Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Kesehatan Seks

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1 ... 6 ... 8, 9, 10 ... 13 ... 18  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Wed Aug 25, 2010 9:37 am

RITUAL WAJIB UNTUK TETAP LANGGENG
Senin, 27/07/2009 12:58 WIB Nurul Ulfah - detikHealth
Jakarta, Mungkin rutinitas membuat hubungan perkawinan Anda membosankan. Tapi jangan salah, hal-hal kecil dan membosankan tersebut ternyata merupakan kunci langgengnya sebuah hubungan. Percayalah. Berdasarkan artikel yang dimuat dalam San Francisco Chronicle, '5 Things Super-Happy Couples Do Every Day', ritual sehari-hari yang positif membantu pasangan menyediakan stok energi cinta dalam hubungannya.

Sebuah studi pun menyebutkan, pasangan yang langgeng ternyata selalu berusaha mempertahankan rutinitas sehari-harinya. Meskipun di saat stres, mereka mampu melewatinya dengan baik karena ritual tersebut. Setiap pasangan memiliki caranya masing-masing untuk mempertahankan hubungannya, namun jika Anda kehabisan ide, cobalah koreksi apakah ritual-ritual kecil di bawah ini sudah Anda lakukan. Ini dia ritual yang dilakukan para pasangan kekasih atau suami istri yang membuatnya tetap mesra dan langgeng hingga bertahun-tahun, seperti dilansir Yourtango, Senin (27/7/2009).

1. Tegaskan Pasangan Anda
Terkadang berat juga melihat pasangan pria yang tidur seranjang dengan Anda berubah menjadi botak atau wanita yang Anda cintai menjadi gemuk dan keriput, tapi itulah pasangan Anda. Terimalah dan syukuri apa yang ada. Tegaskan padanya, mengapa Anda masih mencintainya sampai hari ini. Ungkapkan padanya rasa cinta Anda setiap hari, meskipun lewat cara-cara yang sederhana.

2. Bicara Satu Sama Lain
Ketika Anda bersamanya, luangkan waktu untuk berbicara satu sama lain. Bertanya tentang hari yang dilalui pasangan pada malam hari adalah cara yang efektif. Mendengarkan cerita masing-masing tiap harinya adalah awal yang baik untuk seterusnya.

3. Cobalah Terlihat Selalu Seksi di Depannya
Menunjukkan keseksian Anda tiap hari pada pasangan tidak sama dengan melakukan seks, meskipun hal ini mungkin sulit dilakukan karena rutinitas yang padat.
Namun jangan sampai 24 jam dalam sehari atau 7 hari dalam seminggu terlewatkan begitu saja tanpa memberi kesan seksi pada pasangan. Cobalah membuat percakapan yang seksi dan menggoda melalui telefon jika terlalu sibuk atau tidak sempat bertemu.

4. Lakukan Aktivitas Di Tempat Terpisah
Buatlah kebiasaan yang memisahkan Anda satu sama lain. "Mengerjakan kegiatan secara terpisah dengan pasangan memberi kesempatan hal lain untuk mengisi hari Anda, yang mungkin tidak didapatkan dari pasangan," ujar terapis pasangan, Tina Tessina. Berbagi waktu dengan teman atau keluarga, melakukan hobi masing-masing dan hal-hal lainnya akan membuat Anda memiliki banyak hal yang dapat diceritakan pada pasangan, sehingga percakapan pun tidak akan buntu.

5. Berdoalah
Berbagi kehidupan spiritual bersama-sama dapat membuat Anda dan pasangan lebih dekat lagi. Berdasarkan survei yang dilakukan di University of Chicago, mereka yang sering berdoa dan melakukan ibadah bersama merasa lebih menghargai dan menghormati satu sama lain dan menilai pasangannya mempunyai keahlian menuntun.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Wed Sep 01, 2010 8:48 am

5 HAL PENTING DIKETAHUI SEBELUM MENIKAH
Minggu, 21 November 2010, 00:59 WIB
VIVAnews – Sebelum memutuskan menikah, Anda dan pasangan dianjurkan untuk mendiskusikan segala hal bersama. Cara ini bertujuan mengantisipasi kejadian-kejadian yang bisa mengguncang hubungan pernikahan di masa mendatang. Perkawinan merupakan kerja keras. Namun di sisi lain, perkawinan juga mampu membuat beban hidup menjadi lebih ringan. Karena itu, Anda dan pasangan harus mencapai kesepakatan tentang semua problem yang terjadi di masa pacaran. Konselor perkawinan, Varkha Chulani berbagi pengalaman untuk memecahkan semua permasalahan sebelum Anda mengatakan siap menikah, seperti dikutip dari Times of India.

Agama
Hal ini tidak hanya penting untuk membuat nyaman pasangan, tetapi juga untuk menjabarkan nilai-nilai yang akan Anda berdua aplikasikan dalam rumah tangga. Jika Anda belum yakin pada satu memilih agama, apakah Anda merasa nyaman dengan pasangan yang sangat religius? Jika begitu, bagaimana dengan pilihan agama buah hati? Hal ini menjadi lebih penting ketika keluarga ikut campur dalam hal latar belakang agama.

Kebiasaan belanja
Punya persamaan dalam hal gaya hidup dan cara membelanjakan uang juga penting didiskusikan. Menikahi seseorang yang terlalu pelit mengeluarkan uang rasanya bukan ide baik. Bayangkan ketika kalian menghabiskan liburan seminggu di Bali, sementara pasangan terus cemberut. Jadi, diskusikan soal ini. Ajukan berbagai pertanyaan, seperti bagaimana nanti membelanjakan uang, misalnya apakah akan ada kebiasaan makan di luar, liburan, dan sebagainya.

Uang
Apakah Anda berdua memilih membuka rekening bersama atau lebih suka mengelola uang masing-masing? Berapa persen dari penghasilan Anda untuk untuk biaya rumah tangga? Cari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. Uang, jika tidak ditangani hati-hati, bisa memicu konflik. Jadi, mendiskusikan hal ini secara rinci bisa menjadi jalan keluar.

Karier
Apakah pasangan Anda mendukung keinginan Anda untuk mengembangkan karier, seberapa jauh Anda mendorong karier suami Anda? Tidak semua pria bisa memahami wanita yang ingin mencapai puncak karier. Karena itu, beritahu pasangan seberapa penting karier bagi Anda. Diskusikan hal ini sampai masing-masing menerima. Jangan sampai kelak jadi persoalan.

Ruang privasi
Setiap hubungan memiliki batas-batas tertentu. Seberapa sering Anda mentoleransi kebiasaan suami? Misalnya, kumpul dengan teman-temannya setiap minggu. Tingkah laku dan kebiasaan pasangan bisa berdampak pada hubungan. Jika ada sesuatu yang Anda harapkan secara khusus dari dia, bicarakanlah sekarang. (pet)


Last edited by gitahafas on Thu Feb 03, 2011 9:01 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Wed Sep 01, 2010 8:50 am

BAHAYA HUBUNGAN PUTUS SAMBUNG
Selasa, 24 Agustus 2010, 04:51 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Mutia Nugraheni
VIVAnews - Banyak orang menganggap putus-sambung dalam hubungan adalah hal biasa. Padahal, itu bisa menjadi pertanda bahwa hubungan rawan konflik dan memiliki risiko kekerasan. Lewat suatu penelitian, Profesor Rene Dailey dari University of Texas mengungkap, lebih dari 60 persen pria dan wanita telah melalui hubungan putus-sambung. Sekitar 40 persennya sedang mengalaminya dengan pasangan yang sama. Hasil penelitian menunjukkan, pasangan yang sering putus-sambung cenderung memiliki konflik tak berkesudahan, hubungan penuh kritik pedas, serangan verbal dan komunikasi yang agresif. Dibandingkan dengan dibandingkan pasangan yang tidak pernah mengalami putus-sambung, tingkat keraguan, dan risiko depresi juga lebih tinggi.

“Putus-sambung seperti kemenangan dari sebuah harapan. Orang tidak mudah menyerah ketika menghadapi masalah dalam hubungan. Seringkali mereka merasa ada investasi besar yang dipertaruhkan, dan merasa 'aku sudah mempertahankannya bertahun-tahun, aku mungkin bisa melihat usaha ini akan berakhir baik'," kata Dr. Helen McGrath, psikolog dari Deakin University. Hal itu ditambah perasaan tidak nyaman ketika yang biasanya memiliki status berpasangan dan kini menjadi lajang. Agar Anda tidak terjebak dalam kebiasaan putus-sambung dalam hubungan, pertimbangkan beberapa hal penting.

Mengalami sekali periode putus lalu kembali menjalin hubungan dengan mantan pasangan, mungkin tidak masalah. Itu seperti keberhasilan Anda dan pasangan 'bernegosiasi'. Tetapi jika dilakukan lebih dari tiga kali, tampaknya hubungan mulai tidak sehat. Itu pertanda Anda dan dia tidak bisa menyelesaikan masalah secara tuntas. Konflik pun menjadi berulang dan berkepanjangan.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Wed Sep 01, 2010 8:51 am

PERPISAHAN TAK SELAMANYA BURUK
Sabtu, 21 Agustus 2010, 13:27 WIB Finalia Kodrati, Lutfi Dwi Puji Astuti
VIVAnews - Cekcok dalam suatu hubungan adalah hal yang wajar. Namun, jika hubungan yang dijalankan selalu menyakitkan hati, berpisah bukanlah solusi yang buruk. Tak ada salahnya juga untuk segera diakhiri. Meski proses pemulihan butuh waktu lama, namun bukan berarti Anda harus terus-menerus murung meratapi perpisahan yang sudah terjadi. Anda perlu tahu cara untuk terus maju dari suatu hubungan yang buruk. Seperti dikutip dari laman www.methodsofhealing.com, berikut tips yang bisa Anda ikuti:

Hindari Hubungan Baru
Anda perlu waktu untuk menyembuhkan luka dan dengan menunggu, Anda dapat lakukan sendiri penataan hidup baru. Dalam kebanyakan kasus, jika Anda segera melompat ke dalam suatu hubungan yang baru, belum tentu hubungan tersebut akan awet dan tahan lama. Rata-rata hubungan yang dijalin kembali sesaat setelah mengakhiri hubungan buruk, mereka hanya akan bertahan singkat. Bahkan jika Anda jatuh di lubang yang sama, waktu pemulihan akan menjadi lebih lama. Anda juga harus mempertimbangkan berapa banyak orang yang akan Anda sakiti dalam hubungan baru jika nantinya tidak ada kecocokan antara Anda dan Dia. Untuk itu, jadikan pengalaman sebagai pelajaran berharga.

Dapatkan Dukungan dari Teman dan Keluarga
Saat Anda butuh waktu untuk sendiri, di saat seperti ini, Anda mungkin harus mengelilingi diri Anda dengan orang-orang yang benar-benar mencintai Anda. Dapatkan dukungan dari teman-teman Anda dan anggota keluarga terdekat. Dukungan dari mereka bisa memberikan semangat untuk memulihkan kepercayaan diri Anda.

Introspeksi diri
Anda harus melihat kesalahan yang Anda buat , terlepas dari kesalahan yang dibuat orang lain. Tergantung pada berapa lama hubungan itu, dan berapa banyak kerusakan yang terjadi pada Anda secara emosional dan mental, Anda juga perlu mengambil waktu untuk mengenal diri sendiri lagi. Anda perlu mencari sisi positif dari suatu perpisahan, lebih bagus lagi jika perpisahan tersebut bisa membuat Anda merasa lebih dewasa dan melakukan perubahan yang lebih baik. Sehingga, saat bergerak kedepan dan memulai kembali hubungan baru, tidak akan ada pengulangan kesalahan yang sama.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Wed Sep 01, 2010 8:53 am

CARA TERBAIK UNTUK PUTUS HUBUNGAN
Selasa, 24 Agustus 2010, 17:57 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Mutia Nugraheni
VIVAnews - Anda ingin mengakhiri hubungan asmara yang selama ini dijalani? Memutuskan hubungan memang bukan pekerjaan mudah. Pasti akan muncul perasaan bersalah, kecewa dan sedih. Itu tak terhindarkan. Agar keadaan tidak memanas, sebaiknya jangan lakukan hal berikut saat memutuskan hubungan.

Berada di tempat umum
Pilih tempat bertemu di mana Anda dan dia memiliki privasi maksimal. Jangan melakukannya di tempat umum. Jika terjadi pertengkaran Anda tentu tidak ingin menjadi tontonan, kan?

Memilih tempat favorit
Saat putus, hal-hal buruk bisa terjadi. Sebaiknya, pilih tempat baru. Hindari tempat favorit yang biasa Anda dan dia datangi, yang memungkinkan para pelayan bisa mengenali kalian. Ini untuk menghindari perasaan tidak enak jika Anda datang kembali tempat tersebut pascaputus.

Hargai dia
Jangan memutuskan hubungan sambil melakukan hal lain, seperti sambil makan atau memilih menu. Hargai dia, meskipun Anda tidak lagi menyukainya. Katakan dengan tegas kalau Anda ingin memutuskan hubungan. Ingatlah, bagaimanapun dia pernah jadi bagian hidup Anda, jadi hargai dia.

Memutuskan lewat telepon, sms, atau email
Orang yang tidak berani atau tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara langsung akan memanfaatkan teknologi untuk memutuskan hubungan. Seperti lewat telepon, sms ataupun email. Jika Anda merasa sudah cukup dewasa, jangan lakukan hal itu. Akhirilah hubungan dengannya secara baik seperti ketika memulai hubungan. Jangan jadi pengecut! (pet)
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Wed Sep 01, 2010 11:39 am

KONSELING UNTUK MENGATASI KONFLIK PERNIKAHAN
Selasa, 24/8/2010 | 15:27 WIB
KOMPAS.com - Konflik dalam pernikahan bisa diatasi dengan bantuan konseling, asalkan kedua pasangan menyepakatinya. Jika pasangan menikah memutuskan mencari bantuan konseling, ini menunjukkan adanya keinginan kuat untuk tetap menjaga komitmen hubungan pernikahan. Namun apa pentingnya konseling dalam mengatasi konflik pernikahan? Tidakkah curhat pada keluarga saja cukup?

Objektivitas
Terapis atau profesional yang menjadi mediator bagi pasangan menikah, bisa mengurangi intimidasi pada pasangan yang sedang berkonfrontasi. Dengan kehadiran konselor, pasangan bisa saling mengekspresikan perasaannya tanpa adanya interupsi dari suami dan atau istri. Peran terapis adalah mengevaluasi sikap dari setiap individu dengan lebih obyektif. Sebagai profesional di bidangnya, terapis dan atau konselor juga akan memberikan saran yang lebih konstruktif kepada pasangan dalam menghadapi konflik pernikahan.

Menggali sumber konflik
Tugas utama terapis adalah menunjukkan masalah utama dalam konflik pernikahan. Baik suami atau istri yang terlibat konflik pernikahan kadang memiliki persepsi berbeda, bahkan dalam melihat sumber masalah. Dengan bantuan terapis, setiap individu bisa melewati tahapan evaluasi personal sebelum dipertemukan dalam satu sesi konseling. Artinya konselor bisa memiliki kesempatan untuk mengevaluasi bagaimana setiap individu melihat masalah atau konflik yang terjadi. Alhasil, konselor mendapatkan formulasi yang tepat untuk mengatasi masalah yang sebenarnya dan menyarankan program terapi yang sesuai.

Meningkatkan komunikasi
Membangun komunikasi akan meningkatkan berbagai aspek kehidupan pernikahan. Konselor fungsinya adalah juga memfasilitasi pasangan agar bisa saling menyampaikan perasaan lebih efektif, terutama yang terkait dengan isu yang menimbulkan ketidaksepahaman. Dengan konseling, pasangan yang menghadapi konflik bisa lebih membuka wawasan berpikirnya sehingga bisa melihat dasar masalah pernikahan lebih jernih. Melalui konseling dengan pakar, pasangan juga berkesempatan untuk membangun interaksi yang lebih konstruktif.

Mencapai kesepahaman
Keputusan untuk mendatangi konseling pernikahan membutuhkan kesadaran bersama dan niat untuk memupuk kembali hubungan. Konsekuensinya, agar terapi bisa berhasil, masing-masing individu harus mau dan bisa menerima perubahan pada pasangan yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi saling menerima dan mengerti satu sama lain. Memahami bahwa suami maupun istri memiliki keinginan dan harapan yang sifatnya individual, menjadi awal yang penting untuk mewujudkan sikap saling menghargai. Pernikahan yang sehat, bagaimanapun juga, membutuhkan sikap saling jujur, percaya, menghargai, dan menyetarakan.

Belajar menemukan resolusi dari konflik
Konseling pernikahan memang bertujuan untuk memfasilitasi pasangan agar mampu membangun komunikasi dan kemampuan untuk saling memberdayakan sebagai pasangan. Harapannya, kelak pasangan bisa menyelesaikan masalah yang muncul kembali dalam pernikahan. Terapi dan metode yang didapat pasangan menikah dari konseling adalah membantu setiap individu untuk mengembangkan pola interaksi yang saling membangun. Melalui komunikasi dan sikap yang saling mengapresiasi pasangan, suami dan istri bisa tumbuh dalam intimasi yang lebih kuat dan pernikahan yang lebih sehat.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Wed Sep 01, 2010 11:41 am

4 CARA MEMPERBAIKI HUBUNGAN
Jumat, 27/8/2010 | 14:18 WIB
KOMPAS.com — Saat sedang marah, frustrasi, tersakiti dengan sikap atau perkataan pasangan, ada dua hal yang bisa Anda lakukan, menghadapi atau menghindar.
Bagaimanapun, dalam hubungan berpasangan, konflik sebaiknya diatasi dan bukan dihindari. Kalaupun kondisi hubungan sudah semakin buruk, masih ada jalan untuk memperbaikinya. John Gottman, PhD, profesor bidang psikologi dari University of Washington dan penulis Nan Silver, menuliskan bahwa pasangan menikah dengan hubungan yang sehat akan memilih kata dan sikap yang tepat saat terlibat perdebatan. Tujuannya mencegah terjadinya hal negatif dengan hilangnya kontrol pada suami dan istri. Ada empat cara yang bisa diterapkan untuk memperbaiki situasi yang tak nyaman dalam hubungan pernikahan Anda:

1. Membangun komunikasi yang terbuka
Terbukalah mengungkapkan perasaan dan atau pendapat Anda. Jika terjebak dalam perselisihan, setiap individu memiliki hak bicara dan mengungkapkan pendapatnya. Minta kesempatan kepada pasangan untuk mendengarkan Anda, begitu pun sebaliknya. Jika pasangan terlalu mendominasi, katakan bahwa kini saatnya Anda untuk bicara. Fokuslah pada masalah, dan arahkan kembali pasangan pada topik masalah dan bukannya mengungkit masalah lain yang tak ada hubungannya. Katakan juga dengan terbuka bahwa apa yang dikatakan pasangan saat pertengkaran terjadi telah melukai perasaan Anda. Baik Anda maupun pasangan takkan menyadari sejauh mana perkataan maupun sikap melukai harga diri, selama emosi masih menguasai. Jadi jangan diam, sebaiknya utarakan jika memang pasangan sudah melampaui batas.

2. Lakukan spontan, jangan memendam
Setiap individu memiliki tipe yang berbeda dalam menghadapi masalah. Ada yang langsung merespons saat percekcokan berlangsung, atau menunggunya hingga mereda dan membicarakannya di kemudian hari.

Gottman mengatakan, sebaiknya berikan komentar Anda atas masalah yang terjadi saat itu juga. Pendapat, perasaan, ataupun pikiran Anda patut didengar dan harus disampaikan.

3. Jika Anda tetap mencintai pasangan, sampaikan hal ini
Selalu ingatkan pasangan bahwa Anda masih mencintainya, meski konflik masih terjadi. Hm... boleh jadi tak semua pasangan bisa mengalahkan emosi dan ego, namun cara ini patut dicoba. Kembalikan pada tujuan awal untuk memperbaiki hubungan. Apa pun akan Anda dan pasangan lakukan demi hubungan pernikahan yang lebih sehat, bukan?

4. Pilih frase "Ya, aku ngerti kok", "Oke, teruskan" atau "Hm..." untuk merespons pasangan
Kata-kata inilah yang menyehatkan hubungan pasangan menikah saat terlibat pembicaraan serius atau bahkan perdebatan. Mengungkapkan kata atau kalimat yang tepat memberikan efek psikologis kepada pasangan. Prinsipnya, Anda dan pasangan perlu melatih kemampuan mendengarkan dan memahami bagaimana perasaan pasangan jika ingin hubungan pernikahan lebih baik dan lebih sehat lagi.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Sun Sep 05, 2010 11:23 am

BERTAHAN DALAM HUBUNGAN TANPA CINTA
Jum'at, 3 September 2010, 05:47 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Lutfi Dwi Puji Astuti
VIVAnews - Ada wanita yang mengalami tekanan batin dalam sebuah hubungan. Ada juga yang kekasihnya mendua. Bahkan, ada yang menjadi korban penganiayaan oleh pasangannya. Tapi, mengapa banyak dari mereka yang masih rela mempertahankan hubungan dalam kondisi tragis semacam itu? Seperti dikutip dari allwomenstalk.com, delapan alasan ini mungkin yang mendasari banyak orang rela bertahan dalam hubungan tanpa cinta.

1. Tidak bisa lepas
Kondisi ini seringkali dialami mereka yang mengalami hubungan putus-sambung. Meski pernah merasa sakit hati yang begitu menyayat, namun akhirnya mudah rujuk dan memaafkan. Terkadang, hubungan ini dapat memiliki hasil yang baik, tapi banyak pula yang berakhir menyedihkan.

2. Takut Ditinggalkan
Sejumlah orang merasa takut berpisah karena memiliki pengalaman atau aib bersama. Mereka takut apakah setelah putus, si dia akan membeberkan semua kejelekan atau perilaku buruk yang pernah dilakukan bersama.

3. Dia terlalu memesona
Wajah tampan memang melenakan. Memiliki pasangan rupawan terkadang menjadi kebanggaan tersendiri dan menambah percaya diri. Banyak orang takut putus karena khawatir tak akan mendapat pengganti setampan itu. Meski hubungan diwarnai kasus-kasus menyakitkan yang 'memakan hati', banyak orang rela bertahan di dalamnya.

4. Alasan sosial
Beberapa wanita tinggal dalam hubungan yang menyakitkan karena alasan sosial. Ini seringkali terjadi ketika pasangan itu teman berbagi yang sama. Mereka merasa bahwa jika mereka mengakhiri hubungan mereka, mereka harus mendapatkan teman baru.

5. Takut stres
Wanita itu tidak bisa keluar dari hubungan itu karena dia takut apa yang akan terjadi jika dia pergi. Banyak yang terpancing imajinasi dalam film-film, di mana banyak orang patah hati sulit mengendalikan emosinya dan akhirnya celaka.

6. Tak ada tempat bersandar
Wanita tidak memiliki tempat untuk pergi dan mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka tidak punya rumah dan tidak tahu ke mana harus berpaling. Selalu ada tempat penampungan untuk wanita yang dipukuli dan disiksa yang dapat Anda jadikan sebagai tempat berlindung.

7. Wanita mudah merasa salah
Dari waktu ke waktu, wanita berpikir bahwa mereka menyebabkan masalah. Mereka pikir alasan suami atau pacar mereka berselingkuh adalah karena mereka tidak menghabiskan cukup waktu dengan keluarga ataupun sang pacar, atau bisa juga tak becus mengurus keluarga. Oleh karena itu, banyak wanita mengakui kesalahannya dalam setiap hubungan.

8. Anak
Kita semua tahu bahwa salah satu alasan utama wanita tetap bertahan dalam hubungan jika ada rasa sakit adalah karena anak. Mereka umumnya tidak ingin anak-anak mereka menjadi korban perceraian. Dan perlu hati-hati saat memutuskan perceraian, karena cerai bisa membuat trauma pada anak-anak.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Sun Sep 05, 2010 11:25 am

5 ATURAN BERTENGKAR DENGAN PASANGAN
Sabtu, 4 September 2010, 09:25 WIB Petti Lubis, Mutia Nugraheni
VIVAnews - Bertengkar dan adu argumen dengan pasangan pasti sering terjadi. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa pertengkaran, secara umum, lebih baik dibandingkan Anda memendam rasa amarah. Tentu saja, tidak semua pertengkaran membawa efek positif. Hal itu sangat tergantung dari bagaimana Anda dan pasangan menjaga agar pertengkaran tetap sehat. Dengan tidak membiarkan amarah meledak-ledak tanpa makna dan arah yang jelas. Agar pertengkaran memberikan efek positif sehingga membuat hubungan makin berkualitas, ada lima aturan mainnya, dari laman The Stir.

1. Giliran
Ada kalanya Anda dan pasangan harus mengungkapkan isi pikiran tanpa hambatan atau interupsi. Pertengkaran ini seperti "tadi giliranmu, sekarang giliranku". Biarkan pasangan berbicara sampai selesai, jangan menghentikannya dengan sanggahan. Setelah ia selesai bicara, baru Anda yang bicara. Ini memberikan kesempatan yang sama pada Anda dan pasangan untuk mengungkapkan perasaan atau sudut pandang terhadap suatu hal.

2. Menggambarkan perasaan
Saat bertengkar fokuslah pada apa yang Anda rasakan. Misalnya, "aku merasa sangat sedih saat kamu...". Jika Anda menebak perasaannya kemudian memojokkan, justru pertengkaran semakin buruk. Jangan bilang, bagaimana seseorang membuat Anda merasa bersalah atau apa yang mereka lakukan salah. Sebaiknya fokus pada menggambarkan perasaan Anda pada sikapnya. Dengan begitu pasangan tahu bagaimana sedihnya Anda atas sikapnya.

3. Fokus
Saat bertengkar karena telat, fokuslah membahas penyebab dan solusinya. Jangan merembet mengungkit masalah lain, seperti sikap ibu mertua atau dia yang sering berkumpul dengan teman-temannya. Selesaikan masalah satu persatu, mengungkit masalah lama hanya akan membuat pertengkaran semakin hebat dan masalah tidak terselesaikan.

4. Tetap ungkapkan rasa sayang
Saat marah pada pasangan, jangan biarkan ia merasa Anda sudah tak lagi menyayanginya. Katakan saja "Aku sayang kamu, jadi bisa kan kasih kabar kalau pulang terlmabat, karena aku panik". Anda bisa sedikit berteriak atau mungkin menyumpahinya tapi jangan sampai keluar kata "aku benci kamu", apalagi "pisah sepertinya lebih baik".

5. Istirahat
Jika Anda sedang lelah untuk bertengkar, mintalah waktu padanya untuk menenangkan diri sejenak. Setelah satu jam, bicaralah lagi padanya. Cara ini biasanya sedikit akan meredakan emosi.
• VIVAnews
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Sun Sep 05, 2010 11:27 am

JANGAN TEROBSESI MILIKI SI DIA
Rabu, 1 September 2010, 15:30 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Mutia Nugraheni
VIVAnews - Skala cinta dalam sebuah hubungan asmara tidak selalu seimbang. Sering kali, seseorang merasa lebih 'jatuh cinta' daripada apa yang telihat. Ini sebenarnya tidak masalah, asal jangan terus-menerus menjadikan dia sebagai fokus obsesi. Menurut Jennifer Oikle, Ph.D., seorang psikolog, mengatakan hubungan asmara yang awet mengharuskan masing-masing mitra pasangan cukup stabil dan level cintanya merata. Jika Anda merasa terlalu berharap, terobsesi atau terlalu menggantungkan diri pada kekasih saat ini, cobalah untuk membuat hubungan yang lebih santai. Berikut empat caranya, seperti dikutip dari www.galtime.com

1. Berikan hati secara bertahap
Jangan langsung memberikan keseluruhan pikiran dan hati Anda padanya. Berikanlah secara bertahap, jatuh cinta itu membutuhkan proses. Pastikan Anda benar-benar mencintai dia sebagai seorang pribadi, bukan ide-idenya atau euforia yang diberikan olehnya.

2. Batasi pikiran tentang dia
Batasi ruang mental Anda untuk tidak memikirkan dia sepanjang waktu. Ini bisa menciptakan kebiasaan dan bukan tidak mungkin menjadi obsesi. Hal itu justru membuat hubungan tidak berjalan lancar.

3. Nikmati proses
Saat baru memulai hubungan jangan langsung membayangkan atau rencana muluk masa depan. Nikmati saja tiap proses peningkatan hubungan, Anda pun akan merasa kegembiraan tanpa beban rencana masa depan. Memang tidak ada salahnya bermimpi tapi jangan sampai jadi obesesi yang justru membuat hubungan yang sedang berjalan menjadi beban.

4. Tetap aktif dalam pergaulan
Setelah memiliki kekasih, jangan langsung mengurangi atau mundur dari pergaulan. Tetaplah lakukan aktivitas seperti ketika masih melajang. Berkumpul dengan teman-teman, melakukan hobi atau jalan-jalan tanpa mengajak dirinya. Tiap orang membutuhkan keseimbangan. Sediakan waktu untuk diri sendiri, jangan sampai hidup Anda selalu bergantung pada dirinya. (adi)
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Wed Sep 15, 2010 2:33 pm

CIRI CIRI PERNIKAHAN TIDAK SEHAT
Kamis, 23/12/2010 | 17:55 WIB
KOMPAS.com - Dalam sebuah studi pada tahun 2005, ditemukan bahwa dalam sebuah pernikah yang tak memuaskan kedua belah pihak, bisa meningkatkan level stres dan memperburuk kesehatan salah satu atau kedua pihak, bahkan bisa menyebabkan penyakit jantung. Meski begitu, tidak menjadikan sebuah kepastian bahwa pernikahan yang buruk akan membuat seseorang sakit, atau pernikahan yang bahagia akan bikin seseorang sehat. Tetapi satu hal yang pasti, pernikahan yang hubungan suami istrinya buruk, tidak akan berdampak baik.

Menurut Sharon Rivkin, MA, MFT, terapis pernikahan dan keluarga dari California, dalam pernikahan yang tidak bahagia, jangan kesampingkan beban tekanan yang terasa dan dibawa ke mana-mana. Menurutnya, jika hubungan pernikahan sehari-hari berjalan masam, tanpa banyak bicara, stres, banyak pertengkaran, atau justru saling diam, maka Anda membahayakan kesehatan Anda sendiri. Contoh, jika salah seorang pasangan merasa kekurangan empati atau salah seorang pasangan mengasari yang lainnya, hubungan itu berisiko tidak akan lanjut. Namun, Rivkin mengatakan, selalu ada kesempatan untuk memperbaiki jika keduanya mau berusaha.

Berikut adalah 5 tipe kebiasaan dalam pernikahan yang tidak sehat:
Dipendam
Setiap pasangan pasti akan mengalami tantangan dan hambatan. Namun, jika tantangan tersebut tidak dibicarakan dan dihadapi bersama, ketegangan tersebut hanya akan menjadi jarak di antara pasangan dan membuat jarak di antara keduanya. Heitler, pengarang The Power of Two: Secrets of a Strong & Loving Marriage mengatakan, mereka yang tumbuh dalam keluarga dengan komunikasi bagus dan terbuka membicarakan permasalahannya akan dengan alami membuka diri dan kooperatif. Namun, sayangnya, menurut Heitler, tak semua orang belajar tentang keterbukaan sejak kecil. Kebanyakan orang tidak terbiasa membicarakan hal-hal sensitif dan cenderung memendamnya. Untuk mengatasinya, disarankan untuk memperbaiki keahlian berbicara. Caranya, bisa dengan memperbanyak pengetahuan mengenai cara berkomunikasi, mengikuti konseling pernikahan, mencoba mencari pengetahuan seputar pernikahan.

Tak ada yang mau jadi pendengar
"Manusia diberikan 2 telinga dan 1 mulut. Fungsinya, untuk lebih banyak mendengar," begitu nasihat para orangtua. Sudah jelas, semua orang pasti ingin didengarkan dan dimengerti. Percaya atau tidak, meski kita berada dekat dengan pasangan yang sedang berbicara kepada kita, tak selamanya kita mendengarkan sepenuh hati. Kadang pikiran kita melayang ke mana dan kita tak memahami si dia sepenuhnya, apalagi saat bahasa tubuh kita tidak memberi sikap sedang mendengarkan.

Menurut Rivkin, ketika seseorang tak merasa didengarkan, ia akan sulit untuk membagi rahasia terdalamnya kepada siapa pun, karena mereka tak ingin merasa rentan. Namun, ketika seseorang merasa didengarkan, percakapan pun akan makin mendalam. Jika Anda dan si dia masih mau mencoba mengatasi masalah ini, cobalah untuk sama-sama setuju dengan pasangan agar bergantian mendengarkan satu sama lain selama 3-5 menit tanpa menyelak. Begitu Anda dengan sungguh-sungguh mendengarkan, Anda pun akan lebih bisa melihat dari sudut pandang pasangan.

Saling menyalahkan
Jika hubungan pernikahan yang tak bahagia memiliki argumen yang tak terselesaikan, maka penyalurannya cenderung keluar dalam bentuk saling menyalahkan ketimbang masing-masing mengambil tanggung jawab atas tindakan yang mereka lakukan, jelas Rivkin. Seperti kita ketahui, menyalahkan orang lain saja tak akan menyelesaikan masalah.

Cobalah untuk menelan sedikit rasa gengsi, pelankan nada suara, bicara dengan baik-baik, jangan menyalahkan, dan fokus kepada solusi. Cobalah melihat isu yang sebenarnya sedang dipertikaikan. Misal, pusat permasalahan sebenarnya mungkin saja merupakan hasil dari perasaan tidak dicintai, tidak didengarkan, atau tidak diapresiasi. Jika Anda dan dia merasa mengalami masalah dalam mencari pokok permasalahan, tanyakan pada diri Anda, apakah pertengkaran yang sedang terjadi mengingatkan Anda akan pertengkaran sebelumnya? Begitu menemukan intinya, akan lebih mudah bagi Anda untuk memperbaiki masalah dalam hubungan Anda. Begitu ditemukan pola permasalahannya, lebih mudah untuk mengubah perilaku Anda.

Menyia-nyiakan pasangan
Menurut Rivkin, salah satu permasalahan tersering yang dialami oleh pasangan adalah menyia-nyiakan hadirnya pasangan, yang kemudian berkembang menjadi kekurangsensitivan akan kebutuhan si pasangan. Bisa jadi, Anda tak lagi menyapa si dia begitu ia tiba di rumah sehabis seharian bekerja. Mungkin juga ia tak lagi mengapresiasi usaha Anda yang bersusah payah memasakkannya makanan kesukaan dia.

Perlu diingat selalu, manusia butuh apresiasi dan afeksi. Tanpa kedua hal itu, kita akan merasa kesepian, tak dihargai, dan diabaikan. Untuk mencoba memperbaikinya, cobalah berikan apresiasi kepada pasangan dengan membelikannya sebuah hadiah, usapan di punggung, ucapan terima kasih sungguh-sungguh, serta berinvestasi dengan menyiapkan waktu khusus, seperti malam kencan, dan lainnya. Meski Anda sedang merasa kesal atau tak ingin, tetapi begitu ia melakukan sesuatu hal yang baik, tetap lakukan dan tunjukkan apresiasi Anda kepadanya. Tumbuhkan keintiman yang pernah merekah di awal masa pacaran dengan melihat hal-hal yang paling Anda kagumi serta sukai dari si dia. Jika memungkinkan, ingatkan dia akan kesukaan Anda itu saat suasana sedang tenang, lalu ungkapkan apa-apa saja tentang dirinya dan perilakunya yang kurang berkenan pada Anda, dan Anda ingin membuat hubungan ini berhasil, tanyakan padanya apa yang mungkin dilakukan untuk memperbaikinya.

Putus asa terlalu cepat
Jangan ragu-ragu untuk meminta bantuan, terutama jika Anda sudah berusaha tetapi tetap saja gagal memperbaiki pernikahan Anda. Jangan mengharap si dia akan dengan serta merta akan meleleh begitu Anda utarakan maksud untuk memperbaiki hubungan. Berikan waktu setidaknya 3 bulan agar terapis Anda bisa membantu pernikahan Anda atau menggunakan nasihat dari buku untuk membantu pernikahan Anda. Perubahan mungkin akan terjadi secara perlahan, tetapi jangan takut untuk menjalani langkah-langkah kecil. Satu perubahan kecil saja bisa jadi titik tolak yang baik untuk mengubah pola yang sudah berantakan menjadi lebih baik.


Last edited by gitahafas on Thu Feb 03, 2011 9:22 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Thu Sep 23, 2010 8:33 am

CARA AMPUH ATASI STRES PERKAWINAN
Minggu, 5 Desember 2010, 11:02 WIB Finalia Kodrati, Lutfi Dwi Puji Astuti
VIVAnews - Perselisihan dalam perkawinan adalah hal yang wajar. Anda dan pasangan pun bisa mengalaminya. Namun, saat menghadapi masalah dalam rumah tangga, jangan gegabah mengucap kata cerai. Berpisah sementara mungkin bisa menjadi salah satu cara menyelesaikan perselisihan antara Anda dengan pasangan. Bahkan cara ini bisa mengatasi stres perkawinan yang banyak dialami pasangan suami istri. Psikolog klinis Salma Prabhu mengatakan berpisah sementara dengan pasangan bisa menjadi cara introspeksi diri bagi masing-masing pasangan. Tetapi Anda perlu tahu, kapan waktu yang tepat untuk berpisah sementara agar hubungan bisa kembali harmonis. Seperti dikutip dari laman Times of India, Salma menyatakan bahwa memutuskan untuk berpisah sementara juga perlu diperhitungkan waktunya. Tapi Anda juga perlu tahu kekurangan dan kelebihan dari perpisahan sementara yang Anda putuskan, karena jika perpisahan ini tidak membawa keuntungan, bisa jadi malah memicu terjadinya perceraian. Berikut tips berpisah sementara dari Salma untuk mengatasi stres perkawinan:

1. Bila Anda selalu mengalami pertengkaran yang terus-menerus, sudah saatnya Anda memutuskan untuk menjauh dari pasangan sementara waktu. “ Jika ada perasaan tak seiring sejalan atau merasa terjebak dan terperangkap, berpisah sementara bisa menjadi gencatan senjata," ucapnya.

2. Manfaat berpisah sementara terkadang bisa menyalakan kembali percikan cinta yang telah padam. Berpisah bisa menjadi pelajaran berharga untuk saling menghargai kekurangan dan kelebihan dari masing-masing pribadi

3. Hati-hati jika salah satu pasangan memiliki pemikiran bahwa sendiri lebih baik daripada bersama. Dan perlu diingat bahwa keputusan berpisah sementara harus disepakati atas keputusan bersama.

Namun jika tak ingin memilih jalan berpisah sementara , berikut cara untuk mengatasinya:
- Jaga komunikasi terbuka.
- Jangan membuat tuntutan tak henti-hentinya pada pasangan untuk 'kembali'.
- Setuju untuk bertemu pada festival atau pada hari-hari yang penting bagi anak-anak, seperti perayaan ulangtahun
- Lakukan sesuatu bersama-sama, jangan egois mementingkan kepentingan pribadi masing-masing
- Hindari pertengkaran dengan mencari cari hobi yang menyenangkan
- Menjalani konseling perkawinan dengan profesional yang tidak memihak.

• VIVAnews


Last edited by gitahafas on Thu Feb 03, 2011 9:03 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Fri Sep 24, 2010 5:50 am

10 TANDA PERKAWINAN DIAMBANG KEHANCURAN
Kamis, 23 September 2010, 15:08 WIB Petti Lubis, Lutfi Dwi Puji Astuti
VIVAnews - Tak ada pasangan suami istri menginginkan perkawinan yang berujung perceraian. Namun, ketika suatu pernikahan selalu diwarnai konflik, hal ini juga bisa membuat hubungan di ujung tanduk. Membiarkan konflik berlarut-larut dalam pernikahan memang bisa menjadi biang masalah yang mengakibatkan perceraian. Waspadai beberapa keadaan yang mengancam nasib pernikahan, seperti dikutip dari GeniusBeauty:

1. Kurangnya spontanitas Anda dan pasangan
2. Tidak menginginkan kebersamaan
3. Kurang perhatian pada pasangan
4. Tidak ada waktu untuk diskusi bersama
5. Tidak lagi merencanakan masa depan
6. Kehilangan kepercayaan pasangan
7. Terjadi perselingkuhan
8. Tidak lagi saling menghormati
9. Penurunan gairah bercinta
10. Tidak puas secara seksual

Bila kehidupan pernikahan Anda dan pasangan mengalami beberapa gejala di atas, mulailah membangun komunikasi yang menjadi masalah dalam hubungan.
Jika tak mampu memecahkannya sendiri, bantuan dari orangtua atau orang yang kalian dipercaya bisa memberi solusi. Jika perlu, berkonsultasi dengan konsultan pernikahan sebelum memutuskan perceraian sebagai jalan keluar.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Fri Sep 24, 2010 6:14 am

KONSELING UNTUK MENGATASI KONFLIK PERNIKAHAN
Selasa, 24/8/2010 | 15:27 WIB
KOMPAS.com - Konflik dalam pernikahan bisa diatasi dengan bantuan konseling, asalkan kedua pasangan menyepakatinya. Jika pasangan menikah memutuskan mencari bantuan konseling, ini menunjukkan adanya keinginan kuat untuk tetap menjaga komitmen hubungan pernikahan. Namun apa pentingnya konseling dalam mengatasi konflik pernikahan? Tidakkah curhat pada keluarga saja cukup?

Objektivitas
Terapis atau profesional yang menjadi mediator bagi pasangan menikah, bisa mengurangi intimidasi pada pasangan yang sedang berkonfrontasi. Dengan kehadiran konselor, pasangan bisa saling mengekspresikan perasaannya tanpa adanya interupsi dari suami dan atau istri. Peran terapis adalah mengevaluasi sikap dari setiap individu dengan lebih obyektif. Sebagai profesional di bidangnya, terapis dan atau konselor juga akan memberikan saran yang lebih konstruktif kepada pasangan dalam menghadapi konflik pernikahan.

Menggali sumber konflik
Tugas utama terapis adalah menunjukkan masalah utama dalam konflik pernikahan. Baik suami atau istri yang terlibat konflik pernikahan kadang memiliki persepsi berbeda, bahkan dalam melihat sumber masalah. Dengan bantuan terapis, setiap individu bisa melewati tahapan evaluasi personal sebelum dipertemukan dalam satu sesi konseling. Artinya konselor bisa memiliki kesempatan untuk mengevaluasi bagaimana setiap individu melihat masalah atau konflik yang terjadi. Alhasil, konselor mendapatkan formulasi yang tepat untuk mengatasi masalah yang sebenarnya dan menyarankan program terapi yang sesuai.

Meningkatkan komunikasi
Membangun komunikasi akan meningkatkan berbagai aspek kehidupan pernikahan. Konselor fungsinya adalah juga memfasilitasi pasangan agar bisa saling menyampaikan perasaan lebih efektif, terutama yang terkait dengan isu yang menimbulkan ketidaksepahaman. Dengan konseling, pasangan yang menghadapi konflik bisa lebih membuka wawasan berpikirnya sehingga bisa melihat dasar masalah pernikahan lebih jernih. Melalui konseling dengan pakar, pasangan juga berkesempatan untuk membangun interaksi yang lebih konstruktif.

Mencapai kesepahaman
Keputusan untuk mendatangi konseling pernikahan membutuhkan kesadaran bersama dan niat untuk memupuk kembali hubungan. Konsekuensinya, agar terapi bisa berhasil, masing-masing individu harus mau dan bisa menerima perubahan pada pasangan yang dibutuhkan untuk mencapai kondisi saling menerima dan mengerti satu sama lain. Memahami bahwa suami maupun istri memiliki keinginan dan harapan yang sifatnya individual, menjadi awal yang penting untuk mewujudkan sikap saling menghargai. Pernikahan yang sehat, bagaimanapun juga, membutuhkan sikap saling jujur, percaya, menghargai, dan menyetarakan.

Belajar menemukan resolusi dari konflik
Konseling pernikahan memang bertujuan untuk memfasilitasi pasangan agar mampu membangun komunikasi dan kemampuan untuk saling memberdayakan sebagai pasangan. Harapannya, kelak pasangan bisa menyelesaikan masalah yang muncul kembali dalam pernikahan. Terapi dan metode yang didapat pasangan menikah dari konseling adalah membantu setiap individu untuk mengembangkan pola interaksi yang saling membangun. Melalui komunikasi dan sikap yang saling mengapresiasi pasangan, suami dan istri bisa tumbuh dalam intimasi yang lebih kuat dan pernikahan yang lebih sehat.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12094
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Seks   Thu Sep 30, 2010 7:26 pm

CINTA SAJA TAK CUKUP DALAM PERKAWINAN
Jumat, 30/10/2009 18:02 WIB Nurul Ulfah - detikHealth
Sydney, Pepatah orangtua yang mengatakan cinta saja tak cukup dalam perkawinan ternyata benar-benar dibuktikan oleh peneliti. Bagi pasangan yang baru menikah, rasanya tak masalah jika harus mengarungi bahtera rumah tangga hanya bermodalkan cinta. Tapi nyatanya tidak demikian, cinta saja tidak cukup. Umur pasangan, riwayat hubungan sebelumnya, kebiasan merokok adalah beberapa faktor yang mempengaruhi usia perkawinan. Demikian menurut para peneliti dari Australian National University. Studi yang dipimpin oleh Dr. Rebecca Kippen dan Professor Bruce Chapman dari The Australian National University, serta Dr Peng Yu dari the Department of Families, Housing, Community Services and Indigenous Affairs dilakukan terhadap 2.500 pasangan menikah.

Peneliti ingin mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan pasangan tetap langgeng atau justru bercerai. Cinta yang dimiliki sebuah pasangan ternyata tidak cukup kuat melawan datangnya hujan masalah dalam rumah tangga. Punya cinta banyak tapi ekonomi morat marit malah makin mempercepat tingkat perceraian. Seperti dikutip dari Foxnews, Jumat (30/10/20009), peneliti menemukan banyak faktor selain cinta yang dapat meruntuhkan sebuah perkawinan. Dan dari fakta di lapangan selama 6 tahun (2001-2007), diketahui bahwa :

1. Suami yang usianya 9 tahun lebih tua dari usia istrinya, risiko bercerainya dua kali lebih tinggi dibanding suami yang tidak terlalu jauh usianya dengan istri. Penelitian lain memang menyebutkan perbedaan usia yang ideal adalah 5 tahun.
2. Satu dari lima pasangan yang memiliki anak sebelum menikah atau dari hubungan pasangannya dengan orang lain juga memiliki risiko bercerai sebanyak 9 persen.
3. Istri yang punya keinginan memiliki anak banyak ketimbang suami atau orang tuanya lebih mudah bercerai.
4. Pasangan suami istri yang memiliki orang tua yang pernah bercerai, risiko bercerainya sekitar 16 persen. Sedangkan mereka yang tidak punya orangtua yang bercerai, risikonya hanya 10 persen.
5. Jika salah satu pasangan sudah pernah menikah dan bercerai 2 hingga 3 kali, hampir 90 persennya akan bercerai. Namun begitu, mereka yang baru menikah dan bercerai 1 kali risikonya cukup kecil.
6. Sebanyak 16 persen pasangan mengaku memilih bercerai karena suaminya miskin atau tidak bekerja. Sedangkan mereka yang bercerai tapi ekonominya sehat hanya sekitar 10 persen.
7. Meskipun terdengar sepele, tapi faktor satu ini harus diperhatikan karena ada juga pasangan yang bercerai karena tidak suka dengan kebiasaan pasangannya yang merokok.

Wanita dan pria umumnya memilih pasangan berdasarkan kriteria cinta, atraksi fisik, kesamaan sifat, kepercayaan, dan perasaan berbagi. Namun berdasarkan hasil survei, faktor lain seperti materi, tingkat pendidikan dan sifat tidak egois dipercaya bisa mengurangi perceraian. Faktor ekonomi juga ternyata sangat besar pengaruhnya terhadap langgengnya perkawinan karena sebagian besar perceraian timbul karena kepala keluarga yang tidak memberikan nafkah.


Last edited by gitahafas on Thu Feb 03, 2011 8:44 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
 

Kesehatan Seks

View previous topic View next topic Back to top 
Page 9 of 18Goto page : Previous  1 ... 6 ... 8, 9, 10 ... 13 ... 18  Next

 Similar topics

-
» Pelajar mangsa lelaki gila seks
» Kesehatan Seks
» [Tips] menjaga kesehatan
» PENERBITAN BUKU KESEHATAN
» Kesehatan Tulang dan Otot

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-