|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Wed Sep 01, 2010 11:37 am | |
| YANG HARUS DIPERHATIKAN SAAT MEMERIKSA PAYUDARA SENDIRI Rabu, 2/6/2010 | 17:14 WIB KOMPAS.com - Jutaan perempuan di Indonesia positif terserang kanker payudara dan sebagian besar terlambat untuk menyadarinya. Sebelum terlambat menyadarinya, segeralah lakukan pemeriksaan dini dengan SADARI. Seseorang yang tak memiliki faktor berisiko tetap saja dapat terkena kanker payudara. Skrining dan deteksi dini adalah alat yang tepat untuk menurunkan risiko kematian yang ditimbulkan oleh penyakit ini.
Hanya sedikit faktor berisiko yang dapat dilakukan untuk menghindari kanker payudara, seperti; hindari melakukan terapi penggantian hormon untuk jangka panjang, memiliki anak sebelum usia 30 tahun, menyusui, menghindari kelebihan berat badan dengan melakuakn olahraga dan diet yang tepat, serta membatasi konsumsi alkohol. Ada data yang menyebutkan bahwa vitamin A, C, dan E dapat melindungi dari kanker payudara, tetapi masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk membuktikan hal itu. Saat ini, yang paling penting untuk setiap perempuan adalah menurunkan risiko dengan melakukan skrining mamogram secara reguler, melakukan SADARI, dan periksa ke dokter secara rutin.
Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) merupakan salah satu cara untuk mendeteksi kelainan pada payudara. SADARI bisa Anda lakukan sendiri di rumah setiap bulan usai siklus haid. Buatlah patokan tanggal untuk melakukan tes SADARI pada tanggal-tanggal yang mudah Anda ingat, seperti bayar tagihan.
Apa yang harus dilihat disadari saat melakukan SADARI? 1. Teraba benjolan. 2. Penebalan kulit. 3. Perubahan ukuran dan bentuk payudara. 4. Pengerutan kulit. 5. Keluar cairan dari puting susu padahal tidak sedang menyusui. 6. Ada rasa nyeri pada payudara tanpa adanya penyebab yang jelas. 7. Pembengkakan lengan atas. 8. Teraba benjolan di ketiak atau leher.
Jika ditemukan kelainan-kelainan seperti tersebut di atas atau terasa ada perubahan dibandingkan dengan keadaan pada bulan sebelumnya, maka segera periksakan diri ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Faktor risiko terjadinya kanker payudara: 1. Mendapat haid pertama pada umur kurang dari 10 tahun. 2. Mengalami mati haid (menopause) setelah umur 50 tahun. 3. Tidak menikah. 4. Tidak pernah melahirkan anak. 5. Melahirkan anak pertama setelah umur 35 tahun. 6. Tidak pernah menyusui anak. 7. Pernah mengalami operasi payudara yang disebabkan oleh kelainan jinak atau tumor ganas payudara. 8. Memiliki anggota keluarga yang menderita kanker.
Sumber: Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Wed Sep 01, 2010 11:43 am | |
| CARA MEMERIKSA PAYUDARA SENDIRI Senin, 30/8/2010 | 16:15 WIB KOMPAS.com - Melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI menjadi langkah awal mendeteksi kelainan pada payudara. Lakukan SADARI secara rutin, yakni setiap bulan pada hari ke-10 terhitung dari awal menstruasi. SADARI bisa dilakukan perempuan sejak berusia 20 tahun. Karena dengan melakukan pemeriksaan dini inilah, kanker payudara bisa dicegah dari risiko yang lebih tinggi. Akan lebih mudah bila Anda melakukan SADARI sehabis mandi. Gerakan meraba atau memijat lembut lebih mudah karena masih adanya sabun yang menempel di kulit, kata ahli onkologi dr Ramadhan, SpBOnk, dalam talkshow Healthy Chit Chat beberapa waktu lalu. Simak caranya:
1. Perhatikan payudara dengan seksama, lihat apakah ada kelainan ataukah normal saja. Caranya ada dua, pertama dengan mengangkat kedua tangan Anda hingga di atas kepala. Kedua, letakkan kedua tangan Anda di pinggang. Cara ini bisa membantu Anda mengenali payudara. Apakah ada perubahan bentuk atau payudara tidak simetris. Anda juga bisa melihat apakah terdapat kerutan pada payudara, kulit berubah seperti kulit jeruk. Jika menemukan tanda ini sebaiknya segera periksa ke dokter.
2. Angkat lengan kiri ke atas kepala untuk melakukan pijatan lembut pada payudara. Gunakan permukaan jari yang rata untuk mengurut payudara. Pastikan untuk menyentuh seluruh bagian payudara. Gunakan pola yang sama setiap bulannya. Meraba, menekan, atau memijat lembut payudara membantu Anda mengetahui apakah ada benjolan atau tidak. Meski tidak semua benjolan adalah kanker, tetap saja, Anda perlu segera periksakan ke dokter untuk mendiagnosa dan mendapatkan penangangan yang lebih tepat.
3. SADARI bisa dilakukan dengan tiga gerakan pijatan. Pertama gerakan arah berputar dengan menyentuh seluruh bagian payudara. Raba payudara dengan gerakan memutar seperti mengelilingi area puting. Gerakan kedua, lakukan SADARI secara sistematis, dengan arah naik dan turun. Pastikan seluruh bagian payudara tersentuh, baik bagian pinggir dan tengahnya. Ketiga, lakukan SADARI dengan gerakan arah keluar dan masuk di setiap bagian payudara.
4. Periksa juga puting Anda dengan menekannya lembut. Pastikan apakah ada cairan yang keluar. Jika puting menjadi lunak, mengeluarkan darah atau cairan, ini pertanda agar Anda segera memeriksakan diri ke dokter. Selain itu ada juga tanda lain seperti puting bersisik, memerah, dan bengkak.
5. SADARI juga bisa dilakukan dengan berbaring. Caranya periksa daerah antara payudara dan ketiak, serta daerah antara payudara dan tulang dada, sambil berbaring. Ulangi semua langkah 3 di atas (gerakan meraba, memijat, dan menekan lembut) untuk payudara sebelah kanan. Waspadai benjolan di sekitar ketiak.
Hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit untuk melakukan SADARI. Jadi, lakukanlah secara rutin setiap bulan. Jika Anda menemukan adanya benjolan permanen, jangan ragu untuk segera memeriksakan diri ke dokter, demi penanganan lebih dini dan lebih tepat untuk mencegah kanker payudara.
Sumber: www.peduliperempuan.com, program Pfizer Woman Care. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Wed Sep 01, 2010 11:44 am | |
| MALU PERIKSA MEMPERPARAH KANKER PAYUDARA Senin, 30/8/2010 | 15:56 WIB KOMPAS.com - Risiko terdiagnosa penyakit mematikan untuk perempuan seperti kanker serviks dan kanker payudara, bisa dihindari. Syaratnya perempuan perlu banyak menggali informasi, dan melakukan deteksi dini sebagai upaya pencegahan. Perempuan juga tak perlu malu memeriksakan diri ke dokter jika mendapati adanya kelainan pada organ tubuhnya.
Mengenai kanker payudara, di Indonesia, umumnya seseorang baru diketahui menderita penyakit berisiko tinggi ini setelah menginjak stadium lanjut. Minimnya pengetahuan ditambah rasa takut dan malu menjadi penyebab utamanya. Padahal dengan menyadari adanya kelainan pada area payudara, risiko penyakit ini bisa dihindari dengan penanganan yang tepat.
Spesialis Bedah Onkologi, dr Ramadhan, SpBOnk, mengatakan perempuan harus lebih peduli untuk memeriksakan dirinya. "Orang Indonesia usia muda mengetahui terkena kanker payudara setelah stadium tiga hingga empat. Jika sudah seperti ini penyakit sudah menyebar ke organ lain di tubuh seperti paru-paru, hati, tulang, dan risikonya lebih besar," tegas dr Ramadhan dalam talkshow bertema Healthy Chit Chat beberapa waktu lalu.
Kenali gejalanya Dijelaskan oleh dr Ramadhan, terdapat gejala awal kanker payudara yang patut diperhatikan perempuan. Seperti adanya benjolan, kelainan kulit, dan atau kelainan pada puting. Namun, katanya, tak semua benjolan adalah kanker, jadi Anda tidak perlu khawatir duluan. Jalan terbaik adalah memeriksakan diri ke dokter untuk mengetahui apa sebenarnya benjolan tersebut.
Lakukan pencegahan dengan deteksi dini Sebagai pencegahan, lakukan pemeriksaan payudara sendiri atau yang dikenal dengan istilah SADARI. Lakukan pemeriksaan ini setiap kali selesai menstruasi (mulai hari ke-10 dihitung dari awal menstruasi). Pemeriksaan dilakukan setiap bulan, dimulai sejak usia 20 tahun. Lakukan pemeriksaan dengan perabaan dengan sedikit menekan di area payudara sehabis mandi sekitar seminggu setelah haid hari pertama.
"Lakukan secara sistematis, yaitu meraba payudara dari atas ke bawah, dan dari tengah ke bagian luar. Cara ini sederhana namun bisa mendeteksi kelainan pada payudara," lanjut dokter yang berpraktik di RS Kanker Dharmais ini.
Cara deteksi lainnya adalah dengan pemeriksaan klinis payudara oleh tenaga medis terlatih atau Clinical Breast Examination/CBE. Jika setelah melakukan SADARI Anda menemukan kelainan pada payudara, lanjutkan dengan CBE. Gunanya untuk memastikan adanya kemungkinan keganasan. CBE pada perempuan usia 20-40 tahun dianjurkan dilakukan tiga tahun sekali. Sedangkan untuk perempuan di atas 40 tahun CBE sebaiknya dilakukan setiap tahun.
Selain SADARI dan CBE, deteksi kanker payudara bisa dilakukan dengan mammografi, pemeriksaan ultrasonography (USG), memperbaiki kebiasaan makan dan berhenti merokok, dan melakukan olahraga serta kontrol berat badan.
Lebih dari 50 persen kanker payudara dapat dicegah dengan cara mengurangi konsumsi lemak, dan memperbanyak makan buah dan sayur. "Jika terdeteksi sejak dini, penanganan akan lebih tepat. Jika terdiagnosa kanker payudara namun belum stadium lanjut, payudara tak perlu diangkat semua tapi hanya dibuang sebagian dengan disinar. Tak usah takut kemoterapi karena memang cara ini mulai ditinggalkan. Penanganannya bisa dengan obat hormonal," jelas dr Ramadhan. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Wed Sep 01, 2010 11:45 am | |
| SADARI LEBIH AWAL 4 GEJALA KANKER PAYUDARA Sabtu, 21 Agustus 2010, 07:16 WIB Petti Lubis, Mutia Nugraheni VIVAnews - Penyebab kematian kedua terbesar pada wanita di Indonesia setelah kanker leher rahim (kanker serviks) adalah kanker payudara. Menurut data dari Rumah Sakit Kanker Dharmais (2009) terdapat 126 kasus kanker payudara dari tiap 100.000 populasi wanita. Sebenarnya, pengidap kanker payudara bisa sembuh. Risiko kematian pun bisa diminimalisir, jika kanker terdeteksi lebih cepat. Untuk itu sebagai wanita Anda harus mengetahui gejala-gejala kanker payudara. Segera periksakan diri ke dokter yang tepat jika Anda menemui gejala berikut.
- Benjolan di payudara Jangan menyepelekan benjolan yang terdapat di payudara sekecil apapun itu. Umumnya, benjolan tidak terasa sakit dan ukurannya hanya sebesar kacang tanah. Tetapi, jika benjolan tersebut merupakan kanker lama-kelamaan ukurannya akan membesar. Lakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) secara teratur. Jika ada benjolan yang mencurigakan segera periksa ke dokter.
- Perubahan bentuk dan warna pada puting Jika ada perubahan bentuk atau warna pada puting susu, Anda juga harus lebih waspada. Biasanya pada pasien kanker payudara puting tertarik ke dalam (retraksi), berwarna merah atau kecoklatan. Keadaan kulit pun mengkerut seperti kulit jeruk.
- Keluar darah dari puting Salah satu gejala kanker payudara adalah keluarnya darah dari puting. Warnanya pun tidak selalu merah bisa juga agak kecoklatan. Untuk itu jika puting mengeluarkan cairan berwarna, segeralah konsultasi ke dokter.
- Pembesaran kelenjar getah bening Pembesaran atau pembangkakan kelenjar getah bening juga salah satu gejala kanker payudara. Jika Anda menemui pembesaran getah bening di ketiak, bengkak pada lengan sebaiknya segera diperiksakan ke dokter.
Ingatlah bahwa Anda yang paling tahu keadaan tubuh Anda. Jika ada perubahan dan Anda mencurigainya jangan tunda untuk segera berkonsultasi dengan dokter. Penanganan yang lebih cepat bisa mengurangi risiko kematian. • VIVAnews |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Wed Sep 01, 2010 11:45 am | |
| AKTIVITAS INI BISA CEGAH KANKER PAYUDARA Selasa, 3 Agustus 2010, 12:40 WIB Petti Lubis, Anda Nurlaila VIVAnews - Temuan pada penelitian yang dilakukan Eropa baru-baru ini memberikan keuntungan pada para ibu rumah tangga. Laporan Epidemiologi dan pencegahan kanker menyatakan, pekerjaan rumah tangga mampu melindungi wanita dari risiko terkena penyakit kanker payudara. Pada riset yang dilansir laman Genius Beauty, peneliti mengamati 200 ribu wanita dari sembilan negara Eropa selama 6,5 tahun. Mereka menganalisis bagaimana wanita menghabiskan 16-17 jam per minggu mengerjakan tugas-tugas rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci dan sejenisnya.
Hasilnya, ternyata aktivitas fisik moderat memberikan manfaat bagi kesehatan wanita lebih baik daripada olahraga intensif di pusat kebugaran. Temuan menunjukkan, pekerjaan rumah tangga mengurangi risiko kanker payudara sebesar 30 persen pada wanita di usia sebelum menopause. Pada wanita yang telah memasuki masa menopause, pekerjaan rumah tangga mengurangi risiko kanker payudara sebesar 20 persen. Jadi, lakukan pekerjaan rumah tangga agar tetap sehat!
• VIVAnews
Last edited by gitahafas on Wed Nov 17, 2010 8:15 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Wed Sep 01, 2010 11:48 am | |
| KANKER PAYUDARA BISA DICEGAH Sabtu, 27/3/2010 | 09:59 WIB Kompas.com - Lebih dari sepertiga kasus kanker payudara sebenarnya tidak harus terjadi bila seorang wanita mau berolahraga lebih sering dan mengurangi konsumsi makanan berlemak. Demikian peringatan yang disampaikan para pakar kesehatan. Terapi pengobatan yang lebih canggih, deteksi dini dan skrining mamogram memang secara dramatis mampu memperlambat kanker, tetapi fokus yang harus dikampanyekan adalah tindakan pencegahan lewat perubahan gaya hidup.
"Apa yang bisa dicapai secara maksimal oleh tindakan skrining telah tercapai. Kita tidak bisa melakukan lebih. Inilah saatnya untuk pindah pada hal lain, yakni perubahan gaya hidup," kata Carlo La Vecchia, kepala divisi epidemiologi dari University of Milan. La Vecchia mengatakan hal tersebut dalam konferensi European Breast Cancer di Barcelona, Spanyol, Selasa (24/3). Menurut International Agency for Research on Cancer, lembaga di bawah WHO, 25-30 persen kasus kanker dapat dicegah.
Dr.Michelle Holmes dari Harvard University, yang pernah melakukan studi mengenai kanker dan gaya hidup, mengatakan selama ini orang lebih sering mengaitkan kanker dengan faktor genetik dibanding gaya hidup. "Gen telah ada sejak ribuan tahun, namun makin lama kasus kanker terus meningkat. Tentu ini tak ada kaitannya dengan gen," kata Holmes.
Para ahli menemukan mayoritas kanker payudara mendapat bahan bakar dari estrogen, hormon yang diproduksi oleh jaringan lemak. Oleh sebab itu para ahli menduga, semakin gemuk seseorang, makin banyak estrogen yang diproduksinya sehingga bisa memberi bahan bakar bagi kanker. Bahkan pada wanita kurus, para ahli yakin olahraga bisa membantu mengurangi risiko kanker karena lemak bisa diubah menjadi otot.
Ketua Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta, ahli bedah onkologi Sutjipto, dalam suatu kesempatan pernah mengatakan kanker payudara kini makin mengarah pada wanita muda. Jika 20 tahun lalu kanker ini lebih banyak menyerang wanita di atas usia 50 tahun, sekarang banyak wanita berusia di bawah 30 tahun yang terkena kanker payudara.
Gaya hidup, termasuk pola makan, kebiasaan merokok, kurang olahraga, termasuk stres dalam menjalani kehidupan sehari-hari, bisa menjadi salah satu penyebab kanker payudara. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Wed Sep 01, 2010 11:51 am | |
| DETEKSI DINI DEMI CEGAH KANKER PAYUDARA KO M P A S / P R I Y O M B O D O Jumat, 15/1/2010 | 04:12 WIB Oleh Indira Permanasari Beberapa perempuan mengenakan baju pemeriksaan semacam kimono pendek silih berganti memasuki ruang Deteksi Dini Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta. Perempuan-perempuan tersebut baru saja selesai menjalani pemeriksaan kesehatan payudara mereka. Salah satunya adalah Ny Oni (56), warga Cipulir, Jakarta Selatan. Sebelumnya, perempuan tersebut rajin memeriksa payudara sendiri sampai suatu hari teraba sebuah benjolan kecil di payudara kanannya.
”Saya langsung ke dokter dan katanya tidak ada apa-apa,” ujarnya. Beberapa bulan kemudian, karena tidak puas, Ny Oni langsung meminta rujukan dari dokter yang sama guna menjalani mamografi. Lewat alat itu juga tidak terdeteksi adanya kelainan. Terganggu oleh benjolan yang dirasakannya, dia memutuskan pergi ke unit Deteksi Dini RS Kanker Dharmais. Di rumah sakit tersebut dia menjalani pemeriksaan oleh dokter, mamografi, dan ultrasonografi (USG).
Menunggu hasil pemeriksaan, hati Ny Oni diliputi kekhawatiran. ”Kalau memang ada penyakit, lebih baik segera ketahuan. Semakin lama menunggu malah sulit penyembuhannya dan biayanya juga besar,” ujarnya. Ny Oni barangkali hanya segelintir dari perempuan yang sadar akan kesehatan payudaranya. Dalam survei yang diselenggarakan oleh Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta selama tahun 2004-2005, hampir 80 persen responden menyatakan belum mengerti pentingnya check up payudara. Tidak terlalu mengherankan jika sekitar 70 persen pasien datang dengan stadium tiga atau empat.
Skrining dan deteksi dini sebetulnya tidak berbicara hanya soal kecurigaan terhadap penyakit tertentu, seperti kanker, melainkan juga pemeliharaan kesehatan payudara secara keseluruhan. Hal itu terutama bagi mereka yang berisiko tinggi, antara lain kelebihan berat badan, berusia di atas 40 tahun, ada saudara yang terkena kanker payudara, dan perokok. Kasus kanker payudara cenderung meningkat 0,5 persen hingga 3,0 persen setiap tahun di semua negara, baik di negara maju maupun sedang berkembang.
Di tengah kondisi tersebut, Ketua Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta Sutjipto mengatakan, skrining dan deteksi dini kanker merupakan rangkaian program penting karena meningkatkan angka survival dan menurunkan angka kematian. Sistem deteksi dini dan skrining yang baik setidaknya menurunkan stadium temuan kanker di masyarakat.
Mamografi masih merupakan standar emas untuk deteksi dini kanker payudara. Layanan itu terutama bagi perempuan berusia di atas 35 tahun yang tidak sedang hamil atau menyusui. Spesialis radiologi dari RS Kanker Dharmais, dr Kardinah, mengatakan, dengan mamografi (proses pemeriksaannya menggunakan sinar-X dosis rendah), dapat dideteksi kanker dengan diameter 0,2 sentimeter.
Di negara berkembang seperti Indonesia, mamografi secara massal masih barang mahal. Untuk individu, sejumlah rumah sakit besar memberikan pelayanan tersebut dengan biaya Rp 150.000-Rp 400.000. Bagi masyarakat miskin, itu masih terhitung mahal. Layanan mamografi juga belum tersedia secara merata di semua daerah dan hanya di rumah sakit tertentu. Gambaran memprihatinkan itu disampaikan anggota DPRD DKI Jakarta, Wanda Hamidah. Pada awal masa kerjanya sebagai anggota DPRD, Wanda berkeliling mengunjungi enam rumah sakit umum daerah (RSUD) di Jakarta. Betapa terkejutnya dia ketika mengetahui rumah sakit selevel RSUD di kota besar seperti Jakarta tidak satu pun mempunyai alat mamografi yang beroperasi.
Walaupun kapasitasnya masih terbatas, sejumlah lembaga seperti Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta dan RS Kanker Dharmais mempunyai unit mamografi keliling. Unit tersebut umumnya memenuhi panggilan instansi, kantor, masuk kawasan perumahan, dan organisasi masyarakat yang ingin mengadakan pemeriksaan payudara massal. Selain itu, dengan bantuan donatur, terkadang diadakan pula pemeriksaan gratis.
Sutjipto mengatakan, kendala penanganan kanker payudara antara lain belum adanya program deteksi massal yang terorganisasi secara maksimal. Dia mencontohkan, di Jepang, misalnya, sudah ada sistem skrining yang terpadu dengan dinas kependudukannya. ”Begitu perempuan memasuki usia 40 tahun, mereka diberi pemberitahuan untuk skrining dan diberi voucer gratis pemeriksaan. Di Indonesia, jika tidak ada uang, setidaknya ada sistem peringatan itu ketimbang menghabiskan ratusan juta rupiah untuk mengobati kanker stadium lanjut,” ujarnya. Seorang pasien Sutjipto mengeluarkan dana Rp 827 juta untuk penanganan kanker payudara stadium IV yang sudah menyebar ke lever dan paru-paru. Pasien itu bertahan, tetapi kualitas hidupnya sudah buruk sekali.
Sistem penanganan Kepala Subdirektorat Penyakit Kanker Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Rini Noviani mengatakan, pihaknya tengah membuat model penanggulangan kanker secara komprehensif. Terdapat uji coba di enam puskesmas di enam provinsi. Pencegahan primer dilakukan dengan mempromosikan gaya hidup sehat, sedangkan pencegahan sekunder berupa suatu rangkaian. Ketika pasien datang ke puskesmas, dilakukan konseling dan pemeriksaan payudara oleh petugas, yaitu bidan atau dokter puskesmas terlatih.
Jika terdapat benjolan, pasien dirujuk ke rumah sakit terdekat di kabupaten. Untuk program berkelanjutan, sedang diupayakan sarana USG di rumah sakit tingkat kabupaten. USG berguna untuk mendeteksi adanya batasan-batasan tumor yang akan sangat bermanfaat dalam pembedahan. Guna memperluas jangkauan mamografi, diupayakan unit keliling. ”Karena keterbatasan dana, akan diusahakan setidaknya satu regional, sekitar empat kabupaten, terdapat satu unit mamografi dan USG diikuti dengan pelatihan bagi dokter radiologi. Setidaknya di satu kawasan terdapat pusat mamografi,” ujar Rini.
Pihaknya juga tengah mempelajari sebuah metode skrining yang berhasil diterapkan di Taiwan. Di negara tersebut dilakukan pemeriksaan klinis payudara oleh tenaga medis (clinical breast examination) yang dilanjutkan dengan pengisian kuesioner oleh pasien yang tidak memiliki benjolan. Terdapat sistem skor yang menentukan apakah perempuan itu berisiko tinggi, sedang, atau rendah.
Mereka yang berisiko sedang dan tinggi akan diminta melakukan mamografi. ”Model ini tampaknya akan sesuai juga untuk Indonesia yang terbatas sumber dayanya sehingga sulit menerapkan mamografi secara luas,” ujarnya.
Dengan berbagai keterbatasan tersebut, peran dan kesadaran perempuan melakukan pemeriksaan payudara sendiri (Sadari) juga perlu dibangun. Sadari dilakukan sendiri oleh perempuan dengan meraba payudara untuk memastikan tidak ada tanda-tanda kelainan. Dengan Sadari teratur, kanker masih dapat ditemukan dalam diameter 1,2 sentimeter. Sementara dengan Sadari yang tidak teratur, kanker dapat ditemukan dengan diameter 2,5 sentimeter. Jika perempuan tersebut kurang terampil melakukannya, kanker yang ditemukan diameternya lebih besar lagi, biasanya sekitar 3,5 sentimeter.
Dokter dan bidan puskesmas menjadi ujung tombak untuk pemeriksaan klinis payudara sekaligus mengedukasi masyarakat mengenai kesehatan payudara agar si pengganggu terdeteksi sejak dini. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Wed Sep 01, 2010 11:52 am | |
| KANKER PAYUDARA KIAN MENGANCAM Senin, 2/6/2008 | 11:36 WIB KANKER payudara tampaknya makin menakutkan saja bagi para wanita. Mereka yang berpotensi mengalami penyakit ini diprediksikan akan terus meningkat. Bila tidak ada perbaikan signifikan dari faktor gaya hidup dan kemajuan teknik pengobatan, para ahli memperkirakan pada tahun 2024 nanti satu dari tujuh wanita akan terkena kanker payudara.
Proyeksi bakal meningkatnya jumlah penderita kanker payudara diungkap sebuah riset terbaru para ahli dari Genesis Breast Cancer Prevention Centre di Manchester, Inggris. Riset menyebutkan, faktor gaya hidup menjadi kunci dalam perkembangan kanker ini. Penelitian juga menyatakan, risiko para wanita yang membawa sejenis gen pemicu kanker payudara di Inggris telah meningkat secara dramatis dalam 60 tahun terakhir.
Di Inggris, saat ini diproyeksikan satu dari 10 wanita mengalami penyakit kanker payudara menjelang usia 80 tahun. Peneliti memperkirakan proyeksi ini akan meningkat menjadi satu dari tujuh wanita mengalami kanker dalam 16 tahun mendatang.
Untuk menekan pertumbuhan risiko kanker payudara, pimpinan riset Professor Gareth Evans menyarankan para wanita untuk menikah lebih awal serta mengindari penggunaan obat-obat hormon dan kontrasepsi dalam jangka panjang. Para ahli juga menganjurkan para wanita lebih rajin berolahraga dan menerapkan pola diet yang sehat.
Dalam risetnya, Evans melibatkan 1.442 wanita yang memiliki gen-gen pemicu kanker payudara, yakni BRCA1 dan BRCA2. Sekitar satu dari 500 orang diyakini memiliki gen yang telah bermutasi yang meningkatkan risiko kanker payudara hingga 85-90 persen.
"Peningkatan kasus kanker payudara ini terefleksi dalam populasi secara umum. Pada 1984 hanya satu dari 13 wanita diproyeksikan mengalami kanker payudara dalam hidupnya. Pada 2004, angkanya mencapai satu dalam 10, dan jika rata-rata ini meningkat diprediksikan pada 2024 nanti satu dari tujuh wanita di Inggris akan mengalami kanker payudara menjelang 80 tahun.
"Ini dapat diartikan bahwa akan ada tambahan korban 4.000 orang yang meninggal bila tidak ada perbaikan signifikan dalam hal pengobatan," ujar Evans yang juga memublikasikan risetnya dalam BMC Cancer Journal. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Wed Sep 01, 2010 12:00 pm | |
| IKUTI LANGKAH INI UNTUK MENGURANGI RISIKO KANKER PAYUDARA Senin, 18/10/2010 08:01 WIB Irna Gustia - detikHealth Jakarta, Mumpung masih di bulan peduli kanker payudara, kaum hawa diingatkan kembali pentingnya menjaga aset kewanitaannya ini. Ikuti beberapa langkah ini agar terhindar dari risiko kanker payudara. Meski sudah menerapkan gaya hidup sehat deteksi dini kanker payudara tetap harus dilakukan karena kanker payudara tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Selain memeriksa payudara sendiri untuk mencari adanya benjolan atau perubahan lain pemeriksaan dengan mamografi atau mammogram bisa lebih meyakinkan kondisi payudara perempuan. Dilansir dari mlive, Senin (18/10/2010) American Cancer Society mengingatkan perempuan untuk mengambil langkah-langkah tertentu untuk mengurangi risiko kanker payudara. Langkah-langkah yang direkomendasikan itu adalah:
1. Perempuan usia 40 tahun atau lebih sebaiknya melakukan pemeriksaan payudara mamografi dan klinis setiap tahun. 2. Wanita usia 20-39 tahun sebaiknya melakukan pemeriksaan payudara setiap 3 tahun. 3. Beberapa wanita berisiko tinggi terkena kanker payudara seperti karena ada keturunan sebaiknya melakukan pemeriksaan yang lebih rinci dengan Magnetic Resonance Imaging (MRI). 4. Perempuan yang berisiko tinggi seperti perempuan yang sudah menikah, mengonsumsi kontrasepsi hormonal, pakai silikon atau operasi plastik pada payudaranya sebaiknya melakukan skrining MRI dan pemeriksaan payudara mamografi dan klinis setiap tahun. 5. Perempuan sebaiknya menjaga berat badan, makan makanan sehat, melakukan aktivitas fisik 45-60 menit 5 kali dalam seminggu, membatasi konsumsi alkohol sebagai cara untuk mengurangi risiko kanker.
Melakukan deteksi dini lebih baik sehingga jika ditemukan ada potensi kanker masih bisa dilakukan pencegahan yang lebih ringan tanpa harus memotong payudara atau berujung pada kematian. Pemeriksaan mamografi memang tidak 100 persen berhasil mendeteksi kanker payudara karena beberapa kanker tidak dapat dideteksi dengan mammogram, namun terdeteksi dengan pemeriksaan payudara sendiri. Rata-rata, mamografi akan mendeteksi sekitar 80 sampai 90 persen kanker payudara pada wanita yang tanpa gejala. Tapi pemeriksaan mamografi ini saat ini adalah cara yang paling efektif untuk mendeteksi kanker lebih dini. Dengan demikian dapat mengidentifikasi kanker payudara sebelum gejala fisik kanker makin berkembang sehingga mudah diobati.
Dr dr Andhika Rachman, SpPD, saat dihubungi detikHealth beberapa waktu lalu menuturkan salah satu cara untuk mendeteksi awal kanker payudara adalah dengan melakukan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) yang dilakukan seminggu setelah menstruasi. Waktu seminggu setelah menstruasi sangat tepat karena pada saat itu hormon estrogen dan progesteron berada pada kadar yang rendah. Hormon estrogen dan progesteron mengontrol dan mempengaruhi besar atau kecilnya payudara. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) adalah melakukan beberapa hal berikut:
1. Perhatikan payudara dengan posisi kedua tangan di atas kepala kemudian kedua tangan di pinggang. 2. Angkat tangan kiri ke atas kepala. 3. Gunakan permukaan jari yang rata untuk meraba atau menekan payudara serta pastikan untuk menyentuh seluruh bagian payudara. Pola yang digunakan bisa dengan gerakan arah memutar, gerakan arah naik dan turun atau arah keluar dan masuk area putting. Usahakan menggunakan gerakan yang sama setiap bulannya. 4. Menekan setiap putting dengan lembut dan memperhatikan apakah ada cairan yang keluar. 5. Memeriksa daerah antara payudara dan ketiak serta payudara dan tulang dada sambil berbaring. 6. Mengulangi semua langkah tersebut untuk payudara yang sebelah kanan.
Jika seseorang memiliki gangguan pada payudaranya, maka akan muncul tanda-tanda sebagai berikut:
1. Jika payudara dipencet, maka akan keluar cairan putih seperti susu yang tidak berbau tapi tidak ada rasa nyeri yang timbul. 2. Kulit payudara tampak seperti kulit jeruk, yaitu mengerut dengan pori-pori kulit yang agak menonjol. 3. Terdapat benjolan yang selalu ditemukan saat memeriksa di daerah sekitar payudara atau di bawah ketiak.
Last edited by gitahafas on Wed Nov 17, 2010 8:15 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Wed Sep 01, 2010 12:05 pm | |
| 11 TANDA RISIKO KANKER PAYUDARA Jumat, 29/10/2010 | 16:49 WIB KOMPAS.com — Sebagian orang merasa baru harus memeriksakan kondisi payudaranya ketika ada seorang dari anggota keluarga terdekatnya yang terkena kanker payudara. Unsur genetis memang memungkinkan seseorang berisiko terkena kanker payudara. Namun, ternyata bukan hanya itu. Menurut International Women's Organization, ada hal-hal lain yang membuat seseorang berisiko terkena kanker payudara. Mereka adalah:
1. Belum pernah melahirkan atau tidak melahirkan sampai berusia 30 tahun. 2. Masa kehamilan, khususnya masa kehamilan pertama, berakhir pada aborsi. 3. Menggunakan pil kontrasepsi sebelum mengalami masa kehamilan penuh atau menggunakan pil kontrasepsi selama sedikitnya 4 tahun. 4. Memiliki riwayat kanker payudara pada keluarga dekat (ibu, kakak perempuan, atau anak perempuan). Risiko lebih besar bila seorang saudara mengalami kanker payudara di kedua sisi sebelum memasuki masa menopause. 5. Memiliki kanker payudara dalam riwayat kesehatan pribadi. 6. Memiliki kanker ovarium atau kanker leher rahim dalam riwayat kesehatan pribadi. 7. Usia: kasus penderita kanker payudara pada perempuan umumnya pada usia di atas 50 tahun. Walau begitu, saat ini sudah mulai banyak orang yang terkena kanker payudara sejak usia 30-an, dan bahkan remaja sekalipun. 8. Mulai menstruasi pada usia muda (sebelum berusia 12 tahun) atau memasuki masa menopause di atas usia 55 tahun. 9. Menjalankan terapi estrogen sedikitnya selama 5 tahun seteleh memasuki masa menopause. 10. Mengonsumsi alkohol yang sangat banyak. 11. Obesitas.
Dalam bincang-bincang dengan wartawan, dr Sutjipto Sp(B) Onk, Ketua Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta (YKPJ), mengatakan, "Sekarang ini kita hidup dalam abad penyakit kanker (cancerous age). Di negara berkembang, bebannya jadi ganda. Secara perlahan tetapi pasti, jumlah penderita kanker di negara kita makin banyak karena negara kita perlahan-lahan menjadi sebuah negara industri. Menurut data WHO, negara industri memiliki penduduk dengan penyakit kanker yang besar. Indonesia sudah diimbau untuk mulai berbuat sesuatu. Saat ini, rasionya sudah meningkat, sudah mencapai 100 : 100.000 penduduk positif kanker payudara. Jadi, 1 dibanding 1.000."
Sebagai tambahan lagi, dokter yang juga bertugas di RS Dharmais ini mengatakan, perempuan yang aktif bekerja hingga malam hari, stres, terkena paparan polusi, pola makan tidak seimbang, dan kurang istirahat juga bisa berisiko terkena kanker payudara.
Last edited by gitahafas on Wed Nov 17, 2010 8:19 am; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Sun Sep 05, 2010 11:40 am | |
| TERAPI HORMON TINGKATKAN KEMATIAN AKIBAT KANKER PAYUDARA Rabu, 20/10/2010 10:30 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth Los Angeles, Terapi hormon banyak dilakukan perempuan untuk meningkatkan kualitas hidup seperti ingin hamil atau mengurangi dampak menopause. Tapi penelitian terbaru menunjukkan bahwa terapi hormon dapat meningkatkan kematian perempuan karena kanker payudara. Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of American Medical Association adalah yang pertama melaporkan kematian akibat kanker payudara di kalangan perempuan yang memakai terapi hormon pengganti.
"Berbeda dengan penelitian dua tahun lalu, pada penelitian ini kita benar-benar menunjukkan bahwa terapi hormon terkait dengan peningkatan risiko kematian akibat kanker payudara," jelas Dr Rowan Chlebowski dari Los Angeles Biomedical Research Institute, yang memimpin studi, seperti dilansir dari Reuters, Rabu (20/10/2010). Dr Chlebowski menjelaskan temuan ini juga termasuk tindak lanjut dari 11 tahun studi dari Women's Health Initiative yang pada tahun 2002 menemukan perempuan pemakai estrogen plus progesteron selama lima tahun memiliki tingkat yang lebih tinggi terkena kanker ovarium, kanker payudara, stroke dan masalah kesehatan lainnya.
Tim Dr Chlebowski menganalisa data lebih dari 12.000 perempuan dalam studi ini. Tim menemukan bahwa terapi hormon meningkatkan risiko perempuan meninggal akibat kanker payudara menjadi dua kali lipat, yaitu menjadi 2,6 per 10.000 per tahun dibandingkan sebelumnya 1,3 per 10.000 perempuan per tahun. Hampir 24 persen pasien yang melakukan terapi hormon mengalami kanker payudara denga tumor yang telah menyebar ke getah bening. "Semua kanker menakutkan dengan prognosis tidak menguntungkan meningkat. Dan kemudian untuk pertama kalinya kami menunjukkan kematian akibat kanker payudara secara signifikan juga meningkat," ungkap Dr Chlebowski. Tapi Dr Chlebowski mengatakan bahwa rata-rata umur perempuan yang dipelajari dari studi Women's Health Initiative adalah 63 tahun, yaitu beberapa tahun dari menopause terakhir.
Last edited by gitahafas on Wed Nov 17, 2010 8:24 am; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Sun Sep 05, 2010 12:01 pm | |
| BOCAH 4 TAHUN BERJUANG LAWAN KANKER PAYUDARA Selasa, 5 Oktober 2010, 06:08 WIB Petti Lubis, Mutia Nugraheni VIVAnews - Kanker payudara tak hanya bisa menyerang wanita muda atau wanita yang telah berumur. Penyakit mematikan tersebut juga bisa menyerang anak berusia empat tahun. Hal itu dialami Aleisha Hunter, dari Ontario, Kanada. Aleisha didianosis terkena kanker payudara bahkan sebelum memasuki masa puber. Kasus yang dialami Aleisha memang sangat langka. Penyakit ini diketahui ibu Aleisha bermula ketika ia melihat benjolan kecil di sisi kiri bagian dada. Kemudian sang ibu mencari perawatan dan berkonsultasi dengan dokter.
Hasil diagnosis medis saat itu adalah peradangan limfatik, karena infeksi bakteri pada kelenjar getah bening. Ketika kondisi Aleisha memburuk, ibunya membawanya ke ruang gawat darurat di salah satu rumah sakit di Toronto, Kanada. Dia diberikan MRI dan biopsi, yang menunjukkan bahwa benjolan itu sebenarnya karsinoma sekresi payudara yang masih kecil. Hanya ada sedikit penelitian tentang kondisi tersebut. Tumor, yang mengeluarkan cairan, dapat ditemukan pada payudara wanita dewasa tapi buka tipe umum tumor. Dokter pun menvonis Aleisha terserang kanker payudara.
Untuk menangani masalah ini secara cepat, Aleisha pun menjalani operasi masektomi secara penuh. Dalam operasi tersebut payudara kiri Aleisha yang belum tumbuh diangkat termasuk puting, areola dan jaringan getah bening di bawah lengan. Hasil operasi berjalan sukses. Tim dokter yang menanganinya mengatakan kemungkinan besar kanker tidak akan muncul kembali. Sharifa Himidan, ahli bedah dan dokter utama dalam kasus Aleisha akan menuliskan laporan prosedural untuk membuat Aleisha dtempatkan dalam sejarah medis internasional.
Meksipun Aleisha sudah bisa dikatakan sembuh, tetapi masih ada kekhawatiran dari ibu Aleisha. Sang ibu justru memikirkan bagaimana putrinya akan mencitrakan dirinya ketika ia mulai beranjak remaja. Menurutnya, Aleisha juga terkadang terlihat frustasi dengan perhatian banyak orang karena penyakit yang dialaminya. Aleisha kini menjadi salah seorang duta untuk melawan kanker payudara. Ia adalah satu dari 4.600 relawan yang berjalan kaki dalam acara tahunan End Women Cancers di Toronto baru-baru ini, yang diselenggarakan Unit penelitian kanker, Rumah Sakit Princess Margaret.
Last edited by gitahafas on Wed Nov 17, 2010 8:01 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Sun Sep 05, 2010 12:03 pm | |
| MITOS SEPUTAR KANKER PAYUDARA Thursday, 18 November 2010 Seputar Indonesia BERIKUT ini adalah 11 mitos mengenai kanker payudara,beserta mitos mengenai berbagai macam jenis penyembuhan kanker payudara.
1 Kanker payudara biasa menyerang perempuan yang lebih tua. Memang benar bahwa risiko kanker payudara meningkat seiring kedewasaan seseorang.Namun,kanker payudara sebenarnya dapat dialami semua usia. Dari usia lahir sampai usia 39 tahun, satu dari 231 perempuan terkena kanker payudara (<0,5% risiko); Dari usia 40-59 tahun,satu dari 25 jiwa (4% risiko); Dari usia 60- 79, terdapat satu dari 15 jiwa (hampir 7%). Penelitian menyebutkan,77% kasus kanker payudara muncul pada usia di atas 50 tahun. Apabila Anda hidup sampai berusia 90 tahun, risiko Anda mengalami kanker payudara selama hidup adalah satu dari 7 jiwa,dengan total keseluruhan risiko 14,3%.
2 Jika Anda memiliki faktor risiko kanker payudara, maka Anda cenderung mengalami penyakit ini. Kanker payudara bukanlah suatu kepastian, bahkan jika Anda memiliki salah satu faktor dari faktor-faktor risiko yang kuat,seperti kelainan gen kanker payudara.Perempuan dengan kelainan warisan genetik BRCA1 atau BRCA2, 40%-80%-nya akan mengalami kanker payudara pada masa hidupnya. Sebaliknya 20%-60%, tidak akan mengalami kanker payudara. Sementara, faktor-faktor risiko lainnya memiliki peluang lebih rendah untuk didiagnosis sebagai kanker payudara.
3 Jika keluarga Anda tidak memiliki riwayat kanker payudara, maka Anda tidak akan mengalami kanker payudara Setiap perempuan berisiko mengidap kanker payudara. Sekitar 80% dari perempuan yang terkena kanker payudara, tidak memiliki riwayat kanker payudara dari keluarganya. Bertambahnya usia—semakin bertambahnya usia organ tubuh—merupakan risiko terbesar kanker payudara. Bagi perempuan yang tidak memiliki riwayat kanker payudara di keluarganya, tingkat risiko mungkin bisa sedikit lebih besar, sangat besar, atau sama sekali tidak lebih besar dari perempuan yang tidak memiliki riwayat kanker payudara.
4 Hanya riwayat kanker payudara dari keluarga ibu saja yang berpengaruh. Riwayat kanker payudara,baik dari ayah maupun ibu Anda,sama besar risikonya.Itu karena setengah gen Anda disumbangkan oleh ibu dan setengahnya lagi oleh ayah Anda.Akan tetapi, seorang pria yang memiliki kelainan gen kanker payudara pada keluarganya,memiliki potensi yang lebih kecil untuk mengalami kanker payudara dibandingkan dengan perempuan dengan gen yang sama.Maka,apabila Anda ingin mempelajari riwayat kesehatan keluarga ayah Anda,Anda harus memperhatikan perempuan-perempuan dari keluarga ayah Anda juga,bukan hanya prianya.
5 Penggunaan antiperspirant (deodoran) dapat berisiko kanker payudara. Tidak ada bukti mendukung pernyataan bahwa bahan aktif yang terdapat pada antiperspirant (deodoran) atau mengurangi keringat pada ketiak Anda dapat memacu risiko kanker payudara.Hubungan antara kanker payudara dan antiperspirant tersebut merupakan informasi yang salah tentang anatomi dan kanker payudara.
6 Penggunaan pil kontrasepsi dapat mengakibatkan kanker payudara. Pil kontrasepsi pada saat ini sudah memiliki kandungan hormon estrogen dan progesterone dalam dosis rendah.Banyak penelitian menunjukkan,tidak ada hubungan antara pil kontrasepsi dan meningkatnya risiko kanker payudara.Penelitian-penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa risiko ini menurun seiring waktu.Jadi,setelah 10 tahun,pil kontrasepsi tidak lagi dikaitkan dengan risiko penyebab kanker payudara.
7 Memakan makanan berlemak dapat menyebabkan kanker payudara. Sejumlah penelitian besar tidak dapat menemukan adanya hubungan antara mengonsumsi makanan berlemak dan risiko kanker payudara. Namun,sejumlah penelitian yang sedang berlangsung masih mencoba untuk mengklarifikasi masalah ini lebih lanjut. Kelebihan berat badan adalah faktor risiko kanker payudara karena lemak yang berlebih dapat meningkatkan produksi estrogen di luar ovarium dan menambah tingkat estrogen dalam tubuh.
8 Periksa payudara Anda sebulan sekali adalah cara terbaik untuk mendiagnosis kanker payudara. Digital mamografi dengan kualitas tinggi adalah cara yang paling akurat untuk menemukan kanker payudara sedini mungkin. Pada saat kanker payudara sudah dapat dirasakan,pada umumnya ukuran payudara akan terasa lebih besar dibandingkan dengan ukuran payudara pada saat pemeriksaan mamografi. Namun begitu,pemeriksaan payudara sendiri atau layanan kesehatan lainnya masihlah penting.
9 Pria bebas dari kanker payudara Pria juga dapat terkena kanker payudara walau persentasenya lebih kecil daripada perempuan.Bahkan,penyebaran kanker payudara pada pria lebih cepat karena jaringan sekitar payudara pria lebih tipis dari perempuan sehingga pada tahap awal mungkin sudah terjadi pelekatan pada jaringan sekitarnya.
10 Penderita tumor di payudara ketika menyusui akan meningkatkan risiko kanker pada anaknya Studi yang dilakukan menunjukkan bahwa sel kanker tidak dapat terbawa melalui menyusui.Sel kanker tidak terdapat pada susu sehingga tidak akan terbawa.
11 Kanker payudara dapat disebabkan oleh adanya luka di payudara Tidak ada bukti yang menunjukkan benturan pada payudara dapat meningkatkan risiko terkena kanker payudara. (inggrid/Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta)
MITOS SEPUTAR KANKER PAYUDARA Selasa, 9 November 2010, 14:53 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Lutfi Dwi Puji Astuti VIVAnews - Hampir 70 persen penderita kanker payudara terdeteksi dalam kondisi parah atau stadium lanjut. Itulah mengapa kampanye pentingnya deteksi dini penyakit itu terus digalakkan untuk mempermudah penanganan. Tapi, kampanye bukan tanpa kendala. Salah satu yang menjadi kendala penanganan kasus ini di Indonesia adalah faktor sosial kultur di masyarakat. Masih banyak yang percaya kepada pengobatan alternatif, tradisional, dukun, bahkan mitos keliru tentang kanker payudara. Spesialis Bedah Onkologi dari RS Kanker Dharmais, Dr Sutjipto, Sp.B(K)ONK, mengatakan, kesadaran masyarakat mengenai penyakit ini memang masih rendah.
Itu terbukti dari hasil survei terhadap sejumlah wanita yang menerima penyuluhan mengenai kanker payudara dari Yayasan Kesehatan Payudara Jakarta selama 2004-2005. Hampir 80 persen menyatakan belum mengerti pentingnya check up payudara. Hanya 10,5 persen yang menyadari perlunya check up payudara. Sisanya menjawab tidak tahu. “Sebagian masyarakat masih percaya dengan mitos-mitos salah. Mereka lebih memilih menggunakan pengobatan herbal,” kata Sutjipto, di sela-sela seminar 'Pengenalan serta Deteksi Kanker Payudara', di Hotel Aryaduta, Jakarta, Selasa, 9 November 2010. Informasi yang salah berpotensi meningkatkan risiko kanker payudara. Agar tak terjebak dengan informasi yang salah, ketahui mitos dan fakta seputar penyakit ini:
1. Hanya menyerang wanita usia tua Peneliti menyebut, 77 persen kasus kanker payudara muncul di usia lebih 50 tahun. Memang benar bahwa risiko kanker payudara meningkat seiring kedewasaan seseorang. Namun, kanker payudara dapat menyerang siapa saja di semua usia.
2. Makanan berlemak menjadi pemicu Sejumlah penelitian tidak berhasil menemukan adanya hubungan langsung antara konsumsi makanan berlemak dan risiko kanker payudara. Yang terjadi adalah faktor kelebihan berat badan yang menjadi faktor risiko. Itulah mengapa perlu menghindari asupan lemak untuk menjaga berat badan ideal.
3. Penyakit keturunan Setiap wanita berisiko mengidap kanker payudara. Sekitar 80 persen dari wanita yang terkena kanker payudara tidak memiliki riwayat kanker payudara dari keluarganya. Bertambahnya usia seiring bertambahnya usia organ tubuh merupakan pemacu risiko kanker payudara.
4. Deodoran memicu kanker Tidak ada bukti yang mendukung pernyataan bahwa bahan aktif yang terdapat pada deodoran dapat memacu risiko kanker payudara. Hubungan antara kanker payudara dan deodoran tersebut merupakan informasi yang salah tentang anatomi dan kanker payudara. (pet)
Last edited by gitahafas on Fri Nov 19, 2010 5:20 am; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Thu Sep 09, 2010 6:29 am | |
| KAPAN WAKTU TEPAT CEK PAYUDARA? Rabu, 10 November 2010, 13:06 WIB Petti Lubis, Lutfi Dwi Puji Astuti VIVAnews - Kanker payudara umumnya terjadi akibat perubahan atau transformasi sel-sel tubuh. Sel normal yang mengalami proses transformasi ini mampu membelah diri tanpa terkendali memproduksi sel-sel dan membentuk suatu tumor. Untuk mencegah hal itu, wanita disarankan rutin melakukan pengecekan payudara, baik lewat metode SADARI (cek payudara sendiri), mammografi dan USG payudara sebagai cara deteksi dini kanker payudara. Semua teknik deteksi dini memiliki cara dan keunggulan berbeda.
Lantas, kapan waktu yang tepat untuk melakukan SADARI, Mammografi, dan USG Payudara? Memeriksa payudara sendiri, atau lebih populer dengan sebutan SADARI bisa dilakukan wanita di segala usia, sebagai deteksi awal sebelum melakukan mammografi ataupun USG payudara. Cara ini merupakan langkah mudah dan murah untuk mengetahui kelainan atau perubahan yang terjadi pada payudara. Lakukan cara ini sedikitnya sekali dalam sebulan, 2-3 hari setelah haid. Untuk wanita yang telah menopause, tetapkan tanggal sama setiap bulan.
Sementara bagi remaja perempuan dan wanita di bawah usia 30 tahun, serta wanita hamil dan wanita menyusui, selain melakukan SADARI secara rutin juga disarankan melakukan USG payudara minimal setahun sekali. Cara ini tidak menimbulkan rasa sakit dan lebih cocok dilakukan untuk remaja, ibu hamil dan ibu menyusui. Selain SADARI dan USG, mammografi merupakan salah satu skrining deteksi dini payudara dengan sinar X dosis rendah. Namun, teknik ini biasanya disarankan bagi wanita di atas usia 40 tahun. Pada usia premenopouse ini biasanya tingkat risiko terjadinya kanker payudara meningkat dengan cepat.
Untuk mendukung proses deteksi dini kanker payudara, Spesialis Radiologi dari Rumah Sakit Gatot Subroto, Dr Zulaika Fatimah, Sp.Rad menyarankan agar dilakukan usai siklus haid berakhir. "Sama halnya dengan SADARI, wanita disarankan melakukan deteksi dini dengan mammgorafi setelah bersih dari siklus haid. Mengapa? Pada waktu haid selesai, payudara relatif lunak sehingga rasa sakit akan berkurang dibanding sebelum dan saat menstruasi," katanya saat Seminar Pengenalan dan Deteksi Dini Kanker Payudara di Hotel Aryaduta, Jakarta.
Tak hanya itu, agar hasilnya sempurna dan kertas film bisa terbaca dengan jelas, dianjurkan pasien tidak menggunakan deodoran, body lotion atau bedak karena kosmetik ini akan mengganggu proses pendeteksian pada alat mammografi. Bahkan hasilnya terkadang akan sulit terbaca karena timbul bercak putih pada kertas film sehingga sulit untuk mengetahui hasil deteksinya.
Bila terjadi benjolan di payudara, terjadi penebalan kulit payudara yang menyolok, perubahan warna ukuran, bentuk atau tekstur, terdapat jerawat, kerutan, benjolan atau lipatan pada kulit payudara, puting susu masuk ke dalam, payudara kemerahan, bengkak dan sakit, terasa gatal, bersisik luka dan berbintik serta puting mengeluarkan cairan atau darah, segeralah menghubungi dokter.
Last edited by gitahafas on Wed Nov 17, 2010 7:58 am; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 11711 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Wanita Thu Sep 09, 2010 6:30 am | |
| LEBIH AKURAT DETEKSI KANKER PAYUDARA Sabtu, 9 Oktober 2010 | 10:03 WIB Kompas.com - Lakukan pemeriksaan dini agar bisa mengenali gejalanya dan mendapatkan penanganan yang lebih tepat jika terdiagnosa kanker payudara. Cara deteksi kanker payudara bukan hanya mamografi, tetapi masih ada beberapa cara lain. Yuk, cari tahu banyak cara mendeteksi kesehatan payudara sejak dini!
Periksa sendiri Hal yang paling mudah dilakukan adalah "sadari" atau pemeriksaan payudara sendiri. dr. Sutjipto, Sp.B(K) Onk., spesialis bedah onkologi dari Siloam Hospital, menganjurkan bagi remaja putri, sejak menginjak usia 20 tahun melakukan "sadari" secara rutin. Ini bisa dilakukan setiap kali setelah mandi dan di luar masa menstruasi. Caranya, berdiri di depan kaca, tangan kanan memeriksa payudara kiri dan demikian pula sebaliknya. Lakukan pemeriksaan dengan meraba memutar telapak tangan seiring jarum jam dan sebaliknya berulang kali. Pastikan, tidak ada benjolan atau gronjolan di dalam payudara.
USG payudara Adapun bagi para perempuan yang telah menginjak usia 30 tahun, lakukan USG payudara atau breast ultrasound. Caranya mirip dengan USG kandungan. Pertama-tama, pasien diminta berbaring di atas tempat tidur kemudian bagian payudara diberikan gel. Lalu petugas medis akan menjalankan transduser ke seputar payudara untuk mendapatkan gambaran adanya tumor ataupun kista di dalam payudara.
Mamografi tak lagi menyakitkan Ketika memasuki usia 40 tahun, Sutjipto menganjurkan untuk melakukan kombinasi kedua cara deteksi (USG dan "sadari") dengan mamografi. Mamografi sebaiknya dilakukan 3 tahun sekali untuk pasien berusia 40-45 tahun. Namun, khusus bagi yang berisiko tinggi, seperti, gemuk, belum punya anak, dan ada riwayat kanker dalam keluarga, mamografi bisa dilakukan setiap 2 tahun sekali. Adapun ketika memasuki usia 50 tahun, mamografi bisa dilakukan 2-3 tahun sekali. Begitu pula ketika wanita telah berusia di atas 60 tahun, mamografi dilakukan sekitar 1-2 tahun sekali.
Tidak perlu takut dengan mamografi karena alat mamografi yang sekarang sudah cukup terkomputerisasi. Sistem komputerisasi ini memungkinkan penekanan secukupnya untuk mendapatkan gambaran akurat kondisi kelenjar susu. “Jadi, tidak perlu takut sakit ataupun akan memicu kanker lebih ganas,” ungkap Sutjipto meluruskan anggapan yang salah di masyarakat. Cara melakukan mamografi ini seperti rontgen dada. Pertama-tama, pasien diminta melepaskan berbagai aksesori logam dan pakaian serta hanya menggunakan pakaian khusus mamografi.
Untuk posisi saat melakukan mamografi, bisa dengan duduk ataupun berdiri bergantung pada peralatan yang digunakan. Kemudian salah satu payudara diletakkan di atas pelat datar dan di bagian atas ada semacam plastik yang menekan payudara ke bawah untuk meratakan. Cara ini dimaksudkan untuk memperlihatkan jaringan payudara yang akan disinar-X. Foto-foto kelenjar payudara ini akan diambil dari berbagai sudut untuk memperoleh akurasi yang optimum. Pada mesin mamografi jenis Full Field Digital Mammography (FFDM) yang bekerja secara digital, gambar sinar-X yang didapat dapat dimanipulasi di layar komputer sehingga meningkatkan akurasi hasil foto sinar-X.
MRI lebih detail Bila setelah dilakukan USG dan mamografi ditemukan kejanggalan, penyelidikan dilanjutkan dengan melakukan MRI (magnetic resonace imaging) terhadap payudara. Metode ini juga merupakan alternatif deteksi kanker payudara bagi perempuan di atas 40 tahun ataupun yang tidak menyukai mamografi. Tentu saja, diperlukan biaya yang tidak sedikit untuk melakukannya. Caranya, pasien disuntikkan agen kontras atau semacam cairan yang akan mengeluarkan warna. Kemudian pasien dimasukkan ke dalam lorong dan ditembakkan daya magnet yang akan menghasilkan warna tertentu pada jaringan yang telah diinjeksi agen kontras. Pada akhirnya akan didapat gambaran struktur, bentuk dan komposisi payudara secara lebih detail bahkan bisa menangkap adanya sel yang sudah mengarah menuju kanker.
Termografi payudara Pilihan lain pelengkap cara mendeteksi kanker payudara adalah dengan breast thermography. Berdasarkan penelitian klinis, bila dilakukan bersama dengan mamografi, sensitivitasnya akan meningkat hingga 98 persen. Dikatakan, termografi ini relatif aman karena tidak menimbulkan radiasi, tanpa injeksi ataupun penekanan apa pun. Dengan memanfaatkan digital infra-red thermal imaging, akan didapat pola panas normal dan tak normal yang dihasilkan oleh adanya sel kanker. Caranya, pasien cukup berdiri di depan alat termografi. Kemudian petugas akan merekam pola panas payudara. Bila terdapat warna merah (tanda suhu tinggi tak normal), maka terdapat aktivitas sel tumor.
Last edited by gitahafas on Sat Oct 16, 2010 11:10 pm; edited 3 times in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |