|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sat Aug 21, 2010 9:25 am | |
| YUK KENALI KECANGGIHAN TEKNOLOGI NANO Jumat, 20 Agustus 2010 | 20:10 WIB JAKARTA, KOMPAS.com- Ingin tahu lebih jauh mengenai teknologi nano dan penerapannya? Kementrian Perindustrian bekerjasama dengan Kementrian Riset dan Teknolgi menggelar pameran teknologi nano, R&D Ritech Expo 2010 yang bertema "Inovasi Teknologi Menuju Peningkatan Daya Saing Industri Berbasis Teknologi Nano", di Jakarta Convention Center. Pameran tersebut menghadirkan sekitar 60 badan penelitian dari beberapa universitas, Kementrian Ristek, Kementrian Perindustrian, swasta, BUMN, serta komunitas yang akan memperkenalkan hasil teknologi nano yang dikembangkan masing-masing.
Beberapa hasil teknologi nano yang dipamerkan seperti baju antiair, bahan baku kosmetik dan obat-obatan nano teknologi, mesin pembangkit tenaga listrik, pengolahan alga, biodisel, keramik nano teknologi, dan teknologi menarik lainnya. Area pameran dibagi dalam tujuh zona yang menunjukkan tujuh bidang pengembangan teknologi nano, yakni pertahanan keamanan, industri komunikasi dan teknologi, energi, pangan, kesehatan dan obat-obatan, transportasi, serta material maju.
Selain itu, pengunjung pameran dapat menambah pengetahuan dengan mengikuti talkshow atau seminar teknologi nano dengan pembicara dari para ahli. Juga menyaksikan hiburan berupa tarian dan penampilan grup musik The Dance Company dan Belawan. Pameran bebas biaya tersebut digelar 20-22 Agustus di ruang Cendrawasih JJC, Jakarta pukul 10.00-20.00. Jadi, tunggu apa lagi?
Last edited by gitahafas on Sat Aug 21, 2010 11:37 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sat Aug 21, 2010 11:36 am | |
| OBAT BERTEKNOLOGI JAUH LEBIH HEBAT Jumat, 20 Agustus 2010 | 20:15 WIB JAKARTA, KOMPAS.com- Produk obat yang dihasilkan dari teknologi nano lebih unggul dibanding obat biasa. Obat-obatan hasil teknologi nano tersebut dinilai, lebih mudah diserap tubuh dan tidak mudah rusak. "Obat teknologi nano sebagian besar obat luar, kan kalau partikel semakin kecil, semakin mudah terserap tubuh," ujar peneliti Pusat Teknologi Farmasi dan Media, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Sjaikhurrizal, dalam pameran Ritech Expo 2010, Jakarta Convention Center, Jumat (20/8/2010).
Produk obat yang dibungkus partikel nano, kata Sjaikhurrizal akan semakin terlindungi, sehingga stabil dan tidak mudah rusak. "Misalnya obat diabetes kan insulin, kan nggak ada yang ditelan, kita kembangin insulin yang bisa ditelan dengan teknologi nano. Karena kalau dengan nano, insulin yang ditelan nggak rusak karena asam lambung," katanya. Sayangnya, lanjut Sjaikhurrizal, bahan baku nano untuk obat-obatan yang beredar di Indonesia sebagian besar adalah bahan impor. Istilah teknologi nano itu sendiri di Indonesia belum terlalu dikenal. "Baru booming 2-3 tahun lah," ujar Sjaikhurrizal.
Selain itu, biaya pembuatan bahan baku nano bagi laboratorium lokal-pun dinilai masih tinggi. Misalnya, untuk membeli alat ukur partikel nano, kata Sjaikhurrizal dibutuhkan biaya tinggi, dan alat tersebut sulit dicari. "Kalau sekarang masih dalam perkembangan. Di laboratorium kita, sedang dalam bertahap program-program penelitian bareng, jalin hubungan pemerintah dengan swasta," katanya.
Adapun contoh obat yang menggunakan teknologi nano adalah seperti obat luka bakar yang diolah dari daun pegagan dan kitosan atau limbah udang. Obat-obatan nano tersebut menurut Sjaikhurrizal dapat dijual lebih murah dibanding obat biasa. "Misalnya kan kalau obat luka bakar biasanya bahannya plasenta. Dengan teknologi nano, kita ciptakan dari daun pegagan yang lebih murah dari plasenta," imbuhnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sat Aug 21, 2010 11:43 am | |
| NANOTEKNOLOGI BAKAL MEREVOLUSI IT Selasa, 3 Agustus 2010 | 16:09 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah hampir lima dekade perkembangan teknologi informasi, kini mulai terasa adanya revolusi di bidang yang maju pesat ini. Perkembangan nanoteknologi mungkin akan mengambil peran besar dalam mendorong revolusi ini. Hal tersebut karena nanoteknologi dapat dikawinkan dalam sistem mekatronika dan embedded system yang selama ini menjadi bagian penting perangkat teknologi informasi. Kehadiran nanoteknologi akan memberi napas baru perkembangan teknologi informasi bersanding dengan mekatronika dan embedded system.
"Sekitar empat dekade mekatronika telah menunjukkan peran dalam kehidupan manusia, mulai dari sistem produksi, transportasi, hingga sistem-sistem lain," ucap Arko Djajadi, Dosen Departemen Mekatronika Swiss German University, dalam Seminar Nasional Nanoteknologi, Selasa (3/8/2010) di Gedung Badan Penerapan dan Pengembangan Teknologi (BPPT), Jakarta.
Dia mengungkapkan, kemudian peran embedded system pun hadir pada hampir semua produk, di mana mekatronika telah terhimpun di dalamnya, maupun pada produk-produk baru yang utamanya adalah multimedia dan komunikasi. "Dari pemutar MP3, alat-alat medis, hingga militer banyak menggunakan embedded system. Disket sudah kita lupakan, dan sekarang hard disk yang 20 GB itu juga sudah biasa," tuturnya.
Dikatakannya, nanoteknologi memungkinkan adanya peningkatan signifikan terhadap berbagai aspek produk sarat teknologi, di mana inti dari embedded system dan teknologi informasi akan mengalami lompatan kemampuan berkat nanoteknologi. "Contoh-contoh produk dari perusahaan besar dunia seperti Toshiba, IBM, dan HP telah fokus melakukan riset di bidang nanoteknologi untuk tetap mampu bertahan dan bersaing di dunia yang makin kompetitif," ujarnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sat Aug 21, 2010 8:44 pm | |
| MAU TAHU BAJU NANO? Sabtu, 21 Agustus 2010 | 14:27 WIB JAKARTA, KOMPAS.com- Teknologi nano memang belum terlalu populer di masyarakat. Namun teknologi ini diklaim sebagai teknologi terbaik saat ini. Inti dari teknologi ini adalah merekayasa materi pada ukuran nanometer. "Intinya, sebetulnya merekayasa materi diukuran nanometer, sehingga terjadi efisiensi materi," ujar Moko, Sekretaris Masyarakat Nano indonesia saat ditemui di R&D Ritech Expo 2010 (21/08/2010).
Satu nanometer setara dengan 10 (pangkat) -9 meter atau satu per 9 juta milimeter. "Perbandingannya itu kayak bola bumi dengan bola pingpong, sangat kecil," ujar Moko.
Dalam dunia bisnis, penggunaan teknologi nano dapat mengurangi biaya penggunaan material, tingkat kerapatan atom pada suatu benda sangat tinggi, sehingga penggunaan materi pun akan berkurang "Salah satu keuntungannya adalah penggunaan materi di industri jadi berkurang karena atom disusun satu per satu sehingga kerapatannya lebih tinggi " ujar Moko.
Nano teknologi saat ini telah digunakan untuk kebutuhan manusia. Misalnya seperti kemeja dan jas. Percikan-percikan air tidak akan meresap pada kemeja dan jas yang menggunakan teknologi nano. "Prinsipnya seperti daun talas. Karena daun talas memiliki kerapatan tinggi makanya air tidak bisa meresap," ujar Moko.
Selain itu teknologi nano juga sudah digunakan dalam kosmetik, pendingin ruangan, mainan anak-anak, hingga sol sepatu. Kedepan, teknologi nano akan dikembangkan untuk memenuhi lebih banyak kebutuhan manusia. "Nanti akan ada pakaian anti bakterian. Jadi pakaian tersebut tidak perlu lagi dicuci karena tidak akan menyerap kotoran dan bau badan," ujar Moko lagi. Selain itu, akan dikembangkan juga obat-obatan yang menggunakan teknologi nano yang dipercaya akan lebih ampuh karena lebih mudah diserap tubuh |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sat Aug 21, 2010 8:47 pm | |
| PEMERINTAH UJI KOMERSIALISASI TEKNOLOGI NANO LOKAL Jumat, 20 Agustus 2010 | 20:03 WIB JAKARTA, KOMPAS.com- Kementrian Perindustrian mulai melakukan uji komersialiasi terhadap barang-barang industri nasional hasil teknologi nano lokal pada tahun depan. Pengujian komersialisasi tersebut ditujukan pada empat bidang industri yang difokuskan pemerintah, yakni tekstil, keramik, kimia, dan pangan. "Sampai saat ini perkembangan teknologi nano kita baru sampai laboratorium-laboratorium. Ada yang sudah menghasilkan nano partikel dari gamping, keramik, nanti diuji apakah ekonomis atau tidak," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementrian Perindustria, Dedi Mulyadi seusai dalam R&D Ritech Expo 2010 di Jakarta Convention Center, Jumat (20/8/2010).
Menurut data Kementrian Perindustrian, sekitar 30 persen produk nasional telah menggunakan teknologi nano. Namun, sebagian besar bahan baku nano masih impor. Padahal menurut Dedi, laboratorium penelitian Indonesia mampu menciptakan bahan teknologi nano sendiri. Untuk itulah, pemerintah melakukan uji komersialisasi terhadap hasil teknologi nano lokal tersebut. Diharapkan, dalam tiga tahun ke depan penerapan teknologi nano pada salah satu dari empat bidang industri tersebut lulus uji komersialisasi.
"Harus ada partikel nano yang kita buat ini dimanfaatkan industri, sehingga harga menjadi lebih ekonomis," kata Dedi. Adapun keuntungan penerapan teknologi nano dalam peindustrian, menurut Dedi, adalah meningkatnya kualitas produk tanpa peningkatan harga yang berarti. Dedi mencontohkan, dengan menerapkan teknologi nano dapat dihasilkan pakaian yang anti air atau anti kotor. "Tapi harganya murah, seperti tadi, baju anti air anti kotor, paling peningkatan harga hanya Rp 15.000," tuturnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sat Aug 21, 2010 8:48 pm | |
| SEBAGIAN BESAR BAHAN BAKU NANO MASIH IMPOR Jumat, 20 Agustus 2010 | 18:46 WIB JAKARTA, KOMPAS.com- Berdasarkan hasil survei Kementrian Perindustrian, sekitar 30 persen industri Indonesia mulai menerapkan teknologi nano yang berdaya saing tinggi. Hanya saja, sebagian besar produk tersebut masih menggunakan bahan baku nano impor. "Pada tahun 2009 ini produk nasional yang menggunakan nano teknologi sudah mencapai 30 persen. Kalau ini bisa berkembang, dia juga akan menjadi substitusi impor dari barang-barang kimia dan sebagainya yang selama ini kita mengandalkan dari importir," ujar Menteri Perindustrian, MS Hidayat usai membuka pameran "Ritech Expo 2010" di Jakarta Convention Center, Jumat (20/8/2010).
Padahal, menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementrian Perindustrian, Dedi Mulyadi, Indonesia memiliki potensi mengembangkan bahan baku teknologi nano melihat ketersediaan sumber daya alam yang cukup. "Potensi sumber daya kita ada, kenapa tidak didayagunakan? Silikon, koloid, kan ada," katanya dalam kesempatan yang sama.
Laboratorium-laboratorium teknologi nano di Indonesia-pun menurut Dedi mulai berkembang. Hanya, sebagian besar temuan riset tersebut belum disesuaikan dengan kebutuhan industri. "(Sehingga) yang harus dibangunan pemerintah bagaimana mengintermediasi antara industri dan dunia riset. Industri ini kan sangat dinamis, apa yang dibutuhkan oleh pasar. Sehinggaa apa yang kebututan kita tentang industri yang berkompetensi mau tidak mau berbasis inovasi," ujar Menteri Riset dan Teknologi, Suhana Suryapranata.
Untuk itulah, kata Suhana, pemerintah saat ini, membentuk sistem inovasi nasional yang menghubungkan industri dan riset. Salah satu programnya adalah dengan menggelar pameran hasil riset teknologi nano untuk idustri R&D Ritech 2010 di JCC 20-22 Agustus. "Semoga ajang ini bisa membuat keterbukaan bahwa kita (riset dan industri) akan saling membutuhkan," ucap Suhana. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sat Aug 21, 2010 8:50 pm | |
| TEKNOLOGI NANO UNTUK KECANTIKAN: LEBIH INSTAN Selasa, 4 Mei 2010 | 16:33 WIB KOMPAS.com - Banyak cara untuk berupaya mengubah bentuk tubuh dan penampilan agar terlihat lebih simetris dan nyaman dipandang, sehingga mendapat julukan "cantik" atau "tampan". Baik dari perbaikan di lapisan kulit, lewat olesan obat, kosmetik dekoratif, atau lewat perawatan invasif. Yang terbaru ini, teknologi terkini dan paling banyak digunakan untuk mengubah penampilan adalah, teknologi nano.
Elly Haroen, Sales Training Manager Mustika Ratu menjelaskan, "Teknologi nano merupakan upaya percobaan untuk memanfaatkan partikel kecil dalam bentuk kosmetika. Upaya ini telah dimulai beberapa dekade lalu dalam teknologi liposome, yakni partikel kisaran mikrometer. Para peneliti saat ini telah bergerak maju menggunakan partikel yang lebih kecil dalam ukuran nanometer yang disebut nanopartikel.
Karena ukurannya yang sangat kecil ini, zat-zat aktif yang terkandung di dalamnya bisa terserap lebih cepat dan maksimal, dan bergerak pada lapisan kulit yang berada di lapisan bawah. Sehingga memungkinkan optimalisasi zat yang digunakan.
Salah satu kosmetika yang memperkenalkan produk terbarunya yang menggunakan teknologi ini adalah Mustika Ratu. Produk terbarunya yang menggunakan teknologi nano, Biolift Nano Tech Advance Lifting Serum di bawah merek Biocell ini adalah serum yang mengandung bahan aktif coenzyme Q10 dan Vitamin E acetate, serta kaemferia galanga (kencur). Diklaim, dengan kandungan-kandungan ini yang dibuat dalam partikel nano akan meningkatkan efektivitas formula, karena partikel bahan aktifnya 100 kali lebih kecil dibanding partikel mikron, mampu berpenetrasi lebih dalam ke lapisan kulit dan bereaksi, sehingga memberi hasil maksimal. Produk ini ditujukan untuk meremajakan kulit, meningkatkan regenerasi sel, membantu mengurangi kerutan pada wajah, mencerahkan kulit, dan dioleskan sebagai pelembab sehari-hari.
Sebuah klinik kecantikan asal Singapura, Nano Philosophy yang baru-baru ini membuka gerai terbarunya di Grand Indonesia, West Mall, lantai UG juga menggunakan teknologi nano. "Nano Philosophy memberikan alternatif untuk tampil cantik melalui rangkaian produk yang aman digunakan tanpa harus melakukan tindakan operatif," jelas Kennis Yam, pendiri Nano Philosophy.
Klinik Nano Philosophy menawarkan perawatan untuk kecantikan, juga kesehatan. Untuk kecantikan, Nano Philosophy menyajikan "menu" injeksi dan obat topikal (olesan) untuk kegunaan yang berbeda, di antaranya; untuk menghilangkan lemak, meremajakan sel-sel kulit, memperbaiki kekurangan minor pada wajah, tanpa metode operasi. Untuk produk kecantikan, Nano Philosophy mengklaim menggunakan 100 persen pure plant essential therapy yang diformulasi di Jepang dan Perancis untuk dibuat dalam bentuk nano. Produknya merupakan formulasi dari Argireline, Hyaluronic Acid, Beta Glucan, Astaxanthina, serta sel batang tumbuhan.
Beberapa waktu lalu, pasangan selebriti Yuni Shara dan Raffi Ahmad menjadi model dalam pembukaan gerai Nano Philosophy dengan menunjukkan cara pengaplikasian produk ini. Yuni Shara mencoba suntikan untuk membantu menghilangkan kerut pada daerah dahi, daerah mata, garis senyum, membuat hidung lebih mancung, serta menghilangkan dagu berlipat. Sementara Raffi mencoba treatment untuk membuat pipinya lebih tirus. Pihak Nano Philosophy mengklaim, produk yang mereka gunakan 100 persen terbuat dari bahan alami, hingga saat ini tak ada laporan efek samping, bahkan tidak ada laporan kulit memerah. Efek yang tampak 3 hari setelah treatment adalah kulit yang diisi partikel ini lebih berisi, mirip efek yang terlihat setelah botox, minus wajah kaku yang sering terlihat usai botox. Artinya, kulit bagian atas masih bisa fleksibel dan tidak tegang. Namun, tentunya, dengan efek langsung terlihat, dengan minim tindakan, serta minim keluhan, harga yang dipatok pun tidak sembarangan.
Dr. Deby Vinsky, pemilik Perfect Beauty & Aesthetic Clinic, pada kesempatan yang sama dengan Elly Haroen mengatakan bahwa ia mengakui, karena teknologi baru, teknologi nano masih tergolong mahal. Ia justru merasa terkejut karena di Indonesia, teknologi ini sudah mulai bermunculan, karena ia baru saja menghadiri sebuah konferensi yang membahas teknologi ini beberapa waktu lalu. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sat Aug 21, 2010 8:51 pm | |
| iPOD NANO GENERASI PERTAMA BERMASALAH Jumat, 30 Juli 2010 | 09:50 WIB TOKYO, KOMPAS.com - Lagi-lagi, Apple Inc terkena masalah. Kali ini, pemerintah Jepang meminta Apple Inc menjelaskan mengapa iPod nano generasi pertama bisa terlalu panas sehingga menimbulkan luka bakar. Kementerian Perdagangan Negeri Sakura itu memberikan batas waktu hingga 4 Agustus mendatang bagi perusahaan milik Steve Jobs untuk menjelaskan kejadian itu. Kasus iPod nano yang terlalu panas bukan pertama kali terjadi di Jepang. Sejauh ini sudah ada 27 kasus luka bakar akibat iPod nano yang terlalu panas ini.
Sebelumnya, Kementerian Perdagangan Jepang telah berulang kali meminta Apple menyajikan informasi untuk mencegah iPod yang terlampau panas itu. "Namun, peringatan itu ternyata tidak cukup," kata Juru Bicara Kementerian Perindustrian Jepang Seiji Shimagami, Kamis (29/7/2010).
Menanggapi permintaan Pemerintah Jepang itu, Apple berjanji mengusut penyuplai batere iPod generasi pertama itu. Apple mengatakan pihaknya sangat konsen soal keamanan produknya bagi pelanggan. "Kami akan menanggapi surat itu dengan serius dan bekerja sama untuk menjawab kekhawatiran mereka," kata Apple dalam situsnya. Sebelumnya, konsumen juga mengeluhkan produk Apple lainnya yakni iPhone 4. Antena telepon genggam itu dianggap cacat sehingga penangkapan sinyal menjadi terganggu. Namun, Apple membantah hal tersebut.(KONTAN/Edy Can) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sat Aug 21, 2010 9:16 pm | |
| TEKNOLOGI NANO: KOSMETIK LEBIH MERESAP Minggu, 22 Agustus 2010 | 16:20 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Teknologi nano ternyata tidak hanya dapat dimanfaatkan pada bidang sains. Bidang kecantikan kulit dan kosmetik ternyata juga mengaplikasikan teknologi nano untuk semakin memaksimalkan fungsi kosmetik pada tubuh. Ristra, salah satu produk kosmetik dan kecantikan produksi dalam negeri, mengaplikasikan teknologi nano pada sejumlah produknya untuk memaksimalkan perlindungan dan penyerapan bahan kosmetik sesuai fungsinya. Produk kosmetik yang mengaplikasikan teknologi nano memiliki daya serap dan perlindungan lebih tinggi dibanding produk sejenis.
"Nano dalam bentuk nano pertikel ini sebagai sistem penghantar bahan aktif. Karena sifatnya biocompatible (memiliki kemampuan menyesuaikan diri) dan biodegradable (dapat didaur ulang) dan dibuat dengan ukuran partikel nano, maka ia punya sifat penetrasi ke dalam kulit yang lebih baik," kata dr Trisna Mudjiana MARS selaku kepala Ristra Institute di acara Ritech Expo, Jakarta Convention Center (JCC), Minggu (22/8/2010).
Partikel nano sebagai pengantar bahan aktif, kata Trisna, akan mampu memaksimalkan penyerapan bahan kosmetik ke dalam kulit. Partikel nano juga bisa menyalurkan secara lebih merata bahan kosmetik yang berfungsi melindungi kulit dari sinar matahari dan energi negatif. "Dapat menyerap bahan kosmetik ke lapisan kulit yang lebih dalam secara utuh dan tidak terurai," katanya. Trisna juga menjamin produk kosmetik yang menggunakan teknologi nano tetap aman dan tidak memiliki efek samping. Partikel nano tidak berbahaya bagi kesehatan. "Partikel nano itu hanya sebagai penghantar. Setelah mulai terserap ke kulit, dia akan lepas," tuturnya.
Menurut Trisna, penggunaan teknologi nano jauh lebih baik dibandingkan produk-produk konvensional. Hanya, pemanfaatan teknologi nano membuat harga produk kosmetik juga lebih tinggi dibanding produk-produk sejenis yang tidak menggunakan teknologi nano. "Lebih mahal karena memang bahan baku untuk nano saat ini masih berasal dari luar negeri," katanya.
Dengan teknologi nano, produk kosmetik Ristra yang berdiri sejak tahun 1983 ini rata-rata memiliki harga dua kali lipat dibanding produk sejenis non-nano. Beberapa jenis produk kosmetik Ristra yang telah menerapkan teknologi nano antara lain antiaging cream, antiwrinkle day and night cream, maternity stretchmark cream, dan platinum skincare.
Last edited by gitahafas on Sun Aug 22, 2010 9:37 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sat Aug 21, 2010 9:20 pm | |
| MENDESAK, KEBUTUHAN 'NANOCENTER' DI INDONESIA Minggu, 22 Agustus 2010 | 15:55 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Potensi pengembangan dan penerapan teknologi nano pada berbagai produk di Indonesia semakin menjanjikan. Meski demikian, belum banyak riset-riset teknologi nano yang pada akhirnya betul-betul dimanfaatkan secara masif pada berbagai produksi massal. Masyarakat Nano Indonesia (Indonesian Society for Nano) menilai perlu adanya wadah khusus dari pemerintah sebagai pusat riset, pengembangan, dan penerapan teknologi nano. "Kalau mau fokus, sebenarnya yang diperlukan saat ini adalah adanya semacam nanocenter. Di negara yang punya teknologi tinggi selalu ada nanocenter. Nah, di kita, itu yang belum ada," kata Nur Hendrasto selaku Sekretaris Koordinator Masyarakat Nano Indonesia saat ditemui di Ritech Expo, Jakarta Convention Center, Minggu (22/8/2010).
Nur menjelaskan, teknologi nano sudah dikenal luas di negara-negara maju. Indonesia sebagai negara berkembang sebenarnya sudah menyadari potensi keuntungan yang bisa dihasilkan dengan penerapan teknologi nano. "Tapi sayangnya kita belum benar-benar fokus mengembangkan nano ini. Misalnya, tembaga pada produk-produk elektronik, kita bisa mendapat keuntungan yang besar bila diterapkan dengan teknologi nano," tuturnya.
Fasilitas dan nilai riset nano yang diberikan pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi serta Kementerian Perindustrian, ungkap Nur, nilainya masih jauh dengan alokasi dana riset nano di negara-negara maju lainnya. "Di kita itu tidak sampai Rp 1 triliun. Seharusnya jangan dilihat dari alokasi dana yang dikeluarkan, tapi potensi keuntungan yang bisa dihasilkan dengan pengembangan teknologi nano," ujarnya.
Menurut Nur, adanya nanocenter akan memungkinkan pengembangan teknologi nano secara menyeluruh. Ia menjelaskan, teknologi nano tidak sebatas riset-riset, tetapi harus bisa diaplikasikan secara massal pada berbagai produk. "Ada empat fungsi yang bisa dijalankan dari nanocenter itu, yaitu fungsi riset, fungsi inkubasi yang mengembangkan hasil riset untuk dikembangkan ke produk-produk, fungsi edukasi, dan fungsi konsultasi," ujarnya. Melalui nanocenter, pengadaan bahan baku nano juga bisa dikembangkan. Sejauh ini, Indonesia masih kesulitan mengembangkan teknologi nano karena bahan bakunya masih impor. "Padahal kita punya potensi penghasil bahan baku nano yang besar," tuturnya.
Nur berujar, Masyarakat Nano Indonesia juga terus memperluas edukasi teknologi nano kepada masyarakat luas. Tahun ini, Masyarakat Nano Indonesia telah mengadakan kerja sama dengan sejumlah institusi pendidikan tinggi untuk memperluas cakupan riset dan edukasi nano ke berbagai daerah. "Intinya, kita ingin teknologi nano ini semakin meluas di masyarakat. Tidak hanya terpusat di Jakarta, tapi juga di daerah-daerah, masyarakat bisa mengenal dan mengembangkan nano," ujarnya.
Hingga kini Masyarakat Nano Indonesia telah menjalin kerja sama dengan Universitas Sriwijaya dan Universitas Dipenogoro untuk pengembangan riset nano teknologi di luar Jakarta. "Di level bawah, kita juga bikin klub mahasiswa nano di Universitas Indonesia, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Institut Pertanian Bogor, Universitas Dipenogoro, Universitas Negeri Solo, Universitas Negeri Jakarta, dan Universitas Sriwijaya," tandasnya.
Last edited by gitahafas on Sun Aug 22, 2010 9:40 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sun Aug 22, 2010 10:21 am | |
| NANO TEKNOLOGI MULAI MEMBUKA MATA 2010-08-19 Suara Pembaruan Mungkin bagi sebagian orang Indonesia, nano teknologi masih asing di telinga, namun tanpa sadar, obat, pangan, kosmetik, dan tekstil sebagian kecilnya sudah menerapkan teknologi ini. Manfaat nano teknologi sudah mulai membuka mata banyak kalangan. Menangkap potensi tersebut, sejumlah kalangan tampaknya mulai serius menggarap penerapan nano teknologi di Indonesia. Dalam pameran R&D Ritech Expo yang akan digelar 20-22 Agustus 2010 mendatang, akan memfokuskan pada nano teknologi. Rencananya, pameran yang juga didukung oleh Kementerian Perindustrian tersebut diikuti oleh 60 peserta dari berbagai institusi, seperti swasta, pemerintah, perguruan tinggi, dan asosiasi. Melalui pameran tersebut, masyarakat luas, khususnya di Indonesia, semakin menyadari manfaat teknologi yang satu ini. Deputi Pemasyarakatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Ridwan Suhardi mengatakan, ke depan nano teknologi merupakan suatu keharusan. Terutama jika ingin menaikkan daya saing produk dalam negeri. Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri Kementerian Perindustrian Dedi Mulyadi memandang penerapan teknologi belum optimal. Karena itu, kolaborasi Kemperin dan Kemristek bisa semakin mendekatkan hasil riset dengan dunia usaha. “Kita buatlah jembatan dari berbagai inovasi dan nanti akan dikhususkan untuk nano teknologi. Dalam meningkatkan daya saing memang butuh inovasi. Indonesia kaya akan bahan material nano. Tapi, sekarang ini dari sekitar 12 perusahaan hasil survei memang telah menggunakan nano teknologi, tapi materialnya berasal dari luar negeri yang mahal harganya,” paparnya di Jakarta, Rabu (18/  . Nano Scope Peneliti nano teknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Ratno Nuryadi adalah salah satu peneliti yang berhasil membuat prototipe nano scope. Ukuran nano 10 minus 9 dalam satuan meter, memang sangat kecil tidak bisa dilihat mata telanjang ataupun mikroskop. Nano hanya bisa dilihat menggunakan mikroskop khusus nano scope. Alat sejenis buatan luar negeri mencapai harga Rp 2-3 miliar jika didatangkan ke Indonesia harganya menjadi 3 kali lipatnya. Ratno membuat nano scope bisa seharga Rp 500 juta. Namun, sayang belum ada perusahaan yang tertarik untuk memproduksi massal. Direktur Edwar Technology Edi Sukur melihat potensi Indonesia sesungguhnya besar dalam penerapan nano teknologi. Menurutnya, praktik nano teknologi negara maju untuk kepentingan pengobatan, pertanian, kosmetik, dan masih banyak lagi perlu ditiru. “Di negara maju seperti Jepang, material maju seperti nano digunakan untuk memotong cahaya matahari yang masuk ke dalam tubuh. Caranya kaca-kaca gedung bertingkat dipasang 10-100 nano untuk memotong ultraviolet dan infraret. Sehingga penggunaan AC di dalam gedung tersebut tidak perlu terlalu besar,” paparnya. Di bidang pengobatan dengan penggunaan nano teknologi, obat bisa bekerja di sumber sakit, tidak mengganggu organ lainnya dan tentunya aman bagi kesehatan. Ratno juga menambahkan memasuki abad 21 nano teknologi akan menjadi kata kunci teknologi masa kini. Pengembangan nano di luar negeri pun bisa mengubah baju kotor menjadi bersih tanpa dicuci. Limbah pun bisa diolah menjadi air bersih. Bagi nano teknologi bisa dijadikan upaya penyelamatan lingkungan. [R-15]
Last edited by gitahafas on Sun Aug 22, 2010 9:58 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sun Aug 22, 2010 9:35 pm | |
| KOSMETIK TOP BANYAK YANG PAKAI PARTIKEL NANO Selasa, 24/11/2009 17:05 WIB Irna Gustia - detikHealth Sydney, Sejumlah merek kosmetika terkenal dunia dituding oleh grup pecinta lingkungan Australia memanfaatkan perempuan untuk kelinci percobaannya terutama pemakaian bahan kimia dalam partikel nano yang bisa merusak kesehatan. Meski kalangan industri kosmetika mengatakan kontroversi penggunaan partikel nano tidaklah meluas. Namun analis independen dari The Friends of the Earth's menggambarkan partikel nano dalam kosmetik di abad 21 setara dengan penggunaan bubuk arsenik dan menemukan secara acak di 10 produk kosmetik.
Seperti dilansir Sydney Morning Herald, Selasa (24/11/2009) nama-nama produk kosmetika itu antara lain Revlon, Clarins, L'Oreal, Yves Saint Laurent, Clinique, Lancome dan Max Factor. Diantara merek tersebut, hanya satu produk yakni Christian Dior yang menjelaskan adanya partikel nano pada label kosmetiknya. Koordinator nasional The Friends of the Earth's,-- yang mengurusi masalah nanoteknologi,-- Georgia Miller mengatakan, hasil dari penelitian yang dilakukan Australian Microscopy and Microanalysis Research Facility, menunjukkan penggunaan partikel nano yang sangat meluas akan membuat orang percaya. Sementara 7 dari 10 produk kosmetik juga diketahui melakukan 'penetrasi yang tinggi' yang memastikan partikel nano dapat menjangkau lapisan kulit dangkal, memasuki aliran darah dan diserap oleh organ-organ dan jaringan.
Namun kalangan industri yang diwakili Accord, membantah hasil penelitian tersebut. Direktur kebijakan Accord, Craig Brock mengecam hasil penelitian itu sebagai kegagalan terhadap penemuan partikel nano di kosmetik. "Ini seperti pengujian makanan kolesterol dan kemudian tidak bisa mengatakan berapa persentasenya. Produk-produk ini aman untuk digunakan. Bahan-bahan sederhana yang digunakan tidak dilakukan penetrasi hanya menembus lapisan luar kulit," katanya.
Sementara Thomas Faunce dari Australian National University yang menjabat Dewan Riset Australia (ARC),-- yang memeriksa isu-isu kesehatan publik yang terkait dengan nanoteknologi--, mengatakan temuan peneliti cukup signifikan. Hasil temuan ini menandakan pentingnya memperkuat kewajiban untuk pelabelan dan data keamanan yang ketat yang harus diminta dari produsen. "Penelitian ini menunjukkan partikel nano memiliki kemampuan untuk merusak sel-sel hidup sehingga harus melakukan prinsip kehati-hatian dalam penerapannya," katanya.
Sejak awal tahun ini, Uni Eropa juga telah mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan semua kosmetik dan tabir surya yang berasal dari nanomaterial melakukan pengujian keselamatan sebelum dirilis di pasaran pada tahun 2012. Hal seperti itu belum ada keharusan pengujian untuk di Australia. Pemasangan label dari penggunaan partikel nano dalam kosmetik bukan suatu keharusan di Australia.
Last edited by gitahafas on Sat Aug 28, 2010 9:46 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sun Aug 22, 2010 9:38 pm | |
| HANYA 18% USIA SEKOLAH YANG MAMPU KULIAH 2010-07-20 Suara Pembaruan Pendidikan tinggi masih menjadi barang mahal bagi masyarakat Indonesia. Sebab, untuk masuk perguruan tinggi dibutuhkan dana yang tidak sedikit. Selain uang pangkal, uang kuliah, transpor, buku, dan keperluan lainnya, hingga kelak biaya wisuda, kalau sudah lulus. Tak heran jika Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) mencatat, angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi secara nasional hanya 18%. Artinya, hanya sekitar 18% dari total seluruh anak Indonesia berusia 19-24 tahun, yang berjumlah 25 juta, yang bisa mendapat kesempatan masuk atau mengakses perguruan tinggi.
Belum lagi kalau dilihat dari distribusinya pada tingkat regional yang belum merata. APK rata-rata nasional masih didominasi oleh dua provinsi, yaitu Yogyakarta dan Jakarta, masing-masing 63%. Dibandingkan dengan negara-negara Asia, Indonesia jauh tertinggal. Tiongkok saja, dengan jumlah penduduk 1,5 miliar jiwa, APK perguruan tingginya sudah mencapai 20%. Filipina 28%. Malaysia bahkan sudah membumbung tinggi, 42%. Indonesia sangat lebih jauh tertinggal dibandingkan dengan Korea yang APK-nya sudah mencapai 91%.
Wakil Menteri Pendidikan Nasional, Fasli Jalal menyatakan, rendahnya APK masuk perguruan tinggi terkait kapasitas dan kemampuan ekonomi masyarakat untuk membiayai dirinya masuk perguruan tinggi. Fasli menyatakan, dalam Renstra 2009-2014, Kemdiknas berusaha mendorong APK pendidikan tinggi mencapai 25% pada tahun 2014 mendatang.
Untuk itu, Kemdiknas memberikan beasiswa lewat Program Bidik Misi, serta penambahan kapasitas mahasiswa baru di perguruan tinggi sekitar 400.000 kursi. Bertambahnya jumlah mahasiswa itu harus bisa diakomodasi oleh 3.000 program studi dan perlu 1.000 lebih lagi institusi perguruan tinggi baru. Kemdiknas sebelumnya sudah menjalin kerja sama dengan beberapa pemerintah daerah untuk mengembangkan politeknik-politeknik di daerah, sesuai dengan kajian kebutuhan daerah tersebut.
Biaya Tinggi Sementara itu, pengamat pendidikan Dharmaningtyas menyatakan, tingginya biaya pendidikan perguruan tinggi di dalam negeri menyebabkan lulusan SMA atau SMK tidak melanjutkan pendidikan tinggi. Selama ini, yang bisa mengakses perguruan tinggi hanya masyarakat dari kalangan menengah atas. “Pemerintah seharusnya menjamin pendidikan yang terjangkau, kalau bisa gratis. Sesungguhnya, dari segi finansial pemerintah bisa memberikan pendidikan gratis dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, sayangnya dana pendidikan banyak yang dikorupsi,” katanya.
Menurutnya, pemerintah juga harus memperhatikan perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh masyarakat, yakni perguruan tinggi swasta (PTS). PTS merupakan mitra pemerintah dalam mencerdaskan bangsa dengan memenuhi pendidikan tinggi di Indonesia. “Partisipasi 25% tidak akan tercapai tanpa kontribusi PTS, mengingat jumlah mahasiswa di PTS selalu lebih banyak daripada mahasiswa di perguruan tinggi negeri,” katanya. Capaian angka partisipasi 18% bisa tercapai, justru kontribusi terbesar diberikan oleh swasta. “Karena itu, sudah selayaknya pemerintah memberikan dukungan pendanaan dan bimbingan yang jelas untuk menyokong PTS tetap hidup dan terjangkau oleh masyarakat luas,” ujarnya. [D-11] |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Sun Aug 22, 2010 9:56 pm | |
| TEKNOLOGI PEMBERSIH LAUT ASLI INDONESIA Rabu, 18 Agustus 2010 | 18:28 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Tim peneliti Indonesia berhasil mengembangkan teknologi bioremedial yang bisa berguna untuk mengatasi pencemaran di laut. Teknologi tersebut berupa kultur bakteri yang akan menyerap bahan pencemar. Teknologi terbaru ini diperkenalkan kepada Menteri Kelautan dan Perikanan, Fadel Muhammad pada acara temu nelayan di Pelabuhan Perikanan Samudra Nizam Zachman, Muara Baru, Jakarta Utara, Rabu (18/6/2010). "Saya kaget Indonesia bisa buat ini. Teknologi ini adalah hasil karya anak bangsa dan pertama di dunia. Kalau berhasil, saya akan sebar bakteri ini pertama kali di daerah Timor karena di sana sedang tercemar lautnya," ujar Fadel.
Selain diterapkan di laut, teknologi bioremedial juga dapat diterapkan di daerah genangan lumpur Lapindo. Bakteri-bakteri yang dibudidayakan bisa memisahkan lumpur dan air sehingga dapat menjernihkan dan menteralkan genengan lumpur tersebut. "Mikroorganisme ini saat makan minyak menghasilkan semacam liur, nah liur ini yang bisa digunakan untuk menyerap lumpur seperti lumpur di Lapindo," ujar Edison Effendi, salah seorang peneliti bioteknologi dan teknik lingkungan. Setelah lumpur terserap, daerah bekas genangan lumpur dapat ditebar benih ikan.
Teknologi ini sudah dikembangkan sejak tahun 1998 oleh tim dari ITB yang bekerja sama dengan Balai Penelitian Kementrian Kelautan dan Perikanan. Bioremedial terdiri dari 100 macam bakteri dan mikroorganisme yang berbentuk seperti serbuk gergaji yang disebar untuk menyerap limbah minyak yang ada di permukaan laut. Dengan sendirinya laut yang tercemar akan bersih. Setelah menyerap ampas minyak, mikroorganisme ini bisa digunakan sebagai makanan ikan laut dan udang. Proses dari ditaburkan hingga menyerap minyak dengan sempurna memakan waktu kurang lebih 1 minggu. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: IpTek Mon Aug 23, 2010 2:26 pm | |
| BANJIR SINGAPURA, IKLIM, REKLAMASI DAN HUTAN BETON 2010-07-22 Suara Pembaruan Alat-alat berat sibuk beroperasi dalam pembangunan gedung dan kawasan perkotaan di Singapura, baru-baru ini. Negara tetangga Indonesia itu giat membangun sarana dan gedung di atas tanah hasil reklamasi. Siapa yang menyangka, Singapura negara dengan kota yang tertata rapi dan teratur dengan sistem drainase yang nyaris sempurna, dilanda banjir hebat untuk pertama kali dalam sejarah Negara Singa itu. Banjir pertama kali terjadi bulan Juni lalu, tingginya hampir 90 centimeter (cm), bahkan melanda pusat kota. Aktivitas bisnis dan wisata belanja pun sempat lumpuh, sebab pada Juli titik banjir malah sudah bertambah sampai 20 titik.
Ternyata, akibat hujan lebat dalam beberapa jam saja membuat jalan-jalan utama terendam, mobil pribadi dan kendaraan umum (bus) di kawasan bisnis Singapura, seperti Orchard Road, Bukit Timah, serta 20 lokasi lainnya pun kebanjiran. Secara garis besar ada tiga penyebab banjir Singapura, yakni iklim, sistem drainase, dan reklamasi pantai.
Pertama, iklim. Menurut Badan Meteorologi setempat, seperti dilansir Straits Time, banjir disebabkan hujan deras dan kondisi cuaca yang tidak stabil. Pengaruh badai Conson yang telah menerjang Filipina, Tiongkok, dan Vietnam juga akhirnya berdampak pada mereka. Banjir akibat iklim itu dibenarkan oleh Kepala Pusat Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Indonesia, Edvin Aldrian. Badai Conson, katanya, terjadi akibat perubahan iklim. Di Indonesia, banjir Karawang awal tahun lalu, juga diperkirakan sebagai dampak perubahan iklim. Curah hujan dengan intensitas dan masanya yang tidak menentu, juga semakin memperjelas dampak perubahan iklim. “Saat ini, suhu laut cenderung panas. Karena itu, pengetahuan tentang iklim laut harus terus dikembangkan dan digali. Sebab, dua per tiga wilayah di Indonesia adalah lautan,” tambahnya.
Kedua, reklamasi pantai pemicu banjir, yang menjadi fenomena mengerikan bagi negara yang memiliki luas sekitar 669,3 km2 itu. Wikipedia mencatat, sejak tahun 1960 Singapura mengawali reklamasinya. Awalnya, luas negara itu hanya 581,5 km2. Karena reklamasi terus-menerus, diperkirakan hingga tahun 2030, luas negara itu akan bertambah sekitar 100 km2. Kepala Bidang Pemetaan dan Perkembangan Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) RI, Teddy W Sudinda mengatakan, Singapura adalah negara dataran rendah, tidak bergunung, dan dekat dengan permukaan laut. “Dengan kawasan yang sempit, mereka ingin mengembangkan kota dengan mereklamasi pantai,” katanya kepada SP, di Jakarta, Rabu (21/7). Logikanya menurut Teddy, luas daratan yang bertambah akan menampung air hujan yang limpahannya semakin besar pula.
Ketiga, drainase. Singapura tidak menyediakan daerah resapan air yang memadai ditengah gencarnya negara itu mereklamasi pantai. “Negara itu terlalu padat dengan bangunan, ibarat lautan beton, namun minim daerah resapan air. Dengan konsep tata kota yang demikian, manajemen drainase seharusnya dilakukan secara terpadu, memakai konsep hidrologi dari hulu hingga hilir,” kata Teddy.
Belanda katanya, menjadi contoh yang sangat baik untuk pengendalian banjir. “Di negara itu, tidak pernah lagi terjadi banjir atau terkena pasang air laut, meski permukaan air lautnya lebih tinggi dari daratan. Mereka menggunakan sistem folder, di pantai diberi pembatas. Tatkala air pasang, air tidak menerjang daratan, dan saat curah hujan tinggi ada sistem buka tutup,” jelasnya.
Diakui, sekalipun ada drainase, namun tidak terpadu. Jadi, potensi banjir besar tetap ada, apalagi ditambah lagi curah hujan tinggi dan durasinya panjang. Debit air di drainase yang melimpas akhirnya tidak lagi terserap karena tanah resapan makin berkurang. “Drainase saat musim kering, bisa saja tertutup kotoran,” imbuhnya.
Namun, menurut Head of Campaingner Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Mohammad Teguh Surya, bencana banjir bukan persoalan baik buruknya sistem drainase. “Penyebab utamanya adalah rusaknya daerah resapan air dan daya dukung lingkungan. Drainase hanya sebagai sebab tambahannya saja,” katanya. Dikatakan, sebagai negara kepulauan yang kecil, daerah resapan di Singapura mungkin saja telah mengalami kerusakan serius akibat dibangunnya gedung-gedung di wilayah resapan.
Jakarta Apa yang dialami Singapura itu sebenarnya sudah dialami oleh Jakarta selama bertahun-tahun. Meski begitu, banjir Singapura itu sebaiknya makin membuka mata pengelola negara ini, khususnya DKI Jakarta, agar makin waspada dan berusaha mencari jalan keluar. Sebab, negara sehebat Singapura saja tak mampu lagi mengendalikan banjir yang disebabkan oleh beragam faktor. Berkaca pada pengalaman Singapura, Jakarta yang dengan segala problematika banjir, kepadatan penduduk yang cenderung meningkat, dan alih fungsi lahan yang terus-menerus terjadi, harus segera berbenah diri. Menurut Teddy, Jakarta harus memiliki drainase yang terintegrasi. Kehadiran Kanal Banjir Barat dan Kanal Banjir Timur, harus pula didukung daerah resapan air yang luas.
“Selain itu, pola konservasi air melalui sumur resapan dangkal dan sumur injeksi, harus ditingkatkan jumlahnya,” katanya. Pola konservasi dengan menampung air hujan ini, membuat cadangan air dalam tanah meningkat. Pada saat musim kering, krisis air pun tidak perlu lagi terjadi. Dia mencontohkan, di Jalan Thamrin, ada daerah yang permukaan tanahnya terus menyusut karena air di dalam tanah menepis, sementara bangunan-bangunan bertingkat di atasnya terus menyedot air tanah.
Jakarta harus mengarah ke konsep folder dan drainase terpadu. Apalagi Jakarta tempat bermuaranya 14 sungai. Pemerintah daerah yang memiliki dataran tinggi juga harus menyetop alih fungsi lahan, penggundulan hutan sebagai daerah resapan air. Menurut Mohammad Teguh Surya, sangat penting bagi Jakarta memulihkan daerah resapan air, proteksi lingkungan hidup, dan tidak lagi mengonversi lahan-lahan basah yang tersisa.
Ketua Walhi Jakarta, Ubaidillah pun menyerukan agar reklamasi pantai Jakarta segera dihentikan, karena tidak layak aturan, baik prosedur maupun substansi. “Penuhi 30% ruang terbuka hijau sebagai area resapan air hujan dan fungsi ekologi lainnya, normalisasi dan revitalisasi 13 sungai induk dan saluran drainase hingga ke pemukiman padat penduduk,” tandasnya. [R-15]
Last edited by gitahafas on Sat Aug 28, 2010 9:46 am; edited 1 time in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |