|
| | Perencanaan Keuangan Keluarga | |
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Sun Aug 15, 2010 7:59 am | |
| BAGAIMANA MEMULAI INVESTASI? Rabu, 26/5/2010 | 19:29 WIB KOMPAS.com — Saya suka membaca iklan di Kompas tentang pelatihan investasi Option, dan tertarik untuk mencari tahu dan mengembangkan uang di investasi jenis ini. Apakah jenis investasi ini menjanjikan dan memang menguntungkan seperti iklan-iklan yang saya baca? Saya ingin mendapatkan return yang besar dalam waktu tidak terlalu lama. Tapi saya juga ingin berinvestasi di tempat yang aman. Tolong sarannya. - Bernadette, Jakarta.
Sebelum menjawab, saya ingin bertanya dahulu. Apakah Anda sudah memiliki portofolio investasi, seperti reksa dana atau saham? Bila belum, saya sarankan silakan koleksi terlebih dulu instrumen investasi tersebut karena Option adalah jenis investasi turunan dari saham. Sebenarnya, dapat saya katakan, bahwa Option bukanlah sebuah investasi karena bersifat diperdagangkan (trading) dalam jangka pendek. Lalu dalam setiap transaksi tersebut, ada pihak yang mendapatkan keuntungan dan juga mengalami kerugian. Option merupakan investasi derivatif.
Saya sendiri sebagai financial planner selalu menganjurkan klien untuk melakukan dan mengoleksi investasi reksa dana, saham, properti, dan logam mulia terlebih dulu sebelum mencoba investasi lainnya. Sebab, masih banyak jenis investasi yang bisa dijadikan kendaraan mencapai tujuan keuangan kita.
Menurut Robert T Kiyosaki dalam bukunya Conspiracy of The Rich, derivatif adalah "senjata kehancuran massal" dan salah satu alasan kita berada dalam krisis keuangan. Saran saya, jangan memasuki sebuah jenis investasi yang rumit dan kompleks untuk dipahami. Sebab, semakin rumit investasi maka makin mudah akan kehilangan uang di sana. Kembali ke persoalan Anda, Kiyosaki menegaskan, "Ingat, salah satu tujuan industri keuangan adalah membuat orang bingung." Jadi, sebaiknya hindari investasi yang tidak Anda pahami.
"Pay Yourself First Concept" Apakah selama ini Anda tidak mampu menabung dan berinvestasi demi masa depan yang cemerlang dan mandiri? Apakah gaji ternyata tak bersisa (tidak cukup) untuk memampukan Anda memiliki tabungan atau investasi? Bila jawabannya "ya", berarti Anda menjalankan konsep keuangan yang kuno dan keliru. Tidak perlu bersedih karena Anda tidak sendiri. Mungkin selama ini konsep menabung Anda adalah di akhir bulan. Ketika ada uang sisa dari belanja kebutuhan diri dan bulanan baru Anda menabung. Namun, bila ternyata di akhir bulan uang tidak bersisa, malah defisit, maka Anda pun melewatkan menabung di bulan itu.
Cara tersebut tidak akan membuat kaya. Sekarang cobalah untuk mulai menggunakan konsep baru, pay yourself first at 20 percent. Maksudnya adalah menyisihkan terlebih dahulu bagi masa depan di muka sebesar 20 persen sebelum membelanjakan untuk kebutuhan lain dan keperluan biaya bulanan.
Konsep baru: Income (pendapatan) - Saving (masa depan) = Expenses (kebutuhan hari ini)
Mengapa 20 persen? Selama ini banyak yang menganjurkan bahwa cukup menabung atau menyisihkan sebesar 10 persen saja. Namun, menurut saya angka ini sangat tidak memadai. Angka ini berasal dari standar luar negeri yang angka inflasi mereka berkisar antara 3-5 persen per tahun. Dengan demikian, menabung atau berinvestasi sebesar 10 persen atau sama dengan 2 kali angka investasi, jadi sudah dianggap memadai. Sedangkan angka inflasi di Indonesia, sebesar 8-10 persen (padahal inflasi riil di pasar bisa saja lebih dari itu) sehingga saya anjurkan untuk memakai angka 20 persen untuk mengamankan dan memastikan masa depan Anda sendiri.
Mulailah dari 1 persen Bila Anda sulit untuk menyisihkan langsung pada angka 20 persen maka mulailah menyisihkan dari angka 1 atau 2 persen pada bulan pertama, dan kemudian tambahkan angka yang sama pada bulan berikut dan seterusnya. Sehingga pada bulan ke-10 sampai ke-20 angka tersebut sudah tercapai.
Kalahkan diri Anda Bila mampu mendisiplinkan diri dan mengalahkan keinginan-keinginan yang kurang produktif untuk melakukan konsep ini maka Anda akan sangat mudah mencapai berbagai tujuan-tujuan keuangan di masa depan. Memang sangat sulit dan mungkin paling sulit untuk mengalahkan diri sendiri. Namun percayalah, bila mampu mengalahkan diri sendiri maka dunia akan mudah Anda taklukkan.
(Freddy Pieloor, CFP/Majalah Chic)
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:07 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Wed Aug 18, 2010 2:10 pm | |
| MENGENALI PRODUK INVESTASI SESUAI RISIKONYA Senin, 26/7/2010 | 14:08 WIB KOMPAS.com — Jika Anda sudah lebih mahir mengelola keuangan (baca Trik Menghabiskan Gaji Tanpa Rasa Bersalah), maka tahapan lanjutan yang sebaiknya dilakukan adalah berinvestasi. Anda tentu ingin menyiapkan dana untuk masa depan anak dan keluarga bukan? Namun, kadang sulit mengejar tingginya harga barang dan jasa yang terkena imbas inflasi yang meningkat setiap tahun.
Ahmad Gozali, perencana keuangan, menjelaskan, investasi merupakan kebutuhan masa depan dengan jumlah yang besar di kemudian hari. Pastikan Anda sudah lebih dahulu memiliki tabungan agar investasi bisa berjalan optimal.
"Sebaiknya jangan menggunakan dana investasi untuk kebutuhan sehari-hari. Karenanya, pastikan Anda sudah lebih dahulu menabung sebagai dana cadangan. Untuk karyawan, sebaiknya menabung 3-6 kali dari pengeluaran bulanan. Sedangkan untuk pengusaha sebanyak 6-12 kali dari pengeluaran bulanan. Untuk pegawai negeri sipil, masih aman menabung 1-2 kali dari pengeluaran bulanan karena risiko berhenti kerja atau PHK sangat kecil. Dana ini digunakan untuk membiayai hidup selama 3-4 bulan tanpa penghasilan (PHK atau berhenti bekerja)," jelas Gozali dalam workshop keuangan bertema "Salary vs Selera", yang diadakan oleh EXPERD di Barcode Kemang Jakarta, Sabtu (24/7/2010).
Tujuan investasi harus jelas, tegas Gozali. Penting untuk mengenali ragam jenis investasi dari urutan risiko terendah hingga tertinggi. Gozali menyebutkan jenis investasi yang disebutnya sebagai tangga investasi:
Dana cadangan Dana cadangan lebih kepada tabungan. Pastikan Anda sudah menyiapkan dana ini sebelum memilih tiga jenis investasi berdasarkan tingkat risiko. Produk dana cadangan bisa berupa tabungan, deposito, atau emas. Jumlahnya mulai dari tiga kali dari jumlah pengeluaran rutin setiap bulan. "Jumlah pengeluaran biasanya selalu lebih tinggi dari pendapatan. Karenanya, perlu disiapkan dana cadangan dengan menghitungnya dari biaya pengeluaran, bukan penghasilan," jelas Gozali.
Investasi risiko rendah Investasi ini termasuk kategori jangka pendek. Produknya, tabungan berjangka, valas, emas, sukuk atau obligasi syariah, pasar uang, asuransi investasi, ORI, reksa dana, atau unit link.
Investasi risiko menengah Valas, properti, reksa dana, atau unit link bisa menjadi pilihan investasi kategori risiko menengah.
Investasi risiko tinggi Bursa saham termasuk instrumen investasi yang berisiko paling tinggi, selain valas atau indeks. Reksa dana atau unit link berbentuk saham juga sangat berisiko tinggi.
Dengan mengenali investasi berdasarkan risiko, Anda bisa lebih bijak memilih investasi. Selain tentu saja terdapat sejumlah faktor yang menentukan sebaiknya Anda berinvestasi di produk apa. Portofolio investasi menjadi faktor pertimbangan lain dalam memilih investasi yang tepat.
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:24 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Sat Aug 21, 2010 8:35 pm | |
| MEMILIH INVESTASI SESUAI USIA KOMPAS.com — Memperbaiki kondisi finansial bisa dimulai dengan menabung, lalu lanjutkan dengan investasi. Jadi, sebaiknya mulai bedakan antara keinginan dan kebutuhan. Termasuk keinginan berinvestasi dengan melihat portofolio (profil) investasi. Sebaiknya hindari mengambil jalan pintas dengan memilih sembarang investasi. Memilih produk investasi juga membutuhkan perhitungan dengan menganalisis portofolio, yakni usia dan status Anda.
Ahmad Gozali, perencana keuangan, menyatakan, setiap orang memiliki portofolio investasi yang berbeda. Melihat dari kebutuhan, usia, dan statusnya. Apakah Anda lajang tetapi menjadi tulang punggung keluarga, atau lajang yang tidak menanggung kebutuhan orang lain. Apalagi bagi yang sudah menikah, perhitungan cermat sangat diperlukan.
"Portofolio investasi sangat tergantung perhitungan setiap individu, tidak pernah bisa berlaku mutlak. Melihat kebutuhan, usia, bahkan jumlah anak yang ditanggungnya," papar Gozali dalam workshop keuangan bertema "Salary vs Selera", yang diadakan oleh EXPERD di Barcode, Kemang, Jakarta, Sabtu (24/7/2010). Memilih investasi berdasarkan portofolio tak bisa sembarangan. Bahkan, jika perlu, konsultasikan dengan pakar sebelum memutuskan produk investasi yang tepat sesuai kemampuan dan kebutuhan. Sebagai gambaran, Gozali membagi portofolio investasi sebagai berikut:
- Usia 20-30 tahun Pada usia produktif ini, investasi risiko rendah dan tinggi masih cukup aman. Komposisinya bisa seimbang (50:50). Produk investasi cukup beragam, mulai dari emas, asuransi investasi, unit link hingga saham. (baca Mengenali Produk Investasi Sesuai Risikonya)
- Usia 30 - 40 tahun Pada usia ini, fokus investasi sebaiknya kepada produk dengan risiko menengah. Komposisinya lebih dominan (60-70 persen). Instrumen investasinya bisa berupa properti, reksa dana, dan unit link. Kurangi investasi pada produk berisiko rendah dan hindari investasi berisiko tinggi.
- Usia di atas 50 tahun Mendekati masa pensiun, sebaiknya Anda fokus berinvestasi dengan produk berisiko rendah, komposisinya 50 persen. Salah satu produk investasi rendah risiko yaitu ORI. Anda masih aman berinvestasi produk berisiko menengah, tetapi sebaiknya kurangi investasi berisiko tinggi.
- Usia pensiun Gozali menyarankan, sebaiknya jual investasi berisiko menengah dan tinggi yang sudah Anda miliki sebelumnya. Boleh saja menyisakannya, tetapi porsinya masing-masing 10 persen saja untuk investasi risiko menengah dan tinggi. Selebihnya, 80 persen sebaiknya berinvestasilah di produk dengan risiko rendah, emas salah satu contohnya.
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:34 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Tue Aug 24, 2010 8:21 pm | |
| MAU 'INVEST' TAPI TAKUT RUGI Jumat, 23/7/2010 | 14:40 WIB KOMPAS.com - Tren pengelolaan uang saat ini bukan sekadar menabung, tapi juga melakukan inovasi keuangan. Inovasi keuangan, menurut praktisi keuangan Elvyn G Masassya, bisa dilakukan dengan cara pemilihan investasi yang tepat. Pengertian investasi yang tepat di sini adalah bagaimana menyuruh uang Anda ”bekerja” untuk Anda (baca: Membuat Uang "Bekerja" untuk Anda).
Meskipun demikian, masih banyak perempuan yang merasa takut untuk mulai berinvestasi. Mungkin ada di antara Anda yang sudah ditawari menjadi investor kecil-kecilan untuk bisnis teman Anda, tetapi Anda tolak karena khawatir akan nasib uang Anda. Anda juga belum berani mengambil program investasi di bank atau lembaga keuangan lain. Perempuan punya kebutuhan finansial yang unik. Karena perempuan hidup lebih lama daripada pria, tentu uang Anda pun harus lebih tahan lama, bukan? Perempuan juga harus bersiap hidup sendiri, entah karena bercerai, atau memilih untuk tidak menikah. Karena itu, Anda pun perlu bersiap mengambil tanggung jawab kebebasan finansial untuk Anda sendiri.
Tetapi apa sih, yang bikin Anda takut berinvestasi? "Ketakutan utamanya adalah takut kehilangan uang. Butuh waktu lama bagi kebanyakan orang untuk mendapatkan uang, tapi kita bisa saja menghilangkannya hanya dalam beberapa detik di pasar saham. Banyak orang yang enggan terlibat dalam pasar saham, karena risikonya yang tidak main-main. Tapi (ketakutan) ini wajar, kok," ujar Amanda Adkisson, PhD, dari Mays Business School, Texas A&M University.
Menurutnya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa perempuan cenderung mengelola uangnya secara konservatif. Namun meskipun alasannya karena takut, hal ini juga menunjukkan bahwa perempuan lebih cerdas untuk tidak gegabah mengambil tindakan. Tentunya mengingat aktivitas trading itu mahal, dan potensi kehilangannya cukup besar.
Takut rugi juga bukan satu-satu alasan mereka. "Takut kalau mereka dimanfaatkan, atau takut membuat kesalahan investasi," tukas Richard Kahler, perencana keuangan dari Kahler Financial Group. Bahkan, ada pula ketakutan akan sesuatu yang belum mereka ketahui akan terjadi. Karena, menurut riset dari Prudential Financial, satu dari dua perempuan merasa kurang memahami apa itu saham, obligasi, atau reksadana.
Mengubah cara berpikir Jika kurangnya pengetahuan adalah alasan Anda merasa takut, tentu Anda bisa mengatasinya dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya. Entah itu dari buku-buku, majalah, internet, atau menghadiri workshop tentang investasi. Ketika Anda sudah lebih pede, dan sudah merasa siap untuk mengeksplorasi investasi ini pun, Anda bisa berkonsultasi dengan perencana keuangan lebih dulu.
Perencana keuangan akan membantu Anda mengembangkan strategi secara menyeluruh, termasuk memahami resikonya. Begitu Anda mendapatkan masukan seperti ini, Anda akan lebih mampu menentukan tipe investasi yang sesuai dengan kondisi Anda, demikian menurut Karen Lawrence-Webster, praktisi keuangan dan divisional vice president Axa Professionals.
Langkah pertama untuk mengatasi rasa takut untuk berinvestasi adalah mengubah cara berpikir Anda mengenai hal tersebut. Investasi pada dasarnya adalah membuat uang bekerja setelah Anda memilih produk yang cocok, dan memutuskan tingkat risiko yang bersedia Anda terima. “Setiap investasi pasti punya resiko. Perempuan harus menyadari toleransi resiko sekaligus toleransi uang kembali. Aktivitas keuangan Anda pasti akan membutuhkan alokasi aset, yaitu bagaimana Anda menginvestasikan dana Anda untuk saham, obligasi, atau pasar uang," ungkap Lawrence-Webster.
Yang perlu Anda ketahui, alokasi aset yang terbaik pun tidak akan melindungi Anda dari kerugian secara periodik. Sisi baiknya, hal itu akan membantu Anda lebih cermat dalam proses pengambilan keputusan. Untuk itu, Anda perlu mengambil langkah kecil dulu. Mulailah, misalnya, dengan berinvestasi dengan reksadana. Ikuti naik-turunnya aktivitas tersebut selama beberapa bulan, sebelum akhirnya menyerahkan uang lebih banyak untuk diinvestasikan.
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:35 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Tue Aug 24, 2010 8:22 pm | |
| LAKUKAN INVESTASI MAKA ANDA AKAN KAYA Senin, 25/10/2010 08:30 WIB Taufik Gumulya - detikFinance Jakarta - Kita semua mengetahui bahwa aset adalah suatu yang sangat berharga dan manusia merupakan aset yang paling sangat berharga karena merupakan anugrah dari Tuhan Sang Pencipta. Jika dipilah, maka ada bermacam macam aset di muka bumi ini, namun yang dibahas disini hanya terbatas pada aset yang berhubungan dengan perencanaan keuangan utamanya aset finansial saja. Berbicara mengenai penambahan aset, alangkah bijak jika kita melakukan evaluasi terhadap kekayaan (aset) bersih yang kita miliki. Aset atau kekayaan bersih adalah selisih dari total kekayaan atau harta yang anda miliki dikurangi oleh seluruh utang yang ada.
Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut: H (Harta) - U (Utang) = KB (Kekayaan Bersih)
Lalu apa yang dimaksud dengan kekayaan alias harta itu?, adalah segala sesuatu materi yang anda miliki dan memiliki nilai jual (secara ekonomis), misalkan:
1. Saldo pada Bank (tabungan, deposito & giro); 2. Nilai pasar atas aset investasi (obligasi, reksa dana & saham); 3. Nilai pasar perhiasan emas murni (logam mulia); 4. Nilai tunai asuransi jiwa; 5. Nilai pasar property anda (perhitungannya adalah harga realisasi penjualan property sekelas dan terdekat + nilai jual objek pajak dibagi dengan 2); 6. Nilai pasar kendaraan (mobil, motor); 7. Nilai pasar peralatan rumah tangga (peralatan dapur, elektronik, dll); 8. Nilai pasar perabotan rumah (furniture), nilai barang pribadi, dll.
Kemudian apa yang dimaksud dengan utang?, adalah seluruh sisa pinjaman (pokok dan bunga) yang anda miliki (ingat pinjaman bukan penyertaan modal investasi dari pihak lain kepada anda), misalkan:
1. Utang jangka pendek (maksimal 1 tahun); 2. Jangka menengah diatas 1 tahun hingga 5 tahun; 3. Utang jangka panjang diatas 5 tahun.
Pertanyaan berikut adalah bagaimana cara meningkatkan aset tersebut?, lakukanlah investasi, berikut adalah langkah-langkahnya:
1. Lakukan investasi dengan jumlah minimal 10% dari pendapatan anda;
2. Tentukan sasaran (target) investasi tersebut, misal untuk dana pendidikan anak saat masuk universitas atau untuk persiapan membeli rumah baru atau mungkin untuk berlibur dengan keluarga?, dll.;
3. Tentukan waktu yang tersedia, berdasarkan poin 2 didapat waktu yang tersedia, misal untuk dana pendidikan tersedia 10 tahun (bagi orang tua yang memiliki anak dengan usia 8 tahun), dana untuk membeli rumah direncanakan 5 tahun dari sekarang dan untuk dana berlibur dibutuhkan waktu (misalnya) 9 bulan dari sekarang;
4. Tentukan instrumen investasi anda berdasarkan waktu yang tersedia, bentuklah portfolio investasi pribadi anda, misal sebagai berikut: a.Waktu tersedia kurang dari 1 tahun, Reksa Dana Pasar Uang (RDPU) dengan kombinasi pada deposito; b.Waktu tersedia antara 1 – 3 tahun, Reksa Dana Pendapatan Tetap (RDPT)dikombinasi dengan Reksa Dana Campuran (RDC); c.Waktu tersedia antara 3 – 5 tahun, Reksa Dana Campuran (RDC) dengan kombinasi Reksa Dana Saham (RDS) serta jika memungkinkan (tergantung besar aset tunai anda) dapat ditambah dengan sedikit dikombinasi pada pembelian dan penjualan saham (trading) di bursa efek; d.Diatas 5 tahun, Reksa Dana Saham (RDS) sebagian besar, dengan kombinasi investasi pada trading saham (sebagian kecil); e.Catatan tambahan untuk poin ‘c’ dan ‘d’ sangat dianjurkan hanya bagi mereka yang telah memiliki aset tunai bersifat likuid berupa dana darurat yang telah mencapai 6 hingga 12 kali rata-rata pengeluaran per bulannya;
5. Lakukan proteksi atas aset finansial anda dengan membeli asuransi jiwa melalui produk tradisional dengan jenis YRT (Yearly Renewable Term) yakni produk yang hanya memberikan uang pertanggungan tanpa ada unsur investasi ataupun tabungan. Mengapa jenis ini?, karena memiliki uang pertanggungan yang besar dengan premi yang minimal, sedangkan asuransi yang dikombinasikan dengan investasi (unit link) terbukti biaya di 5 tahun pertama adalah sangat mahal.
