Membantu Mereka yang Tak BerdayaArtikel Terkait:
- Seorang Balita Gizi Buruk Dirawat di RS Fatmawati
- Jumlah Jenazah Korban Situ Gintung di RS Fatmawati Belum Bertambah
- Dua Korban Situ Gintung Masih Dirawat
- Tim Forensik Sulit Temukan Data Pembanding Korban Situ Gintung
- Wito Diantar ke Kamar Mayat dengan Bau Busuk
Sabtu, 4 April 2009 | 04:34 WIB
SOELASTRI SOEKIRNO
KOMPAS.com - Lamban dan bertele-tele. Begitu pandangan sebagian orang tentang rumah sakit milik pemerintah. Tetapi layanan Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati Jakarta bagi korban tragedi Situ Gintung memperlihatkan sisi pandang berbeda.
RSUP Fatmawati ternyata mampu memberikan layanan cepat karena mengedepankan kemanusiaan daripada memperbesar koceknya.
Begitu tanggul Situ Gintung jebol pada Jumat (27/3) dan RSUP menjadi rujukan perawatan korban luka dan tewas, pihak manajemen langsung memutuskan memberikan layanan gratis bagi para korban. Layanan meliputi pengobatan rawat jalan maupun rawat inap serta pengurusan hingga pengantaran pulang jenazah.
Manajemen rumah sakit sadar tragedi dahsyat itu menelan habis rumah korban warga Kampung Situ Gintung dan Poncol, Kelurahan Cirendeu, Tangerang Selatan, berikut isinya, serta menewaskan keluarga tercinta. Korban meninggal per 1 April mencapai 100 orang dan 91 warga (versi Posko Bencana Situ Gintung) belum diketahui nasibnya. Tak terhitung kerugian harta warga karena sekitar seribu korban petaka hanya memiliki pakaian yang melekat di badan.
”Ini kejadian luar biasa. Kami menyadari keadaan para korban,” kata Direktur Utama RSUP Fatmawati Chairul Radjab Nasution, Rabu. Tak terpikir di benak Chairul apakah pemerintah pusat lewat Departemen Kesehatan mengganti biaya bagi korban Situ Gintung atau tidak.
”Rumah sakit ini mendapat dana dari APBN. Asal bisa mengatur, dana APBN cukup untuk biaya operasional rumah sakit, termasuk untuk layanan kemanusiaan seperti ini,” lanjut dokter ahli penyakit dalam yang sudah 18 tahun memimpin rumah sakit tersebut.
Keinginan melayani korban mengesampingkan harapan rumah sakit ini bisa mendapat pemasukan dari pelayanan korban bencana tersebut. Dengan bantuan dr Aji Kadarmo beserta tim dari Disaster Victim Identification Polri, RSUP Fatmawati terus menginformasikan perkembangan terkini korban yang dirawat dan jenazah yang masuk. Untuk memudahkan keluarga mengenali jenazah, foto korban tewas dipasang di kamar jenazah.
Kecepatan dan kemudahanSelain itu, staf RSUP Fatmawati juga bahu-membahu menyiapkan data terkini. Bahkan, operator telepon mendapat data termutakhir korban dengan nama, jenis kelamin, usia, dan alamat.
Wakil Kepala Instalasi Pemasaran dan Humas RSUP Fatmawati Atom Kadam menjelaskan, sejak Jumat pekan lalu ada tugas bergilir untuk menyediakan informasi terbaru bagi masyarakat. ”Semula kami himpun data dari semua posko di Cirendeu dan kamar mayat dari kantor,” ujar Atom. Namun, untuk mempercepat pemberian informasi, Atom dan Kepala Instalasi Pemasaran serta Humas RSUP Fatmawati Nurrah Ridhawati memindahkan komputer, printer, dan mesin fotokopi ke kamar jenazah.
Staf bagian instalasi forensik bekerja total. Mereka bersemangat bekerja hingga dini hari. Bahkan, staf bagian keuangan
menyiapkan uang tunai untuk pembelian bensin dan uang bekal bagi sopir pengantar jenazah hingga ke Ngawi, Jawa Timur, dan Lampung.
Keadaan juga memaksa staf humas mengambil foto jenazah dari beberapa sudut untuk segera dicetak berwarna, lalu dipasang agar mudah dikenali keluarga. Roni, anggota staf pemasaran dan humas, mengakui, semula dia kesulitan mengambil foto jenazah. ”Kini saya mulai terampil dan biasa berhadapan dengan jenazah,” tutur perempuan yang hari-hari ini bisa ditemui di kamar jenazah.
Kerja keras mereka tak sia-sia. Banyak kerabat korban datang ke ruang jenazah untuk mengenali 36 jasad yang ada, lalu membawa jenazah pulang dengan antaran ambulans gratis. Sampai pekan ini masih banyak keluarga korban yang datang ke kamar jenazah untuk mengecek jasad temuan tim SAR.
Itu, antara lain, dilakukan Taryono (40), warga RT 04 RW 08 Cirendeu. Sejak Jumat pekan lalu ia mencari adik iparnya, Wati (25), yang belum ditemukan.
”Semula kami datang ke sini tiap hari untuk mencari tahu kalau-kalau Wati ditemukan. Belakangan, kami datang tiap ada kabar penemuan mayat perempuan,” ujar pegawai STIE Ahmad Dahlan, Ciputat, ini. Taryono yang terluka di sekujur tubuh itu juga menjadi korban petaka Situ Gintung.
Selama menunggu tanpa kepastian di kamar jenazah, keluarga tersebut merasa mendapat layanan bersahabat.
Keinginan meringankan beban warga, kata Chairul Radjab Nasution, merupakan kebijakan sehari-hari. Misalnya, layanan perawatan gratis pasien rawat inap saat kejadian luar biasa demam berdarah. ”Tak peduli dia warga dari mana, asal dirawat di kelas tiga, ya bebas biaya. Mutu pengobatannya sama persis dengan pasien kelas VIP,” kata Chairul.
RSUP Fatmawati, yang semula memiliki lahan seluas 44 hektar dan kini tinggal 14 hektar, merupakan rumah sakit terbesar di Jakarta Selatan. Rumah sakit ini memiliki tenaga 1.929 orang, terdiri dari 233 dokter, 682 perawat, 250 tenaga medis nonperawat, dan sisanya tenaga nonmedis. Layanan unggulan rumah sakit ini adalah bedah ortopedi dan rehabilitasi medik.
Awalnya, rumah sakit ini berdiri berkat gagasan Ibu Negara Fatmawati Soekarno yang ingin membuat rumah sakit tuberkulosis anak-anak dan rehabilitasinya di Kecamatan Cilandak, yang waktu itu berhawa sejuk. Karena berutang Rp 2,5 juta pada Departemen Kesehatan, pada 12 April 1961 Rumah Sakit Ibu Soekarno diubah menjadi rumah sakit umum dan diselenggarakan oleh Departemen Kesehatan.
Menjelang usia ke-48 tahun pada 15 April nanti, pihak manajemen akan terus berupaya menjadikan RSUP Fatmawati sebagai rumah sakit terkemuka yang memberikan pelayanan melampaui harapan pelanggan.... (
PINGKAN ELITA DUNDU)
Sumber : Kompas Cetak