|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Wed Jun 09, 2010 11:53 am | |
| PRIA HIPERSEKS TAK PUAS DENGAN SATU WANITA Merry Wahyuningsih - detikHealth - Rabu, 09/06/2010 18:00 WIB Jakarta, Secara normal, seorang pria akan berpasangan dan melakukan hubungan seksual dengan satu wanita, yaitu istrinya. Tapi pada pria yang mengalami hiperseks, satu wanita tak cukup untuk dapat memuaskannya. Hiperseks atau hypersexuality merupakan penyimpangan seksual yang ditandai dengan tingginya keinginan untuk melakukan hubungan seksual dan sulitnya mengontrol keinginan seks tersebut.
"Orang yang mengalami hiperseks tidak pernah merasa puas saat berhubungan seks, walaupun sudah mengalami orgasme. Kadang karena tidak puas sering mencari wanita lain," ujar Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS, Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI), saat berbincang disela-sela acara konferensi pers peluncuran kompetisi 'Indonesia SweetHard', di Djakarta Theatre Building, Jakarta, Rabu (9/4/2010).
Prof Wimpie mengatakan ciri-ciri orang yang menderita hiperseks antara lain: 1. Tidak pernah merasa puas saat berhubungan seks, walaupun ia sudah mengalami orgasme. Inilah terkadang yang membuat pria hiperseks tak puas dengan satu wanita. 2. Tuntutan seks tidak bisa ditunda 3. Tidak bisa mengontrol keinginan seks 4. Sangat tergila-gila dengan hal-hal yang berhubungan dengan seks
Menurut Prof Wimpie yang juga merupakan pengajar di Bagian Andrologi dan Seksologi, Pusat Studi Anti-Aging Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, kebanyakan orang yang mengalami hiperseks tidak menyadari bahwa dirinya menderita penyimpangan seksual tersebut, sampai ada orang yang menyadarkannya. Penyimpangan ini bisa diakibatkan karena adanya gangguan psikoseksual atau trauma yang terjadi pada masa kecil. Trauma masa kecil ini bisa berasal dari lingkungan keluarga atau sekolah.
Pada umumnya, orang yang mengalami hiperseks tidak bisa disembuhkan. Pengobatan atau rehabilitasi yang ada hanya bisa mengurangi atau melatih untuk mengontrol keinginan seksnya yang sangat besar. Tapi Prof Wimpie juga menuturkan bahwa masih ada upaya yang dapat dilakukan untuk dapat mengurangi dan mengontrol keinginan seksual orang yang mengalami hiperseks, yaitu dengan cara menelusuri trauma masa kecil yang dialaminya dengan melakukan konseling ke ahli psikologi.
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 9:53 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Wed Jun 09, 2010 11:54 am | |
| SUSUK DI PENIS PRIA Vera Farah Bararah - detikHealth - Senin, 28/06/2010 15:15 WIB Jakarta, Tak cuma wanita yang memakai susuk atau silikon. Pria pun kini banyak yang menggunakan silikon dan susuk dari batu akik, bulu kuda, jenggot kambing atau tasbih di penis untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam bercinta.
Amankah pemakaian susuk dan silikon di penis? Apakah membahayakan bagi si pemakai dan pasangannya? Jaringan yang terdapat pada penis tidak sama dengan jaringan tubuh lainnya, karena terdiri dari jaringan saraf dan jaringan busa atau berongga yang nantinya akan diisi oleh darah sehingga bisa mengeras dan membesar. Jika jaringan diisi oleh cairan selain darah, maka bisa terjadi hambatan pada jaringan tersebut yang membuat darah tidak bisa mengalir ke penis.
"Ada banyak cara yang dilakukan masyarakat untuk memperbesar penis, misalnya dengan menyuntikkan silikon, memasukkan bulu kuda, jenggot kambing, batu akik atau batu-batuan seperti tasbih. Semuanya hanya mitos untuk meningkatkan kepercayaan diri laki-laki saja, padahal tidak ada manfaatnya," ujar dokter Boyke Dian Nugraha, saat dihubungi detikHealth, Senin (28/6/2010).
dr Boyke menjelaskan jika seseorang menyuntikkan silikon pada batang penisnya, maka lama kelamaan silikon ini akan diserap oleh tubuh dan dikenali sebagai zat asing. Silikon ini memang bisa membuat penis lebih besar, tapi sedikit demi sedikit silikon ini akan terserap oleh tubuh sehingga ukuran penis akan mengecil atau kembali lagi.
Silikon yang digunakan adalah suatu senyawa kimia, karenanya dampak dari suntik silikon ini tidak ditemukan dalam waktu dekat. Tapi berdampak jangka panjang akibat silikon yang sudah terserap dan mungkin saja masuk ke dalam aliran darah. Sedangkan untuk susuk dari batu akik, bulu kuda atau batu tasbih, dimasukkan dengan cara seperti disunat lalu dijahit kembali. Hal ini tentu saja bisa memicu timbulnya infeksi tidak hanya bagi laki-laki, tapi juga untuk pasangannya. "Misalnya bulu kuda atau jenggot kambing itu kan tajam, sehingga jika perempuannya tergesek-gesek bisa saja berisiko menimbulkan infeksi," ungkap dokter yang berpraktek di Klinik Pasutri Tebet ini.
Untuk mengeluarkan susuk ini dari dalam penis tidak semudah yang dibayangkan. Jika susuk berupa barang, biasanya akan dikeluarkan dengan cara dioperasi tapi tetap ada kemungkinan infeksi yang timbul setelah operasi. Sedangkan untuk silikon akan jauh lebih sulit untuk dikeluarkan, terutama jika silikon ini sudah terserap oleh tubuh atau kemungkinan masuk ke dalam aliran darah. Akibatnya proses pengeluarannya kemungkinan tidak bisa total bersih 100 persen, sehingga ada silikon yang masih menetap di tubuh yang berpotensi bahaya.
Masyarakat selama ini mengira, susuk yang dimasukkan ke penisnya bisa bergerak atau bergeser sehingga menimbulkan sensasi tersendiri bagi pasangannya. Padahal anggapan tersebut adalah salah dan hanya sekedar mitos. Karena seorang perempuan akan merasakan kenikmatan seksual jika ia merasa nyaman, ada aspek emosionalnya serta percaya pada pasangannya. "Aspek mekanisme memang berperan, tapi sebenarnya aspek psikologis emosional akan jauh lebih berperan dalam memberikan kepuasaan pada pasangannya," pungkasnya. (ver/ir)
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 9:56 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Wed Jun 09, 2010 11:54 am | |
| PERUBAHAN YANG SERING TERJADI PADA PENIS AN Uyung Pramudiarja - detikHealth - Selasa, 29/06/2010 13:03 WIB Jakarta, Alat kelamin manusia akan mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Beberapa perubahan tidak bisa dihindari, termasuk pada penis yang merupakan organ paling vital dalam sistem reproduksi pria. Beberapa perubahan yang terjadi pada penis turut bertanggung jawab terhadap penurunan tersebut. Di antaranya seperti dikutip dari WebMD, Selasa (29/6/2010), adalah sebagai berikut.
Penampilan Ada 2 perubahan utama yang terjadi pada penis. Yang pertama adalah hilangnya warna keunguan pada kepala penis, sebagai akibat dari berkurangnya aliran darah di bagian tersebut. Yang kedua adalah dimulainya kerontokan rambut kemaluan, karena produksi testosteron berkurang.
Ukuran Peningkatan berat badan adalah hal yang wajar saat pria beranjak dewasa. Penumpukan lemak di bagian bawah perut tak jarang mengubur sebagian batang penis, sehingga ukurannya tampak lebih pendek. Selain karena tertimbun lemak, panjang serta diameter penis itu sendiri juga mengecil meski tidak terlalu drastis. Jika pada usia 30-an tahun ereksi bisa mencapai panjang 15 cm, maka pada usia 60-an atau 70-an tahun ukurannya berkurang menjadi sekitar 13 cm. Penyebabnya antara lain penumpukan lemak pada arteri penis atau artherosclerosis, yang menyebabkan aliran darah berkurang. Penyumbatan juga bisa dipicu oleh jaringan kolagen yang terbentuk pada selubung fibrosa di sekitar ruang ereksi.
Kelengkungan Apabila kolagen yang terbentuk akibat perlukaan di penis menumpuk, maka secara umum bentuk penis bisa melengkung. Kondisi yang disebut Peyronie's disease ini dapat menyebabkan rasa sakit saat ereksi dan mempersulit penetrasi. Sering terjadi pada usia paruh baya dan butuh operasi untuk mengatasinya.
Sensitivitas Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa bertambahnya usia mempengaruhi sensivitas penis. Semakin tua usia seseorang, semakin sulit penisnya mengalami ereksi dan orgasme. Sebuah penelitian di Olmstead County, Minnesotta menunjukkan bahwa kepuasan seksual pada pria lanjut usia hanya sedikit berkurang. Namun fungsi ereksi, ejakulasi dan hasrat seksual menurun drastis.
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 9:58 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Wed Jun 09, 2010 11:55 am | |
| MAKIN BANYAK PRIA KELUHKAN KEJANTANAN Jumat, 5 Maret 2010 | 10:48 WIB KOMPAS.com - Para ahli memperkirakan, lebih dari 100 juga pria di seluruh dunia mengalami gangguan fungsi seksual. Di Amerika Serikat, 30 persen pria mengalami ejakulasi dini, sedangkan di Indonesia, diperkirakan sekitar 20 persen pria yang datang ke klinik impotensi mengeluhkan juniornya yang selesai lebih cepat. Mengapa kini makin banyak pria bermasalah dengan "kejantanannya?"
Menurut penjelasan dr. Andi Sugiarto, Sp.RM, dari Rumah Sakit Pantiwilasa Citarum, Semarang, pada banyak kasus ejakulasi dini (ED), faktor psikis sangat berpengaruh. "Saat ini pressure orang sangat tinggi, terutama dari pekerjaan dan kehidupan sosial. Orang juga cenderung lebih cemas dan tergesa-gesa," katanya dalam seminar online Mengatasi Ejakulasi Dini (25/2).
Faktor lain terjadinya ejakulasi dini adalah rendahnya kadar serotonin (zat yg ada di saraf kita yg fungsinya mengantarkan impuls saraf). "Dewasa ini faktor kurangnya serotonin juga meningkat yang bisa disebabkan oleh tingginya konsumsi makanan yang mengandung pengawet," ujar dr.Andi. Selain itu, secara umum jumlah penderita penyakit diabetes melitus dan penderita gangguan saraf juga lebih banyak sehingga frekuensi ejakulasi dini lebih sering. Dengan semakin bertambahnya usia, maka faktor fisik (gangguan kesehatan) menjadi semakin berperan. Sementara itu pada penderita ED yang lebih muda, biasanya disebabkan karena faktor psikis.
Ejakulasi dini bisa membuat pria merasa kecewa dan rendah diri karena tidak bisa memuaskan pasangan. "Apalagi dalam hubungan seks, wanita lebih lama naik gairahnya. Bagaimana bisa memuaskan pasangan kalau belum apa-apa sudah ejakulasi," ujarnya. Karena merasa rendah diri, menurut dr.Andi akibatnya banyak pria yang merasa malas untuk berhubungan seks. Bila ini berlangsung dalam waktu lama, bukan cuma ED, pria tersebut juga bisa mengalami gangguan ereksi. "Karena merasa tertekan, ia tidak bisa ereksi lagi," ujarnya. Selain dengan obat-obatan, ED bisa diatasi dengan seks terapi dan latihan kegel. "Terapi seks harus dilakukan seorang pria dengan pasangannya. Dimulai dari konsultasi hingga terapi, suami istri harus bekerjasama," paparnya. Keberhasilan terapi tentu akan meningkatkan kualitas hidup bersama.
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 10:09 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Wed Jun 09, 2010 11:56 am | |
| KEKERASAN EREKSI TIDAK OPTIMAL, APA UKURANNYA? Minggu, 27 Juni 2010 | 15:42 WIB KOMPAS.com - Sekitar 25 persen lelaki di Indonesia memiliki kekerasan ereksi tidak optimal. Fakta ini tak berbeda jauh dengan tingkat Asia Pasifik, di mana satu dari empat lelaki mengalami hal serupa. Padahal kepuasan pasangan terhadap kekerasan ereksi terkait erat dengan kepuasan seksual pasutri, yang kelak dapat mempengaruhi kualitas hidup berpasangan maupun individual.
Hasil survei Asia Pacific Sexual Health and Overall Wellness (APSHOW) di 13 negara (termasuk Indonesia) 2008 lalu menemukan, terdapat korelasi antara kepuasan seksual pasutri dengan kepuasan hidup secara umum. Termasuk kebahagiaan dalam hidup berkeluarga serta peran individu sebagai suami atau istri.
Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS, mengatakan bahwa pasutri bisa meraih keharmonisan dan kebahagiaan lebih optimal, dengan pemahaman seksual yang tepat. Menurut Prof Wimpie, angka perceraian di Jakarta cukup tinggi, karena masalah seksual yang tidak terungkap. Termasuk di antaranya masalah disfungsi ereksi.
Disfungsi ereksi (DE) adalah kondisi saat pria tidak dapat mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang optimal untuk mencapai kepuasan seksual. Untuk mengukur DE, bisa dengan mengikuti tes Erection Hardness Score (EHS). Dalam presentasinya mengenai masalah seksual beberapa waktu lalu, Prof Wimpie menyebutkan empat skala ereksi.
Skala 1 (Severe Erectile Dysfunction) Penis membesar namun tidak mengeras, seperti tapai. Menurut Prof Wimpie, DE skala ini termasuk derajat berat.
Skala 2 (Moderate Erectile Dysfunction) Penis keras namun tidak cukup keras untuk penetrasi, seperti pisang. DE skala ini terbilang moderat, penis membesar namun tidak cukup keras.
Skala 3 (Suboptimal Erection) Penis cukup keras untuk penetrasi namun tidak sepenuhnya keras, seperti sosis. Ereksi seperti ini tidak optimal walaupun masih bisa melakukan hubungan seks. DE skala ringan ini cenderung tidak disadari oleh lelaki. Kebanyakan lelaki di Indonesia berada pada skala ini, kata Prof Wimpie.
Skala 4 (Optimal Erection) Penis keras seluruhnya dan tegang sepenuhnya, seperti timun. Dari penelitian APSHOW, lelaki dengan EHS skala 4 lebih sering melakukan hubungan seksual dan lebih merasa puas. Dampaknya lebih memiliki pola pikir positif dalam hidupnya.
Prof Wimpie juga menjelaskan perbandingannya. Pria dengan EHS 4 lebih optimis dengan hidupnya secara umum (38 persen) dibandingkan pria dengan EHS 3 (28 persen). Optimis dengan hubungannya (45 persen : 34 persen), memiliki keseimbangan hidup (38 persen : 29 persen), dan memiliki kesempatan untuk maju dalam hidup (33 persen : 23 persen).
Faktanya, tak hanya lelaki yang menginginkan skala ereksi lebih optimal. Perempuan pasangannya tentu juga ingin meningkatkan kepuasan seksual, dengan ereksi suami yang lebih optimal. Bahkan 88 persen perempuan mengaku kurang puas dengan kekerasan ereksi pasangannya (data APSHOW 2008).
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 10:06 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Wed Jun 09, 2010 11:56 am | |
| PRIA INDONESIA MASUK KATEGORI EREKSI JENIS SOSIS Merry Wahyuningsih - detikHealth - Rabu, 09/06/2010 16:02 WIB Jakarta, Kepuasan seksual sering dikaitkan dengan masalah ereksi yang berimplikasi pada kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga. Dari hasil survei banyak pria di Indonesia yang tidak menyadari bahwa dirinya termasuk 'sosis man'. Fakta ini berdasarkan survei Asia Pacific Sexual Health and Overall Wellness (AP SHOW) yang dilakukan di 13 negara terhadap 2016 pria dan 1941 wanita. Di Indonesia sendiri dilakukan pada bulan Mei sampai Juli 2008 pada 578 pria dan wanita.
Dari hasil survei diketahui bahwa 1 dari 4 pria percaya bahwa kekerasan ereksi yang dialaminya masih kurang optimal dan tergolong dalam Erection Hardness Score (EHS) level 3, sehingga diberi julukan 'sosis man'. Erection Hardness Score (EHS) adalah tes mandiri yang sederhana, tervalidasi dan menunjukkan kelas kekerasan ereksi dengan ukuran berskala 4.
EHS digolongkan menjadi 4 grade, yaitu: 1. Grade 1: Penis bisa membesar tapi tidak mengeras, yang diibaratkan seperti 'tapai'. Grade ini termasuk pada disfungsi ereksi berat. 2. Grade 2: Penis keras namun tidak cukup keras untuk penetrasi, yang diibaratkan seperti 'pisang'. Grade ini termasuk disfungsi ereksi sedang. 3. Grade 3: Penis cukup keras untuk penetrasi namun tidak sepenuhnya keras, yang diibaratkan seperti 'sosis'. Grade ini termasuk suboptimal atau disfungsi ereksi ringan. 4. Grade 4: Penis keras seluruhnya dan tegang sepenuhnya, yang diibaratkan seperti 'timun'. Grade inilah yang diharapkan pada pria, sehingga bisa mendapatkan kepuasan seksual kedua pasangan.
"Banyak pria di Indonesia mengalami kekerasan ereksi yang tidak optimal (EHS 3) namun tidak menyadarinya karena masih dapat melakukan hubungan seksual," ujar Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS, Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI), dalam acara konferensi pers peluncuran kompetisi 'Indonesia SweetHard', di Djakarta Theatre Building, Jakarta, Rabu (9/6/2010). Padahal, menurut Prof Wimpie yang juga merupakan pengajar di Bagian Andrologi dan Seksologi, Pusat Studi Anti-Aging Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, kondisi tersebut dapat dengan mudah dideteksi dan disembuhkan. Hal ini sebenarnya bisa menjadi masalah dalam rumah tangga bila tidak segera diatasi. Dari hasil survei AP SHOW menyebutkan bahwa terdapat korelasi antara kekerasan ereksi dan kualitas hidup. Semakin tinggi kepuasaan pria dan wanita dengan kekerasan ereksi, semakin tinggi pula kepuasan seksual, kehidupan cinta dan kualitas hidup secara keseluruhan, kebahagiaan dalam hidup berkeluarga dan dalam peran individu sebagai suami atau istri.
Penelitian AP SHOW juga menunjukkan bahwa pria dengan kekerasan optimal (EHS skala 4) lebih sering melakukan hubungan seksual, dan lebih merasa puas serta memiliki pola pikir yang positif atas kehidupan, dibandingkan dengan pria yang hanya mencapai EHS skala 3 atau suboptimal. Namun, kebanyakan pria dengan kekerasan ereksi tidak optimal (EHS 1-3) merasa tertekan, malu dan khawatir untuk mencari pengobatan disfungsi ereksi. Pria-pria tersebut malah mencari pengobatan sendiri tanpa konsultasi dokter, dan hal itu justru dapat memperparah kondisi mereka. Dengan banyaknya pengetahuan yang diperoleh, diharapkan pasangan suami istri tidak takut atau malu lagi untuk berkomunikasi dengan pasangan dan berkonsultasi kepada tenaga ahli, khususnya kepada seksolog dan androlog apabila memiliki masalah ereksi.
Sebenarnya, mayoritas pria dengan EHS 3 (sosis man) atau sekitar 91 persen ingin meningkatkan kepuasan seksualnya. Bahkan tidak hanya pria, pasangan wanitanya pun ingin mendapatkan kepuasan tersebut. Dengan pengobatan disfungsi ereksi yang efikasinya (manfaat) telah terbukti secara klinis, dapat memberi kualitas ereksi yang lebih baik. Efikasi yang terbukti klinis dimaksudkan dengan pengobatan yang dapat bekerja setiap saat, memberi ereksi yang kuat dan tahan lama, serta memberi kepuasan diri dan pasangan, sehingga kehidupan seks pun akan berjalan lebih baik. (mer/ir)
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 10:08 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Wed Jun 09, 2010 12:02 pm | |
| KETIKA PENUAAN MULAI MELANDA PRIA Kamis, 10 Juni 2010 | 10:04 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - STAMINA menurun seiring bertambahnya usia. Sebagian besar para pria akan mengalami hal ini cepat atau lambat. Observasi tentang usia dan pergerakan yang melambat terkadang membuat kita menjadi kurang produktif dalam bidang fisik ataupun akademis. Pada masa lewat paruh baya inilah kinerja menurun dan diperlukan usaha lebih untuk mempertahankan kecepatan yang kita miliki layaknya waktu muda dulu. Tak jarang pula terjadi, ketika fisik terlalu banyak bekerja, badan akan terasa sakit dan pegal, mulai sulit berkonsentrasi dan mudah lupa. Kurangnya energi, tenaga dan ketahanan tubuh ketika menua merupakan hal wajar. Termasuk, kurangnya gairah seks dan ereksi tidak tahan lama.
Faktanya, proses penuaan hanya bisa kita hadapi dengan usaha sebisanya, dicegah jika bisa dan ditunda apa yang bisa ditunda. Ilmu medis masa kini pun telah banyak menyampaikan pesan mengenai gaya hidup sehat, gizi dan penggantian hormon yang dapat menunda penuaan dini. Hormon yang mempengaruhi proses penuaan pada pria dan wanita, seperti hormon gonadal, adrenal, thyroid dan hormon pertumbuhan. Dengan adanya penggantian hormon ini, makan hormon penuaan akan sedikit diproduksi, dan hormon-hormon baru ini lah yang akan membantu perbaikan sel-sel tubuh dan mempertahankan fungsi tubuh.
Meski demikian, praktik penggantian hormon pada pria lanjut usia ini merupakan praktik medis yang cukup pesat pertumbuhannya dan perdebatan mengenai “andropause” kerap terjadi beberapa tahun terakhir. “Andropause” merupakan kondisi mental, fisik dan seksual pria yang berkaitan dengan tingkat testosteron yang rendah. Tingkat testosteron yang semakin rendah dipercaya akan meningkatkan munculnya gejala-gejala adropause. Meski demikian, penggunaan kata “andropause” dalam hal ini belumlah tepat.
Pertama, tidak benar bahwa andropause merupakan “menopause” pada pria. Gejala andropause terjadi secara rutin. Hal ini terjadi ketika terjadi perubahan dalam tubuh yang mempengaruhi kualitas hidup. Selain itu, tidak bisa disamakan antara efek dari terapi penggantian hormon wanita saat menopause dengan efek penggantian testosteron pada pria.
Kedua, “andropause” sangat jelas berarti bahwa kelenjar sel seks (gonad) sudah tidak lagi diproduksi. Pada “kondisi penuaan” ini, tingkat testosteron semakin menurun, namun tidak nol. Selain ini, menurunnya produksi testosteron seiring bertambahnya usia tidaklah sama pada semua pria, karena tidak semua pria mengalami penurunan produksi testosteron.
Tingkat penurunan pada setiap pria berbeda-beda, dengan gejala yang berbeda-beda pula. Para ahli menyebut istilah tersebut dengan nama SLOH atau symptomatic late-onset hypogonadism, yang artinya gejala defisiensi sistem reproduksi yang mengakibatkan menurunnya fungsi sel seks atau gonad (rahim atau testis). Setiap pria tahu bahwa kita mengalami penurunan pada saat kita menua. Bisa jadi SLOH. Kira-kira 50% pria mengalami gejala-gejala ini pada usia 55 tahun. Namun hypogonadism pada pria ini kerap tidak dilaporkan dan didiagnosa lebih lanjut.
Sejak dini, yang dapat dilakukan para pria yang mulai merasa stamina adalah dengan mengenali gejala-gejala SLOH. Sehingga pemeriksaan tingkat testosteron pun dapat dilakukan untuk mendapatkan diagnosa pasti. Perawatan yang dilakukan pun dapat dioptimalkan sesuai kebutuhan. Terapi testosteron tentu patut untuk dipertimbangkan agar SLOH tidak menyebabkan kualitas hidup dan stamina menurun. (abd)
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 10:11 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Wed Jun 09, 2010 7:29 pm | |
| MENOPAUSE PADA PRIA Merry Wahyuningsih - detikHealth - Kamis, 10/06/2010 10:30 WIB Jakarta, Siapa bilang pria tak bisa mengalami menopause? Istilah menopause memang milik wanita, tapi pria juga bisa mengalami penurunan hasrat dan kemampuan seks layaknya wanita, yang disebut dengan andropause. Selama ini hasrat pria memang diketahui tidak ada matinya, tapi bukan berarti pria tak bisa mengalami andropause. "Pada usia 50-an tahun, gejala-gejala andropause pria sudah mulai muncul," ujar Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, Sp.And, FAACS, Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia (ASI), saat berbincang dengan detikHealth, Kamis (10/4/2010). Prof Wimpie juga menyatakan gejala-gejala andropause pada pria umumnya hampir sama dengan gejala menopause pada wanita, yaitu:
1. Penurunan rasa kenyamanan seperti lelah, depresi, bingung dan berkeringat di malam hari 2. Sering merasa sedih 3. Penurunan hasrat seksual atau libido 4. Kemampuan ereksi terganggu 5. Daya ingat menurun 6. Kesuburan berkurang 7. Komposisi tubuh yang berubah terutama meningkatnya lemak di perut 8. Rambut yang mulai berkurang 9. Gangguan tidur dan suasana hati
Andropause terjadi bila kadar hormon testosteron dalam tubuh pria menurun. Hormon testosteron atau hormon seks pria memang akan menurun seiring bertambahnya usia. Penurunan level testosteron ini biasanya ditandai dengan beberapa gejala yang mirip dengan gejala akibat proses penuaan. Selain menyebabkan andropause, penurunan kadar testosterone juga akan mempengaruhi fungsi organ tubuh. Testosteron diperlukan untuk merangsang otot, tulang, darah, energi, fungsi seksual seperti ereksi dan orgasme, fungsi kognitif dan kenyamanan secara umum. Menurut Prof Wimpie yang juga merupakan pengajar di Bagian Andrologi dan Seksologi, Pusat Studi Anti-Aging Medicine Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali, pria juga bisa mengalami andropause dini yang sering disebabkan karena berbagai penyakit dan gaya hidup yang tidak sehat.
Tapi sebenarnya andropause dini bisa dicegah dengan melakukan kebiasaan hidup sehat, seperti: 1. Olahraga teratur 2. Pola makan yang sehat 3. Kualitas tidur yang baik 4. Segera mengatasi penyakit yang diderita 5. Hindari keracunan 6. Tidak merokok berlebihan
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 10:13 am; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Wed Jun 09, 2010 7:38 pm | |
| MITOS SEPUTAR LEMAH SYAHWAT (1) Merry Wahyuningsih - detikHealth - Kamis, 10/06/2010 12:35 WIB Jakarta, Pria seringkali menerima informasi yang salah tentang persoalan lemah syahwat atau disfungsi ereksi (impotensi) dan secara sembunyi mencari penyebab serta upaya penyembuhannya. Memahami kenyataan tentang disfungsi ereksi adalah komponen penting dalam upaya menghilangkan hambatan untuk mencari kesembuhan, karena banyak hal yang selama ini menjadi mitos disfungsi ereksi.
Disfungsi ereksi adalah kondisi dimana pria tidak dapat mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang optimal untuk mencapai performa atau kepuasan seksual. Jika dulu masalah disfungsi ereksi tabu untuk dibicarakan, tetapi kini pria semakin mau berdiskusi dan mencari solusi terapi pengobatannya. Survei kesehatan seksual telah dilakukan terhadap pria dan wanita di Asia Pasifik pada bulan Mei sampai Juli 2008. Survei Asia Pacific Sexual Health and Overall Wellness (AP SHOW) dilakukan di 13 negara terhadap 2016 pria dan 1941 wanita, di Indonesia sendiri dilakukan pada 578 pria dan wanita.
Seperti dilansir dari AP SHOW Global Survey, Kamis (10/6/2010), berikut beberapa mitos seputar disfungsi ereksi: 1. Mitos: Kesulitan ereksi adalah hilangnya ketertarikan seks, atau kehilangan tenaga atau mandul Fakta: Sebagian pria dengan kesulitan ereksi masih memiliki gairah dan keinginan untuk mendapat orgasme, dan mengalami ejakulasi cairan semen. Kesulitan ereksi terkait dengan kemampuan membuat atau mempertahankan ereksi dan tidak berarti kehilangan keinginan dalam seksual atau menjadi mandul.
2. Mitos: Pria ingin selalu, dan selalu siap untuk melakukan hubungan seksual Fakta: Pria selalu siap, mampu dan bisa melakukan hubungan seksual tidak sesederhana tampaknya. Dalam kehidupan nyata, kelelahan fisik atau berpikir keras mengenai pekerjaan dan keluarga bisa mempengaruhi gairah pria dan kegiatan seksualnya.
3. Mitos: 'Pria Sejati' tidak mengalami kesulitan ereksi Fakta: Banyak pria pada suatu waktu dalam kehidupannya akan mengalami kesulitan ereksi atau mempertahannya. Hal ini dapat muncul seiring petambahan usia, ras atau etnis, perilaku budaya dan kebiasaan serta keyakinannya. Sesekali memiliki kesulitan mencapai atau mempertahankan ereksi bukan merupakan masalah. Tetapi jika persoalan ini terus berlanjut, maka akan mempengaruhi hubungan pribadi dan menjadi masalah bersama dengan pasangan.
4. Mitos: Kesulitan ereksi adalah masalah pribadi Fakta: Disfungsi ereksi sesungguhnya sering terjadi pada siapapun. Menurut American Medical Association, 10 persen dari pria mengalami disfungsi ereksi yang menetap. Sebagai tambahan, ada sejumlah pria yang tidak mengalami disfungsi ereksi ternyata mengalami ereksi yang suboptimal.
5. Mitos: Disfungsi ereksi adalah lumrah dalam proses penuaan Fakta: Disfungsi ereksi tidak harus dianggap sebagai hal yang normal untuk semua pria usia berapapun. Sekalipun mungkin pria yang lebih senior membutuhkan waktu lebih lama untuk bisa terangsang dan mungkin membutuhkan stimulasi fisik. Sekalipun disfungsi ereksi kerap terjadi pada pria usia tua, tetapi bukan berarti disfungsi ereksi adalah proses dari penuaan. Bagaimanapun, disfungsi ereksi juga kerap terjadi pada pria yang berusia muda. Perubahan gaya hidup, seperti berhenti merokok, berolahraga secara teratur, menghindari konsumsi alkohol yang berlebihan, dan berada dalam pengawasan penyakit kronis seperti gagal ginjal, penyakit jantung atau diabetes dapat menurunkan risiko pria mengalami disfungsi ereksi.
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 10:14 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Thu Jun 10, 2010 10:23 am | |
| MITOS SEPUTAR LEMAH SYAHWAT (2) Merry Wahyuningsih - detikHealth - Kamis, 10/06/2010 13:04 WIB Jakarta, Lemah syahwat atau yang juga dikenal dengan impoten, merupakan salah satu bagian dari disfungsi ereksi yang tabu untuk dibicarakan. Tapi banyak keyakinan yang dipercaya masyarakat seputar disfungsi ereksi ternyata hanyalah mitos. Sebelumnya telah dibahas beberapa mitos seputar lemah syahwat berdasarkan hasil survei Asia Pacific Sexual Health and Overall Wellness (AP SHOW) yang dilakukan di 13 negara terhadap 2016 pria dan 1941 wanita pada bulan Mei sampai Juli 2008.
Seperti dilansir dari AP SHOW Global Survey, Kamis (10/6/2010), berikut beberapa mitos lainnya seputar disfungsi ereksi: 1. Mitos: Disfungsi ereksi adalah 'berada di kepala' Fakta: Sekalipun disfungsi ereksi memiliki penyebab psikologis, misalnya karena cemas, stres, perasaan bersalah tentang seksual, masalah dalam hubungan, perasaan terhadap pasangan dan depresi, tapi kini diketahui sekitar 80 persen permasalah memiliki sebab yang berhubungan dengan masalah fisik.
2. Mitos: Disfungsi ereksi adalah problem fisik semata Fakta: Disfungsi ereksi adalah masalah kompleks, gabungan antara kognitif, perilaku, emosi, sosial dan komponen fisik. Penyebab utama disfungsi ereksi adalah fisik atau psikologis. Problem fisik contohnya kondisi pembuluh darah, efek alkohol yang berlebihan, efek samping pengobatan, diabetes, fungsi saraf yang abnormal, kekurangan hormon, operasi pengangkatan prostat karena kanker dan merokok. Kondisi yang berkaitan dengan fisik ini bisa diobati. Disfungsi ereksi dengan kasus psikologis hanya sekitar 20 persen.
3. Mitos: Kesulitan ereksi akan berlalu Fakta: Disfungsi ereksi adalah persoalan medis dengan solusi pengobatan. Sama halnya dengan terapi yang harus diterima untuk mengobati kondisi seperti tekanan darah tinggi, disfungsi ereksi juga harus diobati. Bila dibiarkan dapat menimbulkan konsekuensi psikologis, termasuk perasaan malu, kehilangan atau minder.
4. Mitos: Disfungsi ereksi tidak berpengaruh pada kesehatan dan mulai belajar menerima kondisi tersebut Fakta: Disfungsi ereksi bisa menjadi sumber stres emosi yang mengarah pada minder, kehilangan atau menurunkan rasa percaya diri, kecemasan, dan depresi.
5. Mitos: Disfungsi ereksi hanya mempengaruhi pria Fakta: Jika disfungsi ereksi tidak diatasi dengan seksama, pasangan dalam berhubungan juga akan merasakannya. Kecenderungan untuk menghindari kontak seksual seringkali menyebabkan pasangan merasa tidak lagi dicintai, tidak diinginkan dan tidak menarik lagi.
6. Mitos: Pria harus mengunjungi dokter berulang kali sebelum akhirnya memulai terapi Fakta: Dalam beberapa kasus, konsultasi tunggal mungkin merupakan hal yang terjadi pada pria yang langsung memulai terapi atas kasus disfungsi ereksi yang dialaminya.
7. Mitos: Tidak ada gunanya mencari pengobatan karena disfungsi ereksi tidak mudah diobati Fakta: Pada sebagian besar kasus, disfungsi ereksi bisa secara sukses diobati. Karena itu penting untuk para pria mencari pertolongan dokter, sehingga mereka bisa menolong diri sendiri, pasangan dan menyelamatkan hubungan dari kegagalan.
8. Mitos: Mencari pertolongan untuk kesulitan ereksi meliputi tes yang memalukan dan tidak nyaman Fakta: Meskipun seringkali memalukan untuk pria membicarakan masalah seksual dengan dokternya, mencari pertolongan untuk disfungsi seksual bisa cukup bermanfaat. Dokter biasanya melaksanakan sejarah kesehatan seiring sejarah seksual, dan akan menanyakan beberapa hal terkait gaya hidup. Hanya beberapa pemeriksaan standar kesehatan yang biasanya dibutuhkan, seperti tes laboratorium darah dan urin. Tes ini membantu mengidentifikasi beberapa kasus medis yang mungkin membutuhkan terapi.
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 10:19 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Thu Jun 10, 2010 10:25 am | |
| TAK HANYA DINI, EJAKULASI BISA TERTUNDA Merry Wahyuningsih - detikHealth - Jumat, 25/06/2010 17:00 WIB Jakarta, Selama ini disfungsi seksual yang sering terjadi pada pria adalah ejakulasi dini. Tapi ternyata tak hanya dini, ejakulasi juga bisa tertunda. Apa yang dimaksud ejakulasi tertunda dan apa penyebabnya? Ejakulasi tertunda (delayed/retarded ejaculation) yang juga dikenal dengan gangguan ejakulasi, adalah suatu kondisi yang mana ereksi tetap terjadi, tetapi klimaks seksual ketika air mani lepas dari penis tertunda selama waktu yang cukup panjang.
Dalam bahasa sederhana ejakulasi tertunda ini adalah ejakulasi yang terjadinya sangat lama. Pria dengan ejakulasi tertunda biasanya mengalami ejakulasi hingga 30 menit atau lebih, bahkan beberapa diantaranya tidak dapat ejakulasi sama sekali. Pada bentuk umum ejakulasi tertunda, pria tidak dapat mencapai orgasme selama hubungan seksual normal dengan pasangan, tetapi dapat ejakulasi dengan rangsangan oral atau rangsangan manual pada penis (masturbasi). Dilansir dari MayoClinic, Jumat (25/6/2010), beberapa penyebab ejakulasi tertunda antara lain:
Pengaruh fisik 1. Cacat lahir tertentu yang mempengaruhi sistem reproduksi 2. Cedera pada saraf panggul dan sumsum tulang belakang 3. Operasi prostat dan jantung 4. Infeksi prostat atau infeksi saluran kemih 5. Penyakit saraf, seperti diabetes, stroke atau kerusakan saraf tulang belakang
Pengaruh psikologis 1. Depresi, kegelisahan atau kondisi kesehatan mental 2. Tegangan dan kelelahan 3. Agama atau budaya, karena adanya perasaan bersalah melakukan hubungan seks di luar nikah 4. Beberapa teknik masturbasi tertentu 5. Trauma peristiwa
Pengaruh obat 1. Sebagian besar jenis antidepresan 2. Beberapa obat tekanan darah tinggi, antipsikotik dan diuretik tertentu 3. Alkohol dan obat-obatan terlarang
Ejakulasi tertunda biasanya akan menimbulkan masalah yang cukup serius, seperti berkurangnya kenikmatan seksual bagi pria atau pasangannya, stres dengan kinerja seksual, kurangnya keharmonisan rumahtangga, serta juga dapat menyebabkan kemandulan pada pria. (mer/ir)
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 10:23 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Thu Jun 10, 2010 10:27 am | |
| 10 CARA CEGAH DISFUNGSI EREKSI Senin, 5 Juli 2010 | 14:02 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Disfungsi ereksi (ED) adalah gangguan umum yang terjadi di kalangan pria usia lanjut. Tapi, gangguan ini sebenarnya bukanlah bagian dari proses penuaan yang normal. Lalu, bagaimana Anda dapat menghindarinya? Berikut adalah 10 tip untuk mencegah terjadinya DE:
1. Perhatikan apa yang Anda makan Diet yang buruk mengakibatkan penurunan kemampuan pria untuk ereksi. Penelitian menunjukkan, pola makan yang buruk dapat menyebabkan serangan jantung dengan cara menghambat aliran darah pada pembuluh arteri. Minimnya asupan buah dan sayuran serta kegemaran menyantap makanan berlemak dan makanan olahan dapat menghambat aliran darah menuju penis. "Segala sesuatu yang tidak baik untuk jantung seorang pria juga buruk bagi penisnya," kata Andrew McCullough, MD, Profesor Urologi Klinis dan Direktur Program Kesehatan Seksual Laki-laki di New York University Medical Center Langone. Penelitian terbaru menunjukkan, ED relatif jarang terjadi pada mereka yang melakukan diet Mediterania yang mengutamakan buah-buahan, sayuran, biji-bijian, dan makanan sahabat jantung seperti kacang-kacangan, minyak zaitun, ikan, dan anggur. "Hubungan antara diet Mediterania dan fungsi seksual sudah dibuktikan secara ilmiah," kata Irwin Goldstein, MD, direktur pengobatan seksual di Alvarado Hospital di San Diego.
2. Menjaga bobot ideal Kelebihan berat badan membawa banyak masalah kesehatan, termasuk diabetes tipe 2, yang dapat menyebabkan kerusakan saraf di seluruh tubuh yang mempengaruhi penis.
3. Hindari kenaikan tensi dan kolesterol Kolesterol tinggi atau tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah, termasuk pembuluh yang mengalirkan darah ke penis. Akhirnya, ini dapat menyebabkan DE. Pastikan Anda mengecek koresterol dan tekanan darah secara rutin atau Anda dapat membeli monitor tekanan darah juga dijual untuk digunakan di rumah. Namun hati-hati, obat penurun tekanan darah dapat membuat sulit ereksi. Namun, dokter mengatakan banyak kasus ED yang berhubungan dengan obat sebenarnya disebabkan kerusakan arteri akibat hipertensi.
4. Minum alkohol secukupnya atau tidak sama sekali. "Tidak ada bukti yang menyebutkan konsumsi alkohol secukupnya berakibat buruk bagi fungsi ereksi, "kata Sharlip Tapi mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar dapat menyebabkan kerusakan hati, kerusakan saraf, dan kondisi yang dapat menyebabkan DE.
5. Olahraga teratur. Penelitian membuktikan, gaya hidup sehat dapat mencegah disfungsi ereksi. Olahraga seperti: lari, berenang, dan bentuk-bentuk latihan aerobik dapat membantu mencegah ED. Namun, hati-hati terhadap olahraga yang memberikan tekanan berlebihan pada perineum, yang merupakan daerah antara skrotum dan anus. Goldstein berkata, "Bersepeda dapat menyebabkan DE." Bersepeda jarak dekat mungkin tidak masalah. Tetapi orang-orang yang menghabiskan banyak waktu bersepeda harus memastikan sepeda yang mereka gunakan tepat, memakai celana bersepeda yang empuk, dan sering berdiri saat mengayuh.
6. Jangan mengandalkan Kegel Salah satu bentuk latihan yang tampaknya tidak bermanfaat adalah latihan kegel, yang menyebabkan kontraksi dan relaksasi otot-otot di panggul berulang kali. Latihan Kegel dapat membantu pria dan wanita penderita inkontinensia (tidak dapat menahan berkemih). Tapi tidak ada bukti bahwa mereka mencegah disfungsi ereksi.
7. Pertahankan kadar testosteron Bahkan pada pria sehat, kadar testosteron seringkali menurun tajam pada usia 50 tahun. Setiap tahun setelah usia 40 tahun, kadar testosteron pria biasanya jatuh sekitar 1,3%. Wapadalah pada gejala seperti dorongan seks rendah, kemurungan, kurang stamina, atau kesulitan membuat keputusan karena bisa jadi anda kekurangan testosteron.
8. Hindari anabolic steroid. Obat-obatan, yang sering disalahgunakan oleh atlet dan binaragawan, dapat mengecilkan testis dan menurunkan kemampuan memproduksi testosteron.
9. Stop merokok Merokok dapat merusak pembuluh darah dan membatasi aliran darah ke penis. Nikotin akan memicu menyempitkan pembuluh darah, yang dapat menghambat aliran darah ke penis.
10. Hindari seks berisiko Beberapa kasus disfungsi ereksi berasal dari cedera penis yang terjadi selama aktivitas seks. Untuk mencegah cedera penis, lakukan penetrasi setelah yakin vagina terlumasi dengan baik. Pastikan penis Anda tidak terpeleset keluar vagina sehingga Anda tidak akan menabrak bagian tubuh yang keras. Jika pasangan Anda bergerak sedemikian rupa sehingga menyakiti penis Anda, jangan membungkuk, tapi segera minta pasangan menghentikan aksinya. Jika pasangan sedang melakukan posisi "woman on top" dan bergerak ke bawah, sementara penis tidak masuk vagina, kelebihan beban akan "menyakiti" penis."
11. Kendalikan stres. Stres akibat faktor psikologis dapat meningkatkan kadar hormon adrenalin, yang membuat pembuluh darah berkontraksi. Itu bisa menjadi kabar buruk bagi ereksi. Apapun yang dapat dilakukan pria untuk meredakan stresnya dan merasa hubungan emosional berjalan baik, maka hal itu dapat membantu kehidupan seksualnya.
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 10:52 am; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Thu Jun 10, 2010 10:35 am | |
| MASALAH FISIK, PENYEBAB UTAMA IMPOTENSI Selasa, 6/7/2010 | 07:12 WIB KOMPAS.com - Disfungsi ereksi (DE) atau secara awam disebut impoten, lebih banyak disebabkan (80 persen) karena masalah fisik. DE dengan kasus psikologis hanya sekitar 20 persen, demikian hasil survei sia Pacific Sexual Health and Overall Wellness (APSHOW) pada 2008 di 13 negara termasuk Indonesia. DE bisa disebabkan karena faktor psikologis, seperti perasaan cemas, stres, perasaan bersalah tentang seksual, kelelahan, masalah dalam hubungan, perasaan kepada pasangan, atau depresi. Namun, kontribusinya lebih kecil dari gangguan fisik.
Kaitannya dengan fisik, ereksi adalah mekanisme hidrolik karena adanya aliran deras darah memasuki dan bertahan di penis. Nah, proses ini bisa terhambat karena gangguan fisik. Seperti kondisi pembuluh darah, efek alkohol berlebihan, efek samping pengobatan, diabetes, fungsi syaraf abnormal, kekurangan hormon, operasi pengangkatan prostat karena kanker, atau karena merokok.
Bagaimanapun juga DE adalah masalah kompleks, yang merupakan gabungan antara kognitif, perilaku, emosi, sosial, dan komponen fisik yang disebutkan sebelumnya. Penting diketahui bahwa DE bisa disembuhkan dengan terapi (melalui konseling dengan dokter spesialis andrologi dan seksologi), atau dengan obat-obatan berdasarkan resep dokter.
Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia Prof Dr dr Wimpie Pangkahila, SpAnd, FAACS, menjelaskan bahwa banyak pria salah kaprah, dengan mengatasi impotensi dengan pembesaran penis misalnya, atau termakan iklan melalui obat-obatan tertentu. "Viagra memang bisa memperbaiki fungsi ereksi, namun perlu resep dokter untuk mengonsumsinya, tak bisa sembarangan seperti banyak diiklankan di pinggir jalan," kata Prof Wimpie dalam talkshow seputar kekerasan ereksi beberapa waktu lalu. Idealnya memang, pria bisa mempertahankan ereksi hingga pasangannya orgasme. Karenanya jika memiliki masalah ereksi sebaiknya mulai terbuka membicarakannya. Anda bisa berkonsultasi kepada pakar, dan lebih penting lagi mencari solusi bersama pasangan.
"Penting juga dicermati, pria yang mengalami ejakulasi dini ereksinya normal. Tetapi pria dengan disfungsi ereksi sudah pasti ejakulasi dini. Jadi belum tentu pria dengan ejakulasi dini mengalami disfungsi ereksi," kata Prof Wimpie. Ditegaskannya, pria perlu mengenali masalahnya agar bisa menemukan solusi yang tepat agar kualitas hubungan seksual pasutri lebih memuaskan. Kondisi puncak pria adalah 30 tahun, setelahnya kondisi fisik mulai menurun. Karena itu risiko penurunan kualitas kebugaran tubuh, dan penurunan kualitas ereksi bisa diminimalisasi dengan olahraga teratur, dan gaya hidup lebih sehat.
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 10:51 am; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Thu Jun 10, 2010 7:54 pm | |
| JAGA KONDISI HINDARI IMPOTENSI Rabu, 30 Juni 2010 | 08:57 WIB KOMPAS.com — Sejalan dengan pertambahan usia, seorang pria memerlukan waktu lebih lama dan rangsangan lebih banyak untuk mendapatkan ereksi. Tentu saja, siapa pun bisa menjadi cemas dan tertekan karena kehilangan kemampuan alat vitalnya. Akan tetapi, sebenarnya banyak yang bisa diperbuat untuk mengusahakan agar Anda tidak sampai mengalami impotensi. Berikut ini beberapa cara untuk menjaga agar alat vital Anda dapat terus berfungsi dengan baik.
- Perhatikan asupan makan Makanan yang buruk untuk jantung Anda, buruk pula akibatnya untuk kemampuan ereksi. Penelitian menunjukkan pola makan yang mengganggu sirkulasi darah ke bagian arteri koroner, kurang serat, dan tinggi lemak, juga akan menganggu kelancaran darah ke organ intim. Aliran darah itu diperlukan untuk membuat penis tidak loyo.
- Menjaga berat badan Kegemukan bisa mendatangkan berbagai masalah kesehatan, termasuk diabetes yang bisa merusak saraf di seluruh tubuh. Bila saraf yang terkena berada di sekitar organ reproduksi, akibatnya adalah impotensi. Karena itu, pertahankan berat ideal Anda. Penelitian juga menunjukkan kelebihan timbangan dapat menyebabkan panjang penis berkurang.
- Hindari tekanan darah tinggi dan kolesterol Kadar kolesterol tinggi atau hipertensi bisa merusak pembuluh darah, termasuk di bagian yang membawa darah ke area penis. Sering kali hal ini menyebabkan impotensi. Secara teratur, periksa kadar kolesterol dan tekanan darah Anda. Bila sudah termasuk tinggi, segera lakukan upaya penurunan.
- Kurangi alkohol Memang belum ada penelitian yang menyebutkan konsumsi alkohol dalam skala sedang dan ringan bisa mengganggu kemampuan ereksi. Namun, hobi menenggak alkohol dalam jangka panjang bisa merusak lever, saraf, dan hormon yang diperlukan untuk menghasilkan ereksi. Alkohol adalah depresan yang berfungsi memperlambat refleks, termasuk dalam olah seksual.
- Olahraga teratur Banyak penelitian mengenai korelasi antara gaya hidup pasif atau kurang aktivitas fisik dengan disfungsi ereksi. Olahraga seperti lari, renang, dan olahraga aerobik lain terbukti membantu para pria menjaga "kejantanannya". Semakin bugar tubuh Anda, semakin sering Anda mampu berhubungan seksual.
- Hindari steroid Obat yang tergolong anabolic steroid sering dipakai para atlet atau orang yang ingin membesarkan otot. Obat golongan ini bisa mengganggu kerja testis dalam menghasilkan testosteron.
- Berhenti merokok Merokok bisa merusak pembuluh darah dan mengganggu aliran darah ke penis. Nikotin dalam rokok juga akan menyebabkan kontraksi pembuluh darah yang memicu gangguan sirkulasi darah ke penis.
- Jauhi stres Stres psikologis akan meningkatkan kadar hormon adrenalin, yang bisa membuat pembuluh darah berkontraksi. Karena itu, kelola stres Anda dan lakukan kegiatan untuk merileksasi pikiran dan emosi.
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 10:35 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Seks Thu Jun 10, 2010 8:16 pm | |
| IMPOTENSI BISA DISEMBUHKAN Minggu, 18 April 2010 | 18:03 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Bagi kaum pria, penyakit impotensi atau dikenal dengan istilah medis sebagai disfungsi ereksi, merupakan penyakit paling memalukan dan paling menyedihkan. Sudah cukup banyak pria yang mengalami impotensi namun kerap belum mengalami penyembuhan berarti.
Pakar seks terkemuka Dr Boyke Dian Nugraha, Sp.OG, MARS, mengatakan penyakit disfungsi ereksi alias impoten tetap bisa disembuhkan. "Tentu, yang namanya impoten itu paling memalukan dan menyedihkan buat pria. Tapi apapun itu penyakit seks, impoten, frigid, dan sebagainya tetap bisa disembuhkan," kata Dr Boyke dalam acara talkshow dan peluncuran bukunya bertema "It's All About Seks" di toko buku Gramedia, Matraman, Jakarta Timur, Minggu (18/4/2010).
Boyke menjelaskan, salah satu faktor utama penyebab impotensi justru berasal dari faktor psikologis seseorang. Permasalahan yang bisa menimbulkan tekanan psikologis seperti stres bisa membawa dampak sampai ke "urusan ranjang". "Lima puluh persen itu karena faktor psikologis. Banyak faktor, mulai dari istri galak, kena PHK, masalah ekonomi, dan sebagainya, akhirnya jadi terbawa dan jadi masalah," tuturnya.
Sementara 50 persen faktor lainnya, disebabkan oleh masalah secara fisik. Berbagai penyakit yang diderita seseorang bisa berdampak kepada kehidupan seksualnya, termasuk untuk bisa ereksi. "Sisanya ini karena kelainan fisik. Terbagi-bagi bisa dari kelainan fisik, darah tinggi, hipertensi, diabetes, kolestrol, asam urat, kelainan pembuluh darah dan saraf, dan trauma luka tulang blakang," terangnya.
Meski demikian ia meyakinkan, impotensi tetap dapat disembuhkan dengan metode pengobatan yang tepat. Impotensi karena faktor psikologis, misalnya, dapat disembuhkan dengan konsultasi ke dokter dan terapi. "Pasien impoten memang mengalami rendah diri dan malu. Maka perlu terapi ke dokter, juga misalnya, olah raga, makan makanan yang sehat, berhenti merokok dan minuman keras," tuturnya.
Ia juga menegaskan, tidak perlu mencoba-coba pengobatan alternatif yang tidak jelas hasilnya. Ditakutkan, bukannya mengobati, pengobatan alternatif tersebut justru memperparah penyakit. "Enggak bisa, walaupun kita ke Mak Erot, makan tangkur buaya, darah ular, dan sebagainya, tetap enggak bisa disembuhkan. Nanti malah memperparah. Datanglah ke dokter, penyakit seks itu bisa diobati," tuturnya.
Last edited by gitahafas on Thu Aug 05, 2010 10:33 am; edited 1 time in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |