|
| | Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan | |
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 11:11 am | |
| KANKER NASOFARING (kanker no 1 di bidang THT) Mei 7, 2009 oleh Dr. Kris http://thtkl.wordpress.com Karsinoma nasofaring (KNF) adalah keganasan yang berasal dari epitel atau mukosa dan kripta yang melapisi permukaan nasofaring. Di Indonesia maupun di Asia Tenggara, KNF dilaporkan sebagai tumor paling sering ditemukan diantara keganasan di daerah kepala dan leher.1 Di Indonesia, menempati urutan ke-4 diantara keganasan yang terdapat di seluruh tubuh. Santosa (1988) mendapatkan jumlah 716 (8,46%) penderita KNF berdasarkan data patologi yang diperoleh di Laboratorium Patologi anatomi FK Unair Surabaya (1973 – 1976) diantara 8463 kasus keganasan di Seluruh tubuh. Di Bagian THT Semarang mendapatkan 127 kasus KNF dari tahun 2000 – 2002.
Berdasarkan klasifikasi histopatologi, KNF dibagi menjadi WHO1, WHO2 dan WHO3. WHO1 adalah karsinoma sel skuamosa dengan keratinisasi, WHO2 gambaran histologinya karsinoma tidak berkeratin dengan sebagian sel berdiferensiasi sedang dan sebagian lainnya dengan sel yang lebih kearah diferensiasi baik. WHO3 adalah karsinoma yang sangat heterogen, sel ganas membentuk sinsitial dengan batas sel tidak jelas7,19. Jenis KNF yang banyak dijumpai adalah WHO2 dan WHO3. Di bagian THT Semarang mendapatkan 112 WHO2 dan WHO3 dari 127 kasus KNF. KNF dapat terjadi pada setiap usia, namun sangat jarang dijumpai penderita di bawah usia 20 tahun dan usia terbanyak antara 45 – 54 tahun. Laki-laki lebih banyak dari wanita dengan perbandingan antara 2 – 3 : 1. Sampai sekarang etiologi KNF belumlah jelas benar, akan tetapi virus Epstein-Barr (EBV) dinyatakan sebagai etiologi utama penyebab KNF7,16 dan faktor lain seperti genetik serta lingkungan yang mengandung bahan karsinogenik dinyatakan sebagai faktor pendukung. EBV hampir dapat dipastikan sebagai penyebab KNF, namun kenyataannya tidak semua individu yang terinfeksi EBV akan berkembang menjadi KNF. Menurut hasil penelitian menyatakan faktor pendukung seperti lingkungan, genetik sangat menentukan timbulnya KNF.7,21 Sistem klasifikasi stadium KNF yang dipakai saat ini ada beberapa macam antara lain menurut UICC, AJCC atau sistem Ho. Pada tahun 1997 AJCC dan UICC mengeluarkan sistem klasifikasi stadium terbaru yaitu edisi ke-5, menggantikan edisi ke-4 (1988). Berikut ini adalah sistem klasifikasi stadium menurut AJCC/UICC 199722 : Stadium T (ukuran/luas tumor): T0 Tak ada kanker di lokasi primer T1 Tumor terletak/terbatas di daerah nasofaring T2 Tumor meluas ke jaringan lunak oraofaring dan atau ke kavum nasi. T2a Tanpa perluasan ke ruang parafaring T2b Dengan perluasan ke parafaring T3 Tumor menyeberang struktur tulang dan/atau sinus paranasal T4 Tumor meluas ke intrakranial, dan/atau melibatkan syaraf kranial, hipofaring, fossa infratemporal atau orbita. Limfonodi regional (N) : N0 Tidak ada metastasis ke limfonodi regional N1 Metastasis unilateral dengan nodus < 6 cm diatas fossa supraklavikula N2 Metastasis bilateral dengan nodus < 6 cm, diatas fossa supraklavikula N3 Metastasis nodus : N3a > 6 cm . N3b meluas sampai ke fossa supraklavikula
Metastasis jauh (M) : M0 Tak ada metastasis jauh M1 Metastasis jauh Penderita KNF umumnya (60 – 90%) datang berobat di klinik sudah stadium lanjut, dengan gejala penyebaran diluar nasofaring. Tumor primer di nasofaring sudah T3 atau T4 jarang dengan T1 atau T2. Gejala klinik meliputi gejala hidung dan telinga, saraf dan gejala dari penyebaran tumor ke kelenjar limfe serfikal. Gejala hidung berupa ingus campur darah berulang biasanya sedikit bercampur ingus kental, kadang-kadang ada sumbatan hidung dan suara sengau. Gejala telinga adalah rasa penuh tak enak, kadang tuli akibat oklusi tuba Eustachi, atau otitis media serosa. Tumor meluas ke intra kranial melalui foramen laserum menimbulkan kerusakan pada grup anterior yaitu saraf III, IV, VI yang disusul saraf V bila melewati foramen ovale yang menyebabkan pandangan diplopi. Kerusakan saraf ke V menyebabkan neuralgia trigeminal.
Penjalaran ke foramen jugulare mengenai sekumpulan saraf otak yaitu saraf IX sampai saraf XII serta saraf simpatikus leher yang menuju ke orbita. Tjegeg mendapatkan kelainan neurologik antara 29 – 53%. Metastasis ke kelenjar getah bening leher profunda sering dijumpai, yaitu sekitar 60 – 93% dan dapat dijumpai unilateral, kontra lateral atau sering kali bilateral. Diagnosis klinis didasarkan pada hasil anamnesis, gejala klinis tumor dan kelainan di nasofaring. Perubahan mukosa nasofaring mudah dinilai dengan menggunakan endoskop. Tampak jelas perubahan berupa penonjolan mukosa, peradangan, ulseratif disertai perdarahan ringan. Pemeriksaan radiologis CT scan (computerized tomographic scanning) atau magnitic resonance imaging (MRI) merupakan pemeriksaan yang lebih informatif terhadap kelainan nasofaring. Diagnosis histopatologi spesimen biopsi nasofaring dengan mikroskop cahaya maupun mikroskop elektron merupakan standard baku emas untuk menegakkan diagnosis. Terapi radiasi KNF Sampai saat ini radioterapi masih merupakan pilihan utama pengobatan KNF. Pertimbangan pemilihan radiasi sebagai pengobatan pilihan utama didasarkan pada dua pertimbangan yaitu pertama bahwa secara histopatologi kebanyakan KNF 75%-95% dari jenis karsinoma undifferentiated (WHO3) dan karsinoma non keratinisasi (WHO2) yang tergolong radioresponsif apalagi pada stadium awal, kedua karena letak KNF yang sulit dicapai melalaui metoda pembedahan. KNF juga cenderung menginfiltrasi jaringan sekitar sehingga operasi yang bersih dengan prinsip operasi luas (wide excision) sulit dilaksanakan.
Radioterapi pada pengobatan KNF dilakukan dengan dua cara yaitu radiasi eksternal dan radiasi internal (brakiterapi). Brakiterapi adalah suatu metode penyinaran langsung ke daerah nasofaring dengan jalan memasukkan suatu alat berupa implan intertisial atau inserasi intrakavitas secara temporal pada ruang nasofaring. Pengobatan KNF dengan radiasi menggunakan sinar gama untuk mematikan atau menghilangkan (eradikasi) seluruh sel kanker yang ada di nasofaring dan metastasisnya di kelenjar getah bening leher. Radiasi eksternal diberikan secara homogen pada daerah nasofaring dan sekitarnya yang meliputi fosa serebri media, dasar tengkorak, koana dan daerah parafaring sepertiga leher bagian atas. Radiasi diberikan dari arah lateral kanan dan kiri serta ditambah dari arah depan bila ada perluasan tumor ke hidung dan sekitarnya.