6.Lakukan monitoring terhadap butir 4 diatas, lihat perkembangan dana investasi versus target minimal yang harus tercapai.
Setelah langkah untuk meningkatkan aset melalui investasi dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah kembali melakukan evaluasi secara berkala terhadap kekayaan bersih anda, berikut adalah formulasi Rasio Ideal Kekayaan Bersih (minimal , secara matematis: Us (Usia) X PT (Pendapatan Tahunan) / 10 >= 3,5 PT (Pedapatan Tahunan) Jadi setelah anda melakukan investasi silahkan evaluasi (berkala tahunan), apakah:
* KB (Kekayaan Bersih) anda sudah berada >= 3,5 PT atau * KB (Kekayaan Bersih) anda sudah berada < 3,5 PT
Untuk jelasnya lihat tabel contoh dibawah ini, dua orang pekerja dengan jabatan yang berbeda: Uraian Direktur Karyawan Usia (tahun) 35 35 Pendapatan/Bulan (Rata-rata) Rp 35.000.000 Rp 2.500.000 Pendapatan/Tahun Rp 420.000.000 Rp 30.000.000 Kekayaan Bersih Rp 850.000.000 Rp 125.000.000
Penjelasan /Analisa : Total kekayaan bersih sang Direktur Rp 850 juta, kekayaan bersih sang Karyawan hanya sebesar Rp 125 juta, namun ternyata sang Karyawan lebih kaya dari sang Direktur, ini disebabkan karena: Rasio Kekayaan Bersih Direktur Karyawan Rasio Ideal Kekayaan Bersih 2,02 4,17 Rasio Ideal Kekayaan Bersih (minimal) 3,50 3,50
Jadi ternyata sang Direktur tidak lebih kaya dari sang Karyawan karena Rasio Kekayaan Bersih Direktur hanya 2,02 (mungkin memiliki utang yang besar disertai dengan gaya hidup yang mewah), sedangkan sang Karyawan memiliki Rasio Kekayaan Bersih yang lebih baik dari standar minimum yaitu sebesar 4,17. Jangan menyalahkan diri anda jika rasio belum tercapai, ini adalah merupakan langkah awal untuk melakukan perencanaan keuangan, usahakan rasio minimal sebesar 3,50 dapat tercapai sejalan dengan perkembangan waktu. Jika ingin menjadi kaya secara finansial ada pesan yang pertama yaitu "Lakukanlah Investasi maka Anda Menjadi Kaya", jangan berpikir terbalik "Lakukan Investasi Jika Telah Kaya!'. Pesan sederhana ini silahkan dicoba karena sejauh yang kami ketahui orang terkaya didunia melakukan pesan yang pertama, selamat mencoba.
Taufik Gumulya, CFP® , Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services (qom/qom)
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:44 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Wed Aug 25, 2010 11:45 am | |
| MUDAHNYA INVESTASI REKSADANA Rabu, 25/8/2010 | 10:44 WIB KOMPAS.com - Perencana keuangan tak bosan menyarankan agar Anda menetapkan tujuan sebelum memilih produk investasi. Artinya, jika Anda sudah memiliki rencana keuangan yang jelas sesuai kebutuhan dan kemampuan, silakan menjatuhkan pilihan pada produk yang dirasa nyaman. Nah, jika tahapan menetapkan tujuan finansial ini sudah Anda lewati, saatnya memilih dan membeli produk investasi. Reksadana bisa menjadi pilihannya. Meski berisiko lebih tinggi daripada deposito, namun yakinlah risiko bisa dikelola (baca: Belajar Mengelola Risiko Saat Berinvestasi).
Eko P. Pratomo, Senior Advisor BNP Paribas yang juga penulis buku Berwisata ke Dunia Reksadana menjelaskan, berinvestasi reksadana artinya Anda tidak sedang membeli reksadana sebagai instrumen investasi namun sebagai sarana. Instrumen investasinya adalah deposito (risiko rendah), obligasi (risiko tinggi), dan saham (risiko tinggi). "Tentukan kebutuhan dan tujuan berinvestasi, karena hal ini menentukan pilihan produknya, apakah jangka pendek, menengah atau panjang. Reksadana mudah dan menjadikan Anda investor dengan mengukur kebutuhan," jelas Eko dalam talkshow "Reksadana: Kenali Dulu Baru Beli" beberapa waktu lalu.
Jenis produk Eko menjelaskan reksadana menjadi wadah investasi paling mudah karena bisa memanfaatkan pasar saham. Target hasil investasi melalui reksadana saham bisa mencapai rata-rata 18 persen per tahun. Sedangkan jika Anda berinvestasi pada produk deposito (melalui bank), target hasil investasinya kurang dari tujuh persen per tahun. Reksadana lebih menguntungkan dengan risiko yang bisa dikelola.
Berdasarkan jangka waktu, pilihan investasi melalui reksadana terbagi tiga kategori. Investasi jangka pendek bisa melalui reksadana pasar uang dan atau deposito sebagai produk (instrumen investasinya). Sedangkan jangka menengah, investasi bisa dilakukan pada reksadana pendapatan tetap dan campuran. Investasi reksadana jangka panjang bisa memilih instrumen saham. Pilihan produk lain pada investasi reksadana bisa dengan reksadana terproteksi atau reksadana syariah.
"Tidak semua jenis reksadana berisiko tinggi seperti saham," katanya. Justru investasi reksadana memudahkan calon investor, terutama bagi mereka yang memiliki pengetahuan, informasi, dan dana yang terbatas namun menginginkan kemudahan.
Karakter investor Sebagai investor, ketika Anda membeli produk reksadana, Anda bisa memonitor kinerja produk melalui fact sheet yang banyak dipublikasikan media. Reksadana juga memiliki karakter dana likuid. Anda bisa menjual dan membeli kapan saja, dengan melihat kinerja produk. Lalu mencairkan dana hasil investasi dari produk tersebut dalam jangka waktu tertentu (umumnya tiga hari masa pencairan). Inilah yang disebut Eko, sebagai investor yang memiliki karakter buy and hold.
Namun, katanya lagi, ada juga investor yang tipenya melakukan kontribusi reguler. Artinya, investor secara rutin menambahkan dana investasinya dalam jangka panjang, tentunya untuk tujuan tertentu sesuai perencanaan keuangannya. Misalnya, untuk mempersiapkan dana pensiun 20 - 30 tahun ke depan. Dengan begitu, investor tak mudah menjual dana likuid pada investasi reksadana, karena tujuannya adalah meraih target nilai investasi tertentu untuk kebutuhan masa mendatang.
Institusi pengelola dana Dana investasi melalui reksadana dikelola oleh dua institusi, manajer investasi dan bank kustodian. Begitu Anda membeli produk reksadana, melalui agen atau langsung dari manajer investasi, maka dana akan dikelola kedua institusi tersebut. Sebagai investor, Anda bisa memonitor kinerja produk dari laporan Nilai Aktiva bersih (NAB) yang biasanya dipublikasikan di berbagai media.
Jika reksadana mudah, lantas apa yang masih menghalangi Anda berinvestasi? Toh risiko bisa dikelola, asalkan Anda membekali diri dengan berbagai informasi dan pengetahuan seputar investasi. Selamat berinvestasi. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Wed Aug 25, 2010 11:47 am | |
| 3 LANGKAH MEMULAI INVESTASI REKSADANA Rabu, 25/8/2010 | 11:02 WIB KOMPAS.com - Jika sudah mantap dengan tujuan finansial Anda, saatnya memulai berinvestasi. Prinsip utama berinvestasi adalah membekali diri dengan informasi selengkap mungkin agar Anda tak tersesat atau bahkan merasa terjebak dengan pilihan instrumen investasi. Jika memilih reksadana, berikut tahapannya:
1. Cari informasi dan pilih manajer investasi Manajer investasi (MI) merupakan institusi yang mengelola, menganalisa, dan mengambil keputusan pada investasi yang Anda tanamkan melalui reksadana. Sedangkan institusi lain yang mengelola reksadana adalah bank kustodian yang fungsinya lebih sebagai penyimpan dana.
Sebelum memilih MI sebaiknya kumpulkan banyak informasi. Lalu pilih yang sekiranya nyaman dan memudahkan bagi Anda. Ada MI yang menjual langsung produk reksadana. Ada pula MI yang menjual produk melalui agen (dalam hal ini bank). Seperti BNP Paribas, institusi ini tidak menjual produk reksadana secara langsung, namun bekerjasama dengan berbagai bank ternama untuk menjual ragam produknya. Jadi, Anda memilih bank (bisa saja bank tempat Anda menjadi nasabah adalah juga bank mitra BNP Paribas), lalu membeli produk melalui bank tersebut.
Sedangkan Panin Sekuritas dan PT Samuel Aset Manajemen misalnya, menjual langsung produk reksadana. Artinya, jika Anda memilih salah satu institusi keuangan ini sebagai manajer investasi, Anda bisa langsung membeli produk di sini tanpa melalui agen (bank). Pilihlah MI yang memberikan kenyamanan dan kemudahan bagi Anda. Namun sebelum memilih, perhatikan juga prospektus serta laporan kinerja produk dari setiap MI. Anda bisa mendapatkan informasinya melalui berbagai media seperti surat kabar atau website resmi institusi tersebut.
"Pelajari bagaimana track record institusi dengan melihat fact sheet (laporan kinerja), bisa juga dengan melihat informasi di bapepam.co.id untuk mengetahui apakah institusi tersebut pernah mendapatkan peringatan atau tidak. Total dana yang dikeluarkan MI juga menunjukkan sejauhmana MI tersebut terpercaya. Semakin banyak dana yang dikeluarkan MI, artinya semakin terpercaya," papar Simon Robertus, marketing manager PT Samuel Aset Manajemen kepada Kompas Female, di sela talkshow "Reksadana: Kenali Dulu Baru Beli" beberapa waktu lalu.
2. Memilih dan membeli produk Apapun pilihan manajer investasi Anda, tanyakan dengan detail produknya, dan bagaimana kinerjanya. Jika melalui agen (bank), tanyakan pada customer service di bank tentang berbagai informasi seputar produk reksadana.
Eko P. Pratomo, Senior Advisor BNP Paribas yang juga penulis buku Berwisata ke Dunia Reksadana, memaparkan pilihan produk reksadana sebagai berikut: * Reksadana terproteksi, target rata-rata hasil investasi nol persen per tahun, jangka waktu tiga tahun. * Reksadana pasar uang, target rata-rata hasil investasi tujuh persen per tahun, jangka waktu kurang dari lima tahun. * Reksadana pendapatan tetap dan campuran konservatif, target rata-rata hasil investasi sepuluh persen per tahun, jangka waktu 5-10 tahun. * Reksadana campuran moderat/agresif, target rata-rata hasil investasi 15 persen per tahun, jangka waktu 10-15 tahun. * Reksadana saham, target rata-rata hasil investasi 25 persen per tahun, jangka waktu lebih dari 15 tahun.
Sebagai prosedur pembelian produk, biasanya Anda akan diminta mengisi formulir pembukaan rekening dan formulir pembelian produk. Lalu dokumen asli pembukaan rekening dan pembelian produk ini dikirimkan ke manajer investasi. Lantas berapa nilai investasinya? Jumlahnya beragam, tergantung produk dan kebutuhan Anda. "Ada yang nilai investasinya dimulai dari Rp100.000," kata Eko kepada Kompas Female. Cukup terjangkau untuk memulai investasi bukan?
Sementara Simon menyebutkan, institusinya menawarkan tiga jenis produk senilai Rp 250.000 untuk reksadana campuran (konvensional) dan dua produk lainnya masing-masing Rp 1 juta berupa reksadana pendapatan tetap dan reksadana campuran. Keduanya menggunakan prinsip syariah.
Untuk membantu Anda memilih produk, lihat juga Nilai Aktiva Bersih (NAB) yang tertera dalam laporan kinerja produk di berbagai media termasuk surat kabar. NAB merupakan indikator untuk menentukan harga beli maupun harga jual dari setiap unit penyertaan reksadana. NAB menjadi penting diketahui karena beberapa produk reksadana bersifat likuid dan bisa dijualbelikan kapan saja. Namun ada juga produk yang dijual dalam waktu khusus. Pilihan produk reksadana kembali kepada tujuan awal Anda berinvestasi, apakah jangka pendek atau panjang.
3. Membuat portfolio investasi Eko menjelaskan, terdapat tiga profil investor, yakni investor konservatif, moderat, dan progresif/growth. Berlandaskan ketiga jenis profil investor inilah, Anda bisa membuat portfolio investasi yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Tentu saja, akan lebih memudahkan jika sebagai investor Anda sudah mengetahui dengan jelas tujuan investasi sejak awal.
Portfolio dibutuhkan agar investasi bisa dimanfaatkan dengan tepat. Artinya, berapa persen sebaiknya dana investasi dimanfaatkan dalam instrumen saham atau instrumen lainnya. Hal ini tentu saja kembali kepada kebutuhan dan tujuan Anda berinvestasi, apakah jangka pendek, menengah atau panjang. ""Investor harus tahu golnya saat membuat portfolio. Membuat portfolio investasi bisa dilakukan investor bersama pihak bank (sebagai agen penjual reksadana, RED)," tukas Eko. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Wed Aug 25, 2010 11:49 am | |
| 6 POIN UNTUK MEMILIH REKSA DANA Kamis, 05/02/2009 10:50 WIB - Taufik Gumulya Jakarta - Dalam ilmu perencana keuangan, reksa dana merupakan suatu pilihan kendaraan yang dapat digunakan agar mencapai target kebutuhan dana dikemudian hari. Untuk mengetahui reksa dana yang baik tentu ada beberapa hal yang dapat dipertimbangkan oleh investor yakni:
1. Return yang merupakan kinerja reksadana secara historis harus optimal, sesuai dengan tingkat resiko yang dihadapinya, contoh Reksa dana Saham (RDS) lebih beresiko dibanding dengan Reksa dana Pendapatan Tetap (RDPT) namun Reksadana Pendapatan Tetap lebih berisiko dari Reksa dana Pasar Uang (RDPU). Tolok ukur (Benchmark) return harus relevan dengan jenis reksa dana tersebut, contoh:
* IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) dengan RDS; * Indeks Obligasi (Pemerintah dan Swasta) dengan RDPT, * Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan RDPU.
Satu hal yang mesti dimengerti bahwa kinerja masa lampau (historis) bukan merupakan jaminan bagi pencapaian dimasa mendatang (dapat lebih tinggi atau lebih rendah) namun kinerja atau return secara historis merupakan hasil kerja berjalan atas reksadana tersebut.
2. Sharpe Ratio (SR), mengukur konsistensi dari kinerja return dalam jangka yg relatif panjang. Untuk menghitung ini wajib menghitung Standar Deviasi (SD) terlebih dahulu. Jadi 'excess' return dari Reksa dana (RD) tsb terhadap instrumen yang relatif bebas resiko (Sertifikat Bank Indonesia) dibagi dengan SD. Catatan (metode Risk and Return): SD semakin rendah berarti RD relatif tidak berisiko, sedangkan SR semakin tinggi berarti kinerja relatif lebih baik.
3. Portfolio, evaluasi apakah memiliki likuiditas yang relatif tinggi, untuk portfolio obligasi dilihat ratingnya, untuk saham sebaiknya dilihat apakah termasuk dalam LQ45 (Indeks LQ45 adalah saham yang liquid, mudah untuk di jual-beli serta memiliki nilai kapitalisasi yang besar).
4. Jumlah Dana Kelolaan atau Asset Under Management (AUM) menunjukan seberapa besar kepercayaan masyarakat terhadap RD tersebut (sesuai dengan lamanya RD dan kecanggihan tenaga pemasar RD tsb tentunya). Kalau dari sudut pandang kami faktor pertumbuhan/perkembangan dana juga harus diperhatikan, sebaiknya kita minta data pertumbuhan AUM terlebih dahulu selain kita lihat perkembangan returnnya dalam kurun waktu tertentu. Perlu dicatat bahwa semakin besar AUM maka return berpotensi melambat.
5. Biaya, perhatikan biaya masuk (subscription), biaya manajemen, biaya switching (jika ada) serta biaya keluar (redemption).
6. Perhatikan komposisi investasi, yang dimaksud adalah harus sesuai dengan prospektus RD tsb. Beberapa RD (tidak banyak) kadang melanggar batas komposisinya walau hanya sedikit. Ada hal menarik yang harus diperhatikan yakni ketentuan Bapepam minimal 2% dari AUM harus berbentuk kas.
Lalu bagaimana kita mengetahui semua kondisi tersebut diatas? Hal ini dapat ditanyakan langsung melalui Agen Penjual Reksa dana atau langsung ke Manajer Investasi yang bersangkutan. Selain itu dapat dilihat di situs (website) Bapepam-LK jika kanal Pusat Informasi Reksadana yang disediakan oleh sudah pulih (saat berita ini ditulis kanal tersebut dalam perbaikan).
Taufik Gumulya, Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:54 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Wed Aug 25, 2010 11:51 am | |
| INVESTASI BUKAN SPEKULASI Rabu, 10/02/2010 08:28 WIB Taufik Gumulya - detikFinance Jakarta - Pembaca yang bijaksana, dalam artikel kali ini ingin saya sampaikan bahwa setelah kita melakukan evaluasi penghasilan langkah selanjutnya adalah melakukan perencanaan keuangan untuk memenuhi kebutuhan finansial dikemudian hari. Sebelum kami membahasnya, ingin kami menjawab beberapa pertanyaan yang terkait dengan artikel yang lampau. Banyak yang menyatakan bahwa contoh pada artikel yang lalu jumlah penghasilannya cukup besar, dapat kami jelaskan bahwa yang terpenting bukan melihat angkanya namun lihatlah formulasinya, kunci utama bukan besarnya penghasilan tetapi terapkan formulasi perhitungan penghasilan sehingga masuk dalam kondisi penghasilan yang wajar.
Jadi jika formulasi (pada artikel yang lampau) diterapkan maka hasil akhir adalah potensi peningkatan aset. Sekali lagi bahwa potensi peningkatan aset tidak bergantung kepada besar kecilnya penghasilan namun tempatkan posisi income anda pada kisaran koridor pengahasilan wajar hingga ideal, untuk menghitungnya silahkan menggunakan formula yang dapat dibaca pada artikel yang lalu.
Pertanyaan berikut dari pembaca adalah bagaimana caranya kita melakukan penghematan?
Ada kiat sederhana yang mudah namun memerlukan kedisiplinan yaitu buatlah dafttar kebutuhan dan bukan keinginan. Misal kebutuhan pendidikan anak, sangat berlebihan jika orang tua memaksakan diri dengan membayar biaya yang tinggi di sebuah sekolah swasta sementara jumlah penghasilan sangat pas-pasan, lebih bijaksana jika menyekolahkan anak disekolah negeri. Dalam kasus ini sekolah swasta merupakan keinginan bukan kebutuhan orang tua, sebaliknya sekolah negeri adalah sebuah kebutuhan bukan keinginan. Demikian selanjutnya buatlah skala prioritas kebutuhan dan keinginan sehingga dapat bermuara pada penghematan.
Nah sekarang marilah kita memasuki tahap selanjutnya, setelah melakukan evaluasi atas penghasilan dan membuat daftar prioritas kebutuhan dan keinginan maka tahapan berikut adalah membuat perhitungan atas besaran kebutuhan tersebut. Langkah pertama sebelum melakukan perhitungan adalah kelompokan kebutuhan anda menjadi 3 (tiga) kategori: 1.Kebutuhan jangka pendek, sasaran pencapaian < 3 tahun; 2.Kebutuhan jangka menengah, sasaran pencapaian 3 s/d 5 tahun; 3.Kebutuhan jangka panjang, sasaran pencapaian > 5tahun.
Setelah melakukan pengelompokan maka selanjutnya adalah menghitung besar dana yang dibutuhkan pada saat nanti, gunakan metode perhitungan 'Nilai Waktu Uang' atau 'Time Value of Money', contoh sederhana perhitungan dana pendidikan, misalkan dana untuk masuk universitas diperlukan dana saat ini (tahun 2010) sebesar Rp 80.000.000,-. Dana harus tersedia di tahun 2025, maka waktu yang tersedia untuk menyiapkan dana tersebut adalah 15 tahun dihitung dari saat ini. Jangan lupa untuk menghitung kenaikan dana setiap tahunnya gunakan besaran inflasi rata-rata di Indonesia (data didapat dari Biro Pusat Statistik) dikalikan dengan 1,5. Mengapa demikian karena berdasarkan penelitian kami, kenaikan biaya pendidikan melebihi inflasi negara tersebut dimanapun berada.
Berikut adalah contoh sederhana, jika rata-rata inflasi di Indonesia adalah 9% maka untuk menghitung biaya pendidikan kelak faktor inflasi menjadi 9% x 1,5 = 13,5%. Jadi untuk mendapatkan dana pendidikan kelak selama 15 tahun gunakan formulasi nilai yang akan datang atau dikenal dengan nama 'Future Value' berikut rumusnya: FV = PVx (1+inflasi) dengan demikian dana pendidikan kelak adalah: FV = Rp 80.000.000x(1+13,5%) atau sama dengan Rp 534.598.714,- dan jika dana tersebut dipersiapkan dari sekarang serta ditempatkan pada investasi dengan tingkat pengembalian 18% maka jumlah dana yang di investasikan setiap akhir bulan (pada saat terima gaji) adalah sebesar Rp 590.310,-.
Lalu dimana saya harus menempatkan dana investasi untuk pendidikan tersebut?, alangkah bijaksana jika anda dapat melakukan investasi dengan tepat serta hindari spekulasi. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah melakukan proteksi kekayaan (wealth protection) terlebih dahulu gunakan asuransi jiwa tradisional dengan jenis Yearly Renewable Term (YRT) untuk memproteksi keluarga anda jika ternyata usia anda (mohon maaf) ternyata tidak cukup panjang.
Berapa besar uang pertanggungan asuransi jiwa yang harus diterima oleh keluarga anda dalam rangka pemenuhan biaya pendidikan?
Kami menyarankan kisaran uang pertanggungan asuransi jiwa sebesar 60% s/d 100% dari nilai dana pendidikan kelak yaitu sebesar Rp 321 juta hingga Rp 535 juta, dengan kisaran premi asuransi jiwa untuk seorang tertanggung (dengan contoh usia 35 tahun) yaitu sebesar Rp 700.000,- hingga Rp 2.000.000,- pertahunnya. Jadi jika anda memiliki usia 35 tahun (sesuai contoh) dan ditawarkan asuransi jiwa dengan uang pertanggungan sebesar Rp 535 juta lalu anda harus membayar premi diatas Rp 2.000.000 setiap tahunnya maka sudah dipastikan bahwa asuransi tersebut tidak tepat, silahkan anda cari produk asuransi lain yang memiliki kisaran premi pada kisaran jumlah diatas, karena bagaimanapun produk asuransi jiwa sangat beraneka macam.
Berikutnya adalah penempatan investasi dana pendidikan, saran kami adalah tempatkan dana tersebut pada reksa dana saham dengan jumlah sebesar Rp 590.500,- per bulannya dan disertai target pencapaian keuntungan sebesar minimal 18 % setiap tahunnya.
Mengapa ditempatkan pada reksa dana? Ini wajib dilakukan bagi mereka yang sibuk serta tidak memiliki kompetensi yang memadai untuk melakukan perdagangan saham secara langsung. Keunggulan penempatan dana di reksa dana adalah anda tidak perlu berusah payah melakukan pemantauan investasi setiap harinya karena reksa dana dikelola oleh Manajer Investasi yang telah lulus uji kompetensi di bidangnya, dialah bertugas untuk melakukan pemantauan tersebut hari demi hari. Ibarat seorang sopir yang bersangkutan telah memiliki SIM (Surat Ijin Mengemudi) yang tepat dengan kendaraan yang cukup canggih sehingga faktor resiko menjadi lebih kecil.
Ada masukan yang patut anda pertimbangkan sebelum anda memutuskan ingin membeli reksa dana yaitu demi keamanan belilah reksa dana yang memiliki dasar hukum 'Kontrak Investasi Kolekti'’ atau dikenal dengan reksa dana KIK, hindari investasi yang mengaku reksa dana tetapi sebenarnya adalah 'Kontrak Pengelolaan Dana' atau KPD, ini merupakan 'Discretionary Fund'. Mengapa demikian? Karena pada reksa dana KIK seluruh portfolio atau 'isi perut' investasi tercatat pada suatu badan yang bernama 'Bank Kustodian', sehingga seluruh pergerakan reksa dana tersebut mudah dideteksi baik oleh Bank Kustodian dan diawasi oleh Bapepam sebagai lembaga otoritas pengawas di pasar modal.
Namun bagi mereka yang sangat suka untuk melakukan investasi di saham secara langsung, tidak terlalu tertarik dengan reksa dana, untuk kelompok ini adalah mutlak untuk melakukan pelatihan di bidang perdagangan saham terlebih dahulu, sehingga mereka dapat melakukan analisa saham baik secara fundamental maupun teknikal dengan tujuan agar dapat menekan faktor resiko yang ada. Jangan pernah melakukan trading saham tanpa pelatihan yang baik karena anda akan terjerumus dalam spekulasi dan bukan investasi.
Batasan antara spekulasi dan investasi sangat tipis. Untuk menghindari spekulasi anda mutlak dan harus memiliki kompetensi yang memadai. Hal ini juga sesuai dengan masukan dari partner ahli analisa saham pada bidang Wealth Acceleration bernama Anton Seloaji yang menyatakan bahwa pelatihan yang baik akan membawa anda menjadi seorang investor yang berkualitas, sehingga resiko dapat dikelola dengan baik serta mampu ditekan semaksimal mungkin.
Saran kami untuk mereka yang melakukan investasi saham secara langsung sebaiknya tidak serta merta menempatkan 100% porsi investasi tersebut kedalam portfolio investasi saham, melainkan dapat dilakukan secara berkala dan meningkat secara bertahap. Karena bagaimanapun kesuksesan memerlukan pengalaman dan pengalaman adalah pembelajaran.
Jadi kesuksesan yang sejati adalah hasil dari pembelajaran. Tanpa pembelajaran kesuksesan menjadi kebetulan dan kebetulan adalah bagian terbesar dari spekulasi. Demikian pembaca yang bijaksana selamat melakukan investasi bukan spekulasi.
Taufik Gumulya, CFP® Financial Planner & CEO pada TGRM Perencana Keuangan.
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:48 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Fri Aug 27, 2010 5:39 am | |
| MENABUNG TAKKAN CUKUP, MULAILAH BERINVESTASI Rabu, 18/8/2010 | 13:14 WIB KOMPAS.com - Jika Anda dan suami saat ini memikirkan untuk merencanakan dana pendidikan untuk anak atau dana pensium, cara apa yang Anda pilih? Menabung atau investasi? Ambil saja contoh, rencana biaya pendidikan perguruan tinggi satu anak dalam periode 18 tahun mendatang. Karena biaya kuliah selalu naik akibat inflasi, Anda perlu menyisihkan Rp 3,5 hingga Rp 6 juta per bulan dalam bentuk tabungan. Biaya ini wajib dikeluarkan dari penghasilan Anda dan suami, di luar pengeluaran rutin lainnya. Coba kalkulasi, apakah Anda dan suami memiliki kemampuan ini?
"Menabung tidak akan cukup karena adanya inflasi. Solusinya adalah investasi dengan mengambil risiko jangka panjang, di atas 10 tahun," papar perencana keuangan Ligwina Hananto, saat talkshow "Reksadana: Kenali Dulu Baru Beli" yang diadakan tabloid Kontan beberapa waktu lalu. Ligwina menegaskan, menabung bisa dilakukan untuk kebutuhan jangka pendek, empat tahun. Misalnya untuk persiapan sekolah Taman Kanak-Kanak. Namun jika sudah menyangkut pendidikan tinggi, dibutuhkan dana yang lebih besar, dengan memperhitungkan tingkat inflasi setiap tahunnya. "Inflasi biaya pendidikan tingkat TK-SMA bisa mencapai 20 persen per tahun. Inflasi tingkat perguruan tinggi rata-rata naik 15 persen per tahun. Sekalipun ada sekolah yang tingkat inflasinya rendah, namun uang pangkal tetap tinggi," jelas Ligwina.
Inflasi menjadi pertimbangan utama mengapa investasi menjadi solusi keuangan kelaurga. Hal ini juga berlaku pada persiapan dana pensiun. Karena jika Anda mengandalkan tabungan untuk mendapatkan dana pensiun 25 - 35 tahun mendatang, maka diperlukan Rp 75 juta - Rp 135 juta per bulan. Jumlah ini terlalu besar untuk tabungan, bukan? Rasanya gaji pegawai biasa tak mencukupi kebutuhan ini.
"Jika berusia 25 tahun, dengan berinvestasi Rp 587.000 per bulan Anda mempersiapkan dana pensiun lebih mudah. Untuk usia 35 tahun, Anda bisa berinvestasi Rp 2 juta per bulan. Keduanya mendapatkan target hasil investasi yang sama sebesar 25 persen per tahunnya," ungkap Ligwina, menjelaskan bagaimana investasi memberikan solusi keuangan lebih meringankan dan menguntungkan dibandingkan menabung untuk dana pensiun.
Berinvestasi memang berisiko, namun tegas Ligwina, risiko tidak berinvestasi lebih besar daripada investasi itu sendiri. Risiko, menurutnya, tidak dapat 100 persen dihindari namun bisa diatur. Karenanya ambil risiko jangka panjang, tambahnya. Investasi sangat bisa diukur, dari tujuannya, risikonya, dan hasil investasinya. Karenanya tujuan Anda ingin berinvestasi menjadi penting. Tetapkan tujuan sekarang juga, buatlah perencanaan keuangan yang matang, dan pilih investasi yang tepat, jika tak ingin uang Anda tak bernilai di masa depan.
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:06 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Tue Aug 31, 2010 11:55 am | |
| MUDAHNYA PUNYA TABUNGAN DAN INVESTASI Senin, 30/8/2010 | 15:01 WIB KOMPAS.com — Punya tabungan, tetapi tak memiliki investasi, jelas tak lengkap. Begitu juga sebaliknya, investasi banyak, tetapi tidak memiliki dana tabungan, itu juga belum aman. Keduanya perlu dimiliki untuk mendapatkan keamanan finansial. Nah, salah satu kunci mendapatkan keamanan finansial adalah dengan menyeimbangkan tabungan dan investasi. Ini caranya:
* Prioritaskan kebutuhan Kebutuhan pokok Anda akan sandang, pangan, dan papan tentu tak bisa dihindari. Tapi, ini juga bukan berarti Anda bisa menghabiskan seluruh gaji untuk memenuhi ketiga kebutuhan tersebut. Jika Anda ingin berusaha menyisihkan lebih banyak uang, maka cobalah untuk mulai mengurangi kebiasaan makan dan minum di restoran mewah dan belanja barang-barang yang tak perlu. Dengan menurunkan sedikit semangat belanja dan jajan, Anda akan merasakan betapa banyak jumlah uang yang bisa Anda manfaatkan untuk berinvestasi.
* Tunda tabungan jangka panjang Tawaran tabungan rencana jangka panjang memang sering kali menggiurkan. Semakin lama Anda menabung, maka akan semakin banyak dana yang Anda miliki di kemudian hari. Namun, jangan lupa untuk mempertimbangkan tujuan dari tabungan Anda. Bila kini Anda belum menikah, maka Anda tentu belum perlu menyiapkan tabungan untuk biaya pendidikan anak. Ada baiknya, pilih tujuan yang lebih bermanfaat bagi Anda, seperti tabungan untuk biaya pendidikan selanjutnya. Selain mendapat hasil dari tabungan, peningkatan kualitas diri juga tentu dapat menjadi investasi berharga.
* Investasikan dana secara reguler Jika tabungan tak banyak dialokasikan di pasar dan Anda memiliki banyak uang tunai, berarti Anda berada dalam posisi yang baik. Bila saat ini 80 persen uang Anda berada di bank, sedangkan 20 persen sisanya telah diinvestasikan, sah-sah saja bila Anda ingin meningkatkan jumlah investasi menjadi 40 persen. Namun, jangan sampai Anda salah perhitungan. Ada baiknya Anda membandingkan lebih dulu bunga investasi yang satu dengan model investasi lainnya. Selain itu, cobalah membangun posisi secara perlahan dengan menginvestasikan dana secara reguler dan berkala. Selain itu, Anda juga bisa mencoba masuk ke pasar investasi ketika indeks sedang turun. Dengan begitu, keuangan Anda akan lebih aman.
* Strategi alokasi Bila Anda ingin mengembangkan aset investasi tetapi khawatir dengan risikonya, maka Anda bisa mendistribusikan dana ke dalam beberapa instrumen investasi. Cara ini bisa memperkecil risiko yang dihadapi dan bisa memberikan Anda keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan hanya menginvestasikan dana ke dalam satu atau dua jenis investasi. Selalu ingat prinsip investasi, "don't put your eggs in one basket". Selain itu, jangan lupa untuk tetap disiplin dengan anggaran. Seimbangkan dana investasi dengan pendapatan dan tetap menyisihkan uang untuk tabungan. Sebaiknya, investasikan dana maksimal 30 persen dari total pendapatan.
* Investasi realistis Agar keuangan tetap dalam kondisi aman, ada baiknya jangan terlalu mengharapkan meraup keuntungan besar. Dalam hal ini, Anda perlu mencari tahu kapan perlu membeli dan menahan aset investasi Anda. Jika saat ini harga investasi Anda sedang menurun, maka tak perlu panik dan terburu-buru menarik diri keluar dari pasar. Sebaiknya lakukan riset dan perhatikan reaksi pasar untuk mencari kesempatan menjual aset. Setelah itu, Anda juga tak perlu terburu-buru memutar uang Anda ke dalam aset investasi baru. Selamatkan lebih dulu uang Anda dalam tabungan dan lakukan riset untuk memilih jenis investasi berikutnya.
* Jangan asal investasi Sekarang ini banyak sekali tawaran investasi fiktif. Anda bisa lihat di surat kabar, janji-janji investasi yang menggiurkan. Misalnya, hanya dengan menanam modal Rp 10 juta, Anda bisa mendapatkan hasil lima kali lipat. Sebaiknya jangan mudah tergiur oleh iming-iming mendapatkan hasil besar dalam waktu singkat. Maka dari itu, sebelum Anda menanamkan uang, teliti dulu investasi tersebut. Pelajari portofolionya sehingga Anda bisa mengantisipasi risikonya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Wed Sep 01, 2010 11:32 am | |
| 6 PILIHAN INVESTASI EMAS Senin, 14 Juni 2010 KOMPAS.com - Selama ini emas dipilih sebagai salah satu penangkal inflasi, lantaran nilainya yang cenderung stabil dari tahun ke tahun. Fakta membuktikan, bila terjadi inflasi tinggi, harga emas akan naik lebih tinggi daripada inflasi. Data statistik menunjukkan, bila inflasi mencapai 10 persen, maka emas akan naik 30 persen. Bahkan, bila inflasi naik menjadi 100 persen pun, harga emas akan naik hingga 200 persen. Inilah mengapa, berinvestasi dalam bentuk emas dianggap sangat menguntungkan.
Namun, harga emas memang akan cenderung konstan bila laju inflasi rendah. Tapi, kini investasi emas tersedia dalam berbagai pilihan. Tak hanya dalam bentuk fisik, tapi juga dengan membeli saham perusahaan pertambangan emas maupun membeli kontrak emas di bursa berjangka. Nah, ini dia keunggulan dan kelemahan setiap jenis investasi emas.
1. Emas Perhiasan Bila tujuan investasi Anda untuk jangka pendek, biasanya akan sulit mendapat keuntungan dari emas perhiasan. Pasalnya, ketika Anda membeli emas perhiasan, Anda tak hanya membayar harga emasnya saja, tapi juga harus membayar ongkos pembuatannya. Biasanya, bila Anda menjual kembali ke toko emas, mereka enggan membayar ongkos pembuatannya. Jadi mereka hanya akan membayar harga emasnya saja. Karena itu, investasi emas dalam bentuk perhiasan akan lebih menguntungkan bila tujuannya jangka panjang, di atas 10 tahun. Karena harga emas sudah naik berkali-kali lipat, sehingga harga jualnya jauh lebih tinggi. Selain itu, pilihlah emas perhiasan 24 karat, karena kemungkinan untungnya jauh lebih besar.
2. Emas Batangan Investasi emas yang terbilang baik dan aman adalah investasi emas dalam bentuk batangan (emas logam mulia). Emas batangan akan lebih mudah dijual kembali dibandingkan dengan emas perhiasan. Pasalnya, ketika membeli emas batangan, Anda tak perlu membayar ongkos pembuatan. Itu berarti, Anda takkan mengalami kerugian ketika menjual emas batangan. Bila ingin berinvestasi dengan emas, pilihan yang satu ini perlu dipertimbangkan.
3. Koin Emas Koin emas ini biasa juga disebut dengan koin emas ONH (Ongkos Naik Haji), karena koin emas ini memang diharapkan bisa menjadi alternatif investasi bagi mereka yang ingin memiliki tabungan untuk mempersiapkan biaya ibadah haji. Investasi ini sebenarnya sama dengan investasi emas lain, karena memiliki harga emas yang mengikuti harga mata uang asing (dolar AS), dan aman terhadap inflasi. Koin emas ONH ini dapat dibeli dan dijual kembali di cabang-cabang PT Pegadaian di seluruh Indonesia, toko emas, dan unit pengolahan dan pemurnian logam mulia PT Aneka Tambang Tbk. Untuk ukurannya, biasanya tersedia mulai dari berat 1 gram, 5 gram, dan 10 gram. Harga satu gramnya sekitar Rp 394.000.
4. Sertifikat Emas Investasi emas tak selalu dalam bentuk fisik, bisa juga berbentuk sertifikat emas. Ini adalah selembar kertas yang menjadi bukti kepemilikan atas emas yang tersimpan pada bank di suatu negara. Pemilik sertifikat ini hanya memegang satu lembar kertas saja yang nantinya hanya dapat diuangkan pada bank terkait. Bisa dikatakan, sertifikat emas ini adalah alternatif investasi yang sangat menguntungkan dan aman. Karena Anda tak perlu mengeluarkan biaya penyimpanan emas. Berbeda dengan investasi emas dalam bentuk fisik yang memerlukan biaya penyimpanan di safe deposit box.
5. Saham Pertambangan Emas Alternatif lain, membeli saham perusahaan pertambangan emas. Jika keadaan pasar emas sedang naik, harga saham-saham perusahaan ini biasanya akan bergerak lebih cepat daripada harga emas fisik. Meski menguntungkan, namun, sebaiknya tetap hati-hati, karena risiko investasi tetap ada. Ada baiknya Anda mempelajari investasi saham terlebih dulu, agar tak kesulitan mengikuti perkembangan saham pertambangan emas Anda. Perusahaan pertambangan emas yang sahamnya dijual di pasar modal saat ini, yaitu PT Aneka Tambang, Tbk.
6. Kontrak Emas Berjangka Dengan bantuan teknologi, emas bisa diperjualbelikan sebagai komoditas di perdangan berjangka (future trading/margin trading). Artinya, Anda hanya perlu memiliki bukti administrasi atas kepemilikannya. Berinvestasi emas di Bursa Berjangka Jakarta memang terkesan fleksibel, karena Anda bisa menjual emas saat harga mahal dan membelinya ketika harga murah. Keuntungan didapat dari selisih harga jual dan beli. Untuk turut bermain di bursa berjangka, Anda cukup membayar Rp 4 juta per lot (ukuran kontraknya lot. Satu lot sama dengan 1.000 gram emas), dengan membuka rekening di salah satu pialang. Selanjutnya, nilai per kontrak (lot) akan berfluktuasi seiring dengan naik turunnya harga emas di bursa.
Selamat berinvestasi emas.
(Bestari Kumala Dewi/Majalah Chic)
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:27 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Thu Sep 09, 2010 7:09 pm | |
| INGIN BERINVESTASI, DEPOSITO ATAU EMAS? Sabtu, 17 Juli 2010, 11:42 WIB VIVAnews - Meski dianggap salah satu instrumen investasi paling aman, emas kini tidak lagi jadi primadona. Dengan harga emas Rp357 ribu per gram (data perdagangan PT Aneka Tambang Tbk per Jumat 16 Juli 2010), instrumen investasi ini masih kalah menarik dibanding deposito. Menurut survei ING, selama triwulan II-2010, investor di Indonesia cenderung memilih instrumen investasi deposito dibanding emas maupun properti. "Investor lebih menyukai strategi investasi yang seimbang dan memilih berinvestasi pada uang tunai (deposito), properti, ekuitas, dan emas," kata Direktur Utama PT ING Securities Indonesia, Dhanny Cahyadi, dalam penjelasannya mengenai hasil survei triwulanan ING.
Menurut survei itu, instrumen investasi uang tunai atau deposito selama triwulan II-2010 mencapai 97 persen, atau naik tipis dibanding triwulan I-2010 sebesar 95 persen. Sementara itu, emas persentasenya turun menjadi 71 persen pada triwulan II-2010 dibanding 74 persen (triwulan I-2010). Selanjutnya, investasi properti/real estate lokal (hunian pribadi) sebesar 61 persen dan selain hunian pribadi 39 persen.
Lalu, bagaimana dengan saham? Selama triwulan II-2010, hanya 19 persen investor berpendapat pasar saham akan meningkat pada triwulan berikutnya. Angka ini merupakan penurunan yang cukup besar dari 30 persen pada triwulan I-2010. Namun, investor tetap optimistis, karena 58 persen percaya pasar akan tetap stabil. "Angka ini naik dibandingkan 48 persen pada triwulan terakhir," tuturnya.
Sedangkan indeks harga saham gabungan (IHSG) meningkat tiga persen pada triwulan terakhir, sehingga menjadikan bursa saham Indonesia menjadi pasar berkinerja terbaik di Asia setelah Filipina. Sektor terbaik di triwulan II-2010 menurut survei ING adalah sumber daya (39 persen), informasi dan telekomunikasi (33 persen), farmasi dan kesehatan, bahan bangunan, energi, dan konstruksi serta real estate masing-masing enam persen. (umi)
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:32 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Sat Sep 18, 2010 5:16 am | |
| MENGENAL INVESTASI HARI TUA Minggu, 30 Mei 2010 | 14:27 WIB KOMPAS.com - Basic welfare adalah kesejahteraan pada tingkat yang paling dasar, yakni terpenuhinya kebutuhan sandang, pangan, papan, terjaminnya hari tua, dan terjaminnya kesehatan. Sebuah negara bisa dianggap berhasil menyejahterakan masyarakatnya seandainya kelima hal tersebut terpenuhi. Dalam realitasnya, apa yang terjadi? Mungkin dalam level tertentu, semua masyarakat Indonesia saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan. Namun, untuk papan, benar, belum semua rakyat memilikinya. Bahkan, ada yang menyewa pun tidak mampu sehingga masih ada yang terpaksa menghuni gubuk liar.
Bagaimana dengan jaminan hari tua? Ini masih menjadi isu besar. Karena di kalangan kelas menengah pun, tidak sedikit orang-orang yang pada masa mudanya berkecukupan, tetapi setelah di usia tua hidup menderita karena tidak memiliki harta dan penghasilan. Demikian juga dengan kesehatan. Masih sangat banyak kalangan yang tidak mampu berobat ke rumah sakit dan masih sangat banyak yang tidak sanggup memelihara kesehatan sehingga terserang berbagai penyakit. Kebebasan finansial mesti dimulai dengan pencapaian tingkat kesejahteraan paling mendasar, yakni kelima hal di atas. Oleh karena itu, ada baiknya dibahas, bagaimana caranya hal tersebut bisa diraih masyarakat, khususnya mengenai jaminan keuangan pada hari tua dan terjaminnya kesehatan.
Jaminan sosial Bagi para karyawan, sebenarnya sudah ada program jaminan sosial tenaga kerja, yang diselenggarakan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja, yang salah satunya dikenal dengan sebutan Jamsostek. Dalam realitas, belum semua tenaga kerja menjadi peserta Jamsostek. Masih ada persepsi bahwa menjadi peserta Jamsostek hanya menambah biaya. Secara filosofis, pandangan seperti itu keliru.
Sebagaimana dipaparkan di atas, salah satu basic welfare adalah terpenuhinya jaminan hari tua atau dalam istilah Jamsostek disebut sebagai JHT. Hal ini sebenarnya merupakan bagian dari perencanaan keuangan. Seseorang yang mulai bekerja, misalnya, selain mencari penghasilan untuk membiayai kebutuhan sehari-hari, tentu harus melakukan investasi dan menabung untuk hari tua. Tujuannya agar pada hari tua, orang tidak menderita.
Program JHT yang dikelola Jamsostek sebenarnya memiliki landasan berpikir seperti itu, yakni membantu agar para pekerja tidak menderita pada hari tua. Oleh karena itu, setiap bulan sebagian penghasilan dari pekerja disisihkan untuk membayar iuran JHT, di mana setelah pekerja memasuki usia pensiun, seluruh iuran JHT tersebut berikut imbal hasilnya diserahkan kembali kepada si pekerja. Dengan kata lain, peran Jamsostek adalah mengelola dana para pekerja dan mengadministrasikannya sekaligus memberikan perlindungan bagi pekerja.
Banyak kalangan belum memahami hal tersebut karena berbagai alasan. Iuran Jamsostek, misalnya, tidak sepenuhnya menjadi beban pekerja. Saat ini, berdasarkan ketentuan, iuran JHT Jamsostek adalah sebesar 5,7 persen dari penghasilan si pekerja. Namun, yang menjadi beban pekerja hanya 2 persen, sedangkan 3,7 persen lagi menjadi tanggung jawab perusahaan pemberi kerja. Bagi sementara orang, angka 2 persen itu bisa dianggap beban. Demikian juga dengan perusahaan pemberi kerja. Kewajiban yang 3,7 persen dianggap menambah biaya perusahaan. Sekali lagi, pandangan seperti ini bukan saja menyesatkan, tetapi juga bisa disebut sebagai missresponsibility, alias tidak bertanggung jawab
Dana titipan Iuran yang 2 persen dari pekerja sebenarnya merupakan dana titipan yang akan mereka nikmati pada masa tua. Jadi, persis seperti menabung. Bagi perusahaan, kendati membayar 3,7 persen, tentunya menjadi hal lumrah karena sudah sewajarnya perusahaan memberikan kesejahteraan bagi pekerjanya. Malah di sisi lain, jika kesejahteraan termasuk hari tua si pekerja sudah terjamin, tentunya diharapkan si pekerja bisa melakukan pekerjaan dengan lebih produktif.
Kalau iuran itu dititipkan ke Jamsostek untuk dikelola, apakah hasilnya akan baik? Dari data-data yang dikomunikasikan melalui surat kabar, kita melihat bahwa setiap tahun Jamsostek memberikan imbal hasil yang secara persentase malah jauh di atas tingkat bunga tabungan maupun deposito. Jadi, melalui lembaga semacam Jamsostek, iuran tersebut bisa mendapatkan imbal hasil lebih besar ketimbang si pekerja menabung sendiri di bank.
Jelas, sebenarnya untuk memperoleh jaminan keuangan pada hari tua, pekerja bisa menjadi peserta Jamsostek. Lebih dari itu, seorang pekerja yang menjadi peserta Jamsostek sejatinya juga mendapatkan perlindungan kesehatan. Jika sakit, mereka bisa mendatangi rumah sakit rujukan dan memperoleh pelayanan kesehatan. Selain itu, juga mendapatkan perlindungan kecelakaan kerja. Artinya, ketika sedang bekerja mengalami kecelakaan, maka akan mendapatkan santunan. Bahkan, juga mendapatkan jaminan kematian, semacam asuransi jiwa. Jika pekerja meninggal baik karena sakit maupun kecelakaan, ahli waris akan memperoleh santunan.
Ringkasnya, pencapaian kesejahteraan dasar, seperti sandang, pangan, papan, kesehatan, dan jaminan hari tua, sesungguhnya tidak selalu mesti dikelola sendiri. Menjadi peserta Jamsostek, berdasarkan undang-undang, mesti diikuti semua pekerja di negara ini. Belakangan, malah terdengar bahwa setiap peserta Jamsostek yang memenuhi persyaratan bisa memperoleh bantuan uang muka perumahan. Jadi, kalau peserta Jamsostek hendak mengambil KPR dari bank, uang muka bisa dipinjam dari Jamsostek dengan bunga yang amat reñdah. Artinya, kebutuhan akan papan juga bisa terpenuhi.
(Elvyn G Masassya, praktisi keuangan)
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:22 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Sat Sep 18, 2010 5:17 am | |
| BELAJAR MENGELOLA RISIKO SAAT BERINVESTASI Kamis, 19/8/2010 | 17:11 WIB KOMPAS.com - Kebanyakan orang memilih deposito sebagai produk investasi karena merasa aman dan berisiko kecil. Padahal, banyak pilihan investasi lain yang memang berisiko lebih tinggi namun dengan target hasil lebih menguntungkan, seperti reksadana. "Banyak yang berinvestasi dalam jangka pendek, menengah, dan panjang di deposito karena takut risiko. Padahal risiko harus dikelola, bukan dihindari," kata Eko P. Pratomo, Senior Advisor BNP Paribas yang juga penulis buku Berwisata ke Dunia Reksadana, dalam talkshow "Reksadana: Kenali Dulu Baru Beli" beberapa waktu lalu.
Mengenali risiko berinvestasi bisa dilakukan dengan banyak cara. Mulai mengikuti seminar, workshop, berdiskusi bersama pakar, dan mencari bahan bacaan. Eko menegaskan, prinsipnya calon investor perlu memahami apa yang ingin dibeli, karena dari pemahaman ini risiko bisa dikelola dengan lebih baik. "Orang yang tidak mengambil risiko bukan berarti bebas risiko," tegasnya lagi.
Menurut Eko, umumnya tujuan berinvestasi adalah untuk menyiapkan dana pendidikan dan dana pensiun. Sejalan dengannya, perencana keuangan Ligwina Hananto pada kesempatan yang sama juga mencontohkan bagaimana investasi bisa membantu pasangan merencanakan dana pendidikan bagi anak, baik jangka pendek maupun jangka panjang (18 tahun untuk perguruan tinggi). "Risiko tidak dapat 100 persen dihindari, namun dapat diatur," tegasnya (baca: Menabung Takkan Cukup, Mulailah Berinvestasi).
Dua cara berinvestasi Eko menjelaskan, terdapat dua alternatif berinvestasi, yakni secara langsung dan tidak langsung. Instrumen investasi langsung di antaranya deposito, obligasi, dan saham. Jika memilih deposito, artinya calon investor langsung berhubungan dengan bank yang dipilihnya untuk berinvestasi. Sementara itu, membeli saham sebagai investasi bisa melalui broker, sedangkan obligasi bisa melalui bank dan atau broker.
Membeli reksadana merupakan cara investasi tidak langsung. Anda harus berkonsultasi dengan pakarnya untuk membeli reksadana sebagai investasi. Menurut Eko, reksadana merupakan solusi investasi bagi calon investor yang memiliki pengetahuan, informasi, dan dana terbatas. "Investasinya bukan pada reksadana. Artinya Anda tidak membeli reksadana sebagai instrumen investasi. Reksadana lebih sebagai sarana investasi," jelas Eko, menambahkan terdapat dua institusi yang mengelola reksadana yakni manajer investasi dan bank kustodian.
Prinsipnya, apapun pilihan investasi Anda, pastikan Anda memiliki tujuan berinvestasi. Jika kesulitan menetapkan tujuan, termasuk menentukan jangka waktu investasi yang tepat dengan kebutuhan dan kemampuan Anda, berkonsultasilah dengan perencana keuangan. Kunci penting lain berinvestasi adalah informasi. Cari sebanyak-banyaknya informasi sebelum menetapkan pilihan.
"Perencanaan keuangan perlu dipersiapkan sebelum memilih investasi. Sebenarnya setiap pasangan atau keluarga bisa merencanakan keuangannya sendiri. Jikapun masih awam, bisa mengikuti kelas khusus perencanaan keuangan dan selanjutnya bisa diaplikasikan bersama pasangan secara mandiri tanpa perlu menggunakan jasa perencana keuangan," kata Ligwina. Berinvestasi ilmu seputar ragam produk investasi dan rencana keuangan tentu juga menjadi modal menentukan produk investasi yang menguntungkan.
5 SISI GELAP INVESTASI Selasa, 18/1/2011 | 07:43 WIB KOMPAS.com — Investasi memang salah satu cara paling efektif untuk meraih kesejahteraan finansial. Bahkan, melalui investasi, seseorang bisa menyuruh uangnya ”bekerja”. Jadi, uang mencari uang. Bukan Anda yang mencari uang, baik itu sebagai pekerja maupun wirausaha. Itu sebabnya seseorang yang berpenghasilan tetap sebaiknya menyisihkan sebagian penghasilan tetapnya untuk diinvestasikan agar di masa depan, ketika yang bersangkutan tidak bekerja lagi, tetap memiliki penghasilan melalui hasil investasi. Itu adalah situasi ideal berinvestasi. Namun, dalam realitasnya, investasi juga bisa membuat seseorang kehilangan kesejahteraan yang telah dimiliki. Kok bisa? Bisa, karena investasi juga memiliki sisi gelap yang terkait dengan kepribadian (personality) seseorang. Oleh karena itu, tulisan ini akan membahas beberapa sisi gelap tersebut agar Anda terhindar dari permasalahan dalam berinvestasi.
Pertama, jebakan imbal hasil besar. Ada seribu satu pilihan investasi, baik di pasar keuangan maupun sektor riel. Dari yang masuk akal hingga yang tidak waras. Tetapi, bagi sebagian kalangan, yang dijadikan indikator adalah imbal hasil yang besar. Artinya, kalau investasi tersebut menjanjikan keuntungan yang menggiurkan, banyak pihak yang akan tertarik. Padahal, imbal hasil besar pasti dibarengi dengan risiko yang juga besar. Oleh karena itu, dalam berinvestasi, yang semestinya dilihat bukanlah tawaran imbal hasil investasi, melainkan berapa target keuntungan investasi yang ingin Anda peroleh. Secara kelaziman, jika Anda bisa memperoleh hasil investasi dua kali lipat laju inflasi, itu sudah tergolong bagus. Konkretnya, jika laju inflasi sebesar 7 persen per tahun, imbal hasil investasi sebesar 14-15 persen per tahun sudah sangat memadai.
Kedua, ”keserakahan” investasi. Anda tentu pernah mendengar seseorang yang tiba-tiba menjadi kaya raya melalui investasi saham, tetapi kemudian tiba-tiba pula menjadi miskin kembali. Kenapa? Hanya satu jawaban, yakni serakah. Ketika seseorang berinvestasi saham dan saham yang dipilihnya sudah menuai capital gain, berkemungkinan untuk mulai tertarik pada saham-saham lain, yang belum tentu memiliki kinerja fundamental bagus. Saham-saham lain itu bergerak harganya karena dipicu oleh sentimen pasar atau ”digoreng’” oleh bandar saham. Nah, jika Anda ikut-ikutan dalam ”permainan” saham seperti itu dan berharap memperoleh keuntungan, yang kerap terjadi adalah ”buntung”. Sebab, ketika saham Anda beli, harganya sudah di atas. Selanjutnya, para bandar meninggalkan Anda tanpa bisa keluar dari saham tersebut hingga suatu ketika nasib baik menghampiri Anda jika harga saham tersebut kembali meningkat.
Ketiga, ”ketidaksabaran” berinvestasi. Anda tentu pernah mendengar istilah timing dalam investasi. Artinya, kapan Anda mulai berinvestasi dan kapan keluar. Istilah ini kerap dilekatkan dalam transaksi saham di pasar modal. Sebagian besar investor sangat paham bahwa kalau membeli saham, beli di saat harga rendah dan jual di harga atas. Masalahnya, kapan satu saham dianggap harganya murah dan kapan saat menjualnya? Berapa persen kenaikan dari satu saham sehingga layak disebut sudah tinggi? Jawabannya sangat relatif. Namun, yang sering terjadi adalah seorang investor telanjur menjual sahamnya pada saat harga baru saja mulai meningkat. Investor semacam ini tidak memiliki kesabaran yang cukup untuk menunggu capital gain yang lebih besar sehingga keuntungan investasinya menjadi sangat terbatas.
Keempat, investasi berdasarkan gosip. Masih ingat kisah Qisar ataupun arisan berantai yang memakan banyak korban? Peristiwa semacam ini bisa terjadi sebenarnya bukan saja karena sang korban memang memiliki perilaku serakah, ingin mendapatkan imbal hasil besar, tanpa memahami risikonya, melainkan karena tawaran investasi itu sendiri datang dari mulut ke mulut. Banyak kalangan ikut- ikutan karena tetangga dan ataupun saudaranya ikut serta lebih dahulu. Jadi, mereka terjebak ramai-ramai dan akhirnya menyesal ramai-ramai pula. Apa yang bisa dicermati dari fenomena tersebut? Jangan pernah berinvestasi karena tawaran ”mulut ke mulut”. Sebab, selain ”mulut” setiap orang berbeda, yang paling mendasar adalah investasi tidak pernah menawarkan diri. Investasi mesti dicari. Dan kebutuhan tiap orang dalam berinvestasi berbeda.
Kelima, investasi berdasarkan utang. Benar, jika utang yang dilakukan diperuntukkan bagi kegiatan produktif yang terukur risikonya, maka utang untuk berinvestasi bukanlah hal haram. Yang menjadi masalah adalah seberapa besar utang itu dilakukan. Banyak kalangan terjebak pada utang karena ingin melakukan ekspansi secara terus-menerus sehingga beban bunga dan angsuran semakin besar, sementara hasil investasi tidak memadai untuk membayar kembali utang tersebut. Akibatnya, untuk menutupi utang yang satu dilakukan utang baru alias gali lubang tutup lubang. Pola ini dalam jangka panjang bukan saja memberatkan, tetapi juga bisa menggerus harta yang telah dimiliki. Oleh karena itu, hindari utang yang berlebihan dalam membiayai investasi.
Selain hal-hal yang dipaparkan di atas, tentu masih sangat banyak hal-hal negatif yang terkait dengan kegagalan investasi. Namun, yang mesti diingat, semua sisi gelap tersebut sebenarnya bergantung pada kepribadian setiap investor. Hal-hal tersebut bisa berlaku pada satu investor, tetapi tidak terjadi pada investor lain. Oleh karena itu, sebelum berinvestasi, ada baiknya direnungi kembali profil kepribadian Anda, apakah tergolong investor yang mudah terpengaruh atau memiliki pendirian. Keberhasilan berinvestasi sangat bergantung pada karakter Anda.
(Elvyn G Masassya, praktisi keuangan)
Last edited by gitahafas on Tue Jan 18, 2011 8:32 am; edited 5 times in total |
|  | | | | Perencanaan Keuangan Keluarga | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |