|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Thu Nov 10, 2011 5:23 pm | |
| ORANG GEMUK PASTI TAK SEHAT? Lusia Kus Anna | Senin, 31 Oktober 2011 | 16:49 WIB Kompas.com - Berat badan terlalu gemuk alias obesitas selama ini memang identik dengan berbagai penyakit. Namun, tidak semua orang yang kegemukan pasti tidak sehat. Sebuah studi terbaru menunjukkan orang obesitas juga bisa digolongkan ke dalam orang sehat. Studi yang dilakukan terhadap 8.000 orang Amerika ini menemukan orang yang obesitas (indeks massa tubuhnya di atas 30) juga bisa bebas dari masalah kesehatan. Indeks massa tubuh (IMT) ditentukan dengan cara menghitung perbandingan antara berat badan dan tinggi badan. Di Indonesia, nilai IMT di atas 25 sudah digolongkan ke dalam obesitas tingkat 1. Meski begitu para ahli mengatakan bahwa nilai IMT tidak selalu berkorelasi dengan kesehatan. Lantas, bagaimana caranya bisa kegemukan namun tetap sehat? Faktor genetik, seperti halnya gaya hidup, termasuk pola makan dan level kebugaran, berperan penting dalam beresiko tidaknya seseorang yang kegemukan menderita penyakit kronik akibat kelebihan berat badannya. Dengan kata lain, jangan hanya menilai sehat tidaknya seseorang dari berat badannya. Lihatlah pula seluruh kondisi tubuh dan gaya hidupnya. Gaya hidup sehat, berapa pun berat badan Anda, adalah cara terbaik untuk mencegah penyakit. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Thu Nov 10, 2011 5:23 pm | |
| AYO BERDIRI! KEBANYAKAN DUDUK BISA BURUK Rabu, 02/11/2011 11:40 WIB Adelia Ratnadita - detikHealth Jakarta, Berapa lama Anda duduk dalam satu hari? Berapa lama Anda jalan atau berdiri dalam sehari? Hampir kebanyakan orang duduk terlalu banyak dalam kehidupan sehari-hari. Jangan biarkan terus seperti itu, karena kebanyakan duduk bisa mengancam hidup. Duduk sepanjang hari memang mengurangi waktu tubuh untuk dapat melakukan beberapa latihan fisik yang akan memiliki manfaat positif untuk kesehatan. Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa, duduk sepanjang hari secara aktif dapat merusak kesehatan. Terlalu banyak duduk dapat memperlambat metabolisme, meningkatkan risiko penyakit jantung, menyebabkan nyeri punggung, dan bahkan dapat memperpendek umur. "Terlalu banyak duduk dapat membahayakan kesehatan setara dengan merokok," kata Marc Hamilton, PhD, seorang ahli mikrobiologi di Pennington Biomedical Research Center seperti dikutip dari Health, Rabu (2/11/2011). Terlalu banyak duduk dapat menyebabkan beberapa kondisi kesehatan yang buruk, antara lain:
1. Menyebabkan kegemukan Ketika seseorang duduk, maka metabolismenya akan melambat. Hal tersebut disebabkan oleh enzim yang disebut lipoprotein lipase, yang berada di dalam pembuluh darah dari otot. Lipoprotein lipase menangkap lemak dalam darah dan membakarnya. Duduk sepanjang hari dapat menurunkan aktivitas lipoprotein lipase sebanyak 90-95 persen. Ketika seseorang berdiri, maka otot-otot postural yang menopang berat badan, terutama otot pada kaki akan melepaskan enzim tersebut yang bekerja membakar lemak. Tetapi ketika sedang duduk diam, dan tidak bergerak setiap 30-90 detik, maka lemak akan tetap berada di arteri. Kemudian lemak tersebut dapat disimpan dalam jaringan adiposa atau jaringan lemak tubuh. Latihan fisik sehari-hari tidak dapat menetralkan dampak dari duduk sepanjang hari. Hamilton mengatakan bahwa, bahkan reaksi biokimia menjadi lambat pada seseorang yang duduk sepanjang hari. "Perbedaan terbesar antara orang kurus dan berlemak bukan dari berapa banyak mereka makan atau olahraga, tetapi dari berapa banyak mereka duduk," kata James Levine, MD, seorang peneliti obesitas di Mayo Clinic.
2. Berakibat buruk pada tulang belakang Perut, panggul dan otot-otot kaki seringkali digunakan untuk menopang berat tubuh. "Tetapi ketika duduk, menyebabkan menempatkan sebagian besar berat badan secara langsung pada tulang belakang dan panggul sebagai gantinya," jelas Andrew Hecht, MD. Hal tersebut juga menyebabkan memaksa kurva S alami dari tulang belakang menjadi bentuk C, yang tidak cukup kuat untuk menerima tekanan.
3. Dapat memperpendek usia Sebuah studi yang telah diterbitkan dalam American Journal of Epidemiology pada tahun 2010, melibatkan hampir 70.000 wanita sehat dan mengamati kebiasaan sehari-hari mereka selama 14 tahun. Setelah menyesuaikan faktor risiko termasuk indeks massa tubuh dan faktor merokok. Para peneliti menemukan bahwa, wanita yang menghabiskan 6 jam untuk duduk dalam sehari memiliki risiko kematian 37 persen lebih tinggi dibandingkan dengan wanita yang menghabiskan waktu kurang dari 3 jam sehari untuk duduk. Angka kematian akibat penyakit kardiovaskuler juga 2,7 kali lebih tinggi pada wanita yang duduk 6 jam atau lebih dalam sehari, terlepas dari berapa banyak mereka berolahraga.
Last edited by gitahafas on Thu Nov 10, 2011 5:24 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Thu Nov 10, 2011 5:24 pm | |
| KEMATIAN AKIBAT OVERDOSIS "PAINKILLER" MENINGKAT Lusia Kus Anna | Asep Candra | Rabu, 2 November 2011 | 16:57 WIB KOMPAS.com- Penyalahgunaan obat pereda nyeri atau painkiller terus meningkat. Bahkan, menurut laporan pemerintah Amerika Serikat, kematian akibat overdosis obat pereda nyeri mencapai angka tertinggi dalam satu dekade terakhir. Obat pereda nyeri yang diresepkan seperti OxyConton, Vicodin, dan metadone, diperkirakan memicu 15.000 kematian di tahun 2008, termasuk aktor Hollywood Heath Ledger. Jumlah tersebut tiga kali lebih besar daripada kematian akibat narkotik di tahun 1999 yang mencapai 4.000 kasus. "Obat-obatan pereda nyeri itu sebenarnya untuk mengobati orang yang menderita nyeri hebat. Tapi bisa menyebabkan ketagihan," kata Dr.Thomas Frieden, direktur Center for Disease Control and Prevention (CDC), AS. Dalam laporan disebutkan, hampir lima persen penduduk AS berusia di atas 12 tahun ketagihan mengonsumsi obat pereda nyeri, bahkan membelinya tanpa resep untuk mabuk. Menurut Frieden, kematian akibat overdosis pereda nyeri itu mencerminkan peningkatan resep narkotik. Kondisi ini juga terjadi karena dokter ingin melakukan terapi nyeri secara lebih baik seiring dengan beredarnya obat-obatan painkiller terbaru. "Dokter seharusnya membatasi peresepan, pasien harus diberikan untuk kebutuhan 3 hari, terutama nyeri akut. Untuk nyeri kronik, narkotik seharusnya jadi pilihan terakhir," katanya. Menurut Frieden, badan berwenang di AS akan melakukan langkah-langkah pencegahan. Beberapa negara bagian juga dilaporkan sudah melakukan tindakan. Misalnya saja, di Ohio sekarang klinik nyeri harus mendapatkan lisensi dari negara dan dibuat batasan jumlah pil di setiap klinik. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Thu Nov 10, 2011 5:27 pm | |
| SEHAT DENGAN SPIRITUALITAS RABU, 02 NOVEMBER 2011 | 06:03 WIB TEMPO Interaktif, -Spiritualitas, keyakinan, atau agama bisa membantu perempuan maupun pria, dengan cara yang berbeda, mengatasi penyakit kronis, seperti stroke, kanker, cedera saraf tulang belakang, atau cedera otak. Sebuah riset University of Pittsburgh Medical Center, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa orang yang rajin dan rutin mengikuti kegiatan keagamaan secara berkala akan hidup lebih lama ketimbang mereka yang tak pernah aktif di tempat ibadah. Penelitian lain University of Wisconsin-Madison yang dilakukan pada 2010 menemukan bahwa berdoa atau sembahyang bisa menjadi “gangguan” positif dan sebuah cara bagi orang-orang untuk mengatasi situasi yang sulit, termasuk penyakit yang dideritanya.
Studi University of Toronto-Scarborough juga menemukan bahwa memikirkan tentang Tuhan dapat membantu mengurangi rasa cemas. Temuan-temuan terbaru itu, “Memperkuat gagasan bahwa agama atau spiritualitas bisa menjadi penyangga dari konsekuensi negatif atas kondisi kesehatan yang kronik,” ujar profesor bidang psikologi kesehatan di University of Missouri, Stephanie Reid-Arndt, yang dikutip situs Livescience. Para peneliti merekrut 168 orang dari pusat kesehatan akademik Midwestern yang berusia 18 tahun atau lebih tua yang mengalami kondisi penyakit kronis, seperti trauma cedera otak, penderita stroke, cedera saraf tulang belakang, dan kanker. Meskipun wanita sering dikesankan sebagai pribadi yang lebih religius ketimbang pria, para peneliti menemukan tidak ada perbedaan antara pria dan wanita dalam menyatakan tingkat atau pengalaman spiritualitas mereka. “Kedua gender ini sama-sama mendapatkan manfaat dari dukungan sosial--kemampuan untuk mendapatkan bantuan dari dan bergantung kepada yang lain--ditunjukkan oleh para anggota jemaah dan keterlibatan mereka dalam organisasi keagamaan,” ujar Brick Johnstone, profesor psikologi kesehatan yang terlibat dalam riset tersebut.
Namun manfaat dari kegiatan keagamaan pada laki-laki dan perempuan ternyata berbeda. Pada wanita, kesehatan mental yang bagus dikaitkan dengan pengalaman spiritual harian seperti memberikan maaf dan menggunakan agama untuk mengatasi masalah. Wanita juga percaya pada kekuatan cinta, yang ternyata berkaitan erat dengan kemampuan untuk mengatasi masalah kronis yang dihadapinya. Sedangkan pria mendapatkan manfaat dengan terlibat dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. Di antaranya mendapatkan perhatian dari anggota jemaah lain, konseling agama dan kemampuan untuk memaafkan, serta bantuan dari ulama, pastor, atau pemimpin agama. Temuan ini sama hasilnya dengan studi sebelumnya yang dipublikasikan pada 7 Desember 2010 pada jurnal American Sociological Review. Dalam jurnal itu diungkapkan bahwa orang religius mendapat manfaat dari jaringan sosial yang mereka bangun dengan menghadiri kegiatan-kegiatan keagamaan.
Studi terbaru tersebut mengungkapkan bahwa, meskipun pria dan wanita berbeda dalam mendapatkan manfaat dari kegiatan keagamaan, kedua gender ini sama-sama cenderung mengatasi masa sulit yang dialami dengan bersandarkan pada agama. “Kami menemukan ketergantungan kedua jenis kelamin ini pada agama dan spiritualitas meningkat saat mereka menghadapi kondisi sulit atau ketika sedang sakit,” ucap Johnstone. Profesor Santoso, 83 tahun, merasakan manfaatnya spiritualitas mengembalikan kesehatannya. Dua tahun lalu, dia terbaring tak berdaya di tempat tidur, terserang stroke. Dokter sudah menyerah dan menyatakan jantungnya sudah tak berfungsi. “Tapi keyakinan saya, dan doa dari hati yang dalam, mengembalikan organ yang tak berfungsi kembali normal,” dia menuturkan. Syukur Alhamdulillah! |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Thu Nov 10, 2011 5:28 pm | |
| KENAPA MAKIN TUA MAKIN SUSAH TIDUR? Kamis, 03/11/2011 08:04 WIB Adelia Ratnadita - detikHealth Jakarta, Manusia memerlukan tidur untuk mengisi ulang energi tubuh dan pikirannya agar bisa terus bekerja dengan efektif. Jumlah kebutuhan tidur orang dewasa sampai tua tetap sama antara 6-7 jam per hari, tapi pada orangtua biasanya hanya bisa tidur 3-4 jam. Penelitian yang dilakukan Surrey Sleep Research Centre di University of Surrey and Harvard Medical School menemukan bahwa ketika orang diizinkan untuk tidur sebanyak yang diinginkan, orangtua rata-rata memiliki waktu tidur 1,5 jam lebih sedikit. Semua orang dewasa melalui fase yang berbeda saat tidur pada malam hari. Ini termasuk jumlah episode gerakan mata cepat atau tidur REM (tahap tidur ketika terjadinya mimpi) selama otot-otot yang rileks namun otak sangat aktif, diselingi dengan tidur non-REM di mana otak yang kurang aktif tetapi tubuh bergerak di sekitar. Tetapi lansia cenderung hanya memiliki satu periode tidur nyenyak setiap malam biasanya dalam 3 atau 4 jam pertama dan setelah itu mereka dapat bangun lebih mudah. Peningkatan masalah tidur dapat terjadi seiring bertambahnya usia. Beberapa masalah tidur, terutama insomnia juga lebih umum seiring bertambahnya usia. Lansia juga lebih mungkin menderita masalah kesehatan kronis yang dapat mengganggu tidur. Akibatnya banyak orang tua mengikuti pola tidur yang buruk. Hal tersebut dapat diperparah oleh pengurangan secara bertahap produksi hormon seperti melatonin dan hormon pertumbuhan yang membantu untuk menjaga ritme tubuh sehari-hari. Lansia yang sudah tidak memiliki rutinitas, mungkin tergoda untuk tidur di sore hari sehingga akan sulit tidur di malam hari. Jika lansia susah tidur mungkin ada penyakit yang sering mengganggu seperti dikutip dari BBCHealth, Kamis (3/11/2011) antara lain:
1. Depresi dan kecemasan Depresi umum terjadi pada lansia dan mereka yang mungkin memiliki masalah tidur. Kecemasan dapat menyebabkan seseorang susah tidur dan tetap terjaga. Depresi atau kecemasan juga dapat menyebabkan seseorang terbangun dini hari dan tidak dapat tidur kembali.
2. Penyakit kronis Kondisi yang menyakitkan seperti arthritis sering dialami oleh lansia, yaitu rata-rata pada usia mencapai 70 tahun. Sehingga rasa nyeri dari arthritis sering mengganggu tidur.
3. Demensia Demensia dapat mengganggu pola normal dari aktivitas sehari-hari. Beberapa orang dengan demensia menjadi lebih bingung saat siang berubah menjadi malam. Atau masalah tersebut biasa dikenal sebagai sundowning. Seseorang dengan demensia ketika mengalami sundowning mungkin menjadi sangat tidak tenang, berkeliaran, atau berteriak keluar.
4. Penyakit pernapasan dan penyakit jantung Kondisi seperti penyakit paru obstruktif kronik (COPD) dan gagal jantung dapat menyebabkan masalah ketidaknyamanan atau masalah pernapasan yang dapat mengganggu tidur. COPD juga dikenal atau lebih umum disebut sebagai bronkitis kronis.
5. Kebutuhan untuk ke kamar kecil Ketika usia semakin tua, akan sering merasa lebih sulit untuk menahan buang air kecil. Sehingga sulit untuk melalui malam tanpa ke kamar kecil sama sekali. Hal tersebut mungkin karena masalah dengan kelenjar prostat pada pria, penurunan kekuatan otot-otot dasar panggul pada wanita, yang berguna untuk menahan kandung kemih yang terisi.
Gangguan tidur yang umum pada lansia, antara lain: 1. Insomnia Insomnia telah mempengaruhi sebanyak 1 dari 3 lansia, sehingga menyebabkan lansia tidak mendapatkan tidur yang berkualitas.
2. Sleep apnea Sleep apnea menyebabkan tidur terus-menerus terganggu karena paru-paru gagal menarik cukup oksigen melalui saluran pernapasan. Ketika usia beranjak tua, semua otot menjadi lebih lemah, dan saluran pernapasan lebih mungkin berada di bawah tekanan lapisan lemak pada wajah dan leher. Hal tersebut menyebabkan kualitas tidur yang buruk, kinerja siang hari berkurang, dan peningkatan risiko serangan jantung dan stroke.
3. Restless legs syndrome Meskipun umum, namun beberapa orang baru tahu mengenai kondisi tersebut hingga mereka mengalami gejala yang mengarah pada perkembangan sindrom tersebut. Penyebabnya tidak diketahui tetapi mungkin terkait dengan penyakit saraf, penyakit ginjal, penyakit Parkinson, anemia, dan obat-obatan tertentu. Beberapa orang memiliki gangguan gerakan tungkai secara periodik. Kondisi tersebut akan merespon jenis obat yang digunakan untuk mengobati penyakit Parkinson, yaitu obat yang meningkatkan kadar neurotransmitter (pesan kimia saraf) dopamin. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Nov 13, 2011 7:29 am | |
| KUAT TAK SAMA DENGAN SEHAT MINGGU, 13 NOVEMBER 2011 | 04:03 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:-Mestinya malam itu jadi hari yang menyenangkan bagi Antonio Cassano, 29 tahun. Striker AC Milan tersebut baru saja membela klubnya saat melawan AS Roma pada Sabtu dua pekan lalu. Milan memenangi laga tandang itu dengan skor 3-2. Tapi tak dinyana, saat berada di pesawat bersama rombongan, tiba-tiba ia kesulitan berbicara dan bergerak. Penglihatannya juga kabur. Dia mengalami kejadian itu sekitar 30 menit sebelum akhirnya kembali normal. Keesokan harinya, Cassano harus dirawat di Rumah Sakit Policlino. Dokter tim, Rodolvo Tavana, mengatakan Cassano berada dalam kondisi tidak sehat. Dia menyarankan Cassano agar menjalani pemeriksaan jantung dan saraf di rumah sakit tersebut. Surat kabar La Gazzetta dello Sport menyebutkan bahwa Cassano terkena transient ischemic attack (TIA) atau gangguan fungsi otak sementara akibat berkurangnya pasokan darah.
Menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Budhi Setianto, SpJP, serangan ischemic (iskemia) terjadi akibat kurangnya pasokan oksigen pada organ tertentu. Oksigen ini dibawa oleh butir-butir darah. Mekanisme sirkulasi darah mensyaratkan adanya pembuluh darah sebagai pipa, jantung sebagai pompa, serta listrik jantung yang mengatur irama detak jantung. "Jadi memang tidak sederhana, harus diperhitungkan semuanya," kata Budhi saat ditemui di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta, Jumat lalu. Pada atlet profesional, latihan keras mampu membuat jantung berdegup kencang sehingga otot jantung pun jadi tebal. Sementara orang kebanyakan memiliki 60-100 denyut jantung per menit, seorang atlet bisa 35-180 denyut jantung. Ketebalan otot ini pada akhirnya mempengaruhi irama jantung yang diatur oleh listrik jantung. "Kelainan listrik jantung juga bisa mengakibatkan iskemia," kata Budhi.
Serangan iskemia juga bisa terjadi akibat gaya hidup tidak sehat. Meskipun sudah berolahraga rutin, bila pola makan tidak sehat, misalnya meminum minuman keras atau makan makanan berlemak, bisa mengakibatkan penyempitan pembuluh darah yang menimbulkan iskemia. Menjadi atlet atau olahragawan memang bukan jaminan terbebas dari serangan jantung. Ini pun diiyakan dr Phaidon Toruan, corporate trainer di bidang kesehatan. "Kuat tidak sama dengan sehat. Kalau atlet kuat, iya, tapi belum tentu sehat," kata Phaidon. Dia menilai kerasnya persaingan dalam industri sepak bola telah menyebabkan pemain harus berada dalam penampilan yang maksimal di luar batas kemampuan manusia normal. "Industri ini bikin pemain jadi inhuman," ujarnya.
Kasus meninggalnya pemain saat berlaga cukup sering terjadi. Ini, misalnya, dialami Marc-Vivien Foe, yang meninggal di tengah lapangan saat pertandingan antara Kamerun versus Kolombia pada 2003. Dari dalam negeri, ada nama Eri Irianto, 26 tahun. Pemain Persebaya Surabaya ini meninggal dengan dugaan gagal jantung beberapa jam setelah Persebaya melawan PSIM Yogyakarta pada April 2000. Serangan jantung memang telah menjadi penyakit paling mematikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Organisasi Federasi Jantung Sedunia (World Heart Federation) memprediksi penyakit jantung akan menjadi penyebab utama kematian di negara-negara Asia pada 2010. Saat ini sedikitnya 78 persen kematian global akibat penyakit jantung terjadi pada kalangan miskin dan menengah.
Di Indonesia, tingginya angka kematian akibat penyakit jantung mencapai 26 persen. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga Nasional, dalam 10 tahun terakhir, angka tersebut cenderung meningkat. Pada 1991, angka kematian akibat penyakit jantung sebesar 16 persen. Pada 2001, angka itu melonjak menjadi 26,4 persen. Angka kematian akibat penyakit jantung diperkirakan mencapai 53,5 per 100 ribu penduduk di Indonesia. Sebenarnya tidak sulit mencegah penyakit mematikan ini. "Lakukanlah gaya hidup sehat," kata Phaidon. Gaya hidup sehat yang dimaksudkan adalah pola makan yang sehat, cukup olahraga, serta menghindari stres. Menurut Phaidon, pola makan yang sehat dan pengelolaan stres inilah yang kadang luput dari perhatian banyak orang, termasuk atlet. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Thu Nov 17, 2011 6:43 pm | |
| ADA KELUARGA SAKIT KANKER? LAKUKAN 4 HAL INI! Bramirus Mikail | Asep Candra | Kamis, 17 November 2011 | 13:52 WIB KOMPAS.com - Dukungan keluarga terhadap pasien kanker sangat dibutuhkan guna mengangkat mental dan semangat hidup si pasien. Ahli onkologi Cora Llave, MD dan Denky Dela Rosa, MD, mengatakan, keluarga adalah teman terbaik bagi pasien kanker dalam menghadapi" pertempuran" dengan penyakitnya. "Kanker adalah penyakit keluarga. Setiap orang yang terkena kanker, akan berpengaruh juga kepada seluruh keluarga baik berupa emosional, psikologis, finansial, maupun fisik," kata Dela Rosa. Tidak ada aturan yang pasti soal bagaimana anggota keluarga harus memperlakukan pasien kanker. "Yang paling penting adalah Anda harus selalu hadir di kehidupan pasien dan dalam setiap kasus yang mereka hadapi," tegasnya. Sementara itu Llave mengatakan, dalam banyak kasus, anggota keluarga biasanya tidak tahu bagaimana menghadapi situasi tersebut. Namun yang pasti, setiap pasien kanker umumnya lebih menyukai rutinitas atau perlakuan khusus tambahan. Berikut ini adalah panduan umum bagi Anda yang memiliki anggota keluarga yang sakit kanker :
1. Hadir untuk mereka Kehadiran orang terdekat sangat penting bagi pasien kanker, karena mereka sangat memerlukan dukungan emosional. "Anda harus selalui ada bersama dia (pasien kanker) baik ketika berkonsultasi dengan dokter atau saat-saat di mana mengalami komplikasi akibat penyakitnya sendiri. Keberadaan Anda akan memberi dukungan emosional," kata Dela Rosa.
2. Belajar menerima Setiap orang pasti berat menerima kenyataan jika ada anggota keluarga mereka yang terkena kanker. Meski sulit, Anda harus ikhlas menerimanya. Anggaplah tidak pernah ada sesuatu. Perlakukan keluarga Anda (pasien kanker) seperti orang normal pada umumnya. Hal ini akan membantu pasien lupa bahwa dia sedang menderita penyakit. Jangan sekali-kali Anda mencoba untuk merubah kebiasaan pasien. "Mengubah rutinitas dapat menghambat proses kesembuhan pasien. Jika pasien ingin melakukan joging setiap hari, dukung dia untuk terus melakukannya joging," katanya.
3. Memahami penyakit "Secara garis besar, pasien kanker masih berpikir bahwa mereka akan mati," kata Dr Llave. Dengan kondisi seperti itu, perubahan besar dan kecil dalam tubuh akan sangat mengganggu mereka. Tetapi, jika anggota keluarga mampu memahami perkembangan penyakit dan tahap-tahap pengobatan pasien, ini akan sangat membantu. Dela Rosa menambahkan, banyaknya informasi yang dapat digali oleh anggota keluarga untuk memahami penyakit anggota keluarga yang menderita kanker, salah satunya lewat informasi online. Namun demikian, Anda harus tetap berhati-hati tentang apa yang Anda baca. Pasalnya, beberapa pasien kanker bisa memiliki "pikiran negatif akan apa yang telah mereka baca di internet," katanya.
4. Bersabar Kesabaran sangat penting. Ada saat di mana anggota keluarga tidak memahami pasien. "Seorang pasien tidak mau makan, bukan karena dia tidak mau makan, tetapi akibat pengaruh dari tumornya. Hal ini sebenarnya yang membuat pasien tidak memiliki nafsu makan," jelas Rosa. Rosa mengatakan, jika pasien tidak mau makan, Anda bisa memasak makanan favorit pasien. Meski begitu, pasien biasanya tidak akan makan lebih dari 2-3 sendok. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Tue Jan 17, 2012 6:17 am | |
| PENYAKIT YANG PALING DITAKUTI MANUSIA Senin, 16/01/2012 15:24 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Jakarta - Ada berbagai macam penyakit yang bisa menyerang setiap orang, baik yang ringan maupun berat. Namun ada beberapa penyakit serius yang dianggap sebagai penyakit paling menakutkan. Apa saja? Sebuah studi yang dilakukan oleh Harris Interactive untuk MetLife Foundation pada tahun 2011, ada beberapa penyakit yang dianggap paling menakutkan yang diklaim bisa mewakili manusia kebanyakan pada penyakit-penyakit ini. Berikut 6 penyakit yang dianggap paling menakutkan, seperti dilansir insureme, Senin (16/1/2012):
1. Kanker Segala jenis penyakit kanker masih menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian besar masyarakat. Tapi ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengurangi risiko terkena kanker. Para ilmuwan mengklaim diperkirakan sepertiga dari kasus kanker yang terjadi bisa dicegah dengan melakukan diet sehat. Selain itu menghindari pemicu-pemicu kanker seperti rokok, asap knalpot dan stres juga bisa memberikan dampak positif.
2. Penyakit Alzheimer (hilang memori yang parah) Alzheimer merupakan salah satu penyakit yang paling ditakuti karena membuat seseorang lupa akan dirinya sendiri akibat kehilangan memori. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan Alzheimer adalah penyebab keempat kematian di negara dengan pendapatan tinggi karena meningkatkan populasi penuaan di seluruh dunia.
3. Penyakit jantung Gaya hidup yang tidak sehat membuat serangan jantung kini tidak hanya menyerang orang usia tua tetapi juga orang-orang muda. Untuk bisa mendapatkan umur panjang, jantung adalah salah satu organ yang mutlak harus dijaga kesehatannya.
4. Stroke Gejala stroke muncul akibat gangguan peredaran darah otak pada bagian otak tertentu. Gejala yang muncul sangat tergantung pada bagian otak yang terkena. Sebanyak 1 diantara 6 orang di seluruh dunia akan terkena stroke dalam hidupnya.
5. Diabetes Diabetes bukanlah penyakit murah karena orang yang sudah didiagnosa diabetes tidak bisa disembuhkan, ditambah munculnya komplikasi penyakit lain yang siap menanti. Saat seseorang sudah didiagnosa menderita diabetes, maka orang tersebut tidak bisa sembuh, namun diabetes masih bisa dikontrol dan dikelola. Tapi bila diabetes tidak dikelola dengan baik, maka bisa menyebabkan komplikasi berbagai penyakit berbahaya seperti penyakit jantung, stroke, buta atau bahkan diamputasi.
6. HIV-AIDS HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah penyakit yang belum bisa disembuhkan dan belum ada obatnya. Setelah dinyatakan positif terkena HIV, biasanya ada masa 5-10 tahun virus ini benar-benar bisa 'melumpuhkan' penderitanya. AIDS timbul sebagai dampak berkembangbiaknya virus HIV di dalam tubuh manusia. Meski kini dengan terapi ARV (Antiretroviral) penderita HIV-AIDS bisa berumur panjang bersama penyakitnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Tue Jan 24, 2012 6:21 am | |
| KULIT GATAL DAN MATA KEDUTAN ITU TANDA STRES TRIBUNnews.com – Sel, 11 Okt 2011 16.10 WIB TRIBUNNEWS.COM - Tekanan hidup dan beban pekerjaan sering menyebabkan stres. Dampaknya bisa buruk bagi sistem pencernaan seperti iritasi organ pencernaan bahkan penyakit kardiovaskular dan stroke. Sayangnya, kita sering tidak menyadari bahwa sebenarnya ada gejala dan tanda kita terkena stres.
* Rahang nyeri Bukan hanya karena sakit gigi, stres secara emosional dapat membuat otot-otot rahang sakit. Gejala ini biasanya terjadi ketika bangun atau tidur. Secara umum, perhatikan apa yang pernah Anda alami, sehingga ketika gejala itu kembali Anda sudah tahu apa yang harus dilakukan. Fokuskan pada merelaksasikan rahan ketika Anda merasa panik.
* Kulit gatal Stres membuat perubahan pada sel-sel kekebalan yang ditemukan di kulit dan membuatnya lebih aktif. Stres bisa mengakibatkan beberapa kondisi seperti psoriasis, rosacea, dan atau lebih buruk lagi, eksim. Jika kulit terasa gatal akhir-akhir ini, perhatikan tingkat stres dalam hidup Anda, dan segera mengambil langkah untuk meminimalkan. Anda juga bisa mengunjungi seorang dokter spesialis kulit untuk membantu memecahkan masalah ini.
* Mata kedutan Meskipun penyebab pasti dari mata kedutan tidak diketahui, bisa jadi ini tanda bahwa Anda perlu beristirahat dan santai. Kadang-kadang kedutan akan hilang setelah tidur nyenyak di malam hari, namun juga bisa terjadi hingga tiga minggu. Kelelahan dan berlebihan konsumsi kafein bisa menjadi penyumbang utama mata kedutan. Mengurangi hal yang bisa membuat stres adalah cara utama menghentikan kedutan ini.
* Nyeri pada gusi Stres meningkatkan kadar hormon kortisol, yang pada akhirnya menciptakan sensasi terbakar di sebluruh tubuh termasuk gusi. Hal ini juga bisa melemahkan sistem kekebalan tubuh, yang memicu pertumbuhan bakteri di mulut dan memicu iritasi serta peradangan pada gusi. Selain menggosok gigi dan berkumur dengan cairan pembersih, tingkatkan sistem kekebalan tubuh dengan makan makanan bergizi seimbang, cukup tidur dan konsumsi multivitamin.
* Mual Stres juga bisa memicu ketidaknyamanan di perut. Tingkat stres yang tinggi menunjukkan peningkatan gejala seperti sakit perut, yang sebagian disebabkan hormon yang dilepaskan akibat dari stres atau kecemasan. Tubuh menghasilkan reaksi pertahanan dari stres, yang bisa memicu jantung berdebar dan adrenalin meningkat. Olahraga adalah cara yang bagus untuk memerangi stres, termasuk mual. Makanan juga berperan penting. Jadi kurangi konsumsi kopi dan jauhi makanan yang memakai banyak bumbu. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Tue Jan 24, 2012 8:12 pm | |
| BENARKAH KANKER LEBIH BISA SEMBUH JIKA TAK DIKEMOTERAPI? Selasa, 24/01/2012 18:30 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Sebagian orang berpendapat efek samping kemoterapi lebih besar dibandingkan manfaat yang didapatkan. Bahkan peluang untuk kanker sembuh dengan sendirinya diyakini justru lebih tinggi jika dibiarkan tanpa kemoterapi. Benarkah demikian? Berbagai tulisan tentang hal itu banyak beredar di situs-situs maupun forum diskusi di internet. Sebagian besar mengatakan bahwa tingkat kesembuhan kanker yang diobati dengan kemoterapi hanya sekitar 3 persen, sedangkan sisanya 97 persen berakhir dengan kegagalan. Angka ini kemudian dibandingkan dengan data lain yang menunjukkan bahwa peluang kanker untuk sembuh sendiri tanpa diobati. Menurut sebuah data dari Norwegia, 22 persen kanker payudara mengalami spontaneus remission atau sembuh dengan sendirinya.
Perbandingan ini memunculkan dugaan bahwa keberhasilan kemoterapi tidak hanya rendah, tetapi sekaligus juga menurunkan peluang bagi tubuh untuk memerangi sel kanker itu sendiri. Faktanya, obat kemoterapi memang menurunkan sistem kekebalan tubuh. Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia, Dr Drajat Ryanto Suardi, SpB(K)Onk membenarkan bahwa efek samping obat kemoterapi bisa menurunkan daya tahan tubuh. Namun jika dikatakan bahwa peluang keberhasilan kemoterapi hanya 3 persen, dengan tegas ia membantah. "Bisa saya katakan, data itu tidak benar. Ada banyak faktor yang mempengaruhi efektivitas dan tingkat kesembuhan kemoterapi dan sejauh ini tidak ada data ilmiah yang mengatakan demikian," tegas Dr Drajat saat dihubungi detikHealth, Selasa (24/1/2012).
Salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan kemoterapi menurut Dr Drajat adalah jenis sel kanker dan sensitivitasnya terhadap obat. Limfoma malignant (kanker getah bening) dan kanker payudara misalnya, jika diambil angka secara kasar kasar rata-rata tingkat keberhasilan kemoterapinya bisa mencapai 50 persen. Faktor berikutnya adalah grade atau tingkat keganasan kanker (sifat kanker) yang terdiri dari 3 grade, makin rendah grade kankernya maka tingkat keberhasilan kemoterapi makin tinggi. Kedua faktor tersebut, grade dan jenis kanker ditentukan berdasarkan hasil biopsi atau pemeriksaan sampel jaringan. Selain itu, stage atau stadium kanker yang terdiri dari 4 stadium juga mempengaruhi keberhasilan kemoterapi. Sebagai contoh untuk kanker payudara, stadium 1 punya tingkat keberhasilan antara 80-85 persen sehingga pemeriksaan dini akan sangat menentukan peluang kesembuhan.
Tak kalah pentingnya, kebulatan tekad pasien dalam menjalani kemoterapi juga sangat menentukan tingkat keberhasilan. Menurut Dr Drajat, jika pasien punya tekad kuat untuk sembuh maka tanpa disadari tubuhnya akan membantu melakukan fight atau perlawanan terhadap sel kanker. Terkait pendapat bahwa peluang kesembuhan kanker bisa lebih tinggi jika dibiarkan tidak diobati, Dr Drajat kurang sependapat. Bahkan ketika pasien memutuskan untuk menjalani pengobatan alternatif, pengobatan secara medis baik berupa kemoterapi, operasi maupun radioterapi tetap tidak boleh ditinggalkan. "Pada dasarnya tidak ada larangan untuk melakukan pengobatan alternatif. Kapan saja mau dilakukan boleh-boleh saja, yang penting medisnya jangan ditinggalkan karena kalau hanya mengandalkan alternatif itu kan belum ada bukti ilmiahnya," pesan Dr Drajat. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Wed Jan 25, 2012 8:51 pm | |
| KENALI 6 PEMICU NYERI Lusia Kus Anna | Rabu, 25 Januari 2012 | 11:56 WIB Kompas.com - Rasa nyeri memang tidak bisa dilihat, namun saat kita merasakannya, sulit untuk memikirkan hal lain selain nyeri. Sebenarnya nyeri merupakan sinyal bahwa tubuh kita memerlukan perhatian. "Kebanyakan dokter hanya meresepkan obat untuk menutupi nyerinya. Solusi terbaik sebenarnya adalah mengatasi akar masalahnya," kata Jacob Teitelbaum, penulis buku Real Cause, Real Cure. Bila Anda merasakan nyeri kronik yang sudah berlangsung sekitar enam bulan atau nyeri akut yang diakibatkan cedera atau gerakan yang berlebihan, sebaiknya hindari penggunaan pereda nyeri terus menerus. Simak enam pemicu nyeri berikut.
1. Rasa marah Menyimpan rasa marah ternyata bisa menyebabkan timbulnya perasaan nyeri pada punggung. Dalam penelitian, orang-orang yang memilih untuk memendam rasa marahnya mengalami tekanan lebih pada otot-otot di sepanjang tulang belakang.
2. Sikap tubuh yang salah Penggunaan komputer yang terlalu lama tanpa diimbangi sikap tubuh yang benar bisa menyebabkan nyeri. Meski duduk diam bukan sebuah aktivitas fisik yang mengerahkan tenaga, ternyata sikap statis dalam waktu lama akan mengganggu aliran darah dan kelenjar getah bening sehingga otot menjadi tegang dan kaku.
4. Si ponsel pintar Berkat si ponsel pintar, kini kita semakin mudah terhubung dengan teman dan mencari informasi terbaru. Namun, ponsel pintar ini ternyata juga menjadi biang keladi rasa nyeri. Hal ini terutama jika Anda terbiasa "memegang" ponsel dengan cara menjepitnya di antara pundak dan telinga sehingga kedua tangan bebas melakukan pekerjaan lain. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut akan menyebabkan ketegangan pada bagian leher, pundak, bahkan pergelangan tangan. Siasati dengan menggunakan earphone jika Anda berniat ngobrol dalam waktu agak lama.
5. Berpikir buruk Catasthorphing, atau meyakini situasinya lebih buruk dari kenyataan bukan hanya menambah rasa stres tapi juga menganggu kemampuan seseorang untuk menghadapi keseharian. Berbagai studi telah mengaitkan catastrophizing dengan meningkatnya persepsi akan rasa nyeri. "Emosi dan nyeri diproses dalam area otak yang sama. Sehingga jika kita stres atau cemas, secara alami kita juga akan merasakan nyeri fisik," kata Andrew Bertagnolli, anggota dewan kepala American Chronic Pain Association.
6. Kurang tidur Tubuh kita menghasilkan hormon pertumbuhan saat kita sedang tidur. Hormon ini diperlukan jaringan tubuh untuk memperbaiki sel-sel yang rusak sekaligus mengatasi rasa nyeri. Karena itu orang yang menderita insomnia beresiko tiga kali lipat menderita nyeri kronik. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Thu Jan 26, 2012 8:08 pm | |
| MAU LANGSING? BANGUNLAH LEBIH PAGI TRIBUNnews.com – Sen, 19 Sep 2011 07.46 WIB TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Anda merasa badan gemuk dan ingin menjadi lebih langsing? Ada cara yang cukup mudah dan sederhana yang dapat dilakukan. Para ahli di Inggris menganjurkan, mulailah membiasakan diri untuk bangun dan beraktivitas lebih pagi setiap hari. Percaya atau tidak, menurut sebuah studi terbaru dari London, mereka yang terbiasa bangun lebih pagi akan memiliki bentuk tubuh lebih ramping, lebih bahagia, dan sehat ketimbang mereka yang terbiasa bangun di siang hari. Para peneliti di Universitas Roehampton Inggris menyimpulkan, bangun pagi juga memberikan manfaat lain seperti misalnya tiba di tempat kerja tepat waktu, menyiapkan segala keperluan sekolah anak lebih awal, dan menyelesaikan pekerjaan rumah lebih cepat. Peneliti menambahkan, pada orang yang mempunyai kebiasaan begadang hingga larut malam, biasanya akan cenderung memiliki perasaan tertekan atau stres lebih tinggi dan berpotensi mengalami kelebihan berat badan. Dalam pengamatannya, peneliti telah mewawancarai 1.068 orang dewasa terkait kesehatan dan kebiasaan tidur mereka. Hasilnya diketahui bahwa mereka yang terbiasa bangun pagi umumnya rata-rata mengawali aktivitas lebih awal, lebih bahagia dan bobot yang lebih ideal. "Ada orang pagi dan orang malam. Mereka yang biasa bangun pagi cenderung lebih sehat dan bahagia serta memiliki indeks massa tubuh lebih rendah," ucap salah seorang peneliti, Dr Joerg Huber. Dalam konferensi British Psychological Society, Huber menjelaskan alasan mengapa yang rutin bangun pagi lebih beruntung dan punya kualitas hidup lebih baik. Hal itu merujuk pada fakta bahwa melakukan tugas-tugas rutin di pagi hari dan mengurus anak di saat yang tepat justru membantu membuat tubuh menjadi lebih bugar di tengah ketatnya kehidupan modern. "Mungkin tipe orang yang rutin bangun pagi lebih cocok untuk dunia industri seperti saat ini, ketimbang mereka yang bangun kesiangan," tegasnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Fri Jan 27, 2012 7:23 pm | |
| BERAPA LAMA IDEALNYA WAKTU OLAH RAGA? Lusia Kus Anna | Jumat, 27 Januari 2012 | 12:52 WIB Kompas.com - Aktivitas fisik merupakan kegiatan yang wajib dilakukan untuk menyeimbangkan asupan kalori dengan energi yang dikeluarkan. Namun, apakah waktu 30 menit seperti panduan para pakar sudah cukup untuk mencegah kegemukan Panduan olahraga selama 30 menit setiap hari, seperti yang disarankan para pakar di Amerika Serikat, pada dasarnya ditujuan untuk meningkatkan kebugaran dan mencegah risiko penyakit kronik. Pola makan yang buruk serta gaya hidup kurang aktif akan menyebabkan ketidakseimbangan energi, yakni lebih banyak kalori yang masuk daripada yang dikeluarkan. Akibatnya terjadi penumpukan lemak yang memicu kegemukan. Namun, sebenarnya waktu olahraga 30 menit itu bukan hal yang baku. Durasinya pada kasus tertentu bisa ditingkatkan lagi. "Olahraga 30 menit setiap hari berlaku untuk semua orang dewasa. Ada beberapa studi ilmiah yang menujukkan durasi tersebut bermanfaat," kata Russell Pate, anggota komite pembuat panduan diet dan gizi. Bila dilakukan secara teratur setiap hari, aktivitas fisik selama 30 menit akan menjaga berat badan, menurunkan risiko penyakit jantung, diabetes, osteoporosis, serta hipertensi. "Tetapi bagi mereka yang sudah melakukan olahraga selama 30 menit namun berat badannya masih bertambah, maka durasinya harus ditambah misalnya menjadi 60 menit," kata Pate. Spektrum durasi olahraga yang disarankan mencapai 90 menit. "Rekomendasi olahraga 90 menit setiap hari ditujuan untuk mereka yang memang kegemukan agar berat badannya tetap terjaga dalam jangka panjang," paparnya. Data yang berasal dari National Weight Loss Registry mengindikasikan bahwa orang yang kegemukan berhasil menurunkan berat badannya jika tingkat aktivitas fisik mereka tinggi. "Apa pun aktivitasnya, yang penting tubuh Anda bergerak aktif sehingga cukup untuk membuat detak jantung dan napas meningkat," kata Rick Hall, ahli gizi terdaftar. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Feb 05, 2012 6:10 pm | |
| INILAH 5 JENIS KANKER PALING MEMATIKAN Bramirus Mikail | Inggried Dwi Wedhaswary | Minggu, 5 Februari 2012 | 08:56 WIB KOMPAS.com - Kanker merupakan salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengestimasi, 84 juta orang meninggal akibat kanker dalam rentang waktu 2005 dan 2015. Kanker bisa diderita oleh siapa saja tanpa memandang usia, jenis kelamin dan status sosial. Di Hari Kanker sedunia yang jatuh setiap tanggal 4 Februari, WHO mencatat bahwa hampir 80 persen kematian akibat kanker datang dari negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah. Bahkan, seperempat di antaranya terjadi sebelum usia 60 tahun. Sebagian besar kasus kanker umumnya muncul karena kebiasaan dan pola hidup yang tidak sehat. Tetapi dengan memodifikasi gaya hidup, sebesar 30 persen risiko kanker bisa dicegah. Menyambut hari kanker sedunia, WHO mengumumkan 5 (lima) jenis kanker yang menempati peringkat teratas dengan jumlah kematian tertinggi:
1. Kanker Paru-paru (1,4 juta kematian) Ini adalah jenis kanker paling mematikan baik bagi pria mau pun wanita. Setiap tahun, lebih banyak orang yang meninggal karena kanker paru-paru ketimbang kanker payudara, usus besar, dan kanker prostat (sekalipun ketiganya digabungkan). Merokok adalah penyebab utama kanker paru-paru. Semakin banyak rokok yang Anda hisap setiap hari dan semakin awal Anda mulai merokok, semakin besar risiko terkena kanker paru-paru. Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa merokok dengan rendah kandungan tar dapat menurunkan risiko kanker paru.
2. Kanker Perut (740.000 kematian) Beberapa jenis kanker diketahui dapat mempengaruhi lambung. Adenokarsinoma adalah tipe paling umum untuk kanker perut. Perkembangan kanker ini umumnya ditemukan pada lapisan lambung. Seiring berjalannya waktu, keberadaan kanker ini mulai meredup. Para ahli berpikir, penurunan ini mungkin dipicu karena perubahan gaya hidup seperti mengurangi asupan garam dan merokok.
3. Kanker Hati (700.000 kematian) Dalam kebanyakan kasus, penyebab kanker hati disebabkan karena sirosis, yang merupakan hasil akhir dari kerusakan hati kronis yang disebabkan oleh penyakit hati kronis. Penyalahgunaan alkohol adalah penyebab paling umum dari sirosis hati.
4. Kanker Kolorektal (610.000 kematian) Kanker kolorektal bisa mulai tumbuh dari usus besar (kolon) atau rektum (ujung usus besar). Awalnya, hampir semua kanker kolorektal jinak (polip), namun lama kelamaan berkembang menjadi kanker. Kanker ini merupakan jenis kanker terbesar ketiga dunia dari segi jumlah penderitanya. Kanker kolorektal juga merupakan penyebab kematian nomor dua dua dunia, di mana faktor usia turut mempengaruhi.
5. Kanker Payudara (460.000 kematian) Kanker payudara adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak maupun jaringan ikat pada payudara. Di Indonesia, kanker payudara masih menjadi penyakit mematikan nomor satu pada perempuan. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11775 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Feb 05, 2012 6:11 pm | |
| PERUBAHAN GAYA HIDUP 30% CEGAH KANKER Pieter P Gero | Nasru Alam Aziz | Jumat, 3 Februari 2012 | 22:49 WIB JENEWA, KOMPAS.com -- Perubahan dalam gaya hidup berkontribusi 30 persen terhadap pencegahan kanker. Demikian penegasan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dikeluarkan di Jenewa, Swiss, Jumat (3/2/2012), menjelang peringatan Hari Kanker Dunia. Sebagaimana dilaporkan kantor berita AFP, di antara faktor risiko kunci kanker adalah kebiasaan merokok dan menenggak alkohol. Juga karena diet ketat atas sayur-sayuran dan buah segar, serta kurangnya berolahraga. Kebiasaan merokok merupakan faktor risiko kunci penyebab kanker dan sejauh ini menyumbang 22 persen kematian akibat kanker secara global, dan 71 persen kematian akibat kanker paru-paru. Mengurangi kebiasaan merokok akan sangat membantu mengurangi angka kematian karena kanker. Begitu juga dengan lebih mengonsumsi buah dan sayuran serta meningkatkan aktivitas berolahraga bisa mengurangi kanker. Mengutip angka statistik tahun 2008, kanker menjadi penyebab kematian 7,6 juta orang di seluruh dunia pada tahun itu. Jumlah ini meningkat 13 persen dari total kematian global. Kanker paru-paru, perut, hati, usus dan payudara menjadi penyebabkan kematian yang utama. Sekitar 70 persen dari seluruh kematian akibat kanker tahun 2008 lalu, dialami di negara-negara penghasilan rendah atau menengah. WHO mempridiksi kematian akibat kanker akan terus meningkat, dan diperkirakan akan menyebabkan 13,1 juta orang meninggal karena kanker pada tahun 2030. |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |