|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Sun Sep 05, 2010 11:51 am | |
| KESULITAN MAKAN BERDAMPAK PADA PERTUMBUHAN FISIK DAN KOGNITIF ADVERTORIAL - Edisi April 2008 (Vol.7 No.9) Farmacia Masa balita adalah masa penting dalam pertumbuhan anak. Karenanya, kecukupan nutrisi memiliki peran penting, baik dalam pertumbuhan fisik atau pun kognitif. Namun, terkadang anak menjadi sulit makan. Picky eater adalah istilah yang diberikan pada anak yang susah makan, atau hanya suka makanan jenis tertentu saja. Kesulitan makan pada anak dapat menyebabkan anak akan kekurangan mikro dan makronutrien yang pada akhirnya dapat mengganggu pertumbuhan fisik dan juga kognitif. Namun, perlu diingat, perkembangan kognitif dipengaruhi banyak faktor. Untuk mengatasi anak bermasalah makan ini Konsultasi nutrisi saja tidak cukup, perlu didukung suplementasi yang tepat.
Suatu penelitian dari Chatoor et al, meneliti kelompok picky eaters, infantile anorexia dan healthy eaters terhadap skor MDI (Mental Development Index). MDI digunakan untuk menilai perkembangan kognitif anak usia antara 1-30 bulan. Skor MDI antara 85-115 secara umum menunjukkan bahwa anak berada dalam tingkat/level yang sesuai. Performa kognitif yang ditunjukkan oleh skor MDI memiliki hubungan signifikan dengan hubungan ibu dan anak saat menyusui, interaksi bermain, status sosial ekonomi dan pendidikan ibu. Faktor lain yang jelas berhubungan dengan skor MDI adalah karakteristik temperamen anak dan tingkat atensi. Latar pendidikan ibu, yang sering digunakan sebagai indikator status sosial ekonomi, dihubungkan dengan outcome kognitif. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa IQ dan latar belakang pendidikan ibu adalah prediktor signifikan untuk perkembangan kognitif anak-anaknya.
Picky eater dan infantile anorexia pada akhirnya dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan jangka panjang. Ada dua cara mengejar pertumbuhan anak yang mengalami kondisi tersebut, konseling nutrisi dan suplementasi nutrisi.
Last edited by gitahafas on Thu Jul 14, 2011 10:27 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Sun Sep 05, 2010 11:53 am | |
| SAAT SI KECIL TAK MAU MAKAN Rabu, 03/02/2010 16:00 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Anak yang susah sekali makan adalah masalah yang paling banyak dijumpai. Masalah ini tidak hanya berefek pada tubuh anak yang makin kurus tapi juga bisa membuat si ibu menjadi stres. Apa penyebab anak susah makan? Anak yang susah makan biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan anak saat masih bayi yang kemudian terus berlanjut. Untuk mengubah kebiasaan ini tidaklah mudah. Jika tidak ditangani dengan baik maka lama kelamaan anak bisa saja memiliki status gizi yang buruk.
"Saat berusia 2 tahun diharapkan anak sudah bisa makan secara lengkap tapi justru itu merupakan saat tersulit bagi beberapa orangtua. Permasalahan anak tidak mau makan biasanya karena sejak usia 6 bulan ke atas anak tidak dibiasakan mengonsumsi berbagai variasi makanan," ujar dr Fiastuti Witjaksono MS, SpG(K) dalam acara jumpa pers Sustagen 100 persen untuk Buah Hati Ibu, di gedung HSBC, Jakarta, Rabu (3/2/2010).
dr Fiastuti menjelaskan sejak usia 6 bulan, bayi sudah harus diajarkan 1 rasa selama 3 hari hingga anak mengenal rasa tersebut. Setelah itu ganti dengan rasa yang lain sehingga anak menyukai berbagai variasi rasa. Tapi sebaiknya orangtua jangan mencampurkan berbagai macam bahan makanan (rasa) yang membuat anak menjadi tidak suka karena rasanya yang aneh bagi mereka.
Kebiasaan makan anak juga akan mencontoh orangtuanya. Jika orangtua selalu memperlihatkan pada anaknya untuk mengonsumsi berbagai macam variasi makanan maka anak juga akan mengonsumsi semuanya. "Kalau sejak kecil sudah tidak dibiasakan mengonsumsi berbagai macam variasi makanan, maka jangan harap saat remaja atau dewasa nanti anak gampang dalam hal urusan makan. Anak bisa saja hanya mau makan makanan yang disukai (picky eater)," ujar dokter yang juga anggota PDGKI (persatuan Dokter Gizi Klinik Indonesia).
Kunci untuk mengatasi hal ini adalah ibu harus kreatif dalam menciptakan berbagai variasi makanan serta menciptakan suasana yang menyenangkan saat sedang makan. Tidak perlu mahal, ibu bisa membuat makanan yang menarik perhatian si kecil dengan warna atau bentuk yang lucu-lucu serta bisa sambil mengajak anak bermain atau melihat sesuatu yang disukainya.
Orangtua juga jangan hanya mengandalkan pemberian susu saja. Meskipun ada kemungkinan semua kebutuhan anak terpenuhi tapi anak jadi tidak belajar mengunyah yang nantinya dapat mempengaruhi pertumbuhan gigi serta kebutuhan seratnya yang berkurang. Untuk memastikan apakah anaknya sudah mendapatkan zat gizi yang cukup atau belum bisa dilihat dari pertambahan berat badannya yang disesuaikan dengan usia. dr Fiastuti memberikan rumus kasar dalam melihat apakah si kecil gizinya sudah cukup atau belum, yaitu BB (berat badan) anak = 10 + ((n-1) x 2) dengan n adalah usia anak.
"Angka 10 menunjukkan berat badan ideal untuk anak usia 1 tahun. Misal anaknya umur 5 tahun maka berat badannya = 10 + ((5-1) x 2) yaitu 18 kg. Tapi ini hitung-hitungan secara kasar saja, untuk lebih akurat bisa menggunakan KMS (Kartu Menuju Sehat)," ungkap dokter berusia 55 tahun. Agar anak memiliki gizi yang cukup ada 3 J yang harus dipenuhi, yaitu jumlah kalori harus sesuai dengan kebutuhan, jadwal makan tersusun dnegan baik serta jenis makanannya harus memenuhi komposisi makronutrien dan mikronutrien.
Variasi makanan yang tersedia saat ini banyak sekali dengan rasa yang enak dan sangat enak, tapi belum tentu semua gizinya tepat dan bagus untuk anak. Karenanya orangtua harus jeli dalam melihat isi kandungan dari makanan yang dikonsumsi anaknya. "Usia bayi di atas 6 bulan adalah masa kritis yang bisa mempengaruhi bagaimana pola makan anak nantinya, karena itu mengajarkan anak berbagai variasi makanan penting dilakukan sejak dini," ujar dr Fiastuti.
Last edited by gitahafas on Thu Jul 14, 2011 10:23 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Sun Sep 05, 2010 11:55 am | |
| ADA APA DENGAN LIDAH ANAK? Rabu, 9 Juni 2010 | 14:24 WIB Kompas.com - Ketika anak memasuki usia 3 tahun, banyak ibu yang mulai mendapat tantangan untuk membujuk anak-anak mereka menyukai berbagai variasi makanan sehat. Maklum saja, pada usia tersebut sampai masuk sekolah, anak-anak cenderung hanya menyukai satu jenis makanan. Normalkah ini? Dr. Lawrence Kutner, pengajar yang juga psikolog klinis di Harvard Medical School, menjelaskan, pada dasarnya anak mempelajari cara menikmati makanan dari orangtuanya. Dan hal ini diyakini Kutner telah diamini oleh berbagai penelitian. “Tapi hal lain yang juga memengaruhi adalah kondisi fisik anak yang memang berbeda dengan orang dewasa,” Kutner yang juga salah satu pendiri Harvard Medical School Center for Mental Health and Media ini memaparkan.
Perbedaan kondisi fisik yang dimaksud Kutner ada pada lidah anak-anak. Lidah anak umumnya lebih sensitf terhadap makanan yang rasa pahit, seperti sayuran. “Ini mengapa banyak anak-anak tidak bersahabat ketika diminta mengunyah sayur.” Tapi anak-anak juga sangat mengandalkan pada asumsi dan di sinilah orang tua bisa berperan, lanjut Kutner. Anak-anak akan merasa menikmati makanannya ketika melihat orangtuanya begitu menyukai makanan yang disajikan, termasuk sayuran. Trik ini lebih efektif ketimbang “menyuap” anak dengan memberikan mainan setiap kali mau mengonsumsi sayuran. Sebab rasa suka itu akan masuk kadarluarsa ketika kita berhenti memberinya hadiah.
Cara yang paling efektif adalah dengan menyajikan satu jenis makanan atau sayuran beberapa kali dalam satu minggu. Bisa 8 sampai 10 kali dalam seminggu memberikan sayuran tersebut agar semakin membuat anak-anak terbiasa dengan rasa yang diberikan. “Ini adalah cara mengenalkan rasa secara konstan hingga otaknya dapat merekam sensasi rasa yang baru dikenalkan.
Ajak juga anak-anak untuk ikut menyiapkan makanan yang akan kita sajikan. Dengan begitu menurut Kutner, anak-anak bisa belajar mengenal bahan makanan. Membuat mereka terbiasa dengan bahan-bahan yang akan dimasak bisa menimbulkan ketertarikan mereka untuk mencobanya. Sebab kita bisa mengajaknya mencium aroma menggiurkan yang dikeluarkan masakan yang kita olah bersama. Jadi jangan langsung memarahi anak ketika dia tidak menyukai makanan yang kita sajikan. Mari kenalkan anak pada makanan sehat dengan cara menyenangkan. (preventionindonesia.co.id/Siagian Priska)
Last edited by gitahafas on Thu Jul 14, 2011 9:49 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Sun Sep 05, 2010 11:56 am | |
| KEBIASAAN BURUK YANG BIKIN ANAK SUSAH MAKAN Kamis, 4 Februari 2010 | 13:09 WIB KOMPAS.com - Anak Anda perlu waktu berjam-jam untuk menghabiskan makanan? Nasi yang disiram kuah sup bikin cepat kenyang, padahal baru dua suap saja berhasil dilahap. Jangan langsung menyalahkan anak bila hal ini terjadi. Kebiasaan buruk orangtua menjadi penyebab kenapa anak tidak nafsu makan. Segera ubah cara Anda, bila Anda menyadarinya. Rina Poerwadi, praktisi Holistic Aromatherapy, menyebutkan sejumlah hal yang berdampak pada pola makan anak:
Tidak ada jam makan Tidak adanya kedisiplinan waktu makan, pagi, siang, sore, dan kudapan di sela makan utama membuat anak bisa makan kapan saja tanpa kontrol. Apa yang anak makan pun menjadi tak terarah. Ibu merasa tugasnya menyiapkan makanan di meja, dan membiarkan anak mengambil kapan saja. Dari kebiasaan ini, pola makan anak menjadi tak menentu.
Etiket kuno di meja makan Sebagian keluarga mungkin masih menerapkan budaya konvensional, yaitu melarang anak bicara saat makan. Sebenarnya, kehangatan keluarga terbangun dari meja makan. Dengan berbincang di meja makan (bukan berarti mengunyah sambil bicara), ibu menjadi tahu makanan mana yang anak suka dan tidak suka. Suasana menyenangkan juga bisa tumbuh pada waktu makan, dan dari sinilah terbangun kebersamaan karena orangtua ikut makan dengan anaknya.
Komunikasi ibu – anak Jika ibu menyuapi anak balita dengan pendekatan yang keliru, wajar jika anak menghindar saat waktu makan tiba. Misalkan, ibu menjerit saking kesalnya karena si anak tidak juga mau membuka mulutnya. Kebiasaan semacam ini membuat anak tak lagi menyenangi suasana makan, apalagi makanannya.
Perhatian ibu Pembawaan ibu yang penuh perhatian saat menyiapkan makanan atau saat memasak memberikan nuansa tersendiri. Wajar juga lho, jika ibu memamerkan masakannya kepada anak. Ini penting untuk memberikan kesan, Anda peduli pada anak. Buktinya, Anda berusaha selalu memenuhi kebutuhannya dengan menyajikan makanan kesukaannya.
Peralatan makan yang terlalu tua Peralatan makan yang bergaya orang dewasa memang memberi jarak pada anak. Tata rapi meja makan, dan siapkan perlengkapan makan berwarna-warni yang sesuai untuk anak. Tampilkan juga piring lauk semenarik mungkin, karena hal ini bisa memancing selera makan. Tak perlu membeli peralatan yang mahal, asal enak dilihat dan membuat keluarga betah makan di rumah.
Last edited by gitahafas on Thu Jul 14, 2011 9:50 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Sun Sep 05, 2010 11:59 am | |
| JANGAN PAKSA ANAK MAKAN Senin, 28/6/2010 | 09:31 WIB KOMPAS.com — Bayi dan anak sebaiknya jangan dipaksa makan karena membuat tidak nyaman. Biarkan mereka lapar dan akhirnya meminta makanan. Jangan juga memberi susu atau camilan sebagai pengganti makan. Demikian dikatakan dokter spesialis anak pengajar Fakultas Kedokteran UGM, Mei Neni Sitaresmi, pada seminar "Peran Pola Asuh Tumbuh Kembang dan Aktivasi Otak Tengah dalam Mengoptimalkan Kecerdasan Anak" di Kantor Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sleman, Kamis (24/6/2010) lalu. Menurut Neni, memaksa anak makan lebih banyak sisi kerugiannya. Lebih baik menunggu empat jam—sesuai durasi lapar bayi dan anak—sehingga rasa lapar membuat mereka meminta makanan. "Jika 20 sampai 30 menit bayi atau anak-anak tetap tak mau makan, jangan dipaksa. Selain mungkin sedang tak mau makan, durasi 20 sampai 30 menit menjadikan makanan dingin dan itu semakin tak diminati. Tunggu empat jam, lalu suapi lagi, tapi dengan makanan berbeda," kata Neni.
Camilan dan susu sebaiknya juga dihindari sebagai pengganti makanan. Camilan biasanya tak bergizi, sedangkan susu bisa membuat kegemukan. Saat menyuapi, bayi dan anak mesti diupayakan santai dan tidak sambil bermain. "Ini penting agar bayi tidak asal menelan makanan, tapi menikmati suapan per suapan," ujar Neni, pada acara yang digagas Badan Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sleman. Direktur Anak Jenius Indonesia (AJI) Arinto Agus yang juga pembicara mengatakan, salah satu paradigma dasar yang keliru adalah kesuksesan dilihat dari nilai IQ (intelligence quotient). Padahal, sisi emotional quotient (EQ) atau kecerdasan emosional sama pentingnya. EQ terwujud, antara lain, dari aspek yang berhubungan dengan kreativitas, imajinasi, sosialisasi, dan kepribadian.
Last edited by gitahafas on Thu Jul 14, 2011 9:51 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Fri Sep 10, 2010 12:14 pm | |
| 'PICKY EATER' Minggu, 4/7/2010 | 10:14 WIB KOMPAS.com - Picky eater adalah istilah yang diberikan pada anak yang susah makan, atau hanya suka makanan jenis tertentu saja. Kesulitan makan pada anak dapat menyebabkan anak akan kekurangan mikro dan makronutrien yang pada akhirnya dapat mengganggu pertumbuhan fisik, juga kognitif. Penyebabnya beragam, dari mulai meniru pola makan lingkungan terdekatnya yang juga pilih-pilih makanan, infeksi, masalah di perncernaan anak, hingga faktor psikologis. Memasuki 1-2 tahun, kemauan anak untuk mencoba jenis makanan baru yang berbeda akan menurun. Kondisi ini sering disebut dengan neophobia, atau ketakutan untuk mencoba segala sesuatu yang baru yang biasanya muncul di usia-usia awal seorang anak. Mereka ini menolak jenis makanan tertentu. Mereka hanya menyukai rasa tertentu, dan hanya menyantap sejumlah kecil makanan yang tentu tak sebanding dengan kebutuhan tubuh mereka. Umumnya, perilaku neophobic ini akan menghilang begitu anak dewasa. Pada saat itu, anak akan mulai terekspos oleh banyak hal-hal baru, sehingga sedikit demi sedikit mereka akan menjadi tidak takut lagi terhadap apa-apa yang baru yang tidak mereka kenal dan coba sebelumnya, termasuk makanan. Picky eater yang terus menerus juga bisa merupakan proses atau reaksi emosional anak terhadap orangtuanya. Seringnya anak menerima ancaman atau hukuman karena menolak makan atau pengalaman yang tidak menyenangkan saat anak mulai mengenal makanan padat, dapat membuatnya menjadi anak dengan keluhan sulit makan. Hubungan yang tidak sesuai dan tidak harmonis antara anak dan orang di sekitarnya atau antara anak dengan kondisi lingkungan ini akan menimbulkan reaksi penolakan secara psikologis berupa gangguan makan pada anak tersebut.
STRATEGI HADAPI ANAK 'PICKY EATER' Bramirus Mikail | Asep Candra | Senin, 8 Agustus 2011 | 08:01 WIB KOMPAS.com – Sebagian besar orang tua khususnya para ibu mungkin pernah mengalami saat-saat sulit dimana anak mereka tak mau makan atau hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu. Kesulitan makan pada balita atau biasa disebut picky eater merupakan hal yang lazim terjadi ketika anak mulai beralih mengonsumsi makan makanan cair ke padat. Menurut dr. Vimaladewi Lukito Sp.A, spesialis anak dari Tirtayu Healing Center, picky eater adalah kelainan murni yang umumnya terjadi pada anak. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai di bawah 6 tahun. Untuk menghadapi anak yang picky eater, hal terpenting yang harus dilakukan khususnya para orang tua adalah pendekatan dalam cara memberikan makanan kepada anak. "Itu yang harus disadari oleh orang tua. Orang tua harus tahu kenapa anaknya picky eater dan tidak mau makan makanan padat," katanya, Sabtu, (6/8/2011), di Jakarta. Seorang ibu, kata Vimaladewi, harus mengerti bahwa setelah anak berumur di atas 1 tahun, susu bukan lagi menjadi sumber kalori utama. Sehingga anak harus beralih ke makan makanan yang padat. Menurutnya, ketika anak mulai belajar makan makanan padat, anak akan sering meludahkan atau melepehkan makanan. Pada saat seperti inilah para orang tua biasanya akan berpikir bahwa anak tidak suka. "Padahal reaksi seperti itu bukan berarti anak tidak suka. Anak sedang mulai belajar persepsi, merasakan jenis konsistensi makan yang baru," ujarnya.
Dalam menghadapi anak picky eater yang diperlukan adalah kesabaran dari orang tua dalam memberikan anak makan. Jangan menargetkan atau memaksa anak Anda untuk menghabiskan makanan jika memang anak sudah tidak lagi mau makan. Orang tua sebaiknya melakukan secara bertahap, dan lakukan pengenalan satu rasa makanan yang sama pada anak. Jangan pernah membuat anak bingung dalam mengenali apa yang dia makan. Misalnya, ketika sarapan pagi diberi rasa buah-buahan, siang rasa daging, setelah itu sayur-sayuran. “Kenali satu rasa dulu. Lakukan selama seminggu berturut-turut seperti itu. Setelah anak sudah bisa menerima rasa itu, baru cobalah kenalkan dengan rasa yang lain,” jelasnya. Vimaladewi mengatakan, kalau picky eater tidak segera ditangani sejak awal, maka anak akan menjadi sulit makan ke depannya. Sehingga bukan tidak mungkin anak akan mengalami kekurangan gizi. Banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami picky eater, misalnya saja: bentuk makanan tidak menarik, monoton (tidak ada variasi), suasana di rumah tidak kondusif dan kurang perhatian orang tua (sibuk). Faktor psikologis memiliki peran penting pada anak picky eater. Oleh karena itu, butuh team work dalam seluruh keluarga mulai dari kakek-nenek, orangtua dan pengasuh, dengan satu tujuan supaya anak tidak picky eater. "Ketika kita mengajarkannya sambil main dan dalam keadaan yang senang, dia menganggap itu sebagai pola yang menyenangkan. Atau anak melihat orang tuanya sendiri ikut makan, itu akan membuat anak lebih gampang untuk makan-makanan padat," tandasnya. Vimaladewi mengingatkan, apa yang dimakan anak harus sama dengan apa yang di makan oleh keluarga. Misalnya, kalau anak disuruh makan sayur-sayuran, tapi orang tuanya tidak pernah mencontohkan makan sayuran, makan anak tidak akan pernah mau makan sayuran, begitu pula sebaliknya.
Last edited by gitahafas on Tue Aug 09, 2011 9:47 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Fri Sep 10, 2010 12:15 pm | |
| MENYIASATI ANAK 'PICKY EATER' Senin, 24/5/2010 | 17:56 WIB KOMPAS.com — Anak Anda sulit makan? Jangan dianggap sepele. Jika berat tubuhnya tidak bertambah sesuai batas rata-rata anak seusianya, orangtua tak perlu terlalu khawatir, namun tetap harus diperkenalkan dengan gizi seimbang. Namun, bila nafsu makan anak menurun, harus dicari tahu penyebabnya. Apakah karena ada masalah pada pencernaan, atau hal lainnya. Problema makan pada anak bisa berakibat buruk pada tumbuh kembangnya. Sedikitnya makanan yang masuk ke dalam perutnya bisa menjadi indikasi bahwa anak berpeluang menderita kurang gizi. Indikator status kurang gizi dicerminkan oleh berat badan atau tinggi badan di bawah standar.
Bisa disiasati Jika kebiasaan anak memilih makanan bukan karena masalah penyakit, yang paling mudah adalah dengan mengevaluasi menu yang dibuat untuk anak, jangan memasak yang itu-itu saja, variasikan menu makanan untuk anak, cari resep-resep dari buku-buku, koran, majalah, dan internet. Orangtua harus turun tangan mencoba sendiri resep-resep tersebut. Orangtua seharusnya menyediakan makanan yang mengandung energi, karbohidrat, lemak, dan protein, serta vitamin. Tanpa vitamin, maknaan yang diasup tidak akan optimal diubah menjadi energi. Seluruh faktor ini diperlukan untuk pembentukan otot, tulang, sel-sel organ, serta membantu penghantaran informasi di otak. Kalsium dan protein merupakan zat gizi kunci untuk pertumbuhan fisik anak karena sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tulang dan otot. Protein juga dibutuhkan untuk perkembangan fungsi otak sehingga dapat meningkatkan fungsi kognitif anak.
Picky eater sendiri sebetulnya bisa disiasati. Kuncinya ada pada orangtua dan pengasuh anak. Misalnya, sejak anak berusia 6 bulan, orangtua atau pengasuh anak mulai memberikan makanan padat. Nah, masa perkenalan ini harus terus-menerus dicoba dan dilakukan. Jangan misalnya baru sekali anak menolak makan sayur, terus tidak dicoba lagi. Bisa jadi, pada upaya yang kelima, baru anak mau makan sayur. Orangtua juga harus kreatif mencari pengganti dari jenis makanan yang tidak disukai anak. Pola makan seimbang mengharuskan adanya karbohidrat, protein, lemak, ditambah sayuran dan buah. Kalau anak tidak mau makan nasi, bisa diganti dengan roti, kentang, atau pasta. Itu untuk karbohidratnya.
Atau kalau anak enggak suka ikan, bisa diganti daging dan sebagainya. Siasati juga penyajian makanan untuk si kecil. Misalnya, membuat sendiri bakso, kemudian di dalamnya dimasukkan wortel atau brokoli yang sudah dihancurkan dengan blender.Perhatikan pula jam makan anak, jangan memberikan susu atau selingan makanan yang manis-manis mendekati waktu makan. Buat jadwal yang teratur dari pagi menjelang tidur, dengan antara 2-3 jam. Jangan memaksa anak untuk menghabiskan makanannya. Mungkin dia sudah merasa kenyang. Jangan lupa, jadikan waktu makan sebagai hal yang menyenangkan serta selalu memberikan contoh pola makan yang baik.
Last edited by gitahafas on Thu Jul 14, 2011 9:58 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Wed Sep 15, 2010 9:53 am | |
| MENGHADAPI BALITA "Picky Eater" Rabu, 1 Desember 2010 | 09:26 WIB Kompas.com - Dhea sontak menutup mulutnya ketika Lusi (31), ibunya, menyorongkan sendok yang berisi nasi dengan sayur bayam. Namun, gadis cilik berusia 3 tahun itu dengan gembira melahap nasi dengan sosis goreng setelah sang ibu menyingkirkan sayuran dari piringnya. Menurut Lusi, putrinya itu setiap harinya hanya mau makan jika diberi lauk sosis atau telur goreng saja. "Ia langsung mogok makan kalau diberi sayur. Padahal saya sudah mengakali supaya sayurnya tidak kelihatan," kata wanita yang berprofesi sebagai dosen ini.
Pemberian makan pada anak balita memang kerap menjadi masalah bagi orangtua. Banyak anak yang menentang orangtua mereka ketika berhubungan dengan makanan dan pola makannya. Anak-anak yang kesulitan makan atau cuma meminta jenis makanan yang sama seperti Dhea tersebut disebut juga dengan picky eater. Anak-anak dalam kategori ini cukup banyak, hampir 50 persen. Kesulitan makan, menurut dr Aryono Hendarto, Sp.A(K), paling sering dialami anak pada usia 1-5 tahun. "Pada usia ini anak biasanya sangat aktif dan sedang senang mengeksplorasi sekelilingnya. Karena itu, kegiatan makan tidak disukai anak karena dianggap membosankan," papar dokter yang biasa disapa Ari ini. Sebuah survei menunjukkan, kebanyakan anak yang picky eater hanya mau makan jenis makanan yang lumat seperti bubur (27,3 persen) dan punya kesulitah mengunyah dan menelan (24,1 persen). Akan tetapi, anak picky eater pada usia 2-3 tahun, pada umumnya, hanya menyukai satu jenis makanan tertentu saja.
Meski umum dialami anak balita, dr Ari menegaskan bahwa kesulitan makan bukan sekadar tahap pertumbuhan. "Ada banyak faktor yang memengaruhi mengapa anak jadi sulit makan, misalnya karena memang si anak punya penyakit sehingga tidak berselera makan atau karena faktor psikologis," kata dokter dari Divisi Nutrisi dan Metabolik Anak FKUI/RSCM Jakarta ini. Dalam mencari penyebab anak kesulitan makan, menurut dr Ari, ada beberapa hal yang perlu dievaluasi orangtua, misalnya, apakah jumlah dan porsi makanan yang diberi sesuai dengan kebutuhan anak. "Ukuran lambung tiap anak beda-beda, jangan sampai kita memaksa anak menghabiskan porsi yang berlebihan," katanya dalam acara parenting workshop mengenai nutrisi untuk anak yang diadakan oleh Abbott Nutrition di Jakarta beberapa waktu lalu.
Orangtua juga perlu menggali karakter anak. Misalnya saja, apakah anak termasuk yang memiliki temperamen sulit atau apakah orangtua sudah menciptakan lingkungan yang sesuai. Selain itu, orangtua juga seharusnya peka pada rasa lapar dan kenyang anak. "Kalau baru satu jam minum susu, jelas dia masih kenyang jika disuruh makan," urainya. Ketika anak-anak tidak makan dengan baik, kemungkinan mereka tidak akan mendapatkan porsi nutrisi yang dibutuhkan sehingga bisa berdampak pada tumbuh kembangnya. Kendati begitu, sebaiknya orangtua tidak memberikan perlakuan yang salah kepada anak. "Memaksa anak untuk makan justru akan memperparah keadaan," imbuh dr Tjin Wiguna, Sp.KJ (K), psikiater anak.
Ia menjelaskan, jika orangtua ingin mengembangkan pola makan dengan benar, orangtua harus lebih dulu memberikan contoh bagi anaknya. "Bagaimana anak bisa suka sayur kalau orangtuanya tak pernah makan sayur atau memberi komentar buruk pada sayur," katanya. Orangtua juga diharapkan untuk menciptakan lingkungan yang nyaman, tidak terburu-buru, dan tanpa tekanan. "Anak juga berhak menentukan pilihan ingin makan apa. Sepanjang menyehatkan, penuhi saja permintaan anak," kata dr Tjin.
Pemberian suplementasi seperti susu pada anak yang susah makan, menurut dr Ari, boleh saja jika anak mengalami gangguan pertumbuhan, misalnya berat badannya kurang. "Perlu diingat bahwa suplemen itu bukan pengganti makan sehari-hari. Anak tetap perlu diajari pola makan yang baik," katanya. Untuk mengetahui kecukupan nutrisi yang diasup anak, orangtua bisa melihat dari grafik pertumbuhan berat badan anak. "Jika dalam tiga bulan berat badan balita tidak naik, berarti memang ia kekurangan nutrisi," katanya.
Last edited by gitahafas on Thu Jul 14, 2011 10:04 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Wed Sep 15, 2010 4:38 pm | |
| STRATEGI HADAPI ANAK 'PICKY EATER' Bramirus Mikail | Asep Candra | Senin, 8 Agustus 2011 | 08:01 WIB KOMPAS.com – Sebagian besar orang tua khususnya para ibu mungkin pernah mengalami saat-saat sulit dimana anak mereka tak mau makan atau hanya mau mengonsumsi jenis makanan tertentu. Kesulitan makan pada balita atau biasa disebut picky eater merupakan hal yang lazim terjadi ketika anak mulai beralih mengonsumsi makan makanan cair ke padat. Menurut dr. Vimaladewi Lukito Sp.A, spesialis anak dari Tirtayu Healing Center, picky eater adalah kelainan murni yang umumnya terjadi pada anak. Kondisi seperti ini biasanya terjadi pada anak berusia 6 bulan sampai di bawah 6 tahun. Untuk menghadapi anak yang picky eater, hal terpenting yang harus dilakukan khususnya para orang tua adalah pendekatan dalam cara memberikan makanan kepada anak. "Itu yang harus disadari oleh orang tua. Orang tua harus tahu kenapa anaknya picky eater dan tidak mau makan makanan padat," katanya, Sabtu, (6/8/2011), di Jakarta. Seorang ibu, kata Vimaladewi, harus mengerti bahwa setelah anak berumur di atas 1 tahun, susu bukan lagi menjadi sumber kalori utama. Sehingga anak harus beralih ke makan makanan yang padat. Menurutnya, ketika anak mulai belajar makan makanan padat, anak akan sering meludahkan atau melepehkan makanan. Pada saat seperti inilah para orang tua biasanya akan berpikir bahwa anak tidak suka. "Padahal reaksi seperti itu bukan berarti anak tidak suka. Anak sedang mulai belajar persepsi, merasakan jenis konsistensi makan yang baru," ujarnya.
Dalam menghadapi anak picky eater yang diperlukan adalah kesabaran dari orang tua dalam memberikan anak makan. Jangan menargetkan atau memaksa anak Anda untuk menghabiskan makanan jika memang anak sudah tidak lagi mau makan. Orang tua sebaiknya melakukan secara bertahap, dan lakukan pengenalan satu rasa makanan yang sama pada anak. Jangan pernah membuat anak bingung dalam mengenali apa yang dia makan. Misalnya, ketika sarapan pagi diberi rasa buah-buahan, siang rasa daging, setelah itu sayur-sayuran. “Kenali satu rasa dulu. Lakukan selama seminggu berturut-turut seperti itu. Setelah anak sudah bisa menerima rasa itu, baru cobalah kenalkan dengan rasa yang lain,” jelasnya. Vimaladewi mengatakan, kalau picky eater tidak segera ditangani sejak awal, maka anak akan menjadi sulit makan ke depannya. Sehingga bukan tidak mungkin anak akan mengalami kekurangan gizi. Banyak faktor yang menyebabkan anak mengalami picky eater, misalnya saja: bentuk makanan tidak menarik, monoton (tidak ada variasi), suasana di rumah tidak kondusif dan kurang perhatian orang tua (sibuk). Faktor psikologis memiliki peran penting pada anak picky eater. Oleh karena itu, butuh team work dalam seluruh keluarga mulai dari kakek-nenek, orangtua dan pengasuh, dengan satu tujuan supaya anak tidak picky eater. "Ketika kita mengajarkannya sambil main dan dalam keadaan yang senang, dia menganggap itu sebagai pola yang menyenangkan. Atau anak melihat orang tuanya sendiri ikut makan, itu akan membuat anak lebih gampang untuk makan-makanan padat," tandasnya. Vimaladewi mengingatkan, apa yang dimakan anak harus sama dengan apa yang di makan oleh keluarga. Misalnya, kalau anak disuruh makan sayur-sayuran, tapi orang tuanya tidak pernah mencontohkan makan sayuran, makan anak tidak akan pernah mau makan sayuran, begitu pula sebaliknya.
Last edited by gitahafas on Tue Aug 09, 2011 9:41 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Wed Sep 15, 2010 5:27 pm | |
| ANAK SAYA SULIT MAKAN DAN SUKA PILIH PILIH, BAGAIMANA DONG? Jumat, 08 Juli 2011 18:22 WIB REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Pertanyaan mendasar: Masihkah anda menerapkan kebiasaan makan bersama di rumah? Sungguh makan bersama memiliki manfaat besar karena itu adalah kesempatan bagi seluruh anggota keluarga untuk membangun komunikasi sehat. Tak hanya itu, menurut konsultan sistem motorik oral, Ghada Ibrahim, dari Cairo University Hospital, makan bersama juga cara baik untuk menunjukkan kasih sayang dan perhatian terhadap anak serta mencari tahu apa yang mereka suka dan tidak suka. Namun saya, di era moderen, sebagian orang tua menganggap acara makan bersama di rumah terlalu merepotkan.
Mungkin anda termasuk orang tua yang mengalami keluhan macam ini, "Anak saya mulai menangis setiap kali waktu makan," atau "Anak saya tidak pernah menyentuh daging atau ayam."? Bila itu terjadi waspadalah. Sering kali, menurut Ghada, orang tua tidak menganggap itu serius atau melihatnya sebagai cara anak mencari perhatian lebih. Padahal, imbuhnya, dalam beberapa kasus, anak bisa benar-benar memiliki pola sindrom makan menyimpang. Perilaku makan menyimpang saat bayi atau awal kanak-kanak didefinisikan sebagai kegagalan penambahan berat badan saat muda selama beberapa waktu. Kondisi itu bukan karena sakit, melainkan karena si bocah tidak mengasup nutrient dalam jumlah layak.
Perilaku makan menyimpang tadi termasuk masalah dalam hal menyedot, mengunyah, atau menelan makanan. Dalam beberapa kasus termasuk bayi prematur yang dibantu dengan tabung makanan dalam jangka waktu sangat lama, kesulitan menggerakan mulut atau lidah, anak-anak dengan masalah sensor indra (contoh anak yang tidak suka tekstur makanan tertentu), upaya mencari perhatian lebih dan anak-anak dengan perilaku menyimpang pada umumnya.
Apa sajakah gejala-gejala perilaku makan menyimpang, berikut beberapa gejalan menurut Ghada - Bayi menunjukkan kesulitan menyedot susu dari botol atau tidak efisien menahan puting susu ibu saat menyusu. - Menunjukkan kesulitan bernafas saat minum atau makan - Sulit mengunyah makanan keras (untuk anak berusia 3 tahun ke atas) - Membutuhkan waktu terlalu lama untuk makan dibanding dengan anak-anak pada usia yang sama - Tubuh jadi kaku saat makan - Menolak tekstur makanan berbeda (contoh hanya mau makanan halus atau sereal renyah) - Mengunyah dengan membuka mulut - Kerap batuk, tercekik atau tersedak saat makan - Sering meludah atau bahkan muntah - Menangis saat ibu membawakan makanan - Hanya mau makan jenis santapan yang mudah dikunyah, atau itu-itu saja.
Diagnosa perilaku makan menyimpang kerap dilakukan setelah anak diperiksa seksama dan diperiksa termasuk kondisi medis yang menyebabkan penyimpangan tadi. Hasil pemeriksaan laboratorium juga dapat dipertimbangkan meski pada umumnya hanya bersifat normal.
Perlakuan Perilaku Makan Menyimpang Lantas, bagaimana mengatasi anak dengan perilaku makan tak normal? Merawat anak dengan perilaku makan menyimpang tak hanya melibatkan satu spesialis namun kerap kali memasukkan satu tim terdiri dari pakar gastroenterologi, pakar nutrisi, pakar psikologi perilaku, terapi bicara dan sikap. Kadang diperlukan pula pekerja sosial untuk mendukung keluarga dan memberi sumber-sumber untuk anak-anak tadi.
Pertama, semua masalah kesehatan si bocah harus ditangani dulu. Dalam kasus anak menggunakan tabun makanan, mereka bisa jadi tak mengenali kapan mereka merasa lapar. Anak-anak bisa mengalami rasa takut alami bila berhadapan dengan makanan berasa baru atau bertekstur baru, itu disebut neofobia. Jadi, sangat perlu untuk menawarkan makanan dengan cara positif yang memotivasi tanpa ada menimbulkan perasaan terancam. Cara itu juga membantu mereka untuk tak pilih-pilih makanan ke depan nanti.
Sementara, untuk anak-anak dengan kasus kesulitan motoril-oral, perlakuan bisa melibatkan perubahan posisi anak ketika ia makan. Jadi biarkan anak memilih posisi paling nyaman saat makan. Dengan punggung yang tersangga, suapilah anak anda. Untuk melatih kekuatan otot mulut, ajak anak anda meniup balon atau gelembung udara dengan sabun, atau cara lain. Demi menguatkan otot lidah, coba olesi bibir anak dengan madu lalu minta ia untuk menjilatnya. Bila ingin meningkatkan kemampuan mengunyah, gunakan jenis-jenis makanan dengan tingkat kelunakan dan kekerasan berbeda. Anda juga bisa meminta bantuan pakar terapi wicara bila anak terlalu sensitif terhadap benda di mulut mereka.
Tak ketinggalan cobalah tips berikut 1. Tenanglah, bisa jadi anak anda mencari perhatian untuk mendapat perhatian ketika ia menolak makan 2. Matikan TV saat makan 3. Jangan tawarkan makanan ketika anak tidak lapar 4. Tetapkan jadwal rutin untuk makan 5. Ajak anak untuk terlibat dalam persiapan atau saat memasak makanannya 6. Biarkan anak berbagi dalam membeli bahan-bahan makanan 7. Tambahkan sesuatu yang menyenangkan saat makan 8. Dekorasi piring si kecil 9. Hormati selera makan anak anda 10. Celup saja! Jika anak anda doyan saus, celukan makanan yang anda inginkan bagi si anak untuk di makan ke dalam saus kesukaannya. 11. Jadilah contoh baik bagi si kecil dalam perilaku makan 12. Nikmati waktu makan sebagai satu keluarga 13. Kenalkan kudapan sehat di antara waktu makan 14. Terimalah penolakan makanan dari si kecil tanpa kecemasan.
Semoga si kecil anda semakin lahap menyantap makanannya.
Last edited by gitahafas on Tue Aug 09, 2011 9:42 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Wed Sep 15, 2010 6:41 pm | |
| KAPAN WAKTU TEPAT AJARI ANAK PUASA Kamis, 12 Agustus 2010, 09:53 WIB Petti Lubis, Anda Nurlaila VIVAnews - Ada tugas penting bagi orangtua dengan anak selama Ramadan. Selain menyambut bulan penuh berkah ini dan menjalankan puasa, orangtua juga berkewajiban mengajarkan anak-anak mengenai berpuasa Ramadan. Namun, banyak orangtua merasa khawatir dan tak tega melihat buah hati lemas lantaran haus dan lapar. Berdasarkan penelitian, berpuasa memberi dampak positif bagi perkembangan fisik dan mental anak. Beberapa ahli meyakini puasa meningkatkan hormon pertumbuhan anak dan meningkatkan daya tahan tubuh. Secara psikologis anak yang berpuasa memiliki pola hidup lebih disiplin, sabar, mau berbagi dan mengendalikan diri. Namun, karena si kecil memiliki kemampuan terbatas, jangan memaksakan mereka berpuasa. Sejak kapankah tepatnya mulai memperkenalkan dan mengajarkan si kecil tentang puasa? Berdasarkan laman Pediatrica Gadjah Mada, orangtua boleh memperkenalkan puasa kepada buah hati saat memasuki usia empat tahun. Latih anak untuk makan sahur bersama dan berpuasa selama beberapa jam selama beberapa hari. Semakin dewasa usia anak, berikan rentang waktu berpuasa yang lebih lama seperti setengah hari pada minggu berikutnya dan dilanjutkan berpuasa hingga berbuka. Berikut ini beberapa tips sederhana, dalam mengajarkan anak berpuasa:
1. Pengertian Tanamkan pengertian dan pemahaman mengenai puasa, mengapa berpuasa penting, keuntungan berpuasa serta pahala yang akan diperoleh.
2. Tetapkan target Setelah anak memahami arti puasa, buatlah perjanjian berapa hari si kecil akan berpuasa. Sesuaikan dengan kondisi dan usia anak.
4. Buat agar sahur menyenangkan Ajari anak makan sahur dengan lembut dan sabar. Mereka belum terbiasa terhadap pola sahur yang menyita waktu tidur dan makan dalam kondisi mengantuk. Agar anak lebih mudah makan sahur, buatlah menu-menu makan sahur favorit serta menu semenarik mungkin.
5. Sibukkan anak saat berpuasa Ciptakan kegiatan yang menarik selama bulan Ramadan, karena biasanya sekolah berlangsung lebih cepat saat Ramadan. Aktivitas bermain yang tak menguras tenaga akan membuatnya lupa bahwa ia sedang berpuasa.
3. Buat Tabel Puasa Ajak anak membuat tabel mengenai perkembangan puasa dan target mereka selama Ramadan. Beri tanda cek bila anak berhasil mencapai target.
6. Berikan hadiah Jangan lupa memberi anak hadiah setelah berhasil melewati satu hari puasa sesuai target. Pelukan dan ciuman hangat cukup memberi motivasi bagi anak untuk kembali berpuasa esok hari.
• VIVAnews
Last edited by gitahafas on Tue Aug 09, 2011 9:43 pm; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Wed Sep 15, 2010 6:46 pm | |
| AGAR ANAK TAHAN PUASA SEHARI PENUH Selasa, 24 Agustus 2010, 09:17 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Anda Nurlaila VIVAnews - Menjalankan puasa dirasakan sangat berat bagi anak-anak. Orangtua perlu memastikan anak-anak tetap sehat dan bugar selama sebulan penuh. Caranya dengan menjaga diet seimbang bagi sang buah hati. Dengan harapan anak dapat bertahan saat puasa, tak jarang orangtua memberi makan sebanyak mungkin pada anak saat berbuka dan sahur. Padahal, menurut Kepala Divsi Nutrisi dan Diet Universitas Kedokteran Profesor Fatimah Arshad, menjejali anak terlalu banyak makanan malah berakibat buruk. "Jangan biarkan anak makan terlalu banyak, Namun penting menjaga agar anak makan diet bergizi baik dan terhidrasi selama periode puasa," katanya seperti dikutip dari News Strait Times. Segelas susu hangat dengan beberapa kudapan manis seperti kurma adalah menu berbuka puasa yang baik. Kemudian, dilanjutkan dengan makan nasi atau roti dengan lauk pauk, dua porsi sayuran, buah dan penutup selang 30 menit hingga satu jam. Fatimah mengingatkan agar orangtua tidak memanjakan anak dengan makanan manis terlalu banyak. "Hindari makanan manis karena cenderung membuat haus. Pastikan anak-anak minum banyak air sehingga mereka dapat berpuasa sepanjang hari, "katanya. Untuk menu sahur, menurut Fatimah sama halnya dengan sarapan lebih pagi. Bagi anak, dianjurkan untuk memulai sahur dengan sereal diikuti susu dan makanan lain untuk melengkapi diet. Hindari makanan kaya lemak saat sahur karena anak akan cepat haus dan mengantuk. Selama berpuasa, buatkan jadwal makan rutin sebanyak tiga kali, yakni saat berbuka, sebelum tidur dan sahur. Supaya anak tetap bugar dan bisa beraktivitas meski dalam keadaan berpuasa, orangtua hendaknya memperhatikan jenis kegiatan anak-anak mereka. Di siang hari, hindari berada di terik matahari dan usahakan agar anak tidur siang. "Buat mereka sibuk dengan aktivitas sepanjang hari. Dan tidak apa-apa mereka merasa kelaparan selama satu-dua jam terakhir agar memiliki nafsu makan saat berbuka. Puasa juga bisa membentuk dan mempertahankan gaya hidup sehat."
Last edited by gitahafas on Tue Aug 09, 2011 9:43 pm; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Wed Sep 15, 2010 6:51 pm | |
| JANGAN JANJIKAN HADIAH UNTUK AJARKAN ANAK PUASA Kamis, 04/08/2011 07:02 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Jakarta, Memberikan contoh puasa yang menyenangkan adalah salah satu cara mendorong anak untuk mau berpuasa. Tapi jangan janjikan suatu hadiah untuk mengajarkan anak berpuasa. "Kunci untuk mengajak anak puasa sejak dini adalah memberikan gambaran bahwa puasa itu menyenangkan. Kalau dia tahu puasa itu menyenangkan, maka ia dengan sendirinya akan minta ikut puasa," jelas Dra. Ratna Juwita, Dipl.Psych dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia di sela-sela acara Journalist Class 'Membangun Generasi Sehat dan Berbudaya' di FX Plaza, Jakarta, Rabu (3/8/2011). Menurut Ratna, berbuka puasa dan bangun sahur adalah hal yang menyenangkan bagi anak, jadi ajaklah anak-anak untuk ikut serta. "Yang terpenting jangan dipaksa dan jangan menjanjikan hadiah untuk mengajarkan anak puasa," jelas Ratna. Ratna mengatakan menjanjikan hadiah sebagai iming-iming agar anak mau berpuasa adalah suatu hal yang salah, karena nantinya anak hanya mau berpuasa jika diberi hadiah, bukan karena keinginan mereka sendiri. "Hadiah boleh diberikan hanya sebagai reward atau pujian karena si kecil berhasil menyelesaikan puasa, tapi jangan dijanjikan. Dan hadiahnya juga berikan saja sesuatu yang kecil tapi bermanfaat," lanjut Ratna. Anak yang baru belajar puasa juga jangan dipaksakan untuk menyelesaikannya puasa layaknya orang dewasa. Ajarkan puasa sesuai dengan kemampuannya. "Misalnya, katakan padanya 'Boleh puasa tapi nanti jam 10 kita minum susu ya, nanti boleh dilanjutkan lagi puasanya'. Nantinya semakin bertambah umur si anak akan bertanya kok ibu nggak ikut makan (di siang hari) dan ia akan menirunya. Secara bertahap sesuai usianya dia akan bisa puasa sehari penuh," jelas Ratna. Hal yang terpenting agar anak mau belajar berpuasa adalah stimulasi sang anak dengan hal-hal yang menyenangkan dan jangan pernah memaksa atau menyuruhnya, biarkan anak melakukan puasa atas kemauannya sendiri.
Last edited by gitahafas on Tue Aug 09, 2011 9:40 pm; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Wed Sep 15, 2010 6:55 pm | |
| AGAR TUBUH ANAK ANAK TETAP FIT SELAMA PUASA Sabtu, 06 Agustus 2011 12:50 WIB REPUBLIKA.CO.ID, DUBAI - Puasa menyehatkan, tak terkecuali bagi anak-anak. Hanya saja, bagi anak-anak apalagi yang baru peryama kali berpuasa, harus dipastikan mereka mendapatkan asupan gizi dan istirahat yang cukup. "Orang tua harus mengadopsi diet seimbang bagi mereka, memastikan mereka mendapatkan cairan yang cukup, kualitas tidur yang baik, dan melakukan olahraga ringan," kata Dr Shoaib Shahzad Khan, Kepala Departemen Pediatri dan Neonatologi di Kanada. "Anak-anak sakit dan anak-anak yang memiliki kondisi jangka panjang medis seperti diabetes mellitus, penyakit jantung, penyakit metabolik, dan lain-lain harus menahan diri dari puasa," sarannya. Untuk tetap sehat selama Ramadhan, anak-anak harus mengkonsumsi makanan dari kelompok makanan utama: roti dan sereal, susu dan produk susu, ikan, daging dan unggas, kacang-kacangan, sayuran, dan buah-buahan. "Refined karbohidrat atau makanan cepat cerna bertahan selama tiga sampai empat jam dan lebih baik dikonsumsi saat berbuka untuk memulihkan kadar glukosa darah dengan cepat," tambah Dr Khan. Kebutuhan segera tubuh pada saat berbuka adalah asupan sumber energi yang gampang diolah dalam bentuk glukosa untuk setiap sel tubuh, khususnya otak dan sel saraf. "Kurma dan jus merupakan sumber baik dari gula dan cukup untuk membawa tingkat glukosa darah rendah hingga normal," katanya. Orang tua juga harus memastikan bahwa anak-anak mereka mendapatkan tidur yang cukup selama Ramadan. Kadang-kadang anak-anak menjadi hipoglikemik atau dehidrasi selama bulan Ramadhan. "Mereka mungkin menunjukkan kelelahan berlebihan atau mengeluh sakit kepala. Gejala ini harus dianggap serius. Diet mereka dan asupan cairan harus diperhatikan, "kata Dr Khan.
Last edited by gitahafas on Tue Aug 09, 2011 9:39 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Wed Sep 15, 2010 6:58 pm | |
| KENALKAN ANAK PENGALAMAN BARU DI BULAN SUCI Minggu, 22 Agustus 2010, 03:23 WIB Finalia Kodrati, Lutfi Dwi Puji Astuti VIVAnews - Mengenalkan pengalaman baru pada awal masa kanak-kanak di usia 4-5 tahun bisa menjadi hal yang menantang bagi orangtua. Termasuk mengajarkan puasa di bulan Ramadan. Dari pengalaman berpuasa ini seorang anak dapat belajar menyintai Tuhannya sebagaimana ia belajar mencintai orang-orang dalam rumahnya. Begitu juga dengan belajar menyenangi puasa. Anak-anak belajar berpuasa dan melakukan kegiatan baik berdasarkan contoh dari orangtua dan keluarganya. Jika kedua orangtua dan seluruh anggota keluarganya berpuasa dan melakukan hal-hal baik, sang anak tentu juga akan terdorong untuk mengikutinya. Seperti dikutip dari laman episentrum.com, ada tips mengenalkan anak pengalaman menarik di bulan ramadhan.
Pertama, ajari anak berpuasa. Jika anak belum mampu berpuasa sebulan penuh, ajarkan dia untuk berpuasa setengah hari. Dalam Islam hal ini dibolehkan. Allah SWT, menyukai sikap tadarruj (bertahap). Kalau sudah mampu, pasti anak akan berpuasa satu hari penuh.
Kedua, agar puasa menjadi lebih menyenangkan, rancang agenda kegiatan untuk anak selama bulan Ramadahan. Tapi jangan lupa untuk melibatkan anak dalam penyusunan rencana itu. Tanyailah anak-anak sebelum Anda membuat keputusan.
Ketiga, beri pemahaman pada mereka manfaat dari berpuasa, selain menjaga hawa nafsu , puasa juga bisa menyehatkan Keempat, kenali anak dengan makanan sehat untuk berbuka dan saat sahur
Kelima, ajarkan pula melakukan ibadah seperti beramal dan menjalankan salat lima waktu serta tarawih. Keenam, berikan motivasi kepada anak agar bulan Ramadan tahun depan bisa lebih baik lagi.
Ketujuh, pada minggu-minggu menjelang lebaran, ajak anak membuat kue dan mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
Semua kegiatan ini dapat terlaksana dengan baik jika dibarengi dengan niat yang tulus ikhlas dari orangtua. Tentunya segala sesuatu memerlukan proses dan tidak bisa instan atau sekali jadi. Karena itu, marilah kita sama-sama belajar agar apa yang menjadi tujuan kita dapat tercapai dengan baik. (umi)
• VIVAnews
Last edited by gitahafas on Fri Jul 15, 2011 8:39 pm; edited 2 times in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |