|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 11:52 am | |
| PASIEN KANKER Penderita kanker, terutama stadium lanjut, umumnya diliputi kemarahan, ketakutan dan depresi karena memikirkan penyakit yang dideritanya. Karena itu dukungan keluarga amat diperlukan dalam perawatan pasien. Hal ini untuk meningkatkan semangat hidup dan komitmen agar pasien tetap menjalani pengobatan.
Umumnya ketika pasien diberitahu menderita kanker yang sudah lanjut, ada 5 fase reaksi emosional yaitu: 1. Menyangkal/menolak kenyataan, disalahkan dokter yang tidak benar membuat diagnosis. 2. Marah terhadap kenyataan yang dihadapi, bahkan menyalahkan Tuhan, kenapa harus dia yang kena kanker dan bukan orang lain saja. 3. Menimbang nimbang, setelah dokter meyakinkan dirinya bahwa tidak salah diagnosis. Tidak menyangkal lagi, perlahan mulai menerima. 4. Mulai diliputi depresi. Setelah fase ini berlalu akhirnya pasien sadar dan menerima kenyataan hidup bahwa dirinya menderita kanker ganas. 5. Memasrahkan dirinya kepada Tuhan, tidak bisa lari kemana mana lagi, mau tidak mau harus menerima penyakit ini.
Sebenarnya masih ada satu fase lagi, yaitu pasien mulai menyesuaikan diri dengan keadaan dirinya, misalnya mulai bersosialisasi kembali seperti biasanya, mulai mempercantik diri kembali. Agar pasien masuk dalam fase ini, memang perlu waktu dan proses yang tidak sebentar, namun hal ini bisa dipercepat dengan memberikan rasa cinta, kasih sayang dan perhatian sehingga pasien tidak merasa sendirian dalam menjalani pengobatan serta kembali bersemangat hidup.
Hal hal yang bisa kita bantu lakukan adalah: 1. Sebaiknya tidak ikut larut dalam kepanikan, karena hanya akan menambah beban emosi si penderita. 2. Tumbuhkan rasa percaya diri pasien, untuk kemudian berani lebih fokus pada permasalahan sebenarnya dan mau menjalani pengobatan. 3. Cara yang paling sederhana tentunya dengan memberikan perhatian, namun jangan bersifat negatif dan dramatis. 4. Tawarkan bantuan sederhana seperti antar jemput anaknya sekolah atau berbelanja. 5. Dampingi saat berkonsultasi ke dokter. 6. Doronglah untuk bertemu dan berbagi cerita dengan sesama penderita atau dengan mantan penderita yang berhasil sembuh. 7. Sesekali berlakulah "normal", misalnya jika kondisi tubuhnya memungkinkan ajak jalan jalan atau sekedar berbelanja atau makan diluar.
Sumber: Seputar Indonesia Selasa, 16 Februari 2010
Last edited by gitahafas on Sun Oct 17, 2010 12:33 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 11:53 am | |
| MASA MASA KRITIS PENDERITA KANKER SEBAIKNYA DILALUI DIRUMAH Selasa, 14/09/2010 14:00 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Boston, Tak sedikit orang dengan kanker parah yang memilih rumah sebagai tempat untuk menghembuskan napas terakhirnya. Ternyata memang pasien kanker akan meninggal dengan tenang dan keluarga pun akan merasa lebih baik secara emosional bila berada di rumah. Menurut Journal of Clinical Oncology, melakukan perawatan di rumah bagi pasien kanker parah tidak hanya bisa menghemat uang, tetapi juga bisa mengurangi rasa sakit secara fisik dan emosional.
"Pasien kanker yang meninggal di ICU atau rumah sakit akan merasakan rasa sakit fisik dan emosional yang lebih parah. Selain itu, kualitas hidupnya pun menjadi lebih buruk," tutur Dr Alexi Wright dari Dana-Farber Cancer Institute di Boston, seperti dilansir dari Reuters, Selasa (14/9/2010). Dr Wright menjelaskan, jika pasien sadar bahwa perawatan yang lebih agresif (seperti di rumah sakit) tidak hanya dapat mempengaruhi kualitas hidupnya, tetapi juga orang yang dikasihinya setelah kematian, maka pasien akan dapat membuat pilihan yang berbeda, yaitu dirawat di rumah sendiri.
Untuk mengamati kondisi ini, tim Wright mempelajari 342 pasien dengan kanker terminal (stadium akhir) dan keluarganya sampai pasien meninggal, biasanya sekitar 4,5 bulan kemudian. "Dari hasil survei, kebanyakan pasien kanker lebih suka meninggal di rumah, 36 persen meninggal di rumah sakit dan 8 persen meninggal dalam unit perawatan intensif (ICU)," ujar Dr Wright.
Menurut Dr Wright, ketika pasien kanker meninggal di ICU, keluarga dan orang-orang yang dicintainya lima kali lebih mungkin didiagnosis dengan gangguan stres pasca-trauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD). "Ini adalah studi pertama yang menunjukkan bahwa keluarga pasien yang meninggal dunia di ICU berada pada risiko tinggi untuk mengembangkan PTSD," jelas Dr Wright.
Keluarga dan orang-orang tercinta pasien yang meninggal di rumah sakit juga lebih cenderung memiliki gangguan duka berkepanjangan dan penghentian kesedihan yang berlangsung lebih dari enam bulan. Hasil studi menunjukkan, perawatan di rumah tidak hanya bisa meringankan penderitaan pasien kanker stadium akhir, tetapi juga dapat membantu pasien hidup sedikit lebih lama. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 11:54 am | |
| PRIA JUGA BISA KANKER PAYUDARA AN Uyung Pramudiarja - detikHealth - Rabu, 07/07/2010 09:59 WIB Manchester, Walaupun jarang terjadi, kanker payudara juga bisa menyerang para pria. Sama seperti pada wanita, salah satu faktor risiko pada pria adalah kelainan genetik yang bisa diturunkan. Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Medical Genetics, gen yang telah bermutasi itu adalah BRCA2. Dikutip dari AOL Health, Rabu (7/7/2010), gen tersebut ditemukan pada 1 di antara 12 pria. Seorang pria yang mewarisi gen tersebut punya peluang 7,1 persen untuk terkena kanker payudara pada usia 70 tahun. Risikonya meningkat menjadi 9 persen ketika pria tersebut memasuki usia 80 tahun. Risiko tersebut memang jauh lebih kecil dibandingkan pada wanita, yang mencapai 60 persen. Namun penelitian itu menyarankan para pria untuk tetap waspada, terutama jika mulai mengalami gejala kanker payudara.
Dikutip dari MayoClinic, gejala kanker payudara antara lain meliputi: 1. Kerutan di kulit payudara 2. Penebalan pada jaringan payudara 3. Perubahan pada puting susu, baik bentuk maupun warna kemerahan
Menurut data American Cancer Society, tak kurang dari 200.000 wanita dan 2.000 pria terserang kanker payudara tahun lalu. Sekitar 40.000 wanita dan 390 pria di antaranya meninggal karena penyakit tersebut. Faktor genetik bukan satu-satunya faktor risiko kanker payudara pada pria. Menurut Evans, faktor lainnya meliputi hal-hal sebagai berikut: 1. Kelebihan berat badan 2. Esterogen berlebih 3. Payudara berukuran besar 4. Memiliki kelainan genetik langka seperti Klinefelter syndrome
"Memang jumlahnya sedikit, hanya satu di antara 1.000 pria yang terkena kanker payudara," ungkap Gareth Evans, pakar genetika dari Manchester Academic Health Science Center yang melakukan penelitian tersebut.(up/ir)
Last edited by gitahafas on Sun Oct 17, 2010 12:33 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 11:55 am | |
| PRIA TAK SADARI ANCAMAN KANKER PAYUDARA Senin, 4 Oktober 2010 | 14:27 WIB DENVER, KOMPAS.com - Survei menemukan bahwa hampir 80 persen pria yang berisiko tinggi terkena kanker payudara tidak tahu kalau mereka dapat mengidap kanker tersebut. Rata-rata dari mereka juga menyatakan tidak pernah mendapatkan informasi mengenai risiko kanker payudara dari dokternya. Kesimpulan itu adalah hasil penelitian di Amerika Serikat (AS) terhadap 28 pria yang memiliki risiko tinggi terhadap kanker payudara. Pria dilibatkan adalah mereka setidaknya memiliki setidaknya satu anggota keluarga sedarah dari pihak ibu yang menderita kanker payudara.
Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal 'American Journal of Nursing' itu menunjukkan, 79 persen responden tidak tahu bahwa kaum Adam juga bisa mengidap kanker payudara. Sebanyak 43 persen mengatakan, menderita penyakit itu bisa menyebabkan mereka mempertanyakan kejantanan mereka. Menurut "National Cancer Institute" di AS, pria penderita kanker payudara jumlahnya kurang dari 1 persen dari seluruh kasus kanker payudara. Penyakit itu cenderung menyerang pria berusia 60 hingga 70 tahun.
"Penelitian ini memberi langkah pertama terhadap pemahaman yang berkembang mengenai persepsi dan pengetahuan pria mengenai kanker payudara. Kanker payudara pada pria tidak biasa, dan tidak diperhatikan oleh media, populasi umum dan komunitas pelayanan kesehatan," kata Eileen Thomas, penyusun riset yang juga asisten profesor di College of Nursing University of Colorado Denver. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 11:55 am | |
| BANYAK PRIA TAK SADAR BISA KENA KANKER PAYUDARA Senin, 04/10/2010 12:53 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Colorado, Kanker payudara tidak hanya dialami wanita, pria juga memiliki jaringan payudara yang dapat mengalami kanker. Tapi hampir 80 persen pria tidak menyadari bahwa kaum adam pun punya risiko menderita kanker payudara. Dalam studi yang telah dipublikasikan dalam American Journal of Nursing, peneliti menyurvei 28 pria yang berisiko tinggi kena kanker payudara karena memiliki riwayat kanker dari ibunya.
Dari hasil studi tersebut ditemukan bahwa 79 persen partisipan tidak tahu bahwa pria juga bisa mengembangkan kanker payudara dan 43 persen menganggap bahwa pria yang menderita kanker payudara harus dipertanyakan kemaskulinannya. "Studi ini memberikan langkah pertama menuju pemahaman yang lebih baik tentang persepsi pria dan pengetahuan tentang kanker payudara pada pria," jelas Eileen Thomas, penulis studi dan asisten profesor di College of Nursing, University of Colorado Denver, seperti dilansir dari Health24, Senin (4/10/2010). Meski jarang terjadi, kanker payudara juga bisa menyerang pria. Tapi menurut Eileen, hal ini sebagian besar telah diabaikan oleh media, masyarakat umum dan komunitas kesehatan.
"Perlu adanya usaha peningkatan kesadaran tentang kanker payudara pada pria maupun wanita, terutama pada orang-orang yang berisiko tinggi terhadap penyakit ini," ungkap Eileen lebih lanjut. Menurut US National Cancer Institute, sekitar 1 persen pria mengalami kanker payudara dari keseluruhan kasus kanker payudara. Kanker ini cenderung menyerang pria berusia 60 sampai 70 tahun. Tanda yang paling umum untuk kanker payudara pria dan wanita adalah suatu benjolan atau penebalan pada payudara. Seringkali benjolan tidak menimbulkan rasa sakit. Dilansir dari Mayoclinic, gejala kanker payudara pria antara lain:
1. Kulit dimpling atau mengalami kerutan 2. Pengembangan lekukan dari puting 3. Perubahan pada kulit puting susu atau payudara seperti kemerahan
Mengetahui tanda-tanda dan gejala kanker payudara dapat membantu menyelamatkan hidup. Semakin awal penyakit ini ditemukan, semakin banyak pilihan pengobatan dan kesempatan yang lebih baik. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 12:13 pm | |
| HIDUP MODERN BIKIN KANKER MAKIN 'GANAS' Jumat, 15 Oktober 2010 | 09:47 WIB LONDON, KOMPAS.com - Para ilmuwan berpendapat, kanker adalah penyakit yang muncul akibat kehidupan manusia yang semakin modern. Penyakit ini bukanlah kondisi yang muncul karena alam, tetapi timbul akibat faktor gaya hidup manusia yang semakin modern serta polusi yang dihasilkan industri. Kesimpulan itu diungkapkan para egyptologist atau peneliti budaya Mesir di Universitas Manchester, Inggris. Kajian terhadap ratusan mumi asal Mesir dan Afrika Selatan menunjukkan, hanya ditemukan saja satu mumi yang terserang kanker. Sedangkan di zaman yang serba canggih saat ini, kanker merupakan penyebab utama satu dari tiga kasus kematian.
"Dalam masyarakat industri, kanker adalah menempati peringkat kedua setelah kardiovaskuler sebagai penyebab kematian utama," ungkap Professor Rosalie David, pakar biomedis dari Universitas Manchester. "Namun di zaman dahulu, penyakit ini sangat jarang. Tak ada faktor lingkungan yang dapat menyebabkan kanker. Oleh sebab itu, kanker adalah penyakit yang dibuat manusia, akibat polusi dan perubahan dari diet dan gaya hidup," tambah David.
Untuk melacak asal muasal kanker, Prof David dan rekannya Professor Michael Zimmerman, mencari jejak penyakit ini pada ratusan mumi yang berusia hingga 3.000 lalu. Mereka juga meneliti fosil-fosil dan naskah-naskah kuno. Melalui analisa jaringan terehidrasi di bawah mikroskop, mereka hanya menemukan lima kasus tumor yang kesemuanya terbilang jinak. Bukti dari fosil pun sangat jarang, sedangkan naskah-naskah kuno menyebut beberapa kasus tetapi kesemuanya diperdebatkan, seperti kasus pada binatang dan tulang-tulang Neanderthal.
Ilmuwan justru menemukan penyakit lain yang berkaitan dengan faktor penuaan seperti penebalan dinding pembuluh darah dan artritis. Temuan ini, menurut para ahli, mengesampingkan argumen bahwa manusia purba usianya tidak cukup panjang sehingga tidak mengidap kanker. Kajian terhadap tubuh mumi, baik dari keturunan raja atau rakyat jelata, menunjukkan bahwa rata-rata harapan hidup mereka bervariasi antara 25 hingga 50 tahun, tergantung latar belakangnya.
Bukti hadirnya kanker dalam naskah kuno Mesir juga dinilai peneliti lemah, karena penyakit yang mirip kanker ini cenderung disebabkan oleh lepra atau bahkan varises vena. Satu-satunya mumi yang didiagnosis kanker adalah seorang sosok biasa yang hidup sekitar 200 Masehi. Catatan di era modern menunjukkan, kasus penyakit kanker di dunia meningkat secara masif setelah era Revolusi Industri, khususnya kanker yang ditemukan pada anak-anak. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 12:15 pm | |
| RSCM MILIKI FASILITAS RADIOTERAPI CANGGIH Selasa, 17 Februari 2009 | 14:29 WIB JAKARTA, SELASA — Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta memperkenalkan pusat radioterapi dengan teknologi canggih untuk mendeteksi dan mengobati penyakit, seperti kanker dan tumor, secara lebih aman. Layanan ini juga untuk menarik masyarakat yang terbiasa berobat ke luar negeri sekaligus sebagai upaya subsidi silang bagi pasien yang kurang mampu. "Perkembangan ilmu pengetahuan di bidang radioterapi dan teknologi yang sangat pesat memungkinkan penderita kanker dapat memperoleh terapi radiasi yang tepat dengan efek samping yang seminimal mungkin," kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari usai meresmikan Pusat Pelayanan Radioterapi 4D Adaptive Image Guided Technology dan Streotactic Center di RSCM, Selasa (17/2).
Menkes mengatakan, melalui kebijakannya, Departemen Kesehatan secara bertahap akan melengkapi sarana dan prasarana rumah sakit, di samping pelayanan kesehatan sampai ke daerah terpencil. Teknologi di Pusat Radiologi RSCM kini memberi layanan berupa Streotatic Radiotheraphy (SRT) dan Stereotactic Radiosurgery (SRS) sebagai terapi untuk menghancurkan sel tumor tanpa merusak jaringan yang sehat. Selain itu, terapi radiasi mampu menghadapi heterogenitas dari target radiasi melalui Intensity Modulated Radioteraphy. Ada pula teknologi 4D Adaptive IGRT untuk memantau gerakan organ pada organ target saat dilakukan terapi penyinaran.
RSCM sebagai rumah sakit rujukan pemerintah, lanjut Siti, diminta tidak hanya melengkapi fasilitas yang canggih, tetapi terjaga mutu dengan perawatan yang adekuat. Sebab, pelayanan radioterapi ini tidak hanya memerlukan teknologi yang tinggi, tapi biaya yang mahal. "Sehingga perlu dibarengi dengan profesionalime sumber daya manusia," tutur Siti. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 12:15 pm | |
| PELAYANAN RADIO TERAPI MASIH MINIM Kamis, 14 Oktober 2010 | 03:08 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Pelayanan radioterapi di Indonesia masih minim. Padahal, layanan kesehatan itu penting untuk terapi penyakit kanker yang meningkat kasusnya. Demikian terungkap dalam pembukaan national training course bertema Hand in Hand Towards International Atomic Energy Agency (IAEA) Standards in Radiotherapy Services, Rabu (13/10) di Jakarta. Dalam kegiatan itu, sejumlah tenaga dari pusat layanan radioterapi di seluruh Indonesia mendapatkan pelatihan guna meningkatkan kualitas pelayanan radioterapi di Indonesia sesuai dengan standar IAEA.
Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Onkologi Radiasi Indonesia Prof Soehartati Gondhowiardjo mengatakan, estimasi angka kejadian kanker di Indonesia per tahun sekitar 200.000 kasus baru (100 kasus baru per 100.000 penduduk). Tidak kurang dari 60-70 persen penderita kanker memerlukan pengobatan radiasi. Dengan demikian, sekitar 140.000 kasus per tahun membutuhkan radioterapi dengan jenis kanker terbesar ialah kanker mulut rahim, kanker payudara, dan kanker nasofaring.
Hanya saja, fasilitas pelayanan kesehatan radioterapi yang ada masih terbatas, yakni 35 pusat radioterapi dengan cakupan sekitar 11.000 orang per tahun. Akibatnya, terdapat daftar tunggu yang panjang. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, misalnya, daftar tunggu pasien untuk mulai radiasi antara dua minggu dan empat minggu. ”Standar IAEA menganjurkan satu pesawat radioterapi untuk satu juta penduduk,” ujarnya. Pakar onkologi radiasi, Prof M Djakaria, mengatakan, penantian itu dampaknya berbeda antarpasien. ”Tergantung stadium, proses pertumbuhan, dan sifat tumornya. Untuk kanker yang cepat bertumbuh, stadium dapat saja semakin tinggi jika penanganan terlalu lama,” ujarnya.
Direktur Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) Reno Alamsyah mengatakan, keterbatasan fasilitas mengakibatkan masyarakat berobat ke luar negeri atau ke terapi alternatif. Namun, terkait radioterapi, pengeluaran izin ketat dan mempertimbangkan keamanan bagi pasien, pekerja radiasi, dan lingkungan. ”Terapi harus akurat dan efektif membunuh sel kanker. Dosis harus tepat, jika tidak malah menambah keganasan kanker. Di sisi lain, diupayakan seminimum mungkin mengganggu jaringan di sekitarnya,” ujarnya.
Direktur Bina Pelayanan Penunjang Medik Kementerian Kesehatan Zamrud E Aldy mengatakan, peningkatan jumlah fasilitas radioterapi membutuhkan biaya besar. ”Secara bertahap akan coba dipenuhi,” ujarnya. (INE) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 12:17 pm | |
| BENJOLAN, PERTANDA INFEKSI ATAU KANKER? Rabu, 13 Oktober 2010 | 08:42 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Pembengkakan kelenjar getah bening seringkali menimbulkan kecemasan dan mengundang tanda tanya. Apakah pembengkakan merupakan hal normal, penyakit yang berbahaya atau suatu gejala dari penyakit ganas alias kanker? Agar cemas tak berkelanjutan dan tertangani baik, kita perlu mengenali penyebab pembesaran kelenjar getah bening dan gambaran klinisnya. Sejatinya, kelenjar getah bening merupakan salah satu organ vital yang menjadi bagian dari sistem pertahanan atau kekebalan tubuh. Tubuh memiliki kurang lebih 600 kelenjar getah bening. Hanya di beberapa tempat kelenjar bisa dikenali dengan mudah dan bisa diraba, yakni di leher, ketiak, lipatan paha, panggul, dan perut.
Fungsi kelenjar getah bening adalah sebagai tempat penyaringan antigen atau protein asing dari pembuluh-pembuluh getah bening yang melewatinya. Ibaratnya, kelenjar ini adalah pos penjagaan yang akan menjaring dan mendeportasi pendatang yang mengancam kesehatan tubuh. Nah, kita bisa mendeteksi adanya gangguan kesehatan saat kelenjar getah bening membengkak. Orang awam biasanya langsung khawatir dan menyangka pembengkakan sebagai kanker. "Padahal tidak semua pembengkakan berarti kanker, tapi bisa jadi karena penyebab lain," kata Asrul Harsal, Dokter Ahli Penyakit Dalam Rumah Sakit Dharmais Jakarta.
Pembengkakan kelenjar getah bening bisa disebabkan infeksi akut karena di bagian tubuh lain ada yang sakit. Misal, sakit gigi dan radang telinga, atau infeksi virus pada saluran pernafasan bagian atas. Ada juga penyebab lain, yakni infeksi kronis yang umumnya terjadi karena beberapa penyakit seperti tuberkulosis (TBC), infeksi paru-paru, dan penyakit seksual.
Sekadar informasi, infeksi akut biasanya dikaitkan dengan penyakit yang datang tiba-tiba dengan jangka waktu pendek. Sedangkan infeksi kronis terjadi dari gangguan penyakit yang telah berlangsung lama. "Infeksi menyebabkan pembengkakan dan kemerahan di tempat kelenjar getah bening berada, demam, dan nyeri," kata Asrul. Pembengkakan kelenjar akibat jenis ini akan kempes seiring membaiknya, bagian tubuh yang terkena infeksi. Tapi bengkak kalau lebih dari satu sentimeter, sebaiknya segera memeriksakan diri ke dokter.
Karena kanker Pembengkakan kelenjar juga bisa terjadi karena kanker akibat mutasi sel limfosit (sejenis sel darah putih), yang menjadi ganas dan tumbuh di berbagai organ termasuk kelenjar getah bening. Kalau kelenjar ini terserang kanker, disebut limfoma.
Cuma, menurut Suhanto Kasmali, Dokter Umum Rumah Sakit Mediros, Jakarta Timur, pendeteksian kanker atau bukan tidak bisa dilakukan kasat mata. Penentuan kanker harus melalui tahapan pemeriksaan, mulai pengambilan gambar (rontgen) hingga pengambilan sampel kelenjar getah bening atau biopsi. Erin Destrini, dokter dari Klinik Jakarta Medical Center (JMC) menambahkan, ada dua macam kanker sistem limfatik, yakni hodgkin dan limfoma non-hodgkin. "Sel hodgkin lebih berbahaya karena menyebar melalui sel darah," jelas Erin.
Gejala-gejala untuk mengenali pembengkakan kelenjar getah bening sebagai kanker antara lain, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, demam, hidung sering tersumbat, telinga berdengung, dan menurunnya nafsu makan berkepanjangan. Dus, setelah mengenali jenis dan gejalanya, penanganan pun bisa dilakukan dengan tepat. (Sofyan Nur Hidayat) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 12:18 pm | |
| BEDA PENYEBAB BENJOLAN, BEDA PENANGANAN Rabu, 13 Oktober 2010 | 10:59 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Pengobatan pembengkakan kelenjar getah bening tidak bisa diseragamkan pada semua kasus. Cara penanganannya akan menyesuaikan dengan sumber penyakit yang memicu pembengkakan kelenjar getah bening serta tingkat keparahannya. Pada kasus penderita yang ringan, pengobatan cukup dengan mengonsumsi antibiotik saja. Namun, dalam kasus yang berat, seperti terjadi kanker, pengobatan hanya dengan antibiotik jelas tak mempan. Menurut Asrul Harsal, dokter penyakit dalam dari Rumah Sakit Dharmais Jakarta, kita perlu mengetahui sumber infeksinya lebih dahulu sebelum memutuskan cara penanganan pembengkakan kelenjar getah bening.
Jika sudah ketahuan sumber infeksinya, penanganan akan lebih mudah. Ambil contoh, pembengkakan di daerah leher karena sakit gigi atau sakit telinga, maka pengobatannya cukup dengan memberi antibiotik plus obat sakit gigi dan telinga saja. "Obat tersebut bisa dikonsumsi selama dua minggu," kata Asrul. Kalau pembengkakan karena infeksi kronik tuberkulosis (TBC) penanganannya berbeda lagi. Anda harus melakukan pengobatan pada paru-paru. Pengobatan paru-paru ini membutuhkan waktu relatif lama. "Bisa memakan waktu enam sampai sembilan bulan," ajar Asrul.
Jika selama pengobatan pembengkakan tidak berangsur mengecil, Anda perlu waspada. Sebab bisa jadi pembengkakan tersebut karena terdapat kanker di bagian tubah tertentu. Pada kasus ini, Asrul menyarankan pasien untuk menempuh tindakan medis Ianjutan seperti rontgen atau Computerized Axial Tomography (CT scan). Tentu saja, CT scan tersebut harus melibatkan ahli radiologi. Kalau sudah dipastikan pembengkakan memang akibat kanker maka baru bisa ditentukan tindakan medis yang harus dilakukan.
Tindakan untuk kanker ini juga beragam, tergantung pada tipe yang diderita dan asal kankernya. Pengobatan utama biasanya dilakukan dengan pembedahan atau operasi. Selain itu juga bisa dengan radioterapi atau penggunaan sinar radiasi, serta kemoterapi. Pembedahan pada dasarnya untuk mengangkat kanker secara keseluruhan. Sedangkan fungsi radioterapi dan kemoterapi untuk menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker CT scan tersebut harus melibatkan ahli radiologi. Kalau sudah dipastikan pembengkakan memang akibat kanker, maka baru bisa ditentukan tindakan medis yang harus dilakukan.
Tindakan untuk kanker ini juga beragam, tergantung pada tipe yang diderita dan asal kankernya. Pengobatan utama biasanya dilakukan dengan pembedahan atau operasi. Selain itu juga bisa dengan radioterapi atau penggunaan sinar radiasi, serta kemoterapi. Pembedahan pada dasarnya untuk mengangkat kanker secara keseluruhan. Sedangkan fungsi radioterapi dan kemoterapi untuk menghentikan pertumbuhan sel-sel kanker yang masih tertinggal dan tidak terjangkau oleh pisau bedah dokter.
Perlu diperhatikan, radioterapi merupakan jenis pengobatan yang bersifat lokal, jadi efek yang ditimbulkan juga bersifat lokal. Sedangkan kemoterapi merupakan pengobatan sistemik menyeluruh sehingga efek yang ditimbulkan bisa menjalar pada bagian tubuh lain misalnya mual dan muntah. "Bisa juga menyebabkan kerontokan rambut," kata Asrul. Untuk kanker, Asrul mewanti-wanti agar tindakan harus oleh tenaga medis yang memang ahli karena bisa mengancam nyawa. (Sofyan Nur Hidayat) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 12:19 pm | |
| WASPADAI KANKER KELENJAR GETAH BENING Sabtu, 29 Maret 2008 | 14:04 WIB JAKARTA, SABTU-Serangan kanker kelenjar getah bening (limfoma non-hodgkin-NHL) kian mengancam kesehatan masyarakat. Saat ini diperkirakan sekitar 1,5 juta orang di dunia menderita kanker ini, dan setahun sekitar 300.000 orang meninggal dunia karena penyakit ini. Untuk itu, deteksi dini tumor ganas tersebut diperlukan untuk meningkatkan harapan hidup penderitanya sehingga kualitas hidup bisa dipertahankan. "Saat ini target terapi telah digunakan di banyak negara untuk mengatasi kanker limfoma," kata Kepala Manajemen Medik PT Roche Indonesia dr Stephanus Kairupan, dalam jumpa pers, Sabtu (29/3), di Hotel Four Seasons, Jakarta.
Limfoma adalah sejenis kanker yang tumbuh akibat mutasi sel limfosit (sejenis sel darah putih) yang sebelumnya normal. Hal ini mengakibatkan sel abnormal menja di ganas. Seperti halnya limfoma normal, limfoma ganas dapat tumbuh pada berbagai organ dalam tubuh termasuk kelenjar getah bening, limpa, sum-sum tulang, darah maupun organ lain.
Terdapat dua macam kanker sistem limfatik yaitu penyakit hodgkin dan limfoma non hodgkin (NHL). NHL adalah sekelompok penyakit keganasan yang saling berkaitan dan mengenai sistem limfatik. Di Indonesia, mayoritas penderitanya terserang limfoma agresit (derajat keganasan tinggi) yang cepat tumbuh dan menyebar dalam tubuh, bila dibiarkan tanpa pengobatan dapat mematikan dalam enam bulan.
Angka harapan hidup rata-rata berkisar lima tahun dengan sekitar 30-40 persen sembuh. Pasien yang terdiagnosis dini dan langsung diobati lebih mungkin meraih remisi sempurna dan jarang mengalami kekambuhan. Karena itu, sangat penting mengenali gejala penyakit ini sejak awal di antaranya batuk-batuk dan sesak napas, benjolan di leher, ketiak dan daerah di antara kaki, gatal-gatal, demam tanpa sebab, berat badan turun drastis.
Penyebab NHL belum diketahui secara pasti. Ada empat kemungkinan penyebabnya yaitu faktor keturunan atau genetik, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus atau bakteri, dan toksin lingkungan seperti herbisida, pengawet dan pewarna kimia. Pengobatan inti NHL saat ini meliputi kemoterapi, terapi antibodi monoklonal, radiasi, terapi biologik dan cangkok sumsum tulang. "Di banyak negara, pengobatan dilakukan dengan mengkombinasi beberapa jenis terapi," ujarnya.
Ahli hematologi dari Universitas Sydney Associate Professor Mark Hertzberg menyatakan, tingkat keberhasilan terapi kombinasi itu sangat tergantung dari kondisi pasien bersangkutan. S emakin cepat penderita berobat, maka peluang kesembuhan dan harapan hidupnya juga makin besar. Diakui, tidak semua penderita sukses menjalani pengobatan kombinasi ini, terutama pada penderita dengan komplikasi gangguan pada jantung. (EVY) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 12:19 pm | |
| BUKAN SEKEDAR BENJOLAN BIASA Jumat, 4 April 2008 | 01:12 WIB Oleh EVY RACHMAWATI Kompas.com - Ancaman kematian langsung membayangi diri Sangap Sidauruk (41) ketika ia divonis terserang limfoma atau kanker kelenjar getah bening. Keinginan untuk bisa membesarkan ketiga anaknya membuat pengacara ini bersemangat menjalani terapi limfoma hingga tuntas. ”Syukur, sekarang saya sudah mantan, penyakit limfoma tidak lagi kambuh,” ujar pria yang bermukim di kawasan Cipinang, Jakarta Timur. Meski sudah bisa beraktivitas normal, ia memutuskan mengubah pola makannya menjadi lebih sehat, termasuk tidak lagi mengonsumsi minuman ringan, daging sapi berlemak, dan daging kambing. Sidauruk bertutur, akhir tahun 2002 ia menderita sakit kepala, yang membawanya ke ahli saraf Prof Jusuf Misbach di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Setelah diperiksa ternyata bagian syarafnya tidak ada kelainan apa pun.
”Waktu sedang ngobrol dengan dokter Misbach, beliau tanpa sengaja melihat ada benjolan di leher saya. Memang sejak beberapa minggu sebelumnya muncul dua benjolan, satu sebesar gundu dan satu lagi kecil,” ujar Sidauruk. Pada bagian ketiaknya juga bengkak. Ia lalu dirujuk ke dokter ahli hematologi untuk tes darah. Hasilnya, ia dinyatakan terserang kanker kelenjar getah bening stadium dua. ”Begitu dinyatakan terkena limfoma, yang terbayang adalah keluarga. Saya ingin bisa melihat anak saya lahir, kebetulan waktu itu istri saya sedang mengandung anak ketiga. Saya mau hidup,” kata Sidauruk. Ia kemudian berjuang melawan kanker dengan menjalani kemoterapi dikombinasi dengan terapi target.
Demi kesembuhannya, ia menjalani delapan kali terapi kombinasi kemoterapi dan terapi terfokus rituximab dengan total biaya ratusan juta rupiah. Meski sudah tidak kambuh lagi, ia kini menerapkan pola makan sehat dan secara berkala memeriksakan dirinya. ”Setiap kali diterapi saya merasa mual dan badan panas, tetapi saya memaksakan diri untuk menjalani terapi itu sampai selesai,” ujarnya.
Tumbuh cepat Limfoma adalah kanker yang tumbuh akibat mutasi sel limfosit (sejenis sel darah putih) yang sebelumnya normal. Seperti halnya limfosit normal, limfosit ganas dapat tumbuh pada berbagai organ dalam tubuh, termasuk kelenjar getah bening, limpa, sumsum tulang, darah, ataupun organ lain.
”Ada dua jenis kanker sistem limfotik, yaitu penyakit Hodgkin dan Limfoma Non-Hodgkin (NHL),” kata ahli hematologi-onkologi Prof Karmel L Tambunan dari Divisi Hematologi-Onkologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM). Kanker kelenjar getah bening atau limfoma adalah sekelompok penyakit keganasan yang berkaitan dan mengenai sistem limfatik. Sistem limfatik merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh yang membentuk pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan kanker.
Cairan limfatik adalah cairan putih menyerupai susu yang mengandung protein lemak dan limfosit (sel darah putih) yang semuanya mengalir ke seluruh tubuh lewat pembuluh limfatik. Ada dua macam sel limfosit, yaitu Sel B dan Sel T. Sel B berfungsi membantu melindungi tubuh melawan bakteri dengan membuat antibodi yang memusnahkan bakteri.
Dalam situs Mayoclinic disebutkan, gejala dan tanda penyakit kanker kelenjar getah bening meliputi pembengkakan kelenjar getah bening pada leher, ketiak, atau pangkal paha. Pembengkakan kelenjar tadi dapat dimulai dengan gejala penurunan berat badan secara drastis, rasa lelah yang terus-menerus, batuk-batuk, dan sesak napas, gatal-gatal, demam tanpa sebab, dan berkeringat pada malam hari.
”Sering kali penderita tidak menunjukkan gejala khas, hanya memiliki semacam benjolan atau pembengkakan kelenjar getah bening pada leher,” ujar Tambunan. Karena tidak ada keluhan khas, banyak pasien baru berobat saat masuk stadium lanjut sehingga sel kanker sudah menyebar dan sulit diangkat dengan operasi. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan, sekitar 1,5 juta orang di dunia saat ini hidup dengan NHL dan sekitar 300.000 orang meninggal karena penyakit ini tiap tahun. Sekitar 55 persen dari NHL tipenya agresif dan tumbuh cepat. NHL merupakan kanker tercepat ketiga pertumbuhannya setelah kanker kulit dan paru-paru.
Angka kejadian NHL meningkat 80 persen dibandingkan dengan tahun 1970-an. Setiap tahun angka kejadian penyakit ini meningkat 3-7 persen. NHL banyak terjadi pada orang dewasa, dengan angka tertinggi pada rentang usia 45-60 tahun. ”Makin tua usia kian tinggi risiko terkena limfoma karena daya tahan tubuhnya menurun,” kata Tambunan.
Hingga kini penyebab limfoma belum diketahui secara pasti. Ada empat kemungkinan penyebabnya, yaitu faktor keturunan, kelainan sistem kekebalan, infeksi virus atau bakteria (Human Imunnodeficiency Virus, Hepatitis C Virus, Epstein Barr Virus, Helicobacter Sp), dan toksin lingkungan (herbisida, pengawet, dan pewarna kimia). ”Penyebabnya multifaktor,” ujarnya menambahkan. Terdapat lebih dari 30 subtipe NHL (90 persen dari jenis sel B) yang dapat diklasifikasikan dengan pertimbangan beberapa faktor: penampakan di bawah mikroskop, ukuran, kecepatan tumbuh, dan organ yang kena.
Limfoma indolen (derajat keganasan rendah) tumbuh lambat sehingga diagnostik awal lebih sulit. Pasien dapat bertahan hidup selama bertahun-tahun, tetapi belum ada pengobatan yang menyembuhkan. Pasien biasanya memberi respons baik pada terapi awal, tetapi sangat mungkin kanker tumbuh lagi. Penderita limfoma indolen bisa mendapat terapi hingga enam kali sepanjang hidup, tetapi makin lama responsnya menurun.
Adapun limfoma agresif (derajat keganasan tinggi) cepat tumbuh dan menyebar. Jika dibiarkan tanpa pengobatan, dapat mematikan dalam enam bulan. Angka harapan hidup rata-rata lima tahun dan 30-40 persen sembuh. Pasien yang terdiagnosis dini dan langsung diobati lebih mungkin meraih remisi sempurna dan jarang kambuh. Karena ada potensi kesembuhan, biasanya pengobatan lebih agresif, sebagaimana dijalani Sangap Sidauruk. Sayangnya, tidak semua pasien bisa terdeteksi menderita kanker kelenjar getah bening ketika masih stadium awal. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 12:20 pm | |
| KANKER KELENJAR GETAH BENING DI AKHIR USIA GITO Kamis, 28 Februari 2008 | 21:05 WIB Kompas.com - BERTAHUN-TAHUN rocker gaek Gito Rollies yang telah meninggal dunia di RS Pondok, Kamis (27/2) malam lalu menderita kanker kelenjar getah bening. Lewat sakitnya ini dia mulai bertobat dan menjalani gaya hidup yang baik, menyehatkan. Apa sebenarnya kanker kelenjar getah bening ini? Jika mendapati benjolan kenyal, tidak terasa nyeri, mudah digerakkan, dan tidak ada tanda-tanda radang, perlu dicurigai sebagai limfoma non-Hodgkin atau kanker kelenjar getah bening. Meski demikian, tidak semua benjolan yang terjadi di sistem limfatik merupakan kanker kelenjar getah bening. Bisa saja benjolan tersebut hasil ¨perlawanan¨ kelenjar limfa dengan sejenis virus atau mungkin tuberkulosis limfa.
Limfoma sendiri terjadi akibat pertumbuhan berlebihan satu klon sel limfosit pada tahapan tertentu saat proses pematangan di kelenjar getah bening. Jenis limfoma yang paling banyak terjadi pada pasien adalah limfoma non-Hodgkin. Dr. Djumhana Atmakusuma, Sp.PD, KHOM, menjelaskan gambaran klinik pasien yang mengalami limfoma non-Hodgkin (LNH) di antaranya tumor yang berasal dari pembesaran kelenjar getah bening perifer, terjangkitnya sumsum tulang pada limfoma indolent (jinak), dan pembesaran kelenjar getah bening di rongga dada (mediastinum) serta rongga perut (abdomen) pada limfoma agresif.
Gejala sistemiknya berupa demam yang tidak diketahui penyebabnya, berat badan menurun lebih dari 10 kg dalam enam bulan terakhir, atau berkeringat pada malam hari. Pasien yang mengalami salah satu gejala di atas dikategorikan LNH derajat B, sedangkan yang tidak mengalami disebut LNH derajat A. ¨Apa yang dialami Pak Gito adalah jenis LNH derajat atau tipe A dengan tidak adanya gejala yang menyertai,¨ katanya.
Namun, mengenali gejala saja tidak dapat menentukan LNH. Pemeriksaan histologi (jaringan), analisis imunologik, dan analisis molekular dapat dilakukan untuk menegakkan diagnosis limfoma. Selain itu, dengan hasil pemeriksaan histologis dapat ditentukan derajat keganasan LNH.
Derajat yang paling rendah adalah limfoma indolent (jinak), derajat selanjutnya limfoma agresif dan limfoma sangat agresif. Derajat limfoma juga dapat ditentukan setelah pemeriksaan histologis. Pengobatan LNH terdiri dari kemoterapi sitostatika, obat hormonal, dan biological respons modifiers. Selain itu, pengobatan juga dapat dilakukan dengan radiasi. Pada pasien dengan stadium awal atau pasien LNH ekstranodal, misalnya di nasofaring atau di otak, dapat diberlakukan tindakan radiasi. Jika terjadi penyumbatan, tindakan bedah merupakan pilihan yang paling efektif.
Alternatif yang juga dapat dilakukan yakni transplantasi sumsum tulang (TST). Transplantasi ini dilakukan pada pemberian kemoterapi dosis tinggi. Tindakan dilakukan dengan menyelamatkan sel induk darah ke dalam nitrogen cair bersuhu minus 197 derajat. Setelah pengobatan kemoterapi selesai, sel induk darah ditransplantasikan kembali. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan respons pengobatan dan memanjangkan harapan hidup pasien.
Harapan hidup rata-rata pasien LNH indolent yang tidak memberikan gejala dan tanpa pengobatan 4 sampai 6 tahun, sedangkan pada LNH indolent stadium I yang diberi radiasi 50-60 persen dapat bertahan hidup 10 tahun. Pasien LNH agresif, bila tidak dilakukan tindakan pengobatan, akan meninggal dalam beberapa bulan dan LNH sangat agresif yang tidak diobati akan meninggal dalam beberapa minggu.
Penggunaan kemoterapi memberikan respons pengobatan yang baik pada 50-85 persen pasien, separuh di antaranya bebas penyakit atau sembuh. Berdasarkan sistem staging Ann Arbor, tingkat penyakit pasien dibedakan atas:
1. Stadium I jangkitan LNH pada satu daerah kelenjar getah bening; 2. Stadium II jangkitan mengenai dua daerah kelenjar getah bening pada sisi diafragma yang sama; 3. Stadium III jangkitan pada daerah kelenjar getah bening pada kedua sisi diafragma; dan 4. Stadium IV jangkitan difusa atau diseminata (menyeluruh) pada satu atau lebih organ eksemfalitik. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 12:21 pm | |
| CEGAH KELENJAR BENGKAK, HINDARI PENGAWET Rabu, 13 Oktober 2010 | 14:22 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Pembengkakan kelenjar getah bening bisa terjadi karena perilaku hidup tak sehat. Jadi untuk mencegahnya, jalan yang bisa ditempuh adalah dengan pola hidup sehat. Erin Destrini, dokter dari Klinik Jakarta Medical Center (JMC) mengatakan, pola sehat bisa dilakukan dengan mengonsumsi makanan sehat. Misalnya banyak-banyak mengonsumsi makanan yang mengandung serat. Selain itu, konsumsi air putih juga perlu diperbanyak. "Konsumsi makanan sehat ini untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari serangan virus," kata Erin.
Anda juga harus menghindari makanan yang mengandung bahan pengawet. Selain itu, kata Erin, sebaiknya mulai dari sekarang Anda mengurangi penggunaan penyedap rasa. Sebab, pengawet dan penyerap rasa bisa memicu pembengkakan kelenjar getah bening. Namun faktor makanan bukan penyebab utama terjadinya pembengkakan kelenjar getah bening. Penyebab utama penyakit ini adalah infeksi, virus, radang dan kanker. Tapi setidaknya kalau Anda memiliki pola makan yang sehat, daya tahan tubuh akan lebih kuat.
Steroid dan Rokok Penggunaan obat-obatan yang banyak mengandung steroid juga bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Steroid atau biasanya disebut dengan obat kuat ini memang bisa menimbulkan efek menambah stamina. Tetapi tak jarang steroid juga bisa memberi efek samping yang berbahaya.
Erin menjelaskan, penggunaan steroid bisa menyebabkan kanker yang kadang gejalanya dapat diketahui dengan pembengkakan kelenjar getah bening. Erin melanjutkan, steroid ini biasanya digunakan oleh atlet untuk meningkatkan stamina. Soalnya, steroid ini mampu merangsang sel-sel dalam tubuh untuk membangun sel protein baun sehingga bisa terasa lebih kuat. Tetapi jangan salah, kadang steroid juga ada di obat-obatan lain misalnya obat untuk mengobati penyakit peradangan, termasuk untuk mengobati asma.
Oleh sebab itu, berhati-hatilah dalam mengonsumsi obat. Lihat benar kandungan yang ada dalam obat yang Anda beli. Jika memang ragu, tanyakan ke dokter apakah obat tersebut memang aman untuk Anda konsumsi. Rokok juga bisa memicu pembengkakan kelenjar getah bening. Maklum, menghisap rokok bisa menyebabkan perubahan struktur dan fungsi saluran napas dan jaringan paru-paru. Ujung-ujungnya, berbagai macam penyakit paru-paru termasuk tuberculosis (TBC) pun bisa muncul.
Mulyadi Tedjapranata, Direktur Medizone`Clinic, Jakarta mengatakan, perubahan anatomi saluran pernapasan bisa menimbulkan perubahan pada fungsi paru-paru. Nah, hal itulah yang menjadi dasar utama terjadinya penyakit obstruksi paru menahun. "Termasuk emfisema paru-paru, bronkitis kronis, dan asma," ungkap Mulyadi. Jadi jika Anda perokok dan mengalami pembengkakan kelenjar getah bening, bukan tidak mungkin tubuh Anda sudah dihinggapi penyakit paru-paru. Nah, cara mengatasinya, pertama-tama sudah tentu Anda barns berhenti merokok total. Kemudian konsumsi lebih banyak vitamin untuk mengembalikan kekebalan tubuh. Di saat yang sama Anda juga barns memeriksakan diri ke dokter untuk mendapat perawatan selanjutnya. (Sofyan Nur Hidayat) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Oct 17, 2010 12:32 pm | |
| MENGURANGI DAMPAK KEMOTERAPI Rabu, 26/08/2009 17:04 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Perawatan kemoterapi pada pasien kanker merupakan alternatif terakhir jika tidak ada yang bisa dilakukan lagi untuk mengobatinya. Namun, ada beberapa efek samping yang ditimbulkan oleh pengobatan ini. Bagaimana cara meminimalkan efek samping dari kemoterapi? Kemoterapi merupakan teknik pengobatan kanker untuk memperlambat atau menghancurkan pertumbuhan dari sel-sel kanker tersebut. Tapi, pengobatan ini menimbulkan beberapa efek samping yang harus dirasakan oleh pasien setiap kali selesai menjalankan kemoterapi.
Penting untuk dipahami bahwa efek samping kemoterapi lebih mudah ditoleransi saat ini dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Mengalami efek samping bukan berarti perawatan menjadi lebih baik, demikian juga jika tidak ada efek samping berarti pengobatan tidak bekerja. Hal ini tidak bisa dipahami sesederhana itu.
Kemoterapi merupakan pengobatan yang efektif dalam mengatasi kanker dan menghilangkan gejala-gejala kanker. Potensi efek samping hendaknya tidak membatasi pasien untuk mendapatkan kemoterapi kembali. Efek samping yang biasa terjadi akibat pengobatan kemoterapi, seperti dikutip dari Cancer.net, Rabu (26/8/2009) adalah rambut rontok, mual, muntah, diare, sembelit, mulut dan tenggorokan yang perih, perubahan cara berpikir dan memori, efek terhadap saraf dan otot serta menimbulkan rasa sakit di kepala, perut atau tulang. Namun, efek samping dari kemoterapi tersebut bisa diminimalkan dengan beberapa tips berikut ini:
1. Mengurangi rambut rontok. Menutup kepala dengan menggunakan gel yang dingin atau menggunakan es selama perawatan bisa mengurangi rambut yang rontok, ini karena mengurangi obat kemoterapi yang diserap oleh kantung-kantung rambut sehingga mencegah kerusakan kantung rambut dan rambut rontok. 2. Mengurangi mual. Untuk menguranginya bisa dengan menggunakan teh jahe dan pepermint yang bisa menghangatkan perut secara alami, bisa juga dengan memakan permen keras yang mengandung mint atau citrus untuk mengurangi mual yang tidak terlalu parah dan yang terakhir bisa dengan mengkonsumsi vitamin B6. 3. Mengurangi muntah. Makan dan minumlah dalam jumlah sedikit namun sering, hindari mengonsumsi minuman lain sejam sebelum dan sesudah makan serta biasakan mengonsumsi makanan pada suhu kamar dalam arti tidak terlalu dingin dan panas. 4. Mengurangi diare. Bisa dikurangi dengan mengonsumsi pisang, roti putih, yogurt murni, telur atau dada ayam. Selain itu hindari kafein, kacang-kacangan, buah yang dikeringkan dan makanan yang terlalu dingin atau panas sehingga bisa menstimulasi pergerakan usus dengan cepat. 5. Mengurangi cepat lelah. Mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin B12 seperti daging atau ikan serta melakukan sedikit olahraga sehingga bisa meningkatkan kadar energi dalam tubuh. 6. Mengurangi rasa sakit pada tubuh. Bisa dengan melakukan akupuntur atau pemijatan yang bisa mengurangi rasa sakit dan gejala lainnya, serta bisa juga dengan meminum obat anti peradangan selama kemoterapi atau sesudah melakukan operasi. 7. Mengurangi depresi atau stres. Bahagiakan diri sendiri bisa dengan pergi ke salon, melakukan hal yang disukai atau segala sesuatu yang bisa membuat diri sendiri bahagia dan tanamkan jiwa optimisme dalam diri bahwa segala sesuatunya pasti akan berakhir dan sehat kembali.
Pengobatan kemoterapi mungkin tidak bisa dihindari, tapi pasien tetap bisa mengurangi efek sampingnya sehingga tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari dari pasien tersebut. Hal yang paling penting adalah jangan pernah mudah menyerah atau putus asa. |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |