|
| | Perencanaan Keuangan Keluarga | |
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Wed Jun 09, 2010 12:19 pm | |
| CERMAT MENGELOLA KEUANGAN SAAT LIBURAN Rabu, 9 Mei 2010 KOMPAS.com - Anda berencana bepergian bersama keluarga atau teman-teman di musim liburan ini? Yang perlu Anda persiapkan menjelang liburan nanti tentunya bukan hanya akomodasi dan lokasi wisata, tetapi juga keuangan. Enggak asyik kan, kalau Anda kehabisan uang saat liburan masih berjalan? Anda bisa mengikuti tips mengatur anggaran liburan dan pengeluaran dari Visa, berdasarkan riset terhadap 7.500 pelancong di seluruh Asia Pasifik berikut ini:
1. Susun rencana dan anggaran liburan jauh sebelum keberangkatan. Untuk menghindari pengeluaran tak terduga ketika dalam perjalanan, rencanakan anggaran liburan dan lakukan identifikasi kegiatan dan pembelian yang menimbulkan alokasi dana yang besar, sehingga harga yang muncul tidak mengagetkan. Di samping itu, pemegang kartu harus memberitahukan bank penerbit kartu masing-masing sebelum berangkat, untuk menghindari gangguan terhadap kartu Anda. Selalu ingat nomor PIN Anda, namun jangan menyimpannya di ponsel atau dompet. Untuk berjaga-jaga, buat pembayaran otomatik untuk kartu kredit, dan pastikan Anda memiliki dana cukup dalam rekening debit Anda. Menurut hasil riset Visa travel, para pelancong memerlukan waktu rata-rata 14 minggu untuk merencanakan liburan mereka. Tiga perempat dari responden juga mengatakan bahwa mereka lebih memilih untuk merencanakan dan memesan liburan secara online. Internet merupakan sumber yang sangat bermanfaat untuk mendapatkan informasi perjalanan dan mengecek cara-cara pembayaran yang tersedia di tempat tujuan liburan.
2. Cek penawaran untuk tujuan liburan Anda. Untuk merencanakan anggaran perjalanan dengan lebih lebih rinci, para pelancong perlu mengecek promo-promo lokal di (negara) tempat tujuan mereka, mulai dari tinggal di hotel gratis sampai dengan diskon di restoran-restoran. Dengan demikian, Anda dapat menikmati akses terhadap promo tersebut namun dengan biaya yang hemat. Untuk Anda pemegang kartu Visa, dapatkan informasi mengenai biaya-biaya liburan dengan mengunjungi www.visagoexplore.com.
3. Hindari membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Semakin sedikit uang tunai yang dibawa semakin sedikit risikonya. Keamanan pribadi semakin meningkat dengan menggunakan metode-metode pembayaran elektronik Visa seperti kartu debit, kartu kredit, atau kartu pra-bayar (prepaid card). Hampir satu dari dua orang responden (45 persen) mengatakan bahwa alasan utama memilih menggunakan kartu pembayaran elektronik daripada uang tunai atau cek perjalanan untuk transaksi di luar negeri adalah untuk memperkecil risiko. Hanya 4 persen dari para pelancong berpendapat bahwa membawa uang tunai itu aman. Jika uang tunai hilang atau dicuri, uang tersebut akan hilang untuk selamanya sedangkan kartu Visa dapat diganti dengan menelepon bank penerbit. Pelancong yang mencari cara cermat untuk membayar akan merasa lebih nyaman mengetahui bahwa Visa diterima di jutaan lokasi merchant di dunia.
4. Gunakan ATM untuk cara aman, nyaman, dan mudah ke anggaran. Untuk menghindari membawa uang tunai dalam jumlah besar, dua per tiga (64 persen) dari responden memilih untuk mengambil uang tunai dari ATM di daerah tujuan mereka. Terdapat lebih dari 1,6 juta ATM berlogo Visa di dunia, termasuk bandara-bandara utama, menjadikan lebih mudah dan nyaman untuk mengakses anggaran. Pemegang kartu dapat mencari ATM berlogo Visa atau PLUS untuk memastikan bahwa kartu pembayaran internasional diterima.
Ellyana Fuad, Country Manager Indonesia Visa, mengatakan, “Kartu menyediakan mata uang tunggal yang diterima secara global, dan pelancong dapat mengakses uang mereka dengan mudah ketika bepergian, dan tidak perlu menarik uang tunai dalam jumlah besar sebelum melakukan perjalanan. Dalam waktu 24-jam ATM tersedia di bandara-bandara dan tujuan wisata utama. Pelancong dapat mengakses uang mereka dengan mudah dan memperoleh mata uang lokal dengan nyaman.”
5. Simpan rincian kartu yang penting dan nomor telepon darurat di tempat yang aman dan mudah dibawa. Apabila terjadi hal yang tidak diharapkan, para pelancong bisa menelepon Visa Global Customer Assistance Service (GCAS) untuk membatalkan kartu-kartu dan mengurus pergantiannya dengan cepat. Sebuah kartu pembayaran Visa juga memberikan proteksi bebas tanggung jawab (zero liability) terhadap pembelian-pembelian yang tidak sah (unauthorized). Hal ini lebih menguntungkan jika dibanding menggunakan cek perjalanan atau uang tunai.
Ketika kembali dari liburan, periksa laporan pembayaran kartu dan segera menghubungi bank penerbit jika ada biaya-biaya yang tidak benar atau mencurigakan.
Sumber: Visa |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Thu Jun 10, 2010 10:38 am | |
| DANA LIBURAN Minggu, 20 Juni 2010 | 03:52 WIB - Kompas cetak - Adler Haymans Manurung praktisi keuangan Liburan pasti membutuhkan biaya. Besar kecil biaya tergantung liburan yang ingin dilakukan. Sering kali orangtua membuat liburan tanpa direncanakan sehingga tidak disangka dananya kurang. Oleh karena itu, perlu dibuat perencanaan liburan sehingga diketahui dana yang dibutuhkan. Tahap pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan tujuan liburan dan target yang ingin diperoleh dari liburan. Biasanya keluarga menginginkan liburan sambil melakukan aktivitas lain. Misal, keluarga yang berasal dari Tapanuli, Sumatera Utara, berlibur ke Danau Toba dan beberapa hari sebelumnya melakukan aktivitas adat di tanah leluhurnya.
Tempat liburan dan aktivitas liburan perlu direncanakan secara rinci supaya liburan bermanfaat. Sebaiknya dipilih tempat liburan yang berbeda setiap tahun agar ada variasi dan anak-anak mendapat beragam pengalaman. Liburan bisa juga menghilangkan rasa bosan di rumah atau mencari suasana baru. Artinya, berlibur tidak harus ke daerah yang jauh dari rumah. Perlu juga dirancang aktivitas liburan yang memberikan arti kepada keluarga sehingga bisa merasakan suasana yang berbeda. Liburan juga tidak harus memakan waktu panjang, misalkan dua minggu. Masa tiga hari juga dapat dikatakan liburan apabila memberikan manfaat kepada keluarga. Jika perlu, liburan dapat dilakukan bersama keluarga besar supaya ada bahan cerita anak-anak kalau sudah besar nantinya. Semua aktivitas liburan sebaiknya didiskusikan dengan anggota keluarga agar tercapai kesepakatan dan tidak ada yang merasa idenya tidak dipakai.
Biaya liburan Tahap kedua, menentukan besarnya biaya liburan. Biaya pertama yang harus dihitung yaitu biaya transportasi dan penginapan. Biaya transportasi dengan pesawat terbang lebih besar dari biaya menggunakan transportasi yang lain. Jika ingin memberikan pengalaman yang menarik, keluarga dapat berlibur dengan menggunakan transportasi mobil sendiri. Siangnya mereka berjalan melihat pemandangan dan malamnya menginap di hotel. Jangan memaksakan pada tempat yang wah jika belum pada waktunya.
Biaya yang mungkin dikeluarkan yaitu biaya makan dan jajan harian selama berlibur. Sebaiknya keluarga sudah membuat patokan apa yang akan dikonsumsi selama liburan dan rata-rata pengeluaran per orang selama liburan. Biaya liburan sebaiknya tidak memasukkan biaya pembelian peralatan. Informasi tentang besarnya biaya liburan dapat diperoleh dari perusahaan travel dan lembaga yang mempersiapkan liburan. Apabila keluarga bisa mendapatkan besar biaya tahun lalu, besarnya biaya untuk tahun berikutnya ditambahkan sekitar 30 persen sehingga keluarga dapat merencanakan biaya liburan tahun berikutnya.
Tahap ketiga, mendapatkan dana liburan. Tahapan ini dapat dilakukan apabila sudah jelas besar biaya liburan yang akan dikeluarkan. Biaya liburan sebaiknya menggunakan dana yang diperoleh keluarga juga dari dana kaget. Artinya, urutan pertama untuk dana liburan diperoleh dari pendapatan yang tidak biasanya diperoleh keluarga. Misalkan keluarga mendapatkan dana atas komisi aktivitas yang tidak direncanakan. Adanya liburan tidak mengganggu perencanaan keuangan keluarga.
Apabila tidak ada dana yang diperoleh dari pendapatan yang tidak biasanya didapat, keluarga perlu melakukan persiapan. Oleh karena itu, persiapan liburan tahun ini selayaknya merupakan rencana liburan tahun lalu setelah pulang liburan. Artinya, biaya liburan tahun ini sudah dipersiapkan setiap bulannya selama satu tahun terakhir. Apabila dana liburan sebesar Rp 15 juta dalam liburan ini, keluarga harus sudah menabung sekitar Rp 1.250.000 setiap bulan. Jika keluarga sudah mempersiapkan dana tersebut, keluarga tidak perlu mengganti daerah liburan terkecuali biayanya sama atau lebih kecil. Apabila biaya yang lebih besar, keluarga bisa merencanakan pada liburan tahun berikutnya.
Keluarga juga bisa mempersiapkan dana liburan dari hasil investasi yang dimiliki. Dana yang diinvestasikan tersebut dirancang agar bisa memberikan tingkat pengembalian sebesar biaya liburan tahun ini. Keluarga perlu membuat perencanaan yang matang agar liburan terlaksana dan biaya yang dibutuhkan tersedia. Lebih penting liburan harus bermanfaat dan membahagiakan keluarga. Sesuaikan biaya liburan dengan isi kantong. Jangan lebih besar pasak daripada tiang. Kita harus bersyukur karena masih bisa menikmati liburan.
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:29 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Sat Jun 12, 2010 10:48 am | |
| MEMBUAT UANG "BEKERJA" UNTUK ANDA Senin, 14/6/2010 | 09:02 WIB KOMPAS.com - Bukan hal yang keliru kalau ada yang beranggapan bahwa besarnya penghasilan tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya kekayaan. Seseorang yang penghasilannya di atas Rp 10 juta sebulan, misalnya, bisa saja kehidupan keuangannya lebih ”susah” ketimbang karyawan yang penghasilannya sebesar Rp 5 juta per bulan. Kok bisa begitu? Bisa saja. Sebab, berapa pun kecilnya penghasilan, sepanjang pengeluaran lebih rendah ketimbang pemasukan, berarti memiliki cash flow positif yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan kekayaan.
Di sisi lain, berapa pun besarnya penghasilan, jika pengeluaran lebih besar dibandingkan pemasukan, posisi keuangan akan defisit. Itu berarti sebagian kebutuhan akan dibiayai oleh utang. Dus, tidak ada sumber dana yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan aset. Yang ada adalah penurunan kekayaan secara bertahap karena aset akan dipergunakan untuk pembayaran utang.
Oleh karena itu, tingkat kekayaan seseorang sebenarnya tidak diukur dari besarnya penghasilan, melainkan lebih bergantung pada karakter pengelolaan penghasilan. Singkatnya, berapa pun kecilnya penghasilan, tetap dimungkinkan menjadi kaya jika mau dan mampu melakukan inovasi dalam pengelolaan keuangan.
Apa itu inovasi keuangan? Sederhananya adalah melakukan hal yang berbeda dalam pengelolaan keuangan. Misal, jika orang kebanyakan menggunakan kartu kredit untuk berutang, dalam koridor inovasi keuangan, penggunaan kartu kredit adalah untuk memanfaatkan tenggang pembayaran sehingga Anda bisa menggunakan dana pihak lain, dalam kurun waktu tertentu tanpa biaya apa pun.
Jadi, jika Anda berbelanja pada hari ini dan kemudian melunasinya sebelum jatuh tempo, berarti Anda bisa mendapatkan tambahan cash flow dalam kurun waktu tersebut, yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Bayangkan, jika Anda bisa membeli barang dengan harga ”X”, misalnya, lalu menjualnya kembali dengan harga ”X” plus keuntungan, Anda telah berbisnis tanpa modal dan bahkan memperoleh untung. Dengan kata lain, utang yang digunakan untuk kegiatan produktif merupakan salah satu inovasi keuangan. Apalagi jika utang itu sendiri diperoleh tanpa biaya apa pun, seperti penggunaan kartu kredit di atas.
Bagaimana jika utang itu menimbulkan biaya bunga? Tidak masalah. Sepanjang biaya bunga masih lebih rendah dibandingkan keuntungan yang diperoleh, tetap saja Anda tergolong kalangan yang inovatif. Jadi, ringkasnya, menumbuhkembangkan aset bisa dilakukan tanpa modal. Modal itu diperoleh dari utang. Lalu dipergunakan untuk berbisnis. Dan hasil bisnis tersebut mampu memberikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan biaya utang itu sendiri.
Aset produktif Contoh inovasi keuangan lainnya adalah memiliki sebanyak mungkin aset produktif dibandingkan aset konsumtif. Pernahkah Anda melihat pedagang yang tinggal di sebuah ruko, di mana lantai paling bawah digunakan untuk berdagang, sementara lantai di atasnya digunakan sebagai tempat tinggal?
Artinya, tempat usaha dan rumah tinggal menjadi satu. Dengan kata lain, rumah tinggal si pedagang tersebut bukan sekadar rumah tinggal, tetapi telah menjadi aset produktif yang bisa menghasilkan uang, alias tempat berbisnis. Bagaimana dengan Anda? Boleh jadi Anda memilki rumah lebih dari satu. Dan rumah yang tidak Anda tinggali setiap bulan malah menguras kantong Anda karena mesti membayar biaya listrik dan biaya pemeliharaan lainnya. Malah kondisi rumah terus merosot karena faktor usia dan lain sebagainya. Konkretnya, beberapa rumah yang Anda miliki bukan saja tidak produktif, tetapi malah menjadi beban. Oleh karena itu, rumah tersebut mesti diproduktifkan, dalam arti memberikan penghasilan, misalnya disewakan kepada pihak lain.
Selain rumah, coba lihat lagi berbagai kekayaan yang Anda miliki. Cermati apakah aset tersebut sekadar sebagai aset konsumtif, atau alat menjaga gengsi belaka, atau memang tergolong produktif. Jika Anda memiliki perhiasan emas yang nilainya meningkat, perhiasan itu tergolong aset produktif yang bisa menambah kekayaan Anda. Begitu juga dengan lukisan yang nilainya bisa saja mengalami peningkatan. Ringkasnya, aset produktif adalah aset yang memiliki nilai investasi.
Inovasi keuangan juga bisa dilakukan dengan cara pemilihan investasi yang tepat. Pengertian investasi yang tepat di sini adalah bagaimana menyuruh uang Anda ”bekerja” untuk Anda. Jadi, uang menghasilkan uang. Bagaimana caranya? Lakukan investasi aktif.
Investasi aktif adalah secara reguler memilih dan mengevaluasi investasi yang telah dilakukan. Di pasar modal, misalnya, sebagian kalangan membeli saham, lalu terus memegangnya dalam kurun waktu yang lama, dengan harapan memperoleh dividen dan capital gain. Ini memang tidak salah. Tetapi, dalam kurun waktu tersebut, bisa saja harga saham yang dipegang mengalami kemerosotan harga. Kalangan yang memegang saham tersebut boleh jadi tidak peduli atau malah menjualnya karena khawatir harga saham akan semakin merosot.
Nah, seorang investor aktif tidak akan bersikap seperti itu. Ia malah akan membeli lagi saham dimaksud pada harga yang lebih rendah. Kenapa? Karena tujuan memegang saham dimaksud adalah untuk jangka panjang. Dan ketika harga saham merosot, dilakukan pembelian agar secara rata-rata biaya pembelian saham menjadi lebih murah. Contoh-contoh lain tentang investasi aktif telah banyak diulas dalam tulisan-tulisan terdahulu di kolom ini.
Yang terakhir adalah inovasi keuangan dalam pengelolaan biaya. Pernahkah Anda mendengar istilah ”must have” vs ”nice to have”? Coba terapkan itu dalam perilaku pengeluaran biaya Anda. Berapa banyak Anda menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang sekadar ”nice to have”? Boleh jadi, kalau ditotal seluruh pembelian Anda, terutama pengeluaran yang bersifat harian, akan lebih banyak yang tergolong ”nice to have”.
Jika Anda bisa memotong biaya ”nice to have” 50 persen saja, akan sangat banyak tabungan yang Anda peroleh dan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan keuangan lain yang lebih produktif. Selamat mencoba.
(Elvyn G Masassya, Praktisi Keuangan)
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:20 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Mon Jun 14, 2010 9:49 am | |
| AGAR THR TAK CEPAT LUDES Senin, 23 Agustus 2010, 10:48 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Anda Nurlaila VIVAnews - Menjelang hari raya, ada yang paling ditunggu-tunggu tiap karyawan. Bisa ditebak, Tunjangan Hari Raya (THR) memang membuat karyawan makin girang menyambut lebaran. Saat menanti THR masuk ke rekening, banyak orang sudah bersemangat membuat daftar belanja. Tanpa sadar, mereka meningkatkan konsumsi selama puasa, khususnya untuk keperluan hari raya seperti makanan, pakaian, mudik, open house, 'angpau' dan sebagainya. Namun, uang bonus tahunan masih bisa Anda 'selamatkan', tanpa ludes. Bagaimana caranya? Organisasi.org memberi beberapa tips dan trik sebagai berikut.
1. Beli Baju Baru Anda bisa menghemat THR bila menggunakan baju yang masih bisa dipakai. Jika anak-anak sulit menerima dan tetap merengek membeli baju baru, usahakan membeli baju yang bisa dipadupadankan dengan baju-baju lama mereka. Jangan membeli terlalu banyak baju untuk satu orang.
2. Mudik Usahakan tidak mudik setiap tahun. Jika keluarga suami-istri berbeda kampung halaman, usahakan bergantian mengunjungi. Atau, agendakan mudik beberapa tahun sekali. Ada baiknya menggunakan teknologi seperti video call atau telepon dan SMS bila memutuskan untuk tidak berkunjung ke kampung halaman. Jika memang ingin mudik, tak ada salahnya memilih hari-hari di luar hari besar, yang penting Anda bisa berkumpul bersama keluarga, meski bukan di hari raya. Dengan begitu, Anda dan keluarga akan mampu mengirit pengeluaran.
3. Makanan Hari Raya Anda bisa menyajikan makanan hari raya yang lezat tanpa perlu merogoh kocek terlalu dalam. Cari resep-resep makanan yang harga bahannya terjangkau. Agar tak terlalu menguras dana, hidupkan kembali tradisi saling mengantar makanan. Selain mempererat silaturahim, beban Anda akan semakin ringan. Atau bisa juga ajak beberapa teman atau tetangga untuk membeli bahan baku dalam jumlah besar sebelum diolah agar tidak terlalu membebani.
4. Tradisi 'Angpau' Hari raya tak lepas dari tradisi angpau atau memberikan sejumlah uang kepada sanak saudara. karena sifatnya tahunan, sebaiknya Anda telah menganggarkan pengeluaran ini sebagai pengeluaran tahunan. Tetapi ingat, dahulukan kewajiban untuk membayar zakat dan infak yang memang diwajibkan agama. Jangan memaksakan diri untuk memberi 'angpau' jika Anda tak memiliki cukup dana.
5. Open House Bila tiap tahun ada open house di rumah, anggarkan sebagai pengeluaran tahunan. Seberapa besar open house mempengaruhi jumlah dana yang harus Anda siapkan. Bila memang tidak memungkinkan untuk mengadakan open house, jangan memaksakan diri yang membuat pengeluaran lebih besar atau bahkan menimbulkan hutang.
Merayakan lebaran tidak lantas Anda harus boros dan menghambur-hamburkan uang. Sebab, Ramadan mengajarkan untuk mengendalikan nafsu dan keinginan. Menghidupkan tradisi memang sah-sah saja. Namun, usahakan tradisi buruk tak menjadi gaya hidup.
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:14 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Mon Jun 14, 2010 10:46 am | |
| GENERAL CHECK UP UNTUK KEUANGAN ANDA Rabu, 1/9/2010 | 08:55 WIB KOMPAS.com - Kenapa Anda ke dokter? Karena Anda tidak ingin sakit, tentunya. Nah, general check-up bukan hanya dibutuhkan oleh tubuh, tetapi juga oleh kondisi keuangan. Kapan terakhir Anda melakukan check up terhadap kondisi keuangan Anda?
Hitung ulang berapa penghasilan Anda per bulan, lalu hitung juga berapa total pengeluaran per bulan. Apakah hasilnya masih surplus? Kalau ya berapa persen, surplus Anda dibandingkan dengan total penghasilan. Atau malah defisit? Berapa besar? Lalu bagaimana cara Anda menutupi defisit tersebut? Sangat mungkin Anda berutang, misalnya dengan menggunakan kartu kredit. Kalau situasi ini berlangsung terus, berarti keuangan Anda memang ”sakit” dan akan menjadi masalah besar jika terus dibiarkan. Agar tidak menjadi masalah, coba cermati dulu bagaimana kondisi kesehatan keuangan Anda dengan menjawab beberapa pertanyaan di atas.
Yang utama adalah, apakah keuangan Anda setiap bulan mengalami surplus atau defisit. Umpamakan penghasilan Anda Rp 10 juta. Lalu biaya pengeluaran, termasuk untuk membayar utang, adalah sebesar Rp 10 juta juga, atau malah lebih. Kalau faktanya seperti ini, kondisi keuangan Anda berada dalam keadaan tertekan. Kenapa? Karena untuk menutupi biaya pengeluaran saja, penghasilan Anda sudah tidak memadai.
Lalu apa solusinya? Naikkan penghasilan dan atau kurangi pengeluaran. Untuk menaikkan penghasilan memang bukan perkara mudah. Akan tetapi, untuk mengurangi pengeluaran bukan pula tidak mungkin. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi angsuran utang Anda. Nilai angsuran diturunkan sehingga Anda masih memiliki cash flow positif. Memang, di sisi lain, utang Anda boleh jadi akan lebih lama lunasnya. Namun, paling tidak, pengeluaran Anda lebih kecil ketimbang penghasilan. Akan tetapi, ini pun dengan catatan Anda tidak membuat utang baru.
Jika realitasnya adalah sebagaimana dipaparkan di atas, apakah kondisi keuangan Anda tergolong sehat? Kondisi keuangan seperti itu masih dalam keadaan kurang sehat. Artinya, cash flow Anda tidak defisit, tetapi tidak ada dana lebih yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan keuangan Anda. Dengan kata lain, kondisi keuangan Anda akan seperti itu seterusnya. Aset juga tidak akan bertambah.
Fase sehat Bagaimana agar kondisi keuangan bisa masuk dalam fase cukup sehat? Harus ada surplus yang bisa dialokasikan untuk mencapai suatu tujuan keuangan. Seperti contoh di atas, katakanlah penghasilan Anda sebesar Rp 10 juta. Lalu, katakanlah Anda lebih hemat sehingga pengeluaran Anda umpamakan hanya sebesar Rp 7 juta per bulan. Berarti, Anda memiliki surplus sebesar Rp 3 juta.
Apakah kondisi keuangan seperti ini sudah bisa dianggap sehat? Tunggu dulu. Cek lagi tujuan keuangan Anda. Katakanlah dalam dalam 5 tahun mendatang Anda ingin memiliki aset senilai Rp 300 juta. Berarti, setiap tahun Anda mesti mengalokasikan Rp 60 juta. Dengan kata lain, setiap bulan mesti tersedia Rp 5 juta. Padahal, surplus yang Anda miliki hanya sebesar Rp 3 juta. Konkretnya, meskipun setiap bulan keuangan Anda surplus, tetapi tujuan keuangan Anda 5 tahun mendatang tidak akan tercapai.
Lantas di mana masalahnya? Surplus Anda kurang besar. Ini bisa terjadi karena struktur pengeluaran Anda yang masih kurang optimal. Kurangi pengeluaran yang kurang perlu. Mungkin Anda mengatakan semua pengeluaran Anda adalah perlu. Oke, itu hak Anda. Akan tetapi, coba cek, dalam struktur pengeluaran Anda ada komponen biaya konsumsi dan juga komponen utang. Bagaimana strategi keuangan Anda dalam menyelesaikan utang?
Jika Anda mampu mengurangi biaya konsumsi dan pembayaran utang Anda sebesar Rp 2 juta per bulan, Anda akan memperoleh surplus sebesar Rp 3 juta + Rp 2 juta, atau sejumlah Rp 5 juta. Namun, di sisi lain, tentu saja konsumsi Anda mesti dikorbankan dan utang Anda masih akan terus berlangsung. Akan tetapi, tidak mengapa, sepanjang Anda mampu melunasinya kendati dalam waktu yang cukup panjang.
Dana darurat Jika Anda mampu melakukan langkah di atas, kondisi keuangan Anda berada dalam kategori cukup sehat. Ya, cash flow Anda tidak defisit dan memiliki surplus untuk mencapai tujuan keuangan yang masih sederhana. Namun, keuangan Anda tetap belum aman. Kenapa? Karena Anda belum memiliki yang namanya emergency fund dan dana darurat.
Pernahkah Anda terpikir kalau tiba-tiba terjadi krisis ekonomi, lalu perusahaan tempat Anda bekerja bangkrut dan Anda mengalami PHK? Semua itu memang tidak diinginkan. Akan tetapi, sekali lagi, hal tidak terduga bisa saja terjadi. Oleh karena itu, Anda mesti berjaga-jaga dalam bentuk emergency fund. Berapa besar? Tergantung Anda. Namun, lazimnya, nilai dana yang tersimpan dalam rekening emerging fund harus sekitar 6 bulan penghasilan. Kenapa 6 bulan? Karena dalam kurun waktu 6 bulan diharapkan Anda sudah memperoleh pekerjaan baru.
Kesimpulannya, kondisi keuangan baru bisa dianggap sehat jika cash flow keseharian Anda positif, memiliki surplus dana yang dialokasikan untuk mencapai tujuan keuangan di masa mendatang, baik melalui tabungan maupun investasi lainnya, dan juga memiliki alokasi dana untuk berjaga-jaga. Namun, mesti diingat, ketiga hal di atas tidak diukur dari nilai nominal, melainkan dari perspektif tujuan keuangan pribadi.
(Elvyn G Masassya, praktisi keuangan)
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:27 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Tue Jun 15, 2010 11:32 am | |
| UTANG BAIK VS UTANG BURUK Selasa, 15/6/2010 | 11:21 WIB KOMPAS.com - Rasanya sulit dipercaya jika ada manusia di dunia ini yang terbebas dari ikatan utang. Contohnya saja, membeli rumah yang membutuhkan dana besar sehingga memaksa kita untuk berutang. Belum lagi biaya anak sekolah hingga kuliah. Seringnya, kondisi semacam ini membuat utang sulit lepas dari tangan. Bagaimana mengatasinya?
Si Utang Baik Bicara tentang utang, idealnya ia tak mencapai 36 persen dari penghasilan kotor Anda. Dan, patokan inilah yang biasanya dilihat oleh bank ketika akan meminjamkan dana besar, taruhlah untuk rumah. Akan tetapi, tak bijak juga jika Anda menghindari utang, karena berarti seluruh penghasilan akan tersedot untuk memenuhi kebutuhan berdana besar, sehingga tak ada dana cadangan untuk keperluan darurat.
Jika begitu, apa yang harus dilakukan oleh pasangan ketika dihadapkan dengan utang? Pertama, ketahui apa yang dimaksud dengan utang baik dan utang buruk. Definisi utang baik adalah segala sesuatu yang Anda butuhkan akan tetapi belum bisa didapatkan, kecuali dengan menjual semua aset. Contoh utang baik adalah membeli rumah. Alasannya, kecil kemungkinannya bisa melunasi pembelian rumah sekaligus. Namun jangan terlalu ambisius dalam membeli rumah idaman, pastikan Anda telah menghitung secara finansial selama masa cicilan berlangsung. Yang jelas, semakin rendah pinjaman Anda, semakin singkat pula waktu mencicil.
Yang lainnya adalah membayar pendidikan tinggi untuk anak. Daripada mengorbankan dana pensiun atau asuransi kesehatan, lebih baik Anda berutang (jika tak memiliki asuransi pendidikan). Karena, pendidikan adalah investasi abadi dan suatu hari nanti akan menghasilkan lebih banyak lagi keuntungan material untuk sang buah hati. Jenis utang baik lainnya yang bisa Anda ambil adalah invstasi kendaraan bermotor, seperti mobil. Pertanyaannya adalah, jika Anda sudah mempunyai mobil, perlukah membeli mobil lain? Jawabannya ditentukan dari kondisi mobil yang dipakai. Jika memang sudah tua dan sering rusak, lebih baik jual dan investasikan dalam bentuk mobil yang lebih layak plus tidak rewel. Karena biaya perbaikan mobil memakan biaya besar, lho! Padahal dananya bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain.
Awas Utang Buruk Lantas, apa yang disebut dengan utang buruk? Ia adalah barang atau jasa yang sebenarnya tak diperlukan, tapi Anda menginginkannya, padahal penghasilan sama sekali tak mencukupi. Karakteristiknya adalah biasanya murni untuk konsumsi sesaat, membuat penghasilan bersih Anda menyusut, menghapus kemungkinan untuk investasi atau penghasilan yang lebih besar. Kasus terparah dari kasus ini adalah mismanajemen penggunaan kartu kredit yang biasanya berbunga tinggi.
Jika tak ingin terlilit utang buruk, yang harus dilakukan sebenarnya sederhana. Yaitu mengetahui pola pengeluaran dan analisa mana yang tak penting atau tak diperlukan. Misalnya, ketika pergi berbelanja bulanan, Anda sering tergoda untuk membeli piranti elektronik atau aksesori, yang sebenarnya tak perlu dibeli. Hindarilah kebiasaan ini dengan meneguhkan niat atau buatlah daftar belanjaan yang mendetail sejak di rumah. Alihkan juga pola pikir ketika berbelanja. Jangan berpikir, "Saya sudah bekerja keras, saya layak membeli baju seharga sekian juta atau berlibur ke Pantai X yang menghabiskan biaya berpuluh juta". Padahal nyatanya, utang kartu kredit Anda sudah membumbung tinggi hingga jutaan rupiah. Bukankah lebih baik dana dialihkan untuk membayar cicilannya?
Bukan tidak boleh, lho, menggunakan kartu kredit. Tapi, lebih baik gunakan untuk kebutuhan besar atau mendadak. Seperti ketika anggota keluarga sakit, kartu kredit bisa saja dipakai untuk membayar uang muka perawatan di rumah sakit sembari menunggu cairnya klaim asuransi kesehatan. Jangan lupa juga untuk selalu membayar tagihan kartu kredit. Cobalah membayar lebih tinggi dari cicilan minimum, ya. Akan tetapi lebih baik jika memprioritaskan membayar tagihan kartu kredit dengan bunga tertinggi dan tentukan batas maksimal pembayaran per bulan tanpa mengganggu kebutuhan primer lainnya. Lalu, tagihan yang lainnya dibayar dengan cicilan minumum. Begitu tagihan dengan bunga tertinggi selesai, lanjutkan ke tagihan lain yang bunganya lebih tinggi lainnya setelah bunga yang pertama dan seterusnya.
Masih Ada Pilihan Lantas bagaimana jika utang sudah merambat, apakah sudah terlambat? Yang terpenting adalah jangan panik karena tidak akan menyelesaikan masalah, malah memperumit. Tetaplah fokus pada tujuan utama, yaitu melunasinya. Meski membutuhkan waktu lama dan harus mengorbankan beberapa kebutuhan sekunder, pada akhirnya semua untuk kebaikan Anda, kan? Jangan juga melanjutkan kebiasaan berutang, tidak perlu panik jika melihat sesuatu yang ingin Anda beli. Selalu pikirkan baik-baik, apakah Anda benar-benar memerlukannya? Jika iya, Anda bisa menabung atau jika Anda kurang andal menabung, ikuti saja program tabungan berencana di bank.
Terakhir, pada dasarnya yang harus dicamkan adalah bukan berapa banyak dana segar yang dimiliki, melainkan apakah ada cara untuk membuat uang Anda "bekerja keras" sehingga bisa menghasilkan lebih banyak uang lagi seperti melakukan investasi.
(Astrid Isnawati/Tabloid Nova) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Tue Jun 15, 2010 11:34 am | |
| ORANGTUA PENGANGGURAN BIKIN ANAK STRES Merry Wahyuningsih - detikHealth - Jumat, 26/03/2010 16:00 WIB Jakarta, Tak hanya orang dewasa yang terkena dampak emosional bila tak memiliki pekerjaan alias pengangguran. Sebuah penelitian di Amerika menunjukkan anak-anak dengan orangtua yang menganggur akan mengalami dampak psikologis yang sama beratnya dengan orangtua.
Anak-anak yang tinggal dengan salah satu orangtuanya yang tidak bekerja akan berpotensi menghadapi berbagai masalah emosional, mulai dari stres, depresi, menurunnya prestasi di sekolah hingga masalah perilaku yang buruk. Para ahli mengatakan, hal tersebut diperburuk dengan standar hidup yang lebih rendah serta kehilangan asuransi kesehatan. "Setiap kali ada permasalahan yang dapat menurunkan kualitas hidup, maka anak-anak yang akan mengalami efek paling signifikan," kata Dr Christopher Bellonci, seorang asisten profesor psikiatri di Tufts University School of Medicine di Boston, seperti dilansir dari Health, Jumat (26/3/2010).
Dr Bellonci menambahkan ketika sebuah keluarga dalam kondisi baik-baik saja, maka mereka memiliki penyangga untuk terhindar dari stres ini. Tetapi bila orangtuanya mengganggur, maka dampak stres akan terlihat pada anak-anaknya. Dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan New York Times terhadap lebih dari 700 orang dewasa yang menganggur, didapatkan sekitar setengahnya telah menganggur selama enam bulan atau lebih. Hampir 40 persen dari mereka melihat adanya perubahan perilaku pada anak-anak mereka.
Menurut Ariel Kalil, seorang profesor dan psikolog perkembangan di University of Chicago's Harris School of Public Policy Studies, pengangguran yang jangka panjang akan semakin memperburuk kondisi yang ada, seperti makanan, pakaian dan perlengkapan sekolah yang mulai berkurang sehingga memicu anak semakin stres. "Kemarahan yang tak dapat dijelaskan serta perasaan gelisah, takut atau khawatir adalah tanda-tanda umum tekanan emosional pada anak-anak," kata Marta Flaum, seorang psikolog anak dari Chappaqua, New York.
Tanda-tanda anak stres lainnya adalah perubahan yang cepat dalam perilaku sosial termasuk tindakan-tindakan agresif serta menurunnya prestasi anak di sekolah. Kelompok yang paling berpengaruh adalah anak-anak dan remaja, karena mereka lebih sadar dengan apa yang terjadi di sekitarnya dan merasakan konsekuensi sosial akibat pengangguran yang lebih akut.
Untuk membantu anak-anak secara emosional dalam menahan kemerosotan keuangan, Walker dan ahli lainnya menawarkan beberapa tips untuk orangtua: 1. Berbicara dengan anak-anak mengenai kondisi keluarga dengan tenang dan tidak panik. Cobalah untuk bicara dengan nada penuh harapan dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja. 2. Dengarkan pendapat anak-anak. 3. Perhatikan tanda-tanda adanya kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan pada anak, karena beberapa anak mungkin memiliki perasaan yang halus atau sensitif. 4. Jika anak bermasalah, cobalah untuk berbicara dengan gurunya terlebih dahulu. Jika masalahnya serius, bicarakan secara baik-baik dengan anak. 5. Jika pernikahan Anda sedang bermasalah, cobalah untuk membuatnya menjadi lebih baik. Perselisihan rumah tangga akan membuat anak bertambah stres. 6. Jika orangtua mengalami kecemasan atau depresi berlebihan, cobalah mencari bantuan untuk meredam dan tidak menunjukkannya di depan anak-anak. 7. Usahakan untuk tetap memberikan pengertian dan perhatian pada anak.
Last edited by gitahafas on Tue Jul 27, 2010 8:58 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Thu Jun 17, 2010 5:51 am | |
| SIAPA BILANG UANG TAK BISA MEMBERI KEBAHAGIAAN? Rabu, 16/6/2010 | 15:04 WIB KOMPAS.com - Lama tak terdengar kabarnya, Keanu Reeves muncul di publik dalam kondisi yang tak begitu menggembirakan. Awal Juni lalu, foto-foto jepretan paparazzi memperlihatkan bintang trilogi The Matrix ini duduk sendirian di bangku taman sambil makan sandwich. Wajahnya terlihat kosong dan sedih. Penggemar yang tak tahan melihat kondisinya dalam foto tersebut lalu membuat pesan "Cheer Up Keanu Day". Apa yang membuat Keanu begitu sedih? Bukankah ia tampan, kaya, dan populer? Apakah karena pamornya sudah mulai turun? Apakah karena ia tak punya pasangan tetap (meskipun bulan lalu paparazzi berhasil merekam gambarnya tengah berciuman dengan Charlize Theron)? Ataukah karena ia ingin settle down (ada yang mengatakan pria 45 ini kepingin sekali punya anak)? Ternyata, uang tak bisa memberinya kebahagiaan.
Tetapi, benarkah uang tak bisa memberi kebahagiaan pada kita? Jika Anda termasuk beruntung memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan tempat tinggal, tidakkah itu berarti uang bisa membuat Anda bahagia? Jika Anda bisa memenuhi kebutuhan lain yang lebih luas, yang artinya membutuhkan uang, bukankah itu berarti uang menentukan kebahagiaan Anda? Rahasia menggunakan uang untuk membeli kebahagiaan adalah dengan menggunakan uang dengan cara yang bisa mendukung tujuan kebahagiaan Anda. Ingin tahu contohnya?
1. Menguatkan ikatan hubungan keluarga dan pertemanan. Penelitian menunjukkan bahwa memiliki kedekatan hubungan dengan keluarga dan teman-teman adalah salah satu elemen terpenting dalam kehidupan manusia. Coba bayangkan bila Anda bisa membeli tiket pesawat untuk mengunjungi adik Anda yang baru melahirkan di negara lain, pulang ke kampung halaman Anda hanya untuk menghadiri reuni SMA, atau menonton konser band favorit Anda di negara tetangga bersama sahabat.
2. Mengakhiri konflik perkawinan. Anda mungkin mempunyai masalah besar dengan suami karena Anda tinggal berjauhan darinya. Konflik mungkin akan berkurang jika Anda atau dia secara rutin saling mengunjungi seminggu sekali. Hal yang sama juga terjadi untuk masalah yang lebih sederhana. Misalnya, berhubung Anda tak memiliki pembantu rumah tangga, dan suami enggan menghabiskan sisa harinya dengan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, Anda kirim saja pakaian kotor ke laundry.
3. Meningkatkan mood. Salah satu cara paling cepat dan paling pasti untuk mendongkrak mood Anda adalah dengan berolahraga. Jika Anda bisa membeli iPad untuk memuaskan keinginan Anda browsing internet, mengikuti kelas yoga, atau menyewa pelatih pribadi untuk menurunkan berat badan Anda, bukankah itu juga merupakan investasi kebahagiaan?
4. Menyalurkan hobi. Menjalani aktivitas yang sama sekali berbeda dari pekerjaan Anda sehari-hari juga memberikan pengalaman refreshing yang luar biasa. Tak perlu dipungkiri pula bahwa banyak hobi kita yang butuh banyak uang untuk menjalaninya. Sebut saja traveling, kursus quilting, mountain biking, memancing, otomotif, dan berbagai hobi pria lain yang tergolong mahal. Pastikan bahwa uang yang Anda gunakan betul-betul memberikan pengalaman yang hebat, bukan sekadar memiliki sesuatu yang bersifat kebendaan.
5. Mendapatkan ketenangan dan keamanan. Kedamaian pikiran merupakan salah satu unsur kebahagiaan yang paling penting. Jadi, bila saldo rekening Anda di bank selalu sanggup mencukupi pembayaran tagihan kartu kredit, atau bahkan bisa diinvestasikan dalam bentuk lain, tak ada yang mengganggu pikiran Anda bukan?
6. Mendapatkan makanan yang sehat. Sudah bukan rahasia lagi bila makanan sehat kadang-kadang harus ditebus dengan biaya yang lebih mahal. Katering khusus diet, atau yang menggunakan bahan-bahan organik biasanya lebih mahal daripada yang biasa. Namun bila Anda mampu mendapatkannya, Anda bisa mendapatkan tubuh yang sehat. Dengan tubuh yang sehat, Anda bisa melakukan apa pun yang Anda inginkan, dan ini membuat Anda bahagia.
7. Memberikan sesuatu untuk orang lain. Mengapa Oprah Winfrey senang sekali memberikan kejutan hadiah-hadiah untuk penonton maupun tamu yang mengisi acaranya? Konon, karena ia senang sekali melihat ekspresi terkejut dan senang yang ditampilkan penontonnya. Dan, melihat orang bahagia saat menerima pemberian kita juga membuat kita bahagia. Apalagi bila pemberian kita itu bisa mengubah hidup orang yang menerimanya. Contohnya, menyumbangkan buku-buku untuk perpustakaan sekolah, atau memberikan modal usaha untuk tetangga yang sangat membutuhkan.
8. Menghadirkan sesuatu yang menjadi impian kita. Bentuknya bisa macam-macam, tergantung apa yang menjadi prioritas Anda. Sesuatu yang mungkin tidak layak diperjuangkan oleh orang lain, tetapi amat penting untuk kita. Bisa berupa apartemen yang berada di tengah kota (supaya Anda tak lagi dihadang kemacetan) saat hendak ke kantor, mobil mewah, home theater, ponsel canggih, bahkan mungkin kasur (yang harganya puluhan juta). Bagaimanapun, kebahagiaan bisa berbeda untuk setiap orang. Kuncinya adalah mengetahui apa yang Anda inginkan, dan apakah Anda mampu mendapatkannya.
O ya, tentang foto Keanu Reeves yang diceritakan di atas, banyak yang menganggap berita foto tersebut mengada-ada. Memangnya kenapa kalau Keanu makan sandwich sendirian? Maklum, aktor satu ini memang dikenal misterius, cuek, dan apa adanya.
DIN |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Thu Jun 17, 2010 7:51 am | |
| MENJINAKKAN UTANG KARTU KREDIT Senin, 31/5/2010 | 15:24 WIB KOMPAS.com - Berapa total tagihan utang kartu kredit Anda saat ini? Rp 8 juta? Dan, Anda hanya mampu membayar tagihan minimum sebesar Rp 800.000 saja setiap bulan? Anehnya, Anda merasa sudah membayar begitu besar, tetapi utang Anda tak juga lunas. Jangan merasa aneh dulu. Sebelumnya, tahukah Anda bahwa dari jumlah tagihan tersebut, sekitar 35 persennya dibayar untuk administrasi dan sisanya baru untuk pembayaran utang Anda (dengan asumsi bahwa bunga kartu kredit Anda sekitar 3,5 persen)?
Jadi, jika Rp 800.000 Anda bayar bulan ini, maka sekitar Rp 280.000 untuk biaya administrasi (termasuk bunga) dan Rp 520.000 untuk membayar utang Anda. Ini hanya perhitungan kasar, ya. Namun, kurang lebih begitulah sistemnya. Lumayan besar utang yang harus dibayar, ya? Jadi, jangan heran kalau utang tak segera lunas. Apalagi jika setelah dibayar, kartu kredit digunakan lagi menyamai besar yang baru saja Anda bayar. Lalu, bagaimana menjinakkan utang kartu kredit? Ada trik dari Beth Kobliner, penulis kolom di surat kabar New York Times dan buku best seller Get a Financial Life, yang bisa dicoba.
Jangan Biarkan Berbunga Bagaimana caranya? Bayarlah tagihan kartu kredit Anda tepat waktu dan lakukan hal ini rutin setiap bulan. Pihak bank dan penerbit kartu kredit tidak bisa membebankan biaya lebih jika Anda tak terlambat melakukan pembayaran. Bahkan Anda bisa membuat pihak kartu kredit tiak bisa membungakan pemakaian kartu kredit. Caranya, berbelanja dan bayarlah tagihan di masa grace period. Inilah masa tenggang bebas bunga. Biasanya grace period berlaku selama 25-30 hari. Meski ada juga yang mengurangi grace period menjadi 20-15 hari saja. Bahkan ada yang tak memberikan grace period sama sekali. Kalau ini kasusnya, berarti Anda harus siap membayar lebih atau lunas setiap tagihan.
Bagaimana memanfaatkan grace period ini? Misalnya, tanggal jatuh tempo pembayaran tagihan Anda pada tanggal 30 setiap bulan. Sementara tagihan kartu kredit setiap tanggal 10. Yang akan ditagihkan pada Anda hanyalah transaksi yang terjadi di bawah tanggal 10 (tanggal 1-10). Jika Anda berbelanja di antara tanggal 11-30 dan membayar juga di masa itu, maka Anda berhasil membuat tagihan tak berbunga berlarut-larut. Jadi, semakin cepat Anda membayar tagihan kartu kredit, semakin banyak uang yang bisa Anda hemat (karena Anda tak perlu membayar bunga yang terus berbunga). Keterlambatan pembayaran tak hanya membuat Anda harus membayar bunga yang cukup mencekik, tapi juga membuat skor kredit Anda kurang bagus.
Ketahui Batas Terlalu sering menggesek kartu kredit di berbagai ajang sale dan diskon sering membuat kita lupa akan limit kredit yang kita punya. Bayangkan jika pemakaian ketiga kartu kredit Anda melebihi batas? Berapa besar denda yang harus dibayarkan untuk ketiga kredit itu? Berapa pun jumlahnya, pasti bisa membuat Anda tak bisa berbelanja di bulan berikutnya. Inilah yang seringkali kita abaikan. Padahal, kalau saja Anda tahu dendanya bisa mencapai 30 persen dari tagihan, Anda tentu akan berpikir berkali-kali sebelum menggesek kartu hingga over limit. Anggapan bahwa jika memakai kartu kredit hingga over limit dan membayarnya sebelum jatuh tempo, tak akan menimbulkan masalah, sebaiknya Anda tinggalkan.
Memang banyak perusahaan penerbit kartu kredit tidak ingin mempermalukan Anda dan kehilangan customer mereka sehingga membiarkan sejumlah pemakaian kartu bisa sedikit melebihi batas. Dan, karena tak ada penolakan, kita pun merasa aman untuk megulanginya. Perlu diingat, setiap kali memakai kartu melebihi batas kredit, Anda akan tetap dikenakan bunga tinggi plus denda. Jadi, pikir-pikir lagi, ya.
Bayar Lebih Mari kembali ke ilustrasi di depan. Jika utang Anda Rp 8 juta dan Anda hanya melakukan pembayaran minimum sebesar 10 persen dari tagihan, berapa lama utang Anda akan lunas? Jika kartu kredit terus dipakai dan tagihan hanya dibayar minimum setiap bulan, dijamin saldo utang Anda tidak akan pernah bertemu dengan angka nol. Namun, jika Anda membayar dengan cara mencicil secara tetap, angka nol bukan sekadar impian. Misalnya saldo utang Rp 8 juta, maka pembayaran minimum bulan ini adalah Rp 800.000. Setelah dibayarkan, bulan depan saldo utang akan menjadi Rp 8 juta - Rp 800.000 + bunga. Minimum payment yang tertera di tagihan akan turun. Usahakan tetap membayar sebesar itu, meski artinya Anda membayar lebih dari pembayaran minimum yang diharuskan. Begitu seterusnya, saldo utang pun akan lebih cepat turun dan segera mencapai angka nol. Setelah saldo kartu kredit menjadi nol, silakan dipakai lagi. Namun, ingat, jangan tergelincir lagi dengan utang kartu kredit.
(Erma Dwi Kusumastuti/Majalah Chic) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Thu Jun 17, 2010 7:53 am | |
| APA RUGINYA BILA KARTU KREDIT DIBIARKAN KOSONG? Selasa, 25/5/2010 | 14:44 WIB KOMPAS.com — "Saya punya tiga kartu kredit. Yang satu untuk keperluan pribadi, satu untuk keperluan keluarga, dan satu lagi yang saya biarkan kosong. Yang satu ini memang tidak pernah saya gunakan, hanya untuk jaga-jaga saja. Apakah ini tindakan yang bijak? Apakah kartu kosong ini bisa memengaruhi credit score saya?" (Elizabeth, via e-mail). Menurut Jeremy M Simon, pengamat keuangan dari Creditcards.com, memiliki kartu kredit untuk "jaga-jaga" memang tindakan yang cerdas. Kartu ini bisa bermanfaat ketika Anda mendadak harus membayarkan sesuatu, sementara Anda tidak memiliki cukup uang tunai. Maka, jika kartu tambahan ini tidak menyebabkan masalah untuk Anda, seperti mendorong Anda untuk makin sering berbelanja atau menyebabkan pencurian identitas, Anda tidak perlu menutup kartu kredit ini.
Kartu dengan status idle baru akan dinonaktifkan atau di-block oleh bank penerbit kartu kredit jika ada transaksi yang tidak Anda lunasi selama berbulan-bulan. Yang termasuk transaksi bukan hanya pembelanjaan, tetapi juga iuran keanggotaan yang harus Anda bayar setiap tahun. Biasanya, akan ada reminder pada tagihan bahwa ada tagihan yang harus diselesaikan. Jika Anda segera membayarnya, tentu kartu Anda tetap dalam kondisi aktif. Bila Anda tetap tidak melunasinya meskipun sudah ada reminder, akan ada pemberitahuan bahwa kartu kredit sudah tidak dapat dipakai. Saat itu, bank otomatis akan menonaktifkan kartu Anda.
Meskipun demikian, membiarkan kartu kredit kosong sebenarnya hanya merugikan Anda. Anda akan dikenai annual fee setiap tahun, yang harus tetap Anda bayar agar kartu tetap aktif. Selain itu, Anda juga tidak dianggap sebagai nasabah yang menguntungkan, ketika kartu Anda "sepi-sepi" saja. Akibatnya, bagian marketing kartu kredit akan rajin membombardir Anda dengan berbagai program. Ketika Anda tidak berniat mengambil program tertentu, telepon seperti ini terasa mengganggu, bukan?
Jika Anda memang ingin memiliki kartu tambahan untuk jaga-jaga, paling aman sih menggunakannya untuk membayar tagihan seperti telepon, listrik, atau asuransi. "Dengan memasukkan tagihan rutin ke kartu kredit, Anda tidak menimbulkan utang tambahan, tetapi menjaga kartu tetap aktif," ujar Gail Cunningham, Wakil Presiden Public Relations di National Foundation for Credit Counseling. Pastikan Anda selalu membayar tagihan pada waktunya dan langsung lunas. Menurut Rod Griffin, direktur pendidikan publik dari biro kredit Experian, dua hal inilah yang akan menentukan credit score Anda. "Menjaga account tetap aktif, menggunakannya untuk pembelanjaan ringan, dan membayarnya lunas setiap bulan adalah cara yang baik untuk memelihara credit score," katanya. Namun, bila Anda bukan tergolong nasabah yang "menguntungkan", ada kemungkinan bank penerbit juga tidak akan menawarkan limit yang tinggi. Jika dengan limit terbatas saja kartu kredit tidak digunakan, untuk apa diberi limit lebih besar?
DIN |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Thu Jun 17, 2010 7:55 am | |
| MENGGUNAKAN JASA SEORANG FINANCIAL PLANNER PERLUKAH? Rabu, 12/5/2010 | 13:33 WIB KOMPAS.com - Apakah Anda mampu memegang kendali atas uang Anda? Apakah Anda dapat mengatur keuangan sehingga gaji atau pendapatan yang dimiliki bisa mencukupi segala kebutuhan dan keperluan? Mampukah Anda memahami segala instrumen investasi yang perlu dimasuki? Apakah Anda bisa memahami polis asuransi yang dibutuhi? Apakah Anda dapat mengerjakan dan mengatur kewajiban pajak Anda dengan lebih efektif? Apakah Anda dapat mempersiapkan masa pensiun dengan cermat dan seksama? Apakah Andamengetahui apa saja yang perlu dilakukan dalam mempersiapkan warisan bagi ahli waris dengan adil dan suka cita, serta menghindarkan pertikaian di masa depan?
Bila ada jawaban "Tidak" dari pertanyaan-pertanyaan di atas, maka artinya Anda butuh seorang Financial Planner (FP). Seorang FP profesional akan mampu membantu dan melayani Anda dalam melakukan pekerjaan dan perencanaan keuangan And, sehingga berbagai tujuan keuangan Anda lebih mudah tercapai.
Seorang FP akan membantu Anda dalam hal-hal berikut: 1. Menata dan mengatur serta mengelola arus kas (Cash Flow Management). 2. Membangun dan memiliki kekayaan bersih yang lebih produktif (Net Worth Management). 3. Memilih dan membeli produk asuransi yang efektif dan efisien, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan terkini. 4. Berinvestasi pada beberapa instrumen investasi, yang relatif aman dan optimal, sesuai dengan karakter risiko dan tujuan keuangan Anda. 5. Merancang dan menikmati masa pensiun yang Anda impikan, mandiri, dan sejahtera. 6. Menyusun dan merancang warisan dengan lebih bijak dan adil, sesuai dengan keinginan diri Anda.
Ibarat dokter, seorang FP akan membantu agar Anda sembuh dan sehat dari berbagai ancaman penyakit keuangan (konsumerisme dan konsumtifisme), dan menjadikan Anda sebagai orang yang bebas dan mandiri dalam keuangan. Namun perlu diingat, prosesnya tidak instan. Tercapainya tujuan keuangan memerlukan proses dan waktu.
Siapa saja yang perlu FP? Semua orang yang membutuhkan bantuan dan layanan dalam mengatur dan merencanakan keuangan mereka, agar berbagai tujuan masa depan dapat tercapai.
Berapa fee-nya? Berkisar antara Rp 250 ribu sampai Rp 2,5 juta per jam untuk konsultasi keuangan; Rp 1,5 juta - Rp 3 juta untuk paket-paket satuan Rencana Keuangan, dan dari Rp 5 juta - Rp 50 juta untuk Rencana Keuangan Komprehensif.
Bagaimana memilih seorang FP? FP dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu independen (hanya melakukan pelayanan kepada klien dan tidak melekat di sebuah perusahaan keuangan) dan dependen (melekat di sebuah institusi jasa keuangan, seperti bank atau asuransi). Saat ini sudah terbentuk IFPC (Independent Financial Planner Club) untuk membantu Anda membedakan FP.
Jadi, jika Anda merasa gaji sebulan tak pernah cukup, itulah saatnya Anda mendatangi seorang FP. (Freddy Pieloor, CFP/Majalah Chic) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Thu Jun 17, 2010 7:57 am | |
| DI PHK, KEHILANGAN IDENTITAS ATAU HARAPAN? Rabu, 12/5/2010 | 08:53 WIB KOMPAS.com — Ketika kondisi ekonomi meluluhlantakkan berbagai bisnis, pemutusan hubungan kerja atau PHK menjadi solusi paling aman bagi perusahaan. Lantas, apakah kehilangan pekerjaan membuat Anda kehilangan identitas atau bahkan harapan? Maklum, tak sedikit karyawan yang membanggakan pekerjaan sebagai identitas diri. Bahkan saat mengenalkan diri, perusahaan tempat bekerja sering kali disebut lebih awal daripada nama sendiri.
Career Coach Rene Suhardono mengungkapkan, dalam karier dikenal siklus yang harus dilalui saat seseorang diberhentikan, apa pun alasannya. "Siklus ini meliputi perasaan denial karena tidak percaya hal ini bisa terjadi. Marah karena ditinggalkan perusahaan atau loyalitas tidak dipandang. Syok karena tidak siap. Mati rasa karena tidak punya pilihan lain. Dan putus asa karena takut konsekuensi hidup selanjutnya," kata Rene dalam bukunya, Career Snippet (rangkaian buku Your Job is Not Your Career), yang diterbitkan oleh Literati.
Bagaimana merespons siklus ini atau menghadapi situasi sulit saat di-PHK adalah lebih penting. Rene menyebutkan caranya. 1. Menciptakan kesadaran Sadari letupan emosi dalam pikiran dan jangan dilawan. Sadari saat sedang marah, kecewa, malas, atau emosi lainnya. Peningkatan kesadaran ini memberi peluang terjadinya rekonsiliasi emosi dalam pikiran.
2. Penerimaan Memang tidak mudah menerima dengan besar hati. Tak perlu lagi mengatakan, "Kalau saja dulu..." atau kalimat lain yang bernada penyesalan. Proses penyembuhan diri dimulai sejak kenyataan diterima, dengan kebesaran hati.
3. Berpikir positif Jalani dan nikmati prosesnya. Mencoba membangkitkan semangat dalam diri dengan selalu berpikir dan bertindak positif. Toh selalu ada pilihan, bukan?
4. Jangan bersedih Yakini bahwa Anda spesial dan memiliki peran tertentu yang ditujukan secara khusus pada diri Anda. Pikiran seperti ini bisa membantu mengubah kesedihan menjadi rasa gembira dari sikap bersyukur.
5. Mengatur strategi Evaluasi kembali jaringan pertemanan yang Anda miliki. Kenali lagi passion, pahami kekuatan diri, dan kemampuan serta keterampilan Anda. Fokus pekerjaan bukan sekadar mengisi posisi kosong, melainkan pada manfaat keberadaan Anda. Hidup Anda kini bukan sekadar mencari uang, jabatan, atau fasilitas. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Thu Jun 17, 2010 7:59 am | |
| UANG "LAKI LAKI" PERLUKAH ISTRI TAHU? Selasa, 4/5/2010 | 10:14 WIB KOMPAS.com — Sebenarnya istilah "uang laki-laki" untuk menggambarkan jatah suami untuk keperluan pribadinya. Jatah ini bisa dipotong langsung dari gajinya sebelum disetorkan ke istri atau penghasilan lain di luar gaji bila gaji ini seluruhnya ke istri. Bisa bonus perusahaan, kerja part time, mengajar, dan usaha-usaha lain yang mendatangkan uang.
Boleh-boleh saja bila suami mempunyai jatahnya sendiri. Bukankah mereka berhak menggunakan sebagian hasil kerja keras mereka untuk keperluan pribadi? Misalnya untuk melakukan hobinya, sesekali hang out bersama kolega, mengambil kursus tambahan, dan lain sebagainya. Ada juga suami yang menggunakan uang laki-lakinya untuk tabungan pribadi, investasi saham, cadangan untuk kebutuhan di luar yang sudah direncanakan, dan sebagainya.
Loyalitas dan "kekitaan" Meskipun wajar, keberadaan uang ini tetaplah harus memerhatikan kepentingan rumah tangga tanpa mengorbankan kebutuhan istri dan anak-anak. Dalam pelaksanaannya, sering kali ditemui adanya rasa ego pada diri suami karena menganggap dirinya memiliki power atas pengaturan uang. Lantas "menjatah" uang tersebut pada pasangannya untuk kebutuhan-kebutuhan rumah tangganya. Sementara untuk dirinya sendiri, suami menjatah dirinya sendiri kelewat besar sehingga kebutuhan rumah tangga lainnya pas-pasan bahkan kurang. Atau, uang selalu habis tanpa memiliki tabungan.
Pandangan bahwa jatah "uang lelaki" harus lebih besar karena suamilah yang menghasilkan uang jelas tidak benar. Dalam hal ini suami tidak melihat bahwa istri, meski tidak bekerja sekalipun atau menghasilkan uang, mempunyai kontribusi untuk rumah tangga tersebut. Tentunya effort pasangan sulit diukur nilainya dengan uang. Jadi, pelibatan istri untuk menentukan berapa besaran pembagian yang tepat tentunya amat dihargai.
Konflik bisa dihindari bila suami menyadari adanya loyalitas dan "kekitaan" dalam rumah tangga. Loyal di sini artinya adalah ada tanggung jawab suami untuk mengedepankan kebutuhan keluarga. "Kekitaan" dimaksudkan agar penjatahan ini sepengetahuan, lebih baik lagi melibatkan pasangan.
Misalnya, istri mengetahui bahwa suami memegang uangnya sendiri dengan besaran 10-20 persen dari penghasilannya Atau adanya kesepakatan, semua gaji ditransfer ke istri, tetapi suami berhak atas jerih payah di luar gaji. Apakah jumlah jerih payah ini harus diketahui istri, lagi-lagi bergantung pada kesepakatan. Ada istri yang menganggap tidak perlu karena toh semua gaji sudah menjadi haknya, tetapi ada juga yang menuntut ingin tahu jumlahnya meskipun tetap menganggap itu hak suami.
Tentunya timbul pertanyaan, apakah jumlah dan keberadaan "uang lelaki" harus diketahui istri? Bila mengetahui prinsip loyalitas dan "kekitaan" yang disebutkan di atas, tentunya istri perlu tahu. Hal ini juga akan meminimalisasi konflik. Dikhawatirkan, bila istri suatu hari mengetahuinya, dirinya bisa merasa sakit hati. Mengapa? Istri merasa suaminya tidak mempunyai kepercayaan pada dirinya karena berahasia dalam soal uang. Ini akan menyakitkan istri yang pada akhirnya akan merembet ke hal-hal lain, termasuk kepuasan hubungan suami-istri.
Narasumber: Roslina Verauli, MPsi, dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta (Dedeh Kurniasih/Tabloid Nakita) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Thu Jun 17, 2010 8:01 am | |
| 5 TANDA KEUANGAN ANDA SEHAT Selasa, 27/4/2010 | 15:26 WIB KOMPAS.com - Boleh dibilang bahwa aktivitas keuangan kita -entah itu utang kartu kredit, biaya bulanan, sewa rumah, atau tagihan pinjaman rumah- tak bisa dilepaskan dari hidup kita. Karena itu jangan heran jika utang dalam jumlah besar atau kondisi keuangan kita secara langsung akan mempengaruhi kehidupan emosional, fisik, dan spiritual kita.
Bayangkan ketika separuh penghasilan Anda harus Anda setor kembali ke bank untuk membayar utang kartu kredit setiap bulan. Hal ini menjadi tanda bahwa Anda dikendalikan oleh uang (atau utang). Penghasilan bukan lagi menjadi tanda bahwa Anda mandiri, melainkan menjadi sumber stres karena sebagian harus digunakan untuk melunasi hutang. “Perempuan harus membangun hubungan yang sehat dan jujur dengan uang," ujar pakar finansial Suze Orman. “Kita juga perlu melihat hubungan ini sebagai suatu refleksi hubungan kita dengan diri kita sendiri."
Penting untuk menjaga bahwa kondisi keuangan kita tetap sehat. Suze Orman mengatakan, setidaknya ada lima hal yang menunjukkan bahwa keuangan Anda cukup sehat:
1. Anda sadar dengan “money personality” Anda. Hal ini bisa dilihat dari latar belakang keluarga Anda, apakah orangtua Anda berinvestasi di bidang properti, memiliki rekening di bank yang menetapkan bunga yang rendah, reksa dana, atau justru mereka terlibat utang? Kebiasaan Anda menabung dan menggunakan uang, cara Anda berinvestasi, berpandangan mengenai uang, dan bagaimana perspektif finansial, sebagian dibentuk oleh cara orangtua Anda memperlakukan uang saat Anda masih kecil. Kepribadian uang Anda langsung mempengaruhi hubungan Anda dengan uang, dan semakin Anda sadar mengenai hal ini, semakin Anda tidak tergantung pada uang.
2. Anda berani mengambil risiko finansial. Berani mengambil risiko secara finansial tidak selalu berarti Anda berani berinvestasi sebesar Rp 100 juta dalam bisnis baru seorang teman, atau Anda hobi berbelanja dengan kartu kredit hingga tagihan Anda mencapai ratusan juta rupiah. Risiko finansial bisa juga digolongkan sebagai langkah yang cerdas, misalnya jika Anda membeli rumah sebagai investasi, atau mencari cara-cara untuk memperoleh uang dari hobi Anda.
3. Anda memiliki tabungan, investasi, atau account kartu kredit sendiri. Banyak perempuan yang ingin meninggalkan suami mereka, namun tidak sanggup karena mereka tidak memiliki penghasilan sendiri untuk membiayai hidup mereka. Bila Anda memiliki rekening di bank sendiri, itu sudah menandakan bahwa Anda perempuan independen dalam hal keuangan.
4. Anda memiliki tujuan keuangan secara individu maupun berpasangan. Tujuan Anda sebagai pasangan menikah, biasanya adalah mampu membayar tagihan rumah dalam hitungan sekian tahun. Tujuan Anda sebagai perempuan bekerja adalah meningkatkan penghasilan menjadi sekian juta rupiah sebulan. Sedangkan suami mungkin juga memiliki tujuan sendiri, namun berkaitan dengan investasi. Sebagai perempuan yang memiliki kebebasan dalam mengelola penghasilan, sebaiknya Anda juga menetapkan tujuan yang terpisah dari pasangan Anda.
5. Anda memahami persoalan keuangan secara mendasar. Sebut saja mengenai asuransi kesehatan, dana pensiun, suku bunga, pajak penghasilan, dan lain sebagainya. Semakin Anda menguasai masalah keuangan, semakin Anda menjadi independen, karena Anda tahu apa yang harus Anda lakukan dengan uang Anda. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Thu Jun 17, 2010 11:44 am | |
| MAU PINDAH KERJA? YAKIN? Jumat, 30/4/2010 | 12:54 WIB KOMPAS.com - Tak ada suatu hal pun di dunia ini yang sempurna. Kita semua tahu itu. Setiap hal pasti ada positif dan negatifnya. Begitu pun tentang pekerjaan. Ketika seseorang mendiskusikan tentang kantor atau perusahaan tempatnya bekerja, kata "benci", "kecewa", dan setipenya seringkali terlontar. Padahal, asal diketahui, label semacam itu adalah label yang sangat kuat. Seseorang bisa membenci pekerjaannya karena banyak alasan. Jika Anda mendapati diri Anda mengeluhkan tentang pekerjaan, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan lagi kepada diri Anda, apakah Anda benar-benar membenci pekerjaannya atau ada yang bisa Anda lakukan untuk memperbaikinya tapi belum terlaksana?
Berikut adalah 6 alasan umum yang membuat seseorang bisa melontarkan kata "benci" kepada pekerjaannya dan tawaran solusi yang bisa membantu meredakannya.
"Saya terlalu (brilian, berpengalaman, inovatif) untuk bekerja di sini" Anda merasa diri Anda memiliki kualitas bagus, namun tempat kerja Anda ini kurang bisa jadi saluran yang tepat untuk kemampuan Anda. Jika Anda memang bisa melakukan pekerjaan yang lebih menantang atau memiliki tanggung jawab lebih, jangan berhenti mencarinya. Di lain pihak, jangan sampai hal itu menyurutkan upaya terbaik Anda untuk melakukan hal yang terbaik, karena Anda masih butuh rekomendasi dan jangan sampai mendapatkan surat pemecatan. Cobalah untuk menawarkan diri untuk melakukan tugas di luar tanggung jawab Anda yang sekarang agar bisa sekaligus menambah resume pada surat lamaran kerja Anda. Plus, waktu Anda di perusahaan akan lebih cepat berlalu jika Anda mulai mencoba melakukan hal di luar rutinitas.
"Tak ada yang menganggap saya penting" Jika bakat, upaya, dan waktu Anda tersia-sia, Anda berhak untuk sebuah perubahan. Jika Anda memiliki kesempatan untuk bicara empat mata dengan bos Anda, entah itu untuk evaluasi hasil kerja atau sebuah diskusi yang terencana, cobalah jelaskan bahwa Anda khawatir Anda tak bisa menjalankan pekerjaan lebih baik di perusahaan di samping prestasi yang bisa Anda lakukan, lalu berikan contoh hasil kontribusi Anda. Ketika Anda membingkai isu sebagai masalah profesional, ilustrasikan pula bagaimana perusahaan bisa melihat bahwa apa yang Anda kerjakan itu cukup penting, asal tetap buat pembicaraan berkisar pada topik untuk pengembangan perusahaan, ketimbang keluhan Anda. Tak ada perusahaan yang mengeluarkan promosi atau kenaikan gaji hanya karena mereka pikir sudah waktunya. Perusahaan merespon pada hasil, bukan berdasarkan kalender.
"Untuk titel ini, gajinya di bawah standar" Hal ini bisa berarti Anda tak sabar untuk mendapatkan kenaikan gaji. Pertama-tama, adalah hal yang lumrah untuk seseorang berpikir bahwa ia tidak memiliki gaji yang cukup. Untuk bisa mengetahui apakah hasil kerja Anda selama ini sudah diganjar dengan pendapatan yang pas dengan hasil yang didapat orang di luar perusahaan ini yang memiliki titel dan jabatan yang sama? Cari tahu, jika memang benar gaji Anda di bawah standar, cobalah untuk mendiskusikan kembali hal ini kepada atasan Anda. Tapi ingat, tak semua perusahaan memiliki dana cukup untuk membayar tenaga-tenaga kerjanya sesuai standar. Andalah yang bisa mengukur antara kesetiaan, kebutuhan, dan kepuasan kerja.
"Saya sudah tak peduli" Apakah Anda benar-benar menyukai pekerjaan yang Anda lakukan ini? Jika Anda melakoni profesi yang sekarang hanya karena bisa membayar tagihan bulanan, bisa jadi Anda tak benar-benar menyukainya. Namun, jika Anda mengambil pekerjaan ini karena nilai lain yang terkandung, misal, kemungkinan untuk mengasah bakat, belajar hal baru, berinteraksi dengan banyak orang, maka kemungkinan Anda perlu mengingatkan diri Anda akan hal-hal tersebut. Apakah posisi lain di perusahaan yangs ama atau di tempat lain bisa memenuhi kebutuhan Anda dalam cara yang berbeda dari perusahaan ini? Jika Anda tahu bahwa ada kesempatan lain yang lebih cocok untuk Anda, carilah kesempatan itu. Jika Anda sudah tiba di titik comfort zone, pekerjaan Anda akan cenderung menurun, atasan Anda tidak senang, dan Anda hanya menghabiskan waktu diri sendiri, juga perusahaan.
"Saya benci si bos" Anda dan si bos mesti bertemu di tengah. Berhadapan dengan bos adalah untuk mengetahui apa yang bisa Anda ubah dan mengetahui apa yang adalah hal permanen. Misal, seorang mikromanager bisa jadi lebih reseptif kepada kebutuhan Anda untuk sebuah kebebasan jika Anda duduk bersamanya dan membicarakan hal tersebut. Namun Anda tak bisa berekspektasi seseorang akan berubah 180 derajat hanya untuk memuaskan kemauan Anda. Sadarilah bahwa beberapa tipe manager akan mau mendengarkan Anda dan mengubah suasana kantor untuk menciptakan suasana yang lebih baik. Sebagian lainnya tak bisa mengubah gaya mereka seperti Anda sulit mengubah kebiasaan Anda. Karenanya, Anda harus menghitung dan memperkirakan kompromi semacam apa yang bisa Anda lakukan. Jika si bos tak pernah bisa menemukan titik tengah dengan Anda, maka sudah saatnya Anda mencari pekerjaan lain.
"Saya benci rekan kerja yang ada" Kultur perusahaan membuat Anda gerah? Ketidakakraban dengan rekan kerja adalah masalah yang serupa masalah dengan bos. Untuk hal ini, Anda harus mau mencoba mengalah sedikit. Kadang, obrolan ringan sekilas saja bisa meredakan ketegangan, namun, ada waktu-waktu tertentu perbedaan tidak bisa ditengahi. Jika Anda mencintai pekerjaan Anda, Anda bisa mencoba melepaskan diri dari situasi rekan kerja yang menyebabkan Anda stres. Mungkin masalahnya bukan karena mereka yang berubah, tapi karena Anda yang sudah bertumbuh, dan hal-hal yang biasa Anda lakukan bersama teman-teman
AGAR TAK MENYESAL PINDAH KERJA RABU, 9 FEBRUARI 2011, 16:32 WIB Siswanto, Febry Abbdinnah VIVAnews - Mencari pekerjaan sering diibaratkan membeli kucing dalam karung. Anda tidak tahu apa yang akan Anda hadapi saat menjalani pekerjaan nanti. Oleh karena itu, Sebelum menyetujui sebuah kontrak kerja, pastikan terlebih dulu apakah Anda benar-benar menginginkan pekerjaan tersebut atau tidak. Caranya, lakukan analisis kecil-kecilan terhadap jenis pekerjaan Anda. Apa saja yang harus Anda analisis?
1. Keuntungan Perhatikan keuntungan apa saja yang akan didapat jika bekerja di tempat kerja baru. Mulailah dengan menganalisis seberapa besar yang Anda dapatkan untuk tunjangan kesehatan, dana pensiun, dan apakah kompensasi tersebut cocok dengan kontribusi yang akan Anda berikan. Selain itu, Anda juga harus mempertimbangkan sistem reimburse, bonus, jam kerja, dan alat-alat yang Anda dapatkan untuk menunjang pekerjaan.
2. Lokasi dan transportasi Perhatikan lokasi tempat kerja baru. Jika lokasinya berada jauh dari rumah Anda, bandingkanlah biaya transportasi pulang pergi dengan kemungkinan Anda dapat mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan harga murah. Jika tidak ada kemungkinan Anda untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih dekat, hitunglah biaya yang Anda keluarkan untuk transportasi. Pastikan biaya tersebut masih dapat ditutupi dengan gaji. Dan, perhitungkan juga apakah Anda masih dapat menabung atau tidak. Pastikan juga Anda termasuk orang yang tidak mudah mengeluh akibat kondisi jalan yang macet karena stres di pagi hari akibat kemacetan jalan dapat mempengaruhi mood bekerja. Selain itu, hitunglah berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk pergi dan pulang dari kantor.
3. Kesempatan berkembang Tidak ada seorang pun yang mau hanya berujung pada satu posisi dan tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kualitas hidupnya. Jadi, jangan sungkan untuk menanyakan pada interviewer Anda, apakah pekerjaan yang ditawarkan memiliki kesempatan yang besar untuk mengembangkan potensi diri dan kesempatan untuk naik jabatan.
4. Lingkungan kerja Anda akan bekerja selama 9 jam selama 5 hari setiap minggu, berarti Anda menghabiskan hampir seluruh waktu Anda di kantor. Karena itulah, ada baiknya pastikan apakah lingkungan kerja di kantor baru cocok dengan Anda. Lihatlah lingkungan kerja dari dress code, budaya kerja (menuntut kerja cepat atau dapat dilakukan dengan santai, hirarki atau lebih demokratis), apakah visi dan misi perusahaan cocok dengan Anda, kekeluargaan, kerja tim atau individu. Pasti akan sulit mengetahui lingkungan kerja dari interview yang sifatnya sangat formal. Namun, Anda dapat menanyakan pengalaman kerja pada pekerja yang sudah terlebih dahulu bergabung sebelum menerima tawaran kerja tersebut.
5. Keamanan kerja Sebagai pekerja sangatlah penting untuk mengetahui sistem keamanan pekerja. Asuransi, apakah perusahaan tersebut mapan dan tidak memiliki tanda-tanda akan bangkrut adalah hal-hal yang harus Anda perhatikan. Tentu Anda tidak menginginkan mata pencaharian Anda hilang begitu saja akibat perusahaan yang pailit.
6. Di mana Anda akan berada sepuluh tahun mendatang? Jika semua telah Anda analisa, waktunya bertanya pada diri Anda sendiri. Apa yang Anda ingin capai sepuluh tahun mendatang? Memang terdengar klise, namun ini penting untuk mengetahui apakah pekerjaan yang ditawarkan dapat membawa Anda pada tujuan hidup Anda.
Jika semua sudah cocok, maka Anda akan mencintai pekerjaan baru ini dan akan lebih mudah mencapai apa yang diinginkan. (pet) menjadi kegiatan yang menjemukan. Terimalah fakta bahwa bisa jadi Anda yang berubah dan menjauh dari teman-teman kerja, lalu putuskan apa yang bisa Anda lakukan untuk menghadapinya.
Last edited by gitahafas on Sun Feb 27, 2011 5:55 am; edited 1 time in total |
|  | | | | Perencanaan Keuangan Keluarga | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |