Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Kesehatan Anak

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1 ... 7 ... 11, 12, 13, 14, 15  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Mon Nov 28, 2011 2:40 pm

PENANGANAN BALITA TERLAMBAT BICARA
Lusia Kus Anna | Senin, 28 November 2011 | 11:35 WIB Kompas.com
TANYA:
Dok, anak saya sudah berumur 2 tahun 4 bulan tetapi kemampuan bahasanya belum jelas. Anaknya suka sekali bernyanyi dengan bahasa tarzan, suka berlari-lari (motoriknya lincah) dan berteriak. Kami sudah periksakan ke 2 dokter ahli tumbuh kembang, tapi hanya disarankan untuk dilatih bicara secara rutin, dan sudah kami lakukan. Bahkan kami sudah terapi wicara, tapi hasilnya kurang bagus. Untuk diketahui, kami kerja dari jam 8 pagi-5 sore. Selama itu, anak bersama pembantu (pembantu sudah ganti sampai 4 kali). Mohon bantuannya untuk menjelaskan apa yang harus kami lakukan untuk mengembangkan kemampuan bicara anak.

Harsono, Tangerang

JAWAB :
Bapak Harsono yang baik,
Tampaknya si kecil mengalami keterlambatan berbicara (delayed speech), suatu kondisi yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kelainan/gangguan fungsi pendengaran, keterlambatan mental, gangguan sistem neurologi/sistem saraf pusat tertentu yang berat, gangguan perkembangan seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), autism, stimulasi yang kurang, pola asuh yang salah dan sebagainya. Sudah barang tentu harus dipastikan terlebih dulu apakah fungsi pendengarannya normal, yaitu dengan memeriksakan fungsi tersebut dengan beberapa cara seperti BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry), yang dapat menilai apakah ada gangguan/tuli pada telinganya sehingga ia tidak dapat mendengar stimulasi suara di sekitarnya. Bila terbukti normal maka perlu dilanjutkan evaluasi terhadapnya secara komprehensif. Pola asuh yang salah, seperti seringkali menonton TV dapat pula menyebabkan kondisi tersebut, karena TV adalah stimulasi yang hanya bersifat 1 arah, tidak merangsangnya berlatih secara aktif untuk berkomunikasi secara aktif. Sebaiknya penilaian-penilaian tersebut harus dilakukan secara komprehensif, karena terapi wicara yang dilakukan selama ini tentunya bukan merupakan solusi satu-satunya sebelum ditentukan terlebih dahulu penyebab pasti dari keterlambatan bicaranya tersebut.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Mon Nov 28, 2011 2:42 pm

YANG WAJIB DIKETAHUI SOAL ALLERGI ANAK
Bramirus Mikail | Lusia Kus Anna | Sabtu, 26 November 2011 | 10:56 WIB
KOMPAS.com - Meski jarang menimbulkan kegawatan tapi penyakit alergi yang diderita anak bisa menghambat tumbuh kembangnya. Tindakan pencegahan alergi bisa dilakukan dengan menghindari alergen, melakukan gaya hidup sehat, dan memakai obat-obatan. Apalagi yang perlu diketahui orangtua tentang alergi anak? Berikut ini adalah 5 hal penting yang harus orang tua ketahui terkait masalah alergi pada anak:

1. Bagaimana saya tahu jika anak saya memiliki reaksi alergi terhadap makanan tertentu?
Alergi terhadap makanan pada anak-anak terjadi terutama pada jenis makanan susu, gandum, telur dan kacang. Seringkali reaksi alergi yang muncul berupa gatal-gatal, bengkak pada bibir, lidah dan wajah bengkak setelah anak makan makanan tersebut. Kadang-kadang reaksi makanan juga bisa ditandai dengan eksim atau sakit asma ringan. Melakukan evaluasi terhadap makanan tertentu yang dicurigai sebagai pemicu alergi dapat memberikan jawabannya sehingga di kemudian hari bisa dihindari.

2. Apakah alergi herediter?
Alergi termasuk dalam jenis penyakit yang diturunkan. Jika salah satu orangtua alergi, kemungkinan anak memiliki alergi sekitar 40 persen. Jika kedua orang tua alergi, maka risiko anak mendapatkan alergi meningkat menjadi 75 persen. Namun dalam beberapa kasus, tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa alergi bersifat turun-temurun.

3. Pada umur berapa anak saya harus tes alergi?
Jika alergi terhadap makanan seperti susu, telur atau kacang dicurigai, pengujian dapat dilakukan dengan tes kulit atau darah pada usia berapa pun. Jika asma atau demam terjadi, pengujian kulit juga dapat dengan mudah dilakukan pada usia berapa pun. Kebutuhan untuk pengujian tergantung pada seberapa luas dan keparahan gejala alergi.

4. Apa yang harus saya lakukan jika bayi saya alergi terhadap susu formula dan saya tidak bisa menyusui?
Kebanyakan formula berbasis susu sapi. Ada sejumlah susu formula yang tersedia untuk anak-anak yang alergi atau toleran terhadap produk susu sapi. Ini termasuk susu berbasis kedelai, susu berbasis gandum, susu bebas laktosa, susu formula berbasis protein dan asam amino. Namun sebelum memberikan produk susu tersebut, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.

5. Dapatkah saya memberikan anak saya antihistamin?
Ada beberapa antihistamin yang tersedia (tanpa resep dokter) yang dapat diberikan kepada anak-anak. Namun, obat ini tidak boleh diberikan kepada anak usia lebih muda atau dibawah rekomendasi yang tertera pada kemasan obat. Sebaiknya, para orang tua tetap berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan apakah usia anak sudah sesuai dengan rekomendasi resep.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Thu Dec 01, 2011 9:10 am

PENTINGKAH PENDIDIKAN SEKS UNTUK ANAK?
Christina Andhika Setyanti | Dini | Rabu, 30 November 2011 | 16:10 WIB
KOMPAS.com - Di Indonesia, banyak orangtua yang beranggapan bahwa membicarakan seks pada anak-anak adalah hal yang tabu. Namun orangtua sebaiknya tidak memandang pendidikan seks dari sisi negatifnya. Dengan pendekatan yang tepat, pendidikan seks justru berguna untuk mencegah penyakit dan gaya hidup anak. Dilihat dari sisi positif, pendidikan seks bagi anak-anak akan sangat berguna bagi kehidupan mereka kelak. "Pendidikan seks sebaiknya diberikan sejak mereka mereka mulai menstruasi atau sejak mereka mimpi basah," ungkap dr Boyke Dian Nugraha, kepada Kompas Female, dalam bincang-bincang "Sexual Wellbeing Global" Durex di Plaza Senayan Arcadia, Jakarta Selatan, Rabu (30/11/2011).

Pendidikan seks sebaiknya dimulai dari orangtua terlebih dulu. Langkah edukasi dari orangtua ini bisa membuat anak menjadi lebih berhati-hati dengan gaya hidup mereka. Jika mereka sudah mengerti tentang bahaya penyakit menular seksual, mereka pun akan sadar mengenai pentingnya menjaga fungsi organ intim mereka. "Salah jika ada yang berpendapat kalau edukasi seks ini justru malah akan mengajarkan mereka untuk seks bebas, ini tergantung pendekatan orangtua kepada anak-anaknya. Jika mereka tahu bahayanya, maka mereka akan berhati-hati. Karena di sekolah belum ada kurikulum khusus tentang seks," tambahnya.

Pendidikan seks dalam keluarga tidak harus dilakukan dengan langkah yang formal, tapi bisa juga dilakukan saat santai ataupun sembari menonton televisi. Dengan metode santai ini, anak-anak tidak akan merasa terpaksa untuk mendengarkan "ceramah" orangtuanya tentang seks. Ditambahkan dr Boyke, pendidikan seks sejak usia remaja pada anak-anak akan membuat anak-anak di usia remaja terhindar dari penyakit HIV/AIDS, kehamilan tak diinginkan, penyakit kanker rahim, ataupun penyakit kelamin lainnya. "Angka aborsi di Indonesia semakin meningkat per tahunnya, dan sekarang menginjak angka 2,3 juta. Dan angka pengidap AIDS semakin tinggi akibat adanya perilaku seks bebas yang tidak aman, sebanyak 80-87 persen," tambahnya.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Tue Dec 06, 2011 8:26 am

KAPAN BATUK ANAK PERLU DIKHAWATIRKAN?
Lusia Kus Anna | Asep Candra | Senin, 5 Desember 2011 | 14:50 WIB
Kompas.com - Di kala sang buah hati mengalami sakit, setiap orang tua pasti akan merasa cemas dan khawatir. Meskipun penyakit yang menyerang hanya batuk pilek, tetapi bukan berarti penyakit tersebut tidak perlu diwaspadai. Lalu kapan sebaiknya para orang tua perlu waspada apabila batuk atau pilek tersebut bukanlah sekedar gejala biasa? Dokter spesialis anak dari Cleveland Clinic Dr.Elaine Schulte menjelaskan, batuk yang dialami anak-anak pada umumnya disebabkan karena infeksi saluran pernapasan atas. Biasanya, hanya dengan menggunakan alat pengatur kelembaban udara, keluhan seperti hidung mampet dapat segera teratasi.

"Pada umumnya batuk anak bisa berlangsung sampai 10 hari. Tetapi para orang tua seringkali menjadi gugup ketika batuk tersebut sudah mengganggu istirahat anak, disertai dengan gejala demam atau saat batuk sudah mulai menyebar di rumah," kata Schulte yang juga merupakan anggota Academic Pediatric Association.

Ia mengatakan, cara yang dapat dilakukan orangtua adalah menjaga agar bagian belakang tenggorokan tetap lembab. Pada anak-anak dengan usia lebih besar, dapat dibantu dengan menggunakan obat-obatan. Namun menurut American Academy of Pediatrics (AAP), obat batuk biasanya kurang efektif pada anak berusia kurang dari enam tahun, bahkan dikhawatirkan menimbulkan efek samping serius. "Bila anak selalu batuk, bantu agar mereka mengeluarkan dahaknya, karena lendir yang terperangkap di paru-paru bisa memicu pneumonia," katanya. Schulte menyarankan, jika batuk masih berlangsung lebih dari 10 hari, sebaiknya periksakan anak ke dokter untuk memastikan anak tidak menderita pneumonia, infeksi sinus, atau batuk rejan
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Wed Dec 07, 2011 7:00 pm

CARA MENENANGKAN AMUKAN BALITA
RABU, 7 DESEMBER 2011, 16:55 WIB Anda Nurlaila
VIVanews - Saat merasa tak nyaman, banyak balita mengekspresikan diri dengan menangis dan mengamuk. Tak jarang, kelakuan buah hati membuat orang tua marah dan frustasi. Sebuah studi membeberkan, amukan dan amarah balita Anda bukan tanpa alasan. Studi yang dipublikasikan dalam jurnal "Emotion," para ilmuwan merekam suara selama balita mengamuk. Mereka menemukan, setiap jenis suara seperti menjerit, berteriak, menangis, merengek, dan rewel memiliki irama akustik dengan fitur berbeda. Mereka juga menemukan adanya pola dan vokalisasi tertentu. "Menjerit, berteriak dan menendang sering dilakukan bersamaan. Kombinasi menangis, merengek, dan berguling di lantai bertujuan untuk mencari mencari kenyamanan," ujar penulis studi Michael Potegal, seorang profesor pediatrik di Universitas Minnesota. Frustasi, menurut James A Green merupakan pemicu balita mengamuk. "Sama seperti orang dewasa, anak yang merasa tujuan tak tercapai akan merasa frustasi dan marah." Berbeda dengan pandangan umum bahwa dari kemarahan balita akan beralih menjadi sedih, para ahli menemukan, mereka bukan hanya marah tapi juga sedih dalam waktu bersamaan. "Kesan bahwa amukan memiliki dua tahap tidak benar. Marah dan sedih terjadi bersamaan," kata Potegal. Penyebab bayi frustasi dan marah bisa karena banyak hal, seperti kelelahan atau rasa sakit. Namun, balita tak punya banyak cara untuk menghadapi situasi ini, seperti anak yang lebih tua. Ada beberapa cara untuk menghadapi balita yang sedang mengamuk, seperti dikutip Shine.

1. Menunggu
Jika anak sedang mengamuk, yang bisa Anda lakukan hanya menunggu hingga puncak kemarahannya berlalu. Mencoba memberi pengertian kepada anak yang kehilangan kontrol tidak banyak membantu. "Hal terbaik yang bisa dilakukan adalah membawanya ke tempat yang bisa membuatnya tenang tanpa mengganggu orang lain," ujar Michelle Nicholasen, penulis 'I Break for Meltdowns: How to Handle the Most Exasperating Behavior of Your 2- to 5-Year-Old'.

2. Jangan mengancam, membujuk, atau menyuap anak
Orang tua mungkin tak mampu mengendalikan amukan buah hati, tapi Anda bisa mengendalikan reaksi diri sendiri. Menurut Nicholasen, "Orangtua bisa membuat anak makin mengamuk dengan berteriak agar anak berhenti, atau dengan mengancam mereka," katanya. Alih-alih bertanya alasan amukan kepada balita 2-3 tahun, sadari saja balita Anda sedang kesal. "Balita yang sedang marah takkan mampu mendengar alasan, bujukan atau peringatan sampai mereka yakin kita memahami dan menghormati pesan mereka," ucap Dr Harvey Karp, penulis 'The Happiest Toddler on the Block.'

3. Menawarkan kenyamanan
Begitu anak melewati puncak kemarahan, mereka lebih bersedia untuk dihibur dan ditenangkan.

4. Cari humor dalam situasi ini
Banyak orangtua akhirnya frustrasi dan marah saat anak mengamuk. Namun Green menekankan, sebuah amukan masih terbilang normal hingga titik tertentu. "Ini juga akan berlalu," katanya. Dia melanjutkan, "Tantrum adalah peristiwa dalam perkembangan anak dan biasanya menurun setelah usia 4." Sambil menunggu anak melalui amarahnya, sebuah lelucon bisa membantu orang tua. "Bayangkan Anda bertingkah seperti anak Anda. Pasti akan sulit untuk tidak tersenyum," kata Nicholasen.

5. Jangan menganggapnya kegagalan
Orangtua pasti dinilai buruk saat anak berperilaku tak menyenangkan di depan umum. Yang terpikir oleh orang tua adalah mereka telah mengajar sopan santun tetapi anak tetap nakal. Orang tua juga kerap menyalahkan diri mengapa anak melakukannya. Ingat, meskipun Anda selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik, kadang kala beberapa hal buruk akan terjadi dan itu bukan kesalahan Anda. (umi)
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Tue Dec 13, 2011 7:57 am

AGAR KEBUTUHAN SERAT BAGI ANAK TERCUKUPI
Asep Candra | Senin, 12 Desember 2011 | 13:58 WIB Kompas.com
TANYA :
Saya adalah ibu dari dua orang anak yang berusia lima dan tujuh tahun. Saya ingin mencukupi kebutuhan serat anak-anak saya melalui menu makanan sehat dan seimbang . Berapa sebenarnya kebutuhan serat bagi anak-anak seusia anak saya? Bagaimana cara agar saya dapat memenuhinya? Adakah pola menu sederhana agar kebutuhan serat mereka tercukupi? Apakah memberi suplemen serat dalam bentuk kapsul itu aman untuk pencernaan?
(Rahmania, 32, Tengerang)

JAWAB :
Ibu Rahmania yang baik,
Kebutuhan serat anak menurut perhitungan adalah 5 gram + umur anak. Jadi, apabila anak ibu berusia 5 tahun, maka kebutuhan seratnya adalah 10 gram, dan yang berusia 7 tahun kebutuhan seratnya adalah 12 gram. Sumber serat makanan adalah sayuran, buah-buahan, sereal, beras merah, roti gandum, polong-polongan. Untuk memenuhi kebutuhan serat tersebut dapat diperoleh dari asupan makanan sehari-hari yang bergizi seimbang. Untuk mudahnya, makanlah bervariasi makanan sesuai kebutuhan tubuh. Dalam menyiapkan menu sehari- hari usahakan lengkap, terdiri dari:

- Sumber karbohidrat : misalnya nasi, kentang, roti, sereal dengan jumlah 3-4 porsi sehari
- Sumber protein : lauk pauk hewani dan nabati ( ikan, ayam, daging, telur, tahu, tempe) dengan jumlah 3 porsi sehari
- Sumber vitamin dan mineral dan serat : buah-buahan dan sayuran dengan 3-5 porsi sehari
- Susu : kaya protein, mineral terutama Kalsium : 1-2 gelas perhari

Agar serat terpenuhi, pilih makanan dengan kandungan serat yang cukup.
Kandungan serat dalam berbagai makanan
• Apel 1 buah ukuran sedang: 3 gram
• Pisang1 buah (sedang): 3 gram
• jeruk 1 buah (sedang) : 3 gram
• Pepaya 1/2 cangkir: 1 gram
• Brokoli rebus 1/2 cangkir: 3 gram
• Wortel rebus 1/2 cangkir: 2 gram
• Bayam rebus 1/2 cangkir: 2 gram

• Nasi putih 1/2 cangkir : kurang dari 1 gram
• Kentang 1 buah ukuran sedang, rebus atau panggang dengan kulit: 4 gram
• Kentang kupas rebus 1 buah ukuran sedang: 2 gram
• Cereal oat bran 1 cangkir : 7 gram
• Roti gandum 1 iris : 3 gram
• Roti putih 1 iris : 1 gram

Contoh menu sederhana bergizi dan cukup serat
Menu Makan pagi:
• Sereal, susu dan pisang
• Nasi dan dadar telur irisan bayam
• Bubur havermut dan susu ditambah irisan mangga atau pepaya

Snack: Buah potong ditambah jeli atau nata de coco, contoh:
• 1/2 atau 1 cangkir irisan pepaya kotak kecil dan puding atau jeli
• 1/2 atau 1 cangkir mangga dan nata de coco

Menu makan siang
• Nasi putih atau nasi merah
• Sayur bening bayam dan jagung manis
• Udang tepung
• Jeruk manis

Menu makan malam
• Nasi putih
• Sup sayuran ( wortel, brokoli, sosis)
• Ayam goreng

Mengenai penggunaan suplemen serat, sebenarnya tidak diperlukan apabila kebutuhan serat anak sudah tercukupi dari makanan sehari- hari. Mengonsumsi buah dan sayuran, selain kaya serat juga kaya kandungan vitamin, mineral dan antioksidan yang baik untuk pertumbuhan dan kesehatan anak yang tidak ada dalam kapsul suplemen. Banyak suplemen serat ditawarkan dipasaran, praktis dan dikemas menarik. Untuk keamanannya perlu teliti dahulu sebelum membeli apakah memang kita benar-benar membutuhkannya? Cek kandungan gizi dan komposisinya serta produk tersebu terdaftar di Balai POM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) dengan melihat kode merek dagang.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Mon Dec 19, 2011 6:49 pm

ANAK MAKAN MENGEMUT KARENA POLA EMOSI ORANGTUA
wawa | Senin, 19 Desember 2011 | 08:07 WIB
KOMPAS.com - Perilaku mengemut makanan pada batita menimbulkan risiko. Mengemut makanan mengakibatkan waktu yang dibutuhkan untuk makan jadi sangat lama sehingga jadwal makan berikutnya pun mundur. Parahnya lagi, anak bisa mengalami gizi buruk lantaran mengemut secara otomatis menyebabkan porsi makanan per hati menjadi berkurang. Tak hanya itu, gigi-geligi anak pun bisa rusak karena mengemut mengakibatkan peluang terjadinya proses pembusukan lebih tinggi. Menurut Pertiwi Anggraeni, M.Psi, perilaku mengemut makanan sebenarnya tidak muncul begitu saja, tetapi berkaitan dengan perjalanan sejarah makan si anak. Jadi, untuk mengetahui penyebab si batita ngemut, kata psikolog anak dan pengajar pada Universitas Tama Jagakarsa, Jakarta, ini, orangtua hendaknya melakukan kilas balik mengingat sejarah perkembangan makan si anak.

Proses makan
Di usia 0-6 bulan, anak hanya menerima asupan berupa ASI. Masuk usia 6-9 bulan, anak mulai dapat menerima asupan berupa sereal bayi, sayur atau buah saring. Selanjutnya di usia 9-12 bulan, anak mulai mengonsumsi makanan padat yang bersifat lunak seperti potongan buah, sayur, roti, krakers, dan sebagainya. Nah, mengacu pada riwayat perkembangan makan tersebut, orangtua dapat menelusuri beberapa hal, seperti:

* Apakah sejak awal anak sudah dikenalkan dengan rasa atau jenis makanan yang bervariasi?
* Bagaimanakah reaksi anak terhadap makanan yang diperkenalkan kepadanya?
* Bagaimana pula proses makan anak, apakah dengan waktu yang teratur?

Jika orangtua tidak mengajarkan cara makan yang benar seperti tidak mengikuti tahapan memberikan makanan, hanya makanan cair atau susu, maka anak tidak pernah belajar mengunyah dengan baik dan kemampuan oromotornya pun tidak pernah terstimulasi.

Pola emosi orangtua
Tak kalah penting, bagaimana pola emosi ibu, ayah, atau pengasuh ketika memberikan makan. Apakah makan merupakan situasi yang menyenangkan bagi anak? Atau sebaliknya merupakan situasi yang menekan bagi anak, dapat berupa pemaksaan atau ada banyak bentakan kepada anak selama proses makan. Mengemut makanan juga dapat sebagai bentuk protes lantaran dipaksa makan. Akibat pemaksaan yang tidak menyenangkan, acara makan pun diidentikkan oleh anak sebagai aktivitas yang tidak menyenangkan, sehingga ia lebih senang mengemutnya.

Aktivitas lain
Faktor lain yang memunculkan perilaku mengemut makanan adalah anak terlalu asyik dengan aktivitas selain makan. Misalnya anak makan sambil bermain, menonton televisi, atau sambil jalan-jalan. Aktivitas selain makan ini membuat anak "lupa" kalau di mulutnya masih ada makanan. Selain perilaku mengemut makanan, ada dua masalah makn yang kerap muncul di usia batita, yakni pilih-pilih makanan dan makan sambil jalan-jalan.


7 CARA ATASI ANAK MENGEMUT MAKANAN
wawa | Selasa, 20 Desember 2011 | 08:20 WIB
KOMPAS.com - Perilaku mengemut makanan pada anak, terutama batita, tak muncul dengan sendirinya melainkan berkaitan dengan perjalanan sejarah makan si anak. Untuk mengatasi perilaku mengemut makanan, ada beberapa hal yang perlu dilakukan orangtua, ini dia:

1. Berikan contoh cara makan yang benar; tunjukkan di depan anak cara menggerak-gerakan mulut dan gigi ketika makanan masuk ke dalam mulutnya.

2. Berikan makanan bertekstur secara bertahap, mulai yang halus atau cair dan berangsur kasar atau padat.

3. Acara makan dibuat menyenangkan, tidak memaksa anak untuk makan. Lakukan pendekatan positif, seperti membujuk sambil bercerita tentang makanan yang sedang dimakannya.

4. Berhenti bermain sampai acara makan selesai dan minta anak mengunyah makanannya terlebih dulu. Bisa juga membagi makanannya menjadi beberapa porsi kecil. Kalau porsi kecil itu sudah habis, anak boleh main sebentar sekitar lima menit, kemudian menghabiskan porsi kecil selanjutnya.

5. Biasakan anak makan di meja makan, televisi dimatikan, tidak sambil bermain atau berjalan-jalan. Orangtua bisa menjadikan acara menonton televisi atau bermain sebagai hadiah kalau ia sudah menyelesaikan makannya.

6. Tentukan jadwal makan dan jadwal bermain yang relatif tetap setiap hari sehingga anak tahu dan bisa bersiap makan pada waktunya, serta melakukan aktivitas selain makan di waktu lain.

7. Variasikan rasa dan bentuk makanan setiap harinya, bisa juga dihias dan dibuat dalam bentuk menarik supaya selera makan anak tergugah dan ia pun bersemangat untuk mengunyah.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Sun Dec 25, 2011 4:18 pm

KEBANJIRAN INFORMASI, ORANGTUA CENDERUNG CEMAS
Wardah Fazriyati | wawa | Minggu, 25 Desember 2011 | 12:21 WIB
KOMPAS.com - Menjadi orangtua modern di era informasi justru memberikan tantangan tersendiri. Informasi yang ditampung melalui berbagai media juga segudang kegiatan boleh saja memudahkan orangtua mengakses pengetahuan, termasuk mengenai pengasuhan anak. Namun, kemudahan ini jika tak disikapi dengan tepat, justru menimbulkan kecemasan dan penanganan pengasuhan yang keliru. Psikolog anak, Prita Pratiwi dari Biro Konsultasi Psikologi Dwipayana, Bandung, mengatakan orangtua masa kini memiliki pengetahuan banyak, namun cenderung mudah cemas. "Niat baik orangtua untuk meningkatkan pengetahuan, termasuk tentang pengasuhan, kemudian menimbulkan kecemasan. Hal ini karena terlalu banyaknya informasi terserap namun belum terhayati dengan baik, akhirnya penanganan tidak tepat. Orangtua terinformasi namun belum teredukasi dengan baik," jelas Prita kepada Kompas Female di sela Bebestar Night di Jakarta Convention Center beberapa waktu lalu. Menurut Prita, penanganan terhadap anak yang masih keliru juga kerap dilakukan orangtua yang berlatar belakang pendidikan tinggi, memiliki akses pengetahuan luas, dari kalangan urban. Masih banyak orangtua yang mementingkan IQ anak daripada aspek tumbuh kembang lainnya. "Padahal IQ tidak berperan ketika aspek lain tidak dikembangkan," katanya. Contoh lain dari banjirnya informasi tanpa penghayatan mendalam, juga terkait dorongan membaca dan menulis untuk si usia prasekolah. Prita tidak menyetujui dengan metode baca, tulis, hitung yang ditekankan pada anak-anak, bahkan batita, yang belum tentu siap baca-tulis.

"Anak-anak perlu dipersiapkan untuk memahami baca, tulis, dan menghitung. Untuk bisa menulis, kekuatan lengan, jari, pergerakan tangan perlu disiapkan. Permainan yang menstimulasi seperti tanah liat, pasir, bahkan main congklak menjadi cara untuk menyiapkan anak-anak untuk bisa menulis. Jadi tujuannya bukan sekadar bisa menulis," jelas Prita. Orangtua masa kini, lanjut Prita, harus lebih peduli pada perkembangan anak dalam setiap tahapan hidupnya. Orangtua juga perlu memberikan stimulasi yang tepat kepada anak untuk menunjang tumbuh kembang dan kemampuannya. Tak kalah pentingnya, orangtua mau belajar meningkatkan pengetahuan dan mengaplikasikannya dengan tepat demi anak. "Orangtua perlu tahu, apa tujuan punya anak, ingin punya anak seperti apa. Salah bertindak kalau belum berpengalaman tidak apa-apa, tapi orangtua harus mau jujur dan berubah memperbaiki diri," lanjutnya. Seperti apa anak-anak Anda, 20-30 tahun ke depan? Akankah ia mampu berkompetisi di era yang semakin modern dan tanpa batas negara, tergantung bagaimana Anda menyiapkannya sebagai pribadi berkarakter sejak dini. Menjadi orangtua untuk anak-anak generasi milenium tak cukup dengan menyerap informasi, namun bagaimana memahami dan mengolah informasi dengan baik.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Mon Dec 26, 2011 7:13 pm

CARA MEMBANTU TURUNKAN BERAT BADAN ANAK DENGAN AMAN
Senin, 26/12/2011 14:03 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Jumlah anak yang memiliki berat badan berlebih kini semakin meningkat. Tapi menurunkan berat badan pada anak berbeda dengan orang dewasa. Bagaimana cara aman turunkan berat badan anak? Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menemukan peningkatan jumlah anak yang kelebihan berat badan ini membuat semakin banyak orang yang lebih dini terdiagnosis berbagai penyakit seperti kolesterol tinggi dan diabetes tipe 2. Sebagian besar orangtua menenpatkan anaknya dalam program diet, meski para ahli mengungkapkan itu bukanlah metode yang terbaik. Hal ini karena tidak ada cara cepat dan mudah untuk membantu anak menurunkan berat badannya. Dibutuhkan waktu yang panjang dalam memodifikasi gaya hidup dan kebiasaan makan yang dimasukkan dalam struktur keluarga. Berikut adalah beberapa hal yang bisa dilakukan untuk membantu menurunkan berat badan anak yang berlebih, seperti dikutip dari iVillage, Senin (26/12/2011) yaitu:

1. Mengubah kebiasaan makan dalam keluarga
Cobalah untuk menyajikan makanan hanya di dapur atau ruang makan tanpa ada gangguan seperti televisi. Serta buatlah kebiasaan makan bersama di meja makan sehingga bisa mengontrol makanan anak.

2. Cobalah memodifikasi perilaku anak dengan imbalan hadiah
Sistem reward bisa membantu memotivasi anak untuk memiliki pola makan sehat. Misalnya jika anak berhasil tidak minum soda selama seminggu bisa mendapat mainan kecil atau kegiatan favoritnya, tapi jangan memberi hadiah makanan pada anak.

3. Menetapkan tujuan yang realistis untuk anak
Anak-anak berada dalam masa pertumbuhan yang mungkin lebih baik untuk mencegah agar berat badannya tidak terus bertambah. Untuk anak yang kelebihan berat badan menurunkan 0,5 kg berat badan dalam 1 minggu sudah merupakan tujuan yang baik.

4. Mendorong anak untuk olahraga
Apapun jenis olahraga atau latihan yang dilakukan bisa membantu anak membakar kalori, seperti berjalan, jogging, main sepeda atau sepatu roda. Bisa juga mendorong anak untuk aktif seperti bermain di taman setiap minggu atau memilih tanggan dibanding lift.

5. Pilihkan makanan yang sehat dan bergizi
Salah satu keuntungan makan bersama adalah bisa memberikan pilihan makanan yang sehat dan bergizi untuk anak. Serta sediakan buah dan sayur di meja makan, dan biasakan anak makan 3 kali dan 2 kali cemilan.

6. Jadilah pendukung yang baik
Hal yang penting adalah dukungan dari semua anggota keluarga untuk terlibat. Pastikan untuk tidak menyimpan junk food di rumah, tapi buatlah makanan cemilan yang sehat untuk semua anggota keluarga.

7. Berkonsultasi dengan dokter
Tak ada salahnya untuk konsultasikan dengan dokter mengenai berat badan ideal anak, serta mengetahui apakah anak sudah masuk dalam grafik pertumbuhan normal atau belum.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Thu Dec 29, 2011 9:46 am

MEMUKUL MEMBUAT ANAK MERASA JELEK
Asep Candra | Rabu, 28 Desember 2011 | 06:25 WIB
KOMPAS.com — Memukul atau menampar anak sebagai hukuman, ditambah perkataan "supaya anak jera", bukan tindakan tepat, apalagi dibenarkan. Memukul hanya membuat anak tidak jera. Yang paling dikhawatirkan, kebiasaan orangtua memukul malah akan membuat anak menjadi trauma. Harga diri mereka pun bisa jatuh. Bukan tidak mungkin, anak malah merasa dirinya jelek atau jahat. Keinginan tangan untuk memukul pantat anak maupun menampar harus segera diikat, kalau perlu diborgol sekalian. Memukul, yang disebut orangtua sebagai hukuman (dalam bentuk fisik), akan memberi banyak pengaruh bagi anak. Bukan pengaruh positif, melainkan negatif.
Sebut saja Ari. Perempuan berusia 36 tahun itu suka memukul anaknya yang masih balita. Dia menyebutnya sebagai hukuman karena anaknya sering rewel tanpa
alasan. Anaknya yang lain, sudah duduk di bangku sekolah dasar, juga tak luput dari pukulan. Alasannya, anaknya tak mau mengerjakan PR.

Tidak bermakna
Menurut Elly Risman, PSi, pukulan menjadi tidak bermakna kalau terlalu sering dilakukan. Kalaupun terpaksa dilakukan, jelaskan alasannya. Jangan memukul kalau hanya bertujuan untuk menyakiti. Meski demikian, Elly sangat menentang anak dipukul. Mengapa anak sebaiknya tidak dipukul? "Pada dasarnya pukulan tidak mengajarkan kepada anak atas apa yang seharusnya dia lakukan. Malah, hukuman dalam bentuk pukulan akan membuat anak merasa jelek atau jahat," ujar psikolog dari Yayasan Kita dan Buah Hati ini. Dampak lain, seperti disebutkan Kidshealth, memukul akan mengajarkan anak bahwa oke-oke saja untuk memukul saat marah. Lebih buruk, memukul menjadi cara untuk menyelesaikan masalah atau melampiaskan emosi, dan ini akan membahayakan anak. Ketimbang mengajarkan anak untuk mengubah perilaku, memukul membuat mereka takut dengan orangtua. Bagi anak yang mencari perhatian, mereka akan mencari berbagai cara untuk mendapat pukulan dari orangtuanya. Ini karena anak menganggap, perhatian negatif ini jauh lebih baik daripada tidak mendapat perhatian sama sekali.

Harga diri jatuh
"Pukulan memang hanya akan menghasilkan emosi negatif, bukan positif. Hukuman dengan pukulan membuat anak trauma, marah, menjatuhkan harga dirinya, dan akhirnya membuat mereka dendam," ujar Elly. Fungsi kognitif anak juga ikut berpengaruh. Penelitian yang dilakukan di Duke University terhadap bayi 12 bulan yang dipukul menunjukkan skor tes kognitif yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak dipukul, setelah mereka berusia tiga tahun. Memukul pun memiliki efek merusak pada perkembangan perilaku dan mental anak. Lisa Berlin, pimpinan penelitian dari Center for Child and Family Policy, Duke University, dan koleganya, menjumpai bahwa anak yang dipukul pada usia satu tahun cenderung memiliki perilaku lebih agresif pada usia dua tahun. Anak-anak ini pun pada pengukuran kemampuan berpikir di usia tiga tahun tidak menunjukkan sebaik anak lain yang tidak dipukul. Studi tersebut dipublikasikan pada jurnal Child Development seperti dikuti CNN Health. "Yang kita bicarakan adalah bayi dan anak balita. Saya pikir, secara kognitif, mereka belum mengerti tentang benar-salah atau hukuman, serta manfaat dari pukulan tersebut," tambah Lisa.

Lebih agresif
Sementara itu, penelitian lain yang dilakukan di Tulane University menemukan, dari sekitar 2.500 anak yang diteliti yang biasa atau sering dipukul pada usia tiga tahun, mereka cenderung lebih agresif ketika menginjak usia 5 tahun. "Biasanya, ketika anak lebih agresif, mereka menjadi lebih banyak dipukul dan terjadilah lingkaran yang tidak berkesudahan," imbuh Elly. Memberi hukuman pada anak, apalagi dengan memukul, sangat tidak disarankan oleh Elly. "Baik pemberian hukuman maupun hadiah, kurang tepat diberikan kepada anak. Juga kurang efektif karena itu semua datang dari luar," kata Elly. Hukuman yang diberikan tidak mengajarkan kontrol internal dari diri anak supaya perilaku yang keliru tidak dilakukan lagi. Hukuman tidak mengajarkan bagaimana anak bertingkah laku sesuai harapan orangtua dan bagaimana ketika situasi sama muncul lagi. "Sebenarnya, mengapa sih kita memberi hukuman?" tanya Elly. "Hukuman lanjutnya bertujuan untuk membuat anak menyesal, atau menyakitinya karena dia telah berkelakukan tidak baik atau tidak pantas, dengan harapan agar anak tidak mengulangi perbuatannya lagi." Kemudian, agar efektif, hukuman harus sangat keras sehingga anak tidak mengulangi kelakuannya. Padahal, dari semua itu, hukuman malah melatih anak takut kepada orangtua, melawan orangtua, berbohong, melakukan sesuatu tanpa ketahuan atau tertangkap basah, dan lain sebagainya. Paling dikhawatirkan, hukuman malah akan merusak harga diri anak sehingga tidak efektif kalau sering digunakan. Ketimbang hukuman, orangtua sebaiknya memberi aturan yang jelas dengan melibatkan anak. Aturan menjadi seperangkat harapan terhadap anak, berupa panduan dan batasan, dengan dasar kepedulian serta cinta. Ketika anak bertingkah laku tidak sesuai harapan, coba hentikan, lihat, dengar, dan pikirkan perasaan yang mendorong perbuatannya. Selain itu, orangtua juga harus membantu anak mengembangkan kemampuan yang diperlukan untuk mencegah mereka mengulangi tingkah laku negatif. (Diana Y Sari)
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Tue Jan 17, 2012 8:01 am

MATERI BUKAN UKURAN KEBAHAGIAAN ANAK
Tuesday, 17 January 2012 Seputar Indonesia
Materi bukan merupakan satu-satunya faktor yang membuat anak merasa bahagia. Namun kebahagiaan anak bisa ditumbuhkan lewat pengasuhan dan didikan orang tua yang tepat. Kebahagiaan adalah sesuatu yang didambakan setiap orang,tak terkecuali bagi anak-anak.Namun,sering kali orang tua “terjebak”dalam peta yang keliru tentang kebahagiaan.Mereka merasa anak bahagia karena terlihat sehat.Ada pula yang bahagia bila anak berprestasi di sekolah. Apa pun wujud apresiasi kebahagiaan itu,ada tiga unsur yang selalu ada,yaitu kesehatan, kehidupan,dan kedamaian batin. Faktanya,kebahagiaan pada masa kanak-kanak sepertinya masih jauh panggang dari api.Sebuah survei yang dilakukan Children Society yang mengikutsertakan sekitar 30.000 anak-anak berusia delapan sampai 16 tahun di Inggris menunjukkan bahwa hampir satu dari 10 anak tersebut merasa tidak bahagia. Penelitian amal itu mendapati bahwa keluarga memiliki dampak terbesar pada kebahagiaan anak-anak. Children Society memperlihatkan sejumlah bukti jika “pada satu waktu,satu di antara 11 anak (sekitar 9%) usia delapan sampai 15 tahun memiliki kesejahteraan subjektif pada tingkat yang rendah. Seluruh populasi—yang berjumlah tidak lebih dari 500.000 orang—mempunyai kesejahteraan subjektif yang rendah hanya pada satu hari.

Hampir seperempat dari mereka yang telah pindah rumah lebih dari satu kali selama 12 bulan,memiliki tingkat rendah pada kesejahteraan,dibandingkan dengan rata-rata sekitar 10% dalam survei tersebut. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa ketidakbahagiaan meningkat secara dramatis seiring dengan bertambahnya usia.Jumlah mereka yang mengatakan hal itu merasa “rendah”dua kali lipat daripada usia 10 tahun (sekitar 7% di antaranya) dengan usia 15 tahun (14%). Adapun perdana menteri Inggris telah membuat komitmen untuk memperluas pemahaman para penduduk terkait kualitas hidup.Kekayaan material tidak terlihat memengaruhi kebahagiaan anak— sebuah temuan yang meruntuhkan laporan UNICEF terbaru yang menyatakan bahwa anak-anak Inggris terjebak dalam “perangkap materialistis”.Acara amal itu juga menunjukkan bahwa anak-anak berusia delapan tahun telah “menyadari masalah keuangan pada keluarga mereka”.

Dalam kata pengantarnya PADA laporan ke masyarakat, Uskup Agung York John Sentamu menggambarkan penemuan dari 500.000 anak-anak yang tidak bahagia itu sebagai “peringatan untuk kita semua”.“ Sebuah analisis subjektif tentang kesejahteraan anak,bukan hanya pertanyaan tentang seberapa baik kehidupan anak-anak kita,tetapi seperti uji asam basa untuk masyarakat kita,”tulisnya. Sentamu menambahkan, para pembuat kebijakan dan publik sendiri akan menemukan informasi yang jelas dalam laporan ini tentang penyebab anak-anak menjadi tidak bahagia dengan kehidupannya. Children Society memang menyebutkan,ada enam prioritas yang diperlukan untuk mencapai masa kecil bahagia, di antaranya hubungan yang positif dan lingkungan yang aman.Elaine Hindal,

Direktur Campaign for Childhood di Children Society,menyerukan pendekatan baru yang radikal pada masa kanak-kanak dengan menempatkan kesejahteraan mereka pada perasaan dan hati.Studi ini dia buat untuk menunjukkan agar anak merasa benar-benar penting. Lord Layard,seorang ekonom, mengutarakan, penelitian ini penting untuk mengungkapkan gambaran sebenarnya dari kesejahteraan anak-anak di Inggris saat ini. ”Children Society telah menggunakan riset yang luas dan pengalaman yang mendalam untuk membantu kita melihat anak-anak dengan cara yang baru dan signifikan.Semua orang yang terlibat dalam pembentukan kehidupan anak-anak harus membaca dan mencatat laporan ini,” imbuhnya. rendra hanggara
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Wed Jan 18, 2012 7:47 pm

BAIKKAH ANAK DIBERI TELUR SETIAP HARI?
Rabu, 11/01/2012 11:58 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Telur adalah makanan berprotein tinggi yang mudah dan murah didapat. Untuk memenuhi kebutuhan protein anak, kebanyakan orangtua di Indonesia lebih mampu memberikan telur yang harganya terjangkau ketimbang daging, ayam atau ikan. Karena kondisi keuangan yang terbatas, akhirnya orangtua memberikan makanan telur setiap hari ke anaknya. Tak perlu khawatir, karena makan telur setiap hari ternyata bagus untuk anak. "Memberikan telur setiap hari untuk anak itu enggak apa-apa, bagus itu, yang penting adalah memberikan variasi," ujar Dr Samuel Oetoro, MS, SpGK, ahli gizi dari RSCM saat dihubungi detikHealth, Rabu (11/1/2012). Dr Samuel menuturkan dalam putih telur mengandung protein hewani yang baik. Jadi kalau bisa setiap hari ada telur yang bisa dipadukan dengan protein hewani lain seperti ayam dan ikan, misalnya hari ini telur dengan ayam, besok dengan ikan. Namun sebaiknya jangan sering-sering mengonsumsi telur yang digoreng, tapi bisa divariasikan dengan membuat telur rebus atau dicampurkan dengan bahan makanan lain misalnya dalam sayur sop, dicampur dengan bahan lain lalu dipanggang atau bisa memasukkan putih telur ketika membuat cemilan agar-agar untuk anak. "Protein lain yang penting untuk dikonsumsi adalah protein nabati seperti dari tahu, tempe dan juga lengkapi dengan lemak sehat seperti dari kacang-kacangan dan juga alpukat," ujar dokter yang lahir di Jakarta, 20 Juni 1958. Kandungan gizi dari sebutir telur terbilang cukup komplit karena mengandung protein hewani yang baik, vitamin A, asam amino esensial, vitamin D, vitamin B12 serta zat besi, dan juga kandungan kolesterol di bagian kuningnya.

Protein Penting Lain untuk Anak
Dr Samuel mengungkapkan prinsipnya adalah memberikan gizi yang seimbang dan harus lengkap untuk anak yaitu mengandung karbohidrat sekitar 50-60 persen dari jumlah kalori, protein sebesar 10-20 persen dan juga lemak sebesar 20-30 persen. Jenis makanan karbohidrat yang dipilih sebaiknya yang kompleks sehingga penyerapannya bisa perlahan seperti nasi merah atau roti gandum. Sedangkan konsumsi karbohidrat sederhana seperti gula pasir sebaiknya dihindari atau dibatasi karena langsung diserap tubuh dan jika terus menerus anak bisa jadi diabetes saat remaja. "Perbanyak juga karbohidrat dari buah dan sayuran serta yang berserat seperti dari oatmeal, untuk buah dan sayur memang harus dilatih agar anak mau makan," ungkap dokter yang juga berpraktik di MRCCC Siloam, Jakarta. Sedangkan untuk cemilan, berikan makanan ringan yang sehat, misalnya membuat roti gandum yang ditambah sayuran di dalamnya, membuat cake atau kue dari oatmeal atau bisa juga memberikan bubur kacang hijau. "Bubur kacang hijau itu bagus untuk anak karena mengandung protein, ada karbohidratnya juga serta mengandung serat. Bisa juga memberikan potongan buah yang dimakan langsung atau dicampur ke dalam agar-agar," ujarnya.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Wed Jan 18, 2012 7:49 pm

CARA HENTIKAN KEBIASAAN ISAP JEMPOL ANAK
Rabu, 18/01/2012 16:27 WIB Adelia Ratnadita - detikHealth
Jakarta, Kebiasaan mengisap jempol dianggap normal pada bayi dan anak-anak sebagai kesenangan atau aktivitas yang menghibur, terutama ketika anak lapar atau lelah. Tapi jika anak masih mengisap jempol hingga usia 4-6 tahun akan berefek negatif. Bagaimana cara menghentikan kebiasaan mengisap jempol anak? Kebiasaan mengisap jempol akan mencapai puncaknya ketika anak berusia antara 18-20 bulan, dan biasanya menghilang ketika anak mulai berkembang dan dewasa. Tapi kebiasaan mengisap jempol yang melampaui usia 4-6 tahun dapat menyebabkan beberapa kondisi yang tidak normal pada rongga mulut, seperti maloklusi gigi atau deformasi dari jaringan tulang jempol. Kebiasaan menghisap jempol yang berlebihan dan terus-menerus pada anak, dapat merupakan indikasi dari beberapa masalah emosional. Kebiasaan mengisap jempol dapat memiliki dampak besar pada kesehatan mulut anak setelah usia 5 tahun. Oleh karena itu, sebaiknya dapat menghentikan anak untuk tidak melakukan kebiasaan itu lagi ketika sekitar usia 3 tahun. Gigi depan atas dapat terdorong ke depan dan gigi depan bawah terdorong ke belakang oleh karena kebiasaan tersebut. Berikut masalah atau kondisi yang dapat ditimbulkan oleh kebiasaan menghisap jempol seperti dikutip dari DentalHealthSite, antara lain:

1. Langit-langit mulut akan terdorong ke atas menyebabkan berbagai masalah termasuk masalah bicara.
2. Lengkung gigi sempit.
3. Gigi berjejal oleh karena lengkung gigi sempit.
4. Kulit pada jempol pecah-pecah dan kapalan.
5. Infeksi jari dan kuku.
6. Peningkatan risiko terinfeksi cacing kremi.
7. Meningkatnya risiko infeksi lain.

"Mengisap jempol mungkin dapat menyenangkan dan menenangkan untuk anak-anak. Tetapi kebiasaan tersebut jika dilakukan secara terus-menerus akhirnya dapat mengganggu atau menyebabkan masalah pada rongga mulut," kata para ahli. Cara-cara untuk membantu anak berhenti mengisap jempol menurut rekomendasi dari American Dental Association seperti dikutip dari EverydayHealth, Rabu (18/1/2012) antara lain:

1. Daripada memarahi anak untuk berhenti mengisap jempol, lebih baik menawarkan pujian saat anak tidak melakukannya.

2. Temukan cara lain yang dapat menawarkan kenyamanan dan menenangkan kecemasan anak. Kecemasan biasanya merupakan alasan anak mempunyai kebiasaan mengisap jempol.

3. Meminta dokter gigi menjelaskan kepada anak mengenai efek yang dapat ditimbulkan jika mempunyai kebiasaan mengisap jempol.

4. Jempol anak dibalut perban atau mengoleskann sesuatu yang memiliki rasa yang tidak enak. Cara ini merupakan cara yang direkomendasikan oleh dokter anak untuk menghentikan kebiasaan mengisap jempol.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Sat Jan 21, 2012 8:55 am

10 MASALAH ANAK YANG BIKIN ORANGTUA KETAR KETIR
Jumat, 20/01/2012 15:51 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta - Orangtua mana yang tidak khawatir jika anaknya terkena suatu masalah atau penyakit. Meski begitu ada 10 masalah yang terjadi pada anak dan bisa membuat orangtua jadi khawatir dan ketar ketir. Masa anak-anak adalah saat tubuh masih mengalami perubahan, sehingga masalah apa pun yang menimpa anak-anak akan mempengaruhi pertumbuhan dan juga perkembangannya. Kondisi ini yang membuat orangtua khawatir jika anaknya memiliki masalah. Berikut ini 10 masalah anak yang bisa bikin orangtua jadi ketar ketir, seperti dikutip dari Unmich.edu, Jumat (21/1/2012 yaitu:

1. Obesitas
Obesitas terjadi jika asupan kalori yang masuk lebih besar dibanding yang keluar. Sebagian besar penyebabnya karena anak sering mengonsumsi makanan junk food, jarang beraktifitas fisik, lebih banyak bermain game di depan komputer atau menonton televisi. Kondisi ini bisa membuat anak kesulitan melakukan beberapa hal dan untuk jangka panjangnya menempatkan si kecil pada risiko lebih tinggi terkena berbagai penyakit seperti jantung, stroke, diabetes dini yang memicu banyak komplikasi.

2. Penyalahgunaan obat
Penyalahgunaan obat-obatan terlarang atau narkoba pada anak dan remaja biasanya berawal dari coba-coba yang ia dapatkan dari teman-temannya. Umumnya efek dari obat-obatan ini bisa membuat orang jadi tenang dan melupakan masalahnya meski hanya bersifat semu. Ada 4 jenis bahaya yang bisa dialami pengguna narkoba yaitu efek racun yang bisa menyebabkan overdosis, efek intoxication seperti kecelakaan atau luka, mengembangkan adiksi atau kecanduan dan efek kesehatan kronis seperti kerusakan otak, HIV/AIDS atau

3. Merokok
Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar sehingga ia cenderung ingin mencoba sesuatu yang baru termasuk rokok. Padahal sebagian besar perokok dewasa akibat sudah memulai kebiasaan ini sejak dini. Jika kondisi ini tidak dicegah, maka dampak negatif dari rokok tersebut bagi diri anak akan semakin besar. Karena itu tak jarang orangtua merasa cemas dan khawatir jika tahu anaknya sudah mulai merokok.

4. Keamanan internet
Internet bisa membuat seseorang mendapatkan segala macam informasi dengan lebih mudah, termasuk anak-anak. Tapi keamanan internet yang lemah bisa membuat anak mendapatkan informasi yang salah. Sebagian besar masalah keamanan internet untuk anak-anak ini seputar informasi tentang seks termasuk pornografi dan juga kekerasan. Informasi yang diterima anak-anak ini bisa mempengaruhi perilakunya.

5. Stres
Stres juga bisa dialami oleh anak-anak, biasanya disebabkan oleh tugas sekolah yang terlalu banyak, lingkungan sekolah yang membuat anak merasa tidak nyaman atau tertekan dan ketika anak-anak akan menghadapi ujian. Namun pada beberapa anak, kadang ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya sehingga membuat orangtua khawatir dan tidak tahu apa yang membuat anaknya menjadi stres.

6. Bullying (perilaku kekerasan)
Bullying yang dialami oleh anak bisa berasal dari teman-teman sekolah, lingkungan atau keluarganya. Anak-anak korban bullying ini 14 kali lebih mungkin memiliki masalah perilaku dan emosional. Kekerasan sejak usia dini harus segera dihentikan, hal ini karena kekerasan pada anak tidak hanya menimbulkan luka fisik tapi juga trauma terhadap mental anak yang bisa mempengaruhi perkembangannya.

7. Kehamilan usia muda
Kehamilan di usia muda bisa menimbulkan risiko besar pada diri perempuan tersebut. Studi menemukan ia berisiko 4 kali lipat lebih tinggi mengalami luka parah dan kematian saat melahirkan. Hal ini karena secara organ reproduksi ia belum siap untuk mengandung sehingga berisiko mengalami tekanan darah tinggi yang tidak terdeteksi, serta sel telur yang dimilikinya juga belum siap.

8. Pelecehan dan penelantaran anak
Pelecehan baik secara seksual maupun fisik dan juga penelantaran akan menimbulkan trauma tersendiri bagi anak, kondisi ini bisa mempengaruhi perkembangan anak baik secara mental maupun fisik. Selain itu risiko kesehatan juga bisa muncul terkait dengan strategi coping (penyelesaian masalah) pada korban pelecehan atau penelantaran ini seperti makan berlebihan, penggunaan alkohol dan merokok yang nantinya mempengaruhi kesehatan.

9. Penyalahgunaan alkohol
Meski alkohol tidak boleh dijual pada anak dibawah umur, tapi kenyataannya banyak anak-anak yang pernah mengonsumsi alkohol. Jika sejak kecil ia terbiasa minum alkohol maka hal ini akan memicu kecanduan berisiko bagi kesehatan. Penyalahgunaan alohol ini bisa memiliki dampak buruk bagi kesehatan karena akan mempengaruhi berbagai organ di dalam tubuh, mulai dari otak, saluran pencernaan (mulut sampai usus besar), hati atau liver, pankreas, otot, tulang dan sistem reproduksi.

10. Tidak punya waktu untuk olahraga
Banyak orangtua yang khawatir melihat perilaku anaknya yang lebih banyak nonton televisi atau main game di depan komputer, sehingga tidak memiliki waktu atau sulit diajak berolahraga. Kondisi ini tentu saja akan memicu anak kelebihan berat badan, obesitas sehingga mudah terkena penyakit.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Sat Jan 21, 2012 9:00 am

DEFINISI AUTIS DIPERSEMPIT, AKAN BANYAK PASIEN TAK MASUK KRITERIA
Jumat, 20/01/2012 13:45 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth
Jakarta, Definisi mengenai autisme sedang direvisi oleh para pakar. Perubahan yang diusulkan tersebut akan mengurangi tingkat diagnosis gangguan dan mungkin membuat banyak orang lebih sulit memenuhi kriteria untuk mendapatkan pelayanan kesehatan, pendidikan dan sosial yang sesuai. Para pakar yang ditunjuk oleh American Psychiatric Association (APA) sedang menggodok matang-matang perubahan definisi dan diagnosis tersebut. APA merupakan organisasi profesi yang menerbitkan buku pedoman diagnosis gangguan jiwa, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). Saat ini, DSM telah mengalami revisi sebanyak empat kali dan sedang dalam tahap revisi yang kelima. Revisi kali ini dianggap revisi besar pertama dalam 17 tahun terakhir. DSM adalah referensi standar untuk mendiagnosis gangguan mental, mengarahkan penelitian, pengobatan dan keputusan asuransi. Kebanyakan ahli berharap bahwa panduan baru ini akan mempersempit kriteria autisme. Namun pertanyaannya adalah, seberapa sempit?

Autisme adalah suatu kondisi di mana seseorang tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan nampak seperti memiliki dunianya sendiri, serta memiliki aktivitas dan minat yang obsesif. Diagnosis mengenai autisme sebenarnya masih memicu perdebatan para ahli akan keakuratannya. Selama bertahun-tahun, banyak ahli berpendapat bahwa ketidak jelasan kriteria autis saat ini dan gangguan lain yang terkait, seperti sindrom Asperger, berkontribusi terhadap peningkatan jumlah diagnosis. Autisme memiliki banyak kriteria diagnosis dengan tingkat gangguan yang rendah hingga tinggi. Untuk lebih memudahkan diagnosis, para ahli membagi diagnosis autis menjadi beberapa spektrum berdasarkan tingkatan gejala yang diperlihatkan. "Perubahan ini akan mempersempit begitu banyak diagnosis sehingga secara efektif dapat mengakhiri bermacam-macam spektrum autisme," kata Dr Fred R. Volkmar, direktur Pusat Studi Anak di Yale School of Medicine dan seorang penulis proposal yang mengajukan revisi kriteria diagnosis autisme seperti dilansir New York Times, Jumat (20/1/2012). Dalam analisisnya, Dr Volkmar bersama dengan Brian Reichow dan James McPartland di Yale University, menggunakan data dari penelitian besar di tahun 1993 yang mendasari perubahan kriteria saat ini.

Analisanya berfokus pada 372 anak-anak dan orang dewasa yang memiliki fungsi autisme tertinggi dan menemukan bahwa hanya 45% dari peserta penelitian yang memenuhi syarat untuk didiagnosis memilik spektrum autisme. Setidaknya satu juta anak-anak dan orang dewasa memiliki diagnosis autisme atau gangguan terkait, seperti sindrom Asperger dan gangguan perkembangan PDD-NOS. Penderita Asperger atau PDD-NOS memiliki beberapa gejala yang mirip seperti penderita autisme, tetapi tidak memenuhi definisi autisme sepenuhnya. Perubahan yang diusulkan saat ini akan menggabungkan ketiga diagnosa tersebut menjadi satu kategori, gangguan spektrum autisme. Sindrom Asperger dan PDD-NOS akan dihilangkan dari buku panduan. Berdasarkan kriteria ini, seseorang dapat memenuhi syarat untuk didiagnosis autisme jika menunjukkan 6 atau lebih dari 12 perilaku yang menjadi gejalanya. Perubahan ini diduga akan menyebabkan sekitar seperempat orang yang diidentifikasi mengalami autisme pada tahun 1993 menjadi tidak begitu teridentifikasi oleh kriteria yang diusulkan sekarang.

Sekitar tiga perempat penderita sindrom Asperger juga tidak akan memenuhi syarat dan 85 persen penderita PDD-NOS juga tidak akan memenuhi kriteria diagnosis. "Saya sangat prihatin tentang perubahan dalam diagnosis, karena saya bertanya-tanya apakah anak saya akan memenuhi syarat. Dia memiliki kelainan yang sebagian disebabkan oleh sindrom Asperger. Saya berharap akan mendapatkan tempat tinggal yang dapat mendukungnya, namun itu tergantung pada diagnosisnya," kata Mary Meyer dari Ramsey, New Jersey. Diagnosis sindrom asperger penting untuk membantu putri Ny Meyer yang berusia 37 tahun untuk mendapatkan akses kepada layanan kesehatan yang telah sangat membantu selama ini.

Para ahli yang bekerja di Psychiatric Association sangat tidak setuju tentang dampak perubahan yang diusulkan. Para ahli ini telah memperkirakan sebelumnya akan ada lebih banyak orang yang tidak memenuhi kriteria diagnosis akibat perubahan ini. Revisi DSM ini masih mencapai 90% dan akan selesai pada akhir pada Desember tahun ini. "Ketakutan kami adalah justru akan terjadi langkah kemunduran yang besar. Jika dokter berkata, 'Anak-anak ini tidak sesuai dengan kriteria diagnosis spektrum autisme', maka mereka tidak akan mendapatkan dukungan dan layanan yang mereka butuhkan," kata Lori Shery, presiden Asperger Syndrome Education Network.
Back to top Go down
View user profile Online
 

Kesehatan Anak

View previous topic View next topic Back to top 
Page 12 of 15Goto page : Previous  1 ... 7 ... 11, 12, 13, 14, 15  Next

 Similar topics

-
» Banyak sebab anak lambat bercakap
» DOA MUDAH BERSALIN DAN KESEJAHTERAAN ANAK DALAM KANDUNGAN
» Kesehatan Anak
» Kesehatan Otak
» anak GM mana ya ?

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-