|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Sat Apr 17, 2010 3:33 pm | |
| PERSIAPAN MENYAMBUT SI KECIL Selasa, 5 Oktober 2010 - 09:54 wib KELAHIRAN seorang bayi di dalam kehidupan pasangan suami-istri (pasutri) tentu menjadi saat yang ditunggu-tunggu. Agar momen itu juga menyenangkan, sebaiknya lakukan persiapan secara matang, terutama dari segi psikis. Setiap pasutri tentunya sangat mengharapkan kehadiran buah hati. Idealnya, kehadiran buah hati dirancang dari jauh-jauh hari agar Anda dan pasangan siap dalam hal fisik, mental, maupun materi. Apalagi, setelah akhirnya hamil dan menjelang kelahiran, sang ibu semakin lama pasti semakin degdegan menunggu waktu kelahiran.
Anda tentu sudah rutin mendatangi dokter, selalu minum vitamin prenatal, dan menyiapkan kamar bayi. Itu saja ternyata belum cukup. Persiapan mental juga harus Anda lakukan. Perlu diingat, saat memiliki seorang bayi -entah itu persalinan pertama, kedua, atau bahkan yang kelima– akan memiliki efek mendalam pada hidup Anda dan orang-orang di sekitar Anda. “Ini merupakan perubahan besar,” kata Claire Lerner LCSW, pakar pertumbuhan anak di Zero to Three, sebuah organisasi nirlaba di Amerika Serikat yang bertujuan menyosialisasikan program pengembangan hidup yang sehat pada tahun-tahun pertama anak. “Memiliki bayi akan mengubah hidup Anda,” lanjutnya seperti dikutip laman webMD.com.
Lerner menuturkan, pemahaman perubahan hidup saat memiliki bayi sangat penting bagi orang tua (terutama anak yang pertama) untuk mengetahui hal ini sebelumnya. Jika tidak, kata dia, Anda dapat merasa jatuh ketika dihadapkan dengan perasaan tidak aman, cemburu, seperti ditinggalkan atau disalahpahami. “Mengantisipasi perasaanperasaan jelek tersebut merupakan pengalaman orang tua baru,” ujar Lerner. Sang ibu misalnya, sering lelah dan kewalahan serta dapat merasakan bahwa “tidak ada yang lebih baik” dalam mengurus anak sehingga harus melakukan segalanya sendiri. Sementara ayah mungkin merasa bahwa tidak dapat melakukan sesuatu dengan benar dan tidak menjadi bagian kehidupan si kecil yang baru lahir.
“Hal itu mungkin berlaku, terutama ketika si ibu sedang menyusui,” kata Lerner. Karena itu, dia menyarankan sang ibu menggunakan pompa payudara untuk memberikan air susu ibu (ASI) sehingga ayah dapat memberikan makan anak atau lebih baik jika ayah dan ibu duduk bersama selama menyusui, bahkan mungkin bernyanyi atau membacakan cerita bagi buah hati. Komunikasi yang intensif sebelum anak lahir, kata Lerner, sangat perlu untuk berdiskusi bagaimana cara-cara mengatasi sebuah permasalahan saat bayi lahir. “Jika Anda melihat ini sebagai kesempatan untuk menjadi dekat dan bukan merupakan kendala yang akan mendorong Anda berbeda, Anda akan dapat meminimalkan rasa kesendirian yang banyak dirasakan oleh orang tua baru,” ucapnya.
“Cobalah untuk merasakan apa yang orang tua lain mungkin merasakan juga dan kemudian mencari cara bersama-sama (pasangan) untuk mengatasi perasaan itu,” ujar Lerner. Tidak peduli berapa banyak pasangan yang menginginkan memiliki bayi dan merasa bahwa kehidupan mereka adalah dalam rangka mewujudkan hal tersebut, ternyata merupakan tantangan besar. “Hidup Anda menjadi berantakan dan sering bermimpi aneh karena kelelahan fisik bekerja rumah tangga dan memberikan perhatian kepada bayi. Sering kali stres juga karena mencoba untuk memenuhi semua kebutuhan bayi dan menjadi orang tua sempurna,” tutur Mary Margaret Gottesman PhD RN CPNP, presiden dari National Association of Pediatric Nurse Practitioners. “Bayi mengubah dasar kehidupan sehari-hari,” lanjutnya.
Namun, kerepotan mengurus bayi akan terbayar dengan kesenangannya yang berlipat ganda. Gottesman mengungkapkan, sejumlah cara untuk menghadapi hal tersebut. Pertama, belilah buku mengenai perawatan bayi dari sumber yang dapat dipercaya dan pahamilah dengan seksama. Lalu, hadirilah kelas program prenatal di klinik atau rumah sakit yang menyelenggarakannya. Hadirilah kelas yang bukan hanya soal menghadapi persalinan dan melahirkan, datangi juga kelas bagaimana merawat bayi di tahun-tahun pertamanya, menyusui, CPR bayi dan anak, keamanan rumah, dan persoalan apa pun terkait pengasuhan anak di tahun awal kehidupan. Pastikan juga bahwa Anda mengetahui bagaimana menggunakan kursi bayi di mobil Anda, kereta dorong, dan peralatan bayi lainnya.
Berkomunikasi dengan pasangan tentang problem seharihari yang Anda pikir tidak bisa diselesaikan sendiri dapat menurunkan tingkat stres. Soal menumpuknya baju kotor misalnya, segeralah ke laundry atau dry clean. Membersihkan rumah? Hubungi saja penyewa jasa pembersihan atau ajak teman dan tetangga untuk datang ke rumah dan membantu pekerjaan rumah tangga. Atau cari pengasuh anak yang dibayar per jam untuk membantu belanja kebutuhan dapur, menjaga anak saat Anda tidur siang, atau mengantar anak ikut kegiatan ekskul. Bagaimana dengan memasak? Gunakan bahan makanan beku sehingga bisa disimpan lebih lama dan Anda tidak perlu sering-sering belanja lagi, setidaknya dua minggu. Anda cukup menambahkan menu makanan keluarga dengan salad dalam kemasan atau buah segar.
Yang penting, tetap berkomitmen untuk memprioritaskan pekerjaan rumah tangga untuk setidaknya dua minggu ke depan dibanding pekerjaan kantor, bahkan lebih lama jika mungkin. Selalu belajar dan merawat bayi Anda secara bersama-sama. Juga terus mendorong pasangan untuk menjalankan peran barunya dengan perasaan tulus. Jangan lupa, luangkan waktu untuk pergi keluar bersama pasangan untuk sekadar makan, nonton film, atau melakukan sesuatu yang Anda sukai berdua. Bayi bisa dijaga oleh pengasuh kepercayaan. Berbicaralah dari hati ke hati dengan pasangan tentang apa kegiatan yang mungkin Anda berat lakukan, apa yang menyenangkan serta apa yang memuaskan tentang kehidupan baru Anda. “Permainan orang tua” ini harus sering-sering Anda lakukan. Anda tidak bisa mencurahkan kasih sayang dengan baik kepada buah hati Anda kalau Anda juga tidak merasakan kebahagiaan itu sendiri.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 9:42 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Mon Apr 19, 2010 1:44 pm | |
| 10 PERTANYAAN DI MINGGU PERTAMA KELAHIRAN BAYI Senin, 25/07/2011 08:06 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth Jakarta, Orangtua seringkali banyak dikhawatirkan oleh kondisi kesehatan bayi yang baru dilahirkan. Tidak semua pertanyaan itu bisa dijawab sendiri tapi kadang harus berkonsultasi ke dokter. Apa saja permasalahan yang muncul di minggu pertama kelahiran bayi? Pertanyaan yang paling sering diajukan orangtua pada minggu pertama kelahiran bayi seperti dikutip dari WbMD, Senin (25/7/2011).
1. Bagaimana saya bisa melindungi bayi saya dari sindrom kematian bayi mendadak (SIDS)? Cara terbaik untuk melindungi bayi dari SIDS adalah untuk selalu menempatkan dia tidur telentang. Tingkat kematian SIDS menurun secara signifikan sejak American Academy of Pediatrics meluncurkan kampanye 'Back to Sleep'. Tanyakan kepada dokter mengenai langkah-langkah lain yang dapat Anda ambil untuk mengurangi risiko tersebut.
2. Apakah bayi langsung mengenali saya, dan apa yang harus saya lakukan jika ia tidak mengenali? Banyak orangtua khawatir jika mereka tidak mendapatkan perhatian pada pandangan pertama ketika bayi mereka baru saja lahir. Cobalah bersabar hingga ikatan itu mulai terbentuk. Pada permulaannya memang tidak mudah untuk Anda atau bayi Anda dan akan memakan waktu cukup lama untuk mengenal satu sama lain.
3. Kapankah bayi saya harus menjalani pemeriksaan fisik pertama setelah meninggalkan rumah sakit? Apa yang akan terjadi saat pemeriksaan pertama? Kebanyakan dokter menjadwalkan pemeriksaan pertama pada usia 2 minggu, terutama untuk bayi pertama. Tanyakan tentang vaksin dan tes skrining awal yang akan diterima bayi Anda. Semua bayi yang baru lahir harus diperiksa dan mulai mendapat imunisasi rutin pada usia 2 bulan.
4. Bagaimanakah seharusnya merawat tali pusar bayi dan area sunat? Dokter Anda dapat memberikan petunjuk rinci untuk merawat tali pusar bayi dan area sunat. Dokter juga dapat menyaranka apa yang harus diperhatikan mengenai infeksi.
5. Seberapa lama bayi saya akan tertidur, dan bagaimana saya bisa tahu jika ia tidur terlalu banyak? Bayi yang baru lahir banyak tidur selama hari-hari awal mereka. Dokter Anda akan dapat memberitahu apa yang normal dan apakah Anda harus membangunkan bayi untuk memberi makan.
6. Seberapa sering bayi harus diberi makan, dan bagaimana saya mengatasi permasalahan menyusui? Tanyakan dokter Anda atau staf rumah sakit untuk nama-nama konsultan laktasi sekadar berjaga-jaga apabila Anda memiliki masalah menyusui. Seorang konsultan ASI yang memenuhi persyaratan perawatan bayi baru lahir akan membantu Anda dan bayi Anda untuk memulai menyusui. ASI adalah makanan yang sempurna untuk bayi yang baru lahir selama setidaknya enam bulan pertama kehidupannya. American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan pemberian ASI terus menerus setidaknya selama 12 bulan, dan setelah itu selama yang diinginkan ibu dan bayi. Manfaatnya adalah untuk melindungi bayi terhadap infeksi melalui transfer antibodi ibu yang tidak bisa dilakukan oleh susu formula.
7. Seberapa sering bayi pergi ke kamar mandi, dan bagaimana saya bisa tahu jika ada masalah? Dokter dapat memberitahu Anda apa masalah yang harus diperhatikan.
8. Kapan dan seberapa sering saya harus memandikan bayi saya? Tanyakan dokter ketika Anda harus memandikan bayi Anda untuk pertama kalinya dan tentang kebersihan dasar bayi. Jangan berlebihan, bayi baru lahir tidak memiliki kesempatan untuk menjadi sangat kotor. Mandi terlalu banyak dapat membuat iritasi kulit lembut.
9. Bagaimana saya bisa tahu apakah bayi saya mengalami ikterus (bayi kuning)? Apakah ada kondisi kesehatan lainnya yang harus diwaspadai? Banyak bayi baru lahir mengalami ikterus ringan karena hati mereka tidak sepenuhnya berkembang. Tanyakan kepada dokter Anda tentang ikterus dan kondisi kesehatan bayi baru lahir.
10. Kapan saya harus menghubungi dokter? Cari tahu apa gejala atau perilaku bayi yang Anda anggap tidak wajar lalu hubungi dokter.
KEHIDUPAN BAYI DI 6 BULAN PERTAMANYA Kamis, 11/02/2010 15:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Bayi usia 0-6 bulan mengalami banyak perubahan dalam kehidupannya dibandingkan periode pertumbuhan lainnya. Apa saja yang terjadi pada bayi baru lahir hingga usia 6 bulan pertama? Pada periode 6 bulan pertama perubahan yang terjadi seperti berat badan bayi meningkat, mengalami kemajuan dalam tingkah lakunya, kematangan proses berpikir bayi serta mulai bisa memberikan tanggapan terhadap refleks tertentu. Seperti dikutip dari The Baby Book karangan William dan Martha Sears, Kamis (11/2/2010), inilah perkembangan yang terjadi di 6 bulan pertama kehidupan si bayi, yaitu:
Bulan Pertama Pada tahap ini bayi hanya membutuhkan lengan ibu untuk menggendongnya. Ketika bermain dengan bayi yang baru lahir ototnya akan terasa seperti pegas, yaitu saat mencoba membuka genggaman tangan secara otomatis akan kembali seperti semula.
Selain itu suara berderak yang timbul disekitar lutut dan siku adalah normal, karena ikatan persendiannya seperti karet dan masih longgar. Jika bayi mudah terkejut, gendonglah ia dengan kain atau selimuti sehingga gerakan otot yang tersentak teratur kembali.
Bayi yang baru lahir lebih suka mendengar suara ibunya dibandingkan ayah. Bayi yang tidur memiliki kemampuan memblokir suara-suara yang dapat mengganggunya.
Kebanyakan gerak bayi yang baru lahir dilakukan secara refleks dan bayi bertingkah laku sebelum berpikir. Pada saat ini juga perkembangan penciuman bayi berkembang pesat, bayi bisa mengenali orang-orang disekitarnya terutama ibu melalui baunya. Senyuman bayi menandakan perasaan senang di dalam hatinya.
Bulan Kedua Bulan kedua adalah saatnya si bayi menampilkan dirinya sendiri. Bayi mulai membuka tangannya untuk menyapa, membuka mata untuk memperluas penglihatannya serta melebarkan mulutnya untuk tersenyum atau mengeluarkan suara. Bayi akan sangat tertarik dengan mimik wajah sehingga ia cenderung untuk menirunya. Karena pada usia ini bayi mulai menunjukkan minatnya pada dunia luar karena sudah dapat melihat lebih jelas dibanding sebelumnya.
Bayi berusia 2 bulan lebih mudah dimengerti, bayi akan seringkali tersenyum yang sebaiknya dibalas pula oleh senyuman ibunya serta tangisannya mulai terpola dan memberi isyarat tertentu. Si kecil juga sudah mulai menunjukakn suasana hatinya melalui suara dan sikap tubuh. Suara yang dikeluarkan adalah "uh" atau "ah" diikuti senyum yang mengembang.
Genggaman tangan yang erat mulai mengendur dan jari tangannya mulai terbuka. Bayi suka menggenggam sesuatu baik mainan atau tangan ibunya, untuk melepaskannya bisa dengan mengelus punggung tangan bayi. Gerakan tangan bayi memang belum terarah dengan baik, karenanya orangtua tetap harus waspada.
Bulan Ketiga. Lengan dan kaki bayi mulai mengendur dan menjadi rileks. Saat usia ini tangan bayi sangat terampil dan kekuatan menggenggamnya bertambah, semakin mudah dan ringan objek yang pegang akan semakin lama digenggamnya maka tak jarang rambut atau pakaian ibu kena genggaman si kecil. Selain itu bayi akan memperhatikan secara detail setiap objek yang dilihatnya.
Bayi cenderung mulai bisa mengeluarkan suara lebih lama dengan vokalisasi yang lebih kencang. Cobalah untuk membaringkan bayi pada posisi telungkup dan mengajaknya berbicara, ini berguna untuk membantunya memperkuat otot agar dapat mengangkat kepalanya. Bayi akan mengangkat kepalanya setinggi 45 derajat dan mengikuti percakapan visual empat mata, bayi mulai bisa menahan kepalanya untuk beberapa saat.
Posisi lainnya adalah menggendong bayi dalam posisi berdiri dengan menyandarkan dadanya di dada sang ibu. Sebagian besar bayi lebih suka diletakkan di lantai untuk menikmati permainan bebasnya. Selain itu bayi juga mulai mempelajari gerakan sebab-akibat karena otaknya sudah mulai berkembang.
Bulan Keempat Usia ini disebut dengan tahap interaktif, karena kemampuan bayi bersosialisasi, berbicara dan bergerak sudah lebih matang. Bayi memiliki kemampuan penglihatan binokular yaitu dapat menggunakan kedua matanya, memiliki pandangan yang jauh serta mampu menilai secara akurat jarak antra mata dan obyek yang dilihat. Kepala bayi akan mengikuti gerakan mata sehingga keduanya bergerak secara bersamaan.
Selain itu bayi juga mulai aktif memainkan tangannya dengan cara membuat kepalan dan mengisap jarinya untuk mengurangi gusi yang sakit saat tumbuh gigi. Gerakan bayi mulai meningkat yaitu bayi dapat berguling dari telungkup ke telentang atau sebaliknya dengan usaha sendiri. Pada usia 4 bulan bayi mulai merasa tidak nyaman karena sudah ada tanda-tanda tumbuh gigi seperti air liur menetes, mengisap jari atau memainkan puting ibunya.
Bayi suka sekali dengan permainan yang menyenangkan seperti cilukba, bermain dengan jari dan cermin atau kitik-kitik. Tiga posisi yang terjadi di usia 4 bulan adalah kepala dan dada yang terangkat, duduk dengan bertopang serta berdiri untuk pertama kali.
Bulan Kelima Usia 5 bulan bayi mulai bisa memegang satu benda dengan menggunakan tanganya serta dapat menjangkau barang yang jaraknya hanya sepanjang lengannya. Benda yang dipegangnya akan berpindah ke tangan yang satu atau masuk ke mulutnya. Aktivitas yang disenangi bayi 5 bulan adalah gerakan kapal terbang, yaitu bayi tengkurap sambil mengepakkan tangannya, mengayuh kaki serta menggoyangkan perutnya.
Bulan lalu bayi hanya bisa mengangkat kepala dan dada, tapi sekarang bayi sudah bisa mengangkat seluruh sikunya. Jika bayi sedang dipangku, maka ia suka menunduk dan menjulurkan lehernya untuk memegang dan bermain dengan kakinya. Dan bayi bisa duduk sendiri tanpa ditopang atau bersandar, kemampuannya ini memungkinkannya untuk duduk sendiri di kursi bayi.
Permainan yang menarik adalah dengan menggunakan guling kecil. Tengkurapkan bayi di atas guling kecil sambil memegang kakinya atau membaringkan bayi di atas guling kecil akan membantu melatih batang tubuh, kepala dan jangkauannya.
Bulan Keenam Bayi usia 6 bulan mulai belajar untuk duduk sendiri dengan cara menjaga keseimbangan tubuh pada bokongnya yang bulat sambil menjulurkan lengannya ke depan sebagai penyeimbang. Jika sudah bisa maka bayi akan menggunakan kepala dan lengannya untuk bermain-main. Bayi biasanya masih sulit untuk membetulkan posisinya jika ia jatuh, karenanya letakkan bantal atau benda yang empuk disekelilingnya dan bayi lebih suka belajar duduk saat ditinggal sendiri.
Pada usia ini bayi dapat mengangkat sedikit tubuhnya dari lantai dan mulai belajar untuk merangkak. Cobalah letakkan agak jauh mainan yang dapat menarik perhatiannya, maka bayi akan berusaha untuk menekan jari kaki dan tangan serta berusaha untuk mengambilnya dengan cara merangkak. Pada saat baru belajar bayi hanya mampu bergerak 2-3 langkah.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 25, 2011 11:31 am; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Tue Apr 20, 2010 6:31 am | |
| 5 KEBIASAAN BAYI SAAT TIDUR Jumat, 29/10/2010 15:28 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Melihat bayi tidur bisa jadi adalah pemandangan yang menenangkan, tapi tidak semua bayi bisa tidur dengan nyenyak. Beberapa bayi memiliki kebiasaan atau gangguan di dalam tidurnya. Bagi orangtua baru beberapa kebiasaan bayi saat tidur seperti mengerang, merintih atau menendang tentu bisa membingungkan. Namun perilaku ini umumnya tidak berbahaya. Dikutip dari Babycenter, Jumat (29/10/2010) ada 5 kebiasaan yang bisa dilakukan bayi saat tidur, yaitu:
1. Jeda bernapas Jika diperhatikan, bayi bisa bernapas lebih cepat untuk sementara kemudian melambat dan bisa berhenti hingga 15 detik sebelum bernapas normal kembali. Dokter biasanya menyebut dengan 'periodic breathing' dan merupakan hal yang umum terjadi pada bayi hingga berusia sekitar 6 bulan. Bayi yang prematur akan lebih sering mengalaminya. Jika tangan, kaki, dahi dan kulit sekitar mulut membiru, ada kemungkinan bayi mengalami kesulitan oksigen.
2. Mendengkur dan mendengus Jika dengkuran atau suara mendengus yang dikeluarkan bayi memiliki irama teratur, maka tidak perlu dikhawatirkan. Kondisi ini biasanya karena si kecil mengalami hidung tersumbat. Tapi jika dengkurannya ada jeda diikuti dengan napas terengah-engah kemungkinan ada semacam penyumbatan di saluran napasnya seperti dari amandel atau kelenjar gondok. Dan bisa juga bayi mendengkur karena alergi.
3. Berkeringat Beberapa bayi berkeringat lebih banyak saat ia tidur, karena ia menghabiskan waktu lebih banyak dalam tahap terdalam tidurnya. Kondisi ini yang membuat bayi lebih cenderung berkeringat di malam hari dibanding orang dewasa atau anak-anak yang lebih tua. Meskipun keringat adalah kondisi umum, tapi jika terlalu berlebihan bisa menunjukkan ada sesuatu yang salah. Misalnya terjadi infeksi, sleep apnea atau overheating yang dapat memicu sindrom kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome/SIDS) terutama jika si kecil menggunakan baju atau selimut berlapis-lapis.
4. Sering bergerak Biasanya kebiasaan sering menggoyang atau menggerakkan badan saat tidur dimulai sekitar usia 6 bulan yang kadang disertai dengan membenturkan kepala. Gerakan ini adalah salah satu perilaku untuk menenangkan dirinya sendiri. Pada umumnya kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan selama tidak membahayakan keadaan si kecil.
5. Tidur sambil menggertak gigi Sebagian besar bayi memiliki kebiasaan menggertak gigi saat tidur, kondisi ini paling sering terjadi saat bayi mendapatkan gigi pertamanya atau baru mendapatkan gigi permanennya. Kemungkinan bayi melakukan ini karena ada sensasi dari gigi baru, rasa sakit akibat tumbuh gigi atau dari infeksi telinga dan bisa juga karena masalah pernapasan.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 9:59 am; edited 7 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Tue Apr 20, 2010 9:55 am | |
| KOK BAYIKU TAHAN MELEK YA? Rabu, 26 Agustus 2009 - 14:49 wib - okezone TIDUR sangat penting bagi kehidupan. Saat tidur, tubuh beristirahat dan memperbaharui energi. Idealnya seorang bayi mungil pasti lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur. Tapi, bagaimana kalau si bayi merem sepanjang siang tapi "tahan melek" sepanjang malam? Wah, wah, bisa-bisa mengganggu ketenangan tidur Mom and Dad, kan? Nah, untuk Anda yang penasaran ingin mengetahui apa saja penyebab si kecil kuat begadang di tengah malam, pemaparan dr Susy P Wihadi, Sp.A, M.Kes dari RS Mitra Keluarga Depok dan Erfianne Cicilia, Psi dari Lembaga Psikologi Terapan (LPT) UI dapat menjawabnya.
Melanjutkan pola tidur dalam kandungan Coba Moms kilas balik sejenak! Saat hamil dulu, apakah Anda merasakan si kecil lebih banyak bergerak pada malam hari? Bila iya, bisa jadi ia masih mengikuti pola tidur "lamanya". Menurut dr Alan Greene, penulis buku "From First Kicks to First Steps", tiap bayi mengembangkan irama tidur dan bangun masing-masing selama masa akhir kehamilan. Ada janin yang aktif bergerak ketika ibunya sibuk beraktivitas pada siang hari, tetapi saat si ibu beristirahat pada malam hari, ia menjadi tenang. Sebaliknya, saat ibunya beraktivitas pada siang hari, si janin malah cenderung tenang bagai digoyang-goyang dalam buaian. Tapi pada malam hari, ia malah aktif berputar, menonjok dan menendang, padahal aktivitas si ibu jauh berkurang. Jadi, bila si kecil tahan melek sepanjang malam, bisa jadi dulunya ia adalah janin yang berkarakter cenderung aktif pada malam hari. Dan, biasanya ia akan melanjutkan pola tidur itu selama beberapa periode setelah ia lahir.
Mengikuti pola tidur orangtua Penyebab lain mengapa si kecil tahan melek adalah karena kurangnya stimulasi ?utamanya untuk mata? pada siang hari, sehingga ia akan banyak tidur. Akibatnya, ia akan memiliki tenaga ekstra untuk terjaga sepanjang malam. Coba evaluasi kebiasaan tidur malam Anda dan suami! Apakah jam tidurnya kurang dari 6-8 jam sehari? Pasalnya, bayi sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan. Bila Anda dan suami sering mengajaknya bermain-main pada malam hari ?siang hari Anda dan suami bekerja? maka ia akan terbiasa "begadang" dan mengikuti pola tidur orangtuanya.
Lama bayi tidur Umumnya bayi baru lahir (neonatus) hingga usia satu bulan biasanya tidur selama 16?19 jam sehari. Ia sering terbangun tiap 2-3 jam untuk minum. Karena penyebab bangunnya adalah rasa lapar, dan bayi tidur tidak lebih dari 4?5 jam sekali tidur. Beberapa bayi tidur lebih lama hingga 8?10 jam untuk sekali tidur dan hal ini masih merupakan hal yang wajar. Namun apabila bayi kehilangan berat badan atau kenaikan berat badannya tidak memuaskan, maka bayi tersebut harus dibangunkan tiap 2?3 jam untuk diberi minum. Bayi usia 3 bulan biasanya tidur antara 13?15 jam sehari. Biasanya lima jam akan digunakan untuk tidur pada siang hari dan sisanya adalah tidur malam. Bayi mungkin akan terbangun sekali atau dua kali dalam semalam.
Tumbuh kembang baik, tak masalah Walau bayi Anda tahan melek berjam-jam sepanjang malam, jangan terlalu khawatir. Sepanjang berat badannya normal, metabolismenya baik, tumbuh kembangnya bagus, tidak rewel berarti si kecil sudah mendapatkan tidur yang cukup. Jika bayi Moms baik-baik saja, tidak ada gangguan kesehatan, Anda boleh berlega hati. Namun, jika Moms masih ragu dan ada rasa kekhawatiran mengenai jumlah jam tidur si kecil, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter. Keluhan dan kekhawatiran pasti akan cepat tertangani.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 8:53 am; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Wed Apr 21, 2010 4:31 pm | |
| BAYI BUTUH TIDUR LEBIH LAMA Kamis, 24 Maret 2011 | 13:18 WIB Kompas.com - Waktu tidur bayi dan anak-anak sangat bervariasi. Ketika lahir, bayi membutuhkan lebih banyak tidur. Saat usia bertambah, waktu tidur berkurang sedikit demi sedikit. Berapa lama si kecil perlu tidur?
- Usia 0-3 bulan Rata-rata jumlah waktu tidur harian beragam, mulai dari 8-18 jam. Di malam hari bayi akan terjaga karena butuh disusui. Selain karena lapar, bayi terjaga karena suhu dalam kamar bisa terlalu dingin atau panas. Untuk itu jaga selalu temperatur nyaman untuk bayi saat mereka tidur.
- 3-6 bulan Saat usia bayi bertambah, waktu menyusui di malam hari menjadi lebih sedikit dan tidurnya lebih lama. Biasanya mereka tidur sekitar 8 jam atau lebih di malam hari.
- 6-12 bulan Di usia ini, bayi biasanya sudah tidak bangun di malam hari untuk menyusu. Mereka bisa tidur hingga 12 jam setiap malam. Saat tumbuh gigi atau lapar mereka bisa sering terbangun.
- 12 bulan. Secara total, bayi akan tidur sekitar 12-15 jam.
- Usia 2 tahun. Di usia 2 tahun kebanyakan bayi tidur 11-12 jam di kala malam dan 1-2 kali tidur siang.
- 3-4 tahun Kebanyakan balita membutuhkan waktu tidur sekitar 12 jam. Jumlahnya tetap bervariasi dari 8-14 jam. Beberapa balita tetap perlu tidur siang. (GHS/dee)
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 8:52 am; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Wed Apr 21, 2010 5:36 pm | |
| BAYI BUTUH TIDUR BERKUALITAS Rabu, 20 Februari 2008 | 14:09 WIB Kompas.com - JAKARTA, RABU - Anda telah dikaruniai bayi atau punya batita? Perhatikan pola tidur buah hati anda. Sudahkah kebutuhannya akan tidur berkualitas terpenuhi? Menurut penelitian para ahli, tidur berkualitas, bukan sekadar tidur, merupakan hal penting dalam proses tumbuh kembang yang optimum pada bayi dan batita, karena di waktu mereka tidur terjadi puncak aktivitas regenerasi sel-sel tubuh dan tumbuh kembang otak. Pola tidur yang baik pada bayi dan batita paling ideal dibentuk ketika mereka berumur 3-6 bulan. Ciri bayi dan batita yang mendapat cukup waktu tidur adalah mudah tertidur malam hari, mudah terbangun pagi hari, tidak rewel, mudah diatur, dan tak memerlukan tidur siang yang melebihi kebutuhan sesuai dengan perkembangannya. Tidur berkualitas pada bayi dan batita bisa diperoleh jika mereka melewati dua tahapan tidur, yaitu tidur dalam atau tidur Non-REM (Non-Rapid Eye Movement) dan tidur aktif atau tidur REM. Proporsi tidur REM pada bayi yang baru lahir adalah sebanyak 50% dari keseluruhan siklus tidur. Angka tersebut akan terus berkurang, hingga tinggal 20%, seiring pertambahan usia bayi.
Pola tidur Pola tidur bayi dan batita akan berubah sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangannya. Bayi yang baru lahir biasanya akan tidur selama 16-20 jam dalam satu hari. Pada umur itu pola tidur tak teratur, lama tidur siang dan malam hampir sama, lebih dipengaruhi oleh rasa lapar dan kenyang bayi. Pada usia 2-12 bulan, umumnya bayi tidur selama 9-12 jam pada malam hari dan tidur siang 1-4 kali sehari. Ketika berumur 12 bulan-3 tahun, si kecil biasanya tidur selama 12-13 jam sehari, dengan tidur siang rata-rata satu kali saja dalam sehari pada usia 18 bulan. Anak berumur tiga tahun yang tidur siang akan memiliki kemampuan lebih dalam menyesuaikan diri. Hal itu sangat penting dalam menentukan keberhasilan di sekolahnya. Pada usia empat tahun, anak bisa tidak lagi membutuhkan tidur siang. Tidur pagi dan siang (nap) berkaitan erat dengan lamanya atensi, quiet alert, dan cepatnya proses pembelajaran. Pola tidur bayi dan batita memang bervariasi. Tapi, dalam satu bulan setelah bayi lahir, seharusnya ritme tidur dan bangun yang rutin sudah dapat terbentuk. Waspadalah jika hingga umur enam bulan ia masih belum memiliki pola tidur yang relatif teratur, karena itu bisa berarti ia memiliki masalah tidur. (M1-08)
HINDARI LAMPU KAMAR TERANG SAAT BAYI TIDUR! Sabtu, 23 Juli 2011 - 10:28 wib Okezone “LAMPUNYA biar aja nyala Pa, ntar kalau Fiktri bangun, langsung tahu...” cegah Rianti ketika suaminya hendak mematikan lampu kamar. Sejak putranya lahir 7 bulan lalu, Rianti memang sengaja tidak mematikan lampu kamar saat tidur malam bersama bayinya. Selain Rianti, banyak orangtua lain melakukan hal serupa. Padahal ada penelitian menyebutkan bahwa jika bayi tidur malam menggunakan lampu yang terang dapat meningkatkan risiko terjadinya mata minus di masa depan. Wah, kok bisa?
Bisa memicu mata minus “Hampir semua bayi lahir mengalami mata hipermetropi -rabun dekat- berkisar plus dua sampai tiga dioptri. Namun pada usia 0-2 tahun di mana merupakan masa perkembangan yang pesat pada bayi -termasuk mata- bola mata bayi akan berkembang dan menjadi lebih panjang, sehingga ukurannya akan perlahan-lahan mendekati normal dan hipermetropi akan hilang dengan sendirinya,” jelas dr Siti F.S. Ramadhani, Sp. M yang berpraktik di RS Puri Indah. Namun, rangsangan cahaya secara terus menerus khususnya pada saat tidur malam di mana pertumbuhan sedang terjadi, bisa merangsang mata untuk tetap bekerja walaupun mata terpejam. Sehingga bola mata akan memanjang melebihi normal dan akan menyebabkan miopi -mata minus atau rabun jauh- pada anak di masa depan. Akan tetapi, miopi juga bisa dipengaruhi beberapa hal, antara lain:
1. Keturunan, beberapa penelitian lain juga menyebutkan jika orangtuanya mengalami miopi, keturunannya kemungkinan akan mengalami hal yang sama. 2. Gaya hidup, antara lain anak yang terlalu cepat membaca, kebiasaan membaca yang salah, bermain game, penggunaan komputer yang lama dan lain-lain. 3. Berusaha melihat sesuatu dengan lebih jelas, misalnya melihat benda-benda atau huruf yang berukuran kecil sehingga akan ‘memaksa’ mata untuk bekerja ekstra dan mengakibatkan bola mata memanjang.
Redup lebih aman! “Sebaiknya matikan lampu atau gunakan lampu redup pada saat bayi tidur malam,” jelas Dokter berkerudung ini. Pernyataan ini diamini oleh dr Runi Deasiyanti, Sp. A dari Klinik SamMarie. “Kalau lampunya terlalu terang, saat bayi terbangun bisa membuat ia benar-benar bangun. Sedangkan jika suasana kamar redup, saat terbangun bayi masih tetap bisa melihat keadaan sekitar dan tertidur kembali,” katanya. Selain itu, pada malam hari tubuh memroduksi melatonin -hormon yang berfungsi untuk mengatur siklus tidur. Hanya saja hormon ini sangat sensitif terhadap cahaya, sehingga tidak akan diproduksi jika saat tidur malam menggunakan lampu. Padahal jika produksi melatonin meningkat, kualitas tidur menjadi baik, imunitas meningkat dan ketegangan berkurang. Bayi pun tidak mudah rewel. So, Moms, mengingat banyak manfaatnya, mulailah meredupkan kamar saat tidur malam mulai sekarang.
Tangkal gangguan mata sedini mungkin Mencegah lebih baik daripada mengobati. Berikut beberapa tip yang dibagi oleh dr Siti F.S. Ramadhani, Sp. M, yakni: - Hindari penggunaan lampu yang terang saat tidur malam. - Usahakan untuk tidur malam lebih cepat agar mata bisa beristirahat. - Konsumsi makanan yang cukup gizi, khususnya bayi yang sudah mendapat MPASI (Makanan Pendamping ASI). Variasikan makanannya dengan buah dan sayur yang beraneka warna. Pada bayi yang masih mendapat ASI eksklusif, asupan Moms yang perlu diperhatikan. Selain itu, program pemerintah dengan pemberian vitamin A juga dapat membantu mencegah berbagai penyakit, termasuk gangguan pada mata. - Jika anak sudah cukup besar, perhatikan jarak membaca (30 cm dengan posisi duduk tegak) atau menonton TV (6x diagonal TV), besar kecilnya huruf dan pastikan penggunaan pencahayaan yang cukup. - Cek kesehatan secara teratur, jangan menunggu sampai muncul keluhan.
Cek mata si kecil Segera periksakan mata si kecil jika: 1. Riwayat persalinan kurang baik, seperti prematur atau berat badan lahir rendah. Kondisi ini rentan mengalami gangguan pada retina. 2. Penampakan mata berbeda, misalnya pada tengah mata terdapat bintik putih, warna tidak hitam atau mata seperti mata kucing. 3. Ukuran bola mata berbeda dengan bayi lain, seperti lebih kecil atau bahkan lebih besar. 4. Bayi mengalami mata juling. 5. Adanya hal yang tidak normal pada penampilan luar mata, seperti benjolan di kelopak mata. 6. Bayi tidak berespon terhadap rangsangan yang diberikan, misalnya Moms menggoyangkan tangan di depan si kecil namun tidak diresponnya. 7. Jika anak sudah agak besar, saat ia melihat sesuatu ia memicingkan mata atau kepala dimiringkan. 8. Anak memiliki kebiasaan menonton tv terlalu dekat, dan jika sudah dijauhkan lama-lama ia akan mendekat kembali.
Agar bayi tidur nyenyak di malam hari • Kenalkan siang dan malam Pada usia 2-3 minggu bayi mulai bisa diajarkan perbedaan waktu dengan memberikan suasana yang berbeda antara siang dan malam. Misalnya, biarkan bayi tidur dengan suasana yang lebih terang dan tidak terlalu sepi pada siang hari, sedangkan tidurkan bayi dengan suasana yang lebih gelap dan sepi pada malam hari. Jika si kecil terbangun, cukup periksa apa yang menyebabkannya terbangun, misalnya popok yang basah, lapar, kedinginan, dan lain-lain, lalu berikan tepukan-tepukan ringan dan tidurkan kembali. Jangan ajak ia bermain!
• Bangun sleep habbit Berikan rutinitas atau sinyal jika sudah waktunya tidur, misalnya membersihkan tubuh bayi, memijatnya, mengganti popok, memakaikan piyama, memberikan ASI atau susu, menyanyikannya lagu, dan sebagainya. Maka akan terprogram di otak bayi bahwa sebentar lagi adalah waktunya untuk tidur. Hal ini dapat mulai dilakukan saat usia 6-12 minggu, dan umumnya terbentuk saat bayi berusia tiga bulan.
• Ciptakan lingkungan yang nyaman Ciptakan lingkungan yang ‘pas’ agar bayi merasa nyaman dan akhirnya terlelap. Antara lain, suhu kamar yang nyaman, cahaya yang tidak terlalu terang dan suasana yang tenang. Tempat tidur, seprei dan selimut yang bersih tentunya perlu diperhatikan.
• Bikin bayi kenyang sebelum tidur Sebaiknya Moms memberikan ASI atau susu formula sesuai usia hingga bayi ‘kenyang’ sebelum tidur sehingga bayi terpuaskan dan tidur dengan nyenyak. Namun, pada prinsipnya tetap on demand, sesuaikan dengan keinginan bayi, utamanya pada bayi-bayi baru lahir.
• Jangan terlalu lelah di siang hari
Anggapan yang menyatakan bahwa bayi yang beraktivitas di siang hari akan lebih mudah tidur malam dibandingkan yang tidur siang, adalah salah! Bayi membutuhkan delapan jam tidur malam dan dua episode tidur siang, sehingga jika tidak terpenuhi bayi justru akan rewel dan sulit tidur. Hal ini disebabkan terjadinya pelepasan hormon kortisol atau hormon stres pada aktivitas yang tinggi yang akan bekerja melawan rasa lelah sehingga anak akan terjaga. (Sumber: Mom&Kiddie)
Last edited by gitahafas on Sat Jul 23, 2011 11:22 am; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Wed Apr 21, 2010 6:56 pm | |
| MENYIASATI WAKTU TIDUR BAYI Sabtu, 30 Oktober 2010 - 14:24 wib okezone ORANGTUA yang baru memiliki anak tentu mafhum benar bahwa waktu tidur malamnya akan “terkuras” mengasuh bayi karena sang buah hati belum memiliki jam tidur yang teratur. Kalau tidak disiasati dengan baik, Anda pasti akan mengalami stres dan depresi. Sakitnya seorang wanita saat melahirkan langsung tertebus ketika melihat wajah dan tingkah laku sang buah hati yang lucu. Namun, “siksaan” tersebut belum berakhir. Setelah bayi lahir, Anda pasti tidak akan bisa tidur malam dengan nyenyak lagi selama beberapa waktu.
Karena sebentar-sebentar bayi terjaga dan Anda harus menyapih dan mengasuhnya kembali. Waktu jam berapa tidur dan jam berapa bangun juga tidak beraturan sepanjang hari. Suka-suka bayi Anda. Bayi yang baru lahir umumnya bisa menghabiskan waktu sekitar 16–18 jam per hari untuk tidur. Dengan bertambahnya umur, waktu tidurnya pun berkurang. Bayi usia setahun menghabiskan waktu antara 14–16 jam. Di atas usia setahun, bisa menghabiskan waktu antara 10–12 jam. Tentu saja si kecil tak tidur terus sepanjang belasan jam. Dalam sehari, dia bisa 5–6 kali bangun (dan tidur lagi). Penelitian terbaru menyebutkan, bayi baru lahir biasanya mulai tidur dengan teratur pada malam hari sejak berusia 2 atau 4 bulan.
“Perubahan yang paling cepat dalam waktu tidur bayi ditemukan terjadi selama empat bulan pertama kehidupannya. Sebelumnya, kita seperti meremehkan kemampuan bayi untuk tidur sepanjang malam,” kata pemimpin studi Jacqueline Henderson, seorang peneliti program postdoctoral di University of Canterbury di New Zealand. Kami menemukan bahwa jika bayi tidur untuk periode tradisional tidur malam yaitu lima jam dari tengah malam sampai jam 05.00 pagi. Mereka juga bisa tidur selama delapan jam. Bayi kemungkinan akan mulai tidur teratur sepanjang malam di usia 2 bulan, sementara 50 persen di antaranya melakukannya di usia empat bulan,” tambahnya seperti dikutip healthday.com.
Henderson menuturkan, berdasarkan hasil penelitian ini, pihaknya menguji definisi lain dari “tidur malam” yang sesuai dengan waktu tidur malam para anggota keluarga lainnya, yaitu mulai pukul 22.00 hingga 06.00 WB. “Kami menemukan bayi yang paling mungkin untuk mulai tidur selama periode ini pada usia 3 bulan, dengan lebih dari 50 persen melakukannya pada usia lima bulan,” tandasnya. Namun, banyak bayi –bukti bahwa orangtua merasa terampas waktu tidurnya– tidak akan memenuhi patokan waktu tidur tersebut, bahkan saat berusia 1 tahun. “Pada akhir tahun pertama, 87 persen dari bayi tidur selama lima jam, 86 persen selama delapan jam, dan 73 persen di antaranya tidur pada pukul 22.00 hingga pukul 06.00,” kata Henderson.
Untuk penelitian ini, Henderson dan koleganya merekrut orangtua dari 75 bayi lahir normal yang setuju untuk mengisi buku harian waktu tidur bayinya selama enam hari setiap bulannya. Para peneliti memverifikasi informasi dalam buku harian tidur tersebut menggunakan video terkait waktu tidur. Mereka menilai waktu tidur bayi terbagi dalam tiga kriteria. Tidur kurang nyenyak dari tengah malam hingga jam 5 pagi, sedikitnya delapan jam tanpa gangguan tidur, atau tidur sesuai dengan jadwal tidur anggota keluarga meskipun masih tidak teratur mulai pukul 22.00 hingga 06.00 WIB. Hasil penelitian ini telah diterbitkan pada edisi jurnal Pediatrics edisi Senin (25/10).
“Saya pikir orang tua pasti senang pada kriteria ketiga, yaitu apakah bayi tidur sejalan dengan jadwal orangtua?” kata Dr Sangeeta Chakravorty, direktur pusat evaluasi tidur anak di Children’s Hospital of Pittsburgh. Dia menambahkan, kadang-kadang kita mencoba terlalu keras untuk membuat hal ini terjadi. “Dan kebiasaan tersebut dapat mengakibatkan gangguan tidur,” ungkap Chakravorty. “Memahami pola bayi tidur, mengetahui apa yang Anda butuhkan, dan belajar bagaimana untuk mencocokkan keduanya adalah seni dan ilmu dari sebuah pola pengasuhan. Namun, tekanan dari kehidupan modern tidak selalu memungkinkan orangtua dan anak untuk menjalankan keseimbangan tersebut,” katanya.
Dr Hugh Bases, seorang dokter bagian perkembangan anak di Langone NYU Medical Center menyatakan, penting untuk dicatat bahwa penelitian ini dilakukan dengan bayi yang lahir normal. Jadi, temuan ini tidak selalu berlaku pada bayi prematur. Selain itu, sekitar separuh dari bayi para partisipan adalah anak kedua sehingga orangtua mereka lebih berpengalaman.
Bases menyarankan orangtua untuk mengembangkan kebiasaan tidur yang baik sejak dini. Itu berarti, misalnya letakkan bayi Anda di dalam buaian ketika dia masih terjaga yaitu antara mengantuk, tapi terjaga. Jangan paksakanbayi Anda untuk tidur, atau biarkan bayi Anda tertidur pada Anda. Jika bayi Anda terbangun di tengah malam, jangan segera menemuinya. Berikan dia waktu untuk menyelesaikannya sendiri.
Jika bayi terus menangis dan Anda merasa bahwa Anda tidak bisa menunggu lebih lama lagi, temui dia sebentar. Jangan langsung mengangkat dan menggendong bayi Anda. Sebaliknya, berikan dia rasa nyaman –seperti menggosok punggung bayi, berbicara dengan suara yang tenang– dan kemudian pergi lagi. Jika bayi Anda tidak bisa ditenangkan dengan cara ini, gendong dia dan coba lagi malam berikutnya. Dia juga mencatat bahwa ketika bayi Anda sudah mulai tidur sepanjang malam, Anda harus berharap bahwa masih akan ada beberapa malam lagi saat bayi Anda terbangun. Misalnya, jika bayi Anda tidak merasa baik.
“Banyak hal yang dapat mengganggu siklus tidur. Tidur sepanjang malam harus disesuaikan dan dimulai sejak dini. Kabar baiknya, anak-anak dapat dengan mudah dilatih ulang untuk tidur sepanjang malam lagi,” kata Bases.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 8:37 am; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Wed Apr 21, 2010 7:42 pm | |
| 5 KEBIASAAN BAYI SAAT TIDUR Jumat, 29/10/2010 15:28 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Melihat bayi tidur bisa jadi adalah pemandangan yang menenangkan, tapi tidak semua bayi bisa tidur dengan nyenyak. Beberapa bayi memiliki kebiasaan atau gangguan di dalam tidurnya. Bagi orangtua baru beberapa kebiasaan bayi saat tidur seperti mengerang, merintih atau menendang tentu bisa membingungkan. Namun perilaku ini umumnya tidak berbahaya. Dikutip dari Babycenter, Jumat (29/10/2010) ada 5 kebiasaan yang bisa dilakukan bayi saat tidur, yaitu:
1. Jeda bernapas Jika diperhatikan, bayi bisa bernapas lebih cepat untuk sementara kemudian melambat dan bisa berhenti hingga 15 detik sebelum bernapas normal kembali. Dokter biasanya menyebut dengan 'periodic breathing' dan merupakan hal yang umum terjadi pada bayi hingga berusia sekitar 6 bulan. Bayi yang prematur akan lebih sering mengalaminya. Jika tangan, kaki, dahi dan kulit sekitar mulut membiru, ada kemungkinan bayi mengalami kesulitan oksigen.
2. Mendengkur dan mendengus Jika dengkuran atau suara mendengus yang dikeluarkan bayi memiliki irama teratur, maka tidak perlu dikhawatirkan. Kondisi ini biasanya karena si kecil mengalami hidung tersumbat. Tapi jika dengkurannya ada jeda diikuti dengan napas terengah-engah kemungkinan ada semacam penyumbatan di saluran napasnya seperti dari amandel atau kelenjar gondok. Dan bisa juga bayi mendengkur karena alergi.
3. Berkeringat Beberapa bayi berkeringat lebih banyak saat ia tidur, karena ia menghabiskan waktu lebih banyak dalam tahap terdalam tidurnya. Kondisi ini yang membuat bayi lebih cenderung berkeringat di malam hari dibanding orang dewasa atau anak-anak yang lebih tua. Meskipun keringat adalah kondisi umum, tapi jika terlalu berlebihan bisa menunjukkan ada sesuatu yang salah. Misalnya terjadi infeksi, sleep apnea atau overheating yang dapat memicu sindrom kematian bayi mendadak (sudden infant death syndrome/SIDS) terutama jika si kecil menggunakan baju atau selimut berlapis-lapis.
4. Sering bergerak Biasanya kebiasaan sering menggoyang atau menggerakkan badan saat tidur dimulai sekitar usia 6 bulan yang kadang disertai dengan membenturkan kepala. Gerakan ini adalah salah satu perilaku untuk menenangkan dirinya sendiri. Pada umumnya kondisi ini tidak perlu dikhawatirkan selama tidak membahayakan keadaan si kecil.
5. Tidur sambil menggertak gigi Sebagian besar bayi memiliki kebiasaan menggertak gigi saat tidur, kondisi ini paling sering terjadi saat bayi mendapatkan gigi pertamanya atau baru mendapatkan gigi permanennya. Kemungkinan bayi melakukan ini karena ada sensasi dari gigi baru, rasa sakit akibat tumbuh gigi atau dari infeksi telinga dan bisa juga karena masalah pernapasan.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 8:38 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Thu Apr 22, 2010 9:01 am | |
| BAYI AKAN TIDUR TENANG SAAT BERUSIA 5 BULAN Rabu, 27/10/2010 12:45 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Kurang tidur adalah keluhan umum orangtua yang baru saja memiliki bayi karena bayinya tak mau tidur malam. Kini sebuah studi menunjukkan bahwa bayi akan mulai tidur dengan tenang sepanjang malam setelah berusia 5 bulan. Penelitian yang dipimpin oleh Dr Jacqueline Henderson dari University of Canterbury di New Zealand menuturkan bahwa secara realistis orangtua bisa berharap memiliki periode tidur yang tidak terganggu setelah bayinya berusia 5 bulan.
Dalam penelitian ini Henderson dan rekannya melihat pola tidur di tahun pertama kehidupan 75 bayi sehat. Penilaian yang dilakukan terbagi dalam tiga kriteria yaitu bayi yang tidur tengah malam hingga jam 5 pagi, bayi yang tidur selama 8 jam setiap malam dan bayi yang tidur dari jam 10 malam hingga jam 6 pagi. Peneliti menemukan pada usia 5 bulan, setengah dari bayi-bayi ini akan memberikan ibu dan ayahnya istirahat malam yang normal, yaitu tidur dari jam 10 malam hingga jam 6 pagi.
Hasil penelitian yang dilaporkan dalam jurnal Pediatrics ini juga menunjukkan bayi yang berusia 3 bulan umumnya akan mulai tidur dari tengah malam hingga jam 5 pagi, sedangkan bayi berusia 4 bulan akan tidur 8 jam setiap malam tapi waktunya tidak teratur. "Salah satu sumber penderitaan bagi keluarga yang baru memiliki bayi adalah kesulitan untuk tidur dengan tenang dan sering terbangun di malam harinya," ujar Avi Sadeh seorang psikologis klinis anak dan keluarga dari Tel Aviv, Israel, seperti dikutip dari Reuters, Rabu (27/10/2010). Sadeh menuturkan agar bayi bisa tidur dengan nyenyak di malam hari, orangtua sebaiknya menciptakan lingkungan tidur yang tenang, gelap, temperatur yang tepat serta rutinitas dan jadwal tidur yang konsisten setiap malamnya.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 8:43 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Fri Apr 23, 2010 8:20 am | |
| TIDUR SIANG TERATUR PENTING UNTUK BAYI Kamis, 25/02/2010 13:00 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Jangan abaikan jadwal tidur siang si mungkil. Karena bayi yang memiliki jadwal tidur siang secara teratur menunjukkan peningkatan kemampuan otaknya untuk mendeteksi informasi baru. Peneliti dari University of Arizona di Tucson melakukan studi yang melibatkan 48 bayi yang diamati selama 15 bulan hingga bayi terbiasa dengan kegiatan tidur siang tersebut.
Hasilnya, didapatkan bayi yang memiliki jadwal tidur siang teratur menunjukkan ketertarikan dalam mendengar ungkapan-ungkapan yang baru. Namun ketertarikan ini tidak terjadi pada bayi yang tidak memiliki jadwal tidur siang teratur. "Sebagian besar bayi mengalami perkembangan otak saat sedang tidur sehingga bisa memasukkan informasi yang didapat dan belajar untuk menyimpannya. Jika tidur siangnya tidak cukup mereka akan kehilangan hal tersebut," ujar ketua peneliti Lynn Nadel, seperti dikutip dari HealthDay, Kamis (25/2/2010).
Nadel mengungkapkan hal terpenting lain yang harus dilakukan orangtua adalah tetap memberikan bayi dan anak-anaknya jenis rangsangan mental terutama dalam hal berbicara atau membaca. Pembelajaran ini akan semakin baik jika bayi atau anak-anak memiliki siklus harian tidur yang cukup dan memadai. Waktu tidur siang menjadi hal penting karena jika bayi terlambat tidur siang akan berdampak pada tidur malam harinya. Tidur dalam beberapa waktu dalam satu hari adalah jadwal yang bagus untuk bayi karena sesuai dengan jam biologisnya.
Setiap bayi memiliki waktu tidur yang berbeda-beda. Tapi secara umum ada waktu-waktu terbaik untuk bayi tidur yaitu: 1. Jika bayi memerlukan 3 kali waktu tidur yaitu saat pertengahan pagi, siang hari dan tidur sore. 2. Jika bayi memerlukan 2 kali waktu tidur yaitu saat pertengahan pagi dan siang hari. 3. Jika bayi memiliki 1 kali waktu tidur yaitu saat siang hari.
Jumlah jam tidur bayi pun berbeda-beda tergantung dari usia si bayi atau anak-anak, yaitu: 1. Usia 4 bulan membutuhkan 3 kali waktu tidur dengan jumlah keseluruhan 4-6 jam. 2. Usia 6 bulan membutuhkan 2 kali waktu tidur dengan jumlah keseluruhan 3-4 jam. 3. Usia 9 bulan memerlukan 2 kali waktu tidur dengan jumlah keseluruhan 2,5-4 jam. 4. Usia 12 bulan memerlukan 1-2 waktu tidur dengan jumlah keseluruhan 2-3 jam. 5. Usia 2 tahun memerlukan 1 kali waktu tidur dengan jumlah keseluruhan 1-2 jam. 6. Usia 3 tahun memerlukan 1 kali waktu tidur dengan jumlah keseluruhan 1-1,5 jam.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 8:44 am; edited 7 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Fri Apr 23, 2010 8:22 am | |
| KAPAN BAYI BOLEH TIDUR PAKAI BANTAL? Jumat, 05/03/2010 14:00 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Bayi yang baru lahir sebenarnya tidak dianjurkan menggunakan bantal. Bayi yang baru keluar dari kandungan ibu akan merasa nyaman tidur jika posisinya datar. Kapan baiknya bayi boleh menggunakan bantal? Bantal merupakan salah satu fasilitas tidur yang pentin. Orang yang terbiasa tidur memakai bantal akan merasa sakit dan kaku lehernya jika tidak menggunakannya. Tapi berbeda halnya pada anak-anak, penggunaan bantal saat tidur tergantung dari usia dan tempat dimana mereka tidur.
"Bayi yang berusia di bawah 2 tahun tidak dianjurkan untuk menggunakan bantal, meskipun sudah terdapat dalam satu set perlengkapan tidur. Ini disebabkan hal tersebut akan mengurangi kenyamanannya dan mengganggu waktu tidurnya," ujar Judith Owens, seorang ahli pediatric sleep, seperti dikutip dari Babycenter, Jumat (5/3/2010). Selain itu anak usia tersebut belum membutuhkan dukungan untuk menyokong kepalanya dan yang lebih penting dapat menimbulkan risiko anak tercekik di bawah bantal. Sebagian besar penelitian juga menunjukkan bahwa bantal biasanya bukan suatu barang yang harus digunakan oleh anak dibawah usia 2 tahun.
Karena itu sebaiknya orangtua mulai memperkenalkan bantal pada anaknya ketika sudah berusia di atas 2 tahun. Namun jika anak dapat tidur nyenyak tanpa menggunakan bantal, orangtua tak perlu memaksanya dan bisa mulai memperkenalkannya secara bertahap. Jika ingin mulai memperkenalkan bantal, usahakan menggunakan bantal khusus untuk bayi atau anak-anak dan bukan bantal orang dewasa. Karena bantal yang digunakan harus bisa menahan bayi sehingga mengurangi risiko tercekik. Bagi anak yang sensitif atau memiliki alergi tertentu, usahakan untuk menggunakan bantal yang non-alergi.
Selain memperhatikan usia si bayi, orangtua juga bisa melihat tanda-tanda lain yang menunjukkan bahwa anak sudah perlu bantal ketika tidur. Hal ini bisa dilihat dari perilaku anak yang harus berjuang agar bisa tidur di tempat tidur datar atau anak yang memang meminta sendiri penggunaan bantal tersebut. Bentuk dan posisi bantal yang tidak tepat bisa menimbulkan rasa tidak nyaman atau sakit pada leher bayi, akibatnya bayi juga bisa mengalami demam. Karenanya pilihlah bantal yang sesuai dan usahakan diberikan pada bayi setelah berusia di atas 2 tahun.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 8:45 am; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Fri Apr 23, 2010 8:27 am | |
| BIARKAN BAYI TIDUR DENGAN SENDIRINYA Kamis, 13/08/2009 09:15 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Ada banyak cara yang dilakukan oleh bayi sebelum tidur, seperti menangis, mengusap-usap sesuatu atau harus memegang botol susunya. Untuk menghindari masalah tidur pada bayi, sebaiknya biarkan bayi tidur dengan sendirinya. Pada usia 5 bulan, rata-rata bayi mendapatkan waktu tidur sekitar 11 hingga 14 jam sehari, termasuk 8 hingga 9,5 jam tidur pada malam hari. Sementara bayi biasanya melakukan 2 atau 3 kali tidur siang dengan total waktu tidurnya 3 sampai 4,5 jam sehari. Beberapa bayi mulai melakukan tidur di malam hari saat berusia sekitar 3 sampai 4 bulan. Pada usia 5 sampai 6 bulan, kebanyakan bayi tidur sampai melewati malam.
Bayi memiliki waktu berkembang tersendiri, seperti kapan waktu bisa berjalan, bisa duduk atau mulai berbicara, begitu pula dengan waktu tidurnya. Jadi, fakta bahwa bayi berusia 5 bulan yang masih suka terbangun pada malam hari selama itu hanya sekali, maka hal ini masih normal saja, seperti dikutip dari Pediatrics, Kamis (13/8/2009). Dengan kata lain, jika sang bayi masih sering terbangun pada malam hari sebanyak 2 atau 3 kali kemungkinan bayi tersebut memiliki masalah dengan tidurnya. Maka sebagai orang tua harus tahu bagaimana cara memperbaikinya.
Cara terbaik untuk mengatasi masalah tidur pada bayi adalah dengan menerapkan jam tidur yang sama setiap harinya dan mengajarkan bayi untuk tidur dengan sendirinya. Maksudnya tanpa didendangkan terlebih dahulu atau memegang botol susunya. Teknik ini bisa dimulai dengan memindahkan bayi sedikit lebih awal ke dalam kamar tidur dan meletakkan bayi di tempatnya saat bayi sedang mengantuk tapi belum sampai tertidur.
Jika bayi belum tertidur juga hingga beberapa menit, cobalah untuk membuatnya merasa nyaman lalu meletakkannya kembali di tempatnya sebelum bayi tertidur. Dengan begitu bayi akan tidur dengan sendirinya dan akan membantu bayi tertidur sendiri ketika terbangun pada malam hari. Selanjutnya lakukan hal tersebut secara konsisten dengan cara dan waktu yang sama setiap malamnya. Maka masalah tidur pada bayi bisa teratasi dengan baik.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 8:46 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Fri Apr 23, 2010 8:32 am | |
| AGAR TIDUR BAYI NYENYAK DI MALAM HARI Selasa, 24/11/2009 15:00 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Saat malam hari seringkali orangtua tidak dapat tidur dengan nyenyak karena bayinya sering terbangun. Jika orangtua ingin bayinya tidur lebih lama di malam hari, maka ubahlah cara tidur bayi pada siang hari sehingga bayi lebih nyenyak ketika tidur malam. Bayi yang diberi makan sesuai waktu saat bayi lapar dan menggendongnya dipangkuan ibu selama siang hari akan membuat tidur siangnya seperti pola tidur-tidur ayam. Ini akan berguna untuk menghemat waktu tidurnya dan akan memiliki waktu tidur malam yang lebih lama.
Sebenarnya siklus tidur bayi lebih singkat daripada siklus tidur orang dewasa, karena bayi memiliki masa tidur yang tidak lelap lebih banyak dibandingkan tidur lelapnya. Karena definisi medis untuk tidur sepanjang malam adalah tidur dalam waktu lima jam terus menerus. Bayi biasanya terbangun 2-3 kali setiap malamnya sejak bayi baru lahir hingga usia 6 bulan, 1-2 kali untuk usia 6 bulan hingga satu tahun dan terbangun 1 kali pada usia satu hingga dua tahun. Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh orangtua agar bisa membuat bayinya tidur dengan nyenyak di malam hari, seperti dikutip dari The Baby Book karangan William Sears dan Martha Sears, Selasa (24/11/2009):
1. Bantulah bayi memahami bahwa siang hari saatnya makan dan malam hari saatnya tidur atau istirahat. Cobalah untuk memberi makan bayi setiap 3 jam sekali di siang hari. 2. Gendonglah bayi pada siang hari. Meningkatnya frekuensi kedekatan dan keakraban meningkatkan ketenangan dan bayi yang tenang pada siang hari cenderung tenang juga pada malam hari. 3. Kenyangkan bayi sebelum tidur. Usahakan untuk menyusui bayi hingga kenyang sebelum tidur dan saat bayi terbangun di malam hari. 4. Kenakan baju tidur yang tepat. Cobalah untuk menggunakan berbagai baju tidur bayi untuk melihat baju apa yang dapat membantunya tidur lebih tenang. Umumnya bayi dapat tidur lebih baik jika bajunya terbuat dari bahan katun. 5. Rebahkanlah bayi di tangan ibu. Kehangatan tangan ibu bisa memberikan sentuhan tambahan yang dibutuhkan bayi untuk membantunya tertidur sambil memberikan tepukan lembut di punggung atau bokong bayi. Lepaskan tangan secara perlahan agar tidak membangunkannya. 6. Buatlah tempat yang tenang untuk tidur. Umumnya bayi bisa membiasakan diri untuk tidak terjaga dengan suara-suara yang sering didengarnya, tapi akan terbangun jika mendengar suara yang mendadak atau mengagetkannya. 7. Tentukan temperamen bayi di malam hari. Setiap bayi berbeda temperamennya, ada bayi yang bisa menenangkan diri sendiri tapi ada juga yang merengek saat bangun. Jika cepat menghampiri bayi sebelum benar-benar terbangun, maka lebih mudah untuk menidurkannya kembali.
Orangtua tidak bisa memaksa bayinya untuk tidur. Penciptaan lingkungan yang aman dan nyaman adalah cara terbaik untuk membuat bayi lebih cepat tidur dan jangka waktu tidurnya lebih panjang, sehingga bayi tidak akan sering terbangun di malam hari.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 8:47 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Fri Apr 23, 2010 8:35 am | |
| BAYI TIDUR TERLENTANG, AMAN DARI KEMATIAN MENDADAK Jumat, 31/07/2009 11:01 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Risiko kematian mendadak atau Sudden Infant Death Syndrome (SIDS) kerap terjadi pada bayi yang sedang tidur. Biasakan bayi tidur telentang untuk menghindari ancaman SIDS. Menempatkan bayi dengan punggungnya ketika tidur terbukti bisa mengurangi risiko sindrom kematian mendadak pada bayi (SIDS). Padahal bayi hingga usia 6 bulan masih berisiko terkena SIDS.
Dr Carl Hunt dari Medical College of Ohio di Toledo mengatakan tidak ada risiko kesehatan yang akan datang jika menidurkan bayi dengan punggungnya (telentang) dan tidak ada harga yang harus dibayar agar bayi tidur dengan punggunggnya. Seperti dikutip dari Health24, Jumat (30/7/2009), beberapa penelitian juga telah menunjukkan bahwa bayi yang tertidur dengan posisi terlentang (menggunakan punggungnya) bisa mengurangi risiko SIDS. Tahun 1992 American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan bayi agar tidur dengan posisi miring atau terlentang untuk mengurangi risiko dan ternyata kedua strategi ini berhasil. Sehingga kematian bayi karena SIDS ini menurun sekitar 40 persen.
Beberapa orang tua memilih menidurkan bayinya di perut orang tua karena rasa takut bayinya akan tersumbat dan percaya bahwa bayi akan tidur lebih baik jika diperut ibunya. Peneliti menganalisis informasi dari 3.733 bayi didapatkan para ibu meletakkan bayinya dalam posisi yang sama selama tidur, mayoritas dengan menggunakan punggung bayi, diikuti dengan posisi miring dan posisi tengkurap. Survei dilakukan pada saat usia bayi satu, tiga dan enam bulan untuk melihat apakah bayi memiliki gejala seperti demam, batuk, kesulitan bernafas, diare dan muntah-muntah.
"Berdasarkan penelitian tersebut terdapat penurunan gejala demam pada usia satu bulan, sesak pada hidung dan kesulitan tidur pada usai enam bulan serta infeksi telinga pada usia tiga dan enam bulan, untuk bayi yang tidur dengan posisi terlentang," ujar Marian Willinger spesialis untuk SIDS dari National Institute of Child Health & Human Development.Peneliti mengemukakan bahwa bayi yang tidur dengan punggunggnya atau telentang lebih baik dari pada bayi yang tidur dengan perutnya. Ini karena bayi yang tidur dengan perut memiliki temperatur tinggi pada mulut dan tenggorokannya, yang mungkin disebabkan oleh kondusifnya pertumbuhan bakteri.
Dengan kata lain, anak-anak yang tidur dengan punggungnya lebih sering menelan yang mengindikasikan kemungkinan anak-anak tersebut secara efektif membersihkan tenggorokannya. "Apapun alasannya, sangat penting bagi bayi untuk selalu ditempatkan dengan punggungnya setiap tidur meskipun dengan pengasuhnya," ujar Willinger.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 8:48 am; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Anak Fri Apr 23, 2010 8:38 am | |
| CEGAH SIDS PERHATIKAN POSISI TIDUR BAYI ANDA Rabu, 15 September 2010 - 18:23 wib - okezone PERHATIKAN posisi tidur bayi Anda karena jika mengabaikan posisi tidurnya, tidak terlalu baik untuk kesehatan, bahkan bisa memicu timbulnya sudden infant death syndrome (SIDS). Dokter ahli RPSGT (registered polysomnographic technologist) dari Rumah Sakit Mitra Kemayoran, Dr Andreas A Prasaja, mengatakan, agar anak tidur dengan nyaman, sebaiknya harus memperhatikan posisi tidurnya. Posisi tidur yang salah, seperti tengkurap, bisa membuat bayi kesulitan bernapas. Sebaiknya jangan menyimpan bantal terlalu banyak di sekitar anak karena untuk keamanannya juga. Saat anak tertidur, posisi anak bisa berubah sehingga bantal pun bisa tergeser dan akhirnya menutupi lubang pernapasan anak. “Menaruh bantal yang terlalu banyak, dikhawatirkan bisa menutup pernapasannya dan menyebabkan terjadinya SIDS,” paparnya. Sindroma kematian bayi mendadak atau SIDS umumnya terjadi saat bayi berumur dua bulan sampai satu tahun, bahkan ada yang mengalaminya saat bayi berumur empat hari. Tidur tengkurap menjadi salah satu penyebabnya. Bahkan, penelitian pun mengatakan hal yang demikian, yaitu perubahan posisi tidur anak (dari tengkurap menjadi telentang) secara signifikan menurunkan angka kejadian SIDS di seluruh dunia. Spesialis anak dari Rumah Sakit Bunda Menteng, Dr I Gusti Ayu Nyoman Partiwi SpA MARS, menyebutkan, jika dilihat dari posisi tidur bayi yang tengkurap, sebenarnya memiliki keuntungan yang baik, yaitu dengan tengkurap, maka bayi akan bisa menggerakkan kepala yang bagus untuk pertumbuhannya. Namun, jika saat tengkurap kepala bayi berada pada posisi langsung menelungkup pada bantal, maka itu yang salah. Jadi, yang harus dilakukan adalah dengan membenarkan posisi bayi tengkurap. ”Dua sampai tiga menit bayi tidak napas, dan tidak diketahui orang tua, maka ‘lewatlah’ bayi,” ucapnya. SIDS yang merupakan penyebab kematian bayi baru lahir nomor tiga di dunia ini memiliki sebab beragam, di antaranya ibu perokok, bayi tidur di tempat yang terlalu lembek, juga kurangnya perawatan saat hamil. Fakta menyebutkan, SIDS merupakan penyebab kematian yang paling sering ditemukan pada bayi yang berusia 2 minggu-1 tahun dengan kasus 3 dari 2.000 bayi mengalami SIDS. Untuk menghindari risiko terjadinya SIDS, Tiwi menyarankan untuk melakukan pengecekan terhadap ventilasi di sekitar ruangan seperti rumah dan kamar. Dan, sebaiknya menggunakan kipas angin untuk mendapatkan perputaran oksigen yang lebih baik. ”Baik orang dewasa, terutama bayi, harus mendapatkan perputaran udara yang baik,” sebutnya.
Last edited by gitahafas on Mon Jul 11, 2011 9:49 am; edited 5 times in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |