|
| | Demam yang Perlu Diwaspadai | |
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Jan 27, 2010 12:58 pm | |
| DEMAM DEMAM YANG PERLU DIWASPADAI Ada 4 penyakit yang sering dan terus menerus ada kasusnya sepanjang tahun. Ke 4 nya ditandai dengan demam, yakni:
- Leptospirosis - Chikungunya - DBD - Demam typhoid ( tifus )
Kemiripan gejala dan pemeriksaan membuat kesulitan tersendiri dalam membedakannya. Pada hari hari pertama memang tidak mudah membedakannya, DBD dan demam typhoid sama sama memberikan demam tinggi tetapi pada DBD biasanya terjadi terus menerus, sedangkan pada demam typhoid lebih bersifat naik turun, meninggi pada sore dan malam hari. Gejala tambahan seperti mual, pusing, muntah sama sama dimiliki DBD dan demam typhoid. Pemeriksaan laboratorium pada hari hari pertamapun bisa serupa, mulai dari penurunan leukosit maupun trombosit, apalagi pemeriksaan serologi tidak bisa dilakukan pada periode awal penyakit.
Oleh karena itu mari kita kenali lagi agar mampu ditata laksana dengan lebih tepat agar tidak timbul komplikasi berat. Tak kalah penting juga untuk mengetahui langkah langkah pencegahan agar tidak terjadi rantai penularan infeksi. Selain itu masih banyak penyakit penyakit lain yang diawali juga dengan demam, seperti misalnya malaria, campak, cacar air, radang tenggorokan, gondongan, campak jerman, flu dan lain lain.
Last edited by gitahafas on Mon Jun 27, 2011 2:09 pm; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Jan 27, 2010 3:41 pm | |
| APA ITU LEPTOSPIROSIS? Minggu, 11 Oktober 2009 | 08:57 WIB KOMPAS.com - Salah satu penyakit pascagempa yang mengintai korban gempa adalah Leptospirosis. Penyakit ini adalah salah satu penyakit menular yang berasal dari hewan dan menjangkiti manusia dan termasuk penyakit zoonosis paling sering di dunia. Leptospirosis disebabkan bakteri patogen berbentuk spiral genus Leptospira, famili leptospiraceae dan ordo spirochaetales. Angka kematian akibat leptospirosis tergolong tinggi, mencapai 5-40 persen. Infeksi ringan diperkirakan pada 90 persen kasus. Anak balita, orang lanjut usia dan penderita yang mempunyai daya tahan tubuh rendah mempunyai resiko kematian tinggi. Pada usia di atas 50 tahun, risiko kematiannya bisa mencapai 56 persen. Pada penderita ikterus yang sudah mengalami kerusakan hati, risiko kematiannya lebih tinggi.
Penularan penyakit ini bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Penyakit ini dapat menyerang semua usia, mayoritas berusia 10-39 tahun, maka bisa jadi usia adalah sebuah faktor risiko. Di Indonesia, penularan paling sering adalah melalui tikus. Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke tubuh manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung. Bisa juga melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi urine tikus yang terinfeksi leptospira. Beberapa hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing dapat terserang leptospirosis, tetapi potensi menularkan ke manusia tidak sebesar tikus. Leptospirosis tidak menular langsung dari pasien ke pasien.
Masa inkubasi leptospirosis 2 - 26 hari. Sekali berada di aliran darah, bakteri ini bisa menyebar ke seluruh tubuh dan mengakibatkan gangguan khususnya hati dan ginjal. Pada ginjal kuman bisa menyebabkan peradangan ginjal dan kematian jaringan sampai gagal ginjal. Gangguan hati juga mungkin terjadi sehingga bisa menyebabkan ikterus (kulit berwarna kekuningan). Jika leptospira mengenai otot maka bisa menyebabkan pembengkakan, kerusakan jaringan hingga gangguan permeabilitas kapiler pembuluh darah sedangkan gangguan paru yang sering terjadi adalah batuk darah.
Infeksi leptospirosis mempunyai gejala yang sangat bervariasi bahkan kadang hampir tidak ada gejala sehingga sering terjadi kesalahan dalam mendiagnosa. Hampir 15-40 persen penderita yang terinfeksi tidak bergejala tetapi pemeriksaan laboratorium positif. Cara menghindari atau mengurangi resiko leptospirosis adalah dengan menghindari atau mengurangi kontak dengan binatang yang kira- kira terkena air atau lahan yang tercemar. Pakailah sarung tangan, baju dan kacamata pelindung. Perhatikan kebersihan lingkungan dan binatang pengerat seperti tikus harus diperhatikan. Komplikasi tergantung dari perjalanan penyakit dan pengobatannya. Perkiraan kondisi penderita di masa depan tergantung dari ringan atau beratnya infeksi.
dr. Intan Airlina Febiliawanti
Last edited by gitahafas on Mon Jun 27, 2011 1:58 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Jan 27, 2010 3:55 pm | |
| LEPTOSPIROSIS Adalah penyakit demam akut yang bisa ditemukan pada manusia dan hewan ( terutama tikus tapi bisa juga anjing, kucing dan babi ). Pada hewan, bakteri akan masuk ke ginjal dan dikeluarkan melalui urine sehingga berpotensi mencemari air dan tanah. Bila manusia terkena air, tanah atau makanan yang terkontaminasi urine infeksius tersebut, maka akan menderita leptospirosis. Kuman bisa masuk melalui luka atau lecet kulit, kaadang lewat selaput lendir mulut, hidung dan mata.
Penyakit ini mengalami peningkatan dikala banjir, karena luapan air got tempat favorit tikus tinggal akan mencemari tanah dan penampungan air. Tingkat kematian akibat penyakit ini cukup tinggi, disebabkan karena penanganan yang seringkali terlambat. Salah satu faktor keterlambatan adalah karena gejala awal penyakit ini tidak khas. Keluhan yang biasa disampaikan adalah demam, nyeri otot terutama otot betis, sakit kepala, kadang disertai mual, muntah dan diare.
Pada kondisi berat, pasien dapat ditemukan dalam keadaan kuning ( ikterik ) dan mengalami perdarahan atau gejala lain yang menandakan gagal organ multipel. Kondisi tersebut dikenal dengan Penyakit Weil. Ikterik merupakan tampilan klinis yang berat dari penyakit leptospirosis, akibat gangguan pada hati, ginjal dan disertai perdarahan. Bila sudah dalam keadaan ini, maka angka kematian menjadi lebih tinggi.
Karena gejala yang tidak khas, maka penting sekali untuk menggali riwayat pasien. Riwayat yang dimaksud disini terutama adalah riwayat terpapar dengan urine hewan yang mungkin terinfeksi. Oleh karena itu perlu diperhatikan jenis pekerjaan atau aktivitas yang dilakukan sebelumnya yang memungkinkan terpapar urine hewan tersebut ( misalnya: korban banjir, sukarelawan bencana alam, petugas laboratorium, dokter hewan ).
Pengobatan leptospirosis bila belum disertai komplikasi yang berat seperti kerusakan hati, ginjal atau organ lain, cukup dengan pemberian antibiotik. Apabila pasien sudah jatuh ke kondisi infeksi berat, harus mendapatkan perawatan intensif di rumah sakit. Pencegahan penyakit ini dengan vaksinasi hewan peliharaan. Vaksin untuk manusia belum ada
Last edited by gitahafas on Mon Jun 27, 2011 2:06 pm; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Jan 27, 2010 5:23 pm | |
| PENCEGAHAN LEPTOSPIROSIS a. Jangan lupa kenakan sepatu atau alas kaki jika keluar rumah. Lebih baik menggunakan sepatu tertutup jika tanah basah atau berlumpur atau saat banjir. b. Pakailah sarung tangan saat berkebun atau ketika melakukan aktivitas lain yang memungkinkan anda kontak dengan tanah. c. Balut luka dan hindari kontak dengan tanah atau genangan air yang memungkinkan terkontaminasi. d. Segera cuci tangan dan kaki dengan sabun setelah kontak dengan tanah atau air yang mungkin terkontaminasi. e. Bagi anda yang bekerja berhubungan dengan binatang atau sebagai relawan bencana, jangan lupa kenakan alat pelindung diri seperti sepatu bot karet, masker, sarung tangan dan kacamata. f. Hindari memberi makan daging mentah terutama jeroan mentah pada hewan peliharaan. g. Berikan vaksin leptospira untuk hewan peliharaan anda.
Sumber: Dokter Kita edisi 1 - Thn V - Januari 2010
Last edited by gitahafas on Mon Jun 27, 2011 2:10 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Jan 27, 2010 5:42 pm | |
| LEPTOSPIRA
I. Defenisi Leptospirosis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira berbentuk spiral yang menyerang hewan dan manusia dan dapat hidup di air tawar selama lebih kurang 1 bulan. Tetapi dalam air laut, selokan dan air kemih yang tidak diencerkan akan cepat mati.
II. Sumber Penularan Hewan yang menjadi sumber penularan adalah tikus (rodent), babi, kambing, domba, kuda, anjing, kucing, serangga, burung, kelelawar, tupai dan landak. Sedangkan penularan langsung dari manusia ke manusia jarang terjadi.
III. Cara Penularan Manusia terinfeksi leptospira melalui kontak dengan air, tanah atau tanaman yang telah dikotori oleh air seni hewan yang menderita leptospirosis. Bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir (mukosa) mata, hidung, kulit yang lecet atau atau makanan yang terkontaminasi oleh urine hewan terinfeksi leptospira. Masa inkubasi selama 4 - 19 hari.
IV. Gejala Klinis Stadium Pertama ? Demam menggigil ? Sakit kepala ? Malaise ? Muntah ? Konjungtivitis ? Rasa nyeri otot betis dan punggung ? Gejala-gejala diatas akan tampak antara 4-9 hari
Gejala yang Karakteristik ? Konjungtivitis tanpa disertai eksudat serous/porulen (kemerahan pada mata) ? Rasa nyeri pada otot-otot Stadium Kedua ? Terbentuk anti bodi di dalam tubuh penderita ? Gejala yang timbul lebih bervariasi dibandingkan dengan stadium pertama ? Apabila demam dengan gejala-gejala lain timbul kemungkinan akan terjadi meningitis. ? Stadium ini terjadi biasanya antara minggu kedua dan keempat.
Komplikasi Leptospirosis Pada hati : kekuningan yang terjadi pada hari ke 4 dan ke 6 Pada ginjal : gagal ginjal yang dapat menyebabkan kematian. Pada jantung : berdebar tidak teratur, jantung membengkak dan gagal jantung yang dapat mengikabatkan kematian mendadak. Pada paru-paru : batuk darah, nyeri dada, sesak nafas. Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah dari saluran pernafasan, saluran pencernaan, ginjal, saluran genitalia, dan mata (konjungtiva). Pada kehamilan : keguguran, prematur, bayi lahir cacat dan lahir mati.
V. Pencegahan - Membiasakan diri dengan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) - Menyimpan makanan dan minuman dengan baik agar terhindar dari tikus. - Mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. - Mencuci tangan, kaki serta bagian tubuh lainnya dengan sabun setelah bekerja di sawah/ kebun/sampah/tanah/selokan dan tempat-tempat yang tercemar lainnya. - Melindungi pekerja yang berisiko tinggi terhadap leptospirosis (petugas kebersihan, petani, petugas pemotong hewan, dan lain-lain) dengan menggunakan sepatu bot dan sarung tangan. - Menjaga kebersihan lingkungan - Membersihkan tempat-tempat air dan kolam renang. - Menghindari adanya tikus di dalam rumah/gedung. - Menghindari pencemaran oleh tikus. - Melakukan desinfeksi terhadap tempat-tempat tertentu yang tercemar oleh tikus - Meningkatkan penangkapan tikus.
VI. Pengobatan Pengobatan dini sangat menolong karena bakteri Leptospira mudah mati dengan antibiotik yang banyak di jumpai di pasar seperti Penicillin dan turunannya (Amoxylline) Streptomycine, Tetracycline, Erithtromycine. Bila terjadi komplikasi angka kematian dapat mencapai 20%. Segera berobat ke dokter terdekat.
VII. Kewaspadan oleh Kader / Masyarakat. Bila kader / masyarakat dengan gejala-gejala diatas segera membawa ke Puskesmas / UPK terdekat untuk mendapat pengobatan
VIII. Sistem Kewaspadaan Dini Analisa data penderita Leptospirosis yang dilaporkan oleh Rumah Sakit (SARS) ke Dinas Kesehatan Propinsi DKI Jakarta
IX. Penanggulangan KLB Penanggulangan KLB dilakukan pada daerah yang penderita Leptospirosis cenderung meningkat (per jam/hari/minggu/bulan) dengan pengambilan darah bagi penderita dengan gejala demam, sekitar 20 rumah dari kasus indeks.
Sumber: Infeksi.com
Last edited by gitahafas on Mon Jun 27, 2011 2:11 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Jan 27, 2010 5:59 pm | |
| LEPTOSPIROSIS Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang dapat menyerang manusia maupun hewan yang disebabkan kuman leptospira patogen dan digolongkan sebagai zoonosis. Gejala klinis leptospirosis mirip dengan penyakit infeksi lainnya seperti influensa, meningitis, hepatitis, demam dengue, demam berdarah dengue dan demam virus lainnya, sehingga seringkali tidak terdiagnosis. Keluhan-keluhan khas yang dapat ditemukan, yaitu: demam mendadak, keadaan umum lemah tidak berdaya, mual, muntah, nafsu makan menurun dan merasa mata makin lama bertambah kuning dan sakit otot hebat terutama daerah betis dan paha. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di daerah beriklim tropis dan subtropis, dengan curah hujan tinggi (kelembaban), khususnya di negara berkembang, dimana kesehatan lingkungannya kurang diperhatikan terutama. pembuangan sampah. International Leptospirosis Society menyatakan Indonesia sebagai negara insiden leptospirosis tinggi (tabel 1) dan peringkat tiga di dunia untuk mortalitas
Siklus Penularan Leptospira Berdasarkan data Semarang tahun 1998 ? 2000. Banjir besar di Jakarta tahun 2002, dari data sementara 113 pasien leptospirosis, diantaranya 20 orang meninggal. Kemungkinan infeksi leptospirosis cukup besar pada musim penghujan lebih?lebih dengan adanya Penularan leptospirosis pada manusia ditularkan oleh hewan yang terinfeksi kuman leptospira. Pejamu reservoar utama adalah roden/tikus dengan kuman leptospira hidup di dalam ginjal dan dikeluarkan melalui urin saat berkemih. Manusia merupakan hospes insidentil yang tertular secara langsung atau tidak langsung.
Penularan langsung terjadi: - Melalui darah, urin atau cairan tubuh lain yang mengandung kuman leptospira masuk ke dalam tubuh pejamu - Dari hewan ke manusia merupakan penyakit kecelakaan kerja, terjadi pada orang yang merawat hewan atau menangani organ tubuh hewan misalnya pekerja potong hewan, atau seseorang yang tertular dari hewan peliharaan. - Dari manusia ke manusia meskipun jarang, dapat terjadi melalui hubungan seksual pada masa konvalesen atau dari ibu penderita leptospirosis ke janin melalui sawar plasenta dan air susu ibu.
Penularan tidak langsung terjadi melalui genangan air, sungai, danau, selokan saluran air dan lumpur yang tercemar urin hewan seperti tikus, umumnya terjadi saat banjir. Wabah leptospirosis dapat juga terjadi pada musim kemarau karena sumber air yang sama dipakai oleh manusia dan hewan.
Faktor risiko Faktor faktor risiko terinfeksi kuman leptospira, bila kontak langsung / terpajan air dan rawa yang terkontaminasi yaitu: - Kegiatan yang memungkinkan kontak dengan lingkungan tercemar kuman keptospira, misalnya saat banjir, pekerjaan sebagai tukang kebun, petani, pekerja rumah potong hewan, pembersih selokan, pekerja tambang, mencuci atau mandi di sungai/ danau, dan kegiatan rekreasi di alam bebas serta petugas laboratorium. - Peternak dan dokter hewan. yang terpajan karena menangani ternak, terutama saat memerah susu, menyentuh hewan mati, menolong hewan melahirkan, atau kontak dengan bahan lain seperti plasenta , cairan amnion dan bila kontak dengan percikan infeksius saat hewan berkemih. - Kuman leptospira masuk ke dalam tubuh pejamu melalui luka iris/ luka abrasi pada kulit, konjungtiva atau mukosa utuh yang melapisi mulut, faring, osofagus, bronkus, alveolus dan dapat masuk melalui inhalasi droplet infeksius dan minum air yang terkontaminasi. - Infeksi melalui selaput lendir lambung, jarang terjadi, karena ada asam lambung yang mematikan kuman leptospira.
Tanda Penderita Leptospirosis : - Sklera Ikterik = mata kuning.
Gejala leptospirosis meliputi : - demam ringan atau tinggi yang umumnya bersifat remiten - nyeri kepala - menggigil - mialgia - mual, muntah dan anoreksia - nyeri kepala dapat berat, mirip yang terjadi pada infeksi dengue, disertai nyeri retro-orbital dan fotopobia - nyeri otot terutama di daerah betis sehingga pasien sukar berjalan, punggung dan paha. - Sklera ikterik dan conjunctival suffusion atau mata merah dan pembesaran kelenjar getah bening, limpa maupun hati. - Kelainan mata berupa uveitis dan iridosiklitis. - Manifestasi klinik terpenting leptospirosis anikterik adalah meningitis atau radang selaput otak aseptik yang tidak spesifik sehingga sering tidak terdiagnosis.
Gejala klinik menyerupai penyakit-penyakit demam akut lain, oleh karena itu pada setiap kasus dengan keluhan demam, harus selalu dipikirkan leptospirosis sebagai salah satu diagnosis bandingnya, terutama di daerah endemik. Leptospirosis ringan atau anikterik merupakan penyebab utama fever of unknown origin di beberapa negara Asia seperti Thailand dan Malaysia. Mortalitas pada leptospirosis anikterik hampir nol, meskipun pernah dilaporkan kasus leptospirosis yang meninggal akibat perdarahan masif paru dalam suatu wabah di Cina. Tes pembendungan terkadang positif, sehingga pasien leptospirosis anikterik pada awalnya di diagnosis sebagai pasien dengan infeksi dengue. Pada leptospirosis ikterik, pasien terus menerus dalam keadaan demam disertai sklera ikterik, pada keadaan berat terjadi gagal ginjal akut, ikterik dan manifestasi perdarahan yang merupakan gambaran klinik khas penyakit Weil. Pemeriksaan laboratorium klinik rutin tidak spesifik untuk leptospirosis, dan hanya menunjukkan beratnya komplikasi yang telah terjadi.
Sumber: infeksi.com
Last edited by gitahafas on Mon Jun 27, 2011 2:12 pm; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Fri Mar 19, 2010 2:02 pm | |
| PEDOMAN TATALAKSANA KASUS DAN PEMERIKSAAN LABORATORIUM LEPTOSPIROSIS DI RUMAH SAKIT Leptospirosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan kuman leptospira patogen. Zoonosis ini merupakan salah salah satu dari the emerging infectious diseases. dan menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di daerah beriklim tropis dan subtropis, dengan curah hujan tinggi seperti Indonesia. Gejala klinis leptospirosis yang tidak spesifik dan sulitnya tes laboratorium untuk konfirmasi diagnosis mengakibatkan penyakit ini seringkali tidak terdiagnosis. Pejamu reservoar kuman leptospira adalah roden dan hewan peliharaan, dengan manusia sebagai hospes insidentil. Penularan terjadi secara langsung dari cairan tubuh hewan infeksius atau tidak langsung dari lingkungan terkontaminasi kuman leptospira. Penularan dari manusia ke manusia jarang namun dapat terjadi melalui hubungan seksual, air susu ibu dan sawar plasenta.
Menurut keparahan penyakit, leptospirosis dibagi menjadi ringan dan berat, tetapi untuk pendekatan diagnosis klinik dan penanganannya, dibagi menjadi leptospirosis anikterik dan leptospirosis ikterik. Mayoritas kasus leptopirosis adalah anikterik yang terdiri dari 2 fase/stadium yaitu fase leptospiremia/ fase septikemia dan fase imun, yang dipisahkan oleh periode asimtomatik. Pada leptospirosis ikterik, demam dapat persisten dan fase imun menjadi tidak jelas atau nampak tumpang tindih dengan fase septikemia. Keberadaan fase imun dipengaruhi oleh jenis serovar dan jumlah kuman leptospira yang menginfeksi, status imunologi, status gizi pasien dan kecepatan memperoleh terapi yang tepat. Manifestasi klinis berupa demam ringan atau tinggi yang bersifat remiten, mialgia terutama pada otot betis, conjungtival suffusion (mata merah), nyeri kepala, menggigil, mual, muntah dan anoreksia, meningitis aseptik non spesifik. Gejala klinik leptospirosis ikterik lebih berat, yaitu gagal ginjal akut, ikterik dan manifestasi perdarahan (penyakit Weil ). Selain itu dapat terjadi Adult Respiratory Distress Syndromes (ARDS), koma uremia, syok septikemia, gagal kardiorespirasi dan syok hemoragik sebagai penyebab kematian pasien leptospirosis ikterik. Faktor-faktor prognostik yang berhubungan dengan kematian pada pasien leptospirosis adalah oliguria terutama oliguria renal, hiperkalemia, hipotensi, ronkhi basah paru, sesak nafas, leukositosis >12.900/ mm3, kelainan Elektrokardiografi (EKG) menunjukkan repolarisasi, dan adanya infiltrat pada foto pecitraan paru.
Kasus leptospirosis jarang dilaporkan pada anak, karena tidak terdiagnosis atau manifestasi klinis yang berbeda dengan orang dewasa. Pemeriksaan laboratorium mutlak diperlukan untuk memastikan diagnosa leptospirosis, terdiri dari pemeriksaan secara langsung untuk mendeteksi keberadaan kuman leptospira atau antigennya (kultur, mikroskopik, inokulasi hewan, immunostaining, reaksi polimerase berantai), dan pemeriksaan secara tidak langsung melalui pemeriksaan antibodi terhadap kuman leptospira( MAT, ELISA, tes penyaring). Baku emas pemeriksaan serologi adalah MAT, suatu pemeriksaan aglutinasi secara mikroskopik untuk mendeteksi titer antibodi aglutinasi, dan dapat mengidentifikasi jenis serovar. Pemeriksaan penyaring yang sering dilakukan di Indonesia adalah Lepto Tek Dri Dot dan LeptoTek Lateral Flow.
Diagnosis leptospirosis dapat dibagi dalam 3 klasifikasi yaitu : - Suspek, bila ada gejala klinis, tanpa dukungan tes laboratorium. - Probable, bila gejala klinis sesuai leptospirosis dan hasil tes serologi penyaring yaitu dipstick, lateral flow, atau dri dot positif. - Definitif , bila hasil pemeriksaan laboratorium secara langsung positip, atau gejala klinis sesuai dengan leptospirosis dan hasil tes MAT / ELISA serial menunjukkan adanya serokonversi atau peningkatan titer 4 kali atau lebih.
Terapi leptospirosis mencakup aspek terapi aspek kausatif, dengan pemberian antibiotik Prokain Penisilin, Amoksisilin, Ampisilin, Doksisiklin pada minggu pertama infekasi, maupun aspek simtomatik dan suportif dengan pemberian antipiretik, nutrisi, dll. Semua kasus leptospirosis ringan dapat sembuh sempurna, berbeda dengan leptospirosis berat yang mempunyai angka CFR tinggi, antara 5 ? 40%. Prognosis ditentukan oleh berbagai faktor seperti virulensi kuman leptospira, kondisi fisik pasien, umur pasien, adanya ikterik, adanya gagal ginjal akut, gangguan fungsi hati berat serta cepat lambatnya penanganan oleh tim medik. Pencegahan penularan kuman leptospira dapat dilakukan melalui tiga jalur intervensi yang meliputi intervensi sumber infeksi, intervensi pada jalur penularan dan intervensi pada pejamu manusia.
Sumber: Infeksi.com
Last edited by gitahafas on Mon Jun 27, 2011 2:13 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Wed Apr 14, 2010 4:09 pm | |
| ANCAMAN MEMATIKAN LEPTOSPIROSIS 19 FEBRUARI 2007 Tempo Interaktif Sarnata, 61 tahun, terbaring tak berdaya di ruang perawatan Mawar, Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan, Jakarta Pusat. Jarum infus menancap di pergelangan tangannya. Sudah lebih dari sepekan lelaki tua itu menjalani perawatan intensif karena positif terkena penyakit leptospirosis. Penyakit ini menyerang setelah banjir menggenangi rumahnya di kawasan permukiman padat Ketapang Utara I, Krukut, Jakarta Barat, pada 2 Februari lalu. Kondisi ini memaksa dia dan keluarganya lebih banyak berkubang di genangan air kotor, sebelum tinggal di pos pengungsian. Tiga hari setelah banjir melanda kawasan itu, Sarnata mulai merasa tak enak badan. Suhu tubuhnya meninggi. Kepada istrinya, dia mengeluh sakit kepala, mual, dan nyeri-nyeri di beberapa bagian tubuh. Sarnata akhirnya dilarikan ke RSUD Tarakan saat kondisi kesehatannya kian melorot. Ketika itu, Sarnata sudah setengah sadar.
Wakil Direktur Pelayanan RSUD Tarakan Dokter Sutirto Basuki, SpKK, MKes, mengatakan, saat datang, kondisi Sarnata sudah sangat parah. "Ginjal dan hatinya sudah terganggu. Otaknya juga terganggu," katanya. Penyakitnya sudah memasuki stadium tiga alias terakhir. Kondisinya harus terus dimonitor. Menurut Basuki, Sarnata adalah pasien pertama di rumah sakit tersebut yang didiagnosis terkena leptospirosis. Memang masih ada seorang korban banjir asal Karet Tengsin, Jakarta Pusat, bernama Tabrani, 44 tahun, yang menderita penyakit sama. Hanya, Tabrani masih pada stadium ringan. "Sekarang dia sudah mulai stabil. Demamnya sudah turun," kata Basuki.
Menurut H Nazir, dokter spesialis penyakit dalam RSUD Tarakan, berat-ringannya kondisi pasien leptospirosis bergantung pada daya tahan tubuh seseorang dan cepat-lambatnya korban mendapat pengobatan. Selain itu, jenis dan banyaknya bakteri leptospira-nama bakteri leptospirosis-yang menginfeksi turut berpengaruh. "Kadang-kadang orang yang mengidap leptospirosis tak cuma terjangkit satu jenis leptospira, bisa sampai tiga jenis," katanya. Saat ini diketahui ada lebih dari 250 jenis bakteri leptospira dengan derajat keganasan berbeda-beda.
Leptospirosis ditularkan hewan atau lazim dikenal sebagai penyakit zoonosis. Penyakit ini menular melalui cairan yang tercemar bakteri leptospira dari kencing hewan yang terinfeksi, terutama tikus. Babi, sapi, kambing, domba, kuda, anjing, dan kucing juga bisa menjadi sumber penularan.
Penyakit ini sulit dihindari ketika banjir karena banyaknya genangan air keruh dan kotor. Selain itu, daya tahan tubuh para korban banjir yang lemah membuat penyakit ini lebih gampang mampir. Untuk itu, orang yang "bergaul" dengan air (bekas) banjir harus waspada. "Kalau mulai demam, segera memeriksakan diri ke dokter," kata Nazir. Obat-obatan antibiotik, semacam amoxicillin atau doxycycline, cukup ampuh untuk mencegah memburuknya leptospirosis tahap dini. Gejala awal leptospirosis adalah demam, seperti flu, disertai sakit kepala. Korban juga akan merasakan nyeri pada otot-otot, terutama otot betis. Beberapa hari kemudian, mata menguning dan air kencing menjadi kecokelatan seperti teh. Pada beberapa pasien, bahkan seluruh tubuhnya menguning. Pada stadium lanjut, penyakit ini bakal merusak organ lain, seperti ginjal dan hati (lihat infografis).
Yang juga harus diwaspadai, ternyata tak semua serangan leptospira menunjukkan gejala. Menurut Nazir, 15-40 persen kasus leptospirosis tidak menunjukkan gejala sama sekali. Kalaupun ada gejala, umumnya tergolong ringan dan tidak spesifik. "Mirip infeksi biasa," katanya. Spesialis penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Dr Ari Fahrial Syam, menambahkan bahwa leptospirosis sering disebut sebagai demam kuning. Penyakit ini juga dikategorikan sebagai hepatitis nonvirus. Yang pasti, leptospirosis termasuk penyakit yang berbahaya dan dapat menyebabkan kematian. "Terutama bila penanganannya terlambat," ujar Ari.
Ari mengingatkan leptospirosis berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa, terutama pascabanjir. Pada banjir besar 2002, penderita leptospirosis mencapai 113 orang, dan 20 di antaranya meninggal. Tahun ini, "baru" delapan kasus yang dilaporkan. Dua pasien dirawat di Rumah Sakit Cengkareng, dua di RSUD Tangerang, dua di RS Fatmawati, dan sisanya di RS Tarakan.
Itu tak menutup kemungkinan jumlah korban bakal bertambah. Soalnya, masa inkubasi penyakit ini, atau waktu yang dibutuhkan mulai kontak seseorang dengan cairan yang tercemar hingga timbul gejala-gejala, berkisar dua hari sampai empat minggu. "Jika tidak waspada, dalam satu-dua minggu ke depan makin banyak orang terinfeksi leptospira," kata Ari.
Ancaman leptospirosis di Indonesia memang tidak bisa disepelekan. Menurut International Leptospirosis Society, lembaga internasional untuk penelitian dan penanganan leptospirosis yang didirikan pada 1994, Indonesia menduduki peringkat ketiga di dunia dalam jumlah korban meninggal akibat leptospirosis. Indonesia juga baru punya satu rumah sakit khusus untuk penanganan penyakit akibat infeksi, yaitu RS Prof Dr Sulianti Saroso, Jakarta.
Hingga saat ini belum ada vaksin yang dapat mencegah leptospirosis atau obat yang dapat menaklukkan penyakit ini, kecuali antibiotik yang bisa menangkal perkembangan bakteri ini pada stadium dini. Itu sebabnya langkah-langkah pencegahan sangat penting dilakukan setelah banjir surut. Karena sumber penularan utama tikus, rumah dan lingkungan sekitar harus selalu bersih dari sampah, terutama sisa makanan yang biasanya menjadi daya tarik tikus. - Selalu menggunakan alas kaki pada saat membersihkan sampah. - Gunakan sarung tangan dan sepatu boot bila berkecimpung di air kotor dan secepat mungkin membersihkan bagian yang terkena air kotor dengan sabun. - Setelah banjir surut, siram tempat-tempat di rumah yang bekas digenangi air dengan cairan disinfektan (karbol). - Jika ada luka di tangan atau kaki, segera bersihkan dan bubuhi obat antiseptik dan segera tutup lukanya. - Meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi makanan dan minuman bergizi tinggi. - Segera berobat ke puskesmas/rumah bila suhu tubuh meningkat. Dianjurkan minum antibiotik. - Bakteri leptospira menginfeksi tikus dan berbagai binatang lain. Bakteri berbentuk spiral ini dapat bertahan kurang lebih satu bulan di air tawar.
Menginfeksi manusia melalui luka pada permukaan kulit, dan selaput lendir (mulut dan tenggorokan), misalnya ketika mencuci muka dengan air yang tercemar bakteri leptospira atau mengonsumsi makanan yang sempat terendam air yang mengandung bakteri tersebut. Masa inkubasi sejak bakteri masuk ke dalam tubuh hingga muncul gejala sekitar dua hari sampai empat minggu.
STADIUM SATU Demam menggigil, sakit kepala, sakit otot, mual, muntah, diare.
STADIUM DUA Mata kemerahan, silau kalau terkena cahaya, nyeri di ulu hati, badan jadi kuning, otot betis sangat nyeri dan pegal, terutama bila ditekan secara paksa. Dari pemeriksaan akan ditemukan pembesaran organ hati atau limpa, dan berbagai tanda infeksi lain.
STADIUM TIGA Terjadi komplikasi beberapa hal di bawah ini yang bisa terjadi satu per satu atau bersamaan: Hati: sakit kuning Ginjal: gagal ginjal Jantung: berdebar tidak teratur, membengkak dan gagal jantung yang dapat mengakibatkan kematian mendadak. Pankreas: mual muntah berwarna kehijauan disertai nyeri di ulu hati. Otak: penurunan kesadaran. Paru-paru: batuk darah, nyeri dada, sesak napas. Perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah dari saluran pernapasan, saluran pencernaan, ginjal, saluran genitalia, dan mata (konjungtiva). Pada kehamilan: keguguran, prematur, bayi lahir cacat dan lahir mati.
Last edited by gitahafas on Mon Jun 27, 2011 2:15 pm; edited 7 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Sun Apr 18, 2010 2:59 pm | |
| CARA SEDERHANA CEGAH LEPTOSPIROSIS Selasa, 20 Februari 2007 | 19:04 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Selain demam berdarah dan diare, penyakit yang patut diwaspadai adalah leptospirosis, yang disebabkan air kencing dan kotoran tikus. Di Tarakan sudah dirawat 26 pasien penyakit itu, tiga di antaranya dalam keadaan kritis. Ada pun di Fatmawati sudah ada sembilan pasien. Dinas Kesehatan DKI Jakarta mengatakan penyakit itu bisa dicegah secara sederhana, yakni mengenakan pelindung badan saat membersihkan rumah. Penularan penyakit itu rupanya melalui pori-pori, selaput lendir, dan luka. “Minimal tutup tangan dan kaki dengan plastik," kata Salimar Salim, Wakil Kepala Dinas Kesehatan, di Jakarta hari ini.
Kuman leptospirosis rupanya bisa dimusnahkan dengan disinfektan atau suhu panas tinggi. Jadi, pembersihkan rumah sebaiknya menggunakan disinfektan seperti karbol. Sedangkan orang yang demam setelah membersihkan rumah, sebaiknya diberikan antibiotik. "Paling lambat dua atau tiga hari," kata Salimar. Kepala Dinas Kesehatan Wibowo Sukijat mengatakan penyakit itu juga bisa ditularkan melalui anjing dan kucing. “Waspadai kedua hewan itu,” katanya.
Last edited by gitahafas on Mon Jun 27, 2011 2:16 pm; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Sat Apr 24, 2010 8:02 am | |
| MASYARAKAT DIMINTA WASPADA LEPTOSPIROSIS Kamis, 20 Januari 2005 | 05:36 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:Kepala Suku Dinas Kesehatan Masyarakat Jakarta Timur Dien Emawati memperingatkan masyarakat untuk menghindari genangan air karena berpotensi mengandung bakteri penyebab penyakit leptospirosis. Bakteri tersebut biasanya terdapat pada air kencing tikus. Dien menyarankan kepada masyarakat untuk memakai sepatu boot jika masuk ke dalam genangan air karena bisa jadi air sudah tercemar. Misalnya, air kencing tikus yang bisa menyebabkan leptospirosis. "Pakai sepatu boot dan hindari genangan air. Kencing tikus masuk air lalu masuk ke bagian tubuh yang terbuka dan luka," ujarnya. Rendaman air yang semakin lama menyebabkan tikus yang biasanya tinggal di selokan-selokan berpindah habitat dan akhirnya memilih dekat dengan manusia. Gejala yang tampak dari penyakit ini adalah demam yang berkepanjangan. "Sama saja dengan demam berdarah kalau lebih dari tiga hati berturut-turut demam.” Ciri-ciri lain badan lemas, mata berwarna kekuningan dan tubuh pucat.
LEPTOSPIROSIS, TIDAK HANYA BERASAL DARI TIKUS Selasa, 09/08/2011 09:15 WIB Adelia Ratnadita SKG - detikHealth Jakarta, Infeksi oleh bakteri Leptospira interrogans mendapat nama yang berbeda-beda di berbagai tempat. Nama alternatif untuk Leptospirosis termasuk mud fever, swamp fever, sugar cane fever and Fort Bragg fever. Kasus yang lebih parah dari Leptospirosis disebut sindrom Weil atau icterohemorrhagic fever. Penyakit ini umumnya ditemukan di iklim tropis dan subtropis namun terjadi di seluruh dunia. Leptospirosis adalah penyakit pada hewan dan dapat menjadi masalah yang sangat serius dalam industri peternakan. Kuman Leptospira telah ditemukan pada anjing, tikus, ternak, kelinci, landak, sigung, posum, katak, ikan, ular, burung tertentu dan serangga. Hewan yang terinfeksi akan menularkan bakteri dalam urinenya yang bertahan selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun. Di Amerika Serikat, tikus dan anjing lebih sering dikaitkan dengan infeksi Leptospirosis pada manusia daripada hewan lainnya, sedangkan di Indonesia sebagian besar masyarakat menganggap penularan Leptospirosis berasal dari kencing tikus.
Penyebab Leptospirosis disebabkan oleh infeksi bakteri Leptospira interrogans. Manusia dianggap 'accidental hosts' dan menjadi terinfeksi Leptospira interrogans oleh karena kontak dengan urine (melalui kontak dengan tanah, air, atau tanaman yang telah terkontaminasi oleh urin) dari binatang yang terinfeksi. Leptospira interrogans dapat bertahan selama enam bulan di luar ruangan. Kuman Leptospira dapat memasuki tubuh lewat luka atau kerusakan kulit lainnya atau melalui selaput lendir (seperti bagian dalam mulut dan hidung). Setelah melewati barrier kulit, bakteri memasuki aliran darah dan dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh. Infeksi menyebabkan kerusakan pada lapisan dalam pembuluh darah. Hati, ginjal, jantung, paru-paru, sistem saraf pusat dan dapat juga mempengaruhi mata.
Gejala Gejala infeksi Leptospira terjadi dalam 7-12 hari setelah paparan bakteri. Gejala leptospirosis seringkali tidak spesifik.
1. Gejala fase pertama (Fase bacteremic) Berlangsung 3-7 hari dengan gejala, antara lain: a. Demam dengan temperatur 100-105°F (37,8-40,6°C) b. Sakit kepala parah c. Nyeri otot d. Nyeri perut e. Menggigil f. Mual g. Muntah h. Nyeri punggung i. Sendi nyeri j. Kekakuan leher k. Kelelahan ekstrim l. batuk m. Kadang terjadi ruam-ruam di kulit
Setelah tahap pertama penyakit, periode bebas gejala yang singkat dapat terjadi pada sebagian besar pasien.
2. Gejala fase kedua (fase imun) bervariasi pada setiap pasien, antara lain: a. Demam ringan b. Sakit kepala c. Muntah d. Ruam-ruam pada kulit
Pada fase kedua umumnya juga terjadi aseptic meningitis (gejala meliputi sakit kepala dan fotosensitifitas (mata sensitif terhadap cahaya). Leptospira dapat mempengaruhi mata yaitu membuat mata berwarna keruh dan kekuningan, serta penglihatan kabur.
Pengobatan Leptospirosis umumnya diobati dengan obat antibiotik, antara lain: 1. Golongan Penisilin 2. Doxycycline (Monodox) 3. Eritromisin (E-Mycin, Ery-Tab).
Pasien dengan kondisi parah akan memerlukan rawat inap untuk perawatan dan pemantauan. Obat lain untuk mengatasi nyeri, demam, muntah, kehilangan cairan, perdarahan, perubahan mental, dan tekanan darah rendah juga dapat diberikan oleh dokter yang menangani.
Pencegahan Orang yang beresiko sangat tinggi (seseorang yang sering bekerja di tanah basah atau peternakan) dapat melakukan premedikasi atau pencegahan dengan 200 mg Doksisiklin sekali seminggu.
Beberapa cara untuk menghindari infeksi Leptospirosis, antara lain: 1. Hindari berenang atau berendam di kolam atau sungai yang terletak di dekat peternakan. 2. Mensterilisasi (merebus) air sebelum minum atau memasak. 3. Mengontrol keberadaan tikus di sekitar rumah. 4. Jika memiliki hewan peliharaan, pastikan sudah divaksin leptospira. 5. Mengenakan pakaian pelindung (sarung tangan, sepatu bot, celana panjang, dan kemeja lengan panjang) ketika bekerja di tanah basah, kebun atau peternakan.
Sumber: StateUniversity, WebMD
Last edited by gitahafas on Tue Aug 09, 2011 9:19 am; edited 8 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Fri Apr 30, 2010 8:20 pm | |
| DEMAM CHIKUNGUNYA 11-10-2006 | Dr Widodo Judarwanto SpA - Medicastore > Artikel Kesehatan Dalam waktu beberapa bulan terakhir ini ancaman penyakit demam Chikungunya mulai mengancam kota Jakarta. Demam Chikungunya sering dianggap sebagai penyakit yang berbahaya karena diyakini dapat mengakibatkan kelumpuhan. Pendapat ini timbul karena penderita biasanya merasa nyeri pada tulang-tulangnya terutama di seputar persendian. Padahal penyakit ini pun tidak mengakibatkan ancaman jiwa bagi penderitanya. Info lengkap tentang demam chikungunya dapat dibaca dalam artikel ini... Chikungunya berasal dari bahasa Shawill berdasarkan gejala pada penderita, yang berarti (posisi tubuh) meliuk atau melengkung (that which contorts or bends up), mengacu pada postur penderita yang membungkuk akibat nyeri sendi hebat (arthralgia). Nyeri sendi ini terjadi pada lutut pergelangan kaki serta persendian tangan dan kaki. Demam Chikungunya disebabkan oleh virus Chikungunya (CHIKV). CHIKV termasuk keluarga Togaviridae, Genus alphavirus, dan ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti.
EPIDEMIOLOGI Virus Chikungunya pertama kali diidentifikasi di Afrika Timur tahun 1952. Virus ini terus menimbulkan epidemi di wilayah tropis Asia dan Afrika. Di Indonesia Demam Chikungunya dilaporkan pertama kali di Samarinda tahun 1973. Kemudian berjangkit di Kuala Tunkal, Jambi, tahun 1980. Tahun 1983 merebak di Martapura, Ternate dan Yogyakarta. Setelah vakum hampir 20 tahun, awal tahun 2001 kejadian luar biasa (KLB) demam Chikungunya terjadi di Muara Enim, Sumatera Selatan dan Aceh. Disusul Bogor bulan Oktober. Demam Chikungunya berjangkit lagi di Bekasi Jawa Barat, Purworejo dan Klaten Jawa Tengah tahun 2002.
CHIKV sebagai penyebab demam Chikungunya masih belum diketahui pola masuknya ke Indonesia. Sekitar 200-300 tahun lalu CHIKV merupakan virus pada hewan primata di tengah hutan atau savana di Afrika. Satwa primata yang dinilai sebagai pelestari virus adalah bangsa baboon (Papio sp), Cercopithecus sp. Siklus di hutan (sylvatic cycle) di antara satwa primata dilakukan oleh nyamuk Aedes sp (Ae africanus, Aeluteocephalus, Ae opok, Ae. furciper, Ae taylori, Ae cordelierri). Pembuktian ilmiah yang meliputi isolasi dan identifikasi virus baru berhasil dilakukan ketika terjadi wabah di Tanzania 1952-1953. Setelah beberapa lama, karakteristik CHIKV virus yang semula bersiklus dari satwa primata-nyamuk-satwa primata, dapat pula bersiklus manusia-nyamuk-manusia. Tidak semua virus asal hewan dapat berubah siklusnya seperti itu. Di daerah permukiman (urban cycle), siklus virus chikungunya dibantu oleh nyamuk Aedes aegypti.
Beberapa negara di Afrika yang dilaporkan telah terserang virus chikungunya adalah Zimbabwe, Kongo, Burundi, Angola, Gabon, Guinea Bissau, Kenya, Uganda, Nigeria, Senegal, Central Afrika, dan Bostwana. Sesudah Afrika, virus chikungunya dilaporkan di Bangkok (1958), Kamboja, Vietnam, India dan Sri Lanka (1964), Filipina dan Indonesia (1973). Chikungunya pernah dilaporkan menyerang tiga korp sukarelawan perdamaian Amerika (US Peace Corp Volunteers) yang bertugas di Filipina, 1968. Hasil penelitian terhadap epidemiologi penyakit chikungunya di Bangkok Thailand dan Vellore Madras, India menunjukkan bahwa terjadi gelombang epidemi dalam interval 30 tahun. Satu gelombang epidemi umumnya berlangsung beberapa bulan, kemudian menurun dan bersifat ringan sehingga sering tidak termonitor. Gelombang epidemi berkaitan dengan populasi vektor (nyamuk penular) dan status kekebalan penduduk. Pengujian darah (serologik) penyakit chikungunya sering tidak mudah karena serum chikungunya mempunyai reaksi silang dengan virus lain dalam satu famili. Dari beberapa literatur tampak ada kecenderungan gelombang epidemi 20 tahunan. Fenomena ini sering dikaitkan dengan perubahan iklim dan cuaca. Antibodi yang timbul dari penyakit ini membuat penderita kebal terhadap serangan virus selanjutnya. Perlu waktu panjang bagi penyakit ini untuk merebak kembali.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 18, 2011 9:43 am; edited 8 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Fri Apr 30, 2010 8:24 pm | |
| PENULARAN PENYAKIT DAN PENYEBARAN PENYAKIT CHIKUNGUNYA 11-10-2006 | Dr Widodo Judarwanto SpA - Medicastore > Artikel Kesehatan Penyebaran CHIKV dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk. Nyamuk dapat menjadi berpotensi menularkan penyakit bila pernah menggigit penderita demam chikungunya. Kera dan beberapa binatang buas lainnya juga diduga dapat sebagai perantara (reservoir) penyakit ini. Nyamuk yang terinfeksi akan menularkan penyakit bila menggigit manusia yang sehat. Aedes aegypti (the yellow fever mosquito) adalah vektor utama atau pembawa CHIKV. Aedes albopictus (the Asian tiger mosquito) mungkin juga berperanan dalam penyebaran penyakit ini di kawasan Asia. Dan beberapa jenis spesies nyamuk tertentu di daerah Afrika juga ternyata dapat menyebarkan penyakit Chikungunya.
Masih belum diketahui secara pasti bagaimana virus tersebut menyebar antar negara. Mengingat penyebaran CHIKV antar negara relatif pelan, kemungkinan penyebaran ini terjadi seiring dengan perpindahan nyamuk. Dewasa ini makin sering berbagai penyakit hewan dari tengah hutan yang merebak (spill over) ke permukiman penduduk. Sebutlah di antaranya St Louis Encephalitis dan Sungai Nil Barat (West Nile), yang telah menimbulkan banyak korban. Peredaran virus memang tak bisa lagi dibatasi oleh posisi geografi. Hutan yang tadinya tertutup menjadi terbuka, daerah yang dulu terisolir kini bisa dengan mudah berhubungan ke mana saja. Cara perpindahan virus bisa berupa apa saja. Pada era globalisasi yang serba cepat seperti sekarang ini, seseorang hari ini dapat berada di Eropa atau Afrika, dan esok harinya sudah berada di benua lainnya seperti di Bali atau Jakarta. Dengan pola perpindahan penduduk yang sangat cepat ini, sangat potensial terjadi penyebaran berbagai macam penyakit termasuk virus. Orang yang tertular penyakit di suatu negara bisa saja membawanya ke Indonesia. Penyakit yang dibawa ada yang dapat hilang dengan sendirinya, namun dapat pula berlanjut siklusnya bila faktor pendukungnya ada. Perdagangan satwa langka yang cukup mendapat sorotan beberapa waktu lalu, bisa saja membawa serta virus dari hutan ke tempat yang jauh di negeri orang. Belum lagi nyamuk yang dapat menyelundup ke dalam kabin pesawat terbang dan beterbangan di Indonesia.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 18, 2011 9:44 am; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Fri Apr 30, 2010 8:27 pm | |
| DIAGNOSA DAN MANIFESTASI KLINIS CHIKUNGUNYA 11-10-2006 | Dr Widodo Judarwanto SpA - Medicastore > Artikel Kesehatan Untuk memperoleh diagnosis akurat perlu beberapa uji serologik antara lain uji hambatan aglutinasi (HI), serum netralisasi, dan IgM capture ELISA. Tetapi pemeriksaan serologis ini hanya bermanfaant digunakan untuk kepentingan epidemiologis dan penelitian, tidak bermanfaat untuk kepentingan praktis klinis sehari-hari. Masa inkubasi terjadinya penyakit sekitar dua sampai empat hari, sementara manifestasinya timbul antara tiga sampai sepuluh hari. Gejala utama terkena penyakit Chikungunya adalah tiba-tiba tubuh terasa demam diikuti dengan linu di persendian. Bahkan, karena salah satu gejala yang khas adalah timbulnya rasa pegal-pegal, ngilu, juga timbul rasa sakit pada tulang-tulang, ada yang menamainya sebagai demam tulang atau flu tulang. Dalam beberapa kasus didapatkan juga penderita yang terinfeksi tanpa menimbulkan gejala sama sekali atau silent virus chikungunya. Virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ini akan berkembang biak di dalam tubuh manusia. Virus menyerang semua usia, baik anak-anak maupun dewasa di daerah endemis. Secara mendadak penderita akan mengalami demam tinggi selama lima hari, sehingga dikenal pula istilah demam lima hari.
Pada anak kecil dimulai dengan demam mendadak, kulit kemerahan. Ruam-ruam merah itu muncul setelah 3-5 hari. Mata biasanya merah disertai tanda-tanda seperti flu. Sering dijumpai anak kejang demam. Gejala lain yang ditimbulkan adalah mual, muntah kadang disertai diare. Pada anak yang lebih besar, demam biasanya diikuti rasa sakit pada otot dan sendi, serta terjadi pembesaran kelenjar getah bening. Pada orang dewasa, gejala nyeri sendi dan otot sangat dominan dan sampai menimbulkan kelumpuhan sementara karena rasa sakit bila berjalan. Kadang-kadang timbul rasa mual sampai muntah. Pada umumnya demam pada anak hanya berlangsung selama tiga hari dengan tanpa atau sedikit sekali dijumpai perdarahan maupun syok.
Penyakit ini tidak sampai menyebabkan kematian. Nyeri pada persendian tidak akan menyebabkan kelumpuhan. Setelah lewat lima hari, demam akan berangsur-angsur reda, rasa ngilu maupun nyeri pada persendian dan otot berkurang, dan penderitanya akan sembuh seperti semula. Penderita dalam beberapa waktu kemudian bisa menggerakkan tubuhnya seperti sedia kala. Meskipun dalam beberapa kasus kadang rasa nyeri masih tertinggal selama berhari-hari sampai berbulan-bulan. Biasanya kondisi demikian terjadi pada penderita yang sebelumnya mempunyai riwayat sering nyeri tulang dan otot.
Pada pendertita demam Chikungunya akut tipikal mengalami gejala klinis dalam beberapa hari hingga 2 minggu. Tetapi seperti infeksi dengue, West Nile fever, o'nyong-nyong fever dan demam arbovirus lainnya, beberapa penderita mengalami kelelahan berkepanjangan "prolonged fatigue" dalam beberapa minggu. Dalam beberapa literatur tidak pernah dilaporkan kejadian kematian, kasus neuroinvasive, dan kasus perdarahan dalam penyakit ini. Meskipun ditularkan oleh nyamuk yang sama dengan penyakit demam berdarah, tetapi karakteristik penyakit ini berbeda. Bedanya pada Chikungunya tidak ada perdarahan hebat, renjatan (shock) maupun kematian. Setelah terjadi infeksi virus ini tubuh penderita akan membentuk antibodi yang akan membuat mereka kebal terhadap wabah penyakit ini di kemudian hari. Dengan demikian, dalam jangka panjang penderita relatif kebal terhadap penyakit virus ini.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 18, 2011 9:46 am; edited 9 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Thu May 13, 2010 9:49 am | |
| PENANGANAN DEMAM CHIKUNGUNYA 11-10-2006 | Dr Widodo Judarwanto SpA - Medicastore > Artikel Kesehatan Demam Chikungunya termasuk "Self Limiting Disease" atau penyakit yang sembuh dengan sendirinya. Tak ada vaksin maupun obat khusus untuk penyakit ini. Pengobatan yang diberikan hanyalah terapi simtomatis atau menghilangkan gejala penyakitnya. Seperti, obat penghilang rasa sakit atau demam seperti golongan paracetamol, sebaiknya dihindarkan penggunaan obat sejenis asetosal. Antibiotika tidak diperlukan pada kasus ini. Penggunaan antibiotika dengan pertimbangan mencegah infeksi sekunder tidak bermanfaat.
Untuk memperbaiki keadaan umum penderita dianjurkan makan makanan yang bergizi, cukup karbohidrat dan terutama protein serta minum sebanyak mungkin. Perbanyak mengkonsumsi buah-buahan segar atau minum jus buah segar. Pemberian vitamin peningkat daya tahan tubuh mungkin bermanfaat untuk penanganan penyakit. Selain vitamin, makanan yang mengandung cukup banyak protein dan karbohidrat juga meningkatkan daya tahan tubuh. Daya tahan tubuh yang bagus dan istirahat cukup bisa mempercepat penyembuhan penyakit. Minum banyak juga disarankan untuk mengatasi kebutuhan cairan yang meningkat saat terjadi demam.
PENCEGAHAN Satu-satunya cara menghindari penyakit ini adalah membasmi nyamuk pembawa virusnya. Nyamuk ini, senang hidup dan berkembang biak di genangan air bersih seperti bak mandi, vas bunga, dan juga kaleng atau botol bekas yang menampung air bersih. Nyamuk bercorak hitam putih ini juga senang hidup di benda-benda yang menggantung seperti baju-baju yang ada di belakang pintu kamar. Selain itu, nyamuk ini juga menyenangi tempat yang gelap dan pengap.
Mengingat penyebar penyakit ini adalah nyamuk Aedes aegypti maka cara terbaik untuk memutus rantai penularan adalah dengan memberantas nyamuk tersebut, sebagaimana sering disarankan dalam pemberantasan penyakit demam berdarah dengue. Insektisida yang digunakan untuk membasmi nyamuk ini adalah dari golongan malation, sedangkan themopos untuk mematikan jentik-jentiknya. Malation dipakai dengan cara pengasapan, bukan dengan menyemprotkan ke dinding. Hal ini karena Aedes aegypti tidak suka hinggap di dinding, melainkan pada benda-benda yang menggantung. Namun, pencegahan yang murah dan efektif untuk memberantas nyamuk ini adalah dengan cara menguras tempat penampungan air bersih, bak mandi, vas bunga dan sebagainya, paling tidak seminggu sekali, mengingat nyamuk tersebut berkembang biak dari telur sampai menjadi dewasa dalam kurun waktu 7-10 hari.
Halaman atau kebun di sekitar rumah harus bersih dari benda-benda yang memungkinkan menampung air bersih, terutama pada musim hujan seperti sekarang. Pintu dan jendela rumah sebaiknya dibuka setiap hari, mulai pagi hari sampai sore, agar udara segar dan sinar matahari dapat masuk, sehingga terjadi pertukaran udara dan pencahayaan yang sehat. Dengan demikian, tercipta lingkungan yang tidak ideal bagi nyamuk tersebut. Pencegahan individu dapat dilakukan dengan cara khusus seperti penggunaan obat oles kulit (insect repellent) yang mengandung DEET atau zat aktif EPA lainnya. Penggunaan baju lengan panjang dan celana panjang juga dianjurkan untuk dalam keadaan daerah tertentu yang sedang terjadi peningkatan kasus.
Kontributor: Dr Widodo Judarwanto SpA
Last edited by gitahafas on Mon Jul 18, 2011 9:47 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Demam yang Perlu Diwaspadai Thu May 13, 2010 9:56 am | |
| DEMAM CHIKUNGUNYA Chikungunya mungkin belum sepopuler penyakit yang lain yang berhubungan dengan demam, seperti DBD, demamm typhoid, malaria, dll. Chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang tergolong dalam genus alfavirus, virus jenis ini ditularkan melalui nyamuk yang sama dengan nyamuk yang menyebabkan DBD.
Penyakit ini dimulai dengan demam yang mendadak tinggi, nyeri sendi atau otot, kemerahan di kulit. Gejala lainnya seperti sakit kepala, badan terasa lemas, mual dan muntah juga sering dikeluhkan. Demam biasanya berlangsung 5 hari atau lebih. Pada anak demam bisa disertai dengan ruam ruam kemerahan yang muncul 3-5 hari setelah awal demam, atau mata memerah. Pada orang dewasa selain demam, nyeri sendi dan otot sangat menonjol. Pasien mengeluh tidak bisa jalan karena sangat sakit, sehingga seperti lumpuh..
Chikungunya sering tumpang tindih dengan DBD, namun demam chikungunya selalu disertai dengan nyeri sendi yang bisa bertahan lama sampai beberapa bulan bahkan bisa kambuh. Ada beberapa laporan kasus perdarahan pada chikungunya sehingga sering diduga sebagai DBD, tetapi perdarahannya tidak sehebat DBD dan tidak sampai menimbulkan syok.
Tidak berbeda dengan DBD, Chikungunya pada dasarnya adalah selflimiting disease, artinya dapat sembuh sendiri. Oleh karena itu pengobatan ditujukan untuk mengatasi gejala yang mengganggu ( anti nyeri dan anti demam ). Terapi lain disesuaikan gejala. Namun yang terpenting adalah istirahat dan menjaga asupan makanan bergizi.
Nyeri sendi yang merupakan salah satu gejala, dapat bertahan lama sampai berminggu minggu, bahkan lebih dari 1 bulan sehingga mengganggu aktivitas pasien. Nyeri sendi dapat sangat hebat sehingga membuat penderitanya tidak bergerak. Beratnya gangguan pada sendi terkait langsung dengan masuknya virus kedalam sendi yang menimbulkan reaksi radang.
Pencegahan penyakit ini adalah dengan mengendalikan vektor atau nyamuk itu sendiri. Caranya sudah tidak asing lagi yaitu 4M: 1. Menguras bak mandi 2. Menutup tempat air 3. Mengubur benda benda yang dapat menjadi tempat penampungan air. 4. Membasmi sarang nyamuk.
Last edited by gitahafas on Wed Oct 20, 2010 5:04 pm; edited 3 times in total |
|  | | | | Demam yang Perlu Diwaspadai | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |