Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Perencanaan Keuangan Keluarga

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 9 ... 14  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jul 05, 2010 8:38 am

USAHA PRAKTEK DOKTER DAN APOTEK
Selasa, 03/06/2008 09:01 WIB Joannes Widjajanto - detikFinance
Jakarta - Saya ingin mulai usaha praktek dokter dengan apoteknya untuk istri saya yang sebentar lagi akan lulus sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Pada saat ini saya mempersiapkan dana sekitar Rp 800 juta. Pertanyaan saya:

* Bagaimana prospeknya bisnis ini?
* Apa saja yang harus dipersiapkan, izin dsb?
* Apa kiat-kiat untuk bisa sukses dibisnis ini?

Jawaban :
Pak Ngurah Bagus yang terhormat, terima kasih atas pertanyaan yang diberikan. Untuk memulai bisnis yang akan diterjuni kita harus memahami secara detil tentang bisnis tersebut. Jika memang bapak ingin punya usaha di bidang tempat praktek dokter dan apotek, maka pemahaman tentang siapa pasar yang akan dituju adalah sangat penting.

Dilihat secara umum, praktek dokter maupun apotek memiliki prospek yang cerah, karena anggota masyarakat sekali waktu akan sakit dan memerlukan dokter beserta obatnya. Namun demikian kondisi masyarakat kita saat ini adalah loyal kepada dokter yang pernah menyembuhkannya. Kadangkala dokter tersebut berpraktek di tempat yang cukup jauh dari lokasi rumah pasien tersebut, para pasiennya akan dengan sukarela datang ke tempat tersebut untuk berobat.

Jadi tempat praktek dokter yang direncanakan haruslah memiliki 'nilai lebih', misalnya memiliki dokter yang cukup baik dan disiplin, merupakan rujukan dari pihak-pihak tertentu, apakah itu asuransi, klinik atau rumah sakit yang berdekatan. Demikian pula apotek haruslah memiliki stok obat yang cukup lengkap dan harga yang kompetitif misalnya.

Untuk memiliki tempat usaha praktek dokter, jika hanya berpraktek sendiri & tempat praktek di rumah, maka cukup dengan surat izin praktek. Sedangkan jika ada tempat khusus yang dinamakan praktek bersama misalnya, maka diperlukan surat izin praktek dan izin mendirikan bangunan, serta perlu ditunjuk dokter penanggung jawab dan dokter pelaksana harian. Untuk perizinan apotek berdasarkan informasi yang ada lebih mudah. Silakan menghubungi dinas kesehatan setempat untuk lebih detilnya.

Dari sisi pendanaan, modal yang dibutuhkan untuk usaha apotek lebih besar karena diperlukan stok obat yang diperlukan.
Karena tempat usaha praktek dokter dan apotek akan didatangi oleh 'pelanggan', maka lokasi kedua jenis usaha tersebut adalah sangat penting.


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:25 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jul 05, 2010 8:38 am

MEMBUKA USAHA FOTOKOPI TERPADU
Jumat, 15/06/2007 09:10 WIB Nurul Qomariyah - detikFinance
Jakarta - Pertanyaan:
"Saya telah membuka usaha kecil-kecilan sejak 4 tahun yang lalu di bidang rental fotokopi dan alat tulis kantor yang berdomisili di Banda Aceh. Alhamdulillah sekarang berjalan lancar. Saya ingin mengembangkan bisnis saya. Yang menjadi pertanyaan:

1. Bagaimana agar usaha rental itu tetap berkembang luas?
2. Bisnis apakah yang cocok tapi masih dapat berhubungan dengan usaha saya sekarang?
3. Berapa gaji karyawan yang pantas jika sudah memberikan fasilitas tempat tinggal, listrik dll gratis?

Jawaban:
Selamat atas bisnis Ibu yang sudah berjalan sesuai harapan.

A. Jika ingin meningkatkan usaha maka tentunya Ibu harus memperluas Jaringan sehingga bisa memperoleh lebih banyak lagi Nasabah yang menggunakan Jasa dan Produk Ibu. Namun Ibu jangan lupa untuk selalu mejaga Pelayanan yang diberikan; misalnya Kualitas dari Produk dari bisnis ini sendiri. Jangan sampai Mesin Fotocopi nya sering rusak atau hasil fotocopi yang diperoleh tidak jelas atau kurang bagus. Juga Perawatan yang dilakukan secara berkala maupun Perbaikan jika terjadi kerusakan sehingga membutuhkan bantuan untuk memanggil pihak Teknis untuk memperbaiki di setiap saat terjadi. Kepuasan para Pelanggan bisa menjadi suatu upaya Promosi yang paling efektif.

Perlu juga untuk mencari kiat-kiat Marketing yang efektif dan efisien serta sesuai dengan jenis usaha ini. Selain itu semua Ibu jga harus menjaga Efisiensi Biaya baik untuk Karyawan, Pembelian Mesin, Tempat Usaha, Operasional, Investasi sehingga tidak menjadi beban pengeluaran bagi usaha Ibu tersebut. Hal lainnya adalah untuk selalu waspada dan mendapatkan informasi mengenai perkembangan teknologi yang berkaitan dengan usaha Ibu misalnya kecanggihan mesin fotocopi maupun fasilitas-fasilitas yang terbaru yang tersedia pada jenis mesin-mesin terbaru sehingga jangan sampai Nasabah merasa mendapat mesin yang sudah ketinggalan jaman. Tentunya Ibu bisa membuat segmentasi pasar sehingga investasi atas mesin-mesin dapat disesuaikan berdasarkan kemampuan keuangan nasabah.

B. Banyak sekali bisnis yang dapat Ibu kembangkan tetapi masih berkaitan dengan jenis bisnis saat ini. Bahkan bisa dikatakan bahwa jenis bisnis baru tersebut mendukung dan memanfaatkan bisnis yang ada saat ini. Misalnya Ibu bisa mempertimbangkan untuk membuka bisnis fotocopi 24 jam, bisnis fotocopi murah di dekat kampus, bisnis percetakan, jual beli mesin fotocopi, rental komputer, wartel, warnet, buka toko buku dan peralatan kantor dan lain sebagainya.

C. Manfaat Kesejahteraan karyawan bukan hanya gaji yang diberikan tetapi juga fasilitas kesejahteraan karyawan lainnya, seperti Uang Makan, Uang Transportasi, Uang Tempat Tinggal dan Keperluan Rumah Tangga lainnya. Kita bisa memperkirakan Nilai Kesejahteraan Karyawan tersebut berdasarkan pada apa yang dimiliki karyawan tersebut contohnya kemampuan kerja, kompetensi, keahlian, pengetahuan teknis dan manajemen yang dimiliki, kejujuran, inisiatif kerja dan lain-lain. Atau berdasarkan dari kebutuhan yang kita inginkan, contohnya staf marketing, staf akuntansi, manajer dan sebagainya, atau juga berdasarkan perhitungan bisnis misalnya kemampuan bisnis karyawan sehingga bisa mendatangkan keuntungan yang optimum, nilai rata-rata karyawan dengan jenis pekerjaan yang sama di jenis bisnis yang sama dan lain-lain. Tentunya nilai Gaji tersebut sangat relatif tergantung kepada perhitungan bisnis Ibu sendiri.

Saya yakin Ibu sudah punya Anggaran Biaya Operasional yang tentunya termasuk kepada Gaji Karyawan dan atau Manfaat Kesejahteraan Lainnya. Cara yang paling efisien adalah dengan mencari tahu berapa gaji karyawan dengan jenis pekerjaan yang sama di tempat pesaing, dalam hal ini Ibu sebaiknya membuat rata-rata atas informasi dari beberapa pesaing. Kemudian Ibu lakukan penyesuaian dengan kondisi bisnis yang Ibu miliki sehingga akan didapat suatu nilai yang bisa dijustifikasi atau ada alasan kuat bagaimana memperoleh nilai tersebut.

Salam Risza Bambang-Shildt Financial Planning (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:22 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jul 05, 2010 8:39 am

MEMBUKA USAHA PERALATAN PESTA
Jumat, 06/07/2007 10:01 WIB Irna Gustia - detikFinance
Jakarta - Usaha jasa pernikahan yang kami buka sudah berjalan. Saya ingin mengembangkan di peralatan pestanya. Kira-kira seberapa besar modal yang harus dikeluarkan dan bagaimana mengembangkannya? Mengingat bisnis ini cukup banyak pemainnya, apakah yang harus kami lakukan agar kami tetap eksis? Bagaimana prospek bisnis ini di masa mendatang? Dan karena perkawinan tidak setiap hari ada, bagaimana tips mengelola dananya agar tidak tekor jika tidak ada order? Terimakasih - budi_prayogi@yahoo.com

Jawaban:
Bapak Budi yang terhormat, selamat bahwa Bapak sudah menjalankan wirausaha khusus di bidang jasa pernikahan. Saat ini Bapak ingin mengembangkan ke jasa penyewaan peralatan pestanya. Apakah peralatan pesta tersebut dikhususkan untuk pesta pernikahan saja? Jika tidak, tentunya bisa dipakai untuk pesta-pesta lainnya. Apakah itu pesta ulangtahun, khitanan, dan lain sebagainya. Ini berarti pasar untuk alat-alat tidak hanya untuk pernikahan, tetapi lebih luas dari itu. Jangan takut untuk memperlebar pasar yang ada. Ada beberapa tips dalam menghadapi persaingan di bawah ini. Mudah-mudahan menginspirasi Bapak untuk menerapkannya.

Yang pertama, bisnis yang kita jalankan haruslah memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh kompetitor. Misalnya Anda memiliki paket khusus dengan harga miring. Jika pemakai jasa memilih paket tersebut, maka mereka akan mendapatkan fasilitas berupa jasa pernikahan ditambah dengan peralatan pestanya. Atau ditambah fasilitas lainnya yang memungkinkan bisnis Bapak memiliki ciri khas perbedaan yang menguntungkan bagi pemakai jasa Bapak.

Yang kedua, bisnis yang Bapak jalankan haruslah memiliki brand yang kuat. Brand yang kuat akan mempermudah orang untuk mengingatnya. Brand yang kuat tentunya harus diikuti dengan service yang baik. Bapak Budi, pengelolaan dana untuk bisnis yang Bapak jalankan haruslah terpisah dengan keuangan keluarga. Artinya tidak bercampur dengan pengeluaran keluarga sehari-harinya. Ada baiknya Bapak memiliki pembukuan khusus untuk bisnis yang dijalankan tersebut. Bisnis yang Bapak terjuni saat ini, memiliki prospek yang cukup cerah. Karena setiap waktu pasti ada pernikahan yang dilakukan, ada pesta ulangtahun yang diadakan, ada kelahiran anak yang dirayakan. Selamat mengembangkan usaha.

Joannes Widjajanto - Shildt Financial Planning (ir/ir)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:10 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Wed Jul 07, 2010 4:09 pm

INCOME BESAR, PENGELUARAN BESAR?
Senin, 06/08/2007 08:35 WIB Risza Bambang - detikFinance
Jakarta - Pertanyaan:
"Umur saya 37th, berkeluarga dengan 2 orang putri, 9th dan 4th. Kalau dua tahunan yang lalu saya kesusahan bagaimana cara mengumpulkan dana untuk biaya pendidikan anak dan rencana pensiun kelak, tapi saat ini saya bingung bagaimana saya mengatur penempatan dana yang sudah terkumpul. Rencana kedepan saya ingin pensiun muda setelah umur 40-max 45th. Rata-rata penghasilan saya bersih sebulan Rp 90 juta. Saat ini sudah terkumpul dana pendidikan untuk kedua anak saya kelak sebesar Rp 500 juta, 80%nya dalam bentuk dolar AS.

Pertanyaanya :
a. Strategi seperti apa dan dimana saya bisa menempatkan dana pendidikan yang sudah terkumpul agar aman, terproteksi dan tidak dirongrong inflasi. Juga untuk dana pensiun yang sebagian sudah terkumpul?
b. Untuk jangka 3-8 tanhun kedepan, kira-kira lebih baik mana menyimpan dana dalam USD atau Rupiah?
c. Bagaimana cara melawan rumus/kebiasaan bahwa "Lebih besar penghasilan akan diikuti pengeluaran yang besar juga"?

Jawaban:
Salut pak! atas pencapaian usaha bapak untuk bisa memperoleh Kondisi Keuangan yang sangat baik dalam jangka waktu yang cepat dan pada saat masih berusia sangat muda. Yang lebih hebat lagi adalah keinginan bapak untuk pensiun di usia muda, dan kemudian menikmati hidup bersama keluarga. Banyak orang yang memiliki kondisi keuangan seperti bapak, tapi hanya sedikit dari antara mereka yang punya Tujuan Hidup untuk menikmati Balanced Life atau Hidup yang Seimbang. Dalam kondisi ini maka kita bisa menyeimbangkan kehidupan kita dengan tidak hanya mencari uang tetapi uang yang bekerja untuk kita. Selain itu, tentunya kehidupan kita diseimbangkan dengan tersedianya Waktu yang luang untuk Menemani dan Membimbing Anak dan Keluarga, serta juga bisa mempunyai alokasi waktu yang lebih banyak untuk Kepentingan Agama, Lingkungan dan Komunitas.

Jika diasumsikan bahwa bapak ingin berhenti bekerja pada usia 45 tahun maka sisa waktu yang tersedia dari saat ini adalah +/- 8 tahun. Pada saat pensiun tersebut maka harus tersedia sejumlah Dana yang bisa menghasilkan Bunga, atau Aset yang bisa menghasilkan Uang sebagai Pendapatan Pasif (tanpa perlu bekerja atau upaya dari kita) senilai Total Pengeluaran Keluarga yang sesuai dengan Gaya Hidup kita. Janganlah lupa bahwa nilai Total Pengeluaran tersebut harus diproyeksikan berdasarkan nilai 8 tahun yang akan datang, dengan memasukkan unsur kenaikan Tingkat Inflasi selama 8 tahun.

Faktor utama untuk menentukan nilai Total Pengeluaran adalah Gaya Hidup yang kita jalani selama ini. Tentunya ini harus dipersiapkan dan ditentukan sejak sekarang.

1. Semakin tinggi Standar Gaya Hidup yang kita impikan maka akan semakin tinggi nilai Proyeksi Total Pengeluaran Keluarga di saat pensiun tiba. Faktor lain yang patut dipertimbangkan dalam menghitung nilai Proyeksi tersebut adalah Rencana Keluarga atas beberapa hal misalnya Penambahan Anggota Keluarga, Pembelian Rumah, Kendaraan, Pembelian Barang-barang kebutuhan pokok Keluarga yang nilainya besar, dan lain-lain. Jadi menghitung nilai Proyeksi tersebut harus cermat dan merujuk pada Rencana Kehidupan Keluarga dan Impian Kehidupan di masa depan. Semakin efisien Nilai Pengeluaran Keluarga kita saat ini maka akan semakin cepat bapak dapat mengakumulasikan kekayaan atau aset bapak sehingga bisa pensiun semakin dini.

a. Dana Pendidikan membutuhkan suatu kepastian atau jaminan tersedianya dana pada saat dibutuhkan. Untuk itu bapak harus menetapkan rencana kelanjutan pendidikan anak sehingga dapat menghitung berapa nilai yang akan dibutuhkan. Bapak juga harus melihat sisa waktu yang tersedia antara rencana jenjang pendidikan anak dengan usia anak saat ini. Jika rencana pendidikan adalah menyediakan pendidikan terbaik untuk jenjang kuliah maka waktu yang tersisa +/- 10 tahun.

Sekali lagi, proyeksi Dana Pendidikan yang dibutuhkan 10 tahun yang akan datang harus disesuaikan dengan tingkat inflasi yang terjadi. Oleh karena itu semakin besar dana yang disisihkan untuk keperluan ini maka semakin cepat pula dana masa depan bisa direalisasikan. Bapak bisa memilih produk dana pendidikan yang tersedia yaitu Asuransi Dana Pendidikan Anak, Tabungan Pendidikan Anak atau Reksa Dana Pasar Uang. Jenis produk-produk ini mempunyai karakteristik Jaminan Pengembalian Investasi atau Tingkat Bunga untuk Peningkatan Nilai Dana dan mempunyai Tenor atau Jangka Waktu yang sesuai kebutuhan kita.

Sebaiknya bapak menghindari jenis produk yang tidak mempunyai Jaminan Pengembalian Investasi atau Tingkat Bunga walaupun Penjual Produk menawarkan Tingkat Pengembalian Investasi atau Tingkat Bunga yang tinggi. Penawaran yang diberikan tersebut hanya berdasarkan pengalaman yang pernah terjadi tetapi bukan merupakan Jaminan Komitmen untuk produk yang dibeli saat ini. Sedangkan untuk Pensiun maka bapak bisa memilih produk yang mempunyai risiko lebih tinggi tetapi menjanjikan pengembalian Investasi atau tingkat bunga yang lebih besar. Sesuai dengan pengalaman penulis maka bapak harus siap secara mental dan moral dalam berinvestasi. Pahamilah pengetahuan mengenai produk investasi tersebut secara komprehensif dan kenali secara baik risiko-risikonya.

Jika punya waktu yang luang, pengetahuan atas produk, keahlian akan jenis produk investasinya dan mungkin pengalaman maka lakukan pengelolaan investasi tersebut sendiri. Kekuatan dari pengelolaan sendiri adalah kita bisa memonitornya untuk membuat keputusan yang terbaik bagi keamanan nilai investasi kita. Tetapi jika kita tidak mempunyai faktor-faktor tersebut maka sebaiknya kita memilih Penyedia Produk yang Terpercaya, Keahlian mengelola Investasi, Aman, mempunyai Track Reccord yang bagus dan Pelayanan Nasabah yang terlengkap dll. Jangan membeli produk hanya karena ikut-ikutan teman tanpa terlebih dahulu menyelidiki dan meneliti semua aspek dari perusahaan penyedia produk tersebut.

b. Denominasi mata uang tergantung kepada Rencana Kehidupan/Kebutuhan Keluarga yang terkait. Misalnya Rencana Pendidikan Anak adalah mengirim Anak Ke Eropa setelah lulus SMA maka tentunya lebih cocok dan menguntungkan jika kita menyimpan dana dalam bentuk Euro. Sebenarnya masing-masing Mata Uang mempunyai Kelebihan dan Kekurangan sendiri-sendiri. Jika kita menyimpannya dalam bentuk Rupiah, maka kita bisa memperoleh Tingkat Suku Bunga yang lebih menarik tetapi lebih rentan terhadap Tingkat Inflasi dan Nilai Tukarnya sangat sensitif dengan kondisi ekonomi dunia. Sedangkan mata uang asing lebih kuat menghadapi tekanan Inflasi tetapi Suku Bunganya lebih kecil. Yang harus diperhatikan adalah Perbedaan Suku Bunga Deposito antara Rp dan USD/Euro, jika sudah < 3% maka menyimpan Dana dalam bentuk Mata Uang Asing akan lebih menguntungkan.

c. Teori bahwa Semakin Besar Pendapatan maka Semakin Besar Pengeluaran sebenarnya sesuai dengan Teorema Maslow. Hal ini terjadi akibat dari Peningkatan Pendapatan menyebabkan Perbaikan Status Sosial yang membutuhkan Penyesuaian atau Perbaikan Gaya Hidup. Oleh karena itu seperti dijelaskan di depan maka Kita lah pemegang keputusan yang bisa menetapkan Gaya Hidup yang diinginkan. Kunci terpenting adalah menahan Nafsu Belanja dan menjaga Lapar Mata untuk membeli barang-barang yang sebenarnya sudah kita miliki. Buatlah Perencanaan Keuangan Keluarga yang paling dasar yaitu membuat Anggaran Pengeluaran Jangka Pendek, Menengah dan Panjang, serta menjalankannya dengan Komitmen yang Tinggi sehingga bisa menjaganya dari Pelanggaran-pelanggaran.

Risza Bambang-Shildt Financial Planner (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:02 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri Jul 09, 2010 5:49 pm

MEMBUKA USAHA MINIMARKET
Selasa, 28/08/2007 09:52 WIB Joannes Widjajanto - detikFinance
Jakarta - Saat ini saya bekerja pada sebuah perusahaan asing di Balikpapan. Saya sangat ingin memiliki sebuah usaha di samping pekerjaan tetap saya. Dan usaha yang saya ingin coba adalah usaha sebuah minimarket.

Pertanyaan saya:
1. Mengingat keterbatasan modal yang saya miliki saya berencana meminjam dana melalui bank, namun saya tidak mempunyai cukup harta untuk digunakan sebagai agunan, apakah saya bisa mendapatkan pinjaman lunak sebagai modal awal tanpa agunan?
2. Bagaimana cara mengisi barang dagangan di dalam minimarket dalam tahap awal pembukaan seperti saya?
3. Kiat-kiat apa saja untuk menjalani persaingan bisnis khususnya minimarket? Terima kasih atas masukannya.

Jawaban :
Sdr. Rudi, banyak orang memang kebingungan saat dihadapkan pada modal yang dibutuhkan. Ada yang mengurungkan niatnya untuk berbisnis, ada pula yang nekat untuk melangkah tetapi tanpa perhitungan yang matang. Pastinya anda sudah memiliki perhitungan yang matang, sebelum menentukan jenis bisnis yang ingin diterjuni. Bisnis yang berhasil adalah bisnis yang sudah berhasil dalam perencanaannya. Ada beberapa alternatif untuk mendapatkan modal.

Yang pertama tentunya dari aset kita. Jika memang tidak mencukupi, kita dapat mengajak teman yang satu visi untuk berbisnis bersama. Atau kita menjalankan bisnis lain yang tidak memerlukan modal besar, untuk menghasilkan modal bisnis minimarket tersebut. Kita dituntut untuk kreatif dalam mendapatkan modal yang dibutuhkan ini. Demikian pula saat dihadapkan masalah bagaimana cara mengisi dagangan dalam mini market ini. Kadangkala kreatifitas akan membantu memecahkan masalah yang mungkin akan timbul saat bisnis ini sudah berjalan.

Sdr. Rudi, ada seorang pengusaha yang mengatakan bahwa untuk berbisnis pada bidang dimana orang mendatangi tempat kita berbisnis, haruslah memenuhi 3 syarat. Yang pertama : LOKASI Yang kedua : LOKASI Dan yang ketiga : LOKASI Selamat berbisnis. Joannes Widjajanto-Shildt Financial Planning (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 1:13 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri Jul 09, 2010 5:52 pm

BISNIS RUMAH KOS KOS-AN
Jumat, 05/10/2007 10:01 WIB Risza Bambang - detikFinance
Jakarta - Pertanyaan:
Dengan hormat, Rekan saya menawarkan sebuah rumah kos di kawasan perkantoran seharga Rp 600 juta. Kapasitas kamar 13 dengan tingkat hunian 100%, rata-rata sewanya Rp 550 ribu per bulan.

Pertanyaannya adalah:
1. Apakah ini pantas untuk dijadikan investasi untuk jangka waktu 5 tahun?
2. Apa saja yang harus saya perhitungkan dalam membuat bisnis kos-kosan?

Jawaban:
1. Untuk menentukan apakah peluang ini merupakan penawaran investasi yang menarik atau tidak, maka Anda harus menghitung dengan cermat Cost Benefit-nya. Secara sekilas berdasarkan informasi yang Anda berikan maka :

a. Proyeksi Pendapatan Kotor dari Kos-kosan setahun adalah 550rb x 12 x 13 = 85,8juta.
b. Asumsikan Pengeluaran untuk Pengelolaan Bisnis Kos-kosanan seperti Pengurus Kos, Penjaga Keamanan Kos, Pembantu, Lingkungan, PBB, Sampah, Listrik, Air, Telpon, Perawatan dan Perbaikan Rumah Kos akan membutuhkan +/- 30% dari Pendapatan.
c. Pajak Rumah Sewa adalah 10% final
d. Diasumsikan tidak perlu membeli furnitur lagi
e. Jangka waktu BEP adalah 600juta / (60% x 85.8juta) = 600 jt / 51,48jt = +/- 12 tahun.
f. Kenaikan harga tanah misalnya 10% per thn (sesuai rata-rata kenaikan NJOP dalam beberapa tahun terakhir)
g. Penurunan Nilai Bangunan sangat tergantung pada kondisi bangunan dari rumah kos saat ini. Berdasarkan perhitungan di atas maka sebaiknya bangunan ini bisa bertahan dalam jangka waktu minimal 12 tahun lagi tanpa perlu direnovasi secara besar-besaran.
h. Sebaiknya dicari tahu mengenai perkembangan nilai pasar dari properti ini, jika mempunyai kemungkinan yang besar bahwa nilai properti akan meningkat secara pesat maka ini bisa jadi pertimbangan bisnis yangmenarik.

Jadi dalam berinvestasi rumah kos2an maka kita harus juga memperhatikan Profit dari Kenaikan Modal, tidak hanya dari Hasil Sewa saja. Dengan kata lain jika dalam 5 tahun lagi harga rumah akan menjadi 2 x lipat maka Total Keuntungan kita adalah Total Pendapatan Bersih atas Sewa selama 5 tahun + Selisih Jual Beli dari Properti. Namun janganlah lupa bahwa Jual Beli Properti akan terkena Pajak Jual Beli, Biaya Notaris/AJB, BBN dan komisi jika ada. Jadi jika dijual maka Anda harus pertimbangkan Biaya saat Membeli dan juga Biaya saat Menjual. Yang harus diperhatikan dalam pengelolaan Kos-kosan selain yang disebutkan di atas, maka Anda juga harus mempertimbangkan beberapa hal misalnya :

1. Pesaing yang sudah menjalankan bisnis serupa dalam jangka waktu yang lama (pesaing berpengalaman), Pesaing yang punya Rumah Kos-kosan lebih menarik dan bagus, Pesaing yang dekat dengan Kos-kosan atau Pesaing yang harga sewanya lebih murah dsb.

2. Potensi Pasar dari Bisnis Kos-kosanan di daerah tersebut. Bisa diamati dengan melihat Perkantoran yang terdapat di sekitar kos-kosan, universitas atau Akademi atau Sekolah Tinggi yang ada di seputar kos-kosan, atau mungkin Tempat Belanja dsb

3. Kondisi Lingkungan dan Alur Lalu Lintas di sekitar Kos-kosan, apakah dekat dengan Jalan Raya, Macet atau Tidak, Bikin Suasana jadi Bising atau Ribut, dsb.

4. Ancaman Bencana misalnya Daerah Banjir Musiman, Daerah Aliran Sungai, dekat Pembuangan Sampah, ada Sungai yang Tidak Mengalir dan kotor dsb.

5. Keamanan Lingkungan

6. Fasilitas Eksternall yang terdapat di sekitar (tapi bukan menjadi tetangga), misalnya Perbelanjaan, Rumah Sakit, Pos Polisi, Pom Bensin, Toko Kelontong, Restoran atau Warung Makan dsb.

7. Fasilitas Internal seperti misalnya Sapu dan Pel kamar, Cuci Baju, Transportasi, Internet, TV Kabel, Telpon, Sarapan Pagi dsb.

Selamat berbisnis Risza Bambang-Shildt Financial Planning (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 1:10 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jul 15, 2010 5:27 am

GAJI PAS INGIN PUNYA RUMAH
Senin, 29/10/2007 09:02 WIB Joannes Widjajanto - detikFinance
Jakarta - Saya seorang ayah dari 1 orang anak,pengeluaran uang yang pasti : 1. Asuransi pendidikan BNI tapenas( tiap bulan Rp.100.000)+- 1-2 tahun 2. Asuransi Pendidikan Bumi Putera ( 3 bln 1 x Rp.311.100)+- 17 tahun 3. Kontrakan Rp. 350.000,- 4. Air + listrik Rp. 100.000,- Pemasukkan : 1. Gaji Rp 1.911.000 2. Uang makan + transport = Rp 600.000 Yang ingin saya tanyakan: 1. Gimana ya saya bisa mendapatkan rumah sendiri, dengan penghasilan saya seperti diatas? 2. Saya tiap tahun mendapatkan bonus dari kantor 6x gaji + insentif 1 bulan gaji, adakah bank yang mau memberikan kredit lunak kepada saya? 3. Apakah dengan saya kontrak + ikut asuransi tsb malah menambah masalah bagi keuangan saya nantinya? Terima kasih atas jawabannya

Jawaban :
Jika dilihat dari data yang anda paparkan, pengeluaran rata-rata per bulan sekitar Rp 650 ribu, sedangkan pemasukan rata-rata per bulan sebesar Rp 3,6 juta per bulan. Atau anda memiliki surplus sebesar hampir Rp 3 juta per bulan, jumlah yang cukup besar untuk memulai mengatur keuangan keluarga dengan lebih baik. Saya akan mencoba menjawab ketiga pertanyaan satu persatu.

1. Gimana ya saya bisa mendapatkan rumah sendiri, dengan penghasilan saya seperti diatas?
Dengan melihat surplus (dari data sementara) yang sekitar Rp 3 juta, anda dapat mulai merencanakan pembelian rumah yang diidamkan. Menghitung besar pengeluaran lebih detil akan dapat dihitung berapa besar surplus sebenarnya yang dapat dipakai untuk membayar cicilan rumah. Juga aset likuid (yang mudah dicairkan) akan dapat dihitung kemampuan anda dalam menyediakan dana untuk uang muka. Terdapat aturan main yang disarankan oleh para perencana keuangan yang menyatakan bahwa maksimum pembayaran cicilan kredit dari pendapatan adalah 30%.

2. Saya tiap tahun mendapatkan bonus dari kantor 6x gaji + insentif 1 bulan gaji, adakah bank yang mau memberikan kredit lunak kepada saya?
Pemasukan tambahan ini akan mempermudah anda dalam memperoleh kredit dari bank. Yang perlu ditanyakan adalah apakah pemasukan ini tetap setiap tahun, atau berfluktuasi sesuai kondisi tertentu. Penghitungan rata-rata pemasukan sudah memperhitungkan bonus dan insentif ini.

3. Apakah dengan saya kontrak + ikut asuransi tsb malah menambah masalah bagi keuangan saya nantinya?
Yang pasti sangat bergantung pada alasan pembelian produk ini pada awalnya dan apakah alasan tersebut masih sangat relevan saat ini. Perlu dilihat lagi apakah pembelian yang dilakukan telah mencukupi kebutuhan yang ada di masa depan, atau apakah malah kurang. Silakan anda lihat sekali lagi. Mudah-mudahan ini penjelasan di atas menginspirasi anda untuk mewujudkan rumah idaman anda. Selamat berhitung. Joannes Widjajanto-Shildt Financial Plannig (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 1:05 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sat Jul 17, 2010 4:55 pm

MENGAMANKAN KEUANGAN DIMASA KRISIS
Kamis, 2/9/2010 | 08:49 WIB
KOMPAS.com — Krisis keuangan juga bisa terjadi pada Anda jika tak mampu mengelola uang dengan baik. Meski pekerjaan masih aman atau bahkan kondisi ekonomi makro masih terkendali, ketidakmampuan Anda mengatur, mengelola, merencanakan keuangan, dan mendisiplinkan diri menjadi sumber krisis finansial personal.
Kondisi ini bisa dihindari meskipun Anda kehilangan pekerjaan, bisnis tak berjalan lancar, atau kondisi ekonomi makro terpuruk. Memiliki dan menjalankan perencanaan finansial menjadi solusinya. "Planning, strategi, dan disiplin, inilah kunci menghadapi godaan yang banyak dan membuat konsumen konsumtif," papar Meliana Sutikno, Retail Bank Head Citibank, dalam peluncuran program edukasi perencanaan keuangan berjudul "Managing Your Wealth" dari Citi Indonesia di Jakarta, Rabu (1/9/2010) lalu.

Menabung dan memiliki dana pensiun menjadi sebagian saja cara untuk menyelamatkan kondisi keuangan Anda dari krisis. Dengan memiliki tabungan atau dana cadangan, Anda juga bisa aman meski krisis mendera. Setidaknya Anda masih bisa bertahan dan mampu membiayai hidup meski krisis menghantam, disebabkan kehilangan pekerjaan contohnya.

Sayangnya, tabungan orang Indonesia tak pernah mencukupi untuk melewati masa krisis. Riset Citi Indonesia menyebutkan, satu dari lima orang Indonesia (20 persen) yang memiliki tabungan menyatakan tabungannya hanya mencukupi untuk empat minggu. Rata-rata, orang Indonesia memiliki tabungan yang hanya mencukupi untuk 11 minggu.

Padahal perencana keuangan sering kali menegaskan, sebaiknya Anda memiliki dana cadangan minimal tiga bulan dari penghasilan. Beberapa ada yang mengukurnya bukan dari penghasilan, melainkan pengeluaran. Artinya, rekening di bank Anda seharusnya diisi jumlah uang yang mencukupi kebutuhan selama tiga bulan jika Anda kehilangan mata pencarian.

Merencanakan dana pensiun menjadi kebutuhan lain yang harus Anda penuhi. Tujuannya agar Anda tetap bisa bertahan hidup dengan nyaman saat krisis atau saat tak lagi produktif menghasilkan uang.

Ilmu merencanakan dan mengelola keuangan ini bisa didapatkan dengan banyak cara. Mengikuti seminar, workshop, mencari referensi dari buku, dan berbagai artikel menjadi beberapa caranya. Anda bisa membaca buku Managing Your Wealth atau melalui website di www.MYWealth.co.id yang berisi berbagai tahapan perencanaan keuangan dalam relevansinya dengan usia dan kebutuhan.

Apa saja yang dipelajari?
* Mulai memahami bagaimana cara mengendalikan uang Anda, seperti membuat keputusan finansial yang cermat hingga memilih penasihat atau perencana keuangan yang tepat.

* Selanjutnya, bagaimana mengembangkan uang Anda dengan berinvestasi. Mulailah belajar mengenali risiko dan menemukan strategi yang paling tepat untuk Anda, sekaligus memilih produk investasi yang bisa mengoptimalkan uang Anda.

* Pengetahuan tentang memahami dan memanfaatkan kredit juga perlu Anda miliki agar tak mudah terjebak dalam utang kartu kredit.

* Perencanaan keuangan juga dibutuhkan bagi keluarga, termasuk anak-anak. Misalnya, tabungan pendidikan anak.

* Menyiapkan dana pensiun menjadi kebutuhan penting. Sekitar 24 persen orang Indonesia belum memulai rencana dana pensiun (riset Citi Indonesia). Berita baiknya, 38 persen sudah mulai menabung, meski tidak tahu kebutuhan dana pensiun, dan 26 persen telah memiliki perencanaan yang baik untuk dana pensiun. Anda termasuk golongan yang mana?

* Jika kondisi keuangan sehat, Anda bisa mewariskan aset yang Anda miliki dengan tepat untuk keberlangsungan hidup generasi berikutnya. Anda tentu menginginkan anak-anak Anda hidup dengan tenteram bukan? Bahkan ilmu tentang mengelola dana warisan pun bisa Anda pelajari.

Pemahaman tentang perencanaan keuangan tak akan membuahkan hasil jika tidak diimplementasikan dengan komitmen kuat. Disiplin diri menjadi kunci keberhasilan Anda mendapatkan kondisi finansial yang lebih sehat. "Komitmen setiap individu perlu ditingkatkan, jangan lari dari rencana awal," tegas Meliana.


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:31 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Jul 20, 2010 6:41 am

PERENCANAAN FINANSIAL UNTUK KEHADIRAN ANAK
Senin, 19/7/2010 | 19:51 WIB
KOMPAS.com - Kebanyakan pasutri tentunya menginginkan kehadiran anak dalam keluarga. Namun memiliki anak membutuhkan perencanaan finansial yang matang, sesuai prioritas kebutuhan sejak merencanakan memilili anak. Ligwina Hananto, perencana keuangan, menegaskan sudah waktunya bagi para calon orangtua untuk membuat perencanaan keuangan saat memutuskan memiliki anak. Kesadaran ini perlu dibangun sejak awal, bahkan lebih baik lagi jika disiapkan atau dibicarakan sebelum menikah.

"Kecenderungannya persiapan pernikahan lebih diutamakan daripada kehidupan pasangan setelah perayaan pernikahan. Dengan mengalokasikan banyak uang untuk pesta pernikahan, namun tak merencanakan atau mempersiapkan dana untuk kehamilan dan anak," Ligwina mengkritisi persoalan keuangan keluarga dalam seminar seputar kehamilan beberapa waktu lalu.

Perencanaan keuangan untuk anak sebaiknya dimulai saat masa kehamilan, dilanjutkan dengan persiapan melahirkan, hingga pendidikan anak kelak. Akan lebih baik lagi jika biaya untuk anak ini sudah dipersiapkan sejak awal dengan perhitungan untuk jangka panjang, bukan keputusan emosional. "Seringkali, orangtua menjadi emosional pada kehamilan anak pertama dengan menyiapkan setiap kebutuhan bayi dengan kualitas terbaik, dan tentunya harga yang mahal," jelas Ligwina.

Masa Kehamilan
Mulailah menyiapkan biaya masa kehamilan dengan merencanakan keuangan jauh hari sebelum hamil. Dengan merencanakan biaya kehamilan, Anda dan pasangan bisa menyiapkan kehamilan lebih baik, termasuk kesehatan kandungan. Sebelum memasuki masa kehamilan, Anda dan pasangan tentunya perlu melakukan pemeriksaan kesehatan. Apalagi jika pasutri termasuk pasangan yang sulit punya anak setelah usia pernikahan di atas satu atau dua tahun. Anda tentu memerlukan pemeriksaan kesehatan reproduksi lebih lengkap lagi.

Kebutuhan yang Anda dan pasangan perlukan dalam masa kehamilan di antaranya memeriksakan diri ke dokter minimal satu bulan sekali, USG (minimal satu bulan sekali), dan vitamin. Di luar faktor kesehatan, sebagai bagian keluarga Anda dan suami juga menjalani tradisi seperti syukuran, dan aktivitas ini memerlukan biaya tentunya. Belum lagi mempersiapkan baju hamil, senam hamil sebagai pendukung kesiapan mental dan kesehatan calon ibu, juga berbagai kebutuhan informasi seputar kehamilan dari buku atau majalah.

Masa melahirkan
Dana melahirkan akan selalu naik seiring laju inflasi. Artinya, saat mempersiapkan dana kelahiran, pasutri perlu memperhitungkan inflasi. Beruntung bagi pasangan bekerja yang mendapat pembiayaan melahirkan dari tempat Anda atau suami bekerja. Jika kantor tidak menyediakan dana melahirkan untuk karyawannya, Anda dan suami perlu memperhitungkan setiap pengeluaran dengan terinci.

"Persiapkan dana melahirkan dengan worst case, yakni skema caesar. Jika pun ternyata melahirkan normal, kelebihan dana dapat digunakan untuk keperluan lain, seperti dana pendidikan anak," tutur Ligwina. Bahkan setelah melahirkan pun masih ada biaya lain yang diperlukan. Misalnya syukuran, dokter anak, imunisasi, jasa baby sitter, diapers, vitamin, dan makanan bayi.

Cukupkah tabungan di bank memenuhi semua kebutuhan ini? Jika tidak, saatnya memikirkan investasi. Sebelum menjatuhkan pilihan investasi, buatlah prioritas perencanaan keuangan sesuai kebutuhan. Komunikasikan dengan pasangan untuk menentukan prioritas keluarga. Jika merasa perlu, konsultasikan masalah keuangan keluarga atau pasangan dengan pakarnya.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jul 26, 2010 7:12 pm

APAKAH ANDA MENGALAMI STRES KEUANGAN?
Sabtu, 21 Agustus 2010, 15:29 WIB Finalia Kodrati, Lutfi Dwi Puji Astuti
VIVAnews - Keuangan bisa menjadi penyebab utama stres dalam kehidupan Anda. Banyak orang berjuang hanya mengandalkan gaji untuk mencukupi seluruh kebutuhan hidup mereka. Belum lagi disisihkan untuk menabung sebagai dana pensiun atau liburan yang sangat dibutuhkan. Apa pun alasannya, kita semua merasakan kecemasan yang terkait dengan kebutuhan untuk mendapatkan uang dan bagaimana membelanjakan uang yang kita miliki.

Jika tak pandai-pandai mengatur keuangan antara pemasukan dan pengeluaran, masalah ini bisa menjadi penghancur hidup Anda. Apalagi bagi mereka yang telah berumah tangga. Mereka yang menderita stres keuangan bisa menyebabkan insomnia, masalah jantung, masalah pencernaan, kesulitan konsentrasi dan perubahan suasana hati dan status mental. Anda mungkin menderita stres karena keuangan yang mungkin tidak Anda sadari. Anda bahkan tidak menyadari. Jika Anda tidak tahu bahwa Anda telah atau berpotensi memiliki stres. Untuk mengetahui apakah Anda menderita stres keuangan, ada baiknya uji diri sendiri dengan pertanyaan ini:

* Apakah Anda hidup dari gaji ke gaji?
* Apakah Anda menyadari pengeluaran bulanan Anda, account saldo, piutang, dan lain-lain?
* Apakah Anda hampir tidak mampu melakukan pembayaran minimum kartu kredit?
* Apakah cek Anda memantul atau saldo account Anda negatif?
* Apakah Anda menggunakan satu kartu kredit untuk membayar tagihan kartu kredit lain?
* Apakah Anda menghindari membicarakan keuangan dengan pasangan Anda karena menyebabkan kegelisahan?
* Apakah Anda mengalami sakit kepala dan gangguan perut, atau borok yang terkait dengan khawatir keuangan Anda?
* Apakah Anda mencoba untuk mengikuti gaya hidup dan pengeluaran dari teman dan tetangga?

Jika Anda menjawab ya untuk beberapa dari pertanyaan-pertanyaan ini, Anda mungkin memiliki atau beresiko memiliki tekanan keuangan.

Menghabiskan uang lebih dari yang Anda lakukan, kurangnya perencanaan dan mengeluarkan pengeluaran hanya demi harga diri Anda sendiri dapat menyebabkan bencana, finansial, emosional, mental dan fisik. Segera atasi masalah stres keuangan Anda dengan mengelola keuangan lebih efisien. Dengan begitu Anda akan menurunkan stres.

Menurunkan atau menghilangkan stres yang berhubungan dengan keuangan dapat membantu Anda menciptakan hidup lebih sehat lebih bahagia. Mengendalikan diri menggunakan uang untuk hal yang tak perlu juga akan membantu meringankan tekanan keuangan di masa depan.
• VIVAnews


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:34 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jul 26, 2010 7:13 pm

GANTI MOBIL ATAU BELI RUMAH?
Jumat, 23/11/2007 09:03 WIB Risza Bambang - detikFinance
Jakarta - Pertanyaan:
Saya karyawan swasta usia 32, menikah dan punya satu anak. Penghasilan bulanan saya saat ini Rp 11 juta. Di luar gaji saya mendapatkan tunjangan lain dari kantor sebesar Rp 36 juta per tahun, kadang terpakai sebagian. Pengeluaran rutin bulanan saat ini Rp 10 s/d 11 jt, dengan kata lain kadang bisa nabung kadang tidak. Saat ini saya punya deposito Rp 17 juta. Saya tinggal di rumah yang dipinjamkan orang tua, namun statusnya hanya pinjaman (bukan diberikan). Saya sudah punya mobil sendiri keluaran th 2003 yang sudah lunas saya cicil.

Saya punya dua opsi untuk tahun depan yaitu opsi pertama membeli rumah secara kredit 10 tahun, namun konsekuensinya saya tidak bisa mengganti mobil dalam waktu dekat, sedangkan biaya perawatan mobil makin meningkat. Opsi kedua saya membeli mobil baru secara tunai sehingga biaya perawatan berkurang, tapi saya harus menunda membeli rumah lebih lama lagi, di sisi lain harga rumah makin meningkat. Selain itu ada resiko suatu hari rumah pinjaman orang tua akan diambil lagi.

Mohon masukan dan saran atas dua alternatif tersebut, atau jika memungkinkan ada alternatif lain yang harus saya lakukan. Terima kasih atas masukan dan sarannya.

Jawaban:

Kalau dianalisa berdasarkan informasi yang Bapak berikan, maka tampaknya Bapak adalah seorang Eksekutif Muda yang memiliki karir yang cemerlang. Dalam usia yang masih tergolong muda Bapak mempunyai Penghasilan yang saat ini banyak diimpikan orang. Namun sayangnya saya tidak mempunyai informasi apakah istri Bapak juga bekerja atau mempunyai penghasilan? Jika ya maka berapa Penghasilan yang tentunya menjadi tambahan Sumber Pendapatan bagi Keluarga.

Selain itu saya juga tidak dapat menganalisa kondisi Anak Bapak. Apakah sudah bersekolah atau belum? Jika ya maka sekarang kelas berapa? Apakah ada kemungkinan untuk naik ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dalam waktu dekat? Misalnya dari TK jadi SD? Bagaimana dengan Perencanaan Pendidikannya? Apakah sudah dipersiapkan? Dan lain sebagainya.

Dengan berdasarkan pada informasi di atas yang saya peroleh maka sekilas terlihat bahwa Bapak tidak mempunyai masalah dengan pemasukan tetapi masalah terbesar Bapak adalah pengeluaran. Banyak orang yang beranggapan bahwa kekayaan seseorang dinilai dari Besar Penghasilannya. Padahal jika penghasilan besar tetapi pengeluaran juga besar maka bisa dikatakan orang tersebut sangat tergantung kepada pekerjaannya, dan belum bisa dikatakan sebagai Orang Kaya.

Seharusnya kekayaan dilihat dari berapa lama keluarga dari orang tersebut bisa tetap hidup dengan tanpa mengorbankan Gaya Hidupnya saat ini, dengan tanpa perlu bekerja lagi. Dengan kata lain, biaya hidup keluarga dibebankan kepada aset likuid atau bahkan dari Pasive Income (Pendapatan yang diperoleh tanpa perlu bekerja lagi). Jadi rekomendasi saya adalah Bapak perlu untuk memperbaiki gaya hidup keluarga sehingga bisa lebih efisien dalam mengatur Pengeluaran. Cobalah Anda membuat:

1. Daftar Pengeluaran Belanja yang Utama,
2. Anggaran Pengeluaran
3. Hapuslah Jenis Pengeluaran yang tidak perlu atau penting,
4. Perbaiki cara membayar Kartu Kredit dengan selalu melunasi tagihan sebelum Jatuh Tempo,
5. Disiplin dalam membelanjakan uang agar selalu sesuai dengan Anggaran dan tidak melebihi anggaran yang sudah ditetapkan,
6. Kurangi kebiasaan membuang uang untuk makan di luar, nonton film di Bioskop, belanja di Mall, Rokok, Jajan dsb.

Dengan melakukan hal-hal tersebut secara disiplin dan benar maka mudah-mudahan pengeluaran Bapak bisa disesuaikan menjadi maksimum 70% dari Penghasilan Total Keluarga. Sisa penghasilan bisa digunakan sebagai Investasi atau bisa dipergunakan sebagai sumber dana untuk kredit baik KPR (Rumah) maupun KPM (Mobil).

Namun janganlah lupa bahwa akan ada tambahan biaya lainnya yang disebabkan oleh pembelian rumah atau mobil, misalnya bayar PBB, penyesuaian transportasi, perawatan rumah atau mobil dan lain-lain. Perubahan gaya hidup ini juga menjadi syarat utama dalam pengajuan Kredit baik KPR atau KPM mengingat pihak pemberi kredit (Bank atau Finance) memberlakukan bahwa Angsuran Bulanan tidak boleh lebih dari 1/3 Nilai Penghasilan.

Dengan sedikit mengorbankan gaya hidup keluarga Bapak selama maksimal 1 tahun maka kelihatannya dalam 12 bulan mendatang maka Bapak bisa memperoleh 2 impian Bapak secara sekaligus. Yaitu dengan cara tukar guling kendaraan untuk mobil dengan tahun yang lebih baru dengan sumber dana dari deposito dan/atau tunjangan pendapatan. Sedangkan KPR dapat diperoleh dengan sisa pendapatan akibat Revisi Anggaran Belanja. Uang muka pembelian rumah bisa diperoleh dari akumulasi sisa pendapatan selama 12 bulan. Demikian pendapat dan saran saya, mudah-mudahan bisa membantu Bapak dalam mengatasi kebingungan tersebut.

Salam
Risza Bambang-Shildt Financial Planner (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 1:01 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jul 26, 2010 7:16 pm

KARYAWAN ATAU WIRASWASTA?
Senin, 17/12/2007 09:05 WIB Risza Bambang - detikFinance
Jakarta - Pertanyaan:

Saya Pria berumur 33 tahun. Sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta, sekitar 8 tahun. Status saat ini karyawan tetap. Gaji Rp 1.750.000,-/bulan.
Saya juga memiliki usaha bidang Advertising dan Reklame, ada tiga cabang. Semua tempatnya mengontrak/tahunan. Karyawan 9 orang, rata-rata masih dari keluarga sendiri. Setelah bagi hasil dengan karyawan, saya dapat bagian Rp 6.000.000/bulan (kadang lebih, kadang kurang).

Saya juga punya mobil Toyota Avanza tahun 2004 yang selama ini biasa direntalkan (gabung ke perusahaan rental teman) sewa per hari Rp225.000. Setiap bulan saya jalankan 10 hari saja. Penghasilannya sekitar 2.250.000. Bila semua digabung, penghasilan saya satu bulan sekitar Rp 10.000.000. Sedangkan pengeluaran rutin/setiap bulan: Belanja Keluarga Rp.1.500.000. Listrik+Telepon Rp.400.000. Transportasi Rp.500.000. Biaya bulanan untuk ibu kandung Rp 500.000. Kredit Bank (3 th lagi) Rp 1.541.000. Kredit Motor (14 bulan lagi) Rp 966.000. Asuransi pendidikan anak Rp.215.000.

Total pengeluaran setiap bulan, sekitar Rp 5.7 jutaan. Tapi saya selalu bisa menabung setiap bulan antara Rp 3 juta-Rp4 jutaan. Saya kini punya tabungan Rp30 jutaan, tapi terkadang dipakai juga buat modal usaha. Saya juga sudah punya rumah type RSH 36 sudah lunas dari BTN. Kini kami tempati sekeluarga. Informasi tambahan: Istri saya tidak bekerja, hanya IRT. Anak tertua kami berumur 4,5 tahun, baru mau masuk TK tahun depan. Anak bungsu baru berumur 0.7 bulan. Masalahnya; Belakangan saya mulai ada keinginan untuk berhenti secara baik-baik dari perusahaan.

Alasan saya:
- Saya mulai jenuh dan bosan dengan rutinitas pekerjaan, mengikat dan membosankan.
- Gaji bulanan lebih kecil dari penghasilan usaha saya, tapi jelas tetap, walau saya tidak masuk kerja.
- Saya merasa kesulitan untuk fokus/membagi waktu; antara pada pekerjaan sebagai karyawan atau pada usaha saya.
- Secara etika, Saya juga merasa bersalah pada teman-teman di perusahaan yang tampaknya selalu punya loyalitas lebih pada pekerjaan dari pada saya yang selalu mendua.
- Saya pikir; bila saya fokus mengurus usaha sendiri, kemungkinan lebih baik dan mendatangkan hasil lebih maksimal.

Pertanyaannya:

a. Apakah keinginan saya untuk berhenti dari perusahaan adalah keputusan tepat? Saya kini merasa ragu memutuskan untuk berhenti dari perusahaan, sebab itu membuat saja kehilangan pemasukan tetap dari gaji bulanan selama ini. Mohon pertimbangan dan sarannya.

Jawaban:

Arus Kas:
Pendapatan
Gaji: 1.750.000
Bagi Hasil Usaha: 6.000.000
Sewa Mobil: 2.250.000
Total Pendapatan 10.000.000
Pengeluaran:

Belanja 1.500.000
Listrik dan Telepon 400.000
Transportasi 500.000
Bantuan utk Ibu 500.000
Kredit Motor 1.541.000
Kredit Usaha 966.000
Asuransi Pendidikan 215.000
Total Pengeluaran 5.622.000

Selisih Positif 4.378.000

Dari Arus Kas di atas terlihat bahwa Bapak mempunyai Kemampuan untuk Menabung sebesar minimal Rp 4 juta per bulan. Dan berdasarkan informasi atas realita kehidupan sehari-hari maka Bapak secara disiplin telah berhasil menabung sebesar Rp 3-4 juta per bulan. Secara teori maka Bapak akan memperoleh Akumulasi Investasi yang sangat menarik jika dana ini dikelola dengan baik, dalam arti secara :

1. Aman-baik bentuk instrumen investasi maupun penyedia produknya
2. Nyaman-mempunyai fasilitas yang representatif, baik dan memberikan kedamaian pada saat akses dana, memberikan ketenangan pikiran karena Tingkat Pengembalian Investasi yang cukup menarik dalam jenis fund dengan resiko moderat.Dengan asumsi jika ditempatkan pada Deposito saja maka dengan asumsi bunga misalnya 6% per tahun maka dalam jangka waktu 1 tahun akan diperoleh kira-kira Rp 50 juta pada akhir tahun.

Jadi jika saat ini Harta Kekayaan Bapak sudah tercapai +/- Rp 30 juta, maka yang menjadi pertanyaan adalah Sudah berapa lama Bapak menabung? Bagaimana disiplin Bapak dalam komitmen menabung? Bagaimana Bapak mengelola tabungan? Apa instrumen Investasi yang dipilih?
Semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas akan mempengaruhi Akumulasi Hasil Tabungan atau Investasi yang dilakukan oleh seseorang.

Oleh karena itu untuk bisa memilih Apakah Tetap Bekerja dengan Bisnis Sampingan tetap jalan? Atau Berhenti Bekerja untuk Fokus Mengelola Bisnis Sendiri? Jawabannya adalah sangat tergantung kepada Gaya Hidup yang Keluarga Bapak lakukan sekarang. Dalam realita atau kenyataan yang kita hadapi salah satu Faktor Penting dalam Mengatur Kehidupan Keuangan Keluarga adalah Menentukan Gaya Hidup yang akan kita Jalankan. Jika saat ini Keluarga Bapak sudah menikmati dan bahkan sampai kondisi ketagihan akan Gaya Hidup tertentu, maka merubahnya tentu akan membutuhkan Tantangan yang tidak mudah. Tetapi hal itu bisa diantisipasi dengan seberapa besar komitment kita untuk mencapai Tujuan Hidup Keluarga yang ingin direalisasikan di masa depan. Semakin kuat komitmen kita maka akan semakin mudah bagi kita untuk melakukan penyesuaian Gaya Hidup dengan Rencana Keuangan yang ingin dicapai.

Jika Bapak ingin berhenti bekerja untuk fokus mengelola bisnis sendiri maka syarat utama adalah mempunyai Total Pendapatan Pasif yang nilainya Lebih Besar daripada Total Pengeluaran yang dibutuhkan akibat Gaya Hidup yang dipilih. Selain itu juga diperlukan untuk membersihkan semua hutang-hutang yang tersisa. Mempunyai Dana Darurat-senilai minimal 12 kali Pengeluaran Bulanan-yang mudah dicairkan jika terjadi keadaan Darurat. Memiliki Asuransi Jiwa dengan nilai Proteksi sebesar Jumlah Uang yang bisa menghasilkan Bunga Investasi Bulanan (misalnya Deposito) senilai Pengeluaran Bulanan. Juga selalu meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk terus menciptakan Bisnis yang menghasilkan Pendapatan Pasif lainnya.

Jika hal itu belum terwujud maka pilihan lainnya adalah Tetap bekerja tetapi dengan mengupayakan agar Pendapatan dari Bisnis bisa mewujudkan keinginan untuk fokus mengelola bisnis sendiri. Tentunya ini tidak mudah karena Kita harus pintar dalam membagi waktu, pikiran, tenaga, perhatian, fokus dan komitmen baik bagi Pekerjaan dari Kerja dengan Orang Lain ataupun dengan Pekerjaan dari Bisnis Sendiri.

Baik pak, mudah-mudahan penjelasan ini bisa membantu Bapak.SalamRisza Bambang-Shildt Financial Planner


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 12:58 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Wed Aug 11, 2010 4:08 pm

5 KEWAJIBAN DALAM MENGELOLA UANG
Rabu, 14/7/2010 | 22:18 WIB
KOMPAS.com - Apapun pekerjaan Anda, dan berapapun penghasilan setiap bulannya, seharusnya bisa dikelola lebih baik untuk menghindari defisit. Pengelolaan dan perencanaan keuangan yang tepat akan memberikan solusi masalah keuangan. Termasuk membangun kemandirian, terutama bagi perempuan kepala keluarga.
Nini Sumohandoyo, Corporate Marketing & Communication Director Prudential Indonesia mengatakan, perempuan kerapkali menyangkal tak pernah bisa menyisihkan uang. Termasuk untuk menabung apalagi berinvestasi. Padahal, dengan mengurangi konsumsi barang yang tidak terlalu penting (dengan kondisi keuangan terbatas), seperti perhiasan atau pakaian berbeda variasi model dan warna, perempuan bisa menyisihkan Rp 300.000 setiap bulannya.

"Dengan menyisakan uang Rp 300.000 saja, perempuan bisa menabung, memiliki asuransi atau investasi lainnya," kata Nini, di sela pelatihan pengelolaan dan perencanaan keuangan untuk 300 perempuan pedagang kaki lima, diadakan oleh Prudential Indonesia di Wisma Mandiri, Jakarta, Rabu (14/7/2010).
Nini memaparkan tahapan yang bisa dimulai perempuan dalam mengelola keuangannya:

1. Melunasi hutang
Meskipun pengelolaan keuangan sudah terlanjur berantakan, belum terlambat untuk memperbaikinya. Apalagi jika Anda memiliki sejumlah hutang untuk tambal sulam. Mulailah menyisihkan uang dari pendapatan untuk membayar hutang. Bagaimanapun hutang menjadi kewajiban Anda. Hutang yang tak terbayar, lambat laun akan merusak kredibilitas Anda. Reputasi Anda dipertaruhkan jika kewajiban (hutang) tak kunjung dilunasi. Alokasikan maksimum 30 persen dari gaji sebulan untuk membayar cicilan atau hutang.

2. Menabung
Yakinkan diri Anda, bahwa berapapun nilai penghasilan, sangat bisa disisihkan untuk menabung. Alokasikan dana 10 - 20 persen dari penghasilan untuk ditabung. Untuk bisa menjalankan perencanaan ini, batasi konsumsi. Perempuan kerapkali tergoda dengan berbagai barang yang sebenarnya tak terlalu penting dibeli. Bahkan terkadang hanya terbawa pengaruh teman atau tren. Mulailah tegas kepada diri sendiri, dengan membuat prioritas kebutuhan yang jauh lebih penting.

3. Dana darurat
Siapkan juga dana cadangan sebagai dana darurat. Selalu akan ada kebutuhan tak terduga, seperti sakit keras sehingga harus dirawat. Rumah sakit membutuhkan biaya tak sedikit bukan? Mulailah menyisihkan dana sebesar lima persen dari penghasilan bulanan. Siapkan dana darurat hingga enam bulan ke depan. Sebagai langkah antisipasi, buatlah rekening pasif khusus untuk dana darurat, atau merangkap sebagai tabungan. Pisahkan rekening pasif ini dari rekening aktif yang khusus untuk kebutuhan sehari-hari.

4. Asuransi
Setelah dikurangi kebutuhan rutin bulanan, membayar hutang, menabung, dan persiapan dana darurat, sisa penghasilan bisa digunakan untuk membeli asuransi.
Utamakan asuransi jiwa untuk kepala keluarga. Siapapun yang menjadi tulang punggung keluarga, perempuan atau lelaki, sebaiknya memiliki asuransi jiwa. Karena jika terjadi sesuatu kepada kepala keluarga, kehidupan keluarga masih bisa berjalan dan dinafkahi dari asuransi untuk waktu tertentu. Selain asuransi jiwa, jenis asuransi lain yang juga bisa diprioritaskan di antaranya asuransi kesehatan. Asuransikan juga properti, apalagi yang digunakan untuk berbisnis, seperti kios atau toko.

5. Investasi
Menyisihkan uang untuk investasi, sebaiknya dilakukan setelah kewajiban di atas terpenuhi. Bentuk sederhananya, jika memiliki dana lebih, investasikan uang Anda dalam bentuk emas. Namun sebaiknya hati-hati saat berinvestasi emas, perhatikan dan pahami nilai jual dan kualitasnya.

Mengalokasikan uang untuk investasi bisa diambil dari sumber pendapatan lain. Seperti THR, bonus, warisan, atau pendapatan lain di luar penghasilan utama. Bentuk investasi banyak macamnya, risikonya bervariasi, begitupun dengan nilai investasinya di kemudian hari. Sebaiknya kenali lebih cermat produk investasi sebelum memilihnya. Jika kelima kewajiban ini sudah terpenuhi, monitor pengeluaran dan sesuaikan dengan rencana yang sudah dibangun. Displin menggunakan uang menjadi kunci keberhasilan pengelolaan keuangan.


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 11:58 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sat Aug 14, 2010 11:59 am

BAGAIMANA CARA MENINGKATKAN PENDAPATAN
Jumat, 13/8/2010 | 16:08 WIB
KOMPAS.com — Banyak orang yang mengalami kesulitan mengatur pendapatan untuk menutupi atau membayar seluruh biaya hidup yang makin kompleks dan tinggi. Freddy Pieloor dari CFP menganjurkan beberapa hal di bawah ini:

Ada dua cara umum dalam mengelola keuangan pribadi dan keluarga, yaitu:
a. Mencukupkan pendapatan (gaji) yang diterima, dalam arti pengeluaran harus lebih kecil daripada pendapatan, dengan menekan atau menurunkan biaya hidup.
b. Memperbesar pendapatan (gaji) yang diterima, bila pengeluaran tidak bisa diturunkan atau ditekan.

Sebenarnya menurunkan pengeluaran biaya hidup jauh lebih mudah daripada memperbesar pendapatan karena pengeluaran biaya hidup berada dalam kendali diri, sedangkan memperbesar pendapatan akan melibatkan pihak ke-3.

Memperbesar atau meningkatkan pendapatan (gaji) dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain:
1. Menambah jam kerja atau lembur, baik pada hari kerja maupun hari Sabtu. Tentunya Anda harus berkoordinasi dengan pimpinan perusahaan tempat Anda bekerja, dengan memerhatikan beban pekerjaan yang ada.
2. Mencari pekerjaan tambahan yang dapat Anda lakukan pada hari kerja (Senin-Jumat), dan atau pada hari Sabtu dan Minggu.
3. Memanfaatkan hobi atau kesenangan Anda di hari-hari yang Anda lalui, seperti menjahit, menyulam, merangkai bunga, dan menulis buku.
4. Membuka usaha sambilan dari rumah yang dapat Anda kerjakan pada hari Sabtu dan Minggu, seperti membuka usaha warung makan atau catering, memberi pelajaran atau pelatihan tambahan bagi anak-anak sekolah, seperti musik, matematika, bahasa Inggris, dan komputer.

Saat ini sudah cukup banyak buku yang membahas dan menjelaskan berbagai bisnis rumahan yang dapat dimulai dan dilakukan dengan modal yang relatif kecil serta dapat membantu dan memberikan Anda sebuah ide. Namun, usaha tersebut sebaiknya dilakukan tanpa Anda harus meninggalkan pekerjaan saat ini.

Galilah potensi dan kemampuan yang Anda miliki dan dibutuhkan oleh orang sekitar Anda, lalu mulailah membuat sebuah analisis dan rencana tentang pekerjaan atau usaha sambilan yang Anda sukai dan kuasai untuk menambah pendapatan Anda. Selamat menata dan memperoleh pendapatan tambahan. Sebelum dan sambil merencanakan memperoleh pendapatan tambahan, sebaiknya Anda menata ulang semua pengeluaran Anda. Dengan demikian, Anda akan memperoleh dua manfaat terbaik bagi pengelolaan keuangan Anda.
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sat Aug 14, 2010 12:02 pm

KEUANGAN AMAN SEPANJANG TAHUN
Kamis, 8/1/2009 | 14:33 WIB
Kompas.com - Mengapa satu dari empat orang gagal mewujudkan resolusi keuangan mereka? Karena mereka membuat resolusi itu terlalu umum. Mungkin, Anda termasuk di antaranya. Untuk memudahkan Anda membuat rencana keuangan sepanjang tahun ini, CHIC rumuskan rencana itu dalam 12 langkah mudah yang bisa direalisasikan setiap bulan. Jika hanya satu langkah yang bisa diwujudkan, keuangan Anda takkan berbeda jauh dari tahun sebelumnya. Sebaliknya, mewujudkan beberapa langkah, Anda akan membuat perbedaan besar dalam keuangan Anda. Dan, jika Anda bisa merealisasikan semuanya, Anda akan bahagia tahun depan. Ready?

JANUARI: BUKA TABUNGAN
Seringkali meski menabung sudah diniatkan, menjelang masa liburan, hari raya keagamaan atau akhir tahun, tabungan akan terkuras karena besarnya pengeluaran di waktu-waktu itu. Padahal, semangat kita untuk menabung sudah sangat besar pada 1 Januari. Nah, jika menabung menjadi tujuan utama di tahun ini, maka Anda perlu merinci sedikit soal resolusi ini. Misalnya, berapa banyak uang yang ingin Anda simpan setiap bulan. Tentukan secara realistis sesuai kemampuan keuangan. Tentu dengan tetap memerhatikan bahwa untuk menabung, Anda wajib menyisihkan minimal 10% dari penghasilan setiap bulan. Bagaimana agar Aman? Masukkan uang tadi ke dalam tabungan berjangka, dan buatlah agar rekening tabungan ini bisa didebet secara langsung dari rekening utama. Usahakan pendebetan tak jauh dari tanggal Anda menerima gaji. Dijamin, Anda takkan terlewat untuk menabung.

FEBRUARI: CATAT SEMUA PENGELUARAN
Entah mengapa, ide membuat anggaran bulanan sering membuat kita pesimis duluan dan malas memulainya. Padahal, tujuan utama membuat anggaran bukan untuk membatasi pengeluaran, melainkan untuk melacak ke mana perginya uang Anda setiap bulan. Dari situ Anda bisa mengetahui bahwa mungkin uang Anda setiap bulan terlalu banyak digunakan untuk perawatan wajah atau untuk hiburan. Tidak tahu bagaimana membuat anggaran? Buka situs http://money.ninemsn.com.au/managing-money/tools/budget-planner.aspx.

MARET: PERHATIKAN KARTU KREDIT
Banyak pemilik kartu kredit bermasalah dengan cicilan utang. Coba perhatikan, berapa besar dari gaji Anda yang dibayarkan untuk memenuhi minimum payment kartu kredit Anda? Memang ketidakpedulian akan bunga kartu kredit, membuat kita dengan sesuka hati menggeseknya setiap melihat barang bermerek sedang sale.
Nah, mulai hari ini coba perhatikan tagihan kartu kredit Anda. Berapa besar bunga yang harus Anda bayar? Setiap kartu kredit menawarkan bunga dan fitur berbeda. Apakah Anda sangat membutuhkan point rewards? Jika tidak, ganti saja kartu kredit Anda ke kartu yang menawarkan bunga lebih rendah atau lakukan transfer balance. Anda akan merasakan perbedaannya saat membayar tagihan setiap bulan.

APRIL: KURANGI JUMLAH REKENING
Sadarkah Anda bahwa memiliki banyak rekening tabungan sama dengan mengeluarkan biaya lebih untuk urusan administrasi buku dan ATM serta potongan pajak. Jika dana yang tersimpan dalam rekening tersebut cukup besar, mungkin tak masalah. Potongan-potongan tersebut akan ditutup oleh bunga tabungan. Namun, jika dananya sedikit? Lebih baik Anda membuka satu rekening yang bisa memenuhi semua kebutuhan transaksi setiap bulan. Dan, perhatikan bahwa dengan hanya satu rekening ini Anda akan menghemat uang cukup besar dalam setahun nanti.

MEI: REVIEW ASURANSI
Asuransi memang penting untuk berjaga-jaga. Tapi tak semua tawaran yang datang harus Anda iyakan bukan? Jangan terlalu mudah tergiur tawaran mendapatkan keuntungan lebih dari sekadar perlindungan. Misalnya tawaran asuransi plus investsi padahal Anda tidak paham benar aturan mainnya. Buatlah prioritas. Misalnya, asuransi jiwa cukup satu saja. Lantas, bill Anda memiliki kendaraan pribadi, itu termasuk hal yang wajib Anda asuransikan mengingat kodisi jalan dan biaya perbaikan yang sangat mahal. Intinya, Anda perlu tahu tujuan Anda membeli asuransi. Meski premi kelihatan kecil, kalau diakumulasikan ya banyak juga.

JUNI: SISAKAN UNTUK AMAL
Masih ingat pesan bahwa dalam penghasilan kita terdapat 2,5% harta orang tidak mampu? Nah, berapa pun penghasilan Anda, sisihkan jumlah tersebut dan sumbangkan. Anda bisa memberikannya langsung kepada orang tidak mampu di sekitar Anda atau lewat lembaga/yayasan khusus. Kebaikan Anda tak hanya membantu mengentaskan kemiskinan, tapi juga bisa menambah rezeki Anda sendiri. Konon, jika kita memberikan sebagian uang kita, maka uang yang kita dermakan, bisa kembali sepuluh kali lipat. Dengan catatan, tentu saja jika sedekah diberikan sepenuh hati.

JULI: EVALUASI
Sudah enam bulan rencana keuangan Anda berjalan. Luangkan waktu di bulan ini untuk me-review apa yang sudah Anda lakukan selama enam bulan terakhir. Anda bisa melihatnya lewat dokumen keuangan yang akan Anda rapikan juga di bulan ini. Dokumen keuangan itu antara lain, slip gaji, struk belanja, bukti pembayaran berbagai tagihan. Berapa banyak uang yang sudah Anda hemat hingga bulan ini dan berapa yang sudah masuk ke tabungan?

AGUSTUS: ATUR THR
Hari Raya Idul Fitri tahun 2009 akan jatuh di bulan ini. Untuk mencegah pengeluaran lebih banyak, hindari menghabiskan Tunjangan Hari Raya alias THR sekaligus. Memegang uang banyak akan membuat Anda belanja barang-barang tidak perlu. So, buat catatan dan berbelanja seminggu sekali, sebulan sebelum hari raya tiba.

SEPTEMBER: BERHENTI MEROKOK
Mengapa resolusi ini perlu masuk dalam catatan keuangan Anda? Karena dana yang digunakan untuk membeli rokok bisa sangat besar jumlahnya. Dan, dana ini tidak pernah masuk ke dalam anggaran bulanan. Jadi, jika Anda gagal merealisasikan rencana berhenti merokok di bulan Januari, sekaranglah saatnya.

OKTOBER: WASIAT
Anda memiliki investasi berupa rumah atau apartemen, sebuah tabungan dengan dana cukup besar dan unitlink? Tidak ada salahnya Anda membuat wasiat. Memang cara ini belum umum di masyarakat kita. Namun, agar harta tidak jatuh ke tangan yang salah jika terjadi sesuatu pada diri Anda, mengapa tidak dicoba. Agar lebih resmi, lakukan di depan notaris. Jangan biarkan orang-orang tersayang Anda susah karena keengganan Anda.

NOVEMBER: BERESKAN PAJAK
Anda sudah menjadi warga negara yang baik dengan memiliki NPWP? Inilah saatnya Anda melaporkan pajak penghasilan dan harta Anda. Kumpulkan semua dokumen yang diperlukan dan mulailah mengisi formulir pajak. Dengan melakukannya jauh-jauh hari, Anda bisa terlepas dari sanksi keterlambatan. Pengisian ini sekaligus menjadi momen untuk Anda me-review apa saja yang Anda miliki, termasuk utang di bank.

DESEMBER: TEMUI FINANCIAL PLANNER
Nah, seluruh langkah sudah Anda jalani.Tabungan pun sudah dimiliki. Kini saatnya Anda mencari tenaga profesional. Temui financial planner yang Anda percaya dan bersiaplah mengembangkan harta yang Anda miliki ke dalam investasi yang tepat.

(Chic/Erma Dwi Kusumastuti)
Back to top Go down
View user profile Online
 

Perencanaan Keuangan Keluarga

View previous topic View next topic Back to top 
Page 4 of 14Goto page : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 9 ... 14  Next

 Similar topics

-
» kisah keluarga pembohong
» Perencanaan Keuangan Keluarga
» ritual / adat / kepercayaan/ org kdm ketika mengurus saudara atau keluarga meninggal
» Kekurangan dan KEgagalan Sri Mulyani terlihat,balik Ke INdonesia?
» Keluarga Nod + cara update username

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-