|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Sep 05, 2010 12:25 pm | |
| PEMASARAN SUSU FORMULA PERLU KODE ETIK Jumat, 3 September 2010 | 08:55 WIB JAKARTA, KOMPAS.com- Salah satu penyebab meningkatnya penggunaan susu formula sebagai pengganti Air Susu Ibu (ASI) dikarenakan Indonesia tidak memiliki kode etik dalam pemasaran produk. Oleh sebab itu, Perkumpulan Perinatologi Indonesia (Perinasia) mendesak pemerintah secepatnya menerapkan kode etik pemasaran produk terutama susu formula, agar iklannya tidak mengecoh masyarakat.
"Pemerintah Indonesia harus melegalkan kode etik pemasaran produk terutama susu formula supaya inisiasi menyusui dini (IMD) dapat ditingkatkan," kata Dr. Asti Praborini , SpA, perwakilan Perinasia di sela acara “Sosialisasi UU Kesehatan No.36 Tahun 2009 Terkait Pasal-pasal Pemberian ASI Ekslusif, Kamis(02/11/10), di Jakarta. Menurut Asti upaya itu harus dilakukan karena masyarakat menganggap susu formula pilihan kedua terbaik setelah ASI. Padahal itu keliru.
“Seharusnya, susu formula diberikan sebagai obat rujukan apabila bayi berada pada kondisi tertentu. Di negara-negara lain, susu formula hanya boleh dijual di farmasi, bahkan di beberapa negara tertentu pembelian susu formula harus menggunakan resep,” lanjut Asti. Pelegalan kode etik pemasaran produk yang dimaksud Dr. Asti adalah The International Code of marketing of Breastmilk Subtitles” yang dikeluarkan WHO pada tahun 1981, selanjutnya disebut KODE WHO.
KODE WHO sendiri mencakup produk pengganti ASI dan produk susu lainnya, yaitu makanan dan minuman yang dipasarkan atau direpresentasikan cocok untuk digunakan sebagai pengganti ASI secara keseluruhan atau sebagian. Dikarenakan WHO merekomendasikan menyusui sampai 2 tahun, maka produk susu formul berlaku mulai anak berusia 2 tahun. Bentuk larangan KODE sendiri meliputi:
1. Dilarang mengiklankan susu formula dan produk lain pada masyrakat 2. Dilarang memberi sampel gratis susu formula pada ibu 3. Dilarang promosi susu formula di sarana layanan kesehatan 4. Dilarang memberi hadiah atau sampel pada petugas kesehatan 5. Dilarang memuat gambar bayi atau gambar lainnya yang mengidealkan susu formula pada label produk 6. Informasi pada petugas kesehatan harus faktual dan ilmiah 7. Informasi susu formula termasuk pada label harus menjelaskan keuntungan menyusui dan biaya serta bahaya pemberian susu buatan.
Penerapan kode etik pemasaran produk di Indonesia harus secepatnya dilakukan. Karena menurut penelitian KODE, Indonesia merupakan salah satu negara yang angka pemberian ASI eksklusifnya sangat rendah. Pelanggaran kode etik pemasaran produk (khusunya susu formula) sangat luar biasa, yaitu terjadi semua media, menembus jajaran petugas kesehatan, dan langsung ke konsumen.
Menurut Asti, Indonesia dapat berkaca dari suksesnya program IMD di Guatemala, “Sejak sukses mengimplementasi KODE, kurang dari 10 tahun ASI eksklusif 6 bulan di Guatemala meningkat dari 56 persen menjadi 83 persen. Kuncinya legalisasi KODE, didukung badan independen ynag multisektoral, yaitu kesehatan,pendidikan, buruh, ekonomi, industry, dsb," kata Asti.
Selain itu menurut Asti, “Menteri kesehatan lah yang nantinya akan memiliki wewenang mengontrol implementasi KODE. Apabila terjadi pelanggran produsen susu tersebut bisa diberikan peringtan, denda, ijin produksi tidak diperpanjang, bahkan pabriknya ditutup,” kata Asti. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Sep 05, 2010 12:27 pm | |
| PROMOSI SUSU FORMULA PERLU PENGATURAN Jumat, 20 Agustus 2010 | 03:33 WIB JAKARTA, KOMPAS - Meski kesadaran pemberian air susu ibu secara eksklusif semakin tinggi, para ibu sering kali ragu dan tergoda menggunakan susu formula saat proses menyusuinya tidak lancar atau terjadi perubahan pada bayi. Padahal, ASI mengandung segala zat yang dibutuhkan bayi, termasuk zat-zat tambahan yang digunakan dan diiklankan pada susu formula.
”Promosi susu formula perlu diatur agar tidak sampai memengaruhi ibu-ibu yang ragu saat menyusui bayinya,” kata Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Badriul Hegar seusai seminar 10 Langkah Keberhasilan Menyusui di RS St Carolus, Jakarta, Kamis (19/8/2010).
Jika bayi mengalami kendala saat menyusu, para ibu sebaiknya segera membawanya ke dokter anak atau klinik laktasi yang sudah ada di sejumlah rumah sakit. Hingga usia enam bulan, bayi sebaiknya hanya diberi ASI dan dihindarkan dari penggunaan susu formula. Setelah enam bulan, bayi memang memerlukan makanan tambahan, tetapi pemberian ASI sebaiknya tetap dilakukan hingga anak usia 2 tahun.
Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia Utami Roesli mengatakan, pemberian ASI sesuai waktunya membuat bayi lebih jarang menderita berbagai penyakit, seperti kanker anak, pneumonia, diare, jantung, alergi, hingga asma. Semakin lama waktu menyusui akan semakin meningkatkan kemampuan intelektual anak serta menghindarkan mereka dari kelainan mental saat anak dan remaja, seperti autisme, gangguan berpikir, gangguan bersosialisasi, hingga agresif.
Namun, promosi pentingnya pemberian ASI kalah jauh dengan iklan susu formula buatan pabrik. Data The Ecologist April 2006 menunjukkan, biaya promosi iklan susu formula di Inggris mencapai Rp 360.000 per bayi, sedangkan promosi Pemerintah Inggris untuk penggunaan ASI hanya Rp 2.520.
Untuk melawan iklan penggunaan susu pengganti ASI oleh perusahaan susu formula memang sulit. Hal yang bisa dilakukan adalah membangun kesadaran penggunaan ASI secara terus-menerus oleh berbagai pihak, baik pemerintah, tim medis, maupun masyarakat. ”Penggunaan ASI tidak bisa dipaksakan, tapi ibu-ibu harus mendapat informasi seluas-luasnya tentang manfaat ASI, sama seperti gencarnya iklan susu formula. Karena itu, pemasaran pengganti ASI perlu diatur,” tegasnya.
Menurut Utami, Peraturan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1981 tentang Pemasaran Pengganti ASI telah mengatur pemasaran produk pengganti ASI, produk susu lain yang dipasarkan sebagai pengganti ASI, botol, dan dot. Di antaranya disebutkan, fasilitas kesehatan tidak boleh digunakan untuk promosi susu formula atau produk sejenis, memajang produk pengganti ASI, serta tidak boleh menerima donasi atau membeli susu formula dengan harga diskon.
Dokter spesialis anak RS St Carolus Elizabeth Yohmi mengatakan, sesudah bayi lahir terkadang ASI masih sulit keluar atau bayi menjadi kuning. Itu bukan berarti bayi boleh diberi susu formula karena bayi mampu bertahan tanpa asupan apa pun hingga tiga hari sejak dilahirkan. Bayi kuning adalah hal wajar, asal bukan pada 24 jam pertama. ”Bayi cukup dijemur dan terus disusui,” katanya. (MZW) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Sep 05, 2010 12:29 pm | |
| ASI,20x LEBIH HEBAT Senin, 14 Desember 2009 | 17:20 WIB KOMPAS.com - Pemberian ASI secara eksklusif dan optimal akan membuat bayi tumbuh sehat, kuat, dan cerdas. Bagaimana tidak? ASI mengandung 200 zat gizi dan memberikan kekebalan buat bayi 20 kali lipat. Menurut Dr. Utami Rusli, Sp.A. MBA IBCLC, spesialis anak di RS St. Carolus Jakarta, di dalam ASI terkandung lebih dari 200 unsur zat yang sangat bermanfaat bagi pertumbuhan bayi. Zat-zat itu antara lain putih telur, lemak, protein, karbohidrat, vitamin, mineral, hormon pertumbuhan, berbagai enzim, zat kekebalan, dan lain-lain.
Sayang sekali masih banyak orang yang tidak paham betul bahwa ASI memiliki nilai yang tiada tandingannya dibandingkan dengan susu formula atau makanan tambahan lain. Kenyataan ini mesti disosialisasikan secara lebih gencar dan terus-menerus.
Kelebihan ASI pertama-tama terletak pada kekhususannya. Susu kuda sangat cocok untuk bayi kuda, susu jerapah bagi bayi jerapah. Bayi manusia juga akan jauh lebih baik jika diberi susu yang paling cocok, yakni ASI, bukan susu hewan. Karena itu, ASI sering kita kenal dengan sebutan ASI eksklusif (exclusive breast feeding). Selain khusus karena berasal dari spesies yang sama, yakni manusia, kandungan ASI bisa menyesuaikan kebutuhan bayi dengan perkembangan usianya.
ASI yang keluar saat kelahiran sampai hari ke-4 atau ke-7 disebut kolostrum. ASI yang keluar di hari ke-7 sampai ke-10 atau ke-14 setelah kelahiran disebut ASI transisi. ASI yang keluar sesudah hari ke-14 kelahiran disebut ASI matang. Komposisi gizi ketiga jenis ASI tersebut masing-masing berbeda.
“Bahkan terdapat perbedaan komposisi ASI dari menit ke menit,” tutur Ketua Pemasyarakatan Pemberian ASI Eksklusif RS St. Carolus Jakarta ini. Misalnya saja kandungan lemak pada ASI saat bayi berumur 3-5 hari adalah 1,85 g/dl. Pada saat usia bayi 15-18 hari, kandungan lemak itu menjadi 3,06 g/dl.
30 Menit Setelah Lahir Pada hari pertama setelah melahirkan, kandungan gizi ASI sangat tinggi. Dr. Utami pun selalu menganjurkan agar selambatnya 30 menit atau setengah jam setelah lahir, bayi harus segera disusui ibunya. Pada saat itu susu ibu menghasilkan kolostrum, susu jolong, atau susu awal yang warnanya kekuningan dan encer. Kolostrum ini kaya zat gizi dan antibodi yang berfungsi untuk melindungi bayi dari infeksi. Kolostrum akan muncul lagi 30 jam kemudian. Itu artinya kalau bayi tidak segera mendapat kolostrum pertama, dia kehilangan zat bergizi tinggi dari ibunya.
Walaupun bayi masih punya kesempatan untuk mendapatkannya, produksi kolostrum selanjutnya hanya 30 mililiter sehari. Itu artinya, kolostrum diproduksi hanya satu mililiter dalam satu jam. Tentu saja ini sangat kurang. Padahal, kolostrum mengandung protein, mineral, serta vitamin A, E, dan B12. Bahkan kolostrum mengandung lebih sedikit lemak dan gula dibandingkan dengan ASI yang diproduksi pada hari-hari berikutnya.
Secara fungsional, kolostrum berperan membersihkan air empedu dan mucus (meconium) pada saluran pencernaan bayi. Ini sangat penting karena pada masa sesudah kelahiran, bayi sangat rentan terhadap infeksi dan lingkungan yang sangat baru baginya. Kolostrum juga akan menghilangkan rasa lapar pada bayi baru lahir tanpa harus disertai asupan gula atau susu formula.
Menurut Dr. Utami, ASI yang keluar pada lima menit pertama dinamakan foremilk. Komposisinya berbeda dengan ASI yang keluar kemudian atau hindmilk. Foremilk lebih encer, mengandung protein tinggi dan karbohidrat rendah. Sementara hindmilk mengandung karbohidrat tinggi, protein rendah, dan kandungan lemaknya 4-5 kali lebih banyak dibandingkan dengan foremilk. Hindmilk inilah yang mengenyangkan bayi.
Warisan Zat Kebal Selain mengenyangkan, kolostrum mengandung zat immunoglobulin atau kekebalan. Jenis protein yang bertugas memerangi infeksi dalam tubuh itu tidak dimiliki oleh susu hewan. Kandungan zat ini dalam kolostrum sekitar 10 hingga17 kali lebih banyak daripada di dalam ASI matang. Itu sebabkan bayi yang mendapat ASI secara optimal memiliki kekebalan tubuh 15 sampai 20 kali lebih baik.
Sebenarnya tubuh bayi sudah mulai membuat antibodi sendiri segera setelah dilahirkan. Namun, antibodi itu baru akan mencapai puncak kekuatannya pada usia bayi sembilan sampai 12 bulan. Karena itu, ASI merupakan antibodi bantuan yang paling kuat bagi pertumbuhan awal si bayi. Terlebih lagi karena ASI ternyata mengandung berjuta-juta sel darah putih yang bermanfaat untuk membunuh kuman jahat dalam usus bayi.
Kandungan zat kekebalan ini benar-benar menakjubkan. Kekebalan tubuh ibu-ibu terhadap berbagai penyakit akan diturunkan pada bayinya lewat ASI. Seandainya ada seorang ibu mempunyai zat kekebalan terhadap lima penyakit, bayinya juga akan memperoleh warisan yang sama.
Efektivitas pemanfaatan ASI akan terasa sekali bila yang menyusui bayi itu adalah ibunya sendiri. Bila dua orang ibu melahirkan dan bayinya tertukar, ASI yang diberikan oleh keduanya tidak akan cocok walaupun tak memiliki efek samping pada bayi.
Enam Bulan Pertama Mengingat ASI adalah makanan yang paling cocok bagi bayi, WHO menganjurkan agar selama usia 0 sampai enam bulan bayi hanya diberi ASI sebagai menu utama dan satu-satunya. Anjuran ini sangat beralasan karena selain setipe dan memiliki zat kekebalan, kandungan ASI juga bisa mencerdaskan bayi.
Di dalam ASI terdapat taurine yang sangat penting dalam proses pembentukan sel-sel otak, sel-sel saraf, dan retina. Taurine adalah asam amino yang digunakan untuk membantu penyerapan lemak dan vitamin yang larut dalam lemak. Taurine juga membantu mengatur detakan jantung, menstabilkan membran sel, dan memelihara kelangsungan sel-sel otak.
Selain itu, taurine juga mengandung lemak rantai panjang. Lemak inilah cikal bakal pembentuk Arachidonic Acid (ARA) atau asam linoleat (omega-6) dan Docosa Hexaenoic Acid (DHA) atau asam alfa-linolenat (omega-3). Kedua bahan ini diketahui amat berguna dalam perkembangan sistem saraf otak dan indra penglihatan. Dr. Utami menegaskan bahwa DHA dan ARA ini tidak terdapat dalam susu sapi atau susu hewan lain.
Walaupun dalam susu formula (susu sapi yang dibuat dengan tambahan bahan lain) dikatakan dilengkapi DHA dan ARA, penyerapan pencernaan bayi tidak akan optimal, hanya sekitar 20 persen. Padahal, DHA dan ARA yang terdapat dalam ASI bisa diserap oleh pencernaan bayi sebanyak 100 persen dengan bantuan enzim lipase.
Optimalnya penyerapan DHA dan ARA itu membuat perkembangan otak bayi semakin maksimal. Kecerdasannya akan terus meningkat, apalagi bila sampai usia 12 bulan ia masih diberi ASI, selain makanan tambahan lain yang bemanfaat.
Sehat Jiwa Raga Manfaat ASI tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik. Efek pada kesehatan jiwa juga ada. Dr. Utami menyatakan bahwa pemberian ASI eksklusif merupakan bagian dari pendidikan anak. ASI tidak hanya mencerdaskan anak dari segi otak, tetapi juga hati dan spiritualitas. Walaupun masih perlu penelitian lanjut terhadap kesimpulan itu, uraian sementara ini bisa membantu menjelaskan konsep tersebut. Saat berada dalam kandungan, bayi seolah berada dalam surga yang sungguh menyejukkan dan menenteramkan.
Air ketuban yang silih berganti karena selalu mengalami siklus bagaikan usapan lembut, rahim tempat bayi tidur melindunginya dari bahaya, detak jantung ibu bagaikan senandung merdu yang meninabobokan dia, dan napas ibu seolah ayunan yang menimangnya. Suasana ini benar-benar nyaman dan tiada duanya bagi bayi.
Sewaktu lahir, bayi benar-benar merasa terkejut dengan dunia yang lain sama sekali dengan yang ia rasakan sebelumnya. Banyak hal asing harus dihadapinya. Satu-satunya yang bisa dipercaya adalah sang ibu. Karena itu, menyusui menjadi terapi yang sangat tepat untuk mengembalikan suasana yang dirasakan bayi selama ada dalam kandungan.
Dekapan dan elusan lembut sang ibu saat menyusui membuat bayi merasa aman dan tenteram. Ketenteraman itu ikut mendukung pertumbuhan sang bayi dengan lebih baik. “Apalagi bila sang ibu membacakan kata-kata bijak seperti dari kitab suci. Bayi akan semakin bertumbuh sesuai harapan sang ibu, menjadi anak baik dan saleh,” tutur Dr. Utami. @ Abd |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Sep 05, 2010 12:31 pm | |
| BERIKAN ASI SAMPAI USIA 2 TAHUN Selasa, 1 September 2009 | 12:47 WIB KOMPAS.com - Gencarnya iklan susu formula lanjutan ditengarai melemahkan tekad para ibu untuk terus memberikan ASI. Padahal, ASI seharusnya diberikan sampai bayi berusia dua tahun. Meski susu formula dibuat dengan komponen semirip mungkin dengan air susu ibu (ASI), ASI tetap tak tergantikan. "Selama enam bulan pertama kehidupan bayi, ASI memenuhi 100 persen kebutuhan bayi," papar dr.Asti Praborini, Sp.A, dari Perkumpulan Perinatologi Indonesia Pusat.
Menurut Rini, komponen dalam ASI sangat spesifik, disiapkan untuk memenuhi kebutuhan dan perkembangan bayi. "ASI memberikan imunitasi bagi bayi karena di dalamnya sudah terkandung anti virus dan anti kanker. Bayi juga tidak mudah infeksi. Itu sebabnya angka kematian bayi yang mendapat ASI lebih rendah," katanya saat dihubungi Kompas.com.
Sementara itu untuk bayi berusia 6 bulan ke atas, ASI masih memenuhi 70 persen kebutuhan bayi. "30 persennya di dapat dari makanan lain, tapi bukan susu formula," tegasnya. Hal ini karena pada usia 6 bulan bayi sudah diperkenalkan pada makanan padat, karena itu makanan bayi harus mengandung nutrisi dan gizi yang diperlukan.
Ditambahkan oleh Rini, susu sapi baru boleh diberikan saat bayi menginjak usia dua tahun. "Pada usia ini usus bayi sudah bagus dan sistem imunnya sudah kuat," katanya. Anak berusia dua tahun sebaiknya sudah dilatih kemandiriannya dengan cara tidak menyusu lagi.
Pemberian ASI sampai bayi berusia dua tahun ini sejalan dengan kode etik internasional dan anjuran badan kesehatan dunia (WHO). Pada tahun 1981 WHO dan Unicef mengatur pemasaran susu formula berupa Kode Pemasaran Pengganti ASI dan Indonesia hingga saat ini belum meratifikasi kode tersebut. "Iklan susu dan makanan bayi yang gencar menyesatkan ibu-ibu," kata Rini. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Sep 05, 2010 12:33 pm | |
| AWAS, BAYI ANDA DIBERI SUSU FORMULA! Selasa, 25 Agustus 2009 | 20:49 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Praktik pemberian susu formula bagi bayi baru lahir di tempat-tempat layanan kesehatan kian marak. Hal ini menghambat keberhasilan pemberian air susu ibu secara eksklusif bagi bayi usia nol hingga enam bulan. Karena itu, kini aturan yang melarang petugas kesehatan memberi susu formula bagi bayi baru lahir di rumah sakit dan penyedia layanan kesehatan lain akan diterbitkan. Aturan baru ini termuat dalam draf Rancangan Undang-Undang Kesehatan yang kini sedang dibahas oleh tim perumus RUU Kesehatan DPR RI. Selama beberapa tahun terakhir ini, RUU itu tak kunjung disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI). Semangatnya adalah, bagaimana melindungi pasien dari berbagai praktik yang merugikan. Sebab, selama ini banyak ibu yang baru melahirkan ditempatkan terpisah dengan bayinya. "Kemudian, bayi yang baru dilahirkan malah diberi susu formula oleh petugas kesehatan yang merawat," kata anggota Panitia Kerja RUU Kesehatan DPR RI dr Jumaini Sihombing, Selasa (25/  di Jakarta. Dalam Pasal 88 RUU Kesehatan disebutkan, setiap bayi berhak mendapat air susu ibu eksklusif minimal selama 6 bulan kecuali dalam hal kedaruratan medis. Selama ibu memberi ASI, pihak keluarga, pemerintah dan masyarakat harus mendukung penuh berupa penyediaan waktu dan fasilitas khusus pada ibu untuk memberi ASI pada bayinya di tempat kerja dan sarana umum. "Bila terjadi praktik pemberian susu formula bagi bayi baru lahir dalam kondisi tidak darurat medis, penyedia layanan kesehatan diancam sanksi administrasi atau pidana," ujarnya. Jika praktik itu terjadi di rumah sakit, sanksi bisa dikenakan pada manajemen RS maupun petugas kesehatan bersangkutan. Pada kesempatan terpisah, Hesti Kristina, Pengelola Program Manajemen Laktasi Perkumpulan Perinatologi Indonesia (Perinasia) Pusat menilai aturan dalam Pasal 88 RUU Kesehatan masih membuka peluang praktik pemberian susu formula bagi bayi usia 0-6 bulan di tempat penyedia layanan kesehatan meski tidak dalam dararurat medis. Kondisi kedaruratan medis seperti apa yang membuat petugas kesehatan menganjurkan susu formula bagi bayi. "Dalam situasi bencana pun, ASI sangat penting untuk mencegah infeksi dan mengoptimalkan pertumbuhan bayi," kata Hesti. Adapun pemberian susu formula justru meningkatkan risiko infeksi dan alergi pada bayi. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Sep 05, 2010 12:34 pm | |
| ASI PACU KECERDASAN ANAK Selasa, 24 November 2009 | 15:48 WIB KOMPAS.com - Pemenuhan nutrisi yang cukup merupakan syarat utama dalam tumbuh kembang anak, termasuk perkembangan otaknya. Kekurangan gizi akan menurunkan mutu otak seorang manusia. Oleh sebab itu, bayi butuh makanan yang baik kualitasnya maupun kuantitasnya.
Komponen utama pembentuk otak adalah lemak dan bahan baku untuk membentuk sel-sel saraf baru di dalam otak adalah protein. Air susu ibu (ASI) sebagai makanan utama bayi kaya akan asam lemak rantai panjang tak jenuh ganda yang berpengaruh penting dalam otak dan kecerdasan. Tak heran bila bayi yang mendapat ASI lebih cerdas. Dalam studi yang dilakukan para peneliti dari Universitas Colorado, AS terhadap 126 kakak beradik dari 59 keluarga diketahui anak yang mendapat ASI cenderung memiliki nilai akademis lebih baik dibanding yang tidak mendapat ASI.
"Anak yang semasa kecilnya mendapat ASI cenderung lebih cerdas dan lebih sehat, sehingga nilai akademis mereka di sekolah lebih baik," kata peneliti, Daniel Rees, Ph.D. Penelitian ini merupakan yang pertama yang menggunakan data dengan responden kakak beradik dengan mengesampingkan faktor lain, seperti sosial ekonomi, lingkungan keluarga, dan intelektual orangtua.
Last edited by gitahafas on Tue Sep 14, 2010 10:29 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Sep 05, 2010 12:35 pm | |
| SPHINGOMIELIN DIBUTUHKAN OTAK Sabtu, 7 November 2009 | 11:09 WIB KOMPAS.com - Sphingomielin sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan otak dan kecerdasan anak. Zat gizi ini terdapat dalam ASI, daging dan susu hewan, serta kedelai. Komponen utama pembentuk otak adalah lemak, sedangkan komponen pembentuk sel-sel saraf baru di dalam otak adalah protein. Selain itu, vitamin dan mineral tertentu juga berperan untuk pertumbuhan otak. Salah satu zat gizi penting dalam perkembangan otak adalah sphingomielin.
Kebutuhan tubuh akan sphingomielin tergantung pada makanan yang dikonsumsi setiap hari dan hasil sintetis sphingomielin itu sendiri dalam tubuh. Sekitar 0,1 - 1 persen lemak susu sapi terdiri atas fosfolipid, yang 30 persennya merupakan sphingomielin. Seperti susu ternak, ASI juga mengandung sphingomielin dalam jumlah memadai.
Sphingomielin sendiri banyak terdapat pada kolesterol LDL dan kolesterol HDL. Itulah alasan konsumsi kolesterol tetap penting bagi perkembangan otak anak. Menanamkan sikap fobia kolesterol pada anak-anak tidaklah tepat.
Sama seperti AA dan DHA, sphingomielin berperan penting dalam pembentukan dan fungsi kerja sel saraf yang optimal. Namun berbeda dengan AA dan DHA, sphingomielin memainkan peran dalam pembentukan mielin. Mielin itu sendiri berfungsi sebagai "selimut" sel saraf, sehingga membantu impuls pada sel saraf tersebut.
Mielin berfungsi untuk mempercepat impuls dari satu sel saraf ke sel saraf, otot, atau sel target lainnya. Fungsi ini menjadikan sphingomielin mulai dilirik para ilmuwan untuk diteliti lebih jauh, yaitu seberapa penting perannya dalam perkembangan sel saraf yang baik dan sehat.
Menurut Dr.Arthur R.Jensen, ahli saraf dari Fakultas Ilmu Pendidikan Kedokteran di University of California, Amerika Serikat, kecepatan pengantaran pesan oleh sel-sel saraf seseorang merupakan salah satu faktor yang menunjukkan tingkat kecerdasannya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Sep 05, 2010 12:38 pm | |
| ASI TEKAN 22% KEMATIAN Rabu, 12 Mei 2010 | 06:56 WIB Jakarta, Kompas - Inisiasi menyusui dini dapat menurunkan angka kematian bayi baru lahir hingga 22 persen. Hanya saja, cara sederhana dan murah tersebut kurang diketahui masyarakat, bahkan di kalangan tenaga kesehatan. Terlebih lagi, di tengah serbuan berbagai susu formula.
Ketua Umum Sentra Laktasi Indonesia sekaligus dokter spesialis anak, Utami Roesli, mengatakan, kematian bayi baru lahir, yakni usia di bawah 28 hari, di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian air susu ibu (ASI) dalam satu jam pertama setelah lahir. Hal itu diungkapkannya di sela seminar Advance Issues on Breastfeeding, Selasa (12/5).
Hasil penelitian Karen M Edmond di Ghana terhadap 10.947 bayi, inisiasi menyusui dini (IMD) menurunkan angka kematian bayi neonatus hingga 22 persen. Penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal Pediatric tahun 2006. Hanya saja, di masyarakat masih terjadi kerancuan konsep IMD. ”Dahulu, IMD itu dimaknai dengan membantu ibu menyusui dan mulut bayi langsung ditaruh pada payudara ibu untuk menyusui,” ujarnya.
Padahal, teknik IMD yang benar setelah bayi lahir dan tali pusar dipotong, bayi segera dikeringkan (dibersihkan) lalu diletakkan di dada ibu sehingga terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi. Bayi dibiarkan menemukan sendiri puting ibunya untuk menyusu. ”Setelah satu jam tidak menemukan puting ibu, bayi boleh didekatkan ke puting ibu dan diberi waktu 30 menit lagi untuk menemukan sendiri. Ibu dan bayi tidak dipisahkan,” ujarnya.
Dia mengatakan, IMD masih relatif baru di Indonesia sehingga masih banyak pekerjaan yang harus ditempuh. Jangankan IMD, untuk memasyarakatkan ASI eksklusif yang sudah dikenal sejak tahun 1980-an saja masih dibutuhkan kerja keras. Diperkirakan ASI eksklusif baru dilaksanakan sekitar 30 persen di Indonesia.
Pembicara lain, dokter spesialis anak dari Perhimpunan Peritanologi Indonesia, Asti Praborini, mengatakan, sedapat mungkin disarankan ibu tetap menyusui dalam kondisi apa pun. Ketidakpahaman kerap membuat tenaga kesehatan terlalu cepat memberikan susu formula sebagai pengganti ASI. Asti mengatakan, penggunaan pengganti ASI sangat terbatas dan jika diputuskan memberikan pengganti ASI, harus didiskusikan dengan keluarga pasien. (INE) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Sep 05, 2010 12:40 pm | |
| MENGAPA ASI TAK LANGSUNG KELUAR? Kamis, 7 Januari 2010 | 12:20 WIB KOMPAS.com - Rasanya sudah banyak ibu yang paham bahwa air susu ibu alias ASI merupakan makanan yang sempurna bagi bayi. Kebahagiaan dan kebanggaan tidak terkira dirasakan ibu jika berhasil menyusui bayinya, terutama pada anak pertama. Namun bagi sebagian ibu memberi ASI ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Tidak semua ibu beruntung ASI-nya langsung keluar setelah melahirkan. Bahkan, pada ibu yang baru pertama kali memiliki anak seringkali ASI baru keluar dua hingga tiga hari pasca persalinan. Dalam masa itu, terpaksa bayi diberi susu formula karena khawatir bayi kelaparan.
"ASI yang tak langsung keluar setelah melahirkan adalah hal yang wajar. Karena itu ibu harus memancing, misalnya dengan melakukan pemijatan, membersihkan puting, serta sering-sering menyusui bayi meski ASI belum keluar," kata dr.Tejowati Putri dari Jakarta Breastfeeding Center (JBFC).
Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Acta Obstetricia and Gynacologica Scandinavica baru-baru ini menyebutkan tingginya kadar hormon testosteron selama kehamilan bisa menyebabkan kesulitan dalam pemberian ASI.
Menurut dokter Putri, pada sebagian ibu mungkin saja terjadi kesulitan pengeluaran ASI, namun ia menyatakan lebih banyak ibu yang terpengaruh mitos sehingga tak yakin bisa memberikan ASI. "Banyak sedikitnya ASI yang diproduksi ibu sangat tergantung dari kondisi emosi dan motivasi ibu," katanya.
Menyusui sebenarnya adalah suatu proses yang terjadi secara alami. Jadi, jarang sekali ada ibu yang gagal atau tidak mampu menyusui bayinya. Meski begitu, menyusui juga perlu dipelajari, terutama oleh ibu yang baru pertama kali memiliki anak agar tahu cara menyusui yang benar.
Kualitas dan kuantitas produksi ASI juga perlu dijaga agar perkembangan fisik dan mental bayi bisa optimal. Caranya, antara lain dengan mengonsumsi makanan bergizi, minum cukup cairan, cukup istirahat dan sering menyusui, serta memijat payudara.
Peluang memberikan ASI pada hari-hari awal kehidupan bayi juga bisa ditingkatkan dengan proses inisiasi menyusu dini. Pada proses ini bayi dibiarkan mencari puting susu ibu sendiri. Ibu dapat merangsang bayi dengan sentuhan lembut. Jika perlu, ibu boleh mendekatkan bayi pada puting.
Sentuhan dan jilatan bayi pada puting ibu akan merangsang keluarnya oksitosin yang penting untuk menyebabkan rahim berkontraksi sehingga membantu pengeluaran plaenta dan mengurangi perdarahan pada ibu. Sentuhan itu juga merangsang hormon lain yang membuat ibu jadi tenang, relaks dan mencintai bayi, serta merangsang pengaliran ASI dari payudara. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Sep 05, 2010 12:43 pm | |
| PEMBERIAN ASI MENUNTUT PERAN LAKI LAKI Selasa, 22 Desember 2009 | 08:16 WIB Kompas.com - Salah satu masalah kesehatan yang cukup menonjol di Nusa Tenggara Timur adalah tingginya angka kematian bayi dan kasus gizi buruk. Kuncinya ternyata terletak pada perilaku ibu. Bayi mestinya mendapat air susu ibu (ASI) eksklusif selama enam bulan. Selama masa itu, bayi sebaiknya tidak mendapat makanan tambahan. Idealnya, bayi mendapatkan ASI selama dua tahun.
Namun, kesulitan hidup menyebabkan ibu-ibu harus segera pergi ke ladang membantu perekonomian keluarga. Bayi yang baru berumur dua atau tiga bulan pun ditinggalkan dan terpaksa mendapat makanan tambahan selain ASI. "Bayi yang baru berumur empat bulan sudah dikasih air putih atau bubur encer. Ini tidak benar,” kata Yakobus Mali (56), salah seorang kader posyandu laki-laki di Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Bukan cuma Mali yang menjadi kader posyandu laki-laki. Di desa tersebut setidaknya ada delapan kader posyandu laki-laki yang bekerja secara sukarela. Mereka merasa tergerak untuk mengampanyekan pemanfaatan ASI demi menurunkan angka kematian bayi dan menekan jumlah kasus bayi gizi buruk.
Sangat paham Bukan cuma semangat yang mendasari kader posyandu laki-laki mengampanyekan penggunaan ASI. Mereka juga sangat paham, menjelaskan bagaimana cara memberikan ASI yang baik bagi bayi. Dalam sesi tanya jawab, misalnya, seorang bidan pelatih mengatakan, ”Agar ASI lancar, posisi dan perlekatannya harus benar. Dagu bayi harus menempel di payudara.” Sri Budiati, bidan Puskesmas Wedhi di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, sengaja didatangkan ke Kabupaten Belu, awal Desember lalu.
Ia kembali mengingatkan pentingnya ASI bagi bayi dan posisi menyusui dengan memasukkan sebagian besar areola (lingkaran berwarna gelap di sekitar puting) ke dalam mulut bayi agar banyak ASI yang keluar. ASI dibentuk di dalam kelenjar-kelenjar susu, jauh di dalam payudara, yang dibawa saluran-saluran kecil ke areola. ”Kalau hanya mengisap puting, ASI tidak banyak keluar,” kata Sri.
Foto-foto mengenai posisi dan peletakan menyusui pun diedarkan agar lebih jelas. ”Saya ingin bantu ibu-ibu dan posyandu timbang dan data bayi. Saya bisa ajari ibu-ibu cara gendong bayi,” kata Bene yang telah menjadi kader posyandu sejak dua tahun lalu.
Bagi Bene, menjadi kader posyandu awalnya sangat sulit. Tidak ada ibu-ibu di Desa Halimodok, tempatnya tinggal, yang percaya kepadanya. Bukan hanya karena Bene berjenis kelamin laki-laki, tetapi juga karena ia dianggap masih kecil, baru 16 tahun saat itu. Meski tidak dipercaya, setiap bulan Bene tetap berkeliling desa mengajak kaum ibu datang ke posyandu. Banyak yang menolak dengan alasan harus ke ladang dari pagi hingga sore hari.
”Saya tetap tunggu di posyandu sampai jam 11. Sedikit yang datang, tetapi itu dulu. Sekarang sudah banyak yang datang,” kata Bene yang sudah lima kali mengikuti pelatihan mengenai kesehatan ibu dan anak. Mali juga hanya ingin membantu posyandu agar kaum ibu fokus memberi ASI saja kepada anaknya sampai enam bulan. Mali geregetan setiap kali melihat kaum ibu yang memberi makanan atau minuman kepada bayinya yang baru berusia empat bulan. ”Orangtua sudah kasih makan bubur atau minum air putih. Ini salah satu yang jadi pengaruh anak gizi buruk,” kata Mali.
Kurang gizi Khusus untuk di Belu, materi pelatihan yang disampaikan lebih fokus pada pentingnya ASI, fungsi ASI, dan kerugian susu formula. Pemberian ASI eksklusif 0-6 bulan dan pemberian makanan tambahan pada anak kurang dari dua tahun terbukti dapat mengurangi kematian anak balita. Communication Specialist Unicef Indonesia Lely Djuhari mengatakan, sejak tahun 2007 dinas kesehatan provinsi dan kabupaten, Kemitraan Australia dan Indonesia, serta Unicef mengampanyekan ASI eksklusif sebagai program minim biaya dan dampak tinggi dalam menangani masalah kurang gizi di NTT.
Prevalensi bayi gizi kurang di Kabupaten Belu merupakan salah satu yang tertinggi di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2007, prevalensi kurang gizi kronis (stunting atau tubuh pendek) di Belu mencapai 43,4 persen. Di NTT, prevalensi bayi gizi buruk mencapai 9,4 persen atau lebih tinggi dari angka nasional yang hanya 5,4 persen. Adapun prevalensi bayi gizi kurang di NTT mencapai 24,2 persen atau lebih tinggi dari prevalensi nasional yang hanya 24,2 persen.
”Sejak ada pelatihan ASI tahun 2007, masyarakat sudah tahu harus menyusui sampai enam bulan. Anak kurang gizi mulai berkurang. Apalagi setelah ada pengetahuan tentang inisiasi menyusui dini. Sekarang setiap kali ada bayi baru lahir langsung inisiasi menyusui dini, terutama yang melahirkan di puskesmas,” kata Rambu, bidan Puskesmas Wedomu, Desa Manleten.
Namun, lebih dari itu, pemberian ASI eksklusif sulit terwujud jika tidak disertai kesadaran suami. Suami mestinya jangan membiarkan istrinya ke ladang ketika bayinya belum berumur enam bulan. Dengan demikian, bayi bisa mendapatkan ASI eksklusif dan kasus gizi buruk bisa ditekan. (Luki Aulia) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Sep 05, 2010 9:23 pm | |
| ASI LEBIH BAIK DARI TINDAKAN ICU SUARA PEMBARUAN - 2010-06-10 [JAKARTA] Baru 32 persen ibu yang memberikan air susu ibu (ASI) eksklusif kepada bayinya, padahal ASI merupakan makanan yang sempurna kandungan zat gizinya untuk pertumbuhan bayi. ASI juga lebih baik daripada tindakan intensive care unit (ICU) bagi bayi saat sakit kritis, bahkan mengurangi angka kematian bayi. Ketua Indonesian Breastfeeding Center Utami Roesli dalam diskusi media di Jakarta, Rabu (9/6) mengatakan, ibu yang memberikan ASI eksklusif pada bayinya dari tahun ke tahun makin menurun persentasenya. Tahun 2002 kata Utami, persentasenya masih mencapai angka 40. Saat ini sebagian besar memilih susu formula, dan meningkat dari 17 persen menjadi 28 persen tahun ini. Padahal kata dia, susu formula dibuat bukan untuk menggantikan, tetapi mendampingi ASI. “Bahkan jurnal pediatrik tahun 2009, menunjukkan ASI dapat mengurangi masalah kesehatan mental pada anak. Anak-anak dengan gangguan emosional, gangguan pikiran, gangguan sosial hingga masalah depresi,” katanya.
Salah satu penyebabnya, kata dia, gencarnya promosi produsen susu dan produk susu yang beredar di pasaran. Tanpa disadari, iklan dan promosi produk susu yang menawarkan berbagai keunggulan mempengaruhi putusan ibu dalam memberikan susu bagi buah hati. Padahal, dalam pemasarannya banyak produsen susu yang melanggar kode etik baik oleh perusahaan lokal maupun internasional. Seperti, produk dipromosikan di sarana pelayanan kesehatan, kepada petugas kesehatan, kepada ibu serta calon ibu dan masyarakat.
Ahli Nutrisi dari Badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Anak-Anak (UNICEF) David Clark menjelaskan, masalah yang dialami Indonesia juga dialami banyak negara. Ketidaktahuan petugas kesehatan, justru dimanfaatkan perusahaan untuk menyatakan produk mereka terbaik. Dia menambahkan, di India perusahaan susu formula bayi bisa dipidana kalau melanggar kode etik pemasaran makanan pengganti Air Susu Ibu (MP-ASI). [D-13]
Last edited by gitahafas on Tue Sep 14, 2010 3:49 pm; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Sep 05, 2010 9:27 pm | |
| MENYUSUI DI TEMPAT KERJA Jumat, 3/9/2010 | 09:56 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk menyukseskan program ASI eksklusif, setiap perusahaan seyogyanya menyediakan tempat khusus untuk menyusui atau memerah ASI bagi kaum pekerja yang tengah menyusui anaknya. Kementerian Ketenagakerjaan mendukung pemerintah mencanangkan setiap perusahaan menyedikan fasilitas pemberian ASI pada pekerjanya. "Pekerja perempuan harus mendapatkan hak eksklusif (ruang menyusui) karena wanita memiliki fungsi reproduksi," kata Nur Asiah, Direktur Pengawasan Norma Kerja Perempuan dan Anak, Kementerian Tenaga Kerja, di sela acara Sosialisasi UU Kesehatan No.36 Tahun 2009 Terkait Pasal-pasal Pemberian ASI Ekslusif, Kamis (02/11/10), di Jakarta.
Pernyatan Nur sendiri berdasarkan Pasal 83 UU no.13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang menyatakan, 'Salah satu perlindungan pekerja perempuan setelah melahirkan yang anaknya masih menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui bayi, jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja.' Hal itu semakin diperkuat dengan UU 36 tahun 2009 Pasal 128 ayat (3), yang menyatakan, "Penyediaan fasilitas khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum."
Meski begitu, Nur menyatakan tidak selalu setiap ibu bisa menyusui di tempat kerja karena terbentur berbagai macam faktor. Oleh karena itu, ruang menyusui di kantor juga bisa difungsikan untuk memerah ASI. "Oleh sebab itu sebaiknya perusahaan menyediakan tempat yang nyaman untuk memerah ASI, dilengkapi lemari es untuk menyimpan ASI sehingga ASI bisa dibawa pulang pada saat jam kerja berakhir," kata Nur.
"Atau perusahaan bisa menyediakan mobil boks yang di dalamnya terdapat lemari pendingin, ASI yang diperah dapat dimasukkan ke dalam lemari pendingin untuk di antar ke rumah masing-masing pekerja perempuan agar selama waktu kerja, bayi dapat memperoleh ASI,” tambah Nur. Akan tetapi Nur mengakui, fasilitas yang diberikan perusahaan dipengaruhi oleh jenis perusahaan itu sendiri, apakah perusahaan kecil, sedang atau besar. Menurutnya, upaya ini harus segera dilakukan karena ruang ASI di tempat kerja sangat diperlukan untuk mendukung program pemberian ASI eksklusif di tempat kerja.
Di saat bersamaan, Direktur Bina Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan DR. Minarto, MPS, menyatakan saat ini Kementerian Kesehatan juga masih menggodok Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) terkait UU Kesehatan No.36 Tahun 2009. “Saat ini kami masih menyusun PP, karena meskipun sudah ada UU (Kesehatan) nya namun masih bersifat pilihan, yaitu boleh dilakukan atau tidak dilakukan tidak apa-apa. Karena itu, tidak bisa dikatakan sebuah perusahaan dihukum karena tidak menyedikan tempat menyusui karena belum ada PP nya,” ungkap Minarto.
Last edited by gitahafas on Tue Sep 14, 2010 3:54 pm; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Thu Sep 09, 2010 11:40 am | |
| WAJIB ASI EKSKLUSIF SEGERA BERLAKU Jumat, 3/9/2010 | 07:22 WIB Jakarta, Kompas - Setahun setelah pengesahan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, aturan mengenai pemberian air susu ibu segera diberlakukan. Ada sanksi bagi mereka yang menghalangi pemberian air susu ibu. Hal itu terungkap dalam seminar bertema ”Sosialisasi Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 Tahun 2009 Terkait Pasal- pasal tentang Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif” yang diselenggarakan Perkumpulan Perinatologi Indonesia, Kamis (2/9). Salah seorang pembicara, anggota Komisi IX DPR, Jumaini Andriani (F-PD), mengatakan, pasal-pasal khusus ASI itu dibuat dengan semangat melindungi anak dan memberikan kesempatan kepada ibu untuk menyusui. Pemberian ASI eksklusif berarti hanya memberikan ASI, tanpa pengganti lainnya, untuk bayi berusia 0-6 bulan.
Selama pemberian air susu ibu, pihak keluarga, pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat harus mendukung ibu bayi secara penuh dengan penyediaan waktu dan fasilitas khusus. Penyediaan fasilitas khusus diadakan di tempat kerja dan sarana umum. Bagi setiap orang yang dengan sengaja menghalangi program pemberian ASI eksklusif dipidana penjara paling lama satu tahun dan denda paling banyak Rp 100 juta.
Rancangan PP Direktur Bina Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Minarto mengatakan, pemerintah sedang menyusun pancangan peraturan pemerintah (RPP) tentang ASI eksklusif yang menjadi turunan dari UU Kesehatan. Peraturan pemerintah itu akan mengatur mengenai pemberian ASI eksklusif. Hal lain yang diatur ialah kewajiban tenaga, fasilitas kesehatan, tempat kerja, dan sarana umum terhadap pemenuhan hak ibu dan bayi atas ASI.
Minarto mengatakan, pemberian ASI secara teknis masih harus disosialisasikan kepada masyarakat. Masalah-masalah dalam pemberian ASI banyak yang memerlukan penyelesaian secara teknis, mulai dari pengetahuan mengenai periode awal menyusui, posisi menyusui, sampai dengan cara menjaga air susu tetap tersedia. Untuk itu, keberadaan konselor ASI sangat dibutuhkan.
”Jumlah konselor ASI masih sangat sedikit, yakni sekitar 2.000 orang. Padahal, idealnya di seluruh rumah sakit dan puskesmas setidaknya ada seorang konselor ASI,” ujarnya. Saat ini ada sekitar 1.300 rumah sakit dan 9.000 puskesmas di Indonesia. Jumlah rumah sakit sayang ibu dan anak juga baru sekitar 30 persen dari total rumah sakit yang ada. Pemerintah berencana melatih setidaknya sekitar 800 konselor ASI per tahun sehingga tercapai jumlah yang diinginkan. (INE)
Last edited by gitahafas on Thu Sep 09, 2010 12:03 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Thu Sep 09, 2010 11:48 am | |
| AGAR SI KECIL GAMPANG MENYUSU ASI Kamis, 3/6/2010 | 08:06 WIB KOMPAS.com - Banyak ibu mengeluh ASI-nya tak keluar sehingga si bayi akhirnya tak disusui. Padahal, berdasarkan hasil penelitian diketahui, dari 100 ibu yang mengaku tak bisa menyusui ternyata hanya dua orang yang terbukti ASI-nya tak keluar. Sisanya yang 98 orang hanya salah dalam tekniknya saja. Nah, agar ibu dapat menyusui dan si kecil pun bisa menyusu dengan mudah, berikut tipsnya:
* Carilah posisi yang nyaman. Posisi yang nyaman adalah yang tak membuat Anda merasa tegang dan kaku. Jangan mencondongkan tubuh ke depan agar puting susu bisa masuk ke mulut bayi. Letakkan bantal di pangkuan Anda untuk mendukung lengan yang merangkul bayi dan mendekatkan si bayi ke dada anda.
* Pegangi payudara di antara ibu jari dan telunjuk tepat di atas areola. Untuk merangsang reflek mengisap si bayi, dekatkan puting ke arah pipinya sehingga menyentuh sudut bibirnya. Ini akan membuat bayi menoleh ke arah sentuhan. Jangan menekan kedua pipi agar mulut bayi terbuka karena hanya membuatnya tak tahu ke mana ia harus menoleh. Saat mulut bayi sudah terbuka, perlahan-lahan masukkan puting ke bagian tengah agar bayi dapat menjepitnya. Bila perlu ulangi urutan ini sampai bayi dapat "memegang" puting di mulutnya. Jangan memaksa, tapi berilah kesempatan. Dengan begitu, akhirnya si bayi dapat mengambil inisiatif sendiri.
* Pastikan mulut bayi masuk sampai ke puting dan ke seluruh areola. Hanya mengisap puting, selain akan membuat bayi tetap lapar karena kelenjar susu yang mengeluarkan susu tak tertekan, juga akan membuat puting Anda sakit.
* Pastikan bayi tak mengisap bibir bawah atau lidahnya sendiri. Anda dapat memeriksanya dengan menarik bibir bawah si bayi ke bawah sementara ia menyusui. Jika tampaknya ia mengisap lidah sendiri, hentikan isapan dengan jari anda. Keluarkan puting dan pastikan ia tak mengangkat lidahnya sebelum Anda mulai memasukkan puting kembali.
* Pastikan hidung bayi tak tertutup oleh payudara Anda. Gunakan jari untuk menekan payudara menjauh dari hidung sehingga tersedia cukup ruang baginya untuk bernafas.
* Perhatikan gerakan pipi bayi. Gerakan yang kuat, teratur dan berirama pada pipi bayi menandakan pengisapan ASI sedang berlangsung. Ketika ASI sudah mengalir, Anda dapat mendengar suara penelanan yang menjamin isapannya tak sia-sia.
* Peras ASI bila alirannya terlalu kuat. Bila ASI keluar terlalu cepat bisa membuat bayi tersedak. Hentikan menyusui dan peras keluar sedikit ASI dengan tangan atau pompa untuk mengurangi kelebihan.
* Keringkan puting setelah usai menyusui. Bila mungkin, biarkan puting berkontak dengan udara selama 10-15 menit. Ini akan membantu menguatkan puting dan tak perlu dilakukan lagi bila proses menyusui sudah berjalan lancar.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 09, 2010 12:05 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11690 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Thu Sep 09, 2010 11:59 am | |
| EMOSI IBU MEMPENGARUHI ALIRAN ASI Senin, 26/7/2010 | 14:16 WIB KOMPAS.com - Pengaliran ASI dikendalikan oleh hormon oksitosin atau disebut juga hormon cinta. Kekhawatiran ibu, termasuk perasaan sedih, cemas, marah bisa mengurangi oksitosin. Hal inilah yang menyebabkan ASI tidak keluar, padahal payudara sebagai pabrik ASI selalu memproduksi. Isapan bayi paling maksimal pun, hanya bisa mengambil 60-70 persen suplai ASI. Jadi, jika pun beberapa ibu mengklaim ASI tidak keluar, ini lebih disebabkan karena berbagai kondisi psikologis ibu, bisa jadi karena adanya pikiran khawatir atau takut.
"Hormon oksitosin tidak bekerja jika ibu stres. ASI tetap ada di gudang namun tidak mengalirkan ASI. Karenanya ibu harus rileks," papar Farahdiba Tenrilemba Jafar, Sekretaris Jenderal Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI), saat workshop "Breastfeeding Tips For Working Moms" beberapa waktu lalu. Menurut Diba, ibu seringkali merasa tak percaya diri karena ASI keluar sedikit setelah melahirkan. Padahal memang jumlah kolostrum masih sedikit pada saat ibu melahirkan. Namun bukan berarti tidak ada ASI, tegasnya. Oleh sebab itu, kata Diba, hormon oksitosin perlu distimulasi termasuk dengan support suami dan keluarga. Bahkan, tempat bekerja juga bisa memberikan dukungan, dengan menyediakan kesempatan dan fasilitas bagi ibu menyusui.
Diba menjelaskan beberapa hal yang bisa membuat ibu lebih tenang sehingga oksitosin bekerja maksimal: - Ibu dalam keadaan tenang. - Mencium dan mendengarkan celoteh atau tangisan bayi. - Melihat dan memikirkan bayi dengan perasaan sayang. - Ayah menggendong atau menyendawakan bayi. - Ayah menggantikan popok dan memandikan bayi. - Ayah bermain, menggendong dan menyanyikan bayi. - Ayah memijat bayi.
"Jika ada Ibu yang merasa tidak bisa menyusui ASI, ayah punya peran di dalamnya. Karena perhatian ayah sangat dibutuhkan ibu yang baru melahirkan," tegas Diba, menambahkan. Bersentuhan kulit dengan bayi (skin to skin) bisa menjadi cara bagi ayah dan ibu untuk menenangkan bayi, yang juga akan mempengaruhi psikis ibu pascamelahirkan.
Sedangkan, sejumlah faktor yang bisa mengurangi oksitosin diantaranya: - Takut bentuk payudara berubah dan takut gemuk. - Ibu bekerja. - Ibu merasa atau takut ASI-nya tidak cukup. - Ibu merasa kesakitan pada saat menyusui. - Ibu merasa sedih, cemas, marah, kesal dan bingung. - Malu menyusui. - Suami atau keluarga kurang mendukung.
Beberapa kekhawatiran ibu cenderung tidak dilandasi alasan yang tepat. Karenanya ibu perlu mempersiapkan diri dengan memilih memberikan ASI. "Dengan mengenali anatomi payudara, misalnya, ibu tak perlu khawatir mengenai produksi ASI. Semua bentuk payudara bisa menyusui. Sedangkan jika bentuk payudara berubah, bukan karena menyusui tetapi bentuk mulai karena hamil," jelas Diba. Dengan mempersiapkan diri lebih matang, serta menjelaskan komitmen kepada suami dan keluarga, untuk memberikan ASI, calon ibu akan lebih siap menghadapi masa menyusui. Bagaimanapun dukungan suami dan keluarga sangat penting pada masa ini. Selamat datang di dunia ibu.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 09, 2010 12:06 pm; edited 1 time in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |