|
| | Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Penyakit Kanker Sat Mar 17, 2012 10:19 am | |
| HINDARI KATA "VONIS" UNTUK KANKER Bramirus Mikail | Asep Candra | Kamis, 9 Juni 2011 | 08:28 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Setiap orang yang divonis menderita kanker pasti akan mengalami pukulan besar. Kata "kanker" adalah momok bagi siapa pun mengingat sebagian besar penyakit ini sulit disembuhkan, terutama bila sudah dalam stadium lanjut. Menurut Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, yang juga surviver kanker paru, penggunaan kata "vonis" untuk penyakit kanker merupakan hal yang kurang tepat. Endang menyatakan, kata-kata tersebut seperti layaknya sebuah hukuman terhadap seseorang. "Sebaiknya kita memang tidak menggunakan kata-kata seperti itu. Selain kata-kata itu tidak betul, juga tidak memberi semangat," ungkapnya, saat menghadiri diskusi buku Berdamai dengan Kanker di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Rabu (8/6/2011). Endang mengimbau, alangkah baiknya jika kata "vonis" diganti dengan "diagnosis". Itu karena, menurutnya, diagnosis dan vonis mempunyai arti yang sama, tetapi lebih enak didengar. "Seperti misalnya diagnosis tifoid atau diagnosis flu," imbuhnya.
Pada kesempatan itu Menkes juga mengatakan keprihatinannya karena masih banyak masyarakat yang lebih memilih jalur pengobatan alternatif dibandingkan dengan terapi medis. Menkes menduga, alasan masih banyak orang berobat ke alternatif disebabkan metode pengobatannya yang relatif mudah dan tak membuat sakit. Berbeda halnya dengan pengobatan medis yang memang kadang membuat pasien mengalami efek samping. Salah satu contoh, misalnya, kemoterapi yang kerap membuat pasien mengalami ketidaknyamanan seperti mual, muntah, dan sakit. "Namun, semakin lama kemajuan di dunia kedokteran itu makin pesat. Makin dicari cara-cara di mana sedikit sekali menimbulkan ketidakenakan. Dan yang penting, yang dikejar bukan kesembuhan atau menghilangkan kanker, tetapi bagaimana orang itu bisa hidup dengan kualitas yang baik dari hari ke hari," tutur Endang. Endang menyadari, praktik pengobatan alternatif di masyarakat saat ini berkembang sangat cepat, tetapi Kemenkes belum dapat menertibkannya. Hingga saat ini, menurut Endang, pihaknya masih mencari cara yang tepat untuk melakukan penertiban dan penindakan. "Kami lagi mencari bagaimana mekanismenya dengan pemerintah daerah, dan badan pengawas lain agar kita bisa memberantas ini," pungkasnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Sat Mar 17, 2012 10:20 am | |
| BILA KANKER SUDAH STADIUM IV, BERAPA LAMA PELUANG PASIEN BISA BERTAHAN? Rabu, 11 Mei 2011 17:17 WIB REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pengobatan kanker dewasa ini masuk golongan pengobatan yang mahal.Tak jarang pasien kanker baru terdeteksi kanker pada stadium lanjut atau stadium III dan IV. Padahal kanker dengan stadium lanjut membutuhkan biaya pengobatan yang mahal karena terbatasnya pilihan. ''Di atas 50 persen kasus kanker terdeteksi pada stadium IV sementara sekitar 20 persen terdeteksi pada stadium III A dan III B,'' tutur Ahli Penyakit Kanker RS Kanker Dharmais, Asrul Harsal saat Diskusi Forum Cancer Management & Financing di Jakarta, Rabu (11/5).
Ia menegaskan bahwa sampai sekarang target sembuh pada penyakit kanker stadium lanjut belum ada. Dan untuk melakukan pengobatan membutuhkan setidaknya enam siklus. Dimana setiap siklus Rp 6 juta. Jika kanker dideteksi pada stadium lebih awal, jelas Asrul, bisa disembuhkan.' 'Untuk kanker stadium I dan II kemungkinan sembuh ada dengan operasi,'' tutur dia. Sehingga tidak perlu melakukan pengobatan yang berkelanjutan.
Sementara fakta menyebutkan bahwa kanker rediagnosis pada stadium dini, sampai 80 persen akan bertahan hidup dengan terapi setidaknya lima tahun sejak terdiagnosis. Sedangkan saat kanker sudah menyebar ke bagian tubuh lain sekitar 15-35 persen pasien hidup sampai satu tahun. Dan hanya dua persen pasien yang bertahan hidup sampai dua tahun. Dan kemungkinan untuk sembuh pada stadium IV hanya satu dari 100 orang penderita. Sedangkan untuk stadium III B, kemungkinan sembuh hanya lima dari 100 orang. Dan untuk stadium III A kemungkinan sembuh 13 orang dari 100 orang. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Sat Mar 17, 2012 10:21 am | |
| PEPAYA BISA MENCEGAH KANKER? Senin, 04 Juli 2011 18:40 WIB REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Beberapa buah buahan dikenal memiliki bnayk manfaat, sehingga mereka disebut buah super. Kini ada satu buah yang lebih super dan dikenal berguna untuk mencegah kanker, yaitu buah Pepaya. Pepaya adalah salah satu buah yang mengandung lycophene, yang dikenal sebagai zat yang sangat efektif dalam mencegah dan memerangi penyebaran sel kanker. Seperti dikutip dari Menshealth, penelitian baru- baru ini menemukan bahwa lycophene menstimulasi tingkat dari sel pertahanan di dalam tubuh untuk melawan kanker. Hal ini bisa mencegah kerusakan DNA dan menghambat penyebaran kanker. Para peneliti dari dari universitas Florida menemukan bahwa Pepaya efektif sebagai agen anti kanker untuk melawan jenis kanker seperti rahim, payudara, hati, paru-paru dan pankreas. Hasil dari penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal Ethnopharmacology.
Hal ini diketahui setelah para peneliti mengadakan pengujian menggunakan teh yang dibuat dari ekstrak daun pepaya kering. Buah itu dikenal bisa meningkatkan zat kimia yang mengatur sistem kekebalan tubuh. Dr Nam Dang dari Universitas Florida mengatakan bahwa ekstra pepaya yang diuji di laboratorium ini tak memiliki efek samping beracun terhadap sel yang normal. Sehingga kemungkinannya ia bisa digunakan sebagai obat alternatif. Penelitian lanjutan masih diperlukan untuk menentukan efek yang dihasilkannya jika ia masuk kedalam tubuh.
Dalam hal kandungan lycophene, ternyata Pepaya juga memiliki kandungan lain berupa sumber vitamin C, potasium dan asam folat yang membuatnya menjadi buah yang sangat menyehatkan. Buah buahan lainnya dan sayuran yang mengandung lycophene yang cukup baik adalah tomat, semangka, anggur, dan secara umum makanan yang mengandung lycophene memiliki daging yang penuh warna. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Sat Mar 17, 2012 10:21 am | |
| 60-70% PENDERITA KANKER BUTUH TERAPI RADIASI Rabu, 6 Juli 2011 | 17:20 Suara Pembaruan [JAKARTA] Pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) nuklir dalam dunia kesehatan memiliki peran penting terutama untuk penderita kanker. Sebab 60-70 persen pasien atau penderita kanker perlu terapi radiasi. Terapi radiasi merupakan salah satu pemanfaatan iptek nuklir di bidang kesehatan. Proses ini juga dikenal dengan radioterapi. Kepala Departemen Radioterapi RSCM Soehartati Gondhowiarjo mengatakan saat ini banyak pasien penderita kanker yang datang berobat pada stadium lanjut padahal tingkat keberhasilan radioterapi tinggi jika kanker dideteksi secara dini. "Ada beberapa penanganan kanker yaitu bedah, radioterapi, kemoterapi bahkan sekarang ada targeted therapy dan imuned therapy. Keberhasilan radiasi dilihat tidak dari satu modality pengobatan, kecuali jika kanker diketahui dini," katanya di sela seminar nasional iptek nuklir di Jakarta, Rabu (6/7).
Saat ini jelasnya kanker mulut rahim (serviks) menempati urutan pertama dominasi kanker dan kedua adalah kanker payudara. Menurutnya, penggunaan radiasi dalam radioterapi sudah mengikuti standar nasional dan internasional. Sebab energi radioterapi mencapai 20 mega volt sedangkan radiodiagnostik (rontgen) hanya 500 kilo volt. Masyarakat diimbau untuk tidak khawatir, alat yang digunakan dalam radioterapi dikalibrasi oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) baik harian, mingguan, bulanan bahkan tahunan.
Kepala Batan Hudi Hastowo mengatakan pemanfaatan iptek nuklir justru sudah dilakukan sebelum tahun 1977 oleh GA Siwabessy yang dikenal sebagai bapak atom Indonesia dan pernah menjadi radiolog di RSCM. "Pemanfaatan iptek nuklir juga berguna untuk diagnostik terapi kanker. Batan pun juga memanfaatkan iptek nuklir untuk bidang kesehatan lainnya selain kanker yakni vaksin malaria dari radiasi yang masih proses penelitian," ucapnya. Senada dengan itu Staf Ahli Menteri Kesehatan Triono Soendoro menyatakan kementerian kesehatan sangat membutuhkan pemanfaatan iptek nuklir di bidang kesehatan salah satunya biomarker sebuah alat penanda tingkat molekul untuk mendeteksi penyakit di stadium awal.
Ketika pemanfaatan iptek nuklir terus ditingkatkan dan Indonesia menjadi pemain di negerinya sendiri diperkirakan tahun 2018 orang tidak perlu cek up untuk ketahui penyakit. Tetapi dengan 2-3 tetes darah bisa diketahui berapa tahun lagi orang tersebut akan terkena penyakit tertentu. Sejak tahun 1997 lanjutnya, Kementerian Kesehatan dan Batan sudah membangun kerjasama keselamatan radiasi. Kerjasama ini akan terus ditingkatkan dengan terus memperbaharui peralatan dan monitoring radiasi. [R-15] |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Sat Mar 17, 2012 10:22 am | |
| SUNTIK KANKER MAMPU RUSAK SEL TUMOR Rabu, 22 Juni 2011 15:15 WIB Media Indonesia - Penulis : Prita Daneswari PENELITIAN termutakhir para ilmuwan menemukan teknologi suntik kanker yang justru bisa menyingkirkan tumor. Pengobatan revolusioner ini pun dipuji sebagai langkah besar dalam menanggulangi penyakit dengan merangsang sistem kekebalan tubuh sehingga mencari dan menghancurkan sel-sel kanker. Vaksin memang ini tidak akan sepenuhnya menyembuhkan kanker, tapi para peneliti percaya metode ini akan membantu membuat penyakit ini lebih seperti penyakit kronis daripada penyakit pembunuh tanpa ampun. Pasien kanker yang diberikan suntikan ini dapat hidup lebih lama dengan penyakit di mampu dikendalikan.
Para ilmuwan dari Cancer Research UK dan University of Leeds menemukan cara berbasis DNA untuk mengaktifkan sistem kekebalan tubuh dan membunuh tumor tanpa efek samping. "Tantangan terbesar dalam imunologi adalah mengembangkan antigen (memicu sistem kekebalan tubuh) yang dapat mencapai tumor tanpa menyebabkan kerusakan di tempat lain. Dengan menggunakan DNA dari bagian yang sama dari tubuh sebagai tumor yang dimasukkan ke dalam virus, kita mungkin dapat memecahkan masalah ini, " kata Prof Alan Melcher, peneliti di Pusat Penelitian Kanker Inggris di University of Leeds, seperti dikutip dari Daily Express, Senin (20/5).
"Ini mungkin tidak akan menyembuhkan, setidaknya kanker akan terkendali. Ini berarti orang akan mampu hidup lebih lama. Kanker akan lebih menjadi sebuah penyakit kronis daripada hukuman mati," tambahnya. Diharapkan, uji klinis bisa dimulai dalam waktu dua atau tiga tahun. Jika terbukti berhasil pada manusia, vaksin bisa membantu orang untuk hidup bebas tumor dengan lebih sedikit efek samping jika dibandingkan dengan yang menjalani terapi saat ini. Temuan ini telah dipublikasikan dalam jurnal Nature Medicine edisi Juni 2011. (Pri/OL-06) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Sat Mar 17, 2012 10:23 am | |
| TINGKATKAN KUALITAS HIDUP DENGAN TERAPI TARGET Rabu, 11 Juni 2008 16:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Purwanti Kanker paru adalah kanker yang paling sering terjadi, terutama di kalangan perokok. Kanker paru ditandai dengan adanya pertumbuhan jaringan abnormal pada paru-paru yang jika tidak diambil tindakan, dapat menyebar ke organ lainnya, seperti tulang, hati bahkan otak. Pengobatan kanker paru ada beberapa cara, seperti melakukan pembedahan, radioterapi atau radiasi sinar-X berintensitas tinggi untuk membunuh sel kanker dan kemoterapi dengan memberikan obat-obatan berupa infus maupun bentuk tablet untuk diminum. Namun ada beberapa efek samping dari pengobatan di atas, seperti pada kemoterapi misalnya.
Pada umumnya, pasien mengalami efek samping seperti mual, muntah dan rambut rontok. Kondisi seperti ini dapat menurunkan kualitas hidup dan kepercayaan diri penderita kanker paru. Namun saat ini, penderita kanker paru memiliki alternatif pengobatan lain. Pengobatan ini dikenal dengan nama terapi target (Targeted Therapy) atau terapi fokus sasaran. Terapi target ini adalah dengan pemberian obat yang mempunyai target spesifik untuk menghambat pertumbuhan dan pembelahan sel kanker. Obat ini memiliki bahan aktif gefitinib. Saat ini di banyak negara, bahan aktif gefitinib menjadi pilihan terbaik untuk mengobati kanker paru. Penggunaan obat ini dapat menghambat pertumbuhan sel tumor dan menghambat pertumbuhan pembuluh darah pada sel kanker, sehingga mencegah penyebaran sel tumor sekaligus meningkatkan kematian pada sel kanker.
Terapi target ini terbukti memiliki manfaat pada kasus kanker stadium lanjut (3B). Pada penelitian Iressa Dose Evaluation in Advance Lung Cancer (IDEAL) dilakukan pemberian dosis 250 dan 500 gram per hari. Hasilnya, ada perbaikan radiologik dan klinik sehingga memberikan peningkatan angka harapan hidup berkisar 7 sampai 7.6 bulan. Menurut studi klinis Iressa Survival Evaluation in Lung Cancer (ISEL) menunjukkan peningkatan kualitas hidup pasien hingga 40 persen dibandingkan dengan penggunaan placebo yang hanya kurang dari 20 Persen. Obat dengan merk dagang Iressa-TM ini diberikan pada pasien stadium lanjut atau stadium 3B dan 4. Terapi target ini memiliki efek toksik yang relatif ringan. Ada efek samping ynag ditimbulkan dari pengobatan Iressa ini, seperti gatal-gatal, diare dan mual pada minggu kedua atau ketiga setelah mengonsumsi obat Iressa yang menandakan obat tersebut mulai bekerja. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Sat Mar 17, 2012 7:56 pm | |
| BENARKAH KANKER LEBIH BISA SEMBUH JIKA TAK DIKEMOTERAPI? Selasa, 24/01/2012 18:30 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Sebagian orang berpendapat efek samping kemoterapi lebih besar dibandingkan manfaat yang didapatkan. Bahkan peluang untuk kanker sembuh dengan sendirinya diyakini justru lebih tinggi jika dibiarkan tanpa kemoterapi. Benarkah demikian? Berbagai tulisan tentang hal itu banyak beredar di situs-situs maupun forum diskusi di internet. Sebagian besar mengatakan bahwa tingkat kesembuhan kanker yang diobati dengan kemoterapi hanya sekitar 3 persen, sedangkan sisanya 97 persen berakhir dengan kegagalan. Angka ini kemudian dibandingkan dengan data lain yang menunjukkan bahwa peluang kanker untuk sembuh sendiri tanpa diobati. Menurut sebuah data dari Norwegia, 22 persen kanker payudara mengalami spontaneus remission atau sembuh dengan sendirinya. Perbandingan ini memunculkan dugaan bahwa keberhasilan kemoterapi tidak hanya rendah, tetapi sekaligus juga menurunkan peluang bagi tubuh untuk memerangi sel kanker itu sendiri. Faktanya, obat kemoterapi memang menurunkan sistem kekebalan tubuh. Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, Dr Drajat Ryanto Suardi, SpB(K)Onk membenarkan bahwa efek samping obat kemoterapi bisa menurunkan daya tahan tubuh. Namun jika dikatakan bahwa peluang keberhasilan kemoterapi hanya 3 persen, dengan tegas ia membantah.
"Bisa saya katakan, data itu tidak benar. Ada banyak faktor yang mempengaruhi efektivitas dan tingkat kesembuhan kemoterapi dan sejauh ini tidak ada data ilmiah yang mengatakan demikian," tegas Dr Drajat saat dihubungi detikHealth, Selasa (24/1/2012). Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan kemoterapi menurut Dr Drajat adalah jenis sel kanker dan sensitivitasnya terhadap obat. Limfoma malignant (kanker getah bening) dan kanker payudara misalnya, jika diambil angka secara kasar kasar rata-rata tingkat keberhasilan kemoterapinya bisa mencapai 50 persen. Faktor berikutnya adalah grade atau tingkat keganasan kanker (sifat kanker) yang terdiri dari 3 grade, makin rendah grade kankernya maka tingkat keberhasilan kemoterapi makin tinggi. Kedua faktor tersebut, grade dan jenis kanker ditentukan berdasarkan hasil biopsi atau pemeriksaan sampel jaringan.
Selain itu, stage atau stadium kanker yang terdiri dari 4 stadium juga mempengaruhi keberhasilan kemoterapi. Sebagai contoh untuk kanker payudara, stadium 1 punya tingkat keberhasilan antara 80-85 persen sehingga pemeriksaan dini akan sangat menentukan peluang kesembuhan. Tak kalah pentingnya, kebulatan tekad pasien dalam menjalani kemoterapi juga sangat menentukan tingkat keberhasilan. Menurut Dr Drajat, jika pasien punya tekad kuat untuk sembuh maka tanpa disadari tubuhnya akan membantu melakukan fight atau perlawanan terhadap sel kanker. Terkait pendapat bahwa peluang kesembuhan kanker bisa lebih tinggi jika dibiarkan tidak diobati, Dr Drajat kurang sependapat. Bahkan ketika pasien memutuskan untuk menjalani pengobatan alternatif, pengobatan secara medis baik berupa kemoterapi, operasi maupun radioterapi tetap tidak boleh ditinggalkan. "Pada dasarnya tidak ada larangan untuk melakukan pengobatan alternatif. Kapan saja mau dilakukan boleh-boleh saja, yang penting medisnya jangan ditinggalkan karena kalau hanya mengandalkan alternatif itu kan belum ada bukti ilmiahnya," pesan Dr Drajat. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Sun Mar 18, 2012 7:15 pm | |
| 10 OBAT ALAMI PEMBASMI KANKER Minggu, 18/03/2012 12:00 WIB 10 Obat Alami Pembasmi Kanker Putro Agus Harnowo - detikHealth Jakarta, Beberapa makanan dan bumbu mengandung senyawa dan sifat yang mampu melawan beberapa jenis kanker seperti kanker prostat, kanker paru, kanker perut, dan banyak lagi. Penelitian telah mengungkapkan bahwa beberapa jenis makanan memiliki potensi besar untuk mencegah atau mengurangi risiko kanker tertentu dibandingkan makanan lainnya. Seperti dilansir Prostate.com, Minggu (18/3/2012), berikut adalah 10 makanan yang terbukti klinis ampuh melawan kanker.
1. Kacang Kacang merupakan sumber protein nabati yang terbaik dan mengandung kadar serat yang cukup baik. Peneliti di Colorado State University telah menemukan kemampuan antikanker yang terkandung dalam kacang. Kacang yang berwarna putih kemerahan memiliki efek anti kanker yang lebih besar dibandingkan yang berwarna kebiruan. Kacang yang lebih berwarna memiliki efek lebih ringan. Dalam sebuah penelitian lain, peneliti memantau kebiasaan makan 490.000 orang lebih dan membandingkannya dengan risiko kanker mulut, tenggorokan dan laring. Hasilnya, makanan yang sangat ampuh melindungi terhadap kanker adalah kacang-kacangan, wortel, dan tomat.
2. Brokoli dan sayuran sejenisnya Brokoli dan sayuran sejenisnya seperti kol, kembang kol, kubis, dan kangkung mengandung senyawa yang ampuh melawan kanker. Senyawa tersebut adalah indole-3-karbinol (I3C) dan diindolylmethane (DIM). I3C dan DIM meningkatkan metabolisme estrogen agar menjadi lebih aman. Hormon estrogen diketahui dapat memicu kanker. Tunas brokoli juga merupakan sumber sulforaphane, fitokimia yang telah terbukti dapat meningkatkan produksi enzim pelawan kanker. Dua senyawa lain pelawan kanker adalah lutein dan zeaxanthin yang juga ditemukan pada sayuran. Lutein terbukti dapat melawan kanker prostat dan kanker usus besar.
3. Wortel Wortel merupakan sumber beta-karoten, antioksidan kuat yang terbukti dapat menurunkan risiko berbagai jenis kanker, termasuk kanker prostat, mulut, tenggorokan, usus besar, lambung, dan kandung kemih. Sebuah penelitian mengenai urologi menemukan bahwa konsumsi wortel dan sayuran berkaitan dengan penurunan risiko kanker kandung kemih. Sebuah penelitian yang dilakukan National Cancer Institute juga menegaskan wortel membantu mengurangi risiko kanker mulut dan tenggorokan. Selain beta-karoten, wortel juga memiliki zat anti kanker yang disebut falcarinol. Beberapa penelitian menemukan bahwa beta-karoten meningkatkan risiko kanker paru-paru, namun penelitian ini menggunakan suplemen beta-karoten dan risiko tertinggi dijumpai pada perokok.
4. Cabai Merah Cabai merah mengandung capsaicin, zat yang memiliki kemampuan memerangi kanker di beberapa bagian tubuh. Dalam sebuah penelitian laboratorium tahun 2007, capsaicin terbukti memperlambat pertumbuhan sel kanker prostat dan mendorong sel kanker melakukan bunuh diri. Kanker paru-paru umum dijumpai pada pria. Peneliti di Marshall University di West Virginia baru-baru ini menemukan bahwa capsaicin berguna dalam terapi sel kanker paru-paru. Capsaicin juga berperan penting untuk memerangi kanker perut.
5. Bawang putih Bawang putih mengandung senyawa allium yang dapat meningkatkan aktivitas sistem kekebalan tubuh yang dirancang untuk melawan kanker. Senyawa, ini disebut sultides dialyl dan mampu menghalangi karsinogen masuk ke dalam sel, sekaligus memperlambat perkembangan tumor. Orang yang rutin makan bawang putih mentah ataupun dimasak akan menurunkan setengah risiko kanker perut dan dua pertiga risiko kanker kolorektal, demikian menurut penelitian yang dimuat American Journal of Clinical Nutrition. Dalam sebuah penelitian dari Cina, peneliti menemukan bukti bahwa senyawa berasal dari bawang putih yang disebut S-allylcysteine memiliki efek antikanker terhadap sel kanker prostat di laboratorium. Bawang putih merupakan ramuan serbaguna yang dapat mudah ditambahkan dalam makanan.
6. Jamur Ada berbagai jamur yang berbeda dengan kandungan kimia yang berbeda pula. Jamur shiitake, reishi, Coriolus versicolor, dan maitake diketahui memiliki sifat melawan kanker. Kemampuan antikanker ini diduga akibat kandungan polisakarida yang meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga kuat melawan kanker. Jamur juga mengandung protein atau molekul gula yang disebut lektin. Lektin terbukti memiliki kemampuan mencegah sel kanker berkembang biak. Senyawa lain dalam jamur adalah ergosterol peroksida yang dapat menghambat pertumbuhan sel-sel kanker prostat, menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam jurnal Chemico Biological Interactions. Dalam sebuah penelitian di Korea, para ilmuwan menemukan bahwa jamur yamabushitake berpotensi melawan leukemia pada manusia. Penggunaan ekstrak shiitake pada pasien kanker juga menunjukkan hasil yang menjanjikan. Para peneliti menemukan bahwa pasien kanker pencernaan atau kanker payudara yang meminum ekstrak jamur bersama dengan kemoterapi mengalami peningkatan kualitas hidup dan fungsi kekebalan tubuh.
7. Raspberi Raspberi merupakan sumber antioksidan dan fitonutrien yang disebut anthocyanin yang dapat melindungi tubuh dari kanker. Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Cancer Research, tikus yang diberikan makanan yang mengandung 5% - 10% beri hitam mengalami penurunan jumlah tumor kerongkongan sebesar 43% - 62%. Dalam penelitian selanjutnya, ekstrak raspberi hitam menghambat pertumbuhan sel kanker usus besar dan kanker esofagus pada tikus. Dalam penelitian yang dilakukan Ohio State University, bubuk raspberi hitam diberikan kepada pasien yang menderita kanker kolorektal. Para peneliti menemukan bukti bahwa raspberi hitam berdampak positif pada pengurangan kanker kolorektal.
8. Anggur Resveratrol adalah antioksidan yang biasanya terkandung dalam buah anggur dan anggur merah. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Departemen Pertanian AS menemukan bahwa resveratrol memperlambat pertumbuhan sel kanker prostat. Sebuah penelitian dari Italia menegaskan bukti bahwa resveratrol dan sifat anti radangnya bisa membantu memerangi kanker yang mematikan. Peneliti di Jepang juga telah menemukan bahwa resveratrol membuat sel kanker kolon melakukan bunuh diri.
9. Tomat Antioksidan dan fitonutrien yang disebit likopen banyak terkonsentrasi pada tomat yang dimasak atau diolah. Sebuah penelitian besar yang melibatkan hampir 48.000 orang pria menemukan bahwa pria yang mengkonsumsi tomat dan produk tomat memiliki risiko 35% lebih rendah terkena kanker prostat dan 53% lebih rendah terkena kanker prostat agresif. Para peneliti menegaskan bahwa konsumsi produk tomat sering dikaitkan dengan penurunan risiko kanker prostat. Selain itu, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa konsumsi tomat dan likopen berhubungan dengan penurunan risiko kanker paru-paru.
10. Kunyit Kunyit sudah dianggap sebagai makanan antikanker karena memiliki berbagai sifat anti kanker yang penting. Dalam jurnal Frontiers of Bioscience, peneliti menemukan bahwa kurkumin, bahan aktif dalam kunyit, memiliki berbagai sifat anti kanker. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kurkumin sangat kuat melawan kanker usus besar. Penelitian yang dimuat dalam jurnal Nutrition and Cancer menunjukkan bahwa kurkumin yang digunakan bersama dengan kemoterapi merupakan strategi yang efektif untuk mengobati kanker pencernaan. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Sun Mar 18, 2012 8:12 pm | |
| PET SCAN, MRI, BRACHYTERAPI DAN POLIKLINIK EXCUTIVE DI RS KANKER DHARMAIS RESMI DIMANFAATKAN Jakarta, 14 Maret 2012 Rabu, 14 Maret 2012 Menteri Kesehatan, dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH meresmikan pemanfaatan Peralatan Penunjang Terapi dan Diagnostik serta Fasilitas Kanker di Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta. Dalam sambutannya Menkes menyampaikan, penyakit kanker merupakan urutan kedua teratas dalam daftar penyakit yang mematikan, setelah penyakit jantung.Berbagai penelitian tentang penyakit kanker dilakukan di dunia untuk mengidentifikasi faktor risiko, cara pencegahan, dan cara pengobatan yang tepat.Dan untuk penyakit kanker jenis tertentu, deteksi dini dapat mencegah risiko kematian secara bermakna. Menkes mengatakan, perkembangan teknologi kedokteran yang pesat dalam bidang pencitraan medis telah memberi banyak peluang dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan penderita kanker. Salah satu produk teknologi canggih dalam bidang pencitraan medis adalah Positron Emission Tomography (PET) Scan. Alat canggih ini dimaksudkan untuk diagnosis dini penyakit kanker dan alat ini sekarang tersedia di Rumah Sakit Kanker Dharmais. “Kehadiran alat PET scan yang direkomendasikan digunakan untuk mendeteksi kanker secara dini tentu amat membesarkan hati kita”, ujar Menkes. Dengan deteksi dini kanker, maka para klinisi di RSK Dharmaismempunyai peluang untuk melakukan pengobatan dini dan mengidentifikasimetode pengobatan yang tepat. Sehingga peluang untuk sembuh atau harapan berusia lebih panjang akan meningkat dan biaya pengobatan diharapkan dapat dikurangi, kata Menkes.
Menkes menyampaikan, keberadaan alat ini diharapkan dapat mendorongmasyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan di dalam negeri. Agar harapan tersebut terpenuhi, maka ketersediaan alat canggih ini harus didukung dengan Sumber Daya Manusia dengan kompetensi, kualitas, dan profesionalitas yang seharusnya. Selanjutnya, RS Kanker Dharmais hendaknya juga mampu memberikan layanan yang terbaik dalam bidangnya sebagai pusat unggulan layanan kanker. Tidak hanya upaya kuratif dan rehabilitatif saja, namun juga upaya promotif dan preventif. Untuk mewujudkan kondisi tersebut maka berbagai langkah perlu diambil oleh jajaran Direksi RSK Dharmais bersama seluruh karyawan/karyawati. Pada kesempatan tersebut Menkes mengingatkan bahwa setiap kali tersedia alat, sarana, atau prasarana baru di suatu rumah sakit, maka hal itu merupakan peluang bagi jajaran Direksi bersama seluruh karyawan/karyawati rumah sakit tersebut untuk memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Tidak kalah pentingnya Menkes berpesan bahwa peresmian pemanfaatan alat canggih di RSK Dharmais adalah upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi pasien kanker.
“Namun yang lebih penting lagi adalah keikhlasan Saudara-saudara dalam: 1)melaksanakan tugas sebagai pelayan masyarakat yang baik, 2) membantu penyembuhan pasien secara optimal dan profesional, 3) memberikan empati, perhatian dan kasih sayang kepada pasien yang Saudara-saudara layani, dan 4) memanfaatkan dan memelihara alat-alat tersebut dengan sebaik-baiknya, tekan Menkes. Menkes berharap, keberadaan alat penunjang diagnostik kanker PET Scan, MRI,alat penunjang terapi kanker Brachyterapi dan tersedianya Poliklinik Executiveserta Pojok Jamu di RSK Dharmais akan memacu Direksi bersama seluruh karyawan/karyawati untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakatmenuju pelayanan paripurna. “Semoga, semua peralatan canggih yang diresmikan penggunaannya hari ini benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan semoga RSK Dharmais dapat menjadi contoh dalam pelayanan kanker komprehensif sesuai standar nasional bahkan menuju standar Rumah Sakit Kelas dunia”, harap Menkes.
Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faksimili: (021) 52960661; 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): 021-500567, atau e-mailkontak@depkes.go.id. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Mon Mar 26, 2012 1:39 pm | |
| DETEKSI DINI BERPELUANG SEMBUHKAN PASIEN Asep Candra | Senin, 26 Maret 2012 | 07:29 WIB SEMARANG, KOMPAS - Sebagian besar penderita kanker usus besar berobat ke dokter dalam kondisi parah. Padahal, kanker usus besar bisa dicegah sejak dini dengan melihat gejala umum sehingga penanganannya bisa segera dilakukan. Demikian disampaikan pakar onkologi hematologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Aru W Sudoyo, dan Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Ign Riwanto di sela-sela Semarang Hematology-Medical Oncology Update 2012, Sabtu (24/3/2012), di Semarang, Jawa Tengah. Menurut Aru, gejala kanker usus besar bisa dilihat dari perubahan pola buang air besar (BAB), BAB berdarah, berat badan turun tanpa penyebab jelas, nyeri, dan anemia. Pada saat seseorang mengalami BAB berdarah, sebaiknya memeriksakan diri ke dokter umum dan meminta dokter melakukan colok dubur. ”Membedakan wasir dengan kanker mudah. Wasir lunak, sedangkan kanker keras,” kata Riwanto. Selama ini, banyak kasus penyakit kanker usus besar terlambat dideteksi karena saat pemeriksaan awal tak dilakukan colok dubur. Padahal, itu bisa mendeteksi sejak dini. Mendeteksi kanker usus besar, lanjut Aru, selain pemeriksaan rektal dengan jari, ada cara lain. Di antaranya, pemeriksaan darah dalam tinja, endoskopi/kolonoskopi, pemeriksaan rontgen, CT Scan, dan pemeriksaan DNA tinja (dalam penelitian).
Faktor risiko Menurut Aru, ada beberapa faktor risiko kanker usus besar, yakni kurang mengonsumsi makanan berserat dan berlemak tinggi, tambah usia, polip pada usus, riwayat kanker usus, serta ditemukan kanker ovarium (indung telur), kanker uterus, dan kanker payudara di keluarga. Faktor lain, mengidap kolitis (radang usus) ulseratif yang tak diobati, kebiasaan makan daging (merah), kurang mengonsumsi buah-buahan, sayuran, dan ikan, kurang beraktivitas fisik, berat badan berlebih, serta merokok. Penanganan kanker usus besar, menurut Riwanto, bergantung pada stadium. Jika stadium awal, kanker usus besar bisa diangkat. Semakin dini kanker usus terdeteksi, peluang sembuhnya besar. Menurut Aru, pembedahan kunci kesembuhan didukung kemoterapi dan radioterapi. ”Dengan syarat-syarat tertentu, kanker usus besar dapat sembuh.” Kriswandono (53), warga Semarang, menuturkan, setelah kemoterapi enam kali menyusul kanker usus besar yang dialaminya, ia menjalani kehidupan seperti biasa. Namun, ia berhati-hati dalam mengonsumsi makanan. (SON) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Wed Mar 28, 2012 4:15 pm | |
| LAWAN KANKER LEWAT KEKEBALAN TUBUH Asep Candra | Selasa, 27 Maret 2012 | 07:08 WIB Kompas.com - Sakit terjadi saat tubuh kehilangan keseimbangan. Hal serupa berlaku pada penyakit kanker. Saat sistem kekebalan tubuh melemah, keganasan sel bisa terjadi. Karena itu, sebagian peneliti kanker mulai fokus pada upaya memperbaiki imunitas. Sel kanker ada dalam tubuh setiap manusia. Saat sel abnormal mulai berkembang, sel kekebalan tubuh akan bergerak menghancurkannya. Pada orang berusia lanjut, orang yang mengalami stres ataupun keletihan kronis, serta yang kekebalan tubuhnya terganggu, keseimbangan antara sel kanker dan sel imun terganggu. Jika kekebalan tubuh melemah, sel kanker pun akan berkembang. Hal ini sejalan dengan kenyataan yang ditemukan dalam penatalaksanaan kanker. Pengambilan tumor lewat pembedahan, kemoterapi, dan radioterapi tidak menjamin kesembuhan pasien. Selalu ada risiko kambuh karena kekebalan tubuh penderita rendah. Penemuan sejumlah obat dengan sasaran di tingkat molekuler (molecular targeted drugs), antara lain untuk kanker paru, payudara, kolorektal (usus dan anus), dan hati, memang menyusutkan jaringan tumor. Namun, terapi itu tidak memperpanjang hidup pasien secara signifikan. Obat-obat itu ada yang menimbulkan efek samping berat. ”Kita sudah mencoba semaksimal mungkin memanfaatkan kemoterapi. Imunoterapi bisa jadi merupakan jalan terakhir untuk memerangi kanker,” kata Herman Kattlove, Editor Kedokteran dari Perkumpulan Kanker Amerika (the American Cancer Society), seperti dikutip dalam buku Cancer Immunotherapy terbitan Fuda Cancer Hospital tahun 2008.
Strategi baru Imunoterapi merupakan strategi baru melawan kanker. Dasar teorinya, kanker adalah penyakit sistemik. Tumor yang terdeteksi merupakan bagian dari penyakit sistemik. Karena itu, pengobatan tidak hanya ditujukan di tempat tumor ditemukan, tetapi lebih mendasar, yaitu memperkuat pertahanan tubuh. Tumor tidak akan berkembang dalam tubuh yang sehat dan memiliki pertahanan kuat. Dengan memperbaiki dan meningkatkan kekebalan tubuh, diharapkan pertumbuhan sel kanker terhenti. Dengan demikian, pasien bisa hidup lebih lama dan kualitas hidupnya meningkat karena bebas nyeri dan kekambuhan. Tentu saja tumor perlu dimatikan. Karena itu, imunoterapi dikombinasikan dengan terapi lain, seperti operasi krio (operasi dengan pembekuan jaringan), kemoterapi lokal, serta terapi lain yang diperlukan. RS Kanker Fuda di Guangzhou, China, merupakan salah satu RS yang menerapkan terapi ini. Menurut Prof Kecheng Xu, Presiden RS Kanker Fuda Guangzhou, sejak tahun 1991, tim rumah sakit itu mengobati lebih dari 10.000 pasien kanker stadium lanjut. Sebanyak 70 persen pasien itu tumornya tidak bisa dioperasi, mereka juga tidak mengalami kemajuan dengan kemoterapi ataupun radiasi. Setelah mendapat terapi kombinasi di RS Fuda, sekitar 70 persen pasien mengalami kemajuan signifikan. Waktu kesintasan (survival time) bisa diperpanjang. Sejumlah pasien kanker hati dan paru stadium lanjut hidup sampai 5-9 tahun kemudian. Bahkan, pasien stadium lanjut dengan kanker lain hidup sampai 10-15 tahun.
”Imunoterapi sangat baik untuk mencegah metastasis (penyebaran kanker) dan kekambuhan, memperlambat pertumbuhan kanker, memperbaiki kesehatan umum, dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh setelah terpuruk sebagai efek samping kemoterapi,” papar Xu, ahli gastroenterologi dan onkologi yang menjadi visiting professor sejumlah universitas di China, Jepang, dan Amerika Serikat. Prof Runsheng Ruan, peneliti rekayasa biologi dan nanoteknologi yang lama bekerja di pusat penelitian kanker di Swiss dan Singapura yang kini bekerja di RS Fuda, menambahkan, lemahnya respons kekebalan tubuh pasien terhadap pertumbuhan sel kanker merupakan penyebab utama parahnya penyakit. Imunoterapi bermanfaat untuk mengobati semua keganasan. Lewat induksi dan stimulasi sel imun, terapi itu berhasil membasmi dan menekan pertumbuhan sel kanker. Kanker bisa terjadi di pelbagai organ, termasuk paru, hati, pankreas, lambung, usus, payudara, kandung telur, ginjal, otak, kelenjar getah bening, dan leukemia. Imunoterapi sendiri merupakan kombinasi dari pemanfaatan sel T (T-cells), vaksin sel dendrit (DC), cytokine induced killer (CIK) cells, sitokin, vaksin campur (MV), serta obat modern dan obat tradisional China untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
Sel T adalah bagian dari darah putih pasien yang memiliki kemampuan pertahanan dan aktivitas membasmi sel kanker. Sel T diambil dari tubuh pasien, dipilih yang bagus, dan diperbanyak. Hasilnya dimasukkan kembali ke tubuh pasien untuk meningkatkan kekebalan tubuh dan membasmi sel kanker. Adapun sel dendrit berfungsi memproses dan menunjukkan antigen tumor agar dibasmi oleh sistem kekebalan tubuh. Pada pasien kanker, selain kekebalan tubuhnya lemah, sel dendrit biasanya cacat atau tidak matang sehingga tidak mampu menandai zat-zat pengganggu tubuh. Vaksin campur digunakan untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Demikian pula CIK cells yang merupakan campuran dari interferon gamma, anti-CD3, interleukin 2 dan interleukin 1 beta, serta sitokin, seperti interleukin 2, interferon, atau thymosin 1. Adapun obat tradisional China digunakan untuk menunjang terapi, misalnya sebagai penambah nafsu makan dan meningkatkan kesehatan. Prosedur yang dilakukan, kata Xu, 60-80 ml darah pasien diambil untuk mengisolasi sel yang dibutuhkan (sel T dan sel dendrit) untuk diperbanyak. Pada hari yang sama, 0,5-1,5 ml campuran vaksin disuntikkan di bawah kulit dekat area tumor. Campuran vaksin disuntikkan setiap minggu selama tiga minggu, diseling istirahat selama dua minggu. Hal serupa dilakukan pada penyuntikan 0,5-1 ml sitokin, misalnya interleukin 2. Setelah diperbanyak, sel T dan sel dendrit dimasukkan ke tubuh pasien pada hari ke 8-12. ”Sel dendrit dan sel T sebaiknya diambil dari darah pasien. Jika tidak cukup, sel T bisa diperoleh dari darah orang lain,” kata Xu.
Memperpanjang hidup Hasilnya, Xu menuturkan salah satu kasus, yaitu pasien Tang (59), penderita sinus melanoma (kanker hidung). Ia dioperasi di rumah sakit di Shanghai akhir tahun 1991 dilanjutkan dengan radioterapi, tetapi hasilnya kurang memuaskan. Maret 1992, Tang dirawat di RS Fuda dan mendapatkan suntikan vaksin campur antikanker setiap minggu selama 6 bulan. Waktu pemberian vaksin dikurangi secara bertahap sampai diberikan sebulan sekali. Total pemberian vaksin adalah 8 tahun 2 bulan. Dengan imunoterapi, Tang bertahan hidup sampai tahun 2004. Berdasarkan penelitian RS Fuda, Xu memaparkan, dari 38 pasien kanker stadium lanjut yang diberi imunoterapi dan diikuti sejak tahun 1995, ada 26 orang yang hidup sampai 15 tahun. Terkait efek samping, menurut Xu, sejauh ini tidak ditemukan yang serius. Tidak seperti kemoterapi yang bisa menyebabkan rambut rontok, mual, muntah, dan kerusakan organ vital, efek samping imunoterapi tergantung kondisi pasien. Biasanya berupa demam beberapa jam. Pasien akan kedinginan dan merasakan gejala seperti flu, seperti sakit kepala, punggung pegal, dan mual. Hal lain, nyeri di bagian tumor dan bengkak di bekas suntikan. Namun, semua itu bisa teratasi tanpa minum obat tambahan. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Mon Apr 02, 2012 5:10 pm | |
| TAHUN 2030, KANKER JADI BEBAN DUNIA Bramirus Mikail | Asep Candra | Minggu, 1 April 2012 | 17:01 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Pada tahun 2030, kanker diperkirakan menjadi epidemi di seluruh dunia dan keberadaannya akan melebihi jumlah kasus penyakit infeksi. Oleh karena itu, masyarakat harus mewaspadai gejala-gejalanya dan melakukan pemeriksaan sejak dini. Demikian disampaikan Dr. Noorwati Sutandyo, SpPD-KHOM, ahli hematologi dan onkologi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dalam Seminar Awam Tentang Kanker yang diselenggarakan di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta, Sabtu, (31/3/2012). Noorwati menjelaskan, kanker akan menjadi beban ekonomi seluruh negara di dunia. International Agency for Research on Cancer memprediksi, pada tahun 2030, akan ada 26 juta kasus baru kanker dan 17 juta orang diantaranya akan meninggal akibat kanker. "Apabila diagnosis ditemukan dalam stadium lanjut, angka harapan hidup pasien tidak akan panjang," katanya. Data di Jakarta menunjukkan, kanker payudara masih menjadi penyakit yang paling banyak diderita oleh kaum wanita. Sedangkan pada laki-laki adalah kanker paru-paru. "Data di RS. Kanker Dharmais juga menunjukkan hasil yang sama," cetusnya.
Tak semua benjolan itu kanker Noorwati memaparkan, masyarakat patut curiga bila pada tubuh ditemukan benjolan yang tidak wajar. Namun begitu, tidak semua benjolan tersebut dapat dikatakan sebagai kanker. "Kita harus melihat dulu apa isi benjolan itu. Kalau berisi air, maka itu bukan kanker melainkan kista. Sementara bila benjolan tersebut berisi daging, maka disebut sebagai tumor. Tumor bisa jinak dan ganas. Yang ganas inilah yang kita sebut sebagai kanker," katanya. Penting pula untuk diingat, tumor harus selalu dianggap ganas sampai hasil pemeriksaan benar-benar membuktikan tumor tersebut ganas atau tidak ganas. Prinsip ini, menurut Noorwati, harus diterapkan untuk mencegah terjadinya kecolongan dan kepastian dalam pengobatan. Ia menambahkan, untuk menegakkan diagnosa pasien yang dicurigai menderita kanker, tidak cukup hanya dengan melihat keluhan pasien. Tetapi perlu pula pemeriksaan penunjang seperti lewat laboratorium, radiologi dan histopatologi. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Fri Apr 06, 2012 2:52 pm | |
| TES TES KESEHATAN YANG TIDAK PENTING DILAKUKAN Kamis, 05/04/2012 10:02 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth Jakarta, Sembilan asosiasi kesehatan di Amerika Serikat, termasuk American Society of Clinical Oncology dan American College of Cardiology yang mewakili hampir 375.000 dokter menantang pendapat bahwa makin banyak pemeriksaan kesehatan yang diberikan kepada pasien akan lebih baik. Untuk itu, asosiasi-asosiasi ini menyusun pedoman mengenai beberapa macam pemeriksaan kesehatan yang dianggap tidak perlu dilakukan. Rekomendasi ini muncul setelah banyaknya pertanyaan dari berbagai pihak mengapa Amerika Serikat menghabiskan begitu banyak anggaran untuk perawatan medis dibanding negara maju lainnya namun masih menghasilkan hasil yang biasa-biasa saja secara keseluruhan. Rekomendasi ini mungkin akan menimbulkan kontroversi dan memunculkan tudingan bahwa pihak medis tidak menggunakan kemoterapi dan perawatan lainnya untuk mengobati pasien kanker agresif seperti kanker kolorektal atau paru-paru. Kedua kanker ini memang sering tidak berefek jika hanya sekali mendapat kemoterapi. "Tujuannya adalah untuk mengurangi pengeluaran yang tidak perlu tanpa merugikan pasien. Manfaat lainnya adalah menghindari risiko yang berhubungan dengan tes medis, misalnya terkena radiasi. Kami melakukan ini karena kami pikir pemeriksaan kesehatan tidak diperlukan jika masalahnya sudah dapat disingkirkan," kata Dr Christine Cassel, presiden dari American Board of Internal Medicine seperti dilansir MSNBC, Kamis (5/4/2012). Berikut adalah daftar tes kesehatan yang seharusnya tidak diperlukan tapi sering diberikan kepada pasien :
1. Melakukan scan computed tomography (CT) atau magnetic resonance imaging (MRI) kepada orang yang telah pingsan tetapi tidak menunjukkan gejala neurologis, menurut American College of Physicians
2. Pemindaian kepadatan tulang untuk mengetahui gejala osteoporosis pada wanita berusia di bawah 65 tahun dan pria di bawah 70 tahun tanpa faktor risiko penyakit, menurut American Academy of Family Physicians (AAFP)
3. Tes pencitraan untuk pasien nyeri punggung bagian bawah dalam 6 minggu pertama gejalanya, kecuali ditemukan kondisi bahaya seperti gangguan neurologis berat, menurut AAFP.
4. Pap smear untuk wanita berusia di bawah 21 tahun karena kelainan pada remaja biasanya hilang dengan sendirinya, menurut AAFP.
5. Tes pencitraan pada orang dengan sakit kepala biasa, menurut American College of Radiology
6. Pencitraan tes tekanan jantung untuk orang dewasa sehat tanpa gejala penyakit jantung. Tes harus dilakukan hanya pada pasien yang berisiko penyakit jantung, penderita diabetes yang berusia lebih dari 40 tahun, dan penderita penyakit arteri perifer, menurut American College of Cardiology.
7. Antibiotik untuk penderita infeksi sinus karena sebagian penderitanya sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan dalam beberapa minggu. Virus adalah penyebab sebagian besar infeksi sinus, sehingga antibiotik tidak akan membantu menurut American Academy of Allergy, Asthma & Immunology.
8. Kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) dalam waktu 10 tahun untuk pasien berusia 50 tahun atau lebih yang telah diperiksa namun hasilnya negatif, menurut American Gastroenterological Association.
9. Tes pemeriksaan rutin untuk mendeteksi kanker pada pasien dialisis dengan harapan hidup terbatas dan tidak ada tanda-tanda atau gejala kanker. Tes ini tidak meningkatkan kelangsungan hidup pasien dan dapat menyebabkan stres yang tidak perlu, menurut American Society of Nephrology.
Pada pasien kanker payudara dan kanker prostat, pencitraan seperti PET dan CT untuk mencari metastasis tidak dapat meningkatkan deteksi kanker atau memperpanjang kelangsungan hidup. Apalagi, menemukan metastase awal tidak akan meningkatkan kelangsungan hidup pasien kanker payudara. "Tetapi tes pencitraan yang mahal ini seringkali mendeteksi perubahan sel sebagai kanker sehingga membuat dokter melakukan prosedur bedah yang tidak perlu atau memberikan pengobatan yang justru dapat mempersingkat hidup," kata Dr Lowell Schnipper, spesialis kanker di Boston yang membantu menysusun pedoman ini. Penelitian menemukan bahwa 99% pasien kanker stadium awal yang memiliki risiko kanker prostat kecil tidak mendapatkan manfaat dari tes scan atau pencitraan. Pada pasien kanker payudara yang telah berhasil diobati, pencitraan maupun tes darah dapat meningkatkan kelangsungan hidup. Namun kekambuhannya kebanyakan ditemukan melalui pemeriksaan fisik atau mammogram. "Mengapa dokter terus melakukan pemeriksaan ini? Kebanyakan dokter memang menyadari bahwa tes ini tidak bermanfaat bagi pasien Tapi dalam pengalaman saya sendiri mengobati pasien kanker payudara, kadang-kadang ketika saya menjelaskan bagaimana prosedur ini tidak membantu pasien, pasien akan berkata, 'pemeriksaan ini akan membantu saya tidur nyenyak di malam hari'. Dan saya pun melakukannya," kata Schnipper. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Tue Apr 10, 2012 6:52 am | |
| 50% PASIEN KANKER MENINGGAL JUSTRU KARENA PENYAKIT LAIN Kamis, 05/04/2012 11:02 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Kanker adalah penyakit mematikan, namun tidak selalu menjadi penyebab langsung kematian pasien. Menurut penelitian, 50 persen penderita kanker yang mampu bertahan hidup justru meninggal karena penyakit lain misalnya sakit jantung. Berkat kemajuan teknologi, kanker justru makin bisa dikendalikan sehingga makin banyak pasien yang bisa bertahan hidup lebih lama meski didiagnosis punya kanker. Sayangnya terkadang dokter dan pasien terlalu fokus pada kanker, lalu melupakan risiko penyakit lain. "Kita tidak boleh mengabaikan aspek kesehatan lain hanya karena mau fokus pada kanker," kata Dr Yi Ning, seorang profesor epidemologi dari Virginia Commonwealth University yang melakukan penelitian tentang kanker, seperti dikutip dari MSNBC, Kamis (5/4/2012). Dalam penelitian terbarunya, Dr Ning meneliti 1.807 pengidap kanker yang masih hidup antara tahun 1988 hingga 2004. Jenis kanker yang diidap antara lain payudara, prostat, serviks, paru dan usus, sedangkan kanker kulit tidak dimasukkan dalam penelitian tersebut. Setelah diamati selama 17 tahun, 776 pasien yang diamati akhirnya meninggal. Namun hanya 50 persen kematian yang secara langsung dipicu oleh pertumbuhan kanker yang tidak terkendali, sedangkan sisanya justru disebabkan oleh penyakit lain terutama penyakit jantung. Berdasarkan penelusuran, sebagian dari pasien memang memiliki faktor risiko penyakit kronis antara lain sebagai berikut:
- 63,2 persen pasien laki-laki dan 66,9 persen pasien perempuan punya riwayat sakit jantung - 58,7 persen pasien laki-laki dan 62 persen pasien perempuan punya tekanan darah tinggi - 61,3 persen pasien laki-laki dan 70,5 persen pasien perempuan punya kadar kolesterol tinggi.
Fakta lain yang terungkap dalam penelitian ini adalah, makin lama pasien bertahan hidup setelah didiagnosis kanker maka risiko untuk meninggal karena sebab-sebab selain kanker juga akan meningkat. Ketika pasien bertahan hidup selama 5 tahun, risiko untuk meninggal karena penyakit lain mencapai 32,8 persen sedangkan jika mampu bertahan 20 tahun maka risikonya menjadi 62,7 persen. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Penyakit Kanker Yesterday at 1:32 pm | |
| LAWAN KANKER LEWAT 5 MAKANAN SEHAT SENIN, 21 MEI 2012, 12:26 WIB Mona Indriyani, Stella Maris VIVAnews - Lembaga Penelitian Kanker Dunia (WCRF) memperkirakan bahwa sekitar 34 persen kanker disebabkan karena faktor gaya hidup, salah satunya yaitu pola makan. Oleh karena itu Anda harus pandai memilih bahan makanan yang akan dikonsumsi. Bahan pangan dengan kandungan antioksidan, vitamin dan polifenol dapat menjadi senjata ampuh serangan penyakit ganas tersebut. Berikut ini adalah lima daftar makanan anti kanker yang dilansir dari Ivillage.com. 1. Brokoli Sekilas bentuknya hampir menyerupai kembang kol, hanya saja brokoli lebih bewarna hijau tua. Rasa pahit yang pada brokoli mampu mencegah timbulnya kanker dalam tubuh. Sebuah studi menunjukkan bahwa rasa pahit dalam brokoli mengandung isotonik dan glukosin yang mampu mencegah timbul dan berkembangnya kanker.dengan mengaktifkan enzim yang dapat menghambat sel kanker dan menekan pemproduksian kanker. Cocok untuk : Berbagai jenis kanker, termasuk kanker paru-paru, usus besar, kandung kemih, payudara, dan kanker prostat. 2. Bawang Nyatanya memang tidak semua orang menyukai bawang, karena aromanya yang menyengat serta menimbulkan efek yang tak menyenangkan, misalnya bau badan. Tapi siapa sangka, jika bau senyawa dalam bawang putih dapat berfungsi sebagai anti kanker. Semua jenis bawang seperti bawang merah, bawang bombay dan daun bawang juga memiliki senyawa ini. Dalam studi laboratorium, kanker akan terganggu oleh senyawa-senyawa aktif yang terbentuk dari allicin (zat yang berasal dari bawang putih). Sebuah penelitian pada manusia menunjukkan bahwa mereka yang sering mengkonsumsi bawang putih mengalami penurunan risiko kanker dibandingkan dengan yang tidak memakan bawang. Cocok untuk : Kanker perut, mulut, usus besar, dan tenggorokan 3. Tahu Isoflavon merupakan estrogen alami dari tumbuh-tumbuhan, seperti kacang kedelai yang memiliki kemiripan dengan hormon dalam tubuh manusia, sehingga dapat membantu menahan efek estrogen lebih kuat. Dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung isoflavon seperti tahu, dapat mengurangi risiko terbentuknya sel kanker, baik pada pria maupun wanita. Populasi di Asia menunjukkan bahwa orang yang memakan tahu secara teratur memiliki risiko lebih rendah akan terserang kanker. Disamping itu, tahu juga mengandung antioksidan yang kuat dan mampu menjaga agar tidak terjadinya kanker di tubuh Anda. Tapi jenis tahu dan makanan lain yang tidak menawarkan perlindungan pengkonsumsian, kedelai yang diproses dalam bentuk suplemen belum tentu mampu mengurangi risiko terjadinya kanker. Cocok untuk: Kanker payudara dan kanker prostat 4. Jeruk dan Wortel Jika ada molekul dalam tubuh Anda yang mengalami kerusakan, maka akan berpotensi terjadinya kanker. Oleh karena itu, mengkonsumsi jeruk dan wortel akan melindungi sel-sel Anda dan mampu menetralisir radikal bebas. Hal ini karena, jeruk dan wortel adalah makanan yang kaya akan vitamin C, antioksidan, dan betakaroten. Ketika akan mengkonsumsi betakaroten dalam bentuk suplemen, belum tentu dapat melindungi Anda agar terhindar dari kanker. Bahkan, suplemen beta-karoten meningkatkan risiko kanker paru-paru dan kematian pada perokok dalam studi besar. Cocok untuk : kanker paru-paru dan beberapa kanker lainnya. 5. Teh Hijau Selain untuk menangkal radikal bebas, teh hijau juga berperan sebagai anti kanker. Dalam teh hijau terdapat kandungan penting anti kanker yaitu Epigallocatechin-3-gallate. Ini adalah senyawa dan antioksidan yang mampu menghentikan kerusakan pada tingkat genetik. Teh hijau memiliki kandungan kafein yang lebih rendah jika dibandingkan dengan teh hitam atau kopi. Tapi Anda juga harus berhati-hati, karena terlalu banyak minum teh dalam jumlah besar, dapat menimbulkan masalah seperti sulit tidur dan mual. Cocok untuk : Kanker kandung kemih, perut, dan usus besar |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |