Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Asal Tahu Saja

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1 ... 5, 6, 7 ... 29 ... 53  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jun 01, 2010 4:58 am

WASPADAI INFEKSI DI RUMAH SAKIT
Di seluruh dunia, korban penyakit infeksi saat berobat di RS ditenggarai terus bertambah. Bahkan diperkirakan membunuh lebih banyak daripada virus HIV penyebab penyakit AIDS. Sebuah penelitian terbaru menyebutkan, setiap tahunnya 48.000 0rang di USA meninggal karena hal tersebut, umumnya karena keracunan darah atau penyakit pneumonia. Jenis infeksi RS yang paling umum adalah infeksi nosokomial.
Diperikrakan sepertiga dari 1,7 juta infeksi di USA merupakan infeksi nosokomial. Di negara berkembang diperkirakan lebih dari 40% pasien di RS terserang infeksi nosokomial. Sementara diseluruh dunia diperkirakan kasus infeksi ini rata rata menimpa 9% dari 1,4 juta pasien rawat inap.

Infeksi terkait sarana pelayanan kesehatan adalah tantangan yang serius, karena hal itu dapat menyebabkan kematian, baik langsung maupun tidak langsung, serta menjadikan pasien dirawat lebih lama dan memakan biaya lebih mahal. Pasien yang datang dalam keadaan parah perlu lebih lama dirawat, sehingga lebih banyak membutuhkan tindakan invasif ( tindakan yang masuk melalui kulit atau lubang tubuh ). Lemahnya daya tahan dan kecenderungan tindakan invasif tersebut memudahkan masuknya kuman penyebab infeksi.

Ramanan Laxminarayan PhD MPH, anggota senior lembaga penelitian Resources for the Future di Washington DC, USA yang melakukan penelitian tersebut menyatakan sebagian besar infeksi tersebut berasal dari penggunaan alat kateter dan ventilator. Peneliti dari John Hopkins University, Peter J Pronovost MD PhD, yang merupakan pakar soal infeksi RS menunjukkan bahwa hanya dengan mencatat prosedur keamanan sederhana di RS yang telah terpenuhi, serta menekankan pada kerjasama tim yang solid mulai dari bawahan seperti asisten perawat hingga pimpinan teratas, semisal dokter bedah senior, angka penderita infeksi RS dapat diturunkan hingga hampir nol kasus.

Anda saat berkunjung ke RS juga dapat melakukan banyak hal untuk mencegah kejadian infeksi yang mematikan tersebut hinggap di tubuh anda. Pronovost menyebutkan beberapa hal yang dapat membantu anda memutuskan RS mana yang harus dipilih:
1. Tanyalah seorang dokter di RS tersebut berapa tingkat infeksi yang menyerang pembuluh darah ( jumlahnya harus atau dibawah dari satu infeksi per 1000 kateter per hari ).
2. Tanyakan apakah RS itu telah berpartisipasi dengan program pencegahan infeksi ini.
3. Minta juga apa apa saja prasyarat prosedur keamanan sederhana di RS yang telah terpenuhi dan yang belum.
4. Tanyakan juga apakah petugas medis disana telah mencuci tangannya sebelum masuk ruang pasien.
5. Jika anda memakai kateter, informasikan pada perawat jika anda merasa tidak memerlukannya lagi karena kateter sangat rawan infeksi.

Laxminarayan menghimbau pemerintah sebuah negara, khususnya USA untuk tidak menganggap remeh hal ini dan segera menyusun program upaya pencegahan yang serius dan sporadis seperti halnya kampanye anti AIDS. Tidak ada yang bisa membantah bahwa pasien ke RS harus berada pada risiko minimal. Banyak dari infeksi tersebut dapat dicegah.

Sumber: Seputar Indonesia Senin 1 Maret 2010


Last edited by gitahafas on Fri Jul 16, 2010 10:58 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jun 01, 2010 5:10 am

CARA PENCEGAHAN INFEKSI DI RUMAH SAKIT
1. Menjaga kebersihan dengan mencuci tangan baik bagi pengunjung, petugas kesehatan, perawat, dokter maupun karyawan RS sebelum memasuki ruangan pasien adalah cara yang mudah dan efektif untuk mencegah infeksi dan perluasan resistensi obat antimikroba.

2. Semua petugas kesehatan harus rutin menggunakan sarana yang dapat mencegah kontak kulit dan selaput lendir dengan darah atau cairan tubuh lainnya dari setiap pasien. Misalnya menggunakan sarung tangan, masker, pelindung mata dan wajah serta memakai baju praktik khusus pada waktu melakukan tindakan yang dapat menimbulkan percikan darah atau cairan tubuh lainnya.

3. Semua petugas kesehatan memakai sarung tangan khusus ( heavy duty ) untuk mencegah kemungkinan tertusuk jarum, pisau dan benda tajam lainnya selama pelaksanaan tindakan, membersihkan peralatan, membuang sampah atau ketika membereskan peralatan setelah berlangsungnya prosedur/tindakan.

4. Petugas yang mempunyai luka atau lesi yang mengeluarkan cairan, misalnya dermatitis basah, harus menghindari tugas yang bersifat kontak langsung dengan peralatan yang telah digunakan untuk pasien.

5. Tenaga kesehatan harus melindungi pasien dengan penggunaan antibiotik, nutrisi yang cukup dan vaksinasi. Juga membatasi risiko infeksi endogen dengan meminimalkan prosedur invasif, pengawasan infeksi, identifikasi penyakit dan mengontrol penyebarannya.

6. Untuk mencegah penularan dari lingkungan RS, pembersihan yang rutin sangat penting untuk meyakinkan bahwa RS sangat bersih dan benar benar bersih dari debu, minyak dan kotoran. Perlu diingat bahwa sekitar 90% dari kotoran RS yang terlihat, pasti mengandung kuman.

7. Usahakan adanya pemakaian penyaring udara di kamar pasien. Terutama bagi penderita dengan status imun yang rendah atau bagi penderita yang dapat menyebarkan penyakit melalui udara.

8. RS harus membangun suatu fasilitas penyaring air dan menjaga kebersihan pemrosesan serta filternya untuk mencegah terjadinya pertumbuhan bakteri.

9. Toilet RS juga harus dijaga, terutama pada unit perawatan pasien diare, untuk mencegah terjadinya infeksi antar pasien.
Permukaan toilet harus selalu bersih dan diberi desinfektan.

Sumber: Seputar Indonesia Senin 1 Maret 2010


Last edited by gitahafas on Fri Jul 16, 2010 10:58 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jun 01, 2010 5:12 am

MEMILIH RS YANG BAIK
1. Mencari Info.
Agar anda tidak salah pilih RS, hal pertama yang sudah pasti harus dilakukan adalah mencari informasi mengenai RS yang anda tuju. Informasi bisa diperoleh dari mana saja dan dari siapa saja, misalnya informasi dari tetangga, browsing di internet, dengan bertanya kepada orang yang pernah menggunakan jasa RS tersebut atau dengan bertanya langsung kepada beberapa pasiennya.

2. Lima Besar Layanan.
Walaupun bukan syarat yang mutlak, setidaknya hal ini bisa menggambarkan kemampuan RS tersebut untuk memberikan pelayanan di bidang kesehatan.
Kalau untuk jenis layanan yang dasar saja sudah tidak tersedia, apakah anda akan yakin dengan mutu RS tersebut?.
RS yang baik setidaknya telah memiliki jenis layanan minimal "lima besar", yakni layanan penyakit dalam, layanan kesehatan anak, layanan bedah, layanan kebidanan, layanan saraf, layanan mata , layanan THT, layanan kulit dan layanan gigi.

3. Memiliki Akreditasi.
Bukan hanya sekolah atau kampus yang harus terakreditasi. Dalam rangka meningkatkan pelayanan RS kepada pasiennya, Kementerian Kesehatan telah membentuk Komisi Akreditasi Rumah Sakit ( KARS ). Adapun hal hal yang di survey meliputi 16 layanan, yakni Administrasi & Manajemen. Medis, Gawat Darurat, Rekam Medis, Keperawatan, Radiologi, Laboratorium, Kamar Operasi, Farmasi, K3, Pengendalian Infaksi, Perinatal Resiko, Rehabilitasi Medik, Gizi, Perawatan Intensif serta Darah.

4. Komunikasi Paramedis dan Pasien.
Sudah menjadi hak anda sebagai pasien jika menginginkan informasi selengkap lengkapnya mengenai apa yang terjadi pada anda. Oleh karena itu, saat anda mencari informasi mengenai RS tersebut, jangan lupa menanyakan juga, apakah komunikasi antara dokter, suster dan perawatnya cukup baik?

5. Prestasi.
Ibarat seorang tentara, dia harus berperang untuk mendapatkan pengalaman serta mengetahui seluk beluk peperangan. Begitu juga dengan RS.
Selama berdiri, apakah yang menjadi prestasi membanggakan dari RS tersebut? Jika tidak ada sama sekali, akan sama halnya dengan peralatan lengkap namun tidak pernah berperang.

6. Pusat Informasi.
Ini adalah bagian yang tak boleh terlupakan dari sebuah RS. Sebab, tak semua orang sangat memahami perihal dunia kesehatan ataupun hal lainnya yang masih terkait. Peranan pusat informasi sangat membantu orang yang membutuhkan informasi, baik yang menyangkut pelayanan medis maupun non medis.

7. Lingkungan Mendukung.
RS adalah tempat yang paling nyaman bagi pasien untuk beristirahat dan terbebas dari gangguan yang berasal dari lingkungan sekitar.
Oleh karena itu, RS yang baik akan memperhatikan aspek lingkungan sebagai salah satu aspek yang masuk dalam kontrol manajemen.

Sumber: Seputar Indonesia Rabu 24 Maret 2010



Last edited by gitahafas on Fri Jul 16, 2010 10:59 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jun 01, 2010 5:24 am

JADILAH PASIEN PINTAR!
Selasa, 8 Juni 2010 | 09:15 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Salah satu sebab mengapa orang enggan pergi ke dokter atau rumah sakit, bisa jadi karena persoalan komunikasi. Hal ini diungkapkan guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Daldiyono Hardjodisastro, dalam bukunya yang berjudul Pasien Pintar dan Dokter Bijak.
Dalam buku tersebut diungkapkan, untuk mendapat hasil maksimal dari pertemuan dengan dokter, pasien harus mempersiapkan diri, di antaranya:
* Mengenakan pakaian yang memudahkan dokter melakukan pemeriksaan.

* Mencatat keluhan yang hendak disampaikan ke dokter secara lengkap, kapan dirasakan, dan upaya yang sudah dilakukan untuk mengurangi rasa sakit. Beritahukan pula penyakit yang pernah atau sedang diderita, obat yang sedang diminum, serta jika ada alergi.

* Dari tanya jawab soal keluhan dan pemeriksaan fisik pasien, dokter akan menegakkan diagnosis kemudian memberikan terapi, termasuk resep obat. Pasien berhak mendapat informasi yang jelas mengenai hasil pemeriksaan, menanyakan bila ada yang belum jelas, juga mengambil keputusan untuk menerima atau menolak saran dokter tentang terapi yang akan diberikan. Jika pasien tidak menerima keputusan dokter, ia berhak mencari pendapat kedua (second opinion) dari dokter lain.

* Pasien yang pintar perlu bertanya dan mengetahui obat apa yang diresepkan dokter serta manfaatnya.

* Jika kondisi keuangan tidak memungkinkan, pasien perlu meminta obat generik. Hilangkan persepsi bahwa penyakit harus cepat sembuh. Ingat, pengobatan memerlukan waktu, kesabaran, dan ketekunan. Tak jarang, ada dokter terbawa kemauan pasien yang ingin cepat sembuh, sehingga melakukan berbagai jenis pemeriksaan yang belum tentu diperlukan atau memberi obat berlebihan.

* Sebaliknya, dokter yang bijak adalah yang mampu berkomunikasi secara efektif dengan pasien. Dokter mau mendengarkan keluhan pasien, menjawab pertanyaan dan menjelaskan situasi pasien, memberi nasihat cukup, serta tidak sekadar memberi resep, sehingga pasien merasa puas.

* Kemampuan berkomunikasi merupakan inti dari pekerjaan dokter. Kepandaian sebenarnya hanya nomor dua. Pasalnya, 60 persen pasien sebenarnya tidak sakit, tetapi mengalami kelainan fungsional. Hanya 40 persen yang benar-benar sakit, itu pun 20 persennya akan sembuh sendiri. Lalu, bagaimana menghadapi dokter yang tidak komunikatif? Konsultan gastroenterologi-hepatologi ini menyarankan untuk meninggalkan ruangan dan segera pindah dokter jika memungkinkan.

Jika Merasa Tak Puas
Pernah dikecewakan oleh pelayanan di rumah sakit? Agar keluhan Anda tersampaikan dengan baik, berikut beberapa caranya:
* Jika mempunyai keluhan, catat dengan jelas tanggal, hari, dan jam kejadian, kalau perlu nama petugas yang memberikan pelayanan. Kemudian Anda dapat menghubungi bagian humas maupun customer service rumah sakit tersebut.

* Ada rumah sakit yang kepala perawatannya bertugas mengurus masalah atau keluhan, sehingga pasien disarankan menghubungi Kepala (Bidang) Perawatan bila merasa tidak puas. Bila masalah belum terpecahkan, tidak tertutup kemungkinan langsung maju ke direktur atau pimpinan rumah sakit.

* Anda dapat menghubungi perwakilan Persatuan Rumah Sakit Seluruh Indonesia setempat. Persi mempunyai kepengurusan di semua wilayah di seluruh provinsi di Indonesia.

