Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Thu Aug 26, 2010 6:56 am

7 FAKTOR YANG BIKIN ORANG BUDEK
Merry Wahyuningsih - detikHealth - Kamis, 24/06/2010 07:48 WIB
Jakarta, Telinga merupakan indera yang penting bagi tubuh dan kelangsungan hidup. Namun, secara tidak sadar orang melakukan kegiatan yang dapat membahayakan indera pendengarannya. Apa saja faktor yang bisa bikin orang budek? Seperti dilansir dari ABCNews, Kamis (24/6/2010), berikut 7 faktor yang bisa merusak dan membuat telingan budek:

1. Ear bud atau ear phone pada pemutar musik (music player)
Ear bud membuat suara menjadi lebih keras, sehingga untuk waktu lama dapat memekakkan telinga. Selain itu, ear bud juga membuat perubahan dalam sistem pendengaran. Bila orang terbiasa mendengarkan suara dari ear bud yang dekat dan keras, maka besar kemungkinan ia sulit mendengarkan suara pada level normal atau lembut.

2. Mobil terbuka (openkap)
Mengendarai mobil openkap membuat orang harus mendengar suara dengan level 88-90 Decibel (Db). Sebagai perbandingan, percakapan normal berada kisaran 50 Db, jalan lalu lintas sekitar 70 Db, mesin pemotong rumput sekitar 90 Db. Paparan berulang dari suara di atas 85 Db diketahui dapat menyebabkan kehilangan pendengaran permanen.

3. Obat-obatan
Salah satu efek samping yang kurang dikenal dari beberapa jenis obat, seperti obat nyeri, antibiotik tertentu dan obat kemoterapi berbasis platinum, adalah gangguan pendengaran.

4. Rokok
Satu pembuluh darah melayani koklea, yaitu organ telinga bagian dalam. Nikotin, vasokonstriktor yang menyebabkan pembuluh darah sedikit menyusut, dapat memiliki dampak yang luar biasa pada kapiler kecil yang melayani telinga.

5. Pekerjaan
Bidang pekerjaan seperti musisi, buruh pabrik, pekerja konstruksi dan pemadam kebakaran adalah beberapa orang yang berisiko tinggi untuk terpapar konstan terhadap suara keras.

6. Diabetes
Diabetes dapat menyebabkan penurunan aliran darah ke telinga. Pembuluh darah sempit atau abnormal akibat diabetes dapat mencegah darah mencapai koklea, juga dapat mencegah proses pembersihan racun. Ini memiliki potensi untuk merusak sel-sel lembut di dalam telinga.

7. Anemia sickle cell
Orang dengan anemia sickle cell sering mengalami kelelahan dan sakit karena sel-sel darah merahnya cacat yang berbentuk sabit tidak bulat. Padahal aliran darah normal penting untuk mencapai telinga. (mer/ir)
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Thu Aug 26, 2010 6:56 am

EARPHONE
Kebiasaan mendengarkan musik dengan alat yang langsung disumpalkan ke telinga ( earphone ) bisa mengganggu pendengaran bahkan menyebabkan tuli. Bunyi yang dapat mengganggu pendengaran adalah bunyi yang memiliki intensitas tinggi ( bising ). Dengan memakai earphone maka semua intenstas bunyi suara musik langsung masuk kedalam telinga tanpa sedikitpun berkurang intensitasnya. Musik dari earphone rata rata menghasilkan intensitas suara sedikitnya 90 desibel. Berdasarkan peraturan yang berlaku, seseorang hanya diperbolehkan menerima energi suara maksimal 85 dB secara terus menerus maksimal 8 jam atau 48 jam seminggu.

Suara dengan intensitas tinggi bila diperdengarkan tanpa aturan, akan menyebabkan penurunan pendengaran bahkan ketulian karena rusaknya sel sel rambut luar di rumah siput. Kerusakan sel sel rambut menyebabkan terganggunya proses mendengar. Akibatnya terjadi penurunan fungsi pendengaran. Pada awalnya penurunan fungsi pendengaran bersifat sementara, tetapi bila paparan bising berlangsung terus untuk waktu yang lama, maka kerusakan akan permanen. Ketulian akibat kebisingan atau intensitas bunyi yang tinggi sulit untuk disembuhkan. Hal ini dikarenakan terjadinya kerusakan di rumah siput ( koklea ). Satu satunya cara agar dapat mendengar lagi adalah dengan pemakaian alat bantu dengar.

Sumber: Prof. DR. Dr. Jenny Bashiruddin Sp.THT ( K )


"EARPHONE" MERUSAK PENDENGARAN
Ayu Sinamar Putri | Asep Candra | Jumat, 22 Juli 2011 | 15:00 WIB
KOMPAS.com - Hampir kebanyakan orang, terutama remaja, gemar untuk mendengarkan musik melalui earphones yang tersambung pada alat-alat pemutar musik seperti mp3, iPod atau lainnya. Berhati-hatilah dengan kebiasaan memakai earphone, karena tanpa sengaja hal itu dapat memicu kerusakan alat pendengaran. Para peneliti sekarang pun meyakini, meningkatnya popularitas alat pemutar musik itu hanya akan membuat semua menjadi lebih buruk. The EU’s Scientific Committee on Emerging and Newly Identified Health Risks (SCENIHR) memperkirakan, sekitar 5 sampai 10 persen pengguna alat pemutar musik berisiko kehilangan pendengaran permanen jika mereka mendengarkan musik lebih dari 1 jam sehari dengan tingkat volume tinggi setidaknya untuk kurun waktu lima tahun.

Intensitas suara di bawah 70 desibel (dB) — seperti dering telepon, percakapan sehari-hari, kebisingan di restoran—tidak menimbulkan resiko gangguan pada pendengaran (terlepas dari lamanya mendengar). Apa pun yang lebih kencang dari 85 dB—seperti suara dari motor, alat-alat bengkel, mesin pemotong rumput—pada akhirnya dapat menyebabkan hilangya pendengaran. Sedangkan untuk intensitas suara yang dihasilkan melalui earphone bisa mencapai 87-100 dB, dan jika mendengar suara pada intensitas tersebut selama 8 jam per hari dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran secara signifikan. Menurut the National Health and Nutrition Examination Survey, pada tahun 1988, tercatat 15 persen remaja mengalami masalah pada pendengaran. Jumlah tersebut melonjak menjadi 19,5 persen pada tahun 2006. Lonjakkan ini menyebabkan para peneliti untuk menhubungkannya dengan kenaikan jumlah pengguna mp3 juga iPod.

Apa saja gejala kehilangan pendengaran yang disebabkan oleh bising?
Gejala hilangnya pendengaran akibat kebisingan cukup aneh, antara lain:
+ Telinga berdengung dan bordering
+ Suara sedikit teredam
+ Kesulitan memahami pembicaraan, terutama dalam suasana ramai sehingga Anda harus fokus pada apa yang dikatakan oleh seseorang.

Bagaimana cara untuk mencegah kerusakan pendengaran?
Ada beberapa cara untuk mencegah rusaknya pendengaran:

- Mendengar musik, dengan pemutar musik, tidak lebih dari satu jam per hari pada volume di bawah 60% dari volume maksimal.

- Gunakan “noise cancellations” pada headphone karena dapat menghilangkan kebisingan yang terjadi di luar, sehingga Anda tidak perlu menaikkan volume pada tingkat tinggi.

- Cobalah untuk tidak mendengarkan musik ketika berada di tempat yang berisik seperti ketika berada di dalam kereta/ bis atau di jalan yang ramai.

- Istirahatkan pendengaran setiap 10 sampai 15 menit tiap kali menggunakan earphone untuk waktu yang lama. Waktu tersebut digunakan untuk pemulihan, sehingga membantu mengurangi risiko gangguan pendengaran dalam jangka panjang.

- Gunakan tipe earphone yang digunakan pada luar saluran telinga, bukan tipe earbud. Karena headphone dengan tipe earbud ditempatkan langsung ke dalam lubang telinga dan dapat meningkatkan sinyal suara 6 – 9 dB (setara dengan pebedaan intensitas antara suara penyedot debu dan suara mesin motor)

- Lakukan tes pendengaran pada ahlinya secara berkala.


Last edited by gitahafas on Fri Jul 22, 2011 9:00 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Thu Aug 26, 2010 6:57 am

MENGENALI SUARA BISING YANG BERBAHAYA
Kamis, 29 April 2010 | 11:12
KOMPAS.com — Di sekitar kita, selalu saja ada suara yang terdengar. Bila suara itu dirasa sudah mengganggu kenyamanan atau mengganggu kegiatan sehari-hari, maka biasanya suara itu disebut suara bising. Terpapar keras dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan gangguan pendengaran yang menetap dan tidak dapat dipulihkan. Kerasnya bunyi (intensitas suara) diukur dengan satuan desibel (db), sedangkan pitch (frekuensi) suara diukur dengan hertz (Hz). Rusaknya pendengaran biasanya ditentukan oleh faktor-faktor seperti kekerasan, pitch, dan lamanya paparan.

Mereka yang bekerja di lingkungan bising diwajibkan memakai pelindung pendengaran, seperti earmuffs, penutup telinga, atau earplugs (penyumbat telinga). Ini terutama jika pekerja terpapar bising dengan kekuatan rata-rata lebih dari 90 db selama 8 jam sehari. Suara bising tidak hanya terdapat di tempat kerja. Bising yang berbahaya juga dapat terjadi di rumah atau di tempat rekreasi.

Berikut sumber bunyi yang sering kita dengar dan besarnya desibel:
Bisikan = 30 db
Bercakap-cakap biasa = 60 db
Dering telepon = 80 db
Mesin pemotong rumput = 90 db
Pengering rambut = 90 db
Buldoser = 105 db
Gergaji listrik = 110 db
Sirine ambulans = 120 db
Mesin pesawat jet saat take off = 140 db
Tembakan senapan = 165 db
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Tue Aug 31, 2010 8:13 pm

POLUSI SUARA BISA MEMATIKAN
Selasa, 31 Agustus 2010, 14:53 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Mutia Nugraheni
VIVAnews - Jangan sepelekan suara bising yang sering Anda dengar. Tanpa disadari suara-suara bising seperti knalpot motor, mesin mobil, atau klakson bisa memicu level stres yang tinggi. Polusi suarasemacam itu bisa memicu masalah kesehatan serius. Menurut badan kesehatan dunia (WHO), selalu mendengar polusi suara bisa meningkatkan risiko serangan jantung. Hati-hati juga dengan paparan polusi suara sebesar 67 hingga 70 desibel (sama dengan polusi suara saat macet), karena memicu tekanan darah tinggi.

Penelitian pada pasien serangan jantung di 32 rumah sakit yang berbeda di Berlin menemukan, kebisingan lingkungan meningkatkan risiko serangan jantung tiga kali lipat pada wanita, dan 45 persen pada pria. Secara keseluruhan, masyarakat yang tinggal di daerah lalu lintas yang sibuk berisiko 46 persen lebih tinggi terkena serangan jantung dibandingkan mereka yang tinggal di daerah tenang.

Polusi suara bisa memicu serangan jantung karena menimbulkan stres tingkat tinggi. Hal ini membuat hormon stres atau kortisol yang diproduksi lebih banyak dan membuat peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan lipid darah. Orang yang sudah memiliki penyakit jantung dapat sangat berisiko, dan kebisingan bisa menyebabkan perubahan irama jantung.

Jika Anda selalu terpapar polusi suara, sebaiknya gunakan pelindung telinga. Anda bisa menggunakan ear plug atau flat attenuator. Alat tersebut biasa digunakan oleh teknisi musik saat menyiapkan konser. (pet)
• VIVAnews
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Mon Oct 04, 2010 7:44 pm

MENGATASI SAKIT TELINGA SAAT PENERBANGAN
Vera Farah Bararah - detikHealth - Selasa, 20/07/2010 14:00 WIB
Jakarta, Sebagian besar orang mengalami sakit telinga saat pesawat akan lepas landas atau ketika mendarat yang menimbulkan rasa tidak nyaman. Ketahui bagaimana mengatasi sakit telinga saat bepergian dengan pesawat terbang. Gangguan yang terjadi di telinga ketika menggunakan transportasi pesawat terbang disebabkan karena adanya tekanan yang tidak sama antara kedua gendang telinga. Seseorang akan merasa adanya penyumbatan atau gendang telinga yang menutup saat pesawat akan mendarat.

Pada telinga manusia ada ruang kecil di telinga tengah dan dibelakang gendang telinga yang biasanya diisi oleh udara. Ruang udara ini akan terhubung ke bagian belakang hidung melalui saluran kecil yang disebut tabung Eustachian. Udara di kedua sisi gendang telinga ini harus berada pada tekanan yang sama sehingga menciptakan lingkungan yang baik untuk mendengar. Jika keseimbangan ini terganggu, maka akan mengalami masalah telinga.

Saat pesawat akan mendarat, maka tekanan udara akan menjadi lebih tinggi sehingga gendang telinga didorong ke arah dalam dan menimbulkan rasa sakit atau telinga seperti budek. Satu-satunya cara agar kondisi kembali normal adalah meninggikan tekanan di telinga bagian tengah dengan cepat.
Dikutip dari eHow, Selasa (20/7/2010) ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi rasa sakit di telinga ketika bepergian dengan pesawat terbang, yaitu:

1. Jika mengalami alergi atau infeksi saluran pernapasan atas, sebaiknya mintalah rekomendasi dari dokter untuk mengonsumsi obat decongestan. Karena kondisi ini menyebabkan penyumbatan di tabung eustachian. Konsumsi obat ini 45 menit sebelum pesawat lepas landas sehingga memberikan waktu bagi obat untuk bekerja.
2. Bawalah sebungkus permen karet dan mengunyahnya selama pesawat lepas landas dan juga mendarat. Hal ini akan membantu menjaga tabung eustachian tetap terbuka dan membantu menormalkan tekanan di sekitar gendang telinga.
3. Jika tidak ada permen karet bisa dengan cara menutup hidung dengan tangan dan mulut, lalu cobalah untuk meniup udara keluar dari hidung tanpa melepaskan tangan yang menutup hidung.
4. Jika penerbangannya jarak jauh, pastikan untuk bangun dari tidur sebelum pesawat mendarat karena tabung eustachian tidak akan efektif terbuka selama tidur.
5. Usahakan untuk terus minum atau menelan setiap 15-30 detik.
6. Cobalah menggunakan penutup telinga baik yang terbuat dari busa atau kapas, karena alat ini akan menjaga tekanan sehingga tidak mengganggu keseimbangan di gendang telinga.
7. Usahakan untuk menghindari penerbangan jika sedang menderita flu, karena akan akan memudahkan penyumbatan di tabung eustachian serta membuat seseorang sulit bernapas.
8. Pada kasus tertentu dan jarang terjadi, terkadang sakit telinga masih terasa meskipun sudah keluar dari pesawat. Kemungkinan terjadi akibat pembuluh darah kecil di telinga yang pecah sehingga menyebabkan pembengkakan.


Last edited by gitahafas on Sat Jan 01, 2011 11:03 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Tue Nov 23, 2010 7:32 pm

GANGGUAN PENDENGARAN DI KALANGAN MUSISI
Kamis, 16/12/2010 16:33 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Pendengaran yang baik merupakan salah satu modal para musisi untuk dapat menyelaraskan karya musiknya. Namun hingar bingar suara musik yang dihasilkannya tak jarang justru menghadirkan masalah pada pendengaran. Gangguan pendengaran paling sering dialami oleh para musisi adalah tinnitus, yang biasanya terjadi karena mendengarkan musik yang keras dan terus menerus. Gangguan ini ditandai dengan suara berdenging di bagian dalam kepala si penderita. Tinnitus telah banyak menyerang para musisi dan pekerja konser yang mengurusi tata suara. Selain memicu nyeri hebat di kepala, suara berdenging tentunya sangat mengganggu aktivitas para musisi yang butuh ketelitian tinggi dalam mendengarkan nada-nada yang dibuatnya.

Seorang dokter syaraf dari Case Medical Center di Ohio, Dr Maroun T Semaan membenarkan bahwa musik adalah salah satu penyebab tinnitus paling sering. Tidak cuma pada yang bekerja dengan musik, bahkan pengguna iPod atau pemutar musik digital lainnya juga rentan mengalaminya. "Mendengarkan suara dengan tingkat kebisingan 85-90 desibel selama lebih dari 8 jam sudah pasti akan jadi masalah. Banyak dialami oleh para pemusik," ungkap Dr Semaan seperti dikutip dari AOL Health, Kamis (16/12/2010). Salah satu musisi yang baru-baru ini didiagnosis menderita tinnitus adalah personel Black Eyed Peas, William James Adams Jr atau dikenal dengan nama panggung will.i.am. Musisi asal Amerika Serikat ini mengaku sering mendengar suara berdenging di telinganya.

Tidak diketahui persis seberapa parah tinnitus yang diderita will.i.am, namun Dr Semaan mengatakan salah satu risiko jika tinnitus terus memburuk adalah tuli permanen. Meski beberapa pasien bisa sembuh dengan sendirinya, secara teori belum ada pengobatan standar untuk mengatasi tinnitus. Selain will.i.am, musisi dunia yang pernah mengalami tinnitus sudah tidak terhitung jumlahnya. Sebut saja gitaris legendaris asal Inggris, Eric Clapton, penyanyi Amerika Serikat, Barbra Streisand, gitaris dan penabuh drum grup band Metallica, James Hetfield dan Lars Ulrich dan bahkan komposer asal Jerman, Ludwig van Beethoven.


Last edited by gitahafas on Sat Jan 01, 2011 11:03 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Sat Jan 08, 2011 2:35 pm

BILA TELINGA TIBA TIBA BERDENGING
Sabtu, 08/01/2011 12:01 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Telinga tiba-tiba berdenging mungkin sering dialami beberapa orang. Meski tidak parah, tapi kondisi ini bisa sangat mengganggu terutama saat sedang sibuk beraktifitas. Apa penyebabnya? Telinga yang tiba-tiba berdenging dikenal dalam dunia medis dengan tinnitus, gejala karena adanya masalah di telinga atau otak. Sekitar 10 hingga 15 persen populasi di dunia sering mengalami kondisi ini.

Tinnitus merupakan denging atau jenis suara yang tampaknya berasal dari telinga atau kepala. Dalam banyak kasus tinnitus bukan masalah serius, tetapi lebih merupakan suatu gangguan yang akhirnya bisa diatasi. Meski tinnitus tidak ada obatnya untuk berbagai penyebab, tetapi perawatan dan penanganan yang baik dapat membantu mengelola kondisi tersebut. Denging tiba-tiba di telinga tersebut sering terdengar seperti dering telepon atau suara lainnya seperti mendesis, bersiul, berdengung atau menderu. Orang yang menderita ini bisa mendengar suara denging dengan nada tinggi atau rendah.

Dilansir Livestrong, Sabtu (8/1/2011), tinnitus bisa terjadi karena berbagai alasan, antara lain:
1. Kerusakan pada rambut-rambut kecil di telinga
2. Penyakit Meniere, yaitu kelainan karena adanya tekanan cairan di telinga bagian dalam, biasanya disertai dengan vertigo (sakit kepala serasa berputar).
3. Overdosis obat seperti aspirin
4. Gangguan pembuluh darah di telinga
5. Gangguan pendengaran
6. Suara keras
7. Adanya infeksi pada telinga

Tidak ada pengobatan khusus untuk tinnitus. Terkadang penyakit ini hilang dengan sendirinya atau bahkan sebaliknya merupakan cacat permanen. Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders, pada penderita tinnitus kronis, alat bantu dengar, implan koklea dan konseling dapat membantu meningkatkan nada suara dan meringankan tinnitus yang dideritanya.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Mon Jan 24, 2011 7:28 pm

TRIK ATASI TELINGA BERDENGUNG
Senin, 24 Januari 2011 - 14:54 wib Okezone
SEJUMLAH ilmuwan baru-baru ini menciptakan teknik baru mengatasi telinga mendengung atau tinnitus. Caranya dengan merangsang sel syaraf di leher dan melakukan permainan suara. Kasus gangguan pendengaran sampai saat ini masih menghantui warga dunia. Menurut perkiraan Badan Kesehatan Dunia PBB (World Health Organization/WHO) pada 2005 terdapat 278 juta penderita gangguan pende-ngaran dan kurang lebih 75–140 juta penderita itu terkonsentrasi di Asia Tenggara. Namun, sejumlah berita membahagiakan kembali dilansir para ilmuwan. Para peneliti baru-baru ini telah menemukan sejumlah cara untuk menyembuhkan penyakit kronis yang menyerang indra pendengaran, yaitu telinga mendengung atau lebih dikenal sebagai tinnitus. Penggunaan teknik merangsang sel syaraf di leher dan melakukan permainan suara untuk mengulang dari awal sistem (reboot) di otak terbukti mengurangi terjadinya gangguan ini.

Penelitian ini sendiri telah dipublikasikan pada Rabu (12/1). Sampai saat ini memang belum ada obat untuk menyembuhkan tinnitus. Ini tentu saja menjengkelkan dan mengganggu sekitar 23 juta orang dewasa di Amerika Serikat, termasuk satu dari 10 penderitanya adalah orang tua dan 40 persen di antaranya berasaldari kalangan veteran militer. Seperti juga dialami Gloria Chepko, 66, yang telah menderita tinnitussejak berumur empat tahun. Dia menggambarkan suara mendenging di telinganya seperti suara jangkrik, tetapi mirip juga dengan bunyi bel. Suaranya makin kencang saat dia sedang dilanda kelelahan. ”Ini mengerikan,” kata Chepko. ”Kadang-kadang terdengar sangat keras. Suaranya makin nyaring jika saya di bawah tekanan atau pergi keluar untuk waktu yang sangat lama dan saya sedang lelah,” ceritanya. ”Jika pikiran saya capai dan saya duduk sendirian, saya hanya akan mendengar suara (di telinga) ini,” tuturnya seperti dikutip dari AFP.

Bagi sebagian orang, seperti para veteran militer yang selalu terpapar suara kencang akibat ledakan keras dan tembakan beruntun juga jenis kebisingan lainnya –yang juga bisa terdengar seperti suara mengaum, mendesing, atau mengeklik– tentu akan mengganggu kemampuan mereka untuk menjalani hidup normal seperti orang lain. Para ahli ekonomi menyebutkan, The US Veterans Administration menghabiskan USD1 miliar per tahun atas pembiayaan kecacatan yang terkait dengan penyakit tinnitus, di mana penyakit ini yang paling banyak terkait dengan pelayanan paling umum oleh seorang prajurit yang telah kembali dari Irak dan Afghanistan.

Ilmuwan percaya bahwa gangguan ini disebabkan oleh hilangnya pendengaran atau terjadinya kerusakan syaraf, di mana otak mencoba mengatasinya tetapi gagal untuk menyesuaikan diri. ”Perubahan sistem otak dalam mengatasi kerusakan saraf atau trauma koklea menyebabkan aktivitas saraf tidak teratur, yang diyakini bertanggung jawab sebagai penyebab berbagai jenis nyeri kronis dan tinnitus,” kata Michael Kilgard dari University of Texas, penulis pendamping studi dalam jurnal terbaru Nature. ”Kami percaya bahwa bagian dari otak yang berfungsi memproses sebuah suara yaitu korteks pendengaran (auditory cortex) mendelegasikan neuron terlalu banyak untuk beberapa frekuensi, dan akhirnya gangguan itu pun mulai terjadi,” ungkap dia.

Untuk memperbaiki kerusakan itu, peneliti menggunakan tikus untuk menguji sebuah teori bahwa mereka dapat mereset otak dengan pelatihan ulang sehingga neuron yang menyimpang kembali ke keadaan normal. Pada tikus yang menderita tinnitus, simpul listrik merangsang syaraf vagus, yang berlangsung dari kepala melalui leher ke perut, dalam kombinasi dengan memainkan nada tinggi yang melengking. Ketika distimulasi, saraf dapat mendorong perubahan di otak dengan melepaskan bahan kimia seperti acetylcholine dan norepinephrine yang berfungsi sebagai neurotransmitter. Tikus yang menjalani proses keduanya, yaitu pemaparan suara dan stimulasi mengalami penghentian suara mendenging hingga tiga setengah bulan lamanya. Sementara tikus yang hanya menerima satu proses saja, yaitu pemaparan suara kencang atau hanya stimulasi, tidak mengalami perubahan apa-apa.

Pemeriksaan respons saraf di bagian korteks pendengaran menunjukkan tingkat normal pada tikus yang diobati dengan kombinasi rangsangan dan suara, menunjukkan gangguan tinnitus telah menghilang. ”Perawatan tikus ini berarti tidak hanya mereorganisasi neuron untuk merespons frekuensi asli mereka, tetapi juga membuat respons otak lebih tajam,” kata studi tersebut. ”Kuncinya bahwa,tidak seperti perlakuan sebelumnya, kita tidak menutup-nutupi tinnitus, kita tidak menyembunyikan tinnitus,” ujar Kilgard. ”Kami mengembalikan sistem otak dari bagian yang menghasilkan tinnitus ke sebuah bagian yang tidak menghasilkan tinnitus. Kami mencoba menghilangkan sumber adanya gangguan tinnitus,” ungkap dia.

Menurut peneliti utama studi ini, Navzer Engineer, percobaan klinis pada manusia diharapkan akan dimulai dalam beberapa bulan mendatang, dengan percobaan pertama diawali di Eropa. Dalam studi itu disebutkan, proses stimulasi saraf vagus, yang dikenal dengan vagus nerve stimulation/VNS, sudah digunakan dalam pengobatan sekitar 50.000 orang dengan epilepsi atau depresi. ”Metode untuk meminimalisasi cara invasif untuk menghasilkan saraf yang mudah dibentuk, memungkinkan kita untuk secara tepat memanipulasi sirkuit otak, yang tidak dapat dicapai dengan obat-obatan,” kata Engineer.

Memasangkan suara dengan VNS memberikan cara yang presisi untuk memasang kembali sirkuit yang rusak dan mengembalikan aktivitas abnormal yang menghasilkan suara aneh. Seperti banyak penderita, Chepko telah belajar untuk bagaimana mengatasi kebisingan tersebut. ”Saya harus mencari cara lain untuk bersantai agar bisa bertahan dengan gangguan ini, mandi atau melakukan peregangan, atau hanya berbaring dan membaca buku, bergantung pada seberapa parah (suara) itu,” katanya. ”Saya harus hidup dengan penyakit ini atau menyudahinya,” tutur Chepko.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Wed Feb 23, 2011 7:15 pm

KOLESTEROL TINGGI PICU GANGGUAN PENDENGARAN
Lusia Kus Anna | Sabtu, 16 Juli 2011 | 08:57 WIB
Kompas.com- Pola makan tinggi lemak dan kurang olahraga bisa menyebabkan kadar kolesterol jahat meningkat yang bisa berujung pada penyumbatan pembuluh darah. Bahaya lainnya adalah penyumbatan pada telinga. Sebuah penelitian menunjukkan orang yang menurunkan kadar kolesterol jahat (LDL) mereka dengan obat golongan statin atau pun mengonsumsi sumber lemak sehat berhasil menurunkan risiko mereka kehilangan pendengaran hingga 50 persen.

Lantas, bagaimana kolesterol bisa berpengaruh pada indera pendengaran? Kolesterol akan membuat darah menjadi lebih kental sehingga terjadi gangguan pada sirkulasi darah di bagian dalam sistem auditori yang sangat kecil dan kompleks. Hal ini terlihat pada binatang babi. Para peneliti dari Australia mengatakan kolesterol jahat akan mengurangi aliran darah, termasuk ke bagian telinga sehingga mereka tidak bisa berfungsi normal. Untuk itu para ahli menyarankan agar kita menjaga kadar kolesterol jahat dalam tubuh masih dalam batas normal. Para ahli masih mrekomendasikan olahraga ringan 30 menit setiap hari untuk memiliki badan yang sehat.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 18, 2011 8:38 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Sat Mar 19, 2011 2:11 pm

JANGAN ANGGAP SEPELE AIR YANG MASUK TELINGA SAAT BERENANG
Sabtu, 19/03/2011 14:02 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Masuknya air ke dalam telinga sering terjadi saat orang sedang berenang. Kebanyakan orang akan menganggapnya sepele, padahal bila dibiarkan hal ini bisa menyebabkan risiko infeksi. Air yang masuk ke telinga dan tidak dibersihkan bisa menyebabkan masalah. Jika saluran telinga basah, maka perlindungan pada saluran telinga akan hilang dan berisiko mengalami infeksi.

Telinga mengandung zat lilin yang berfungsi untuk menjaga kelembaban agar bakteri baik dapat berkembangbiak pada lapisan kulit di telinga. Selain itu, lapisan lilin ini juga berfungsi sebagai pelindung terhadap serangga atau benda asing yang masuk, seperti dilansir Livestrong, Sabtu (19/3/2011). Air dan lapisan lilin ini tidak bisa bercampur. Ketika orang berenang, maka air akan masuk dan mencuci lapisan ini. Bila orang berenang untuk jangka waktu lama, maka air benar-benar bisa membersihkan lapisan ini dan membuat telinga tanpa pelindung.

Tanpa lapisan lilin ini, air dapat tetap berada di dalam saluran telinga dan membuat kulit menjadi lembab. Karena saluran telinga adalah ruang yang tertutup, air tidak menguap secara normal dan tetap berada pada saluran telinga yang lembab. Bila air dibiarkan berlama-lama di dalam saluran telinga, hal ini akan menciptakan lingkungan yang sempurna bagi berbagai infeksi organisme, karena infeksi organisme seperti jamur dan bakteri sangat suka tempat hangat, gelap dan tempat-tempat yang basah. Hal ini biasanya menyakitkan, terutama ketika Anda tarik bagian luar telinga. Ini juga bisa menyebabkan cairan kuning telinga menjadi busuk. Lalu bagaimana mengeluarkan air dari telinga saat berenang?

1. Gerakkan kepala
Gerakkan kepala dari satu sisi ke sisi lain dalam gerakan goyang ke arah bahu, kembalikan telinga ke posisi normal dan gerakkan kembali pada arah yang berlawanan. Masukkan jari ke telinga untuk membuat tekanan yang cukup untuk mengeluarkan air.

2. Keringkan dengan pengering rambut
Memiringkan kepala dan mengeringkannya dengan handuk kering juga bisa membantu air keluar. Hembusan pengering rambut yang disetel dengan panas yang rendah ke dalam telinga juga bisa membantu mengeringkan telinga. Tes pengering rambut pada kulit terlebih dahulu untuk memastikan panasnya tidak berlebihan.

3. Campuran larutan alkohol dan cuka
Menurut American Academy of Family Physicians, campuran larutan alkohol dan cuka putih juga membantu mengeringkan air yang tersiksa di saluran telinga. Masukkan 3-5 tetes campuran larutan ini ke dalam telinga dengan kepala dimiringkan dan biarkan selama beberapa saat. Anda akan mendengarkan suara hampa di telinga yang berarti telinga mulai kering.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Tue Mar 29, 2011 8:46 am

BAHAYA BAGI PEMAIN DRUM
Selasa, 29 Maret 2011 | 06:41 WIB
Kompas.com - Awal Maret 2011, media massa ramai memberitakan, penabuh drum grup rock Genesis, Phil Collins (60), akan mundur dari karier musik yang dijalani lebih dari 40 tahun akibat gangguan kesehatan. Pemusik kelahiran Inggris itu mengalami masalah telinga, dislokasi tulang, dan kerusakan saraf pada lengan. Bagi pemusik, alat pendengaran merupakan harta tak ternilai. Di sisi lain, ada potensi gangguan pendengaran akibat tingginya intensitas bunyi alat musik yang dimainkan. Berdasarkan studi Marshall Chasin dari Centre for Human Performance and Health, Kanada, intensitas (kerasnya) bunyi bass drum dapat mencapai 106 desibel (dB).

Guru Besar Ilmu Penyakit Telinga, Hidung, dan Tenggorok Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jenny Endang Bashiruddin memaparkan, bunyi aman bagi telinga adalah intensitas 85 dB dalam 8 jam per hari kerja atau 40 jam per minggu berdasarkan panduan Occupational Safety Health Association (OSHA). Hukum ”tiga” dapat dimanfaatkan sebagai panduan. Artinya, setiap penambahan tiga desibel, waktu aman pajanan makin pendek. Misalnya, seseorang aman jika terpajan 85 dB dalam waktu 8 jam, 88 dB dalam waktu 4 jam, 91 dB dalam waktu 2 jam, 94 dB dalam waktu 1 jam, 97 dB dalam waktu 30 menit, 100 dB dalam waktu 15 menit, dan seterusnya. Jika tidak terpenuhi, dapat terjadi kerusakan alat pendengaran. ”Penabuh gamelan bali yang sangat energik dan keras bunyi musiknya pernah diteliti. Ternyata, mereka mengalami gangguan pendengaran,” kata Jenny.

Proses mendengar berawal dari gelombang bunyi yang ditangkap oleh daun telinga. Bunyi diteruskan ke liang telinga, kemudian menggetarkan gendang telinga (membran timpani). Bergetarnya tulang-tulang pendengaran (martil, landasan, dan sanggurdi) di telinga tengah menggetarkan cairan di rumah siput (koklea) di telinga bagian dalam. Getaran kemudian diteruskan ke saraf pendengaran (saraf auditorius) dan disampaikan ke otak untuk diinterpretasikan. Saat itulah kita mengetahui bunyi yang didengar.

Bunyi yang terlalu keras akan merusak sel-sel rambut di koklea. ”Jika terjadi terus, gangguan pendengaran semakin berat dan sulit diperbaiki,” ujarnya. Jenny mengatakan, gangguan pendengaran akibat bising, yang dikenal sebagai noise induced hearing loss (NIHL), merupakan salah satu gangguan pendengaran yang dapat dicegah. Pemain drum atau orang yang bekerja di lingkungan bising dapat menggunakan penutup telinga untuk mengurangi intensitas bunyi.

Menjaga organ gerak
Mengingat bermusik merupakan aktivitas yang sarat gerak, penabuh drum juga perlu mewaspadai gangguan pada organ gerak. Dokter ahli saraf Darmawan Muljono, mewakili tim dokter dari Ramsay Spine Center Rumah Sakit Premier Bintaro, menyebutkan, cedera tulang belakang pada penabuh drum terkait erat dengan pergerakan tubuh. Selain Darmawan, tim dokter Spine Center terdiri dari ahli bedah tulang Luthfi Gatham, ahli rehabilitasi medik Peni Kusumastuti, ahli saraf Tuti Suwirno Zacharia, dan ahli radiologi Riris Himawati.

Aktivitas yang melampaui kemampuan, seperti mengangkat beban berat atau terpukul, dapat mengakibatkan kerusakan anggota gerak. Cedera juga bisa terjadi tanpa disadari, tetapi berulang-ulang dalam jangka waktu lama (minimal repetitive accumulative injury) serta pemakaian berlebihan (over-use injury). Penabuh drum berisiko mengalami cedera karena saat menabuh drum tak ada penunjang kedua lengannya sehingga besar kemungkinan timbul gangguan di tengkuk dan leher.
Leher sering mengalami cedera, seperti kerusakan tulang, persendian, dan jaringan pengikat. Gangguan itu akan mengganggu sistem saraf. Timbul nyeri di tengkuk, sakit kepala, dan kesemutan yang menjalar ke lengan. Jika berkelanjutan, terjadi pengisutan otot, akhirnya otot lemah dan lumpuh.

Risiko lain ialah gangguan saraf lengan atau saraf persendian tangan. Terjadi penjepitan saraf dalam terowongan sendi tangan akibat peradangan karena cedera. Timbul rasa nyeri, kesemutan, baal pada jari-jari tangan dan telapak serta punggung tangan, kesulitan menggenggam, lama-kelamaan otot mengisut, dan terjadi kelemahan otot-otot jari tangan.
Persendian dan otot-otot lengan juga dapat cedera, misalnya persendian gelang bahu, persendian siku, tangan, dan jari-jari. Persendian atau otot yang cedera akan terasa nyeri dan pergerakan jadi terbatas.

Guna mengurangi risiko cedera, latihan pemanasan berupa peregangan pinggang, leher, gelang bahu, lengan, siku, tangan, dan jari-jari sangat penting. Pembebanan yang bertahap untuk mengondisikan anggota gerak menghadapi segala postur dan aktivitas akan sangat membantu. Sebaiknya aktivitas yang berlebihan dihindari dengan cara beristirahat setelah beberapa pertunjukan.

”Postur tubuh yang baik saat beraktivitas dapat mencegah cedera. Letak tempat duduk dengan alat musik perlu diatur agar tidak terjadi kesalahan postur. Ukuran batang pemukul drum perlu disesuaikan dengan ukuran tangan,” kata Darmawan.
Jika terjadi cedera, pemusik disarankan berhenti sementara guna mencegah kerusakan lebih lanjut. Daerah yang cedera dikompres es selama 7-10 menit dan diistirahatkan 24-48 jam sambil melakukan latihan ringan tanpa pembebanan. Obat antiperadangan dapat dikonsumsi untuk meringankan keluhan.

Jika keluhan tidak berkurang, langkah terbaik adalah memeriksakan diri ke dokter. Keadaan kronik (cedera sudah berlangsung lama) biasanya lebih sulit ditangani. Umumnya, dilakukan tindakan fisioterapi seperti pemanasan, ultrasound, stimulasi elektris guna meningkatkan aliran darah pada daerah yang terlibat, disertai latihan peregangan mobilisasi sendi-sendi atau otot yang cedera sehingga menjadi lentur dan kuat. Pemulihan bergantung pada berat ringannya gangguan, proses baru atau lamanya, serta penyebab yang mendasari kerusakan. Darmawan mengatakan, pencegahan dan penanganan sedini mungkin tetap yang terpenting. Kalau kesehatan tetap prima, karier bermusik pun awet terjaga.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Sat Apr 30, 2011 8:07 pm

AWAS, COTTON BUD ANCAM TELINGA ANDA
30 April 2011 13:10 WIB Media Indonesia - Penulis : Prita Daneswari
MEMASUKKAN kapas atau cotton bud ke dalam telinga dapat mengakibatkan gendang telinga pecah, menurut sebuah studi baru. Dalam kebanyakan kasus, kondisi itu memang bisa sembuh sendiri, tapi bisa juga hingga diperlukan operasi untuk kasus yang parah. "Di masa lalu, banyak otolaryngologists bertanya-tanya apakah operasi benar-benar diperlukan untuk mengobati gendang telinga pecah. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 97 persen kasus sembuh sendiri dalam waktu dua bulan. Untuk itu, ini membuktikan bahwa kebanyakan kasus tidak memerlukan operasi," kata Ilaaf Darrat, seorang otolaryngologist di Henry Ford Hospital seperti dikutip dari Newsmedical Kamis (28/4). Lebih dari separuh pasien yang mendatangi klinik THT (telinga, hidung, dan tenggorokan) mengakui menggunakan penyeka kapas untuk membersihkan telinga mereka. Tetapi jika kapas didorong terlalu jauh dalam liang telinga dapat menyebabkan kerusakan serius, termasuk gendang telinga pecah atau juga dikenal sebagai perforasi membran timpani (TMP). TMP parah dapat menyebabkan kelumpuhan wajah dan vertigo. "Jika pasien mengalami gejala seperti gangguan pendengaran, drainase, pusing atau kelainan dalam gerakan-gerakan wajah, mereka harus ke dokter untuk mengetahui kerusakan telinga sedini mungkin," tambah Darrat. (Pri/X-13)


Last edited by gitahafas on Thu Sep 08, 2011 10:43 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Thu May 05, 2011 11:27 am

MENILIK KEAMANAN EAR CANDLE THERAPY
Lusia Kus Anna | Rabu, 4 Mei 2011 | 11:43 WIB
Kompas.com - Penumpukan kotoran di telinga yang berlebihan bisa menyebabkan pendengaran berkurang. Itu sebabnya telinga harus rutin dibersihkan. Saat ini telah banyak klinik perawatan yang menawarkan pembersihan telinga dengan menggunakan ear candle. "Lilin" yang dipakai dalam terapi ini adalah lilin khusus berukuran sekitar 20 cm yang terbuat dari linen yang dilapisi sarang tawon, parafin, atau kombinasi keduanya. Lilin ini biasanya juga mengandung chamomile dan sage yang akan memberi efek rileksasi. Lilin akan bekerja untuk melembutkan kotoran yang mengeras, merangsang serta mengangkat kotoran tersebut. Selain membersihkan telinga, beberapa produsen mengklaim terapi lilin ini juga bisa mengobati infeksi sinus, sakit kepala, pilek berulang, dan gangguan pendengaran karena mengandung antibiotik alami. "Beberapa juga mengklaim bisa membersihkan darah, menguatkan otot, bahkan mencegah kanker.

Namun itu belum terbukti," kata Eric Mann, deputi direktur klinik dari FDA divisi Ophtalmic, saraf, dan alat THT. Walaupun cukup populer di berbagai negara, namun FDA menyebutkan terapi lilin telinga ini sebetulnya tidak aman karena bisa menyebabkan luka serius, bahkan jika terapi ini dilakukan sesuai petunjuk. "FDA juga menyatakan secara ilmiah tidak ada manfaat medis dari terapi ini," kata Mann. Lebih lanjut Mann menjelaskan bahaya dari terapi lilin ini yang meliputi terbakar di bagian wajah, gendang telinga, bahkan bagian dalam telinga. Lelehan lilin juga membahayakan telinga, bahkan beresiko perdarahan. Dalam beberapa tahun terakhir, FDA sudah menerima laporan kasus luka-luka akibat terapi lilin ini, seperti gendang telinga tersumbat hingga pecahnya gendang telinga yang menyebabkan penderita harus dioperasi. Tahun 2010 lalu, FDA juga mengeluarkan surat peringatan kepada tiga prosuder besar ear candle. Sebelumnya, FDA dan regulator kesehatan di Kanada juga meningkatkan pengawasan distribusi produk-produk ini di dua negara tersebut.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Fri May 06, 2011 4:42 pm

AWAS, KOREK KUPING BISA MERUSAK GENDANG TELINGA
Jumat, 06/05/2011 09:24 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Hati-hati mengunakan korek kuping, sebab jika terlalu dalam bisa merusak gendang telinga. Dampak kerusakan itu bervariasi, mulai dari yang ringan berupa telinga berdenging hingga yang paling berat yakni kelumpuhan saraf di sekitar wajah. Menurut sebuah penelitian terbaru, lebih dari 50 persen pasien yang datang ke dokter spesialis Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) sering memakai cotton bud untuk mengorek kotoran di telinga. Meski ujungnya dari kapas, alat ini tetap berisiko merusak gendang telinga.

"Jika pasien mengalami gangguan pendengaran atau ada yang tidak beres dengan gerakan wajahnya, ada kemungkinan telinganya mengalami kerusakan," ungkap Dr Ilaaf Darrat, spesialis THT dari Henry Ford Hospital seperti dikutip Healthday, Jumat (6/5/2011). Gangguan pendengaran yang umum dialami pemakai cotton bud (batang plastik dengan ujung berlapis kapas) adalah tinnitus atau telinga berdenging. Sementara wajah yang sulit digerakkan adalah gejala kerusakan saraf yang juga dipicu kerusakan gendang telinga.

Untungnya, penelitian terbaru yang dilakukan oleh Dr Ilaaf menunjukkan bahwa 97 persen kerusakan gendang telinga bisa sembuh sendiri dalam waktu rata-rata 2 bulan. Operasi hanya dibutuhkan jika berdampak pada kelumpuhan saraf di sekitar wajah. Penelitian yang dipresentasikan dalam Combined Otolaryngological Spring Meeting di Chicago ini melibatkan 1.540 pasien yang mengalami kerusakan gendang telinga antara tahun 2001-2010. Namun sebisa mungkin, risiko kerusakan gendang telinga harus dikurangi dengan mengurangi pemakaian cotton bud atau sejenisnya. Sebagai alternatif, berikut ini beberapa cara yang bisa dipakai untuk membersihkan telinga dari kotoran.

- Campur hidrogen peroksida (H2O2) dengan air hangat, teteskan perlahan ke rongga telinga maksimal 2 kali/bulan.
- Campur cuka apel (vinegar) dengan air dalam perbandingan yang sama, lalu masukkan 5 tetes ke dalam telinga dan jangan lebih dari sekali dalam sepekan.
- Kunjungi dokter THT untuk melakukan waxing atau membersihkan telinga dengan lilin khusus.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan   Sun Jun 05, 2011 11:09 am

KOREK KUPING HANYA UNTUK TELINGA BAGIAN LUAR
Selasa, 23/08/2011 15:17 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Umumnya masyarakat membersihkan telinga menggunakan korek kuping atau cutton bud. Tapi hindari penggunaan korek kuping untuk bagian dalam telinga, karena alat pembersih ini hanya diperuntukkan bagi telinga luar. Seseorang biasanya akan merasakan sensasi tersendiri ketika membersihkan telinga menggunakan korek kuping. Meski begitu jangan terlalu asyik hingga memasukkan korek kuping terlalu dalam, karena berisiko menyebabkan gangguan pendengaran. Korek kuping yang dimasukkan terlalu dalam bisa membuat kotoran yang sudah mengeras terdorong masuk lebih dalam lagi sehingga menyebabkan penyumbatan atau berisiko kapas dari korek terlepas dan tertinggal di dalam telinga, seperti dikutip dari Health, Selasa (23/8/2011). Kondisi lain yang mungkin terjadi jika terlalu dalam membersihkan telinga dengan menggunakan korek kuping yaitu bisa memicu terjadinya iritasi atau infeksi di telinga bagian dalam yang menyebabkan gangguan dalam pendengaran. Kotoran di telinga atau dikenal sebagai cerumen dihasilkan oleh kulit bagian luar yang memiliki kelenjar khusus. Biasanya sejumlah kecil kotoran ini akan terakumulasi kemudian mengering dan keluar dari saluran telinga sambil membawa partikel debu yang tidak diinginkan.

Jika kotorannya lunak atau tidak terlalu padat, nantinya kotoran tersebut akan keluar dengan sendirinya dan menguap. Sehingga cukup dibersihkan bagian luar dari telinga saja. Sedangkan untuk membersihkan kotoran yang terdapat di dalam telinga, bisa menggunakan cairan peroksida (H2O2) untuk membantu mengeluarkannya atau membersihkan ke dokter THT setiap 3-4 bulan sekali. Selain itu studi terbaru menunjukkan penggunaan korek kuping yang tidak tepat bisa memicu terjadinya kerusakan pada gendang telinga serta tinnitus (telinga yang berdengung). Meski ujungnya terbuat dari kapas, alat ini tetap saja berisiko jika digunakan dengan tidak tepat. Kerusakan atau pecahnya gendang telinga bisa disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi telinga, menyodok benda asing ke dalam telinga, barotrauma (tekanan di dalam dan luar telinga tidak sama), cedera kepala serta suara keras yang tiba-tiba.


Last edited by gitahafas on Thu Sep 08, 2011 10:43 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
 

Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan

View previous topic View next topic Back to top 
Page 6 of 8Goto page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8  Next

 Similar topics

-
» Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan
» [Tips] menjaga kesehatan
» PENERBITAN BUKU KESEHATAN
» Kesehatan Tulang dan Otot
» Asuransi Kesehatan ( ASKES )

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-