|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Sun Jun 20, 2010 9:38 am | |
| AMANKAH MEMUTIHKAN GIGI? Rabu, 24/03/2010 11:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Gigi putih cemerlang menjadi idaman yang membuat seseorang terlihat menarik saat tersenyum sehingga bisa meningkatkan kepercayaan diri. Segala cara dilakukan untuk bikin gigi putih termasuk melakukan pemutihan (bleaching) gigi.
Seberapa aman proses bleaching itu? "Proses memutihkan gigi atau bleaching bisa dibilang aman tapi bisa juga dibilang tidak aman, ini tergantung dari bahan dan dosis yang digunakan. Jika menggunakan peroksida umumnya bisa menyebabkan gigi menjadi rusak," ujar drg Armasastra Bahar, PhD, saat dihubungi detikHealth, Rabu (24/3/2010). Bleaching gigi biasanya dilakukan untuk menghilangkan warna gigi yang kuning atau kusam akibat sisa-sisa makanan seperti kopi, coklat, rokok, obat atau ada juga yang warnanya berubah karena terjadi perubahan struktur di dalam gigi.drg Armasastra menuturkan bleaching gigi bisa saja dilakukan jika warnanya memang sudah sangat mengganggu dan dapat menurunkan kepercayaan diri seseorang.
Tapi menurutnya gigi yang berwarna gading lebih baik dibandingkan dengan gigi putih, karena gigi yang terlalu putih menunjukkan struktur yang kurang kuat. "Jika warna gigi berubah akibat sisa-sisa makanan maka bisa dihilangkan dengan perawatan ke dokter gigi dan tidak perlu di bleaching, tapi jika perubahan akibat intrinsik atau faktor dari dalam struktur gigi tersebut maka kondisi ini tidak bisa dihilangkan," ujar dokter yang juga anggota Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI). drg Armasastra menjelaskan selama ini ada dua cara yang dilakukan untuk memutihkan gigi (bleaching) yaitu:
1. Membuat lapisan tipis pada gigi dengan menggunakan bahan tertentu. Tapi ini biasanya hanya bertahan beberapa bulan saja lalu warna gigi akan kembali seperti semula dan proses ini membuat seseorang harus mengulanginya lagi.
2. Teknik bleaching dengan menggunakan bahan yang dapat mengubah warna gigi dari dalam atau mengubah struktur giginya, dan proses ini bisa berbahaya karena dapat mempengaruhi struktur gigi secara keseluruhan.
"Menurut saya gigi yang bersih dan sehat jauh lebih bagus dibandingkan dengan gigi yang putih, jadi sebaiknya rawatlah gigi dengan menggosok gigi secara teratur dan benar serta menggunakan sikat dan pasta gigi yang tepat," ujar dokter dari FKG UI ini. Selain itu hindari menyikat gigi langsung setelah makan, karena saat habis makan kadar pH dalam mulut berubah dan menyikat gigi bisa menyebabkan lapisan email gigi menipis. Sebaiknya tunggulah selama 30 menit setelah makan, baru menyikat gigi. Dan juga sebaiknya gunakan pasta gigi yang mengandng flouride karena bisa memperkuat struktur gigi dan mencegah gigi menjadi bolong.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 16, 2010 9:55 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Mon Jun 21, 2010 5:24 am | |
| PERMEN KARET CEGAH KERUSAKAN GIGI Jumat, 05/02/2010 11:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Queensland, Permen karet biasanya dikonsumsi orang jika sedang merasa gugup atau saat olahraga. Tapi mengunyah permen karet secara teratur juga bisa berguna untuk mencegah kerusakan gigi. "Permen karet yang baik untuk mencegah kerusakan gigi adalah yang tidak mengandung gula. Mengunyah permen karet bebas gula akan memiliki dampak positif terhadap kesehatan gigi," ujar Profesor Laurence Walsh, ketua Dental School di University of Queensland, seperti dikutip dari ABCnet, Jumat (5/2/2010).
Prof Walsh menuturkan manfaat lain yang bisa didapat dengan mengunyah permen karet adalah meningkatkan produksi air liur, hal ini berguna untuk membantu melindungi gigi, menjaga gigi agar tetap bersih serta dapat memperkuat lapisan enamel gigi. "Mengunyah permen karet juga bisa melatih otot-otot wajah dan gigi dan juga membuat sel-sel kelenjar air liur bekerja lebih baik dan efisien. Serta mempengaruhi jenis-jenis bakteri yang tumbuh di mulut seseorang," ungkap Prof Walsh.
Orang yang memiliki risiko tinggi mengalami kerusakan gigi adalah orang yang melakukan diet tidak benar, sering mengonsumsi minuman bersoda atau minuman olahraga, gaya hidup yang tidak sehat serta mengonsumsi obat tertentu yang bisa mempengaruhi produksi air liur. Permen karet yang bisa memberikan manfaat positif bagi gigi adalah permen bebas gula dan mengandung protein susu yang dapat melepaskan mineral untuk membantu memperbaiki gigi serta menghambat proses pembusukan.
"Pembusukan adalah awal dari timbulnya rongga besar yang lama kelamaan bisa mengakibatkan kerusakan. Hal ini penting karena keusakan gigi sulit sekali untuk disembuhkan serta bisa menimbulkan infeksi lainnya," ujar Prof Walsh. Tak ada salahnya untuk mengunyah permen karet bebas gula sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat. Tapi jangan meninggalkan kebiasaan sehat lain seperti sikat gigi minimal 2 kali sehari serta memeriksakan gigi setiap 6 bulan sekali.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 16, 2010 10:00 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Mon Jun 21, 2010 7:59 am | |
| GROGINYA KE DOKTER GIGI Senin, 01/02/2010 15:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Diantara banyak dokter, mungkin hanya dokter gigi yang paling ditakuti banyak orang. Tak hanya anak kecil, orang dewasa pun kadang memilih sakit gigi karena takut ke dokter gigi. "Mengabaikan perawatan rutin karena kecemasan yang berlebihan bisa mengarah pada masalah yang lebih besar, sehingga nantinya membuat biaya perawatan mulut dan gigi menjadi lebih tinggi," ujar Dr Leonard Sizani, dari South African Dental Association (SADA) seperti dikutip dari Health24, Senin (1/2/2010).
Beberapa penyebab orang gugup ke dokter gigi adalah: 1. Karena takut dengan peralatan yang digunakan seperti bor. 2. Punya pengalaman yang tidak menyenangkan dengan dokter gigi karena dokter giginya tidak simpatik. 3. Takut gigi akan disuntik sehingga menimbulkan perasaan tegang dan sakit secara fisik. 4. Ketakutan dokter akan memarahi Anda karena tidak rajin merawat gigi.
Jika ada salah satu dari alasan tersebut yang membuat seseorang takut ke dokter gigi, cobalah beberapa saran berikut untuk mengatasinya:
1. Pilihlah dokter gigi yang bisa berempati berdasarkan saran teman atau saudara. Ketika memilih dokter, pilihlah dokter yang bisa berempati terhadap perasaan Anda. Dokter tersebut harus bisa membuat seseorang merasa nyaman dan aman sehingga Anda tak perlu takut. Cobalah untuk meminta rekomendasi dari teman atau saudara untuk menentukan dokter mana yang bisa membuat seseorang merasa nyaman dan tidak takut.
2. Makanan mempengaruhi tingkat kecemasan. Mengonsumsi makanan tinggi protein seperti keju dalam waktu satu jam sebelum pemeriksaan gigi bisa menghilangkan kecemasan yang ada. Sedangkan makanan karbohidrat tidak memiliki efek menenangkan.
3. Bernapas secara teratur. Saat cemas seseorang cenderung untuk menahan napas yang secara tak langsung meningkatkan rasa panik karena kadar oksigen yang berkurang. Cobalah untuk bernapas secara teratur dan perlahan-lahan selama beberapa detik.
4. Pikirkan segala hal yang positif mengenai dokter gigi. Ketakutan yang timbul biasanya diakibatkan karena seseorang tidak terbiasa melakukannya. Cobalah untuk berpikir bahwa perawatan ini tidak akan seburuk yang dipikirkan karena teknologi sudah semakin maju. Dengan pemikiran yang positif, rasa takut akan sedikit berkurang.
5. Cobalah untuk melakukan teknik relaksasi sederhana. Teknik bisa dimulai dengan melemaskan otot-otot tubuh mulai dari kepala hingga ujung kaki sambil mendengarkan musik saat sedang berada di dalam ruang perawatan dokter. Ketika sedang tegang, menarik napas dalam-dalam lalu membiarkan otot menjadi rileks akan membuat tubuh merasa santai dan rasa takut serta gugup akan hilang.
Mengunjungi dokter gigi mungkin tidak akan menjadi daftar utama bagi beberapa orang. Tapi dengan melakukan beberapa hal tersebut, rasa takut dan gugup akan berkurang dan berkunjung ke dokter gigi bukan lagi menjadi hal yang menakutkan.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 16, 2010 10:03 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Mon Jun 21, 2010 11:45 am | |
| KIKIR GIGI DAN RISIKONYA Selasa, 12/01/2010 11:40 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Mengikir gigi kadang-kadang dilakukan orang untuk meratakan gigi atau memotong gigi yang terlalu panjang agar penampilan terlihat lebih apik. Ilmu kesehatan menyarankan agar hati-hati dalam mengikir gigi karena ada risiko yang harus ditanggung. drg Arma Sastra Bahar PhD mengatakan hal yang perlu diperhatikan dalam mengikir gigi adalah ketebalan dari email gigi. Email gigi yang berkurang akan membuat gigi lebih cepat rusak.
"Kikir gigi yang selama ini dilakukan biasanya mengikis email atau bagian ujung dari gigi orang tersebut, sehingga lapisan emailnya menjadi berkurang," ujar drg Arma saat dihubungi detikHealth, Selasa (12/1/2010). Email merupakan lapisan terluar dari gigi dan dibentuk oleh sel-sel yang disebut dengan ameloblast. Fungsi email gigi mencegah gigi agar tidak berlubang. Meskipun lapisan email gigi ini sangat keras tapi rentan terhadap asam yang berasal dari makanan atau hasil metabolisme dan fermentasi makanan yang dikonsumsi. Orang yang sering makan asam juga bisa mempercepat kerusakan email gigi.
Bagian gigi terdiri dari email gigi, mahkota gigi, gusi, ruang pulpa, leher gigi, dentin, tulang alveolar, saluran akar, cementum dan ligamen periodontal. drg Arma menuturkan jika setelah dikikir lapisan gigi yang tersisa masih jauh dari pulpa,-- yaitu bagian tengah gigi yang terdiri dari saraf dan pembuluh darah--, maka hal ini tak masalah untuk dilakukan. Tapi berbeda halnya jika ketebalan email dari gigi tersebut sudah tipis.
"Kalau setelah dikikir hasilnya dekat dengan bagian pulpa gigi maka bisa berbahaya. Karena jaringan tersebut terbuka akan membuat gigi lebih sensitif, mudah bolong serta sangat rentan terkena infeksi yang nantinya bisa berakibat pada kerusakan gigi itu sendiri," ujar dokter yang juga masih aktif mengajar di FKG-UI ini. Untuk alasan itulah kikir gigi harus dilakukan oleh dokter atau orang yang ahli. Jika ketebalan dari email ini tidak memungkinkan untuk dikikir, maka sebaiknya kikir gigi tidak dilakukan. Karena tidak ada manfaat yang bisa diambil dari hal ini, tapi justru bisa merusak gigi orang tersebut.
"Dengan mempertimbangkan masalah ini, setahu saya tradisi kikir gigi pun sekarang hanya sebagai simbolis atau ritual saja dan tidak benar-benar mengikir atau mengikis gigi. Karena memang jika dilihat tidak ada manfaat dari kikir gigi ini sendiri kecuali hanya ritual saja," ungkap drg Arma. Jika Anda ingin melakukan kikir hanya agar gigi terlihat rapi saja, sebaiknya dipertimbangkan kembali apa manfaat dan kemungkinan kerugian yang bisa didapat dari hal ini. Jika ketebalan dari email gigi memang tidak memungkinkan, sebaiknya kikir gigi jangan dilakukan.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 16, 2010 10:08 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Mon Jun 21, 2010 8:26 pm | |
| HATI HATI, SIKAT GIGI TERMASUK BENDA YANG PALING SERING TERTELAN Selasa, 31/08/2010 13:00 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Auckland, Seorang gadis remaja di Auckland, Selandia Baru bermain-main dengan sikat gigi berukuran 19 cm, lalu mendadak benda itu tertelan masuk ke perutnya. Tidak perlu kaget, kejadian semacam ini telah terjadi 40 kali dalam 12 tahun terakhir. Seperti dilaporkan dalam New Zealand Medical Journal, gadis berusia 15 tahun itu awalnya hanya berjalan kaki dengan sikat gigi di mulutnya. Mendadak ia tersandung lalu jatuh, kemudian sikat gigi itu terdesak masuk ke kerongkongan. Saat berusaha menolong, kakak laki-lakinya masih bisa melihat ujung sikat gigi tersebut. Namun tiba-tiba refleks gadis yang mulai tercekik itu menyebabkan sikat gigi masuk lebih dalam ke saluran pencernaan.
Pemindaian sinar-X di rumah sakit tidak mampu mendeteksi keberadaan sikat gigi di perutnya. Namun dengan kamera gastroskop, dokter dapat memastikan benda itu terjebak di saluran pencernaan dan butuh tindakan medis untuk mengeluarkannya. Dr Dinesh Lal dari Middlemore Hospital mengatakan, bentuk dan ukuran sikat gigi tidak memungkinkan untuk keluar sendiri secara alami. Oleh karena itu ia memberikan anestesi umum lalu mengikat ujung sikat dengan senar khusus dan menariknya keluar melalui mulut.
Meski jarang terjadi, kasus sikat gigi tertelan secara tidak sengaja bukan kali ini saja terjadi. Menurut Dr Lal, kasus semacam itu telah terjadi sedikitnya 40 kali di seluruh dunia dalam 12 tahun terakhir. Sebagian besar kasus itu dialami penderita bulimia, yang sering menggunakan sikat gigi untuk merangsang kerongkongan agar memuntahkan isi perut. Seorang pasien bulimia di Jerman bahkan pernah 2 kali menelan sikat gigi tanpa sengaja dalam peristiwa berbeda yang hanya berselang 1 tahun.
Kasus-kasus tersebut umumnya dapat diatasi dengan senar khusus untuk menarik ujung sikat seperti pada gadis asal Auckland. Namun pada beberapa kasus yang rumit, sikat gigi harus dikeluarkan lewat pembedahan. Selain sikat gigi, Dr Lal juga mencatat benda aneh lainnya yang pernah dikeluarkan dari perut manusia. Dikutip dari stuff.co.nz, Selasa (31/8/2010), benda-benda tersebut antara lain sebagai berikut.
1. Jam tangan Casio (masih berfungsi dengan baik dan menunjukkan waktu yang tepat saat dikeluarkan) 2. Jepit rambut dari keramik 3. Bohlam lampu pijar 4. Pisau cukur 5. Baterai kecil seukuran kancing baju (dapat menyebabkan arus pendek ketika bercampur cairan tubuh di lambung).
Last edited by gitahafas on Thu Sep 16, 2010 9:33 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Mon Jun 21, 2010 8:30 pm | |
| GIGI NGILU NGILU JANGAN DIANGGAP ENTENG Kamis, 18/03/2010 16:30 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Jakarta, Sering merasa nyeri atau ngilu di gigi pada saat makan atau minum dingin, panas dan asam adalah gejala gigi sensitif. Jangan anggap enteng karena jika diabaikan, gigi sensitif bisa menyebabkan gigi meradang, tak bisa dipulihkan dan akhirnya kematian gigi.Gigi sensitif merupakan istilah umum yang dipakai untuk menunjukkan adanya dentine hypersensitive (DH) yaitu terbukanya dentin akibat menipisnya email dan atau turunnya gusi. Dentin mempunyai saluran-saluran kecil (tubulus dentin) yang langsung berhubungan dengan syaraf gigi.
Gigi yang paling rentan terhadap DH adalah gigi taring, geraham kecil, dan geraham. Dan yang paling jarang terkena masalah ini adalah gigi seri. Kasus ini lebih sering dijumpai pada usia 20-40 tahun dan lebih banyak dijumpai pada wanita ketimbang wanita.
"Hasil riset menunjukkan bahwa 65 persen responden pernah mengalami gigi sensitif, dan ini paling sering terjadi ketika mengonsumsi makanan atau minuman dingin," kata drg Sri Sulilawati, M.Kes, Kepala Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat FKG UNPAD, pada konferensi pers yang diadakan Pepsodent di Jakarta, Kamis (18/3/2010). Dari keseluruhan responden yang mengalami gigi sensitif, mayoritas tidak melakukan apa-apa untuk menanggulangi masalah ini. Hanya 19 persen yang berobat ke dokter gigi dan masih sedikit yang menggunakan obat tradisional, obat kumur serta pasta gigi untuk gigi sensitif.
"Padahal jika diabaikan, gigi sensitif ini bisa menyebabkan peradangan jaringan pulpa (jaringan syaraf dan pembuluh darah di dalam gigi) sehingga terjadi sakit berkepanjangan, sampai pada kematian gigi. Gigi sensitif juga bisa menyebabkan masuknya bakteri ke leher gigi yang terbuka, dan akhirnya dapat menyebabkan penyakit sistemik seperti ginjal dan jantung," kata Prof Trimurni Abidin, drg. Sp.KG(K), M.Kes, ahli kesehatan gigi dari FKG Universitas Sumatera Utara.
Secara umum, hal-hal yang menyebabkan masalah gigi sensitif adalah antara lain kebiasaan menggosok gigi dengan cara yang tidak tepat, penyakit gusi (gingivitis) dan penurunan gusi, buruknya kondisi kebersihan gigi dan mulut, penumpukan plak, pengikisan email dan tindakan pemutihan gigi (bleaching) yang berlebihan, konsumsi makanan yang mengandung asam tinggi, seperti jeruk, tomat, acar, dan teh secara reguler, kebiasaan mengunyah yang salah, dan pembentukan lapisan email gigi yang kurang sempurna (ename hypoplasia).
Menurut dokter gigi dr Diana F. Suganda, M.Kes ada jenis makanan yang dapat memicu masalah gigi sensitif yakni karbohidrat, konsumsi gula dan makanan manis yang berlebih, makanan asam dan minuman berkarbonasi. dr Diana menyarankan untuk mengonsumsi gizi seimbang, kaya gandum murni, buah dan sayur, disamping konsumsi nutrisi yang mengandung kalsium, fosfat dan protein seperti keju untuk proses remineralisasi, karena hal ini akan menambah jumlah air liur, menetralkan asam sehingga gigi terlindungi.
Namun, jika kita tidak bisa menghindari makanan-makanan tersebut, sebaiknya minum air putih yang banyak sehingga asam di mulut ternetralkan, dan jangan suka mengulum makanan dalam waktu yang lama di dalam mulut karena dapat menyimpan asam dan memancing bakteri yang merusak gigi. Untuk dapat mengetahui apakah gigi ngilu yang dirasakan adalah gigi sensitif atau bukan, dapat dikenali dengan cara kumur-kumur dengan air dingin, dan makan es krim atau makan dan minum sesuatu yang manis.
Menurut Prof Trimurni, cara penanggulangan gigi sensitif tergantung pada kasus. Secara umum, penanggulangannya adalah melakukan perawatan di rumah (home treatment) dengan menyikat gigi dengan baik dan penggunaan pasta gigi yang mengandung Potassium Citrate, serta perawatan di klinik (office treatment) untuk menemukan penyebab utama keluhan gigi sensitif. Dan memperbaiki tambalan yang rusak atau ada kelainan struktur jaringan keras gigi seperti karies, erosi atau abrasi. Rasa ngilu pada gigi sensitif dapat dipicu oleh berbagai hal. Oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan agar tetap nyaman ketika menikmati hidangan favorit. Cara pencegahan antara lain:
1. Hilangkan kebiasaan buruk menggosok gigi dengan tekanan yang keras dan dengan gerakan kiri-kanan. Gerakan yang benar pada saat menggosok gigi adalah 'merah-putih', yaitu dari gusi ke gigi, sikat gigi dimiringkan dan disikat memutar.
2. Sikat gigi diwaktu yang tepat, yaitu kurang lebih 20 menit setelah makan.
3. Gunakan sikat gigi dengan bulu sikat yang lembut dengan kepala sikat sesuai dengan ukuran mulut.
4. Hindari penggunaan sikat gigi yang bulu sikatnya sudah rusak
5. Bersihkan gigi pada seluruh permukaan gigi sampai ke celah-celah gigi dan saku gusi.
6. Lakukan pijatan gusi untuk memperlancar peredaran darah.
7. Gunakan pasta gigi yang mengandung Zinc dan Triclosan.
8. Hindari konsumsi makanan atau minuman yang memiliki perbedaan suhu ekstrim pada saat bersamaan.
9. Hindari makanan yang dapat menyebabkan trauma pada gusi atau merusak gusi.
10. Hindari konsumsi makanan yang terlalu asam atau terlalu manis.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 16, 2010 9:31 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Tue Jun 22, 2010 5:17 am | |
| WARNA GIGI DAN ARTINYA Selasa, 25/08/2009 16:01 WIB Irna Gustia - detikHealth Jakarta, Mungkin Anda mengira warna gigi seharusnya putih berkilau. Tapi sebenarnya email atau lapisan gigi bersifat tembus pandang jadi gigi memancarkan warna dentin (zat di email) yang ada di dalam gigi. Seperti dilansir dari dent.info.md, warna gigi tidak selalu putih tergantung individu masing-masing. Orang dewasa normalnya memiliki warna gigi kuning keabu-abuan, putih keabu-abuan atau putih kekuning-kuningan. Sedangkan gigi sulung normalnya berwarana putih susu atau putih kebiru-biruan.
Tapi selain warna gigi yang normal itu, banyak pula orang yang memiliki warna yang ekstrim. Warna gigi bisa menginformasikan mengenai apa yang terjadi dalam tubuh. Email gigi juga bisa berubah warnanya sesuai yang dimasukkan dalam mulut. Joan Liebmann-Smith Ph.D dan Jacqueline Nardi Egan dalam tulisannya Body Sign, How to Be Your Own Diagnostic Detective, seperti dikutip Selasa (25/8/2009) mengulas ada 8 jenis warna gigi yang menjadi peringatan bagi tubuh.
1. Gigi kuning coklat Warna gigi kuning kecoklatan akan terjadi seiring bertambahnya usia yang kebanyakan terjadi pada lansia. Tapi jika Anda belum berumur tua dan memiliki gigi yang menguning adalah tanda bahwa Anda seorang perokok, peminum kopi, teh atau cola.
2. Gigi kehijauan atau berwarna logam Gigi yang berwarna hijau, hijau kebiruan atau coklat adalah tanda Anda terkena paparan logam secara berlebihan. Bisa saja terjadi ketika di tempat kerja atau waktu operasi gigi. Jika terpapar besi, mangan dan perak warnanya bisa hitam. Merkuri dan timbal menimbulkan warna biru hijau. Tembaga dan nikel bisa menyebabkan gigi berwarna hijau hingga kebiruan. Menghirup gas seperti asam khrom membuat gigi berwarna oranye gelap. Sedangkan jika terpapar lautan yodium secara berlebihan seperti banyak menghabiskan waktu di kolam yang mengandung klorin bisa menyebabkan gigi berwarna coklat.
3. Gigi abu-abu kebiruan Banyak orang yang tidak sadar bahwa mengonsumsi antibiotik tetrasiklin selama hamil bisa membuat gigi bayi suram. Warna gigi yang suram ini juga terjadi pada anak yang mengonsumsi tetrasiklin ketika sedang dalam masa pertumbuhan. Sedangkan noda keabu-abuan pada gigi orang dewasa pertanda menggunakan minosiklin,-- yakni sejenis tetrasikilin untuk mengobati jerawat atau artritis rematoid,-- dalam jangka waktu lama. Gigi abu-abu juga bisa menjadi tanda rusaknya dentin karena terjadi infeksi.
4. Gigi Bercak-bercak Jika gigi anda bercak-bercak dan warnanya tidak rata kemungkinan terjadi enamel fluorisis. Yakni gigi yang terpapar fluorit dari air minuman yang berfluorinasi, pasta gigi dan obat kumur secara berlebihan. Walaupun gigi bercak kurang menarik tapi ini tidak berbahaya. Tapi bercak ini bisa juga menjadi penanda peringatan awal adanya keracunan fluorit yang lama-lama bisa mengancam jiwa.
5. Gigi kehitaman Warna gigi seperti ini termasuk menyeramkan yang menandakan adanya penyalahgunaan metamfemin. Warna gigi yang hitam juga bisa membuat gigi seseorang membusuk.
6. Gigi berlekuk Jika terdapat lekukan halus di gigi, itu mungkin Anda terlalu banyak makan jeruk atau lemon. Asam dalam buah-buahan ini bisa membuat email dan gigi erosi. Jika terdapat lekukan berbentuk V di bagian bawah gigi dekat garis gusi, itu tanda Anda terlalu bersemangat menggosok gigi. Penggunaan tusuk gigi secara berlebihan juga bisa menimbulkan lekukan-lekukan karena Anda menusuk lapisan email gigi. Sering menggertakan (mengadu) gigi juga bisa membuat gigi berlekuk.
7. Gigi tampak licin berkilau Jika gigi Anda terutama gigi belakang terasa licin itu bukan tanda yang baik. Tapi itu tanda peringatan tulang yang keropos (osteoporosis). Itu juga mungkin tanda gangguan makan bulimia karena muntahan yang berulang kali akan membuat gigi tersiram asam perut dan mengikis email pelindung gigi. Hampir 90 persen penderita bulimia memiliki tanda erosi gigi.
8. Gigi retak-retak Gigi belakang yang retak-retak lebih sering dialami orang dengan tambalan gigi dari perak yang seringkali menandakan bruxisme (kebiasan menggertakan atau mengadu gigi). Bruxisme ini lebih merusak gigi dibanding gigi berlubang akibat email pelindung yang aus saat gigi digertakkan. Sering menggertakkan gigi juga akan menimbulkan masalah rahang.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 16, 2010 10:10 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Tue Jun 22, 2010 5:21 am | |
| HINDARI SIKAT GIGI LANGSUNG USAI MINUM COLA DAN JUS Sabtu, 19/09/2009 11:01 WIB Irna Gustia - detikHealth Jakarta, Bagi penggemar minuman cola atau jus jeruk perhatikan himbauan ini. Asosiasi apoteker Jerman merekomendasikan untuk menunggu waktu 30 menit jika ingin sikat sehabis minum cola dan orange juice. Kandungan asam yang tinggi di dua minuman tersebut bisa memicu kerusakan enamel gigi. Menunggu waktu setengah jam sangat ideal karena enamel gigi sudah cukup keras ketimbang baru saja mengonsumsi dua minuman itu seperti dilansir Chinadaily, Sabtu (19/9/2009).
Aturan sikat gigi setelah 30 menit minum jus atau cola sebaiknya jangan diabaikan. Minuman jus kecuali jus buah persik sangat asam dibandingkan dengan minuman kopi, teh, bir atau anggur yang tingkat keasamannya lebih rendah. Sebelumnya peneliti NYU College of Dentistry telah melansir penemuannya bahwa minuman olahraga yang banyak dijual juga mengandung asam sitrat bisa merusak gigi.
Penelitian ini dilakukan dengan merendam gigi selama 90 menit, sebagai simulasi bagi orang yang suka meminum minuman olahraga sepanjang hari. Ternyata lapisan enamel gigi sebagian sudah hilang.Hal ini karena minuman olahraga tersebut bocor hingga ke lapisan bawah enamel, sehingga menyebabkan gigi menjadi lunak dan lemah. Kondisi ini disebut dengan erosi gigi yang bisa mengakibatkan kerusakan dan mudah lepasnya gigi jika tidak segera diobati.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 16, 2010 10:21 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Tue Jun 22, 2010 6:01 am | |
| BERAPA BANYAK JUMLAH GIGI YANG DIBUTUHKAN Rabu, 20/01/2010 08:17 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Orang dewasa memiliki 32 gigi termasuk gigi bungsu di belakang yang pada banyak orang telah dicabut. Bagaimana jika jumlah gigi kurang dari itu? Berapa jumlah gigi yang benar-benar dibutuhkan? Gigi manusia berevolusi terakhir kali pada saat seseorang memasuki usia 45-50 tahun atau dikatakan telah lebih dari cukup dalam menemani perjalanan manusia. Gigi yang rusak atau busuk bisa terjadi sejak masa anak-anak, tapi jika kerusakan sudah parah atau tidak mendapat dukungan lagi dari gusi maka biasanya gigi sudah tidak bisa dipertahankan. Untuk mengganti gigi yang rusak banyak orang memilih implan gigi agar jumlah giginya lengkap.
Fungsi inti dari gigi adalah membantu seseorang untuk makan (mengunyah dan merobek makanan) serta berbicara. Nah, peneliti menemukan untuk menunjang fungi minimum dari gigi setidaknya diperlukan 20 dari 32 gigi yang ada. Karenanya jika masih memiliki gigi lebih dari 20 tidak terlalu bermasalah kalau tak menggunakan gigi palsu.
Tapi bagi orang yang hanya memiliki jumlah gigi sebanyak 20, dokter gigi berpendapat masih tetap bisa bekerja dengan baik asalkan memusatkan kerjanya pada gigi depan. Gigi depan merupakan bagian gigi yang penting secara penampilan, sedangkan gigi geraham adalah bagian gigi yang paling sulit dan mahal dalam hal melakukan pengobatan.
Seperti dikutip dari Independent, Rabu (20/1/2010) orang yang sudah berusia lebih dari 40 tahun biasanya akan mulai kehilangan mahkota atau lapisan dari gigi. Sehingga dibutuhkan pemeliharaan yang lebih rumit dibandingkan dengan orang dewasa muda. Profesor Jimmy Steele, ketua dari sekolah kedokteran gigi di Newcastle University menuturkan hal ini akan mendorong meningkatnya biaya perawatan.
Saat ini fungsi dari gigi tidak hanya sebatas membantu mengunyah atau berbicara, tapi juga pada faktor estetika atau penampilan. Meskipun jumlah gigi yang dimiliki lebih dari 20, tapi jika akibat gigi yang hilang dapat merusak penampilan maka implan gigi tetap dilakukan oleh sebagian orang. Meskipun minimal hanya 20 gigi yang dibutuhkan, bukan berarti seseorang bebas mencabut atau tidak merawat giginya dengan baik. Karena gigi merupakan salah satu organ yang penting dalam tubuh. Kehilangan satu gigi saja sudah termasuk dalam bentuk kecacatan.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 16, 2010 10:25 am; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Wed Jun 23, 2010 7:46 am | |
| MENGERTAK GIGI SAAT TIDUR PERTANDA STRES DI SIANG HARI Senin, 08/03/2010 08:01 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Dusseldorf, Tanpa disadari beberapa orang kadang memiliki kebiasaan mengertak giginya saat sedang tidur di malam hari. Ternyata kebiasaan mengertak gigi saat tidur diakibatkan faktor stres yang melanda orang tersebut di siang harinya. Sebuah penelitian baru di Jerman menunjukkan bahwa orang yang suka mengertakkan giginya pada malam hari tampaknya cenderung disebabkan orang tersebut mengalami stress.
Faktor lain yang turut mempengaruh adalah sebagai kemungkinan untuk pelarian dalam mengatasi beberapa hal yang dianggapnya sulit. Tim peneliti yang dipimpin oleh Maria Giraki dari Heinrich-Heine-University di Dusseldorf, Jerman mempelajari 48 orang yang diketahui suka mengertak giginya pada malam hari terutama saat tidur, kondisi ini disebut dengan 'Sleep Bruxism'. Hasil penelitian ini telah dilaporkan dalam jurnal Head and Face Medicine pada tanggal 5 Maret lalu.
Kebiasaan suka mengertak gigi dapat menyebabkan gigi menjadi kasar saat digunakan, gigi menjadi renggang, mengalami sensitifitas yang tinggi, pertumbuhan yang abnormal serta mengalami rasa sakit pada otot-otot yang bertanggung jawab untuk mengunyah. "Meskipun belum sepenuhnya terbukti, tapi faktor stres diduga telah terlibat dalam kebiasaan ini. Kami bertujuan untuk menyelidiki apakah faktor stres bisa sangat mempengaruhi atau terkait jelas dengan gejala Sleep Bruxism," ujar Giraki, seperti dikutip dari HealthDay, Senin (8/3/2010).
Peneliti mengukur kertakan gigi di malam hari pada semua partisipan dengan menempatan piring tipis dalam mulut setiap partisipan. Dalam penelitian ini tidak ada rentang usia, jenis kelamin dan tingkat pendidikan tertentu. Tapi didapatkan partisipan yang mengalami kebiasaan ini setiap hari dilaporkan karena mengalami stres setiap harinya baik akibat kerjaan atau tidak.
"Hasil penelitian kami mendukung asumsi yang ada bahwa orang-orang yang mengertakkan gigi saat malam hari diakibatkan karena tidak mampu menghadapi stres yang dialaminya dengan cara yang sesuai. Mereka umumnya lebih memilih strategi untuk melarikan diri dan menghindari masalah yang ada," ungkap Giraki. Karena itu salah satu cara untuk menghilangkan kebiasaan mengertak gigi saat malam hari adalah dengan memandang stres sebagai hal yang positif. Selain itu cobalah untuk menghindari faktor-faktor pemicu stres setiap harinya.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 16, 2010 10:30 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Wed Jun 23, 2010 9:22 am | |
| AGAR TAK DIGANGGU SARIAWAN Sabtu, 27/03/2010 13:20 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Sariawan bukan penyakit serius. Tapi kalau sudah kena yang satu ini sangat tidak nyaman karena jadi sulit untuk makan ataupun berbicara. Bagaimana caranya supaya tidak diganggu sariawan? Sariawan atau dikenal dengan sebutan stomatitis adalah pembengkakan atau peradangan yang terjadi di lapisan mukosa mulut. Daerah yang bisa terkena sariawan termasuk pipi, gusi, lidah, bibir serta langit-langit mulut. Selain itu sariawan juga bisa menyebabkan perdarahan, bengkak serta warna yang memerah.
Seperti dikutip dari Healthcentre, Sabtu (27/3/2010) ada beberapa hal yang bisa menyebabkan sariawan, yaitu: 1. Akibat virus Sariawan ini disebabkan oleh beberapa bentuk virus yang ada di dalam tubuh, termasuk kasus-kasus khusus seperti yang menyebabkan demam pada kelenjar, herpes dan penyakit mulut lainnya.
2. Akibat bakteri. Sariawan jenis ini biasanya suka terjadi jika seseorang menderita sakit tenggorokan atau penyakit lain yang disebabkan oleh bakteri.
3. Akibat jamur. Sariawan ini timbul saat seseorang memiliki sistem kekebalan tubuh yang sangat rendah atau masalah kesehatan lainnya yang mungkin memerlukan penggunaan antibiotik dosis tinggi.
4. Non-infeksi. Penyebab paling umumnya adalah terjadinya luka di mulut yang berulang, meskipun tidak diketahui penyebabnya tapi biasanya akan hilang dalam waktu 2 minggu. Sariawan ini juga bisa disebabkan adanya masalah dalam sistem pencernaan, kekurangan vitamin, riboflavin, miacin dan B12.
Selain keempat penyebab di atas, ada juga hal lain yang diduga dapat menyebabkan sariawan seperti kurang menjaga kebersihan mulut, pemasangan kawat gigi atau gigi palsu dan juga konsumsi makanan atau minuman yang panas.
Perawatan yang dilakukan untuk mengobati sariawan adalah dengan mencari sumber penyebab sariawan tersebut. Namun mengatur makanan yang dikonsumsi juga bisa membantu, seperti menghindari makanan yang renyah atau makanan dengan rasa yang tajam. Usahakan untuk menggunakan sikat gigi yang lembut dan tetap menjaga kesehatan mulut dan gigi.
Jika Anda adalah pengguna kawat gigi atau gigi palsu, maka mintalah dokter untuk memeriksanya saat sedang berkunjung untuk memastikan bahwa tidak ada masalah berarti. Biasanya sariawan akan hilang dengan sendirinya setelah 4 hari, tapi bila tak kunjung hilang sebaiknya mencari bantuan medis terutama jika disebabkan oleh infeksi bakteri yang membutuhkan antibiotik.
Sebenarnya sariawan bisa dicegah dengan cara menjaga kebersihan mulut dan gigi dengan baik, melakukan pemeriksaan gigi secara teratur serta mengatur pola makan yang baik dengan mengurangi makanan yang dapat memicu iritasi pada lapisan mukosa mulut. Selain itu pencegahan sariawan juga bisa dilakukan dengan menghindari terjadinya trauma atau benturan seperti menyikat gigi dengan lembut, tidak terburu-buru saat mengunyah makanan serta tidak berbicara saat sedang makan.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 16, 2010 10:37 am; edited 7 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Wed Jun 23, 2010 9:24 am | |
| PERLUKAH GIGI GERAHAM BUNGSU DICABUT? Rabu, 07/04/2010 09:27 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Jakarta, Geraham bungsu pada orang dewasa memang tidak memiliki fungsi yang vital. Beberapa orang justru mengalami masalah ketika gigi tersebut mulai tumbuh dan memilih untuk mencabutnya. Haruskah dicabut? Geraham bungsu seperti dilansir dari Mayo Clinic adalah geraham ketiga pada orang dewasa, yang pertumbuhannya dimulai pada usia belasan tahun. Pada beberapa orang tumbuh di atas usia 20 atau 30 tahun, bahkan ada yang tidak tumbuh sama sekali. Menurut drg Roni Cahyadi dari Family Dental Care yang dihubungi DetikHealth Selasa (5/4/2010), geraham bungsu tidak menimbulkan masalah jika tumbuhnya normal. Keluhan muncul apabila tumbuhnya tidak normal, baik tumbuh di dalam rahang (embedded) maupun tumbuh ke samping (impacted).
Masalah yang mungkin terjadi adalah terdesaknya gigi depan oleh geraham yang baru tumbuh. Jika tulang rahang tidak cukup besar untuk menampung gigi baru, maka susunan gigi menjadi berantakan. Masalah lainnya adalah pemumpukan sisa makanan, mengingat geraham bungsu letaknya sering tidak terjangkau saat menyikat gigi. Jika sisa makanan menumpuk, maka bakteri mudah tumbuh dan memicu infeksi pada gusi.
Tak ada pilihan lain, jika sampai muncul masalah-masalah tersebut maka geraham bungsu harus dicabut. Kadang butuh operasi kecil, jika pencabutan biasa tidak memungkinkan. Untuk itu biasanya dilakukan foto rontgen sebelum dicabut.Lantas perlukah dicabut apabila tumbuhnya normal, atau tumbuh tidak normal tetapi tidak menimbulkan masalah?
Ada silang pendapat di kalangan doker gigi. Beberapa berpendapat, tidak perlu dicabut selama tidak ada keluhan. Yang penting harus dipastikan kesehatan gigi dan gusi selalu terjaga. Pendapat lain mengatakan, geraham bungsu sebaiknya dicabut sebelum timbul masalah. "Karena pada dasarnya tidak punya fungsi, maka sebaiknya dicabut sebelum jadi masalah. Tapi tetap harus diperiksa dulu untuk memastikan perlu tidaknya pencabutan," kata drg Roni.
Last edited by gitahafas on Thu Sep 16, 2010 10:43 am; edited 7 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Wed Jun 23, 2010 9:37 am | |
| 10 KESALAHAN SAAT MENYIKAT GIGI Jumat, 20/8/2010 | 11:05 WIB KOMPAS.com - Bagaimana kebiasaan Anda menyikat gigi? Sudah melakukan saran dokter untuk menyikat gigi minimal 2 kali dalam sehari? Tak lupa menyikat lidah pula? Ya, Anda bisa saja percaya diri sudah membersihkan gigi dengan baik dan sesuai aturan. Tetapi kadang, ada saatnya Anda lalai dan menganggap hal-hal sepele tidak akan bermasalah pada gigi kuat Anda. Padahal, hal-hal kecil pun bisa mendatangkan masalah di seputar mulut. Apa sajakah?
1. Tidak Menggunakan Sikat Gigi yang Tepat Jika Anda perhatikan, ada berbagai ukuran sikat gigi ada banyak ragamnya. Richard H. Price, DMD, penasihat American Dental Association (ADA) mengatakan, "Jika Anda harus membuka rahang cukup besar untuk membiarkan gagang sikat masuk ke dalam mulut, bisa jadi sikat gigi terlalu besar untuk Anda. Gagangnya pun harus nyaman digenggam, sensasinya harus senyaman saat Anda memegang garpu saat makan. Semakin nyaman sikat gigi Anda, makin sering Anda akan menggunakannya dengan benar."
2. Memilih Bulu Sikat yang Salah Ada beberapa tipe sikat pada sikat gigi. Ada yang memiliki sudut menyempit, ada yang rata, ada yang pakai karet. Apakah ada satu tipe yang lebih baik? Menurut para dokter gigi di WebMD, tak ada pengaruh lebih. Nampaknya, yang lebih penting adalah teknik membersihkannya ketimbang bentuk sikatnya. Para dokter gigi ADA menyarankan agar memilih sikat yang lembut, jangan yang kasar atau kaku karena bisa merusak/menyakiti gusi. Carilah bulu sikat yang cukup kaku untuk mengangkat plak, tetapi tidak cukup kuat untuk merusak gigi. Terlalu lembut
3. Kurang Sering atau Kurang Lama Selama ini kita disarankan untuk menyikat gigi setidaknya 2 kali sehari, namun menurut para dokter di WebMD, tiga kali dalam sehari adalah yang terbaik. Ketika jarak waktu menyikat gigi terlalu jauh, plak bakteri akan menumpuk, bisa membuat radang gusi dan masalah lain pada mulut. Disarankan untuk menyikat gigi setidaknya 2 menit setiap kali, akan lebih baik lagi jika dilakukan selama 3 menit. Angka waktu tersebut sebenarnya tidak terlalu penting, namun dipatok agar kita bisa mempunyai waktu yang cukup untuk membersihkan permukaan gigi.
4. Menyikat Gigi Terlalu Keras atau Terlalu Sering Seperti disebutkan, menyikat gigi 3 kali dalam sehari memang ideal, namun, jika terlalu sering, bisa jadi kompulsif. Terlalu sering menyikat gigi, misal 4 kali dalam sehari, bisa membuat akar gigi teriritasi dan menyakiti gusi. Menyikat terlalu keras juga bisa merusak enamel (lapisan teratas gigi). Cara terbaik adalah menyikat gigi secara perlahan dan lembut selama 2-3 menit.
5. Tidak Menyikat dengan Benar Buat sudut 45 derajat dari garis gusi dan buat gerakan pendek-pendek saat menyikat. Gerakan menyikat panjang di sepanjang garis gusi bisa menyebabkan abrasi pada gusi. Sikatlah perlahan ke arah atas dan bawah dari gigi, jangan dengan gerakan menyamping pada gigi. Buat gerakan sirkular vertikal, jangan horizontal. Lakukan pada bagian permukaan gigi bagian depan, belakang, atas dan bawah, serta pada lidah.
6. Selalu Memulai Pada Titik yang Sama Kebanyakan orang akan memulai pada titik yang sama setiap kali akan mulai menyikat gigi. "Mulailah di tempat-tempat yang berbeda supaya Anda tidak menjadi 'malas' untuk membersihkan titik yang lainnya. Jika Anda memulai di titik yang sama, Anda cenderung semangat di titik tersebut, kemudian malas membersihkan di titik yang terakhir," jelas Price.
7. Melewatkan Bagian Dalam Gigi Kebanyakan orang, ternyata seringkali lupa membersihkan bagian dalam gigi, bagian yang bersentuhan dengan lidah. Plak yang tersembunyi sama pentingnya untuk dibersihkan seperti plak yang terlihat. Titik yang paling sering dilupakan untuk dibersihkan adalah pada bagian dalam gigi depan.
8. Kurang Bersih Membilas Bakteri bisa tumbuh pada sikat gigi yang lupa dibersihkan. Jika ini terjadi, bakteri tersebut bisa tumbuh dan kembali hinggap pada mulut Anda di sesi penyikatan berikutnya. Bersihkan sikat gigi setelah Anda menggunakannya dan pastikan tak ada yang menyangkut atau pasta gigi yang tersisa.
9. Membiarkan Sikat Gigi Dalam Keadaan Basah Anda pasti sudah tahu, bahwa bakteri senang hidup dalam kondisi lembab. Sikat gigi yang basah dan lembab pun akan menjadi tempat favorit bakteri. Tak hanya itu, sikat gigi yang lembab akan merusak bulu sikatnya jika dibiarkan begitu saja. Akan lebih baik jika sikat gigi disimpan tertutup dalam keadaan kering. Biarkan kering, baru tutup dengan tutupnya.
10. Tidak Mengganti Sikat Gigi Cukup Sering ADA merekomendasikan untuk mengganti sikat gigi setelah 3-4 bulan pemakaian, atau langsung ganti ketika bulu sikatnya terlihat mulai rusak. Ketimbang Anda mematok waktu, perhatikan sikat gigi Anda. Saat ini sudah ada sikat gigi yang bulunya diberikan penanda warna. Saat warna memudar, maka sudah waktunya sikat tersebut diganti. Atau ketika Anda menemukan sudah ada bulu sikat gigi yang rontok, atau fleksibilitasnya mulai berkurang, segera ganti.
Last edited by gitahafas on Sun Aug 22, 2010 11:02 am; edited 8 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Wed Jun 23, 2010 7:47 pm | |
| SAATNYA PEDULI KESEHATAN GIGI Friday, 02 July 2010 - Seputar Indonesia PENELITIAN yang dilakukan Kementrian Kesehatan menyebutkan, lebih dari 70% penduduk Indonesia mengalami karies atau gigi berlubang. Fakta ini menunjukkan kesadaran masyarakat untuk memperhatikan kesehatan gigi sangat rendah.
Gigi berlubang memang masih menjadi problem bagi masyarakat Indonesia. Riset Kesehatan Dasar 2007 menemukan bahwa karies gigi atau gigi berlubang menyerang atau diderita oleh kurang lebih 72,1% penduduk Indonesia. Selanjutnya, dalam 12 bulan terakhir ditemukan sebesar 23,4% penduduk Indonesia mengeluhkan adanya masalah pada gigi dan mulutnya. Dari jumlah tersebut, hanya 29,6% yang mencari pertolongan dan mendapatkan perawatan dari tenaga kesehatan.
Angka-angka yang dijabarkan dalam penelitian tersebut mengindikasikan bahwa masih sangat rendahnya tingkat kesadaran dan tingkat utilisasi masyarakat terhadap pelayanan tenaga medis kesehatan gigi. Hal ini dibenarkan oleh DR Sony Swasonoprijo drg SpOrt. Menurut Sony, kebanyakan pasien yang datang ke kliniknya mengeluhkan gigi yang berlubang.“Banyak pasien yang datang ke dokter gigi hanya ketika sakit.Terutama bila penyakit gigi mereka sudah cukup parah,”ujar Sony. Sementara, tukas Sony,anjuran untuk memeriksakan gigi ke dokter gigi sekurangnya enam bulan sekali hanya menjadi wacana.
“Orang Indonesia itu kalau giginya enggak sakit yang enggak datang.Padahal kalau penyakitnya sudah parah, lebih repot. Lebih baik mencegah daripada mengobati,”tambah Sony. Riset internal yang dilakukan oleh Unilever tahun 2007 semakin menguatkan pernyataan Sony. Sedikitnya hanya terdapat 5,5% masyarakat Indonesia yang memeriksakan kesehatan gigi secara teratur ke dokter gigi. Masih menurut Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007, sebanyak 91,1% masyarakat Indonesia yang berumur di atas 10 tahun,meskipun sudah menggosok gigi setiap hari, namun hanya sebesar 7,3% yang telah menggosok gigi secara benar, yaitu pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Memang,begitu pentingnya gigi bagi kesehatan seseorang.
Meski demikian, sangat rendahnya perhatian yang diberikan oleh masyarakat terhadap kesehatan gigi.Akibatnya, banyak masyarakat Indonesia yang akhirnya rentan terserang penyakit gigi,seperti diperlihatkan melalui hasil penelitian yang dilakukanolehDinasKesehatandimana lebih dari 70% penduduk Indonesia mengalami karies ataupun gigi berlubang.Fakta ini sungguh mencengangkan, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi masih rendah.
Menurut drg Zaura Anggraeni MDS,selaku Ketua PDGI, rendahnya kualitas kesehatan gigi masyarakat Indonesia mengkhawatirkan banyak kalangan. Dari Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007 ditemui kasus penyakit gigi dan mulut pada 72,1% penduduk Indonesia dengan rata-rata 4,85% gigi rusak per orang. Dari rata-rata hampir 5% gigi rusak tersebut,hanya 1% yang berhasil dirawat atau ditambal,selebihnya lebih kurang 25% masih dalam keadaan berlubang,“Dan lebih dari 75% gigi yang lubang tersebut dibiarkan atau tidak memperoleh perawatan sehingga membusuk atau harus dicabut karena sudah terlalu parah,” kata Zaura dalam acara Kemitraan Unilever, Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) dan Asosiasi Fakultas Kedokteran Gigi Indonesia (AFDOKGI) untuk Kesehatan Gigi dan Mulut (24/6) lalu.
Zaura menambahkan,keadaan ini merupakan refleksi masih minimnya pelayanan kesehatan gigi yang dapat dijangkau oleh masyarakat. Zaura juga setuju mengenai pentingnya mengarahkan upaya mencegah kerusakan dan menjaga gigi yang sehat tetap sehat. Tentunya hal ini jauh lebih efektif dan efisien dalam menurunkan angka kepenyakitan serta beban-beban yang timbul akibat penyakit gigi dan mulut yang tidak dirawat.
Salah satu cara untuk menurunkan angka penyakit gigi, dapat dilakukan dengan sosialisasi cara menggosok gigi yang benar.Hal ini disepakati oleh Ketua Komisi kesehatan Gigi Masyarakat pada Asia Pacific Dental Federation (APDF) untuk periode 2010–2012, drg Rini. Sayangnya, masyarakat pun masih belum mengetahui secara tepat bahwa cara menggosok gigi yang benar merupakan hal penting karena akan meningkatkan resistensi tubuh terhadap penyakit gigi.
Berkaca dari kenyataan yang ada di masyarakat, Unilever melalui brand Pepsodent,bersama dengan PDGI dan AFDOKGI, melakukan penandatanganan kerja sama guna memberikan edukasi dan memperkenalkan pelayanan kedokteran gigi kepada masyarakat luas melalui kegiatan Bulan Kesehatan Gigi Nasional 2010. Yakni dengan meluncurkan program inisiatif guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan gigi selama Juli ini di 13 fakultas kedokteran gigi di universitas di Indonesia. (sri noviarni)
Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 7:12 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12086 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Asal Tahu Saja Thu Jun 24, 2010 8:10 am | |
| INFEKSI AKIBAT SIKAT GIGI Vera Farah Bararah - detikHealth - Senin, 28/06/2010 13:45 WIB Jakarta, Sikat gigi berguna untuk membersihkan gigi dari berbagai bakteri atau sisa-sisa makanan. Tapi jika alat ini tidak dijaga kebersihannya bisa saja menimbulkan infeksi. Tanpa disadari, sebenarnya banyak bakteri, jamur dan virus yang bisa menetap pada sikat gigi. Jika sikat gigi yang terkontaminasi ini digunakan, maka mikroorganisme tersebut dapat menginfeksi mulut dan gigi. Karena sikat gigi berfungsi untuk menghilangkan plak dan kotoran lain dari gigi, maka sikat gigi menjadi barang yang rentan terkontaminasi bakteri, darah dan sisa-sisa kotoran di mulut.
Seperti dikutip dari Dentalresource.org, Senin (28/6/2010) ada beberapa mikroorganisme yang bisa saja tersisa di sikat gigi dan mengkontaminasi, yaitu: 1. Mutans streptococcus, merupakan bakteri utama yang bisa menyebabkan karies gigi. 2. Beta-hemolytic streptococcus, merupakan bakteri utama yang menyebabkan radang tenggorokan akibat Streptococcus (pharyngotonsillitis). 3. Candida albicans, merupakan jamur yang bisa menyebabkan sariawan pada bayi. 4. Coliform bacteria, bakteri ini biasa terdapat di kamar mandi dan bisa menginfeksi. 5. Herpes simplex virus, merupakan virus yang bisa menyebabkan cold sores.
Sebagian besar masyarakat bisa berisiko terkena infeksi dari mikroorganisme yang mengkontaminasi sikat gigi. Orang yang paling berisko terkena infeksi sikat gigi adalah: 1. Orang yang memiliki infeksi di oral 2. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang terganggu 3. Orang yang sedang menjalani kemoterapi, transplantasi tulang sumsum atau organ lainnya.
Untuk mencegah kontaminasi dari mikroorganisme ini disarankan: 1. Mengganti sikat gigi setiap 3 bulan sekali. 2. Anak-anak atau orang dewasa yang habis sakit sebaiknya mengganti sikat giginya untuk mencegah infeksi berulang. Membilas sikat gigi dengan air hangat yang mengalir sebelum dan setelah digunakan 3. Meletakkan sikat gigi ditempat yang tinggi serta jangan menyimpan sikat gigi di tempat yang lembab.
American Dental Association (ADA) memberikan kriteria penting dalam memilih sikat gigi yaitu: 1. Ukuran dan kemampuannya untuk mencapai semua area mulut. 2. Sebaiknya memilih sikat gigi yang memiliki kepala sikat kecil dengan bulu yang lembut atau setengah lembut, karena sikat gigi ini bisa bekerja dengan baik untuk menghilangkan plak dan bakteri. 3. Hindari sikat gigi dengan bulu yang keras 4. Hindari cara menyikat gigi yang salah misalnya terlalu keras, karena bisa merusak enamel gigi dan juga gusi yang dapat memicu infeksi. (ver/ir)
Last edited by gitahafas on Sat Jul 31, 2010 7:11 pm; edited 6 times in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |