|
| | Perencanaan Keuangan Keluarga | |
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Perencanaan Keuangan Keluarga Sun Jan 24, 2010 8:11 pm | |
| TIPS MENGELOLA KEUANGAN KELUARGA Sabtu, 2 Mei 2009, 16:37 WIB Finalia Kodrati, Mutia Nugraheni VIVANews - Sebagai pasangan baru Anda dan pasangan pasti masih harus banyak melakukan penyesuaian termasuk dalam mengelola keuangan keluarga. Uang memang harus dikelola dengan baik, karena jika tidak nantinya bisa menimbulkan masalah dalam keluarga Anda. Bahkan menurut Dr. Judy Kuriansky, penulis The Complete Idiot’s Guide to a Healthy Relationship, uang adalah salah satu dari tiga hal yang merupakan sumber masalah dalam sebuah keluarga. Dua sumber lainnya adalah seks dan pengasuhan anak. Dr. Judy memberikan tips bagaimana mengelola keuangan keluarga. Tips ini bisa Anda intip, tentunya untuk menghindari masalah keuangan yang bisa muncul kemudian hari.
1. Uang untuk merayakan hari besar. Perayaan hari besar baik hari raya keagamaan, ulang tahun atau hari istimewa lainnya pasti membutuhkan sejumlah uang. Anda pasangan harus sepakat seberapa besar uang yang dialokasikan untuk merayakannya. Tentunya dengan mempertimbangkan keperluan pokok, sehingga uang yang dikeluarkan untuk hari raya tidak menggangu anggaran pokok lain.
2. Pengangguran, atau pemberhentian sementara. Status penggangguran atau diberhentikan sementara secara otomatis menimbulkan masalah keuangan. Selain itu, tentu saja berpengaruh pada menurunnya rasa percaya diri dan menimbulkan emosi mudah terpancing. Jika hal tersebut melanda Anda atau pasangan sebaiknya diskusikan langkah-langkah penghematan yang bisa diambil. Hal itu untuk menghindari terjadinya pertengkaran yang di picu perbedaan pendapat dalam pengeluaran.
3. Promosi, dan kenaikan gaji. “Promosi dan kenaikan gaji pun bisa menjadi sumber masalah dalam keluarga,” kata Dr Judy. Anda dan pasangan harus membuat rencana keuangan agar uang yang kelebihan uang yang masuk bisa digunakan dengan baik dan tidak terbuang percuma tanpa bekas.
4. Kebutuhan anak-anak, hiburan, pendidikan dan rekreasi. Kebutuhan tersebut adalah tentunya harus dipenuhi, dan jangan mengabaikan kebutuhan rekreasi dan hiburan, Karena hal itu bisa mendekatkan Anda dan anak-anak. Untuk itu, buatlah anggaran untuk rekreasi dan liburan bersama keluarga. Ajarkan juga anak-anak untuk mengelola uang jajan mereka.
5. Rumah, mobil, apartemen. Ketika membeli rumah, mobil atau barang mewah lainnya sebaiknya pikirkan tidak hanya masalah materi tetapi juga emosi. Pengeluaran yang besar tentu berimplikasi pada banyak hal termasuk pengeluaran Anda selanjutnya. Untuk itu, jangan membuat keputusan yang hanya memikirkan diri sendiri saja, pertimbangkan juga kepentingan pasangan.
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:53 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Sun Jan 24, 2010 8:38 pm | |
| JURUS JITU MENGELOLA KEUANGAN RUMAH TANGGA Mengelola keuangan rumah tangga memang bukan pekerjaan remeh, apalagi jika penghasilan suami - bisa jadi ditambah penghasilan istri - masih tergolong pas pas-an. Dalam hal ini perlu jurus jitu agar ibu rumah tangga tidak terus menerus 'menjerit' menjelang akhir bulan. Salah satu jurus itu adalah dengan menyeimbangkan pengeluaran dengan pemasukan, menurut perencana keuangan keluarga Ahmad Gozali. Disini yang perlu diperhatikan adalah menyeimbangkan antara keinginan dengan pemasukan. Jadi keinginan membeli sesuatu harus melihat dahulu kemampuan. Jadi jika menginginkan sesuatu, lihat dulu apakah pemasukan cukup atau lebih. Jika tidak cukup, lebih baik jangan dipaksakan. Yang terjadi di banyak rumah tangga selama ini adalah lebih banyak pengeluaran ketimbang pemasukan. Mestinya setiap pengeluaran rumah tangga harus ada daftar prioritas sehingga tidak sembarangan. Daftar prioritas pengeluaran rumah tangga:
1. Zakat sebesar 2,5%. 2. Membayar cicilan hutang, jumlahnya jangan lebih dari 30%. 3. Menabung dan membayar asuransi ( 10 - 20% ). 4. Membiayai kebutuhan sehari hari ( 40 - 50% ).
Jurus lain yang ditawarkan Ahmad Gozali untuk mengatur keuangan rumah tangga adalah mengalokasikan surplus dengan optimal. Maksudnya, seseorang harus menginvestasikan harta yang dimilikinya agar tidak mandek, tetapi terus berkembang sehingga semakin banyak. Hal yang keliru adalah menginvestasikan surplus keuangan dengan membeli barang barang yang konsumtif. Jurus berikutnya adalah mengatasi defisit dengan bijak. Maksudnya jika suatu kali terjadi defisit, hindari berhutang dengan pembayaran yang berkepanjangan. Kalaupun suatu kali terjadi pengeluaran tidak rutin dan mendesak, maka solusinya harus ada uang cadangan, semisal berupa tabungan.
Untuk menyiasati harga harga barang kebutuhan rumah tangga yang terus meroket, solusinya adalah dengan berhemat dan kalau bisa mencari penghasilan tambahan. Jika belum cukup juga dengan penghasilan tambahan, itu artinya anda seorang pemboros. Solusinya, kurangi penghasilan, tetapi itu bukan berarti anda minta pengurangan gaji, tetapi maksudnya membatasi membawa uang tunai, lebih baik amankan uang anda di bank atau membeli emas sebagai investasi.
Kiat lain adalah mengelola dan melindungi aset dengan baik. Islam mengajarkan untuk memisahkan harta yang dibawa istri, warisan orang tua istri dengan harta yang dibawa suami. Hal ini berkaitan dengan hak waris dikemudian hari.
Sumber: koran
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:01 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Sun Jan 24, 2010 8:39 pm | |
| BILA PENGHASILAN SUAMI TIDAK MEMADAI Dimata Konsultan Perencanaan Keuangan, Safir Senduk, tidak ada masalah jika penghasilan suami lebih rendah dari istri. Justru mereka bisa saling membantu meringankan biaya rumah tangga. Para suami jangan minder, sebaliknya para istripun jangan mentang mentang. Semuanya low profile saja, karena kalau istri mulai semena mena, sikap itu salah dan bisa menjadi masalah.
"Ingat status kaya atau tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh penghasilan, gaji atau kekayaan, tapi bagaimana mereka bisa menyimpan ( menabung ) dari penghasilannya," katanya. Dia mencontohkan untuk apa gaji besar, misalnya Rp 10 juta/bulan tapi tidak bisa menabung, dibanding dengan yang penghasilannya Rp 2 juta/bulan tapi bisa menabung walau hanya sedikit.
Menurut Safir, kalau ditinjau dari perencanaan keluarga secara umum, tidak ada aturan ideal pembagian penghasilan suami istri. Karakter setiap orang itu berbeda beda, makanya pembagian penghasilan suami istri harus berdasarkan kesepakatan mereka sendiri. Misalkan kebutuhan rumah tangga sehari hari diambil dari kocek suami, bayaran sekolah anak dari kocek istri, tetapi suami tetap mem back up. Silahkan saja membuat kesepakatan, karena dengan adanya kesepakatan, pembagian itu menjadi lebih aman bagi si istri maupun suami.
Bagi yang baru akan memasuki jenjang pernikahan, Safir mengingatkan, alangkah baiknya kalau kesepakatan itu di komunikasikan sebelum pernikahan. Rinci saja apa tanggung jawab suami dan mana jatah yang harus dibayar oleh istri. Ketika menjalani rumah tangga, mereka sudah tinggal menjalani kesepakatan tersebut. Jangan sampai ketika menjalani rumah tangga ternyata si istri tidak mau share.
Sebagai konsultan Safir mengaku kerap bertemu dengan keluarga dimana penghasilan si istri lebih dominan. Ternyata mereka oke oke saja, tidak ada masalah dan tidak menjadikan perbedaan penghasilan sebagai sumber konflik. Biasanya mereka ini adalah orang orang strata A yang memiliki pola pikir yang lebih matang. Merekapun biasanya berasal dari profesi yang berbeda. Bagaimana jika berasal dari profesi yang sama? Memang cenderung muncul konflik. Tetapi sebenarnya, tegas Safir, konflik itu lebih karena faktor psikologis. Karena itu ia kembali mengingatkan agar istri tidak semena mena kepada suami. Masalah ini bisa meruncing jika istri menceritakan kepada orang lain ( pihak ketiga ). Maklum, masalah penghasilan termasuk masalah sensitif dan tidak etis diceritakan kepada pihak luar.
Bagi mereka yang menemui masalah akibat perbedaan penghasilan, Safir menawarkan solusi, yakni suami mencari penghasilan tambahan. Kalau kondisinya memungkinkan, tidak ada salahnya suami mencari tambahan diluar.
Sumber: koran
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:51 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Sun Jan 24, 2010 8:42 pm | |
| APA ARTI 'KAYA' Kamis, 30/9/2010 | 12:40 WIB KOMPAS.com — Arti "kaya" bagi banyak orang bisa saja berbeda-beda. Sama dengan cara orang memandang "sukses". Apa kata seorang financial planner mengenai arti kaya? Freddy Pieloor, CFP dari www.moneynlove.com, berbagi pandangan Saya percaya sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada, manusia yang ingin hidup miskin dan sengsara. Semua menginginkan hidup kaya, bahagia, dan sejahtera. Namun kenyataannya, jumlah orang miskin jauh lebih banyak daripada orang kaya. Apakah sulit menjadi orang kaya? Apakah perlu pendidikan yang tinggi hingga meraih gelar profesor? Atau mesti berkunjung ke dukun sakti meminta ajian atau resep kaya? Apakah kita tidak bisa menjadi kaya dengan cara halal dan harus melakukan korupsi serta tindak kejahatan seperti yang ditayangkan televisi?
Saya akan mencoba memberi tips cara menjadi kaya yang sederhana dan mudah dipahami. Tetapi, jangan pernah bermimpi menjadi kaya secara cepat atau instan, ya. Menjadi kaya memerlukan waktu dan proses, yang dikerjakan secara penuh disiplin dan komitmen tinggi. Menjadi kaya pun bukanlah akhir dari sebuah pencapaian, melainkan sebuah titik yang akan terus bergerak. Misalnya, sekarang ukuran kaya bagi Anda adalah memiliki uang sebesar Rp 1 miliar. Begitu Anda sudah memiliki uang Rp 1 milyar tersebut, ukuran Anda akan meningkat lagi menjadi Rp 5 miliar atau bahkan lebih. Jadi, ukuran kekayaan Anda akan terus berubah seiring dengan pencapaian tersebut.
Kali ini saya akan membahas tema "Define your definition about rich". Apa definisi Anda tentang kekayaan? Apakah memiliki rumah mewah ukuran 1.000 meter di Pondok Indah dan mobil Audi A8 keluaran terbaru sudah kaya? Atau harus memiliki uang tunai sebesar Rp 25 miliar? Atau Anda rasa memiliki rumah sederhana ukuran 200 meter di kota Ambarawa yang sejuk dan kebun yang tidak terlalu luas serta sedikit tabungan sebesar Rp 500 juta sudah Anda anggap kaya? Saya yakin definisi Anda tidak akan sama dengan sahabat atau saudara Anda. Kaya sangat relatif dan rentang kekayaan seseorang sangat panjang, mungkin dimulai dengan Rp 100 juta hingga Rp 25 triliun. Mungkin biaya hidup Anda cukup dengan Rp 10 juta per bulan, tetapi bagi orang lain bisa jadi membutuhkan Rp 250 juta per bulan. Semua berpulang kembali kepada cara dan gaya hidup masing-masing.
Menurut Webster dan Oxford Dictionary, arti kaya adalah memiliki banyak harta atau properti, tetapi menurut Robert T Kiyosaki, kaya adalah memiliki passive income (pendapatan tanpa bekerja karena uang mereka yang bekerja) yang nilainya lebih besar daripada biaya hidup sehingga tanpa bekerja pun, seseorang atau sebuah keluarga dapat tetap menjalani kehidupan dengan standar yang sama (layak). Jadi, sebelum Anda melangkah dan mencapai kekayaan, silakan mencari makna dan definisi kaya bagi diri Anda sendiri. Apa arti kaya bagi Anda? Apakah Anda sudah merasa kaya? Apa ukuran (dasar) kaya bagi Anda? Ingat, ukuran orang lain jangan Anda pakaikan pada diri Anda!
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:55 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Mon Jan 25, 2010 5:15 am | |
| 6 TANDA ANDA SUKSES MENGELOLA KEUANGAN Senin, 15/11/2010 | 12:23 WIB KOMPAS.com - Setiap orang pasti ingin mampu menghadapi situasi keuangan yang menguntungkan dalam hidupnya. Karena itu, mereka mengejar penghasilan yang tinggi agar merasa aman dengan kebutuhan hidupnya. Namun apalah artinya gaji yang tinggi bila Anda tidak mampu menabung, bukan? Sudah bukan rahasia lagi bila dikatakan bahwa banyak orang berpenghasilan tinggi pun tidak mampu menabung dengan pantas, akibat gaya hidup yang dianutnya. Maka, yang lebih penting di sini adalah bagaimana Anda mampu mengelola keuangan Anda, sehingga bisa menikmati hasilnya dengan layak. Anda tidak yakin apakah Anda telah mengelola keuangan Anda dengan baik? Coba simak tanda-tandanya berikut ini.
1. Anda lebih banyak menabung daripada membelanjakan uang. Boleh dibilang, inilah langkah fundamental menuju keuangan yang sukses. Prinsip pertama ini dapat Anda patuhi, tak peduli meskipun ada biaya-biaya tak terduga yang terjadi, misalnya biaya kesehatan yang tiba-tiba harus dipenuhi. Dalam kasus seperti ini, bisa saja Anda memang mendahulukan pengeluaran untuk kesehatan daripada menabung. Namun pada saat lain, Anda mampu hidup dengan pengeluaran lebih sedikit daripada penghasilan Anda.
2. Anda menghargai komitmen terhadap uang. Orang yang dengan segera bisa memenuhi kewajiban finansial akan menyadari bahwa semua upaya mereka itu lebih menguntungkan. Misalnya saja, Anda membeli barang yang sedikit mahal dengan menggunakan kartu kredit, namun Anda membayar lunas sebelum jatuh tempo. Maka, Anda mendapatkan keuntungan dengan memperpanjang masa pembayaran barang tersebut.
3. Anda tidak memiliki utang. Salah satu faktor penting yang membedakan orang yang menang dan yang kalah adalah utang. Pinjaman rumah atau pinjaman untuk modal usaha memang menguntungkan; yang sebaiknya tidak dilakukan adalah pinjaman pribadi untuk berbagai produk elektronik, perabotan rumah, atau benda-benda lain yang hanya mampu Anda bayar secara minimum payment. Penggunaan kartu kredit seringkali memang menjebak. Pahamilah bahwa keuntungan kartu kredit adalah pada kenyamanan ketika Anda tidak membawa uang tunai untuk membayar barang. Seperti telah disebut di atas, ketika tagihan datang, bayarlah secara lunas sebelum jatuh tempo.
4. Anda selalu bersikap skeptis. Dalam mengarungi jalan untuk menuju kesejahteraan, Anda akan menemui berbagai godaan. Hindari godaan ini dengan menerapkan sikap skeptis. Misalnya, menahan godaan untuk berbelanja saat midnite sale (Anda meragukan bahwa harga yang terpampang merupakan harga yang memang sudah didiskon, sehingga layak atau tidak untuk dibeli). Anda tidak gegabah membuat investasi hanya karena dibujuk seorang teman atau keluarga. Anda berusaha memahami mengapa seseorang yang tidak memiliki pengetahuan berani mempertaruhkan uang yang tidak sedikit untuk diinvestasikan. Bukan berarti Anda tidak boleh, hanya saja selalu berpikir dua kali apakah godaan tersebut layak dituruti atau tidak.
5. Anda mampu pensiun pada usia 50 tahun. Pensiun dini memang didambakan banyak orang, dan tidak ada patokan khusus pada usia berapa Anda mampu melakukannya. Anda memang masih perlu mempertimbangkan tahun-tahun yang akan Anda jalani sesudahnya. Jika separuh awal dari hidup Anda dihabiskan untuk mengumpulkan uang, masuk akal jika selama separuh hidup Anda sesudahnya Anda bisa mengandalkan uang yang telah Anda kumpulkan itu. Kebanyakan orang yang sukses memang mengejar kekayaan selama mereka mampu. Namun, pilihan ada di tangan Anda.
6. Anda memiliki reputasi kejujuran. Reputasi sebagai orang yang jujur adalah salah satu aset paling bernilai yang bisa dimiliki seseorang. Tidak ada pintu yang terbuka, atau kesempatan yang ditawarkan pada orang yang kata-kata dan tindakannya tidak dapat dipercaya. Lakukan pekerjaan atau kegiatan Anda dengan cara dimana keandalan Anda tidak perlu dipertanyakan lagi. Karakter seperti ini, jelas merupakan patokan orang yang sukses.
Kekayaan, setidaknya sejumlah kecil yang mampu Anda miliki, merupakan kriteria penting dalam kesuksesan. Meskipun begitu, memiliki kekayaan saja tidak akan cukup. Kombinasi dari aset, gaya hidup, dan attitude, adalah yang menghasilkan kesuksesan.
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:56 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Mon Jan 25, 2010 5:36 am | |
| 5 KEBIASAAN KEUANGAN YANG BIKIN ANDA BAHAGIA Rabu, 22/9/2010 | 08:14 WIB KOMPAS.com - Memiliki kontrol yang cukup besar atas uang yang Anda miliki boleh dibilang merupakan salah satu hal yang dapat membuat Anda bahagia. Ada beberapa kebiasaan spesifik yang dapat Anda coba untuk membuat uang berada di bawah kontrol Anda. Dengan perbedaan tersebut, Anda akan merasa lebih bahagia. Simak caranya.
1. Mengelola keuangan Anda tidak perlu menyewa perencana keuangan profesional. Anda hanya perlu menerapkan beberapa program tabungan yang Anda pahami sehingga Anda dapat melakukannya dengan cepat dan tanpa kerumitan. Itu adalah kuncinya. Orang yang cukup terorganisasi dan bisa mendapatkan apa yang mereka butuhkan dengan cepat umumnya lebih bahagia daripada mereka yang tidak.
2. Tidak membayar semua tagihan bersamaan Bayangkan bila Anda memiliki tagihan dua kartu kredit, PLN, PAM, ponsel, dan asuransi, dalam waktu bersamaan. Melihat sejumlah besar uang Anda raib dari saldo rekening di bank bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Jika masing-masing tagihan tersebut memiliki waktu jatuh tempo yang berbeda, kenapa tidak membayarnya langsung begitu tagihan diterima? Anda akan merasa segera terbebas dari kewajiban, dan terpakainya uang untuk membayar utang pun tidak begitu terasa.
3. Menabung lima persen Ada hubungan yang kuat antara tabungan dan kebahagiaan. Jika Anda dapat menabung sebanyak lima persen saja, Anda pasti akan merasa bahagia. Jumlah ini tidak besar, kok. Jika gaji Anda Rp 5 juta, maka lima persennya berarti hanya Rp 250.000. Menabung sedikit uang tersebut, bila dilakukan rutin tiap bulan, pada akhir tahun Anda sudah bisa menggunakannya untuk tiket pesawat untuk liburan berdua. Dimulai dari lima persen, setelah terbiasa menyisihkan uang Anda dapat menabung sepuluh persen.
4. Tetapkan dan jalankan tujuan Anda Mencapai kebahagiaan bukan masalah telah mencapai tujuan, melainkan masalah membuat kemajuan. Meskipun untuk mencapai tujuan itu seringkali Anda mengalami kekecewaan, Anda harus tetap maju. Intinya adalah memotivasi diri. Anda hanya perlu melihat hasil yang akan Anda capai untuk terus maju.
5. Donasikan sebagian uang Anda Tidak ada cara lain untuk meningkatkan kebahagiaan keuangan Anda sendiri selain membuat hidup orang lain sedikit lebih baik. Banyak cara yang bisa Anda lakukan, dari memberi modal usaha untuk PRT yang ingin mandiri, atau menyumbang untuk proyek pelestarian lingkungan. Orang-orang yang memberikan sedikit uangnya tidak hanya akan merasa bahagia, tetapi juga akan lebih sehat. Orang yang tahu bagaimana memberi juga dapat mengingatkan diri bahwa menginginkan lebih banyak bukan berarti memanjakan kesenangan. Kebahagiaan Anda tidak bergantung pada seberapa banyak yang Anda miliki, tetapi pada cara Anda menanganinya.
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:59 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Sun Feb 07, 2010 3:40 pm | |
| CARA MENGHEMAT PENGELUARAN HARIAN Agar hidup tetap berjalan 'senormal' mungkin, ada beberapa kebiasaan sehari hari yang harus diubah atas nama penghematan. Tentu saja tujuannya agar kualitas hidup tetap seimbang. Mulailah dari hal hal yang kelihatan sepele, namun mampu memberikan hasil yang cukup signifikan bagi kondisi kantong.
Beberapa hal simpel yang dimaksud antara lain adalah: 1. Biasakan sarapan sebelum mulai beraktivitas. Hal ini mungkin terdengar sangat sepele. Namun tahukah anda bahwa ternyata sarapan yang mengenyangkan selain membuat kita lebih bersemangat kerja, juga bisa membantu mengurangi keinginan jajan sebelum jadwal makan siang tiba.
2. Membawa bekal makan siang. Luangkan sedikit waktu sebelum berangkat kerja untuk menyiapkan makanan yang mudah dibawa. Bila perlu ajak teman teman di kantor untuk membawa bekal makan siang juga, sehingga andapun bisa bertukar menu dengan mereka. Walaupun terkesan sepele, hal ini bisa menghemat pengeluaran. Bayangkan jika setiap harinya anda menghabiskan dana Rp 15.000,- untuk makan siang diluar, kalikan dengan jumlah hari kerja, maka setidaknya bisa menghemat pengeluaran hingga Rp 300.000,-.
3. Beberapa kalangan sudah mulai mengandangkan mobil di garasi dan mulai menggunakannya hanya pada saat akhir pekan ketika pergi bersama keluarga. Sementara untuk mobilitas kerja mereka sehari hari, Trans Jakarta atau sepeda motor bisa dijadikan solusi yang cukup menjanjikan.
4. Mulailah bangun lebih pagi untuk sekedar berjalan jalan atau jogging disekitar komplek perumahan. Selain menyehatkan badan, andapun bisa menghemat pengeluaran yang sedianya digunakan untuk iuran keanggotaan di pusat kebugaran.
5. Hentikan kebiasaan merokok sesegera mungkin. Selain merusak kesehatan jantung, merokok sama halnya dengan 'membakar' uang karena nyaris tidak ada manfaat yang didapat.
6. Hilangkan kebiasaan ngobrol selama ber jam jam di telepon. Selain membuang buang uang untuk membeli pulsa, nyaris tak ada manfaat ekstra yang didapat dari menggosip. Kecuali jika profesi anda memang seorang telemarketer.
Walaupun terkesan sepele, dengan menerapkan beberapa tip hidup hemat tersebut dalam kehidupan sehari hari, niscaya akan banyak hal positif yang di dapat.
Sumber: Koran |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Sun Feb 07, 2010 4:15 pm | |
| BERBELANJA DENGAN HEMAT 1. Miliki memo kecil untuk mencatat apa yang dibutuhkan dan mencatat apa yang anda beli. Seperti sihir, cara ini sebenarnya cukup ampuh untuk mencegah dan membuang uang percuma. Terbiasa mencatat juga akan membantu anda menjadi lebih cermat dan tentu lebih hemat saat belanja.
2. Jangan suka belanja mendadak. Makin banyak waktu untuk belanja, makin hematlah anda. Anda bisa membandingkan harga, sebelum akhirnya mengambil keputusan. Hukum ini berlaku lebih pada momen momen tertentu, seperti persiapan merayakan hari besar, ulang tahun dan lain sebagainya.
3. Manfaatkan program promo dan diskon yang diberikan pusat perbelanjaan secara optimal. Anda dapat menemukan banyak sekali penawaran menarik, baik yang diinformasikan di media massa atau melalui selebaran dipintu pintu masuk pusat perbelanjaan. Jika anda cerdik, anda dapat menghemat atau memperoleh hasil maksimal dengan dana yang anda miliki.
4. Uang cash adalah raja. Kalau belum jadi konglomerat dengan limpahan uang di deposito, lebih baik bawa uang cash didompet untuk dibelanjakan, dibandingkan memakai kartu kredit.
5. Gunakan kartu kredit dengan bijaksana dan se optimal mungkin. Kartu kredit dapat membantu anda mengelola keuangan, karena anda dapat berbelanja sekarang dan membayarnya kemudian. Apalagi, tidak jarang kartu kredit menawarkan program promo dan diskon yang menarik. Manfaatkan sebijaksana mungkin sesuai kebutuhan. Namun, berhati hatilah, dengan tidak beranggapan bahwa dana yang terdapat pada kartu kredit sebagai 'dana-lebih', karena pada akhirnya anda juga membayar tagihannya.
6. Jadilah penawar sejati. Jangan malu untuk menawar. Kalau memang malas, belanjalah dengan teman yang jago menawar. Dengan begitu anda bisa menghemat sejumlah uang, walaupun tidak terlalu besar jumlahnya, tapi uang itu bisa di alokasikan untuk keperluan yang lain.
7. Jangan lupa bawa daftar belanja anda. Dan biasakan untuk tidak membeli apapun yang tidak ada dalam daftar tersebut.
8. Jangan pergi belanja dalam keadaan lapar. Itu akan membuat anda jadi boros membeli makanan yang harganya bisa relatif lebih mahal. Kalau bisa makan dulu dirumah sebelum pergi, itu akan jauh lebih baik, kecuali kalau memang mempunyai niat makan diluar.
9. Jangan belanja dalam keadaan bingung, sedih atau dalam masalah lain. Terutama pada wanita, belanja dalam keadaan seperti itu akan membuat anda 'lapar mata' dan akhirnya membeli sesuatu yang sama sekali tidak perlu.
10. Belanjalah sendirian. Membawa pasangan atau anak ketika belanja akan membuat anda tergoda untuk membeli sesuatu untuk mereka. Tinggalkan saja mereka dirumah.
11. Jangan langsung membuang bukti pembayaran. Anda bisa baca ulang bukti itu untuk menjadi bahan perhitungan dan perenungan. Dan siapa tahu barang yang anda beli rusak, maka anda dapat mengembalikannya dengan membawa bukti itu.
12. Jangan malu cari barang tertentu di toko barang bekas atau garage sale. Jika pandai memilih anda bisa menghemat sejumlah uang untuk barang yang masih berkualitas baik.
Sumber: Koran
Last edited by gitahafas on Sun Feb 07, 2010 4:47 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Sun Feb 07, 2010 4:46 pm | |
| WASPADA GELAP MATA KARENA SALE Musim sale sudah tiba. Berbagai macam tawaran produk dengan harga miring semakin menggoda kita untuk merogoh kocek sedalam dalamnya. Tapi jangan sampai anda kalap karena tak bisa menahan godaan barang barang dengan harga murah meriah nan yahud itu.
1. Rekam dikepala anda ataupun catat di handphone anda, barang barang apa saja yang ada di urutan atas 'must buy' sebelum anda menginjakkan kaki di shopping centre tujuan. ( must buy= dibeli karena memang dibutuhkan ).
2. Sadar akan anggaran yang dimiliki juga menjadi kunci utama tidak terjadinya kekhilafan membeli barang.
3. Jangan membeli barang hanya karena barang tersebut cantik, tanpa anda ketahui kapan anda akan menggunakannya.
4. Walaupun sepatu sepatu cantik sedang di sale dengan harga gila gilaan, namun bayangkan lagi apakah anda sudah memiliki pakaian yang bisa dipadu padankan dengan sepatu tersebut.
5. Aksesori bisa mempercantik, namun hanya dipakai untuk acara acara tertentu. Jadi, kalau memang tidak memiliki acara penting yang akan dihadiri dalam waktu dekat, singkirkan keinginan untuk membeli aksesori menjadi urutan yang paling bawah.
6. Jika over budget, dijamin anda tidak bisa memungkiri akan ada sedikit penyesalan ketika tiba dirumah dan menyadari kalau banyak barang barang tidak penting yang telah anda beli.
7. Banyak membeli barang sale bukan belanja cerdas, jika anda tidak bisa memperhitungkan prioritas kebutuhan.
Sumber: Koran Seputar Indonesia |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Sun Feb 07, 2010 5:07 pm | |
| PENGENAAN PAJAK ATAS PENGHASILAN Sehubungan dengan surat pembaca di Kompas mengenai Pengenaan Pajak bagi Pensiunan, perlu dijelaskan bahwa pajak penghasilan dikenakan atas penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak ( WP ), dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk yang pensiun serta yang memperoleh pesangon.
Ada 2 cara mengenakan pajak atas pensiun, yaitu: 1. Dipungut bulanan apabila pensiun dibayar setiap bulan.
2. Dipungut satu kali apabila pensiun dibayar secara sekaligus. - Batas tidak dikenakan pajak sampai Rp 25 juta. - Tarif pajak 5% untuk pensiun diatas Rp 25 juta sampai Rp 50 juta. - Tarif pajak 10% untuk pensiun diatas Rp 50 juta sampai Rp 100 juta. - Tarif pajak 15% untuk pensiun diatas Rp 100 juta sampai Rp 200 juta. - Tarif pajak 25% untuk pensiun diatas Rp 200 juta.
Dengan demikian, dari uang pensiun sebesar Rp 100 juta yang dibayarkan sekaligus, yang dikenakan pajak adalah Rp 100 juta dikurangi dulu dengan Rp 25 juta, berarti yang kena pajak adalah sebesar Rp 75 juta. Dengan lapisan tarif itu, maka pajak yang dikenakan adalah sebesar Rp 6.250.000 ,-.
Pajak yang dibayarkan setiap WP, digunakan oleh negara untuk berbagai keperluan belanja negara, seperti penyediaan fasilitas umum, infra struktur, keamanan, kesehatan, pendidikan dan lain lain.
Sumber: Kompas / Surat Pembaca dari Djoko Slamet, Direktur P2 Humas Direktorat Jenderal Pajak. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Fri May 21, 2010 5:46 am | |
| 6 TRIK AGAR GAJI TAHAN LEBIH LAMA Senin, 22 Februari 2010 | 16:30 WIB KOMPAS.com - Anda pernah dengar istilah gaji tujuh koma? Maksudnya bukan gaji sebesar Rp 7 juta, tetapi, tanggal 7 sudah "koma". Tentu, hal ini bukan karena gaji orang tersebut di bawah upah minimum, tetapi karena gaya hidup besar pasak daripada tiang. Dasar dari koma yang Anda alami ini sebenarnya adalah pengelolaan keuangan yang salah. Robert Pagliarini, MSFS, CFP, penulis The Six-Day Financial Makeover dan presiden Pacifica Wealth Advisors, Inc., menawarkan sebuah sistem untuk mengontrol keuangan Anda:
Buat laporan pengeluaran “Satu-satunya cara untuk mengawasi keuangan adalah dengan memeriksa, kemana perginya uang Anda," ujar Pagliarini. Catat apa saja pengeluaran Anda selama seminggu. Kebanyakan orang, menurutnya, tidak akan kaget melihat pengeluaran yang besar seperti sewa rumah, bensin, atau asuransi. Justru orang lebih syok ketika melihat banyaknya pengeluaran kecil-kecilan seperti nonton film, ngopi bareng teman, atau memborong DVD. Setelah diakumulasi, jumlahnya jadi banyak juga!
Terapkan manajemen amplop Sebagian orang menjalani metode yang kerap dianggap kuno ini. Tiap minggu, ambil sejumlah uang dari ATM atau bank (sesuai dana Anda, atau kurang dari itu), lalu bagi-bagi sesuai kebutuhan. Belanjakan uang hanya dari dana tersebut selama seminggu. Anda pasti tak menyangka berapa banyak yang bisa Anda hemat dengan cara ini.
Tunda pengeluaran Ada beberapa jenis pengeluaran yang dapat ditunda sementara. Misalnya, menunda liburan atau tukar tambah mobil baru. Dengan menunda pengeluaran seperti ini, Anda akan mendapat tambahan uang untuk keperluan yang lebih mendesak.
Batalkan Batalkan pengeluaran yang tidak Anda manfaatkan. Misalnya, Anda mendaftar jadi anggota pusat kebugaran, tetapi tak pernah menggunakan keanggotaan Anda. Sudahlah, bersikap realistis saja. Jika olahraga memang belum jadi prioritas Anda, lebih baik memanfaatkan uang membership untuk keperluan lain. Hal yang sama bisa Anda terapkan untuk biaya ekstra saluran tambahan dari TV berbayar yang tak pernah Anda tonton.
Kurangi “Setiap pengeluaran yang Anda batalkan adalah tabungan ekstra dalam dompet Anda," ujar Pagliarini. Misalnya Anda punya kebiasaan makan bersama keluarga besar pada Minggu siang. Anda bisa mengurangi tradisi ini dengan makan bersama hanya dua minggu sekali. Cara lain tetap makan bersama tiap minggu, namun dengan memilih restoran yang tidak begitu mahal.
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:11 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Mon May 24, 2010 7:01 pm | |
| BILA KESULITAN KEUANGAN Senin, 24 Mei 2010 | 08:56 WIB KOMPAS.com — Kita dapat mengalami kesulitan keuangan bila kehilangan pekerjaan, sakit, bercerai, terjerat utang, gagal berbisnis, dan lainnya. Kesulitan keuangan dapat memunculkan rasa cemas, marah, panik, bahkan menyebabkan kita terpuruk karena pengelolaan uang yang buruk. Hal pertama yang harus diupayakan adalah tetap tenang. Hanya dengan tetap tenang kita dapat mengambil keputusan secara baik dan membantu anggota keluarga lain untuk dapat mengatasi situasi dengan baik. Kehilangan penghasilan memengaruhi semua. Orang dewasa mungkin sangat tertekan dan sibuk dengan kekacauan perasaannya sendiri, lupa bahwa yang terjadi juga memengaruhi anak-anak.
Apa pun yang terjadi, anak memerlukan keamanan emosional dari orang dewasa di sekitarnya. Orang dewasa mungkin berusaha menyembunyikan keadaan sebenarnya dengan maksud untuk melindungi anak-anak. Namun, anak-anak adalah pengamat yang baik. Mereka akan menangkap adanya sesuatu yang tidak beres, apalagi bila orang dewasa di sekitarnya terlihat tegang, murung, atau cepat marah. Bisa jadi mereka akan mengambil kesimpulan-kesimpulan yang salah mengenai apa yang sesungguhnya terjadi dan menyalahkan diri.
Karena itu, lebih baik menjelaskan keadaan secara terbuka kepada semua anggota keluarga. Anak memperoleh penjelasan sesuai dengan tahapan perkembangannya, dengan tujuan untuk membuatnya mengerti tanpa harus terbebani oleh kekhawatiran dan rasa salah berlebihan. Orangtua juga perlu mendengarkan suara anak: kekecewaan, kekhawatiran, dan rasa malu karena kondisi yang berubah. Mungkin kita tidak ingin membahas hal buruk yang terjadi, tetapi kadang kala itu diperlukan untuk meringankan beban semua: meringankan beban orangtua, membantu anak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sekaligus dapat digunakan untuk menguatkan kerja sama dalam keluarga.
Menetapkan prioritas Hal penting kedua adalah menetapkan prioritas. Orangtua perlu bekerja sama meninggalkan egoisme untuk menetapkan prioritas bagi keluarga, misalnya pendidikan anak dan makanan bergizi yang lebih ekonomis. Hal-hal lain tidak lagi menjadi prioritas, bahkan bila perlu dihilangkan dari daftar, misalnya anggaran untuk rokok, baju baru, atau koleksi barang sebagai hobi.
Diperlukan pengetatan pengeluaran dari anggota keluarga: ayah, ibu, hingga anak. Misalnya, mulanya naik taksi sekarang naik angkot atau membeli produk-produk rumah tangga yang lebih murah. Ini merupakan saat untuk mendidik anak bersedia berkorban dan hidup sederhana, yang tentu harus kita contohkan sendiri melalui perilaku kita. Anak yang sudah cukup besar dapat membantu orangtua untuk mengawasi pengeluaran rumah tangga, mencari diskon-diskon khusus, atau memikirkan ide-ide kreatif pengelolaan uang.
Hubungan dengan keluarga Saat terpuruk, kita mungkin jadi enggan bergaul, lalu menjauh dari yang lain karena malu. Kita justru tetap perlu menjalin hubungan baik dengan keluarga dan teman dekat karena mereka dapat memberikan dukungan sosial saat kita mengalami kesulitan. Kita dapat menceritakan kesulitan yang sedang dihadapi dan meminta mereka memberikan dukungan emosional. Bila situasi sedemikian buruknya, mungkin kita harus meminta bantuan dari mereka, misalnya meminjam rumah sementara waktu ketika kita tidak mampu membayar kontrak rumah atau menitipkan anak untuk berangkat sekolah bersama-sama guna menghemat uang transpor.
Mempertahankan perilaku positif Saat tertekan, sangat mungkin kita terjebak dalam perilaku yang malah merugikan diri sendiri, seperti merokok, makan, mengonsumsi obat berlebihan, membeli barang yang tidak perlu, dan berutang. Sangat penting untuk berhenti berutang, termasuk melalui kartu kredit, dan fokus hanya pada pengeluaran yang paling prioritas.
Bila perlu, kita meminta teman yang kita percaya untuk membantu mengawasi perilaku kita. Berutang dan tidak mampu membayar akan menurunkan penghargaan kita kepada diri sendiri. Rasa malu dapat dihindari bila kita bertindak positif dan bertanggung jawab. Bila kita tidak menunjukkan perilaku positif, bagaimana teman-teman dekat kita akan percaya dan bersedia memberikan dukungan? Situasi sulit kadang membuat kita jadi lebih kreatif. Kita dapat membersihkan rumah, mengecek barang yang dapat dijual. Ada pula yang mungkin dapat dibersihkan, diperbarui, dan digunakan lagi. Bila memungkinkan, daripada naik mobil, anak yang lebih dewasa dapat diajak naik sepeda, menjadi trendsetter "bersepeda ke sekolah". Semua anggota keluarga juga dapat membawa bekal makan siangnya dari rumah.
Contoh bagi anak Penting untuk terus kita ingat bahwa kita menjadi contoh bagi anak-anak mengenai bagaimana mereka dapat menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup. Bila kita tetap tenang dan mampu berpikir positif, anak akan belajar itu pula dari kita. Perlu ditekankan bahwa situasi sulit hanya sementara saja dialami dan orangtua sedang melakukan langkah-langkah terbaik untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Anak-anak perlu dibantu melihat sisi-sisi positif dari pengalaman hidup, dengan fokus pada kekuatan diri dan keluarga, serta kasih sayang dan kerja sama yang kuat dari anggota masing-masing. Pengalaman ini juga dapat membantu anak untuk mengembangkan nilai-nilai hidup yang lebih mendasar daripada sekadar mengutamakan penampilan dan materi. Pada akhirnya, kesulitan hidup membantu kita mengerti dan lebih menghormati apa yang terjadi kepada orang lain, yang mungkin berada dalam situasi lebih terpuruk daripada kita.
KRISTI POERWANDARI, PSIKOLOG |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Mon May 31, 2010 4:26 pm | |
| MEMBANDINGKAN GAJI CUMA BIKIN "Bete" Senin, 31 Mei 2010 | 13:42 WIB KOMPAS.com — Tak bisa dimungkiri, terkadang timbul penasaran ingin mengetahui berapa gaji yang diterima teman atau kolega di kantor. Sayangnya, sering kali ketika rasa penasaran terjawab, yang timbul adalah panas hati, apalagi kalau ternyata gaji si A yang performanya di bawah kita ternyata bergaji lebih besar. Dalam sebuah analisa terhadap survei yang dilakukan terhadap 19.000 orang di 24 negara Eropa diketahui, tiga perempat responden mengatakan bahwa membandingkan gaji dengan orang lain adalah yang penting. Namun, mereka juga mengakui bahwa hal itu sering mendatangkan kekecewaan.
Para peneliti dari Paris School of Economic yang melakukan analisa tersebut menyebutkan, ketika seseorang mendapati bahwa dirinya berada di level gaji lebih rendah, pada umumnya akan merasa depresi dan rendah diri. Respons tersebut muncul baik pada responden pria maupun wanita. Yang menarik, rasa iri yang timbul ternyata lebih besar jika membandingkan dengan teman daripada ketika dengan teman sekerja. Hal ini barangkali terjadi karena ketika mengetahui gaji kolega kita lebih tinggi, muncul harapan cepat atau lambat gaji kita juga akan merangkak naik.
Kebiasaan membandingkan gaji ini rupanya lebih sering dilakukan para pekerja di negara miskin dibandingkan dengan pekerja dari negara maju. Mereka yang pendapatannya rendah juga suka membandingkan gajinya dengan orang yang lebih makmur. "Tadinya kami mengira orang kaya akan lebih sering membandingkan gaji, tetapi ternyata justru mereka yang pendapatannya lebih rendah," kata Profesor Andrew Clark, ketua peneliti. "Terlalu sering membandingkan gaji sebenarnya merugikan diri sendiri karena kita akan merasa bahwa dunia ini tidak adil," katanya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Mon May 31, 2010 4:27 pm | |
| RENCANAKAN KONDISI KEUANGAN MASA DEPAN Kamis, 29 April 2010 | 18:34 WIB oleh Harris Turino Sudah menjadi satu fenomena yang umum bahwa banyak di antara rekan-rekan kita, ataupun orang-orang di sekitar kita yang sering mengeluh bahwa kondisi keuangannya morat-marit. Jumlah utangnya menggunung dan melebihi pendapatannya, bahkan melebihi jumlah asset yang dimilikinya. Dalam kondisi seperti ini yang biasanya menjadi kambing hitam adalah kecilnya jumlah pendapatan yang dimilikinya.
Padahal akar permasalahan yang sebenarnya bukan berada pada sisi pendapatan saja, tetapi kegagalan mengelola keuangan. Banyak di antara kita yang tidak memiliki perencanaan keuangan, bahkan tidak pernah berpikir untuk merencanakan kondisi keuangan, apalagi di masa mendatang. Perencanaan keuangan sebenarnya merupakan aktivitas mutlak yang harus dilakukan oleh setiap orang dan inilah yang akan membedakan antara kelompok orang-orang yang selalu terjebak oleh kesulitan likuiditas dan kelompok orang-orang yang bisa menikmati hidupnya. Tulisan ini akan mencoba untuk membahas secara sederhana, bagaimana seseorang harus mulai merencanakan keuangannya.
Mendiagnosa kondisi keuangan Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam penyusunan rencana keuangan adalah mendiagnosa kondisi keuangan pribadi kita saat ini. Yang perlu diperhatikan dalam mendiagnosa kondisi keuangan adalah besarnya total pendapatan, total pengeluaran, besarnya aset dan kewajiban hutang yang kita miliki.
Secara umum jelas bahwa jumlah total pendapatan tidak boleh melebihi total pengeluaran. Bagi orang yang memiliki pendapatan tetap tiap bulan maka dengan mudah bisa diperkirakan besarnya total pendapatan dalam satu tahun, termasuk pendapatan non rutin seperti tunjangan hari raya dan bonus. Maka pengeluarannya harus diatur tidak melebihi total pendapatan rutin yang dimilikinya.
Pendapatan non rutin tidak boleh dialokasikan untuk menanggung total pengeluaran, tetapi harus dialokasikan untuk tujuan investasi atau memperkuat dana darurat. Sedangkan bagi orang yang memiliki jenis pendapatan variabel (tidak tetap) maka total pengeluarannya tidak boleh melebihi 80% rata-rata pendapatannya. Pos berikutnya yang perlu dicermati adalah asset. Kita sering sekali keliru mendefinisikan tentang aset dalam kaitannya dengan perencanaan keuangan.
Aset sebenarnya adalah segala sesuatu yang memberikan hasil atau mendukung aktivitas produktif kita. Contoh yang sederhana adalah rumah yang kita tinggali dan kendaraan yang kita pakai bisa digolongkan ke dalam aset karena mendukung aktivitas produktif kita, sedangkan villa, stereo set, gitar akustik, tongkat golf dan kendaraan kedua yang jarang kita pakai, jelas bukan merupakan kategori aset. Tabungan dan investasi adalah salah satu ujud nyata aset yang memberikan imbal hasil.
Utang adalah hal yang jamak dilakukan dan sebenarnya bukan hal yang perlu ditakuti. Utang pada hakikatnya adalah menambah daya beli kita dengan menarik pendapatan kita di masa mendatang ke masa kini. Yang perlu dicermati dalam hal utang adalah jenis utang dan besarnya kewajiban cicilan yang harus kita tanggung. Kredit rumah dan kendaraan produktif jelas merupakan jenis utang yang wajar dan bisa ditoleransi, tetapi utang kartu kredit adalah jenis hutang yang mutlak harus dihindari. Tingkat bunga utang kartu kredit rata-rata mencapai 35 – 48 persen per tahun dan ini jelas membebani likuditas keuangan kita.
Mengingat besarnya tingkat bunga kartu kredit, maka penggunaan kartu kredit harus diwaspadai sebatas demi kepraktisan dan kenyamanan saja dan bukan untuk meningkatkan daya beli kita dengan cara berutang. Dalam hal mengelola utang, besarnya total kewajiban pembayaran cicilan utang kita tidak boleh melebihi 30 persen dari total pendapatan kita. Bila kita sudah terjebak pada kondisi kewajiban membayar hutang yang melebihi ambang batas tersebut, maka retrukturisasi utang mutlak harus dilakukan dengan memprioritaskan pada utang-utang yang memiliki bunga tinggi, seperti utang kartu kredit, kredit tanpa agunan dan sejenisnya.
Memiliki Dana Darurat Langkah kedua dalam penyusunan rencana keuangan adalah memeriksa ketersediaan dana darurat yang kita miliki. Dana darurat adalah dana yang sewaktu-waktu harus tersedia bila muncul pengeluaran yang tidak terduga. Banyak orang tidak memikirkan ketersediaan dana darurat dalam perencanaan keuangan mereka, sehingga ketika muncul pengeluaran tidak terduga maka yang sering dilakukan adalah menambah kemampuan daya beli dengan menciptakan hutang, dan biasanya jenis utangnya adalah utang dengan tingkat bunga tinggi seperti hutang kartu kredit dan kredit/pinjaman tanpa agunan.
Padahal jelas bahwa utang sebenarnya sama sekali tidak boleh dijadikan andalan untuk menutup pengeluaran tidak terduga ini. Di sinilah pentingnya ketersediaan dana darurat, sehingga kita tidak terjebak lilitan utang berbunga tinggi. Besarnya dana darurat yang harus dimiliki dalam perencanaan keuangan bervariasi, mulai dari 5 sampai 20 kali total pengeluaran bulanan kita, tergantung dari beban yang kita tanggung. Bila kita masih single maka cukup memiliki dana darurat 5 bulan total pengeluaran, sedangkan semakin banyak anggota keluarga kita, maka semakin besar dana darurat yang harus kita siapkan.
Patokan yang sederhana adalah tiap anggota keluarga yang menjadi tanggunan kita harus memiliki dana darurat 5 bulan total pengeluaran. Sehingga bila kita sudah menikah dan memiliki 2 anak, maka total besarnya dana darurat yang kita miliki adalah 20 kali total pengeluaran bulanan kita. Dana darurat ini bukan termasuk kategori investasi, tetapi tetap dana darurat ini harus diinvestasikan agar berkembang.
Pilihan jenis investasi untuk dana darurat adalah investasi yang sifatnya likuid dan memiliki tingkat risiko investasi yang relatif kecil. Investasi pada dana darurat bukan untuk tujuan pertumbuhan tetapi lebih pada ketersediaan sewaktu-waktu dan tidak lekang oleh inflasi. Harus disadari bahwa besarnya dana darurat ini harus meningkat sejalan dengan meningkatnya taraf hidup kita.
Membuat Daftar Pengeluaran Langkah ketiga dalam penyusunan rencana keuangan adalah membuat daftar pengeluaran. Pada tahap ini yang mutlak dilakukan adalah memeriksa jenis pengeluaran yang selama ini kita jalani. Secara garis besar jenis pengeluaran itu bisa dibagi menjadi empat bagian, yaitu membayar kewajiban hutang, pengeluaran rutin seperti biaya rumah tangga, listrik, telepon, dan lain-lain, investasi dan pengeluaran pribadi.
Seperti sudah dijelaskan pada langkah pertama di atas, besarnya kewajiban membayar utang (cicilan) tidak boleh melebihi 30 persen dari total pendapatan kita. Dan ini harus ditempatkan pada prioritas pertama dari sisi pengeluaran. Menunda kewajiban pembayaran utang hanya akan menimbulkan peluang terciptanya utang baru di masa depan yang memiliki tingkat bunga lebih tinggi. Prioritas kedua dalam pengeluaran adalah mengelola pengeluaran rutin.
Harus dibedakan secara jelas antara pengeluaran rutin dan pengeluaran pribadi. Pengeluaran rutin adalah jenis pengeluaran yang mutlak harus dilakukan untuk mendukung aktivitas produktif kita, tidak bisa dihemat tanpa menurunkan kualitas hidup dan tidak bisa dihindari, sedangkan pengeluaran pribadi adalah jenis pengeluaran yang harus dikorbankan bila terjadi penurunan pendapatan. Besarnya pengeluaran rutin harus dijaga pada kisaran 50 persen dari total pendapatan kita. Bila pengeluaran rutin sudah melebihi ambang batas 60 persen dari total pendapatan kita, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk berinvestasi.
Akibatnya kita akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup di masa yang akan datang. Jadi bila pengeluaran rutin sudah mendekati ambang batas, kita harus bekerja lebih giat lagi agar total pendapatan kita meningkat. Investasi juga harus menjadi prioritas dalam alokasi “pengeluaran” kita. Investasi ini berguna untuk meningkatkan kualitas hidup kita di masa yang akan datang. Investasi akan menambah aset yang kita miliki dan menjadi sumber pendapatan pasif.
Budaya investasi harus mulai dilakukan sejak dini, seberapa kecilpun pendapatan kita. Besarnya alokasi “pengeluaran” untuk investasi minimal adalah 10 persen dari total pendapatan kita. Agar kondisi ini tercapai, maka alokasi investasi bukan dari sisa pendapatan kita setelah dikurangi dengan pengeluaran, tetapi memang sudah dialokasikan begitu kita menerima pendapatan.
Perlu dipahami bahwa investasi tidak sama dengan menabung, karena menabung hanya memberikan tingkat pertumbuhan asset yang relatif sangat kecil. Semakin muda usia kita semakin besar bobot (persentasi) investasi kita di instrumen-instrumen investasi yang mampu memberikan tingkat pengembalian yang tinggi untuk mendukung masa depan keuangan kita.
Harus disadari bahwa investasi yang memberikan tingkat imbal hasil tinggi selalu memiliki tingkat risiko yang tinggi dan tingkat resiko tersebut harus tetap sesuai dengan karakteristik toleransi risiko yang kita miliki. Semakin mapan kondisi ekonomi kita, maka alokasi aset dalam bentuk investasi harus semakin besar, sampai pada gilirannya kita bisa mencapai kebebasan finansial bila hasil yang kita terima dari kerja asset investasi kita sudah melebihi atau paling tidak mendekati hasil kerja produktif kita.
Pengeluaran pribadi adalah satu-satunya jenis pengeluaran yang boleh dan harus dikorbankan ketika terjadi kenaikan persentasi pengeluaran di ketiga pos pengeluaran yang lainnya. Penundaan dan pengurangan pada pos pengeluaran pribadi tidak akan mengurangi kualitas hidup kita dan tidak membahayakan kondisi keuangan kita di masa yang akan datang.
Hal ini jelas berbeda apabila kita mengurangi alokasi pengeluaran kita pada ketiga pos prioritas pengeluaran yang pertama. Salah satu cara untuk mengendalikan pengeluaran pribadi adalah dengan membuka akun khusus di bank yang digunakan untuk mendukung pengeluaran pribadi ini dan akun ini hanya berisi sisa dari pendapatan kita bulan sebelumnya setelah dikurangi dengan total pengeluaran kita di ketiga pos pengeluaran prioritas yang tidak boleh diganggu gugat. Akun khusus inilah yang digunakan mendanai pengeluaran pribadi agar tidak menggerogoti ketiga pos pengeluaran prioritas. Dengan adanya akun khusus ini maka kita juga tidak perlu repot-repot untuk menghitung besarnya alokasi pengeluaran pribadi yang boleh dilakukan.
Setelah kita membenahi kondisi keuangan kita maka kita harus memasuki langkah keempat, yaitu merencanakan tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang kita. Dalam menentukan tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang harus jelas tergambar tujuan keuangan yang ingin dicapai dan kurun waktu untuk mencapainya. Target tujuan tentu saja harus realistis dan disesuaikan dengan kondisi kita. Target jangka panjang kemudian dipecah-pecah menjadi target-target jangka pendek dan strategi mencapai tujuan tersebut.
Salah satu faktor yang paling menentukan keberhasilan pencapaian tujuan keuangan adalah komitmen dan ketertiban kita mematuhi strategi yang sudah ditentukan. Perencana keuangan profesional dari dunia perbankan bisa dilibatkan untuk menata tujuan keuangan kita. Semoga tulisan ini memberikan inspirasi bagi kita untuk menata ulang dan memperbaiki kondisi keuangan pribadi kita. Selamat berinvestasi.
Harris Turino Faculty Member Prasetiya Mulya Business School, Pelaku Bisnis dan Pengamat Pasar Modal serta Kandidat Doktor Manajemen Strategik Universitas Indonesia
Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:11 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12118 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga Thu Jun 03, 2010 10:10 am | |
| RENCANAKAN SEJAHTERA DI HARI TUA Monday, 31 May 2010 Pada edisi minggu lalu saya sudah mengulas tentang pentingnya perencanaan keuangan sejak dini untuk kesejahteraan di hari tua. Empat hal yang berkaitan dengan perencanaan masa pensiun tersebut sudah saya sampaikan kepada Anda, yakni (1) Identifikasi tujuan di hari tua; (2) Pilihan kualitas gaya hidup di hari tua; (3) Mengukur tingkat penghasilan saat ini; (4) Memperhatikan laju inflasi. Seperti yang saya janjikan, pada edisi kali ini memfokuskan pembahasan tentang perkiraan sumber dana di hari tua serta kiat untuk mendanai kekurangan dana dengan mengidentifikasi berbagai sumber dana yang ada.Walaupun tampaknya sederhana, ada langkah-langkah sistematis yang harus Anda tempuh untuk menjamin hari tua yang bahagia.
Siapkan Sumber Dana Untuk memudahkan pemahaman Anda tentang metodologi perhitungan penghasilan di hari tua,saya akan menyajikan ilustrasi keluarga Pak Sasongko (dikutip dari Buku Modul Perencanaan Hari Tua Program Certified Financial Planner). Pak Sasongko (berusia 30-an) memiliki dua orang anak yang masih remaja.Suami dan istri dalam keluarga ini cukup berhasil dalam karier masing-masing dan mereka menjalankan pola hidup yang sederhana. Penghasilan mereka berdua kira-kira Rp10 juta per bulan sebelum dipotong pajak.
Mereka sepakat untuk berhenti bekerja pada usia 60 tahun (30 tahun lagi).Mereka ingin memiliki standar hidup yang sederhana, nyaman, namun ada kepastian untuk membiayai pengeluaran mereka di saat pensiun. Selanjutnya Pak Sasongko perlu membuat perkiraan tentang kebutuhan di hari tua, dan langkah awalnya ialah memperkirakan pengeluaran rumah tangga mereka ketika memasuki masa pensiun. Berdasarkan catatan neraca penghasilan dan pengeluaran rumah tangga bulanan, pengeluaran rumah tangga mereka sebesar Rp7 juta per bulan.Pada saat memasuki masa pensiun, kewajiban mereka untuk membayar kredit pemilikan rumah (KPR) sudah selesai dan kedua anak tercinta pun tidak lagi tinggal bersama mereka.
Karena beberapa pos pengeluaran berkurang, Pak Sasongko memperkirakan bahwa mereka hanya membutuhkan 80% dari pengeluaran keuangan saat ini untuk bisa memiliki standar hidup yang memadai.Jadi,pada masa pensiun nantinya, Pak Sasongko tahu bahwa kebutuhan hidup mereka sebesar Rp5,6 juta per bulan atau Rp67,2 juta per tahun. Apa langkah selanjutnya? Mereka harus mencari sumber dana untuk kelangsungan hidup di hari tua ketika mereka sudah tidak berpenghasilan lagi. Saat ini mereka sudah mempunyai dua sumber penghasilan untuk peruntukan tersebut, yakni produk dari Jamsostek dan program asuransi jiwa tabungan yang sudah mereka miliki sejak beberapa tahun yang lalu.
Secara total manfaat premi dari kedua sumber ini nantinya bisa memberikan penghasilan sebesar Rp50 juta per tahun. Beruntung sekali, mereka sudah memiliki produk asuransi jiwa tabungan sehingga ada kepastian sumber penghasilan di hari tua nantinya. Berdasarkan perkiraan besaran kebutuhan keluarga Pak Sasongko di masa tua (Rp67,2 juta per tahun), berarti ada kekurangan dana sebesar Rp17,2 juta per tahun untuk bisa mencapai standar kehidupan yang mereka inginkan.Selain itu, akibat laju inflasi, kekurangan tersebut akan menjadi lebih besar. Jika pengeluaran mereka terkena dampak inflasi sebesar 7% per tahun, misalnya, berarti total kekurangan dana akan menggelembung menjadi Rp130.931.560,- dalam waktu 30 tahun (besaran dihitung dengan menggunakan Tabel Nilai yang Akan Datang).
Itu sebabnya, Pak Sasongko perlu menghitung besarnya sumber dana di hari tua agar mereka bisa mendanai proyeksi kekurangan tersebut.Untuk mengetahui berapa besar uang yang perlu mereka kumpulkan, terlebih dahulu mereka harus memperkirakan tingkat hasil investasi yang bisa mereka peroleh pada masa pensiun nantinya.Angka ini menunjukkan berapa besarnya dana yang mereka butuhkan pada masa pensiun agar mereka bisa memenuhi kekurangan jumlah dana yang sudah diprediksi sebelumnya. Bila hasil investasi sebesar 8%per tahun, misalnya,berarti keluarga Pak Sasongko membutuhkan dana sebesar Rp1.636.644.500,- ketika mereka pensiun.
Angka ini diperoleh dari hasil pembagian antara besarnya kekurangan dana (Rp130.931.560,-) dengan tingkat penghasilan investasi (8%). Selama modal pendanaan mereka (Rp1.636.644.500,-) tidak disentuh, akumulasi jumlah ini akan memberikan penghasilan tahunan seperti yang mereka butuhkan (Rp67,2 juta per tahun). Jadi,Keluarga Pak Sasongko bisa mengetahui bahwa mereka membutuhkan akumulasi dana sebesar Rp1.636.644.500,- pada masa pensiun. Dari manakah kebutuhan dana tersebut bisa diperoleh? Langkah selanjutnya, Pak Sasongko perlu mengetahui besarnya dana yang harus mereka sisihkan setiap bulan agar bisa mencapai target akumulasi dana. Misalnya, tingkat hasil investasi dana yang mereka miliki sebesar 12% per tahun dan lamanya periode investasi 30 tahun.
Berdasarkan perhitungan faktor bunga majemuk terhadap Tabel Nilai yang Akan Datang dari faktor anuitas, diperoleh kisaran faktor hasil investasi sebesar 241.333. Dengan demikian, besarnya dana yang perlu mereka sisihkan ialah Rp6.781.685 per tahun (atau Rp565.150 per bulan). Besaran ini diperoleh dari hasil pembagian antara akumulasi dana yang mereka butuhkan saat pensiun (Rp1.636.644.500) dengan besaran faktor hasil investasi (241.333). Artinya, mereka harus menyisihkan dana Rp6.781.685 per tahun dan tabungan ini harus menghasilkan bunga 12% per tahun sehingga target akumulasi dana di hari tua bisa terealisasi! Berdasarkan ilustrasi tersebut, Anda bisa memahami tahap demi tahap yang harus dilakukan dalam perencanaan keuangan hari tua.
Yang lebih penting lagi,Anda sudah melihat betapa pentingnya perencanaan keuangan untuk hari tua! Untuk mengakomodasi besarnya akumulasi dana yang Anda butuhkan nantinya,Anda dapat memperlengkapi diri dengan produk asuransi jiwa tabungan yang dirancang agar Anda bisa memperoleh jaminan penghasilan yang pasti, sepasti standar kehidupan yang Anda inginkan nantinya. Perencanaan seperti ini membutuhkan seorang agen asuransi yang ahli dan terlatih.
Dalam rangka itu, libatkan agen asuransi jiwa yang profesional untuk mendiskusikan dan merancang program perencanaan keuangan hari tua demi kesejahteraan Anda dan keluarga.(*)
EDDY KA BERUTU - Seputar Indonesia Kamis 3 Juni 2010 Praktisi Asuransi dan Ketua Departemen Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) |
|  | | | | Perencanaan Keuangan Keluarga | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |