Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 IpTek

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 9 ... 16  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Fri Jul 02, 2010 11:35 pm

GEMPA JAKARTA, SIAPKAH KITA?
Jum'at, 23 Juli 2010, 21:11 WIB Elin Yunita Kristanti, Anda Nurlaila, Zaky Al-Yamani
VIVAnews –TIGA abad lalu ada kisah bumi Jakarta nyaris rata akibat gempa. Hari itu, 4-5 Januari 1699, guncangan di Jawa Barat merambat ke Batavia. Peradaban kota baru bentukan kolonial Belanda itu nyaris hancur. Saat itu, Gunung Salak meletus. Dari puncaknya setinggi dua ribu meter, gunung itu menyemburkan abu dan batu. Ribuan kubik lumpur muncrat. Puluhan ribu pohon tumbang, menyumbat aliran Sungai Ciliwung, membekap kali dan tanggul di Batavia, kota yang dibangun meniru Venesia.

Banjir lumpur tak terelakkan. Kota mendadak menjadi rawa.
Bencana itu dicatat Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya History of Java. "Gempa 1699 memuntahkan lumpur dari perut bumi. Lumpur itu menutup aliran sungai, menyebabkan kondisi lingkungan tak sehat, kian parah.” Batavia didera bencana rangkap dua. Gubernur Jendral Hindia Belanda Willem van Outhoorn (1691 – 1704) yang berkuasa saat itu sangat nepotis. Para kerabatnya menduduki jabatan strategis di Hindia Belanda. Dia bahkan digantikan menantunya sendiri, Johan van Hoorn. Hampir seabad kemudian, gempa hebat kembali melanda Jakarta pada 1780. Lalu seabad kemudian, pada 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus, dan memicu tsunami 35 meter. Sekitar 36 ribu jiwa melayang, di Jawa bagian barat, dan sebelah selatan Sumatera.

Jumlah korban fantastis untuk ukuran masa itu.
Ombak tsunami Krakatau mampu mendorong karang seberat 600 ton ke pantai. Inilah salah satu bencana alam terdahsyat, selain letusan Gunung Tambora, yang membolongi atmosfer, mengubah iklim dunia, dan konon membuat Napoleon Bonaparte kalah perang.

Kisah Krakatau mengamuk itu pernah dicatat saksi mata Muhammad Saleh, yang menulis ‘Syair Lampung Karam’, dan terbit pada Agustus 1883. Ini barangkali dokumentasi tragedi Krakatau satu-satunya yang ditulis oleh seorang pribumi. Saleh menulis: “Serta pula dengan gelabnya, tidak berhenti goncang gempanya. Bukan Bumi yang menggoncangnya, gempa air laut nyata rupanya.” “Dengan takdir Tuhan yang Ghani, besar gelombang tidak terperi. Lalulah masuk ke dalam negeri, berlarian orang ke sana ke mari. “Ada yang memanjat kayu tinggi, masing-masing membawanya diri. Ada yang gaduh mencari bini, ada yang berkata ‘Allahurabi’”. Naskah itu ditemukan kembali oleh sejarawan Universitas Andalas, Suryadi, yang kini menimba ilmu di Universitas Leiden, Belanda. Dia lalu menyunting teks syair yang mirip laporan ‘jurnalistik’ itu, dan diterbitkan kembali dalam buku ‘Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883’.

Periode yang mengulang
Empat gempa dahsyat itu bukan sekedar catatan sejarah. Bagi para pakar, dia menjadi petunjuk bencana yang sama bisa berulang di ibu kota. Pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Danny Hilman Natawijaya, misalnya, mengatakan dari fakta sejarah gempa selalu berulang dalam periode waktu tertentu. “Ini adalah peringatan bagi Jakarta, kota besar dengan 9 juta penduduk. Jakarta harus selalu siap menghadapi skrenario terburuk bencana gempa.”

Peringatan dari Danny ada dasarnya. Dari data peta gempa 2010, Jakarta termasuk rawan. Tingkat kerentanan Jakarta terhadap gempa bumi naik probabilitasnya. Pada 2002, dia tercatat pada angka 0,15 g (gravitasi). Kini, pada 2010 naik menjadi menjadi 0,2 g. Encyclopedia of World Geography mencatat Jakarta, seperti halnya mayoritas kota besar di Indonesia, dibangun di atas tanah relatif tak stabil. Meski jauh dari pusat gempa, kota seperti itu rentan goncangan. Tanah yang tak stabil itu membuat rambatan gempa jadi lebih hebat. Seperti dikatakan Ketua Tim Revisi Peta Gempa Indonesia atau Tim 9, Profesor Masyhur Irsyam, kawasan Jakarta Utara memiliki kondisi batuan dasar yang memungkinkan terjadinya percepatan rambatan.

Ambil contoh kasus gempa 1699 itu. Pusat gempanya tidak di Batavia, nama lama Jakarta. “Tapi di wilayah lain. Karena kondisi batuan dasar memungkinkan percepatan rambatan, maka guncangannya lebih kuat daripada kekuatan gempa di sumbernya," kata Prof Masyhur. Intensitas gempa yang kian meningkat di zona patahan aktif sepanjang pantai barat Sumatera akhir-akhir ini membuat para pakar turut cemas. Soalnya potensi gempa bisa menuju ibu kota sewaktu-waktu. "Ini juga bisa jadi semacam emergency call. Bisa dilihat mana yang relatif aman dari goncangan, sehingga bisa jadi jalur evakuasi," ucap Masyhur, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Suka tak suka, Jakarta memang di bawah bayang-bayang jalur gempa itu. Sebelumnya beredar kabar adanya sesar, atau patahan gempa di Jakarta. Melintang dari wilayah Ciputat sampai Kota, patahan itu disebut juga Sesar Ciputat. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut, salah satu bukti adanya Sesar itu adalah sumber mata air panas di sekitar Gedung Arsip Nasional. Namun, Sesar itu adalah patahan tua. Pada 2006 lalu sesar itu masih berstatus tidak aktif. Tapi, dia bisa "terbangun" kembali. Misalnya, jika Sesar tua itu "digelitik" oleh gempa berkekuatan di atas 7 skala Richter. Untungnya, tak ada gempa sebesar itu di Jakarta, setidaknya dalam 200 tahun terakhir.

Negeri langganan gempa
Ini takdir: Indonesia berada di atas zona tektonik sangat aktif karena tiga lempeng besar dunia –Pasifik, Australia, dan Eurasia, dan sejumlah lempeng kecil lainnya bertemu di wilayah nusantara. Berada di lingkaran ‘cincin api’ atau ring of fire membuat negeri ini langganan bencana, seperti gempa dan letusan gunung berapi. “Indonesia adalah supermarket gempa”, ujar Staf Khusus Presiden Bidang Bencana, Andi Arief.

Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), dari 15 gempa paling dahsyat di dunia sejak tahun 1900, empat di antaranya berada di Indonesia.
Sebut saja gempa Aceh 2004 yang berkekuatan 9,1 skala Richter. Menurut versi USGS, gempa Aceh menduduki nomor tiga setelah gempa Chile pada 22 Mei 1960 (9,5 SR) dan gempa di Alaska (9,2 SR), 28 Maret 1964. Tiga gempa lainnya adalah guncangan berkekuatan 8,6 SR di Sumatera Utara pada 28 Maret 2005, Gempa 8,5 SR di Sumatera Selatan 12 September 2005, dan gempa di Laut Banda 1 Februari 1938.

Tentu, kita masih terkenang gempa dan tsunami di Aceh pada Minggu 26 Desember 2004, yang menjadi salah satu bencana paling mematikan sepanjang sejarah. Sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Bencana ini bahkan menewaskan warga di Afrika Selatan, yang letaknya hampir 5.000 mil dari episentrum. Kekuatan gempa di Aceh dua kali lipat lebih dibandingkan gabungan seluruh bahan peledak yang digunakan dalam Perang Dunia II, termasuk bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Korban umumnya jatuh akibat tak adanya sistem peringatan tsunami di Samudra Hindia. Maka, tsunami Aceh harus menjadi pelajaran. Termasuk pentingnya memperhitungkan probabilitas gempa. Menurut Tim 9, identifikasi sumber gempa melalui data seismisitas baik historis maupun instrumental, pemetaan sesar aktif, dan pemantauan deformasi kerak adalah aspek penting untuk diperhitungkan.

Ancaman gempa naik dua kali
Dalam kerangka itulah, sejumlah ahli gempa mencoba melakukan revisi peta gempa Indonesia pada 2010. Peta bahaya gempa terakhir dibuat pada 2002. Laporan terbaru itulah itulah diberi tajuk Peta Bahaya Gempa Indonesia 2010 (Probabilitic Seismic Hazard Analysis Map). Danny Hilman menjelaskan, peta ini berisi potensi bahaya gempa yang tersimpan di tiap daerah. Peta 2010 diklaim lebih baik dari 2002. “Datanya lebih lengkap karena dari berbagai instansi. Sebelumnya data-data hanya berasal dari perorangan. Metode yang digunakan juga lebih bagus.”

Soal potensi gempa, menurut Danny, hampir semua kota di wilayah patahan aktif terancam. “Misalnya Padang, Banda Aceh, Surabaya, Malang, Semarang. Jumlahnya ratusan kota. Hanya pulau Kalimantan saja yang relatif aman dari gempa.” Peta gempa ini akan digunakan sebagai bahan pertimbangan ketahanan bangunan. Penerapannya dilakukan Departemen Pekerjaan Umum (DPU) dalam hal kualitas bangunan. “Kekuatan bangunan harus disesuaikan dengan besaran yang ada saat ini. Kalau dulunya ketahanan bangunan berdasarkan 0,15, sekarang kekuatannya harus 0,2. Semuanya sudah diperhitungkan, dan tiap individual bangunan sangat bervariasi.”

Bencana gempa dapat terjadi karena kegagalan menerapkan parameter bahaya (hazard) sesuai tingkat bahaya gempa bumi pada desain, konstruksi gedung, serta infrastruktur di wilayah tertentu. Yang membuat agak cemas adalah hasil penelitian tim itu. Dikatakan, potensi gempa pada peta 2010 makin besar. “Sekitar dua kali lipatnya dibandingkan peta tahun 2002," kata Ketua Tim, Masyhur Irsyam. Kenaikan 100 persen itu, kata Masyhur, terutama terjadi di dekat sumber gempa. "Di sekitar patahan, dan di sekitar sesar," ujarnya. Tim kemudian membandingkan tingkat guncangan di sejumlah kota pada peta 2002, dengan hasil riset 2010.

Di Aceh, tingkat guncangan meningkat dari 0,2 g (gravitasi) di 2002 menjadi 0,33 g pada 2010. Di Padang, dari 0,25 g menjadi 0,32 g. Di Pulau Jawa, tingkat goyangan meningkat dari 0,15 g menjadi 0,2 g. "Namun ada juga yang tingkat goyangan menurun. Misalnya di Lampung, dari 0,25 g pada 2002 menjadi 0,2 g pada 2010," lanjut ahli gempa asal Insitut Teknologi Bandung ini. Masyhur menjelaskan, pemantauan potensi gempa di Indonesia belum sepenuhnya tuntas. "Masih banyak sesar aktif atau pun patahan tua aktif yang belum dapat diidentifikasi di sekitar pulau Jawa dan Indonesia Timur.

Berhenti jadi ‘pemadam kebakaran’
Data terbaru itu layak membuat kita waspada. Tapi pakar manajemen krisis dari Sekolah Ilmu Pemerintahan John F Kennedy, Universitas Harvard, Arnold Howitt justru kaget saat melihat anggaran penanggulangan bencana yang dimiliki Indonesia. “66 persen anggaran hanya untuk rekonstruksi. Seharusnya dana itu juga dialokasikan sebelum bencana terjadi,” kata Howitt dalam diskusi bertajuk ‘Kepemimpinan dalam Pengelolaan Bencana. Mencari Formulasi untuk Indonesia’ di Kompleks Istana Negara, Jakarta, akhir Juni lalu.

Menurut Howitt, pola pikirnya harus berubah. Dari ‘pemadam kebakaran’, menjadi selalu siap siaga terhadap bencana. “Data ini menunjukkan, ada kesalahan dalam mengalokasikan belanja,” dia menambahkan. Dibandingkan Indonesia, Amerika Serikat lebih siap menghadapi bencana. Warga New Orleans, yang diterjang badai Katrina misalnya. Sebelum bencana terjadi mereka telah membangun dinding-dinding pelindung angin ribut. Atau belajarlah dari Chile. Negeri itu pernah hancur diterjang gempa 9,5 SR pada 1960. Tapi, kata Tim 9, negara ini cukup cerdas membuat peristiwa gempa itu sebagai pelajaran penting. Chile relatif siap.

Buktinya, saat gempa besar berkekuatan 8,8 SR kembali mengguncang Chile pada Februari 2010, dengan 512 kali getaran hebat, mereka bisa menekan jumlah korban. Hanya sedikit rumah yang hancur. Pemulihan jaringan komunikasi juga relatif cepat. Coba bandingkan dengan Haiti. Negeri itu dihajar gempa 7 SR pada Januari 2010. Ratusan ribu jiwa melayang. Ribuan gedung hancur, dan proses pemulihan jaringan komunikasi berlangsung lama. Rahasianya keselamatan itu sebetulnya sederhana: kebijakan soal standar bangunan. “Undang-undang di Chile mengharuskan setiap bangunan memiliki konstruksi tahan gempa,” begitu uraian dari Tim 9.

Siapkah kita?
Direktur Kawasan Khusus dan Derah Tertinggal di Bappenas Dr. Suprayoga Hadi mengatakan pemerintah pusat sudah menyusun Rencana Nasional Penanggulangan Bencana (RNPB) dan juga Rencana Aksi Penanggulangan Bencana (Renas PB). “Ini sudah terencana dalam jangka 2010-2014,” ujarnya kepada VIVAnews. Termasuk di dalamnya adalah kebijakan antisipasi 16 kategori bencana, baik bencana alam maupun buatan. Untuk gempa, Suprayoga menjelaskan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Vulkanologi sudah menyiapkan rencana antisipasi bagi daerah yang tingkat kerawanannya tinggi. Rencana itu akan dibantu tiap pemerintah daerah terkait.

Sesuai peta terbaru, gempa cenderung bergerak ke wilayah Barat Indonesia. Karenanya, diperlukan aturan ketat soal standar bangunan di wilayah itu. “Implikasi terbitnya peta rawan gempa baru harus ditindaklanjuti dalam aturan penerbitan IMB di perkotaan. Izin mendirikan bangunan harus lebih ketat. Misalnya harus diterapkan kontsruksi bangunan tahan gempa 5-6 SR,” ujar Suprayoga. Sumatera Barat dan Bengkulu mengambil langkah lebih maju. Untuk mengantisipasi gempa, daerah itu melakukan revisi rencana tata ruang wilayah (RTRW) Propinsi, dan juga peraturan daerah. “Gempa pada 2007 dijadikan pijakan mereka, sehingga kawasan beresiko sangat tinggi dicegah mendirikan pemukiman. Jadi sangat diperhatikan wilayah yang ada patahan, dan pergeseran dengan kerawanan tinggi,” Suprayoga menambahkan.

Lalu, bagaimana dengan Jakarta? Menurut dia, bangunan Jakarta lebih banyak yang vertikal alias gedung jangkung yang menjulang. Selain harus memenuhi persyaratan, bangunan di Jakarta harus punya sistem evakuasi yang bagus. “Harus ada rute yang jelas untuk evakuasi. Lalu sejauh mana fasilitas yang ada dapat berfungsi seperti tangga darurat, atau alarm lainnya. Agar tidak menimbulkan kepanikan saat terjadi bencana,” ujar Suprayoga. Dia menyarankan, di Jakarta harus ada renovasi bangunan mengikuti kaedah rawan gempa. Antara lain memperkuat struktur gedung dengan penambahan tulang penyangga. Sudah siapkah kita?


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 7:20 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Fri Jul 02, 2010 11:39 pm

SIAGA SKALA 9 RICHTER
Jum'at, 23 Juli 2010, 21:24 WIB Arfi Bambani Amri
VIVAnews – Sirene itu menghadap Samudera Hindia. Menjulang tinggi di Pasar Tiku. Berdiri tegak di antara kantor Pak Camat dan pasar rakyat. Dikurung pagar lebih dari dua meter. Harga sirene itu juga menjulang. Satu miliar rupiah. Mahal karena dia adalah dewa pengingat. Para ahli menyebutnya alat early warning system. Warga di Tanjung Mutiara, Agam, Sumatera Barat itu, menyebutnya dengan nama yang membuat bulu kuduk meriang, Sirene Tsunami.

Sirene itu menderu tiap tanggal 23. Bukan karena gempa. Tapi sekedar mencoba apakah si dewa pengingat ini masih bernafas. Jumat, 23 Juli ini sirene itu melengking. Warga sudah maklum. Ini sekedar uji coba. Selain tanggal “keramat” itu, sirene ini tak pernah dibunyikan. Bahkan ketika lindu menguncang pesisir barat Sumatera, 30 September 2009, sirene itu diam membisu. Tapi ribuan warga yang cemas tetap berlari mendaki bukit. Mereka ke sana, “ Karena takut ada tsunami,” kata Zulfaidar, seorang warga di sana kepada VIVAnews.

Sebagaimana wilayah lain di barat Sumatera, daerah Tiku itu memang terbilang rawan lindu. Para ahli gempa melansir bahwa daerah pesisir barat itu tersusun oleh batuan sedimen berumur tersier, batuan vulkanik, dan aluvium berumur kuarter. Semua jenis itu memiliki sifat gampang lepas. Itulah yang memperparah efek gempa bumi. Menetap di atas zona merah itu, warga dan pemerintah selalu bersiaga. Petinggi di Sumatera Barat memasang enam sirene di seluruh wilayah. Di sebar di Padang, Kota Pariaman, Cimpago di Padang Pariaman, Sasak di Pariaman Barat, dan di kota Tiku itu.

Alat sirene semahal itu cuma ada 12 di negeri ini. Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Sumatera Barat, Ade Edwar, menyebutkan bahwa enam alat lain ada di Nanggroe Aceh Darussalam. Lantaran peralatan yang serba terbatas itu, sinyal bahaya di Kepulauan Mentawai cuma datang dari lonceng gereja. Setiap gempa yang lebih dari 5 skala Richter, lonceng gereja selalu berdentang-dentang. Warga pun berlari ke bukit.

Dentaman lonceng gereja itu cukup keras. Terdengar hingga radius satu kilometer. “Kami tinggal berlari menyelamatkan diri ke bukit,” kata Salaleubaja, seorang warga Mentawai. Menetap di atas tanah berbahaya, membuat pemerintah Mentawai juga sudah bersiaga. Sesudah gempa besar menguncang Aceh 2004 lalu, mereka membangun jalan beton menuju perbukitan. Jalan beton itu juga dibangun antar dusun. Ini adalah jalur evakuasi mendadak.

Siaga begitu rupa, tampaknya memang belum cukup. Sebab bentangan bahaya di barat Sumatera itu sungguh luas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar berencana menerapkan teknologi gelombang radio. Gelombang radio itu terkoneksi ke sirene tsunami. Handy talky (HT), yang sudah dimodifikasi akan terkoneksi ke sejumlah masjid di pesisir pantai Sumatera Barat. Dengan cara itu diharapkan peringatan dini cepat sampai. Harga satu alat diperkirakan Rp 20 juta hingga Rp50 juta. Sistem komunikasi darurat seperti ini pertama di Indonesia. “Akan dibiayai APBN,” kata Ade Edwar. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga akan memasang kamera CCTV di Tuapejat, Ibukota Mentawai.

Bahaya dari Mentawai
Bahaya itu dirilis pemerintah 16 Juli lalu. Kabupaten Mentawai, begitu bunyi rilis itu, menyimpan kekuatan gempa 9 skala Richter. Bahaya itu berdiam di Pulau Siberut dan Sipora, sebelah selatan Kepulauan Mentawai. Tingkat guncangan maksimal mencapai 0,5 kali gravitasi. ‘’Artinya, satu setengah kali lebih kuat dari gempa sebelumnya (7,9 SR),” ujar Ade Edwar. Bahaya itu diperkirakan menyebabkan gelombang tsunami. Sebab pusat gempa cukup dangkal. ”Menurut sejumlah ahli, jika gempa berkekuatan sembilan skala Richter terjadi, arah timur Mentawai (Padang) akan dihantam tsunami setinggi satu hingga dua meter, ” kata Ade. Dengan gelombang setinggi itu, dia akan menyasar 637 dusun.

Gelombang yang terbilang raksasa, justru bergerak ke arah barat Pulau Mentawai—Samudera Hindia. Tsunami diperkirakan beberapa kali lebih besar dari yang melanda Aceh enam tahun silam. Menggulung hingga radius 2 kilometer. Namun syukurlah, tsunami yang ini mengarah ke samudera lepas. Ahli paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Danny Hilman Natawidjaya, kepada VIVAnews, Oktober 2009, melansir keberadaan seismic gap di selatan Mentawai ini.

“Dari hasil kalkulasi kami, gempa 2007 hanya melepaskan tidak lebih dari sepertiga jumlah energi tekanan tektonik yang terakumulasi di Mentawai,” kata Danny.
Dengan kata lain, ujar Danny, masih ada sekitar dua pertiga lagi yang tersimpan. Apabila yang dua pertiga ini meluncur sekaligus maka bisa menghasilkan gempa dengan kekuatan sampai 8,8 skala Richter alias 30 kali lebih besar dari gempa 30 September 2009.

Jika semua ramalam itu benar, maka akan terjadi pula kenaikan dan penurunan tanah. Gempa tahun 2007 mengakibatkan tinggi permukaan Pulau Sikakap di Kepulauan Mentawai naik hingga 70 centimeter. Sedangkan gempa besar yang terjadi akhir Oktober 2009 lalu, tidak menyebabkan perubahan tanah di kawasan itu. Namun gempa besar terakhir itu membuat tanah di pesisir Pantai Barat Sumbar turun hingga 25 cm.

Prediksi gempa berkekuatan 9 skala Richter ini, menurut Ade yang juga Ketua Ikatan Ahli Geologi Sumbar itu, diperkirakan akan terjadi dalam rentang waktu 10 hingga 20 tahun ke depan. Celakanya, guncangan gempa di Sumatera Barat bukan cuma datang dari dasar laut. Tapi juga dari Patahan Sumatera, yang lebih sering disebut sebagai Patahan Semangka. Patahan itu menyimpan kekuatan gempa dengan daya rusak yang cukup besar.

Di barat Sumatera itu, kata Ade, ada dua segmen yang berada di patahan Sumatera yang masih menyimpan energi berkekuatan 7,5 skala Richter yakni Segmen Sumpu (Pasaman Timur) dan Segmen Suliti (Muara Labuh-Alahan Panjang).
Perkokoh Bangunan

Selain rupa-rupa siaga itu, pemerintah juga mempersiapkan bangunan tahan gempa. Pemerintah Sumatera Barat kini tengah mempersiapkan Peraturan Daerah (Perda) soal bangunan ini. Terutama bangunan publik. Hingga kini Perda itu masih didiskusikan.

Harmensyah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Barat, menyatakan bahwa Perda itu masih dikoordinasikan dengan Dinas Prasarana Jalan dan Pemukiman Sumatera Barat.
“Mitigasi ini membutuhkan investasi. Setiap US$1 yang diinvestasikan akan menyelamatkan aset senilai US$4,” kata Harmensyah. Bencana besar tidak bisa dihadapi dengan sikap responsif semata, butuh investasi untuk mengurangi dampaknya.

Perda soal bangunan ini begitu penting, mengingat gempa September 2009 -- yang berkekuatan 7,9 skala Richter -- meruntuhkan sejumlah gedung yang awalnya disiapkan sebagai lokasi evakuasi bencana tsunami. Hotel Bumiminang dan Sentral Pasar Raya Padang justru tak sanggup menahan guncangan gempa. Padahal sudah disiapkan sebagai escape building.

Pascagempa 2009, Walikota Padang Fauzi Bahar, berencana membangun 100 sekolah dan pasar sekaligus sebagai shelter yang mudah diakses warga. Semua shelter tersebut berada radius 1 km dari bibir pantai yang tersebar di tujuh kecamatan di Padang. Tapi memang biayanya cukup mahal. Membangun 100 unit sekolah shelter memerlukan Rp 670 miliar. Tapi uang sebesar itu harus dicari, sebab taruhannya terlalu mahal, keselamatan warga. (Laporan Eri Naldi dari Sumatera Barat)


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 7:24 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Sat Jul 03, 2010 12:02 am

AWAS! GEMPA DI SEKITAR KITA
Suara Pembaruan 22 Januari 2010
Seorang anggota militer Prancis mencari korban yang tertimbun bangunan Montana Hotel dengan bantuan anjing pelacak di Port-au-Prince, Haiti, Jumat (15/1). Berbagai bantuan dari beberapa negara, termasuk Indonesia, terus berdatangan ke Haiti untuk mempercepat proses evakuasi dan pemulihan di kawasan bencana.
Selasa sore, 12 Januari 2010, dunia dikejutkan dengan gempa 7,0 skala richter di Haiti. Gempa jenis itu memang jamak terjadi namun yang mengejutkan adalah korban jiwa yang diperkirakan mencapai ratusan ribu orang.

Enam tahun lalu di Aceh dan Nias merasakan dampak dari kekuatan alam berupa gempa bumi. Gempa dahsyat 9.3 skala richter yang disusul tsunami menewaskan lebih dari 120.000 orang. Dua tahun kemudian, Yogyakarta dans sekitarnya dihentak gempa yang menewaskan 6.000 orang. Bumi Ranah Minang itu diguncang gempa 7,6 skala richter. Korban pun berjatuhan hingga mencapai lebih dari 1.100 orang.

"Indonesia tidak bisa mengelak dari ancaman bencana karena posisinya yang sangat unik dan kompleks," ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Sri Woro Budiati Harijono. Posisi yang dimaksud adalah Indonesia berada pada posisi pertemuan tiga lempeng dunia yaitu Lempeng Asia - Australia, Lempeng Euresia, dan Lempeng Pasifik. Selain itu dari sisi geologis, Indonesia masuk dalam jalur cincin gunung berapi (ring of fire) dunia. Kedua posisi ini berpotensi besar menyebabkan gempa bumi.

Disamping itu, sebagai negara kepulauan, Indonesia diapit dengan dua samudera yakni Pasifik dan Hindia yang sangat mempengaruhi cuaca dan iklim di tanah air sehingga berpotensi mengakibatkan bencana seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, dari berbagai faktor antara lain geografis, geologis, hidrologis, meteorologi, klimatologi dan sosio-demografis, Indonesia memang wilayah yang sangat rawan bencana.

BNPB mencatat dari tahun 2000 hingga 2008, grafik jumlah kejadian bencana di tanah air menunjukkan kecenderungan meningkat. Tahun 2000 jumlah bencana alam antara lain banjir, longsor, gempa bumi/tsunami, angin topan yang terjadi sebanyak 82 kejadian. Delapan tahun kemudian bencana yang terjadi melonjak drastis menjadi 1.302 kejadian. Jika ditotal jumlah kejadian bencana selama 8 tahun itu sebanyak 5.519 dengan menelan korban jiwa sebanyak 145.480 orang.

Mengurangi Dampak
Bencana tak diketahui kapan bakal terjadi. Karena itu manusia perlu menyiapkan diri agar dampak dari risiko bencana itu bisa dikurangi. Pemanasan Global yang mengakibatkan perubahan iklim telah memicu semakin banyaknya bencana yang berhubungan dengan cuaca dan iklim baik itu bencana alam maupun bencana sosial seperti kelaparan.

Gempa bumi, hingga saat ini tak bisa diprediksi kapan terjadi. "Kalau tempat dan besaran gempa yang akan terjadi bisa kita perkirakan, tetapi kapan waktu terjadinya masih belum bisa diprediksi," ujar Deputi Ilmu Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Hery Harjono. Jalan terbaik adalah bisa hidup dan bertahan dari gempa. "Mau tak mau kita harus terbiasa hidup berdampingan dengan gempa," kata Seismolog dari ITB, Sri Widiyantoro.

Salah satu upaya mewujudkan kehidupan bersama itu adalah dengan menyiapkan perangkat mitigasi berupa Peta Bahaya Nasional atau Peta Zonasi Seismik.
Di Indonesia, dengan peta yang akan disebarluaskan oleh Kementerian Pekerjaan Umum itu, para ahli bangunan bisa memperhitungkan kekuatan dari sebuah bangunan yang akan dibuat di suatu daerah. Secara terpisah, Ketua Tim Peta Bahaya Nasional, Masyhur Irsyam mengungkapkan, saat ini pihaknya sudah memasuki tahap akhir penyelesaian peta bahaya nasional. "Kita harap selesai bulan Februari," ujarnya.

Peta itu sudah ada sebelumnya dan harus selalu diperbaharui setiap tiga tahun sekali. Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakorsurtanal) tidak melakukan pemetaan bencana karena peta dasar rupa bumi yang diproduksi terbatas pada skala 1:25.000. Sedangkan untuk perencanaan antisipasi dan evakuasi bencana alam daerah diperlukan peta yang lebih detil yaitu skala 1:2.500.

Menurut Ketua Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Pusat Mayjen TNI Syamsul Maarif, kepala daerah khususnya gubernur telah memiliki peta rawan bencana di daerahnya masing-masing. "Peta rawan bencana ini memang tidak dipublikasikan secara terbuka ke publik namun diberikan kepada para pembuat kebijakan di daerah sehingga setiap kebijakan pembangunan yang diambil bisa disesuaikan kondisi alam setempat," katanya kepada SP, Jumat (22/1).

Dia menjelaskan, perlu ketegasan kepala daerah dalam menjalankan kebijakan pembangunan daerah. Wilayah yang sebenarnya diketahui sebagai daerah resapan air, daerah hijau, tempat saluran air dan bahkan daerah yang rawan bencana tidak boleh lagi dijadikan kawasan perumahan, bisnis dan industri. "Kebijakan Pemda harus tegas dan mengacu pada rencana tata ruang wilayah (RTRW)," ujarnya.

Syamsul melanjutkan, penanggulangan bencana mulai dari tahap pencegahan, antisipasi, sosialisasi, tanggap darurat sampai ke tahap rehabilitasi di banyak daerah saat ini sudah mengalami banyak kemajuan. [153/E-7/M-17]


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 7:26 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Sat Jul 03, 2010 6:27 am

UPAYA PREDIKSI GEMPA
Senin, 26 Oktober 2009 | 08:18 WIB Yuni Ikawati
KOMPAS.com — Fenomena kegempaan telah terjadi sejak permukaan Bumi ini terbentuk. Untuk memahaminya, dikembangkan seismologi, bagian dari ilmu kebumian. Namun, hingga kini gempa belum juga dapat diperkirakan sehingga selalu mengancam kehidupan di atasnya. Riset pun terus berjalan.
Awal pekan lalu muncul rumor akan terjadi gempa berkekuatan 8,5 skala Richter pada Sabtu, 24 Oktober 2009. Guncangannya disebutkan mengarah ke Jakarta. Berita yang disebutkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu telah dibantah Kepala BMKG, 19 Oktober. Isu ini tidak mempunyai dasar ilmiah yang jelas karena gempa tektonik belum bisa diprediksi secara ilmiah.

Kenyataannya pada tanggal itu Jakarta ”aman-aman” saja. Meski terjadi gempa pada pagi hari (pukul 10.09 WIB), skalanya hanya 5,1 SR dan hanya sedikit menggoyang Sukabumi. Lalu ada gempa lagi pada malam harinya (21.40 WIB) di Laut Banda. Gempa tergolong kuat (7,3 SR) dengan pusat ada pada jarak 209 kilometer barat laut Saumlaki, Maluku. Karena pusat gempanya dalam, guncangannya terasa hingga ke Ambon dan Merauke. Sejauh ini, ilmu kebumian yang dikuasai manusia baru sebatas merekam gempa yang terjadi, baik waktu, lokasi, maupun intensitasnya. Belum ada teknik prediksi gempa yang tergolong maju dan teruji secara ilmiah.

Namun, upaya rintisan ke arah itu terus dilakukan. Salah satu teknik pemantauan menggunakan gelombang elektromagnet (EM) yang terpancar dari perut Bumi. Penelitian ini telah lama dirintis Varotsos, pakar geofisika dari Universitas Athena, Yunani, pada tahun 1884. Menurut dia, teknik ini memiliki prospek yang baik untuk memperkirakan gempa karena tingkat kesuksesannya dalam memprediksi gempa ketika itu sudah mencapai 63 persen. Melihat prospek itu, beberapa negara maju, di antaranya Jepang dan Taiwan—yang kerap diguncang gempa—seperti halnya Indonesia, belakangan ini gencar melakukan pengembangan teknik ini, tidak hanya untuk mengamati sebaran EM di lapisan litosfer Bumi, tetapi juga di atmosfer hingga ionosfer.

Gelombang EM digunakan untuk mengindikasikan terjadinya gempa karena percepatan gerakan lempeng dan magma akibat perubahan formasi bebatuan di perut Bumi menimbulkan lonjakan gelombang elektromagnet. Anomali ini terlihat sebelum gempa terjadi. Menggali ilmu pemantauan gempa dari dua negara itu, Djedi S Widarto, peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, beberapa waktu lalu mengungkapkan hasil risetnya di Liwa, daerah di pesisir barat perbatasan Lampung-Bengkulu yang diguncang gempa dahsyat beberapa tahun lalu.

Pertanda munculnya gempa tektonik dapat diketahui dua hingga lima hari sebelum kejadian, ditunjukkan adanya anomali gelombang elektromagnet di permukaan Bumi. ”Ada lonjakan elektromagnetik sekitar 5 milivolt sebelum terjadi gempa besar di daerah itu,” urainya. Penyimpangan ini bahkan terpantau di lapisan ionosfer yang berada 300 hingga 400 kilometer di atas permukaan Bumi. ”Dengan berkembangnya teknik sensor dan instrumentasi, pemantauan anomali elektromagnetik dalam 5-10 tahun mendatang dapat digunakan sebagai parameter untuk memprediksi gempa tektonik,” ujar Djedi, doktor geofisika dari Kyoto University.

Akibat pergerakan lempeng, terjadi rekahan yang memengaruhi gaya berat dan mineral magnetis di dalam Bumi sehingga mengganggu kestabilan gaya medan elektromagnetik. ”Gangguan ini bisa sampai radius 400 kilometer di atas permukaan Bumi, pada lapisan ionosfer,” ujar Djedi, yang menyelesaikan riset itu di Institute of Space Science National Central University, Taiwan.