Radiasi dengan pesawat Co60 yang memancarkan sinar g (gama) diberikan beberapa kali dengan dosis terbagi (fraksinasi), yaitu radiasi dosis 200 cGy setiap fraksi pemberian 5 kali seminggu selama 6–7,5 minggu. Dosis yang dibutuhkan untuk eradikasi tumor tergantung dari banyaknya sel kanker (besarnya tumor). Tumor yang masih dini (T1 dan T2) dapat diberikan radiasi menggunakan Cobalt 60 dengan dosis sebesar 200 – 220 cGy per fraksi, 5 kali seminggu tanpa istirahat mencapai dosis total 6000 – 6600 cGy dalam 6 minggu. Sedangkan untuk KNF dengan ukuran tumor yang lebih besar (T3 dan T4) dianjurkan diberikan dosis total radiasi pada tumor primer di nasofaring yang lebih tinggi yaitu 7000 – 7500 cGy. Selain radiasi eksternal, booster dapat diberikan bila masih didapatkan residu tumor dengan area diperkecil hanya pada tumornya saja sebesar 1000 – 1500 cGy sehingga mencapai dosis total 7500 – 8000 cGy. Booster ini umumnya diberikan dengan cara radiasi internal (brakiterapi).
Respons radioterapi KNF Sudah sejak lama kita ketahui bahwa pengukuran keberhasilan suatu terapi di bidang onkologi adalah dengan menilai angka respon tumor (tumor respone rate), kemampuan hidup bebas penyakit (disease free survival) dan angka kemampuan hidup keseluruhan (overall survival). Penilaian respons tumor terhadap terapi radiasi yang diberikan dianjurkan untuk dilakukan minimal 4 – 6 minggu pasca terapi (WHO Offset Publication No. 48 tahun 1979, dikutip Affandi, 1992).
Meskipun sering kali didapatkan regresi tumor yang cepat sebagai respons radioterapi, namun dilaporkan sering kali juga mengalami kekambuhan. Respon tumor KNF pada radioterapi bervariasi, rata-rata respons secara keseluruhan berkisar antara 25% – 65%. Kegagalan kontrol lokal (local failure) pada radioterapi KNF stadium lanjut sangat tinggi sekitar 50% – 80%. Dengan radioterapi kemampuan hidup keseluruhan (overall survival) pasien KNF berkisar 50%. Angka kemampuan hidup 5 tahun (5-years survival rate) pada stadium awal berkisar antara 50-90%, sedangkan untuk stadium lanjut (stadium III dan IV) angka kemampuan hidup 5 tahun berkisar 17-60%.29
Menurut Hussey tindakan biopsi pasca radioterapi untuk memastikan residu tumor secara histopatologi dapat meningkatkan risiko radionekrosis pada re-radiasi. Atas dasar pertimbangan ini maka tindakan biopsi nasofaring pasca radioterapi pada KNF dengan indeks mitosis tinggi atau tumbuh progresif sebaiknya hanya dilakukan bila tampak nyata adanya masa tumor di nasofaring. Sedangkan untuk KNF dengan pertumbuhan yang lambat, bila tidak dijumpai tumor residif atau gejala klinis yang nyata dianjurkan melakukan biopsi setelah 10 – 12 minggu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi respons KNF terhadap radiasi antara lain keadaan umum, kadar Hb, sistem imun, biologi tumor, derajat diferensiasi, jenis histopatologi dan dosis. Keadaan umum pada saat menjalani radioterapi menentukan respons sel terhadap radiasi. Kadar hemoglobin yang rendah mempengaruhi oksigenasi sel kanker. Sel kanker yang hipoksik lebih radioresisten. Hal ini akan menurunkan prognosis penderita. Status imunologi CMI (cell mediated immunity) dilaporkan mempengaruhi respons KNF terhadap radioterapi. Penderita dengan respons imun seluler rendah sebelum radioterapi dan tetap rendah pasca terapi mempunyai prognosis jelek.
Last edited by gitahafas on Sun Jun 05, 2011 11:44 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 11:15 am | |
| MENGENAL PENYAKIT KANKER NASOFARING http://mypotik.blogspot.com/2009/11/mengenal-penyakit-kanker-nasofaring.html Kurang lebih, lima dari 100.000 penduduk Indonesia adalah pengidap KNF. Kanker nasofaring masuk dalam kelompok lima besar tumor ganas yang sering dijumpai di Indonesia, bersama-sama dengan kanker payudara, leher rahim, paru dan kulit. Kanker nasofaring merupakan kanker yang paling banyak diderita masyarakat untuk jenis kanker Telinga Hidung Tenggorokan (THT) Kepala Leher (KL). Penyakit tersebut antara lain disebabkan oleh zat nitrosamin yang banyak terdapat pada makanan yang diawetkan dengan pembakaran dengan suhu tinggi dan pengasinan seperti, ikan asin.
Tercatat sekitar 400 orang terserang tumor ganas atau kanker THT-KL setiap tahunnya. Untuk jenis tumor ganas tersebut, yang paling banyak diderita masyarakat adalah kanker nasofaring. Nasofaring merupakan saluran yang terletak di belakang hidung, tepatnya di atas rongga mulut. Tingginya angka penderita kanker tersebut, tergambar pula lewat penelitian yang dilakukan oleh RSUD Dr Soetomo sejak tahun 1996-2000 lalu. Terhitung ada sekitar 2.119 penderita tumor ganas THT-KL. Sebesar 41,9 persen, merupakan penderita kanker nasofaring. Urutan kedua sebesar 11,51 persen adalah penderita kanker hidung, dan ketiga terbanyak adalah penderita kanker laring atau pita suara. Sisanya merupakan penderita kanker tonsil, thyroid, sinus maxilaris, dan telinga. Pada dua tahun belakangan, kanker nasofaring tetap merupakan yang terbanyak diderita pasien, sedangkan kanker hidung dan laring saling bergantian pada peringkat kedua.
Gejala-Gejala Kanker Nasofaring 1. Gejala hidung-sumbatan hidung. Hal ini bersifat menetap akibat pertumbuhan tumor ke dalam rongga nasofaring. Gejala menyerupai pilek kronis, kadang-kadang disertai gangguan penciuman dan adanya ingus yang kental, mimisan. Perdarahan timbul berulang-ulang, jumlahnya sedikit, bercampur ingus sehingga berwarna merah jambu atau terdapat garis-garis darah halus. Kecurigaan besar terhadap kanker nasofaring jika: menderita pilek lama lebih dari satu bulan, usia diatas 40 tahun, dan tidak didapati adanya kelainan lain pada hidung.
2. Gejala telinga bisa ditemukan gangguan pendengaran (kurang/sukar mendengar), rasa penuh di telinga, seperti ada cairan, dan telinga berdenging (umumnya satu sisi saja).
3. Pembesaran kelenjar leher Gejala ini paling sering ditemukan dan membawa penderita berkonsultasi ke dokter. Sebagian besar penderita datang berobat dengan keluhan pembesaran kelenjar leher baik sesisi maupun kedua sisi. Pada saat ini sebenarnya kanker tersebut telah menyebar.Benjolan ini, teraba keras dan tidak nyeri.
Gejala-gejala berat, Gejala-gejala yang disebutkan di atas mungkin masih tidak diperhatikan penderita, karena meskipun sudah ada benjolan namun kalau tidak sakit biasanya dibiarkan saja, apalagi hanya mimisan atau hidung berbau. Tapi selanjutnya gejala kanker nasofaring akan membuat gangguan pada penglihatan, kelumpuhan otot-otot kelopak mata sehingga tidak bisa membuka mata secara normal, dan pandangan menjadi ganda. Bisa juga terjadi nyeri kepala hebat.Jika telah mengenai saraf daerah mulut, maka bisa terjadi kesulitan dan nyeri menelan, tidak bisa bersuara dan lainnya.
Ikan Asin dan Tauco Tingginya angka penderita kanker nasofaring dipengaruhi oleh tiga factor: Pertama adalah keberadaan virus epsteinbarr yang hampir ada pada 90 persen masyarakat di negara berkembang. Jika virus tersebut ‘terbangun’, maka dapat terjadi mutasi sel yang berujung pada kanker nasofaring. Kedua adalah pada pengelolaan makanan. Pengawetan bahan makanan dengan cara dibakar dengan suhu tinggi, salah satunya dengan sinar matahari dapat menimbulkan senyawa karsinogenik yang terbukti dapat memicu kanker. Selain itu, pemicu lainnya adalah pengawetan makanan dengan cara pengasinan yang mengakibatkan tingginya zat nitrosamin dan radikal bebas. Contoh dari bahan-bahan yang berisiko tinggi tersebut, misalnya, ikan asin dan tauco yang banyak dikonsumsi masyarakat. Masyarakat tidak perlu khawatir dalam mengonsumsi makanan tersebut. Oleh karena hal itu bukan merupakan faktor penyebab tunggal. Tidak berbahaya, asal tidak berlebihan dan disertai pola hidup sehat.
Selain kedua penyebab tersebut, faktor penyebab lain adalah ras. Diketahui ras mongoloid lebih rentan terhadap penyakit kanker nasofaring tersebut. khususnya Cina Selatan. Namun tidak menutup kemungkinan terdapat di negara lain, seperti di Yunani, Afrika bagian Utara seperti Aljazair dan Tunisia, orang Eskimo. Di Indonesia, kanker ini lebih banyak menyerang keturunan tionghoa dibanding suku lainnya. Kanker ini lebih banyak dijumpai pada pria daripada wanita. Ketiga faktor penyebab saling berkaitan dalam memicu kanker. Kanker nasofaring lebih rentan pula menyerang pada kelompok berisiko tinggi, seperti orang yang berusia di atas 40 tahun; perokok; pengonsumsi minuman beralkohol; penderita kekurangan vitamin kronis; dan kondisi sanitasi serta higienis mulut yang buruk.
Pengobatan terlambat Masalah yang terjadi mengapa penderita nasofaring lebih dari 85% datang ke rumah sakit pada stadium lanjut. Ini dikarenakan dari sifat dan letak tumor itu sendiri. Sifat tumor ganas nasofaring ini lebih progresif pertumbuhannya, letaknya tersembunyi dan gejala awal kadang-kadang tidak khas, sehingga dianggap penyakit biasa saja. Selain kesalahan penderita, banyak juga merupakan kesalahan dokter yang memeriksa dan kurang teliti kadang-kadang dianggap penyakit radang saluran napas biasa. Penduduk RRC khususnya yang di Provinsi Guang Dong mempunyai insiden tertinggi di dunia. Yaitu 40 - 50 per 100.000 penduduk per tahun. Di Indonesia cukup banyak angka prevalensi 4,7 per 100.000 penduduk per tahun.
Diagonis dan pengobatan dini memegang peranan penting dalam meningkatkan keberhasilan pengobatan tumor ganas nasofaring ini. Penting untuk mengetahui gejala dini tumor ganas nasofaring dimana tumor masih terbatas di rongga nasofaring. Gejala dini ini perlu diperhatikan pada orang dengan resiko tinggi yakni usia diatas 40 tahun. Kanker nasofaring merupakan keganasan yang menduduki peringkat terbanyak di bidang telinga, hidung, tenggorokan, dan kulit. Pilihan pengobatan untuk kanker nasofaring adalah radiasi, tetapi akan memberikan hasil yang lebih baik jika diberikan kombinasi radiasi dan kemoterapi. Kunci utama penyembuhan pada penyakit kanker adalah penemuan kasus pada stadium dini. Apalagi jika penyakit tersebut dibiarkan, kanker nasofaring dapat menyebar keorgan tubuh lain seperti tulang punggung, paru-paru, dan hati.
sumber : int/Dina Tritia Mayrani Lubis, SKM
Last edited by gitahafas on Sun Jun 05, 2011 11:53 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 11:19 am | |
| ASAP DAPUR DAN DUPA BISA MEMICU KANKER NASOFARING Rabu, 01/06/2011 15:03 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Kanker nasofaring mungkin masih belum familiar dimasyarakat. Beberapa hal diketahui bisa menjadi pemicu, salah satunya adalah sirkulasi asap dapur yang buruk serta asap dari dupa. "Asap dapur kalau sirkulasinya tidak bagus dan juga asap dupa bisa memicu kanker nasofaring, karena ia merangsang nasofaring untuk produksi berlebih," ujar Prof Dr dr R Susworo, SpRad (K) Onk.Rad disela-sela acara promosi doktor atas nama Drs Yurnadi, MKes di Ruang Sena Pratista Sutomo Tjokronegoro, FKUI, Rabu (1/6/2011).
Prof Susworo menuturkan kanker nasofaring merupakan penyakit genetik yang multifaktorial, yaitu dipengaruhi oleh genetik, lingkungan dan juga makanan yang dikonsumsi. Serta beberapa faktor risiko dari penyakit ini adalah ras (ras mongoloid diketahui lebih rentan), infeksi EBV (Epstein-Barr Virus) dan makanan. Makanan yang diduga bisa mempengaruhi atau memicu kanker nasofaring adalah makanan yang diawetkan seperti ikan asin, difermentasi, diasapi dan dibakar karena mengandung senyawa nitrosamin yang merupakan karsinogenik (senyawa penyebab kanker).
Pada ikan asin, zat nitrosamin dihasilkan karena dalam proses pengasinan dan penjemurannya, sinar matahari bereaksi dengan nitrit pada daging ikan sehingga membentuk senyawa nitrosamin. "Umumnya tidak ada gejala yang khas dari kanker nasofaring, kalau pilek-pilek atau berdarah itu dianggap seperti hal yang biasa oleh masyarakat," ujar Prof Susworo dari Departemen Radiologi FKUI. Tapi sebagian besar masyarakat baru akan memeriksakan dirinya ke dokter jika kondisinya sudah parah seperti matanya juling atau adanya pembengkakan di leher (karena sudah bermetastatis atau menyebar ke leher) yang menandakan sudah masuk ke stadium lanjut.
Untuk melakukan deteksi dini terhadap kanker nasofaring, biasanya disarankan ke dokter spesialis THT (Telinga Hidung Tenggorokan) untuk diperiksa tenggorokannya, jika ditemukan massa (benjolan) biasanya akan dilakukan biopsi untuk mendeteksi lebih lanjut. "Jika kanker ditemukan dalam stadium dini maka bisa disembuhkan dan untuk tingkat kekambuhannya sekitar 15 persen jika saat ditemukan pada stadium 1 atau 2," ungkapnya. Untuk di Indonesia kanker nasofaring masuk ke dalam 10 besar kanker yang sering ditemukan setelah leher rahim (serviks), payudara, hati dan paru-paru, tapi kalau dari bagian THT maka kanker nasofaring ini masih nomor 1.
Last edited by gitahafas on Sun Jun 05, 2011 11:45 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 11:22 am | |
| SUKA CIUM CIUM UNGGAS BERISIKO KENA KANKER NASOFARING Rabu, 18/05/2011 17:53 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Jakarta, Tak hanya berisiko menularkan flu burung, unggas juga bisa menyebabkan kanker. Orang yang suka tidur atau cium-cium unggas bisa berisiko menderita kanker nasofaring (kanker belakang hidung, kanker tenggorokan atau THT). "Kanker nasofaring itu penyakitnya orang Asia, di Barat jarang orang yang terkena kanker ini. Di Indonesia juga banyak karena disini orang hidup dengan unggasnya," jelas Prof Dr Santoso Cornain D.Sc dari Stem Cell and Cancer Institute Jakarta dalam acara Round Table Discussion 'Penanganan Kanker dengan Bioteknologi' di Plaza Property, Jakarta, Rabu (18/5/2011). Menurut Prof Santoso, kanker nasofaring biasanya banyak terjadi di China dan Hongkong. Tapi setelah diteliti, hasilnya cukup mengejutkan karena orang Indonesia juga banyak menderita kanker nasofaring. "Salah satunya karena hidup dengan unggasnya dan orang Indonesia kan suka makan ikan asin," lanjut Prof Santoso yang juga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kanker nasofaring atau dikenal juga dengan kanker tenggorokan adalah penyakit yang disebabkan oleh sel ganas (kanker) dan terbentuk dalam jaringan nasofaring, yaitu bagian atas faring atau tenggorokan. Kanker ini paling sering terjadi di bagian THT (telinga hidung tenggorokan), kepala serta leher. Kanker nasofaring disebabkan oleh beberapa faktor risiko antara lain adanya paparan virus Epstein-Barr. Virus Epstein-Barr sebenarnya banyak terdapat dimana-mana, bahkan di udara bebas. Hanya saja tidak semua akan menjadi kanker, virus ini akan tetap 'tidur' di nasofaring jika tidak dipicu faktor-faktor tertentu. "Virus Epstein-Barr itu juga banyak terdapat pada unggas. Jadi kalau yang hidup dengan unggas atau sering-sering cium unggas, maka virusnya menular," jelas Prof Santoso. Faktor-faktor pemicu aktifnya virus Epstein-Barr antara lain:
1. Genetik Ras Mongoloid tercatat paling banyak menderita kanker nasofaring karena memiliki gen tertentu.
2. Cara hidup yang tidak sehat Cara hidup yang tidak sehat seperti sering terkena polusi, asap, asap rokok, alkohol.
3. Cara makan Cara makan yang tak sehat seperti sering makan ikan asin (mengandung nitrosamin yang bisa memicu ganasnya virus Epstein-Barr), makanan awetan yang diasap atau fermentasi, dan memasak dengan kayu.
4. Pekerjaan dan keagamaan Orang yang bekerja di pabrik yang banyak gas dan bahan kimia industri, peleburan besi, formaldehida, serbuk kayu. Dan kegiatan keagamaan seperti dupa dan menyan.
Banyak orang yang tidak menyadari menderita kanker nasofaring. Gejalanya yang tidak khas dan sering membuat kanker ini salah diagnosa. Gejala kanker nasofaring lebih mirip seperti gejala flu. Berikut beberapa gejala dini kanker nasofaring, yaitu: - Epitaksis (pendarahan hidung atau mimisan) ringan - Hidung tersumbat - Telinga berdenging sebelah - Diplopi (penglihatan ganda atau ada dua bayangan) - Ada benjolan di leher yang tidak sakit
"Kalau penyebabnya virus, seharusnya ada vaksin yang bisa mencegahnya seperti halnya kanker serviks yang disebabkan HPV. Tapi karena di Barat jarang orang yang menderita kanker nasofaring jadi sampai sekarang belum ada yang membuat vaksin virus Epstein-Barr," tutup Prof Santoso.
Last edited by gitahafas on Sun Jun 05, 2011 11:54 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 11:26 am | |
| KANKER NASOFARING: KENALI, HINDARI DAN OBATI Merupakan kanker yang terdapat pada nasopharing, berada di antara belakang hidung dan esofagus. Kanker ini merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia. Hampir 60% tumor ganas kepala dan leher merupakan kanker nasopharing, kemudian diikuti oleh tumor ganas hidung dan sinus paranasal (18%), laring (16%), dan tumor ganas rongga mulut, tonsil, hipofaring dalam prosentase rendah. Pada banyak kasus, nasopharing carsinoma banyak terdapat di negara ras mongoloid, khususnya Cina Selatan. Namun tidak menutup kemungkinan terdapat di negara lain, seperti di Yunani, Afrika bagian Utara seperti Aljazair dan Tunisia, orang Eskimo. Di Indonesia, kanker ini lebih banyak menyerang keturunan tionghoa dibanding suku lainnya. Kanker ini lebih banyak dijumpai pada pria daripada wanita.
Tanda dan Gejala Gejala kanker nasopharing dapat dibagi menjadi 4 kelompok, yaitu: - Gejala nasopharing sendiri, berupa Mimisan ringan (keluar darah lewat hidung) atau sumbatan hidung. Ini terjadi jika kanker masih dini. - Gejala telinga, merupakan gejala dini yang timbul karena tempat asal tumor dekat muara tuba Eustachius (saluran penghubung hidung-telinga). Gejalanya berupa telinga berdenging atau berdengung, rasa tidak nyaman di telinga, sampai nyeri. - Gejala mata dan saraf, dapat terjadi sebagai gejala lanjut karena nasopharing berhubungan dekat dengan rongga tengkorak tempat lewatnya saraf otak. Gejala dapat berupa nyeri kepala, nyeri di bagian leher dan wajah (neuralgia trigeminal), pandangan kabur, penglihatan dua (diplopia). - Gejala metastasis/menyebar atau gejala di leher. Berupa bengkak di leher karena pembengkakan kelenjar getah bening
Penyebab Pada umumnya kanker disebabkan karena adanya pertumbuhan sel kanker yang tidak terkontrol. Kanker dapat juga timbul karena adanya faktor keturunan (genetik), lingkungan, dan juga virus. Kanker nasopharing disebabkan karena adanya perkembangan sel kanker yang tidak terkontrol di bagian nasopharing. Namun pada banyak kasus, nasopharing carsinoma disebabkan karena adanya faktor keturunan (genetik). Adapun faktor resiko penyebab adanya kanker nasopharing, antara lain:
1. Makan makanan asin Pada banyak kasus di Cina, nasopharing carsinoma disebabkan dari makan ikan asin. Juga dari bumbu masak tertentu dan makan makanan terlalu panas.
2. Virus Beberapa virus menimbulkan tanda dan gejala seperti demam. Beberapa virus memiliki kemungkinan akan timbulnya kanker nasopharing. EBV-Virus biasanya yang menyebabkan kanker.
3. Keturunan Dalam keluarga dengan riwayat terkena kanker -terutama kanker nasophariing- besar kemungkinan untuk terkena kanker nasopharing daripada yang tidak memiliki riwayat keluarga terkena kanker. Ada lagi faktor yang memperbesar timbulnya kanker, seperti merokok dan mengkonsumsi alkohol. Kedua hal ini memungkinkan resiko terkena kanker.
Diagnosis Seperti pada umumnya, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan tentang tanda dan gejala yang dialami. Setelah itu dokter akan mulai menekan bagian lehermu dimana terdapat kelenjar getah bening yang membengkak. Beberapa tanda dan gejala dari kanker ini memang tidak terlalu spesifik. Pemeriksaan ini mungkin akan berlangsung selama beberapa bulan. Jika dicurigai terjadinya kanker, dokter akan mulai menggunakan endoskop untuk melihat nasopharing yang abnormal tersebut. Dalam penggunaannya diperlukan anestesi lokal. Setelah itu, diambil biopsy (sampel) yang kemudian diuji apakah merupakan kanker.
Kemudian dokter akan menentukan stadium kanker itu dengan cara: - MRI (membantu melihat kanker yang menyebar di sekitar kepala) - CT scan (melihat kanker yang tersebar pada tulang) - Pengambilan biopsy: ini digunakan untuk melihat kanker yang berada di kelenjar getah bening. - Sinar X(melihat kanker yang menyebar di bagian paru-paru)
Adapun tingkatan dari kanker ini adalah: Stadium 0: Sel-sel kanker masih berada dalam batas nasopharing, biasa disebut dengan nasopharynx in situ Stadium 1: Sel kanker menyebar di bagian nasopharing Stadium 2: Sel kanker sudah menyebar pada lebih dari nasopharing ke rongga hidung. Atau dapat pula sudah menyebar di kelenjar getah bening pada salah satu sisi leher. Stadium 3: Kanker ini sudah menyerang pada kelenjar getah bening di semua sisi leher Stadium 4: kanker ini sudah menyebar di saraf dan tulang sekitar wajah. Dari tingkatan-tingkatan inilah dokter dapat menentukan jenis pengobatan yang tepat bagi penderita.
Pengobatan Beberapa macam pengobatan untuk penderita nasopharing carsinoma, antara lain: 1. Terapi Radiasi Terapi ini dapat merusak dengan cepat sel-sel kanker yang tumbuh. Terapi ini dilakukan selama 5-7 minggu. Terapi ini digunakan untuk kanker pada tingkatan awal. Efek samping dari terapi ini adalah: mulut terasa kering, kehilangan pendengaran dan terapi ini memperbesar resiko timbulnya kanker pada lidah dan kanker tulang.
2.Kemoterapi Merupakan terapi dengan menggunakan bantuan obat-obatan. Terapi ini bekerja dengan cara mereduksi sel-sel kanker yang ada, namun adakalanya sel-sel yang sehat (tidak terkena kanker) juga tereduksi. Efek samping dari terapi ini adalah: rambut rontok, mual, lemas(seperti kehilangan tenaga). Efek samping yang timbul tergantung pada jenis obat yang diberikan.
3.Pembedahan Tujuan dari pembedahan ini adalah untuk mengambil kelenjar getah bening yang telah terkena kanker. (Fernando Gazali)
Daftar Pustaka Soepardi, Efiaty Arsyad dkk. Buku Ajar Ilmu Kedokteran Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher. Edisi keenam. Jakarta: 2007, FKUI. www.emedicine.com/radio/topic551.htm www.mayoclinic.com/health/nasopharyngeal-carcinoma www.utmb.edu/otoref/Grnds/Nasophar-CA-980121/Nasophar-CA-980121.htm
Dari : tanyadokteranda.com
Last edited by gitahafas on Sun Jun 05, 2011 12:01 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 11:46 am | |
| TUMOR TERBUKTI MAKIN SUBUR JIKA PENDERITANYA STRES Rabu, 11/05/2011 08:15 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Pertumbuhan tumor berhubungan erat dengan faktor kejiwaan. Ketika penderitanya stres, perkembangan tumor meningkat dan sebaliknya pertumbuhan tumor yang sangat cepat akan membuat penderitanya semakin stres. Stres atau tekanan batin diketahui memang bisa memperparah kondisi tumor ganas alias kanker, bahkan bisa memicu kekambuhan bagi yang sudah pernah dinyatakan sembuh. Bagi yang masih berjuang melawan kanker, stres dapat memperkecil peluang kesembuhan. Penelitian terbaru yang dilakukan Carolyn Fang, PhD dari Fox Chase Cancer Center kembali membuktikan hal itu. Dalam penelitian tersebut, jenis kanker yang perkembangannya terbukti bisa memburuk akibat stres adalah kanker di sekitar leher dan kepala.
Kondisi kanker yang memburuk terlihat dari peningkatan Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF), yakni sejenis protein yang menandai pertumbuhan sel-sel kanker. Makin tinggi kadar VEGF dalam tubuh, tandanya kanker mengalami pertumbuhan lebih cepat. Hasil pengamatan terhadap sejumlah penderita kanker leher dan kepala menunjukkan, kadar VEGF tertinggi dimiliki oleh pasien yang paling stres. Dikutip dari MensHealth.com, Rabu (11/5/2011), kadar VEGF diukur melalui pemeriksaan laboratorium sementara kadar stres diamati dari hasil psikotes.
Selain itu, peneliti juga mengungkap bahwa pasien kanker leher dan kepala yang memiliki VEGF tinggi cenderung memiliki peluang kesembuhan lebih kecil. Kalaupun sama-sama tidak bisa sembuh, pasien yang memiliki kadar VEGF tinggi cenderung meninggal lebih cepat. Fang menambahkan, stres tidak hanya mempengaruhi VEGF pada kanker leher dan kepala saja melainkan jenis kanker lainnya seperti kanker indung telur (ovarium). Diduga, peningkatan VEGF pada orang stres dipicu oleh pelepasan senyawa tertentu termasuk epinefrin. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 11:55 am | |
| INILAH GEJALA DAN PENYEBAB KANKER NASOPHARYNX Selasa, 10 Maret 2009 | 19:28 WIB Kompas.com - JAKARTA, SELASA — Kanker nasofaring merupakan keganasan yang menduduki peringkat terbanyak di bidang telinga, hidung, tenggorokan, dan kulit. Pilihan pengobatan untuk kanker nasofaring adalah radiasi, tetapi akan memberikan hasil yang lebih baik jika diberikan kombinasi radiasi dan kemoterapi. Menurut dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Budianto Komari, dalam penyuluhan kanker bagi masyarakat awam, Selasa (10/3), di Jakarta, kanker nasofaring menempati urutan keempat terbanyak di antara semua jenis kanker.
Hasil pendataan di sejumlah RS rujukan memperlihatkan, ada rata-rata 100 kasus baru karsinoma nasofaring per tahun di RS Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, 70 kasus baru per tahun di RS Kanker Dharmais, 60 kasus baru penyakit itu setiap tahun di RS Hasan Sadikin Bandung. "Angka kasus pada pria 2,18 kali lebih tinggi dibanding perempuan," ujarnya. "Agar hasil terapi bisa optimal, deteksi dini sangat penting dilakukan," ujarnya. Pada umumnya, gejala awal kanker nasofaring adalah telinga berdenging, rasa tidak nyaman, dan gangguan pendengaran satu sisi. Gejala dini lainnya adalah berupa perdarahan ringan melalui hidung.
Pertumbuhan tumor ini juga dapat menyebabkan gangguan pada saraf otak. Pada stadium lanjut kanker nasofaring, penyebaran sel-sel tumor ganas itu ditandai pembesaran atau benjolan padat pada leher. Penyebab utama kanker nasofaring adalah infeksi virus Epstein Barr. Namun, ada beberapa faktor lain yang memengaruhi atau memicu terjadinya penyakit itu, yaitu faktor lingkungan seperti iritasi oleh bahan kimia, kebiasaan memasak dengan asap, dan sering mengonsumsi ikan asin yang diawetkan dengan nitrosamine dalam jangka panjang.
Mereka yang di lingkungan kerjanya sering terpapar gas dan bahan kimia industri, peleburan besi, formaldehinda dan serbuk kayu juga berisiko terserang penyakit ganas ini. "Mereka yang sering terpapar dupa atau kemenyan dalam jangka panjang rentan terkena karsinoma nasofaring," ujarnya. Sejauh ini, terapi radiasi masih merupakan pilihan pengobatan untuk kanker nasofaring disertai kemoterapi, baik secara terpisah, maupun kombinasi. "Yang perlu diperhatikan, terapi itu bisa menimbulkan efek samping di antaranya mulut terasa kering, mual, demam, infeksi, jamuran pada mulut, dan sariawan," ujarnya.
Last edited by gitahafas on Sun Jun 05, 2011 12:43 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 12:01 pm | |
| GEJALA KANKER NASOFARING MIRIP FLU BIASA Selasa, 23/11/2010 15:33 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Jakarta, Di Indonesia kanker nasofaring (bagian atas faring atau tenggorokan) merupakan kanker terganas nomor 4 setelah kanker rahim, payudara dan kulit. Sayangnya, banyak orang yang tidak menyadari gejala kanker ini, karena gejalanya hanya seperti gejala flu biasa. Kanker nasofaring atau dikenal juga dengan kanker THT adalah penyakit yang disebabkan oleh sel ganas (kanker) dan terbentuk dalam jaringan nasofaring, yaitu bagian atas faring atau tenggorokan. Kanker ini paling sering terjadi di bagian THT (telinga hidung tenggorokan), kepala serta leher. Di Indonesia, kanker nasofaring merupakan keganasan yang menduduki peringkat terbanyak bidang Telinga, Hidung, Tenggorokan (THT), serta menduduki peringkat ke-4 dari seluruh keganasan, setelah kanker rahim, payudara dan kulit.
"Tapi kanker ini sulit untuk didiagnosa pada stadium dini karena tidak memiliki gejala yang khas. Gejalanya hanya seperti gejala flu biasa," jelas dr Budianto Komari, Sp.THT dari KSMF THT RS Kanker Dharmais, dalam acara penyuluhan ilmiah untuk awan 'Diagnosa & Penatalaksanaan Karsinoma Nasofaring' di RS Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (23/11/2010). Menurut dr Budi, banyak orang yang tidak menyadari menderita kanker nasofaring. Gejalanya yang tidak khas sering membuat kanker ini salah diagnosa. dr Budi menjelaskan, gejala dini kanker nasofaring antara lain:
1. Epitaksis (pendarahan hidung atau mimisan) ringan 2. Hidung tersumbat 3. Telinga berdenging sebelah 4. Diplopi (penglihatan ganda atau ada dua bayangan) 5. Ada benjolan di leher yang tidak sakit
"Gejala-gejala ini sering dianggap gejala flu biasa dan diabaikan begitu saja, sehingga banyak orang yang tidak sadar menderita kanker nasofaring dan datang dalam keadaan terlambat," jelas dr Budi lebih lanjut. Kanker nasofaring disebabkan oleh beberapa faktor risiko antara lain adanya paparan virus Epstein-Barr. Virus Epstein-Barr sebenarnya banyak terdapat dimana-mana, bahkan di udara bebas. Hanya saja tidak semua akan menjadi kanker, virus ini akan tetap 'tidur' di nasofaring jika tidak dipicu faktor-faktor tertentu. Faktor-faktor pemicu aktifnya virus Epstein-Barr antara lain:
1. Genetik. Ras Mongoloid tercatat paling banyak menderita kanker nasofaring karena memiliki gen tertentu. 2. Cara hidup yang tidak sehat, seperti sering terkena polusi, asap, asap rokok, alkohol. 3. Cara makan yang tak sehat, seperti sering makan ikan asin, makanan awetan yang diasap atau fermentasi, dan memasak dengan kayu. 4. Pekerjaan dan keagamaan. Orang yang bekerja di pabrik yang banyak gas dan bahan kimia industri, peleburan besi, formaldehida, serbuk kayu. Dan kegiatan keagamaan seperti dupa dan menyan.
Tapi menurut dr Budi, kanker nasofaring merupakan kanker yang bisa diobati. Kanker ini sensitif terhadap radioterapi dan kemoterapi, jadi kemungkinan sembuh sangat besar bisa dapat didiagnosa sejak awal. "Orang harus curiga bila menderita gejala-gejala yang mirip flu biasa ini, apalagi kalau orang tersebut memiliki keturunan yang menderita kanker atau sering menjalani gaya hidup tak sehat," tutup dr Budi.
Last edited by gitahafas on Sun Jun 05, 2011 12:41 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 12:23 pm | |
| HASIL TERAPI KANKER NASOFARING BISA DIPANTAU DARI DNA VIRUS Rabu, 01/06/2011 17:16 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Dalam pengobatan kanker diperlukan pemantauan untuk tahu apakah terapinya berhasil atau tidak. Untuk kanker nasofaring, peneliti UI menuturkan bahwa pemantauan terhadap respons terapi ini bisa dilihat dari DNA virus EBV. Salah satu faktor risiko dari kanker nasofaring adalah adanya infeksi oleh Epstein-Barr Virus (EBV), diketahui EBV menggunakan manusia sebagai inang untuk tempatnya hidup yaitu di epitel nasofaring dan limfosit B. "EBV mempunyai potensi onkogenik, karena ia mengubah sel terinfeksi menjadi sel ganas melalui beberapa mekanisme," ujar Yurnadi dalam acara promosi doktor FKUI atas nama dirinya di Ruang Sena Pratista Sutomo Tjokronegoro, FKUI, Rabu (1/6/2011).
Disertasi Drs Yurnadi, MKes yang berjudul 'Analisis Polimerfisme Gen Plymeric Immunoglobulin Receptor dan T Cell Receptor Beta Serta Hubungannya dengan Eksistensi DNA Epstein-Barr Virus Sebagai Pemantau Respon Terapi Pada Penderita Karsinoma Nasofaring' telah dinyatakan lulus dengan nilai A dan dinobatkan sebagai Doktor dalam Bidang Ilmu Biomedik. Yunardi menuturkan terapi yang digunakan untuk mengobati kanker nasofaring tergantung dari stadiumnya, jika masih berada dalam stadium 1-2 maka pengobatannya melalui radiasi saja. Tapi jika sudah masuk ke stadium 3-4 maka pengobatannya gabungan antara radiasi dan kemoterapi.
Untuk mengetahui seberapa besar efektivitas dari terapi yang diberikan bisa dilihat dari keberadaan (eksistensi) DNA-EBV pada saliva dan juga serum pasien kanker nasofaring. Hal ini berdasarkan studi yang dilakukan oleh Yurnadi terhadap 102 pasien kanker nasofaring dari Departemen Radiologi FKUI/RSCM dan juga Departemen Ilmu Penyakit THT-KL FKUI/RSCM. Pasien yang terlibat dalam studi ini terdiri dari 67 laki-laki dan 35 perempuan dengan variasi usia yang meliputi pasien stadium 1, 2, 3, 4, residif serta pasien yang belum diketahui stadiumnya. Dalam studi sebelumnya diketahui bahwa banyaknya DNA EBV yang dilepaskan ke dalam sirkulasi darah berhubungan dengan ukuran dari tumor, karenanya eksistesi DNA EBV sebelum dan setelah terapi berhubungan dengan besarnya tumor.
Pada pengukuran awal atau sebelum terapi DNA EBV pada penderita kanker nasofaring stadium lanjut yaitu 3 dan 4 terdeteksi lebih tinggi dibandingkan dengan pasien stadium awal yaitu 1 dan 2. Setelah melakukan terapi ditemukan adanya penurunan eksistensi DNA EBV pada serum dan saliva pasien. Penurunan yang tinggi ditemukan di saliva yaitu mencapai 64 persen, sedangkan pada serum hanya mencapai 34,6 persen. "Penurunan DNA EBV pada saliva bisa disebabkan oleh hilangnya atau terjadi pengecilan tumor nasofaring sesudah radioterapi, sehingga DNA virus yang dilepaskan ke saliva berkurang," ujar Yurnadi yang berhasil menyelesaikan sidang disertasinya dengan nilai A.
Yurnadi menambahkan penurunan eksistensi DNA EBV pada saliva yang lebih cepat mengindikasikan bahwa perubahan dari keberadaan DNA virus ini di saliva lebih informatif dalam memberikan gambaran efektivitas terapi. "Sedangkan jika pasien sudah dinyatakan sembuh dalam waktu beberapa lama dan masih ditemukan eksistensi DNA EBV dalam kadar yang tinggi berarti pasien tersebut mengalami kekambuhan," ungkapnya. Yurnadi menyarankan untuk perlu dilakukan pemantauan eksistensi DNA EBV pada pasien kanker nasofaring dengan real time PCR (q-PCR) untuk memonitor lebih spesifik efektivitas terapi yang diberikan.
Kanker nasofaring merupakan penyakit multifaktorial terutama disebabkan oleh faktor genetik, infeksi virus dan faktor lingkungan lain seperti makanan, jelaga dan debu. Umumnya kanker ini tidak memiliki gejala yang khas hingga ia mencapai stadium lanjut yang ditandai dengan mata juling serta pembengkakan di leher. Beberapa hal diketahui bisa menjadi faktor yang memperparah penyakit ini seperti kebiasaan mengonsumsi ikan asin, makanan yang diawetkan, merokok dan juga polusi lingkungan. Dan pasien terbanyak ditemukan pada usia produktif yaitu 40-50 tahun. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 12:25 pm | |
| KANKER NASOFARING Kanker Nasofaring adalah keganasan pada faring bagian atas (nasofaring). Kanker nasofaring bisa menyerang anak-anak dan dewasa muda.
PENYEBAB Virus Epstein-Barr (penyebab mononukleosis infeksiosa) diduga berperan dalam terjadinya kanker nasofaring.
GEJALA Gejala awal seringkali berupa penyumbatan hidung atau tuba eustakius yang permanen. Jika tuba eustakius tersumbat, cairan akan tertimbun di telinga tengah. Dari hidung penderita bisa keluar nanah dan darah atau penderita bisa mengalami perdarahan hidung. Kanker bisa menyebar ke kelenjar getah bening leher.
DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil biopsi tumor.
PENGOBATAN Dilakukan terapi penyinaran. Jika benjolannya besar atau menetap, mungkin perlu dilakukan pembedahan.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Sun Jun 05, 2011 12:43 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 12:31 pm | |
| KANKER NASOPHARYNX Kebiasaan makan ikan asin dalam waktu yang lama secara terus menerus beresiko menimbulkan kanker nasopharynx. Kanker nasopharynx merupakan tumor ganas didaerah kepala dan leher yang paling banyak ditemukan di Indonesia. Jumlahnya mencapai 70%.
Kebiasaan menkonsumsi ikan asin menimbulkan kanker nasopharynx telah diteliti di para ahli diHongkong. Peneliti menemukan ikan asin menghasilkan zat nitrosamin yang merupakan pencetus kanker. Ikan asin merupakan makanan yang populer di kalangan masyarakat Cina bagian selatan. Teori tersebut didasarkan pada tingginya angka kejadian penyakit kanker nasopharynx di kalangan nelayan tradisional di Hongkong. Mereka menkonsumsi ikan asin dalam jumlah besar, tetapi kurang menkonsumsi vitamin, buah dan sayur segar.
Ikan asin mengandung protein dan bahan pengawet. Hal inilah yang menghasilkan nitrosamin. Sekalipun banyak bahan makanan lain yang mengandung protein, tetapi yang sudah terbukti berdampak pada kanker nasopharynx adalah ikan asin. Penyebab kanker nasopharynx adalah virus Epstein-Barr yang hidup di udara. Virus ini menimbulkan kanker nasopharynx bila ada faktor yang menjadi mediator seperti ikan asin, sosial ekonomi, lingkungan dan kebiasaan hidup, sering kontak dengan zat penyebab kanker ( karsinogen ) misalnya gas dan bahan kimia industri, peleburan besi, formaldehida dan serbuk kayu di area kerjanya, kebiasaan memasak dengan asap, ras / keturunan dan radang kronis nasopharynx.
Dari studi yang dilakukan, selain kebiasaan menkonsumsi ikan asin, pembakaran dupa di rumah rumah dan udara di rumah yang penuh asap karena kurang ventilasi, juga berperan menimbulkan kanker nasopharynx diantara masyarakat Hongkong. Kejadian kanker nasopharynx paling banyak terjadi pada ras mongoloid, sehingga kasusnya cukup banyak pada penduduk Cina bagian selatan, Hongkong, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Kanker ini terjadi pada masyarakat Cina baik di daerah asal maupun di perantauan.
Kanker nasopharynx lebih sering terjadi pada laki laki daripada wanita, dengan perbandingan 2,18 : 1. Sebanyak 60% dari kasus yang ada, terjadi pada usia antara 25 - 60 tahun.
Gejala kanker nasopharynx: 1. Pembesaran kelenjar leher ( leher membengkak ) tanpa rasa sakit sehingga pasien tidak segera mencari pertolongan. 2. Hidung tersumbat, pilek dengan ingus yang kental, mimisan ringan. 3. Gangguan pendengaran, rasa penuh di telinga seperti ada cairan, ada suara berdenging. 4. Gejala saraf, akibat meluasnya kanker ke otak, berupa gangguan penglihatan, kelumpuhan otot mata ( juling dan penglihatan ganda ), rasa kebas pada wajah atau nyeri kepala. Atau berupa gangguan menelan dan kelumpuhan otot lidah. 5. Gejala akibat penyebaran kanker ke organ, seperti ke tulang, paru paru dan hati.
Bila masih stadium I dan II pengobatan dilakukan dengan radiasi, tetapi bila sudah stadium lanjut ( iii dan iV ) pengobatan merupakan gabungan antara radiasi dan kemoterapi. Pada pasien yang lehernya sudah membengkak, biasanya dengan kemoterapi 2x lehernya sudah mengempis. Bila sudah muncul benjolan di leher, biasanya sudah stadium IIB atau stadium III. Gejala dini biasanya berupa gangguan di telinga dan gangguan di hidung yang sifatnya tidak begitu khas sehingga sering tidak disangka sebagai kanker.
Sumber: Koran Kompas 11 Maret 2009
Last edited by gitahafas on Sun Jun 05, 2011 12:42 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 12:34 pm | |
| PEROKOK TERANCAM KANKER NASOFARING Sabtu, 19 Juli 2008 | 19:17 WIB JAKARTA, SABTU - Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin. Itulah isi pesan yang tertera di setiap bungkus rokok yang beredar di pasaran Indonesia. Pesan singkat tersebut bukannya asal tulis, sebab kebiasaan mengisap rokok ditengarai dapat mengundang beberapa penyakit. Seperti rilis yang dikeluarkan para dokter yang tergabung di dalam Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) , Jakarta, Sabtu (19/7) bahwa kebiasaan merokok dapat menjadi salah satu penyebab utama terjadinya kanker nasofaring. Menurut dr. Marlinda A. Yudharto, Sp.THT. kebiasaan menghabiskan rokok 10 batang setiap hari dapat memicu 2,06 kali meningkatnya resiko terkena kanker nasofaring. "Selain orang dewasa, kanker nasofaring juga bisa menyerang pada anak-anak, yang sehari-hari berada di lingkungan yang dipenuhi oleh asap rokok," terang Linda. Linda menerangkan, setiap tahun ada sekitar 150-175 orang yang datang berobat akibat terserang kanker nasofaring. Kisaran tersebut setiap tahun dapat berubah, kadang turun kadang naik, beber salah satu anggota POI ini. Dia melanjutkan, kasus kanker nasofaring lebih banyak terjadi pada kaum adam daripada wanita dengan perbandingan tiga banding satu.
Sebenarnya apa kanker nasofaring itu? Kanker nasofaring adalah kanker yang berasal dari sel epitel nasofaring yang berada di rongga belakang hidung dan di belakang langit-langit rongga mulut. Letaknya yang berdekatan, membuat penyebarannya menjadi mudah terjadi pada bagian mata, telinga, kelenjar leher dan otak. Penyebab kanker nasofaring sebenarnya multifaktor. Tidak hanya rokok, bahan makanan yang menggunakan pengawet maupun rumah dan tempat kerja yang dipenuhi asap beresiko menimbulkan kanker. "Virus Epstein barr, faktor genetik, faktor lingkungan maupun perilaku diet yang tidak tepat, juga bisa mempengaruhi terjadinya kanker nasofaring," beber Linda.
Telinga berdengung dan terasa penuh pada satu sisi tanpa disertai rasa sakit sampai dengan pendengaran berkurang bisa jadi merupakan gejala dini kanker nasofaring. Gejala dini lainnya bisa berupa mimisan pada hidung yang terus berulang, ingus bercampur darah, hidung tersumbat terus-menerus dan pilek pada satu sisi saja. Deteksi dini dapat dilakukan dengan cara memeriksaakan diri ke dokter bila mengalami keluhan pada telinga dan hidung. Untuk gejala lanjut dapat diketahui dari kelenjar getah bening leher yang membesar, nyeri dan sakit kepala, kemudian pada mata terjadi penglihatan ganda, juling dan kelopak mata menutup pada sisi yang terkena.
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara menciptakan pola hidup dan lingkungan yang sehat, mengurangi konsumsi makan yang memakai pengawet, dan menghindari polusi udara dan tentunya hindari mengkonsumsi rokok. Bagi yang sudah terlanjur mengidap kanker nasofaring dapat melakukan terapi maupun penyinaran, tergantung pada stadium. "Untuk stadium satu hanya diberikan terapi radiasi saja, sedangkan untuk stadium lebih tinggi di perlukan kombinasi radiasi dan kemoterapi," jelas Linda. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 12:37 pm | |
| INILAH GEJALA DAN PENYEBAB KANKER THT ( NASOFARING ) Evy Rachmawati | Selasa, 10 Maret 2009 | 19:28 WIB JAKARTA, SELASA — Kanker nasofaring merupakan keganasan yang menduduki peringkat terbanyak di bidang telinga, hidung, tenggorokan, dan kulit. Pilihan pengobatan untuk kanker nasofaring adalah radiasi, tetapi akan memberikan hasil yang lebih baik jika diberikan kombinasi radiasi dan kemoterapi. Menurut dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT) dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Budianto Komari, dalam penyuluhan kanker bagi masyarakat awam, Selasa (10/3), di Jakarta, kanker nasofaring menempati urutan keempat terbanyak di antara semua jenis kanker.
Hasil pendataan di sejumlah RS rujukan memperlihatkan, ada rata-rata 100 kasus baru karsinoma nasofaring per tahun di RS Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, 70 kasus baru per tahun di RS Kanker Dharmais, 60 kasus baru penyakit itu setiap tahun di RS Hasan Sadikin Bandung. "Angka kasus pada pria 2,18 kali lebih tinggi dibanding perempuan," ujarnya. "Agar hasil terapi bisa optimal, deteksi dini sangat penting dilakukan," ujarnya. Pada umumnya, gejala awal kanker nasofaring adalah telinga berdenging, rasa tidak nyaman, dan gangguan pendengaran satu sisi. Gejala dini lainnya adalah berupa perdarahan ringan melalui hidung. Pertumbuhan tumor ini juga dapat menyebabkan gangguan pada saraf otak. Pada stadium lanjut kanker nasofaring, penyebaran sel-sel tumor ganas itu ditandai pembesaran atau benjolan padat pada leher.
Penyebab utama kanker nasofaring adalah infeksi virus Epstein Barr. Namun, ada beberapa faktor lain yang memengaruhi atau memicu terjadinya penyakit itu, yaitu faktor lingkungan seperti iritasi oleh bahan kimia, kebiasaan memasak dengan asap, dan sering mengonsumsi ikan asin yang diawetkan dengan nitrosamine dalam jangka panjang. Mereka yang di lingkungan kerjanya sering terpapar gas dan bahan kimia industri, peleburan besi, formaldehinda dan serbuk kayu juga berisiko terserang penyakit ganas ini. "Mereka yang sering terpapar dupa atau kemenyan dalam jangka panjang rentan terkena karsinoma nasofaring," ujarnya. Sejauh ini, terapi radiasi masih merupakan pilihan pengobatan untuk kanker nasofaring disertai kemoterapi, baik secara terpisah, maupun kombinasi. "Yang perlu diperhatikan, terapi itu bisa menimbulkan efek samping di antaranya mulut terasa kering, mual, demam, infeksi, jamuran pada mulut, dan sariawan," ujarnya.
Last edited by gitahafas on Sun Jun 05, 2011 1:16 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 12:39 pm | |
| JANGAN SEPELEKAN KANKER NASOFARING Rabu, 11 Maret 2009 | 05:40 WIB Jakarta, Kompas - Kanker nasofaring merupakan kanker yang menyerang leher serta kepala dan banyak ditemukan di Indonesia. Tumor itu bisa diken dalikan dengan menerapkan pola hidup sehat dan mendeteksi penyakit itu secara dini. ”Bila didiagnosis secara dini, terapi akan lebih efektif. Pasien berpeluang sembuh atau mampu bertahan hidup,” kata dokter spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, Budianto Komari, dalam seminar sehari, Selasa (10/3) di Jakarta. Selama ini kasus karsinoma nasofaring atau tumor ganas pada nasofaring didominasi faktor ras mongoloid, yaitu penduduk China selatan, dengan angka kejadian 40-50 kasus per 100.000 penduduk, sementara di Eropa dan Amerika Utara kurang dari 1 kasus per 100.000 penduduk.
Di Indonesia, kanker nasofaring menempati peringkat pertama keganasan untuk THT, serta urutan keempat terbanyak di antara seluruh jenis keganasan. Angka kejadian diperkirakan 4,7 kasus per 100.000 penduduk. Di RSCM tercatat rata-rata 100 kasus baru karsinoma nasofaring per tahun, di RS kanker Dharmais 70 kasus baru per tahun, dan di RS Hasan Sadikin Bandung 60 kasus baru per tahun. ”Angka kasus pada pria 2,18 kali lebih tinggi daripada perempuan,” ujarnya. Diagnosis secara dini sulit dilakukan karena tumor itu baru menampakkan gejala khas pada stadium lanjut. Apalagi letak tumor itu tersembunyi, di belakang hidung dan pertengahan dasar tengkorak, sehingga sulit dilihat jika tidak diperiksa ahlinya. ”Gejala awalnya tidak khas, mirip penyakit lain,” kata Budianto.
Tumor ganas itu umumnya tumbuh dekat sekali dengan muara tuba eustachius (saluran yang terhubung dengan telinga) sehingga pembesaran sedikit pada tumor menyebabkan tersumbatnya saluran ini. Pembesaran ini menimbulkan gejala, antara lain telinga berdenging dan gangguan pendengaran satu sisi telinga. Gejala lain adalah perdarahan ringan melalui hidung. Pada stadium lanjut, ditandai pembesaran pada leher. Bila dideteksi pada stadium awal, angka ketahanan hidup 5 tahun mencapai 76 persen. Bila pasien diterapi pada stadium tiga dan empat, angka ketahanan hidup 5 tahun 40 persen. ”Puskesmas dan unit pelayanan kesehatan lain perlu dilibatkan dalam deteksi dini kanker nasofaring,” kata Kepala Subbagian Humas RS Kanker Dharmais Bambang Purwanto.
Infeksi virus Penyebab kanker nasofaring adalah infeksi virus Epstein Barr. Namun, ada beberapa faktor lain, yaitu faktor lingkungan, seperti iritasi oleh bahan kimia, kebiasaan memasak dengan asap, dan kebiasaan mengonsumsi ikan maupun daging yang diawetkan dengan nitrosamine. Lingkungan kerja yang terpapar gas dan bahan kimia industri, peleburan besi, formaldehida dan serbuk kayu berisiko terserang tumor ganas itu. ”Mereka yang sering terpapar dupa atau kemenyan dalam jangka panjang juga rentan,” ujarnya. Diagnosis karsinoma nasofaring ditegakkan dengan biopsi nasofaring. Pemeriksaan penunjang, yaitu CT-Scan, untuk mendiagnosis tumor-tumor di daerah kepala dan leher sehingga tumor primer yang tersembunyi bisa ditemukan. ”Selain deteksi dini, terapkan pola hidup sehat dan menghindari faktor risiko,” kata Budianto. (EVY) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Sun Jun 05, 2011 12:40 pm | |
| KANKER NASOFARING SULIT DIDETEKSI DINI Bramirus Mikail | Asep Candra | Jumat, 3 Juni 2011 | 08:33 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Seperti penyakit keganasan pada umumnya, kanker nasofaring ternyata masih menjadi momok yang menakutkan. Betapa tidak, penyakit ini tidak mempunyai gejala spesifik, sehingga banyak pasien yang didiagnosa sudah dalam tahap lanjut. Menurut Prof. dr. Bambang Hermani, Sp. THT-KL (K), Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, kanker nasofaring merupakan tumor ganas yang timbul di bagian belakang hidung dan akibat letaknya yang secara anatomis sulit, membuat penyakit ini sulit dideteksi secara dini. Kanker ini berasal dari sel epitel nasofaring yang berada di rongga belakang hidung dan di belakang langit-langit rongga mulut. Letaknya yang berdekatan, membuat penyebarannya menjadi mudah terjadi pada bagian mata, telinga, kelenjar leher dan otak. "Biasanya pasien datang dalam stadium yang sudah lanjut. Kalau baru tumbuh di daerah nasofaring sendiri, biasanya belum menimbulkan gejala-gejala yang khas," ungkapnya, Rabu, (1/6/2011) di Jakarta.
Menurut Bambang, pasien yang dalam stadium lanjut biasanya akan mengalami gejala seperti, pembesaran kelenjar leher, mimisan, mata juling, dan penutupan saluran pendengaran. "Jadi kalau sudah seperti itu biasanya sudah stadium lanjut," imbuhnya. Prof. Dr. dr. R.Susworo, Sp Rad. (K) Onk.Rad., Guru Besar Tetap Ilmu Radioterapi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan, apabila sudah ada kelainan saraf seperti mata juling, dan pembesaran kelenjar leher, maka diagnosis menjadi mudah dan sederhana. "Tapi terus terang, memang sebagian besar pasien yang datang sudah dalam keadaan lanjut, stadium 3 dan 4. Yang stadium dini masih jarang," imbuhnya.
Susworo juga mengaku masih prihatin melihat banyak masyarakat yang lebih mempercayai pengobatan alternatif dengan alasan lebih mudah dan murah. Bahkan menurutnya, kebiasaan menunda-nunda untuk berobat dan terlalu menyepelekan penyakit menjadi faktor penyebab utama pasien terlambat mendapat pertolongan. "Jadi itu memang fenomena sekarang. Orang ingin cari jalan pintas yang dekat. Kalau sudah parah baru ke kita," terangnya. Menurut Susworo, ada kemungkinan pasien kanker nasofaring akan kembali mengalami kekambuhan, namun kekambuhan itu kecil kemungkinan terjadi, apa bila diketahui sejak dini (stadium awal). "Kalau pasien stadium 1-2 mungkin kekambuhannya 15 persen sampai 20 persen dalam waktu lima tahun. Tapi kalau sudah stadium 3-4, sering terjadi kekambuhan," jelasnya.
Susworo menambahkan, untuk pasien nasofaring stadium dini biasanya akan dilakukan kemoterapi. Namun untuk yang stadium lanjut, kemoterapi saja tidak cukup melainkan harus dikombinasikan dengan terapi target. Sebagai upaya pencegahan, Susworo menganjurkan agar lebih meningkatkan kewaspadaan terutama bila sudah mengalami gejala seperti mimisan dan pilek-pilek. Dia menganjurkan supaya segera memeriksakan minimal ke bagian THT. "Nggak ada salahnya di cek ke THT. Dengan cara endoskopi, diteropong ke dalam hidungnya untuk masuk ke nasofaring dan kalau ada curiga baru di MRI," tandasnya. |
|  | | | | Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |