel aníllala langkah awal masuknya virus. Perubahan konformasi pada selubung virus, pemecahan gp120 dan langkah-langkah yang hingga saat ini belum dipahami diperlukan untuk terjadinya fusi dan masuknya nukleokapsid jika perlekatan telah terjadi. Setiap langkah tersebut tampaknya tergantung kepada tipe virus dan tipe sel pejamu yang diserang.
Saat nukleokapsid virus memasuki sel pejamu, langkah berikutnya adalah pembuatan partikel HIV lengkap (virion), melepaskan RNA genomik virus, transkripsi terbalik dan síntesis DNA untai ganda provirus yang belum terintegrasi. Integrasi DNA provirus ke dalam kromosom sel pejamu, síntesis Mrna virus oleh sel pejamu (transkripsi), síntesis nukleokapsid dan componen virus lainnya oleh sel pejamu (translasi), perakitan dan akhirnya pelepasan partikel virus. Semua langkah tersebut, dimulai dari perlekatan virus ingá perakitan dan pelepasan partikel virus merupakan target terapi yang potencial.
Pemeriksaan penunjang dan terapi Tes skrining awal yang berdasarkan prinsip ELISA kurang bermanfaat untuk mendeteksi antibodi terhadap HIV pada populasi umum. Kemungkinan hasil positif palsu akan berdampak besar pada individu yang sebenarnya tidak terinfeksi. Untungnya banyak teknik baru untuk mendeteksi antibodi terhadap HIV telah dikembangkan. Saat ini lebih dari 130 tes comercial telah tersedia dari lebih dari 40 negara.
Uji ELISA klasik dapa menimbulkan masalah kerena tes tersebut berdasarkan antigen lisat virus yang mungkin mengandung komponen sel pejamu dimana virus berkembang. Kontaminan antigen pejamu yang umumnya HLA memungkinkan terjadinya hasil positif palsu. Individu yang tidak terinfeksi HIV tetapi memiliki antibodi HLA yang mungkin terjadi saat pajanan terhadap leukosit fetus selama kehamilan atau dari transfusi darah dapat dinyatakan positif pada uji jenis itu.
Uji-uji yang baru seperti Western Blot, IFA dan RIPA mencegah terjadinya masalah kontaminan tersebut dengan menggunakan antigen peptida rekombinan atau sintetis. Bentuk yang relatif murni tersebut dapat digunakan untuk menciptakan uji yan lebih spesifik yang jika dilaksanakan dan ditafsirkan dengan benar umumnya tidak menimbulkan hasil positif palsu. Sayangnya dengan spesifisitas yang tinggi dan berkurangnya sensitivitas, uji-uji tersebut sangat spesifik terhadap semua strain retrovirus sehingga lebih diutamakan sebagai tes konfirmasi. Selain itu harga uji tersebut cukup mahal.
Terapi HIV hingga saat ini belum benar-benar berkembang. Hanya tiga jenis obat yaitu zidovudine (AZT), didanosine dan zalcitabine yang saat ini disetujui oleh FDA. E fek antiretroviral AZT terhadap HIV-1 pertama kali ditemukan tahun 1985. Sejak saat itu beberapa uji klinik telah membuktikan efektivitas memperlambat awitan AIDS dan efek sampingnya (supresi sumsum tulang dan miopati).Rekomendasi terkini menyarankan dosis harian 500-600 mg (200 mg per 8 jam). Didanosine adalah obat kedua yang disetujui FDA untuk mengobati individu yang terinfeksi HIV-1 yang resisten atau tidak tahan terhadap efek samping AZT. Neuropati perifer adalah efek samping utama dan terjadi pada sepertiga pasien. Pankreatitis, sakit kepala dan diare juga umum dijumpai. Rekomendasi terkini menyarankan dosis 300 mg dua kali sehari pada individu dengan berat badan > 75 kg (dosis disesuaikan pada individu dengan berat badan dibawahnya) Zalcitabine saat ini direkomendasikan hanya untuk terapi kombinasi dengan AZT pad aindividu dengan hitung CD4+ <300/cc. Dosis 0,375-0,75 mg setiep 8 jam efektif dengan efek pankratitis yang lebih sedikit dibanding dosis yang lebih besar.
Pada 20 januari 1994 Public Health Service’s Agency for health Care Policy and Research mengeluarkan panduan terbaru untuk meningkatkan kemampuan praktisi kesehatan untuk melakukan terapi awal pada individu yang baru terdeteksi terinfeksi HIV. Dr Lee, ketua Public Health Services menyatakan bahwa rekomendasi utama adalah beberapa pasien yang belum menunjukkan gejala lanjut diberikan terapi sulfa dengan dosis peventif harian untuk mencegah pneumonia Pneumocystis carinii yang merupakan pembunuh utama. Selain itu dinyatakan juga bahwa memulai terapi bagi individu terinfeksi yang belum bergejala yang memiliki hitung CD4+ < 200/cc mungkin menolong ribuan orang, memperpanjang masa hidup dan mencegah ketidakberdayaan alkibat penyakit.
Respon Hukum Dengan semakin banyaknya pengidap AIDS yang hidup dalam jangka waktu yang lebih lama, semakin banyak pula ditemukan kasus-kasus di pengadilan yang berkaitan dengan AIDS. Kebanyakan kasus berlanjut pada proteksi hukum bagi orang-orang pengidap AIDS, yang di sisi lain jumlah kasus fobia AIDS juga meningkat. Beberapa usaha dari tiap tingkatan pemerintah sudah dilakukan untuk mempertemukan kebutuhan dan hak masyarakat dengan individu pengidap HIV. Tiap pemerintah dan distrik Columbia telah membuat berbagai hukum tertulis tentang hal ini mulai dari usaha secara langsung pada kesehatan masyarakat sampai proteksi hak individu (informed consent, provisi antidiskriminasi, dan perlindungan kerahasiaan).
Kepedulian Masyarakat Melebihi aspek lain dari suatu penyakit, ketakutan akan penyebaran AIDS, bahkan dari kontak yang belum pasti menghasilkan respon emosi yang kuat. HIV terutama menyebar melalui paparan terhadap darah atau cairan tubuh yang terinfeksi dan dari ibu kepada anak pada masa perinatal. Disamping lingkungan kesehatan, paparan darah dan cairan tubuh ini terjadi pada hubungan sex dan kontak intim lain, penggunaan jarum suntik bersama, dan transfusi. Sebagai peringatan kepada dokter, beberapa kasus peradilan berkaitan dengan hal ini, khususnya transfusi. Pertanyaan yang sering ditimbulkan adalah keberadaan informed consent yang tepat. Pekerja kesehatan termasuk 5% dari pengidap AIDS yang dilaporkan ke CDC tiap tahunnya, dan dilaporkan juga 6% dari buruh di Amerika Serikat yang bekerja di industri kesehatan terkena AIDS. Meskipun mayoritas pekerja yang terinfeksi ini mempunyai kelakuan yang berisiko tinggi namun sejumlah besar masih berisiko berasal dari pekerjaan. CDC telah mengeluarkan pernyataan ‘universal precaution’ untuk pencegahan HIV, HBV, dan patogen lain yang yang dapat menular lewat darah. Dengan jarum suntik risiko transmisi diperkirakan 1/250 sampai 1/50 meskipun masih dipengaruhi juga oleh volume, jenis cairan, jumlah partikel virus, dan tempat masuknya suntikan. Tahun 1991 karena adanya 6 kasus HIV dari dokter gigi dari florida, dan terdapatnya isu untuk melakukan tes pada semua tenaga kesehatan, CDC mengeluarkan pernyataan untuk pemeriksaan alat yang terpapar darah dan diidentifikasi kemungkinan adanya HIV. Masalah berikutnya adalah apakah tenaga kesehatan harus menghindarinya atau memberitahukan pasien akan status HIV mereka, namun tidak direkomendasikan untuk melakukan tes secara massal. Selalu ada perdebatan yang dihasilkan. Salah satunya adalah masalah biaya. Penyebaran melalui saliva masih dimungkinkan, yaitu pernah dilaporkan pada tahun 1984 oleh Groopman and Colleagues. Penularan bukan hanya lewat passionate kissing, namun juga sentuhan orangtua ke anak terutama pada tempat penitipan anak, saat jari atau mainan membawa saliva dari anak ke anak. Transmisi juga dimungkinkan lewat olahraga seperti boxing, bola keranjang dan sepak bola.
Perlindungan Hak Individu Kepedulian masyarakat akan pencegahan penularan penyakit dan jaminan akan keamanan sumber darah untuk transfusi semakin meningkat sampai pada kepedulian akan individu yang terinfeksi HIV. Informed consent untuk tes dan kerahasiaan akan hasil tes adalah sesuatu yang penting . Hal ini sering menjadi dilema bagi dokter antara kewajiban untuk mengingatkan pihak ketiga akan risiko potensi tertular dengan kerahasiaan pasien. Meskipun banyak peradilan yang sudah menjalankan hak pribadi dan proteksi akan status HIV, namun masih sering terjadi perdebatan. Masalah lain yang berkaitan dengan ini adalah jaminan untuk mendapatkan pengobatan. Diskriminasi pada medis mungkin akan berefek paling kejam karena mengabaikan orang yang mungkin paling membutuhkan. The American Medical Association telah menyatakan kewajiban etik untuk merawat pasien HIV dengan pernyataan spesifik yang dibuat oleh The Council on Ethical and Judicial Affair. Diharapkan dengan menyebarnya pengetahuan akan HIV, ketakutan akan digantikan dengan pengertian dan permasalahan ini akan mereda.
This website is presented by us, students of Faculty of Medicine University of Indonesia. We hope it will bring benefits for you..and have a good day...-dian-windi-sisca-ayu-yordan-
Last edited by gitahafas on Sat Jul 17, 2010 5:14 am; edited 1 time in total |
|  | | Ali Alkatiri Administrator


Number of posts: 1044 Age: 54 Location: Jakarta Registration date: 2008-08-27
 | Subject: Re: HIV - AIDS Tue Mar 09, 2010 8:05 am | |
| Virus AIDS Bersembunyi di Sumsum TulangSelasa, 9 Maret 2010 | 07:32 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Virus penyebab AIDS ternyata bisa bersembunyi di dalam sumsum tulang sehingga tidak bisa dicapai obat-obatan yang masuk ke tubuh. Akibatnya, virus AIDS sewaktu-waktu akan bisa muncul kembali. Tim peneliti yang dipimpin Dr Kathleen Collins dari University of Michigan melaporkan hasil penelitian ini di jurnal Nature Medicine edisi pekan ini. Hasil penelitian itu juga menyebutkan, virus HIV juga bisa masuk ke sel-sel sumsum tulang yang pada akhirnya nanti dikhawatirkan akan masuk ke sel-sel darah. Ketika masuk ke sel-sel sumsum tulang, virus itu menjadi tidak aktif. Akan tetapi, begitu masuk ke sel-sel darah, virus itu bisa aktif kembali dan justru bisa membunuh sel-sel darah yang baru dan berpindah merusak sel-sel yang lain. ”Selama ini obat bisa mengurangi jumlah kematian akibat AIDS, tetapi pasien harus pakai obat sepanjang hidupnya. Jika terapi obat dihentikan, virus bisa kembali muncul. Masih banyak tempat persembunyian yang harus diteliti,” kata Collins. Pada penelitian-penelitian sebelumnya ditemukan virus HIV terbukti kerap bersembunyi di sel-sel darah yang disebut macrophages. Jika sumber-sumber infeksi bisa diketahui lebih rinci, pasien AIDS bisa segera menghentikan konsumsi obatnya setelah infeksinya terobati. (AP/LUK) _________________
The doctor of the future will give no medicine, but will instruct his patient in the care of the human frame, in diet and in the cause and prevention of disease.
|
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sun Mar 21, 2010 8:43 pm | |
| VIRUS AIDS BERSEMBUNYI DI SUMSUM TULANG KILAS - Edisi April 2010 (Vol.9 No.9) Farmacia Dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, kematian tajam akibat AIDS telah menurun drastis dengan konsumsi obat-obatan. Namun masalahnya pasien AIDS tersebut masih terbebani dengan perawatan rutin mengkonsumi obat seumur hidupnya. Sebab jika tidak, infeksinya akan datang kembali.
Keadaan ini membuat para ilmuwan menduga bahwa sementara obat-batan menggempur virus aktif, masih ada beberapa virus penyakit yang tersembunyi dan akan muncul sekali waktu ketika terapi dihentikan. Fakta ini membuat Dr. Kathleen Collins dan rekannya dari University of Michigan melakukan penelitian mengenai di manakah sebenarnya virus itu bersembunyi.
Dan hasil temuan mereka menunjukkan bahwa virus penyebab AIDS ternyata dapat bersembunyi di sumsum tulang. Akibatnya virus-virus ini dapat menghindari obat-obatan yang melumpuhkan mereka untuk kemudian kelak muncul kembali dan menyebabkan penyakit.
Dalam laporannya di jurnal Nature Medicine, para peneliti mengatakan bahwa virus-virus ini mengalami mati suri ketika berada dalam sel-sel sumsum tulang. Tetapi ketika sel-sel progenitor mereka berkembang menjadi sel-sel darah, dia dapat diaktifkan kembali dan menyebabkan infeksi baru. Virus tersebut kemudian membunuh sel-sel darah baru lalu berpindah untuk menginfeksi sel lainnya.
Para peneliti mengatakan bahwa mereka memang tidak bisa menghitung semua virus HIV yang masih beredar, karena ada banyak lokasi untuk diperiksa untuk dipelajari pregnitor sel darah tersebut. Namun, dari salah satu temuan, virus berada dalam sel-sel darah yang disebut makrofag, sel-T memori, dan penelitian pun mulai dilakukan untuk menyerang mereka.
Temuan penelitian ini menjadi penting, menurut Collins, karena dengan menemukan sumber infeksi ini akan ada kemungkinan ditemukannya cara menghilangkan virus-virus tersebut. Dengan demikian memungkinkan bagi pasien AIDS untuk berhenti minum obat setelah infeksi mereka berakhir. Hal ini mendesak terutama di negara-negara di mana perawatan sulit untuk diupayakan.
Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:11 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Fri Mar 26, 2010 10:28 pm | |
| DIAGNOSIS PRESUMPTIVE PENYAKIT DENGAN INDIKASI AIDS Kandidiasis esophagus : Nyeri pada daerah retrosternal dan sakit menelan
Kandidiasis oral dengan adanya plak/bercak putih, lesi eritematosa atau terlihat pada mikroskop sebagai fungal filamen oral mukosa spesimen
Retinitis Cytomegalovirus: karakterisitiknya dapat terlihat pada pemeriksaan ophthalmologi. Proses resolusi keadaan aktif akan meninggalkan scar pada retina dan atrofi dengan bercak pada pigmen retina
Mycobacteriosis : pemeriksaan BTA spesimen mikroskopis diambil dari tinja atau jaringan normal paru, kulit, servikal atau limfe yang tidak teridentifikasi melalui kultur bakteri
Sarkoma kaposi : karakteristik dapat dilihat lesi berupa plak eritematosa pada kulit atau membran mukosa
Pneumositis carinii : terdapat riwayat dispneu atau batuk tidak berdahak ( selama 3 bulan terkhir ) dan gambaran foto thoraks berupa infilrat interstitial pada paru bilateral atau gallium scan pada penyakit paru bilateral difus. Selain itu pada pemeriksaan darah arteri p02 70 mmHg atau kapasitas rendah dari pernafasan atau peningkatan tekanan alveolar oksigen. Juga tidak terdapat bukti pneumonia bakterial
Rekuren pneumonia : adanya riwayat rekurensi lebih dari sekali setahun, akut pneumonia (dibuktikan dengan gambaran rontgen terbaru/terakhir dan keadaan klinik pasien)
Toksoplasma otak : awitan fokal neurologikal yang abnormal konsisten dengan penyakit intrakranial dan disertai dengan penurunan kesadaran, pemeriksaan imaging (CT scan dan MRI) dengan atau tanpa kontras. Selain itu berupa respon positif pada penyuntikan serum antibodi toksoplasma
Tuberkulosis paru : apabila konfirmasi dari pemeriksaan baktriologik tidak ada, digunakan kriteria-kriteria penegakkan diagnosis TB (CDC, Divisi TB dari National Center, dll)
Panduan pada evaluasi dan tatalaksana dini infeksi HIV Pengungkapan status penderita HIV * Dokter harus mengungkapkan status penderita HIV pada anak, orangtua, pengasuh atau pasien itu sendiri. Perlu dilakukan konseling untuk mengatasi efek psikologis dan efek medis dari penyakit, termasuk didalamnya diskusi antara pasien dan konselor. * Pasien harus melaporkan dan mengungkapkan mengenai penyakitnya baik kepada keluarga, teman, dan lainnya.
Evaluasi dan tatalaksana medis * Riwayat medis pasien yang detail, termasuk riwayat seksual pasien dan riwayat infeksi sebelumnya. * Praktisi memonitor jumlah awal sel CD4 pasien, yang dievaluasi tiap 6 bulan apabila jumlahnya diatas 600, dan minimal 3 bulan sekali pada pasien dengan jumlah antara 600 sampai dengan 200. Monitoring sel CD4 dibawah 200 sangat tergantung dengan intervensi yang dilakukan. * Terapi preventif pada pneumositis carinii (PCP) dimulai apabila jumlah CD4 pasien dibawah 200 atau pasien dengan riwayat penyakit yang sama dan gejala spesifik PCP * Pada wanita hamil jumlah CD4 dinilai saat pertama ANC atau saat melahirkan apabila pasien tidak rutin melakukan ANC * Pasien yang sudah diskrining mycobacterium tuberculosis dan yang telah mendapat terapi preventif atau sudah mendapatkan terapi, jika diperlukan diperiksa CD4 * Pada semua penderita HIV positif dan penderita penyakit infeksi seksual termasuk sifilis dan lainnya juga diperiksa jumlah CD4 * Pada pasien dengan jumlah CD4 dibawah 500 diberikan terapi zidofudine (ZDV atau AZT). Pasien diberikan edukasi mengenai penggunaan ZDV maupun terapi antiviral yang lain termasuk keuntungan dan kerugiannya. Pada pasien dengan kehamilan harus diinformasikan mengenai terapi tersebut terhadap janin yang dikandungnya * Pada wanita sebaiknya dilakukan pap smear dan pemeriksaan panggul rutin * Remaja dinilai berdasarkan tingkat kematangan seksual mereka dan dosis obat disesuaikan dengan hal-hal tersebut * Petugas kesehatan melakukan pemeriksaan pada rongga mulut pada setiap kali kunjungan dan merekomendasikan untuk memeriksaakan kesehatan gigi dan mulut pada dokter gigi minimal 2 kali dalam setahun * Petugas kesehatan juga merekomendasikan pasien untuk memeriksakan diri pada dokter mata * Pemakaian alat kontrasepsi, KB, dan prenatal konseling diberikan pada semua pasien wanita dengan HIV positif. Selain itu juga difokuskan pada status psikologikal, status kesehatan, dan status sosial yang mendukungnya * Pada ibu dengan HIV positif perlu diinformasikan mengenai rencana masa depan anak-anak mereka * Pasien disediakan akses untuk pemeriksaan klinik termasuk wanita, sebagaimana wanita hamil dan remaja * Petugas pelayanan kesehatan harus memperoleh informasi mengenai program manajemen kasus yang tersedia dan memberikan akses pada pasien untuk itu
Informasi konsumen Dua buah buklet untuk orang yang hidup bersama dengan ODHA dan untuk pasien itu sendiri. Diberikan pengetahuan mengenai infeksi HIV, bagaimana menemui dokter secara rutin, dan bekerja sama dengan pelayan kesehatan untuk kepentingan perawatan mereka Buklet yang dibuat dalam bahasa Inggris dan bahasa Spanyol tersebut juga merekomendasikan pada wanita untuk bertanya pada petugas pelayanan kesehatan mengenai KB, kehamilan, cara menyusui, dan hal-hal lain yang berkaitan
This website is presented by us, students of Faculty of Medicine University of Indonesia. We hope it will bring benefits for you..and have a good day...-dian-windi-sisca-ayu-yordan-
Last edited by gitahafas on Sat Jul 17, 2010 5:20 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Sat Apr 24, 2010 8:07 am | |
| DIAGNOSIS LABORATORIK INFEKSI HIV SIMPOSIA - Edisi Maret 2007 (Vol.6 No.Cool Farmacia
VL menunjukkan tingginya replikasi HIV dan kecepatan penghancuran CD4 dan tinggi-rendahnya VL menunjukkan cepat-lambatnya perjalanan penyakit dan kematian.
Awalnya, tahun 1981, kasus HIV/AIDS teridentifikasi setelah fisik penderitanya layuh tak berdaya.Tapi, saat ini telah tersedia alat diagnostik laboratorium infeksi HIV yang akurat dengan tingkat sensitifitas dan spesifisitas yang cukup tinggi. Dengan terdiagnosisnya infeksi HIV positif, maka seseorang dinyatakan berstatus sebagai penderita. Kemudian akan dilanjutkan dengan pemeriksaan jumlah CD4 dan viral load HIV. Pada akhirnya, akan diputuskan jenis pengobatan anti-retroviral yang bertujuan untuk memperpanjang harapan hidup dan mengembalikan kualitas hidup.
dr. Endang Retnowati, M.S., Sp.PK, konsultan patologi klinik di Unit Perawatan Intermediet Penyakit Infeksi RSU Dr. Soetomo pada Maret – Agustus 2006 menunjukkan hasil pemeriksaan anti-HIV dengan rapid test (3 metode) sebanyak 552 orang. Ada 119 orang (21,6%) diantaranya positif dan 398 orang (77,5%) negatif. Sedangkan 5 orang lainnya (0,9%) indeterminat.
Penggunaan strategi pemeriksaan HIV bertujuan untuk keamanan transfusi dan produk darah (strategi I), surveilans (strategi I dan II), diagnosis (strategi I dan II untuk yang gejala AIDS positif serta strategi II dan III untuk infeksi HIV yang tanpa gejala). Diagnosis pasien asimtomatik harus menggunakan strategi III dengan persyaratan sensitifitas reagen pertama > 99%, spesifisitas reagen kedua > 98%, spesifisitas reagen ketiga > 99%, preparasi antigen atau prinsip tes reagen 1,2,3 tidak sama dan prosentase hasil kombinasi 2 reagensia pertama yang tidak sama (discordant) < 5%.
Adapun cara mendiagnosis infeksi HIV, menurut Endang, salah satunya adalah dengan mendeteksi salah satu dari antibodi terhadap HIV, antigen p24 dan asam nukleat HIV (PCR). Antibodi terbentuk kurang-lebih 3 - 6 minggu, namun bisa juga mencapai 3 – 6 bulan. Bila <3 minggu tidak terdeteksi, maka bisa saja saat tersebut masih dalam periode jendela (window period). Jika hasil pemeriksaan antibodi HIV terbukti positif, maka sudah pasti pasien ini terinfeksi HIV. Pemeriksaan antibodi lebih banyak dipilih oleh kalangan dokter.
Saat ini teknik yang umum digunakan untuk deteksi antibodi adalah Elisa dan Rapid test. Yang paling banyak digunakan adalah Rapid test. Elisa memerlukan alat pembaca khusus sedangkan Rapid test bisa diamati langsung secara visual. Rapid test juga bisa digunakan untuk spesimen yang jumlahnya sedikit bahkan jika hanya satu spesimen. Namun Elisa mampu mendeteksi antigen dan antibodi dengan mempergunakan reagen generasi keempat, sedangkan Rapid test hanya mendeteksi antibodi dengan reagen generasi ketiga. Untuk sensitifitas dan spesifitas keduanya hampir sama. Jenis pemeriksaan Rapid test adalah yang paling efisien dan banyak digunakan oleh para klinisi.
Kondisi bahan pemeriksaan dapat mempengaruhi hasil pemeriksaan. Bahan pemeriksaan terbaik adalah serum/plasma dengan syarat tidak hemolisis, tidak keruh, disimpan dan dikirimkan dengan baik, ditempeli label yang sesuai dan berada dalam penampung yang tidak bocor.
Permasalahannya, deteksi infeksi HIV dengan antibodi pada keadaan sel B tidak dapat membentuk antibodi ternyata agak sulit diinterpretasikan. Demikian pula halnya pada keadaan defek sintesis antibodi dan anak yang berumur < 18 bulan. Keadaan ini bisa jadi merupakan risiko tinggi baik dengan maupun tanpa gejala. Pada antibodi bayi yang dilahirkan dari Ibu HIV (+), IgG ibu ditransfer melalui plasenta, sehingga hasil tes menunjukkan anti-HIV positif. Pada kasus ini belum dapat ditentukan terinfeksi HIV secara pasti. Namun jika pemeriksaan antibodi HIV pada bayi berumur ≥ 18 bulan hasilnya tetap positif berarti bayi tersebut positif terinfeksi HIV. Untuk lebih memastikan diagnosis pada anak berumur kurang dari 18 bulan, bisa dengan melakukan deteksi asam nukleat, IgA (karena tidak menembus plasenta), dan pemeriksaan antigen p24. Deteksi dilakukan dengan metode Polymerase Chain Reaction (PCR).
Saat ini terdapat pula pemeriksaan HIV RNA yang bertujuan untuk deteksi dini dan memantau pengobatan anti-retroviral. Untuk deteksi dini, HIV RNA akan diketahui 5 hari sebelum p24 terdeteksi dan 10 hari sebelum anti-HIV terdeteksi.
Viral Load HIV Viral Load HIV adalah jumlah partikel virus HIV yang ditemukan dalam setiap mililiter darah. Semakin banyak jumlah partikel virus HIV di dalam darah, semakin cepat sel-sel CD4 dihancurkan dan semakin cepat pasien menuju ke arah AIDS.
Endang mengungkapkan jumlah CD4 yang dipantau dari waktu ke waktu memungkinkan mengetahui bagaimana tubuh memerangi HIV, memperkirakan risiko kearah AIDS dan mengetahui efektifitas dari terapi. Viral Load memberikan tanda sejauh mana keberhasilan suatu terapi, menjaga agar virus HIV dalam kontrol dan ditekan selama mungkin dengan pengobatan.
Viral Load HIV dapat diukur dengan PCR. Definisi PCR adalah paten teknologi yang menghasilkan turunan/kopi yang berlipat ganda dari sekuen nukleotida dari organisme target, yang dapat mendeteksi target organisme dalam jumlah yang sangat rendah dengan spesifitas yang tinggi.
Salah satu metode PCR yang digunakan saat ini adalah dengan COBAS AMPLICORTM Analyzer Process Steps. Viral Load (VL) HIV menggunakan suatu teknologi yang canggih dan sensitif untuk menghitung jumlah materi genetik virus HIV yang ada dalam darah. Suatu pemeriksaan VL yang akurat dan sensitif harus dapat mendeteksi secara konsisten, mempunyai spesifitas yang tinggi dan reprodusibilitasnya baik dari tes ke tes. VL HIV diperiksa dengan produk Roche Amplicor HIV-1 Monitor Test yang menggunakan teknologi PCR (Polymerase Chain Reaction = Reaksi Rantai Polimerase. Amplikon direaksikan dengan reagensia spesifik, sehingga dapat dihitung jumlah partikel virus HIV dalam setiap mililiter darah yang diperiksa. Proses PCR ini disebut amplifikasi atau penggandaan. Dalam proses amplifikasi target sekuen digandakan berulang-ulang sehingga didapat jutaan kopi yang dinamakan amplikon. Hasil pemeriksaan dilaporkan sebagai copies/ml atau dalam perhitungan matematik logaritma atau ‘log’. Misalnya hasil pasien X adalah 173.000 copies/ml = log 5,24 atau pelaporan dalam satuan International Unit = 88.230 IU/ml = log 4,946. VL menunjukkan tingginya replikasi HIV dan kecepatan penghancuran CD4 dan tinggi-rendahnya VL menunjukkan cepat-lambatnya perjalanan penyakit dan kematian. (Iffa/Surabaya
Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:28 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Fri May 14, 2010 2:45 pm | |
| SISTEM KLASIFIKASI UNTUK INFEKSI HIV DAN DEFINISI TEMUAN KASUS AIDS YANG DIPERLUAS, BAGI REMAJA DAN DEWASA, REVISI TAHUN 1993 MMWR 1992; 41 (No.RR-17):1-19 This website is presented by us, students of Faculty of Medicine University of Indonesia. We hope it will bring benefits for you..and have a good day...-dian-windi-sisca-ayu-yordan-
Kesimpulan: CDC telah merevisi sistem klasifikasi untuk infeksi HIV untuk mengedepankan kepentingan klinis dari pemeriksaan hitung limfosit-T CD4 dalam mengkategorikan kondisi klinis terkait infeksi HIV. Sistem klasifikasi ini menggantikan sistem yang dipublikasikan CDC pada tahun 1986 (MMWR 1986; 35: 334-9) dan sistem ini ditujukan untuk dipakai dalam praktek kesehatan masyarakat. Bersama ini CDC juga telah memperluas definisi kasus AIDS dengan mengikutsertakan semua penderita HIV yang memiliki Limfosit-T CD4 sebesar 200/l atau persentasenya dari total limfosit sebesar 14%. Perluasan ini juga menambahkankan 3 kondisi klinis_yaitu TB paru, pneumonia rekuren, dan kanker serviks invasif_disamping 23 kondisi lain yang telah tercantum sebelumnya dalam definisi kasus AIDS tahun 1987 (MMWR 1987; 36: 1-15S), untuk dipakai oleh setiap negara bagian dalam melaporkan kasus AIDS, yang digunakan secara efektif sejak 1 Januari 1993.
SISTEM KLASIFIKASI HIV UNTUK REMAJA DAN DEWASA, TEREVISI Etiologi AIDS adalah retrovirus berpola human immunodeficiency virus (HIV). Limfisit-T CD4 merupakan target utama HIV karena adanya daya afinitas virus pada penanda permukaan CD4. Limfosit-T CD4 mengatur sejumlah fungsi-funsi imun yang penting, sehingga kehilangan fungsi tersebut dapat mengakibatkan kerusakan fungsi imun secara progresif. Penelitian-penelitian terhadap perjalan penyakit akibat infeksi HIV telah menunjukkan manifestasi penyakit dalam spektrum yang luas, dari infeksi yang asimtomatik hingga kondisi-kondisi mengancam nyawa yang ditandai adanya defisiensi imun yang hebat, infeksi oportunistik serius, dan keganasan. Penelitian-penelitian lain telah menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara perkembangan penyakit oportunistik yang mengancam nyawa dengan jumlah absolut (per mikroliter darah) atau persentase limfosit-T CD4. Jika jumlah limfosit-T CD4 turun, risiko dan keparahan penyakit oportunistik meningkat.
Pengukuran jumlah limfosit-T CD4 bermanfaat untuk memandu tatalaksana pasien HIV. Antibiotik sebagai profilaksis dan terapi dengan antiretrovirus terbukti menjadi terapi paling efektif sampai batas tertentu derajat kerusakan sistem imun. Dengan demikian, terapi dengan antiretrovirus sebaiknya dipertimbangkan untuk semua orang dengan jumlah limfosit-T CD4 sebesar 500/l, dan profilaksis untuk pneumonia Pneumocystis carinii (PCP)_infeksi oportunistik serius yang paling sering ditemukan pada penderita AIDS_direkomendasikan untuk diberikan pada semua orang dengan jumlah limfosit-T CD4 sebesar 200/l dan untuk semua orang yang telah mengalami serangan PCP. Karena rekomendasi inilah, pengukuran limfosit-T CD4 menjadi bagian penting dari tatalaksana penderita HIV di Amerika Serikat.
Sistem klasifikasi untuk penderita HIV telah direvisi untuk dapat memasukkan jumlah limfosit-T CD4 sebagai penanda infeksi HIV, dihubungkan dengan supresi sistem imun. Revisi ini membangun hubungan antar subgrup dimana berbagai kondisi klinis diintegrasikan dengan jumlah limfosit-T CD4. Tujuan dilakukannya perubahan ini adalah untuk menyederhanakan kalsifikasi penyakit akibat infeksi HIV, untuk melahirkan standar terkini dalam hal pelayanan medis bagi penderita HIV, dan untuk mengelompokkan morbiditas terkait HIV secara lebih akurat.
Pada sistem klasifiksi CDC yang direvisi bagi remaja dan dewasa (usia diatas 13 tahun), didapatkan kriteria sebagai berikut: (a) tes penapis reaktif berulang untuk antibodi HIV (seperti enzyme immunoassay) dengan antibodi spesifik yang diidentifikasi dengan tes bersuplementasi (seperti Western blot, immunofluorescence assay); (b) identifikasi langsung virus didalam jaringan tubuh hospes dengan mengisolasinya; (c) Deteksi antigen HIV; (d) hasil positif untuk tes HIV lain yang bersertifikat. Penderita dikategorikan berdasarkan kondisi klinis yang berhubungan dengna infeksi HIV dan jumlah limfosit-T CD4.
KATEGORI LIMFOSIT-T CD4 Limfosit-T CD4 dibagi menjadi 3 dan didefinisikan sebagai berikut: - Kategori 1 : 500 sel/l - Kategori 2 : 200-499 sel/l - Kategori 3 : <200 sel/l
Kategori ini sesuai dengan jumlah limfosit-T CD4 per mikroliter darah dan memandu tatalaksana penderita HIV remaja dan dewasa. Sistem klasifikasi HIV yang direvisi juga mengizinkan penggunaan persentase sel-T CD4.
Penderita HIV sebaiknya diklasifikasikan berdasarkan guidelines yang telah ada untuk ditatalaksana secara medis. Sehingga, dengan tingkat keakuratan terendah, namun tidak harus yang terbaru, perhitungan jumlah limfosit-T CD4 sebaiknya dipakai untuk kepentingan klasifikasi.
KATEGORI KLINIS Kaltegori klinis untuk penyakit akibat infeksi HIV didefinisikan sebagai berikut:
Kategori A Kategori A memiliki 1 atau lebih dari kondisi berikut pada remaja atau dewasa (13 tahun) yang telah tebukti terinfeksi HIV. Tanpa adanya kondisi lain yang termasuk dalam kategori B atau C. - Infeksi HIV tanpa gejala - Limfadenopati generalisata persisten - Infeksi akut HIV atau dengan riwayat infeksi akut HIV
Kategori B Kategori B terdiri dari kondisi bergejala yang mengenai remaja atau dewsa terinfeksi HIV yang tidak termasuk dalam kategori C dan cocok dengan sekuirang-kurangnya 1 kriteria berikut: (a) kondisi yang melengkapi infeksi HIV atau mengindikasikan adanya defek pada imunitas seluler; atau (b) kondisi yang menurut dokter membutuhkan perawatan medis dan merupakan komplikasi dari infeksi HIV. Contoh kondisi pada kategori B termasuk (namun tidak terbatas pada) sebagai berikut:
- Angimatosis basiler - Kandidiasis orofaring (thrush) - Kandidiasis vulvovaginal; yang persisten, sering kambuh, atau tidak responsif dengan terapi - Displasia serviks (sedang atau berat)/Ca in situ serviks - Gejala-gejala konstitusional, seperti demam (38,50C) atau diare yang tidak sembuh selama lebih dari 1 bulan - Leukoplakia berambut pada mulut - Herpes zoster, pada sekurangnya 2 episode terpisah atau mengenai lebih dari 1 dermatom - Purpura trombositopeni idiopatik - Listeriosis - PID, terutama bila menimbulkan komplikasi abses pada kedua tuba ovari - Neuropati perifer
Untuk tujuan klasifikasi, kondisi kategori B lebih utama dari kategori A. Contohnya, seseorang yang sebelumnya telah diterapi untuk kandidiasis persisten pada vagina atau mulut (dan belum berkembang menjadi kategori C) namun saat ini sudah tidak menimbulkan gejala sebaiknya diklasifikasikan sebagai kategori B.
Kategori C Kategori C termasuk kondisi klinis yang tergolong kasus AIDS adalah sebagai berikut:
- Kandidiasis bronkus, trakea, atau paru-paru - Kandidiasis esofagus - Kanker serviks invasif - Koksidiomikosis, diseminata atau ekstraparu - Kriptokokkosis ekstraparu - Kriptosporidiosis usus kronik (> 1 bulan) - Penyakit sitomegalovirus (selain pada hati, limpa, dan kelenjar getah bening) - Retinitis sitomegalovirus (dengan kebutaan) - Ensefalopati terkait HIV - Herpes simpleks, ulkus kronik (> 1 bulan); atau bronkitis, pneumonitis, atau esofagitis - Histoplasmosis, diseminata atau ekstraparu - Isosporiasis usus kronik (> 1 bulan) - Sarkoma kaposi - Limfoma burkitt - Limfoma imunoblastik - Limfoma, primer atau pada otak - Infeksi Mycobacteruim avium kompleks atau M. Kansasii, diseminata atau ekstraparu - Infeksi Mycobacteruim tuberculosis, paru atau ekstraparu - Infeksi Mycobacteruim spesies lain, diseminata atau ekstraparu - Pneumonia Pneumocystis carinii - Pneumonia rekuren - Leukoensefalopati multifokal progresif - Septikemia Salmonella rekuren - Toksoplasmosis otak - Wasting syndrome karena HIV
Untuk kepentingan klasifikasi, sekali seseorang masuk ke dalam kategori C, maka ia akan tetap dalam kategori C.
Tabel 36-2. Kondisi yang termasuk definisi kasus AIDS pada penelitian tahun 1993
Kandidiasis bronks, trakea, atau paru-paru · Kandidiasis esofagus · Kanker serviks, invasif · Koksidiomikosis, diseminata atau ekstraparu · Kriptokokosis, ekstraparu · Kriptosporidiosis, kronik pada usus (lamanya > 1 bulan) · Penyakit sitomegalovirus (selain oada hati, limpa, dan kelenjar getah bening) · Retinitis sitomegalovirus (dengan kehilangan penglihatan) · Ensefalopati, yang berhubungan dengan HIV · Herpes simpleks : ulserasi kronik (lamanya lebih dari 1 bulan); atau bronkitis, pneumonitis, atau esofagitis · Histoplasmosis, diseminata atau ekstraparu · Isosporiasis, penyakit usus kronik (lamanya lebih dari 1 bulan) · Sarkoma Kaposi · Limfoma Burkit (atau sejenisnya) · Limfoma imunnoblastik (atau sejenisnya) · Limfoma yang lesi primernya di otak · Kompleks Mycobacterium avium atau M. Kansasii, diseminata atau ekstraparu · Mycobacterium tuberculosis, pada organ apa pun (paru-paru atau ekstraparu) · Mycobacterium, selain spesies di atas atau spesies yang belum teridentifikasi, diseminata atau ekstraparu · Pneumonia Pneumocystis carinii · Pneumonia rekuren · Leukoensefalopati multifokal progresif · Septikemia Salmonella rekuren · Toksoplasmosis otak · Wasting syndrome yang berkaitan dengan HIV
Kategori C Kategori C termasuk kondisi klinis yang ada pada definisi kasus AIDS (Tabel 36-2). Untuk klasifikasi, bila kondisi kategori c sudah terjadi, pasien tersebut akan tetap ada pada kategori C.
Ekspansi pada Penelitian CDC Definisi Kasus pada AIDS Pada tahun 1991, dengan kolaborasi dengan the Coucil of State and Territorial Epidemiologists (CSTE), diajukan usulan perbaikan penelitian definisi kasus AIDS. Usulan ini terbuka untuk komentar publik pada November 1991 dan telah didiskusikan pada pembukaan pertemuan pada tanggak 2 September 1992. Berdasarkan informasi yang dipresentasikan dan dibahas selama periode komentar publik dan pada pembukaan pertemuan, CDC, berkolaborasi dengan CSTE, telah memperluas penelitian definisi kasus mengenai AIDS yang termasuk didalamnya yaitu seluruh orang yang terinfeksi HIV dengan hitung CD4+ Limfosit T <200 sel/L atau persentase CD4+ <14. Ditambahkan juga 23 kondisi klinis pada penelitian definisi AIDS sebelumnya, definisi tersebut termasuk tuberkulosis paru, pneumonia rekuren, dan kanker serviks invasif. Definisi ini membutuhkan konfirmasi laboratorium dari infeksi HIV pada orang dengan hitung CD4+Limfosit T <200 sel/L atau dengan kondisi klinis yang sudah ditambahkan sebelumnya. Definisi untuk laporan kasus CDC ini mulai efektif 1 Januari 1983.
Pada sistem klasifikasi HIV yang sudah direvisi, pasien pada subkategori A3, B3, dan C3 akan dilihat kriteria imunologis dari penelitian definisi kasus, sedangkan mereka yang berada pada subkategori C1, C2, dan C3 akan dilihat riteria klinisnya untuk kepentingan penelitian (Lihat tabel 36-1)
Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:27 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Fri May 14, 2010 2:55 pm | |
| TANDA TANDA ORANG TERKENA HIV Kamis, 10/06/2010 09:20 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Penyakit HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah penyakit yang paling ditakuti karena belum ada vaksin atau obat yang bisa menyembuhkannya. Kenali gejala dari HIV untuk melakukan deteksi dini. Virus yang mematikan ini akan menyerang sistem kekebalan yang membuat tubuh kehilangan kemampuan untuk melawan penyakit, sehingga tubuh lebih rentan terhadap berbagai penyakit.
Jika gejala ini tidak segera diobati, maka bisa menyebabkan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) yang merupakan penyakit mematikan. AIDS timbul sebagai dampak berkembangbiaknya virus HIV di dalam tubuh manusia. Gejala-gejala yang muncul dari HIV bisa mempengaruhi seseorang secara bertahap. Setelah virus memasuki tubuh, maka virus akan berkembang dengan cepat. Virus ini akan menyerang limfosit CD4 (sel T) dan menghancurkan sel-sel darah putih sehingga mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. Setiap tahapan dari infeksi akan menunjukkan gejala yang berbeda.
Tahap awal dari infeksi virus ini biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala apapun, gejala baru akan muncul setelah dua sampai empat minggu setelah terinfeksi. Seseorang bisa mengeluh mengalami sakit kepala yang berat dan persisten disertai dengan demam. Seperti dikutip Menshealth.about.com, Kamis (10/6/2010) ketika seseorang terinfeksi maka gejala awal yang muncul terkadang mirip dengan flu atau infeksi virus sedang. Gejala dan tanda awal dari HIV termasuk demam, sakit kepala, kelelahan, mual, diare dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak atau pangkal paha. Gejala-gejala ini hampir sama dengan infeksi virus lainnya. Karena itu banyak orang yang terinfeksi HIV tidak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi hingga bertahun-tahun sehingga mencapai stadium lanjut.
Pusat pengendalian penyakit (Center for Disease Control/CDC) mengungkapkan ada beberapa gejala yang menunjukkan stadium lanjut dari HIV yaitu: 1. Kehilangan berat badan dengan cepat tanpa adanya alasan 2. Batuk kering 3. Demam berulang atau berkeringat saat malam hari 4. Kelelahan 5. Diare yang lebih dari seminggu 6. Kehilangan memori 7. Depresi dan juga gangguan saraf lainnya.
Salah satu cara untuk mendeteksinya adalah dengan mengukur jumlah sel-sel darah putih, karena biasanya seseorang dengan HIV akan memiliki jumlah sel darah putih yang kecil. HIV bukan merupakan penyakit yang mudah untuk didiagnosis, ada dua hal yang harus diperhatikan yaitu kenali gejala yang ada dan melakukan pemeriksaan ke dokter. HIV disebabkan kebanyakan karena perilaku gonta ganti pasangan seks tanpa menggunakan kondom atau orang-orang yang memakai narkoba karena gantian menggunakan jarum suntik.
HIV menular melalui: 1. Hubungan kelamin dan hubungan seks oral atau melalui anus 2. Transfusi darah 3. Penggunaan bersama jarum terkontaminasi melalui injeksi obat dan dalam perawatan kesehatan 4. Antara ibu dan bayinya selama masa hamil, kelahiran dan masa menyusui. (ver/ir)
Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:48 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: HIV - AIDS Fri May 14, 2010 2:59 pm | |
| ALAT TES HIV/AIDS DIKEMBALIKAN, ODHA RESAH Jumat, 19 Juni 2009 | 14:56 WIB BENGKULU, KOMPAS.com — Yayasan nonpemerintah, Kipas, menyayangkan pihak RSUD M Yunus yang mengembalikan alat untuk mengetahui jumlah virus dalam tubuh penderita HIV atau yang disebut CD4 karena alasan tidak memiliki operator dan dana operasional. "Ini merupakan langkah mundur bagi penanggulangan HIV di daerah setempat, dan pengembalian alat tersebut menyebabkan para ODHA (orang dengan HIV/AIDS) resah karena alat itu sangat penting," kata Direktur Kipas, Merly Yuanda, Jumat (19/6). Selain untuk mengetahui jumlah virus dalam tubuh penderita HIV, dengan alat ini juga bisa mengetahui kombinasi Anti Retro Viral (ARV) yang tepat untuk dikonsumsi para ODHA.
Menurut Merly, pihak RSUD (rumah sakit umum daerah) harus meminta kembali alat tersebut, dan menganggarkan dana operasional serta pengadaan operator, mengingat angka penderita HIV/AIDS di Bengkulu semakin mengkhawatirkan. Pengadaan alat CD4 dilakukan Dinas Kesehatan Provinsi Bengkulu setelah para LSM dan jaringan orang terinveksi HIV, menuntut kalangan DPRD untuk mendukung penganggaran dana bagi pengadaan alat tersebut. "Setelah alatnya ada, sudah dipakai, dan hasilnya memuaskan, ternyata sekarang alat itu malah dikembalikan ke pusat," katanya.
Data di Kipas menyebutkan saat ini terdapat 335 ODHA yang membutuhkan alat CD4 untuk mengetahui jumlah virus dalam tubuh mereka, sehingga kontrol dilakukan dengan cara mengkonsumsi ARV. Meskipu masih ada alat lain yang bisa digunakan untuk melakukan tes HIV, namun menurut dia CD4 merupakan alat yang paling akurat khususnya bagi ODHA yang berniat mengkonsumsi ARV. "Memang ada rapid test, ada elisa dan western blood, tapi untuk mengetahui kombinasi ARV yang tepat untuk ODHA harus melalui tes CD4," katanya. Sementara itu, staf pelayanan medik RSUD M Yunus Desi Susanti ketika dikonfirmasi mengatakan alat tersebut terpaksa dikembalikan ke Jakarta karena tidak bisa mengeluarkan hasil tes.
Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 5:51 am; edited 2 times in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |