Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Asal Tahu Saja

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1 ... 26 ... 48, 49, 50, 51, 52, 53  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 4:45 pm

RUMAH SAKITPUN SUMBER PENYAKIT!!
Abdi Susanto | Jumat, 24 April 2009 | 17:06 WIB
GARUT, KOMPAS.com - Kepala Unit Pengelola Teknis Daerah (UPTD) Farmasi, Dinas Kesehatan Garut, Wowo Karsono, mengimbau, di Garut, Jumat, agar warganya mewaspadai bahaya "nosokomial" berupa penyakit yang bersumber dari rumah sakit. Rumah sakit-pun merupakan sumber dari berbagai jenis penyakit, sehingga kerap diingatkan agar anggota masyarakat tidak membesuk pasien yang tengah dirawat inap dengan membawa anak kecil, karena kondisi bakteri yang berterbangan di lingkungan rumah sakit sangat membahayakan orang sehat. Namun kenyataannya, banyak masyarakat yang berdatangan bersama keluarganya membesuk, termasuk membawa anak balita ketika membesuk pasien, bahkan mereka ikut menginap dengan menggelar tikar di lantai rumah sakit. Idealnya, para pembesuk, terutama yang tempat tinggalnya jauh sebaiknya tidur di penginapan, sedangkan kegiatannya membesuk pasien bisa dilakukan hanya pada waktu tertentu sesuai dengan yang dijadwalkan pihak rumah sakit.

Diingatkannya, kualitas bakteri di rumah sakit lebih ganas dibanding yang umum karena sebelumnya telah berkompetisi secara alami dengan bakteri lainnya, sehingga memiliki keunggulan dan berhasil hidup mengalahkan bakteri lain. Oleh sebab itu, proses pengobatan atau penyembuhan penderita penyakit nosokomial, tidak bisa dilakukan seperti pasien biasa, melainkan memerlukan proses perawatan khusus, ungkap Wowo. Karena itu, para dokter, perawat serta bidan maupun para medis yang bertugas di rumah sakit tergolong kalangan komunitas yang sangat rawan tertular penyakit. Itulah sebabnya, mereka sering menjalani pemeriksaan umum atau "general check up", dengan jaminan kesejahteraannya lebih tinggi dibandingkan pekerja di kantor yang tidak beresiko tertular penyakit, katanya.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 4:46 pm

HATI HATI SAAT MEMBESUK, NOSOKOMIAL MENGINTAI
Benny N. Joewono | Jumat, 24 April 2009 | 15:59 WIB
GARUT, KOMPAS.com — Kepala Unit Pengelola Teknis Daerah (UPTD) Farmasi Dinas Kesehatan Garut Wowo Karsono mengimbau, di Garut, Jumat (24/4), agar warganya mewaspadai bahaya "nosokomial", yaitu penyakit yang bersumber dari rumah sakit. "Rumah sakit-pun merupakan sumber dari berbagai jenis penyakit sehingga kerap diingatkan agar anggota masyarakat tidak membesuk pasien yang tengah dirawat inap dengan membawa anak kecil karena kondisi bakteri yang beterbangan di lingkungan rumah sakit sangat membahayakan orang sehat," katanya. Namun kenyataannya, banyak masyarakat yang berdatangan bersama keluarganya membesuk, termasuk membawa anak balita ketika membesuk pasien, bahkan mereka ikut menginap dengan menggelar tikar di lantai rumah sakit. Idealnya, para pembesuk yang tempat tinggalnya jauh sebaiknya tidur di penginapan, sedangkan kegiatannya membesuk pasien bisa dilakukan hanya pada waktu tertentu sesuai dengan jadwal besuk pihak rumah sakit.

Diingatkannya, kualitas bakteri di rumah sakit lebih ganas dibanding yang umum karena sebelumnya telah berkompetisi secara alami dengan bakteri lainnya sehingga memiliki keunggulan dan berhasil hidup mengalahkan bakteri lain. "Oleh sebab itu, proses pengobatan atau penyembuhan penderita penyakit nosokomial tidak bisa dilakukan seperti pasien biasa, melainkan memerlukan proses perawatan khusus," ungkap Wowo. Karena itu, para dokter, perawat, dan bidan maupun para medis yang bertugas di rumah sakit tergolong kalangan komunitas yang sangat rawan tertular penyakit. Itulah sebabnya, mereka sering menjalani pemeriksaan umum atau general check-up, dengan jaminan kesejahteraannya lebih tinggi dibandingkan pekerja di kantor, yang tidak berisiko tertular penyakit.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 4:48 pm

INFEKSI DI RS MENGANCAM PASIEN
Asep Candra | Rabu, 4 Juni 2008 | 16:16 WIB
Kompas.com - RUMAH sakit sebagai tempat perawatan dan penyembuhan pasien ternyata rentan terjadinya infeksi penyakit. Infeksi di rumah sakit (Health-care Associated Infections/HAIs) merupakan persoalan serius karena dapat menimbulkan kematian pasien. Menurut keterangan Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Farid W Husain saat peluncuran kampanye pengendalian infeksi nosokomial di Jakarta, Rabu (5/6), kasus infeksi di rumah sakit (nosokomial) pada pasien yang menjalani rawat inap di rumah sakit di seluruh dunia saat ini diperkirakan mencapai sembilan persen. "Artinya, kasus infeksi semacam ini dialami oleh lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap di rumah sakit di seluruh dunia," ungkapnya. Di Indonesia, menurut Farid, sejauh ini belum ada data akurat tentang angka infeksi nosokomial nasional meski sejak lama sudah mengetahui dan melakukan upaya untuk mencegah dan mengendalikan masalah kesehatan tersebut. "Di sini juga ada. Hanya belum ada yang mengeluarkan datanya. Karena itu, selama kampanye diharapkan data-data sekalian bisa dikumpulkan," katanya.

Masalah infeksi di rumah sakit, lanjut Farid, adalah persoalan serius karena bisa menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien. Kalaupun tak berakibat kematian, infeksi yang bisa terjadi melalui penularan antarpasien, dari pasien ke pengunjung atau petugas dan dari petugas ke pasien, itu bisa mengakibatkan pasien dirawat lebih lama sehingga pasien harus membayar biaya rumah sakit lebih banyak. Oleh karena itu, katanya, kejadian infeksi nosokomial harus ditekan hingga seminimal mungkin dengan menerapkan strategi pencegahan dan pengendalian infeksi yang tepat. "Supaya tidak ada lagi infeksi, semua yang ada di rumah sakit harus tahu cara mencegah dan mengendalikannya, baik itu perawat, dokter, petugas laboratorium, penjaga, pasien, maupun pengunjungnya," kata Farid.

Ia menambahkan, untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran petugas kesehatan akan ancaman infeksi nosokomial, mulai tahun ini Departemen Kesehatan melakukan kampanye dengan memberikan pendidikan dan pelatihan pengendalian infeksi di rumah sakit bagi tenaga kesehatan di rumah sakit. Pada tahap awal, kampanye yang akan dilakukan bekerja sama dengan MRK Diagnostics dan The Deutsche Gesellschaft fur Technische Zusammenarbeit (GTZ) itu dirancang untuk mengubah perilaku petugas kesehatan di 100 rumah sakit selama Juni 2008-Oktober 2009. "Target awalnya 100 rumah sakit dan selanjutnya ini akan dilakukan terus-menerus di seluruh rumah sakit," katanya. Ia menambahkan, Departemen Kesehatan dalam hal ini telah menetapkan Rumah Sakit Umum Pendidikan (RSUP) Adam Malik Medan, RSUP dr Hasan Sadikin Bandung, RSUP dr Sardjito Yogyakarta, RSUP dr Sutomo Surabaya, dan RSUP Sanglah Denpasar sebagai pusat pelatihan regional pencegahan dan pengendalian infeksi.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 4:49 pm

KENDALIKAN INFEKSI DI RS
Rabu, 4 Juni 2008 | 14:09 WIB
Kompas.com - JAKARTA, RABU - Untuk menjamin keselamatan pasien di rumah sakit, Departemen Kesehatan bekerja sama dengan PT MRK Diagnostic meluncurkan program NICE (No Infection Campaign and Education). Program ini dirancang untuk mengubah perilaku petugas kesehatan di seratus rumah sakit selama Juni 2008 sampai Oktober 2009. Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik Departemen Kesehatan Farid W Husain, pada peluncuran program NICE sekaligus seminar yang diikuti sekitar 150 peserta dari Depkes, berbagai rumah sakit dan laboratorium klinik , Rabu (4/6), di Hotel Four Season, Jakarta, menyambut baik program NICE yang bertujuan memberi informasi dan kesadaran bagi semua staf di rumah sakit dan sarana pelayanan kesehatan lain tentang bahaya dan risiko infeksi yang didapat di RS sekaligus untuk memperoleh data kejadiannya di RS. Infeksi yang diperoleh saat berada di rumah sakit (Health Care Associat ed Infection atau HAI) merupakan persoalan serius yang menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien. Meski sejumlah kejadian infeksi nosokomial tidak menyebabkan kematian pasien, namun menyebabkan pasien dirawat lebih lama. Hal ini mengakibatkan pasien harus membayar lebih mahal, ujar Farid. Pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan penunggu pasien merupakan kelompok yang berisiko mendapat infeksi nosokomial. Infeksi ini dapat terjadi melalui penularan dari pasien kepada petugas, dari pasien ke pasien lain, dari pasien kepada pengunjung atau keluarga maupun dari petugas kepada pasien. Saat ini, infeksi nosokomial di rumah sakit di seluruh dunia lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap.

Sejauh ini, Depkes telah memiliki program patient safety (keselamatan pasien). Salah satu pilar menuju keselamatan pasien adalah revitalisasi program pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit (PPI RS). Melalui program ini, diharapkan infeksi nosokomial (infeksi yan g didapat dan atau timbul pada waktu pasien dirawat di rumah sakit), dapat ditekan serendah mungkin. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat menerima pelayanan kesehatan secara optimal. Depkes juga memiliki kebijakan nasional dengan diterbitkannya Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 270 Tahun 2007 mengenai pedoman manajerial PPI di RS dan fasilitas pelayanan kesehatan lain, serta Keputusan Menkes Nomor 381 Tahun 2007 tentang pedoman PPI di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lain. Ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah untuk memberi layanan bermutu pada masyarakat agar tiap rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lain dapat menjalankan program pencegahan dan pengendalian infeksi, katanya. (EVY)
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 4:50 pm

PROGRAM PENCEGAHAN DAN PENGENDALIAN INFEKSI NOSOKOMIAL MERUPAKAN UNSUR PATIENT SAFETY
Jakarta, 7 November 2011
Infeksi masih merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kesakitan di rumah sakit dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Di Indonesia, infeksi merupakan salah satu penyebab utama kematian ibu dan bayi baru lahir. Selain itu, menyebabkan perpanjangan masa rawat inap bagi penderita. Resiko infeksi di rumah sakit atau yang biasa dikenal dengan infeksi nosokomial merupakan masalah penting di seluruh dunia. Infeksi ini terus meningkat dari 1% di beberapa Negara Eropa dan Amerika, sampai lebih dari 40% di Asia, Amerika Latin dan Afrika. Demikian sambutan Menkes pada Seminar Sehari Patient Safety dan Pencegahan Pengendalian Infeksi, di Jakarta (7/11). Acara ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin). Seminar diikuti perwakilan organisasi profesi dan para Dikrektur Rumah Sakit. Turut hadir pada acara ini, Guru Besar Kedokteran dan Epidemiologi Rumah Sakit di Jenewa, Swiss, Prof. Didier Pittet dan Ketua Perdalin Prof. Dr. Djoko Widodo.

Menkes mengatakan, orang-orang yang berada di lingkungan rumah sakit, seperti pasien, petugas kesehatan, penunggu/pengunjung sangat berisiko terinfeksi Health-care Associated Infections (HAIs). "Dengan pelaksanaan program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), permasalahan tersebut diharapkan dapat diatasi sebagai bentuk dari patient safety," ujar Menkes. Menkes menegaskan, tujuan utama pengembangan program patient safety di rumah sakit dan fasyankes lainnya adalah, menciptakan budaya patient safety; memperbaiki akuntabilitas rumah sakit; menurunkan angka HAIs dan melakukan pencegahan agar ’kejadian yang tidak diinginkan’ tidak terulang kembali. Menkes menyebutkan 5 isu utama Patient Safety yaitu: safety untuk pasien, safety untuk petugas kesehatan, safety untuk institusinya, safety untuk lingkungan dan safety untuk bisnis. "Kemkes telah menetapkan kebijakan pengembangan Program PPI di RS. Pengelola RS wajib menyelenggarakan PPI serta membentuk komite dan tim PPI di RS," tambah Menkes.

Tujuan dari Program PPI adalah untuk Meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit dan fasilitas kesehatan lainnya melalui pencegahan dan pengendalian infeksi; Melindungi sumber daya manusia kesehatan dan masyarakat dari penyakit infeksi yang berbahaya; serta Menurunkan angka kejadian Infeksi Nosokomial. “Ruang lingkup dari Program PPI meliputi Pencegahan Infeksi, Pendidikan dan Pelatihan, Surveilans, dan Penggunaan Obat Antibiotik secara Rasional”, terang Menkes. Menkes mengatakan, pelaksanaan peningkatan program PPI saat ini memiliki tantangan di masa mendatang. Jumlah rumah sakit dan fasyankes sangat banyak dan terus bertambah, serta keterbatasan sumber daya manusia yang terampil di bidang HAIs. Untuk itu, perlu pelatihan – pelatihan agar didapat tenaga kesehatan yang profesional dan terampil. Menkes menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak dalam mengupayakan program PPI. Menkes berharap, melalui seminar ini timbul komitmen dan peran serta semua pihak

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon : 021-52907416-9, faks : 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): 021-500567, atau alamat e-mail : kontak@ depkes.go.id.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 4:50 pm

SARUNG TANGAN TIDAK MENJAMIN KEBERSIHAN TANGAN DOKTER
Rabu, 09/11/2011 13:07 WIB Adelia Ratnadita - detikHealth
London, Dokter dan petugas kesehatan biasanya menggunakan sarung tangan lateks sekali pakai (disposable) saat memeriksa pasien agar terbebas dari kontaminasi bakteri dari pasien sebelumnya. Namun, ternyata penggunaan sarung tangan lateks tidak menjamin kebersihan tangan pada para petugas kesehatan. Sebuah studi baru menemukan bahwa mengenakan sarung tangan lateks membuat petugas kesehatan jadi jarang membersihkan tangannya sebelum dan setelah merawat pasien. Bakteri ternyata dapat melakukan perjalanan melalui sarung tangan lateks. Karena sarung tangan sering dipakai bila dokter bekerja maka cairan tubuh pasien dengan penyakit menular kadang menempel di tangan. "Akibat melepas sarung tangan lateks juga dapat menyebabkan back spray effect, di mana cairan tubuh dari pasien yang mengandung bakteri dan virus terpapar ke tangan pemakainya," kata peneliti seperti dilansir dari TheNewYorkTimes, Rabu (9/11/2011).

Akibatnya, dokter dan perawat yang tidak mencuci tangan setelah menggunakan sarung tangan lateks dapat menyebarkan infeksi melalui tangan yang terkontaminasi, kata Dr. Sheldon Stone, seorang dosen senior dari department of medicine di Royal Free Campus of University College London Medical School. "Selama ini kita berasumsi bahwa, jika seorang petugas kesehatan telah mengenakan sarung tangan berarti kita terlindung dari infeksi. Namun, pada kenyataannya tangan tangan petugas kesehatan dapat sangat kotor," kata Dr Stone. Penelitian tersebut merupakan penelitian besar yang mengamati penggunaan sarung tangan di rumah sakit dan dampaknya terhadap kebersihan tangan. Para peneliti mengamati lebih dari 7.000 interaksi dokter dan pasien di 56 bangsal di 15 rumah sakit di Inggris dan Wales. Hasil penelitian tersebut akan dipublikasikan dalam Journal Infection Control and Hospital Epidemiology edisi Desember.

Para peneliti menemukan tingkat mencuci tangan secara keseluruhan hanya 47,7 persen terlepas apakah dengan menggunakan sarung tangan atau tidak. Hal tersebut sama dengan tingkat kepatuhan untuk kebersihan tangan di rumah sakit Amerika yang rata-rata sekitar 40 persen. Tetapi studi terbaru menemukan ketika petugas kesehatan menggunakan sarung tangan, maka kegiatan mencuci tangan di 15 rumah sakit yang dilibatkan untuk penelitian mengalami penurunan menjadi sekitar 41 persen. "Sarung tangan sering digunakan ketika kontak dengan cairan tubuh atau pasien yang paling infektif, seperti pasien MRSA. Jadi pada kelompok pasien atau situasi klinis di mana lebih mungkin berkontak dengan bakteri dan virus yang berpotensi tersebar, petugas kesehatan seharusnya mencuci tangan setelah menangani pasien tersebut," kata Dr. Stone.

Studi tersebut menemukan petugas kesehatan memakai sarung tangan pada seperempat dari semua kontak dengan pasien. Dan sekitar 60 persen kasus tersebut petugas kesehatan tidak membersihkan tangan mereka baik sebelum atau setelah menangani pasien. Banyak interaksi yang diamati dalam penelitian tersebut yang mengambil tempat di bangsal perawatan intensif yang penuh dengan pasien lansia. "Hal tersebut sangat membahayakan pasien, dimana pasien mempunyai risiko tertinggi mengalami infeksi ketika berada di rumah sakit," kata Dr. Stone. "Tidak jelas mengapa dokter, perawat dan petugas rumah sakit lainnya kurang mempunyai kesadaran untuk mencuci atau mendesinfeksi tangan mereka sebelum dan setelah mengenakan sarung tangan. Mungkin hal tersebut dipengaruhi oleh kesalahpahaman yang tersebar luas pada kalangan petugas kesehatan bahwa sarung tangan kedap terhadap bakteri patogen," kata Dr Stone dan rekannya. Sarung tangan memang menurunkan tingkat kontaminasi tangan, namun bakteri dan virus masih dapat melaluinya. Kelalaian petugas kesehatan yang tidak mencuci tangan terlebih dahulu sebelum dan sesudah mengenakan sarung tangan lateks tidak hanya terjadi di Inggris saja, namun juga hampir pada seluruh negara.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 5:01 pm

DOKTER LUPA CUCI TANGAN, PASIEN TERANCAM
Asep Candra | Jumat, 12 November 2010 | 09:16 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Penanganan dari satu pasien ke pasien lainnya dan kondisi lingkungan di rumah sakit menjadikan tangan para dokter dan perawat rentan menjadi media penularan kuman penyakit. Walau kebiasaan menjaga kebersihan tangan terbukti dapat mengurangi penyebaran kuman patogen di fasilitas-fasilitas kesehatan. Namun, kesadaran tenaga kesehatan menjalankan prosedur mencuci tangan selama bekerja masih relatif rendah. Studi di beberapa negara menunjukkan, tingkat kebiasaan mencuci atau membersihkan tangan di kalangan pekerja kesehatan di rumah sakit masih di bawah 50 persen. Kondisi yang mirip juga terjadi di Indonesia. Hasil riset yang dilakukan Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin) pada Januari-Februari 2010 di Rumah Sakit Ciptomangunkusumo (RSCM) menunjukkan, tingkat kepatuhan para dokter membersihkan tangan masih di bawah 40 persen, sedangkan kepatuhan para perawat rata-rata mencapai 60 persen. Fenomena ini cukup memprihatinkan, padahal infeksi di lingkungan rumah sakit atau disebut infeksi nosokomial dapat menimbulkan efek yang fatal dan beban yang sangat besar. Di Amerika Serikat saja, infeksi di rumah sakit ditengarai membunuh lebih banyak daripada HIV. Sebuah riset menyebutkan, setiap tahunnya sekitar 48.000 orang meninggal karena infeksi yang didapat selama mereka berobat ke rumah sakit. Diperkirakan, sepertiga dari 1,7 juta infeksi di negeri Paman Sam itu merupakan infeksi nosokomial.

Kampanye di kalangan tenaga medis
Dalam upaya meningkatkan kesadaran tenaga kesehatan menjaga kebersihan tangan dan mencegah infeksi, Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indonesia (Perdalin) dan Bayer Schering Pharma bekerjasama dalam sebuah kampanye yang ditujukan kepada dokter dan perawat di beberapa rumah sakit di Indonesia. Peluncuran program kampanye kebersihan tangan dan pengendalian infeksi tesebut diluncurkan Kamis (11/11/2010) kemarin di Jakarta. Kampanye ini juga merupakan bentuk dukungan pada program Save Lives: Clean Your Hands dari the World Health Organization yang bertujuan untuk meningkatkan kebiasaan tenaga medis membersihkan tangan pada waktu-waktu tertentu dan dengan cara yang benar. ”Melalui kampanye ini, kami berharap para dokter dan perawat di Indonesia akan lebih memahami dan meningkatkan kepeduliannya dalam menjaga kebersihan tangan untuk mengendalikan penyebaran infeksi di lingkungan rumah sakit, serta lebih gencar lagi mengingatkan pasien untuk rajin mencuci tangan untuk menghindari penularan penyakit,” ungkap Ketua Perdalin, Djoko Widodo.

Djoko menambahkan, penularan mikro organisme dalam lingkungan rumah sakit melalui tangan pekerja kesehatan dapat terjadi dengan berbagai cara. Awalnya, kuman berpindah dari tangan atau kulit pasien ke barang-barang yang ada di sekitar pasien seperti pakaian, tempat tidur, selimut, dan lain-lain. Kemudian, dokter atau perawat pun terkontaminasi saat melakukan pemeriksaan atau perawatan rutin dengan menyentuh kulit pasien atau barang-barang di sekitarnya, meski mereka menggunakan sarung tangan sekalipun. Kuman penyakit dapat bertahan di tangan para pekerja kesehatan selama setidaknya beberapa menit setelah kontaminasi terjadi. "Karena itu, membersihkan tangan yang dikenal sebagai 5 momen, yaitu 1) sebelum kontak dengan pasien, 20 sebelum tindakan asepsis, 3) setelah terkena cairan tubuh pasien, 4) setelah kontak dengan pasien, dan 5) setelah kontak dengan lingkungan sekitar pasien merupakan prosedur yang paling utama dalam mencegah kuman berkembang biak dan menyebar di rumah sakit,” tambah Djoko. Lebih lanjut Djoko menyebut setidaknya ada empat jenis infeksi yang paling sering muncul di Rumah Sakit. "Infeksi pada saluran nafas (paru-paru), saluran darah, saluran kemih dan area bedah," ujarnya.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 5:03 pm

INFEKSI RS SEBABKAN RIBUAN KEMATIAN
Lusia Kus Anna | Anna | Rabu, 24 Februari 2010 | 07:58 WIB
KOMPAS.com — Setiap tahunnya, 48.000 orang Amerika meninggal karena infeksi yang didapat selama mereka berobat ke rumah sakit, umumnya karena keracunan darah atau penyakit pneumonia. Jumlah tersebut ditengarai lebih tinggi lagi. Ini berarti, infeksi di rumah sakit membunuh lebih banyak daripada HIV. Jenis infeksi rumah sakit yang paling umum adalah infeksi nosokomial. Diperkirakan sepertiga dari 1,7 juta infeksi di AS merupakan infeksi nosokomial. Mayoritas infeksi berasal dari penggunaan kateter dan ventilator. Beberapa jenis kuman dan bakteri yang ditemukan merupakan jenis yang sudah lama diketahui, tetapi sebagian merupakan kuman jenis baru, seperti MRSA yang disebut juga sebagai "kuman super". Sementara itu, pasien yang menjalani operasi invasif juga rentan terkena infeksi nosokomial.

"Infeksi di rumah sakit adalah sesuatu yang sebenarnya bisa dihindarkan, tetapi berakibat fatal, yakni kematian," kata Ramanan Laxminarayan PhD, MPH, anggota lembaga penelitian Resources for The Future. Ia dan timnya menganalisis data administrasi dari sumber data nasional yang meliputi data 69 juta warga Amerika Serikat di 40 negara bagian selama tahun 1998 dan 2006. Fokus penelitian ini hanya pada infeksi yang terjadi di rumah sakit, bukan infeksi yang umum terjadi di lingkungan rumah. Pakar infeksi dari John Hopkins, Peter J Pronovost MD, PhD, mengatakan, kematian akibat infeksi di rumah sakit sering kali tidak disadari publik. "Infeksi terjadi dalam satu waktu dan pasien tidak sadar bahwa mereka terinfeksi," katanya. Dalam sebuah studi yang dilakukannya, Provonost dan timnya menunjukkan, jika pihak rumah sakit mengikuti dengan benar standar prosedur keamanan dan meningkatkan higienitas, infeksi rumah sakit bisa dikurangi hingga nol kasus.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 5:06 pm

MENKES: INFEKSI NOSOKOMIAL HARUS DIKENDALIKAN
acandra | Senin, 9 November 2009 | 08:08 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih meminta pengelola rumah sakit mengerahkan semua sumber daya untuk mencegah dan mengendalikan penyakit infeksi yang terjadi di rumah sakit yang biasa disebut infeksi nosokomial. Saat memberi sambutan pada seminar tentang keselamatan pasien global di Jakarta, Minggu kemarin, Endang mengatakan langkah itu penting bagi kesehatan dan keselamatan pasien, pengunjung rumah sakit dan pemberi pelayanan di rumah sakit. Endang menjelaskan, infeksi nosokomial dapat menyebabkan pasien dirawat lebih lama sehingga mengeluarkan uang lebih banyak, pihak rumah sakit pun akan lebih besar mengeluarkan biaya untuk pelayanan dan tidak jarang berakibat kematian. Selama ini, ia melanjutkan, penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit dan pelayanan kesehatan lain masih jauh dari harapan. "Untuk itu perlu sosialisasi untuk mendapatkan komitmen dari direktur rumah sakit," katanya. Dia juga meminta direktur rumah sakit meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petugas pelayanan kesehatan dalam melakukan pencegahan dan pengendalian infeksi nosokomial. "Teknik sesuai pengetahuan dan teknologi terkini perlu digali dan ditingkatkan. Ini bisa diperoleh dengan mengikuti pelatihan, lokakarya dan seminar," katanya.

Pemimpin rumah sakit, katanya, juga harus menyiapkan sistem dan sarana/prasarana penunjang upaya pengendalian infeksi yang dapat terjadi melalui penularan penyakit dari pasien ke petugas, pasien ke pasien, dan pasien ke pengunjung atau sebaliknya. Sementara karyawan dan staf rumah sakit, lanjut dia, mesti melaksanakan pencegahan dan pengendalian infeksi sesuai prosedur yang telah ditetapkan. Pemerintah, kata dia, telah menyusun kebijakan nasional dengan menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan (Kepmenkes) RI nomor 270/2007 tentang pedoman manajerial pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit dan fasilitas kesehatan lain serta Kepmenkes Nomor 82/2007 tentang pedoman pencegahan infeksi di rumah sakit. Ia menambahkan pemerintah juga memasukkan indikator pencegahan dan pengendalian infeksi ke dalam standar pelayanan minimal rumah sakit dan bagian dari penilaian akreditasi rumah sakit.

Berdampak Besar
Guru Besar Kedokteran dan Epidemiologi Rumah Sakit dari Jenewa, Swiss Prof Didier Pitet mengatakan infeksi nosokomial berdampak besar terhadap keselamatan pasien. Menurut Dewan Penasehat Aliansi Dunia untuk Keselamatan Pasien itu, infeksi nosokomial menyebabkan 1,5 juta kematian setiap hari di seluruh dunia. Studi yang dilakukan WHO di 55 rumah sakit di 14 negara di seluruh dunia juga menunjukkan bahwa 8,7 persen pasien rumah sakit menderita infeksi selama menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara di negara berkembang, diperkirakan lebih dari 40 persen pasien di rumah sakit terserang infeksi nosokomial. Prof Pitet juga bercerita tentang anak laki-laki usia delapan tahun bernama Cal Sheridan yang harus hidup dengan keterbelakangan mental hanya karena pemeriksaan darah sederhana yang dijalani ibunya semasa hamil. Ia menjelaskan manusia cenderung melakukan kesalahan, demikian pula dalam pelaksanaan tindakan medis, apalagi dengan dukungan sistem dan fasilitas yang kurang memadai.

Kesalahan itu tentunya tidak disengaja dan tidak besar, tapi tetap bisa mencelakakan atau merugikan pasien. "Manusia memang cenderung melakukan kesalahan, tapi ini bisa diminimalkan kalau sistemnya dirancang dengan baik," kata ahli dari Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) itu. Menurut dia, WHO sudah menyusun panduan pencegahan dan pengendalian infeksi pada rumah sakit dan fasilitas kesehatan yang lain. Strategi yang terbukti bermanfaat dalam pengendalian infeksi nosokomial adalah peningkatan peran petugas kesehatan dalam pengendalian infeksi melalui penerapan prosedur kewaspadaan. Prosedur kewaspadaan itu, katanya, adalah kewaspadaan standar yang diterapkan kepada semua orang, termasuk pasien, petugas dan pengunjung rumah sakit; serta kewaspadaan berdasarkan penularan bagi pasien yang dicurigai terinfeksi. "Menjaga kebersihan dengan mencuci tangan adalah cara yang mudah dan efektif untuk mencegah infeksi dan perluasan resistensi obat antimikrobial," katanya. Ia menambahkan WHO menyarankan tenaga kesehatan menggunakan cairan berbasis alkohol untuk membersihkan tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan medis.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 5:11 pm

CUCI TANGAN, JANGAN HANYA KETIKA KOTOR!!
Minggu, 2 Oktober 2011 - 16:21 wib Lastri Marselina - Okezone
DEMI alasan kesehatan, kebiasaan mencuci tangan menggunakan sabun semestinya digalakkan sejak dari rumah. Dengan begitu anak dapat membawa kebiasaan baik tersebut seumur hidupnya. Ketika kebiasaan mencuci tangan telah mengakar, risiko penularan penyakit seperti diare, kaki gajah, pneumonia, dan masih banyak lagi, dapat diminimalisir. "Unik, orang Indonesia mencuci tangannya justru setelah makan atau bekerja. Atau kalau merasa tangannya sudah benar-benar kotor, berminyak dan berbau, terutama mereka yang tinggal di daerah urban," kata Budi Santosa perwakilan Menteri Kesehatan pada Konferensi Pers "Gerakan 21 Hari untuk Kebiasaan Sehat" oleh Lifebuoy di Tartine Restaurant, FX Lifestyle X'nter, Jakarta, belum lama ini. Kesadaran yang masih kurang terhadap kebiasaan mencuci tangan dengan sabun membuat anak-anak dan ibu mudah tertular penyakit. "Mereka hanya tahu sabun untuk mandi bukan untuk cuci tangan. Padahal, penting bagi kesehatan untuk mencuci tangan menggunakan sabun setelah dari toilet, sebelum makan, sebelum menyiapkan makanan, setelah menceboki anak, dan sebelum menyusui anak," tutupnya.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 5:16 pm

YANG PERLU DIHINDARI AGAR KEKEBALAN TUBUH TIDAK DROP
Sabtu, 05/11/2011 12:03 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Sistem kekebalan tubuh yang baik bisa menghindari orang dari berbagai penyakit. Untuk itu hindari kebiasaan berikut ini agar sistem kekebalan tubuh tidak memburuk. Menjaga tubuh tetap sehat tidak hanya menggunakan pembersih tangan dan menghindari orang yang sakit, karena ada beberapa kebiasaan kecil yang bisa memperburuk kekebalan tubuh sehingga mudah terkena penyakit. Hindari kebiasaan-kebiasaan berikut ini agar kekebalan tubuh tidak memburuk, seperti dikutip dari Foxnews, Sabtu (5/11/2011) yaitu:

1. Sering merasa lelah
Kelelahan yang dialami akibat terlalu banyak pekerjaan atau kurang tidur bisa merugikan sistem kekebalan tubuh dan menurunkan jumlah sel-sel pembunuh yang berfungsi melawan kuman.

2. Memiliki suasana hati yang buruk
Suasana hati dapat mempengaruhi kekebalan tubuh yang dimiliki, jika sering bertengkar dengan pasangan, memiliki suasana hati yang berubah-ubah dan menyimpan masalah bisa membuat sel-sel pembunuh T menjadi kurang aktif sehingga kekebalan tubuh akan berkurang.

3. Terus menerus merasa stres
Stres setiap hari akibat pekerjaan atau hubungan dengan orang lain bisa mempengaruhi imunitas. Periode stres yang ekstrem bisa mengakibatkan jumlah sel pembunuh alami menurun, sel T lebih lamban bekerja dan aktivitas makrofag berkurang yang membuat orang lebih mudah sakit.

4. Tidak pernah berolahraga
Orang yang tidak pernah olahraga atau tidak aktif akan memicu terjadinya kelebihan berat badan yang nantinya berdampak terhadap penurunan sistem kekebalan tubuh dalam melawan kuman serta penyakit.

5. Memiliki teman yang perokok
Rokok tidak hanya merugikan orang yang mengonsumsi tapi juga orang-orang disekitarnya karena asap dari rokok tetap mengandung racun dan masuk ke dalam tubuh. Asap rokok bisa memicu infeksi saluran pernapasan, serangan asma, memperburuk alergi dan menurunkan sistem kekebalan tubuh.

6. Selalu mengonsumsi antibiotik
Antibiotik adalah obat yang butuh resep dokter, jika dikonsumsi sembarangan maka akan membuat penyakit resisten dan infeksi yang lebih serius. Studi menemukan pasien yang sering minum antibiotik tertentu bisa mengurangi tingkat sitokin yaitu hormon utusan dari sistem kekebalan tubuh.

7. Terlalu serius
Peneliti menemukan emosi positif bisa menurunkan hormon stres dan meningkatkan sel-sel kekebalan tertentu, tapi jika seseorang terlalu serius dan jarang tertawa bisa memicu hormon stres yang mempengaruhi imunitas.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 5:18 pm

CARA EFEKTIF PAKAI SABUN DAN ANTISEPTIK UNTUK CUCI TANGAN
Kamis, 11/11/2010 18:00 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Sabun dan cairan antiseptik merupakan 2 bahan yang paling sering digunakan untuk cuci tangan. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan dalam mengusir kuman, sehingga dalam kondisi tertentu keduanya bisa saling melengkapi. Prof Dr Djoko Wibowo, DTM&H, SpPD-KPTI mengatakan sabun paling ampuh untuk menghilangkan minyak, lumpur dan pengotor organik yang menempel pada kulit tangan. Sebagian besar mikroba juga bisa dibasuh dengan sabun, namun tidak sebanyak antiseptik. "Sabun dan air mengalir paling bagus untuk cuci tangan, namun butuh fasilitas khusus seperti wastafel dan sebagainya," ungkap Prof Djoko, ketua Perhimpunan Pengendalian Infeksi Indionesia (Perdalin), dalam jumpa pers penandatanganan kerjasama antara Perdalin dengan Bayer Schering Pharma dalam mengkampanyekan kebersihan tangan dan pengendalian infeksi di Hotel Intercontinental, Jakarta, Kamis (11/11/2010).

Selain butuh fasilitas khusus yang tentu harganya tidak murah, cuci tangan pakai sabun juga butuh waktu lebih lama yakni 40-60 detik. Karena itu banyak petugas rumah sakit yang menjadi malas untuk cuci tangan, sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit. Cara yang lebih praktis dibandingkan pakai sabun adalah pakai cairan antiseptik berbasis alkohol. Meski tidak bisa menggantikan sabun yang ampuh mengangkat kotoran, namun bahan ini cukup praktis karena kemasannya bisa dibawa ke mana-mana bisa membersihkan tangan dari kuman hanya dalam 20 detik.

Oleh organisasi kesehatan dunia WHO, antiseptik dijadikan standar di rumah sakit dan pusat-pusat layanan kesehatan. Cairan ini mudah ditemukan di samping bed pasien dan dinding-dinding ruang perawatan, bahkan bisa dikantongi oleh dokter atau perawat. Kombinasi antara sabun dengan antiseptik akan lebih efektif mengangkat kotoran dan kuman-kuman yang berada di permukaan kulit (transient microorganism). Caranya, bersihkan dulu tangan pakai sabun selama 40-60 detik lalu bilas dengan antiseptik selama 20 detik. Untuk membersihkan kuman-kuman yang bersembunyi di lapisan kulit yang lebih dalam (resident microorganism), butuh teknik tambahan selain mengkombinasikan sabun dan antiseptik. Tekniknya adalah menggosok kulit saat mencucinya pakai sabun dan antiseptik, dengan waktu yang lebih lama yakni 120 detik.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 5:19 pm

BARU 23% ORANG INDONESIA YANG CUCI TANGAN PAKAI SABUN
Jumat, 07/10/2011 15:44 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Mesti merupakan langkah sederhana, ternyata baru 23 persen orang Indonesia yang mempraktikkan cuci tangan pakai sabun (CTPS). Padahal, dampak dari CTPS sangat besar terutama menurunkan angka kematian bayi dan balita. Cuci tangan pakai sabun (CTPS) merupakan cara paling sederhana untuk menjaga kesehatan. Sayangnya, belum banyak orang yang sadar pentingnya menerapkan gaya hidup bersih sehat ini. "Cuci tangan pakai sabun itu cara pencegahan penyakit yang sederhana. Kenapa itu penting? Pertama, CTPS itu relatif sederhana, karena tidak memerlukan alat canggih atau vaksin, cukup air mengalir dan sabun. Kedua, dampaknya sangat besar terutama untuk mencegah infeksi saluran cerna dan saluran napas, yang paling sering terjaid pada bayi dan balita," tutur Prof dr Tjandra Yoga Aditama, MPH, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemkes, pada acara jumpa pers di Gedung Kemkes, Jakarta, Jumat (7/10/2011). Menurut data Kajian Diare Ditjen PP&PL, secara umum terjadi peningkatan perilaku CTPS dari 11 persen (tahun 2007) menjadi 23 persen (tahun 2010). Artinya, masih ada 77 persen orang Indonesia yang belum menerapkan CTPS. Padahal, cara sederhana ini dapat melindungi kesehatan seluruh keluarga. Prof Tjandra menjelaskan, cuci tangan pakai sabun dapat menurunkan kasus diare hingga 47 persen, ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) dan flu burung hingga 50 persen, serta direkomendasikan untuk pencegahan flu H1N1.

Kapan harus cuci tangan pakai sabun?
Prof Tjandra mengingatkan agar masyarakat selalu mencuci tangan pakai sabun saat:
- Sebelum makan
- Sebelum menyusui
- Sebelum menyiapkan makan
- Sehabis buang air besar (BAB)
- Setelah menceboki

"Kesadaran akan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di masyarakat Indonesia masih perlu terus ditingkatkan dan dibina agar menjadi sebuah budaya yaitu, budaya bersih," tutup Prof Tjandra.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 5:20 pm

BAHAN DALAM MASKER WAJAH YANG BISA MENANGKAP VIRUS FLU
Jumat, 04/11/2011 08:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Virus flu diketahui bisa menyebar di udara dan menginfeksi orang lain. Kini peneliti berhasil menemukan bahan yang dapat menangkap virus flu di udara sebelum ia menginfeksi orang. Para ilmuwan melaporkan adanya pengembangan bahan baru untuk serat yang bisa digunakan dalam masker wajah, penyaring udara AC dan penyaring pembersih lainnya yang dapat menangkap virus flu. Hasil studi yang dilaporkan dalam ACS journal Biomacromolecules menunjukkan bahwa bahan ini bisa menangkap virus influenza sebelum ia masuk ke dalam mata, hidung dan mulut seseorang sehingga menyebabkan infeksi. Xuebing Li, Peixing Wu dan rekan berusaha melakukan pendekatan baru dengan menggunakan zat yang disebut chitosan, zat ini terbuat dari cangkang udang tanah, seperti dikutip dari ScienceDaily, Kamis (3/11/2011). Para ilmuwan menggabungkan chitosan dengan zat yang bisa menempelkan virus flu yang bisa menginfeksi sel, dengan begitu bahan ini bisa menangkap virus flu yang ada di udara. Peneliti menemukan versi baru dari chitosan ini bisa secara ideal dimasukkan dalam serat-serat masker wajah dan penyaring udara, serta sangat efektif dalam menangkap virus flu. Selain itu peneliti menyarankan bahan baru ini diperkirakan juga bisa menjadi tambahan penting untuk vaksinasi, obat anti influenza dan langkah-langkah lainnya dalam memerangi flu. Li dan Wu menuturkan dalam satu tahun rata-rata di seluruh dunia flu bisa membunuh hampir 300.000 orang dan jutaan lainnya menjadi sakit. Untuk itu sebaiknya tidak meremehkan virus flu.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Nov 10, 2011 5:22 pm

TRIK MENGURANGI SAKIT AKIBAT JARUM SUNTIK
Senin, 31/10/2011 16:09 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Tak sedikit orang yang takut dengan jarum suntik karena bisa menimbulkan rasa sakit. Meski begitu ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi sakit akibat jarum suntik. Suntikan merupakan salah satu bagian dari pengobatan atau juga vaksinasi yang tidak bisa dihindari. Namun beberapa orang kadang berusaha menghindarinya karena takut dengan jarum suntik. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengurangi rasa sakit akibat jarum suntik, seperti dikutip dari Lifemojo, Senin (31/10/2011) yaitu:

1. Mengalihkan pikiran untuk kegiatan lain
Seseorang biasanya merasa sangat khawatir ketika menunggu untuk disuntik. Untuk itu alihkan perhatian dengan melakukan kegiatan lainnya yang menghibur seperti membaca buku atau mendengarkan musik.

2. Mencari perhatian lain selain jarum di ruang suntik
Ketika berada di ruangan, fokuskan perhatian pada setiap simbol, tanda atau gambar dalam ruangan. Cobalah perhatikan dengan rinci apa yang ingin disampaikan oleh gambar, berapa banyak bunga yang ada atau bagaimana ekspresi wajah dalam gambar tersebut, sehingga mencegah orang memikirkan tentang jarum.

3. Menarik napas dalam-dalam dan melakukan latihan pernapasan
Latihan pernapasan dalam bisa membantu mengurangi stres dan membuat pikiran menjadi lebih santai. Ketika pikiran sudah teralihkan dan lebih santai, maka seseorang akan lebih tenang ketika disuntik yang membantu mengurangi rasa sakit.

4. Cobalah untuk batuk
Studi yang dilakukan terhadap 68 anak di The University of Nebraska menemukan bahwa anak yang batuk saat melakukan vaksinasi lebih sedikit mengalami nyeri. Hal ini karena bantuk bisa memberikan gangguan dan merangsang sementara tekanan darah yang menghambat persepsi nyeri.

5. Menghindari kekakuan di lengan
Daerah yang mendapatkan suntikan cenderung merasa lebih tegang sehingga menimbulkan rasa nyeri yang lebih besar. Untuk itu hindari kekakuan pada lengan untuk mengurangi rasa sakit yang muncul.

Namun jika seseorang sudah merasa pusing ketika masih berada di ruang tunggu atau bahkan sampai pingsan ketika setelah disuntik, maka konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau perawat sebelum disuntik.
Back to top Go down
View user profile
 

Asal Tahu Saja

View previous topic View next topic Back to top 
Page 49 of 53Goto page : Previous  1 ... 26 ... 48, 49, 50, 51, 52, 53  Next

 Similar topics

-
» ASAL USUL MASAKAN MINANG
» INGIN TAHU PUSAT PEMBELAJARAN UTM SPACE DI PULAU PINANG
» Asal Tahu Saja
» Asal Usul Melayu Bahagian 1
» Asal Manusia

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-