* Manfaatkan kotak saran yang ada di setiap rumah sakit untuk mengomunikasikan hal-hal yang dianggap pasien (konsumen) tidak patut dilakukan oleh petugas rumah sakit. Hal ini merupakan masukan positif agar pihak rumah sakit memperbaiki diri. Tanpa masukan dari konsumen, pengelola rumah sakit akan selalu merasa bahwa pelayanan yang diberikan sudah cukup baik. Jadi, masukan atau kritik harusnya diterima sebagai satu mekanisme kontrol dari pengguna jasa rumah sakit.

* Jika merasa tidak puas dengan layanan dokter, konsumen dapat langsung mengklarifikasi dengan dokter yang merawat terlebih dahulu. Termasuk adanya dugaan kesalahan prosedur layanan (obat, dosis, maupun tindakan).

* Sangat tidak dibenarkan bila sewaktu pasien melakukan klarifikasi, dokter tidak melayani dengan baik, misalnya menghindar atau mengaku tidak punya waktu. Seorang dokter yang memberikan layanan kepada pasien sudah terikat satu kontrak, yang dikenal dengan kontrak terapeutik (Prof. Dr. Leenen), sehingga dokter bersangkutan harus memberikan penjelasan atas setiap pertanyaan pasien. Sikap profesional harus dijaga oleh para dokter.

* Pahami hak pasien, salah satunya mendapatkan informasi yang jelas dan benar. Pergunakan hak itu dengan baik, beritahu dokter bahwa Anda berhak mendapatkan informasi yang Anda inginkan. Bila ada yang kurang jelas, misalnya soal pilihan jenis obat (generik atau paten), dosis, tindakan medis, pasien juga memiliki hak bertanya atas kuitansi tagihan rumah sakit bagi penderita rawat inap untuk diklarifikasi hingga jelas benar, juga mengenai penggunaan obat dan peralatan yang harus bayar.

* Mencermati dan meneliti tindakan medis apa saja yang sudah lakukan, apakah sesuai dengan yang seharusnya dibayarkan. Adalah hak pasien untuk mengetahui setiap rupiah yang dikeluarkan untuk membayar biaya rumah sakit. (ken)


Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 7:03 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jun 01, 2010 5:39 am

CERDAS MINUM OBAT
Kamis, 30/07/2009 17:25 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Masyarakat harus jeli dalam memilih obat yang akan digunakan, karena akan berefek pada keselamatan dan kesehatan selanjutnya. Obat bisa sebagai penyembuh tapi bisa juga sebagai pembawa petaka. Obat bisa berubah menjadi racun jika tidak tepat penggunaannya atau salah alamat. Untuk itu perlu nasihat dokter bukan hanya untuk obat keras tapi hati-hati juga dalam penggunaan obat yang dijual bebas.

Obat ada berbagai macam mulai dari obat sirup, obat suntik, obat hisap spray, obat tetes, obat infus, obat suppositoria dan obat luar.
"Seringan-ringannya obat tersebut tentu masih mempunyai efek samping," ujar dr. Handrawan Nadesul, dalam acara Journalist Class PfizerPress Circle dengan tema 'Pemakaian Obat Keras di Masyarakat' yang berlangsung di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (30/7/2009).

Menurut Handrawan, obat ada dua jenis yaitu obat simptomatik yang berfungi mengurangi keluhan dan gejala, serta obat kuratif yaitu obat yang menumpas hingga akar penyakit dan kunci kesembuhan. Pemakaian obat yang salah dan tidak tepat sering terjadi karena komunikasi antara dokter-pasien dan pasien-apotik yang kurang terjalin, selain itu juga kemungkinan akibat kecerobohan pihak medis. Masalah yang muncul biasanya karena efek samping obat, intoleransi, adiksi, dan interaksi obat sendiri.

Obat bersifat individual, yang artinya tergantung dari kondisi tubuh masing-masing pasien. Obat yang sama dengan dosis sama untuk penyakit sama, belum tentu memberikan respon tubuh yang sama. Contohnya, mata merah tidak bisa diobati dengan obat yang sama, karena ada berbagai macam penyakit mata yang menimbulkan iritasi merah tergantung dari penyebabnya.

dr. Handrawan Nadesul mengatakan ada beberapa hal yang keliru tentang pemakaian obat, yaitu:
1. Keluhan dan gejala yang sama belum tentu sama obatnya.
2. Obat generik bukanlah obat kedua.
3. Harga obat tidak menentukan kualitas.
4. Melanjutkan sendiri penggunaan obat untuk penyakit menahun.
5. Makin tokcer suatu obat maka tergolong obat hebat.

Secara medik sejatinya tubuh memiliki otoregulasi yang secara otomatis memulihkan sendiri kondisinya bila mengalami ketidakseimbangan.
"Obat hanya bijak dijadikan sahabat apabila tanpa batuannya penyakit tidak mungkin dihilangkan atau mengancam jiwa, tapi obat tidak perlu didekati apalagi dijadikan suatu kebiasaan," tukas dr. Handrawan Nadesul.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 11:26 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jun 01, 2010 6:25 am

AKHIR PEKAN, BANYAK PASIEN ICU MENINGGAL
Rabu, 7 Juli 2010 | 14:06 WIB
Kompas.com - Pasien-pasien yang dikirim ke bagian intensive care unit (ICU) pada akhir pekan, ternyata lebih banyak yang meninggal dunia dibanding pasien yang dirujuk ke sana pada hari-hari biasa. Adakah akhir pekan bukan "hari baik"? Ternyata tidak juga. Hal itu sama sekali tidak terkait dengan hal-hal berbau mistis. Jawabannya sungguh masuk akal. Penelitian menunjukkan, pada akhir pekan, staf medis yang bertugas lebih sedikit sehingga mungkin penanganan yang diberikan pada pasien kurang maksimal. Hal yang sama juga terjadi pada saat hari Raya, di mana biasanya hanya ada sedikit dokter jaga.

Meski demikian, bila Anda mendapati adanya tanda kegawatan, seperti nyeri dada yang dicurigai serangan jantung atau mendadak demam tinggi, tentu tak perlu menunggu sampai hari Senin untuk datang ke unit gawat darurat. Kaitan antara tingginya angka kematian di ICU pada akhir pekan ini diungkapkan oleh Dr.Rodrigo Cavallazzi dari University of Louisville, Amerika Serikat. Ia menganalisa 10 penelitian yang dilakukan di Amerika Utara, Eropa, dan Asia, yang memfokuskan pada dua hal tersebut. "Hal ini sebenarnya masih kontroversial. Apa benar pasien yang datang ke ICU setelah jam kerja lebih banyak meninggal," katanya.

Pada 8 penelitian yang membandingkan antara angka kematian pada siang dan malam hari, ternyata tidak ditemukan adanya perbedaan. Sementara itu dari 6 studi yang melibatkan 180.600 orang yang mencari pengobatan di ICU pada akhir pekan dan dibandingkan dengan yang datang pada hari kerja, ternyata ada 8 persen kematian pasien di akhir pekan.

