Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Kesehatan Wanita

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 34 ... 67  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Wed Jan 27, 2010 9:48 pm

TAHAP PERKEMBANGAN BAYI
Seorang bayi melalui beberapa tahap perkembangan, diawali dengan pembuahan sel telur. Sel telur berkembang menjadi blastosit, sebuah embrio, kemudian janin.

Pembuahan
Selama setiap siklus menstruasi normal, satu sel telur (ovum) biasanya dilepaskan dari salah satu indung telur, sekitar 14 hari sebelum periode menstruasi berikutnya. Lepasnya sel telur disebut ovulasi. Sel telur tersapu ke dalam ujung yang berbentuk corong pada salah satu tuba falopii.
Pada ovulasi, lendir di dalam servik menjadi lebih cair dan lebih elastis, membiarkan sperma untuk masuk ke dalam rahim dengan cepat. Dalam 5 menit, sperma bisa bergerak dari vagina, melalui servik ke dalam rahim, dan menuju ujung yang berbentuk corong pada tuba falopii-tempat biasa pembuahan. Lapisan sel tuba falopii memudahkan pembuahan.

Jika sperma menembus sel telur, pembuahan terjadi. Silia seperti rambut yang kecil melapisi tuba falopii mendorong sel yang telah dibuahi (zigot) melalui pipa ke arah rahim. Sel pada zigot membelah berulangkali bersamaan dengan zigot bergerak menuju tuba falopi. Zigot tersebut memasuki rahim dalam 3 sampai 5 hari. Di dalam rahim, sel terus membelah, menjadi bola berongga yang disebut blastosit. Jika pembuahan tidak terjadi, sel telur luruh dan terus melewati rahim dengan periode menstruasi berikutnya.
Jika lebih dari satu sel telur yang dilepaskan dan dibuahi, kehamilan meliputi lebih dari satu janin, biasanya dua (kembar). Beberapa kembar adalah fraternal. Mengidentifikasikan kembar ketika satu sel telur memisah ke dalam dua embrio setelah membelah.

Perkembangan Blastosit
Di antara 5 dan 8 hari setelah pembuahan, blastosit menempel pada lapisan rahim, biasanya dekat puncak. Proses ini disebut implantasi, yang selesai dengan 9 atau 10 hari. Dinding blastosit adalah satu sel tebal kecuali di satu area, dimana 3 sampai 4 sel tebal. Bagian dalam sel pada area yang menebal berkembang menjadi embrio, dan bagian luar sel bersembunyi di dalam dinding rahim dan berkembang menjadi plasenta. Plasenta tersebut menghasilkan beberapa hormon yang membantu memelihara kehamilan. Sebagai contoh, plasenta menghasilkan human chorionic gonadotropin, yang mencegah indung telur dari pelepasan sel telur dan merangsang indung telur untuk menghasilkan estrogen dan progesterone secara kontinyu. Plasenta juga membawa oksigen dan nutrisi dari ibu untuk janin dan bahan-bahan beracun dari janin ke ibu.

Beberapa sel dari plasenta berkembang menjadi lapisan bagian luar pada selaput (chorion) yang mengelilingi embrio. Bagian dalam lapisan pada selaput (amnion) terbentuk sekitar hari ke 10 sampai hari ke 12, membentuk kantung amniotic. Kantung amniotic berisi cairan bening (cairan amniotic) dan menyebar untuk melindungi embrio yang berkembang, yang mengambang di dalamnya.

Perkembangan Embrio
Tahap berikutnya pada perkembangan embrio, dimana perkembangan di bawah lapisan rahim pada salah satu sisi. Tahap ini ditandai dengan pembentukan organ yang paling dalam dan struktur luar tubuh. Pembentukan organ-organ diawali sekitar 3 minggu setelah pembuahan, ketika embrio memanjang, pertama kali terbentuk manusia. Tidak lama setelah itu, daerah tersebut akan menjadi otak dan syaraf tulang belakang (neural tube) mulai terbentuk. Jantung dan pembuluh darah besar mulai terbentuk sekitar hari ke 16 atau 17. Jantung mulai memompa cairan melalui pembuluh darah pada hari ke-20, dan sel darah merah pertama muncul hari berikutnya. Pembuluh darah terus berkembang di dalam embrio dan plasenta.

Dari Telur Menjadi Embrio
Satu kali sebulan, sel telur dilepaskan dari ovarium ke dalam tuba falopii. Setelah berhubungan seks, sperma bergerak dari vagina melalui servik dan rahim menuju tuba falopii, dimana satu sperma membuahi sel telur. Sel telur yang dibuahi (zigot) membelah terus sebagaimana bergerak turun ke tuba falopii menuju rahim. Pertama, zigot menjadi bola keras pada sel. Kemudian menjadi bola berongga pada sel yang disebut blastosit.

Di dalam rahim, blastosit tertanam di dinding rahim, yang mana berkembang menjadi embrio menempel pada plasenta dan mengelilingi selaput yang berisi cairan.
Hampir semua organ terbentuk sempurna sekitar 8 minggu setelah pembuahan (yang sama dengan 10 minggu pada kehamilan). Kecuali otak dan tulang belakang, yang terus matang sepanjang kehamilan. Kebanyakan kerusakan bentuk (kerusakan lahir) terjadi selama periode ketika organ dibentuk. Selama periode ini, embrio lebih peka terhadap efek obat-obatan, radiasi, dan virus. Oleh karena itu, seorang wanita hamil seharusnya tidak diberikan vaksin virus hidup apapun atau menggunakan obat-obatan apapun selama periode ini sampai mereka menganggap penting untuk menjaga kesehatan mereka.

Perkembangan Pada Janin dan Plasenta
Pada akhir minggu ke-8 setelah pembuahan (10 minggu pada kehamilan), embrio disebut janin. Selama tahap ini. Struktur yang telah terbentuk bertumbuh dan terbentuk. Berikut adalah tanda-tanda selama kehamilan :
1. 12 minggu kehamilan : Janin memenuhi seluruh rahim.
2. Sekitar 14 minggu : Jenis kelamin bisa dikeali.
3. Sekitar 16 sampai 20 minggu : bisanya, wanita hamil bisa merasakan pergerakan janin. Wanita yang pernah melahirkan sebelumnya biasanya merasakan pergerakan sekitar 2 minggu pertama dibandingkan wanita yang hamil untuk pertama kali.
4. Sekitar 24 minggu : janin mempunyai kesempatan bertahan hidup di luar rahim.

Paru-paru terus matang sampai mendekati waktu melahirkan. Otak menyimpan sel melalui kehamilan dan tahun pertama kehidupan setelah lahir.
Selama plasenta terbentuk, hal itu memperluas proyeksi seperti rambut yang kecil (villi) di dalam dinding rahim. Proyeksi tersebut bercabang dan bercabang kembali di dalam susunan seperti pohon yang rumit. Susunan ini sangat memperluas daerah kontak di antara dinding rahim dan plasenta, sehingga lebih banyak nutrisi dan bahan-bahan beracun yang bisa dirubah. Plasenta terbentuk sempurna dalam 18 sampai 20 minggu tetapi terus bertumbuh melalui kehamilan. Ketika melahirkan, beratnya sekitar 1 pon.
Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Thu Jul 29, 2010 5:45 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Wed Jan 27, 2010 10:28 pm

KONDISI IBU HAMIL DI TRIMESTER PERTAMA
Kamis, 29/04/2010 16:45 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Ibu hamil biasanya baru menyadari dirinya sedang mengandung ketika akan masuk bulan kedua. Meski bentuk tubuh belum berubah namun sudah ada gejala yang berbeda dibanding saat tidak hamil. Apa saja yang terjadi selama kehamilan trimester pertama? Perubahan yang dialami sang calon ibu dan perkembangan janin yang dikandungnya berbeda tiap bulan. Karena itu kenali apa saja yang terjadi sepanjang trimester pertama kehamilan, seperti dikutip dari WebMD, Kamis (29/4/2010), yaitu:

Bulan kesatu
Kondisi Ibu:
1. Kebanyakan perempuan belum mengetahui dirinya hamil pada bulan pertama ini.
2. Tapi biasanya tubuh mulai merasa sering lelah akibat perubahan hormon dan emosi ibu mulai berfluktuasi yaitu bisa marah atau senang secara tiba-tiba.
3. Morning sickness berupa mual atau muntah mulai terjadi, perubahan selera makan dan berat badan yang tidak disadari.
4. Sang calon ibu juga mengalami peningkatan produksi dari hormon progesteron dan payudara mulai terasa lunak. Tapi belum terlihat adanya pembesaran pada perut.

Yang harus dilakukan:
1. Pada bulan ini sebaiknya ibu mulai menghindari segala bentuk makanan kaleng atau olahan, daging yang dimasak setengah matang, tape, alkohol dan minuman bersoda.
2. Sedangkan olahraga yang bisa dilakukan adalah berjalan kaki, berenang dan yoga.

Perkembangan pada janin:
1. Kantung ketuban yaitu kantung air ketat di sekitar sel telur yang telah dibuahi sudah terbentuk. Kondisi ini membantu bantal embrio berkembang selama kehamilan.
2. Selain itu plasenta juga mulai berkembang sejak bulan pertama. Plasenta berbentuk bulat dan berfungsi mentransfer nutrisi dari ibu ke bayi dan juga membawa limbah dari bayi.
3. Sel darah mulai mengambil bentuk dan sirkulasi akan dimulai serta terbentuk adanya lingkaran hitam untuk mata. Pada akhir dari bulan pertama kehamilan ini bayi sudah berukuran sekitar 6-7 mm (seukuran beras).

Bulan kedua
Kondisi ibu:
1. Belum terlalu banyak perubahan yang terjadi dan biasanya kehamilan mulai diketahui melalui pemeriksaan urine dengan test pack.
2. Mulai mengalami sering buang air kecil akibat membesarnya uterus atau rahim dan terkadang agak mengganggu di malam hari.
3. Terasa nyeri pada payudara dan pembuluh darah mulai agak berbayang di payudara.
4. Terkadang mengalami sembelit akibat meningkatnya hormon progesteron dalam sistem tubuh.

Yang harus dilakukan:
1. Usahakan untuk mengonsumsi makanan yang mudah dicerna dengan porsi kecil tapi frekuensinya sering
2. Perbanyak minum air putih dan buah-buahan untuk menghindari dehidrasi.
3. Sebaiknya berhenti olahraga jika mengalami napas pendek, pusing, rasa nyeri disekitar vagina atau pinggang dan terdapat bercak-bercak darah.

Perkembangan pada janin:
1. Seiring bertambahnya bulan, maka fitur wajah janin mulai berkembang.
2. Mulai ada sedikit lipatan kulit untuk telinga di sisi kepala
3. Muncul tunas mungil yang nantinya akan berkembang menjadi lengan dan kaki serta mulai terbentuk jari kaki dan tangan yang kecil.
4. Tabung saraf (otak, saraf tulang belakang dan jaringan saraf lain dari sistem saraf pusat) mulai terbentuk dengan baik.
5. Saluran pencernaan dan alat indera mulai berkembang, tulang mulai terbentuk yang menggantikan tulang rawan. Gerakan embrio dimulai meskipun ibu belum bisa merasakannya.
6. Janin memiliki panjang sekitar 2,54 cm dan beratnya sekitar 9-10 gram serta sepertiga dari tubuh bayi sudah mulai terbentuk yang terdiri dari kepala.

Bulan ketiga
Kondisi ibu:
1. Perubahan dalam tubuh ibu sudah mulai terlihat, seperti payudara yang mulai membesar
2. Peningkatan nafsu makan yang diiringi dengan penambahan berat badan dan perut yang agak sedikit membesar.
3. Mual dan muntah (morning sickness) sudah mulai berkurang.

Yang harus dilakukan:
1. Pada saat ini dibutuhkan asupan protein, mineral dan vitamin yang cukup untuk membantu pertumbuhan janin.
2. Calon ibu sudah bisa menggunakan baju hamil meskipun perutnya belum terlalu besar, ini untuk mengurangi tekanan yang terjadi di perut.
3. Jika ibu mengalami kesulitan untuk tidur (insomnia), cobalah untuk mengonsumsi susu hangat saat malam hari.

Perkembangan pada janin:
1. Tubuh bayi sudah hampir sepenuhnya terbentuk.
2. Bayi sudah memiliki lengan, tangan, kaki, mulut dan jari yang sudah bisa membuka dan menutup kepalan.
3. Kuku-kuku bayi pun sudah mulai berkembang dan telinga eksternal dari bayi terbentuk.
4. Organ reproduksi bayi juga berkembang, tapi jenis kelamin bayi masih sulit dibedakan jika dilihat di USG.
5. Sistem sirkulasi dan juga sistem kemih mulai bekerja dan hati sudah bisa menghasilkan empedu.
6. Pada akhir bulan ketiga, panjang janin sudah berukuran sekitar 7,6-10 cm dan beratnya sekitar 28 gram.
(ver/ir)


Last edited by gitahafas on Thu Jul 29, 2010 5:48 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Wed Jan 27, 2010 10:41 pm

KONDISI IBU HAMIL DI TRIMESTER KEDUA
Jumat, 30/04/2010 09:00 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Selama masa kehamilan seorang ibu mengalami perubahan yang berbeda-beda setiap bulannya. Karena itu ketahui perubahan dan perkembangan apa saja yang terjadi selama kehamilan trimester kedua. Saat memasuki trimester kedua sang calon ibu biasanya sudah mulai merasakan banyak perubahan dalam tubuhnya dan mulai menyadarinya. Ini dia perubahan dan perkembangan yang terjadi selama trimester kedua, seperti dikutip dari WebMD, Jumat (30/4/2010), yaitu:

Bulan keempat
Kondisi ibu:
1. Munculnya linea yaitu garis gelap memanjang di sekitar perut mulai dari daerah sekitar kelamin hingga pusar karena meregangnya kulit.
2. Daerah leher mulai terlihat berwarna hitam semu.
3. Payudara semakin membesar dengan daerah puting susu yang cenderung lebih gelap dan kolostrum sudah dihasilkan.
4. Ibu merasakan seperti basah pada daerah vaginanya.
5. Mulai mengalami sakit kepala akibat volume darah yang bertambah atau bisa juga akibat stres.

Yang harus dilakukan:
1. Jangan membungkuk saat mengambil barang tapi usahakan dengan cara berjongkok agar perut tidak tertekan.
2. Hindari aktivitas fisik yang mengharuskan mengangkat beban berat, mendorong atau menarik beban dan olahraga berat.
3. Hindari mengubah gerakan secara mendadak karena berpotensi mengalami kram otot.
4. Usahakan untuk mendapat istirahat yang cukup, karena dengan perut yang semakin membesar membuat ibu hamil mudah lelah.
5. Mulai merawat payudara agar bisa menghasilkan ASI dengan cara menghindari stres, membersihkan puting payudara dan memijatnya dengan menggunakan baby oil.
6. Ibu bisa menggunakan pantyliners untuk basah pada vagina mulai mengganggu.

Perkembangan pada janin:
1. Jari-jari tangan dan kaki sudah dapat teridentifikasi dengan baik.
2. Kelopak mata, alis, bulu mata dan kuku sudah terbentuk.
3. Gigi dan tulang menjadi lebih padat.
4. Bayi sudah bisa mengisap jempol, menguap, meregang dan membuat wajah di dalam kandungan.
5. Sistem saraf mulai berfungsi dan detak jantung dapat didengar melalui alat Doppler.
6. Organ reproduksi dan alat kelamin sudah berkembang sehingga dapat dideteksi melalui USG.
7. Janin berukuran 15,24 cm dan beratnya sekitar 113 gram.

Bulan kelima
Kondisi ibu:
1. Emosi ibu mulai stabil dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
2. Nafsu makan semakin meningkat seiring bertambahnya berat badan dan perubahan fisik pada ibu.
3. Muncul keluhan seperti mudah lelah, sakit punggung, pegal-pegal dan pinggang atau otot terasa linu.
4. Guratan-guratan di perut semakin terlihat jelas, tapi sebaiknya tidak digaruk dan cukup diusap-usap saja.
5. Cenderung mudah merasa pusing saat bangun dari duduk dan muncul rasa sakit di bagian bawah perut.

Yang harus dilakukan:
1. Mulailah untuk meninggikan posisi kaki dengan ganjalan bantal saat sedang istirahat atau tidur untuk menghindari pembengkakan.
2. Menggunakan sepatu dengan tumit datar karena tubuh mulai bertambah berat.
3. Hindari melakukan diet dan makanan yang digoreng atau pedas, serta mengonsumsi air putih yang banyak saat tubuh terasa panas atau gatal.
4. Usahakan untuk melakukan olahraga ringan seperti berjalan kaki, bersepeda atau berenang.
5. Usahakan untuk tidak duduk dengan menyilangkan kaki.

Perkembangan pada janin:
1. Rambut mulai tumbuh di kepala bayi dan rambut-rambut halus meliputi bahu dan punggung.
2. Kulit bayi ditutupi oleh lapisan putih yang disebut dengan vernix caseosa, yaitu lapisan yang melindungi kulit bayi dari paparan cairan ketuban sebelum kelahiran.
3. Bayi mulai bisa melakukan gerakan karena sedang mengembangkan dan melatih ototnya.
4. Ukuran bayi pada usia ini sekitar 25,4 cm dan beratnya sekitar 226 gram - 500 gram.

Bulan keenam
Kondisi ibu:
1. Bagian lambung mulai terasa hangat karena rahim yang semakin membesar dan mulai mendesak lambung.
2. Kaki mulai mengalami pembengkkan dan kram karena mulai terhambatnya peredaran darah.
3. Gusi menjadi lebih sensitif yaitu mudah berdarah sehingga memicu terjadinya peradadangan di gusi.
4. Adanya perubahan pada kulit, timbul noda di pipi serta jerawat.
5. Terkadang beberapa ibu mengalami kurang tidur atau tidur yang tak nyenyak.

Yang harus dilakukan:
1. Gunakanlah baju hamil yang agak longgar sehingga membuat ibu merasa lebih nyaman dan tidak sesak.
2. Usahakan memperbanyak konsumsi kalsium untuk mengoptimalkan pembentukan gigi dan tulang bayi serta melindungi ibu dari osteophagia (tulang terasa linu dan sakit) atau osteoporosis.
3. Mulailah untuk mengikuti senam khusus ibu hamil atau kursus persiapan persalinan.
4. Melakukan sikap tubuh yang baik seperti berdiri, jongkok, berjalan, duduk dan tidur agar otot dan syaraf tidak terganggu.
5. Selalu mengontrol berat badan agar selalu dalam kondisi yang wajar untuk menghindari diabetes selama hamil (gestational diabetes) serta kondisi yang mempersulit persalinan.

Perkembangan pada janin:
1. Kulitnya berwarna kemerahan, keriput dan pembuluh darah venanya terlihat melalui kulit di perut bayi.
2. Kelopak mata dan matanya mulai terbuka.
3. Bayi mulai menanggapi suara dengan bergerak atau meningkatkan denyut nadi, bayi akan memberikan gerakan menyentak jika mengalami cegukan.
4. Ukuran bayi pada usia ini sekitar 30 cm dan beratnya 0,9 - 1 kg.
(ver/ir)


Last edited by gitahafas on Thu Jul 29, 2010 5:49 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Sun Jan 31, 2010 10:55 am

KONDISI IBU HAMIL DI TRIMESTER KETIGA
Jumat, 30/04/2010 11:00 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Saat memasuki trimester ketiga, maka calon ibu sudah mulai mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut si buah hati. Karenanya ketahui perkembangan dan tanda apa saja yang dirasakan ibu saat usia kehamilan trimester ketiga. Saat memasuki usia kehamilan ini sang calon ibu mulai dipicu rasa cemas, takut dan bahagia karena akan menyambut si buah hati yang sudah dikandungnya hampir sembilan bulan. Seperti dikutip dari WebMD, Jumat (30/4/2010) ini dia perkembangan ibu dan sang calon buah hati di trimester ketiga kehamilan, yaitu:

Bulan ketujuh
Kondisi ibu:
1. Terkadang ibu mengalami kontraksi, meskipun tidak sakit tapi perut akan terasa kaku.
2. Mulai merasakan nyeri dan pegal di bagian pinggang dan persendian tulang belakang.
3. Nafas menjadi pendek saat melakukan aktivitas yang agak berat.
4. Ibu mulai merasakan gerah dan mudah berkeringat karena beban yang dikandungnya semakin besar.
5. Naluri keibuan biasanya sudah mulai tumbuh.
6. Terkadang pembengkakan tidak hanya terjadi di kaki tapi juga di tangan.

Yang harus dilakukan:
1. Jangan terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung garam tinggi, karena dapat menyebabkan penyumbatan jalannya aliran darah.
2. Memperbanyak konsumsi susu.
3. Melakukan pijatan lembut dengan menggunakan minyak di kaki untuk mengurangi kram.
4. Tetap melakukan olahraga ringan dan menghindari pekerjaan yang berat.

Kondisi bayi:
1. Pendengaran bayi mulai optimal sehingga dapat menanggapi rangsangan seperti suara, rasa sakit dan cahaya.
2. Bayi mulai sering berubah posisi yang dirasakan juga oleh ibu.
3. Pada akhir bulan ketujuh, lemak mulai disimpan pada tubuh bayi.
4. Saat ini bayi bisa memiliki panjang sekitar 36 cm dan berat sekitar 1-1,8 kg.

Bulan kedelapan
Kondisi ibu:
1. Ibu mulai merasakan ingin buang air kecil, karena letak janin yang mulai membesar dan mendesak kandung kemih.
2. Beban yang harus dibawa ibu semakin besar sehingga membuatnya mudah capek dan lelah.
3. Ligamen di seputar daerah pelvix mulai meregang untuk memudahkan proses kelahiran bayi. Kondisi ini seringkali mengakibatkan sakit punggung.
4. Tidur mulai terganggu karena bayi sudah semakin aktif bergerak di dalam rahim.
5. Beberapa ibu ada yang mengalami sembelit akibat terganggunya proses pencernaan.

Yang harus dilakukan:
1. Mulailah mempersiapkan mental dan fisik dalam menghadapi proses persalinan.
2. Menghindari perubahan suhu yang ekstrim seperti terlalu panas atau terlalu dingin, karena pembuluh darah agak sedikit lebih peka.
3. Sebaiknya mengonsumsi makanan yang banyak serat seperti buah dan sayur serta perbanyak minum.
4. Ibu cenderung lebih sensitif karena kondisi tubuh yang mudah capek dan lelah.
5. Sebaiknya ibu hamil tidak menahan rasa ingin buang air kecil.
6. Jika kontraksi terjadi selama beberapa menit lalu menghilang, maka hal ini masih wajar. Tapi jika kontraksi disertai dengan keluarnya cairan bening atau darah sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

Kondisi bayi:
1. Bayi akan lebih sering menendang di dalam rahim.
2. Otak bayi berkembang pesat pada usia ini dan ia sudah dapat melihat serta mendengar.
3. Hampir sebagian besar sistem internal tubuh bayi sudah berkembang dengan baik, kecuali paru-paru yang belum berkembang opimal.
4. Bayi semakin mengembangkan cadangan lemak di tubuhnya.
5. Saat ini bayi memiliki panjang sekitar 45 cm dan berat sekitar 2-2,7 kg.

Bulan kesembilan
Kondisi ibu:
1. Ibu akan mengalami sakit punggung akibat terjadi peregangan otot.
2. Ibu semakin sulit tidur karena mengalami kecemasan yang kadang tidak beralasan.
3. Kulit dibagian perut akan semakin gatal, tapi sebaiknya jangan digaruk dan cukup diusap dengan baby oil atau lotion.
4. Frekuensi buang air kecil akan semakin meningkat, karena bayi semakin mendesak kandung kemih.
5. Kontraksi akan semakin sering dirasakan oleh ibu.

Yang harus dilakukan:
1. Sebaiknya memperbanyak aktivitas berjalan kaki untuk membantu proses persalinan dan juga memperbanyak istirahat.
2. Ibu bisa mengurangi tekanan pada kandung kemih dengan cara tidur dalam posisi miring pada malam hari.
3. Senam hamil dan melakukan meditasi atau yoga untuk membantu otot-otot perut dan juga membuat ibu tidak stres.
4. Usahakan untuk selalu berpikiran positif dan mulai mempersiapkan tas yang berisi keperluan persalinan.
5. Jika terjadi kontraksi yang disertai dengan keluarnya cairan ketuban, maka usahakan bangun secara perlahan-lahan untuk mencegah keluarnya air ketuban yang lebih banyak dan segera bawa ke rumah sakit.

Kondisi bayi:
1. Menjelang akhir trimester paru-paru hampir sepenuhnya berkembang.
2. Refleks koordinasi bayi mulai sempurna sehingga ia dapat berkedip, menutup mata, memutar kepala, menendang serta merespons suara, cahaya dan sentuhan.
3. Bayi akan mengubah posisi untuk mempersiapkan persalinan, yaitu bayi akan turun ke panggul dan biasanya kepala akan menghadap ke arah jalan lahir.
4. Bayi akan terus tumbuh dan berkembang hingga nanti dilahirkan.
5. Pada usia ini bayi akan memiliki panjang sekitar 46-51 cm dan berat sekitar 3-3,2 kg.
(ver/ir)


Last edited by gitahafas on Thu Jul 29, 2010 5:49 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Sun Jan 31, 2010 10:59 am

KEHAMILAN RESIKO TINGGI
Merupakan suatu keadaan dimana kehamilan bisa berpengaruh buruk terhadap keadaan ibu, atau bisa juga dikatakan penyakit ibu bisa berpengaruh buruk pada janin.
Walaupun ibu hamil banyak yang mengalami kehamilan resiko tinggi, tetapi mereka tidak menyadarinya.

Kehamilan resiko tinggi terjadi pada:
1. Kehamilan pertama atau yang kelima.
2. Jarak kehamilan terlalu dekat.
3. Hamil dibawah usia 20 tahun atau diatas usia 35 tahun.
4. Pernah menjalani operasi.
5. Tinggi badan dibawah 145 cm, biasanya berpinggul kecil dan akan sulit melahirkan secara normal.
6. Ibu hamil penderita obesitas.
7. Kehamilan dengan penyakit darah tinggi, penyakit jantung, DM, anemia.

Namun jangan lantas putus asa. Banyak cara untuk mengatasi masalah kehamilan beresiko tinggi, antara lain:
1. Lakukan kesiapan mental dan fisik saat menjalani kehamilan.
2. Rajin melakukan pemeriksaan rutin kandungan, ini penting untuk mendeteksi lebih cepat apakah ada kelainan dan gangguan selama kehamilan.
3. Ibu hamil perlu menkonsumsi gizi yang baik, tepat dan seimbang.
4. Ibu hamil perlu memeriksakan kesehatan dirinya terhadap penyakit yang sudah diderita sebelum hamil, misalnya sakit jantung, DM, hipertensi, dll.

Sumber: Seputar Indonesia Rabu 24 Februari 2010


Last edited by gitahafas on Thu Jul 29, 2010 5:50 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Thu Feb 04, 2010 6:43 am

KOMPLIKASI KEHAMILAN

KEGUGURAN & KELAHIRAN MATI
Keguguran (Aborsi Spontan) adalah kehilangan janin karena penyebab alami sebelum usia kehamilan mencapai 20 minggu.
Kelahiran Mati (Stillbirth) adalah kehilangan janin karena penyebab alami pada saat usia kehamilan mencapai lebih dari 20 minggu.

Seorang bayi yang lahir pada usia kehamilan berapapun dan langsung bernafas atau jantungnya berdenyut spontan, dikatakan lahir hidup. Jika kemudian bayi tersebut meninggal, maka dikatakan sebagai kematian bayi baru lahir (kematian neonatus).
Sekitar 20-30% wanita hamil mengalami perdarahan atau kram minimal 1 kali selama 20 minggu pertama kehamilan. Sekitar separuhnya menyebabkan keguguran.

Sekitar 85% keguguran terjadi pada trimester pertama dan biasanya disebabkan oleh kelainan pada janin.
15% sisanya, terjadi pada minggu ke 13-20; duapertiganya terjadi akibat kelainan pada ibu dan sepertiganya penyebabnya tidak diketahui.
Sebelum terjadinya keguguran, wanita hamil biasanya mengalami spotting (bercak perdarahan) atau perdarahan dan keputihan dari vagina. Rahimnya berkontraksi, menyebabkan kram. Jika terjadi keguguran, maka perdarahan, keputihan dan kram menjadi lebih berat. Pada akhirnya, sebagian atau seluruh isi rahim akan keluar.

Pada keguguran stadium awal, dengan USG bisa diketahui apakah bayi masih hidup.
Setelah keguguran, USG dan pemeriksaan lainnya digunakan untuk melihat apakah semua isi rahim telah keluar.
Jika seluruh isi rahim telah keluar, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Jika hanya sebagian isi rahim yang keluar, maka dilakukan kuretase untuk membersihkan rahim.

Jika janin telah mati tetapi tetap berada dalam rahim (missed abortion), maka janin dan plasenta harus dikeluarkan melalui kuretase.
Untuk missed abortion stadium lanjut, bisa digunakan obat yang menyebabkan kontraksi rahim sehingga rahim mengeluarkan isinya (misalnya oksitosin).
Jika perdarahan dan kram terjadi pada kehamilan 20 minggu (ancaman aborsi), maka dianjurkan untuk menjalani tirah baring. Wanita tersebut tidak boleh bekerja dan tidak boleh melakukan hubungan seksual.
Tidak diberikan hormon karena hampir selalu tidak efektif dan bisa menyebabkan cacat bawaan, terutama pada jantung atau organ reproduksi.

Ancaman aborsi bisa terjadi jika leher rahim (serviks) membuka terlalu dini akibat kelemahan pada jaringan fibrosa. Kadang pembukaan servikal ini bisa ditutup melalui pembedahan dengan menjahitnya, yang nanti akan dibukan sesaat sebelum persalinan.
Aborsi septik adalah infeksi yang sangat serius. Isi rahim harus segera dikeluarkan dan infeksi harus diatasi dengan antibiotik dosis tinggi.

KEHAMILAN EKTOPIK
Kehamilan Ektopik (Kehamilan Diluar Kandungan) adalah suatu kehamilan dimana janin berkembang diluar rahim, yaitu di dalam tuba falopii (saluran telur), kanalis servikalis (saluran leher rahim), rongga panggul maupun rongga perut.

Dalam keadaan normal, sebuah sel telur dilepaskan dari salah satu ovarium (indung telur) dan masuk ke dalam tuba falopii. Di dalam tuba, dengan dorongan dari rambut getar yang melapisi tuba, dalam waktu beberapa hari, sel telur akan mencapai rahim. Biasanya sel telur dibuahi di dalam tuba falopii tetapi tertanam di dalam rahim.
Jika tuba tersumbat (misalnya karena infeksi), maka sel telur akan bergerak secara lambat atau tertahan. Sel telur yang telah dibuahi tidak pernah sampai ke rahim dan terjadilah kehamilan ektopik.

Resiko terjadinya kehamilan ektopik meningkat pada: - Kelainan tuba falopii
- Sebelumnya pernah mengalami kehamilan ektopik
- Pemakaian DES (dietilstilbestrol)
- Kegagalan ligasi tuba (prosedur sterilisasi, dimana dilakukan pengikatan atau pemotongan tuba).

Kehamilan ektopik biasanya terjadi pada salah satu tuba falopii (kehamilan tuba).
Kehamilan ektopik bisa berakibat fatal dan harus segera diatasi.

Gejala dari kehamilan ektopik adalah spotting dan kram. Gejala ini timbul karena ketika janin mati, lapisan rahim dilepaskan seperti yang terjadi pada menstruasi yang normal.

Jika janin mati pada stadium awal, maka tidak terjadi kerusakan tuba falopii. Jika janin terus tumbuh, bisa menyebabkan robekan pada dinding tuba sehingga terjadi perdarahan.
Jika perdarahan terjadi secara bertahap, bisa menimbulkan nyeri dan kadang menimbulkan penekanan pada perut bagian bawah akibat penimbunan darah.
Biasanya setelah sekitar 6-8 minggu, penderita tiba-tiba merasakan nyeri yang hebat di perut bagian bawah, lalu pingsan. Gejala ini biasanya menunjukkan bahwa tuba telah robek dan menyebabkan perdarahan hebat ke dalam perut.

Kadang kehamilan ektopik sebagian terjadi di dalam tubah dan sebagian di dalam rahim. Keadaan ini menyebabkan kram dan spotting.
Janin memiliki ruang untuk tumbuh, sehingga kehamilan ektopik biasanya baru pecah di kemudian hari, biasanya pada minggu ke 12-16.

Jika hasil pemeriksaan darah dan air kemih menunjukkan positif hamil tetapi rahim tidak membesar, maka diduga telah terjadi kehamilan ektopik. Pada USG rahim tampak kosong dan di dalam rongga panggul atau rongga perut terlihat darah.
Laparoskopi digunakan untuk melihat kehamilan ektopik secara langsung.
Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan kuldosentesis, yaitu pengambilan contoh darah yang tertimbun akibat kehamilan ektopik melalui sebuah jarum yang dimasukkan lewat dinding vagina ke dalam rongga panggul. Berbeda dengan darah vena atau arteri, darah ini tidak membeku.

Biasanya harus dilakukan pembedahan untuk mengeluarkan kehamilan ektopik.
Pada kehamilan tuba, biasanya dibuat sayatan ke dalam tuba dan janin serta plasenta diangkat. Tuba dibiarkan terbuka agar penyembuhan terjadi tanpa pembentukan jaringan parut karena jaringan parut bisa menyebabkan penderita sulit untuk hamil lagi. Prosedur ini kadang dilakukan melalui suatu laparoskopi.
Jika terjadi kerusakan berat pada tuba dan tidak dapat diperbaiki, maka tuba harus diangkat.

Jika tidak terdengar denyut jantung janin, pada kehamilan tuba stadium awal bisa diberikan obat metotreksat.

ANEMIA
Anemia adalah suatu keadaan dimana jumlah sel darah merah atau jumlah hemoglobin (protein pengangkut oksigen) kurang dari normal.
Selama hamil, volume darah bertambah sehingga penurunan konsentrasi sel darah merah dan hemoglobin yang sifatnya menengah adalah normal.

Selama hamil, diperlukan lebih banyak zat besi (yang diperlukan untuk menghasilkan sel darah merah) karena ibu harus memenuhi kebuhan janin dan dirinya sendiri.
Jenis anemia yang paling sering terjadi pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi, yang biasanya disebabkan oleh tidak adekuatnya jumlah zat besi di dalam makanan.
Anemia juga bisa terjadi akibat kekurangan asam folat (sejenis vitamin B yang diperlukan untuk pembuatan sel darah merah).

Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan darah yang menentukan jumlah sel darah merah, kadar hemoglobin dan kadar zat besi dalam darah.

Anemia karena kekurangan zat besi diobati dengan tablet besi. Pemberian tablet besi tidak berbahaya bagi janin tetapi biasa menyebabkan gangguan lambung dan sembelit pada ibu, terutama jika dosisnya tingggi.
Wanita hamil dianjurkan untuk minum tablet besi meskipun jumlah sel darah merah dan kadar hemoglobinnya normal, agar yakin bahwa mereka memiliki zat besi yang cukup untuk janin dan dirinya sendiri.

Anemia karena kekurangan asam folat diobati dengan tablet folat.
Untuk wanita hamil yang menderita anemia sel sabit, pengobatannya masih bersifat kontroversial; kadang perlu dilakukan transfusi darah.

INKOMPATIBILITAS Rh
Inkompatibilitas Rh adalah suatu ketidaksesuaian Rh di dalam darah ibu hamil dan darah bayinya.

Sebagai akibat dari inkompatibilitas Rh, tubuh ibu akan membentuk antibodi terhadap sel-sel darah merah bayi. Antibodi menyebabkan beberapa sel darah merah pecah dan kadang menyebabkan penyakit hemolitik (sejenis anemia) pada bayi.

Golongan darah ditentukan berdasarkan kepada adanya molekul-molekul pada permukaan sel darah merah. Golongan darah Rh terdiri dari beberapa molekul tersebut.
Salah satu dari molekul tersebut adalah Rh-nol-D, yang biasanya menyebabkan inkompatibilitas Rh. Jika sel darah merah memiliki molekul Rh-nol-D, maka dikatakan Rh-positif; jika tidak memiliki molekul Rh-nol-D, dikatakan Rh-negatif.

Inkompatibilitas Rh terjadi jika ibu memiliki darah dengan Rh-negatif dan janin memiliki Rh-positif yang berasal dari ayahnya. Darah janin bisa bercampur dengan darah ibu melalui plasenta (ari-ari), terutama pada akhir kehamilan dan selama persalinan.
Sel darah janin dianggap sebagai benda asing oleh tubuh ibunya, sehingga ibu menghasilkan antibodi untuk menghancurkannya. Kadar antibodi pada tubuh ibu terus bertambah selama kehamilan dan antibodi ini bisa melewati plasenta lalu masuk ke tubuh janin dan menghancurkan sebagian sel darah merah janin.
Akibatnya bisa terjadi penyakit hemolitik pada janin (eritroblastosis fetalis) atau pada bayi baru lahir (eritroblastosis neonatorum).
Tetap pada kehamilan pertama, anak yang dilahirkan jarang mengalami kelainan ini karena biasanya tidak terjadi kontak yang berarti antara darah janin dan darah ibu. Pada setiap kehamilan berikutnya, ibu menjadi lebih sensitif terhadap darah Rh-positif dan menghasilkan antibodi lebih dini.

Penghancuran sel darah merah pada tubuh janin bisa menyebabkan anemia dan peningkatan kadar bilirubin (limbah hasil penghancuran sel darah merah). Jika kadar bilirubin ini sangat tinggi, bisa terjadi kerusakan otak.

Pada pemeriksaan kehamilan biasanya dilakukan penyaringan untuk menentukan golongan darah ibu. Jika ibu memiliki Rh-negatif, dilakukan pemeriksaan golongan darah ayah. Jika ayah memiliki Rh-positif, dilakukan pengukuran kadar antibodi Rh pada ibu.

Darah ibu dan darah bayi bisa mengadakan kontak selama persalinan sehingga tubuh ibu membentuk antibodi. Karena itu sebagai tindakan pencegahan, diberikan suntikan immunoglobulin Rh-nol-D kepada ibu yang darahnya memiliki Rh-negatif dalam waktu 72 jam setelah melahirkan bayi dengan Rh-positif (bahkan juga setelah mengalami keguguran atau aborsi).
Pemberian suntikan ini menyebabkan hancurnya sel-sel dari bayi yang mungkin mensensitisasi ibu, sehingga biasanya kehamilan berikutnya tidak berbahaya.
Tetapi sekitar 1-2% ibu yang mendapatkan suntikan ini tetap mengalami sensitisasi, kemungkinan karena sensitisasi terjadi lebih dini. Untuk mencegah terjadinya sensitisasi dini, suntikan bisa diberikan pada kehamilan 28 minggu dan setelah persalinan.

Dengan mengukur kadar antibodi Rh pada ibu secara periodik, bisa diambil tindakan untuk mengantisipasi gangguan pada janin.
Jika kadar antibodi Rh terlalu tinggi, dilakukan amniosentesis (pengambilan contoh cairan ketuban untuk dianalisa). Kadar bilirubin pada contoh cairan ketuban diukur. Jika kadarnya terlalu tinggi, dilakukan transfusi darah pada janin.
Transfusi tambahan biasanya diberikan setiap 10-14 hari sampai kehamilan 32-34 minggu. Setelah lahir, biasanya diberikan 1 atau beberapa kali transfusi.
Pada kasus yang tidak terlalu berat, transfusi biasanya baru dilakukan setelah bayi lahir.

ABRUPSIO PLASENTA
Abrupsio Plasenta adalah pelepasan plasenta yang berada dalam posisi normal pada dinding rahim sebelum waktunya, yang terjadi pada saat kehamilan bukan pada saat persalinan.

Plasenta mungkin tidak menempel seluruhnya (kadang hanya 10-20%) atau menempel seluruhnya. Penyebabnya tidak diketahui.
Abrupsio lebih sering ditemukan pada wanita yang menderita tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes atau penyakit rematik dan wanita pemakai kokain.

Terjadi perdarahan rahim yang berasal dari sisi tempat menempelnya plasenta. Perdarahan eksternal terjadi jika darah keluar melalui vagina, tetapi jika darah terperangkap di belakang plasenta, akan terjadi perdarahan tersembunyi.
Gejala yang timbul tergantung kepada luasnya pelepasan plasenta dan banyaknya darah yang hilang.
Gejalanya berupa:
- perdarahan vagina
- nyeri perut yang timbul secara tiba-tiba
- nyeri kram perut
- nyeri jika perut ditekan.
Untuk memperkuat diagnosis biasanya dilakukan pemeriksaan USG.

Abrupsio plasenta menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen dan zat gizi untuk janin dan bisa menyebabkan kematian janin.
Sedangkan ibu bisa mengalami perdarahan yang serus, DIC (disseminated intravascular coagulation, bekuan darah di dalam pembuluh darah), gagal ginjal dan perdarahan ke dalam dinding rahim. Keadaan ini lebih sering terjadi pada wanita hamil yang mengalami pre-eklamsi) dan bisa merupakan petunjuk bahwa janin berada dalam keadaan gawat atau telah meninggal.

Penderita segera dirawat dan menjalani tirah baring.
Jika gejalanya berkurang, penderita mulai latihan berjalan dan mungkin boleh pulang.
Jika gejalanya semakin memburuk, dilakukan persalinan dini untuk menyelamatkan ibu dan bayi.

PLASENTA PREVIA
Plasenta Previa adalah plasenta yang tertanam di atas atau di dekat serviks (leher rahim), pada rahim bagian bawah.
Di dalam rahim, plasenta bisa menutupi lubang serviks secara keseluruhan atau hanya sebagian.
Plasenta previa biasanya terajdi pada wanita yang telah hamil lebih dari 1 kali atau wanita yang memiliki kelainan rahim (misalnya fibroid).

Pada akhir kehamilan, tiba-tiba terjadi perdarahan yang jumlahnya bisa semakin banyak. Darah yang keluar biasanya berwarna merah terang.
Untuk memperkuat diagnosis, dilakukan pemeriksaan USG.

Jika perdarahannya hebat, dilakukan transfusi darah berulang.
Jika perdarahannya ringan dan persailinan masih lama, bisanya dianjurkan untuk menjalani tirah baring.
Hampir selalu dilakukan operasi sesar karena cenderung terjadi pelepasan plasenta sebelum waktunya, bayi bisa mengalami kekurangan oksigen dan ibu bisa mengalami perdarahan hebat.

HIPEREMESIS GRAVIDARUM
Hiperemesis Gravidarum adalah mual dan muntah yang berlebihan selama masa hamil, tidak seperti morning sickness yang biasa dan bisa menyebabkan dehidrasi dan kelaparan. Penyebabnya tidak diketahui. Faktor psikis bisa memicu atau memperburuk muntah.

Berat badann pendertia menurun dan terjadi dehidrasi.
Dehidrasi bisa menyebabkan perubahan kadar elektrolit di dalam darah sehingga darah menjadi terlalu asam.
Jika muntah terus terjadi, bisa terjadi kerusakan hati.
Komplikasi lainnya adalah perdarahan pada retina yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan darah ketika penderita muntah.

Penderita dirawat dan mendapatkan cairan, glukosa, elektrolit serta vitamin melalui infus. Penderita berpuasa selama 24 jam. Jika perlu, bisa diberikan obat anti-mual dan obat penenang.
Jika dehidrasi telah berhasil diatasi, penderita boleh mulai makan makanan lunak dalam porsi kecil.
Biasanya muntah berhenti dalam beberapa hari. Jika gejala kembali kambuh, maka pengobatan diulang kembali.

PRE-EKLAMSI & EKLAMSI
Pre-eklamsi (Toksemia Gravidarum) adalah tekanan darah tinggi yang disertai dengan proteinuria (protein dalam air kemih) atau edema (penimbunan cairan), yang terjadi pada kehamilan 20 minggu sampai akhir minggu pertama setelah persalinan.
Eklamsi adalah bentuk pre-eklamsi yang lebih berat, yang menyebabkan terjadinya kejang atau koma.

Pre-eklamsi terjadi pada 5% kehamilan dan lebih sering ditemukan pada kehamilan petama dan pada wanita yang sebelumnya menderita tekanan darah tinggi atau penyakit pembuluh darah.
Eklamsi terjadi pada 1 dari 200 wanita yang menderita pre-eklamsi dan jika tidak diobati secara tepat biasanya bisa berakibat fatal.

Penyebab dari pre-eklamsi dan eklamsi tidak diketahui.
Resiko utama terjadinya pre-eklamsi adalah abrupsio plasenta.

Gejala-gejala dari pre-eklamsi adalah:
- tekanan darah lebih tinggi dari 140/90 mm Hg
- wajah atau tangan membengkak
- kadar protein yang tinggi dalam air kemih.
Seorang wanita yang pada saat hamil tekanan darahnya meningkat secara berarti tetapi tetap dibawah 140/90 mm Hg, juga dikatakan menderita pre-eklamsi.

Bayi yang dilahirkan dari ibu yang menderita pre-eklamsi, 4-5 kali lebih rentan terhadap kelainan yang timbul segera setelah lahir. Bayi yang dilahirkan juga mungkin kecil karena adanya kelainan fungsi plasenta atau karena lahir prematur.

Pre-eklamsi dan eklamsi tidak memberikan respon terhadap diuretik (obat untuk membuang kelebihan cairan) dan diet rendah garam.
Penderita dianjurkan untuk mengkonsumsi garam dalam jumlah normal dan minum air lebih banyak. Sangat penting untuk menjalani tirah baring.
Penderita juga dianjurkan untuk berbaring miring ke kiri sehingga tekanan terhadap vena besar di dalam perut yang membawa darah ke jantung berkurang dan aliran darah menjadi lebih lancar.

Untuk menurunkan tekanan darah dan mencegah kejang, bisa diberikan magnesium sulfat intravena (melalui pembuluh darah).

Jika pre-eklamsinya bersifat ringan, penderita cukup menjalani tirah baring di rumah, tetapi harus memeriksakan diri ke dokter setiap 2 hari.
Jika perbaikan tidak segera terjadi, biasanya penderita harus dirawat dan jika kelainan ini terus berlanjut, maka persalinan dilakukan sesegera mungkin.

Penderita pre-eklamsi berat dirawat di rumah sakit dan menjalani tirah baring.
Cairan dan magnesium sulfat diberikan melalui infus.
Dalam waktu 4-6 jam, biasanya tekanan darah kembali normal dan bayi dapat dilahirkan dengan selamat.
Jika tekanan darah tetap tinggi, sebelum persalinan dimulai, diberikan obat tambahan.

# Komplikasi utama dari pre-eklamsi dan eklamsi adalah sindroma HELLP, yang terdiri dari: Hemolisis (penghancuran sel darah merah)
# Peningkatan enzim hati (yang menunjukkan adanya kerusakan hati)
# Penurunan jumlah trombosit (yang menunjukkan adanya gangguan kemampuan pembekuan darah).
Sindroma HELLP cenderung terjadi jika pengobatan pre-eklamsi tertunda.
Jika terjadi sindroma HELLP, bayi segera dilahirkan melalui operasi sesar.

Setelah persalinan, dilakukan pemantauan ketat untuk melihat tanda-tanda terjadinya eklamsi. 25% kasus eklamsi terjadi setelah persalinan, biasanya dalam waktu 2-4 hari pertama setelah persalinan.
Tekanan darah biasanya tetap tinggi selama 6-8 minggu. Jika lebih dari 8 minggu tekanan darahnya tetap tinggi, kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan pre-eklamsi.

HERPES GESTASIONAL
Herpes Gestasional adalah lepuhan berisi cairan yang sangat gatal, yang terjadi selama kehamilan.

Penggunaan istilah herpes sebenarnya tidak tepat karena ruam yang terjadi tidak disebabkan oleh virus herpes maupun virus lainnya.
Herpes gestasional diduga disebabkan oleh antibodi abnormal yang beraksi terhadap jaringan tubuh sendiri (reaksi autoimun).
Ruam ini bisa timbul kapanpun setelah kehamilan 12 minggu atau segera setelah persalinan.

Ruam biasanya terdiri dari vesikel (lepuhan kecil/besar yang berisi cairan) atau bula (pembengkakan yang bentuknya tidak beraturan dan berisi carian).
Ruam ini seringkali berawal di perut lalu menyebar.
Segera setelah persalinan, ruam akan semakin memburuk dan menghilang dalam beberapa minggu atau bulan kemudaian.

Ruam seringkali muncul lagi pada kehamilan berikutnya atau jika penderita menggunakan pil KB.
Bayi yang dilahirkan mungkin memiliki ruam yang serupa, tetapi biasanya akan menghilang dalam beberapa minggu, tanpa pengobatan.

Untuk memperkuat diagnosis, diambil kerokan kulit yang terkena dan diperiksa di laboratorium untuk mengetahui adanya antibodi.

Tujuan pengobatan adalah untuk meringankan gatal-gatal dan mencegah terbentuknya lepuhan yang baru.
Untuk ruam yang ringan, diberikan krim kortikosteroid yang dioleskan langsung ke kulit yang terkena sesering mungkin.
Untuk ruam yang lebih luas, diberikan kortikosteroid per-oral (melalui mulut). Mengkonsumsi kortikosteroid pada akhir kehamilan tidak akan membahayakan bayi.
Jika setelah persalinan gatal-gatal semakin hebat atau ruam semakin menyebar, mungkin perlu diberikan kortikosteroid dengan dosis yang lebih tinggi.

URTIKARIA GESTASIONAL
Urtikaria Gestasional adalah kaligat yang terjadi pada saat hamil.

Penyebabnya tidak diketahui.
Kaligata biasanya timbul di perut, dan bisa menyebar ke paha, bokong, kadang sampai ke lengan.

Ruam kaligata biasanya muncul pada 2-3 minggu menjelang persalinan. Tetapi mungkin saja timbul setelah kehamilan mencapai 24 minggu.
Rasa gatal sering menyebabkan penderita tidak dapat tidur di malam hari.
Setelah persalinan, kaligata biasanya menghilang dan tidak kambuh pada kehamilan berikutnya.

Untuk mengatasi gatal-gatal dan meredakan ruam kaligata, diberikan krim kortikosteroid yang dioleskan sesering mungkin.
Jika ruamnya lebih berat, diberikan kortikosteroid per-oral.
Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Thu Jul 29, 2010 5:52 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Thu Feb 04, 2010 6:43 am

15 PENYAKIT KOMPLIKASI RISIKO TINGGI KEHAMILAN
Rabu, 31/03/2010 09:07 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Mengandung bagi perempuan adalah saat-saat dimana kondisi tubuh harus terjaga dengan prima. Kondisi kesehatan, status mental dan gaya hidup bisa memicu komplikasi yang serius pada kehamilan. Sudah banyak kasus ibu mengandung yang mengalami masalah selama kehamilan atau memiliki risiko yang tinggi ketika melahirkan seperti kasus eklampsia akibat hipertensi yang dapat menyebabkan kejang pada ibu hamil.

Meski tidak setiap ibu hamil akan memiliki komplikasi kehamilan yang berisiko tinggi tetapi mengetahui komplikasi atau risiko selama hamil dapat membantu menangani dan mencegah komplikasi itu terjadi. Seperti dilansir dari dari Babycenter dan Buzzle, Rabu (31/3/2010), ada beberapa komplikasi kehamilan berisiko tinggi, antara lain:

1. Anemia
Juga disebut sebagai anemia kehamilan, ini adalah kondisi di mana tubuh memiliki sedikit sel-sel darah merah atau sel tidak dapat membawa oksigen ke berbagai organ tubuh. Selama kehamilan volume darah seorang wanita meningkat hampir sebesar 50 persen dan konsentrasi sel darah merah bisa diencerkan. Janin berkembang bergantung pada darah ibu tapi jika ibu menderita anemia dapat mengakibatkan pertumbuhan janin yang buruk, lahir prematur dan berat lahir rendah. Kekurangan vitamin dan mineral seperti vitamin B12, asam folat, besi, dan lainnya dapat menyebabkan anemia pada kehamilan. Namun, kondisi ini biasanya tidak dianggap berat, kecuali pada tingkat yang terlalu rendah.

2. Intrauterine Growth Restriction
Intrauterine Growth Restriction (IUGR) adalah suatu kondisi dimana janin lebih kecil dari yang diharapkan selama beberapa minggu pertama kehamilan. Juga disebut sebagai pembatasan pertumbuhan janin. Janin yang tumbuh pada kondisi seperti ini, beratnya kurang dari 90 persen dari semua janin dari usia kehamilan yang sama, dan ada kemungkinan bayi lahir prematur, yaitu sebelum 37 minggu. Kekurangan nutrisi dan oksigen yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan organ-organ adalah salah satu penyebab paling umum IUGR, yang mencegah sel dan jaringan tumbuh atau penurunan ukuran mereka. Kondisi ini juga dapat disebabkan karena keturunan. Bayi yang baru lahir sering tampak lemah, pucat, longgar, kulit kering dan mata lebar. Selain itu, tali pusat mereka sangat tipis dan tampak tidak sehat dibandingkan dengan bayi normal yang mengkilap dan gemuk.

3. Prematur yang tidak wajar (Preterm Labor)
Prematur labor adalah tidakwajaran yang dimulai sebelum 37 minggu kehamilan dan terutama dicirikan oleh kontraksi rahim prematur, pecahnya kantung atau selaput ketuban atau dilatasi serviks. Meskipun sebenarnya penyebab persalinan prematur masih belum diketahui, pecah ketuban dini dianggap sebagai salah satu penyebab dominan, yang dapat terjadi sebagai akibat dari beberapa penyakit medis yang kronis seperti jantung atau penyakit ginjal, tekanan darah tinggi, infeksi, dan lainnya. Bayi yang lahir pada kondisi seperti ini sering kali kecil, memiliki berat lahir kecil dan mungkin memerlukan bantuan dalam bernapas, makan, melawan infeksi, dan mempertahankan suhu tubuh stabil.

4. Premature Rupture of Membranes
Premature Rupture of Membranes (PROM) adalah pecahnya ketuban atau kantung ketuban sebelum persalinan dimulai. Jika PROM terjadi sebelum 37 minggu kehamilan, itu disebut sebagai Preterm Premature Rupture of Membranes (pecahnya ketuban terlalu dini atau PPROM). Kondisi ini biasanya terjadi karena infeksi pada rahim, perawatan yang salah sebelum melahirkan, penyakit menular seksual, perdarahan vagina, atau kebiasaan yang tidak sehat seperti merokok atau minum alkohol. Kondisi ini juga dapat menyebabkan komplikasi seperti plasenta abruption (detasemen awal plasenta dari rahim), kompresi tali pusat, infeksi bedah caesar kelahiran dan pasca-melahirkan (setelah melahirkan).

5. Gestational Diabetes
Gestational diabetes merupakan salah satu komplikasi kehamilan berisiko tinggi di mana tingkat glukosa darah akan meningkat dan gejala diabetes lain yang mulai muncul selama kehamilan pada seorang wanita yang belum pernah sebelumnya didiagnosis diabetes. Gestation diabetes selama kehamilan tidak terjadi karena kekurangan insulin, tetapi karena efek memblokir hormon lain pada insulin yang dihasilkan dalam tubuh. Biasanya, gejala diabetes menghilang setelah melahirkan.

6. Tekanan darah tinggi atau Pregnancy Induced Hypertension
Pregnancy-induced hypertension (PIH) adalah suatu bentuk tekanan darah tinggi selama kehamilan yang lebih sering terjadi pada wanita muda dengan kehamilan pertama, kehamilan kembar, atau pada seorang wanita yang menderita masalah kesehatan lainnya seperti diabetes, hipertensi kronis, dan lainnya. Dalam kondisi ekstrim, seorang wanita dapat menderita eklampsia (bentuk yang parah akibat kehamilan hipertensi) yang terjadi di akhir kehamilan dan dapat menyebabkan kejang pada ibu hamil.

7. Placenta Previa
Plasenta previa adalah komplikasi umum pada kehamilan yang berisiko tinggi, di mana plasenta melekat dekat atau menutupi leher rahim (pembukaan rahim). Kondisi dapat mengakibatkan pendarahan yang berlebihan atau perdarahan di bagian bawah rahim atau area plasenta yang menutupi leher rahim. Faktor risiko lain yang terlibat adalah abnormal implantasi dari plasenta, memperlambat pertumbuhan janin, kelahiran prematur, cacat lahir dan infeksi selama kehamilan.

8. Hidroamnios
Hidroamnios adalah suatu kondisi kelebihan cairan ketuban di sekitar janin. Kondisi ini dapat mengakibatkan cacat lahir, prematur pecah ketuban atau kantung ketuban, plasenta abruption dan tali pusar prolaps. Diabetes, kelainan gastrointestinal, gagal jantung, kegagalan bawaan, transfusi kembar sindrom adalah beberapa faktor yang dapat berkontribusi menyebabkan Hidroamnios selama kehamilan.

9. Penyakit Rhesus
Penyakit Rhesus atau Rh adalah kondisi yang jarang terjadi ketika ada ketidakcocokan antara jenis darah ibu dan bayi. Setiap individu memiliki tipe darah (O, A, B, atau AB) dan faktor Rh, baik positif atau negatif, yang mendefinisikan karakteristik khusus tertentu. Pada kasus Rh ibu negatif dan Rh bayi yang positif, komplikasi dapat terjadi jika sel-sel darah merah bayi menyalib ke Rh negatif ibu, terutama pada saat pengiriman ketika plasenta melepaskan atau selama keguguran atau aborsi. Pada dasarnya, dalam penyakit Rh ini, sistem kekebalan tubuh ibu mempertimbangkan Rh positif sel-sel darah merah bayi sebagai benda asing dan merespons dengan menghasilkan antibiotik untuk melawan dan menghancurkan sel-sel asing ini. Umumnya, selama kehamilan pertama, sensitifasi Rh tidak mungkin terjadi, tetapi hanya menjadi masalah di masa depan kehamilan dengan bayi Rh positif lain. Sebagai antibodi ibu melewati plasenta untuk melawan sel-sel Rh positif atau menghancurkan sel-sel darah merah dalam tubuh bayi, bayi yang baru lahir dapat menjadi anemia atau komplikasi lain seperti penyakit kuning atau pembesaran organ.

10. Kehamilan Post-Term
Kehamilan Post-Term adalah kehamilan yang berlangsung lebih dari 42 minggu, sering kali karena kesalahan perhitungan tanggal pembuahan kehamilan.
Pada dasarnya, dekat akhir kehamilan, plasenta mulai berkurang dan tidak mampu berfungsi dengan baik. Selain itu, volume cairan ketuban juga mulai menurun. Sebagai akibatnya pasokan oksigen janin menjadi sedikit dan akan menghentikan kenaikan berat badan.

11. Kehamilan ganda
Kehamilan ganda adalah kehamilan dengan dua atau lebih janin, yang terjadi ketika lebih dari satu telur subur dan tertanam di dalam rahim. Riwayat keluarga kehamilan kembar, usia lebih tua, paritas tinggi (satu atau lebih kehamilan sebelumnya), obat-obatan yang merangsang ovulasi tertentu, dapat berkontribusi pada kehamilan seorang wanita. Meskipun bukan komplikasi kehamilan risiko tinggi yang parah, persalinan prematur, hipertensi akibat kehamilan, anemia, lahir cacat, keguguran, kelahiran caesar, perdarahan pasca melahirkan, adalah beberapa kesulitan yang dapat dikaitkan dengan hal ini.

12. Kehamilan ektopik
Kehamilan ektopik adalah suatu kehamilan yang berkembang di luar rahim, dekat tabung tuba di mana tidak ada cukup aliran darah untuk janin tetap hidup dan akhirnya mati. Kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita yang mengalami masalah ketidaksuburan, endometriosis, penyakit menular seksual, operasi tuba dan pembuahan intrauterine device (IUD).

13. Keguguran
Juga disebut sebagai aborsi spontan, keguguran didefinisikan sebagai kehilangan kehamilan awal, yang dapat dikategorikan ke jenis berikut:
* Terancam (bercak dan perdarahan di trimester pertama)
* Lengkap (janin, plasenta dan jaringan lain yang disahkan dengan pendarahan)
* Tidak lengkap (beberapa bagian dari jaringan tetap di dalam rahim)
* Lewat aborsi (janin mati tetapi tidak melewati keluar dari rahim)
* Septik (terinfeksi keguguran)
* Berulang (lebih dari tiga kali keguguran)

14. Kelahiran mati
Merupakan kondisi yang sangat disayangkan di mana bayi meninggal di dalam rahim. Diabetes, tekanan darah tinggi, kelainan bawaan, penyakit Rh, masalah plasenta, adalah penyebab pasti bayi lahir mati.

15. Pendarahan pasca melahirkan
Pendarahan pasca melahirkan merupakan salah satu komplikasi kehamilan berisiko tinggi, di mana terjadi perdarahan yang berlebihan setelah melahirkan. Kondisi ini lebih umum setelah bedah caesar, rahim terus kontraksi dan mengusir plasenta. Akibatnya, kontraksi ini menekan pembuluh darah di daerah di mana plasenta dihubungkan, intens menyebabkan perdarahan pasca-melahirkan. Untuk mengatasi komplikasi kehamilan berisiko tinggi berkonsultasilah dengan dokter, melakukan tes kehamilan berisiko tinggi dan konsumsi obat yang tepat memungkinkan wanita dengan masalah medis menikmati kehamilan dengan sehat dan sukses.
(mer/ir)


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 8:00 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Fri Feb 05, 2010 7:14 pm

INFEKSI SERIUS YANG BISA MENYERANG IBU HAMIL
Vera Farah Bararah - detikHealth - Selasa, 29/06/2010 14:16 WIB
Jakarta, Ibu hamil harus selalu dalam kondisi yang sehat agar tubuhnya kuat melawan kuman. Setidaknya ada 17 infeksi serius yang sering menyerang ibu hamil yang kondisinya tidak fit. Beberapa penyakit infeksi ini bisa menular ke bayinya melalui plasenta atau saat persalinan. Jika hal ini terjadi, kemungkinan ada komplikasi pada bayi atau mengakibatkan persalinan prematur. Seperti dikutip dari Babycenter, Selasa (29/6/2010) ada 17 infeksi yang bisa mempengaruhi kehamilan, yaitu:

Bakteri vaginosis
Bakteri vaginosis atau BV adalah infeksi vagina yang paling umum terjadi pada perempuan usia subur yang disebabkan ketidakseimbangan bakteri di vagina. Kena infeksi ini saat hamil berisiko terjadi kelahiran prematur, berat badan bayi lahir rendah dan infeksi rahim setelah kelahiran.

Cacar air
Tidak banyak perempuan hamil yang terinfeksi cacar air hanya 1-7 dari 10.000 kehamilan. Risiko tertinggi terkena sindrom varicella kongenital (CVS) jika terinfeksi pada usia kehamilan 13-20 minggu. CVS bisa membuat cacat lahir, yang paling sering adalah terdapat bekas luka, cacat kaki, kepala yang kecil dan masalah penglihatan.

Klamidia
Infeksi bakteri ini memang bisa disembuhkan yang ditularkan melalui alat kelamin, oral atau anal seks. Perempuan hamil yang kena infeksi klamidia selama hamil berisiko terjadi infeksi kantung dan cairan ketuban, kelahiran prematur serta pecah ketuban dini. Beberapa studi telah menghubungkan dengan peningkatan risiko keguguran.

Rubella
Jika tidak kebal terhadap penyakit
ini selama awal kehamilan bisa menyebabkan keguguran atau bayi berakhir dengan cacat lahir. Jika bayi lahir dengan membawa virus ini, kemungkinan besar mengalami sindrom rubella bawaan (congenital rubella syndrome/CRS).

Toksoplasmosis
Infeksi ini dari parasit mikroskopis Toxoplasma gondii. Meski penyakit ini tak menimbulkan gejala, tapi memiliki risiko selama kehamilan karena bisa menginfeksi plasenta dan janin. Risiko terinfeksi paling besar di trimester ketiga, tapi tingkat keparahan congenital toxoplasmosis paling tinggi jika terinfeksi pada trimester pertama.

Cytomegalovirus
Virus ini adalah anggota dari virus herpes. Beberapa bayi terkadang tidak menunjukkan gejala saat lahir, tapi bayi yang mengalami congenital cytomegalovirus pada awalnya akan mengembangkan gangguan pendengaran dan komplikasi infeksi di bulan atau tahun berikutnya.

Fifth disease
Penyakit ini disebabkan oleh parvovirus yang berada dalam darah dan diinfeksi melalui plasenta. Infeksi ini bisa menyebabkan keguguran atau membuat bayi ikut terinfeksi.

Flu
Beberapa virus flu bisa menyebabkan komplikasi serius, seperti pneumonia dan persalinan prematur yang membuat bayi berisiko mengalami gangguan kesehatan.

Kencing nanah
Jika memiliki infeksi ini berisiko tinggi mengalami keguguran, infeksi kantung dan cairan ketuban, kelairan prematur, ketuban pecah lebih dini, preterm premature rupture of membranes (PPROM) serta risiko infeksi rahim.

Hepatitis B
Beberapa orang tidak menunjukkan gejala saat terinfeksi hepatitis B, sehingga tanpa disadari bisa menular pada janinnya sehingga saat dilahirkan bayi sudah memiliki virus hepatitis B.

Herpes
Penularan infeksi ini melalui plasenta sejak trimester pertama. Jika bayi sudah terinfeksi, maka bisa menyebabkan cacat lahir yang serius.

HIV
Memiliki HIV positif berisiko tinggi melahirkan prematur, intrauterine growth restriction dan bayi yang dilahirkan meninggal. Selain itu risiko komplikasi yang tinggi juga menyebabkan sistem kekebalan tubuh yang bocor.

Listeriosis
Infeksi ini melalui plasenta dan cairan ketuban yang dapat menyebabkan keguguran atau kelahiran bayi meninggal. Selain itu masalah lainnya adalah infeksi darah, luka, kesulitan bernapas, demam, lesi pada beberapa organ serta infeksi sistem saraf pusat.

STD
Infeksi pada bayi yang baru lahir bisa mengancam hidupnya dan menyebabkan gangguan kesehatan yang ireversible. Selain itu juga meningkatkan risiko keguguran, prematur, ketuban pecah dini, infeksi rahim serta bayi lahir dengan kondisi meninggal.

Sifilis
Sifilis bisa menginfeksi sistem saraf pusat di otak dan sumsum tulang belakang, meningitis, kejang, kebutaan, kehilangan pendengaran, demensia serta masalah pada saraf tulang belakang.

Trichomoniasis
Infeksi trich selama hamil dikaitkan dengan risiko kelahiran prematur, ketuban pecah dini, berat badan bayi lahir rendah serta berisiko rentan terkena HIV.

Infeksi saluran kemih
Jika infeksi ini tidak diobati maka akan meningkatkan risiko kelahiran prematur serta berat badan bayi lahir rendah.
(ver/ir)


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 8:01 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Fri Feb 05, 2010 7:21 pm

PRE EKLAMPSI - EKLAMPSI
Adalah keracunan kehamilan yang membutuhkan perawatan RS, biasanya baru terjadi pada saat usia kehamilan lebih dari 7 bulan.
Tanda tanda preeklampsi:
1. Tekanan darah naik
2. Kaki bengkak
3. Ada protein didalam urine
Ada 2 dari 3 tanda tersebut sudah digolongkan preeklampsia, bila terjadi kejang kejang dinamakan eklampsi.
Pada preeklampsi yang berat dapat terjadi bengkak diseluruh tubuh, nafas yang pendek, nyeri dada, nyeri uluhati, penglihatan kabur.

Kelompok ibu hamil yang berresiko tinggi untuk mengalami preeklampsi - eklampsi:
1. Usia kurang dari 18 tahun.
2. Usia diatas 35 tahun.
3. Kehamilan pertama.
4. Kehamilan kembar.
5. Obesitas.
6. Ada riwayat preeklampsi - eklampsi.
Sumber: Bunga Rampai Masalah Kesehatan ILUNI FK 1983


Last edited by gitahafas on Thu Jul 29, 2010 5:57 am; edited 10 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Fri Feb 05, 2010 7:25 pm

KEHAMILAN DAN TEKANAN DARAH TINGGI
06-10-2006 | www.mayoclinic.com edited by scientific
Bila Anda memiliki tekanan darah tinggi, maka kehamilan perlu penanganan yang khusus. Tulisan ini berisi tentang apa-apa saja yang perlu diketahui untuk menjaga kehamilan, Anda dan bayi. Mungkin tekanan darah tinggi Anda telah di tangani dengan makan makanan sehat serta olahraga, atau Anda telah menangani kondisi tersebut dengan pengobatan. Tapi apakah hal tersebut aman selama kehamilan? Untuk kebanyakan wanita, jawabannya adalah iya, tetapi perawatan sebelum hamil sangat penting. Bila anda sedang mempertimbangkan untuk hamil sedangkan memiliki tekanan darah tinggi, ini adalah apa yang harus dilakukan.

Mengapa tekanan darah tinggi menjadi masalah selama kehamilan?
Tekanan darah tinggi dapat menurunkan aliran darah ke plasenta, yang akan mempengaruhi persediaan oksigen dan nutrisi dari bayi. Hal ini dapat memperlambat pertumbuhan bayi dan meningkatkan resiko saat melahirkan. Tekanan darah tinggi juga meningkatkan resiko kerusakan tiba-tiba dari plasenta, dimana plasenta akan terpisah dari uterus sebelum waktunya. Komplikasi yang mengancam jiwa karena tekanan darah tinggi juga dapat terjadi tetapi jarang.

Apakah ada perbedaan tipe dari tekanan darah tinggi selama kehamilan?
Ya. Sebanyak 5 % dari wanita memiliki tekanan darah tinggi sebelum kehamilan. Hal ini disebut sebagai essential hypertension. Tipe ini tidak berbeda dengan tekanan darah tinggi yang biasanya diderita oleh orang yang kelebihan berat badan dan malas bergerak. Beberapa wanita tidak didiagnosa memiliki tekanan darah tinggi hingga mereka mulai mengandung.

5 % - 8 % dari wanita lainnya mengalami tekanan darah tinggi selama kehamilan. Hal ini disebut sebagai gestational hypertension. Meskipun biasanya hilang setelah kelahiran, gestational hypertension dapat meningkatkan resiko terjadinya tekanan darah tinggi kronis di masa yang akan datang.
Kadang hipertensi kronis atau gestational hypertension memicu pada preeclampsia, yaitu suatu kondisi serius yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah dan protein dalam urin ? yang menjadi tanda masalah pada ginjal.

Apa yang perlu diketahui tentang preeclampsia?
Satu dari empat orang wanita dengan tekanan darah tinggi kronis menjadi preeclampsia. Sebagai tambahan dari peningkatan tekanan darah dan protein pada urin, mungkin akan terjadi pembengkakan pada wajah dan tangan, kenaikan berat badan secara tiba-tiba, sakit kepala yang terus menerus, penglihatan kabur, pusing dan sakit perut. Preeclampsia dapat cepat meningkat menjadi kondisi mengancam jiwa yaitu eclampsia. Kondisi yang jarang terjadi ini dapat menyebabkan seizures dan kadang koma. Bila Anda memiliki tanda-tanda preeclampsia, Anda dan bayi akan dimonitor dengan ketat. Kadang kala istirahat total atau rawat inap dianjurkan untuk kondisi itu.

Apakah aman untuk menggunakan obat untuk tekanan darah selama kehamilan?
Semua pengobatan yang Anda gunakan selama kehamilan dapat mempengaruhi bayi. Meski beberapa obat yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah dianggap aman digunakan selama kehamilan, tetapi obat seperti angiotensin-converting enzyme (ACE) inhibitor tidak aman.
Bagaimanapun perawatan sangat penting. Resiko untuk serangan jantung, stroke dan masalah lain yang berkaitan dengan tekanan darah tinggi tetap mengancam selama kehamilan dan dapat membahayakan bayi juga. Bila memang obat dibutuhkan untuk mengatasi tekanan darah, maka obat yang diresepkan harus yang paling aman dan dengan dosis efektif yang paling kecil. Gunakan obat seperti yang diresepkan. Jangan menghentikan obat sembarangan atau menyesuaikan dosis sendiri.

Apa yang harus dipersiapkan sebelum kehamilan?
Anda dan dokter akan mengevaluasi seberapa baik Anda mengatasi tekanan darah Anda dan akan mempertimbangkan kemungkinan perubahan yang diperlukan sebelum hamil. Bila Anda kelebihan berat badan, maka akan direkomendasikan untuk mengurangi kelebihan berat badan sebelum berencana untuk hamil.
Selama kehamilan, Anda perlu ke dokter lebih sering. Pemeriksaan darah dan urin, pemeriksaan rutin berat badan dan tekanan darah juga harus dilakukan lebih teratur.

Apa yang dapat dilakukan untuk mencegah komplikasi?
Dengan menjaga kesehatan diri dengan baik merupakan cara terbaik untuk menjaga calon bayi Anda.
1. Minum obat tekanan darah seperti yang diresepkan.
2. Makan makanan sehat.
3. Batasi jumlah natrium dalam makanan.
4. Minum vitamin.
5. Ikuti saran dari dokter untuk olahraga dan kegiatan sehari-hari.
6. Istirahat yang cukup.
7. Hindari merokok, alkohol dan obat-obatan yang tidak perlu.

Bagaimana saat melahirkan?
Dokter mungkin akan merekomendasikan untuk induksi kelahiran beberapa minggu sebelum waktu melahirkan agar terhindar dari komplikasi, atau bila menderita preeclampsia atau komplikasi lainnya. Bila Anda mengalami preeclampsia yang parah, maka Anda akan diberikan pengobatan selama melahirkan untuk mencegah kejang. Pada beberapa kasus, rencana C perlu disiapkan. Tergantung dari waktu, Anda mungkin akan diberikan injeksi steroid poten untuk memastikan bahwa paru-paru bayi terbentuk sempurna sebelum lahir.


Last edited by gitahafas on Thu Jul 29, 2010 5:56 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Sun Feb 07, 2010 9:08 am

SINDROM HELLP
RACIKAN UTAMA - Edisi Juli 2007 (Vol.6 No.12) Farmacia
Penyakit aneh seperti Sindrom HELLP belum diketahui dengan baik. Penyakit multiorgan ini meliputi ke­lainan tonus pembuluh darah, vasos­pas­me, dan koagulasi. Se­ring terjadi di Indonesia, namun sering pu­la tidak terdeteksi dan berakhir dengan kematian.

HELLP!!!
Preeklamsia dapat menjadi eklampsia dan komplikasi lain berupa solusio pla­senta, hipofibrinogenemia, hemolisis, per­da­rahan otak, kelainan mata, edema paru, nekrosis hati, kelainan ginjal, serta komplikasi yang sangat sering di negara berkembang, yakni sindrom HELLP.
Sindrom HELLP merupakan salah sa­tu komplikasi yang terdiri dari Hemolytic ane­mia, Elevated Liver function, dan Low Platelet (HELLP). Faktor risikonya ialah pre­eklamsia, partus preterm, fetal growth res­triction, dan partus per ab­dominal. Banyak praktisi yang mempertimbang­kan sindrom ini merupakan varian dari pre­eklamsia, te­tapi mungkin merupakan entitas penyakit tersen­diri. Hipertensi yang diinduksi dengan kehamilan, pre­eklam­sia, dan sindrom HELLP saling ber­kait­an dan tumpang tin­dih. Karena morbi­ditas dan mortalitas Sindrom HELLP yang serius, se­mua dokter yang membe­rikan pelayanan kesehat­an maternal perlu waspada dan mampu mendeteksi sindrom HELLP se­cepatnya.

Etiopatogenesis HELLP
Seperti biasa, penyakit aneh seperti Sindrom HELLP belum diketahui dengan baik. Penyakit multiorgan ini meliputi ke­lainan tonus pembuluh darah, vasos­pas­me, dan koagulasi. Tidak ada faktor pe­nyu­lit yang ditemukan. Sindrom ini meru­pa­kan manifestasi akhir dari berbagai gangguan yang menyebabkan kerusakan endotel mikrovaskular dan aktivasi intra­vas­kular trombosit. Dengan terjadinya ak­tivasi trombosit, tromboksan A dan serotonin dikeluarkan, menyebabkan vasos­pas­me, aglutinasi trombosit dan agregasi dan akhirnya terjadi kerusakan endotel. Karenanya urutan ini hanya dapat ber­akhir dengan proses persalinan.

Epidemiologi dan Faktor Risiko
Tidak diketahui angka insiden sindrom HELLP di Indonesia. Lazimnya, praktisi yang bekerja di rumah sakit rujukan akan sering menemukan kasus sindrom HELLP, walau kadang banyak pula terjadi underdiagnosis. Umumnya penyakit ini ter­jadi ka­rena ibu tidak melakukan pera­watan an­te­natal sehingga jangankan sindrom HELLP, preeklamsia pun tidak terdeteksi. Sindrom HELLP terjadi kira-kira 4-12 persen pada wanita dengan preeklamsia dan eklampsia.

Tanda dan Gejala
Kira-kira 90 persen pasien terdapat le­lah, 65 persen dengan nyeri epigastrium, 30 persen dengan mual dan muntah, dan 31 persen dengan sakit kepala. Karena diagnosis awal pada sindrom ini sangat penting, setiap pasien dengan gejala le­mah atau gejala yang mirip penyakit viral pada trimester ketiga harus dievaluasi de­ngan pemeriksaan darah rutin dan tes fungsi hati. Dengan penemuan ini, sindrom HELLP dapat diklasifikan termasuk sindrom HELLP total (memiliki semua ke­lain­an) atau parsial (kurang dari tiga ke­lainan). Dapat juga diklasifikasikan ber­da­sarkan jumlah trombosit menjadi kelas I (<50.000), kelas II (50-100.000), dan ke­las III (100-150.000), makin rendah ke­lasnya makin tinggi morbiditasnya.
Pemeriksaan fisik mungkin normal pa­da pasien dengan Sindrom HELLP. Wa­lau­pun begitu, nyeri tekan pada kuadran ka­nan atas mungkin dapat ditemukan pada 90 persen pada pasien. Edema tidak ber­guna untuk diagnosis, karena edema da­pat terjadi pada lebih dari 30 persen pa­sien dengan kehamilan normal. Hiper­ten­si dan proteinuria mungkin tidak ada atau ringan. Diagnosis banding dari Sindrom HELLP adalah perlemakan hati akut, purpura trombositopenik trombosis, dan sindrom uremia hemolisis. Karena gejala klinis yang kurang jelas, diagnosis Sindrom HELLP biasanya terlambat sampai kira-kira 8 hari. Banyak wanita dengan Sin­drom HELLP mengalami salah diagnosis dengan kelainan lain seperti kolesistitis, esofagitis, gastritis, hepatitis, atau trombositopenia idiopatik.

Tes penegakan diagnosis
Tiga kelainan utama yang ditemukan pada Sindrom HELLP adalah hemolisis, pe­ningkatan enzim hati, dan rendahnya nilai trombosit. Penurunan hematokrit mung­kin tanda terakhir pada tiga ke­lain­an utama. Ditemukannya penurunan se­rum haptoglobin mungkin merupakan tan­da akan terjadinya hemolisis apabila nilai hematokrit normal. Peningkatan serum tran­saminase (SGOT/SGPT) dapat men­ca­pai 4000 U per L, tetapi biasanya ha­nya terjadi peningkatan ringan. Nilai trombosit dapat turun hingga mencapai 6000, tetapi setiap penurunan trombosit di­ba­wah 150000 perlu mendapatkan perha­tian lebih.
Kecuali terjadi DIC, protrombin time, par­tial thromboplastin time, dan nilai fib­ri­nogen masih normal pada pasien de­ngan Sindrom HELLP. Pada pasien de­ngan nilai fibrinogen plasma kurang dari 300 mg/dL, DIC harus dipikirkan, apalagi bila terdapat kelainan nilai laboratorium lain. Proteinuria dan peningkatan konsentrasi asam urat sangat membantu untuk menunjang diagnosis preeklamsia bukan Sindrom HELLP. Nilai trombosit merupa­kan tanda yang yang paling baik selanjutnya. Oleh karena itu, Sindrom HELLP ha­rus dipikirkan pada semua pasien yang menunjukkan penurunan nilai trombosit se­lama periode antenatal. Adanya nilai D-dimer yang positif pada pasien preeklamsia dapat diprediksi akan menderita Sin­drom HELLP. D-dimer merupakan indikator yang lebih sensitif pada keadaan ko­agulopati dan mungkin positif sebelum ni­lai-nilai pemeriksaan koagulasi abnormal.

Penatalaksanaan
Deteksi dini adanya sindrom HELLP dan penatalaksanaan yang segera dapat memberikan hasil yang baik teradap ibu maupun janinnya. Ketika tejadi sindrom HELLP, sebaiknya segera terminasi ke­ha­milan. Penatalaksanaan harus sesuai de­ngan usia kehamilan dan kondisi dari ibu dan janinnya. Pasien dengan sindrom HELLP dapat diberikan penatalaksanaan yang konservatif (mis, istirahat, cairan, observasi) jika hipertensinya terkontrol < 160/110 mmHg, oligurianya berespon terhadap terapi cairan dan peningkatan ni­lai fungsi hati tidak berhubungan de­ngan nyeri epigastrik. Perawatan konser­va­tif ini harus dilakukan pada pusat pe­la­yanan kesehatan tersier yang mempunyai ICU (Intensive Care Unit) neonatus dan perinatologist.

Terapi antihipertensi harus dimulai ji­ka tekanan darah senantiasa di atas 160/­110 mmHg, meskipun dengan pe­ma­kaian MgSO4. Tindakan ini dapat me­ngurangi perdarahan serebral ibu, ruptur plasenta, dan kejang. Tujan utama terapi anti hipertensif ialah memepertahankan tekanan darah diastolik dalam batas 90 – 100 mmHg. Agen yang sering digunakan ialah hidralazin i.v dosis rendah 2,5 – 5 mg (dosis inisial 5mg) setiap 15 – 20 menit sampai tekanan darah target tercapai. Labetolol dan nifedipin juga dapat memberikan hasil yang baik. Untuk men­da­patkan efek potensiasi, perawatan di­la­kukan dengan kombinasi nifedipin dan MgSO4. Diuretik dapat mempengaruhi per­fusi plasenta, sehingga sebaiknya di­hindari. Krisis hipertensi dapat diatasi de­ngan pemberian nitrogliserin atau na­trium nitroprusid. Sekitar 38 – 93% pasien sindrom HELLP mengalami kelainan hematologi. Pa­sien dengan kadar platelet < 40.000/­mm3 biasanya akan mengalami perdarah­an. Pasien ini tidak memerlukan transfusi kecuali kadar trombosit mencapai < 20.000/­mm3. Pasien yang mengalami sek­sio sesarea harus ditransfusi jika trom­bosit < 50.000/mm3. Transfusi trom­­bosit untuk profilaksis saat persalin­an tidak mengurangi insiden perdarahan post partum. Pasien dengan DIC harus di­berikan fresh frozen plasma dan sel da­rah merah lengkap.
Kelainan laboratorium pada sindrom HELLP biasanya memburuk setelah per­sa­linan dan mulai membaik setelah 3-4 ha­ri pascapartum.

Komplikasi dan prognosis
Tingkat mortalitas pada pasien de­ngan sindrom HELLP mencapai 1,1%. Da­ri 1 – 25% wanita yang menderita sindrom HELLP berlanjut menjadi komplikasi yang serius, seperti DIC, ruptur plasenta, ARDS (Adult Respiratory Distress Syn­drome), kegagalan hepatorenal, edema pa­ru, hematoma subkapsular, serta ruptur hati. Tingkat morbiditas dan mortalitas bayi bervariasi dari 10 – 60%, bergantung dari tingkat keparahan penyakit ma­ternal. Bayi yang terkena sindrom HELLP cenderung mengalami perkembangan ja­nin terhambat dan sindrom gagal napas. Pasien yang pernah mengalami sindrom HELLP mempunyai risiko 19 – 27% untuk mengalami sindrom berulang pada kehamilan berikutnya. Mereka juga mempunyai risiko hingga 43% untuk mengalami preeklamsia di kehamilan berikutnya. Pasien dengan sindrom HELLP kelas I (trombosit <50.000) mempunyai risiko re­kuren paling tinggi. Saat sindrom ini ber­ulang, cenderung menjadi lebih berat. Pasien yang pernah mengalami sindrom HELLP dapat mengkonsumsi lagi kontra­sepsi pil dengan aman. Pasien dengan preeklamsia atau sindrom HELLP harus diperiksa antibodi antifosfolipid untuk mendeteksi kelainan imunologis.


Last edited by gitahafas on Thu Jul 29, 2010 5:56 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Sat Feb 13, 2010 12:53 pm

OBAT OBAT YANG DILARANG SELAMA KEHAMILAN
WHO memperkirakan sebanyak lebih dari 90% wanita hamil yang mengkonsumsi obat yang diresepkan maupun obat bebas, obat sosialisasi (misalnya alkohol atau tembakau) atau obat terlarang.
2-3% dari seluruh cacat bawaan disebabkan oleh obat-obatan.

Obat berpindah dari ibu ke janin terutama melalui plasenta (ari-ari), yaitu melalui jalan yang sama yang dilalui oleh zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan janin.
Di dalam plasenta, obat dan zat gizi di dalam darah ibu melewati selaput tipis yang memisahkan darah ibu dengan darah janin.

# Obat yang diminum oleh wanita hamil bisa mempengaruhi janin melalui beberapa cara: Secara langsung bekerja pada janin, menyebabkan kerusakan, kelainan perkembangan atau kematian
# Mempengaruhi fungsi plasenta, biasanya dengan cara mengkerutkan pembuluh darah dan mengurangi pertukaran oksigen dan zat gizi diantara janin dan ibu
# Menyebabkan otot rahim berkontraksi sekuat tenaga, yang secara tidak langsung mencederai janin dengan mengurangi aliran darah ke janin.

Pengaruh obat terhadap janin tergantung kepada tingkat perkembangan janin dan dosis serta kekuatan obat.
Obat tertentu yang diminum pada awal kehamilan (sebelum hari ke 17 setelah pembuahan), bisa menyebabkan kematian janin atau tidak mempengaruhi janin sama sekali. Pada saat ini janin sangat kebal terhadap cacat bawaan.

Pada hari ke 17-57 setelah pembuahan (dimana organ tubuh mulai terbentuk), janin sangat rentan terhadap terjadinya cacat bawaan.
Obat yang sampai ke janin bisa menyebabkan keguguran, cacat bawaan yang terlihat jelas atau cacat yang baru tampak di kemudian hari.

Obat yang diminum setelah organ tubuh janin terbentuk sempurna, memiliki peluang yang kecil untuk menyebabkan cacat bawaan yang nyata, tetapi bisa menyebabkan perubahan dalam pertumbuhan dan fungsi organ dan jaringan yang telah terbentuk secara normal.

OBAT ANTI-KANKER
Jaringan janin tumbuh dengan kecepatan tinggi, karena itu sel-selnya yang membelah dengan cepat sangat rentan terhadap obat anti-kanker.
Banyak obat anti-kanker yang bersifat teratogen, yaitu dapat menyebabkan cacat bawaan seperti:
- IUGR (intra uterine growth retardation, hambatan pertumbuhan di dalam rahim)
- Rahang bawah yang kurang berkembang
- Celah langi-langit mulut
- Kelainan tulang tengkorak
- Kelainan tulang belakang
- Kelainan telinga
- Clubfoot (kelainan bentuk kaki)
- Keterbelakangan mental.

TALIDOMID
Obat ini sudah tidak diberikan lagi kepada wanita hamil karena bisa menyebabkan cacat bawaan.
Talidomid pertama kali diperkenalkan pada tahun 1956 di Eropa sebagai obat influenza dan obat penenang.
Pada tahun 1962, talidomid yang diminum oleh wanita hamil pada saat organ tubuh janinnya sedang terbentuk, ternyata menyebabkan cacat bawaan berupa lengan dan tungkai yang terbentuk secara tidak sempurna, kelainan usus, jantung dan pembuluh darah.

PENGOBATAN KULIT
Isotretinoin yang digunakan untuk mengobati jerawat yang berat, psoriasis dan kelainan kulit lainnya bisa menyebabkan cacat bawaan.
Yang paling sering terjadi adalah kelainan jantung, telinga yang kecil dan hidrosefalus (kepala yang besar). Resiko terjadinya cacat bawaan adalah sebesar 25%.

Etretinat juga bisa menyebabkan cacat bawaan.
Obat ini disimpan di dalam lemak dibawah kulit dan dilepaskan secara perlahan, sehingga efeknya masih bertahan sampai 6 bulan atau lebih setelah pemakaian obat dihentikan. Karena itu seorang wanita yang memakai obat ini dan merencanakan untuk hamil, sebaiknya menunggu paling tidak selama 1 tahun setelah pemakaian obat dihentikan.

HORMON SEKSUAL
Hormon androgenik yang digunakan untuk mengobati berbagai kelainan darah dan progestin sintetis yang diminum pada 12 minggu pertama setelah pembuahan, bisa menyebabkan terjadinya maskulinisasi pada kelamin janin perempuan.
# Klitoris bisa membesar dan labia minora menutup.
Efek tersebut tidak ditemukan pada pemakaian pil KB karena kandungan progestinnya hanya sedikit.

Dietilstilbestrol (DES, suatu estrogen sintetis) bisa menyebabkan kanker pada anak perempuan yang ibunya memakai obat ini selama hamil.
Anak perempuan ini di kemudian hari akan:
- memiliki kelainan dalam rongga rahim
- mengalami gangguan menstruasi
- memiliki serviks (leher rahim) yang lemah sehingga bisa mengalami keguguran
- memiliki resiko menderita kehamilan ektopik
- memiliki bayi yang meninggal sesaat sebelum atau sesaat sesudah dilahirkan.

Jika ibu hamil yang memakai DES melahirkan anak laki-laki, maka kelak dia akan memiliki kelainan pada penisnya.

MECLIZIN
Meclizin yang sering digunakan untuk mengatasi mabok perjalanan, mual dan muntah, bisa menyebabkan cacat bawaan pada hewan percobaan. Tetapi efek seperti ini belum ditemukan pada manusia.

OBAT ANTI-KEJANG
Beberapa obat anti-kejang yang diminum oleh penderita epilepsi yang sedang hamil, bisa menyebabkan terjadinya celah langit-langit mulut, kelainan jantung, wajah, tengkorak, tangan dan organ perut pada bayinya. Bayi yang dilahirkan juga bisa mengalami keterbelakangan mental.

2 obat anti-kejang yang bisa menyebabkan cacat bawaan adalah trimetadion (resiko sebesar 70%) dan asam valproat (resiko sebesar 1%).
Carbamazepine diduga menyebabkan sejumlah cacat bawaan yang sifatnya ringan.

Bayi baru lahir yang selam dalam kandungan terpapar oleh phenitoin dan phenobarbital, bisa mudah mengalami perdarahan karena obat ini menyebabkan kekurangan vitamin K yang diperlukan dalam proses pembekuan darah.
Efek ini bisa dicegah bila selama 1 bulan sebelum persalinan, setiap hari ibunya mengkonsumsi vitamin K atau jika segera setelah lahir diberikan suntikan vitamin K kepada bayinya.
Selama hamil, kepada penderita epilepsi diberikan obat anti-kejang dengan dosis yang paling kecil tetapi efektif dan dipantau secara ketat.

Wanita yang menderita epilepsi, meskipun tidak memakai obat anti-kejang selam hamil, memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk melahirkan bayi dengan cacat bawaan. Resikonya semakin tinggi jika selama hamil sering terjadi kejang yang berat atau jika terjadi komplikasi kehamilan atau jka berasal dari golongan sosial-ekonomi yang rendah (karena perawatan kesehatannya tidak memadai).

VAKSIN
Vaksin yang terbuat dari virus yang hidup tidak diberikan kepada wanita hamil, kecuali jika sangat mendesak.
Vaksin rubella (suatu vaksin dengan virus hidup) bisa menyebabkan infeksi pada plasenta dan janin.
Vaksin virus hidup (misalnya campak, gondongan, polio, cacar air dan demam kuning) dan vaksin lainnya (misalnya kolera, hepatitis A dan B, influensa, plag, rabies, tetanus, difteri dan tifoid) diberikan kepada wanita hamil hanya jika dia memiliki resiko tinggi terinfeksi oleh salah satu mikroorganismenya.

OBAT TIROID
Yodium radioaktif yang diberikan kepada wanita hamil untuk mengobati hipertiroidisme (kelenjar tiroid yang terlalu aktif) bisa melewati plasenta dan menghancurkan kelenjar tiroid janin atau menyebabkan hipotiroidisme (kelenjar tiroid yang kurang aktif) yang berat.
Propiltiourasil dan metimazol, yang juga digunakan untuk mengatasi hipertiroidisme, bisa melewati plasenta dan menyebabkan kelenjar tiroid janin sangat membesar.

OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL
Obat hipoglikemik oral digunakan untuk menurunkan kadar gula darah pada penderita diabetes, tetapi seringkali gagal mengatasi diabetes pada wanita hamil dan bisa menyebabkan bayi yang baru lahir memiliki kadar gula darah yang sangat rendah (hipoglikemia). Karena itu untuk mengobati diabetes pada wanita hamil lebih baik digunakan insulin.

NARKOTIKA & OBAT ANTI PERADANGAN NON-STEROID
Narkotika dan obat anti peradangan non-steroid (misalnya aspirin), jika diminum oleh wanita hamil bisa sampai ke janin dalam jumlah yang cukup signifikan.
Bayi yang lahir dari ibu pecandu narkotika bisa mengalami kecanduan sebelum dilahirkan dan menunjukkan gejala putus obat dalam waktu 6 jam - 8 hari setelah dilahirkan.

Mengkonsumsi aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya dalam dosis tinggi selama hamil, bisa memperlambat saat persalinan dan juga bisa menyebabkan tertutupnya hubungan antara aorta dan arteri pulmoner sebelum lahir.
Dalam keadaan normal, hubungan tersebut menutup sesaat setelah bayi lahir. Penutupan yang terjadi sebelum bayi lahir akan mendorong darah ke paru-paru yang belum berkembang sehingga memberikan beban yang berlebihan pada sistem peredaran darah janin.

Jika digunakan pada akhir kehamilan, obat anti peradangan non-steroid bisa menyebabkan berkurangnya jumlah cairan ketuban.
Aspirin dosis tinggi bisa menyebabkan perdarahan pada ibu maupun bayinya.
Aspirin atau asam salisilat lainnya bisa menyebabkan peningkatan kadar bilirubin dalam darah janin sehingga terjadi jaundice (sakit kuning) dan kadang kerusakan otak.

OBAT ANTI-CEMAS & ANTI-DEPRESI
Jika diminum pada trimester pertama, obat anti-cemas bisa menyebabkan cacat bawaan, meskipun efeknya belum terbukti.
Jika digunakan selama hamil, obat anti-depresi kebanyakan relatif aman, tetapi litium bisa menyebabkan cacat bawaan (terutama pada jantung).
Barbiturat (misalnya phenobarbital) yang diminum oleh wanita hamil cenderung menyebabkan berkurangnya jaundice yang biasa ditemukan pada bayi baru lahir.

ANTIBIOTIK
Tetracyclin bisa melewati plasenta dan disimpan di dalam tulang serta gigi janin, bercampur dengan kalsium. Akibatnya pertumbuhan tulang menjadi lambat, gigi bayi berwarna kuning dan emailnya lunak serta menjadi rentan terhadap karies.
Resiko terbesar terjadinya kelainan gigi terjadi jika tetrasiklin diminum pada pertengahan sampai akhir kehamilan.

Streptomycin atau Canamycin bisa menyebabkan kerusakan pada telinga bagian tengah janin dan kemungkinan menyebabkan ketulian.
Chloramphenicol tidak berbahaya bagi janin tetapi bisa menyebabkan penyakit yang serius pada bayi baru lahir, yaitu sindroma bayi abu-abu.

Ciprofloxacin tidak boleh diberikan kepada ibu hamil karena bisa menyebabkan kelainan sendi pada hewan percobaan.
Penicillin aman diberikan kepada wanita hamil.
Kebanyakan antibiotik golongan sulfa yang diminum di akhir kehamilan bisa menyebabkan jaundice pada bayi baru lahir, yang bisa menyebabkan kerusakan otak.

OBAT ANTIKOAGULAN
Janin sangat rentan terhadap antikoagulan (obat anti pembekuan) warfarin. Cacat bawaan terjadi pada 25% bayi yang terpapar oleh obah ini selama trimester pertama. Selain itu, bisa terjadi perdarahan abnormal pada ibu maupun janin.
Jika seorang wanita hamil memiliki resiko membentuk bekuan darah, lebih baik diberikan heparin. Tetapi pemakaian jangka panjang selama kehamilan bisa menyebabkan penurunan jumlah trombosit atau pengeroposan tulang (osteoporosis) pada ibu.

OBAT-OBAT UNTUK PENYAKIT JANTUNG & PEMBULUH DARAH
Beberapa wanita hamil memerlukan obat untuk penyakit jantung dan pembuluh darah yang sifatnya menahun atau yang baru timbul selama kehamilan (misalnya pre-eklamsi dan eklamsi).

Obat untuk menurunkan tekanan darah seringkali diberikan kepada wanita hamil yang menderita pre-eklamsi atau eklamsi. Obat in bisa mempengaruhi fungsi plasenta dan digunakan secara sangat hati-hati untuk mencegah kelainan pada janin.
Biasanya, kelainan timbul karena penurunan tekanan darah ibu berlangsung terlalu cepat dan menyebabkan berkurangnya aliran darah ke plasenta.

ACE inhibitor dan thiazide biasanya tidak digunakan selama kehamilan karena bisa menyebabkan masalah yang serius pada janin.
Digoxin (digunakan untuk mengatasi gagal jantung dan kelainan irama jantung) bisa melewati plasenta tetapi efeknya terhadap bayi sebelum maupun setelah lahir sangat kecil.
Nitrofurantoin, vitamin K, sulfonamid dan Chloramphenicol bisa menyebabkan pemecahan sel darah merah pada wanita hamil dan janin yang menderita kekurangan G6PD. Karena itu, obat-obatan tersebut tidak diberikan kepada wanita yang menderita kekurangan G6PD.

OBAT-OBAT YANG DIGUNAKAN SELAMA PERSALINAN
Obat bius lokal, narkotika dan obat pereda nyeri lainnya biasanya melewati plasenta dan bisa mempengaruhi bayi baru lahir.
Karena itu, jika selama proses persalinan diperlukan obat-obatan, maka diberikan efek terkecil yang masih efektif dan diberikan selambat-lambatnya agar tidak sempat sampai ke janin yang masih berada dalam rahim.

OBAT SOSIALISASI & OBAT TERLARANG
Merokok selama hamil bisa berbahaya.
Berat badan lahir rata-rata dari bayi yang ibunya perokok adalah 170 gram lebih rendah dari bayi yang ibunya tidak merokok.
Keguguran, kelahiran mati, lahir prematur dan sindroma kematian bayi mendadak lebih sering ditemukan pada bayi yang ibunya merokok selama hamil.

Meminum alkohol selama hamil bisa menyebabkan cacat bawaan.
Bayi yang lahir dari ibu yang mengkonsumsi alkohol dalam jumlah besar bisa mengalami sindroma alkohol. Bayi ini kecil, seringkali memiliki kepala yang kecil (mikrosefalus), kelainan wajah dan kelainan mental. Kadang terjadi kelainan sendi dan kelainan jantung. Bayi ini tidak berkembang dan kemungkinan akan meninggal sesaat setelah dilahirkan.

Aspartam adalah pemanis buatan yang tampaknya aman digunakan selama hamil asalkan jumlahnya tidak berlebihan.

Cocain yang digunakan selama hamil bisa meningkatkan resiko terjadinya keguguran, abrupsio plasenta, cacat bawaan pada otak, ginjal dan alat kelamin serta perilaku yang kurang interaktif pada bayi baru lahir.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemakaian marijuana dosis tinggi selama hamil bisa menyebabkan perilaku yang abnormal pada bayi baru lahir.
Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Sat Jul 17, 2010 8:00 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Wed Feb 24, 2010 9:17 pm

RISIKO YANG TIMBUL DARI PERNIKAHAN SEDARAH
Vera Farah Bararah - detikHealth - Senin, 31/05/2010 12:15 WIB
Jakarta, Dari seluruh penduduk dunia, kemungkinan sekitar 20-50 persen melakukan pernikahan antar kerabat dengan pasangan hidup berasal dari leluhur yang sama. Benarkah pernikahan sedarah (garis keturunan yang dekat) berisiko mendatangkan keturunan yang cacat? Pernikahan sedarah yang dimaksud disini adalah antar sepupu, satu marga atau yang garis keluarganya dekat, tapi bukan sedarah kandung atau incest. Pernikahan sedarah banyak terjadi biasanya si pasangan baru sadar setelah merunut garis keluarganya. Pernikahan sedarah juga terjadi pada Charles Darwin yang menikah dengan sepupu pertamanya Emma. "Salah satu bahaya yang bisa timbul dari pernikahan sedarah adalah sulit untuk mencegah terjadinya penyakit yang terkait dengan gen buruk orangtua pada anak-anaknya kelak," ujar Debra Lieberman dari University of Hawaii, seperti dikutip dari LiveScience, Senin (31/5/2010). Lieberman menuturkan pernikahan dengan saudara kandung atau saudara yang sangat dekat bisa meningkatkan secara drastis kemungkinan mendapatkan dua salinan gen yang merugikan, dibandingkan jika menikah dengan orang yang berasal dari luar keluarga. Hal ini disebabkan masing-masing orang membawa salinan gen yang buruk dan tidak ada gen normal yang dapat menggantikannya, sehingga pasti ada beberapa masalah yang nantinya bisa menyebabkan anak memiliki waktu hidup pendek.

Profesor Alan Bittles, direktur dari pusat genetik manusia di Perth, Australia telah mengumpulkan data mengenai kematian anak yang dilahirkan dari pernikahan antara sepupu dari seluruh dunia. Diketahui bahwa adanya peningkatan risiko tambahan kematian sekitar 1,2 persen dibandingkan pernikahan bukan saudara dekat. Sementara itu untuk cacat lahir terdapat peningkatan risiko sekitar 2 persen pada populasi umum dan 4 persen pada pernikahan yang orangtuanya memiliki kekerabatan dekat. Kondisi genetik yang lebih umum terjadi pada pernikahan kerabat adalah gangguan resesif langka yang bisa menyebabkan berbagai macam masalah, seperti kebutaan, ketulian, penyakit kulit dan kondisi neurodegeneratif. "Hampir semua orang membawa mutasi genetik, tapi ketika suatu populasi memiliki ruang lingkup yang kecil maka mutasi gen akan menjadi lebih sering terjadi," ungkap Prof Bittles, seperti dikutip dari BBC. Jika dua orang yang membawa gen resesif mereproduksi, maka anak-anaknya memiliki satu dari empat kesempatan untuk memiliki kelainan tersebut dan satu dari dua anak memiliki kesempatan menjadi pembawa sifat (carrier). Hal inilah yang membahayakan pernikahan sedarah atau memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat, karena risiko penyakit atau kondisi genetik tertentu menjadi lebih besar. Prof Bittles menjelaskan sangat penting bagi orang yang akan menikah untuk melakukan pemeriksaan genetik terlebih dahulu agar bisa mencegah dampak yang mungkin terjadi pada anak-anaknya. Cara ini merupakan penyaringan selektif yang jauh lebih efektif.
(ver/ir)


Last edited by gitahafas on Thu Jul 29, 2010 5:54 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Sat Mar 20, 2010 12:27 pm

UU NOMOR 36 TAHUN 2009 TENTANG KESEHATAN
Kesehatan Reproduksi
Pasal 71
(1) Kesehatan reproduksi merupakan keadaan sehat secara fisik, mental, dan sosial secara utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, fungsi, dan proses reproduksi pada lakilaki dan perempuan.

(2) Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. saat sebelum hamil, hamil, melahirkan, dan sesudah melahirkan;
b. pengaturan kehamilan, alat konstrasepsi, dan kesehatan seksual; dan
c. kesehatan sistem reproduksi.

(3) Kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan melalui kegiatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.

Pasal 72
Setiap orang berhak:
a. menjalani kehidupan reproduksi dan kehidupan seksual yang sehat, aman, serta bebas dari paksaan dan/atau kekerasan dengan pasangan yang sah.
b. menentukan kehidupan reproduksinya dan bebas dari diskriminasi, paksaan, dan/atau kekerasan yang menghormati nilai nilai luhur yang tidak merendahkan martabat manusia sesuai dengan norma agama.
c. menentukan sendiri kapan dan berapa sering ingin bereproduksi sehat secara medis serta tidak bertentangan dengan norma agama.
d. memperoleh informasi, edukasi, dan konseling mengenai kesehatan reproduksi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pasal 73
Pemerintah wajib menjamin ketersediaan sarana informasi dan sarana pelayanan kesehatan reproduksi yang aman, bermutu, dan terjangkau masyarakat, termasuk keluarga berencana.

Pasal 74
(1) Setiap pelayanan kesehatan reproduksi yang bersifat promotif, preventif, kuratif, dan/atau rehabilitatif, termasuk reproduksi dengan bantuan dilakukan secara aman dan sehat dengan memperhatikan aspek-aspek yang khas, khususnya reproduksi perempuan.

(2) Pelaksanaan pelayanan kesehatan reproduksi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dengan tidak bertentangan dengan nilai agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(3) Ketentuan mengenai reproduksi dengan bantuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 127
(1) Upaya kehamilan di luar cara alamiah hanya dapat dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah dengan ketentuan:
a. hasil pembuahan sperma dan ovum dari suami istri yang bersangkutan ditanamkan dalam rahim istri dari mana ovum berasal;
b. dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu; dan
c. pada fasilitas pelayanan kesehatan tertentu.

(2) Ketentuan mengenai persyaratan kehamilan di luar cara alamiah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan Peraturan Pemerintah.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 20, 2010 9:55 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12069
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Wanita   Sat Mar 20, 2010 12:29 pm

KEMANDULAN
Definisi dari kemandulan adalah setiap pasangan suami istri yang telah berhubungan secara teratur tanpa kontrasepsi selama 1 tahun pernikahan mereka, tetapi kehamilan tetap tidak terjadi. Memang 10 - 12% pasangan suami istri akan mengalami kemandulan / ketidak suburan.

Dewasa ini penanganan masalah ketidaksuburan dilakukan secara lebih praktis dan agresif, karena disadari faktor usia sangat memegang peranan penting untuk suksesnya pengobatan. Pengobatan masalah ketidaksuburan ini ada yang dapat dilakukan dengan cara yang sederhana / konvensional, tetapi ada pula yang sulit serta memerlukan pelayanan kedokteran berteknologi tinggi dengan biaya mahal seperti dengan program fertilisasi in vitro atau yang lebih dikenal sebagai program bayi tabung.

Pengobatan konvensional bisa dilakukan selama 1-2 tahun, tetapi kalau usia istri sudah mencapai 35 tahun, sebaiknya cukup dicoba 6 bulan sampai 1 tahun saja.
Termasuk disini adalah pengobatan dengan inseminasi ( membantu masuknya sperma suami kedalam rahim istri pada sekitar masa subur, setelah sperma di proses / washing terlebih dahulu untuk mendapatkan sperma terbaik ). Jika dalam 2 tahun dengan cara konvensional, kehamilan belum terjadi juga dan semua prosedur pemeriksaan masalah ketidaksuburan sudah dilakukan, maka sebaiknya pasangan suami istri kemudian menjalani program bayi tabung.

Perlu dipahami bahwa program bayi tabung merupakan pilihan terakhir dalam penanganan masalah ketidaksuburan.
Semua cara pengobatan yang konvensional harus sudah dicoba terlebih dahulu jika memungkinkan, sebelum akhirnya masuk ke program bayi tabung.
Tetapi pada beberapa pasangan suami istri mungkin disarankan lebih baik untuk lebih cepat masuk ke program bayi tabung, jika hasil dari pemeriksaan diperoleh kesimpulan bahwa dengan cara konvensional sangat kecil kemungkinan untuk hamil ( lihat judul: HARUS BAYI TABUNG ), atau karena usia istri yang tidak muda lagi.

Angka kehamilan dengan program bayi tabung untuk pasien berusia dibawah 30 tahun dapat mencapai 35-40%. Sedangkan pada usia 30-38 tahun mencapai 25-35% dan pada usia 38-42 tahun sekitar 10-11%. Diatas 42 tahun hampir tidak ada kehamilan.
Semakin muda usia istri saat mengikuti program bayi tabung, maka kemungkinan berhasil juga semakin besar. Walaupun demikian, perlu dipahami juga bahwa program bayi tabung tidaklah memberi jaminan untuk terjadinya kehamilan, karena angka kegagalannya juga cukup besar, yaitu mencapai 60-70%.
Tetapi bagi pasangan suami istri yang memang sangat tidak mungkin hamil dengan cara lain, maka program bayi tabung memberikan harapan baru.

Sumber: dr. Indra Nurzam Chalik Anwar SpOG / Bunga Rampai Masalah Kesehatan Iluni FK 1983


Last edited by gitahafas on Tue Jul 20, 2010 9:42 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile
 

Kesehatan Wanita

View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 67Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 34 ... 67  Next

 Similar topics

-
» lelaki menyerupai wanita
» Kementerian Pembangunan Wanita Sasar Lahirkan 4,000 Usahawan
» kenapa wanita berkerjaya lambat menamatkan zaman dara??
» Taktik sindiket warga Afrika tipu wanita tempatan
» Swine Flu H1N1 : Wanita muda dijangkiti H1N1 meninggal (Kosmo)

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-