|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Sat Aug 27, 2011 11:34 am | |
| TBC KEBAL OBAT Tuberkulosis ( TB ) merupakan penyakit menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberkulosis. Penyakit tersebut ditularkan lewat udara melalui percikan dahak penderita TB. Sebagian besar kuman tersebut menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lain. TB kebal obat adalah TB yang disebabkan oleh kuman TB yang kebal terhadap setidaknya dua obat anti TB yakni INH dan Rifampisin secara bersama sama, atau disertai resisten terhadap obat TB lini pertama lainnya seperti ethambutol, streptomycin dan pyrazinamide. INH dan Rifampisin merupakan tulang punggung dalam pengobatan TB. Perkiraan kejadian TB kebal obat menurut WHO adalah 2-3% diantara kasus baru. Perkiraan jumlah pasien TB kebal obat di antara keseluruhan kasus TB di Indonesia pada tahun 2007 sekitar 12.209 jiwa. Perkiraan insiden Tuberculosis Multi Drug Resistant ( TB-MDR ) mencapai 6.395 kasus per tahun. Meningkatnya resistensi ganda kuman TB terhadap obat anti-TB paling besar disebabkan oleh ulah manusia sendiri. Resistensi secara alamiah sangat kecil. Penyebab terjadinya TB kebal obat dari sisi pelayanan kesehatan antara lain karena: 1. Pengobatan yang tidak benar. 2. Dosis yang tidak tepat. 3. Ketidakpastian penyediaan obat. 4. Penyimpanan obat yang buruk.
Adapun kekebalan terhadap obat lini pertama juga dapat disebabkan oleh pasien sendiri, yaitu karena: 1. Ketidak patuhan menkonsumsi obat. 2. Meminum obat tidak sesuai ketentuan. 3. Putus berobat.
Pengobatan TB kebal obat jauh lebih sulit, lama dan mahal. Pengobatan menjadi berlangsung minimal 2 tahun minum obat dan 6 bulan berupa suntikan. Berbeda dengan TB biasa yang hanya perlu minum obat selama 6 bulan, dan harga obat lebih murah. Jika TB kebal obat tidak ditangani dengan baik, pasien dapat masuk ke kondisi Extremely Drug Resistant Tuberculosis ( XDR ), yakni TB-MDR disertai kekebalan terhadap obat TB lini kedua yaitu golongan fluoroquinolon dan setidaknya satu obat anti-TB lini kedua suntikan seperti kanamycin, amikasin dan capreomycin.
Pengendalian dan pencegahan TB dapat dilakukan dengan melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat, antara lain: 1. Membiasakan diri mencuci tangan sebelum dan sesudah mengerjakan sesuatu. 2. Menutup hidung dan mulut pada saat batuk dan bersin. 3. Tidak sembarangan membuang dahak. 4. Ventilasi rumah yang cukup baik.
Sumber: Kompas Rabu 21 April 2010
Last edited by gitahafas on Sat Mar 17, 2012 3:59 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Sat Aug 27, 2011 11:36 am | |
| ADA VIRUS TBC MEMATIKAN KEBAL OBAT DI INDIA SELASA, 17 JANUARI 2012 16:46 wib Gustia Martha Putri - Okezone INDIA melaporkan kasus pertama akan adanya penyakit mematikan tuberkulosis (TB/TBC) yang kebal terhadap semua obat yang ada. Sebuah virus TBC penyerang paru-paru yang tak mempan diatasi hampir semua obat yang ada di India, diungkapkan hari ini telah menyerang 12 kawasan kumuh di India, seperti dilansir Dailymail, Selasa (17/1/2012). Adalah Rumah sakit Mumbai yang menemukan penyakit ini pertama kali di India, menguji selusin obat-obatan pada pasien, namun tidak satu pun dari obat-obatan tersebut dapat bekerja dengan baik. Seorang ahli penyakit tuberkulosis (TB) dari Centers for Disease Control (CDC) Amerika Serikat mengatakan, mereka tampaknya benar-benar kebal terhadap obat yang tersedia. "Ini memprihatinkan," kata Dr Kenneth Castro, direktur Divisi Penghapusan Tuberkulosis CDC. "Setiap kali kita melihat sesuatu seperti ini, lebih baik kita yang pertama mengetahui dan mencari jalan keluarnya sebelum masalah penyakit ini menjadi masalah yang lebih luas," imbuhnya. Sebelumnya, berdasarkan dokumentasi yang didapat, kasus dengan virus yang kebal obat seperti ini pernah ditemukan 2003 di Italia. Dua wanita Italia tewas dan ada 15 kasus dilaporkan dari Iran pada 2009. Pada tahun yang sama, kasus ini ditemukan kembali di kawasan kumuh di India. Tapi para ahli percaya, kemungkinan ada banyak kasus tercatat.
Para dokter dari Rumah Sakit Mumbai melaporkan, bahwa total telah ada 12 pasien yang gagal menjalani perawatan untuk pendeteksian penyakit dan juga tidak meresponS terhadap obat-obatan yang rata-rata telah melalui masa uji dua hingga tiga tahun. Tiga dari 12 pasien tersebut telah meninggal dunia. Tapi tidak satu pun yang benar-benar sukses menjalani perawatan. Korban yang terserang penyakit ini merupakan sumber daya manusia yang termarjinalkan di negara berkembang, di mana TBC masih menjadi pembunuh yang paling mengancam. Beberapa rumah sakit kini tengah melakukan tes untuk mengetahui jenis antibiotik yang mungkin dapat bekerja mengatasi virus ini. "Itu mengingat bahwa ini akan terjadi," kata Dr Zarir Udwadia, Hinduja National Hospital and Medical Research Center pada Jurnal “Clinical Infectious Diseases”.
"Mereka tidak memiliki bantuan dari sistem TB India. Mereka yang menjadi korban adalah tak tersentuh sehingga tidak ada yang menyuarakan perihal penyakit ini untuk segera ditanggulangi. Mereka tidak memiliki kekuatan untuk menyuarakan. Ini berbahaya karena pasti akan terjadi penyebaran, yang dimulai dari keluarga terdekat," ujar dokter Udwadia. Sampai saat ini Kementerian Kesehatan India belum memberikan tanggapan terhadap komentar-komentar dan panggilan telepon dari para wartawan dari pekan lalu sampai hari ini. Namun pihak WHO mengungkapkan dengan terungkapnya kasus penyakit ini di India dapat menjadi tanda waspada bagi negara lain. "Kasus yang ada di India mungkin bisa dijadikan sebagai alarm bagi negara lain dan untuk melakukan pekerjaan mengenai TB ini dengan baik," tutup Dr Paul Nunn, Koordinator Penanggulangan Tuberkulosis WHO. (tty)
Last edited by gitahafas on Sat Mar 17, 2012 3:58 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Wed Feb 08, 2012 7:49 pm | |
| PENYALAHGUNAAN OBAT BISA PICU TB-XDR Sabtu, 18 Desember 2010 | 07:00 WIB Jakarta, Kompas - Penyalahgunaan obat antituberkulosis berisiko menimbulkan resistensi obat, termasuk menimbulkan tuberkulosis extensively drug resistant. Tuberkulosis (Tb) merupakan penyakit menular yang disebabkan kuman Mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman Tb menyerang paru, tetapi juga dapat mengenai organ tubuh lainnya. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan dalam temu media, Jumat (17/12), tuberkulosis multidrug resistant (Tb-MDR) menjadi perhatian. Indonesia nomor delapan dari 27 negara dengan beban terbesar Tb-MDR. Perkiraan insidensi Tb-MDR di Indonesia sebesar 6.395 kasus per tahun. Tb-MDR umumnya merupakan Tb yang resisten terhadap isoniazid (H) dan rifampisin (R) dengan atau tanpa resisten obat lainnya. Situasi tersebut dapat semakin parah jika terjadi kasus tuberkulosis extensively drug resistant (Tb-XDR) yang salah satunya dapat timbul akibat penyalahgunaan obat antituberkulosis lini dua. Saat ini, obat antituberkulosis lini dua yang beredar, seperti quinolon dan kanamisin, banyak disalahgunakan.
Untuk penyakit lain Tjandra mencontohkan, quinolon banyak digunakan untuk menyembuhkan penyakit-penyakit lain di luar tuberkulosis sehingga begitu penderita terkena tuberkulosis, kuman telah resisten. Kemungkinan lainnya ialah terjadi kesalahan dalam pembelian obat yang dapat memicu resistensi. Padahal, penanganan Tb-MDR berpuluh kali lipat lebih mahal, lama, dan efek samping obat lebih berat. Lebih bahaya lagi, belum ada obat yang direkomendasikan untuk membunuh kuman Tb-XDR-TB. Tjandra mengatakan, Tb-MDR merupakan kesalahan manusia. Resistensi obat sebetulnya dapat diobati dengan menerapkan strategi DOTS (directly observed treatment shortcourse chemotherapy) atau pengawasan langsung menelan obat jangka pendek yang baik. Pengobatan juga harus lengkap dan harus memadai. Situasi tuberkulosis di Indonesia sendiri membaik. Indonesia saat ini berada di urutan kelima dari 22 negara dengan beban Tb terbanyak menurut Global Tuberculosis Control (2009). Sebelumnya, Indonesia menduduki urutan ketiga. Namun, penanganan tuberkulosis semakin berat dengan merebaknya HIV/AIDS dan Tb-MDR. (INE)
Last edited by gitahafas on Sat Mar 17, 2012 4:37 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Fri Feb 17, 2012 8:24 pm | |
| PASIEN DAN DOKTER SAMA SAMA PICU TB RESISTEN Selasa, 12 April 2011 | 18:20 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman mycobacterium tuberculosis yang sebagian besar menyerang paru dan sampai saat ini masih menjadi perhatian dunia. Pengobatan TB yang tidak benar dan teratur dapat menyebabkan terjadinya resistensi kuman. Risiko yang diakibatkan bila pasien TB tidak meminum obat secara tuntas di antaranya adalah penyakit bertambah parah dan bisa berakibat kematian. Kuman pun menjadi lebih ganas dan bisa menyebabkan pengobatan yang sangat lama. "Salah satu penyebab resisten obat karena ulah manusia itu sendiri," ungkap Arifin Nawas, spesialis paru dari RSUP Persahabatan dalam talkshow 'Waspada TB di Sekitar Anda', Selasa (12/4/2011) di Jakarta . Ulah manusia yang dimaksud, bisa diakibatkan oleh tim medis, dalam hal ini dokter, dan pasien TB itu sendiri. "Pada dokter biasanya terjadi karena dokter tidak memberikan obat sesuai dengan panduan. Sedangkan dari pasien, pasien biasanya berobat tidak teratur," jelasnya. Untuk mencegah agar resistensi itu tidak terjadi, Arifin mengatakan perlu adanya pemahaman yang tepat, baik kepada dokter dan pasien pengidap TB. "Dokter perlu di kasih penjelasan yang benar, bagaimana cara mengobati, sesuai dengan panduan internasional. Pasien harus patuh berobat secara teratur, meminum obat dengan benar," tambahnya.
Dalam pengobatan TB, ada dua tahapan yang harus dilalui oleh seorang pasien. Pertama, dengan pemberian obat TB tahap awal. Pada tahap ini, pasien harus meminum obat setiap hari selama 2 bulan. Kedua, pemberian obat TB tahap lanjutan di mana pada tahap ini pasien harus minum obat 3 kali dalam seminggu selama empat bulan. "Kebanyakan pasien berobatnya tidak sampai selesai. Misalnya, dia berobat selama dua bulan teratur. Kemudian setelah itu dia menghilang," pungkasnya. Arifin mengungkapkan, di Indonesia sendiri, prevalensi TB berkisar antara 1,7 per mil. Artinya, dari 1000 orang Indonesia, penyakit TB dapat ditemukan di antara 1 sampai 7 orang. Menurut data, sepertiga dari populasi dunia saat ini sudah tertular dengan TB, di mana sebagian besar penderitanya adalah usia produktif (15-55 tahun). TB dapat disembuhkan jika pasien menelan obat secara teratur 6-8 bulan sesuai dengan petunjuk dokter.
Last edited by gitahafas on Sat Mar 17, 2012 4:26 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Sat Feb 18, 2012 7:46 pm | |
| KUPAS TUNTAS TBC SIMPOSIA - Edisi Juli 2007 (Vol.6 No.12) Farmacia Semakin meningkatnya kasus MDR-TB dan XDR-TB, memicu wacana baru apakah perlu dipikirkan melakukan kultur dan uji resistensi pada semua pasien TB terutama di rumah sakit. Harapan adanya alat diagnostik baru untuk mendeteksi TB dan MDR-TB yan lebih cepat dan akurat. Di penghujung Maret lalu – tepatnya tanggal 24 – masyarakat sedunia merayakan hari Tuberkulosis. Perayaan itu mungkin lebih tepat sebagai suatu peringatan (warning) bahwa tuberkulosis (TB) telah menjadi global emergency. Bayangkan saja, penyakit yang sudah dikenal sejak jaman Mesir ini masih ‘membunuh’ 5000 orang setiap hari atau 2 juta tiap tahun. Insidennya pun terus melejit menjadi 20% dari beberapa dekade sebelumnya. Boleh dibilang, sepertiga populasi dunia sudah terinfeksi TB. Di Indonesia, diperkirakan terdapat 11 juta kasus. Itulah faktanya. Di abad milenium ini, TB masih menyisakan segudang permasalahan mulai dari cara melakukan diagnosis, terapi, hingga pencegahan. Semuanya itu dibahas oleh para pakar penyakit paru se-Jawa Barat dalam acara The 2007 National Symposium Update on Tuberculosis and Respiratory Disorders, Bandung, 23-25 Maret lalu.
Salah satu upaya pemberantasan TB yang terus dikembangkan adalah menciptakan obat baru. Obat baru itu diharapkan dapat memperpendek durasi total pengobatan atau memperlebar jarak minum obat (misalnya 1-2x/minggu), mengobati kasus TB resisten (multidrug resistant/MDR), dan meningkatkan efektivitas pengobatan pada kasus infeksi TB laten. Demikian papar dr Priyanti ZS, SpP(K) dari Rumah Sakit Persahabatan Jakarta. RBx 8700, salah satu obat baru golongan oxazolidinon, sangat efektif membunuh kuman respirasi patogen. Secara in vitro, RBx 8700 cukup menjanjikan. Ia menunjukkan minimum inhibitory concentration (MIC) sebesar 1 mg/ml terhadap isolasi M. tuberculosis yang resisten isoniazid dan rifampisin. Nitroimidazopyran dikatakan sebagai antibakteri poten terhadap MDR-TB, dan mungkin pula dapat memperpendek durasi pengobatan TB. Di Jepang, salah satu antibiotik yang sedang dikembangkan adalah caprazamisin B. Obat ini diisolasi dari Streptomyces sp. Efek bakterisidalnya spesifik, hanya terhadap spesies Mycobacterium, terutama M. tuberculosis. Pada hewan percobaan, obat ini tidak menunjukkan tanda-tanda sitotoksisitas. ABT-773 dan HMR-3647, termasuk golongan ketolide, cukup potensial dalam membunuh kuman M. avium intracellulare complex (MAC) secara in vitro. Namun, tidak efektif membunuh MAC yang resisten terhadap makrolida. Obat-obat lain yang terus dikembangkan adalah turunan pyrrole, riminophenazine, phenotiazine, dan lain-lain.
XDR-TB Isu lain yang dibahas dr Priyanti adalah munculnya extensive drug resistant (XDR)-TB. Bentuk ini lebih ganas daripada MDR-TB. XDR-TB berarti resistensi M. tuberculosis tidak hanya terhadap isoniazid dan rifampisin, tetapi juga terhadap fluorokuinolon dan minimal satu obat suntik – kanamisin, amikasin, atau capreomisin. Definisi sebelumnya adalah MDR-TB yang juga resisten terhadap tiga atau lebih golongan OAT lini kedua. Pada tanggal 5 September 2006, WHO menegaskan XDR-TB sebagai suatu keadaan emergensi. Survei pada tahun 2000-2004 oleh WHO dan CDC memperlihatkan bahwa kasus XDR-TB sudah terdapat di semua negara di dunia. Daerah dengan kasus terbanyak adalah negara pecahan Uni Soviet dan Asia. Di Amerika, sekitar 4% kasus MDR-TB berkembang menjadi XDR-TB; sedangkan di Korea Selatan, 15%. Kasus paling tinggi terdapat di Lativa yakni 19%. Semua penderita HIV/AIDS dengan XDR-TB meninggal.
MDR-TB Kasus MDR-TB terus merangkak dari tahun ke tahun. Prevalensi kasus MDR-TB baru rata-rata di dunia sebesar 3,2%, papar dr Edi Sampurno SpP MM dari RSP Dr Rotinsulu Bandung. Di Turki, dari 785 kasus TB paru terdapat 35% kasus yang resisten 1 obat, 11,6% 2 obat, 3,9% 3 obat, dan 2,8% 4 obat. Di Pakistan, ditemukan 17,7% resisten rifampisin, 14,7% resisten isoniazid, dan 8,7% resisten ethambutol. Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dari 174 kultur TB positif di RSP Dr Rotinsulu Bandung tahun 2005, terdapat 28,2% resisten RH, 17,8% RHE, 13,8% RHEZ, 10,3% RHEZS, 5,7% RHEZKS. MDR-TB dibagi menjadi 3 macam yaitu primer, inisial, dan sekunder. Dikatakan resistensi primer bila penderita sebelumnya tidak pernah mendapat pengobatan TB. Resistensi inisial ialah apabila kita tidak tahu pasti apakah penderitanya sudah pernah ada riwayat pengobatan sebelumnya atau tidak. Sebaliknya, resistensi sekunder bila penderita telah punya riwayat pengobatan sebelumnya.
Pengobatan MDR-TB sangat sulit dan memerlukan waktu lama. Belum lagi, hasil pengobatannya kurang maksimal. Penderita MDR-TB dengan HIV (-) yang mengalami konversi sebanyak 50% kasus. Prognosis MDR-TB dengan HIV (+) lebih buruk yakni meninggal dalam 8 bulan, dan lebih banyak lagi (72-89%) yang meninggal dalam 4-9 minggu. Laporan lain menunjukkan respon rate penderita MDR-TB dengan HIV (-) sebesar 65% dan angka kesembuhan 56%. Sementara itu pada HIV (+) kematian sebesar 70-80%. Indikasi pembedahan pada MDR-TB bila kultur tetap positif setelah 3 bulan diobati dengan DOTS atau resisten terhadap semua OAT lini pertama. Sebelum pembedahan (reseksi) dilakukan, diberikan dahulu OAT yang terbaik selama 1-3 bulan. Setelah reseksi pun, OAT yang terbaik dilanjutkan selama 18 bulan. Semakin meningkatnya kasus MDR-TB dan XDR-TB, memicu wacana baru apakah perlu dipikirkan melakukan kultur dan uji resistensi pada semua pasien TB terutama di rumah sakit. Harapan adanya alat diagnostik baru untuk mendeteksi TB dan MDR-TB yan lebih cepat dan akurat tentu menjadi impian. Yang pasti, penelitian obat baru harus terus dikembangkan untuk menangani kasus MDR-TB dan XDR-TB.
Drug Induced Hepatitis Isu lain yang tak kalah menarik dan dibawakan oleh dr Azril Hasan SpP adalah bagaimana mengobati TB pada pasien dengan drug induced hepatitis (DIH). Seperti telah diketahui sebelumnya, isoniazid, rifampisin, dan pirazinamid dapat menimbulkan efek samping hepatitis. Studi lain melaporkan gangguan fungsi hati terjadi pada 35% pasien yang mengkonsumsi rifampisin dan isoniazid. DIH – dikenal juga dengan toxic hepatitis – terjadi pada 8 dari 10.000 orang. DIH menyebabkan fungsi hati tidak berjalan normal. Studi epidemiologi menunjukkan wanita 2x lebih berisiko daripada pria dan orang tua lebih rentan terhadap jenis hepatitis ini. Gejala DIH hampir serupa dengan hepatitis virus, yaitu mual, muntah, sakit kepala, anoreksia, jaundice, feses dempul, urin kuning gelap, demam, gatal, flu like symptoms, dan hepatomegali. Tak jarang pula asimtomatik. Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti sangat diperlukan saat hendak menegakkan diagnosis. Pemeriksaan laboratorium spesifik yang dapat dikerjakan adalah tes fungsi hati, waktu perdarahan, elektrolit, drug screening test. USG dapat memperlihatan struktur atau morfologi hati. Biopsi hati, bila perlu. Tatalaksana awal adalah menghentikan segera obat-obat yang dicurigai menjadi penyebab hepatitis. Istirahat (tirah baring) selama fase akut. Beberapa obat memang dapat menyebabkan sedikit peningkatan enzim hati tanpa gejala klinis. Obat-obat tersebut mungkin dapat diteruskan. Persatuan Dokter Paru Indonesia (PDPI) telah membuat panduan seperti pada tabel 2. Biasanya gejala DIH akan berangsur membaik bila obat penyebabnya dihentikan. Komplikasi serius seperti gagal hati mungkin terjadi tetapi jarang.
Last edited by gitahafas on Sat Mar 17, 2012 4:01 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Sat Feb 18, 2012 7:49 pm | |
| MENCEGAH MDR-TB, BUKAN MENGOBATI RACIKAN KHUSUS - Edisi Maret 2011 (Vol.10 No. Sebanyak 79 persen dari MDR-TB adalah 'super strain' yang resisten paling sedikit 3 atau 4 OAT. "Kami sudah terbiasa mendapat dan menangani kasus MDR-TB di RS Persahabatan karena fungsi rumah sakit ini sebagai pusat rujukan nasional untuk penyakit respirasi" ujar Dr. Elisna Syahruddin PhD, SpP(K), di ruang praktek RS Persahabatan Jakarta Timur ketika ditanyakan tentang kasus tuberkulosis . Kata-kata awal Elisna bukanlah ucapan yang menganggap enteng Multi Drugs Resistence Tuberculosis ( MDR TB). Cerita selanjutnya yang mengalir dari Koordinator Riset Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI-RS Persahabatan ini adalah mengenai kekhawatiran dia tentang penyakit ini. Meski Indonesia telah sukses menurunkan peringkat insiden tuberkulosis dari urutan ketiga menjadi kelima di dunia, kasus MDR menjadi bahaya 'baru' yang mengancam dan tidak boleh lengah diwaspadai.
Ada sejumlah alasan mengapa para dokter spesialis paru seperti Elisna, cemas dengan MDR-TB ini. Pertama, terapi MDR TB membutuhkan waktu terapi yang lebih lama, sekitar 18 bulan. Padahal, pasien Indonesia untuk pengobatan TB biasa (tampa penyulit lain) yang 'hanya' membutuhkan waktu 6 bulan, masih banyak memiliki faktor yang me njadi hambatan untuk suksesnya terapi. Mulai faktor ekonomi, hingga keengganan berobat akibat kurangnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya TB paru. Waktu yang lebih panjang tentu membutuhkan upaya yang lebih keras agar pengobatan berhasil. Jika pada TB yang kebanyakan masih sensitive untuk semua obat antituberkulosis (OAT) linipertama tingkat kesembuhan bisa di atas 95 persen, maka pada MDR-TB tingkat kesembuhan sulit mencapai 50 persen. Alasan kedua, pengobatan MDR-TB juga harus menggunakan OAT lini-kedua dan sebagian obat itu belum tersedia secara luas di Indonesia. "Paduduan obat untuk MDR-TB yang menggunakan lini kedua juga lebih memiliki efek samping dan lebih toksik," ungkap Elisna. Alasan ketiga dijawab dengan lugas : "Terapinya lebih mahal."
Kasus MDR-TB pertama kali dilaporkan dari Amerika Serikat, khususnya pada pasien tuberkulosis dan AIDS yang menimbulkan angka kematian sekitar 70 hingga 90 persen dalam waktu hanya 4 sampai 16 minggu. Penderita MDR-TB primer di Amerika, menurut data CDC sekarang telah berhasil diturunkan dari sekitar 400 kasus pada tahun 1993 menjadi 100an kasus di tahun 2009 lalu. Indonesia, seperti yang diungkap Elisna, mulai banyak ditemukan pasien MDR TB. Data dari Kementrian Kesehatan yang diungkap Prof. Dr.Tjandra Yoga Aditama Sp.P(K) menyatakan sampai dengan bulan Oktober 2010 telah terdapat 473 suspek penderita, dan sebanyak 158 dinyatakan mengalami MDR TB. Indonesia menurut data WHO Global Report 2009, menduduki urutan ke8 dari 27 negara dengan kasus MDR-TB terbanyak. Setiap tahunnya, menurut laporan WHO sekitar 2 kasus baru muncul di Indonesia. Perbandingan dengan negara tetangga, di China muncul 5 kasus setiap tahun, India 3 kasus, Philiphina 4 kasus, Malaysia 0,1 kasus, dan Singapura 0,2 kasus.
MDR TB menunjukkan Mycobacterium tuberculosis telah resisten terhadap rifampisin dan INH dengan atau tanpa OAT lainnya. Secara umum, resistensi terhadap obat tuberculosis dikatakan sebagai resistensi primer jika pasien sebelumnya tidak pernah mendapat pengobatan TB, resistensi inisial jika tidak diketahui pasti apakah pasien sudah pernah ada riwayat pengobatan sebelumnya atau tidak, dan resistensi sekunder jika pasien telah memiliki riwayat pengobatan sebelumnya. "Upaya yang paling baik dan harus dilakukan adalah mencegah terjadi pasien mendapat MDR-TB karena tertular langsung dari penderita yang mengalami MDR-TB," ujar Elisna. Obat anti TB (OAT)bukanlah penyebab resistensi, plasmid juga tidak terbukti memiliki peran dalam resistensi obat. Mutasi gen pada bakteri mycobacterium tuberculosis itu yang dapat menjelaskan terjadinya resistensi obat. Mutasi yang merupakan peristiwa acak dan sekuensial. Beberapa gen yang resisten terhadap obat anti TB seperti gen katG, inhA, Nadh, dan ahpC yang terkait resisten terhadap INH. Gen yang terkait resisten terhadap Rifampicin adalah gen rpoB yang berfungsi dalam RNA polymerase, sedangkan gen pncA yang terkait resisten terhadap pyrazinamid.
Dokter Berperan sebagai Penyebab MDR Faktor yang memicu terjadinya MDR-TB datang dari berbagai pihak. "Dari pasien dan juga dari dokter," ujar Elisna. "Pasien bandel, tidak patuh meminum obat, atau masalah ketiadaan uang atau transportasi berobat," ujarnya. Faktor lain dari pasien adalah malabsorpsi obat, reaksi obat yang merugikan, hambatan sosial untuk kepatuhan pengobatan, hingga gangguan ketergantungan obat. Ketidak tahuan dan ketidak waspadaan dokter tentang kemungkinan terjadinya MDR-TB menjadi salah satu faktor yang bisa menyebabkan resistensi itu, menurut Elisna. Dokter yang memberikan kombinasi atau dosis obat yang tidak sesuai guideline. "Pengobatan kerap dilakukan 'in the dark' untuk kasus-kasus terapi ulang, tanpa adanya uji sensitivitas obat," ujar Elisna. Clinical Error juga bisa terjadi dengan adanya fenomena addition syndrome, yaitu suatu obat ditambahkan dalam suatu paduan pengobatan yang tidak berhasil. Penggunaan paduan obat yang tidak adekuat, yaitu jenis obat kurang atau di lingkungan tersebut telah terdapat resistensi obat yang tinggi serta kurangnya monitoring dan awaraness dari petugas kesehatan turut mempengaruhi timbulnya kejadian MDR TB. Faktor lain yang juga turut mempengaruhi terjadinya resistensi obat adalah faktor yang terkait dengan program pelayanan kesehatan, seperti akses pelayanan kesehatan yang tidak konsisten, ketidaktersediaan obat karena tidak ada obat atau karena masalah distribusi, kualitas obat yang buruk, atau masalah penyimpanan yang tidak memadai. Faktor lain adalah program pengendalian TB yang tidak terorganisasi dengan baik, atau mengalami kendala dana, tidak tersebar meratanya guideline untuk penatalaksanaan terutama pelayanan kesehatan swasta dan kurangnya sarana laboratorium uji yang memadai.
"Jika MDR TB tidak dicegah, maka resistensi dapat terjadi lebih lanjut yang mengakibatkan XDR-TB yang sangat sulit diterapi," tegas Elisna. Strain XDR-TB teah teridentifikasi di semua belahan dunia dengan prevalensi sebesar 7 persen pada kasus MDR-TB. Malah studi baru-baru ini di Afrika Selatan menunjukkan tingkat mortalitas yang tinggi pada pasien XDR-TB yang juga telah terjangkit HIV. Frame pemikiran untuk pencegahan MDR-TB, menurut Elisna, harus ditanamkan saat dilakukan pengobatan TB kasus baru . Identifikasi suspek yang resisten terhadap OAT perlu dilakukan, yaitu jika tidak terjadi konversi sputum pada 2 bulan pertama kasus TB paru BTA positif, atau kegagalan pengobatan kategori I dan II, atau terjadinya kekambuhan penyakit, pasien mengalami putus obat, riwayat pengobatan gelap, terjadi kasus TB kronik, dan adanya kontak dengan pasien yang memang sudah mengalami MDR TB. Dr. Priyanti Z. Soepandi, SpP(K) dalam satu acara ilmiah di Jakarta mengatakan, pasien MDR TB harus diterapi dengan paduan khusus yang terdiri atas obat-obat lini kedua. Direktur RS Persahabatan ini mengatakan untuk MDR-TB paling sedikit harus diberikan 4 macam obat yang diketahui atau dianggap sensitive untuk diberikan selama paling kurang 18 bulan. Untuk memastikan kepatuhan diperlukan pengukuran yang berpihak kepada pasien, dan konsultasi dengan pakar di bidang MDR harus dilakukan. Uji kepekaan obat digunakan sebagai paduan pengobatan. "Jangan gunakan siprofloksasin sebagai OAT dan jangan gunakan obat yang terdapat resistensi silang," ujar Priyanti.
Uji kepekaan untuk diagnosis MDR-TB dapat dilakukan di lima laboratorium rujukan, 2 terdapat di Jakarta, dan lainnya di Bandung, Surabaya, dan Makasar. Identifikasi MDR bisa memakan waktu 6 hingga 14 minggu, dan jika dugaan resistensi obat sangat kuat, sampel atau spesimen dikirim ke laboratorium rujukan sekaligus dilakukan konsultasi dengan RS rujukan. RS rujukan untuk kasus MDR-TB atau XDR saat ini adalah RS Persahabatan Jakarta, RS Dr. Soetomo Surabaya, RS Labuang Aji Makasar, dan RS Syaiful Anwar Malang.
Strategi pengobatan dilakukan dengan DOTS plus. Plus berarti menggunakan obat-obat TB linikedua dan kontrol infeksi. "DOTS Plus tidak mungkin dilakukan pada daerah yang tidak menggunakan staretgi DOTS," ujar Priyanti. Dalam pengobatan MDR-TB terdapat tambahan pertimbangan pengobatan, seperti menggunakan Pengawas Menelan Obat (PMO) untuk mengawasi pengobatan, pemberian OAT harus setiap hari dan tidak boleh intermitten, lama pengobatan minimum 18 bulan setelah kultur konversi, dan penggunaan obat suntik minimal 6 bulan atau 4 bulan setelah konversi. Definisi konversi dahak adalah pemeriksaan dahak secara mikroskopik dan biakan 2 kali berturut-turut dengan jarak 30 hari dengan hasil negative pada pasien yang sebelumnya positive. Paduan standar dapat diubah berdasarkan faktor-faktor berikut antara lain, jika tidak ada respon terhadap pengobatan dan riwayat penggunaan sebelumnya maka diberikan levofloxacin dosis tinggi (1 gram) dan PAS, yang merupakan obat dengan aktiviti bakteriostatik. Faktor lain yang dapat dijadikan alasan paduan standar adalah jika terjadi efek samping yang sudah diidentifikasi, dan terjadi perburukan sebelum dan sesudah konversi.
Seperti tercetak di Majalah Farmacia Edisi Maret 2011 , Halaman: 26 (215 hits)
Last edited by gitahafas on Sat Mar 17, 2012 4:02 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Tue Feb 28, 2012 12:43 pm | |
| TATALAKSANA TB TAK SESUAI STANDAR PICU RESISTENSI Bramirus Mikail | Asep Candra | Selasa, 28 Februari 2012 | 10:05 WIB JAKARTA,KOMPAS.com - Tatalaksana pengobatan Tuberkulosis (TB) yang tidak sesuai standar dan masih rendahnya pemahaman masyarakat tentang TB diduga menjadi penyebab utama meningkatnya kasus TB MDR (multi drug resistant) baru. Demikian disampaikan Kepala Sub Direktorat Pengendalian Tuberkulosis Kementerian Kesehatan Dyah Erti Mustikawati dalam media workshop di Jakarta, Senin, (27/2/2012). "Banyak kasus TB yang belum dilakukan dengan tatalaksana yang benar. Selama ini, pasien mempunyai persepsi kalau bayar pengobatan semakin mahal maka bisa sembuh, tapi untuk TB itu tidak berlaku," katanya. Dyah mengatakan bahwa layanan TB cukup kompleks dan membutuhkan keahlian serta keterampilan khusus. Layanan TB yang tidak standar tidak akan menyembuhkan pasien tetapi kemungkinan memicu terjadinya TB MDR.
TB MDR adalah kondisi dimana pasien resistan terhadap obat anti tuberkulosis yang paling poten yakni INH dan Rifampicin secara bersama-sama atau disertai resisten terhadap obat anti TB lini pertama (ethambutol, streptomycin, dan pirazinamide). "Setiap pasien yang telah didiagnosis TB MDR harus diobati dengan tuntas di sarana pelayanan kesehatan yang menyediakan pelayanan pengobatan TB MDR secara standar," katanya. Dyah mengungkapkan bahwa saat ini banyak rumah sakit, klinik swasta dan dokter yang melakukan pengobatan terhadap pasien yang diduga TB MDR dengan menggunakan rejimen yang tidak standar dengan menggunakan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) lini pertama dan lini kedua yang dijual bebas di pasaran. Dyah menambahkan, TB MDR ataupun TB XDR (extensively drug resistant) dapat menyebabkan masalah kesehatan masyarakat yang serius. Oleh karena itu harus dicegah dengan cara melaksanakan tatalaksana pasien TB yang berkualitas dengan startegi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse). "Angka insidensi TB MDR di Indonesia sekitar 2 persen atau 6.100 kasus per tahun," ucapnya.
Ulah Manusia Sementara itu, dr. Arifin Nawas, Sp P(K), spesialis paru dari RSUP Persahabatan mengutarakan bahwa TB MDR adalah masalah ulah manusia. Masalah ini dapat memakan banyak biaya, jiwa, daya dan merupakan ancaman utama terhadap strategi penanggulangan TB yang saat ini sedang berjalan. "Manusia di sini maksudnya adalah pasien dan dokter," katanya di acara yang sama. Arifin mengatakan, pengobatan TB dengan tatalaksana yang tidak standar (misal rejimen, lama dan cara pemberian pengobatan yang tidak benar) dapat menjadi pencetus untuk meningkatnya jumlah kasus TB MDR. Selain itu, ketidakpatuhan pasien untuk minum obat secara teratur juga berakibat pada gagalnya pengobatan dan kuman menjadi kebal yang disebut MDR. "Pada pasien TB MDR, butuh waktu sekitar 18 sampai 24 bulan untuk bisa sembuh, jauh lebih lama ketimbang pasien TB biasa," katanya. Ia menambahkan bahwa rejimen pengobatan pada pasien TB MDR juga berisiko menimbulkan efek samping yang lebih berat, seperti muntah, mual, sakit kepala, insomnia, nyeri sendi, gangguan pendengaran sampai terganggunya siklus menstruasi. "Sangat berbeda antara TB yang biasa dan TB MDR. TB biasa bisa diobati dengan obat-obatan yang biasa atau lini pertama, tapi TB MDR tidak," cetusnya. Arifin mengutarakan, untuk memastikan pasien mengonsumsi obat secara teratur sangat diperlukan peran serta dari pengawas minum obat (PMO) - sebagai salah satu komponen DOTS. PMO kini tidak lagi melibatkan keluarga, melainkan langsung ditangani oleh tenaga kesehatan atau kader yang dikenal dan disegani oleh pasien. "PMO bertugas untuk mengawasi dan memberikan dorongan kepada pasien, serta mengingatkan pasien untuk periksa ulang dahak secara teratur. Kalau PMO-nya anggota keluarga sendiri pengawasan obat seringkali kurang efektif," jelasnya. Data menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat ke 9 dari 27 negara dengan beban TB MDR terbanyak di dunia. WHO Global Report 2011 memperkirakan pasien TB MDR di Indonesia berjumlah 6.100 orang. TB adalah pembunuh nomor satu di antara penyakit menular dan merupakan peringkat ke tiga dalam daftar 10 penyakit pembunuh tertinggi di Indonesia. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Tue Feb 28, 2012 12:46 pm | |
| LABORATORIUM TBC KEBAL OBAT MASIH TERBATAS Rabu, 19 Januari 2011 | 03:59 WIB YOGYAKARTA, KOMPAS - Penyakit tuberkulosis menempati urutan ketiga penyakit mematikan. Ancaman kematian seiring adanya kasus bakteri TBC kebal obat. Saat ini, jumlah laboratorium yang mampu mendeteksi bakteri TBC kebal obat masih terbatas. Menurut Direktur Pemberantasan Penyakit Menular Kementerian Kesehatan Shubuh, tuberkulosis (TBC) kebal obat muncul karena rendahnya kesadaran penderita minum obat teratur selama enam bulan. Angka drop out (DO) di Indonesia sekitar 5 persen. ”Semakin tinggi DO, ancaman resistensi semakin besar,” ujar Shubuh pada peresmian Laboratorium TBC di Bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran UGM Yogyakarta, Selasa (18/1/2011). Laboratorium itu hasil kerja sama Kemkes dan Badan untuk Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).
Dekan Fakultas Kedokteran UGM Ali Ghufron Mukti mengatakan, baru ada lima laboratorium di Indonesia yang dilengkapi uji kepekaan bakteri pendeteksi bakteri TBC kebal obat. Laboratorium itu adalah Balai Besar Laboratorium Kesehatan Surabaya, BBLK Bandung, Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, Laboratorium Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, dan Laboratorium Nehri di Makassar. Kepala Laboratorium TBC UGM Ning Rintiswati mengatakan, laboratorium itu akan menjadi rujukan pemeriksaan TBC kebal obat di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. Indonesia kini di peringkat lima negara dengan kasus TBC terbanyak, turun dari peringkat ketiga. Penderita TBC bisa ditekan dari 240 penderita per 100.000 penduduk menjadi 222 penderita. Target pemerintah yaitu 180 penderita per 100.000 penduduk. (WKM)
Last edited by gitahafas on Sat Mar 17, 2012 4:17 pm; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Tue Feb 28, 2012 8:08 pm | |
| TBC MAKIN SULIT DIBERANTAS KARENA KUMANNYA MAKIN KEBAL Jumat, 18/03/2011 16:43 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Meski jumlah penderitanya terus berkurang, tuberculosis (TBC) di Indonesia masih tetap dianggap sebagai ancaman serius. Pasalnya ada banyak tantangan dalam penanggulangannya, termasuk resistensi atau kekebalan kuman TBC terhadap obat. Kuman yang kebal terhadap minimal 2 obat TBC yakni isoniazid (INH) dan rifampicin disebut sebagai Multiple Drug Resistance (MDR) TBC. Kadang-kadang, MDR-TBC disertai juga dengan resistensi obat TBC lini pertama lainnya termasuk ethambutol, streptomycin dan pirazinamide. Karena sudah kebal terhadap obat-obat lini pertama, MDR TBC harus diobati dengan obat TBC lini kedua yang tentu efek sampingnya lebih berat. Jika ternyata kumannya juga sudah kebal terhadap obat lini kedua, maka istilahnya menjadi Extensive Drug Resistance (XDR) TBC. XDR TBC ditandai dengan kekebalan kuman TBC terhadap obat TBC lini kedua yakni golongan floroquinolon. Kekebalan terhadap floroquinolon juga disertai kekebalan terhadap salah satu obat suntik lini kedua seperti kanamycin, amikasin dan capreomycin.
Salah satu faktor penyebab kuman menjadi resisten adalah pengobatan yang tidak tuntas, sehingga kuman yang belum benar-benar mati akan membentuk sistem kekebalan baru. Akibatnya ketika diberi obat yang sama, kuman itu sudah tidak mempan lagi. "Obat yang ada sekarang masih harus diminum selama 6 bulan. Kebanyakan pasien tidak patuh, baru 2 bulan berhenti karena merasa gejalanya sudah membaik," ungkap Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Keseahatan, Prof Dr Tjandra Yoga Aditama. Ditemui dalam konferensi pers di Gedung Kemenkes, Jumat (18/3/2011), Tjandra Yoga mengakui bahwa MDR/XDR TBC merupakan salah satu tantangan dalam penanggulangan TBC. Meski begitu, ia optimistis 4 target Milenium Development Goals terkait TBC akan tercapai pada 2015. Dari 4 target itu, 3 sudah tercapai sejak 2009 yakni angka kematian 46/100.000 jumlah penduduk, angka penemuan kasus 70 persen dan keberhasilan pengobatan 85 persen. Target yang belum tercapai tinggal prevalensi TBC 221/100.000 jumlah penduduk yang pada 2009 masih 244/100.000 jumlah penduduk.
Last edited by gitahafas on Fri Mar 16, 2012 12:59 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Thu Mar 08, 2012 12:32 pm | |
| KALAU SEMUA PATUH, TBC LEBIH MUDAH DIBERANTAS Kamis, 08/03/2012 11:35 WIB Dr Fainal Wirawan MM MARS - detikHealth Jakarta, Penyakit tuberculosis atau TBC merupakan penyakit lama yang sampai kini sulit diberantas. Karena penyakit ini sebenarnya sudah ada obatnya, maka kunci sukses untuk memberantasnya hanya kepatuhan dari semua pihak yang berkepentingan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memiliki standar pengobatan TBC (resminya disingkat TB), yang cukup memadai yakni Direct Observe Treatment Shortcourse (DOTS). Pada periode tahun 1995-2008, sebanyak 36 juta pasien berhasil diobati dengan metode ini dan kasus kematian telah turun dari semula 8 persen menjadi 4 persen. Deteksi dini dan penyebarluasan infomasi tentang TBC ke masyarakat memegang peran penting dalam mengatasi penularan penyakit ini. Namun di samping itu semua, kepatuhan memegang peran paling penting karena jika tidak patuh maka semua upaya akan menjadi sia-sia. Pihak-pihak yang diharapkan memiliki kepatuhan dalam upaya pemberantasan TBC seperti antara lain sebagai berikut.
1. Pasien Kepatuhan pasien dalam menelan obat merupakan kunci utama dalam pengobatan pasien TB. Pasien yang tidak patuh tidak hanya membahayakan dirinya sendiri, tetapi juga masyarakat di sekitarnya karena ia bisa menularkan kuman TB yang bahkan sudah kebal pengobatan. Saat ini, kasus TB kebal obat di Indonesia prevalensinya sudah cukup banyak yakni mencapai 1-2 persen dari prevalensi TB biasa. Ketika sudah mulai kebal obat, TB butuh waktu pengobatan lebih lama yakni sampai 2 tahun sementara obatnya juga lebih keras dan mahal.
2. Fasilitas pelayanan kesehatan Semua fasilitas kesehatan mulai dari rumah sakit hingga puskesmas perlu mematuhi semua persyaratan standar yang diberlakukan bagi pelayanan TB. Rumah sakit misalnya harus menyediakan tempat layanan khusus pasien TB yang disebut unit DOTS, tempat khusus tersebut penting selain untuk mempermudah pelayanan dan memonitor hasil pelayanan, juga dimaksudkan untuk mencegah terjadinya penularan terhadap pasien umum lainnya. Rumah sakit juga harus menyediakan tempat pengambilan dahak yang memenuhi persyaratan Pencegahan Dan Pengendalian Infeksi (PPI). Kalau tidak punya ruangan khusus, dapat menggunakan tempat lapangan terbuka dibawah sinar matahari dan jauh dari tempat berkumpulnya masyarakat umum.
3. Dokter sebagai pemberi pengobatan (provider) Dokter sebagai pemberi pengobatan harus patuh menerapkan ISTC (International Standard for TB Care). Tidak hanya dengan memberikan obat yang paling tepat, dokter juga harus bisa menilai kepatuhan pasien, menangani jika terjadi ketidakpatuhan dan mampu meyakinkan pasien sampai pengobatan selesai. Dalam melaksanakan tugasnya, dokter sebagai provider perlu dibantu juga oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) yang dipercaya oleh pasien. Ibu PKK, kader kesehatan, keluarga pasien dan lain-lain dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kepatuhan pasien TB.
4. Penyedia layanan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) bagi pasien KIE mutlak harus diberikan oleh para provider seperti dokter, perawat, petugas farmasi serta petugas KIE lainnya. Penekanan KIE adalah kepatuhan pasien akan pemeriksaan mikroskopis ulang, cara mengeluarkan dahak, cara menelan obat (jenis, jumlah, waktu), serta cara pencegahan dengan natural ventilation, termasuk etika batuk. Kepatuhan terhadap KIE bukan saja dapat meningkatkan angka kesembuhan pasien, juga dapat mencegah terjadinya penularan, meningkatkan produktivitas masyrakat, yang pada akhirnya juga dapat mencegah terjadinya TB kebal obat.
Dampak ketidakpatuhan Bagi pasien sendiri, ketidakpatuhan akan membuat penyakitnya susah sembuh, menurunkan produktivitas, menulari orang di lingkungannya dan berisiko mengalami kebal obat yang bisa berujung pada kematian. Ketidakpatuhan dari pihak selain pasien lebih banyak meningkatkan risiko penularan. Secara ekonomi, dampak dari ketidakpatuhan juga sangat merugikan. Sekitar 75 persen pasien TB berasal dari kelompok usia produktif yakni sekitar 15-50 tahun dan tiap tahun akan kehilangan rata-rata 3-4 bulan masa kerja karena penyakitnya tersebut. Risiko kekebalan atau resistensi terhadap pengobatan juga sangat mengkhawatirkan. Selain memakan waktu lebih lama, pengobatan untuk TB yang sudah resisten akan memicu lebih banyak efek samping, lebih mahal dan tentunya kumannya juga lebih mudah menular.
Penulis Dr. Fainal Wirawan, MM.MARS Penulis pernah bekerja di puskesmas, rumah sakit daerah, Direktorat Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI. Setelah pensiun kini bekerja sebagai Technical Officer pada KNCV Tuberculosis Foundation TB CARE/USAID. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Mon Mar 12, 2012 8:01 pm | |
| AKIBAT LALAI MINUM OBAT TBC Kamis, 21/01/2010 18:30 WIB Nurul Ulfah - detikHealth Jakarta, Seorang gadis pernah mendatangi dokter karena keluhan batuknya yang tak kunjung sembuh. Awalnya si gadis didiagnosa TB (Tuberculosis), namun karena malas minum obat, penyakitnya itu berubah menjadi MDR-TB (Multiple Grug Resisten-Tuberculosis). Ia pun harus membayar mahal karena kelalaiannya. MDR-TB terjadi karena kuman bakteri Mycobacterium tuberculosa sudah tidak mempan lagi dengan obat-obatan TB biasa. "Biasanya karena 2 bulan minum obat TB sudah merasa sembuh, lalu tidak diteruskan. Ketika TB-nya kambuh lagi, obatnya sudah tidak mempan, akhirnya jadilah MDR," kata Dr Achmad Hudoyo, ketua bidang medis Perhimpunan Pemberantasan TBC Indonesia dalam acara seminar 'The Year of the Lung 2010' di gedung asma RS Persahabatan, Jakarta, Kamis (21/1/2010). Dr Achmad pun akhirnya merujuk si gadis ke Rumah Sakit Persahabatan karena hanya disanalah satu-satunya rumah sakit di Jakarta yang menyediakan obat serta penanganan bagi pasien MDR. Selain RS Persahabatan, ruang khusus MDR pun terdapat di RS Dr Sutomo, Surabaya. Pasien yang sudah mengalami resistensi obat TB atau MDR sudah tidak bisa lagi main-main dalam berobat. Tidak tanggung-tanggung, selama 2 tahun pasien harus rutin disuntik 6 bulan sekali.
Namun sebelum gadis itu menjalani pengobatan rutin, ia menangis pada sang dokter. Ia mengaku tidak sanggup jika harus melakukan pengobatan rutin dan bolak balik ke RS Persahabatan karena domisilinya yang cukup jauh, yakni di daerah Ciputat. Belum lagi dengan biaya pengobatannya yang sangat mahal. Asal tahu saja, obat MDR-TB untuk 5 hari saja berkisar Rp 520.000 dan itu belum termasuk biaya suntiknya. Itu artinya, dalam satu hari ia harus mengeluarkan kurang lebih Rp 100.000 hanya untuk satu obat. "Selain karena rumahnya yang sangat jauh dari tempat perawatan MDR di RS Persahabatan, ia juga menangis karena tidak sanggup membayar biaya obatnya yang sangat mahal. Gajinya sebagai SPG tidak mampu untuk membiayai semua biaya pengobatannya," tutur Dr Achmad. Menurut data WHO, 50 persen kasus TB-MDR ada di China dan India, sementara 7 persen ada di Rusia. Kota Baku, ibukota Azerbaijan merupakan kota tertinggi kasus MDR, yakni 22,4 %. Sementara di Indonesia, menurut WHO terdapat sekitar 2 persen pasien MDR TB.
Penyebab resistensi ini sebenarnya akibat kesalahan berbagai pihak. Pertama dokter, karena memberikan dosis kurang tepat dan tidak dapat menyakinkan pasien agar teratur dalam menjalani pengobatan. "Padahal kalau saja rajin minum obat TB sebelumnya, tidak akan ada MDR. Biayanya juga akan lebih murah," kata Dr Achmad. Kedua, pasien yang tidak disiplin dalam pengobatan. Ketiga, obat anti TB yang tidak berkualitas serta fasilitas pelayanan kesehatan yang tidak mumpuni. "Intinya, kesalahan dokter dan pasien," ungkapnya. Fenomena MDR menjadi kendala dan batu sandung dalam penanganan TB. "Pengobatan pasien MDR TB menjadi lebih sulit, lebih mahal, lebih banyak efek samping dengan tingkat kesembuhan yang relatif rendah. Jika dalam 2 tahun belum sembuh, kemungkinan berubah lagi menjadi XDR (Extremely Drug Resistent). Kalau sudah begitu, fatal akibatnya," kata Dr Achmad.
Last edited by gitahafas on Sat Mar 17, 2012 8:12 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Wed Mar 14, 2012 8:11 pm | |
| ALAT BARU PENGUJI RESISTENSI OBAT TB Senin, 30 Juni 2008 | 22:27 WIB Kompas.com - SEBUAH alat untuk menguji resistensi obat tuberkulosis (TB) yang baru-baru ini muncul bakal membantu sekali negara-negara berkembang dalam melawan TB. Tes yang melibatkan pengujian DNA di saliva (cairan ludah) pada orang sakit akan menyediakan diagnosis dalam dua hari. Sementara alat sebelumnya mesti butuh waktu dua hingga tiga bulan. "Ini merupakan revolusi besar dalam pengendalian TB," ujar Direktur Kampanye TB dari WHO, Mario Raviglione kepada pers di Genewa.
Di negara-negara berkembang, kebanyakan pasien TB melakukan uji TB resisten multi obat (multidrug-resistant tuberculosis- MDR-TB) hanya setelah mereka gagal dirawat dengan perawatan standar. Pasien-pasien ini juga harus menunggu berbulan-bulan untuk mendapatkan hasilnya sebelum mereka dapat menjalankan perawatan intensif. Selama periode ini, mereka tentu saja dapat menyebarkan penyakit ke siapa saja. Sering mereka meninggal sebelum hasilnya diketahui.
Nyaris setengah juta manusia di seluruh dunia menderita beberapa bentuk MDR -TB yang menewaskan sekitar 130.000 orang per tahun. WHO mempekirakan hanya dua persen kasus resisten obat di seluruh dunia terdiagnosa dan terawat dengan baik. Kebanyakan semua ini akibat minimnya layanan kesehatan yang memadai. Alat uji terbaru ini disokong dana sekitar 26,1 juta dolar Amerika oleh Global Health Initiative UNITAID
Last edited by gitahafas on Sat Mar 17, 2012 8:09 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Fri Mar 16, 2012 11:26 am | |
| TB RESISTEN TERNYATA DAPAT DI OBATI Senin, 25 Agustus 2008 | 22:09 WIB Kompas.com - TUBERKULOSIS atau TB yang sudah resisten dengan berbagai perawatan dan pengobatan ternyata dapat diatasi dengan terapi agresif. Resistensi obat yang dialami para penderita TB terkait erat dengan meningkatnya angka kematian. Setidaknya 7 persen kasus infeksi meninggi di seluruh dunia gara-gara resistensi ini. Kekhawatiran ini sekarang berkurang karena ternyata para ilmuwan menemukan cara baru untuk mengobati TB, yakni dengan terapi kombinasi, sekurangnya lima obat. Demikian laporan dari Jurnal LANCET menyebut. Para ahli di Inggris sendiri mengatakan bahwa ini merupakan kabar baik. Namun tentu saja, sumber daya perlu dikerahkan untuk penelitian lanjut. Multi Drug Resisten (MDR) pada TB di Inggris sendiri mencapai 50 hingga 70 persen setiap tahun, terutama untuk mereka yang menggunakan obat isoniazid dan rifampin. Namun dalam kasus TB yang mengalami resisten secara ektensif atau extensively resistant (XDR), sekurangnya dua dari tahap kedua perawatan tidak terlalu bermanfaat untuk dijalankan. Beberapa ahli berspekulasi bahwa XDR TB efektif bila tak diobati. Namun, fakta menunjukkan 52 orang mati dalam 16 hari di Afrika Selatan setelah penyakit ini mewabah di antara para pasien HIV.
Dalam penelitian terakhir yang dilakukan pada 600 pasien yang mengalami resistensi TB di Rusia, para peneliti menemukan bahwa nyaris 5 persen dari mereka mengalami XDR-TB. Setiap pasien dirawat berdasar strain penyakitnya. Tujuannya untuk menyediakan sekurangnya lima obat berdasar strain khusus yang diidap sehingga pengobatannya bisa diterima atau tepat sasaran. Hampir setengah dari pasien TB jenis XDR dan 67 persen pasien TB MDR teratasi dengan baik. Ketua peneliti, Dr. Salmaan Keshavjee dari Sekolah Kedokteran Harvard, Amerika Serikat mengatakan," Managemen yang agresif atas infeksi yang terjadi sangat mungkin dilakukan dan dapat mencegah meningkatnya kematian dan transmisi yang lebih jauh lagi strain bakteri yang resisten terhadap obat." Dr. John Moore-Gillon, juru bicara British Lung Foundation mengatakan, kabar buruknya adalah TB jenis XRD sudah muncul dan menyebar. "Masalah yang kita punya adalah kontrol yang tidak memadai atas penyakit ini. Perlu adanya upaya keras untuk mengatasi persoalan ini dengan program yang terstruktur dan menyeluruh." John mengungkapkan bahwa yang paling penting dari laporan di jurnal ini adalah bahwa TB jenis XDR dapat diselesaikan meski dengan biaya yang sangat mahal. TB- MDR, kata John butuh biaya puluhan ribu. Tapi TB XDR butuh lebih dari itu.
Last edited by gitahafas on Sat Mar 17, 2012 8:09 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Sat Mar 17, 2012 9:29 am | |
| PEMERIKSAAN MIKROBIOLOGI CEGAH RESISTENSI ANTIBIOTIK Lusia Kus Anna | Asep Candra | Senin, 19 Desember 2011 | 15:07 WIB KOMPAS.com - Saat ini, kasus kuman yang resisten terhadap obat terus meningkat sehingga angka kesakitan dan biaya kesehatan terus meningkat. Salah satu cara mencegahnya adalah dengan mengetahui jenis infeksi yang diderita, sehingga dokter bisa memberikan antibiotik yang paling tetap sesuai jenis bakteri atau virusnya. "Idealnya, sebelum diberikan antibiotik dicek dulu di laboratorium mikrobiologi untuk mengetahui jenis bakteri dan uji sensitivitas obat," kata dr. Anis Kurniawati, PhD, Sp.MK, Ketua Departemen Laboratorium Mikrobiologi Klinik Universitas Indonesia dalam acara media edukasi di Jakarta (19/12/2011). Ia menjelaskan, saat ini pemanfaatan laboratorium klinik oleh para dokter masih kurang karena dianggap terlalu lama. "Pemeriksaan mikrobiologi dulu memang lama, namun sekarang sudah tidak lagi. Dalam waktu tiga hari sudah bisa diketahui hasilnya," katanya.
Kasus bakteri yang resisten terhadap obat, menurut dia terjadi karena penggunaan antibiotik yang tidak rasional. "Pemberian antibiotik secara empirik oleh dokter seharusnya dilakukan pada pasien yang kritis. Jika pasien masih bisa menunggu, sebaiknya ditunggu dulu sampai diketahui pola kumannya sehingga obat lebih efektif," imbuhnya. Namun, ia mengakui bahwa prosedur tersebut masih sulit diterapkan di Indonesia. "Jika pasiennya anak-anak, biasanya orangtuanya sudah protes," paparnya. Padahal, dalam jangka panjang hal ini bermanfaat positif. Senada dengan dr.Anis, menurut dr.Erlina Burhan, Sp.P, dalam kasus tuberkulosis, ketidakperdulian pada pemeriksaan mikrobiologi bisa menyebabkan pasien mendapatkan obat yang salah atau tidak perlu.
"Cukup banyak kasus pasien yang sudah minum obat tuberkulosis bertahun-tahun tapi tetap batuk dan kurus, baru setelah dicek mikrobiologi ketahuan kalau ia resisten antibiotik lini pertama," papar ahli paru dari RS. Persahabatan Jakarta ini pada kesempatan yang sama. Kendati begitu, menurut Erlina dokter memiliki hak untuk menentukan jenis penyakit dan terapi pengobatan yang tepat berdasarkan pengalaman (empirik). "Bila sudah bisa dicurigai penyakit TB dari pemeriksaan klinis namun hasil pemeriksaan belum keluar, bisa diberikan antibiotik berdasarkan pola kuman di masyarakat," katanya. Ia menjelaskan, data pola kuman di masyrakat secara berkala dikeluarkan oleh laboratorium mikrobiologi untuk menjadi panduan bagi para dokter dalam pemberian obat. Namun sebelum pasien mengonsumsi obat, dokter tetap akan mengirimkan sampel dahak ke laboratorium mikrobiologi. "Sambil menunggu hasilnya, tetap diberi obat. Jika dalam seminggu tidak ada perbaikan, maka biasanya itu resistensi obat," katanya.
Last edited by gitahafas on Sat Mar 17, 2012 8:08 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Sat Mar 17, 2012 9:29 am | |
| WASPADAI JENIS TB BARU AKIBAT RESISTENSI OBAT Selasa, 22 Juli 2008 21:55 WIB Republika.co.id - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) meminta, negara-negara Asia untuk mulai bergerak melawan ancaman resistensi terhadap obat tuberculosis atau dikenal dengan TB. Mereka juga memperingatkan, timbulnya penyebaran varian TB yang lebih ganas jika gagal menghadapi hal tersebut. Menurut WHO, banyak negara-negara Asia yang masih kekurangan fasilitas laboratorium memadai untuk mendeteksi resistensi terhadap pengobatan TB. Diperkirakan hanya 1% dari 150.000 orang yang terinfeksi negara Asia Timur dan Pasifik yang memperoleh pengobatan yang memadai. "Belum ada negara yang memerangi resistensi pengobatan TB. Para pemimpin negara di Asia seharusnya mulai menyadari bahwa hal tersebut sangat berisiko. Penyakit itu dapat ditularkan kepada anak Anda saat batuk," ujar Konsultan WHO untuk Tuberculosis di negara Pasifik Barat, Dr. Pieter Van Maaren dilansir kantor berita AP, kemarin. Kemungkinan terjadinya kekebalan terhadap pengobatan TB antara lain adalah kesalahan standar pemberian pengobatan serta besarnya angka migrasi dan perumahan di kawasan urban atau pinggiran kota. Kategori resistensi terhadap pengobatan TB yaitu kebal terhadap minimal dua obat anti TB kualitas terbaik. Tercatat sekitar 5% dari 9 juta kasus baru penyakit tersebut di seluruh dunia. Di Cina, menurut WHO, satu dari 10 kasus TB yang baru ditemukan mengalami resistensi obat. "Saat ini kondisi kita sangat rapuh terhadap resistensi obat TB dibandingkan sebelumnya," ujar Direktur WHO untuk negara-negara Pasifik Barat, Dr. Shigeru Omi. WHO memperingatkan, kurangnya perhatian untuk menanggulangi resistensi pengobatan TB itu dapat menyebabkan penyebaran dalam jumlah yang banyak, lalu berkembang menjadi resistensi terhadap seluruh pengobatan yang efektif. Pada tahun 2005 di Afrika Selatan ditemukan kasus resistensi pengobatan TB yang kemudian kebal sama sekali terhadap seluruh obat. Sehingga mengakibatkan 52 orang meninggal dunia.(rin)
Last edited by gitahafas on Sat Mar 17, 2012 5:01 pm; edited 1 time in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |