|
| | Demam yang Perlu Diwaspadai | |
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Sep 01, 2010 12:07 pm | |
| WASPADA, KASUS DBD TETAP TINGGI Rabu, 1 September 2010 | 10:38 WIB Tangerang, Kompas - Sejak Januari sampai Agustus 2010, angka kejadian atau kasus penyakit demam berdarah dengue di Kota Tangerang, Provinsi Banten, tetap tinggi. Kondisi itu berbeda dengan kecenderungan perkembangan penyakit itu pada tahun-tahun sebelumnya, di mana kasus DBD mulai meningkat pada Desember dan mencapai puncaknya pada Mei. Selanjutnya, pada Juni sampai awal Desember, kasus penyakit yang diakibatkan gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut akan menurun. ”Masyarakat diminta untuk terus waspada dengan tetap menjaga kebersihan lingkungan rumah dan sekitarnya,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Lilly Indrawati kepada Kompas, Selasa (31/  . Lilly mengakui saat ini kasus DBD di Kota Tangerang mulai meningkat. Akan tetapi, Lilly tidak bisa menjelaskan secara pasti data-data jumlah kasus DBD yang terjadi pada saat ini. Kecenderungan tetap tingginya kasus penyakit itu diakui Agung S, salah satu dokter praktik di Panginggilan Utara, Ciledug, Kota Tangerang. ”Tahun ini, kasus DBD tidak pernah menurun. Tetap tinggi dan sekarang mulai naik lagi,” kata Agung. Kecenderungan itu, kata Agung, terlihat dari jumlah pasien yang ditanganinya. Dalam empat bulan terakhir, setiap hari ada sekitar tiga sampai empat orang yang positif DBD. Menurut Agung, kondisi cuaca yang tak menentu mulai dari Januari sampai Agustus ini mengakibatkan jentik-jentik nyamuk pembawa kuman penyakit DBD berkembang biak dengan baik. ”Makanya masyarakat diminta untuk rajin membersihkan genangan air dalam rumah dan di lingkungan sekitarnya sehingga jentik-jentik nyamuk itu tidak berkembang biak,” ujar Agung. Secara terpisah, Wali Kota Tangerang Wahidin Halim menginstruksikan kepada seluruh lurah dan camat se-Kota Tangerang agar mengintensifkan kerja bakti di lingkungan masing-masing terkait masih tingginya kasus DBD di beberapa wilayah. ”Lurah dan camat adalah ujung tombak pemerintah. Makanya harus lebih mengintensifkan komunikasi dengan warganya, termasuk juga memelihara lingkungan agar terjaga dan tetap bersih,” kata Wahidin. (PIN) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Sep 01, 2010 12:09 pm | |
| WASPADAI KEMUNCULAN DEMAM BERDARAH Jumat, 26 Maret 2010 | 08:57 WIB Jakarta, Kompas - Masyarakat tetap perlu mewaspadai berjangkitnya demam berdarah dengue di tengah perubahan cuaca belakangan ini. Terutama, di daerah-daerah yang selama ini rawan demam berdarah. Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Syahrul Aminullah mengatakan, Kamis (25/3) di Jakarta, pada musim hujan banyak terjadi genangan air yang menjadi habitat nyamuk untuk bertelur dan bertumbuh. Setelah menjadi dewasa, nyamuk menggigit manusia dan menyebarkan penyakit. Nyamuk Aedes aegypti senang bertelur di genangan air bersih.
Peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) perlu menjadi perhatian dan diantisipasi oleh otoritas kesehatan, terutama di daerah, sehingga tidak terjadi ledakan kasus. Terlebih lagi, demam berdarah dapat berujung pada kematian. Pencegahan penularan demam berdarah terutama melalui pemberantasan sarang nyamuk secara konsisten dengan membersihkan, menutup, dan mengubur barang yang dapat menjadi sarang nyamuk, serta menaburkan abate pada tempat penampungan air (gerakan 3M).
Dari data Kementerian Kesehatan, sepanjang tahun 2009, penderita DBD tercatat 154.855 orang. Dari kasus yang dilaporkan sepanjang tahun 2009, terdapat 10 provinsi dengan kasus terbanyak, yaitu Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Bali, Banten, Kalimantan Timur, Sumatera Utara, dan Sulawesi Selatan.
Sehari sebelumnya, seusai acara peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama mengatakan, sejauh ini demam berdarah masih terkendali. Berdasarkan pengalaman tahun lalu, awal tahun merupakan masa berjangkitnya demam berdarah sampai dengan bulan Maret atau April. ”Kami masih mengamati terus,” ujarnya. Kementerian Kesehatan telah mengirim surat edaran kepada pemerintah daerah berisi imbauan untuk menjalankan upaya pencegahan penularan DBD. (INE) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Sep 01, 2010 12:11 pm | |
| WARGA ELIT CUEK JENTIK NYAMUK Senin, 1 Februari 2010 | 15:35 WIB KOMPAS.com - Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sebenarnya lebih efektif ketimbang pengasapan dalam menekan perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti penyebab demam berdarah. Namun PSN memerlukan komitmen kuat dan kesadaran seluruh warga. Jika ada satu warga yang tidak melakukan PSN, besar kemungkinan nyamuk Aedes Aegypti akan berkembang biak dan menyebar ke rumah para tetangganya.
Kepala Sekretariat Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Ariyani Murti M.Kes mengatakan, pengendalian demam berdarah di pemukiman kumuh atau sub urban jauh lebih baik ketimbang di pemukiman elit. "Di pemukiman kumuh angka bebas jentiknya mencapai 95 persen, sedangkan di perumahan mewah baru 60 persen sehingga risiko penularannya masih tinggi," katanya dalam acara peluncuran Gerakan Nasional Cegah Demam Berdarah yang digagas oleh PT. Johnson Home Hygiene Product di Jakarta (1/2/10).
Ariyani mengatakan, tingkat partisipasi warga menengah atas pada program pemberantasan nyamuk masih rendah. "Sifat orang kota besar memang egosentrik, sehingga mungkin mereka kurang peduli pada kegiatan lingkungannya," paparnya. Hal tersebut, tambahnya, mempersulit tugas pemerintah dalam menumpas nyamuk. Sebagai jalan keluarnya, petugas jumantik memberikan edaran bagi pemilik rumah untuk memeriksa sendiri tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk.
Selain kawasan pemukiman, Ariyani menambahkan ada beberapa lokasi yang menjadi target pengendalian nyamuk, yakni sarana pendidikan, tempat umum, sarana ibadah, pasar, serta perkantoran. "Hingga kini yang baru bisa dikendalikan baru di pemukiman, itu pun untuk daerah kumuh," ungkapnya. Ternyata, mengubah perilaku masyarakat yang secara ekonomi mapan tak semudah teori. "Diminta membuka pintu saja mereka susah," katanya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Sep 01, 2010 12:13 pm | |
| NYAMUK MANDUL PEMBASMI DBD Senin, 18 Agustus 2008 | 01:01 WIB Gesit Ariyanto Ali Rahayu bukan juru pemantau jentik sekalipun tiga tahun terakhir aktivitasnya tak jauh dari nyamuk. Kaca pembesar selalu dibawanya. Bukan alat bantu baca, melainkan alat untuk membedakan nyamuk jantan dan betina. Sejak intens meneliti nyamuk, khususnya penular (vektor) demam berdarah dengue (Aedes aegypti), banyak pertanyaan membedakan jantan dan betina. Kaca pembesar diandalkan.
Sebenarnya proyek besar sedang dikerjakan Ali dan koleganya pada Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi Badan Tenaga Nuklir Nasional (PATIR-Batan). Namanya, teknik serangga mandul (TSM). Rencana pengendalian DBD dengan TSM digagas Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Biomedis dan Farmasi Departemen Kesehatan (Depkes). Mereka meminta Pusat Teknologi Keselamatan dan Metrologi Radiasi (PTKMR) Batan meneliti empat tahun lalu.
Sesuai dengan namanya, nyamuk jantan dimandulkan. Caranya, iradiasi sinar gamma yang membuat produksi sperma menjadi tidak normal. Di laboratorium, hanya butuh tiga menit memandulkan 1.500 nyamuk jantan. Lima belas tabung (vial), masing-masing berisi 100 ekor nyamuk, dimasukkan sekaligus ke dalam tabung iradiator (Gamma chamber). Dosis iradiasi 65-70 Gy memandulkan nyamuk jantan sekitar 98-100 persen, sedangkan si betina mati. TSM pernah diterapkan pada puluhan jenis serangga di Indonesia. Namun, belum sekali pun pelepasliaran di alam. ”Baru akan dilakukan pertama kali untuk nyamuk,” kata Ali. Empat bulan ia mendalami teknik pemeliharaan nyamuk di Vienna, Austria. Ia mengatakan, nyamuk hasil iradiasi aman bagi lingkungan. Tidak ada penyuntikan berdampak ”super” atau mutan pada nyamuk.
Bioinsektisida Di alam, pelepasan nyamuk jantan mandul akan menimbulkan persaingan kawin. Secara alami, populasi nyamuk merosot karena kian banyak telur tak menetas. Cara itu diyakini lebih efektif ketimbang model penyemprotan dan penyebaran abate. Penyemprotan tak membunuh jentik, malah membunuh hewan nontarget. Jangkauan penyebaran abate terbatas. Tiga kali pelepasan uji coba di sekitar laboratorium PATIR Batan, populasi nyamuk menurun drastis. Seratus persen telur dari betina kawin jantan mandul tak menetas. Di dunia, Italia merilis 900 nyamuk jantan mandul setiap minggu di kawasan seluas 10 hektar. Hasilnya positif dan masih berlangsung.
Melalui cara serupa, kasus ledakan DBD di Indonesia diharapkan turun signifikan. Begitu pula kasus chikungunya dengan nyamuk penular yang sama. Rencananya, pelepasan perdana akan dilakukan tahun 2009 pada sebuah desa di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Desa itu endemik DBD dan malaria. Kini, serangkaian sosialisasi dilakukan Balai Besar Litbang Vektor dan Reservoir Penyakit Depkes. Bersama Batan, mereka akan melatih warga penerima transfer teknologi. Potensi kesalahpahaman patut diantisipasi. Jangan sampai pelepasliaran nyamuk justru dinilai warga sebagai pemicu DBD.
Biaya murah Dibandingkan dengan penyemprotan, pengendalian nyamuk dengan TSM lebih murah. Ongkos pembesaran per ekor nyamuk paling mahal satu rupiah. Mengacu sensus dan tipe penularan virus DBD, ledakan DBD tak identik dengan populasi nyamuk betina berjumlah besar. Namun, hal itu lebih disebabkan efektivitas penularan. Nyamuk betina mengisap darah berulang atau berpindah untuk mematangkan telur. ”Bisa cukup sekali isap, bisa juga setelah beberapa orang,” kata peneliti lalat dan nyamuk (diptera) Puslit Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Awit Suwito. Karena itu, Italia hanya melepaskan 900 nyamuk jantan mandul per pekan pada kawasan 10 hektar. Untuk satu rukun tetangga (RT), setiap bulan bisa jadi di bawah 1.000 ekor. Di lapangan, efektivitas TSM pada nyamuk Aedes aegypti memang butuh bukti. Namun, Ali dan koleganya sudah meneliti pengendalian nyamuk penular malaria, Anopheles maculatus, dan penular penyakit kaki gajah (filariasis) dengan cara sama. Hasilnya, patut diajungi jempol. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Sep 01, 2010 12:15 pm | |
| MUSIM HUJAN, WASPADAI KOLAM RENANG! Selasa, 26 Januari 2010 | 13:23 WIB JAKARTA, KOMPAS.com — Wakil Gubernur DKI Jakarta Prijanto mengatakan, penyakit demam berdarah dengue (DBD) bukan hanya menyerang orang miskin. Orang-orang kaya yang memiliki kolam renang juga diwanti-wanti mewaspadai penyakit ini. "Mereka yang memiliki kolam renang, akuarium, sepatutnya lebih waspada terhadap gigitan nyamuk aedes aegypti. Nyamuk-nyamuk penyebar virus DBD itu bisa berkembang biak pada kolam renang, akuarium," ucap Prijanto di Jakarta, Selasa (26/1/2010).
Bulan ini diperkirakan sebagai puncak musim hujan. Genangan-genangan air bersih merupakan tempat subur bagi berkembang biaknya jentik-jentik nyamuk. "Yang bahaya itu sebenarnya jentik-jentik nyamuk aedes aegypti. Jika dalam satu genangan air terdapat 100 jentik maka akan ada 100 nyamuk dewasa. Oleh sebab itu, kita harus memberantas jentik-jentik itu sedini mungkin," terangnya.
Usaha memberantas jentik nyamuk terus digalakkan oleh Pemprov DKI Jakarta, salah satunya dengan terus menjalankan Program Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). "DKI terus menggalakkan program PSN meliputi 3M yaitu menutup, menguras, dan mengubur tempat-tempat yang bisa dijadikan penampungan air," ucap Prijanto. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Sep 01, 2010 12:17 pm | |
| DEMAM BERDARAH TAK PILIH KASIH Sabtu, 23 Januari 2010 | 09:45 WIB KOMPAS.com - Presiden Direktur atau CEO PT Astra International Michael D Ruslim yang kemarin lusa wafat karena DBD sepatutnya tak cuma mengundang sesal sanak keluarga, terlebih merundungi kita semua. Mengapa? Siapa pun mestinya tak perlu jadi korban demam berdarah dengue (DBD). Seturut paham medik, itu kematian prematur (premature death) yang kelewat sederhana. Masih pantas CEO dikalahkan serangan jantung, atau kanker. Menjadi tragedi kalau nyawa terenggut cuma gara-gara nyamuk. Pikiran medik meniscayai kejadian itu bisa digagalkan. Selain dengan menghalau nyamuk belang hitam-putih pembawa virus dengue, juga membangun wawasan masyarakat soal cara menghindarinya, Namun, sayang, kondisi preventif seperti itu belum juga penuh terbentuk.
Daerah bebas nyamuk Memberantas DBD lebih soal urusan bagaimana menekan populasi nyamuk pembawa virus dengue. Ada dua kepelikan dalam upaya meniadakan nyamuk jenis ini: susahnya menyingkirkan sarang perindukan nyamuk dan tak mudah mengajak masyarakat menyingsingkan lengan baju. Derasnya mobilisasi masyarakat menjadikan virus dengue makin lekas lebar menyebar lewat pesawat udara, bus, dan kereta api. Bahkan, kini DBD bukan lagi penyakit kota sebagaimana kodratnya, tetapi sudah lama merambah desa. Ini petaka.
Wabah DBD yang berjangkit di pedesaan cenderung muncul lebih kerap karena masyarakatnya belum dibuat melek cara mencegahnya. Padahal, setiap kali wabah DBD berjangkit, populasi virus dari tubuh pasien yang akan disebarkan nyamuk juga kian berlipat ganda. Itu berarti makin meninggikan risiko masyarakat terserang DBD. Upaya meniadakan nyamuk hanya satu, yakni menyuluh masyarakat. Bukan air comberan atau sampah, melainkan air jernih tergenang, tempat nyamuk Aedes bersarang. Maka, segala yang berpotensi menjadi sarang perindukan nyamuk wajib disingkirkan. Kebijakan pencegahannya bukan dengan menyemprot (fogging), melainkan membunuh jentik dengan larvasida, mengingat umur nyamuk dewasa tak lebih panjang dari jentiknya. Nyamuk dewasa baru disemprot kalau sudah ada yang terjangkit.
Lingkaran setan kerap terjadi. Makin acap wabah DBD berjangkit, makin bertambah populasi virus dengue. Apabila pada saat yang sama populasi nyamuk pembawa virusnya juga bertambah, makin besar risiko masyarakat terjangkit. Karena itu, upaya mencegah wabah DBD perlu dua gatra terpadu, yaitu menyiangi sanitasi dari sarang nyamuk dan membuat masyarakat melek cara pencegahannya.
Belajar dari Kuba Kini, wilayah endemik DBD sudah melebar ke semua provinsi. Tangan pemerintah tak cukup panjang meladeni upaya pencegahan. Melihat tabiat jangkitan penyakitnya, perlu gerakan gotong royong masyarakat. Tak boleh ada lagi sarang nyamuk di pekarangan, waspadai rumah, kantor, dan gedung kosong tak berpenghuni di tempat sarang nyamuk tak terusik bersumber. Kegiatan larvasida dilakukan merata ke seluruh rumah tanpa kecuali di wilayah langganan terjangkit setiap menjelang musim hujan. Kita belum rajin secara rutin melakukannya.
Kendala kita, kebanyakan masyarakat belum memahami cara pencegahan DBD. Yang sudah memahami, tidak melakukannya. Tak cukup hanya imbauan karena lebih banyak masyarakat sukar patuh melakukan pencegahan. Radio dan televisi saatnya ikut menyuluh masyarakat. Penyiangan lingkungan belum paripurna. Puskesmas dan rumah sakit masih luput menyiangi lingkungannya dari sarang nyamuk. Padahal, di situ sumber penyakit yang datang dari pasien berpotensi estafet berjangkit. Juga perhatian pada lingkungan sekolah karena DBD lebih banyak menimpa usia anak.
Belajar dari Kuba pada tahun 1981 dalam memberantas DBD, masyarakat perlu digerakkan. Militer dikerahkan, selain murid sekolah berpraktik mengenali jentik dan membasminya. Pemerintah juga minta uluran tangan LSM serta organisasi perempuan bersama-sama menggerakkan masyarakat bergotong royong menyiangi lingkungan dari sarang nyamuk, dan berhasil.
Kini, Kuba bebas DBD. Tinggal satu yang masih terus dilakukan agar wabah tak lagi berjangkit. Secara reguler Kuba memantau kepadatan jentik nyamuk. Itu pun dilakukan bersama masyarakat secara bergotong royong. Kultur kita mendukung untuk mengadopsi cara pemberantasan DBD seperti ini. Tinggal kemauan politik membuatnya jadi sebuah kebijakan sederhana yang sesungguhnya tak perlu ongkos tinggi. Lebih mahal apabila sudah telanjur banyak kasus masuk rumah sakit, atau sampai merenggut sosok penting yang masih dibutuhkan masyarakat.
Handrawan Nadesul, Seorang Dokter |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Sep 01, 2010 12:18 pm | |
| ANCAMAN DEMAM BERDARAH Senin, 11 Januari 2010 | 08:34 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Kemenakan saya terjangkit demam berdarah dengue. Umurnya 11 tahun. Dia dirawat selama delapan hari dan selama perawatan, kami semua khawatir karena keadaannya cukup parah. Kami berterima kasih kepada pemerintah karena biaya perawatan tak perlu bayar, namun sudah tentu tetap ada pengeluaran untuk obat tambahan dan pengeluaran orangtua selama menunggu si sakit. Saya baru saja menonton tayangan mengenai keberhasilan Kota Cimahi melawan demam berdarah. Kalau tak salah, jumlah kasus dapat menurun separuhnya dengan upaya pemerintah dan masyarakat Cimahi.
Apakah ada daerah lain yang juga melakukan program serupa? Apa target pengendalian demam berdarah? Apakah jumlah kasus yang menurun, angka kematian yang rendah, atau jentik nyamuk tidak ditemukan lagi? Apakah yang menjadi keberhasilan Cimahi dalam menurunkan angka kejadian demam berdarah? Apakah ada negara yang sudah berhasil mengendalikan demam berdarah? Apa yang patut kita tiru dari negara tersebut? Meski pemerintah menjamin biaya pengobatan, bagi kami masyarakat tentu akan lebih baik jika tidak tertular demam berdarah. Kapan Jakarta bisa bebas demam berdarah?
HT di J
Menjelang musim hujan biasanya penyuluhan demam berdarah digalakkan. Sekitar 120.000 orang setiap tahun tertular demam berdarah di negeri kita. Sekitar 1.000 orang meninggal setiap tahun. Jika setiap pesawat udara memuat 300 penumpang, ini berarti sama dengan meledaknya tiga pesawat udara setiap tahun.
Upaya penanggulangan mestilah merupakan kerja sama masyarakat dan pemerintah. Kita tidak boleh hanya mengandalkan program pemerintah karena sebenarnya upaya pencegahan demam berdarah tidaklah rumit dan juga tidak membutuhkan biaya besar. Jika setiap rumah tangga menjaga agar di rumah dan sekitar rumah tak ada air tergenang yang dapat menjadi tempat pembiakan jentik demam berdarah, populasi nyamuk demam berdarah akan berkurang secara nyata dan risiko penularan juga dengan sendirinya akan menurun.
Selain itu, sekolah dan kantor juga harus menjaga lingkungan yang bebas dari genangan air tempat berbiak jentik demam berdarah. Karena itu, kita dan juga anak-anak tak boleh hanya berdiam diri di rumah, begitu pula di sekolah dan tempat bekerja. Jadi, pada prinsipnya semua lingkungan kita perlu bebas dari jentik nyamuk demam berdarah. Pengawasan air tergenang dapat kita lakukan, baik oleh ibu rumah tangga maupun anak sekolah. Untuk pengawasan jentik, pemerintah menyediakan jumantik (juru pemantau jentik nyamuk demam berdarah). Namun, sebenarnya kita tak perlu menunggu jumantik datang ke rumah kita.
Dengan sedikit latihan dan bermodal senter, kita juga dapat mengenal jentik nyamuk demam berdarah. Jentik nyamuk demam berdarah akan dapat berkembang jika air tergenang lebih dari seminggu. Karena itu, kita harus menjaga jangan ada air tergenang cukup lama di rumah kita. Karena itulah kita perlu menguras bak mandi kita secara teratur, menguburkan kaleng-kaleng bekas dan benda-benda lain yang dapat menjadi tempat tergenangnya air. Keberhasilan Cimahi dalam melawan demam berdarah adalah karena komitmen pemerintah daerah dan peran serta masyarakat, terutama ibu PKK dan anak sekolah.
Jumat bersih Pemerintah sebenarnya sudah mencanangkan setiap Jumat sebagai hari pembersihan lingkungan yang menjurus pada menghilangnya kesempatan jentik nyamuk demam berdarah berkembang. Hari itu masyarakat harus memeriksa rumah, terutama tempat-tempat penampungan air (bak mandi, akuarium, atau lainnya) atau benda yang dapat menjadi tampungan air seperti ban bekas dan kaleng. Jika ada air tergenang harus dibuang dan benda-benda yang berpotensi menjadi tampungan air dikuburkan.
Wali Kota Cimahi telah menyatakan perang terhadap demam berdarah dan memimpin perang tersebut dengan dibantu oleh masyarakat. Ibu-ibu PKK melakukan pelatihan bagi ibu rumah tangga untuk menjaga rumah dan lingkungan dari jentik nyamuk demam berdarah. Anak sekolah dilatih mencari jentik nyamuk demam berdarah, baik di rumah maupun di sekolah. Media massa membantu menyebarluaskan gerakan ini dan sekaligus juga memberitakan hasil yang dicapai.
Ketika masyarakat mengetahui bahwa tahun ini jumlah anggota masyarakat yang terjangkit demam berdarah berkurang separuhnya, sudah tentu mereka makin bersemangat untuk melakukan kegiatan memerangi demam berdarah. Cukup banyak negara yang berhasil mengendalikan demam berdarah. Singapura berhasil mengendalikan demam berdarah berkat disiplin warganya meski kadang-kadang masih ada kasus karena jentik nyamuk berkembang biak di pipa air apartemen. Kuba telah beberapa kali kita kutip sebagai negara yang berhasil membasmi demam berdarah. Rahasianya adalah kita semua harus bertanggung jawab pada lingkungan kita. Kita harus mempunyai gaya hidup bersih dan menjaga lingkungan kita bersih dan juga tidak memberi kesempatan kepada jentik nyamuk demam berdarah untuk berkembang biak.
Jadi, mari kita tinggalkan kebiasaan menyalahkan pemerintah, atau menunggu pemerintah melakukan fogging. Kita harus menjaga lingkungan kita sendiri, sepanjang tahun. Mari kita ajak tetangga kita untuk juga membersihkan lingkungan hidup. Jika lingkungan rukun tetangga, rukun warga, kelurahan, kecamatan, dan kota menjadi bersih, diharapkan kita tak akan lagi mempunyai masalah dengan demam berdarah. Mari kita cegah kematian sekitar 1.000 warga Indonesia dengan menerapkan hidup sehat dan menjamin lingkungan yang bersih.
Konsultasi dijawab oleh Dr Samsuridjal Djauzi |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Sep 01, 2010 12:19 pm | |
| TAHUKAH ANDA GEJALA DBD? Sabtu, 7 November 2009 | 10:36 WIB KOMPAS.com - Setiap kali pergantian musim tiba, fenomena penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang tergolong mematikan menjadi ancaman penduduk negara tropis seperti Indonesia. DBD disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes aegipty atau Aedes albopictus berkelamin betina. Nyamuk berkaki belang-belang putih ini menggigit manusia di siang hari. Virus dengue terdiri dari empat jenis (strain), yakni dengue tipe 1,2,3, dan 4. Namun tipe yang dominan di Indonesia adalah tipe 3.
Penyakit DBD sampai sekarang memang tidak terduga. Secara umum penyakit ini memiliki ciri seperti panas tinggi, pusing, bahkan muntah darah. Namun sayangnya, gejala yang sama sering ditemukan pada penyakit lain. Akibatnya, sampai sekarang sering terjadi salah diagnosis. Oleh sebab itu, Anda harus lebih waspada dan mengenali gejala lainnya.
GEJALA: - Demam tinggi mendadak - Sakit kepala berat, terutama di bagian dahi - Nyeri pada tubuh dan sendi - Mual atau muntah - Muka kemerahan - Pemeriksaan laboratorium menunjukkan leukosit dan trombosit turun (kurang dari 100 ribu) dan terjadi peningkatan hematokrit (kekentalan darah).
PENANGANAN - Monitor suhu tubuh penderita setiap hari - Bawa penderita kembali ke dokter bila demam berlangsung 3 hari - Istirahat dan asupan cairan yang cukup merupakan dua hal yang sangat penting pada pasien infeksi virus dengue. - Bila penderita makin lemas, muntah, sulit makan atau minum, perlu dilakukan pemberian cairan infus oleh dokter. - Bila hasil laboratorium menunjukkan ada tanda-tanda penurunan trombosit atau peningkatan hematokrit, penderita harus dirawat di rumah sakit. - Pasien diawasi jangan sampai terjadi syok yang ditandai dengan rasa lemas, mengantuk, dan pingsan, sementara kaki terasa dingin sekali. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Sep 01, 2010 12:20 pm | |
| BEDA DEMAM DENGUE DENGAN DBD Sabtu, 7 November 2009 | 10:41 WIB KOMPAS.com - Meski perjalanan awal penyakit ini hampir mirip, namun dua penyakit infeksi virus dengue ini memiliki tingkat kegawatan berbeda. Demam dengue dan demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Infeksi virus dengue menyebar dengan cepat dan dapat menyerang banyak orang pada masa epidemik. Kondisi lebih parah dialami oleh anak-anak.
DBD merupakan bentuk yang lebih parah dari demam dengue karena perdarahan dan syok terkadang dapat terjadi yang dapat berakibat fatal, yakni kematian. Menurut dr.Alan Tumbelaka, Sp.A (K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM, Jakarta, gejala penyakit demam dengue atau DBD secara umum hampir mirip. "Pada fase awal, dua penyakit ini tidak bisa dibedakan," katanya.
Secara umum, penyakit demam dengue dan DBD memiliki ciri.
Demam dengue - Demam akut selama 2-7 hari, disertai sakit kepala, nyeri otot dan sendi - Bisa disertai penurunan trombosit. - Panas akan turun pada hari ketiga atau keempat. - Tingkat penyembuhannya lebih baik.
DBD: - Demam tinggi mendadak, disertai nyeri kepala, nyeri di bagian belakang bola mata, terkadang juga nyeri perut. - Ada tanda ruam atau bintaik merah di kulit - Tidak disertai dengan batuk atau sakit di tenggorokan. - Trombosit dan leukosit turun (kurang dari 100.000) - Terjadi peningkatan hematokrit (naik 20 persen dari jumlah normal). - Perdarahan pada jaringan lunak (hidung, mulut, atau gusi). - Terjadi perembesan plasma. Makin bocor bisa menyebabkan syok.
Ditambahkan oleh dokter Alan, penentuan penyakit demam dengue atau DBD baru bisa dilakukan pada hari ketiga lewat gejala klinis ditambah pemeriksaan penunjang. "Diagnosis DBD bisa ditegakkan bila memenuhi dua kriteria klinis dan penurunan trombosit serta peningkatan hematokrit," paparnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Sep 01, 2010 12:22 pm | |
| KEMIRIPAN DBD DENGAN PENYAKIT LAINNYA Senin, 21 Desember 2009 | 10:01 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Ayah seorang penderita demam berdarah dengue (DBD) yang baru saja meninggal sempat bingung. Sebelum meninggal sudah 3 kali anaknya dibawa ke dokter dan 3 kali itu juga mendapat diagnosis yang berbeda. Hari pertama ia didiagnosis infeksi tenggorok, pada hari ketiga setelah cek darah, diagnosis berubah menjadi tifus, dan akhirnya pada hari kelima ia divonis DBD sebagai penyebab kematiannya.
Peritiwa ini sering dialami oleh penderita DBD, karena gejala awalnya mirip dengan banyak penyakit lain. Oleh karena itu, masyarakat dituntut mempunyai pengetahuan yang baik dan kecermatan yang tinggi untuk membedakan DBD dari penyakit lainnya. Sedangkan seorang klinisi atau dokter dituntut kejelian dan pemahamannya tentang perjalanan penyakit infeksi virus dengue; dari proses terjadinya penyakit, ketajaman pengamatan klinis, sampai interpretasi terhadap hasil tes laboratorium yang benar. Keterlambatan diagnosis berakibat keterlambatan penanganan yang berpotensi meningkatkan risiko kematian.
Gejala Bervariasi Diagnosis penyakit DBD paling sering "tertukar" dengan demam tifoid, faringitis akut (infeksi tenggorok), ensefalitis (infeksi otak), campak, flu atau infeksi sa-luran napas lainnya yang disebabkan virus. Bahkan belakangan ini terdapat beberapa kasus yang awalnya dicurigai flu burung tetapi ternyata penyakit DBD.
Hal ini terjadi karena infeksi virus dengue yang menyebabkan DBD sangat bervariasi. Ada yang menimbulkan gejala klinis asimtomatik atau tidak jelas, dan ada pula yang menyebabkan gejala klinis berat. Penderita DBD dapat menunjukkan gejala batuk, pilek, muntah, mual, nyeri tenggorok, nyeri perut, nyeri otot atau tulang, nyeri kepala, diare, kejang atau kesadaran menurun. Gejala ini juga dijumpai pada berbagai penyakit infeksi virus atau infeksi bakteri lainnya yang menyerang tubuh.
Menurut kriteria WHO (World Health Organization) diagnosis DBD hanya dibuat berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan laboratorium trombosit dan hematokrit. Gejala DB diawali demam tinggi mendadak dalam 2-7 hari (38°C- 40°C) disertai pendarahan berupa bintik perdarahan di kulit, pendarahan selaput putih mata, mimisan, atau berak darah. Penyakit ini ditandai oleh pembesaran hati, syok atau tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, dan tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah. Pemeriksaan laboratorium juga menunjukkan penurunan trombosit sampai ku-rang dari 100.000/mm+ pada hari ke-3 sampai ke-5 dan me-ningkatnya nilai hematokrit (>40%).
Bila tanda dan gejala di atas sudah cukup jelas, maka pemeriksaan laboratorium lain untuk konfirmasi diagnosis secara umum mungkin tidak diperlukan. Pemeriksaan dengue blot IgG dan IgM, isolasi virus dan pemeriksaan serologi mungkin hanya diperlukan dalam bidang penelitian atau kasus yang sulit. Karena pemeriksaan tersebut sangat mahal dan khususnya pemeriksaan dengue blot sensitivitasnya tidak terlalu tinggi.
Beda Gejaka DBD & Tifus Kesalahan lain, demam akibat penyakit DBD sering dianggap muncul bersamaan dengan demam akibat tifus. Kesalahan ini sering terjadi karena pemahaman yang kurang baik tentang dasar diagnosis penyakit, perjalanan penyakit, dan interpretasi laboratorium. Pola demam pada DBD biasa-nya mendadak tinggi, terus-me-nerus tidak pernah turun dalam 2 hari pertama, menurun pada hari ke-3 dan meningkat lagi di hari ke-4 atau ke-5. Sedangkan demam pada penyakit tifus biasa-nya tinggi terutama malam hari.
Pada penderita DBD sering ditemukan juga peningkatan hasil Widal. Pemeriksaan Widal adalah identifikasi antibodi tubuh terha-dap penyakit tifus. Kejadian seperti inilah yang menimbulkan kerancuan diagnosis DBD. Padahal pada minggu awal terjadinya panas, biasanya pada penyakit tifus malah tidak terdeteksi peningkatan titer Widal tersebut.
Jadi, bila hasil pemeriksaan Widal meningkat tinggi pada awal minggu pertama, hal itu tidak harus dicurigai sebagai penyakit tifus. Pada beberapa penelitian terlihat gangguan mekanisme pertahanan tubuh pada penderita hipersensitif atau alergi sering menimbulkan hasil Widal "false positive". Artinya positif tetapi belum tentu benar mengalami penyakit tifus. Hal lain yang harus diketahui, antibodi Widal dapat bertahan terus pada penderita selama 6 bulan hingga 2 tahun meskipun penyakit tifusnya sudah membaik. Jadi sebaiknya, pemeriksaan Widal dilakukan menjelang akhir minggu pertama panas atau awal minggu ke dua panas.
Sejauh ini akurasi tes Widal sebagai diagnosis penyakit tifus memang masih banyak memiliki kelemahan. Diagnosis pasti pe-nyakit tifus adalah dengan peme-riksaan kultur darah, bukan de-ngan pemeriksaan Widal. Penulis telah mengadakan pengamatan terhadap 24 penderita DBD yang disertai pemeriksaan Widal yang positif. Ternyata dalam evaluasi lebih lanjut, didapatkan hasil kultur darah kuman tifus negatif. Artinya, meskipun hasil Widal positif penyebabnya bukanlah penyakit tifus.
Beda Gejala DBD & Campak Manifestasi yang tidak biasa pada penderita DBD adalah timbul rash atau bercak kemerahan yang mirip dengan penyakit campak. Hal ini sering terjadi pada penderita yang sebelumnya sering mengalami riwayat hipersensitif atau alergi pada kulit. Pada penyakit campak, bercak merah timbul biasanya pada demam hari ke-3 sampai 5, kemudian akan berkurang pada minggu kedua dan menimbulkan bekas terkelupas dan bercak kehitaman. Penyakit campak harus diawali dengan keluhan pilek dan batuk mulai demam hari pertama. Sedangkan pada penderita DBD, biasanya bercak ini timbul saat hari ke-2 sampai 3. Pada hari ke-4 dan 5 bercak menghilang tanpa diikuti proses terkelupas dan bercak kehitaman pada kulit.
Beda Gejala DBD dan ISPA Pada awal perjalanan penyakit, DBD juga sangat sulit dibedakan dengan infeksi saluran napas akut (ISPA) seperti flu, infeksi tenggorok atau infeksi lainnya yang disebabkan virus. Gejala batuk, pilek, dan demamnya hampir sama. Mungkin yang sedikit dapat menjadi perhatian adalah penyakit flu biasanya diawali dengan batuk dan pilek pada saat demam hari pertama, dan akan menghilang secara bertahap setelah 7-14 hari. Sedangkan pada penyakit DBD, biasanya timbul batuk dan pilek saat demam hari ke-3 sampai 5, lalu setelah hari ke-6 batuk drastis menghilang. Penderita DBD yang mengalami keluhan batuk atau pilek, biasanya sebe-lumnya mempunyai riwayat hipersensitif pada saluran napas atas yang sering mengalami pilek, batuk berulang, batuk lama, atau asma.
Berjaga-jaga Hasil pemeriksaan laboratorium tertentu bukan satu-satunya konfirmasi diagnosis. Karenanya, harus diikuti dengan ketajaman pengamatan klinis dan interpretasi yang benar. Penanganan ideal suatu penyakit juga bukan sekadar "mengobati hasil laboratorium" tetapi memberikan terapi yang benar berdasarkan tanda dan gejala penyakit yang ada pada penderita.
Memang benar, bukan berarti setiap demam harus dicurigai sebagai gejala DBD. Namun dengan meningkatnya kasus penyakit DBD seperti sekarang ini, sikap berjaga-jaga sangat dibutuhkan. Artinya, meskipun tanda dan gejala DBD disertai penetapan diagnosis penyakit lain, maka sebaiknya fokus utama diletakkan pada penatalaksanaan kecurigaan penyakit DBD.
Dengan kata lain, dalam keadaan tertentu mungkin lebih baik terjadi "overdiagnosis" DBD dibandingkan "underdiagnosis". Alasannya, keterlambatan penanganan penyakit DBD lebih fatal dibandingkan penyakit lainnya yang memiliki gejala sama.
Dr. Widodo Judarwanto Sp.A, dari Allergy Behaviour Clinic & Picky Eaters Clinic (Klinik Kesulitan Makan), Jakarta |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Sep 01, 2010 12:23 pm | |
| WASPADAI SHOCK PADA PASIEN DBD Sabtu, 7 November 2009 | 10:44 WIB KOMPAS.com — Penderita demam berdarah dengue (DBD), terutama anak, rawan mengalami gangguan keseimbangan cairan. Hal ini bisa berakibat fatal, yakni terjadinya sindroma shock (renjatan) yang berujung pada kematian. Sindroma shock biasanya terjadi pada hari ketiga atau keempat sejak terjadinya demam. Padahal, pada saat ini demam biasanya mereda.
Infeksi virus dengue bisa menimbulkan perembesan plasma sehingga cairan akan memenuhi rongga sekitar jantung, paru, dan perut, sehingga terjadi pembengkakan. Di sisi lain, tubuh mengalami kekurangan cairan. Infeksi dengue yang tidak menimbulkan perembesan plasma disebut dengan demam dengue. Jenis ini relatif ringan dan tidak mengancam jiwa.
Tanda-tanda shock yang perlu diperhatikan adalah pasien gelisah, terjadi penurunan kesadaran yang ditandai dengan pasien tampak mengantuk dan ingin tidur terus, tidak nafsu makan, sakit perut, tidak nafsu makan, dan jarang buang air kecil. Jika shock terjadi berkepanjangan tanpa ada tindakan medis bisa mengakibatkan kematian. Untuk mencegah shock, penderita DBD harus diberi cukup cairan, baik lewat mulut maupun infus. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Tue Sep 21, 2010 9:21 am | |
| AKSI SI VIRUS PENGINTAI MAUT Selasa, 21 September 2010 | 07:00 WIB Kompas.com - Demam berdarah dengue masih menyisakan berbagai pertanyaan menggantung. Termasuk di dalam keluarga Bain (49), warga Jakarta Timur, yang baru terserang penyakit itu bersamaan dengan putranya, Anan (18), beberapa waktu lalu. Kesannya, demam berdarah itu bisa remeh, tetapi juga dapat mematikan. Lebih baik tidak ambil risiko,” ujar Bain yang sempat dirawat lima hari di sebuah rumah sakit. Begitu merasa demam, tanpa pikir panjang, Bain yang sudah tiga kali dihinggapi demam berdarah dengue itu memeriksakan diri ke dokter. Kekhawatiran utamanya, demam berdarah.
Sepak terjang penyakit demam berdarah kian mengkhawatirkan. Penyakit yang satu ini tidak pilih-pilih korban dan tak hanya menyerang anak-anak saja, seperti sebelumnya dikenal. Penyakit berbahaya itu tak lepas dari aksi virus dengue di dalam darah. Dengue berasal dari bahasa Swahili, ki denga pepo, atau serangan tiba-tiba berupa kejang yang disebabkan roh jahat. Dalam bahasa Spanyol kemudian disebut dengue. Penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu menjadi wabah di Indonesia pada 1968.
Dokter spesialis penyakit dalam dari RS Karya Bhakti, Bogor, Adi Teruna Effendi, mengatakan, demam dengue disebabkan oleh virus dengue (VDEN). Namun, infeksi virus dengue dalam dinamikanya sering menimbulkan ragam gambaran klinik, seperti demam dengue (DD), demam berdarah dengue (DBD), dan dengue shock syndrom (DSS). Virus dengue mampu memperbanyak diri sehingga menimbulkan penyebaran yang selanjutnya menentukan arah berkembangnya infeksi.
Keberadaan virus di dalam darah memicu sistem imunitas yang ditandai dengan demam akut. ”Hanya saja, terkadang demam itu tidak dirasakan karena tengah bepergian, sibuk, atau kelelahan,” ujar Adi. Selain itu, pemecahan virus dengue akan melepaskan protein nonstruktural yang nantinya mendorong replikasi virus lebih jauh lagi. Kondisi itu menyebabkan meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah dan dapat menyebabkan terjadinya kebocoran.
Dokter spesialis anak dari Divisi Infeksi dan Penyakit Tropis Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM, Alan Roland Tumbelaka, menambahkan, peningkatan hematokrit menjadi salah satu penanda akan adanya ancaman kebocoran plasma yang dapat menyebabkan shock dan berbahaya. ”Dibandingkan dengan nilai trombosit, nilai hematokrit jauh lebih penting dalam menentukan kegawatan suatu kasus demam berdarah dengue,” ujarnya. Terjadinya shock bergantung pada jenis tipe virus dengue (dikenal dengan serotipe) yang masuk ke tubuh anak. Terdapat empat serotipe, yakni Dengue 1, Dengue 2, Dengue 3, dan Dengue 4. Tingkat kejahatan virus juga berperan. ”Respons kekebalan tubuh dari setiap penderita ikut juga menentukan terjadinya shock atau tidak,” kata Alan.
Perbedaan Alan menjelaskan, kebocoran plasma (plasma leakage) membedakan antara demam berdarah dengue (DBD) dan demam dengue. Pada DBD terjadi kebocoran plasma karena keluarnya cairan plasma darah dari pembuluh darah seseorang ke jaringan di luar pembuluh darah. Kebocoran itu menyisakan zat padat dalam darah atau sel darah yang ditandai oleh kadar hematokrit (kekentalan darah) meningkat. Kebocoran plasma yang biasanya pada hari ke-3 hingga ke-4 itu dapat dikenali dengan nilai hematokrit (Ht).
Sebagian cairan plasma masuk ke ruang di luar pembuluh darah, seperti ruang antara selaput paru (pleura) atau ke antara selaput pembungkus jantung (perikardium), atau ke ruang antara usus manusia (peritonium). Lantaran keluarnya cairan itu, rongga pembuluh darah menjadi relatif kosong dan tekanannya jadi berkurang. Hal ini memberi gejala turunnya tekanan dalam pembuluh darah dan berakibat fatal shock atau renjatan. ”Inilah komplikasi DBD yang ditakuti orang dan merupakan perbedaan demam berdarah dengue dengan demam dengue,” ujarnya.
Peningkatan hematokrit sekaligus tanda penderita memerlukan tindakan darurat berupa infus yang cepat dan tepat cairan kristaloid atau koloid, tergantung keburukan serta evaluasi situasi yang terjadi. Tidak jarang kemudian penderita memerlukan perawatan di ruang rawat intensif (ICU). Pada penderita demam berdarah dengue dapat pula terjadi pendarahan karena adanya gangguan fungsi trombosit sehingga terjadi gangguan pembekuan darah. Jumlah trombosit yang menurun (di bawah 100.000 per mm) juga berpengaruh terhadap terjadi perdarahan. Selain itu, timbul gangguan pemakaian fungsi trombosit sehingga mudah terjadi perdarahan. Nilai trombosit mulai menurun pada masa demam dan mencapai nilai terendah pada masa renjatan atau shock.
Menurut Alan, hal lain yang juga penting ialah keterangan infeksi virus dengue tersebut terjadi pertama kali atau tidak. Infeksi pertama kali, berarti virus dengue belum pernah masuk ke tubuh anak sebelumnya dan merupakan infeksi primer. ”Inilah yang terjadi pada demam dengue. Pada infeksi berikutnya, penderita dapat terinfeksi oleh virus dengue kembali, tetapi dari jenis atau serotipe yang berbeda. Biasanya gejalanya lebih berat. Ini yang disebut infeksi sekunder dan biasanya disebut DBD,” ujarnya. Pada dasarnya, infeksi virus dengue merupakan self limiting infection disease yang akan berakhir 2-7 hari. Lantaran tidak ada obatnya, penanganan pasien dengan memberikan cairan cukup guna mengurangi rasa haus dan dehidrasi.
Pada anak, jika volume darah si anak tidak sampai berkurang pada saat terjadi kebocoran plasma, kebocoran itu dapat dihadapi tubuhnya. Biasanya itu dikarenakan anak mempunyai kesempatan dan kesanggupan minum cukup. Sedangkan anak yang tidak bisa minum, atau sering muntah, mempunyai tendensi mudah menjadi shock. Monitor dan perhatian khusus terhadap derajat kehausan dan kemampuan minum si anak sangat penting.
Selain itu, dapat pula diberikan obat penurun panas dengan berhati-hati. Berdasarkan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (1997), pemakaian obat antidemam golongan parasetamol lebih tepat untuk menurunkan demam berdarah dengue. Asam asetilsalisilat ataupun obat antiinflamasi non-steroid (NSAID), seperti ibuprofen, mempunyai indikasi kontra pada demam dengue ataupun DBD yang dapat menimbulkan risiko perdarahan. Namun, tetap saja kecepatan deteksi dan penanganan ikut menentukan keselamatan penderita dari lubang maut. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Sep 29, 2010 3:27 pm | |
| BUMI MAKIN PANAS, NYAMUK JADI GANAS Rabu, 29 September 2010 | 13:52 WIB Kompas.com — Pemanasan global yang menyebabkan perubahan iklim tidak hanya berdampak pada bidang lingkungan dan pertanian, tapi juga secara tidak langsung berdampak pada kesehatan masyarakat. Meningkatnya suhu dan kelembaban akan memengaruhi peningkatan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk. Penyakit infeksi yang ditularkan oleh nyamuk dan kecenderungannya meningkat antara lain filariasis (kaki gajah), malaria, radang otak akibat west nile virus dan Japanese encephalitis, chikungunya, serta demam berdarah.
"Peningkatan suhu akan memengaruhi bionomik atau perilaku menggigit dari populasi nyamuk menjadi semakin beringas. Angka gigitan rata-rata nyamuk juga meningkat dan perkembangbiakan nyamuk semakin cepat," kata Prof dr Umar-Fahri Achmadi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia di sela acara program "Aku Anak Sehat 2010" yang diadakan Tupperware Indonesia di Cibubur, Bogor, Rabu (29/9/2010). Intergovermental Panel on Climate Change tahun 1996 menyebutkan, insiden demam berdarah dengue di Indonesia dapat meningkat tiga kali lipat pada tahun 2070. Intensitas curah hujan yang meningkat akibat meningkatnya temperatur udara juga berakibat pada makin banyaknya volume genangan air. Padahal, air merupakan tempat ideal berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, penyebar virus dengue.
"Makin banyak tempat berkembang biak nyamuk, bertambah pula jumlah nyamuk. Akibatnya, risiko orang tergigit dan tertular penyakit juga semakin besar," kata Umar. Untuk beradaptasi dengan beberapa dampak perubahan iklim tersebut, Umar mengatakan hanya ada dua pilihan, yakni melakukan pencegahan atau mengobati penyakit jika tertular. "Kita bisa mengurangi jumlah populasi nyamuk dan memperkecil penularan penyakit dengan melakukan pembersihan tempat-tempat perindukan nyamuk," katanya.
Kebiasaan melakukan hidup sehat juga harus dilakukan, seperti kebiasaan mencuci tangan, membuang sampah pada tempatnya, serta mengonsumsi makanan bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Pada anak-anak, Umar juga menekankan pentingnya imunisasi. "Anak sekolah merupakan kelompok yang rentan terhadap dampak perubahan iklim," katanya. Perubahan iklim membawa perubahan pada potensi penyakit menular. Karena itu, seharusnya perilaku hidup kita juga ikut berubah untuk mencegah infeksi penyakit. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Mon Oct 04, 2010 5:43 pm | |
| NYAMUK MODIFIKASI DILEPAS UNTUK PRETELI KEKUATAN NYAMUK DBD Minggu, 03/10/2010 11:29 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Queensland, Berbagai cara sudah dilakukan untuk memberantas nyamuk demam berdarah tapi tak satu pun yang bisa membuat jumlah nyamuk DBD itu menciut. Kini ilmuwan akan melepas nyamuk hasil modifikasi yang tidak menimbulkan penyakit yang malah bisa mencuri kekuatan nyamuk DBD.
Seperti apa nyamuk modifikasi ini? Nyamuk modifikasi ini adalah nyamuk-nyamuk yang disuntik dengan wolbachia yaitu sejenis bakteri yang sering ditemukan pada buah dan serangga selain nyamuk. Nah, bakteri ini sangat suka mengambil protein yang dibutuhkan oleh virus dengue sehingga tidak bisa lagi hidup di tubuh nyamuk. Nyamuk modifikasi ini akan dilepas di komunitas nyamuk DBD yang kemudian bergabung dan 'kawin' dengan nyamuk DBD asli.
Ilmuwan telah mendesain sedemikian rupa, agar bakteri-bakteri itu mudah ditularkan ke nyamuk lain. Bahkan saat berkembang biak, bakteri akan menular pada telur-telur dan keturunan yang dihasilkan oleh nyamuk tersebut. Jika virus tidak bisa hidup di tubuh nyamuk, maka nyamuk juga tidak bisa lagi menularkannya ke manusia. Harapannya kini adalah, nyamuk hasil modifikasi itu bisa bertahan dan beranak-pinak di habitat aslinya. Rencana pelepasan nyamuk modifikasi untuk pertama kalinya diumumkan oleh Eliminate Dengue Project. Dengan didanai oleh Bill and Melinda Gates Foundation, proyek tersebut akan dimulai di wilayah sekitar Cairns, Queensland dalam waktu dekat ini.
"Diharapkan, dalam musim hujan yang akan datang kita sudah bisa mempelajari wilayah di mana bakteri wolbachia telah menginfeksi nyamuk-nyamuk penyebab demam berdarah," ujar Scott O'Neill dari University of Queensland, dikutip dari Ninemsn, Minggu (3/10/2010). Jika uji coba ini berhasil, Scott dan timnya berencana melanjutkan eksperimen ini di Vietnam kurang lebih 6 bulan ke depan. Sebagaimana di negara-negara tropis lainnya, masalah demam berdarah di Vietnam lebih tinggi dibandingkan Australia. Sementara itu, di seluruh dunia penularan demam berdarah tercatat masih cukup tinggi. Sedikitnya 2,5 juta orang tertular tiap tahun, sebagian di antaranya anak-anak dan berakibat fatal misalnya kematian. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Mon Oct 04, 2010 5:45 pm | |
| NYAMUK KEOK DENGAN GELOMBANG ULTRASONIK Kamis, 08/10/2009 15:20 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Selama ini orang mematikan nyamuk dengan menggunakan insektisida meski ada efek sampinya karena kandungan berbagai zat kimia yang berbahaya. Kini nyamuk bisa dibasmi dengan menggunakan gelombang ultrasonik. Karena efek negatif penggunaan insektisida maka dibutuhkan solusi pengendalian nyamuk yang lebih aman. Penanganan nyamuk cukup penting karena serangga ini bisa menimbulkan berbagai macam penyakit seperti demam berdarah (Aedes aegypti), penyakit kaki gajah (Culex quinquefasciatus) dan juga penyakit malaria (Anopheles aconitus).
"Kebanyakan hewan punya kemampuan mendengar yang lebih tinggi dibanding manusia dan tingginya gelombang tersebut menyebabkan terganggunya sistem rangsangan auditori (pendengaran) mereka," ujar pakar entomologi dari FKH IPB, Dr Upik Kesumawati Hadi, MS dalam acara LG Journalist Class Teknologi Ultrasonik Teruji membunuh Nyamuk Demam Berdarah, di Hotel Crowne, Jakarta, Kamis (8/10/2009).
Upik menambahkan pancaran gelombang ultrasonik yang mengenai nyamuk akan mengakibatkan terganggunya antena pada nyamuk yang berfungsi sebagai indera penerima rangsangan, sehingga nyamuk akan merasa tidak nyaman dan terganggu keseimbangannya yang nantinya bisa menyebabkan nyamuk tersebut mati. Hal ini sangat berguna untuk membunuh nyamuk penyebab demam berdarah yang tercatat hingga Juli 2009 telah 77.000 orang terjangkit hampir di seluruh Indonesia.
Dalam melakukan pengujian terhadap kemampuan dari gelombang ultrasonik, Upik beserta tim melakukan penelitian di Laboratorium Entomologi Fakultas Kedokteran Hewan IPB mulai dari Juli 2007 hingga tahun 2009 ini. Dalam penelitian ini menggunakan nyamuk Aedes aegypti yang berusia 3 sampai 5 hari, karena pada usia tersebut nyamuk sudah memiliki metabolisme yang optimal.
"Jika usia nyamuk di atas 6 hari metabolismenya sudah menurun, sehingga ditakutkan nyamuk mati bukan karena ultrasonik," ujar pakar Entomologi Kesehatan IPB ini. Berdasarkan penelitian tersebut didapatkan persentase nyamuk Aedes aegypti yang mati akibat terkena gelombang ultrasonik 30 kHz sampai 100 kHz selama 24 jam mencapai 74 persen. Dan pancaran gelombang ultrasonik ini bisa mencapai 5 meter.
Dalam penelitian ini juga diuji apakah ultrasonik tersebut bisa berdampak negatif terhadap manusia atau tidak dengan melakukan pengujian biomedis. Pengujian ini menggunakan hewan percobaan monyet berekor panjang (Macaca fascicularis) yang secara filogenik dan fisiologis memiliki kemiripan relatif dengan manusia. Parameter yang diuji adalah perilakunya, hematologi, kimia darah, fungsi jantung dan metabolismenya. Ternyata tidak ditemukan perbedaan yang signifikan antara monyet yang terkena gelombang ultrasonik dengan monyet yang digunakan sebagai kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa gelombang tersebut tidak berbahaya.
"Sistem tangkap dari gelombang ultrasonik hanya pada auditory (pendengaran) sehingga tidak menggangu sistem tubuh seperti darah atau jantung, sedangkan sensitifitas frekuensi suara yang bisa ditangkap manusia adalah 20 Hz sampai 20 kHz," tambah Upik. Berdasarkan hasil tersebut maka gelombang ultrasonik cukup efektif untuk membunuh nyamuk terutama Aedes aegypti yang bisa menyebabkan penyakit demam berdarah, dan gelombang ini tidak akan memberikan efek yang buruk terhadap kesehatan manusia |
|  | | | | Demam yang Perlu Diwaspadai | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |