|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Thu Apr 22, 2010 6:21 am | |
| DUDUK BERJAM JAM SEPULANG KERJA? AWAS RISIKO PEMBULUH PARU PARU TERSUMBAT MENINGKAT Kamis, 07 Juli 2011 20:40 WIB REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Meski telah bekerja seharian, setelah pulang ke rumah sempatkanlah untuk membuat tubuh tetap aktif. Alasannya, wanita yang menghabiskan sebagian besar waktu duduk ketika pulang usai kerja, cenderung mengalami pembekuan darah fatal di paru-paru ketimbang mereka yang aktif, demikian riset terbaru meyimpulkan. Studi skala besar yang dilakukan terhadap para perawat di Amerika Serikat itu adalah yang pertama mengungkap bahwa gaya hidup bermalas-malasan bisa memicu embolisme pada pembuluh darah paru-paru (pulmonari), kondisi di mana gumpalan darah bergerak dari pembuluh darah dalam di kaki dan berakhir di paru-paru. Gejalanya antara lain nyeri di dada, kesulitan bernafas dan batuk.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa mereka yang berolahraga dan lebih aktif secara fisik kurang berisiko menderita embolisme pulmonari. Studi yang ditayangkan di laman British Medical Journal menunjukkan duduk terlalu lama akan menambah risiko itu. Penelitian, yang dipimpin oleh dokter dari rumah sakit umum Massachussetts, Christopher Kabrhel, menyelidiki kebiasaan 'leyeh-leyeh sekitar 7 ribu perawat di AS yang sebagian besar selalu berdiri dan jarang duduk ketika bekerja.
Ternyata, setelah lebih dari periode 18 tahun, riset menemukan bahwa mereka yang duduk lebih lama dari enam jam perhari saat tak bekerja memiliki risiko mengalami embolisme pulmonari ketimbang mereka yang duduk kurang dari dua jam perhari. Hasilnya serupa meski memasukan faktor usia, berat badang dan kebiasaan merokok. Namun peningkatan risiko pada perempuan yang sebagian besar waktu kerja dihabiskan dengan duduk tidak terlalu besar, demikian menurut editorial studi. Penelitian hanya mengatakan ada risiko sedikit lebih besar pada wanita yang kerap mengonsumsi pil obat-obatan atau sering melakukan perjalanan lama di pesawat.
Tapi studi juga mengatakan bila penemuan ini valid, maka ia bisa menjadi cabang utama dari ilmu kesehatan publik. Studi juga menemukan pola hidup tak aktif berhubungan erat dengan penyakit jantung dan tekanan darah tinggi. "Periode lama pola hidup tak aktif dapat menjadi satu mekanisme laten yang berkaitan dengan penyakit pembuluh arteri dan vena," ujar direktur pengobatan vaskular, James Douketis, di Universitas McMaster, Ontario, Kanada.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 10, 2011 3:36 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Thu Apr 22, 2010 6:24 am | |
| DUDUK BERJAM-JAM MEMICU PEMBEKUAN DARAH DALAM PARU Rabu, 06 Juli 2011 20:43 WIB REPUBLIKA.CO.ID,LONDON--Survei dari 70.000 perawat yang memilih duduk di sofa daripada berolahraga setelah bekerja lebih cenderung mengalami pembekuan darah dalam paru-paru. Berdasarkan riset baru, para perempuan yang menghabiskan lebih banyak waktu mereka duduk saat tiba di rumah bisa lebih cenderung berpotensi mengalami pembekuan darah mematikan dalam paru-paru daripada mereka yang lebih aktif, seperti dikutip Guardian. Studi itu merupakan yang pertama menunjukkan bahwa gaya hidup duduk berjam-jam bisa menyebabkan emboli paru. Pembekuan darah berjalan sampai dalam vena kaki dan pada akhirnya masuk paru-paru. Gejalanya termasuk nyeri dada, sesak nafas dan batuk-batuk.
Sudah diketahui bahwa orang yang berolahraga dan lebih aktif secara fisik kecenderungan menderita emboli paru lebih sedikit. Penelitian yang dipublikasikan dalam British Medical Journal itu merupakan penelitian pertama yang menunjukkan bahwa duduk meningkatkan risiko emboli paru. Penelitian itu dilakukan oleh Dr Christopher dari rumah sakit umum Massachussetts, Amerika Serikat. Dia menyelidiki kebiasaan di waktu senggang dari hampir 70.000 perawat di AS, yang kebanyakan bergerak pada hari kerja mereka. Selama periode 18 tahun, para peneliti menemukan bahwa mereka yang duduk selama lebih dari enam jam sehari saat mereka tidak bekerja berisiko mengalami emboli paru dua kali lipat dari mereka yang duduk kurang dari dua jam sehari. Hasilnya tetap berlaku bahkan setelah mempertimbangkan usia, kelebihan berat badan dan kebiasaan merokok.
Meningkatnya risiko perempuan yang disebabkan duduk berjam-jam bukan yang terbesar, satu editorial yang dipublikasikan bersama penelitian mengatakan itu hanya sedikit lebih tingi daripada yang disebabkan oleh perempuan yang mengonsumsi pil KB atau yang melakukan penerbangan lama. Editorial itu mengatakan, "bila penemuan itu sah penelitian itu memiliki percabangan kesehatan masyarakat utama." Penelitian itu juga menemukan bahwa ketidakaktifan terhubung dengan penyakit jantung dan tekanan darah tinggi. "Tidak aktif secara fisik selama jangka waktu panjang bisa menjadi salah satu mekanisme tersembunyi yang terkait penyakit arteri dan penyakit vena," kata James Douketis, direktur pengobatan vaskuler di McMaster University, Hamilton, Ontario di Kanada.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 10, 2011 12:42 pm; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Thu Apr 22, 2010 6:27 am | |
| PSITTAKOSIS Psitakosis (Demam Burung Beo) adalah suatu infeksi yang disebabkan oleh bakteri Chlamydia psittaci, yang ditularkan kepada manusia oleh burung serta menyebabkan gejala sistemik (seluruh tubuh) dan pneumonia.
PENYEBAB Bakteri Chlamydia psittaci, yang banyak ditemukan pada burung beo, betet dan burung merpati; juga pada burung dara, kutilang, ayam dan kalkun. Biasanya seseorang terinfeksi karena menghirup debu dari bulu atau kotoran burung yang terinfeksi. Organisme ini juga bisa ditularkan melalui gigitan burung yang terinfeksi atau melalui percikan ludah penderita. # Resiko terjadinya penyakit ini ditemukan pada: Orang yang memelihara burung # Pegawai toko hewan # Pekerja di tempat pengolahan unggas # Dokter hewan.
GEJALA Berat ringannya penyakit tergantung kepada usia penderita dan luasnya jaringan paru-paru yang terkena. Gejalanya berupa: - Demam dan menggigil - Nyeri otot - Sakit kepala - Lelah - Batuk kering - Sesak nafas - Dahak berdarah.
DIAGNOSA Pada pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop, terdengar ronki dan penurunan suara pernafasan. # Pemeriksaan yang biasa dilakukan: Rontgen dada # CT scan dada # Analisa gas darah (penurunan saturasi oksigen) # Pembiakan dahak # Pembiakan darah # Titer antibodi.
PENGOBATAN Antibiotik diberikan minimal selama 10 hari. Penyembuhan mungkin akan memerlukan waktu yang lama, terutama jika kasusnya berat. Pada kasus berat yang tidak diobati, tingkat kematian dapat mencapai 30%. # Antibiotik yang biasa diberikan adalah: Tetracycline # Doxycyline # Erythromycin # Azithromycin. Tetracycline per-oral (melalui mulut) biasanya tidak diberikan kepada anak-anak yang gigi permanennya belum tumbuh karena bisa menyebabkan perubahan warna pada gigi yang sedang tumbuh.
PENCEGAHAN Peternak burung dan pemilik burung dapat melindungi dirinya dengan menghindari debu dari bulu dan sangkar burung yang sakit. Importir burung diharuskan untuk mengobati burung yang sakit dengan tetracycline selama 45 hari agar organisme penyebab penyakit ini bisa dimatikan.
Sumber: Medicastore |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Thu Apr 22, 2010 6:30 am | |
| SELAMAT TERBANG DAN TERBANG DENGAN SELAMAT Budi Sampurna Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jl. Salemba Raya No 6 Jakarta Pusat Telp:021 3106976. Fax: 021 3154626
Penerbangan di dunia saat ini mengalami kemajuan besar dengan jumlah penumpang yang melebihi 1 milyar per-tahunnya. Perkembangan kesehatan dunia yang juga meningkat mengakibatkan semakin banyaknya orang berusia lanjut dan berpenyakit kronik menjadi penumpang pesawat udara. Kejadian medis dapat saja terjadi pada kelompok masyarakat tersebut sebagai akibat dari hipoksemia, dehidrasi dan imobilisasi lama di dalam penerbangan. 1
Sebuah penelitian selama setahun menemukan 22,6 keluhan medis dan 0,1 kematian dalam sejuta penumpang pesawat udara. Penelitian lain menemukan bahwa dari 1.115 penumpang yang dirujuk oleh airline untuk dilakukan pemeriksaan medis pra-terbang (preflight), 892 diantaranya memerlukan terapi oksigen selama penerbangan karena keadaan kardiopulmonernya, terutama karena COPD dan kelainan jantung. Dilaporkan juga bahwa masalah pernafasan menempati 11 % dari seluruh kedaruratan selama penerbangan.2 Sedangkan Garuda Indonesia menerima medif (medical information form) sebanyak 1180 selama tahun 2004, yang diantaranya terdapat 77 penumpang berpenyakit paru yang membutuhkan penanganan khusus selama terbang.3 Perubahan pada ketinggian
Pada ketinggian, atmosfir akan mengalami perubahan, terutama di bidang tekanan, suhu dan kelembaban. Tekanan udara akan menurun secara teratur pada setiap ketinggian, sehingga tekanan udara yang setinggi 760 mmHg pada permukaan laut akan menurun menjadi 180 mmHg hingga 120 mmHg pada ketinggian 35.000 hingga 43.000 kaki, yaitu ketinggian penerbangan komersial pada umumnya. Penurunan tekanan udara tersebut akan menurunkan juga tekanan parsiel oksigen yang sekitar 20% dari seluruh tekanan udara. 4
Selain penurunan tekanan udara, ketinggian juga mengakibatkan turunnya suhu 2o Celcius untuk setiap kenaikan 1000 kaki, hingga mencapai ketinggian dengan suhu yang konstan, yaitu pada suhu -55o Celcius. Ketinggian juga mengakibatkan semakin keringnya udara sekitar.
Penerbangan komersial memang telah menawarkan ruang pengangkut penumpang yang bertekanan udara cukup dengan suhu dan kelembaban udara yang pada umumnya dibuat nyaman. Tekanan udara dalam kabin umumnya dijaga hingga 6000-8000 kaki atau berarti bertekanan sekitar 570 mmHg. Ketinggian tersebut masih berada dalam zona ketinggian yang fisiologis, oleh karena masih memiliki kadar oksigen setara dengan kadar oksigen 15,1% pada permukaan laut, yang cukup bagi orang yang sehat untuk bernafas secara fisiologis tanpa peralatan khusus. 4
Pada ketinggian tersebut PaO2 dalam darah arteri orang dengan paru normal akan turun menjadi 55–85 mmHg, yang akan direspons dengan hiperventilasi dan takikardia. Sebuah studi pada orang-orang dewasa menunjukkan bahwa pada ketinggian tersebut dapat mengakibatkan turunnya saturasi sebesar 6-8%. 2
Namun, pasien dengan asma berat, COPD berat, alveolitis fibrosa, orang yang baru dirawat inap karena penyakit paru (kurang dari 6 minggu), orang dengan riwayat gangguan pernafasan pada penerbangan sebelumnya, orang dengan penyakit yang diperburuk dengan hipoksemia, harus dinilai terlebih dahulu kesehatannya sebelum terbang. 1
Orang dengan paru-paru abnormal dapat memperoleh bahaya akibat perubahan tekanan udara yang rendah yang dapat mengakibatkan pembesaran pneumothoraks yang telah ada atau ruptura bula emfisema atau rongga udara lainnya. Orang dengan penyakit paru yang menggunakan terapi oksigen lama juga membutuhkan terapi oksigen selama penerbangan. Orang dengan hipoksemia yang borderline juga membutuhkan suplemen oksigen untuk mencegah gangguan pada ketinggian. 2
Dengan demikian skrining medis dan konseling sebelum terbang diperlukan bagi penderita penyakit paru tertentu untuk memastikan apakah ia dapat terbang dengan selamat dan nyaman.
Skrining medis pre-flight IATA menerbitkan suatu resolution di bidang Acceptance and Carriage of Incapacitated Passengers 5. Di dalam resolusi tersebut, incapacitated passengers diartikan sebagai : orang yang memiliki disabilitas secara fisik atau mental, atau dengan kondisi medis yang memerlukan perhatian atau bantuan pada waktu naik atau turun pesawat, selama penerbangan dan selama penanganan di darat yang normalnya tidak bagi penumpang lain.
Dalam menghadapi calon penumpang dengan inkapasitas tersebut, perusahaan penerbangan dapat menerimanya dan mengangkutnya dengan persyaratan atau perlakuan khusus atau dapat pula menolaknya. Penolakan dapat dilakukan hanya dengan alasan yang cukup, yaitu apabila dapat mengancam keselamatan penumpang lain atau crew, menolak perlakuan khusus yang sesuai dengan peraturan perusahaan, keadaannya terlalu berat untuk diangkut kecuali didampingi escort yang bertanggungjawab atas kebutuhannya, dapat menjadi sumber penularan penyakit atau mengakibatkan ketidaknyamanan bagi penumpang lain, dapat mengakibatkan risiko atau bahaya bagi dirinya atau penumpang lain, atau tidak dapat menggunakan tempat duduk standar pada kelas yang diinginkannya.
Calon penumpang diharapkan melaporkan keadaannya kepada perusahaan penerbangan dan meminta bantuan atau perlakuan khusus yang dimintanya atau memberikan kesempatan kepada petugas kesehatan perusahaan penerbangan untuk menilainya. Penumpang yang hanya meminta bantuan pada saat naik dan turun pesawat atau selama dalam airport tidak memerlukan medical clearance. Mereka diharapkan mengisi formulir Passengers requiring special assistance guna memperoleh bantuan khusus tersebut, seperti permintaan kursi roda.
Medical clearance diperlukan pada calon penumpang dengan penyakit menular, atau memiliki perilaku atau keadaan yang dapat mengganggu penumpang lain atau crew, atau dianggap merupakan bahaya atau risiko (termasuk kemungkinan perubahan penerbangan atau jadwal pendaratan), atau mereka yang membutuhkan penanganan atau peralatan medis selama penerbangan, atau yang penyakitnya dapat memburuk selama penerbangan. Untuk itu diperlukan pemeriksaan atau uji kesehatan sebelum terbang. Dalam hal ini calon penumpang diminta untuk mengisi medical information form (Medif).
Adapun pemeriksaan medis yang dapat digunakan dalam menilai keadaan pasien, apakah fit to air travel, adalah sbb: 6 1. Uji berjalan sejauh 50 meter. Kemampuan berjalan sejauh 50 m tanpa distress biasanya dapat diterima sebagai skrining termudah, meskipun belum ada bukti yang memvalidasi uji ini. Kegagalan dalam uji ini, baik dari segi jarak atau waktu yang dibutuhkan, atau munculnya respiratory distress sedang atau berat, mengingatkan dokter atas kemungkinan diperlukannya in-flight oxygen.
2. Pendugaan hipoksemia, terutama pada COPD. Beberapa pusat kesehatan menggunakan persamaan dalam menduga kemungkinan adanya hipoksemia di udara melalui pemeriksaan di darat. Prediksi ini umumnya cukup baik dalam menetapkan kebutuhan in-flight O2 (SaO2 > 95% tidak memerlukan, SaO2 <92% memerlukan). Beberapa persamaan yang diajukan untuk digunakan adalah:
PaO2 Alt (mmHg) = 0,410 x PaO2 Ground (mmHg) + 17,652 PaO2 Alt (mmHg) = 0,519 x PaO2 Ground (mmHg) + 11,885 x FEV1 (liters) – 1,760 PaO2 Alt (mmHg) = 0,453 x PaO2 Ground (mmHg) + 0,386 x (FEV1 %pred) + 2,44
3. Uji inhalasi hipoksia (HIT=hypoxic inhalation test). Pada uji ini, calon penumpang diminta bernafas di dalam campuran gas hipoksik di darat (tersedia berbagai metode), yang ekuivalen dengan ketinggian terbang pada 8000 kaki, selama kira-kira 20 menit. Saturasinya dimonitor dan tekanan gas darahnya diukur sebelum dan sesudahnya. Calon penumpang dianggap memerlukan oksigen in-flight apabila PaO2 nya jatuh hingga < 50 mmHg atau SaO2 nya jatuh hingga < 85%.
Bila SaO2 awal <85%, maka HIT tidak dilakukan dan pasien dinyatakan tidak fit untuk terbang. HIT hanya dilakukan apabila SaO2 awal > 85%. Pulse oxymetry tidak digunakan untuk menggantikan ABG selama HIT karena kecenderungannya overestimasi saturasi pada hipoksia akut.
Di dalam praktek, direkomendasikan penilaian melalui: (1) anamnesis dan pemeriksaan dengan acuan pada penyakit kardiorespiratori, dispnu, dan pengalaman terbang sebelumnya, (2) pemeriksaan spirometri (pada bukan penderita tbc), (3) pengukuran SaO2 dengan pulse oxymetry. Pemeriksaan ABG diperlukan apabila diduga terdapat hiperkapnia, (4) Bila hasil oxymetry antara 92-95% dengan faktor risiko tambahan lakukan HIT. 6 Pemberian Oksigen
Pemberian oksigen 2L/menit kontinyus melalui kanul hidung pada umumnya cukup untuk mengantisipasi kurangnya oksigen pada ketinggian 8000 kaki. Penambahan 2L/menit dari penggunaan oksigen sebelum terbang juga pada umumnya memadai. Tetapi pada pasien-pasien tertentu diperlukan uji HIT yang diikuti dengan titrasi oksigen.
Pada umumnya perusahaan penerbangan tidak mengijinkan pasien membawa oksigennya sendiri, melainkan meminta dokter meresepkannya 48 jam sebelum terbang. Indikasi pemberian oksigen pada penumpang berpenyakit paru adalah pada advanced emphysema (FEV1<1 liter), pulmonary fibrosis, EisenmengerÂ’s syndrome, primary pulmonary hypertension, dilated cardiomyopathy dengan amiodarone lung, cystic fibrosis, severe pulmonary hypertension akibat thromboemboli, pemakai oksigen di rumah, penerbangan panjang atau transcontinental dengan PaO2 <60 mmHg.
Pada umumnya perusahaan penerbangan menggunakan Hudson mask (atau nasal cannulae, venturi mask) atau nasal prongs. Masker sederhana yang biasa dipakai dalam penerbangan dapat mengakibatkan re-breathing dan retensi CO2. Ketersediaan oksigen berbeda di berbagai jenis pesawat, demikian pula peralatan dan ukuran alirannya. Sebuah studi menyatakan bahwa 76% dari 33 perusahaan penerbangan menyediakan oksigen in-flight, dengan kemampuan umum aliran oksigen 2-4 L/menit, satu diantaranya mampu memberikan 1-15 L/menit.
Kesimpulan Terbang pada umumnya aman bagi sebagian besar penderita penyakit paru, namun pada beberapa diantaranya memerlukan medical clearance terlebih dahulu dan / atau memerlukan bantuan atau perlakuan khusus.
Kepustakaan 1. Price D. Managing passengers with respiratory disease planning air travel: Brittish Thoracic Society Recommendation. Summary for primary care. Thorax 2002; 57:1-2 2. Darwish AA. Aerospace medicine part 2. The Internet Journal of Pulmonary Medicine. 2003. Vol 3 No 2. www.ispub.com/ostia/index.php?xmlFilePath =journals/ijpm/archives.xml 3. Hakim L. Personal communication. 6 Juli 2005. 4. Fisher PW. High Altitude Respiratory Physiology. In USAF FlightÂ’s Surgeon Guide. 2004. 5. IATA resolution 700. Acceptance and Carriage of incapacitated passengers. 22nd ed. June 2002. www.iata.org/whip/files/wgld_0263/IATAreso700.pdf 6. Darwish AA. Aerospace medicine part 4. The Internet Journal of Pulmonary Medicine. 2003. Vol 3 No 2. www.ispub.com/ostia/index.php?xmlFilePath =journals/ijpm/arc
Last edited by gitahafas on Fri Mar 16, 2012 12:37 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Thu Apr 22, 2010 6:34 am | |
| SINDROMA GAWAT PERNAPASAN AKUT Sindroma Gawat Pernafasan Akut (Sindroma Gawat Pernafasan Dewasa) adalah suatu jenis kegagalan paru-paru dengan berbagai kelainan yang berbeda, yang menyebabkan terjadinya pengumpulan cairan di paru-paru (edema paru). Sindroma gawat pernafasan akut merupakan kedaruratan medis yang dapat terjadi pada orang yang sebelumnya mempunyai paru-paru yang normal. Walaupun sering disebut sindroma gawat pernafasan akut dewasa, keadaan ini dapat juga terjadi pada anak-anak.
PENYEBAB # Penyebabnya bisa penyakit apapun, yang secara langsung ataupun tidak langsung melukai paru-paru: Infeksi berat dan luas (sepsis) # Pneumonia # Tekanan darah yang sangat rendah (syok) # Terhirupnya makanan ke dalam paru (menghirup muntahan dari lambung) # Beberapa transfusi darah # Kerusakan paru-paru karena menghirup oksigen konsentrasi tinggi # Emboli paru # Cedera pada dada # Luka bakar hebat # Tenggelam # Operasi bypass kardiopulmoner # Peradangan pankreas (pankreatitis) # Overdosis obat seperti heroin, metadon, propoksifen atau aspirin # Trauma hebat # Transfusi darah (terutama dalam jumlah yang sangat banyak).
Gejala biasanya muncul dalam waktu 24-48 jam setelah terjadinya penyakit atau cedera. SGPA seringkali terjadi bersamaan dengan kegagalan organ lainnya, seperti hati atau ginjal. Salah satu faktor resiko dari SGPA adalah merokok sigaret. Angka kejadian SGPA adalah sekitar 14 diantara 100.000 orang/tahun.
GEJALA Sindroma gawat pernafasan akut terjadi dalam waktu 24-48 jam setelah kelainan dasarnya. Mula-mula penderita akan merasakan sesak nafas, bisanya berupa pernafasan yang cepat dan dangkal. Karena rendahnya kadar oksigen dalam darah, kulit terlihat pucat atau biru, dan organ lain seperti jantung dan otak akan mengalami kelainan fungsi. Hilangnya oksigen karena sindroma ini dapat menyebabkan komplikasi dari organ lain segera setelah sindroma terjadi atau beberapa hari/minggu kemudian bila keadaan penderita tidak membaik. Kehilangan oksigen yang berlangsung lama bisa menyebabkan komplikasi serius seperti gagal ginjal. Tanpa pengobatan yang tepat, 90% kasus berakhir dengan kematian. Bila pengobatan yang diberikan sesuai, 50% penderita akan selamat. Karena penderita kurang mampu melawan infeksi, mereka biasanya menderita pneumonia bakterial dalam perjalanan penyakitnya.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: - cemas, merasa ajalnya hampir tiba - tekanan darah rendah atau syok (tekanan darah rendah disertai oleh kegagalan organ lain) - penderita seringkali tidak mampu mengeluhkan gejalanya karena tampak sangat sakit.
DIAGNOSA Pada pemeriksaan fisik dengan menggunakan stetoskop, terdengar bunyi pernafasan abnormal (seperti ronki atau wheezing). Tekanan darah seringkali rendah dan kulit, bibir serta kuku penderita tampak kebiruan (sianosis, karena kekurangan oksigen). # Pemeriksaan yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis SGPA: Rontgen dada (menunjukkan adanya penimbunan cairan di tempat yang seharusnya terisi udara) # Gas darah arteri # Hitung jenis darah dan kimia darah # Bronkoskopi.
PENGOBATAN Penderita sindroma gawat pernafasan akut dirawat di unit perawatan intensif. Terapi oksigen sangat penting untuk mengoreksi kadar oksigen darah, seringkali diberikan oksigen dalam konsentrasi tinggi (mungkin diperlukan oksigen 100%).
Bila pemberian oksigen dengan sungkup muka tidak berhasil mengatasi masalah, perlu digunakan alat bantu pernafasan (ventilator). Ventilator menyalurkan oksigen dengan menggunakan tekanan melalui pipa yang dimasukkan ke hidung, mulut atau trakea; tekanan ini membantu memasukkan oksigen ke dalam darah. Tekanan yang diberikan dapat disesuaikan untuk membantu tetap terbukanya saluran napas yang kecil dan alveoli, dan untuk memastikan agar paru-paru tidak menerima konsentrasi yang berlebihan karena konsentrasi yang berlebihan dapat merusak paru-paru dan memperberat sindroma ini.
Pengobatan suportif lainnya seperti pemberian cairan atau makanan intravena (melalui infus) juga penting karena dapat terjadi dehidrasi atau malnutrisi yang bisa menyebabkan berhentinya fungsi organ tubuh (keadaan yang disebut sebagai kegagalan organ multipel). Obat-obatan khusus diberikan untuk mengobati infeksi, mengurangi peradangan dan membuang cairan dari dalam paru-paru. Misalnya pada infeksi diberikan antibiotik.
PROGNOSIS Angka kematian melebihi 40%. Penderita yang bereaksi baik terhadap pengobatan, biasanya akan sembuh total, dengan atau tanpa kelainan paru-paru jangka panjang. Pada penderita yang menjalani terapi ventilator dalam waktu yang lama, cenderung akan terbentuk jaringan parut di paru-parunya. Jaringan parut tertentu membaik beberapa bulan setelah ventilator dilepas.
Sumber: Medicastore |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Thu Apr 22, 2010 6:38 am | |
| KEGAGALAN PERNAPASAN Kegagalan pernafasan (gagal paru-paru) adalah keadaan dimana kadar oksigen di dalam darah menjadi rendah membahayakan atau kadar karbon dioksida menjadi tinggi membahayakan. * Keadaan yang menghalangi saluran udara, kerusakan jaringan paru-paru, otot yang lemah yang mengendalikan pernafasan, atau penurunan garirah untuk bernafas bisa menyebabkan gagal paru-paru. * Orang kemungkinan bernafas sangat pendek, memiliki warna kulit kebiru-biruan, dan bingung atau mengantuk. * Dokter menggunakan tes darah untuk mendeteksi kadar rendah pada oksigen atau kadar tinggi pada karbon dioksida di dalam darah. * Oksigen diberikan. * Kadangkala orang membutuhkan pertolongan untuk bernafas sampai masalah yang mendasar bisa diobati.
Kegagalan pernafasan adalah darurat medis yang bisa diakibatkan dari terlalu lama, menjalani penyakit paru-paru yang memburuk atau dari penyakit paru-paru berat yang terjadi secara tiba-tiba, seperti sindrom pernafasan akut yang mengganggu, yang tidak terjadi pada orang sehat.
PENYEBAB Kebanyakan berbagai kondisi yang mempengaruhi pernafasan atau paru-paru bisa menyebabkan kegagalan pernafasan. Gangguan tertentu, seperti hypothyroidism atau sleep apnea, bisa mengurangi reflek kesadaran yang menuntun orang untuk bernafas. Overdosis opioid atau alkohol juga bisa menurunkan gerakan pernafasan karena menyebabkan sedasi berat. Halangan pada jalur pernfasan, luka pada jaringan paru-paru, kerusakan tulang dan jaringan sekitar paru-paru, dan kelemahan otot yang secara normal memompa paru-paru juga menjadi penyebab umum. Kegagalan pernafasan terjadi jika aliran darah melalui paru-paru menjadi abnormal, seperti yang terjadi pada emboli pulmonary ( pulmonary embolism . Gangguan ini tidak menghentikan udara yang bergerak keluar masuk ke paru-paru, tetapi tanpa aliran darah yang menjadi bagian paru-paru, oksigen tidak diekstraks secara tepat dari udara.
Apa penyebab kegagalan pernafasan ? Penyakit paru-paru kronis bersifat menghalangi, kista fibrosis, bronchiolitis, benda asing yang terhirup. Pernafasan yang buruk (penurunan gerakan nafas) Kegemukan, sleep apnea, hypothyroidism, obat atau keracunana alkohol. Otot lemah: Myasthenia gravis, muscular dystrophy, polio, sindrom Guillain-Barré, polymyositis, stroke tertentu, amyotrophic lateral sclerosis (ALS), luka tulang belakang. Kelainan pada jaringan paru-paru Sindrom pernafasan akut yang mengganggu (ARDS, Acute respiratory distress syndrome), pneumonia, edema paru-paru (cairan berlebihan pada paru-paru) dari gagal jantung atau gagal ginjal, reaksi obat, fibrosis paru-paru, penyebaran tumor, radiasi, sarcoidosis, luka bakar. Kelainan pada dinding dada: Scoliosis, luka dada, kegemukan yang ekstrim, kelainan bentuk yang diakibatkan dari operasi dada.
GEJALA Kadar oksigen rendah di dalam darah bisa menyebabkan nafas yang pendek dan mengakibatkan warna kebiruan pada kulit (cyanosis). Kadar oksigen rendah, kadar karbon dioksida tinggi, dan peningkatan asam pada darah menyebabkan pening dan tertidur, jika perjalanan untuk bernafas adalah normal, tubuh berusaha untuk membersihkan sendiri karbondioksida dengan pernafasan dalam, cepat. Jika paru-paru tidak berfungsi dengan normal, meskipun begitu, pola pernafasan ini tidak bisa membantu. Segera, kerusakan otak dan jantung, mengakibatkan rasa kantuk (kadangkala langsung menjadi tidak sadar) dan kelainan ritme jantung (aritmia), keduanya bisa menyebabkan kematian.
Beberapa gejala-gejala pada kegagalan pernafasan bermacam-macam penyebabnya. Seorang anak dengan gangguan saluran pernafasan yang berhubungan dengan tersedak (aspirasi) benda asing (seperti koin atau mainan) bisa secara tiba-tiba megap-megap dan berjuang untuk bernafas. Orang dengan sindrom gangguan pernafasan akut bisa bernafas pendek yang berat lebih dari periode sejam. Kadangkala orang yang mabuk atau lemah bisa benar-benar menjadi koma.
DIAGNOSA Dokter bisa menduga kegagalan pernafasan karena temuan pada gejala-gejala dan pemeriksaan fisik . Tes darah dilakukan pada contoh yang diambil dari arteri memastikan diagnosa ketika menunjukkan kadar oksigen rendah yang berbahaya atau kadar karbon dioksida tinggi yang membahayakan. Sinar X dada dan tes lain dilakukan untuk memastikan penyebab kegagalan pernafasan.
PENGOBATAN Orang dengan kegagalan pernafasan diobati di ruang perawatan intensif. Oksigen diberikan pada mulanya, biasanya dalam jumlah yang besar lebih dari kebutuhan, tetapi jumlah oksigen bisa disesuaikan kemudian waktu. Kadangkala, pada orang yang kadar karbon dioksidanya tetap tinggi untuk beberapa waktu, kelebihan oksigen bisa memperlambat gerakan udara ke dalam dan keluar (ventilasi) pada paru-paru dan peningkatan lebih lanjut pada kadar karbon dioksida yang berbahaya. Pada beberapa orang, dosis oksigen perlu untuk lebih diatur dengan hati-hati.
Gangguan yang mendasari menyebabkan kegagalan pernafasan harus juga diobati. Misal, antibiotik digunakan untuk melawan infeksi bakteri, dan bronchodilator digunakan pada orang yang menderita asma untuk membuka saluran pernafasan. Obat-obatan lain kemungkinan diberikan, misal, untuk mengurangi peradangan atau untuk mengobati gumpalan darah. ventilasi mekanik diperlukan sampai kegagalan pernafasan cepat terpecahkan.
Sumber: Medicastore |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Sun May 02, 2010 6:18 pm | |
| KECEGUKAN Kecegukan (Hiccups) adalah sejenis mioklonus, dimana terjadi kejang berulang dari diafragma, yang dengan cepat diikuti oleh penutupan glotis yang mengeluarkan suara berisik. Diafragma adalah otot yang memisahkan dada dengan perut. Glotis adalah lubang diantara pita suara yang mengatur pengaliran udara ke paru-paru.
PENYEBAB Kecegukan adalah sejenis mioklonus, dimana terjadi kejang berulang dari diafragma, yang dengan cepat diikuti oleh penutupan glotis yang mengeluarkan suara berisik. Diafragma adalah otot yang memisahkan dada dengan perut. Glotis adalah lubang diantara pita suara yang mengatur pengaliran udara ke paru-paru.
GEJALA Terdengar suara yang terjadi karena kejang otot diafragma yang diikuti dengan penutupan glotis.
DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya.
PENGOBATAN # Untuk menghentikan kecegukan bisa dilakukan tindakan berikut: Menahan nafas, karena dengan menahan nafas maka kadar karbondioksida di dalam darah meningkat, sehingga kecegukan berhenti. # Bernafas di dalam kantong kertas. # Minum segelas air dingin atau mengunyah roti kering atau es batu yang diserut. # Menarik lidah atau menggosok bola mata secara perlahan.
Kecegukan yang bersifat menetap memerlukan pengobatan yang lebih intensif. Obat-obat yan digunakan adalah skopolamin, proklorperazin, klorpromazin, baklofen, metoklopramid dan valproat.
PENCEGAHAN Anda mungkin dapat menurunkan frekuensi cegukan jangka pendek dengan menghindari pemicu cegukan umum, seperti: 1. Makan makanan besar 2. Minum minuman berkarbonasi atau alkohol 3. Perubahan suhu mendadak
Sumber: Medicastore |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Thu May 06, 2010 5:58 am | |
| EFUSI PLEURA Efusi Pleura (Fluid in the chest; Pleural fluid) adalah pengumpulan cairan di dalam rongga pleura. Rongga pleura adalah rongga yang terletak diantara selaput yang melapisi paru-paru dan rongga dada. Dalam keadaan normal, hanya ditemukan selapis cairan tipis yang memisahkan kedua lapisan pleura. Jenis cairan lainnya yang bisa terkumpul di dalam rongga pleura adalah darah, nanah, cairan seperti susu dan cairan yang mengandung kolesterol tinggi.
Hemotoraks (darah di dalam rongga pleura) biasanya terjadi karena cedera di dada. Penyebab lainnya adalah: - pecahnya sebuah pembuluh darah yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura - kebocoran aneurisma aorta (daerah yang menonjol di dalam aorta) yang kemudian mengalirkan darahnya ke dalam rongga pleura - gangguan pembekuan darah. Darah di dalam rongga pleura tidak membeku secara sempurna, sehingga biasanya mudah dikeluarkan melelui sebuah jarum atau selang.
Empiema (nanah di dalam rongga pleura) bisa terjadi jika pneumonia atau abses paru menyebar ke dalam rongga pleura. Empiema bisa merupakan komplikasi dari: - Pneumonia - Infeksi pada cedera di dada - Pembedahan dada - Pecahnya kerongkongan - Abses di perut.
Kilotoraks (cairan seperti susu di dalam rongga dada) disebabkan oleh suatu cedera pada saluran getah bening utama di dada (duktus torakikus) atau oleh penyumbatan saluran karena adanya tumor.
Rongga pleura yang terisi cairan dengan kadar kolesterol yang tinggi terjadi karena efusi pleura menahun yang disebabkan oleh tuberkulosis atau artritis rematoid.
PENYEBAB Dalam keadaan normal, cairan pleura dibentuk dalam jumlah kecil untuk melumasi permukaan pleura (pleura adalah selaput tipis yang melapisi rongga dada dan membungkus paru-paru). Bisa terjadi 2 jenis efusi yang berbeda:
1. Efusi pleura transudativa, biasanya disebabkan oleh suatu kelainan pada tekanan normal di dalam paru-paru. Jenis efusi transudativa yang paling sering ditemukan adalah gagal jantung kongestif. 2. Efusi pleura eksudativa terjadi akibat peradangan pada pleura, yang seringkali disebabkan oleh penyakit paru-paru. Kanker, tuberkulosis dan infeksi paru lainnya, reaksi obat, asbetosis dan sarkoidosis merupakan beberapa contoh penyakit yang bisa menyebabkan efusi pleura eksudativa.
# Penyebab lain dari efusi pleura adalah: Gagal jantung # Kadar protein darah yang rendah # Sirosis # Pneumonia # Blastomikosis # Koksidioidomikosis # Tuberkulosis # Histoplasmosis # Kriptokokosis # Abses dibawah diafragma # Artritis rematoid # Pankreatitis # Emboli paru # Tumor # Lupus eritematosus sistemik # Pembedahan jantung # Cedera di dada # Obat-obatan (hidralazin, prokainamid, isoniazid, fenitoin,klorpromazin, nitrofurantoin, bromokriptin, dantrolen, prokarbazin) # Pemasanan selang untuk makanan atau selang intravena yang kurang baik.
GEJALA Gejala yang paling sering ditemukan (tanpa menghiraukan jenis cairan yang terkumpul ataupun penyebabnya) adalah sesak nafas dan nyeri dada (biasanya bersifat tajam dan semakin memburuk jika penderita batuk atau bernafas dalam). Kadang beberapa penderita tidak menunjukkan gejala sama sekali.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: - batuk - cegukan - pernafasan yang cepat - nyeri perut.
DIAGNOSA Pada pemeriksaan fisik, dengan bantuan stetoskop akan terdengar adanya penurunan suara pernafasan. # Untuk membantu memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan berikut: Rontgen dada Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura, yang hasilnya menunjukkan adanya cairan. # CT scan dada CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan bisa menunjukkan adanya pneumonia, abses paru atau tumor # USG dada USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan yang jumlahnya sedikit, sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan. # Torakosentesis Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal). # Biopsi Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka dilakukan biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa. Pada sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh, penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan. # Analisa cairan pleura # Bronkoskopi Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan yang terkumpul.
PENGOBATAN Jika jumlah cairannya sedikit, mungkin hanya perlu dilakukan pengobatan terhadap penyebabnya. Jika jumlah cairannnya banyak, sehingga menyebabkan penekanan maupun sesak nafas, maka perlu dilakukan tindakan drainase (pengeluaran cairan yang terkumpul). Cairan bisa dialirkan melalui prosedur torakosentesis, dimana sebuah jarum (atau selang) dimasukkan ke dalam rongga pleura. Torakosentesis biasanya dilakukan untuk menegakkan diagnosis, tetapi pada prosedur ini juga bisa dikeluarkan cairan sebanyak 1,5 liter. Jika jumlah cairan yang harus dikeluarkan lebih banyak, maka dimasukkan sebuah selang melalui dinding dada.
Pada empiema diberikan antibiotik dan dilakukan pengeluaran nanah. Jika nanahnya sangat kental atau telah terkumpul di dalam bagian fibrosa, maka pengaliran nanah lebih sulit dilakukan dan sebagian dari tulang rusuk harus diangkat sehingga bisa dipasang selang yang lebih besar. Kadang perlu dilakukan pembedahan untuk memotong lapisan terluar dari pleura (dekortikasi). Pada tuberkulosis atau koksidioidomikosis diberikan terapi antibiotik jangka panjang.
Pengumpulan cairan karena tumor pada pleura sulit untuk diobati karena cairan cenderung untuk terbentuk kembali dengan cepat. Pengaliran cairan dan pemberian obat antitumor kadang mencegah terjadinya pengumpulan cairan lebih lanjut. Jika pengumpulan cairan terus berlanjut, bisa dilakukan penutupan rongga pleura. Seluruh cairan dibuang melalui sebuah selang, lalu dimasukkan bahan iritan (misalnya larutan atau serbuk doxicycline) ke dalam rongga pleura. Bahan iritan ini akan menyatukan kedua lapisan pleura sehingga tidak lagi terdapat ruang tempat pengumpulan cairan tambahan.
Jika darah memasuki rongga pleura biasanya dikeluarkan melalui sebuah selang. Melalui selang tersebut bisa juga dimasukkan obat untuk membantu memecahkan bekuan darah (misalnya streptokinase dan streptodornase). Jika perdarahan terus berlanjut atau jika darah tidak dapat dikeluarkan melalui selang, maka perlu dilakukan tindakan pembedahan.
Pengobatan untuk kilotoraks dilakukan untuk memperbaiki kerusakan saluran getah bening. Bisa dilakukan pembedahan atau pemberian obat antikanker untuk tumor yang menyumbat aliran getah bening.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Fri Jul 08, 2011 11:59 am; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Thu May 06, 2010 6:00 am | |
| EMBOLI PARU Emboli Paru (Pulmonary Embolism)adalah penyumbatan arteri pulmonalis (arteri paru-paru) oleh suatu embolus, yang terjadi secara tiba-tiba. Suatu emboli bisa merupakan gumpalan darah (trombus), tetapi bisa juga berupa lemak, cairan ketuban, sumsum tulang, pecahan tumor atau gelembung udara, yang akan mengikuti aliran darah sampai akhirnya menyumbat pembuluh darah. Biasanya arteri yang tidak tersumbat dapat memberikan darah dalam jumlah yang memadai ke jaringan paru-paru yang terkena sehingga kematian jaringan bisa dihindari. Tetapi bila yang tersumbat adalah pembuluh yang sangat besar atau orang tersebut memiliki kelainan paru-paru sebelumnya, maka jumlah darah mungkin tidak mencukupi untuk mencegah kematian paru-paru. Sekitar 10% penderita emboli paru mengalami kematian jaringan paru-paru, yang disebut infark paru. Jika tubuh bisa memecah gumpalan tersebut, kerusakan dapat diminimalkan. Gumpalan yang besar membutuhkan waktu lebih lama untuk hancur sehingga lebih besar kerusakan yang ditimbulkan. Gumpalan yang besar bisa menyebabkan kematian mendadak.
PENYEBAB Kebanyakan kasus disebabkan oleh bekuan darah dari vena, terutama vena di tungkai atau panggul. Penyebab yang lebih jarang adalah gelembung udara, lemak, cairan ketuban atau gumpalan parasit maupun sel tumor. Penyebab yang paling sering adalah bekuan darah dari vena tungkai, yang disebut trombosis vena dalam. Gumpalan darah cenderung terbentuk jika darah mengalir lambat atau tidak mengalir sama sekali, yang dapat terjadi di vena kaki jika seseorang berada dalam satu posisi tertentu dalam waktu yang cukup lama. Jika orang tersebut bergerak kembali, gumpalan tersebut dapat hancur, tetapi ada juga gumpalan darah yang menyebabkan penyakit berat bahkan kematian.
# Penyebab terjadinya gumpalan di dalam vena mungkin tidak dapat diketahui, tetapi faktor predisposisinya (faktor pendukungnya) sangat jelas, yaitu: Pembedahan # Tirah baring atau tidak melakukan aktivitas dalam waktu lama (seperti duduk selama perjalanan dengan mobil, pesawat terbang maupun kereta api) # Stroke # Serangan jantung # Obesitas (kegemukan) # Patah tulang tungkai tungkai atau tulang pangggul # Meningkatnya kecenderungan darah untuk menggumpal (pada kanker tertentu, pemakaian pil kontrasepsi, kekurangan faktor penghambat pembekuan darah bawaan) # Persalinan # Trauma berat # Luka bakar.
GEJALA Emboli yang kecil mungkin tidak menimbulkan gejala, tetapi sering menyebabkan sesak nafas. Sesak mungkin merupakan satu-satunya gejala, terutama bila tidak ditemukan adanya infark.
Penting untuk diingat, bahwa gejala dari emboli paru mungkin sifatnya samar atau menyerupai gejala penyakit lainnya: - batuk (timbul secara mendadak, bisa disertai dengan dahak berdarah) - sesak nafas yang timbul secara mendadak, baik ketika istirahat maupun ketika sedang melakukan aktivitas - nyeri dada (dirasakan dibawah tulang dada atau pada salah satu sisi dada, sifatnya tajam atau menusuk) - nyeri semakin memburuk jika penderita menarik nafas dalam, batuk, makan atau membungkuk - pernafasan cepat - denyut jantung cepat (takikardia).
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: - wheezing/bengek - kulit lembab - kulit berwarna kebiruan - nyeri pinggul - nyeri tungkai (salah satu atau keduanya) - pembengkakan tungkai - tekanan darah rendah - denyut nadi lemah atau tak teraba - pusing - pingsan - berkeringat - cemas.
DIAGNOSA Diagnosis emboli paru ditegakkan berdasarkan gejala dan faktor pendukungnya.
Pemeriksaan untuk menilai fungsi paru-paru: - Gas darah arteri - Oksimetri denyut nadi.
Pemeriksaan untuk menentukan lokasi dan luasnya emboli: - Rontgen dada - Skening ventilasi/perfusi paru - Angiogram paru.
Pemeriksaan untuk trombosis vena dalam (sebagai penyebab tersering): - USG Doppler pada aliran darah anggota gerak - Venografi tungkai - Pletsimografi tungkai.
PENGOBATAN Pengobatan emboli paru dimulai dengan pemberian oksigen dan obat pereda nyeri. Oksigen diberikan untuk mempertahankan konsentrasi oksigen yang normal.
Terapi antikoagulan diberikan untuk mencegah pembentukan bekuan lebih lanjut dan memungkinkan tubuh untuk secara lebih cepat menyerap kembali bekuan yang sudah ada. Terapi antikoagulan terdiri dari heparin (diberikan melalui infus), kemudian dilanjutkan dengan pemberian warfarin per-oral (melalui mulut). Heparin dan warfarin diberikan bersama selama 5-7 hari, sampai pemeriksaan darah menunjukkan adanya perbaikan.
Lamanya pemberian antikoagulan (anti pembekuan darah) tergantung dari keadaan penderita. Jika emboli paru disebabkan oleh faktor predisposisi sementara, (misalnya pembedahan), pengobatan diteruskan selama 2-3 bulan. Jika penyebabnya adalah masalah jangka panjang, pengobatan diteruskan selama 3-6 bulan, tapi kadang diteruskan sampai batas yang tidak tentu. Pada saat menjalani terapi warfarin, darah harus diperiksa secara rutin untuk mengetahui apakah perlu dilakukan penyesuaian dosis warfarin atau tidak.
Penderita dengan resiko meninggal karena emboli paru, bisa memperoleh manfaat dari 2 jenis terapi lainnya, yaitu terapi trombolitik dan pembedahan. Terapi trombolitik (obat yang memecah gumpalan) bisa berupa streptokinase, urokinase atau aktivator plasminogen jaringan. Tetapi obat-obatan ini tidak dapat diberikan kepada penderita yang: - telah menjalani pembedahan 10 hari sebelumnya - wanita hamil - menderita stroke - mempunyai bakat untuk mengalami perdarahan yang hebat.
Pada emboli paru yang berat atau pada penderita yang memiliki resiko tinggi mengalami kekambuhan, mungkin perlu dilakukan pembedahan, yaitu biasanya dilakukan embolektomi paru (pemindahan embolus dari arteri pulmonalis).
Jika tidak bisa diberikan terapi antikoagulan, maka dipasang penyaring pada vena kava inferior. Alat ini dipasang pada vena sentral utama di perut, yang dirancang untuk menghalangi bekuan yang besar agar tidak dapat masuk ke dalam pembuluh darah paru.
PROGNOSIS Sulit untuk menentukan prognosis dari emboli paru, karena banyak kasus yang tidak terdiagnosis. Prognosisnya seringkali berhubungan dengan penyakit yang mendasarinya (misalnya kanker, pembedahan, trauma dan lain-lain). Pada emboli paru yang berat, dimana telah terjadi syok dan gagal jantung, maka angka kematiannya bisa mencapai lebih dari 50%.
PENCEGAHAN Pada orang-orang yang memiliki resiko menderita emboli paru, dilakukan berbagai usaha untuk mencegah pembentukan gumpalan darah di dalam vena. Untuk penderita yang baru menjalani pembedahan (terutama orang tua), disarankan untuk: - menggunakan stoking elastis - melakukan latihan kaki - bangun dari tempat tidur dan bergerak aktif sesegera mungkin untuk mengurangi kemungkinan terjadinya pembentukan gumpalan. Stoking kaki dirancang untuk mempertahankan aliran darah, mengurangi kemungkinan pembentukan gumpalan, sehingga menurunkan resiko emboli paru.
Terapi yang paling banyak digunakan untuk mengurangi pembentukan gumpalan pada vena tungkai setelah pembedahan adalah heparin. Dosis kecil disuntikkan tepat dibawah kulit sebelum operasi dan selama 7 hari setelah operasi. Heparin bisa menyebabkan perdarahan dan memperlambat penyembuhan, sehingga hanya diberikan kepada orang yang memiliki resiko tinggi mengalami pembentukan gumpalan, yaitu: - penderita gagal jantung atau syok - penyakit paru menahun - kegemukan - sebelumnya sudah mempunyai gumpalan. Heparin tidak digunakan pada operasi tulang belakang atau otak karena bahaya perdarahan pada daerah ini lebih besar.
Kepada pasien rawat inap yang mempunyai resiko tinggi menderita emboli paru bisa diberikan heparin dosis kecil meskipun tidak akan menjalani pembedahan. Dekstran yang harus diberikan melalui infus, juga membantu mencegah pembentukan gumpalan. Seperti halnya heparin, dekstran juga bisa menyebabkan perdarahan. Pada pembedahan tertentu yang dapat menyebabkan terbentuknya gumpalan, (misalnya pembedahan patah tulang panggul atau pembedahan untuk memperbaiki posisi sendi), bisa diberikan warfarin per-oral. Terapi ini bisa dilanjutkan untuk beberapa minggu atau bulan setelah pembedahan.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Fri Jul 08, 2011 12:00 pm; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Thu May 06, 2010 11:50 am | |
| ABSES PARU Abses Paru diartikan sebagai kematian jaringan paru-paru dan pembentukan rongga yang berisi sel-sel mati atau cairan akibat infeksi bakteri.
PENYEBAB Kebanyakan abses paru muncul sebagai komplikasi dari pneumonia aspirasi akibat bakteri anaerob di mulut. Penderita abses paru biasanya memiliki masalah periodontal (jaringan di sekitar gigi). Sejumlah bakteri yang berasal dari celah gusi sampai ke saluran pernafasan bawah dan menimbulkan infeksi. Tubuh memiliki sistem pertahanan terhadap infeksi semacam ini, sehingga infeksi hanya terjadi jika sistem pertahanan tubuh sedang menurun, seperti yang ditemukan pada: - seseorang yang berada dalam keadaan tidak sadar atau sangat mengantuk karena pengaruh obat penenang, obat bius atau penyalahgunaan alkohol - penderita penyakit sistem saraf. Jika bakteri tersebut tidak dapat dimusnahkan oleh mekanisme pertahanan tubuh, maka akan terjadi pneumonia aspirasi dan dalam waktu 7-14 hari kemudian berkembang menjadi nekrosis (kematian jaringan), yang berakhir dengan pembentukan abses. Mekanisme pembentukan abses paru lainnya adalah bakteremia atau endokarditis katup trikuspidalis, akibat emboli septik pada paru-paru.Pada 89% kasus, penyebabnya adalah bakteri anaerob. Yang paling sering adalah Peptostreptococcus, Bacteroides, Fusobacterium dan Microaerophilic streptococcus.
Organisme lainnya yang tidak terlalu sering menyebabkan abses paru adalah: - Staphylococcus aureus - Streptococcus pyogenes - Streptococcus pneumoniae - Klebsiella pneumoniae - Haemophilus influenzae - spesies Actinomyces dan Nocardia - Basil gram negatif.
Penyebab non-bakteri juga bisa menyebabkan abses paru, diantaranya: - Parasit (Paragonimus, Entamoeba) - Jamur (Aspergillus, Cryptococcus, Histoplasma, Blastomyces, Coccidioides - Mycobacteria.
GEJALA Gejala awalnya menyerupai pneumonia: - kelelahan - hilang nafsu makan - berat badan menurun - berkeringat - demam - batuk berdahak.
Dahaknya bisa mengandung darah. Dahak seringkali berbau busuk karena bakteri dari mulut atau tenggorokan cenderung menghasilkan bau busuk. Ketika bernafas, penderita juga bisa merasakan nyeri dada, terutama jika telah terjadi peradangan pada pleura.
DIAGNOSA Diagnosis abses paru tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejalanya yang menyerupai pneumonia maupun hasil pemeriksaan fisik saja. Diduga suatu abses paru jika gejala yang menyerupai pneumonia terjadi pada keadaan-keadaan berikut: - kelainan sistem saraf - penyalahgunaan alkohol atau obat lainnya - penurunan kesadaran karena berbagai sebab.
Rontgen dada seringkali bisa menunjukkan adanya abses paru. Abses paru tampak sebagai rongga dengan bentuk yang tidak beraturan dan di dalamnya tampak perbatasan udara dan cairan. Abses paru akibat aspirasi paling sering menyerang segmen posterior paru lobus atas atau segmen superior paru lobus bawah. Ketebalan dinding abses paru bervariasi, bisa tipis ataupun tebal, batasnya bisa jelas maupun samar-samar. Dindingnya mungkin licin atau kasar. Gambaran yang lebih jelas bisa terlihat pada CT scan. Biakan dahak dari paru-paru bisa membantu menentukan organisme penyebab terjadinya abses.
PENGOBATAN Untuk penyembuhan sempurna diperlukan antibiotik, baik intravena (melalui pembuluh darah) maupun per-oral (melalui mulut). Pengobatan ini dilanjutkan sampai gejalanya hilang dan rontgen dada menunjukkan bahwa abses telah sembuh. Untuk mencapai perbaikan seperti ini, biasanya antibiotik diberikan selama 4-6 minggu. Pada rongga yang berukuran besar (diameter lebih dari 6 cm), biasanya perlu dilakukan terapi jangka panjang.
Perbaikan klinis, yaitu penurunan suhu tubuh, biasanya terjadi dalam waktu 3-4 hari setelah pemberian antibiotik. Jika dalam waktu 7-10 hari setelah pemberian antibiotik demam tidak juga turun, berarti telah terjadi kegagalan terapi dan sebaiknya dilakukan pemeriksaan diagnostik lebih lanjut untuk menentukan penyebab dari kegagalan tersebut. Hal -hal yang perlu dipertimbangkan pada penderita yang memberikan respon yang buruk terhadap pemberian antibiotik adalah penyumbatan bronkial oleh benda asing atau tumor; atau infeksi oleh bakteri, mikobakteri maupun jamur yang resisten.
Pada abses paru tanpa komplikasi sangat jarang dilakukan pembedahan. Indikasi pembedahan biasanya adalah kegagalan terhadap terapi medis, kecurigaan adanya tumor atau kelainan bentuk paru-paru bawaan. Prosedur yang dilakukan adalah lobektomi atau pneumonektomi. Angka kematian karena abses paru mencapai 5%. Angka ini lebih tinggi jika penderita memiliki gangguan sistem kekebalan, kanker paru-paru atau abses yang sangat besar.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Fri Jul 08, 2011 12:02 pm; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Thu May 06, 2010 8:42 pm | |
| PENYAKIT PARU AKIBAT PEKERJAAN Penyakit Paru Akibat Pekerjaan terjadi akibat terhirupnya partikel, kabut, uap atau gas yang berbahaya pada saat seseorang sedang bekerja. Lokasi tersangkutnya zat tersebut pada saluran pernafasan atau paru-paru dan jenis penyakit paru yang terjadi, tergantung kepada ukuran dan jenis partikel yang terhirup. Partikel yang lebih besar mungkin akan terperangkap di dalam hidung atau saluran pernafasan yang besar, tetapi partikel yang sangat kecil bisa sampai ke paru-paru. Di dalam paru-paru, beberapa partikel dicerna dan bisa diserap ke dalam aliran darah. Partikel yang lebih padat yang tidak dapat dicerna akan dikeluarkan oleh sistem pertahanan tubuh.
Tubuh memiliki beberapa cara untuk membersihkan partikel yang terhirup: # Di dalam saluran pernafasan, lendir akan membungkus partikel, sehingga bisa lebih mudah dikeluarkan melalui batuk # Di dalam paru-paru, sel-sel pembersih tertentu, akan menelan partikel tersebut dan melenyapkannya.
Partikel yang berbeda akan menghasilkan reaksi yang berbeda pula di dalam tubuh. Beberapa partikel (misalnya serbuk tanaman) dapat menyebabkan reaksi alergi seperti rinitis alergika atau asma. Serbuk batubara, karbon dan oksida perak tidak menimbulkan reaksi yang berarti dalam paru-paru. Serbuk silika dan asbes bisa menimbulkan jaringan parut yang menetap pada jaringan paru-paru (fibrosis paru). Dalam jumlah yang cukup besar, asbes bisa menyebabkan kanker pada perokok.
PENYEBAB Orang-orang yang memiliki resiko menderita penyakit paru akibat pekerjaan: 1. Silikosis - penambang timah hitam, tembaga, perak dan emas - penambang batubara tertentu (misalnya peledak atap) - pekerja pengecoran logam - pembuat keramik - pemotong batu pasir atau granit - pekerja terowongan - pembuat alat pengampelas sabun - pekerja peledak pasir
2. Paru-paru hitam, ditemukan pada pekerja batubara
3. Asbestosis - pekerja yang menambang, menggiling atau mengolah asbes - pekerja bangunan yang memasang atau memindahkan barang-barang yang mengandung asbes
4. Beriliosis terjadi pada pekerja ruang angkasa
5. Pneumokoniosis jinak - tukang las - penambang besi - pekerja barium - pekerja perak
6. Asma akibat pekerjaan terjadi pada orang-orang yang bekerja dengan: - gandum - kayu sedar merah dari daerah barat - kacang kastor - pewarna - antibiotik - damar - teh - enzim-enzim yang digunakan pada pembuatan sabun cuci, gandum dan bahan-bahan kulit
7. Bissinosis terjadi pada pekerja yang mengolah: - kapas - rami - goni - tanaman yang menghasilkan serat dan biji-bijian
8. Penyakit Silo filler ditemukan pada petani.
Sumber: Medicastore
10 PEKERJAAN TERBURUK UNTUK PARU PARU Senin, 19/03/2012 14:25 WIB Adelia Ratnadita - detikHealth Jakarta, Banyak jenis pekerjaan yang cukup berisiko untuk kesehatan. Misalnya, banyak pekerja yang mengembangkan penyakit paru oleh karena lingkungan tempat kerja yang tidak sehat. Jika mengetahui penyebabnya, risiko penyakit paru pada para pekerja dapat dicegah atau setidaknya dapat menurunkan risiko. "Sebagian besar jenis penyakit paru akibat lingkungan kerja dapat dicegah. Tindakan pengendalian sederhana dapat secara nyata mengurangi paparan dan risiko," kata Philip Harber, MD, profesor dan kepala Divisi Lingkungan Kerja di UCLA. Kira-kira pekerjaan apa saja yang memiliki risiko terhadapat penyakt paru? Berikut 10 pekerjaan terburuk bagi kesehatan paru-paru pekerja seperti dikutip dari Health, Senin (19/3/2012) antara lain:
1. Pekerja konstruksi Pekerja yang menghirup debu pada pembongkaran atau renovasi bangunan dapat berisiko terkena kanker paru-paru, mesothelioma dan asbestosis. Asbestosis merupakan penyakit yang menyebabkan jaringan parut di paru-paru. Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memakai alat pelindung, termasuk respirator saat bekerja di sekitar bangunan dan menghindari merokok.
2. Pekerja pabrik Pekerja pabrik dapat terkena debu, bahan kimia, dan gas yang menempatkan pada risiko Chronic obstructive pulmonary disease (COPD).
3. Praktisi medis Sekitar 8-12 orang yang sensitif terhadap residu bubuk yang ditemukan dalam sarung tangan lateks adalah praktisi medis. Sensitifitas tersebut dapat menyebabkan reaksi asma tipe berat. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut adalah membatasi paparan bila memungkinkan.
4. Pekerja tekstil Bisinosis, juga disebut brown lung disease, adalah umum di antara pekerja tekstil yang membuat jok, handuk, kaus kaki, seprei dan pakaian. Pekerja dapat menghirup partikel yang dilepaskan dari kain katun atau bahan lainnya. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memakai masker dan meningkatkan ventilasi di lingkungan kerja.
5. Bartender Melayani minuman di ruangan penuh asap menempatkan bartender pada risiko tinggi untuk penyakit paru-paru. Terutama jika secara terpapar perokok pasif selama bertahun-tahun. Saat ini, banyak negara yang melarang merokok di restoran dan bar. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan sistem ventilasi yang baik dalam lingkungan bar.
6. Pembuat kue "Pembuat kue menempati bagian atas daftar pekerjaan yang menyebabkan asma, yang secara keseluruhan mencapai 15 persen kasus asma baru pada orang dewasa. Pembuat kue yang terpapar debu tepung berisiko sangat signifikan mengembangkan sensitisasi alergi. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan ventilasi yang baik dan penggunaan masker pelindung," kata Dr Harber.
7. Industri otomotif Asma dapat menjadi risiko kesehatan paru bagi pekerja dalam industri otomotif. Cat auto spray seperti isosianat dan produk poliuretan, dapat mengiritasi kulit, menyebabkan alergi dan menyebabkan sesak dada, dan kesulitan bernapas yang parah. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan respirator, sarung tangan, kacamata, dan ventilasi dyang memadai.
8. Pekerja angkutan Supir truk, yang sering membongkar muatan barang di dermaga, dan pekerja industri kereta api dapat berisiko untuk COPD. Knalpot diesel adalah faktor terbesar. Meskipun mesin sekarang memancarkan gas buang diesel yang lebih sedikit karena perkembangan teknologi, diesel knalpot masih tersebar luas. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah sedapat mungkin menghindari area knalpot diesel dan mengenakan masker pelindung.
9. Pekerja pertambangan "Penambang berada pada risiko tinggi untuk sejumlah penyakit paru-paru, termasuk COPD, karena paparan debu," kata Dr Harber. Silika di udara yang juga dikenal sebagai kuarsa dapat menyebabkan silikosis. Penambang batubara berisiko untuk jenis lain dari penyakit jaringan parut di paru yang disebut pneumokoniosis (paru-paru hitam). Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan adalah tidak merokok dan menggunakan masker.
10. Pemadam kebakaran Petugas pemadam kebakaran dapat menghirup asap dan berbagai bahan kimia yang mungkin ada dalam gedung atau rumah yang terbakar. Meskipun perlengkapan pelindung pernapasan telah disediakan bagi pekerja, namun kadang tidak selalu dipakai. Paparan bahan beracun dan asbes adalah risiko bahkan setelah api berhasil dipadamkan. International Association of Firefighters telah merekomendasikan pemakaian alat pelindung pernapasan pada semua tahap pemadam kebakaran.
Last edited by gitahafas on Mon Mar 19, 2012 7:42 pm; edited 7 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Sun May 09, 2010 12:28 pm | |
| PNEUMOTHORAKS Kolaps paru-paru / pneumothoraks (Pneumothorax) adalah penimbunan udara atau gas di dalam rongga pleura. Rongga pleura adalah rongga yang terletak diantara selaput yang melapisi paru-paru dan rongga dada.
PENYEBAB Terdapat beberapa jenis pneumotoraks yang dikelompokkan berdasarkan penyebabnya: 1. Pneumotoraks spontan Terjadi tanpa penyebab yang jelas. Pneumotoraks spontan primer terjadi jika pada penderita tidak ditemukan penyakit paru-paru. Pneumotoraks ini diduga disebabkan oleh pecahnya kantung kecil berisi udara di dalam paru-paru yang disebut bleb atau bulla. Penyakit ini paling sering menyerang pria berpostur tinggi-kurus, usia 20-40 tahun. Faktor predisposisinya adalah merokok sigaret dan riwayat keluarga dengan penyakit yang sama. Pneumotoraks spontan sekunder merupakan komplikasi dari penyakit paru-paru (misalnya penyakit paru obstruktif menahun, asma, fibrosis kistik, tuberkulosis, batuk rejan).
2. Pneumotoraks traumatik Terjadi akibat cedera traumatik pada dada. Traumanya bisa bersifat menembus (luka tusuk, peluru) atau tumpul (benturan pada kecelakaan kendaraan bermotor). Pneumotoraks juga bisa merupakan komplikasi dari tindakan medis tertentu (misalnya torakosentesis).
3. Pneumotoraks karena tekanan Terjadi jika paru-paru mendapatkan tekanan berlebihan sehingga paru-paru mengalami kolaps. Tekanan yang berlebihan juga bisa menghalangi pemompaan darah oleh jantung secara efektif sehingga terjadi syok.
GEJALA Gejalanya sangat bervariasi, tergantung kepada jumlah udara yang masuk ke dalam rongga pleura dan luasnya paru-paru yang mengalami kolaps (mengempis). Gejalanya bisa berupa: - Nyeri dada tajam yang timbul secara tiba-tiba, dan semakin nyeri jika penderita menarik nafas dalam atau terbatuk - Sesak nafas - Dada terasa sempit - Mudah lelah - Denyut jantung yang cepat - Warna kulit menjadi kebiruan akibat kekurangan oksigen. Gejala-gejala tersebut mungkin timbul pada saat istirahat atau tidur.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan: - Hidung tampak kemerahan - Cemas, stres, tegang - Tekanan darah rendah (hipotensi).
DIAGNOSA Pemeriksaan fisik dengan bantuan stetoskop menunjukkan adanya penurunan suara pernafasan pada sisi yang terkena. Trakea (saluran udara besar yang melewati bagian depan leher) bisa terdorong ke salah satu sisi karena terjadinya pengempisan paru-paru.
# Pemeriksaan yang biasa dilakukan: Rontgen dada (untuk menunjukkan adanya udara diluar paru-paru) # Gas darah arteri.
PENGOBATAN Tujuan pengobatan adalah mengeluarkan udara dari rongga pleura, sehingga paru-paru bisa kembali mengembang. Pada pneumotoraks yang kecil biasanya tidak perlu dilakukan pengobatan, karena tidak menyebabkan masalah pernafasan yang serius dan dalam beberapa hari udara akan diserap. Penyerapan total dari pneumotoraks yang besar memerlukan waktu sekitar 2-4 minggu. Jika pneumotoraksnya sangat besar sehingga menggangu pernafasan, maka dilakukan pemasangan sebuah selang kecil pada sela iga yang memungkinkan pengeluaran udara dari rongga pleura. Selang dipasang selama beberapa hari agar paru-paru bisa kembali mengembang. Untuk menjamin perawatan selang tersebut, sebaiknya penderita dirawat di rumah sakit. Untuk mencegah serangan ulang, mungkin perlu dilakukan pembedahan. Hampir 50% penderita mengalami kekambuhan, tetapi jika pengobatannya berhasil, maka tidak akan terjadi komplikasi jangka panjang.
Pada orang dengan resiko tinggi (misalnya penyelam dan pilot pesawat terbang), setelah mengalami serangan pneumotoraks yang pertama, dianjurkan untuk menjalani pemedahan. Pada penderita yang pneumotoraksnya tidak sembuh atau terjadi 2 kali pada sisi yang sama, dilakukan pembedahan untuk menghilangkan penyebabnya. Pembedahan sangat berbahaya jika dilakukan pada penderita pneumotoraks spontan dengan komplikasi atau penderita pneumotoraks berulang. Oleh karena itu seringkali dilakukan penutupan rongga pleura dengan memasukkan doxycycline melalui selang yang digunakan untuk mengalirkan udara keluar. Untuk mencegah kematian pada pneumotoraks karena tekanan, dilakukan pengeluaran udara sesegera mungkin dengan menggunakan alat suntik besar yang dimasukkan melalui dada dan pemasangan selang untuk mengalirkan udara.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Fri Jul 08, 2011 12:10 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Mon Jun 07, 2010 12:31 pm | |
| BAHAYA ATAP RUMAH DARI ASBES Jumat, 29/01/2010 08:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Asbes masih banyak digunakan untuk atap bangunan rumah. Dalam jangka panjang menghirup asbes terus menerus bisa menimbulkan risiko kesehatan. Asbes masuk ke dalam tubuh melalui cara inhalasi. Dampak bahaya dari menghirup serat asbes tidak bisa dilihat dalam jangka waktu singkat. Terkadang gejala penyakit ini baru muncul dalam waktu 20-30 tahun setelah terpapar serat asbes pertama kali. Seperti dikutip dari Health.nsw, Jumat (29/1/2010) serat asbes yang terhirup dan masuk ke dalam paru-paru bisa menyebabkan asbestosis (timbulnya jaringan parut di paru-paru), kanker paru-paru dan mesothelioma (kanker ganas yang menyerang selaput mesothelium).
Risiko terkena penyakit ini akan meningkat setara dengan banyaknya jumlah serat asbes yang dihirup. Selain itu risiko kanker paru-paru akibat menghirup serat asbes lebih besar dibandingkan dengan asap rokok. Ini disebabkan asbes terdiri dari serat-serat kecil yang mudah terpisah, sehingga jika serat tersebut berterbangan di udara dan terhirup oleh tubuh akan berbahaya bagi kesehatan. Biasanya serat asbes ini bisa menimbulkan risiko kesehatan jika masuk ke dalam tubuh melalui cara inhalasi. Jumlah kecil serat asbes di udara yang dihirup seseorang saat bernapas tidak akan menimbulkan rasa sakit.
Rata-rata orang hanya menghirup asbes dalam jumlah yang sangat kecil dan berisiko rendah terhadap kesehatan. beberapa penelitian menunjukkan asbes yang berbentuk lembaran tidak menunjukkan risiko kesehatan yang berarti. Orang yang sangat berisiko memiliki gangguan kesehatan akibat asbes umumnya yang bekerja di pertambangan atau industri. Tapi bukan berarti atap rumah yang terbuat dari asbes tidak berbahaya sama sekali, hanya saja risiko gangguan kesehatannya lebih rendah. Berbagai bentuk material dari asbes membuat tingkatan risiko kesehatan yang berbeda.
Jika serat asbes dalam bentuk yang stabil seperti lembaran dan kondisinya masih baik, maka risiko kesehatannya kecil. Namun jika lembaran tersebut sudah ada yang rusak, berlubang atau salah dalam hal penggunaannya, maka bisa menimbilkan risiko yang lebih tinggi. Bahan bangunan asbes umumnya digunakan sebagai lembaran semen (fibro), drainase, cerobong pipa, atap rumah atau papan bangunan lainnya. Sejak tahun 1960-an dan 1970-an, serat asbes banyak digunakan oleh masyarakat sebagai isolasi atap rumah. Untuk mengurangi paparan dari serat asbes dan melakukan pencegahan jangka pendek bisa dengan melakukan beberapa cara:
1. Menyemprotkan air ke lembaran asbes untuk mencegah tanah, debu atau serat beterbangan di udara. 2. Menutup asbes dengan lembaran plastik atau terpal untuk menghindari paparan cuaca. 3. Mencegah anak untuk bermain di atap rumah yang terbuat daria asbes. 4. Mengganti lembaran asbes yang sudah rusak atau berlubang. 5. Sebisa mungkin memberikan ruang batas antara asbes denga ruangan dalam rumah.
Last edited by gitahafas on Fri Jul 08, 2011 12:10 pm; edited 11 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Mon Jun 07, 2010 12:33 pm | |
| RISIKO KESEHATAN DARI SEMBURAN GUNUNG MELETUS Senin, 30/08/2010 10:08 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Gunung api yang meletus akan mengeluarkan berbagai jenis debu serta gas dari dalam perut bumi. Gas dan debu ini tidak hanya berbahaya bagi jalur transportasi, tapi juga kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitar gunung meletus tersebut. Abu atau debu yang keluar dari gunung meletus bisa merusakkan rumah-rumah warga di sekitarnya. Runtuhnya atap-atap rumah ini bisa membahayakan orang-orang yang tinggal di dalamnya seperti mengalami cedera atau kematian. Namun jika debu-debu di udara ini ukurannya sangat kecil (kurang dari 10 mikron) maka bisa terhirup oleh manusia dan menimbulkan bahaya kesehatan bagi warga.
Debu yang dikeluarkan oleh gunung meletus ini biasanya mengandung mineral kuarsa, kristobalit atau tridimit. Mineral ini adalah kristal silika bebas yang diketahui dapat menyebabkan silicosis (melumpuhkan dan berpotensi menimbulkan akibat fatal terhadap paru-paru). Penyakit ini biasanya ditemukan pada pekerja tambang yang terpapar silika bebas dalam jangka panjang.
Sedangkan gas yang timbul akiat gunung meletus adalah uap air (H2O), diikuti oleh karbon dioksida (CO2) dan belerang dioksida (SO2). Selain itu ada juga gas-gas lain dalam jumlah kecil seperti hidrogen sulfida (H2S). hidrogen (H2), karbon monoksida (CO), hidrogen klorida (HCl), hidrogen fluorida (HF) dan helium (He). Gas-gas ini pada konsentrasi tertentu bisa menyebabkan sakit kepala, pusing, diare, bronkhitis atau bronchopneumonia, mengganggu selaput lendir dan saluran pernapasan, iritasi kulit serta bisa juga mempengaruhi gigi dan tulang (untuk paparan HF).
Orang-orang yang terkena debu dari letusan gunung berapi ini biasanya mengalami keluhan pada mata, hidung, kulit dan gejala sakit pada tenggorokannya. Efek kesehatan ini bisa akibat paparan jangka pendek atau pun jangka panjang. Masyarakat di sekitar gunung berapi sebaiknya segera mengungsi untuk menghindari dampak yang lebih berbahaya lagi, tapi jika masih ingin bertahan sebaiknya gunakan selalu masker wajah untuk mengurangi paparan partikel debu.
Bagi orang yang menderita bronkhitis, emfisema dan asma, sebaiknya segera mengambil tindakan pencegahan khusus untuk menghindari kondisi yang lebih parah yang dapat menyebabkan additional cardio-pulmonary stress (stres jantung-paru paru berlebih). Dikutip dari Volcanoes.usgs.gov, Senin (30/8/2010) beberapa efek kesehatan yang bisa ditimbulkan dari debu ataupun gas yang keluar dari gunung meletus, yaitu:
Gangguan pernapasan Potensi gangguan pernapasan yang mungkin timbul dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti konsentrasi partikel di udara, ukuran partikel tersebut dalam debu, frekuensi dan lamanya paparan, kondisi meteorologi, kondisi kesehatan dari setiap warga, ada atau tidaknya gas-gas vulkanik yang bercampur dengan abu serta penggunaan alat perlindungan pernapasan. Gejala pernapasan akut yang sering dilaporkan oleh masyarakat setelah gunung mengeluarkan abu atau debu adalah hidung iritasi dan beringus, iritasi dan sakit tenggorokan (kadang disertai batuk kering), batuk dahak, mengi, sesak napas, iritasi pada jalur pernapasan dan juga napas menjadi tidak nyaman.
Gangguan mata Abu vulkanik yang dikeluarkan biasanya berbentuk kasar atau juga sangat halus, sehingga orang-orang biasanya akan mengalami ketidaknyamanan atau iritasi mata terutama bagi orang yang menggunakan lensa kontak. Umumnya gejala yang timbul adalah merasa seolah-olah ada benda asing di mata, mata terasa nyeri, gatal atau merah, mata terasa lengket, kornea mata lecet atau terdapat goresan, adanya peradangan pada kantung conjuctival yang mengelilingi bola mata sehingga mata menjadi merah, terasa seperti terbakar dan sensitif terhadap cahaya.
Iritasi kulit Iritasi kulit merupakan kondisi yang jarang dilaporkan, biasanya masyarakat mengalami gatal-gatal, kulit memerah dan iritasi akibat debu yang ada di udara dan menempel di kulit. Kondisi ini bisa juga diakibatkan oleh kualitas air yang sudah tercemar debu vulkanik. Karena itu untuk mencegah efek kesehatan yang lebih parah, masyarakat bisa melakukan beberapa hal berikut ini, seperti: 1. Gunakanlah pakaian pelindung dan juga masker debu, alat perlindungan ini sebaiknya mudah diakses oleh masyarakat khususnya selama kondisi darurat. 2. Jika tidak ditemukan masker, warga bisa menggunakan sapu tangan, kain atau baju untuk melindungi diri dari debu atau gas. 3. Seseorang yang memiliki bronkhitis, emfisema dan asma disarankan untuk tetap tinggal di rumah atau mengungsi ke daerah lain untuk menghindari paparan debu. 4. Jika ingin keluar rumah, sebaiknya gunakan masker, pakaian pelindung dan juga kacamata untuk menghindari iritasi. 5. Usahakan untuk meminimalkan paparan debu yang berada di dalam rumah. 6. Bagi keluarga yang memiliki anak-anak sebaiknya sediakan masker khusus untuk anak-anak, serta tidak membiarkan anak bermain di luar untuk meminimalkan paparan.
Last edited by gitahafas on Fri Jul 08, 2011 12:07 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Paru Mon Jun 07, 2010 12:35 pm | |
| 9 CARA MENGHENTIKAN NGOROK Merry Wahyuningsih - detikHealth - Jumat, 02/07/2010 16:49 WIB Jakarta, Ngorok alias mendengkur merupakan gangguan yang sudah umum terjadi. Hal ini biasanya sangat mengganggu, terlebih pada orang yang sudah memiliki pasangan. Bagaimana cara menghentikan ngorok? Mendengkur sudah sangat umum terjadi di masyarakat, yang mempengaruhi 40 persen laki-laki dan 25 persen perempuan. Mendengkur biasanya mengeluarkan suara serak, mendesis, mendengus saat bernapas selama tidur. Orang usia lanjut paling rentan mendengkur. Sekitar sepertiga dari orang usia 55-84 tahun mengalami gangguan ngorok.
Seperti dilansir dari howstuffworks, Jumat (2/7/2010), berikut 9 cara menghentikan ngorok: 1. Tidur menyamping Orang akan cenderung mendengkur ketika tidur telentang (kepala menghadap atas), sedangkan tidur tengkurap (kepala menghadap bawah) akan membuat leher dan napas tersiksa selama tidur. Cobalah untuk tidur menyamping untuk menghetikan ngorok.
2. Kurangi berat badan Kelebihan berat badan terutama di bagian leher, akan memberikan tekanan pada sistem pernapasan, yang menyebabkan pengurangan parsial dan ngorok saat tidur.
3. Hindari alkohol dan obat tidur Alkohol dan obat tidur dapat menekan sistem saraf pusat dan relaksasi otot-otot leher dan rahang, yang membuat orang lebih mungkin mendengkur. Kedua zat ini juga dikenal menyebabkan gangguan tidur sleep apnea, yaitu kondisi berbahaya yang dikaitkan dengan penyakit jantung.
4. Segera obati alergi Alergi pernapasan kronis dapat menyebabkan mendengkur dengan memaksa penderita untuk bernapas melalui mulut selama tidur. Mengambil antihistamin sebelum tidur dapat membantu.
5. Menggunakan penyegar mulut Dokter atau dokter gigi mungkin akan meresepkan penyegar mulut anti-snoring yang dapat membersihkan mulut sekaligus menjaga otot rahang bawah menjadi lebih longgar.
6. Berhenti merokok Merokok dapat membahayakan sistem pernapasan yang akhirnya dapat membuat orang mendengkur.
7. Tidur teratur Tidur cukup serta tidur dan bangun secara teratur dapat menghentikan kebiasaan ngorok.
8. Meninggikan kepala Tidur dengan kepala ditinggikan mungkin akan melepaskan beberapa tekanan pada sistem pernapasan, sehingga bernapas terasa lebih mudah. Angkat kepala tempat tidur dengan menempatkan balok kayu di bawah tempat tidur atau menopang tubuh bagian atas dengan bantal (bukan hanya kepala, karena itu justru bisa menghambat pernapasan).
9. Konsultasi ke dokter bila Anda sedang hamil dan mendengkur Terkadang, beberapa wanita hamil mendengkur. Mendengkur dapat terjadi karena berat badan meningkat dan perubahan hormon kehamilan menyebabkan otot-otot rileks. Apa pun penyebabnya, mendengkur selama kehamilan dapat mengurangi jatah oksigen untuk bayi. Segera konsultasi ke dokter bila mengalami hal ini.(mer/ir)
Last edited by gitahafas on Tue Jan 18, 2011 8:51 am; edited 4 times in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |