Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Perencanaan Keuangan Keluarga

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1 ... 6, 7, 8 ... 10 ... 14  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 10:50 am

SIAP MENGHADAPI PENSIUN ( 1 )
Senin, 21/06/2010 08:43 WIB Taufik Gumulya - detikFinance
Jakarta - "Maaf Pak, apakah Bapak tau dimana yang menjual genset?" Ketika itu saya sedang berada di sekitar pasar Glodok, setelah menjelaskan lokasi yang saya tahu mengenai toko penjual genset maka saya mencoba balik bertanya kepada sang Bapak itu. "Bapak membeli genset untuk antisipasi jika listrik mati?" tanya saya. "Tidak pak saya sedang mempersiapkan pekerjaan jika saya nanti pensiun, saya ingin memiliki usaha bengkel las untuk membuat pagar, teralis dan lain-lain, saya akan pensiun nanti di tahun 2013," jawab,

"oo..", jawab saya singkat. "Maklumlah saya kan pegawai departemen jadi tidak mendapatkan pesangon yang besar pada saat saya pensiun, ini berbeda jika saya karyawan BUMN maka saya akan mendapat pesangon yang jumlahnya bisa mencapai ratusan juta Rupiah, dari pengalaman teman yang sudah pensiun, maka untuk golongan saya 3A (di depatemen kehutanan) paling hanya mendapat tunjangan sebesar Rp 15.000.000,- (lima belas juta rupiah) ditambah uang pensiun sebesar Rp 2,2 juta hingga Rp 2,5 juta per bulannya," jawab bapak tadi.

"Bapak sudah berapa lama bekerja?", tanya saya lagi. "Saya sudah bekerja selama 30 tahunan,…", dst. Dalam hati, saya berpikir rekan anda Gayus (di Instansi berbeda) hmm begitu banyak yang di…, ah sudahlah lupakan dulu korupsi itu…, demikian percakapan saya dengan sang Bapak yang sedang mempersiapkan masa pensiunnya. Pembaca yang bijak, menyimak pembicaraan saya tersebut saya langsung berpikir bahwa betapa banyak saudara kita yang masih mengalami hal yang sama dengan sang Bapak tadi, bekerja dengan jujur selama puluhan tahun namun ketika pensiun hanya menerima sedikit tunjangan ditambah dengan uang pensiun ala kadarnya.

Pertanyaannya adalah apakah itu mencukupi?, jawabnya tentu tidak mencukupi. Contoh diatas adalah kondisi yang dialami oleh seorang pegawai negeri non BUMN, tentu ini berbeda dengan pegawai BUMN dan juga akan berbeda dengan seoarang pegawai swasta maupun karyawan perusahaan asing yang ada di Indonesia, namun berdasarkan penelitian singkat dapat kami sampaikan bahwa apapun kondisi yang dialami oleh seorang pegawai maka kebutuhan akan dana pensiun berpotensi tidak mencukupi, dengan kata lain ketika memasuki pensiun maka bersiaplah menghadapi kemiskinan.
Miskin? Ya, ini merupakan momok yang ditakuti oleh siapapun, mengapa ini dapat terjadi bagi mereka yang akan memasuki pensiun?, ada tiga kesalahan utama dalam merencanakan program pensiun sehingga dapat menyebabkan kemiskinan itu terjadi yaitu:

1. Terlambat memulai;
2. Menyimpan terlalu sedikit;
3. Penempatan dana pensiun yang sangat konservatif.

Jika kita sebagai karyawan maka ada suatu kewajiban tambahan yang harus dilakukan oleh kita sebagai sang pekerja yaitu mutlak untuk memulai melakukan investasi dengan tujuan untuk menyongsong masa pensiun. Mengapa ini menjadi mutlak?, jawabnya singkat agar tidak miskin disaat pensiun.

Fakta yang ada, banyak diantara kita utamanya pekerja yang masih muda dengan kisaran usia 20 tahunan hingga awal 30 tahunan lupa bahkan tidak memikirkan masalah pensiun sama sekali. Suka atau tidak pensiun itu pasti datang (jika kita memiliki usia yang panjang). Bicara masalah pensiun banyak diantara mereka yang berpikir bahwa pensiun masih jauh, lebih baik memikirkan kebutuhan finansial lain seperti memiliki rumah, membeli makanan dan perlengkapan anak (susu, pampers, dll).

Sebagai konsekuensi atas prioritas kebutuhan maka kebutuhan jangka pendeklah yang ‘wajib’ diperhatikan dan dilakukan terlebih dahulu, kebutuhan pensiun 'nyaris' dilupakan.

Dalam beberapa kasus pada akhirnya sejalan dengan pertambahan usia, sebagian kecil diantara para pekerja mulai menyadari akan pentingnya mempersiapkan kebutuhan dana pensiun, namun sayangnya dana yang didapat dari perusahaan masih sangat sedikit, hal ini diperparah dengan investasi yang dilakukan secara individu-pun masih terlalu sedikit, ditambah lagi dengan penempatan investasi dana pensiun pada suatu instrumen investasi yang tidak tepat, meskipun waktu pensiun masih sangat panjang (diatas 8 tahun) namun dana ditempatkan pada instrumen yang sangat konservatif seperti deposito, obligasi ritel, ataupun reksa dana pasar uang atau di reksa dana pendapatan tetap, dengan kecenderungan menekan faktor resiko, tanpa memikirkan pertumbuhan yang layak dari dana pensiun tersebut.

Yayasan 'Dana Pensiun' diperusahaan tempat ia bekerja pun masih memiliki pola pikir yang tidak jauh berbeda dengan sebagian besar karyawannya sehingga pertumbuhan dana pensiun cenderung tidak seimbang dengan pertumbuhan inflasi, bahkan sangat berpotensi untuk tergerus oleh inflasi. Hmm.., jika hal ini terjadi maka sudah dapat dipastikan kesejahteraan akan menurun drastis pada saat pensiun kelak alias menjadi miskin.

Bagaimana seharusnya mempersiapkan pensiun? Nantikan ulasan detikFinance dan TGRM Finance berikutnya...


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 11:02 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 10:57 am

SIAP MENGHADAPI PENSIUN ( 2 )
Selasa, 22/06/2010 08:11 WIB Taufik Gumulya - detikFinance
Jakarta - Dalam artikel sebelumnya, dijelaskan mengenai bagaimana pentingnya mempersiapkan pensiun. Dalam artikel kedua ini, saya ingin mengulas mengenai detail rencana pensiun itu sendiri. Saya ingin sedikit berbagi pengalaman dimana saya pernah diminta oleh sebuah perusahaan asing tbk (terbuka) untuk menganalisa kinerja pertumbuhan dana pensiun tersebut. Betapa terkejutnya saya bahwa sebuah perusahaan asing yang sudah 'go public' pun masih sangat jauh dari harapan memenuhi kesejahteraan pegawainya jika mereka karyawannya pensiun kelak.

Kesalahan demi kesalahan sering terjadi dalam hal mempersiapkan dana pensiun, kami menyebutnya dengan kesalahan majemuk atau dikenal dengan istilah compounding error. Fatalnya compounding error tersebut dilakukan oleh banyak perusahaan (dana pensiun) dan juga oleh para karyawan. Memang umumnya kesalahan ini dilakukan tanpa sadar karena mereka tidak mengetahui bagaimana caranya agar pada saat karyawan memasuki masa pensiun, karyawan tetap memiliki potensi yang besar untuk menikmati hidup didalam zona yang nyaman.

Lalu bagaimana caranya agar kesalahan tersebut dapat ditekan semaksimal mungkin? Jawabannya adalah ke 2 (dua) pihak yang harus memperhatikan agar dana pensiun dapat menjaga kesejahteraan karyawan saat memasuki masa pensiun yaitu pihak pertama adalah karyawan itu sendiri (secara individu) dan pihak kedua adalah perusahaan atau badan yang mempekerjakan dan atau mengelola pertumbuhan aset dana pensiun dari karyawan tersebut. Kombinasi antara kedua pihak ini menjadi penting karena sebagai seorang karyawan alangkah baiknya jika ikut melakukan investasi tambahan secara mandiri demi kesejahteraannya dan keluarga ketika kelak memasuki masa pensiun.

Pembaca yang bijak, sebelum penulis memberikan ulasan dari sudut pandang kedua belah pihak yang terlibat dalam pengembangan dana pensiun, ada baiknya kita memperhitungkan faktor-faktor yang mempengaruhi kesejahteraan karyawan tentunya dilihat dari faktor finansial, yakni:

1. Faktor inflasi negara saat sebelum dan setelah memasuki masa pensiun, untuk memperkirakan perhitungan inflasi tersebut maka gunakanlah data historis inflasi dari BPS (Biro Pusat Statistik). Faktor ini merupakan faktor yang sangat dominan dalam hal menggerus tingkat kesejahteraan. Ada baiknya kita memahami angka inflasi bulanan yang dipaparkan oleh BPS.

Sebagai contoh inflasi Indonesia di bulan Juli, Agustus, September tahun 2009 adalah masing-masing adalah sebesar 0,45%; 0,56% dan 1,05% maka inflasi Indonesia secara komulatif adalah tidak serta merta menjumlahkan angka tersebut melainkan menggunakan rumus penjumlahan geometris, untuk contoh diatas rumusnya menjadi: (1+0,45%)*(1+0,56%)*(1+1,05%) – 1 jadi, inflasi komulatif Indonesia 3 bulan berjalan di tahun 2009 adalah sebesar 2,07%. Ini berarti bahwa jika anda memiliki uang diawal bulan Juli 2009 sebesar Rp 1.000.000,-, maka nilai absolut uang tersebut diakhir bulan September 2009 menjadi Rp 979.300,- atau berkurang sebanyak 2,07%.

2. Faktor tingkat pengembalian (return) sebelum dan juga setelah memasuki masa pensiun yakni tingkat pengembalian minimal yang diharapkan (sering disebut dengan istilah bunga).

3. Faktor akumulasi pertumbuhan investasi (return) versus inflasi (pada masa sebelum pensiun), dalam hal ini harus positf jadi mutlak dicari instrumen yang sesuai sehingga dapat 'mengalahkan' inflasi. Perlu diketahui banyak dana pensiun yang tidak memperhitungkan kondisi ini, mereka hanya melihat tingkat pengembalian tanpa melakukan analisa terhadap kondisi inflasi berjalan. Sehingga akumulasi pertumbuhan dana saat memasuki masa pensiun menjadi negatif.

Demikian 3 (tiga) faktor finansial yang harus diperhitungkan dan dimonitoring dalam melakukan investasi dana pensiun. Tahapan berikut adalah ditujukan kepada pihak individu (diri sendiri) yang akan menjalani pensiun kelak.

Dalam hal melakukan implementasi investasi dana pensiun secara mandiri maka beberapa langkah berikut menjadi sangat penting yaitu:

1. Estimasi jumlah dana: untuk memenuhi kebutuhan bulanan anda saat memasuki pensiun, cara sederhana dalam melakukan estimasi tersebut adalah dengan membayangkan kondisi nilai uang saat ini (present value), ya bayangkan jika anda pensiun saat ini, bukan besok, bukan lusa atau bukan 30 tahun lagi tetapi sekarang!, apa yang akan anda lakukan jika saat ini anda pensiun?, mungkin jawabnya adalah saya ingin berlibur dan mempersiapkan dana untuk kesehatan saya. Marilah kita bahas:

Berapa besar dana diperlukan untuk berlibur dan keperluan lainnya?, katakanlah anda cukup nyaman dengan tersedia dana (saat ini) untuk berlibur dan kebutuhan lain sebesar Rp 4.000.000,- (empat juta rupiah) serta dana siaga atau stand by untuk kesehatan sebesar Rp 2.000.000,- (dua juta rupiah) jadi total dana harus tersedia adalah Rp 6.000.000,- (enam juta rupiah) setiap bulannya. Namun tahukah anda 30 tahun yang akan datang (misalkan pada saat anda pensiun), dengan memperhitungkan faktor inflasi sebesar 8% maka dana Rp 6 juta akan setara dengan nilai (pembulatan keatas) Rp 60.400.000,- (enam puluh juta empat ratus ribu rupiah). Jadi dana yang dibutuhkan saat pensiun (future value) adalah sebesar Rp 60,4 jutaan bandingkan dengan besar dana saat ini Rp 6 juta perbulan.

2. Lama dana tersedia sejak mulai pensiun (dalam tahun): dalam contoh diatas kita berusaha agar minimal sejak mulai pensiun hingga 20 tahun kemudian dana sebesar Rp 60,4 juta perbulan tersedia. Jadi jika pensiun diusia 55 tahun maka hingga setidaknya di usia 74 tahun dana tersebut harus tersedia, tentu idealnya dana yang tersedia harus memperhitungkan proyeksi nilai inflasi saat mulai memasuki masa pensiun. Contoh sederhana kasus diatas adalah sebagai berikut:

Dana yang dibutuhkan setiap bulannya adalah Rp 60,4 juta maka dalam setahun (Rp 60,4 juta X 12) jadi dana yang dibutuhkan di tahun I (tahun pertama) saat memasuki masa pensiun adalah sebesar Rp 724,8 juta dan anggaplah inflasi yang akan terjadi pada periode masa pensiun adalah sebesar 5% setiap tahunnya, maka dana yang harus tersedia di tahun ke II (kedua) adalah sebesar Rp 724,8 juta X (1+5%) atau sebesar Rp 761,04 juta serta di tahun ke III (ketiga) sebesar Rp 799,09 juta dan seterusnya hingga tahun ke 20.

3. Investasi yang dilakukan setiap bulan: sebaiknya investasi yang dilakukan harus sedini mungkin sehingga akan menjadi lebih kecil.

Contoh kasus diatas, investasi yang dilakukan agar dana sebesar Rp 60,4 juta dapat dibayarkan sebagai uang pensiun setiap bulan, serta uang pensiun tersebut meningkat sebesar 5% setiap tahunnya. Maka dana yang harus disisihkan dari gaji saat ini adalah sebesar (pembulatan) Rp 680.500,- setiap bulan selama 30 tahun. Tetapi jika terlambat memulai (misal baru memulai di usia 40 tahun) maka dana yang harus disiapkan adalah sebesar Rp 4.420.000,- setiap bulannya selama 15 tahun, investasi ini dilakukan untuk memenuhi kesejahteraan yang setara dengan (nilai saat ini) Rp 6 juta setiap bulannya.

Investasi yang dilakukan setiap bulan sebenarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara, yakni dengan meningkat (increment) atau dengan jumlah yang tetap (constant) maupun jumlah yang menurun (decrement) setiap tahunnya. Pada contoh diatas untuk investasi selama 30 tahun dengan meningkat (increment) sebesar 10% setiap tahun, secara tetap (constant) dan menurun (decrement) sebesar 10% setiap tahun maka investasi di tahun I (pertama) adalah berturut-turut sebesar Rp 387.000,- (meningkat 10% setiap tahun); Rp 680.400, - (tetap) dan Rp 988.000,- (menurun 10% setiap tahun).

4. Instrumen investasi yang tepat: untuk memenuhi jumlah angka tersebut sesuai dengan poin 2 diatas serta untuk memenuhi tersedianya dana selama 20 tahun sejak masuk di dalam masa pensiun. Investasi yang dilakukan pada dana pensiun sesungguhnya dibagi menjadi 2 bagian yaitu:

Bagian pertama adalah investasi yang dilakukan pada saat seorang karyawan belum memasuki masa pensiun hingga sesaat sebelum pensiun itu tiba. Artinya investasi dapat dilakukan sedini mungkin, semakin awal semakin baik (contoh kasus pada poin 3 menjelaskan hal ini). Tujuan investasi pada bagian ini agar dana pensiun terakumulasi dengan jumlah minimal dapat memberi kesejahteraan kepada pemiliknya ketika memasuki masa pensiun hingga selama waktu yang di inginkan (20 tahun misalnya).

Instrumen investasi yang dapat dipergunakan adalah harus sesuai dengan waktu tersedia:
Diatas 5 tahun dapat menggunakan Reksa Dana Saham (RDS);
Antara 3 – 5 tahun Reksa Dana Campuran (RDC)dengan sedikit pada RDS;
Antara 1-3 tahun Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT) dengan sedikit pada RDC
Dibawah 1 tahun mutlak di simpan pada Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) atau pada deposito.

Bagian kedua adalah investasi yang dilakukan saat seseorang mulai memasuki masa pensiun hingga mencukupi selama waktu yang di inginkan (20 tahun misalnya). Investasi ini lebih bersifat untuk menyimpan dana pensiun dan mendistrbusikan dana tersebut setiap bulan kepada individu hingga waktu yang diinginkan (misalkan selama 20 tahun atau 240 bulan).

Instrumen investasi yang digunakan adalah deposito dengan akumulasi bunga yang ditambahkan dalam nilai pokok deposito, jumlah deposito ini akan terus berkurang karena setiap bulan sebagian dana kebutuhan bulanan akan ditarik untuk digunakan oleh individu tersebut hingga kurun waktu tertentu (dalam contoh hingga selama 20 tahun).

Saran kami bagi mereka yang telah memasuki masa pensiun (para pensiunan) adalah untuk menghindari investasi yang memiliki resiko tinggi meskipun ada peluang mendapatkan keuntungan yang tinggi, misalnya melakukan investasi pada saham, opsi (option) dan invetasi pada kontrak derivative lainnya seperti valas (valuta asing), perdagangan berjangka (future trading) dan lain-lain.

Mengapa demikian?, karena pada periode ini seorang pensiunan sudah tidak tepat lagi untuk mengalami pasang surut kekayaan yang begitu cepat, kondisi ini sangat berpotensi mengurangi kekayaan dari pesiunan tersebut. Para pensiunan hindarilah rayuan, iklan yang sangat menarik dari mereka yang mengatakan bahwa investasi disaham sangat baik bagi para pensiunan, menjadi kaya melalui opsi, dll.

Yang pasti investasi di saham dan derivative (option)sangat beresiko, investasi ini hanya cocok dilakukan dengan rentang waktu investasi yang panjang (diatas 5 tahun) dan tentunya baru dapat dilakukan jika kebutuhan dasar bulanan sudah terpenuhi. Jadi jika anda memiliki dana lebih untuk jangka panjang, namun jika tidak mohon dihindari.

Taufik Gumulya, CFP®, Perencana Keuangan dan CEO pada TGRM Financial Planning Services
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 10:59 am

JADI PENGUSAHA SETELAH PENSIUN? KENAPA TIDAK
Senin, 22/06/2009 10:33 WIB Budi Cahyadi - detikFinance
Jakarta - Pensiun merupakan suatu proses perubahan yang besar dalam kehidupan kita. Mengubah kebiasaan bekerja sebagai karyawan yang selalu berhubungan dengan peraturan dan budaya perusahaan selama puluhan tahun, menjadi individu yang bebas melakukan pilihan untuk mengisi sisa hidup ini tidaklah mudah. Apa mau dikata, kita harus menentukan pilihan. Salah satu pilihan yang banyak diambil adalah melakukan bisnis (wirausaha) untuk kegiatan setelah pensiun nanti. Mari kita bahas siasat jitu dalam menyikapi kehidupan baru sebagai pengusaha setelah pensiun.

Perubahan cara berpikir (mindset) mutlak harus dilakukan. Dari seorang pekerja yang terbiasa menggantungkan penghasilan dari gaji, tunjangan dan bonus dari perusahaan, kini harus mampu mengelola dana yang ada, baik dari tabungan selama masa kerja maupun dari uang pesangon, untuk mencukupi kebutuhan sisa hidup ini. Artinya, apapun usaha yang akan anda geluti, harus memiliki harapan baik akan menciptakan pendapatan (income) pengganti penghasilan anda.

Lantas, bagaimana kita memulainya? Pertama yang harus dilakukan adalah menguatkan keberanian anda.

Banyak orang mengurungkan niat menjadi pengusaha karena tidak mampu mengatasi rasa takut untuk memulai usaha. Takut gagal (bangkrut), takut tertipu dan masih banyak ketakutan-ketakutan yang lain. Saya teringat gurauan seorang teman menyikapi hal tersebut. Ketakutan yang berlebihan tidak akan membawa kita menuju sukses. Sukses diawali dengan tindakan. Bayangkan saja seperti kita buang air di WC. Kita tidak pernah berfikir, akan sukseskah buang air kita sekarang? Kita bertindak dan tiba-tiba semuanya mencapai titik akhir. Melegakan berarti sukses. Kalau belum sukses, siasati dengan makan pepaya atau obat pencahar. Sederhana kan?

Mulailah usaha anda dengan mengembangkan ide-ide yang orisinal dan unik. Yang terpenting anda menyukai ide-ide tersebut. Bagaimana unik dan orisinalnya ide anda, kalau anda tidak menyukainya, anda akan melakukannya dengan setengah hati. Sesuatu yang kita lakukan dengan setengah hati, hasilnya tidak akan maksimal. Kemudian ciptakan perbedaan dari produk usaha anda. Karena perbedaan itulah yang membuat langgeng usaha anda. Setelah itu rencanakanlah usaha anda dengan baik.

Perencanaan Usaha dimulai dengan melakukan perencanaan keuangan pribadi setelah menerima pesangon dari perusahaan untuk mempertahankan kualitas sisa kehidupan anda cukup terjaga. Lunasi Hutang. Pastikan bahwa sudah tidak ada lagi kewajiban hutang kepada pihak lain. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat tidak ada lagi pendapatan rutin (gaji) seperti masa anda masih bekerja. Beban hutang hanya akan menjadi 'hantu' kehidupan yang akan selalu mengganggu ketenangan sisa masa hidup anda.

Sisihkan biaya hidup. Dalam usaha, ada 2 hal yang akan terjadi, kalau tidak untung ya rugi. Awal usaha adalah proses awal belajar. Tentu resiko belum dapat mencetak keuntungan cukup besar. Disisi lain, kita sudah tidak ada lagi pendapatan rutin. Untuk itu, perlu kita menyisihkan biaya hidup kita paling tidak untuk 6 sampai 12 bulan mendatang. Biaya hidup diperhitungkan atas dasar rata-rata pengeluaran rutin kita setiap bulan. Dana untuk biaya hidup ini dapat kita simpan dalam instrumen keuangan yang mudah dicairkan (liquid). Tabungan biasa yang memiliki ATM misalnya.

Bentuk dana darurat. Usia yang sudah tidak muda lagi biasanya membutuhkan dana yang relatif lebih besar untuk menjaga kesehatan dibandingkan waktu kita masih muda. Sisihkanlah sejumlah dana untuk keperluan tersebut, minimal setara dengan 3 bulan biaya hidup kita. Karena sifatnya yang tidak rutin, Dana Darurat dapat disimpan pada instrumen yang relatif liquid, namun memliki kemampuan perkembangan nilai yang cukup baik. Deposito misalnya.

Masih ada tanggungan Pendidikan Anak? Jika ya, sisihkanlah sesuai dengan kebutuhan. Jangan sampai pendidikan anak kita tersendat ditengah jalan. Bagi anda yang sudah memiliki dana pendidikan anak baik itu dalam bentuk asuransi dana pendidikan, reksadana pendidikan anak ataupun instrumen lain, pastikan jumlah yang tersedia sudah sesuai dengan kebutuhan aktual saat ini dan memenuhi nilai masa depan (future value) sampai si anak selesai kuliah. Jika belum cukup, sisihkan sebagian uang pesangon untuk memenuhi kebutuhan tersebut.

Setelah peta pertahanan finansial pribadi anda sudah terencana dengan baik, barulah sisa pesangon yang masih ada kita manfaatkan sebagai modal pengembangan aset yang kita miliki.
Kurang bijaksana bila seluruh dana yang tersedia di manfaatkan seluruhnya sebagai modal usaha. Harus ada dana cadangan untuk menghadapi kemungkinan usaha kita tidak berjalan dengan baik. Kami sarankan perbandingan antara Dana cadangan dan Modal usaha adalah sebagai berikut :

70 % sebagai dana cadangan. Manfaatkan dana cadangan ini untuk bisa berkembang melalui investasi. Penempatan dana cadangan bisa pada instrumen instrumen investasi yang bersifat konservatif, moderat, mengingat profil risiko investasi sebagai pensiunan (usia tidak muda lagi) yang anda miliki. Instrumen yang dapat dipilih antara lain Deposito berjangka, reksadana pendapatan tetap atau reksadana campuran.

30% sebagai modal usaha. Mengapa untuk modal usaha 'hanya' 30 %? Mengawali sebuah usaha yang notabene adalah kegiatan yang relatif baru bagi anda, akan menghadapi kemungkinan resiko terburuk, yaitu gagal. Kegagalan dalam usaha adalah salah satu proses pembelajaran. Pengalaman akan kegagalan inilah yang akan membuat anda semakin lihai dalam berbisnis. Yang berarti semakin dekat pada kesuksesan usaha anda. Ingatlah, Kesuksesan seorang pengusaha ditentukan leh berapa kali ia mampu bangkit dari kegagalannya. Dengan adanya dana cadangan, kemampuan anda untuk bangkit kembali disisi finansial masih terbuka lebar.

Nah sekarang, peta pertahanan finansial pribadi anda sudah terbentuk. Anda dapat lebih fokus untuk melanjutkan perencanaan usaha anda setelah pensiun.
Ide-ide anda sebagai modal utama dapat anda sinergikan dengan kekuatan modal keuangan yang tersedia. Usahakanlah untuk menggunakan modal sendiri dulu untuk memulai usaha yang baru anda rintis. Setelah usaha berjalan sesuai dengan harapan, tambahan modal berupa kredit usaha dari bank layak untuk dipertimbangkan.

Perencanaan selanjutnya sangat bergantung pada jenis usaha yang akan anda geluti. Buatlah perencanaan serinci mungkin. Semakin rinci perencanaan anda, akan semakin mudah menyikapi kekuatan (strength), kelemahan (weakness), kesempatan (opportunity) dan ancaman (threadness) usaha anda. Ini akan sangat membantu pengelolaan usaha anda selalu berada pada jalur yang benar dan arah yang tepat. Jangan lupa untuk memperkaya kemampuan intelektual anda dengan membaca literatur-literatur terkait.

Anda telah menjatuhkan pilihan untuk menjadi pengusaha. Anda menjadi kepala bukan ekor. Apakah kemudian badan anda besar atau kecil, tentu tergantung bagaimana anda mengelola usaha anda. Jangan khawatir, ilmu dan teknologi manajemen usaha dewasa ini sudah sangat maju dan mudah di dapat. Anda tinggal menerapkannya. Dunia usaha dapat dianalogikan seperti antrian. Siapa yang datang lebih dulu, akan mendapatkan kesempatan lebih dulu. Jadi jangan menunda niat anda untuk menjadi pengusaha. Wujudkan segera. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi anda. Selamat datang di dunia Usaha, dan sukses untuk anda.

Budi Cahyadi, CFP®, Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 11:04 am

MEMPERSIAPKAN DANA PENSIUN
( Adler Haymans Manurung, CHF, RFC, Praktisi Keuangan )
Masa pensiun merupakan periode dimana seseorang telah bekerja sekitar 25 tahun dan tidak bekerja lagi.
Biasanya pekerjaan yang dilakukan hanya bersenang dan rileks. Bagi mereka yang mempunyai dana cukup besar, maka pekerjaan yang dilakukan hanya ber pariwisata. Usia pensiun bagi beberapa pihak bisa berbeda beda, ada yang 50 tahun, 55 tahun, atau 60 tahun. Namun secara umum usia pensiun adalah 55 tahun. Pada masa pensiun orang juga tak berharap mempunyai tanggungan, seperti anak yang masih sekolah. Umumnya mereka berharap anak anak mereka sudah menikah sehingga beban yang ditanggung sudah tidak berat lagi. Untuk masa pensiun, kehidupan sehari hari dapat diperoleh dengan 2 cara:

1. Menjalankan bisnis yang bisa menghidupi keluarga. Bisnis yang dijalankan sebaiknya bisnis yang tidak memerlukan tenaga dan pemikiran yang sangat besar, misalnya warung yang menjual kehidupan sehari hari, usaha martabak dan usaha lainnya. Bila perlu usaha ini bisa menggunakan pekerja yang membantu supaya tidak memberatkan pensiunan.

2. Melakukan investasi sejak mulai bekerja sehingga melakukan perencanaan yang lebih matang.
Tehnik yang dilakukan yaitu pertama kali melakukan estimasi terhadap biaya yang akan dikeluarkan pekerja ketika pensiun.

Bila saat ini biaya keluarga pensiunan ( suami dan istri ) makan biaya Rp 2 juta per bulannya, maka 25 tahun mendatang biaya tersebut mencapai Rp 5 juta.
Artinya terjadi pertumbuhan pengeluaran sebesar 150% atau terjadi inflasi 6% setiap tahunnya. Bila pengeluaran sehari hari ditotal sebesar Rp 5 juta setiap bulannya, maka dalam setahun dibutuhkan dana Rp 60 juta ( 12 x Rp 5 juta ). Jumlah pengeluaran ini sudah dengan asumsi tidak ada lagi pengeluaran mendadak. Oleh karenanya pekerja harus menghitung dana yang terkumpul pada saat pensiun dengan bunga yang bisa mencapai Rp 5 juta sebulan, berarti pekerja harus bisa mempunyai tabungan sebesar Rp 1,2 miliar bila pensiun nanti.

Selanjutnya bagaimana mengumpulkan dana sebesar Rp 1,2 miliar itu, untuk dapat tersedia pada saat pensiun nanti. Pengumpulan dana dilakukan dengan menabung setiap bulan dari gaji atau pendapatan yang diperoleh, lalu di depositokan. Secara sederhana, maka ada 300 bulan yang harus disisihkan oleh pekerja dananya dari gaji atau pendapatan yang diperoleh selama 25 tahun. Bila dana yang dibutuhkan sebesar Rp 1,2 miliar dan jumlah bulan selama bekerja ( 300 bulan ), maka tiap bulan harus ditabung sebesar Rp 4 juta.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 11:07 am

MEMPERSIAPKAN DANA PENSIUN
Tindakan menabung biasanya dilakukan ketika seseorang telah membelanjakan terlebih dahulu penghasilan yang diterimanya. Setelah itu baru sisa uangnya yang masih ada ditabungkan. Kelemahan cara ini menurut perencana keuangan Safir Senduk adalah bila setelah penghasilan yang diterima dibelanjakan, maka bisa saja orang itu telah kehabisan uangnya terlebih dahulu sehingga ia tidak memiliki sisa uang sama sekali untuk ditabung.

Cara yang paling mudah dan paling baik untuk menabung serta agar anda bisa disiplin menabung untuk persiapan dana pensiun anda menurut Safir Senduk adalah dengan menabung terlebih dahulu sebelum anda sempat membelanjakan uang anda.Sisihkan dahulu uang yang anda rencanakan untuk ditabung, baru sisanya dipakai untuk belanja. Bila pembayaran gaji anda melalui bank, maka anda bisa meminta bank tersebut untuk memotong sejumlah uang dari rekening anda setiap bulannya, untuk ditransfer ke rekening dana pensiun anda. Hanya dengan begitu anda bisa disiplin dalam menabung dana pensiun.

Saat ini misalnya anda hanya bisa menyisihkan Rp 6 juta setahunnya atau sekitar Rp 115.000,- seminggunya. Bila anda memulainya dari sekarang dan dengan asumsi bunga konservatif yang dipakai dalam jangka panjang adalah 12% maka dalam jangka waktu 30 tahun jumlah dana yang anda kumpulkan mendekati Rp 1,8 milyar tepatnya Rp1.766.430.000,-

Bila anda saat ini masih cukup muda, pada usia 21 tahun saat ini dan mulai menyisihkan dana pensiun sebesar Rp. 115.000,- setiap minggu selama 50 tahun maka dana anda akan berkembang mendekati Rp 20 milyar atau tepatnya Rp19.915.878.000,- Bukan main kan? Nah, tunggu apalagi? Menabunglah dari sekarang untuk dana pensiun anda.

Sumber: koran
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 11:11 am

KAPAN WAKTU TERBAIK PENSIUN?
Kamis, 20 Mei 2010, 08:51 WIB Petti Lubis, Anda Nurlaila
VIVAnews - Saat masih muda kata pensiun bukanlah sesuatu yang menyita banyak perhatian. Bagi mayoritas generasi muda, pensiun hanya dapat dikhawatirkan dalam waktu panjang, 20 atau bahkan 30 tahun yang akan datang. Namun, tak ada salahnya berpikir mengenai pensiun dan apa yang dilakukan jika saatnya tiba. Walalupun pensiun masih berupa bayang-bayang saat ini, dengan perencanaan yang tepat, kita dapat melewatinya dengan baik. Sebenarnya, tidak ada waktu ideal kapan seseorang seharusnya pensiun. Waktu nya sangat bergantung dengan kemampuan untuk mengumpulkan sejumlah uang tunai dan terlepas dari ketergantungan pada gaji. Bertahun-tahun yang lalu, konsep pensiun belum dikenal dalam budaya kerja. Orang bekerja sejak muda hingga memasuki usia senja. Namun kini, karyawan memiliki hak atas tunjangan perawatan kesehatan hingga pensiun dari pemerintah, perusahaan dan perusahaan asuransi.

Biasanya, di usia 50-an, pensiun mulai menjadi pertimbangan karyawan atau orang yang bekerja. Orang-orang mulai merencanakan bagaimana cara memasuki masa pensiun secara cerdas dan memanfaatkan waktu tersisa. Mengelola pendapatan dan biaya bisa dilakukan untuk menjamin masa tua. Menabung sebagian dari pendapatan selama bekerja akan membuat hasil kerja keras Anda tidak hilang begitu saja. bila rutin menabung selama berpenghasilan, dalam beberapa tahun tabungan akan berlipat ganda. Dan, bila saatnya tiba Anda akan pensiun dengan perasaan tenang. Waktu terbaik merencanakan pensiun adalah sesegera mungkin.

Selain menabung yang sifatnya hanya menyisihkan uang dengan bunga lebih kecil, ada alternatif lain. Anda bisa memarkir uang untuk dikelola lembaga keuangan. Paket investasi dengan suku bunga tertentu yang ditawarkan memungkinkan seseorang untuk melipatgandakan uang dalam 10 sampai 15 tahun. Bila memungkinkan, investasi juga membuat Anda dapat menikmati pensiun dini. Namun dalam investasi, sebaiknya pilih lembaga institusi yang kompeten agar uang Anda bisa beranak-pinak dengan aman. Bagi sebagian orang, pensiun bukan berarti tidak produktif. Banyak yang kemudian memperoleh pekerjaan lain yang membuat mereka tetap aktif dan produktif. Hal-hal baru setelah pensiun sama halnya dengan menjelajahi pengalaman baru dan mencoba hal-hal yang sama sekali berbeda. (umi)
• VIVAnews
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 11:12 am

MENYIAPKAN DANA PENSIUN
Jumat, 29/06/2007 10:32 WIB Nurul Qomariyah - detikFinance
Jakarta - Masih muda bukan berarti tak perlu memikirkan dana pensiun. Bagaimana caranya mempersiapkan dana pensiun ketika masih muda? Lembaga pensiun mana yang bisa menjadi pilihan agar dana pensiun kita tetap aman?

Pertanyaan:
Saya berusia 28 tahun dan berniat mengikuti program dana pensiun pada salah satu lembaga keuangan. Saya masih ragu untuk mengikuti kepersertaan dana pensiun karena takut rugi dalam artian dana yang kita dapat nanti tidak sesuai untuk biaya hidup pada saat saya berusia 55 thn. Apalagi saya juga masih kuatir dengan kestabilan lembaga keuangan tersebut. Yang ingin saya tanyakan:

a. Apakah mengikuti program dana pensiun tidak akan merugikan saya?.
b. Pada lembaga apa saya mengecek penjaminan pemerintah pada program dana pensiun pada lembaga keuangan tersebut?.
c. Yang dimaksud penjaminan pemerintah itu apakah 100% uang pada tabungan saya akan diganti pemerintah?. terima kasih

Jawaban :
Kesadaran Ibu untuk memikirkan hari tua adalah salah satu tujuan hidup yang bijaksana. Niat baik tersebut harus dijaga dengan disiplin yang kuat serta ditunjang oleh produk yang terbaik dengan didasari oleh Perencanaan Keuangan yang sesuai dengan Tujuan tersebut. Oleh karena itu kami mencoba untuk memberikan penjelasan dasar terlebih dahulu mengenai Dana Pensiun.

Tujuan dari Perencanaan Pensiun adalah untuk menjaga agar Kita dapat Mempertahankan Gaya Hidup saat ini di masa menikmati Hari Tua. Atau bisa juga disebut sebagai Pengganti Pendapatan di saat masa Pensiun atau tidak bekerja lagi. Biasanya Biaya Hidup seseorang di masa Pensiun atau Hari Tua berkisar kira-kira 75% dari Total Biaya Hidup pada saat ini. Namun janganlah lupa bahwa Harga-harga atau Biaya-biaya pada saat itu tentunya sudah berubah jika dibandingkan dengan Harga atau Biaya pada saat ini. Kenaikan harga atau biaya tersebut bisa dipicu oleh karena Inflasi atau pun juga perubahan natural produk atau jasanya sendiri.

Jadi walaupun Biaya Hidup yang dibutuhkan hanya 75% dari Biaya Hidup di masa sekarang tapi Biaya Hidup tersebut harus dihitung berdasarkan Nilai pada Masa Mendatang di saat Pensiun. Selain itu kita juga harus memperhitungkan berapa lama kita akan menikmati Hari Tua. Semakin maju dan berkembangnya Ilmu Pengetahuan maka Harapan Hidup Seseorang atau Usia Rata-rata Manusia akan semakin tinggi. Jadi Dana Pensiun yang kita siapkan harus cukup menanggung Perkiraan Biaya Hidup di Masa Pensiun tersebut sejak Pensiun (misalnya usia 56 thn) sampai dengan Saatnya Dipanggil Tuhan (misalnya Rata-rata Harapan Hidup Orang Indonesia adalah 72 thn).

Salah satu sarana yang dapat membantu kita untuk mempersiapkan Dana Pensiun adalah Program Dana Pensiun yang diatur dalam UU no 11 tahun 1992. Dari berbagai jenis penyelenggara Dana Pensiun maka Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) menyediakan program Dana Pensiun bagi Perusahaan maupun Perorangan atau Individual. Biasanya Perusahaan yang menyelenggarakan DPLK adalah Bank atau Perusahaan Asuransi Jiwa. Ibu bisa memilih salah satu Penyelanggara Program Dana Penisun ini dengan menyesuaikannya dengan Kebutuhan dan Kondisi Ibu. Misalnya Ibu dapat mencocokkan dari segi Manfaat atau Keuntungan yang dijanjikan oleh Produk, Fasilitas Penerimaan Manfaat saat Pensiun, Perkembangan Investasi Dana Pensiun yang Ibu setorkan, Fasilitas Pembayaran Setoran yang tersedia, Pilihan penempatan Dana Setoran yang disediakan, Fasilitas Keuntungan Pajak, Pelayanan Nasabah, Reputasi Perusahaan dan Kondisi Keuangan Perusahaan dan lain-lain.

a. Ibu tidak perlu ragu-ragu dengan Program Dana Pensiun, selama Ibu tepat dalam memilih Produk dan Penyelenggaranya maka tentunya Impian Ibu untuk Hidup Nyaman di Hari Tua dapat terlaksana

b. Penjaminan Pemerintah hanya berlaku pada Produk Deposito di Bank. Program itupun hanya terbatas pada jumlah tertentu saja, dan bersifat sementara. Jadi pada saat tertentu maka Pemerintah akan mencabut ketentuan Penjaminan. Sedangkan Program Dana Pensiun diatur dengan ketentuan lain (tertera di penjelasan di atas) di bawah pengawasan Departemen Keuangan di Biro Dana Pensiun. Regulator sangat ketat dalam mengawasi dan memonitor Pengelolaan Program, Administrasi, Kecukupan Dana, Keuangan Perusahaan maupun Dana Investasi Ibu. Mereka sangat berkepentingan untuk menjaga Kepastian ketersediaan Dana pada saat Nasabah membutuhkan Dananya.

c. Jika bank tempat Ibu menyimpan Dana Deposito Dilikuidasi oleh Pemerintah maka Dana Ibu yang Nilainya Lebih Kecil dari Batas Maksimum Penjaminan akan diganti Pemerintah. Jika Nilai Deposito lebih besar maka hanya diganti sampai dengan batas maksimal penjaminan.

Salam Shild Financial Planning (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:18 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 12:36 pm

MERENCANAKAN WARISAN
( Adler Haymans Manurung, Praktisi Keuangan )
Perencanaan warisan merupakan aktivitas yang direncanakan keluarga bila ayah meninggal sehingga harta yang ada jelas pembagiannya, ibu yang ditinggal tidak terkatung katung dan dapat hidup layak. Inti persoalan perencanaan warisan adalah perencanaan yang dilakukan saat ini sampai salah satu dari ayah atau ibu meninggal, agar suami/istri tidak terlantar dan ketika kedua duanya meninggal anak anak tidak menghadapi persoalan.

Orang tua harus membuat daftar benda yang akan diwariskan secara rinci, supaya jelas perhitungannya. Bila rumah yang akan diwariskan, harus jelas alamat, luas, dan perkiraan harganya. Bila saham dan obligasi, maka jumlah saham, nilai saham dan disimpan dimana, kapan transaksinya dilakukan, supaya jelas dan dapat dihitung. Kalau ada hutang, kepada siapa berhutang, kapan mulai berhutang, besarnya hutang, tingkat bunga yang dijanjikan.

Bila keluarga belum mempunyai bangunan yang cukup untuk diwariskan, maka perlu direncanakan baik baik. Ayah/ibu dapat membeli rumah secara kredit kepada bank. Bila melalui KPR, biasanya diminta membuat asuransi jiwa atas nama pembeli KPR, Sebenarnya ini merupakan investasi masa depan yang menyelamatkan keluarga. Bila orang tua meninggal, maka KPR tidak perlu dibayar dan rumah menjadi milik karena sisa KPR akan ditanggung oleh asuransi secara otomatis. Artinya tidak ada salahnya membeli rumah sebanyak anak yang kita miliki, secara cicilan, agar warisan rumah ada untuk anak anak.

Bila pemberi warisan mempunyai dana pensiun, maka lembaga yang menerima iuran pensiun harus didatangi dan ditanyakan nilai yang akan diterima bila terjadi kematian pemberi warisan. Deposito dan tabungan juga harus dibuat lebih jelas, bahwa pengambilannya dapat dilakukan satu atau dua orang yang sudah didiskusikan dengan pihak bank bila pewaris meninggal dunia.

Membuat surat pembagian warisan bisa dalam bentuk surat notaris, agar anak anak tidak ribut mengenai benda benda yang diwariskan karena sudah tercantum dalam bentuk tertulis yang disahkan oleh notaris dan disertai saksi saksi.


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:13 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 12:39 pm

TELITI KEMBALI ASURANSI ANDA
Rabu, 21/10/2009 09:40 WIB Taufik Gumulya - detikFinance
Jakarta - Indonesia adalah merupakan negara yang terletak pada bagian yang menjadi pusat gempa dunia, fakta yang ada gempa sering terjadi dan mungkin dapat terjadi lagi, gempa terakhir (semoga benar adanya) ketika hari Jumat yang lalu gedung di Jakarta terasa bergoyang disebabkan karena gempa yang berkekuatan 6,4 skala richter, sebelumnya juga ada gempa di Padang, di Tasikmalaya dll.

Lalu permasalahannya adalah bagaimana kita sebagai manusia dewasa mampu untuk melakukan manajemen resiko khususnya melakukan antisipasi kepada keluarga yang kita cintai atas kemungkinan terburuk saat kita meninggal akibat terjadinya gempa atau bencana alam lainya? Dapatkah orang yang kita kasihi mampu bertahan dengan kondisi keuangan yang cukup? Sementara sumber penghasilan berhenti akibat bencana yang merenggut nyawa.

Pembaca yang bijak sebagian cara dalam melakukan manajemen resiko adalah melakukan transfer resiko kepada perusahaan asuransi, dalam hal kematian tentu kita dapat melakukan transfer resiko kepada perusahaan asuransi jiwa. Namun alangkah baiknya bagi mereka yang telah memiliki asuransi jiwa dimohon untuk meneliti kembali polis asuransi jiwa yang dimilikinya, serta bagi yang belum memiliki asuransi jiwa penjelasan dibawah ini mungkin dapat membantu anda untuk dapat memilih produk asuransi yang paling tepat.

Sebuah kontrak asuransi jiwa adalah kontrak antara penanggung (perusahaan asuransi) dengan tertanggung (nasabah), namun dalam kontrak khususnya asuransi jiwa dikenal dengan istilah Kontrak Adhesi yakni sebuah kontrak yang dibuat oleh satu pihak dan ditawarkan atas pilihan take it or leave it sehingga pihak yang lain (nasabah) hanya diberi ruang yang sangat kecil untuk melakukan tawar menawar atas manfaat yang ada dalam kontrak tersebut. Berkenaan dengan masalah kontrak tersebut maka sudah selayaknya nasabah meneliti kembali isi kontrak asuransi yang tertera dalam sebuah polis dengan tujuan agar orang yang kita cintai dapat menerima manfaat sesuai dengan nilai yang tertera pada polis asuransi tersebut.

Pembaca, ada beberapa klausul yang memerlukan 'perhatian khusus' dari pemegang polis hal ini disebabkan karena dapat menimbulkan hal yang bersifat ambigu (dapat ditafsirkan menjadi beberapa arti) dan lebih jauh lagi kami menyebutnya sebagai 'grey area' atau area yang tidak jelas dari sudut pandang nasabah. Berikiut adalah sebagian kecil dari contoh klausul yang tertera dalam kontrak polis asuransi jiwa:

1.Pengecualian
Dalam polis asuransi jiwa tertera pasal yang menyatakan ’Pengecualian’ alangkah baiknya kita teliti kembali pasal tersebut, banyak perusahaan asuransi menyatakan bahwa bencana alam merupakan salah satu alasan untuk tidak membayar manfaat bagi tertanggung. Ini berarti jika tertanggung meninggal dunia karena menjadi korban gempa (seperti kasus gempa di Padang yang baru lalu) maka sesuai dengan kontrak asuransi dapat dipastikan keluarga yang ditinggalkan tidak akan menerima manfaat yang berupa uang pertanggungan.

Memang dalam kontrak tersebut dinyatakan "Bencana alam yang dinyatakan oleh pemerintah Indonesia", sejujurnya arti kalimat ini sangat tidak jelas, ini merupakan 'grey area' atau dapat disebut area yang dapat diartikan dengan 'ya' atau 'tidak', hal ini tergantung kondisi, jadi sebagai tertanggung atau pemegang polis berhak untuk menanyakan hal ini kepada penanggung (perusahaan asuransi). Saran kami alangkah baiknya jika hendak memilih perusahaan asuransi jiwa silahkan pilih perusahaan yang tidak mencantumkan klausul bencana alam tersebut.

2.Pembebasan Pembayaran Premi
Dalam hal jenis manfaat yang akan diterima ada beberapa manfaat tambahan berupa pembebasan pembayaran premi jika ternyata pemegang polis, pembayar dan atau 'tertanggung' tidak dapat memiliki penghasilan baik disebabkan karena sakit maupun karena mengalami kecelakaan. Namun biasanya manfaat ini baru dapat dilakukan jika telah dapat dibuktikan secara terus menerus sekurangya dalam waktu 3 bulan (90 hari) dan bahkan ada perusahaan asuransi jiwa yang mensyaratkan pembuktian sekurang kurangnya selama 6 bulan (180 hari).

Menurut kami ini juga merupaka 'grey area' karena selama periode persyaratan pembuktian minimal 3 atau 6 bulan mewajibkan pemegang polis (pembayar) untuk membayar sejumlah premi tertentu selama kurun waktu minimal tersebut, jika ini dilaksanakan maka perusahaan asuransi menyatakan pemegang polis (pembayar) dinyatakan terbukti berpenghasilan maka manfaat Pembebasan Premi secara otomatis tidak dapat berfungsi, sedang jika pemegang polis (pembayar)tidak membayar premi maka secara otomatis polis akan tidak berlaku.

Dari kedua contoh diatas semoga dapat menjelaskan sebagian dari isi kontrak yang bersifat ambigu, karena itu sebagai pihak nasabah sudah sewajarnya untuk melakukan review atas isi kontrak polis asuransi jiwa. Hal ini tentu bertujuan agar anggota keluarga yang kita cintai dapat menerima manfaat sesuai dengan yang tertera di dalam polis, jangan sampai karena kecerobohan kita manfaat tersebut tidak dapat diterima oleh keluarga.

Pembaca yang budiman, asuransi jiwa adalah suatu keharusan agar resiko kerugian finansial dapat dieliminasi namun membaca dan mengerti isi kontrak adalah suatu kebutuhan dasar. Demikian semoga bermanfaat, selamat memilih dan meneliti kembali asuransi jiwa anda.

Taufik Gumulya CFP ®, Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 12:45 pm

MEMAKSIMALKAN INVESTASI ASURANSI
Selasa, 08/04/2008 09:33 WIB Joannes Widjajanto - detikFinance
Jakarta - Pertanyaan: Saya 31 Tahun, karyawan di salah satu tambang batubara di Kaltim. Untuk memproteksi masa depan saya, istri (31 tahun) dan anak (umur 1 tahun), mulai tahun 2005 kemarin kami mulai hunting produk-produk asuransi yang mengombinasi aspek asuransi jiwa, kesehatan dan investasi. Oleh FAO-nya, premi yg kami setor diinvestasikan di pasar modal dan pasar uang. Namun hingga awal tahun 2008 ini, kok hasilnya kurang mengembirakan Pak ya, masih jauh dibawah nilai total yang kami setorkan. Beda sekali dengan skenario yang diberikan oleh FAO-nya dulu waktu kita hunting produk.

Pertanyaan saya :

1.Apa memang selalu dalam 5 tahun pertama nilai akumulasi premi kita selalu dibawah nilai akumulasi premi yg kita setor?
2.Apa kita harus selalu aktif dalam memantau kinerja instrumen investasi kita, misal dengan mengubah persentase portofolio kita?
3.Mengingat saat ini produk asuransi sangat beragam, bagaimana cara memilih perusahaan asuransi yang baik?
4.Asuransi apa saja yang harus saya utamakan?

Sekian dan terima kasih.

Jawaban :
Dalan industri asuransi jiwa, produk yang dijual dapat dibedakan dalam dua jenis. Yang pertama namanya produk tradisional dan yang kedua produk unitlink.
Produk tradisional umumnya dibagi lagi dalam 3 kelompok, yaitu asuransi jiwa berjangka, asuransi dwiguna/asuransi endowment, dan asuransi seumur hidup. Produk asuransi jiwa berjangka akan memberikan manfaat berupa uang pertanggungan kepada keluarga saat si tertanggung atau umumnya adalah kepala rumah tangga meninggal dunia dalam masa kontrak/masa asuransi. Sedangkan produk asuransi dwiguna/asuransi endowment memberikan manfaat saat tertanggung meninggal dunia dalam masa kontrak/masa asuransi dan saat tertanggung tetap hidup saat akhir masa kontrak atau masa asuransi. Adapun produk asuransi seumur hidup memberikan manfaat kepada keluarga yang ditinggalkan saat tertanggung / kepala keluarga meninggal dunia kapanpun itu terjadi.

Pada umumnya premi untuk asuransi jiwa berjangka paling minimal, sedangkan premi asuransi dwiguna atau asuransi endowment paling tinggi. Sedangkan premi untuk asuransi seumur hidup diantara kedua produk tersebut. Jenis yang kedua yaitu produk unit link adalah merupakan produk yang menggabungkan antara asuransi dan investasi. Pada produk ini kita dapat mengetahui berapa besar dari bagian uang yang kita setorkan dipakai untuk membayar premi asuransi, biaya administrasi dan bagian yang diinvestasikan. Misalnya ada produk yang membagi uang yang kita setorkan per tahun sebesar 1000 menjadi sebagai berikut :

* Premi Asuransi : 100
* Biaya Administrasi : 20
* Diinvestasikan : 880

Jadi dari sini bisa terlihat bahwa uang yang berkembang atau yang diinvestasikan sebesar 880, bukan 1000. Ada beberapa variasi pembagian uang yang kita setorkan sesuai dengan spesifikasi produk yang ditawarkan oleh perusahaan asuransi jiwa. Umumnya instrumen investasi yang ditawarkan adalah instrumen investasi yang memiliki 3 jenis risiko, yaitu risiko rendah, sedang dan tinggi. Pemilihan instrumen investasi tergantung dari nasabah, jadi kita harus memastikan bahwa pilihan sesuai dengan karakter kita.

Untuk melihat mana perusahaan asuransi yang baik atau tidak, kita dapat melihat kinerja dari perusahaan tersebut dari laporan keuangan yang diterbitkan oleh beberapa media cetak. Atau kita juga bisa melihat beberapa media cetak mengadakan penilaian atas kinerja dari perusahaan asuransi jiwa yang ada di Indonesia. Pembelian produk asuransi akan sangat bergantung pada kebutuhan kita. Kadang kita cukup membeli produk asuransi jiwa berjangka yang hanya menanggung risiko saja tanpa ada unsur tabungannya. Atau produk yang mirip asuransi jiwa berjangka seperti asuransi kecelakaan, asuransi perawatan rumah sakit.

Pastikan dulu, apa sebenarnya kebutuhan kita. Dan pastikan kita memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan. Selamat memilih.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 12:46 pm

CERMAT MEMILIH ASURANSI JIWA
Rabu, 10/3/2010 | 13:27 WIB
KOMPAS.com - Asuransi jiwa menjadi salah satu kebutuhan penting terkait perencanaan keuangan. Belakangan ini, produk unit link termasuk kategori asuransi jiwa yang semakin bertumbuh dan memberikan banyak penawaran. Sebaiknya teliti sebelum memiliki investasi yang juga punya proteksi ini. Pilih produk yang memberi ruang bagi nasabah untuk menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan. Ada produk yang menggiurkan, karena hanya dengan menyisihkan 10 ribu rupiah perhari, Anda bisa membayar premi untuk proteksi dan investasi jangka panjang. Namun bukan sekadar murah, Anda perlu juga meneliti seberapa luas penyesuaian yang bisa Anda lakukan.

Misalkan, mengubah manfaat investasi, dalam hal ini menaikkan, mengurangi, atau bahkan menghilangkan manfaat proteksi, disesuaikan dengan besaran premi. Apakah kemudian premi juga akan bertambah atau mengikuti premi sebelumnya, jika kemudian nasabah melakukan penyesuaian manfaat sesuai kebutuhan.
Syafriadi Hutagalung, manager agen asuransi sebuah asuransi jiwa mengatakan, produk asuransi sebaiknya representatif dan menyesuaikan dengan kebutuhan nasabah. "Nasabah sebaiknya dilibatkan dalam mengatur keuangannya. Model lama, institusi keuangan bertindak sepihak dalam kepemilikan produk sudah tidak relevan lagi melihat kondisi kekinian," papar pria yang kerap disapa Adhie kepada Kompas Female.

Untuk memastikan produk tersebut aman, teliti juga institusi keuangan penerbit produk. Hal ini bisa dilihat dari profesionalisme agen asuransi. Tanyakan saja, apakah si agen memiliki sertifikasi dari Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) misalkan. Bisa juga dengan mengenali kinerja perusahaan yakni dengan mengukur pengakuan industri asuransi terhadapnya. Penghargaan dari sejumlah media ekonomi atas performance perusahaan bahkan pengakuan dunia perlu menjadi pertimbangan.

Sementara, perencana keuangan, Aidil Akbar Madjid mengatakan sebaiknya pilih asuransi jiwa murni. Artinya tidak ada pembayaran dari perusahaan asuransi selama nasabah masih hidup untuk proteksi penyakit tertentu, yang bisa diklaim ke penerbit produk unit link. "Asuransi jiwa murni artinya pembayaran dilakukan jika nasabah meninggal," papar Akbar. Akbar mengakui banyak kemudahan yang diberikan oleh investor jika memiliki unit link. Namun keuntungan yang bisa diperoleh relatif kecil. Diakuinya, produk yang masuk kategori advance ini bisa jadi sangat bagus sebagai investasi proteksi. Namun belum tentu cocok dengan setiap orang. Akbar menyarankan orang dengan penghasilan 2-3 juta per bulan sebaiknya memilih produk investasi lain. Produk investasi seperti emas logam mulia atau deposito lebih tepat. Namun pilihan ini tetap dikembalikan kepada kebutuhan Anda, jangka pendek, menengah, panjang, dan risikonya. Sebaiknya pilih produk asuransi dengan lebih dahulu mendiskusikan secara detil keunggulan dan kelemahannya. Agen asuransi profesional semestinya menyediakan ruang untuk berdiskusi dan tidak sekadar "menjual" produk.
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 12:51 pm

BERASURANSI DENGAN BIJAK
Senin, 26/7/2010 | 13:36 WIB
KOMPAS.com - Apakah Anda saat ini telah membeli dan memiliki polis asuransi? Jenis asuransi apa yang telah Anda miliki tersebut? Apakah Anda telah membaca dan memahami kondisi dan persyaratan polis, sebelum Anda memutuskan untuk membelinya? Lantas bila Anda belum memahami benar, pertimbangan apakah yang membuat Anda membeli polis asuransi tersebut?

Saat ini sangat banyak nasabah pembeli produk asuransi, yang memutuskan untuk membeli dan memiliki polis asuransi bukan karena mereka telah menganalisa risiko dan membutuhkan perlindungan asuransi. Namun mereka membeli karena penawaran bertubi-tubi yang ditawarkan oleh sahabat, kolega, atau sanak saudara terdekat. Mereka membeli karena merasa tidak enak untuk menolak dan ingin segera mengakhiri "gangguan" penawaran yang menyita waktu dan perasaan tersebut. Akhirnya mereka membeli dan membayar polis yang sesungguhnya belum/tidak mereka butuhkan pada saat itu dan juga tidak mereka pahami.

Saran saya, sebelum Anda memutuskan untuk membeli sebuah produk apa pun, terlebih produk asuransi yang berisikan perjanjian tertulis dalam bentuk polis dan berbahasa hukum, serta ditulis dalam huruf kecil, sebaiknya Anda meminta "dummy" polis untuk Anda baca, pelajari, dan pahami. Anda sudah harus memahami kondisi dan persyaratan, risiko yang dijamin dan yang dikecualikan. Pastikan risiko yang Anda butuhkan terjamin dalam polis yang Anda beli.

Beberapa langkah yang layak Anda lalui sebelum membeli dan membayar polis asuransi Anda:
1. Analisa risiko yang Anda miliki dan hadapi, lalu sisihkan "budget" dana proteksi.
2. Hubungi perusahaan asuransi langsung, atau agen asuransi, atau pialang asuransi.
3. Minta penawaran dari minimal 2 sumber atas jenis polis asuransi yang Anda butuhkan.
4. Minta spesimen polis ("dummy" polis) dari jenis asuransi yang ditawarkan.
5. Minta penjelasan dari penjual dan pahami perbedaan dari masing-masing penawaran. Penjelasan sebaiknya memakai dan me-refer kepada dummy polis, sehingga apa yang diucapkan oleh penjual harus berdasarkan polis. Kadang janji penjual terlalu manis dan tidak sesuai dengan kontrak polisnya.
6. Ingat premi murah belum tentu yang terbaik, pasti ada penyebabnya. Mungkin luas jaminannya berbeda dan perusahaan asuransi yang menawarkan berbeda kelas dan reputasinya.
7. Minta waktu sekitar 2 minggu dan pahami sendiri dengan membaca langsung dari spesimen yang telah Anda miliki.
8. Bila Anda sudah paham benar dan meyakini pilihan Anda, silakan melangkah dan hubungi penjual.


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 12:59 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 12:52 pm

PILIH PILIH ASURANSI
Senin, 23/07/2007 08:40 WIB Nurul Qomariyah - detikFinance
Jakarta - Pertanyaan:
"Selama ini sumber keuangan saya 100% dari investasi pribadi saya sendiri,dan saat ini saya sedang mencari masukan tentang asuransi untuk keluarga saya. Pertanyaan saya :

1. Asuransi apa saja yang perlu saya ambil untuk keluarga saya?
2. Apakah bisa dengan penghasilan dari investasi, saya ikut asuransi? Terima kasih.

Jawaban :
Sdr. Agus, saat ini banyak keluarga-keluarga yang sudah mulai memikirkan bagaimana membeli asuransi. Tetapi banyak orang membeli asuransi karena ikut-ikutan teman, dipaksa oleh agen asuransi dan lain sebagainya. Sebelum kita membeli asuransi, apakah kita membeli kebutuhan untuk membeli sebuah produk asuransi. Jika ya, produk asuransi apa yang dibutuhkan. Lalu berapa besar pertanggungan yang diperlukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut haruslah dijawab terlebih dahulu sebelum kita membeli produk asuransi.

Misalnya kita ada kebutuhan untuk meng-cover pendidikan anak kita, maka kita dapat membeli asuransi pendidikan yang banyak ditawarkan. Atau kebutuhan untuk meng-cover biaya kehidupan keluarga saat sang pencari nafkah terkena musibah, maka kita dapat membeli asuransi seumur hidup atau asuransi jiwa berjangka. Banyak macam produk yang ditawarkan oleh pihak asuransi, tinggal kita menyesuaikan kebutuhan kita dengan produk yang ada. Sumber dana untuk pembayaran premi asuransi bisa bermacam-macam, ada yang mengalokasikan dari sebagian gaji bulannya, sebagian dari THR yang diterima di hari raya atau dari hasil investasi yang sudah ada. Hal ini dapat kita sesuaikan dengan kemampuan kita. Selamat meneliti kebutuhan keluarga, dan belilah asuransi untuk meng-cover risiko yang ada.

Joannes Widjajanto-Shildt Financial Planning (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:07 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 12:52 pm

MEMILIH PRODUK ASURANSI JIWA YANG OPTIMAL
Jumat, 12/03/2010 07:12 WIB Taufik Gumulya - detikFinance
Jakarta - Dalam melakukan perencanaan keuangan, seseorang dihadapkan dengan keharusan untuk melakukan perlindungan aset yang dimiliki dan kita semua sepakat bahwa aset yang sangat berharga dan tidak dapat ternilai dengan uang adalah kehidupan atau jiwa seorang manusia. Selanjutnya dapatkah kita menghitung dengan benar uang pertanggungan asuransi jiwa dengan tepat? Sehingga jika terjadi risiko meninggal maka kita dapat meninggalkan warisan berupa uang pertanggungan yang layak kepada mereka yang kita tinggalkan.

Pembaca yang bijak, sebelum kita membahas metoda perhitungan uang pertanggungan asuransi jiwa, ada baiknya kita perhatikan bahwa dasar untuk menghitung besarnya uang pertanggungan adalah berdasarkan perhitungan 'nilai ekonomis' dari yang bersangkutan. Nilai ekonomis yang dimaksud adalah besarnya pendapatan atau income rata-rata perbulan pada saat ini. Jadi jika seseorang mengalami peningkatan pendapatan maka sudah selayaknya besar uang pertanggunganpun ditambah.

Metoda perhitungan uang pertanggungan ada bermacam-macam, namun pada umumnya kami membagi menjadi 3 (tiga) kelompok metoda perhitungan, yakni:

1.Metoda Human Life Value: pada metoda ini uang pertanggungan mutlak dihitung berdasarkan income bulanan dikali dengan lama dana tersedia untuk menopang hidup, tanpa memperhatikan faktor bunga maupun pertumbuhan dana jika uang pertanggungan disimpan dalam produk perbankan.

2.Metoda Income Based Value: metoda ini menghitung uang pertanggungan dengan memperhitungkan besarnya bunga atau return jika uang pertanggungan yang diterima disimpan dalam produk perbankan.

3.Metoda Financial Needs Based Value: besar uang pertanggungan memiliki kisaran minimal sama dengan besarnya uang kebutuhan tertentu saat ini (present value) dikali dengan 150%. Sedangkan uang pertanggungan maksimal adalah sebesar uang dimasa mendatang (future value) dikali dengan 80%.

Metoda ini mutlak dikombinasikan dengan investasi yang dilakukan (baik secara bulanan atau tahunan) untuk mencapai kebutuhan keuangan dimasa mendatang (future value) dari kebutuhan keuangan tersebut. Metoda ini juga dapat dipakai bagi mereka yang sudah memiliki penghasilan bulanan yang sangat besar sehingga kedua metoda lain yang disebut diatas tidak mungkin digunakan lagi karena akan memberikan jumlah uang pertanggungan yang terlalu besar (kecil kemungkinan uang pertanggungan disetujui oleh perusahaan asuransi).

Untuk lebih jelasnya marilah kita simak contoh kasus berikut:
Seorang bapak usia 30 tahun memiliki penghasilan perbulan sebesar Rp 5.000.000,-. Sang bapak memiliki istri dan seorang anak yang berusia 0 tahun (baru lahir). Sang bapak ingin menyekolahkan anaknya di universitas yang terbaik di Indonesia. Menurut perhitungannya biaya kuliah saat ini selama 4 tahun sudah termasuk biaya pendaftaran dan biaya belajar mengajar, SKS dan sebagainya diluar biaya buku dan transpor adalah sebesar Rp 80.000.000,- (delapan puluh juta rupiah), dengan memperhatikan faktor kenaikan biaya pendidikan sebesar 18% pertahun, selama 18 tahun biaya tersebut membengkak menjadi Rp 1.573.860.075,- (satu milyar lima ratus tujuh puluh tiga juta delapan ratus enam puluh ribu tujuh puluh lima rupiah). Untuk melindungi keluarga maka besarnya UP (uang pertanggungan) asuransi jiwa yang layak bagi bapak tersebut adalah sebesar:

a. Jika menggunakan metoda Human Life Value: maka UP adalah sebesar Rp 600.000.000,- (enam ratus juta rupiah), mampu menopang kehidupan keluarga selama maksimal 10 tahun.

b. Jika menggunakan metoda Income Based Value: maka UP adalah sebesar Rp 1.200.000.000,- (satu milyar dua ratus juta rupiah), dengan memperhitungkan bunga sebesar 5% pertahun jika UP tersebut disimpan dalam produk perbankan, maka hasil bunga sebesar Rp 5.000.000,-. Dapat digunakan untuk menopang kehidupan keluarga.

c. Jika menggunakan metoda Financial Needs Based Value: maka UP yang layak (atas kebutuhan perencanaan pendidikan anak) adalah sebesar Rp 120.000.000,- (seratus dua puluh juta rupiah) hingga Rp 1.260.000.000,- (satu milyar dua ratus enam puluh juta rupiah).

Selanjutnya adalah bagaimana cara yang terbaik untuk memilih produk asuransi jiwa yang paling sesuai? Dalam hal pemilihan produk tentu kita akan memilih produk yang paling optimal, dalam hal kasus diatas tentunya kita harus mengetahui kisaran premi untuk masing-masing UP yang ada sehingga kita mendapatkan manfaat yang terbaik yakni UP yang tinggi namum dengan pembayaran premi minimal.

Berikut ini ingin kami sampaikan tabel kisaran premi pertahun atau perbulan pada contoh kasus diatas (untuk laki-laki Indonesia dengan kondisi kesehatan, tinggi dan berat badan normal):

Tabel untuk usia 30 tahun
Uang Pertanggungan (UP) Premi minimum (per tahun) Premi maksimum (per tahun) Premi Minimum (per bulan) Premi maksimum (per bulan)
Rp 120.000.000 Rp 163.200 Rp 440.640 Rp 13.600 Rp 36.720
Rp 600.000.000 Rp 816.000 Rp 2.203.200 Rp 68.000 Rp 183.600
Rp 1.200.000.000 Rp 1.632.000 Rp 4.406.400 Rp 136.000 Rp 367.200
Rp 1.260.000.000 Rp 1.713.600 Rp 4.626.720 Rp 142.800 Rp 385.560

Tabel untuk usia 35 tahun
Uang Pertanggungan (UP) Premim Minimum (per tahun) Premim Maksimum (per tahun) Premi Minimum (per bulan Premi Maksimum (per bulan
Rp 120.000.000 Rp 195.000 Rp 526.500 Rp 16.250 Rp 43.875
Rp 600.000.000 Rp 975.000 Rp 2.632.500 Rp 81.250 Rp 219.275
Rp 1.200.000.000 Rp 1.950.000 Rp 5.265.000 Rp 162.500 Rp 438.750
Rp 1.260.000.000 Rp 2.047.500 Rp 5.528.250 Rp 170.625 Rp 460.688

Sebagai informasi kisaran premi yang kami sampaikan diatas adalah kisaran premi dari asuransi tradisional dengan tipe YRT (Yearly Renewable Term) dengan penambahan jumlah premi setiap tahunnya (lihat contoh tabel diatas), data ini kami olah dari perusahaan asuransi jiwa yang ada di Indonesia, dan memiliki produk asuransi jiwa tipe YRT. Produk ini sangat direkomendasikan untuk dilakukan secara konsisten hingga setidaknya anak telah memasuki kuliah di universitas.

Pembaca yang bijak, sekali lagi ingin kami sampaikan bahwa untuk mendapatkan hasil yang optimal contoh kasus diatas sebaiknya pilihlah produk asuransi yang tidak digabungkan dengan investasi atau dikenal dengan sebutan unit link karena jika tidak premi yang dibayarkan (dengan UP yang sama)akan lebih mahal. Kondisi ini tentu akan memicu peluang proteksi asuransi dengan UP yang besar secara berkesinambungan berpotensi gagal atau dalam istilah asuransi disebut dengan lapse.

Demikian pembaca setelah kita memutuskan besar UP yang paling cocok dengan kebutuhan maupun kemampuan kita, langkah berikut adalah lakukan investasi secara terpisah dengan asuransi jiwa sehingga secara jangka panjang pertumbuhan dana akan lebih baik dan pada akhirnya tujuan keuangan akan tercapai. Selamat melakukan perencanaan keuangan dengan cerdas, planning well living well, keputusan ada ditangan anda.

Taufik Gumulya, CFP® Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services. (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:13 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 12, 2010 12:52 pm

PERSIAPAN DANA PENDIDIKAN DAN PENSIUN
Senin, 14/01/2008 09:42 WIB Joannes Widjajanto - detikFinance
Jakarta - Saya karyawan 37 tahun. Saya punya 2 anak berumur 9 tahun dan 5 tahun. Saat ini saya sudah menyisihkan dana sebesar 500 juta (sebagian besar dalam USD) untuk dana pendidikan kedua anak saya kelak ke perguruan tinggi.

Pertanyaan:

1. Jenis investasi apa yang cocok untuk dana sebesar itu agar nilainya paling tidak tergerus oleh inflasi tapi risiko modal dasar tidak berkuramg.
2. Saya juga sudah mulai ada dana pensiun sebesar 350 juta dan saat ini rata-rata perbulan saya dapat menabung sekitar 80 juta. Juga kemana saya bisa investasi dengan pertimbangan seperti dana pendidikan diatas dan saya pingin pensiun maksimal umur 45 tahun dengan pengeluaran rata-rata sebulan 15 juta.

Jawaban :
Pak Rokhman, tampaknya ada 2 hal yang hendak dilakukan. Yang pertama adalah perencanaan biaya pendidikan anak dan yang kedua adalah perencanaan pensiun. Kita akan coba menguraikannya satu persatu. Sesuai informasi yang ada, dana pendidikan yang disiapkan adalah untuk biaya di perguruan tinggi nanti. Katakan usia masuk pendidikan tinggi pada usia 18, maka anak yang pertama akan membutuhkan biaya tersebut 9 tahun lagi, dan anak yang kedua, 13 tahun lagi. Rentang waktu ini cukup lama dan membutuhkan persiapan yang baik pula.

Ada beberapa hal yang perlu dijawab sebelum melangkah lebih jauh.

Pertama, apakah Pak Rokhman akan menyediakan dana pendidikan ini sampai dengan S1 ataukah S2?

Kedua, apakah kedua putra Bapak dipersiapkan untuk menempuh pendidikan di universitas luar negeri atau universitas yang berada di Indonesia tetapi mensyaratkan mata uang dollar untuk pembayaran uang sekolahnya, sehingga perlu menyimpannya dalam dollar?

Ketiga, apakah dana yang dipersiapkan tersebut cukup untuk membiayai biaya pendidikan di sekolah yang direncanakan? Jika tidak cukup, berapa besar tambahan yang perlu dipersiapkan?

Keempat, jika terjadi musibah terhadap diri Bapak misalnya meninggal dunia, apakah ada pertanggungan asuransi yang menjamin bahwa dana pendidikan yang telah disiapkan memang dipakai untuk biaya pendidikan anak?

Pertanyaan-pertanyaan di atas perlu dijawab terlebih dahulu, sebelum langkah selanjutnya dilakukan. Keempat pertanyaan tersebut akan memiliki implikasi yang berbeda sesuai dengan perencanaan yang dilakukan. Misalnya : pendidikan untuk S1 direncanakan di Indonesia sedangkan S2 direncanakan di luar negeri. Atau persiapan dana pendidikan tersebut disediakan hanya sampai tingkat S1 saja.

Dengan perencanaan lebih detil, kita akan lebih mudah menghitung berapa besar dana yang dibutuhkan. Dan berapa besar Uang Pertanggungan Asuransi yang dibeli.

Perencanaan kedua adalah perencanaan pensiun. Masa perencanaan pensiun cukup lama, sehingga perlu pemikiran yang lebih matang. Usia Bapak saat ini 37 tahun, 8 tahun lagi diharapkan sudah dapat pensiun. Sedangkan masa pensiun [dengan asumsi harapan hidup sampai dengan usia 75 tahun] akan berlangsung selama 30 tahun. Jadi selama 8 tahun ke depan, Bapak akan menyiapkan dana untuk kehidupan selama 30 tahun berikutnya.

Dari sisi finansial, dengan kemampuan menabung sebesar Rp. 80 juta sebulan, dan biaya hidup di awal masa pensiun sebesar Rp. 15 juta, Bapak agak longgar dalam mempersiapkan masa pensiun yang diidamkan.

Dengan menggabungkan kedua perencanaan di atas, maka Bapak dapat lebih ringan mempersiapkannya. Kedua target tersebut memerlukan 'kendaraan investasi' yang sesuai dengan kepribadian Bapak. Secara umum ada 2 bentuk instrumen investasi. Yang pertama, investasi portofolio, misalnya menempatkan dana pada saham, obligasi, reksadana, SBI. Dan yang kedua, investasi riil, misalnya mengalokasikan dana untuk dikembangkan pada bisnis tertentu, properti [baik rumah, tanah atau apartemen].

Karena masa perencanaan yang cukup lama, maka instrumen investasi yang berjangka pendek seperti SBI kurang cocok untuk dipakai. Demikian pula obligasi yang jatuh tempo dalam jangka waktu dekat, juga kurang cocok.

Dari pengalaman masa lalu, baik investasi portofolio maupun investasi riil memiliki tingkat pengembalian investasi di atas inflasi yang ada. Tinggal kita pintar-pintar untuk mengatur alokasi untuk masing-masing instrumen. Setiap instrumen di atas memiliki tingkat risiko yang berbeda dan memerlukan pengetahuan yang berbeda pula. Pastikan bahwa Bapak memiliki pengetahuan yang memadai, jika ingin terjun ke instrumen investasi tertentu.

Dan jangan lupa juga untuk melengkapinya dengan polis asuransi, agar perencanaan yang telah disusun dapat tetap berjalan meskipun Bapak sebagai pencari nafkah mengalami musibah

Selamat berinvestasi dan berasuransi. Joannes Widjajanto-Shildt Financial Planning


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:34 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile
 

Perencanaan Keuangan Keluarga

View previous topic View next topic Back to top 
Page 7 of 14Goto page : Previous  1 ... 6, 7, 8 ... 10 ... 14  Next

 Similar topics

-
» kisah keluarga pembohong
» Komunikasi keluarga tangani masalah remaja
» Perencanaan Keuangan Keluarga
» ritual / adat / kepercayaan/ org kdm ketika mengurus saudara atau keluarga meninggal
» Kekurangan dan KEgagalan Sri Mulyani terlihat,balik Ke INdonesia?

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-