Risiko kematiannya sebenarnya bisa lebih tinggi, yakni mencapai 13 persen atau lebih rendah hingga 4 persen. Hal itu agak sulit dipastikan karena faktor kegawatan penyakit juga berpengaruh. "Pada akhir pekan, mungkin lebih sulit mencari dokter ahli atau melakukan tes yang penting untuk mencari diagnosis. Para perawat juga biasanya hanya sedikit di akhir pekan," katanya. Ia juga menduga, pasien yang datang di akhir pekan biasanya memiliki tingkat yang lebih parah dibanding pasien yang datang pada hari kerja.

Memang dibutuhkan penelitian mendalam untuk membuktikan kaitan antara angka kematian dan akhir pekan. Namun, hasil studi ini diharapkan bisa memberi masukan untuk manajemen pelayanan kesehatan.


Last edited by gitahafas on Fri Jul 16, 2010 11:07 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jun 01, 2010 6:41 am

ICU - NICU - PICU - HCU - IW - ICCU
ICU ( Intensive Care Unit )
Merupakan ruang perawatan intensif dengan peralatan khusus dan staf khusus untuk menanggulangi pasien gawat karena penyakit, trauma atau komplikasi lain.

NICU ( Neonate Intensive Care Unit )
Merupakan unit perawatan intensif untuk bayi baru lahir ( neonatus ) yang memerlukan perawatan khusus misalnya berat badan rendah, fungsi pernafasan kurang sempurna, prematur, mengalami kesulitan dalam persalinan, menunjukkan tanda tanda mengkuatirkan dalam beberapa hari pertama kehidupan.

PICU ( Paediatric Intensive Care Unit )
Merupakan unit perawatan intensif untuk anak anak.

HCU ( High Care Unit )
Adalah ruang perawatan pasien ICU yang dianggap sudah menunjukkan perbaikan tetapi masih dalam pengawasan ketat.

IW ( Intermediate Ward )
Merupakan ruang perawatan intensif setelah HCU sebelum bisa dipindahkan ke kamar perawatan biasa.

ICCU ( Intensif Coronary Care Unit )
Merupakan unit perawatan intensif untuk penyakit jantung, terutama penyakit jantung koroner, serangan jantung, gangguan irama jantung yang berat, gagal jantung


SETENGAH PASIEN ICU ALAMI INFEKSI
KILAS - Edisi Januari 2010 (Vol.9 No.6) - Farmacia
Penelitian menunjukkan, setengah pasien yang dirawat di ICU di seluruh dunia mengalami infeksi, dan lebih dari 70% diberi antibiotik. Trend ini semakin meningkatkan angka resistensi terhadap antibiotik. Dalam penelitian ini lebih dari 13.746 pasien di 1.300 ICU di 75 negara disurvei dalam waktu satu hari, 8 Mei 2007. Ditemukan bahwa pasien yang menderita infeksi terutama sepsis, cencerung akan meninggal atau dirawat lebih lama di ICU. Namun perhatian utama dari penelitian ini adalah penggunaan antibiotik secara luas pada pada pasien yang sebenarnya tidak terinfeksi. Praktik ini akan menyebabkan resistensi antibiotik. "Insiden sepsis meningkat seperti halnya angka kematian terkait infeksi," ujar Dr. Jean-Louis Vincent dari Erasme University Hospital di Brussels, Belgia, melalui Journal of the American Medical Association.

Hasil analisa menunjukkan 51% pasien mengalami infeksi dan 71% menerima antibiotic sebagai terapi mencegah infeksi. 64% kasus adalah infeksi paru, dan infeksi pada abdomen serta infeksi darah. Bakteri yang plaing sering ditemui adalah Staphylococcus aureus, meskipun E. coli dan bakteri dari famili Pseudomonas juga termasuk sering ditemukan. Hingga saat ini, infeksi sepsis masih menjadi penyebab utama kematian nonkardiak di ICU, di mana angka kematian mencapai 60%. Sepsis juga menelan 40% biaya dari toatal perawatan di ICU.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 11:25 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jun 01, 2010 10:39 am

MENCEGAH INFEKSI DI KAMAR OPERASI
SIMPOSIA - Edisi Agustus 2007 (Vol.7 No.1) Farmacia
Sebuah kamar operasi bisa jadi me­rupakan ruangan paling istimewa di rumah sakit. Pengelolaannya bi­sa dibilang paling khusus diban­ding ruangan lain pada umumnya. Di tempat itu segala tindakan invasif bisa dilakukan terhadap tubuh manusia. Untuk menjamin tindakan operasi berjalan de­ngan lancar dan meminimalisir faktor-faktor pengganggu, maka perlu dilakukan pe­ngendalian kamar operasi yang baik.
Untuk meningkatkan kualitas pengelolaan kamar operasi, kerja sama yang baik sangat diperlukan oleh para personelnya, baik dokter, perawat, anestesi maupun per­­sonel kamar operasi lainnya. Untuk me­­­­ningkatkan kompetensi para perawat ka­mar bedah, bulan Mei yang lalu di­ada­kan workshop tentang pengelolaan kamar operasi dan tindakan aseptis untuk para perawat kamar bedah di lingkup Indonesia timur yang diselenggarakan di RS Hu­sada Utama Surabaya. Panitia workshop ini diketuai oleh Turkanto, S.Kep. Ners yang merupakan kepala perawat di Ge­dung Bedah Pusat Terpadu RSU Dr Soetomo.

Kamar operasi bisa menjadi tempat yang mudah menularkan infeksi dari dan ke penderita. Penularan infeksi yang terjadi tergantung dari dosis kuman, ke­ren­tanan individu, waktu kontak, virulensi agen infeksi, dan berbanding terbalik de­ngan daya tahan tubuh. Menurut Prof. Djo­ko Roeshadi SpB., SpOT dari RSU DR Soe­tomo Surabaya yang juga merupakan nara sumber Farmacia kali ini, infeksi me­ru­pakan interaksi antara host, agent dan environment. Keterangan tentang sumber infeksi ditambahkan pula menurut Prof. Dr. dr. Bambang Prijambodo, Sp.B., Sp.OT, sumber infeksi bisa berasal dari per­sonel kamar bedah, alat dan bahan pe­nunjang pembedahan, lingkungan pem­be­dahan dan pasien yang akan dibedah.

Me­kanisme infeksi bisa terjadi dengan ber­bagai cara, yaitu langsung, tidak langsung, airborne dan vectorborne atau me­la­lui vektor (perantara).
Pencegahan dan pe­ngendalian pada prin­sip­nya adalah mengandung unsur me­lakukan eliminasi agen dan re­ser­voir, meng­­hambat pe­nularan infeksi, dan me­lindungi host dari infeksi. Kamar operasi yang kurang terjaga ke-aseptisannya akan ber­dampak pada infeksi luka operasi pa­da pa­sien yang bisa diketa­hui pasca ope­rasi. Penerapan teknik aseptik diharapkan dapat meng­­hindarkan pasien dari in­feksi luka ope­rasi. Dengan demikian saat pasca operasi, hari ra­wat inap menjadi le­bih pendek. Pemendekan hari rawat inap bisa me­mang­kas biaya perawat­an pasien. Dan hasil operasi yang baik akan meng­hin­darkan rumah sakit dari tuntutan hu­kum akibat ketidak­puas­an pasien dan ke­luar­ga­nya.

Pengendalian meli­puti faktor-faktor meli­puti sumber daya manusia, sa­ra­na, dan ling­ku­ngan. Para pengguna ka­­mar ope­­rasi ha­ruslah SDM yang taat pa­da pro­sedur standard ope­rasi dan tram­pil. Pe­ra­wat da­lam hal ini ada­lah mitra ker­ja dok­ter, bu­kan pem­bantu dokter. Dok­ter de­ngan dibantu perawat ha­rus bi­sa me­lak­sanakan pembedahan secara ce­pat dan atraumatik. Jum­lah petugas yang be­ra­da di kamar ope­rasi saat du­rante ope­rasi tidak boleh terlalu crowded. Cukup 2 orang ahli anestesi yang terdiri dari dokter anestesi dan perawat anestesi, tiga orang ahli bedah yang terdiri dari operator, asisten I dan asisten II, instrumentator dan omloop yang merupakan perawat bedah.

Gedung dan ruangan be­dah harus dirancang secara khusus yang merupakan ruang tertutup dengan sirkulasi udara yang bersih dan tidak ber­hu­bungan de­ngan udara luar. Ruangan ha­rus lengkap de­ngan pembagian areal yang sistematis me­nurut arus penderita dan petugas. Ge­dung bedah juga harus memiliki kualitas yang baik sehingga tahan lama. Permu­ka­an dinding gedung haruslah mudah di­ber­sihkan sehingga kebersihan dan keaseptisan ruangan dapat terjaga.

Daerah semi publik ditempati oleh orang-orang yang tidak langsung kontak ke lap, operasi (ahli anestesi, omloop). Daerah aseptis -2 digunakan untuk meletakkan alat-alat anestesi dan alat-alat roentgen bila ada. Daerah aseptis -0 digunakan untuk meletakkan kasa, kain steril, dan perban dan alat-alat bedah. Jaringan yang dibuang juga diletakkan di tempat itu. Orang-orang yang berhubungan de­ngan pembedahan yaitu ahli bedah, pe­rawat instrumentator berada di daerah aseptis-0. Alat dan bahan yang habis dipakai ha­rus selalu disimpan dalam keadaan steril dan alur masuk serta keluar yang berbeda. Petugas yang masuk dan keluar harus ada alur khusus. Petugas yang masuk ka­mar operasi harus berganti pakaian yang ber­sih di kamar ganti dulu. Kemudian me­nuju ruang semi publik dan baru masuk ruang aseptis. Untuk keluar juga harus de­mikian, baju untuk digunakan dalam ka­mar operasi tidak boleh dipakai di luar.

Demikian pula dengan alur penderita, penderita yang akan masuk kamar ope­rasi harus transit dulu di ruang transisi. Kemudian baru masuk ruang preoperasi, setelah selesai dipreoperasi, pasien di­ma­sukkan ke kamar operasi. Pasca ope­rasi pasien dibawa ke recovery room hingga kesadarannya pulih. Alur alat-alat steril mulai dari suplai masuk melalui pintu masuk dan disimpan di depo (ruang pembagian alat). Setelah digunakan di kamar operasi, alat dan in­strumen steril diletakkan di tempat pe­ngumpulan pembuangan dan selanjutnya disterilisasi di CSSD.

Untuk menjaga kebersihan dan kesteri­l­an kamar operasi, pengendalian lingku­ngan harus sesuai prosedur. Pintu kamar operasi harus selalu menutup. Ventilasi ka­mar operasi diatur searah. Udara ber­sih mengalir dari atas dan dikeluarkan ke ba­wah. Pergantian udara sebesar 25 x vo­lu­me ruangan per jam, 3 diantaranya ada­lah "fresh air". Kamar operasi diatur de­ngan tekanan positif. Suhu tidak boleh lebih dari 240 C. Jika lebih dari itu, kulit pa­sien yang ditutup handuk steril akan cende­rung berkeringat sehingga memung­kinkan peningkatan jumlah kuman dalam pori-pori kulit. Kelembaban udara ruangan ti­dak boleh lebih dari 50%, karena jika le­bih, jamur akan mudah tumbuh. Alat ope­ra­si dilakukan pencucian (cleaning) - (de­kon­taminasi) – sterilisasi. Pembersih­an ka­mar operasi dilakukan saat antara 2 operasi.

Setiap hari kamar operasi harus selalu dibersihkan, walau tidak terpakai. Pembersihan besar dilakukan 1 minggu se­kali. Urutan pembersihan mulai dari tem­pat yang bersih baru menuju tempat kotor. Pemisahan barang terkontaminasi dengan bahan infeksius dan diberi tanda, ter­masuk kasus dengan hepatitis/HIV. Ti­dak dianjurkan meletakkan alas basah / lengket di jalan masuk kamar operasi. Lam­pu ultra violet juga tidak dianjurkan me­nembus kamar operasi. Pemeriksaan mi­krobiologi udara secara rutin tidak di­an­jurkan. Asupan air harus memperoleh air steril yang telah dalam keadaan hy­pochlorit


Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 11:25 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jun 01, 2010 6:41 pm

RS KAMAR KELAS III MAKIN PENUH
Sabtu, 1 Mei 2010 | 06:29 WIB
Jakarta, Kompas - Kamar kelas III di rumah sakit-rumah sakit semakin penuh. Bahkan, ada yang mengubah fasilitas kelas II menjadi kelas III. Muncul kekhawatiran kondisi itu akan memengaruhi kualitas dan mutu pelayanan. Demikian terungkap dalam acara jumpa pers di Kementerian Kesehatan, Jumat (30/4). Ketua Asosiasi Rumah Sakit Vertikal Indonesia sekaligus Direktur Utama RSUP Fatmawati, Chairul Radjab Nasution mengatakan, kebijakan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) memengaruhi semakin penuhnya kamar kelas tiga di rumah sakit. ”Rumah sakit tidak boleh menolak pasien. Pasien Jaminan Kesehatan Masyarakat tidak dikenai biaya dan tidak boleh ada diskriminasi. Rumah sakit lalu menyesuaikan diri,” ujarnya.

Chairul mengatakan, sebagian rumah sakit memodifikasi kamar kelas II menjadi kamar kelas III. Rumah sakit besar pemerintah rata-rata menyediakan kamar kelas III di atas 50 persen. Tenaga yang ada dimaksimalkan, antara lain, dengan mengaktifkan tenaga perawat tingkat akhir. Sejauh ini, rumah sakit tetap memberikan layanan dengan standar yang sama, walaupun kelas berbeda.

Kian sesaknya rumah sakit pusat juga disebabkan tidak berjalannya sistem rujukan. Dia mengatakan, di rumah sakit-rumah sakit vertikal, sekitar 60 persen pasien datang dengan penyakit ringan yang dapat ditangani di puskesmas.
Kepala Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan Kementerian Kesehatan Usman Sumantri mengatakan, sudah ada sistem rujukan dari Kementerian Kesehatan, tetapi belum berjalan maksimal. ”Masih dibutuhkan edukasi kepada masyarakat. Saat ini, kalau rumah sakit menolak pasien dan meminta warga dengan sakit ringan untuk puskesmas akan menimbulkan kemarahan warga,” ujarnya. (INE)


Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 12:22 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jun 01, 2010 6:44 pm

RS WAJIB MILIKI LAYANAN PENGADUAN
Kementerian Kesehatan ( Kemenkes ) mewajibkan setiap RS memiliki layanan pengaduan pasien.
Bahkan layanan pengaduan ini harus ditempatkan di lokasi yang terlihat semua pengunjung RS, misalnya tertulis dalam banner yang diletakkan dekat pintu lift RS.
Sekretaris DitJen Bina Pelayanan Medik Kemenkes Sutoto mengatakan pihaknya telah mengirim surat edaran kepada setiap RS terkait kewajiban penyediaan layanan pengaduan bagi pasien ini. Termasuk penempatan petugas khusus yang bertugas menangani layanan ini.

Sutoto menegaskan, RS wajib memberikan informasi yang benar dan jelas tentang pelayanan kesehatan dan prosedur layanan. Hal ini untuk menghindari kebingungan pasien dan menghindari kesalahpahaman antara pasien dengan RS. Menurut dia kesalahpahaman sangat potensial terjadi di RS mengingat setiap hari petugas kesehatan harus menangani puluhan bahkan ratusan pasien dengan beragam keluhan penyakit.
Sumber: Seputar Indonesia Rabu, 24 Februari 2010


Last edited by gitahafas on Thu Aug 12, 2010 5:40 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jun 01, 2010 6:47 pm

MODAL ASING UNTUK RS SAMPAI 67%
Kebijakan pemerintah yang akan memberikan ruang bagi investor asing untuk menguasai modal RS dan peralatan pendukungnya sampai 67%, perlu ditinjau ulang. Sebab hal itu akan membawa banyak konsekuensi yang merugikan Indonesia pada umumnya dan masyarakat menengah bawah pada khususnya. Dengan makin banyaknya RS swasta asing dan nasional, mereka akan berlomba meningkatkan kualitas RS, namun konsekuensinya tarif pelayanan juga akan melonjak. Dengan demikian beban pemerintah untuk membiayai pengobatan masyarakat menengah bawah lewat Jaminan Kesehatan Masyarakat ( JanKesMas ) akan makin besar.
" Karena itu perlu pembatasan jumlah RS swasta nasional dan asing, Sebab faktanya, tidak ada perbedaan mendasar diantara keduanya dalam hal layanan kesehatan kepada masyarakat miskin," kata pengamat kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Prof Hasbullah Thabrany, di Jakarta Kamis ( 4/3 ).

Mantan Ketua Tim Perumus Sistem Jaminan Sosial Nasional ( SJSN ), Sulastomo mengatakan, jika asing diberi keleluasaan memasukkan modal sampai 67% untuk RS, maka layanan kesehatan akan berubah jadi komoditas komersial. " RS swasta sudah pasti komersial. Sasaran layanannya hanya untuk orang kaya," katanya. Itu artinya, lanjut Sulastomo, akan terjadi diskriminasi layanan kesehatan. Akan ada RS orang kaya dan RS orang miskin.

Hasbullah juga mengatakan, hampir semua RS swasta mengutamakan untung atau profit. Apalagi, persaingan semakin ketat.
" Biasanya RS swasta dibangun sedemikian rupa hanya untuk mengundang orang kaya, bukan orang miskin. Selama inipun, swasta hanya diwajibkan menyediakan sekitar 10% layanan sosial untuk masyarakat tidak mampu ," katanya.
Kondisi ini, lanjutnya, berbeda dengan di Amerika Serikat, hanya 11% RS nya yang pro profit, sedangkan 89% berupa nirlaba, yang dimiliki yayasan, lembaga swadaya masyarakat dan gereja. Jadi, jika peluang RS asing untuk berkembang di Indonesia semakin lebar, akan berdampak lebih besar kepada penduduk kelas menengah kebawah, karena biaya berobat makin mahal. " Pemerintah jangan berharap jika persaingan makin tinggi, maka biaya RS akan turun. Karena layanan kesehatan berbeda dengan produk lain, yang mana rakyat bisa memilih kualitasnya," katanya.
Jadi pemerintah harus memikirkan konsekuensi jangka panjang, tidak sekedar melihat berapa besar modal yang dibawa pihak asing.

Jika RS swasta dibatasi jumlahnya, persaingan akan semakin sehat. " Pemerintah hanya perlu mengontrol agar persaingan ini lebih kepada kualitas, bukan harga. Sebab, tidak semua masyarakat mengerti RS berkualitas, " katanya. Menurut Hasbullah, pemerintah juga harus menetapkan batas tarif maksimum layanan RS agar tidak terkesan ada diskriminasi. Dengan penetapan harga maksimum pemerintah bisa mengontrol sehingga RS tidak sewenang wenang menaikkan harga. Terkait penyebaran RS dia mengusulkan, ada baiknya pemerintah memberikan insentif kepada RS swasta yang siap membangun dan beroperasi di daerah. Misalnya, diizinkan memiliki modal lebih besar ketimbang yang beroperasi di kota. Namun tarif maksimumnya tetap di patok pemerintah.

Sumber: Suara Pembaruan Jum'at 5 Maret 2010


Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 12:23 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jun 01, 2010 6:52 pm

DOKTER ASING ILEGAL
Dokter dokter asing yang membuka praktik di Indonesia serta secara langsung menerima pasien tanpa prosedur rujukan merupakan dokter asing ilegal. Keberadaan dokter asing yang resmi ada di Indonesia saat ini hanya bekerja dalam rangka transfer ilmu pengetahuan. Keberadaan dokter asing yang mulai marak berpraktik secara diam diam atau terang terangan itu diminta segera ditertibkan. Dalam kebijakan mengizinkan dokter asing masuk ke Indonesia harus dengan persyaratan ketat yang dasarnya untuk melindungi masyarakat Indonesia. Demikian persoalan yang mengemuka dalam sarasehan bertajuk "Keberadaan Dokter Asing di Indonesia" yang digelar Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia ( PB PAPDI ) di Jakarta Jum'at (5/3).

Menaldi Rasmin, Ketua KKI menegaskan, KKI belum pernah memberikan surat tanda registrasi ( STR ) bagi dokter serta dokter gigi warga negara asing dalam rangka izin praktik kedokteran. Izin yang diberikan kepada dokter asing hanya untuk yang akan memberikan alih teknologi bekerja sama dengan institusi pendidikan dan atau pelayanan di Indonesia.

Sundoyo dari Biro Hukum Kementerian Kesehatan mengatakan, dokter asing diperbolehkan hanya di RS kelas A dan B. Meskipun demikian, hingga saat ini belum ada dokter asing yang mendapatkan izin praktik. Dari pendataan rencana penggunaan tenaga kesehatan asing tahun 2009, ada 41 tenaga kesehatan asing yang namanya sudah diajukan. Meskipun demikian, belum ada yang disetujui. "Karena itu, yang sudah berpraktik pasti ilegal," katanya.

Sumber: Kompas Sabtu 6 Maret 2010


Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 12:24 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Wed Jun 02, 2010 9:48 am

U S G ( ULTRASONOGRAFI )
USG adalah suatu tehnik pemeriksaan penunjang yang secara rutin dan luas digunakan dalam berbagai bidang kedokteran.
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mendapatkan pencitraan dari bagian dalam tubuh manusia dengan memanfaatkan gelombang suara frekuensi tinggi. Gema yang dipantulkan dari organ ataupun bagian tubuh, direkam dan ditampilkan dalam bentuk gambar yang dapat dilihat secara langsung, sehingga dapat membantu dokter untuk melihat adanya kelainan ataupun kerusakan organ dan jaringan tubuh yang ditimbulkan oleh suatu penyakit, atau adanya pertumbuhan jaringan yang abnormal.

Sejalan dengan kemajuan teknologi, USG berkembang pesat sehingga menjadikan pemeriksaan ini merupakan suatu pemeriksaan standar, yang dilakukan secara rutin karena pemeriksaan ini tidak menggunakan sinar X sehingga dapat dilakukan berulangkali, tidak invasif, relatif mudah dilakukan, tidak membutuhkan persiapan khusus, tidak memerlukan waktu lama dan biayanya relatif murah. Aman untuk semua usia.

Prinsip dasar USG adalah bila gelombang suara mengenai suatu obyek, gelombang tersebut akan dipantulkan kembali. Dengan mengukur perbedaan dari dua echo gelombang ini dapat dibedakan dengan jelas berapa jarak obyek, sekaligus besar, bentuk dan konsistensi ( isi ) obyek.
Sebagaimana diketahui, jaringan tubuh terdiri atas berbagai tingkat densitas ( kepadatan ), sehingga perbedaan intensitas gema yang dipantulkan oleh berbagai struktur jaringan organ tersebut akan memberikan gambaran yang spesifik dari jaringan tersebut.
USG 4 dimensi adalah teknologi 3 dimensi sekaligus merekam gerakan. Kesemuanya memungkinkan organ ataupun kelainan yang diperiksa dapat divisualisasikan secara utuh dan jelas. Teknologi Doppler, adalah salah satu kemampuan lain dari alat USG ini untuk mengevaluasi pola aliran darah dalam pembuluh darah sehingga banyak dipakai pada pemeriksaan jantung dan pembuluh darah.

Kegunaan USG
1. Untuk membantu dokter untuk melihat kelainan kelainan yang terjadi ( infeksi / kelainan bawaan / tumor / dll ) di hampir seluruh organ tubuh, seperti organ organ dalam perut, organ saluran kemih, organ reproduksi, jaringan lunak ( otot otot ), payudara, kelenjar tiroid, kepala bayi.
2. Untuk follow up pengobatan.
3. Untuk membantu tindakan biopsi organ ( menuntun arah jarum biopsi ).
4. Untuk kasus kedaruratan misalnya trauma ( kecelakaan lalu lintas / pukulan / dll ) atau perdarahan pada perut.
5. Untuk jantung dan pembuluh darah.
6. USG pada kehamilan.
7. Deteksi dini benjolan atau tumor, khususnya untuk payudara dan organ ginekologi sudah menjadi pemeriksaan rutin.

Kerugian USG
1.Kurang bermakna untuk mendeteksi organ tubuh yang terisi gas seperti lambung, usus dan paru.
2. Adanya gas di usus menyulitkan untuk melihat pankreas dan aorta di abdomen.
3. Gelombang ultrasonik juga sulit menembus tulang. dan sendi.

Sumber: Bunga Rampai Masalah Kesehatan Iluni FK 1983


Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 7:04 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Wed Jun 02, 2010 9:50 am

M R I ( MAGNETIC RESONANCE IMAGING )
MRI adalah suatu tehnik pencitraan yang digunakan utama dalam bidang medik untuk mendapatkan pencitraan dengan kualitas tinggi yang menampilkan bagian dalam dari tubuh manusia. MRI ini berbasis tehnik spektroskopi yang digunakan para ilmiawan untuk mendapatkan informasi mikro dari kimiawi dan fisik suatu molekul.
Prinsip dasar dari pemeriksaan ini adalah apabila seseorang dimasukkan kedalam suatu ruangan yang mengandung medan magnit, maka akan terjadi magnetisasi dari seluruh unsur unsur yang ada didalam tubuh seperti H, N,C, P dan lain sebagainya.
Dengan memakai Radiofrekuensi ( RF ) tertentu, maka unsur unsur tersebut dapat diputar ( spin ) menurut sumbu X, Y dan Z, yang saling tegak lurus dengan sudut perputaran tertentu. Waktu yang ditimbulkan untuk melakukan perputaran berbeda untuk tiap molekul yang mengandung unsur unsur tersebut. Apabila rangsangan RF dihentikan maka tiap molekul yang mengandung unsur unsur tersebut akan berhenti berputar dengan waktu yang berbeda pula serta menimbulkan amplitudo resonansi. Dari amplitudo resonansi ini kemudian disimpan dalam satu ruang penyimpanan yang disebut K space dan secara komputer sinyal sinyal melalui Fourier transformation diubah menjadi data data matematikal sehingga data tersebut dapat diterjemahkan kedalam suatu gambar seperti yang dikenal selama ini.

Pemeriksaan ini sangat sensitif mengingat bahwa setiap kelainan yang ada pada tubuh memberi susunan kimiawi atau gugus gugus seperti asam amino yang berbeda dan itu berarti pula berbeda kandungan unsur unsurnya sehingga berbeda pula resonansi yang ditimbulkan. Berbeda dengan pemeriksaan CT scan yang dikenal selama ini, dimana sumber data berasal dari gelombang sinar X yang menembus jaringan tubuh dan memberi atenuasi berbeda pada setiap lapis jaringan yang dilalui, maka pemeriksaan MRI ini menggunakan sumber yang berasal dari badan kita, yang memberi sinyal yang berbeda pada tiap lapis jaringan apabila kita berikan rangsangan RF dalam medan magnit.

Seperti halnya pemeriksaan CT scan yang apabila dibutuhkan untuk lebih mempertajam diagnostiknya dengan menggunakan media kontras, demikian juga pemeriksaan MRI, sering menggunakan media kontras untuk menambah spesifitasnya. Berbeda dengan media kontras yang digunakan pada CT scan yang berbasis unsur yodium, maka untuk media kontras MRI biasa dipakai unsur paramagnetic. Untuk pemakaian media kontras ini harus diperiksa terlebih dahulu fungsi ginjal pasien dengan mengukur kadar kreatinin dalam darah. Apabila melebihi dari nilai 2 mg/dl maka pemeriksaan dengan menggunakan media kontras harus dihindari.

Keunggulan MRI:
1. Superior kontras jaringan lunak.
2. Dapat mengontrol kontras.
3. Pencitraan dalam pelbagai bidang potong.
4. Tidak ada artefak yang ditimbulkan oleh tulang.
5. Tidak ada efek biologik.
6. Gambaran vaskularisasi yang baik.
7. Tampilan dari pencitraan tubuh yang lebih baik.
8. Spesifisitas yang tinggi.

Kelemahan MRI:
1. Kalsifikasi yang tidak terdeteksi langsung dengan MRI terutama mikrokalsifikasi, padahal mempunyai nilai diagnostik yang tinggi untuk tumor pada payudara.
2. Ketidak leluasaan untuk sekelompok populasi masyarakat, seperti pada pasien yang memakai pacu jantung atau alat alat sejenis karena adanya efek medan magnit yang mempengaruhi sirkuit elektriknya sehingga untuk pasien pasien ini tidak diperkenankan untuk menjalani pemeriksaan MRI.
3. Biaya yang tinggi untuk satu pemeriksaan karena harga unitnya yang mahal dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk memeriksa seorang pasien.
4.Pada pasien tertentu dapat mengalami emotional distress atau claustrophobia, mulai dari mual, debar debar, gelisah dan panik.

Indikasi MRI:
1. Penyakit pada otak ( tumor, penyebaran kanker, inflamasi dan infeksi, perdarahan dan infark, cedera, dll ).
2. Penyakit pada daerah kepala dan leher ( sinus, daerah tengkorak, dasar mulut, saluran napas atas, daerah nasopharing, penyakit pada mata, dll )
3. Penyakit pada tulang belakang ( keganasan, peradangan dan infeksi, kelainan degeneratif, dll ).
4. Penyakit pada daerah rongga perut ( penyakit hati, kantung empedu dan saluran empedu, usus 12 jari atau pankreas, ginjal, alat kelamin, dll ).
5. Penyakit pada otot dan tulang ( radang sendi, trauma jaringan, infeksi, tumor, dll )

Sumber: Bunga Rampai Masalah Kesehatan Iluni FK 1983.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 12:27 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Wed Jun 02, 2010 9:58 am

RADIASI DARI ALAT PEMINDAI KESEHATAN
Selasa, 15 Juni 2010 | 07:55 WIB
Kompas.com - Setiap kali melewati alat pemindai keamanan di bandara, ada perasaan waswas terkena radiasi. Begitu pula ketika menggunakan telepon genggam, peralatan dapur seperti microwave, atau sekadar melewati kawasan jaringan listrik tegangan tinggi. Memang benar jika ada kemungkinan kita terkena radiasi, tetapi ancaman radiasi yang terbesar justru ketika kita terlalu banyak menggunakan alat-alat medis.

Menurut penelitian di AS yang dipublikasikan Associated Press, Senin (14/6), kasus radiasi dari alat-alat medis paling banyak terjadi di AS dibandingkan negara lain di dunia. Radiasi yang terlalu banyak meningkatkan ancaman kanker. Ancaman itu kian meningkat karena semakin banyak orang yang meminta hasil tes melalui alat-alat pemindai kesehatan, antara lain dengan sinar-X atau CT scan, terlalu dini. Ahli radiologi Steven Birnbaum mengatakan, sinar-X atau CT scan digemari karena bisa memberikan hasil yang cepat dan sangat rinci dibandingkan dengan magnetic resonance imaging (MRI) yang tanpa radiasi.

Radiasi merupakan bahaya yang terselubung karena kita tidak akan merasakan apa-apa ketika terkena radiasi. Dampaknya pun baru akan terasa atau terlihat beberapa tahun kemudian. Kini Pemerintah AS tengah mendesak industri dan kalangan dokter untuk menetapkan standar dosis untuk tes-tes seperti CT scan.
Masyarakat atau pasien juga disarankan untuk kritis bertanya tentang proses, dosis, dan alasan pemindaian yang harus dijalani dan tidak begitu saja menerima saran pemindaian dari dokter. ”Anda harus menanyakan semuanya. Tingkat radiasi CT scan sangat tinggi, terutama pada bagian dada dan perut, dua daerah di tubuh tempat kanker kerap tumbuh,” kata Fred Mettler yang mengepalai radiologi di sistem pelayanan kesehatan New Mexico Veterans. (AP/LUK)

Rabu, 30/06/2010 12:00 WIB
BAHAYA PEMINDAIAN SINAR X DI BANDARA LEBIH BESAR DARI DUGAAN
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
New York, Risiko kanker akibat radiasi sinar-X dalam pemindaian tubuh di bandara (bandar udara) bukan hanya isapan jempol. Tingkat radiasi dan bahayanya ternyata jauh lebih besar dari yang diduga sebelumnya, terutama bagi anak-anak. Meski sinar yang digunakan hanya menghasilkan tingkat radiasi yang rendah, namun risikonya tidak bisa diremehkan.

Menurut para ahli, pancaran sinar-X bisa terkonsentrasi di kulit (bagian paling sensitif terhadap radiasi) sehingga tingkat radiasinya bisa melonjak 20 kali lebih tinggi dari dugaan sebelumnya. Dr David Brenner dari Columbia University mengatakan, risiko kesehatan menjadi lebih tinggi pada individu yang lebih sensitif. Di antaranya adalah anak-anak dan orang-orang dengan mutasi genetik, karena kelompok ini tidak memiliki kemampuan memperbaiki DNA yang rusak oleh radiasi.

Jenis kanker yang paling sering terjadi akibat pemakaian sinar X di bandara adalah basal cell carcinoma. Jenis kanker kulit ini termasuk jenis yang bisa disembuhkan, dan sering terjadi di daerah kepala dan leher pada usia 50-70 tahun. Dr Brenner mengusulkan agar bagian tersebut tidak ikut dipindai saat keluar-masuk bandara. Lagipula, menurutnya tidak mungkin seseorang menyembunyikan senjata berbahaya di leher dan kepala.

"Jika ada peningkatan kanker karena radiasi sinar-X pada anak, maka kemunculannya baru akan teramati beberapa dekade ke depan. Untuk itu pemindaian di daerah kepala dan leher sebaiknya dihindari," ungkap Benner dikutip dari Dailymail, Rabu (30/62010).Sebelumnya, otoritas penerbangan sipil (CAA) menyatakan teknologi pemindaian tubuh di bandara cukup aman. Jika dilakukan sesuai prosedur, seseorang bisa melakukannya 5.000 kali dalam setahun tanpa risiko kesehatan. (up/ir


Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 12:26 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
 

Asal Tahu Saja

View previous topic View next topic Back to top 
Page 6 of 53Goto page : Previous  1 ... 5, 6, 7 ... 29 ... 53  Next

 Similar topics

-
» ASAL USUL MASAKAN MINANG
» INGIN TAHU PUSAT PEMBELAJARAN UTM SPACE DI PULAU PINANG
» Asal Tahu Saja
» Asal Usul Melayu Bahagian 1
» Asal Manusia

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-