Sementara itu, peneliti dari Lapan, Sarmoko Saroso, yang melakukan penelitian anomali elektromagnetik di institut yang sama, memperoleh data adanya anomali EM ketika terjadi gempa Aceh, 26 Desember 2004 lalu. Data tersebut terekam pada waktu yang bersamaan di empat stasiun global positioning system (GPS), yaitu di Medan, Singapura, Myanmar, dan India.

Pascagempa Aceh, para pakar dari kedua negara tersebut sepakat menjalin kerja sama riset lebih lanjut, melibatkan lembaga penelitian di Indonesia, yaitu LIPI dan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional. Pengukuran elektromagnetik dilakukan dengan menggunakan jaringan GPS, selain alat magnetometer, sensor elektroda geolistrik, dan teropong korona. Sistem ini dilengkapi dengan alat telemetri untuk data secara real time. Penelitian di Liwa tahun 2005 itu mendeteksi lonjakan gelombang elektromagnetik sebagai pertanda gempa tektonik berkekuatan 5,2 SR pada 12 hari sebelum kejadian.

Asperitas
Selain teknik pengukuran gelombang elektromagnet itu, Jepang mulai meneliti asperitas (asperity), yaitu tingkat kekasaran permukaan lempeng di zona subduksi dengan sistem seismograf. ”Dengan mengetahui kekasaran permukaan, dapat diketahui terjadinya perlambatan gerak penunjaman hingga akhirnya 'terkunci' dan kemudian lepas atau menggelosor,” tutur Eko Yulianto, yang meraih doktor geologinya dari Universitas Hokkaido, Jepang.

Yoshiko Yamanaka dan Masayuki Kikuchi dari Institut Riset Gempa Bumi Universitas Tokyo meneliti karakteristik kekasaran permukaan (asperity) lempeng, dengan mempelajari sumber kegempaan di daerah antarlempeng atau zona subduksi di lepas pantai Distrik Tohoku, timur laut Jepang.
Penelitian yang dipublikasikan tahun 2003 ini berdasarkan data seismik regional selama lebih dari 70 tahun lalu. Mereka menemukan tiga kategori pola distribusi asperitas lempeng di Tohoku, dibedakan pada tingkat kekasaran dan kegempaan yang ditimbulkannya.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 7:29 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Sat Jul 03, 2010 6:37 am

AYO BELAJAR GEOLOGI DAN JADI AHLI GEMPA
Rabu, 7 Oktober 2009 | 05:04 WIB Oleh: NINOK LEKSONO
KOMPAS.com — Gempa bumi, (letusan) gunung berapi, dan tsunami sejak lama menimbulkan ketakutan dan (sekaligus) kekaguman dalam pikiran manusia, melahirkan mitos, legenda, dan banyak film bencana Hollywood. Kini, teknologi maju memungkinkan kita berlatih, mengukur, memantau, mengambil sampel, dan mencitra Bumi dan gerakannya seperti belum pernah terjadi sebelumnya…. (Dr Ellen J Prager, ”Furious Earth”, 2000)

Gempa demi gempa terkesan semakin rajin menyambangi Tanah Air. Di tengah era informasi dan maraknya industri media, serba hal mengenai gempa pun hadir ke jantung rumah tangga. Orang tua, orang muda, dan anak-anak yang selama ini kurang (atau bahkan tidak) memerhatikan soal-soal gempa kini banyak yang terpaku lama menyaksikan reportase dari wilayah bencana melalui TV atau membacanya di media cetak dan online.

Mula-mula yang muncul adalah ketakutan, membayangkan bagaimana kalau gempa terjadi di kotanya sendiri. Tentu selain itu juga rasa prihatin dan peduli atas bencana yang terjadi. Berikutnya, dari rasa peduli dan takut tadi muncul pula rasa ingin tahu tentang berbagai segi, menyangkut penyebab-penyebab terjadinya gempa, mana saja daerah yang rawan gempa, apakah gempa dapat diramalkan, atau bagaimana cara mengurangi akibat mematikan gempa.

Barangkali itu awal yang menarik bagi tumbuhnya minat terhadap ilmu-ilmu yang terkait dengan kegempaan, yang sebagian ada di ilmu geologi, juga di cabang-cabangnya, seperti seismologi, dan juga di geofisika. Harus diakui, hingga belum lama ini, ilmu tersebut masih sering dilihat dengan sebelah mata, sebagai ilmu yang kering dan kurang banyak manfaatnya untuk dipelajari.

Kini, dengan sering terjadinya gempa dan semakin tumbuhnya kesadaran bahwa Tanah Air berada di jalur gempa dan gunung api yang dikenal sebagai Cincin Api, masyarakat semakin menyadari pentingnya ilmu-ilmu di atas.

Memang gempa tak akan memusnahkan bangsa Indonesia, kecuali mungkin yang disebabkan oleh gempa dan tsunami kosmik akibat wilayah Nusantara ditumbuk oleh asteroid atau komet besar. Namun, terus-menerus diguncang gempa—apalagi bila tanpa pembelajaran memadai untuk meminimalkan dampak—bisa menguras tenaga dan pikiran bangsa. Belum lagi harus diakui, ada kerugian materiil yang amat besar tiap kali terjadi gempa (atau letusan gunung berapi), plus biaya rehabilitasi dan rekonstruksi.

Melalui cinta ilmu geologi, pemahaman dan kearifan akan sifat dan perilaku Bumi meningkat. Berikutnya, risiko bencana dapat dikurangi, korban dapat diminimalkan, dan kerugian harta benda dapat ditekan.

Ilmu kebumian
Fokus bahasan kita kali ini pada ilmu geologi, yang mempelajari komposisi, struktur, proses, dan sejarah Bumi. Ilmuwan yang mendefinisikan geologi adalah Sir Charles Lyell pada tahun 1830. Semenjak saat itu, studi geologi diperluas sampai ke planet-planet lain dan satelitnya, yang lalu dikenal sebagai geologi keplanetan. Ada banyak cabang dalam geologi, antara lain geofisika, yang mempelajari fisika Bumi.

Melalui ilmu inilah orang mengenal lapisan-lapisan yang ada di Bumi, yakni kerak atau kulit, lalu mantel, dan inti. Kerak bumi yang berwujud lempeng-lempeng ini rupanya telah bergerak ke sana-sini di permukaan Bumi setidaknya sejak 600 juta tahun terakhir—dan bisa jadi sejak beberapa miliar tahun sebelumnya (New York Public Library Science Desk Ref, 1995). Sekarang ini, setiap lempeng bergerak dengan kecepatan berbeda-beda, di antaranya ada yang dengan kecepatan 2,5 sentimeter per tahun.

Para ilmuwan yakin, pada masa lalu, sekitar 250 juta tahun silam, ada benua besar atau superkontinen yang dinamai Pangaea (Nama Pangaea diusulkan oleh geolog besar Alfred Wegener tahun 1915). Sekitar 180 juta tahun lalu, superkontinen ini pecah, menjadi Gondwanaland, atau Gondwana, dan Laurasia. Gondwana adalah kontinen hipotetis yang dibentuk dari bersatunya Amerika Selatan, Afrika, Australia, India, dan Antartika. Sementara Laurasia tersusun dari Amerika Utara dan Eurasia. Sekitar 65 juta tahun silam—masa sekitar punahnya dinosaurus—kedua kontinen itu mulai berpisah, perlahan-lahan membentuk tatanan seperti yang kita lihat sekarang ini.

Ada prediksi menarik: dalam 50 juta tahun dari sekarang, pantai barat Amerika Utara akan robek dari daratan utama (mainland), dan—ini dia—Australia akan bergerak ke utara dan bertubrukan dengan Indonesia. Sementara Afrika dan Asia akan terpisah di Laut Merah.

Riwayat menarik
Kini, ketika kita semakin mengakui pentingnya ilmu-ilmu alam, kebumian, baik juga dipikirkan cara untuk mengembangkan minat. Jangan sampai ironi yang ada sekarang ini berkepanjangan, di mana negara di Cincin Api hanya memiliki sejumlah kecil ahli, seperti hari-hari ini kita baca profilnya di harian ini. Mereka bekerja di sejumlah lembaga pendidikan dan penelitian seperti ITB, UGM, LIPI, dan BPPT.

Dengan frekuensi berita gempa yang tinggi akhir-akhir ini, terungkap pula sejumlah istilah dan teori fundamental dalam geologi, seperti intensitas gempa dalam skala Richter dan tentang lempeng tektonik.

Demi masa depan
Sebagaimana studi tentang hutan, iklim, atau vulkanologi, ilmuwan ahli gempa Indonesia punya peluang besar untuk berkontribusi dalam sains yang hebat ini karena Indonesia sering disebut sebagai laboratorium alam yang unik. Sumbangan ilmiah ini maknanya tidak saja sebatas pemerkayaan ilmu pengetahuan, tetapi juga terkait dengan masa depan manusia.

Dalam jangka dekat, peminat dan ilmuwan ahli gempa mungkin masih merasa tertantang untuk menjawab pertanyaan fundamental seperti ”dapatkah kita meramal terjadinya gempa?”

Saat ini jawabannya adalah ”mustahil” bila yang dimaksud adalah meramal ”hari, tanggal, dan jam berapa gempa akan terjadi”. Karena yang bisa diketahui baru wilayah mana yang akan terancam gempa dalam kurun 20-30 tahun mendatang, sebenarnya pekerjaan sudah menanti untuk menyiapkan segala sesuatunya. Tujuannya tidak lain untuk meminimalkan potensi kerusakan akibat gempa.

Mari kita sambut tantangan ilmu geologi untuk semakin memahami Bumi dan segala aktivitasnya. Kita yakin, dengan semakin bertambahnya ahli gempa, akan semakin nyaring suara yang mengingatkan bangsa Indonesia untuk selalu siaga menghadapi pergerakan lempeng tektonik jauh di bawah sana.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 7:31 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Sat Jul 03, 2010 6:40 am

FREKUENSI GEMPA KIAN MENINGKAT
Selasa, 12 Januari 2010 | 18:47 WIB
BANDUNG, KOMPAS.com — Frekuensi gempa di Tanah Air telah meningkat tajam dalam lima tahun terakhir. Kondisi ini menjadi sinyalemen terhadap ancaman gempa besar pada kemudian hari. Belakangan ini, gempa memang kian sering terjadi. "Ini dirasakan terutama setelah gempa tsunami di Aceh. Setelah 2004, gempa-gempa besar seolah tidak berhenti," ungkap Prof Sri Widiyantoro, pakar gempa dari Institut Teknologi Bandung.

Sri mengungkapkan, sejak 1964 hingga 2005, tercatat sebanyak 30.393 gempa yang terjadi di seluruh Indonesia. Dahulu setidaknya tercatat 1.000 kali gempa, baik ukuran kecil, sedang, maupun besar di Tanah Air. Namun, sejak 2005, frekuensinya meningkat menjadi lebih dari dua kali lipat.
"Pada 2005 saja, tercatat terjadi 2.527 gempa. Hampir tiap hari terjadi setidaknya dua hingga tiga kali gempa di berbagai wilayah di Indonesia," ucap pakar tomografi gempa ini. Gempa NAD yang terjadi pada 2004 diyakini secara tidak langsung ikut memicu pergerakan di sepanjang zona subduksi lempeng tektonik Indoaustralia dan Eurasia di pesisir barat Sumatera. Gempa itu juga memicu pergerakan di segmen patahan-patahan aktif di sepanjang Sumatera.

"Meskipun di satu sisi frekuensi gempa yang tinggi juga berarti positif, yaitu terlepasnya energi perlahan. Namun, Sri meminta masyarakat mewaspadai potensi gempa besar di wilayah Mentawai. Segmen Mentawai kan belum pecah. Selama ini terlewati," tuturnya.

Diperkuat data yang ditunjukkan Prof Jim Mori, ahli gempa dari Universitas Kyoto, Jepang, gempa NAD 2004 yang tercatat sebagai gempa terbesar dalam setengah abad terakhir telah mengakibatkan pergerakan yang tinggi di zona subduksi Aceh dan Mentawai, bahkan menjalar hingga ke utara NAD.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 7:33 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Sat Jul 03, 2010 6:45 am

SETELAH GEMPA BENCANA LAIN MENGANCAM
Selasa, 6 Oktober 2009 | 08:06 WIB
KOMPAS.com — Gempa berskala besar akan merobohkan apa pun di muka bumi yang tak kukuh dan rapuh. Fenomena ini bukan hanya meruntuhkan bangunan, melainkan juga membuat tanah longsor, merekah, dan ambles. Di luar itu, gempa di pesisir juga berpotensi menimbulkan tsunami. Itulah serangkaian ancaman bagi penduduk di daerah rawan gempa. Selama bumi berputar, pergerakan lempeng-lempeng bumi yang menutupi dan mengapung di atas magma tak akan pernah berhenti. Tumbukan antarlempeng atau kerak bumi inilah yang menyebabkan gempa terus terjadi silih berganti di sekujur tubuh bumi ini.

Ketika satu lokasi lapisan bebatuan di batas kerak bumi runtuh karena merapuh menahan desakan lempeng, bebatuan itu akan mencari posisi baru yang stabil. Selama proses ini berlangsung akan terjadi serangkaian gempa susulan, pascagempa utama. Hal ini dapat mengakibatkan bangunan yang retak dan rapuh akhirnya roboh.

Untuk kejadian gempa di Padang, 30 September, terjangan gempa bahkan mencapai ratusan kali sebelum kejadian itu. Sejak gempa di Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004, Padang dan sekitarnya sering diguncang gempa berskala 4 hingga 6 skala Richter. ”Jumlahnya mencapai ratusan,” kata Sujabar, petugas di Pusat Gempa Nasional Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Guncangan dalam kurun waktu yang panjang secara perlahan telah melemahkan struktur bangunan yang tidak dirancang tahan gempa, antara lain ditunjukkan dengan keretakan tembok. Imbauan kepada masyarakat untuk melakukan perkuatan bangunan yang rentan terhadap gempa sudah dilakukan. ”Namun, sayangnya hal ini diabaikan karena mereka menganggap gempa besar belum pasti datang,” ujar Febrin A Ismail, Koordinator Tenaga Ahli Kelompok Siaga Tsunami (Kogami) Sumatera Barat.

Longsor dan ambles
Ancaman lain yang mengintai setelah gempa adalah tanah longsor dan ambles. Hal ini terjadi di daerah perbukitan karena berkurangnya tutupan lahan.
Berkurangnya areal hutan di kawasan lereng akan membuka potensi tererosi dan longsor ketika diguyur hujan. Kondisi ini diawali saat musim kemarau. Akibat paparan sinar matahari yang intensif, ikatan tanah permukaan yang ”telanjang” akan melemah dan merenggang.

Longsoran umumnya terjadi pada masa peralihan dari kemarau ke musim hujan, terutama di daerah berjenis tanah yang mudah lepas. Ketika terguyur hujan terus-menerus, ikatan yang melemah itu akan putus karena menanggung beban air di pori-porinya. Putusnya ikatan itu ditandai dengan longsoran tanah. Ancaman longsor menjadi makin besar ketika di lereng yang rapuh itu bertengger bangunan, apalagi ketika diguncang gempa. Longsornya lereng di beberapa daerah di Sumatera Barat pascagempa, 30 September, antara lain terpicu oleh kondisi tersebut. Hal serupa juga terjadi di Cianjur, Jawa Barat, 2 September 2009.

Melihat kecenderungan merambahnya areal permukiman ke daerah perbukitan akibat meningkatnya populasi di daerah rawan gempa, pada masa-masa mendatang kejadian longsor saat gempa seperti di Cianjur dan Padang-Solok bakal terjadi pula di daerah lereng lainnya yang rawan gempa dan berpenduduk padat. Selain longsor, amblesnya permukaan juga dapat terjadi di daerah yang diterjang gempa. Akibat gempa, sumber air di bawah tanah teraduk hingga terjadi likuifaksi atau pelembekan tanah. Tanah yang mengalami pembebanan tinggi dan berongga akan ambles.

Efek domino
Efek domino pun dapat terjadi pada segmen kegempaan dan patahan yang berdekatan dengan bebatuan yang runtuh yang menjadi sumber gempa. Kondisi itu antara lain terjadi pascagempa Padang yang keesokan harinya diikuti gempa Jambi, yang bersumber dari sesar Semangko. ”Saat ini segmen kegempaan Mentawai pun perlu mendapat perhatian setelah gempa Padang akhir bulan lalu,” kata Danny Hilman, pakar geologi dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Sebab, sumber gempa tersebut berada di tepi barat segmen Mentawai—disebut megathrust—yang terbentang dari Pulau Siberut hingga Pulau Pagai. Penelitian LIPI di Kepulauan Mentawai menunjukkan, tahun 1650 pernah terjadi gempa di atas 8 SR di Pulau Siberut. Tahun 1797 dan 1883 gempa berskala sama kembali muncul di daerah itu.

Kedua gempa—berdasarkan penelitian koral dan lapisan sedimen—menimbulkan tsunami di Padang setinggi 10 meter. Adapun pemodelan perambatan tsunami akibat gempa 8,7-8,9 SR pada 1797 dan 1833, yang dibuat pakar tsunami ITB, Hamzah Latief, gelombang akan sampai ke pantai Padang dalam waktu 30 menit dengan ketinggian hampir 5 meter.

Segmen Mentawai merupakan bagian dari sistem kegempaan di barat Sumatera yang terbagi dalam empat segmen utama (Simelue, Nias, Mentawai, Enggano). Sejak 10 tahun terakhir gempa di segmen-segmen ini ”bertalu-talu”. ”Munculnya gempa akhir September itu dapat mengusik segmen Mentawai yang tidur, hingga menimbulkan tsunami,” ujar Danny.

Gempa-gempa di kepulauan di barat Sumatera itu periode pengulangannya sekitar 200-300 tahun. Hal ini akibat efek penunjaman dari lempeng Indoaustralia yang menekan ujung lempeng Eurasia di bawah bagian barat sesar Semangko hingga ke kepulauan di pesisir Sumatera. Kecepatan desakan lempeng tersebut 6 hingga 7 sentimeter per tahun.

Bebatuan di ujung lempeng pada suatu waktu akan melenting karena tidak mampu lagi menahan tekanan itu. Hal ini ditandai dengan gempa besar, pergeseran posisi daratan di segmen itu, dan menjauhnya pulau dari daratan beberapa meter dari posisi semula. Pascagempa tahun 2004, kepulauan di pesisir Banda Aceh menjauh 1-3 meter.

Selain fenomena alam yang menyertai gempa besar, dampak lain adalah ancaman penyakit, kelangkaan pangan, serta trauma kejiwaan korban yang kehilangan harta dan keluarganya. Karena itu, Danny mengingatkan semua pihak di Padang harus waspada dan melakukan antisipasi menghadapi perulangan gempa berpotensi tsunami.en Mentawai kan belum pecah. Selama ini terlewati," tuturnya. Diperkuat data yang ditunjukkan Prof Jim Mori, ahli gempa dari Universitas Kyoto, Jepang, gempa NAD 2004 yang tercatat sebagai gempa terbesar dalam setengah abad terakhir telah mengakibatkan pergerakan yang tinggi di zona subduksi Aceh dan Mentawai, bahkan menjalar hingga ke utara NAD.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 7:36 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Sat Jul 03, 2010 12:22 pm

PETA ZONASI GEMPA DILUNCURKAN
Jumat, 16 Juli 2010 | 12:08 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Pekerjaan Umum, Jumat (16/7/2010) di Jakarta, meluncurkan peta zona gempa. Peta ini merepresentasikan potensi bahaya gempa yang lebih akurat dibandingkan dengan peta tahun 2002. Peta ini diperbarui berdasarkan data seismisitas, hasil-hasil riset terbaru seismotektonik di Indonesia, dan dianalisis menggunakan model sumber gempa tiga dimensi dengan mengacu pada standar internasional yang berlaku. Peta tahun 2010 ini juga disusun dengan mengacu pada international building code yang menggunakan probabilitas terlampaui 2 persen untuk masa layan bangunan 50 tahun pada periode pendek T=0,2 detik dan periode T=1 detik sebagai dasar untuk menentukan spektra percepatan di batuan dasar.

"Peta ini sudah mengakomodasi seluruh kebutuhan, yaitu untuk bangunan gedung, bangunan air, dan jembatan," ujar Kepala Pusat Komunikasi Publik Kementerian PU Amuazi Idrus, kepada para wartawan. Peta zonasi gempa ini, sambung Amuazi, merupakan hasil kerja tim yang dibentuk Panitia Teknis Bahan Konstruksi dan Rekayasa Sipil. Tim kerja ini diisi oleh pakar dari ITB, LIPI, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, dan PU.

Pada peta tersebut, tergambar peta Indonesia beserta potensi bahaya gempanya. Semakin berwarna gelap, berarti daerah tersebut semakin rawan gempa. Peta ini rencananya diedarkan ke pimpinan kementerian/lembaga negara, gubernur dan bupati/wali kota se-Indonesia. Diharapkan, mereka dapat melakukan penyesuaian begitu menerima peta zonasi gempa.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 6:16 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Sat Jul 03, 2010 12:39 pm

MENYELAMATKAN DIRI LEWAT TANGGA DARURAT BUKAN TINDAKAN TERBAIK
Kamis, 3 September 2009 | 22:37 WIB NADIA FELICIA/KOMPAS.COM
JAKARTA, KOMPAS.com - Masih membekas di ingatan kita peristiwa kepanikan massal ketika ribuan orang di Jakarta digoyang gempa Tasikmalaya (2/9) lalu. Terlebih mereka yang sedang berada di gedung-gedung pencakar langit. Gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter yang berpusat di barat daya Tasikmalaya membuat gedung-gedung di Jakarta bergoyang, ribuan orang seketika berjejal menyelamatkan diri berjuang turun dari gedung melalui tangga darurat.

Para orang tua dan wanita bergegas menuruni ribuan anak tangga. Bisa dibayangkan banyak tenaga yang terkuras hingga membuat pingsan. Ada pula sejumlah ibu hamil yang pingsan dan dilarikan ke rumah sakit karena kejang perut. Ternyata lari seketika menuruni anak tangga menuju luar gedung saat gempa bukan tindakan tepat. Kepanikan tidak harus terjadi jika kita tahu prosedur standar penyelamatan diri saat terjadi gempa.

Berikut standar praktis penyelamatan gempa seperti dirilis Federal Emergency Management Agency (FEMA) sebuah badan yang menjadi bagian dari Departemen Keamanan Daerah AS (DHS) melalui situs mereka. Bertahan seaman mungkin selama gempa berlangsung. Sadarilah bahwa ini adalah gempa permulaan. Gempa susulan yang lebih besar mungkin terjadi. Gerakan minimal hanya ke tempat yang aman di dekat Anda dan tetap tinggal di dalam ruangan hingga goncangan berhenti dan Anda yakin keluar dengan aman.

Jika di dalam ruangan:
* Segera merunduk ke lantai. Berlindung ke bawah meja yang kokoh dan jangan keluar sampai goncangan gempa berhenti. Jika di dekat Anda tidak ada meja, lindungi wajah dan kepala dengan lengan sambil berjongkok di dekat sudut ruangan.
* Jauhi benda kaca, jendela, pintu dan dinding luar dan apapun yang bisa jatuh seperti lampu atau benda-benda furnitur.
* Jika sedang tiduran di kasur, tetaplah bertahan. Lindungi kepala Anda dengan bantal atau jika berada di bawah lampu yang berat, segera pindah ke sudut aman yang terdekat.
* Tinggal di dalam sampai goncangan berhenti lalu yakinkan bahwa Anda aman untuk keluar. Penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan luka-luka terjadi ketika orang-orang di dalam bangunan panik atau berjejal untuk segera keluar gedung.
* Saat menuruni gedung jangan gunakan lift atau tangga berjalan.

Jika di Luar Rungan:
* Tetap bertahan
* Menjauhlah dari bangunan, lampu jalanan, atau apapun bangunan atau pohon yang ada di dekat Anda.
* Tetap bertahan di luar sampai guncangan berhenti. Sebanyak 120 korban jiwa dari gempa yang terjadi sejak tahun 1933 membuktikan, mereka tewas karena tertimpa puing reruntuhan dan dinding runtuh. Gerakan tanah selama gempa jarang menjadi penyebab langsung kematian atau cedera. Sebagian besar korban gempa meninggal atau cedera karena tertimpa dinding runtuh, pecahan kaca, atau tertimpa benda berat lainnya.

Jika sedang berkendara:
* Berhenti secepatnya dan tinggal di dalam mobil. Hindari berhenti di dekat atau di bawah bangunan, pohon, jalan layang, atau instalasi listrik atau kabel.
* Lanjutkan dengan hati-hati setelah gempa berhenti. Hindari jalan, jembatan, atau areal landai yang mungkin telah rusak akibat gempa.

Jika terperangkap di bawah puing:
* Jangan nyalakan api.
* Jangan bergerak atau menendang debu. Tindakan ini juga bisa membuat runtuhan semakin parah.
* Lindungi mulut anda dengan sapu tangan atau kain baju.
* Tekan perlahan dinding sehingga penyelamat dapat menemukan Anda. Gunakan peluit jika tersedia. Berteriak hanya sebagai pilihan terakhir. Berteriak dapat mengakibatkan bahaya Anda menghirup debu.

Tindakan di atas bersifat praktis. Tanya dan diskusikanlah tindakan lainnya kepada orang yang pernah mengikuti pelatihan penyelamatan bencana gempa. Perlu diketahui, hanya sedikit perusahaan di Indonesia yang berkantor di gedung tinggi telah melatih karyawannya bertindak darurat khusus jika terjadi gempa bumi.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 7:17 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Sat Jul 03, 2010 12:41 pm

RATUSAN KOTA HARUS WASPADA
Jum'at, 23 Juli 2010, 21:28 WIB Umi Kalsum, Anda Nurlaila
VIVAnews - Peta gempa 2010 membuat bulu kuduk bergidik. Peta itu memuat data wilayah-wilayah rawan gempa berkali lipat dari peta delapan tahun lalu. Pemimpin daerah pun kian waspada. Sebetulnya, kata pakar gempa dari Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Dr Danny Hilman Natawidjaja, tidak ada pola gempa baru dari peta baru dikeluarkan pekan lalu. Hanya saja banyaknya pihak terlibat dalam pembuatan data menjadikan peta makin lengkap. Daerah rawan gempa pun kian mudah dideteksi. Apakah semua daerah sama bahayanya? Dalam wawancara dengan VIVAnews pada Kamis 22 Juli 2010, Danny membeberkan kondisi terbaru 'dapur' gempa di Indonesia. Berikut petikannya.

Apa arti pentingnya peta baru gempa ini?
Peta gempa berisi potensi bahaya gempa yang tersimpan di tiap daerah. Ada wilayah dengan potensi terjadi gempa cukup tinggi, ada juga yang rendah.

Bedanya dengan peta gempa yang lama?
Data peta yang baru selesai secara umum lebih baik daripada peta gempa 2002 lalu. Datanya lebih lengkap karena dari berbagai instansi. Sebelumnya data-data hanya berasal dari perorangan. Metode yang digunakan juga lebih bagus.

Lebih spesifik, apa bedanya dengan peta sebelumnya?
Berbeda dari sebelumnya, peta gempa saat ini memuat daerah dengan potensi gempa yang lebih luas. Sebelumnya ada beberapa daerah yang belum masuk, sekarang diikutkan. Begitu juga dengan potensinya sekarang lebih tinggi karena datanya lebih lengkap.

Ada pergeseran lempeng dalam peta yang baru dibanding sebelumnya?
Tidak ada. Karena dasarnya dari data.

Di mana saja daerah yang berpotensi besar?
Semua kota yang berada di wilayah patahan aktif. Misalnya Padang, Banda Aceh, Surabaya, Malang, Semarang. Jumlahnya ratusan kota. Hanya pulau Kalimantan saja yang relatif aman dari gempa.

Bagaimana dengan Jakarta? Apakah termasuk daerah rawan gempa?
Jakarta termasuk cukup rawan. Dari data terbaru, tingkat kerentanan Jakarta terhadap gempa bumi naik probabilitasnya (potensi) dari 0,15 pada peta gempa 2002 menjadi 0,20 pada peta saat ini.

Apa artinya?
Goncangan gempa yang menimpa bertambah tinggi bisa mencapai 0,2. Intensitasnya kini mencapai 7-8.

Bisakah memprediksi kapan dan besar gempa berdasarkan peta gempa terbaru ini?
Peta gempa tidak bisa memprediksi kapan gempa terjadi. Yang dipublikasikan hanya secara umum seperti besaran dan intensitas gempa. Untuk memprediksi gempa harus ada metode yang lebih mendetail.

Belum lama ini ditemukan gunung api bawah laut di Sangihe dan gunung berdiameter 4.600 meter di Sumatera. Seberapa besar potensi gempa bumi dari dua gunung api dibandingkan dengan letusan gunung Krakatau pada 1883?
Gunung berapi tidak berpengaruh pada gempa bumi. Tetapi letusannya bisa menyebabkan gempa bumi.

Dari data gempa yang ada, bagaimana sebaiknya antisipasi yang harus dilakukan?
Peta gempa digunakan sebagai bahan pertimbangan ketahanan bangunan. Penerapannya dilakukan Departemen Pekerjaan Umum (DPU) untuk kualitas bangunan. Kekuatan bangunan harus disesuaikan dengan besaran yang ada saat ini. Kalau dulunya ketahanan bangunan berdasarkan 0,15 sekarang kekuatannya harus 0,2. Semuanya sudah diperhitungkan dan tiap individual bangunan sangat bervariasi.

Apa yang sebaiknya dilakukan masyarakat?
Masyarakat yang tinggal di daerah rawan gempa harus lebih berhati-hati dan memperhatikan kondisi struktur rumah dan bangunan mereka. Penataan bangunan dan rumah harus mempertimbangkan keselamatan apabila terjadi gempa.
• VIVAnews


Last edited by gitahafas on Thu Aug 12, 2010 6:00 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Sat Jul 03, 2010 12:49 pm

GUNUNG API BISA TIDUR RIBUAN TAHUN
Rabu, 21 April 2010 | 09:00 WIB Oleh Brigitta Isworo L
KOMPAS.com — Gunung api dan gempa hingga kini masih menyimpan misteri. Fenomena gunung api terasa di luar jangkauan tangan manusia. Kekuatan dan daya rusaknya ada dalam skala "superhuman". Letusan sebuah gunung di Eslandia di gletser Eyjafjallajökull menggugah kembali mitos dan legenda soal gunung.
Kekuatan yang dikeluarkan gunung di Eyjafjallajökull adalah ”simpanan” energi yang dihimpun selama lebih dari 1.100 tahun. Tak heran jika ”simpanan”-nya berupa abu vulkanik sedemikian besar volumenya, mengakibatkan kegelapan di langit Eropa utara dan lebih dari 16.000 penerbangan dibatalkan. Tercatat hanya dua kali gunung itu meletus, terakhir terjadi antara tahun 1821 dan 1823.

Bentuk gunung berapi ini menurut vulkanologis Benjamin Edwards memang bisa menipu. Bentuknya yang landai membuat orang berpikir tak akan terjadi letusan yang eksplosif. Menurut Edwards, gunung api yang letusannya bersifat eksplosif biasanya kandungan magmanya kaya akan oksigen dan silikat. Dan, bentuk gunungnya kerucut seperti gunung Fujiyama di Jepang atau Gunung St Helen—sebelum letusan hebat pada tahun 1980 yang menyebabkan pucuknya terpotong.
Jenis lain yaitu gunung-gunung di Hawaii, seperti Mauna Loa, yang saat meletus mengeluarkan magma yang kental dan sedikit kandungan gasnya, meleleh dari celah-celah di sepanjang tubuhnya atau dari kepundannya.

Namun, pada gunung api tipe stratovolcano seperti di Eslandia ini terdapat magma bentukan baru yang kemudian bercampur magma lama. Kondisi ini mampu memperkaya magma dengan oksigen dan silikat. Faktor X lainnya adalah lapisan es tebal. Air dari es yang mencair yang kontak dengan magma, menurut Edwards, dapat memicu letusan yang eksplosif.

Teori lain dikemukakan Edward Venzke dari Global Volcanism Network di Washington, AS. Jaringan ini juga melibatkan US Geological Survey (USGS) dan Museum of Natural History Smithsonian Institution. Pada erupsi (letusan) pertama Maret lalu, magma memancur keluar dari retakan-retakan—mengindikasikan ada kandungan gas. Ketika erupsi berhenti, magma menyumbat retakan sehingga tekanan di bawah puncak yang dilapisi es meningkat. Naiknya suhu magma mencairkan es. Air yang terbentuk inilah yang memicu letusan eksplosif.

Waspada Katla
Ketika Eyjafjallajökull meletus, pantas diwaspadai akankah ini memengaruhi aktivitas gunung api tetangganya, Katla, yang berjarak hanya sekitar 25 kilometer dari Eyjafjallajökull. Dari laporan yang dimuat dalam jurnal Developments in Quaternary Science oleh tim ilmuwan pimpinan peneliti Erik Stukell dari University of Gothenburg, Swedia, kedua gunung tersebut pernah meletus bersama pada tahun 1612, 1821, dan tahun 1823. Dari laporan tersebut terbaca bahwa Katla memuntahkan material lebih banyak dibandingkan dengan Eyjafjallajökull.

Seperti laporan yang dimuat Christian Science Monitor, ditemukan sejumlah bukti bahwa magma di kedua gunung itu bersama-sama meningkat aktivitasnya pada kurun waktu 1999-2004. Katla telah beberapa kali meletus dan puncaknya bertumbuh. Tim pimpinan Stukell kini mewaspadai Katla.

Dari ”hotspots”
Bencana letusan Eyjafjallajökull menyebabkan kerugian hingga Rp 2,18 triliun per hari gara-gara penerbangan terganggu. Banjir setinggi 3 meter menyebabkan sekitar 1.000 orang diungsikan. Letusan masif gunung berapi sering kali katastropik. Gunung api di Eslandia dan di Hawaii muncul dari hotspot, (titik panas), di mana magma yang bersuhu tinggi keluar dari rekahan di daerah punggungan samudra dari Sea Floor Spreading, di mana lempeng bumi bergerak saling menjauh.

Sementara itu, terbentuknya gunung api di Indonesia adalah dari area zona subduksi, di mana dua lempeng bumi bertemu sehingga saling gesek dan menimbulkan panas tinggi yang memproduksi magma. Magma ini keluar ke permukaan sebagai gunung api. Meski proses terbentuknya berbeda, sifat katastropik letusan beberapa jenis gunung api adalah sama.

Toba terbesar
Indonesia masih menduduki puncak bencana masif letusan gunung api dengan letusan Gunung Toba—ditengarai ada di lokasi Danau Toba sekarang.
Dari skala intensitas letusan yang disebut volcanic explosivity index (VEI), letusan Gunung Toba dituliskan mencapai 8 atau bahkan lebih. Kapan terjadinya? ”74.000 before the present” adalah jawabannya—yaitu sekitar 74.000 tahun lalu (Volcanoes in Human History, de Boer/Sanders, 2002).

Setelah Toba, letusan terbesar sepanjang sejarah bumi adalah letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa pada bulan April tahun 1815. Korban tewas mencapai 70.000. Mereka tewas seketika dan banyak lainnya menyusul beberapa waktu kemudian akibat kelaparan dan penyakit. Abu vulkanik menutup hutan, ladang, dan sawah. Ketinggian abu vulkanik mencapai lapisan stratosfir—tempat proses iklim terjadi—dan mengubah pola iklim. Daerah basah menjadi kering, daerah kering menjadi basah. Radiasi matahari terhalang. Pada tahun 1816 di Amerika Serikat dikenal sebagai ”The Year without a Summer” (Volcanoes in Human History, 2002).

Menggambarkan katastropi ini, penyair Lord Byron menuliskan puisi ”Darkness” yang isinya berbunyi:
Terang matahari lenyap, juga bintang; Meninggalkan kegelapan di ruang angkasa tak bertepi; Tak ada sinar, tak ada jejak, bumi bagai bongkah es; Semua menjadi buta dan menghitam di udara tanpa bulan; Pagi datang dan pergi dan datang lagi dan tak ada hari; Dan manusia lupa akan kepeduliannya di tengah rasa takut; tercekam akan kepedihan ini....


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 7:18 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 8:37 pm

RINJANI TERANCAM BATAL JADI CALON 'GEOPARK' DUNIA
Sabtu, 3 Juli 2010 | 16:43 WIB



MATARAM, KOMPAS.com — Taman Nasional Gunung Rinjani di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, terancam terpental dari calon taman bumi atau geopark dunia karena dokumen teknis sebagai berkas pendukungnya belum lengkap. Heryadi Rahmat, ahli Geologi yang juga mantan Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), membenarkan hal itu ketika dikonfirmasi di Mataram, Sabtu (3/7/2010). "Dokumen teknisnya belum lengkap. Kalau pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait lainnya tidak melengkapinya, maka sangat mungkin Rinjani akan terpental dari calon geopark dunia," ujarnya. Ia mengatakan, Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) diusulkan menjadi calon geopark dunia ke Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) karena memiliki sedikitnya lima hal pokok untuk menjadi geopark global.

Kelima hal pokok itu, yaitu,
Pertama, Gunung Rinjani memiliki nilai warisan geologi penting dari aspek kegunungapian, situs warisan alam berupa kaldera, kerucut-kerucut gunung api muda, lapangan solfatara, mata air panas, dan bentangan lainnya yang memiliki nilai estetika tinggi, seperti air terjun.

Kedua, situs-situs geologi gunung api mempunyai makna bagi pengembangan ilmu pengetahuan kebumian dan pendidikan.

Ketiga, Gunung Rinjani sudah memiliki badan pengelola yakni Rinjani Trekking Management Board (RTMB) yang melibatkan warga lokal secara aktif.

Keempat, penyelenggara pariwisata berbasis geologi yang telah banyak memberi manfaat berupa pertumbuhan ekonomi lokal melalui jasa pemandu, penginapan, rumah makan, transportasi dan penjualan cinderamata.

Kelima, Gunung Rinjani sebagai bentuk keberhasilan pengembangan pariwisata karena telah memperoleh tiga penghargaan internasional, yakni World Legacy Award untuk kategori "Destination Stewardship" dari Conservation International and National Geographic Traveler 2004 serta finalis Tourism for Tomorrow Award masing-masing tahun 2005 dan 2008.

Usulan tersebut diajukan ke Sekretariat Global Geoparks Network (GGN) UNESCO oleh Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. "Namun usulan dalam bentuk dokumen teknis Geopark Rinjani itu belum lengkap, misalnya penjelasan atas pertanyaan apakah pengelola Rinjani sudah pernah mengikuti pelatihan khusus, kegiatan ekowisata, dan penjelasan lainnya," ujar Heryadi. Berkas usulan TNGR sebagai geopark dunia yang belum lengkap itu berisi data pendukung yang sudah terformat sedemikian rupa sehingga akan menggambarkan potensi calon geopark dunia tersebut.

Format berkas pendukung yang disediakan UNESCO itu memiliki bobot 100 hingga 1.000 sesuai daya dukung alam dan potensi calon geopark. Ia mengatakan, proses pengisiannya pun tidak mudah karena harus memahami berbagai hal yang berkaitan dengan potensi pendukung geopark.
"Biasanya diisi oleh para ahli dan itu yang dipraktikkan pengelola gua kapur di Pacitan, Jawa Timur, dan Gunung Batur di Kintamani, Bali, sehingga relatif lengkap," ujarnya. Menurut Heryadi, ketidaklengkapan dokumen teknis itu mengindikasikan lemahnya pengawalan pemerintah daerah di NTB dan lembaga terkait lainnya dalam memperjuangkan TNGR menjadi geopark dunia.

Kendati demikian, Heryadi mengingatkan semua pihak terkait bahwa TNGR masih berpeluang ditetapkan sebagai geopark dan akan menambah jumlah geopark dunia yang saat ini sebanyak 53 tempat dan tersebar di 17 negara di bawah jaringan UNESCO. "Masih ada peluang. Memang, berkas pengusulan TNGR sebagai geopark dunia belum lengkap sehingga perlu dilengkapi sesegera mungkin," ujarnya.


Last edited by gitahafas on Wed Jul 07, 2010 8:55 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 8:39 pm

PENELITI MENGUAK RAHASIA TSUNAMI 2004
Jum'at, 9 Juli 2010, 11:05 WIB Elin Yunita Kristanti
VIVAnews - Dua gempa besar pernah mengguncang Sumatera, pada akhir 2004 dan awal 2005. Meski termasuk dua gempa terdahsyat di dunia, terjadi dalam waktu berdekatan di lokasi yang dekat, dampak kedua gempa ini jauh berbeda. Pada 26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9,1 skala Richter mengguncang Aceh. Dampaknya dirasakan sampai 1.200 kilometer dari pusat gempa. Akibatnya adalah bencana, tsunami menyapu sejumlah pantai di Samudera Hindia sampai ketinggian 30 meter. Lebih dari 230.000 orang tewas dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal. Tiga bulan kemudian, 28 Maret 2005 terjadi gempa dengan kekuatan 8,7 skala Richter dan memicu tsunami yang menewaskan 1.300 orang di Pulau Nias, Sumatera Barat.

Akibat dari dua gempa dahsyat itu berbeda -- meski berada di segmen yang berdekatan -- patahan kerak Bumi.Mengapa?
Studi terbaru dari jurnal ilmu pengetahuan, Science, 9 Juli 2010 mengungkapkan bahwa gempa Aceh 2004 mampu menggerakkan dasar laut.
Akibatnya, gempa itu seperti sebuah dayung raksasa di dalam air, menggerakkan dasar laut dan memicu ombak besar. "Kedua gempa terjadi dalam sistem sesar yang sama, mulai 19 sampai 25 mil, atau 30 sampai 40 kilometer di bawah dasar laut," kata ahli geologi dari Universitas Southampton, Inggris, Simon Dean, seperti dimuat laman Christian Science Monitor, Jumat 9 Juni 2010.

"Hasil penelitian ini akan membantu kita lebih memahami mengapa perbedaan bagian dalam sesar gempa memiliki akibat terhadap tsunami yang berbeda. Ini sangat penting untuk melakukan perkiraan bahaya dan mitigasi." Para ilmuwan melakukan penelitian di atas kapal riset Sonne -- menggunakan istrumen seismik untuk menyelidiki lapisan sedimen di bawah laut dengan gelombang suara. Hasilnya menunjukan sesar 2004 memiliki kepadatan yang lebih rendah dari batuan sekitarnya. Ini mendorong sesar mendekati dasar laut selama gempa.

Sementara, untuk gempa 2005, tak ada bukti bahwa sesar tersebut memiliki kepadatan rendah. Itu menjelaskan mengapa tsunami yang dihasilkan lebiih kecil.
Para peneliti menemukan sejumlah fitur yang tidak biasa lainnya di zona gempa 2004 seperti topografi dasar laut, cacat sedimen dan lokasi gempa susulan yang terjadi setelah gempa utama. Untuk mempelajari lapisan batu itu di bawah, dasar laut peneliti Jamie Austin University of Texas di Austin dan awak kapal memantulkan suara ke dalam laut, dengan pita kabel mereka mendengarkan kembali suara yang dipantulkan.

Sumatera jadi langganan gempa bumi karena lokasinya yang berada di antara dua lempeng tektonik bumi. Gempa terjadi pada apa yang dinamakan zona subduksi. Para peneliti yakin zona terdampak gempa 2004 punya sifat luar biaasa -- yang menunjukkan potensi bahaya tsunami akan sangat tinggai di wilayah ini. "Dengan memahami parameter yang membuat kawasan tertentu lebih berbahaya ketika diguncang gempa dan tsunami, kita bisa bicara soal potensi bahaya margin yang lain lain," peneliti, Sean Gulick dari University of Texas, Austin. "Kita perlu meneliti apa yang membatasi ukuran gempa bumi dan sifat-sifat apa berkontribusi pada pembentukan tsunami." • VIVAnews


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 8:52 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 8:42 pm

TSUNAMI, TITANIC, BENCANA AIR TERBESAR DI DUNIA
Sabtu, 17 Juli 2010, 08:42 WIB Umi Kalsum, Elin Yunita Kristanti
VIVAnews - Air adalah sumber kehidupan, namun ia juga bisa sangat mematikan. Telah terbukti bahwa kekuatan air tak bisa dianggap remeh. Seringkali manusia tak berdaya menghadapinya. Persatuan Bangsa Bangsa membuat program untuk menaksir tren global bencana yang berhubungan dengan air. Salah satu kesimpulannya, bencana yang disebabkan air adalah yang paling berulang dan menimbulkan masalah keamanan dan pembangunan berkelanjutan.

Studi tersebut memaparkan, antara tahun 1980 sampai 2006, ada 2.163 bencana air yang dilaporkan ke pusat data bencana global. Bencana ini mempengaruhi kehidupan 1,5 miliar manusia, menewaskan 300 ribu jiwa, dan nilai kerugiannya hingga ratusan miliar dollar. Bencana yang terjadi sejak 1900 sampai 2006 juga menunjukkan dominasi bencana air. Berikut ini adalah beberapa bencana air terburuk, baik baik yang disebabkan oleh alam maupun hasil perbuatan manusia.

Badai dahsyat di Great Lakes 1913
Sejak 7 November sampai 10 November 1913, badai salju menghantam Great Lakes Basin dan Ontario, Kanada. Hampir 300 orang tewas, 19 kapal hancur, dan pantai terendam air laut. Pada tanggal 10 November, kapal tak dikenal ditemukan mengambang di lepas pantai timur Michigan. Lima hari setelah penemuannya, kapal itu diidentifikasi sebagai Kapal Charles S. Price -- sebuah kapal barang yang memiliki panjang 504 kaki. Dari semua 12 kapal yang hilang dalam badai itu, hanya tujuh orang ditemukan. Mayat-mayat dari kapal yang tenggelam terdampar di daratan -- menciptakan pemandangan menyayat hati -- tubuh-tubuh beku dan rusak, beberapa di antaranya terlihat berpelukan.

Banjir China 1931
Serangkaian banjir yang melanda China pada 1931 diyakini sebagai bencana banjir terburuk di abad ke-20. Dua tahun sebelum banjir melanda, China justru mengalami kekeringan hebat. Cuaca mulai tak teratur sejak 1930 dan 1931. Badai salju diikuti oleh hujan deras menyapu seluruh negeri, menewaskan ratusan ribu orang. Rangkaian banjir dari sungai Kuning (Juli-November), Yangtze (Juli sampai Agustus), dan Huai (Agustus) diklaim menewaskan hampir 4 juta korban.

Tenggelamnya Kapal Titanic 1912 dan karamnya Kapal Dona Paz 1987
Tenggelamnya Kapal Titanic menewaskan 1.517 jiwa. Bencana ini terjadi pada 14 April 1912 saat Titanic berlayar dari Southampton ke New York -- lalu menabrak gunung es dan tenggelam. Saat itu ada 3.547 penumpang dalam kapal termewah di zamannya ini. Namun, hanya ada 20 sekoci penyelamat yang maksimal mengangkut 1.178 penumpang yang panik. "Tiba-tiba langsung padam, keributan dan kepanikan memenuhi udara. Sedikit demi sedikit Titanic tenggelam tanpa suara, sebelum akhirnya tegak lurus, dan menghilang ke dalam laut," kata salah satu korban selamat Titanic, Pierre Marecha. Tak hanya Titanic, bencana juga terjadi pada kapal feri MV Dona Paz pada 20 Desember 1987 -- yang diyakini sebagai bencana kapal feri terburuk dalam sejarah. Saat berlayar menuju Manila, kapal ini bertabrakan dengan kapal tanker MT Vector yang mengangkut bensin dan produk minyak. dari ribuan orang yang dilaporkan ada di kapal -- sekitar 4.375 orang -- hanya 26 yang dinyatakan selamat, dua di antaranya penumpang kapal tanker. MV Dona Paz mendapat julukan 'Titanic Asia'.

Topan Bhola 1970 dan Topan Nargis 2008
Bencana datang pada 12 dan 13 November 1970 saat badai menghantam Bangladesh dan Bengali Barat di India, menewaskan sekitar 500 ribu jiwa, merusak pemukiman, sementara 100 ribu orang dilaporkan tewas. Sementara, Topan Nargis yang menghantam Myanmar Selatanpada 2008. Sedikitnya 138 ribu orang tewas dan 50 ribu orang dilaporkan hilang. Korban bencana makin menderita karena junta militer menolak donasi dari negara lain.

Tumpahan minyak Exxon Valdez 1989 dan di Teluk Meksiko
Pada tanggal 24 Maret 1989, lebih dari 10 juta galon minyak mentah tumpah ke perairan Alaska ketika kapal tanker minyak Exxon Valdez menabrak karang. Menurut laman eoearth.org, dibutuhkan 11.000 personel, 1.400 kapal dan 85 pesawat untuk membersihkan tumpahan minyak itu.
Sementara, pada 2010, rig pengeboran lepas pantai di Teluk Meksiko meledak pada tanggal 20 April 2010 -- mengalirkan lebih dari 4.000.000 galon minyak ke laut.

Tsunami Samudra Hindia 2004
Pada tanggal 26 Desember 2004, gempa bumi bawah laut 9,3 skala Richter mengguncang Samudera Hindia di lepas pantai Sumatra Utara, Indonesia. Gempa dahsyat itu memicu tsunami mematikan. Dampak gempa itu begitu kuat hingga mencapai Alaska. Hampir 250.000 orang tewas di Aceh dan wilayah lain di Samudera Hindia.

Badai Katrina2005
Dari 23 Agustus sampai 30 September 2005, Badai Katrina menewaskan hampir 2.000 orang, menghancurkan properti senilai lebih dari US$80 miliar. Daerah paling terdampak Katrina adalah New Orleans. Pada 31 Agustus 2005, 80 persen New Orleans terendam air, menimbulkan penyakit seperti hepatitis, TBC, demam tipus, dan kolera. Kondisi diperparah dengan aksi penjarahan bersenjata dan perampokan. (Philippine Online Chronicles)


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 8:53 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11690
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 8:47 pm

10 RAMALAN KIAMAT YANG TAK TERBUKTI
Senin, 23 November 2009 | 08:49 WIB
KOMPAS.com — Munculnya film 2012 yang didasari ramalan kiamat dari kalender Maya membuat banyak orang membicarakan zaman akhir. Banyak yang menganggap ramalan itu sesat. Namun, ada juga yang sedikit percaya. Walau demikian, ternyata ramalan tentang kiamat yang kebanyakan berasal dari latar belakang keagamaan sudah sering diungkapkan. Sepuluh di antaranya— yang kemudian terbukti meleset— adalah:

1. Ayam Peramal dari Leeds, 1806
Sejarah mencatat banyak tokoh yang menyatakan bahwa zaman akhir hampir tiba ditandai dengan kedatangan nabi. Namun, mungkin "nabi" yang paling aneh adalah seekor ayam petelur dari Kota Leeds, Inggris, 1806. Ayam ini awalnya disangka menghasilkan telur yang bertuliskan "Kristus akan datang". Seiring menyebarnya kabar mujizat ini, banyak orang menjadi percaya bahwa kiamat hampir tiba sehingga seorang penduduk yang penasaran akhirnya mengawasi sang ayam ketika bertelur dan menyaksikan penipu yang menuliskan kalimat itu.

2. Kaum Millerite, 23 April 1843
Seorang petani di New England bernama William Miller, setelah beberapa tahun mempelajari Alkitab, menyimpulkan bahwa waktu yang dipilih Tuhan untuk menghancurkan dunia bisa disimpulkan dari penafsiran harafiah isi Alkitab. Ia menjelaskan hal ini kepada siapa saja bahwa dunia akan berakhir antara 21 Maret 1843 dan 21 Maret 1844. Ia berkotbah dan menerbitkan tulisan cukup banyak dan memimpin ribuan orang (yang disebut kaum Millerite) yang meyakini bahwa tanggal pasti kiamat adalah 23 April 1843. Banyak yang menjual atau menyumbangkan semua harta miliknya karena percaya semuanya tak dibutuhkan lagi; tapi ketika tanggal 23 April datang (tapi Yesus belum juga datang) maka grup itu pun dibubarkan, lalu sebagian dari mereka membentuk gerakan yang hingga kini dikenal sebagai Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (Seventh Day Adventist).

3. Armageddon/Kiamat kaum Mormon, 1891 atau sebelumnya
Joseph Smith, pendiri gereja Mormon, mengadakan rapat gereja pada Februari 1835 untuk memberitahu bahwa ia berbicara kepada Tuhan. Selama pembicaraan itu, Smith mengakui bahwa Yesus akan kembali dalam 56 tahun ke depan, dan selanjutnya masa akhir zaman akan segera dimulai.

4. Komet Halley, 1910
Tahun 1881, seorang astronom, dari analisa spektral, menemukan bahwa ekor komet mengandung gas mematikan yang disebut cyanogen (dari asal kata sianida). Tadinya ini tak terlalu menarik hingga seseorang menyadari bahwa lintas bumi akan berpotongan dengan ekor komet Halley di tahun 1910. Apakah permukaan planet akan terselubung oleh gas beracun? Itulah spekulasi yang dicetak di halaman depan koran The New York Times dan sejumlah koran lainnya, yang mengakibatkan menyebarnya kepanikan di seluruh AS dan di negara lainnya. Akhirnya, para ilmuwan dengan kepala dingin menjelaskan bahwa hal itu tak patut dikhawatirkan.

5. Pat Robertson, 1982
Mei 1980, televangelis dan pendiri Koalisi Kristen, Pat Robertson, mengejutkan dan menakuti banyak orang ketika ia menyatakan dalam acara TV-nya, "700 Club", kepada pemirsa di seluruh dunia bahwa ia tahu kapan dunia akan berakhir (padahal dalam Alkitab sendiri di Matius 24:36 tentang kiamat dinyatakan "Tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, bahkan malaikat-malaikat di surga tidak tahu"). "Saya menjamin bahwa pada tahun 1982 akan ada penghakiman dunia," kata Robertson.

6. Heaven's Gate, 1997
Ketika komet Hale-Bopp muncul tahun 1997, muncul isu bahwa pesawat alien tengah mengikuti komet itu. Hal itu ditutupi oleh NASA dan komunitas astronomi. Walau dugaan itu dibantah oleh para astronom (dan bisa dibantah siapa saja yang memiliki teleskop yang bagus), isu ini sempat disiarkan dalam acara radio "Coast to Coast AM" yang dibawakan Art Bell dan bertemakan paranormal. Dugaan ini menginspirasi suatu kultus pemercaya UFO (unidentified flying object yang dianggap pesawat alien) di San Diego yang menamakan diri Heaven's Gate untuk memercayai bahwa dunia akan segera berakhir. Dunia memang berakhir bagi 39 anggota kultus itu yang bunuh diri pada 26 Maret 1997.

7. Nostradamus, Agustus 1999
Karya tulis Michel de Nostradame yang sangat membingungkan dan metaforis telah menarik perhatian banyak orang selama lebih dari 400 tahun. Tulisannya, yang ketepatannya sangat tergantung pada interpretasi yang sangat fleksibel, telah diterjemahkan dan diterjemahkan ulang dalam puluhan versi yang berbeda. Salah satu baris tulisannya menyebutkan, "Tahun 1999, bulan ketujuh / Dari langit datang raja besar teror." Banyak pengikut Nostradamus menjadi resah karena menduga bahwa inilah penglihatan sang peramal terkenal itu terhadap kiamat.

8. Y2K, 1 Januari 2000
Ketika abad lalu hampir berakhir, banyak orang khawatir bahwa komputer akan menyebabkan kiamat. Permasalahannya, yang diketahui sejak 1970, adalah bahwa banyak komputer takkan bisa membedakan antara tahun 2000 dan 1900. Tak ada yang tahu pasti apa efeknya, tapi banyak yang menduga akan terjadi bencana, mulai dari mati lampu massal hingga ledakan nuklir. Penjualan senjata meningkat dan orang bersiap bertahan hidup dalam bungker. Namun nyatanya, tak banyak kesalahan terjadi ketika milenium baru dimulai.

9. 5 Mei 2000
Kalau memang kesalahan Y2K tak terjadi, maka bencana global dijamin akan terjadi oleh Richard Noone, pengarang buku 5/5/2000 Ice: the Ultimate Disaster di tahun 1997. Menurut Noone, massa es di Antartika akan menjadi setebal 3 mil pada tanggal 5 Mei 2000, suatu tanggal yang juga bertepatan dengan sejajarnya planet-planet di tata surya, yang entah bagaimana akan menyebabkan pembekuan global yang fatal. Tanggal itu berlalu dan bumi belum beku, tetapi buku itu malah "panas" di pasaran. Mungkin juga, pemanasan global mencegah terulangnya zaman es itu.

10. God's Church Ministry, musim gugur 2008
Menurut pendeta dari God's Church, Ronald Weinland, akhir zaman telah tiba, lagi. Bukunya di tahun 2006, 2008: God's Final Witness, menunjukkan bahwa ratusan juta orang akan meninggal, dan pada akhir 2006, "paling lama 2 tahun tersisa sebelum dunia mengalami waktu terburuk sepanjang sejarah manusia. Pada musim gugur 2008, Amerika akan tumbang sebagai negara berkuasa, dan tak akan menjadi negara merdeka lagi," dan buku itu juga mencatat, "Ronald Weinland mempertaruhkan reputasinya sebagai nabi akhir zaman Tuhan."

Nah, kesepuluh ramalan itu tidak terjadi sehingga ada baiknya kita juga tidak khawatir berlebihan tentang ramalan akhir zaman tahun 2012. Bukankah banyak tulisan yang menyebutkan bahwa tidak seorang pun akan tahu waktunya?


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 8:56 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
 

IpTek

View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 16Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 9 ... 16  Next

 Similar topics

-
» PARADE IPTEK 2010, Lomba Essay, Lomba Software, Lomba Flash
» IpTek

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-