Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Kesehatan Anak

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1 ... 10 ... 17, 18, 19 ... 42 ... 67  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 8:51 am

OPERASI AMANDEL
Operasi amandel merupakan tindakan operasi tersering pada anak. Masih banyaknya perbedaan pendapat antara dokter anak dengan dokter THT mengenai kapan diperlukan operasi pengangkatan amandel, menyebabkan sebagian orang tua yang anaknya mempunyai masalah amandel menjadi bingung. Walaupun kebanyakan infeksi amandel tidak mengancam jiwa, tetapi bila kuman penyebab infeksi amandel adalah streptococcus beta hemoliticus, maka dapat berpotensi menimbulkan komplikasi penyakit jantung dan ginjal yang berbahaya.

Kriteria operasi amandel:
1. Kriteria Absolut.
a. Bila pembesaran sudah menimbulkan sumbatan jalan napas berat, yang menyebabkan gangguan tidur berupa mendengkur dan henti napas saat tidur atau ada komplikasi kardiopulmoner.
b. Infeksi amandel yang sampai menimbulkan kejang demam berulang.
c. Infeksi amandel yang menimbulkan perdarahan amandel menetap atau berulang.
d. Pembesaran amandel pada satu sisi saja, yang dicurigai sebagai keganasan.

2. Kriteria Relatif.
a. Infeksi amandel akut yang berulang atau infeksi amandel menahun dengan frekwensi serangan 7x/tahun, 5x/tahun selama 2 tahun, 3x/tahun selama 3 thn
b. Terjadi komplikasi berupa abses sekitar amandel.
c. Pembesaran amandel yang menimbulkan gangguan makan atau menelan.
d. Adanya serpih putih kekuningan yang menimbulkan bau mulut atau napas tak sedap.

Operasi amandel mengharuskan pembiusan dan area operasi berada pada jalan napas, sehingga resiko operasi tetap ada.
Diperlukan persiapan yang baik untuk menghindari resiko operasi yang tidak diinginkan. Tidak ada batasan umur dalam keputusan operasi amandel, namun operasi sebaiknya tidak dilakukan pada anak kurang dari 3 tahun karena komplikasi tindakan akan meningkat, kecuali pada kondisi sumbatan jalan napas yang mengancam jiwa. Amandel berfungsi sebagai penyaring kuman, tetapi fungsi sebagai penyaring kuman itu, menjadi minimal bahkan tidak ada lagi pada amandel yang telah menjadi sarang kuman. Peran penyaring kuman masih dapat digantikan oleh organ penyaring kuman lainnya di sekitar tenggorokan bila sekiranya dilakukan operasi pengangkatan amandel.

Mungkin akan terdengar suara anak berubah setelah operasi pengangkatan amandel.
Hal ini terjadi karena ada 'ruang baru' di bagian faring, akan berlangsung sekitar 1 - 2 minggu.
Setelah otot otot sekitarnya pulih suara anak akan normal kembali.

Sumber: Health First vol 8 Okt - Des 2009


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 6:11 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 8:52 am

SAKIT TENGGOROKAN PASTI AMANDEL?
Sabtu, 22 Agustus 2009 | 10:33 WIB
KOMPAS.com — Seorang ibu di sebuah rubrik konsultasi mengeluhkan sakit tenggorokan yang sering diderita anaknya yang baru berusia 5 tahun. Ia menduga anaknya terkena sakit amandel dan bertanya pada dokter perlukah amandel anaknya dioperasi. Sebenarnya, apa hubungan antara sakit tenggorokan dan penyakit amandel?
Amandel/tonsil merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh yang berperan menahan arus kuman yang masuk dari mulut. Kuman-kuman tersebut akan ditangkap di permukaan amandel yang dilapisi oleh selaput lendir (mukosa) yang berlekuk-lekuk di dalam.

Amandel yang besar pada anak-anak menunjukkan amandel tersebut aktif melawan kuman, tapi tidak menunjukkan hebatnya derajat infeksi. Jika serangan kuman tak dapat dielakkan, tonsil akan terinfeksi dan meradang. Dalam dunia kedokteran peradangan pada amandel disebut tonsillitis. Pada saat terjadi tonsilitis, tonsil/ amandel ini dapat membesar akibat reaksi peradangan di dalamnya. Timbulnya peradangan akut pada tonsil biasanya didahului oleh radang akut saluran napas bagian atas dengan gejala batuk pilek atau flu. Penderita jadi sulit makan dan minum karena sakit menelan, mengalami demam, dan terjadi kejang bila panasnya terlalu tinggi.

Terkadang penderita amandel juga sering tidur mengorok karena saluran napas menyempit akibat pembengkakan tonsil. Pengobatan untuk penyakit ini meliputi pemberian antibiotik, obat penurun panas, dan obat lain untuk menghilangkan gejala flu. Anak yang menderita amandel juga disarankan untuk banyak beristirahat hingga penyakitnya sembuh. Biasanya penyakit ini akan sembuh dalam waktu kurang dari seminggu.

Apabila tonsilitias bersifat kronis atau sering kambuh, ataupun pembengkakan tonsil terlalu besar dan menghalangi jalan napas, maka amandel disarankan untuk diangkat. Bila keadaan memungkinkan, sebaiknya operasi ditunda sampai anak berusia 8 tahun karena pada umur tersebut sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi sudah berkembang sempurna. Bagaimana pun amandel masih diperlukan untuk pertahanan tubuh, terutama pada anak-anak.


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 8:55 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 8:53 am

KETIKA AMANDEL MEMBANDEL
Jumat, 18 Maret 2011 | 14:03 WIB
Kompas.com - Tonsil atau amandel sebenarnya berfungsi sebagai benteng pertahanan terdepan tubuh untuk menaklukkan kuman yang datang dari mulut. Namun, akibat fungsinya itu tonsil dapat meradang atau terkena infeksi sehingga harus diangkat. Ada beberapa hal yang dapat mengganggu amandel, antara lain karena peradangan dan infeksi kuman. "Jika disebabkan karena infeksi biasanya akan terlihat bercak putih di tonsil. Terkadang tonsilnya bengkak, tapi ada juga yang tidak," papar dr.Agus Subagio, Sp.THT dari RS.Puri Indah Jakarta. Anak-anak yang menderita alergi berat kebanyakan juga menderita peradangan amandel (tonsilitis). "Anak yang hidungnya sering mampet, sering pilek biasanya amandelnya jadi gampang terpapar bakteri sehingga meradang. Ini bisa menyebabkan tonsilnya bengkak," katanya.

Radang tonsil dicirikan dengan keadaan tonsil yang bengkak, kadang tonsil diselimuti lapisan putih. Penderita akan mengalami demam dan sulit menelan. Menurut dr.Agus, tonsilitis lebih banyak dialami oleh anak-anak karena sistem imun mereka lebih rendah sehingga lebih mudah terinfeksi kuman dan virus. Selain itu, tenggorokan anak juga masih kecil sehingga lebih mudah tersumbat. "Karena tenggorokannya kecil, jika tonsilnya bengkak tentu bisa menyebabkan jalan napasnya tertutup," katanya.

Amandel yang membesar juga bisa menyebabkan anak mendengkur yang bisa menyebabkan Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSA), yaitu keadaan berhentinya napas pada saat tidur. Hal tersebut menyebabkan pasokan oksigen ke otak akan berkurang. "Akibatnya anak jadi sering mengantuk di siang hari, konsentrasi belajarnya menurun, bahkan tumbuh kembangnya terganggu," imbuhnya. Tindakan pengangkatan amandel (tonsilektomi) disarankan untuk dilakukan jika dalam setahun anak sudah mengalami 7 episode sakit atau radang tonsil berlangsung lebih dari dua minggu.


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 8:57 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 8:54 am

KAPAN AMANDEL PERLU DIANGKAT?
Jumat, 18 Maret 2011 | 18:45 WIB
Kompas.com - Radang amandel (tonsilitis) yang tidak ditangani dapat menyebabkan berbagai komplikasi, bahkan mengganggu tumbuh kembang anak. Kapan operasi amandel perlu dilakukan? Amandel atau tonsil adalah jaringan limfe yang berada di sisi kanan dan kiri kerongkongan. Organ ini merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh. Karena itu tidak semua kasus radang amandel perlu diangkat. Pada tonsilitis yang disebabkan oleh bakteri, pemberian antibiotik bisa dilakukan selain juga pemberian antinyeri dan penurun demam.

Menurut dr.Agus Subagio, Sp.THT, dari RS Puri Indah Jakarta, ada beberapa indikasi yang menjadi pertimbangan dokter untuk melakukan tonsilektomi (pengangkatan tonsil). Misalnya sudah terjadi berulang kali, anak mengalami kejang demam, bau mulut, atau menyumbat jalan napas. "Mengingat tonsil adalah bagian dari sistem kekebalan tubuh, tidak semua tonsil yang membesar harus dibuang, kecuali infeksi sudah terjadi berulang kali atau efek buruk tonsil sudah melebihi manfaatnya, misalnya menutupi jalan napas," paparnya dalam acara media edukasi mengenai Teknologi Radiofrekuensi untuk Tonsilektomi di Jakarta (17/3/2011).

Operasi pengangkatan tonsil secara konvensional dilakukan dengan menggunakan pisau bedah. Cara lain yang lebih medern dilakukan dengan menggunakan elektrokauter atau mikrodebrider. Namun kedua cara tersebut tetap memiliki risiko perdarahan dan menyisakan nyeri cukup lama.

Teknologi radiofrekuensi merupakan cara pengangkatan tonsil yang cukup banyak dipakai. Menggunakan gelombang radio dan suhu yang rendah, tingkat pemulihan pasca operasi menjadi lebih cepat.
Menurut dr.Agus, seminggu pasca operasi pasien sudah bisa makan seperti biasa. Kendati begitu, ia menyarankan agar makanan yang bisa menimbulkan iritasi, seperti makanan pedas, asam, terlalu panas atau dingin dihindari dulu.

Operasi amandel sendiri termasuk dalam jenis operasi yang paling sering dilakukan oleh dokter THT. Di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia RSCM selama tahun 1990-1994 telah dilakukan 2.991 tindakan tonsilektomi.
Kendati begitu menurut dr.Agus operasi amandel tidak bisa dibilang sebagai operasi yang ringan. "Risiko tetap ada, misalnya risiko perdarahan atau efek samping anestesinya," katanya.


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 8:58 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 8:55 am

BENARKAH ANAK KECIL TIDAK BOLEH OPERASI AMANDEL?
Kamis, 17/03/2011 17:11 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Penyakit amandel paling sering menyerang anak-anak usia 5 sampai 15 tahun. Sebagian besar masyarakat Indonesia hingga kini masih meyakini berbagai mitos berkaitan dengan penyakit amandel, salah satunya anak kecil tidak operasi amandel. Benarkah demikian? "Banyak orang bahkan dokter umum selain dokter THT percaya bahwa operasi amandel harus di atas 6 tahun. Padahal operasi amandel tidak berpengaruh terhadap usia. Saya pernah operasi amandel anak usia 3 tahun," jelas Dr Agus Subagio, Sp.THT, spesialis THT dari RS Puri Indah dalam acara Press Gathering Teknologi Radiofrekuensi untuk Tonsilektomi Penanganan Penyakit Amandel di RS Puri Indah, Jakarta, Kamis (17/3/2011). Dr Agus mengatakan masih banyak mitos tentang amandel yang beredar di masyarakat, antara lain:

1. Mitos, operasi amandel hanya boleh dilakukan pada anak yang usianya telah mencapai 6-7 tahun.
Faktanya, menurut para ahli tidak ada batasan umur dalam keputusan operasi amandel. "Tapi memang kalau untuk anak dibawah usia 3 tahun kita lebih konservatif, karena rongga tenggoroknya masih sempit," jelas Dr Agus.

2. Mitos, penyakit amandel hanyalah penyakit ringan dan tidak membahayakan.
Faktanya, menurut para ahli walaupun kebanyakan infeksi amandel tidak mengancam jiwa, tetapi bila kuman penyebabnya streptococcus beta hemoliticus, dapat menimbulkan komplikasi penyakit jantung dan ginjal yg berbahaya.
Henti napas saat tidur akibat pembesaran amandel dapat menimbulkan problem kesehatan serius.

3. Mitos, amandel selalu berfungsi sebagai penyaring kuman,sehingga tidak boleh dioperasi.
Faktanya, menurut para ahli fungsi penyaring kuman pada amandel yg telah menjadi sarang kuman sangat minimal bahkan tidak ada lagi. Peran penyaring kuman masih dapat digantikan oleh organ penyaring kuman lainnya di sekitar tenggorok.

4. Mitos, operasi amandel adalah operasi kecil yang tidak ada risiko sama sekali
Faktanya, menurut para ahli operasi amandel adalah operasi kecil yang tidak ada risiko sama sekali.

Tonsil atau amandel adalah benda bulat mirip bakso yang posisinya berada di belakang kiri dan kanan tenggorokan. Ukuran amandel juga beragam, mulai dari sebesar kelereng hingga seukuran bola pimpong. Amandel merupakan bagian tubuh yang berfungsi sebagai penghadang agar kuman tidak mudah masuk ke saluran pernapasan manusia. Amandel pada orang sehat akan berwarna sesuai dengan warna jaringan disekitarnya dan berpermukaan rata. Sedangkan pada orang yang mengalami tonsilitis (infeksi atau radang tonsil) warnanya bisa menjadi kemerahan atau terdapat bercak putih pada amandel dan ukuran tonsil kemudian membesar.

Tonsilitis (radang amandel) bisa mengakibatkan sakit tenggorokan kronis atau berulang, bau mulut, gangguan menelan, tersumbatnya jalan pernapasan bagian atas (yang ditandai dengan dengkuran), hingga terhentinya pernapasan saat tidur.
Sesuai dengan berbagai tingkatan kondisi penyakit amandel, penanganan tonsilitis (radang tonsil) sangatlah beragam, mulai dari terapi obat hingga operasi pengangkatan tonsil atau amandel sebagai solusi akhir.


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 8:59 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 8:56 am

OPERASI AMANDEL YANG MINIM SAKIT DAN LEBIH CEPAT SEMBUH
Kamis, 17/03/2011 16:46 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk penanganan penyakit amandel, mulai dari terapi obat hingga operasi sebagai solusi terakhir. Kini juga ada operasi amandel moderen dengan teknik radiofrekuensi yang memungkinkan pasien lebih cepat sembuh dan minimal rasa nyeri. Tonsil atau amandel adalah benda bulat mirip bakso yang posisinya berada di belakang kiri dan kanan tenggorokan. Ukuran amandel juga beragam, mulai dari sebesar kelereng hingga seukuran bola pimpong.

Amandel merupakan bagian tubuh yang berfungsi sebagai penghadang agar kuman tidak mudah masuk ke saluran pernapasan manusia. Amandel pada orang sehat akan berwarna sesuai dengan warna jaringan disekitarnya dan berpermukaan rata. Sedangkan pada orang yang mengalami tonsilitis (infeksi atau radang tonsil) warnanya bisa menjadi kemerahan atau terdapat bercak putih pada amandel dan ukuran tonsil kemudian membesar.

"Tonsil bahasa awamnya amandel yang merupakan jaringan limfoid, berfungsi sebagai sistem pertahanan tubuh. Tapi kalau terjadi infeksi atau radang, amandel akan membesar," jelas Dr Agus Subagio, Sp.THT, spesialis THT dari RS Puri Indah dalam acara Press Gathering Teknologi Radiofrekuensi untuk Tonsilektomi Penanganan Penyakit Amandel di RS Puri Indah, Jakarta, Kamis (17/3/2011). Tonsilitis (radang amandel) bisa mengakibatkan sakit tenggorokan kronis atau berulang, bau mulut, gangguan menelan, tersumbatnya jalan pernapasan bagian atas (yang ditandai dengan dengkuran), hingga terhentinya pernapasan saat tidur.

Sesuai dengan berbagai tingkatan kondisi penyakit amandel, penanganan tonsilitis (radang tonsil) sangatlah beragam, mulai dari terapi obat hingga operasi pengangkatan tonsil atau amandel sebagai solusi akhir. "Karena amandel sebenarnya mempunyai manfaat untuk tubuh, maka operasi dilakukan bila efek buruknya lebih besar dibandingkan manfaatnya," lanjut Dr Agus. Dr Agus menjelaskan ada dua macam operasi amandel, yaitu cara tradisional dan cara modern.

Cara tradisional
1. Teknik Guillotine
Yaitu dengan menggunakan pisau potong. Operasi dengan teknik ini bisa cepat tapi komplikasinya sangat besar, sehingga teknik ini sudah jarang dilakukan.

2. Teknik Diseksi
Yaitu dengan dijepit kemudian dipotong. Teknik ini juga dapat menyebabkan perdarahan yang lebih nyeri.

Cara modern
1. Teknik Elektrokauter
Teknik ini lebih cepat tapi panas yang dihasilkan sangat tinggi mencapai 400-600 derajat C, sehingga dapat terjadi kerusakan jaringan yang hebat pasca operasi.

2. Teknik Microderider
Teknik dengan menggunakan alat yang diputar dan bila terjadi perdarahan langsung disedot. Tetapi kelemahannya harga alat masih mahal.

3. Teknik Radiofrekuensi
Teknik operasi dengan menggunakan energi temperatur rendah (40-70 derajat C), berbeda dengan teknik elektrokauter yang menggunakan energi dengan temperatur mencapai 400 derajat C. Teknik radiofrekuensi menggunakan gelombang radio pada frekuensi 1,5-4,5 MHz.

Hingga saat ini kebanyakan dokter THT khususnya di Indonesia menggunakan cara konvensional untuk prosedur operasi amandel, yaitu dengan teknik Guillotine dan teknik diseksi. Namun sejak satu dekade terakhir, diperkenalkan cara baru dengan menggunakan teknologi mutakhir dalam operasi pengangkatan tonsil, yaitu dengan menggunakan teknik radiofrekuensi. "Para penderita amandel kategori kronis dapat menjalani prosedur tonsilektomi, yaitu pengangkatan amandel menggunakan radiofrekuensi yang memberikan tingkat kenyamanan yang jauh di atas prosedur bedah konsensional, bahkan dengan proses pemulihan yang lebih cepat," jelas Dr Agus. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di beberapa negara, disimpulkan bahwa penggunaan radiofrekuensi dalam tonsilektomi (pengangkatan tonsil) memiliki beberapa keuntungan, diantaranya:

- Waktu operasi lebih singkat
- Jumlah perdarahan saat operasi lebih sedikit
- Nyeri pasca operasi lebih ringan
- Kemungkinan perdarahan pasca operasi lebih kecil
- Penyembuhan luka operasi lebih singkat
- Biaya relatif lebih murah dibanding beberapa teknik modern lainnya
- Lebih aman

"Selain itu, radiofrekuensi tidak hanya digunakan untuk operasi amandel, tetapi juga dapat digunakan untuk mengatasi masalah lain seputar THT seperti mengecilkan konka pada kasus hidung sering tersumbat, melebarkan tenggorok pada pasien Obstructive Sleep Apnea (OSA), mendengkur, mengecilkan dasar lidah (pada pasien OSA) dan mimisan berulang yang tidak sembuh-sembuh karena obat," jelas Dr Agus.


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 9:00 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 8:56 am

GANGGUAN AMANDEL PENGARUHI KECERDASAN ANAK
SABTU, 19 MARET 2011, 09:15 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Lutfi Dwi Puji Astuti
VIVAnews - Jangan sepelekan penyakit amandel pada anak. Dalam kondisi buruk, efeknya bisa sangat membahayakan kesehatan dan memengaruhi tingkat kecerdasan anak. Ukuran amandel yang membesar akan memperburuk kualitas tidur anak. Amandel membuat pasokan oksigen ke otak berkurang. "Apalagi jika pembesaran amandel sudah menyebabkan masalah henti napas. Anak akan sering terbangun mencari posisi yang enak untuk bernapas. Meski 10 jam waktu tidur di malam hari, tetap saja tidurnya menjadi tidak berkualitas," kata Spesialis THT RS Puri Indah Kembangan, dr Agus Subagio Sp.THT.

Jika tidur di malam hari tidak berkualitas, kondisi tubuh anak cenderung lemas di siang hari. Selain kantuk, kondisi ini juga membuat anak sulit konsentrasi menerima pelajaran. “Inilah yang menjadi pemicu kecerdasan anak menurun," ujarnya. Gangguan tidur akibat amandel juga bisa menghambat pertumbuhan anak. Ini lantaran masalah henti napas yang dialami anak saat tidur, bisa menghambat produksi hormon pertumbuhan (growth hormone). "Hormon pertumbuhan keluar saat anak tidur. Namun, jika anak sering terbangun saat tidur, hormon pertumbuhan bisa terganggu."

Gangguan hormon pertumbuhan juga memiliki efek lanjutan, yakni membuat anak tidak nafsu makan, mudah muntah. Ini membuat gizi anak tidak tercukupi sempurna yang pada akhirnya juga menghambat pertumbuhan dan perkembangannya.
Fungsi amandel memang sangat bermanfaat sebagai penghadang agar kuman tidak mudah masuk ke saluran pernafasan. Tapi, jika amandel bermasalah, segera lakukan pengangkatan. Meski usia anak masih sangat kecil. “Syaratnya tubuh anak harus dalam kondisi sehat dan fit serta tidak terjadi kontraindikasi. Dan jangan khawatir, jika amandel sudah dibuang, fungsi amandel sebagai penyaring kuman bisa digantikan dengan organ lain yang ada di sekitar tenggorok,” ujarnya.

• VIVAnews


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 9:01 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 8:57 am

BAHAYA AMANDEL PADA ANAK
JUM'AT, 18 MARET 2011, 10:39 WIB Petti Lubis, Lutfi Dwi Puji Astuti
VIVAnews - Penderita tonsilitas atau lebih popular dikenal dengan istilah penyakit amandel umumnya dialami anak-anak usia 5-15 tahun. Kondisi amandel yang menyerang anak bisa berbeda-beda. Keluhan amandel yang ringan biasanya muncul saat daya tahan anak drop. Namun, dalam kondisi parah, pengangkatan amandel seringkali perlu dilakukan oleh dokter THT. Tapi, mengapa anak-anak rentan mengalami penyakit amandel,dan apa penyebabnya?

Tonsil atau amandel, sebagai benda bulat yang posisinya berada di belakang kiri dan kanan tenggorokan, merupakan bagian tubuh yang berfungsi sebagai penghadang agar kuman tidak mudah masuk ke saluran pernapasan manusia. Ukuran amandel juga beragam, mulai dari sebesar kelereng hingga seukuran bola ping pong. Amandel pada orang sehat akan berwarna sesuai dengan warna jaringan di sekitarnya dan memiliki permukaan rata. Sedangkan pada mereka yang mengalami tonsillitis (infeksi atau radang amandel) warnanya bisa menjadi kemerahan atau terdapat bercak putih pada amandel, dan ukuran amandel kemudian membesar.

Masalah peradangan dan infeksi amandel ini bisa mengakibatkan sakit tenggorokan kronis atau berulang, bau mulut, gangguan menelan, tersumbatnya jalan pernapasan bagian atas yang ditandai dengan dengkuran hingga terhentinya jalan pernapasan saat tidur. “Ini yang membahayakan pasien, dan biasanya anak-anak sangat rentan mengalami penyakit amandel, karena daya tahan tubuh mereka yang masih rendah,” kata Spesialis THT, Dr Agus Subagio, Sp. THT dari RS Puri Indah Kembangan.

Masalah infeksi dan radang amandel disebabkan oleh masuknya mikroorganisme (bakteri dan virus) yang menyerang tenggorokan. Dan berdasarkan waktu berlangsungnya, radang dan infeksi amandel bisa berlangsung lama sesuai kondisinya. Jika kondisi infeksi dan peradangan sudah akut, ketika radang berlangsung kurang dari 3 minggu, dan dalam kondisi kronis jika frekuensi infeksi mencapai 7 kali setiap tahun atau 10 kali dalam 2 tahun ataupun 3 kali dalam 1 tahun selama 3 tahun berturut-turut.

Gejala yang dialami penderita juga beragam, mulai dari tenggorokan yang terasa kering, rasa nyeri saat menelan, demam terkadang diikuti flu,pilek, sakit kepala, bau mulut, mual, dan pembesaran kelenjar getah bening di sekitar leher. “Radang amandel yang tidak segera ditangani akan menimbulkan berbagai komplikasi seperti infeksi pada telinga, dan sinus, abses atau bisul pada tenggorokan sehingga harus dilakukan operasi untuk mengeluarkan nanah, hingga gangguan pertumbuhan pada anak,” katanya.

Agar anak-anak terhindar dari penyakit amandel, orangtua perlu waspada, jangan sampai anak-anak mudah terpapar virus dan bakteri. Sebab, kekebalan tubuhnya masih rendah, anak akan mudah mengalami infeksi. Jika infeksi berulang, maka akan menekan system pertahanan tubuh. “Infeksi saluran napas adalah infeksi paling sering dialami anak dan paling mudah menular pada anak. Jika sering terjadi infeksi, amandel akan membesar bahkan bengkak yang bisa menghambat saluran pernapasan,” kata Agus. Agus juga menyarankan, agar anak terhindar dari masalah infeksi berulang, caranya jalani pola hidup bersih, hindari anak dari orang-orang atau lingkungan yang banyak dihuni oleh penderita flu, dan selalu cuci tangan.

• VIVAnews


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 9:02 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 8:58 am

NYAMAN & AMAN ANGKAT AMANDEL DENGAN RADIOFREKUENSI
Senin, 28 Maret 2011 - 14:37 wib Fitri Yulianti - Okezone
PENDERITA tonsilitis atau lebih populer dengan penyakit amandel sudah sejak lama ditemui di masyarakat Indonesia. Pengobatan dengan radiofrekuensi ditengarai menjadi solusi masalah amandel. Meski arus informasi semakin deras, berbagai mitos hingga kini masih membayangi sebagian besar masyarakat Indonesia mengenai amandel, seperti amandel memengaruhi kecerdasan anak, amandel kembali membesar setelah dioperasi, atau anak kecil tidak boleh dioperasi.

“Memberikan pemahaman yang benar akan permasalahan seputar tonsil sangat diperlukan bagi masyarakat, agar tidak ada keraguan dalam upaya menanggulangi penyakit amandel yang diderita, sehingga gangguan tonsil dapat diatasi secara dini dan tuntas,” jelas Dr Agus Subagio Sp. THT pada talkshow “Radiofrekuensi untuk Tonsilektomi, Penanganan Modern Penyakit Amandel” di RS Puri Indah, belum lama ini.

Operasi amandel adalah operasi yang paling sering dilakukan oleh dokter THT. Sesuai dengan berbagai tingkatan kondisi penyakit amandel, penanganan tonsillitis (radang tonsil) sangatlah beragam, mulai dari terapi obat hingga operasi mengangkat tonsil atau amandel sebagai solusi akhir.

Metode penanggulangan yang terakhir disebutkan, yaitu melalui operasi, kini telah ditunjang oleh teknologi dan perangkat mutakhir yang mengurangi dampak risiko dan sangat meringankan bagi pasien, sekaligus dapat mematahkan berbagai mitos mengenai amandel yang sering kali memberikan persepsi negatif mengenai penyakit ini berikut penanggulangannya.

Mitos dan fakta
Tonsil atau amandel, sebagai benda bulat mirip bakso yang posisinya berada di belakang kiri dan kanan tenggorokan, merupakan bagian tubuh yang berfungsi sebagai penghadang kuman agar tidak mudah masuk ke saluran pernafasan manusia. Ukuran tonsil ini juga beragam, mulai dari sebesar kelereng hingga seukuran bola pimpong.

Tonsil pada orang sehat akan berwarna sesuai dengan warna jaringan di sekitarnya dan berpermukaan rata. Sedangkan pada mereka yang mengalami tonsillitis (infeksi atau radang tonsil) warnanya bisa menjadi kemerahan atau terdapat bercak putih pada amandel, dan ukuran tonsil kemudian membesar. Tonsilitis bisa mengakibatkan sakit tenggorokoan kronis atau berulang, bau mulut, gangguan menelan, tersumbatnya jalan pernafasan bagian atas (yang ditandai dengan dengkuran), hingga terhentinya pernapasan saat tidur.

Tonsilitis disebabkan oleh masuknya mikroorganisme (bakteri dan virus) yang menyerang tenggorokan. Dan berdasarkan waktu berlangsungnya, tonsillitis dapat dibagi menjadi dua kondisi, yaitu tonsillitis akut, di mana radang berlangsung kurang dari tiga pekan dan tonsillitis kronis yaitu jika frekuensi infeksi mencapai 7 kali setiap tahun atau 10 kali dalam 2 tahun ataupun 3 kali dalam 1 tahun selama 3 tahun berturut-turut.

Gejala yang dialami oleh penderita tonsillitis juga beragam, di antaranya tenggorokan terasa kering, rasa nyeri saat menelan, demam terkadang diikuti flu, pilek, sakit kepala, bau mulut, mual dan pembesaran kelenjar getah bening di sekitar leher. Radang tonsil yang tidak ditangani akan menimbulkan berbagai komplikasi seperti infeksi pada telinga dan sinus, abses pada tenggorokan sehingga harus dilakukan operasi untuk mengeluarkan nanah, hingga gangguan pertumbuhan pada anak.

Pengobatan dengan radiofrekuensi
Penanggulangan tonsillitis dapat dilakukan dengan beberapa tahapan, dimulai dari terapi obat antibiotik untuk mematikan bakteri dan/atau virus yang menyerang. Sedangkan untuk kasus dimana tonsil yang terinfeksi ukurannya kian membesar sehingga mengganggu jalan pernafasan dan jalan makan, serta apabila tonsil sudah menjadi sarang kuman sehingga infeksi kerap berulang, maka penderita harus atau dipertimbangkan untuk dilakukan operasi pengangkatan amandel. Alasan lain operasi pengangkatan amandel adalah ukuran amandel yang terlalu besar hingga mengganggu jalan nafas yang ditandai dengan tidur mendengkur dan henti nafas saat tidur (sleep apnea).

Hingga saat ini, kebanyakan dokter THT khususnya di Indonesia menggunakan cara konvensional untuk prosedur operasi amandel, yaitu dengan teknik Guillotine dan dan teknik diseksi. Namun sejak satu dekade terakhir, diperkenalkan cara baru dengan menggunakan teknologi mutakhir dalam operasi pengangkatan tonsil, yaitu dengan menggunakan teknik radiofrekuensi.

Radiofrekuensi merupakan perangkat yang menggunakan energi temperatur rendah (40-70 c), berbeda dengan teknik elektrokauter yang menggunakan energi dengan temperatur mencapai 400 c. Radiofrekuensi menggunakan gelombang radio pada frekuensi 1,5-4,5 MHz. Gelombang radio yang dihasilkan dari unit generator akan dialirkan ke elektroda yang bersentuhan dengan organ yang akan dioperasi. Energi radio akan memecah ikatan kimia di jaringan dan pada akhirnya mengakibatkan pemotongan dan pembekuan jaringan. Karena proses ini terjadi pada suhu rendah, jaringan sekitar yang rusak akan minimal.

“Para penderita amandel kategori kronis dapat menjalani prosedur tonsilektomi yaitu pengangkatan amandel menggunakan radiofrekuensi yang memberikan tingkat kenyamanan yang jauh di atas prosedur bedah konvensional, bahkan dengan proses pemulihan yang lebih cepat,” urai Dr Agus. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di beberapa negara, disimpulkan bahwa penggunaan radiofrekuensi dalam tonsilektomi memiliki beberapa keuntungan, di antaranya durasi operasi lebih singkat, pendarahan lebih sedikit, dan nyeri pascaoperasi yang lebih ringan karena tidak terdapat luka operasi yang terbuka.

Teknologi menggunakan radiofrekuensi sendiri tidak semata dipergunakan untuk tonsilektomi, tapi dapat pula digunakan untuk operasi guna mengatasi permasalahan lain seputar THT seperti mendengkur dan konka hidung yang membesar (hipertrofi) yang berakibat tersumbatnya hidung. Alat radiofrekuensi ini telah menjadi salah satu perangkat yang digunakan oleh dokter ahli THT di klinik THT RS Puri Indah, yang didukung oleh dokter spesialis & berbagai subspesialis THT untuk penanganan beragam penyakit dan gangguan THT.

“RS Puri Indah kembali memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat pada tingkatan yang lebih maju, terutama dalam pemecahan masalah seputar THT dengan selalu berupaya mengadopsi teknologi terbaru di bidang kesehatan yang tidak semata memberikan alternatif solusi kesehatan bagi masyarakat, namun juga senantiasa mengedepankan keselamatan dan kenyamanan bagi pasien dan keluarga”, ungkap Dr Yanwar Hadiyanto, CEO RS Pondok Indah Group dalam siaran persnya.


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 9:03 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 8:59 am

GIGIT KUKU
Kebiasaan menggigit kuku biasanya terjadi bersamaan dengan kebiasaan lain yang di kategorikan Body Focused Repetitive Behaviour ( BFRB ) seperti memilin dan mencabuti rambut serta meremas kulit. Pada anak laki laki, kebiasaan menggigit kuku berkembang terutama setelah usia 10 tahun. Mereka juga lebih sering menggigit kuku ketimbang anak perempuan pada usia yang sama. Diperkirakan sepertiga dari anak anak usia 7-10 tahun suka menggigit kukunya. Walaupun lebih sering disepelekan dan dianggap wajar, terkadang orangtua merasa risih dengan kebiasaan menggigit kuku pada anaknya. Menggigit kuku bisa jadi bukan suatu kebiasaan yang normal, melainkan semacam penyimpangan perilaku yang mungkin memerlukan konsultasi dan pemeriksaan patologis.

Ketika memergoki anaknya sedang menggigiti kuku, orangtua tidak perlu marah atau memaksa anaknya menghentikan kebiasaannya itu. Marah tidak akan menyelesaikan masalah, sebab kadang si anak sendiri tidak mengerti kenapa dirinya punya kebiasaan semacam itu. Daripada marah marah sebaiknya mencoba mengalihkan perhatian anak pada aktivitas lain, misalnya mengajak main ular tangga atau bermain puzle. Cermati bahwa anak anak biasanya akan menggigiti kukunya lebih sering ketika mereka sedang ada masalah di sekolah ataupun dengan temannya. Anak anak mungkin akan menghentikan kebiasaannya itu, jika saja mereka paham akan faktor pemicunya. Karena itu penting untuk mengajarkan anak memilih metode penanganan yang tepat untuk membantunya keluar dari masalah. Jangan dibiarkan begitu saja, sebab bila berkelanjutan bisa berdampak pada penurunan prestasi atau bahkan tidak punya teman di sekolah. Masalah dalam keluarga juga bisa menjadi pemicu, misalkan ganti pengasuh, pindah rumah, habis dipukul orang, pindah sekolah.

Sumber: Seputar Indonesia Selasa 28 April 2009


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 9:32 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 9:00 am

MENGATASI KEBIASAAN ANAK GIGIT KUKU
Wednesday, 02 March 2011 Seputar Indonesia
Tidak perlu memarahi anak yang punya kebiasaan menggigit kuku karena perilaku tersebut biasanya dilakukan tanpa sadar. Bicarakan secara lembut dan bantu dia mengatasinya. Buah hati Anda memiliki kebiasaan menggigiti kukunya? Mungkin berbagai cara sudah Anda coba untuk menghentikannya. Mulai dari memberi tahu dengan lembut, memarahi, membentak, hingga mengancam. Namun, sama seperti orang dewasa, menghentikan kebiasaan itu bukanlah hal yang mudah. Butuh waktu, ketekunan, dan kesabaran untuk mendapatkan perubahan yang diinginkan.

Anak sering menggigit kukunya untuk sejumlah alasan. Misalnya karena penasaran, untuk membuang kebosanan, menghilangkan stres, atau karena memang kebiasaan saja. Menggigit kuku adalah yang kebiasaan yang paling umum dilakukan dalam keadaan gugup atau gelisah, termasuk mengisap jempol, menggosok hidung, memilin rambut, atau gigi gemeretak. Biasanya, kebiasaan tersebut bisa berlanjut hingga dewasa. Dari persentase pelaku diketahui, sekitar sepertiga dari anak yang duduk di bangku sekolah dasar dan setengah dari para remaja menggigit kuku mereka. Antara seperempat hingga sepertiga dari mahasiswa mengakui masih menggigit kukunya. Menggigit kuku sering kali merupakan cara untuk melepaskan ketegangan yang intens namun hanya sementara, pada masa kanak-kanak. Semua anak umumnya memiliki perasaan gelisah.

Belajar sesuatu yang baru di sekolah atau merasa malu berada di sebuah pesta atau di tempat bermain umum bisa jadi pemicunya. Jika anak menggigit kukunya, terutama pada saat-saat seperti ini, mungkin itu hanya caranya mengatasi stres atau menghibur dirinya sendiri. Dalam hal ini Anda tidak perlu terlalu khawatir. Dalam semua kemungkinan, anak prasekolah Anda akhirnya nanti akan berhenti sendiri. Tetapi jika hobi menggigit kukunya berlangsung lebih lama daripada yang Anda inginkan atau jika kebiasaan tersebut tidak bisa Anda tolerir lagi, ada sejumlah cara sederhana untuk membantunya berhenti. Yang pertama, Anda harus mempertanyakan kegelisahan apa yang dia alami.

“Tanggapan awal orang tua ketika anak-anak mulai melakukan sesuatu yang dianggap mengkhawatirkan adalah mencoba untuk menghentikan perilaku tersebut. Itu sebenarnya baik sebagai tujuan jangka panjang,” kata pakar pengasuhan keluarga Janis Keyser yang juga penulis pendamping buku Becoming the Parent You Want to Be. ●rendra hanggara


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 9:33 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 9:01 am

CARA HENTIKAN KEBIASAAN GIGIT KUKU
Merry Wahyuningsih - detikHealth - Selasa, 01/06/2010 17:15 WIB
Jakarta, Beberapa orang mungkin suka menggigit kuku karena alasan bosan, cemas, stres atau perilaku kompulsif (kebiasaan yang berulang-ulang). Kebiasaan menggigit kuku bisa membahayakan kesehatan. Bagaimana cara menghentikannya? Menurut studi Operant Learning Principles Applied to Nail Biting yang dilakukan oleh Terry M. McClanahan, kebiasaan menggigit kuku terjadi 28-33 persen pada anak-anak usia 7-10 tahun, 44 persen remaja, 19-29 persen dewasa muda dan 5 persen pada dewasa tua. Kadang-kadang kebiasaan menggigit kuku juga dikenal sebagai onychophagia kronis, yang harus dirawat oleh dokter atau penyedia layanan kesehatan mental, karena sering kali kebiasaan ini dapat merusak. Tangan dan kuku merupakan sarang kuman, bakteri, virus atau jamur. Oleh karena itu, kebiasaan menggigit kuku harus segera dihentikan karena kebiasaan buruk ini dapat membahayakan kesehatan. Seperti dilansir dari Ehow, Selasa (1/6/2010), berikut 10 cara untuk menghentikan kebiasaan menggigit kuku:

1. Keinginan berhenti
Kebiasaan menggigit kuku adalah masalah mental, sama halnya dengan kebiasaan merokok atau menurunkan berat badan. Maka untuk mematahkannya, terlebih dahulu Anda harus berniat untuk berhenti.

2. Identifikasi masalah
Bila kebiasaan menggigit kuku terjadi pada anak, pertama identifikasi penyebab kebiasaan tersebut. Seringkali stres adalah penyebab utama menggigit kuku pada anak. Maka dengan membantu mengatasi stres, Anda juga akan dapat menghentikan kebiasaannya menggigit kuku.

3. Perhatikan diri ketika sedang menggigit kuku
Dengan duduk di depan kaca dan memperhatikan diri Anda sendiri, akan terlihat betapa tidak menariknya Anda ketika sedang menggigit kuku. Ini akan membantu mengurangi kebiasaan Anda.

4. Membuat tangan tetap sibuk
Ketika Anda merasakan godaan untuk menggigit kuku, cobalah untuk membuat tangan dan jari tetap sibuk, misalnya dengan menulis atau melakukan sesuatu yang membuat jari tetap bergerak.

5. Kunyah permen karet
Dengan membuat mulut dan gigi sibuk pun dapat mencegah menggigit kuku. Mengunyah permen karet bebas gula dapat membuat gigi Anda tetap sibuk dan lupa untuk menggigit kuku.

6. Rawat kuku dengan baik
Menjaga dan merawat kuku adalah trik psikologi terbaik untuk menghentikan kebiasaan menggigit kuku, terlebih lagi jika Anda merawatnya di salon dengan perawatan khusus, yaitu manicure. Melihat kuku yang rapi, bersih, segar dan indah akan membuat Anda sayang untuk merusak keindahan tersebut, sehingga lambat laun dapat menghentikan kebiasaan menggigit kuku.

7. Potong pendek kuku
Kuku yang pendek jelas akan mencegah Anda untuk menggigit kuku, karena tidak ada kuku yang bisa Anda gigit.

8. Menggunakan cat atau lotion anti menggigit kuku
Beberapa apotek menjual cat atau lotion anti menggigit kuku. Ini adalah semacam cat kuku yang akan membantu Anda menahan diri menggigit kuku. Bila tanpa sadar menggigit kuku yang dioleskan dengan cat kuku ini, maka Anda akan merasakan pahit yang mengerikan. Ini akan mencegah 'kereta' otak Anda untuk berhenti menggigit dan mematahkan kebiasaan menggigit kuku.

9. Kenakan karet gelang
Dengan mengenakan karet gelang di pergelangan tangan, maka setiap kali Anda ingin menggigit kuku, tariklah karet gelang dan lepaskan hingga mengenai kulit dan terasa sakit. Hal ini akan membuat Anda jera dan membantu mneghilangkan kebiasaan untuk menggigit kuku.

10. Memberi hadiah
Menghadiahi diri sendiri dan orang lain ketika tidak menggigit kuku dapat juga menjadi cara menghentikan kebiasaan buruk itu. Misalnya, hadiahi diri dan orang lain dengan sesuatu yang kecil seperti permen ketika sanggup tidak menggigit kuku selama 1 jam. Coba terus tingkatkan kemampuan untuk tidak menggigit kuku, hingga akhirnya bisa benar-benar berhenti melakukan kebiasaan buruh itu.


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 9:33 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 9:02 am

GAGAP
Anak gagap pada masa batita sebenarnya akan menghilang sendiri seiring dengan makin berkembangnya kemampuan bicara. Akan tetapi membiarkan anak dengan kegagapannya tidak juga dianjurkan. Gagap adalah suatu gangguan kelancaran bicara yang terjadi akibat ketidak seimbangan antara kecepatan dalam berbicara dan kecepatan berpikir. Penyebabnya sampai sekarang belum dapat dijelaskan secara pasti, namun diyakini tidak tunggal, tetapi merupakan kombinasi yang kompleks antara faktor biologis dan kesalahan dalam proses belajar wicara.

Paling banyak kegagapan ini dimulai sejak usia 18 bulan. Gagap lebih banyak terjadi pada anak laki laki daripada anak perempuan, dengan perbandingan 3:1 Ditandai dengan anak yang mengucapkan sebuah kata diulang ulang, atau anak sulit mengucapkan kata tertentu diawal atau ditengah. Sementara bila terjadi pada anak usia 2-5 tahun, dia akan sering mengulang ulang kata kata atau bahkan seluruh kalimat yang diucapkan kepadanya. Hal ini sebenarnya dianggap normal bila terjadi pada anak yang masih belajar berbicara. Pasalnya, anak pada golongan usia tersebut masih mempelajari cara berbicara, mengembangkan kendali terhadap otot otot berbicara, mempelajari kata kata baru, menyusun kata kata dalam satu kalimat dan mempelajari bagaimana cara bertanya serta mempelajari "akibat" dari kata kata yang mereka ucapkan.
Oleh karena itu, anak pada golongan usia tersebut umumnya masih mengalami gangguan kelancaran berbicara.

Seorang anak mungkin mengalami gangguan kelancaran berbicara selama beberapa minggu atau bulan dengan gejala yang hilang timbul.
Sebagian besar anak akan lancar berbicara dan tidak akan gagap lagi bila kegagapannya itu dimulai pada usia kurang dari 5 tahun. Saat anak mulai memasuki usia sekolah, kemampuan dan keterampilan berbicaranya akan semakin terasah. Umumnya anak akan semakin lancar berbicara dan dia sudah tidak gagap lagi. Jika dia masih gagap, umumnya pada usia tersebut dia sudah mulai merasa malu akan hal tersebut.
Anak seperti ini membutuhkan LATIHAN KHUSUS untuk membantunya berkomunikasi, jangan dibiarkan.

Diketahui, sebanyak 10% dari anak anak yang melewati masa periode normal developmental disfluency antara usia 2-5 tahun, memang mengalami gangguan wicara. Sebagian dari anak anak tersebut akan berhasil sembuh, hingga tinggal 1-5% dari anak yang mengalami gangguan tersebut akan menetap hingga dewasa. Tekanan dari orangtua dan lingkungan bisa menjadi pemicu gagap. Perhatian yang berlebihan dari orangtua dan lingkungan karena cara bicara si anak yang gagap, akan membuatnya semakin gugup dan kesulitan untuk keluar dari kebiasaan buruknya. Hukuman yang terlalu keras juga dapat menjadikan anak gagap. Jika anak terlalu sering dimarahi biasanya akan memudahkan mengalami kebiasaan ini. Seorang anak dapat dideteksi mengalami kegagapan jika selama 6 bulan arau 1 tahun menunjukkan gejalanya terus menerus. Biasanya dalam keluarga juga terdapat riwayat orang yang sudah lebih dahulu mengalami kegagapan.

Yang bisa orangtua lakukan:
1. Bantu anak saat dia mencari kalimat yang tepat, jangan kesal dan jangan memarahinya apalagi menggertaknya.
2. Merespons maksudnya, bukan bicaranya. Tunggulah anak selesai bicara saat mengungkapkan sesuatu.
3. Ajaklah anak untuk berbicara lambat dan tenang.
4. Ciptakan suasana yang nyaman dimanapun dia berada.
5. Hindari untuk mengejek, memarahi dan memberikan julukan tertentu atau membiarkan orang lain atau temannya mentertawakannya.
6. Jauhkan anak dari kondisi stress.

Sumber: Seputar Indonesia Selasa 26 Januari 2010


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 9:34 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 9:02 am

7 TEHNIK MENGATASI GAGAP
Vera Farah Bararah - detikHealth - Senin, 05/07/2010 14:45 WIB
Jakarta, Gagap adalah salah satu gangguan berbicara yang bisa menghambat seseorang untuk berkomunikasi dengan yang lainnya. Namun ada beberapa teknik yang bisa dilakukan untuk mengatasi gangguan bicara ini. Sulit bagi orang lain untuk memahami gangguan ini, dan bagi orang yang memilikinya dibutuhkan kesabaran serta usaha yang lebih agar bisa menghentikan gagap. Tapi bukan berarti kondisi ini tidak bisa disembuhkan atau diobati. Sebagian besar orang yang mengalami gagap akibat kurangnya kepercayaan diri, harga diri yang rendah, cemas, takut atau merasa tidak nyaman.

Gagap bisa menjadi masalah yang menyebabkan hambatan dalam kehidupan sehari-hari. Pada akhirnya bisa menyebabkan orang tersebut menghindari tugas-tugas yang membutuhkan kontak sosial, sehingga seringkali menimbulkan perilaku anti sosial dan memperburuk kondisinya.
Seperti dikutip dari Buzzle, Senin (5/7/2010) ada 7 teknik yang bisa dilakukan untuk membantu seseorang menghentikan gangguan bicara gagap, yaitu:

1. Mengidentifikasi penyebabnya
Meskipun terkadang sulit menentukan penyebab pastinya, tapi dengan mengidentifikasi pola yang mendasarinya bisa membantu seseorang mengatasi gangguan ini. Untuk mengatasinya cobalah berlatih artikulasi kata saat sedang sendiri dengan menggunakan bantuan cermin.

2. Berbicara pelan-pelan
Teknik ini adalah salah satu metode yang dipraktekkan untuk menghentikan gagap. Dengan berbicara pelan-pelan akan membantu seseorang membentuk kata-kata dalam pikirannya, sehingga bisa mengurangi stres dan dapat mengucapkan kata dengan benar. Jika praktek ini sering dilakukan, maka lama kelamaan frekuensi gagap akan semakin menurun dan bisa berbicara lebih lancar dan cepat.

3. Menyanyikan kata-kata
Meski belum ada alasan yang bisa diidentifikasi, kebanyakan orang yang gagap tidak menghadapi masalah tersebut saat sedang bernyanyi. Karenanya metode bernyanyi bisa digunakan untuk membantu menghentikan gagap. Cobalah untuk berbicara dengan cara menyanyi, menambahkan beberapa irama pidato memungkinkan orang untuk berkonsentrasi dan menjaga kata-kata yang akan diucapkannya.

4. Bernapas dalam-dalam
Jika pemicu gagap adalah stres, maka bernapas dalam-dalam bisa membantu mengurangi stres. Latihan pernapasan bisa membantu menenangkan dan mengurangi tekanan, serta pernapasan yang benar dapat memberi waktu jeda antara kata-kata.

5. Membaca dengan suara keras
Latihan membaca dengan suara keras saat sedang sendiri bisa membantu mengatasi gagap. Latihan ini secara tidak sadar dapat memberikan seseorang waktu untuk berkonsentrasi pada pengucapannya. Latihan ini juga memberikan nilai tambahan dengan membantu meningkatkan kosa kata, sehingga memberikan kemampuan untuk mengganti kata-kata yang sulit menjadi lebih sederhana.

6. Berpikirlah positif
Pemikiran ini merupakan salah satu hal yang penting, karena dengan berpikiran positif bisa memberikan keberanian dalam mengatasi kesulitan berbicara dan membantu mencapai tujuan. Hal lain yang penting untuk diingat adalah banyak orang yang bisa bebas dari masalah gagap.

7. Datangi terapis jika tak mampu mengatasi sendiri
Jika tidak mampu mengatasinya sendiri, cobalah untuk mencari bantuan profesional. Terapis akan memberikan program-program yang harus dilalui untuk menghentikan gagap.

Berusaha untuk menghentikan gagap bukanlah satu hal yang bisa sukses dalam waktu satu malam saja. Karenanya dibutuhkan kesabaran dan konsisten untuk melihat peningkatan atau kemajuan yang ada. (ver/ir)


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 9:35 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Anak   Fri Aug 06, 2010 9:03 am

DEMAM REMATIK
Demam Rematik adalah suatu peradangan pada persendian (artritis) dan jantung (karditis).

PENYEBAB
Demam rematik biasanya terjadi akibat infeksi streptokokus pada tenggorokan.
Demam rematik bukan merupakan suatu infeksi, tetapi merupakan suatu reaksi peradangan terhadap infeksi, yang menyerang berbagai bagian tubuh (misalnya persendian, jantung, kulit).
Resiko terjadinya demam rematik meningkat pada status gizi yang buruk dan tempat tinggal yang sesak.
Kemungkinan terjadinya demam rematik pada infeksi streptokokus ringan yang tidak diobati adalah 1 diantara 1.000; sedangkan pada infeksi yang lebih berat meningkat menjadi 3 diantar 100.

GEJALA
Gejalanya bervariasi, tergantung kepada bagian tubuh yang meradang.
Biasanya gejala timbul beberapa minggu setelah nyeri tenggorokan akibat streptokokus menghilang.

Gejala utamanya adalah:
- nyeri persendian (artritis)
- nyeri dada atau palpitasi (jantung berdebar) karena karditis
- renjatan/kedutan diluar kesadaran (corea Sydenham)
- ruam kulit (eritema marginatum)
- benjolan kecil dibawah kulit (nodul).

Gejala awal yang paling sering ditemukan adalah nyeri persendian dan demam. 1 atau beberapa persendian secara tiba-tiba menjadi nyeri dan bila disentuh terasa nyeri. Persendian juga mungkin tampak merah, teraba hangat dan membengkak dan mungkin mengandung cairan.
Yang paling sering terkena adalah sendi pergelangan kaki, lutut, sikut dan pergelangan tangan; kadang artritis juga menyerang sendi bahu, pinggul dan persendian kecil di tangan dan kaki.
Jika nyeri pada suatu persendian menghilang, maka akan timbul nyeri pada persendian yang lain, terutama pada anak yang tidak menjalani istirahat baring dan tidak mendapatkan obat anti peradangan.
Kadang nyeri sendi ini sifatnya sangat ringan.
Demam timbul secara tiba-tiba dan bersamaan dengan timbulnya nyeri persendian; demam bersifat turun-naik.
Nyeri persendian dan demam biasanya berlangsung selama 2 minggu dan jarang berlangsung lebih dari 1 bulan.

Peradangan jantung seringkali timbul bersamaan dengan nyeri persendian dan demam.
Pada awalnya, peradangan jantung tidak menimbulkan gejala.
Peradangan pada kantung jantung menimbulkan nyeri dada.
Bisa terjadi gagal jantung, dengan gejala:
- sesak nafas
- mual
- muntah
- nyeri lambung
- batuk kering.
Peradangan jantung menyebabkan anak mudah mengalami kelelahan.

Karditis menghilang secara beratahap, biasanya dalam waktu 5 bulan. Tetapi mungkin saja terjadi kerusakan permanen pada katup jantung sehingga terjadi penyakit jantung rematik.
Yang paling sering terkena adalah katup antara atrium dan ventrikel kiri (katup mitral). Bisa terjadi kebocoran pada katu (regurgitasi katup mitral) atau penyempitan (stenosis katup mitral) atau keduanya.

Korea Sydenham timbul secara bertahap, dalam waktu 1 bulan biasanya korea semakin berat. Anak menunjukkan gerakan yang cepat dan tidak bertujuan, yang menghilang selama tidur. Gerakan tersebut melibatkan setiap otot kecuali otot mata. Wajahnya sering menyeringai.
Pada kasus yang ringan anak tampak kaku dan sedikit mengalami kesulitan dalam berpakaian dan makan.
Pada kasus yang berat, anak sering melakukan hal-hal yang dapat melukai dirinya sendiri (memukul-mukul lengan atau tungkainya sendiri).
Korea biasanya menghilang secara bertahap setelah 4 bulan, tetapi kadang berlangsung selama 6-8 bulan.

Pada saat gejala lainnya menghilang, timbul ruam datar dengan pinggiran yang bergelombang dan tidak disertai nyeri. Ruam ini berlangsung pendek, kadang kurang dari 24 jam. Pada anak yang menderita peradangan jantung biasanya ditemukan benjolan kecil dibawah kulitnya. Nodul ini biasanya tidak menimbulkan nyeri dan akan menghilang dengan sendirinya. Kadang anak mengalami nyeri perut yang hebat dan nafsu makannya berkurang.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya.
Pada pemeriksaan fisik dengan bantuan stetoskop mungkin akan terdengar bunyi jantung tambahan (murmur).

# Pemeriksaan yang biasa dilakukan: Pemeriksaan darah
- jumlah sel darah putih bertambah
- laju endap darah meningkat
- antibodi terhadap streptokokus
# EKG
# Ekokardiogram.

PENGOBATAN
Pengobatan demam rematik memiliki 3 tujuan:
- Menyembuhkan infeksi streptokokus dan mencegah kekambuhan
- Mengurangi peradangan,t erutama pada persendian dan jantung
- Membatasi aktivitas fisik yang dapat memperburuk organ yang meradang.

Jika terjadi infeksi streptokokus (misalnya strep throat), diberikan antibiotik penisilin selama 10 hari.
Kepada anak yang menderita demam rematik diberikan suntikan penisilin untuk membasmi infeksi yang tersisa.

Untuk mengurangi peradangan dan nyeri, diberikan NSAIDs (obat anti peradangan non-steroid) dalam dosis tinggi, terutama jika telah terjadi artritis.
Kadang perlu digunakan obat pereda nyeri yang lebih kuat (misalnya kodein).
Pada karditis yang berat diberikan kortikosteroid (misalnya prednison).

Anak harus menjalani tirah baring. Aktivitasnya harus dibatasi untuk menghindari stres pada sendi yang meradang. Jika jantung juga meradang, anak harus lebih banyak menjalani tirah baring.

Jika terjadi kerusakan katup jantung, maka sepanjang hidupnya penderita akan memiliki resiko menderita infeksi katup (endokarditis).
Sampai usia 18 tahun, untuk membantu mencegah infeksi, kepada anak-anak yang menderita demam rematik sebaiknya diberikan penisilin per-oral (melalui mulut) atau melalui suntikan bulanan.
Anak-anak yang mengalami kerusakan katup jantung harus selalu mengkonsumsi antibiotik sebelum menjalani setiap jenis pembedahan, termasuk pencabutan gigi.

PENCEGAHAN
Cara terbaik untuk mencegah demam rematik adalah gizi yang baik dan pengobatan antibiotik pada setiap infeksi streptokokus.

Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Wed Jul 13, 2011 9:37 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
 

Kesehatan Anak

View previous topic View next topic Back to top 
Page 18 of 67Goto page : Previous  1 ... 10 ... 17, 18, 19 ... 42 ... 67  Next

 Similar topics

-
» Banyak sebab anak lambat bercakap
» DOA MUDAH BERSALIN DAN KESEJAHTERAAN ANAK DALAM KANDUNGAN
» Kesehatan Anak
» Kesehatan Otak
» anak GM mana ya ?

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-