|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Thu May 27, 2010 4:58 am | |
| HEPATITIS YANG SULIT TERDIAGNOSIS Senin, 17 Januari 2011 - 10:24 wib okezone SEKIRA 70 persen kasus hepatitis virus menahun luput dari diagnosis. Padahal dalam fase lanjut, penyakit ini bisa menyebabkan kanker hati. Vaksinasi hepatitis bisa menjadi alternatif pencegahannya. Hepatitis sampai saat ini masih menjadi salah satu musuh berbahaya bagi manusia. Apalagi penyakit peradangan hati yang diakibatkan oleh virus ini merupakan penyebab utama kanker hati. Hepatitis ini terdiri atas tiga jenis, yaitu hepatitis A, B, dan C. Dijelaskan oleh Prof Dr H Ali Sulaiman Sp PD–KGEH dari Klinik Hati, bahwa hepatitis A adalah radang hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A yang ditularkan dari manusia ke manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Virus ini termasuk dalam kelompok enterovirus RNA yang bereplikasi di dalam sel hati.
Sebagian besar infeksi virus hepatitis A tidak mengakibatkan terjadinya infeksi kronis. Seseorang bisa memperoleh kesembuhan sempurna. Namun, virus ini tetap harus mendapatkan perhatian, terutama jika terjadi koinfeksi dengan penyakit lain seperti hepatitis B atau C. Selama ini hepatitis biasa muncul dari tempat yang tidak bersih. Namun, kini telah terjadi perubahan pola infeksi virus hepatitis A. Orang dengan standar kebersihan tinggi pun mulai terserang virus berbahaya ini. Hal ini disebabkan kelompok tersebut hanya sedikit memperoleh imunitas dalam masa anak-anaknya. ”Orang yang terlalu resik, higienis, atau tidak pernah jajan, justru rentan terkena hepatitis A karena tidak punya antibodi alami,” ungkap dia.
Sementara hepatitis B menjadi masalah kesehatan yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 350 juta orang di dunia terinfeksi virus tersebut dan merupakan salah satu penyebab utama penyakit hati kronik, sirosis, dan kanker hati. Terhitung bahwa 1 juta orang meninggal setiap tahunnya karena hepatitis B kronik dan merupakan satu dari sepuluh penyebab kematian terbesar. ”Hepatitis B virus yang tidak mendapatkan pengobatan itu dapat menjadi penyakit hepatitis menahun, kanker hati, dan sirosis hati,” ujarnya dalam acara simposium bertema ”Hepatitis Virus dan Penyakit Hati” yang diadakan oleh Klinik Hati yang merupakan klinik khusus untuk penyakit hati, di Hotel Mega Anggrek, Jakarta beberapa waktu lalu.
Adapun virus hepatitis C merupakan salah satu penyebab infeksi hati menahun (kronik) dan dapat berakhir pada sirosis, kanker hati, dan kematian. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa virus hepatitis C telah menyerang lebih dari 170 juta orang di seluruh dunia dengan 3–4 juta infeksi baru setiap tahunnya. Sekitar 80 persen dari orang yang baru terinfeksi, penyakitnya akan terus berkembang menjadi infeksi kronik. Sirosis terjadi pada sekitar 10 sampai 20 persen penderita hepatitis C kronik dan kanker hati terjadi pada 1 sampai 5 persen penderita hepatitis C kronik dalam kurun waktu 20–30 tahun.
Virus hepatitis C menyebar melalui kontak langsung dengan darah atau produk darah. Jalur utama infeksi virus hepatitis C di dunia adalah melalui transfusi darah yang tidak ditapis dan pemakaian jarum suntik yang tidak steril secara bergantian. Sekalipun jarang, hepatitis C bisa juga menular melalui aktivitas seksual dan dari ibu kepada anaknya selama proses persalinan.
Di banyak negara berkembang, di mana darah dan produk darah masih belum diproses dengan prosedur penapisan yang benar, jalur penularan utama adalah melalui penggunaan alat-alat suntik yang tidak steril dan transfusi dengan darah yang tidak ditapis. Mereka yang melakukan praktik sirkumsisi (sunat) tradisional dan tato menggunakan alat yang tidak disterilisasi juga berisiko tertular.
Dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dr Dien Emawati MKes, berdasar survei yang dilakukan dari 11 rumah sakit di Jakarta pada 2007–2009 diketahui sekira 46 persen berasal dari pengguna narkoba,c 32 persen penderita hepatitis C berada di usia produktif yaitu 30–39 tahun, dan sebesar 18 persen berasal dari infeksi anggota keluarga. ”Penanganan intensif serta melakukan upaya preventif melalui edukasi pada masyarakat, misalnya dengan mengejar para kader karena lebih dekat dengan masyarakat sangat diperlukan,” paparnya di acara yang sama.
Dien menjelaskan, kasus hepatitis virus banyak ditemukan dalam praktik klinik sehari-hari. Namun, biasanya pasien sudah datang dalam kondisi lanjut karena terlambatnya diagnosis. Penyebab keterlambatan itu antara lain karena penyakit tidak menunjukkan gejala dan tanda klinis yang jelas. Penyakit itu biasanya luput dari diagnosis oleh dokter karena perjalanan penyakit tidak nyata dan penderita kerap tidak merasakan atau menyadarinya.
”Ketiadaan gejala yang khas pada tahap awal perkembangan penyakit hepatitis virus mengakibatkan kebanyakan pasien terdiagnosa pada stadium lanjut dari penyakit hati,” ujarnya. Selain itu, penyakit ini biasanya luput dari diagnosis oleh dokter umum dan dokter puskesmas karena kurangnya pemahaman dan kemampuan mendiagnosis penyakit ini. Menemukan penyakit hepatitis virus pada tingkat dini adalah suatu hal yang sangat penting dan mendesak untuk dilaksanakan.
Untuk mengantisipasi meningkatnya angka kejadian penyakit yang disebabkan hepatitis virus, di Jakarta sudah sekitar 1.000 dokter puskesmas dilatih dengan harapan mereka dapat mengenali hepatitis virus, seperti dengan melakukan deteksi dini, dan merujuk ke layanan rumah sakit jika tidak bisa diobati di puskesmas. ”Jika ternyata hepatitis yang diderita seseorang berkembang menjadi sirosis atau kanker hati, pengobatan akan sangat mahal,” tuturnya. Deteksi dini juga penting, terutama untuk virus hepatitis C agar tidak terjadi penularan dari orang dewasa ke orang dewasa lain melalui kontak darah atau dari ibu ke bayi yang akan dilahirkannya.
Ali menyatakan, tindakan preventif yang tak kalah penting untuk hepatitis B adalah vaksinasi hepatitis B. Infeksi hepatitis B saat dewasa kemungkinan berkembang menjadi penyakit hati menahun, sirosis, atau kanker hati sekira 5 persen. Sebaliknya, infeksi virus hepatitis B yang terjadi saat lahir, risiko menjadi parah sekitar 95 persen. ”Oleh karena itu, cakupan vaksinasi hepatitis B bagi bayi sangat penting. Sementara untuk hepatitis C belum ada vaksinasinya,” ujarnya.
Last edited by gitahafas on Wed Jan 19, 2011 5:27 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Wed Jun 02, 2010 6:52 am | |
| HEPATITIS VIRUS AKUT Hepatitis virus akut adalah infeksi sistemik yang terutama menyerang organ hati, disebabkan oleh virus hepatotropik terutama virus hepatitis A, B, C, D, E, F, G dan TT. Virus lain yang kerap menginfeksi hati adalah DHF ( dengue hemoragic fever ), sitomegalovirus, virus herpes, varicella dan HIV.
Hepatitis virus akut memberi spektrum tanda tanda klinis dan manifestasi laboratorium yang luas, mulai dari infeksi tanpa gejala, gejala yang tidak jelas sampai hepatitis fulminan yang dapat menyebabkan kematian dalam beberapa hari saja. Karena menyerang hati yang merupakan bagian dari organ pencernaan, maka sebagian besar keluhannya berhubungan dengan saluran cerna.
Jenis jenis Hepatitis: 1. Hepatitis Virus A ( HAV ) Penyebab HAV adalah virus RNA hepatovirus dari famili Picornavirus, merupakan enterovirus, replikasi virus terjadi pada sel hati manusia. Masa inkubasi 15-45 hari ( rata rata 4 minggu ). Virus dikeluarkan ke dalam kotoran manusia selama minggu minggu pertama infeksi. Anak anak yang terinfeksi biasanya tanpa gejala, tetapi pada orang dewasa gejalanya lebih parah dan lebih tinggi tingkat kematiannya. Faktor resiko antara lain, kurangnya kebersihan makanan, karena penularan melalui makanan / air yang terkontaminasi dan pergi ke daerah wabah hepatitis. Pencegahan dengan mencuci bersih makanan, hindari makanan mentah, cuci tangan sebelum makan, mereka yang sedang terinfeksi sebaiknya tidak menghidangkan makanan untuk orang lain karena bisa menjadi sumber penularan.
2. Hepatitis Virus B ( HBV ) HBV bisa menular melalui kulit yang luka atau selaput lendir, seperti melalui suntikan, transfusi darah, tato. tindik atau pisau cukur yang digunakan bergantian. Ibu hamil yang menderita HBV dapat menularkan kepada bayinya pada saat proses melahirkan. Masa inkubasi antara 28-160 hari ( rata rata 60 hari ). Gejala akan muncul setelah melalui masa inkubasi, tetapi ada juga penderita yang tidak menunjukkan gejala. Sekitar 15% penderita HBV akut akan menjadi kronis, yang akhirnya menjadi sirosis dan kanker hati. Faktor resiko adalah melalui hubungan sex bebas, menerima transfusi darah, menggunakan jarum suntik bekas pakai, cuci darah, bayi yang ibunya penderita HBV, kontak langsung dengan darah atau serum tubuh. Pencegahan dapat dilakukan dengan cara vaksinasi, tidak menggunakan jarum suntik bekas dan hindari sex bebas.
3.Hepatitis Virus C ( HCV ) Masa inkubasi bervariasi antara 14-160 hari dengan rata rata 7 minggu. Gejala gejala klinis biasanya ringan, bahkan sering tanpa gejala. Lebih dari 50% terjadi pada pengguna narkoba suntik, tato, sex bebas. Kurang dari 4% terjadi pada pasien yang mendapat transfusi darah. Sedangkan penularan melalui ASI belum pernah ditemukan. Penderita HCV akut hanya 15% yang sembuh, sedangkan 85% akan menjadi kronik dan dalam kurun waktu 20 tahun akan menjadi sirosis dan bisa mengakibatkan kanker hati.
4. Hepatitis Virus D ( HDV ) Virus ini jarang ditemukan kecuali pada pecandu narkoba suntik dan orang orang yang sering berhubungan dengan produk darah. Virus ini menggunakan HBsAg sebagai amplop lapisan luar proteinnya, oleh karena itu virus ini hanya ditemukan pada orang yang juga terinfeksi HBV atau terjadi infeksi bersamaan. Superinfeksi pada pasien HBV kronis bisa mengakibatkan hepatitis fulminan yang bisa mempercepat perubahan menjadi sirosis hati atau mengakibatkan kematian. Masa inkubasi bervariasi antara 30-180 hari.
5. Hepatitis Virus E ( HEV ) Ditularkan dengan cara oro-fecal, yaitu melalui air / makanan yang tercemar HEV. Masa inkubasi antara 15-60 hari, bisa menyerang dewasa dan dewasa muda dan bisa sembuh sendiri. Angka kematian tinggi bila menyerang wanita hamil dan penderita dengan penyakit hati kronis.
6. Hepatitis Virus F ( HFV ) Baru ditemukan pada ekstrak tinja pasien dengan hepatitis non A-E.
7. Hepatitis Virus G ( HGV ) Di Amerika terdeteksi pada 1,5% penerima transfusi darah, 50% pengguna narkoba suntik, 30% pasien cuci darah, 20% pasien hemofili dan 15% pasien hepatitis B dan C kronis.
Gejala hepatitis virus: 1. Fase Prodromal Gejala dapat timbul mendadak atau bertahap dengan keluhan kelemahan umum, nyeri otot, nyeri sendi, mudah lelah, sering menyerupai gejala flu, nafsu makan menurun, demam tidak terlalu tinggi, rasa nyeri atau rasa tidak nyaman pada perut terutama pada daerah hati, pada sisi kanan dibawah tulang iga.
2. Fase Ikterik Timbul 5-10 hari setelah fase prodromal atau bersamaan, bisa juga tidak muncul sama sekali. Selama fase ini biasanya penderita merasa lebih sehat, nafsu makan kembali dan demam mereda, sementara air kencing menjadi lebih gelap, kecoklatan, seperti air teh pekat, sklera mata dan kulit menjadi kuning.
3. Fase Konvalesen Keadaan umum membaik, warna kuning pada kulit dan mata menghilang, nyeri perut kanan atas dan rasa cepat lelah menghilang. Hasil test fungsi hati yang abnormal pada laboratorium dapat menetap selama 3-6 bulan.
Hepatitis akut mungkin menetap pada pasien lanjut usia atau pada mereka yang terinfeksi HBV dan HCV, dengan kesembuhan yang dapat lebih dari 1 tahun. Bisa berkembang menjadi hepatitis fulminan yang kemudian menjadi koma hepatikum sampai kematian. Ada juga yang berkembang menjadi hepatitis kronik kecuali pada hepatitis virus A dan E. Pada pemeriksaan fisik didapatkan pembesaran hati pada separuh kasus dan sering ditemukan nyeri tekan pada daerah perut kanan atas. Pembesaran limpa jyga didapatkan pada 15% penderita.
Laboratorium 1. SGOT dan SGPT meningkat ( 400-4000u/L ) pada fase prodromal. 2. Kadar alkali fosfatase meningkat. 3. Lekosit normal atau dapat menurun pada fase ikterik. 4.Kadar bilirubin yang meningkat ( 5-20 mg/dl ) terjadi pada fase ikterik. 5. Bilirubinuria positif. 6. Tinja yang berwarna pucat ditemukan pada fase ikterik.
Penatalaksanaan 1. Terapi yang diberikan bersifat simptomatik, mengurangi keluhan pasien. 2. Bedrest dianjurkan pada fase prodromal sampai keadaan umum membaik. Pengurangan aktivitas dapat membantu memulihkan keadaan pasien. 3. Intake tinggi kalori ( lebih dari 3000 kalori/hari ) dapat mempersingkat lama hepatitis akut dalam beberapa hari. 4. Obat obat hepatoprotektor membantu meningkatkan daya tahan tubuh. 5. Pemasangan infus diberikan pada pasien rawat inap bila didapatkan gejala mual dan muntah yang berat. 6. Indikasi utama perawatan di RS adalah untuk mencegah perkembangan progresif ke arah hepatitis fulminan. Pasien dapat dipulangkan bila keadaan umum membaik, tidak ada keluhan lagi, kadar bilirubin serum turun sampai 1 mg/dl, SGOT / SGPT turun sampai 100u/L.
Pencegahan 1. Dilakukan vaksinasi untuk hepatitis A dan B. 2. Higiene sanitasi untuk pasien dan petugas medis, seperti mencuci tangan dengan bersih sebelum makan, menjaga kebersihan makanan. 3. Tidak menggunakan jarum suntik bekas pakai. 4. Setia pada pasangan dalam hubungan sex.
Prognosis Pada kebanyakan kasus hepatitis virus akut, proses penyembuhan terjadi dalam 3-6 minggu, hasil laboratorium baru membaik setelah waktu yang lebih lama. Hepatitis A tidak menjadi kronis meskipun bisa menetap sampai satu tahun dan hasil laboratorium bisa meningkat lagi sebelum proses kesembuhan sempurna, Angka kematian pada hepatitisB 0,1 - 1 %, tetapi meningkat bila disertai hepatitis virus D. Hepatitis C fulminan sangat jarang ditemukan. Sedangkan angka kematian pada hepatitis E pada wanita hamil cukup tinggi ( 10-20% ). Perjalanan menjadi hepatitis kronis pada hepatitis B meningkat 90% bila infeksi terjadi pada masa bayi, sedang pada hepatitis C bisa terjadi pada 80% kasus.
Sumber: dr. Suryantini Singgih SpPD / Bunga Rampai Masalah Kesehatan Iluni FK 1983
Last edited by gitahafas on Tue Aug 03, 2010 9:40 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Sun Jun 13, 2010 5:03 am | |
| HEPATITIS KRONIS / AUTOIMUN Hepatitis Kronis adalah peradangan yang berlangsung selama minimal 6 bulan. Hepatitis kronis lebih jarang ditemukan, tetapi bisa menetap sampai bertahun-tahun bahkan berpuluh-puluh tahun. Biasanya ringan dan tidak menimbulkan gejala ataupun kerusakan hati yang berarti. Pada beberapa kasus, peradangan yang terus menerus secara perlahan menyebabkan kerusakan hati dan pada akhirnya terjadilah sirosis dan kegagalan hati.
PENYEBAB Penyebab yang sering ditemukan adalah virus hepatitis C; sekitar 75% hepatitis C akut menjadi kronis. Virus hepatitis B kadang bersamaan dengan virus hepatitis D, menyebabkan sejumlah kecil infeksi kronis. Virus hepatitis A dan E tidak menyebabkan hepatitis kronis.
Obat-obat seperti metildopa, isoniazid, nitrofurantoin dan asetaminofen juga menyebabkan hepatitis kronis, terutama jika digunakan untuk jangka panjang. Penyakit Wilson merupakan penyakit keturunan yang melibatkan penimbunan tembaga yang abnormal, yang biisa menyebabkan hepatitis kronis pada anak-anak dan dewasa muda. Belum diketahui penyebab yang pasti mengapa virus dan obat yang sama akan menyebabkan hepatitis kronis pada beberapa orang, tetapi tidak pada yang lainnya. Salah satu penjelasan yang mungkin adalah bahwa pada orang yang menderita hepatitis kronis, sistem kekebalan memberikan reaksi yang berlebihan terhadap infeksi virus atau obat-obatan.
Pada beberapa penderita hepatitis kronis tidak dapat ditemukan penyebabnya yang pasti. Penyakit ini tampaknya merupakan reaksi sistem kekebalan yang berlebihan, yang menyebabkan terjadinya peradangan menahun. Keadaan ini disebut sebagai hepatitis autoimun, yang lebih banyak ditemukan pada wanita.
GEJALA Sekitar sepertiga hepatitis kronis timbul setelah suatu serangan hepatitis virus akut. Yang lainnya timbul secara bertahap tanpa penyakit yang jelas sebelumnya.
Banyak penderita hepatitis kronis yang tidak menunjukkan gejala sama sekali. Bila timbul gejala, bisa berupa: - perasaan tidak enak badan - nafsu makan yang buruk - kelelahan.
Kadang terjadi demam ringan dan rasa tidak nyaman di peruta bagian atas. Sakit kuning (jaundice) bisa terjadi, bisa juga tidak.
Pada akhirnya akan timbul gambaran penyakit hati menahun: - pembesaran limpa - gambaran pembuluh darah yang menyerupai laba-laba di kulit - penimbunan cairan.
Gejala lainnya yang timbul pada wanita muda penderita hepatitis autoimun: - jerawat - terhentinya siklus menstruasi - nyeri sendi - pembentukan jaringan parut di paru-paru - peradangan kelenjar tiroid dan ginjal - anemia.
DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan tes fungsi hati. Untuk memperkuat diagnosis bisa dilakukan biopsi hati. Dengan memeriksa jaringan hati dibawah mikroskop, akan diketahui beratnya peradangan dan adanya pembentukan jaringan parut maupun sirosis. Biopsi juga bisa menentukan penyebab dari hepatitis.
PENGOBATAN Banyak penderita hepatitis kronis yang selama bertahun-tahun tidak menunjukkan kerusakan hati yang progresif. Penderita lainnya mengalami perburukan penyakit secara bertahap. Jika hal ini terjadi dan penyakit terjadi akibat infeksi virus hepatitis B atau C, maka untuk menghentikan peradangan diberikan interferon-alfa. Tetapi obat ini mahal dan memiliki efek samping; selain itu hepatitis cenderung kambuh kembali jika pengobatan dihentikan. Pengobatan yang lebih baik adalah ribavirin bersamaan dengan interferon-alfa.
Hepatitis autoimun biasanya diobati dengan corticosteroid, kadang dikombinasikan dengan azathioprin. Obat ini menekan peradangan, meringankan gejala dan memperbaiki angka harapan hidup penderita. Tetapi pembentukan jaringan parut (fibrosis) di hati secara bertahap akan semakin memburuk. Menghentikan pengobatan biasanya menyebabkan kekambuhan, sehingga sebagian besar penderita harus mengkonsumsi obat ini terus menerus. Sekitar 50% penderita hepatitis autoimun akan mengalami sirosis, kegagalan hati atau keduanya.
Jika diduga penyebabnya adalah obat, maka pemakaian obat segera dihentikan. Tanpa menghiraukan penyebab maupun jenisnya, setiap komplikasi (misalnya asites atau ensefalopati hepatikum) harus diobati. Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Hati dan Empedu
Last edited by gitahafas on Tue Aug 03, 2010 9:42 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Fri Jun 18, 2010 9:26 am | |
| TERLALU RESIK MALAH RENTAN HEPATITIS A Rabu, 12/01/2011 14:03 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Beberapa orang kadang ada yang terlalu resik (bersih) sehingga tidak pernah jajan atau hidupnya terlalu bersih. Tapi ternyata orang yang terlalu resik justru rentan hepatitis A. Hepatitis A adalah radang hati yang disebabkan oleh infeksi virus hepatitis A yang ditularkan dari manusia ke manusia melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Virus ini termasuk dalam kelompok enterovirus RNA yang bereplikasi di dalam sel hati.
"Orang yang terlalu resik, higienis atau tidak pernah jajan rentan terkena hepatitis A karena tidak punya antibodi alami," ujar Prof dr Ali Sulaiman, PhD, SpPD-KGEH, FACG disela-sela acara simposium bertema Hepatitis Virus dan Penyakit Hati di Hotel Mega Anggrek, Jakarta, Rabu (12/1/2011). Prof Ali menuturkan virus hepatitis ini terdapat di dalam kotoran, karena itu penularannya melalui fecal-oral. Jika seseorang tidak pernah jajan atau misalnya ia membeli air mineral tapi tidak langsung diminum dari botol melainkan dituang ke dalam gelas dulu yang mungkin terkontaminasi virus, maka ia akan terinfeksi.
Seiring perjalanan waktu telah terjadi perubahan pola infeksi virus hepatitis A. Di wilayah dengan standar hygiene tinggi terjadi peningkatan angka kejadian infeksi hepatitis A pada orang dewasa. Hal ini disebabkan karena kelompok tersebut hanya sedikit memperoleh imunitas dalam masa anak-anaknya. Meskipun sebagian besar infeksi virus hepatitis A tidak mengakibatkan terjadinya infeksi kronis dan seseorang bisa memperoleh kesembuhan sempurna, tapi penyakit ini tetap harus mendapatkan perhatian terutama jika terjadi koinfeksi dengan penyakit lain seperti hepatitis B atau C.
"Bagi orang dewasa, hepatitis harus menjadi perhatian, karena bisa menjadi rewel, seperti badan terasa lemas, tidak nafsu makan sehingga bisa mengganggu produktivitasnya," ujar Prof dr H M Sjaifoellah Noer, SpPD-KGEH. Prof Sjaifoellah menambahkan bagi seseorang yang terinfeksi hepatitis A dibutuhkan istirahat dan makan yang sehat, serta menjaga aktivitas fisiknya sesuai dengan keluhan rasa lesu yang timbul. Pengobatan yang diberikan bersifat suportif, menciptakan rasa nyaman dan menjaga keseimbangan nutrisinya. Umumnya tidka ada diet khusus yang dianjurkan, kecuali menghindari alkohol, dan segala jenis makanan atau obat yang bersifat hepatotoksik.
Last edited by gitahafas on Wed Jan 19, 2011 5:19 pm; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Fri Jun 18, 2010 9:29 am | |
| LINDUNGI SI KECIL DARI HEPATITIS Selasa, 3 Agustus 2010 | 07:28 WIB Infeksi virus hepatitis B telah lama dikenal keganasannya lantaran dapat berkembang menjadi ganas dan merusak organ hati. Tak hanya pada orang dewasa, bayi justru rentan tertular virus tersebut dan risiko infeksi mengganas justru lebih besar pada bayi ketimbang orang dewasa. Tak mengherankan jika dalam peringatan Hari Hepatitis pada 28 Juli lalu, imunisasi hepatitis B dini menjadi salah satu yang disuarakan para pemerhati penyakit itu. Hari Hepatitis Sedunia tahun ini merupakan peringatan pertama. Indonesia bersama Brasil berperan besar dengan mengusulkan kepada Executive Board Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada sidang organisasi itu, Mei lalu, agar hepatitis menjadi isu dunia. Usul itu diterima dan ditetapkan pada 28 Juli, sesuai hari lahir Dr Baruch Blumberg yang menemukan hepatitis B pada 1965.
Unggul Budihusodo dari Divisi Hepatologi-Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengungkapkan, hepatitis merupakan peradangan hati yang kebanyakan disebabkan infeksi virus. Ada lima virus hepatitis yang umum, yakni A, B, C, D, dan E. Hepatitis A dan E ditularkan melalui feses dan makanan serta minuman yang terkontaminasi. Orang kerap menyebut hepatitis A dengan sakit kuning. Kedua jenis hepatitis ini umumnya dapat sembuh sendiri dan tak berbahaya. Sedangkan hepatitis B, C, dan D jauh lebih berbahaya.
Virus hepatitis berada dalam darah dan cairan tubuh. Penularan virus hepatitis B, misalnya, lewat transfusi darah, hubungan seksual tidak aman, penggunaan jarum suntik/atau alat tajam tidak steril, cuci darah, cangkok organ, serta penularan dari ibu ke bayi (vertikal). Namun, ada juga peradangan hati atau hepatitis yang terjadi karena metabolisme atau keganasan kanker.
Hepatitis B dan C merupakan masalah besar di dunia dan jumlah pengidapnya terus bertambah. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, dalam sebuah seminar baru-baru ini, mengatakan, 400 juta penduduk dunia sedang terinfeksi virus hepatitis B (VHB) dan 170 juta orang menderita hepatitis C. Indonesia menduduki peringkat ketiga dalam hal jumlah pengidap setelah dua negara berpenduduk besar lainnya, yakni China dan India. Diperkirakan, pengidap hepatitis B dan C di Indonesia mencapai 20 juta orang.
Dari ibu ke bayi Di Indonesia, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar 2007, prevalensi penduduk yang pernah terinfeksi virus hepatitis B ditunjukkan dengan angka Anti-HBc sebesar 34 persen dan cenderung meningkat dengan bertambahnya usia. Perjalanan hepatitis B menahun sering kali tanpa gejala selama bertahun-tahun sehingga seseorang tidak sadar mengidap virus tersebut dan berpotensi menularkan. Terkadang keluhannya hanya lemas, lekas lelah, gangguan pencernaan, kembung, mual, dan hilang nafsu makan. Jika yang mengidap virus hepatitis B itu seorang calon ibu, ada risiko penularan dari ibu ke anak.
M Juffrie dari Unit Kerja Koordinasi Gastro-Hepatologi Ikatan Dokter Anak Indonesia, dalam acara temu media mengenai hepatitis, pekan lalu, menyatakan, jika ibu positif HBsAG dan HBeAG, risiko anak tertular 70 persen-90 persen. Jika ibu hanya positif HBsAG, 5-20 persen risiko anak tertular.
Umur saat terpapar virus hepatitis B juga memengaruhi keganasan. Infeksi virus hepatitis B pada bayi sejak lahir (tertular ibu) memiliki risiko kronisitas lebih dari 90 persen. Jika usia terpapar 1-5 tahun lewat penularan horizontal (dari luka terbuka atau injeksi tidak aman) risiko kronisitas 25-30 persen. ”Berbeda dengan orang dewasa. Risiko hepatitis B menahun dan kemudian terjadi kronisitas, seperti sirosis atau kanker hati, jauh lebih rendah pada orang dewasa penderita hepatitis B, yakni 5-7 persen. Pada orang dewasa, infeksi hepatitis C justru berisiko mengganas lebih besar, sekitar 80 persen,” ujar Juffrie.
Perjalanan infeksi hepatitis B hingga terjadi sirosis pada bayi dan anak juga jauh lebih cepat. ”Pada bayi, sirosis dapat terjadi dalam hitungan bulan. Jangan heran, bayi masih usia tujuh bulan sudah mengalami sirosis. Bayi berak dan muntah darah,” ujarnya. Pada orang dewasa, perjalanan infeksi virus hepatitis B hingga sirosis atau kanker hati bisa bertahun-tahun.
Vaksin hepatitis B Sejauh ini vaksin hepatitis B digunakan untuk melindungi bayi dari infeksi hepatitis B. Menurut Juffrie, vaksinasi menjadi sangat penting. ”Terlebih, semakin dini infeksi pada bayi, sangat tinggi risikonya menjadi parah. Kuncinya, pemberian vaksin pada nol hari,” ujarnya.
Vaksinasi hepatitis B sebanyak tiga dosis terbaik dilaksanakan pada 12 jam pertama sejak kelahiran. Vaksinasi berikutnya 1 bulan kemudian dan dosis terakhir 3-6 bulan berikutnya. ”Ada perbedaan jadwal antara pemerintah dan Ikatan Dokter Anak Indonesia, tetapi tidak masalah. Jadwal pemerintah disederhanakan agar bisa dibarengkan dengan vaksinasi lain untuk efisiensi dan meningkatkan cakupan,” ujarnya.
Sekitar 95 persen bayi yang divaksin bisa membangun kekebalan pada hepatitis B dan durasi kekebalannya mencapai 20 tahun atau lebih. Tidak direkomendasikan vaksinasi ulang. ”Tetapi, jika ingin di-booster, dapat dilakukan pada saat anak memasuki setidaknya usia 18 tahun,” ujarnya.
Di Indonesia, vaksin hepatitis B telah menjadi bagian dari program imunisasi. Pemberian imunisasi hepatitis B guna memutuskan rantai penularan dari ibu pengidap kepada bayinya dan memberikan perlindungan hepatitis B pada masa mendatang. Kini, vaksinasi hepatitis B digabung dengan vaksinasi DPT—menjadi DPT/HB kombinasi sejak 2004. Vaksinasi massal ditujukan bagi bayi baru lahir sampai berusia 1 tahun secara cuma-cuma. Kompas/Indira Permanasari
Last edited by gitahafas on Tue Aug 03, 2010 9:48 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Fri Jun 18, 2010 8:16 pm | |
| BAYI BARU LAHIR, SEGERA IMMUNISASI HEPATITIS B! Rabu, 10 Desember 2008 | 17:00 WIB Kompas.com - JAKARTA, RABU - Setiap bayi yang baru lahir secepat mungkin harus diimunisasi Hepatitis B. Selain mencegah bayi terkena virus Hepatitis B akibat tertular ibunya sekaligus memberi zat kekebalan terhadap bayi. "Untuk ibu yang terkena hepatitis B, ketika melahirkan bayi harus segera diberi imunisasi Hepatitis B untuk mencegah anak tertular virus penyakit tersebut," kata Ketua III Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Soedjatmiko di Jakarta, Rabu(10/12).
Soedjatmiko mengatakan, banyak ibu khususnya di daerah menunda imunisasi terhadap bayinya selama 40 hari. Alasannya, bayi masih rentan menerima udara di luar sehingga mudah terserang penyakit. Selain itu, bayi dianggap belum bisa menerima imunisasi karena efek yang diakibatkan seperti demam yang tinggi dan bengkak di sekitar suntikan. Padahal, penyakit hepatitis sulit teridentifikasi karena datang secara tiba-tiba, bahkan ketika diketahui sudah dalam keadaan kronis. Bagi lelaki mungkin tidak bermasalah, tetapi bagi kaum ibu menjadi bermasalah. Jika seorang ibu tidak tahu dirinya mengidap Hepatitis B, lalu melahirkan maka anaknya akan tertular.
Karenanya, imunisasi ini begitu penting bagi si bayi. Disamping mencegah si bayi terjangkit Hepatitis B, vaksin yang disuntikan mampu memotong rantai penyebaran virus ini. "Ketika diimunisasi vaksin dan virus Hepatitis B menyebar ke seluruh tubuh. Saat inilah vaksin mematikan virus tersebut. Tapi jika virus sudah tersebar lebih dahulu, itu sia-sia saja," tambah Soedjatmiko.
Last edited by gitahafas on Tue Aug 03, 2010 9:49 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Fri Jun 18, 2010 8:19 pm | |
| CEGAH HEPATITIS B KRONIK SEJAK BAYI Rabu, 18 Juni 2008 | 11:09 WIB Kompas.com - PEMBERIAN vaksin bagi bayi pada awal masa kehidupannya sangat penting untuk mencegah berbagai penyakit berbahaya. Salah satu yang paling penting untuk diberikan adalah vaksinasi hepatitis B. Menurut Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr Unggul Budihusodo Sp.PD-KGEH, pemberian vaksin hepatitis B bagi bayi menjadi penting karena penularan yang sering terjadi adalah melalui jalan lahir dari ibu yang menderita hepatitis B atau disebut dengan penularan vertikal. Penularan ini lebih membahayakan karena pada saat dewasa nanti si bayi dapat menderita hepatitis kronik.
"Dari pengidap hepatitis kronik yang ada di masyarakat, sekitar 90 persen di antaranya mengalami infeksi saat masih bayi. Infeksi dari ibu yang mengidap virus hepatitis bisa terjadi sejak masa persalinan hingga bayi mencapai usia balita," ungkap dr Unggul di Jakarta, Selasa (17/6) kemarin. Ia menjelaskan, infeksi sangat mungkin terjadi karena saat melahirkan jalan lahir ibu terluka dan berdarah sehingga mempermudah kontaminasi darah terhadap kulit bayi yang rentan gesekan persalinan. Selain itu, infeksi juga bisa terjadi saat ibu menyusui, di mana luka pada puting ibu menjadi jalan mudah masuknya virus. "Penularan virus hepatitis B pada bayi bukan didapat dari darah bayi yang terhubung kepada ibu melalui plasenta bayi atau dari air susu ibu, tapi bisa terjadi saat persalinan atau juga ketika menyusui karena terjadi kontak antara luka kecil pada puting susu ibu dan mulut bayi," terangnya.
Untuk mencegah penularan ini, setiap bayi diwajibkan mendapat vaksin hepatitis B pada usia 0-7 hari. Selain itu, pencegahan juga dapat dilakukan ibu yang berisiko tinggi dengan melakukan vaksinasi saat kehamilan. "Yang perlu ditekankan, untuk ibu hamil yang positif mengidap virus, selain vaksinasi aktif, sang bayi juga wajib mendapatkan imunisasi pasif dengan pemberian serum. Dengan pemberian vaksinasi pasif (imunoglobulin) maka tubuh bayi sudah langsung mempunyai kekebalan terhadap infeksi hepatitis B dari ibunya saat melahirkan," ujarnya.
Unggul mengingatkan pula pentingnya pencegahan hepatitis B sejak dini karena penyakit ini tidak memberikan keluhan dan gejala. Keadaan ini jelas membahayakan karena anak-anak bisa terlihat sehat, padahal di dalam tubuhnya mengandung virus hepatitis B yang akan berjalan progresif menahun dan menjadi kronis ketika mereka dewasa. "Bila sudah kronis, baru akan memberikan gejala, antara lain lemah, kurang nafsu makan, mual, muntah, nyeri tulang, kulit badan dan mata kuning, serta perubahan warna urine yang mencolok," tuturnya.
Last edited by gitahafas on Tue Aug 03, 2010 9:51 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Fri Jun 18, 2010 8:21 pm | |
| TENAGA MEDIS BANYAK TERPAPAR VIRUS HEPATITIS Vera Farah Bararah - detikHealth - Sabtu, 12/06/2010 13:13 WIB Jakarta, Tenaga medis merupakan profesi yang berisiko terinfeksi virus dari pasien. Angka kejadian tenaga kesehatan yang tertular Hepatitis B dan C cenderung tinggi. Sementara yang tertular HIV belum pernah ada. Karena itu diperlukan kewaspadaan menyeluruh bagi tenaga kesehatan. Beberapa penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui darah seperti Hepatitis B, Hepatitis C dan HIV memang berisiko menulari tenaga kesehatan. Penularan ini dapat terjadi melalui kulit yang terluka oleh jarum, pisau dan benda tajam lain atau paparan selaput lendir dengan cairan tubuh.
"Luka di kulit mempunyai risiko lebih tinggi terkena infeksi dibandingkan terpaparnya selaput lendir, dengan risiko tertinggi untuk Hepatitis B, Hepatitis C dan paling kecil infeksi HIV," ujar Prof dr Zubairi Djoerban,SpPD-KHOM dalam acara seminar 'How to deal with HIV AIDS' di aula FKUI Salemba, Jakarta, Sabtu (12/6/2010). Prof Zubairi menuturkan tenaga kesehatan yang berisiko terinfeksi itu mulai dari perawat, dokter (bedah atau non bedah), teknisi laboratorium hingga tenaga kebersihan. Tempat kejadiannya pun bisa dimana saja baik di bangsal perawatan, ruang operasi, unit gawat darurat maupun ICU. Karena itu kewaspadaan universal harus dilakukan di semua lini dalam institusi pelayanan kesehatan.
Faktor risiko yang bisa membuat seseorang terinfeksi adalah: 1. Kedalaman paparan atau tusukan 2. Apakah ada darah di instrumen yang digunakan 3. Jarum yang menusuk hingga ke pembuluh darah arteri atau vena 4. Apakah pasien sudah mendapatkan pengobatan atau belum.
"Bagi petugas yang menggunakan jarum suntik sebaiknya jangan memegang jarum serta jarum yang digunakan dibuang ke kaleng atau tempat yang tidak tembus jarum," ujar dokter dari divisi hematologi onkologi medik FKUI RSCM. Untuk mencegah risiko infeksi ini, sebaiknya semua tenaga kesehatan harus menggunakan pelindung saat kontak dengan darah atau cairan tubuh dengan menggunakan sarung tangan, masker, kacamata pelindung dan lainnya. "Jika menggunakan sarung tangan maka risiko tertular infeksi virus bisa berkurang hingga 50-80 persen," ungkap ketua Persatuan Dokter Peduli AIDS Indonesia ini.
Prof Zubairi menambahkan jika tenaga kesehatan tertusuk jarum atau timbul luka saat kontak dengan pasien maka yang harus dilakukan: 1. Segera cuci tangan dengan air mengalir dan sabun 2. Melaporkan hal tersebut dalam catatan medis 3. Mencari tahu data mengenai pasien 4. Melakukan manajemen spesifik seperti konseling dan tes pemeriksaan lebih lanjut.
Jika terjadi paparan dengan darah atau cairan tubuh yang berisiko tinggi menularkan HIV maka segera diberikan obat antiretroviral (ARV) dalam 36 jam pertama. Sedangkan jika berisiko hepatitis bisa diberikan vaksinasi untuk mencegahnya.
Last edited by gitahafas on Wed Jan 19, 2011 5:18 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Fri Jun 18, 2010 8:24 pm | |
| HEPATITIS B LEBIH INFEKSIUS DARI HIV Selasa, 17 Juni 2008 | 15:51 WIB Kompas.com - MASYARAKAT selama ini begitu akrab dengan istilah HIV (Human Immunodeficiency Virus) yang dikenal sangat berbahaya karena menimbulkan kematian bagi pengidapnya. Namun, tak banyak orang tahu bahwa selain HIV, ada virus yang tak kalah berbahaya dan bahkan jauh lebih infeksi, yakni virus Hepatitis B. Seperti diungkap Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr Unggul Budihusodo SpPD-KGEH, virus hepatitis B adalah virus yang patut diwaspadai karena 100 kali lebih infeksi ketimbang HIV dan 10 kali lebih mudah menginfeksi dari hepatitis C. "Di dunia, jumlah pengidap hepatitis B kronik diperkirakan sekitar 250 juta dan penderita hepatitis C sekitar 150 juta. Sedangkan penderita HIV tidak sampai separuhnya atau kurang lebih sekitar 100 juta orang," kata dr Unggul di Jakarta, Selasa, (17/6).
Ia menambahkan, virus hepatitis C sebenarnya tak kalah menakutkan dari HIV mengingat masalah yang ditimbulkan virus ini jauh lebih besar. Namun, karena gaung HIV yang lebih besar, kesadaran masyarakat akan ancaman virus ini masih rendah. "Ini tidak lepas dari fakta bahwa berita-berita HIV sering di-blow-up oleh media massa ketimbang hepatitis B atau hepatitis C," ungkapnya. Dari sisi ancaman bagi kesehatan, dr Unggul menjelaskan, HIV dan hepatitis B tidak jauh berbeda. Penyakit akibat virus HIV dan hepatitis B adalah dua jenis yang hingga saat ini belum bisa disembuhkan secara total. "Bila seseorang terkena penyakit ini, biasanya harus meminum obat seumur hidup untuk mengatasinya, sedangkan sebagian besar pasien hepatitis C sudah bisa disembuhkan secara total dengan pengobatan tertentu," ujarnya.
Selain itu, hal yang patut diwaspadai dari hepatitis B adalah penyakit ini merupakan penyebab utama terjadinya kanker hati bersama dengan hepatitis C. "Sekitar 90 persen pasien penderita kanker hati adalah juga penderita hepatitis B atau C," ungkapnya. Di Indonesia, lanjut dr Unggul, prevalensi penularan hepatitis B termasuk tertinggi di dunia bersama negera-negara Asia Pasifik lainnya. "Prevalensi infeksi hepatitis kronik di Indonesia rata-rata mencapai 5-10 persen dari total jumlah penduduk," ujarnya.
Last edited by gitahafas on Tue Aug 03, 2010 9:54 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Fri Jun 18, 2010 8:29 pm | |
| HEPATITIS B 100x LEBIH MENULAR DARI HIV Selasa, 27/07/2010 16:00 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Jakarta, Penularan virus HIV sudah sangat meresahkan bagi WHO, dunia kedokteran dan masyarakat dunia. Tetapi ternyata virus hepatitis B lebih cepat menular bahkan hingga 100 kali lipat dari penularan virus HIV. Ini membuat WHO menjadikan kasus hepatitis sebagai salah satu agenda penyakit prioritas. Tanpa disadari, 2 miliar orang di dunia pernah terinfeksi hepatitis B, yang artinya sepertiga dari penduduk dunia pernah terekspos virus Hepadnaviridae, yaitu virus penyebab hepatitis B atau disebut juga Hepatitis B Virus (HBV).
Dari 2 miliar tersebut, lebih dari 350 juta penderita menjadi penyakit kronik (menahun) dan sekitar 500 ribu hingga 2 juta orang meninggal setiap tahunnya karena berlanjut menjadi penyakit hati serius yang diakibatkan oleh infeksi hepatitis B kronik. Ini membuat hepatitis B berada pada posisi kesepuluh penyebab kematian utama di dunia. "Di Indonesia, penderita hepatitis B dan C jauh lebih besar dari penderita HIV AIDS," tutur Dr Unggul Budihusodo, Sp.PD, KGEH, Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), dalam acara konferensi media Hari Hepatitis Sedunia di Mario's Place, Jakarta, Selasa (27/7/2010). Penderita hapatitis B kronik dapat terlihat 'sehat', namun bila tidak mendapat pengobatan berpotensi mengalami pengerasan hati (sirosis), kanker hati dan gagal hati yang berujung pada kematian.
"Hal ini karena sebagian besar orang yang terinfeksi HBV, yaitu 70 persen, tidak menunjukkan gejala apapun. Dan hanya 30 persen saja yang menunjukkan gejala, sehingga banyak orang yang tidak menyadari bahwa tubuhnya telah terinfeksi HBV," jelas Prof Dr Ali Sulaiman, PhD, Sp.PD, KGEH, FACG, Pokja Hepatitis. Virus hepatitis B sangat mudah menular, bahkan 100 kali lebih mudah dibandingkan virus HIV dan virus ini dapat bertahan hidup selama 1 minggu hingga berbulan-bulan di luar tubuh, serta alat-alat medis dan alat pemeriksaan gigi.
Virus hepatitis B menular melalui darah dan cairan tubuh manusia, yaitu: 1. Dari ibu penderita hapatitis B kepada bayinya saat dalam kandungan atau dilahirkan 2. Berhubungan seksual dengan penderita hepatitis B tanpa pengaman 3. Melalui suntikan atau transfusi darah yang tercemar virus hepatitis B, seperti: - Pengguna narkoba suntik - Pengguna alat kesehatan (jarum, pisau, gunting) yang tidak disterilkan sempurna - Tindik, tato, pisau cukur, gunting kuku yang tidak steril
Sebagian besar orang yang terinfeksi hepatitis B memang tidak menunjukkan gejala apapun, tapi gejala-gejala umum yang tampak pada sebagian kecil penderita hepatitis B adalah sebagai berikut:
Hepatitis B akut (terinfeksi kurang dari 6 bulan) 1. Mual, muntah, nafsu makan turun dan panas 2. Warna air seni coklat seperti teh 3. Bagian putih mata tampak kuning 4. Kulit seluruh tubuh tampak kuning 5. Warna tinja kuning
Hepatitis B kronik (lebih dari 6 bulan atau menahun) Sebagian besar tanpa gejala nyata. Tapi keluhan umum seperti lemas, lekas capek, ngantuk, gangguan pencernaan, kembung, mual dan kurang nafsu makan. (mer/ir)
Last edited by gitahafas on Tue Aug 03, 2010 10:03 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Fri Jun 18, 2010 8:32 pm | |
| HEPATITIS B BISA BUNUH ANDA DIAM DIAM Selasa, 17 Juni 2008 | 19:20 WIB Kompas.com - PENYAKIT hepatitis B adalah jenis penyakit yang tidak menunjukkan gejala berarti. Tak heran bila para penderitanya sama sekali tidak menyadari kalau dirinya telah menderita hepatitis B bahkan bila sudah dalam kondisi kronis sekalipun. "Yang paling sering ditemukan memang tanpa gejala. Banyak sekali pasien yang kita obati tidak tahu kalau dirinya sudah sakit. Beruntung kalau ada pasien yang rajin atau sadar melakukan check-up setiap tahun. Dengan penanganan sejak dini, kemungkinannya untuk menjadi kronis tentu bisa dikurangi," ungkap Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) dr. Unggul Budihusodo, Sp.PD-KGEH di Jakarta, Selasa (17/6). Ditegaskan dr Unggul, memang sulit untuk menentukan apakah seseorang menderita hepatitis B hanya dari gejalanya. Tentu yang paling valid adalah berdasarkan hasil pemeriksaan darah di laboratorium.
Namun begitu, ada gejala-gejala yang mungkin hadir pada pendeita meskipun tidak selalu muncul. "Gejala-gejala yang mungkin ada seperti kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, diare, perubahan warna urin dan feses, mata dan warna kulit yang tampak menguning," papar dr Unggul yang sehari-hari berkantordi Divisi Hepatologi Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta . Ia menambahkan, seseorang akan dinyatakan positif mengalami hepatitis B oleh dokter bila telah menjalani serangkaian pemeriksaan secara klinis di laboratorium. Dokter biasanya akan mempertimbangkan sejumlah indikator seperti HBsAg positif (antigen yang menandakan adanya infeksi) atau kenaikan enzim hati (SGOT dan SGPT).
"Dari hasil pemeriksaan nanti, dokter kemudian akan menentukan apakah infeksi ini perlu diobati atau tidak. Sebagai contoh, tidak semua yang memiliki HBsAg positif akan diobati karena harus dilihat dulu dari kelompok mana dan harus dilihat faktor lain yang menyebabkannya," jelas dr Unggul. Sementara itu, seseorang akan dinyatakan mengidap hepatisis B kronik bila ia sudah menderita atau mengidap infeksi selama lebih dari enam bulan. Diagnosa juga didasarkan pada adanya HBV DNA (indikasi replikasi virus aktif) dalam serum, kenaikan enzim hati, bukti histologis serta hasil USG yang menunjukkan proses peradangan hati.
Saat ini, pengobatan hepatiitis B tersedia dalam bentuk oral dan injeksi. Untuk pengobatan oral, pasien sepanjang hidupnya harus meminum obat yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi dan menginfeksi sel-sel hati lebih banyak lagi. Di Indonesia, tersedia 4 jenis obat oral yang mendapat lisensi FDA, yakni Entecavir, Lamivudine, Adefovir dan Telbivudine. Sedangkan melalui injeksi, pasien akan diberi interferon atau senyawa sistesis yang menyerupai zat yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi infeksi. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Fri Jun 18, 2010 8:34 pm | |
| MEWASPASDAI EFEK LANJUTAN INFEKSI HBV SIMPOSIA - Edisi September 2006 (Vol.6 No.2) Farmacia Pengobatan tuntas merupakan kunci tatalaksana infeksi hepatitis B. Pengobatan yang tidak adekuat akan memunculkan masalah baru yang lebih berat
Infeksi virus hepatitis B (HBV) tanpa pengobatan yang tuntas berpeluang menimbulkan efek lanjutan yang lebih berbahaya. Perlukaan pada hati (liver injury) misalnya. Kondisi yang diawali infeksi hepatitis B kronik (chronic hepatitis B / CHB) ini ditandai dengan kadar ALT (alanine aminotransferase) serta kadar HBV DNA yang juga tinggi. Lebih buruk lagi adalah hepatocelluar carcinoma (HCC). Kadar HBV DNA yang tinggi pada HCC menunjukkan track pengobatan yang buruk.
Dr. Man Fung Yuen, MD, Phd dari Queen University, Hongkong, dalam Liver Update 2006, yang berlangsung di Hotel Borobudur, Jakarta, 28 - 30 Juli lalu mencoba melihat perkembangan objektif kasus CHB yang berkembang menjadi HCC. Yuen menilai kondisi CHB pasien dengan tiga metode yakni meninjau progresivitas CHB, merangkum data dari studi cohort dan melakukan diskusi. “Viral load yang tinggi pada pengobatan hepatitis B menunjukkan outcome yang rendah”, jelasnya.
Viral load (residu virus) pada infeksi HBV merupakan faktor resiko yang independen terhadap perkembangan CHB menjadi HCC. Residu virus yang tinggi sangat berkaitan dengan peningkatan kasus HCC. Seperti yang ditunjukkan dalam sebuah studi berlabel REVEAL-HBV (Risk Elevation of Viral Load Elevation & Associated Liver Disease / Cancer-HBV study) yang berlangsung di Taiwan selama 1991 hingga 1992 dan berlanjut hingga Juni 2004. Studi ini melibatkan 89.293 orang dari tujuh kota di Taiwan. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi hubungan antara tingginya kadar HBV DNA yang dapat menjadi prediktor mayor dalam kejadian HCC.
Penelitian ini dilengkapi dengan pemeriksaan kadar ALT, status serologi dari HBeAg dan HBsAg serta kondisi klinis sirosis hati. Tercatat, partisipan dengan kadar HBV DNA ≤ 300 kopi/mL memiliki kaitan dengan HCC hanya sebesar 1,3%, dibandingkan 14,9% pada mereka yang kadar HBV DNA-nya mencapai ≥ 1 juta kopi/mL. Kadar HBV DNA di sini menunjukkan indikator replikasi virus dan efikasi obat. Karena itu, ditegaskan lagi oleh pakar hepatologi Tanah Air, Prof. Dr. Nurul Akbar SpPD, K-GEH mengenai sisi objektif tujuan terapi infeksi HBV. “Pengobatan dalam jangka panjang harus menunjukkan supresi virus dengan perbaikan kondisi klinis,” ujarnya. Obat-obatan penekan virus, antara lain lain pemberian parenteral pegylated interferon dengan kombinasi ribavirin dan preparat oral seperti lamivudine, adefovir dan entecafir, menjadi pilihan utama. Karena, lanjut Nurul, obat-obatan tersebut secara kualitatif memperlihatkan perbaikan serologi dari HBeAg.
Pendidikan HBV Nurul juga mengingatkan kembali pentingnya pendidikan kepada masyarakat akan bahaya penyakit hepatitis. Hepatitis merupakan gangguan pada hati berupa inflamasi yang disebabkan ada atau tidak adanya infeksi. Hepatitis dengan infeksi, dapat disebabkan oleh serangan virus, bakteri, jamur atau organisme parasit. Sedangkan penyebab hepatitis non infeksi, diperoleh sebagai efek samping dari medikasi, toksin atau gangguan autoimun.
Sekitar 400 hingga 500 juta orang di dunia, diperkirakan terinfeksi oleh virus hepatitis B, yang menyebabkan sekitar satu juta kematian tiap tahunnya. Penting untuk disampaikan kepada masyarakat, bahwa gangguan hati, termasuk infeksi virus hepatitis B dapat ditularkan melalui perpindahan cairan tubuh dan plasma. Celah penularannya dapat berasal dari kontak seksual dengan berganti-ganti pasangan, tranfusi darah, berbagi jarum suntik pada pengguna obat, tranfusi, hemodialisa, pemakaian bersama penderita berupa alat cukur, penggunting kuku dan sikat gigi. Juga dapat ditularkan dengan penggunaan benda tajam yang tak steril seperti pada tindik dan rajah (tattoo).
Pada tahap awal, seringkali pasien tak mendapati gejala yang serius. Namun pada tahap selanjutnya akan didapati gejala seperti anoreksia, mual, muntah, kelelahan, urtikaria dan pruritus. Gejala tersebut berlanjut dengan kondisi spesifik, seperti urin yang cenderung berwarna gelap dan feces berwarna pucat, kekuningan pada kulit, dan pembengkakan organ hati.
Masa inkubasi virus hepatitis B sekitar 30 hingga 180 hari dengan rata-rata 75 hari. Pada saat organ hati terinflamasi, maka enzim liver mulai terelevasi dan menimbulkan nyeri. Dapat pula disertai oleh demam, artritis, dan artralgia.
Diagnosa ditegakkan dengan pemeriksaan serologi virus, naiknya kadar ALT, kadar bilirubin > 30 mg/dL atau biopsi liver untuk HBV kronis. Pengobatan hepatitis B berorientasi pada normalisasi kadar ALT, perbaikan histologi hati, dan eliminasi penanda (marker) HBeAg menjadi HBeAg undectable pada pemeriksaan serum HBV.
Ditambahkan Dr. Poernomo Boedi S,SpPD, K-GEH dari RSUD Dr Soetomo, Surabaya, tujuan medikasi yakni dengan eliminasi permanen terhadap virus hepatitis B. Dengan tujuan jangka pendeknya berupa upaya penekanan HBV DNA, normalisasi kadar ALT, mencegah dekompensasi organ hati, dan mengurangi nekrosis.
Infeksi Cholangitis Liver Update 2006 juga memaparkan tentang manajemen Acute Cholangitis (gangguan pada kelenjar empedu) yang disebabkan infeksi. Gangguan ini, menurut Prof. Dr. L.A Lesmana, PhD, SpPD, K-GEH juga kerap terjadi pada pasien dengan gangguan hati. Bila cholangitis akut terjadi, yang harus dilakukan, adalah penggantian cairan dan koreksi keseimbangan elektrolit. Dipertimbangkan juga terapi antibiotik dan drainase pada kelenjar empedu, karena bakteri E. Coli ditemukan pada sekitar 34 % dari 53 pasien choledocholitiasis yang menjalani pembedahan.
Tindakan yang dilakukan didasarkan pada keparahan kondisi pasien yang datang di unit rawat intensif. Hal utama dalam penanganan cholangitis adalah pengosongan beban pada kandung empedu sesegera mungkin. “Di masa lalu tindakan drainase dapat dikategorikan sebagai satu tindakan operasi. Namun kini pilihan drainase dapat dilakukan dengan drainase perkutan atau drainase endoskopi yang menyertakan penggunaan antibiotika,” papar Lesmana. Drainase endoskopi, tambah Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) ini, menunjukkan kemampuan menurunkan mortalitas 10 hingga 30 %.
Terapi medis masih dapat dilanjutkan dengan tindakan operasi ataupun terapi endoskopi serta pemberian antibiotik intra vena selama 12 hingga 24 jam. Perdebatan masih saja berlangsung dalam penentuan jenis antibiotik mana yang konsentrasinya cukup tinggi pada kandung empedu. Terapi antibiotik tradisional dengan menggunakan ampisilin dan golongan aminoglikosida nampaknya kurang ideal untuk saat ini. Hal ini berkaitan dengan aktivitas lemah ampisilin dalam melawan bakteri areob dan anaerob dan isu toksisitas pada ginjal oleh golongan aminoglikosida. Karena itu munculnya antibiotika baru dengan efektivitas tinggi, baik sebagai agen tunggal maupun dalam terapi kombinasi, akan sangat membantu. Kombinasi antibiotik terdiri dari agen dengan spektrum yang diperluas dari sefalosporin, metronidazole, dan ampisilin. Sedangkan regimen tunggal yang tersedia antara lain piperacillin/tazobactam, imipenem, meropenem, ticarcillin, dan clavulanate. Mekanisme beta laktamase inhibitor sedikit unggul dalam hal ini. Setidaknya itulah yang diperlihatkan pada studi yang dikerjakan oleh William JD dalam International Antimicrobial Agent, pada 1999. Banyaknya gram negatif yang tereradikasi pada kelenjar empedu menjadi faktor keberhasilan dalam mengeliminasi bakteri gram negatif tersebut. Dari catatan sensitivitas sejumlah aplikasi antibakteri menunjukkan, sensitivitas paling tinggi didapat dengan piperacillin/tazobaktam, mencapai 90,2 %, disusul sulbactam 89,9%, imipenem 89,9%, dan meropenem 88,6%. Piperacillin merupakan turunan dari penisilin yang memiliki protein binding rendah. Sehingga pada keadaan pasien dengan kadar albumin rendah, dan kemampuan daya serap obat berkurang, piperacillin masih dapat diserap oleh tubuh. Absorpsinya sampai di kelenjar
Last edited by gitahafas on Tue Aug 03, 2010 10:02 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Fri Jun 18, 2010 8:37 pm | |
| HEPATITIS B Kompas.com DEFINISI Hepatitis B adalah infeksi serius pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Pada beberapa orang infeksi hepatitis B dapat menjadi kronis dan menyebabkan kegagalan hati, kanker hati atau kerusakan pada jaringan hati. Banyak orang yang mengalami hepatitis B dapat sembuh bahkan jika tanda dan gejalanya parah. Meskipun tidak ada obatnya, vaksin dapat mencegah penyakit ini menginfeksi anda.
GEJALA Tanda dan gejala hepatitis B biasanya muncul setelah dua sampai tiga bulan setelah anda terinfeksi dan gejalanya dapat bervariasi dari yang ringan sampai parah. Tanda dan gejala hepatitis B antara lain: • Nyeri pada area perut • Urin yang berwarna gelap • Nyeri sendi • Hilang nafsu makan • Mual dan muntah • Lemah dan kelelahan • Kulit dan area putih pada mata menjadi kuning
Penyebab & Faktor Risiko Penyebab Infeksi hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B yang menular secara langsung melalui darah, air mani atau cairan tubuh lain. Ketika virus hepatitis B masuk kedalam hati, virus ini akan menyerang sel hati dan melipat gandakan dirinya. Hal ini akan menyebabkan pembengkakan pada hati dan memicu tanda dan gejala infeksi hepatitis B.
Virus Hepatitis B menular dengan cara: • Hubungan seksual • Berbagi jarum suntik • Kontak langsung dengan darah • Menurun dari ibu kepada anak
Faktor risiko Risiko hepatitis B akan meningkat jika anda: • Melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang berbeda-beda tanpa menggunakan alat pengaman • Melakukan hubungan seksual dengan orang yang terinfeksi hepatitis B tanpa menggunakan alat pengaman • Memiliki penyakit seksual menular seperti gonorrhea atau Chlamydia • Berbagi jarum suntik • Satu rumah dengan seseorang yang terinfeksi virus hepatitis B • Memiliki pekerjaan yang mendekatkan anda dengan kemungkinan menyentuh darah manusia • Menjalani hemodialysis (cuci darah)
Pencegahan Pertimbangkan untuk menggunakan vaksin hepatitis B Semua orang dapat menggunakan vaksin hepatitis B, termasuk adalah bayi, orang dewasa dan mereka yang memiliki sistem imun lemah. Efek sampingnya antara lain pembengkakan pada daerah suntikan. Vaksin hepatitis B disarankan pada:
• Semua bayi • Semua anak-anak dan remaja yang belum divaksinasi • Orang yang memiliki penyakit seksual menular • Petugas kesehatan dan orang lain yang sering melakukan kontak dengan darah • Orang yang positif mengidap HIV • Pasangan sejenis • Orang yang berhubungan seksual dengan banyak pasangan • Orang yang memiliki penyakit hati kronis • Orang yang memakai obat-obatan terlarang dengan cara disuntik • Orang yang tinggal dengan seseorang yang memiliki hepatitis B • Orang dengan penyakit ginjal • Berhubungan seksual dengan orang yang memiliki hepatitis B • Orang yang melakukan perjalanan ke wilayah rawan hepatitis B
Ambil tindakan pencegahan untuk menghindari virus hepatitis B Langkah lain untuk mengurangi risiko terkena hepatitis B adalah: • Jangan lakukan hubungan seksual tanpa alat pengaman kecuali jika anda yakin pasangan anda tidak memiliki hepatitis B atau penyakit kelamin menular lainnya.
• Selalu gunakan kondom yang baru setiap anda berhubungan seksual
• Berhenti menggunakan obat-obatan terlarang
• Hati-hati terhadap tindik dan tato tubuh
• Mintalah vaksin hepatitis B kepada dokter anda sebelum berpergian jauh
Last edited by gitahafas on Wed Jan 19, 2011 1:49 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Fri Jun 18, 2010 8:39 pm | |
| PENCEGAHAN HEPATITIS B PADA BAYI Senin, 10 Januari 2011 | 10:06 WIB Saya seorang perawat perempuan yang sudah tiga tahun ini bekerja di salah satu rumah sakit. Rumah sakit kami bulan lalu mengadakan vaksinasi Hepatitis B untuk tenaga kesehatan, termasuk perawat. Saya mengikuti program tersebut, tetapi pada waktu skrining diketahui HBsAg saya positif dan anti-HBs saya negatif. Saya tak dapat mengikuti program vaksinasi tersebut karena sudah tertular Hepatitis B. Pemeriksaan lebih lanjut pada dokter spesialis penyakit dalam menyimpulkan bahwa saya merupakan karier Hepatitis B. Kata dokter, dalam tubuh saya terdapat virus Hepatitis B, tetapi virus tersebut tak menimbulkan penyakit pada tubuh saya, tetapi saya dapat menularkan virus tersebut kepada orang lain.
Saya dianjurkan tidak menjadi donor darah. Persoalan yang saya hadapi adalah tahun depan saya merencanakan untuk menikah. Apa yang harus kami lakukan agar suami saya tak tertular Hepatitis B. Bagaimana dengan anak saya nanti karena saya mengetahui Hepatitis B dapat menular dari ibu hamil ke bayinya. Dapatkah dilakukan pencegahan kepada bayi saya nanti agar tak tertular Hepatitis B? Benarkah bayi yang tertular Hepatitis B dari ibunya cenderung akan menjadi Hepatitis kronis? Bagaimana dengan perkembangan terapi Hepatitis B, dapatkah obat herbal menyembuhkan Hepatitis B? Terima kasih atas penjelasan dokter.
M di J
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan agar setiap petugas kesehatan mempunyai antibodi terhadap Hepatitis B. Dalam pekerjaannya sehari-hari, petugas kesehatan berisiko jauh lebih tinggi tertular Hepatitis B dibandingkan bukan petugas kesehatan. Ini dapat dimengerti karena petugas kesehatan sering kali terpajan cairan tubuh penderita.
Kita mengetahui bahwa penularan Hepatitis B terjadi melalui cairan tubuh. Penularan tersebut dapat terjadi vertikal, yaitu dari ibu hamil ke bayinya dan horizontal dari seorang yang mengidap Hepatitis B ke orang lain. Penularan horizontal Hepatitis B melalui transfusi darah, misalnya, dapat terjadi sehingga pemerintah menerapkan semua darah yang akan ditransfusikan harus diskrining Hepatitis B terlebih dahulu. Dengan maraknya kasus HIV di Indonesia, sejak tahun 1992 darah yang akan ditransfusikan, selain diskrining Hepatitis B, juga diskrining untuk HIV.
Hepatitis virus merupakan masalah kesehatan yang penting di dunia. Jumlah pengidap Hepatitis B di dunia diperkirakan sekitar 400 juta orang. Itulah sebabnya mulai tahun ini WHO menetapkan Hepatitis Day pada bulan Juli untuk mengingatkan bahwa Hepatitis virus merupakan salah satu masalah kesehatan yang harus diatasi bersama. Di Indonesia kekerapan Hepatitis B juga tinggi berkisar 5 persen-8 persen. Upaya untuk mencegah penularan Hepatitis B adalah dengan menerapkan hidup bersih serta menjalani vaksinasi.
Hasil vaksinasi di Pulau Lombok pada tahun 1987 berhasil menurunkan kekerapan Hepatitis B pada anak di bawah usia empat tahun dari 6,2% menjadi 1,4%. Berdasarkan pengalaman manfaat vaksinasi Hepatitis B di beberapa provinsi akhirnya pemerintah sejak 1 Maret 1997 memasukkan vaksinasi Hepatitis B dalam program imunisasi rutin. Manfaat vaksinasi Hepatitis B akan meningkat jika pemberian vaksin pertama kali dilaksanakan secara dini, yaitu pada usia bayi 0 sampai 7 hari. Karena sebagian bayi di Indonesia lahir di luar layanan kesehatan (dukun bersalin), diperlukan koordinasi dengan dukun bersalin untuk meningkatkan cakupan vaksinasi Hepatitis B pada bayi.
Eliminasi Sebenarnya telah ada komitmen dunia untuk eliminasi hepatitis pada tahun 2015 nanti. Meski situasi di banyak negara berkembang mungkin belum memungkinkan, Indonesia harus berusaha keras untuk mewujudkan komitmen tersebut. Sebenarnya sebagian besar Hepatitis B akut akan sembuh dan hanya 5%-10% yang akan menjadi kronik. Risiko menjadi kronik jauh lebih tinggi pada penularan vertikal, bayi yang tertular dari ibunya. Karena kekerapan Hepatitis B yang tinggi, jumlah orang yang menderita Hepatitis B kronik di negeri kita diperkirakan 13 juta orang.
Penderita hepatitis kronik inilah yang perlu diobati sehingga diharapkan pengobatan dapat mencegah penyakit Hepatitis B kronik berkembang menjadi sirosis hati, gagal hati, hepatoma (kanker hati ), serta meningkatkan harapan hidup. Obat herbal fungsinya lebih pada meningkatkan kualitas hidup, tetapi sampai saat ini belum terbukti dapat mematikan virus Hepatitis B sehingga obat herbal hanya digunakan untuk terapi mengurangi gejala. Dewasa ini telah terdapat obat antivirus Hepatitis B, seperti lamivudin, adefovir, entecavir, dan telbivudin, obat ini mampu menghambat replikasi virus Hepatitis B. Sebagian obat hepatitis B, seperti lamivudin, telah lama digunakan sebagai obat untuk infeksi HIV/AIDS.
WHO telah menunjukkan perhatian pada infeksi bersama Hepatitis B dan HIV. Obat antiretroviral yang digunakan untuk HIV dianjurkan digunakan lebih dini jika di samping HIV terdapat juga infeksi Hepatitis B. Di RS Cipto Mangunkusumo, odha pengguna narkoba suntikan di samping terinfeksi HIV biasanya sekitar 18% juga terinfeksi Hepatitis B dan 80% terinfeksi Hepatitis C. Pemerintah telah memberikan subsidi penuh pada terapi HIV/AIDS sehingga odha dapat menikmati obat antiretroviral secara cuma-cuma. Sampai saat ini, penderita Hepatitis B jika menggunakan obat HIV yang punya potensi anti-Hepatitis B masih harus membayar dan harga obatnya cukup mahal. Pemerintah perlu mempertimbangkan kebijakan baru agar penderita Hepatitis B kronik juga dapat memperoleh obat subsidi penuh atau sekurangnya harga obat dapat dijangkau masyarakat.
Mengenai niat Anda untuk menikah tak perlu terganggu karena Hepatitis B. Calon suami Anda hendaknya mempunyai antibodi terhadap Hepatitis B. Jika belum, anjurkan untuk mengikuti vaksinasi Hepatitis B. Anak yang lahir dari ibu Hepatitis B dapat dicegah agar tak tertular Hepatitis B dengan pemberian imunglobulin dan vaksinasi Hepatitis B. Karena itulah, ibu hamil dianjurkan menjalani tes Hepatitis B (dan jangan lupa juga HIV) agar jika diperlukan anak dapat dicegah tak tertular. Saya mengucapkan selamat bekerja kepada Anda, menolong penderita dan meningkatkan tingkat kesehatan masyarakat. Saya juga mendoakan agar tingkat kesejahteraan perawat di negeri kita akan meningkat sehingga para perawat dapat hidup layak.
Dr Samsuridjal Djauzi Sumber : Kompas Cetak
Last edited by gitahafas on Wed Jan 19, 2011 1:51 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12094 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Hati Fri Jun 18, 2010 8:42 pm | |
| KASUS HEPATITIS B KERAP TAK TERDETEKSI Kamis, 13 Januari 2011 | 07:06 WIB Jakarta, Kompas — Sekitar 70 persen kasus hepatitis B virus dan menahun luput dari diagnosis. Akibatnya, penyakit itu berisiko menjadi penyakit hati menahun dan tidak mendapatkan pengobatan. Hepatitis virus merupakan peradangan hati yang diakibatkan oleh virus. Jenis penyakit hepatitis virus B dan C termasuk yang paling sering muncul dan merupakan penyebab utama kanker hati dan transplantasi hati. Hepatitis B merupakan masalah kesehatan yang mengkhawatirkan. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 350 juta orang di dunia terinfeksi virus itu.
”Hepatitis B virus yang tidak mendapatkan pengobatan itu dapat menjadi penyakit hepatitis menahun, kanker hati, dan sirosis hati,” ujar Prof H Ali Sulaiman dari Klinik Hati di sela-sela kegiatan simposium bertema ”Hepatitis Virus dan Penyakit Hati”, Rabu (12/1/2011). Simposium itu diikuti 500 dokter puskesmas di Jakarta, Tangerang, Bekasi, dan Depok.
Banyak ditemukan Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Dien Emawati mengatakan, kasus hepatitis virus banyak ditemukan dalam praktik klinik sehari-hari. Namun, biasanya pasien sudah datang dalam kondisi lanjut karena terlambatnya diagnosis. Penyebab keterlambatan itu antara lain karena penyakit tidak menunjukkan gejala dan tanda klinis yang jelas. Penyakit itu biasanya luput dari diagnosis oleh dokter karena perjalanan penyakit tidak nyata dan penderita kerap tidak merasakan atau menyadarinya.
Di Jakarta sudah sekitar 1.000 dokter puskesmas dilatih dengan harapan mereka dapat mengenali hepatitis B, melakukan deteksi dini, dan merujuk ke layanan rumah sakit jika tidak bisa diobati di puskesmas. Jika ternyata hepatitis yang diderita seseorang berkembang menjadi sirosis atau kanker hati, pengobatan akan sangat mahal. Deteksi dini juga penting agar tidak terjadi penularan dari orang dewasa ke orang dewasa lain melalui kontak darah atau dari ibu ke bayi yang akan dilahirkannya.
Ali mengatakan, tindakan preventif yang tak kalah penting ialah vaksinasi hepatitis B. Infeksi hepatitis B saat dewasa kemungkinan berkembang menjadi penyakit hati menahun, sirosis, atau kanker hati sekitar 5 persen. Sebaliknya, infeksi virus hepatitis B yang terjadi saat lahir, risiko menjadi parah sekitar 95 persen. ”Oleh karena itu, cakupan vaksinasi hepatitis B bagi bayi sangat penting. Hepatitis C belum ada vaksinasinya,” ujarnya. (INE)
Last edited by gitahafas on Wed Jan 19, 2011 1:52 pm; edited 1 time in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |