|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Tue Nov 15, 2011 9:25 am | |
| 1 DARI 10 PENDUDUK SAKIT DM DI TAHUN 2030 Lusia Kus Anna | Selasa, 15 November 2011 | 06:32 WIB Kompas.com - Federasi Diabetes International memprediksi sedikitnya 1 dari 10 orang dewasa akan menderita diabetes di tahun 2030. Jumlah tersebut naik dari data tahun ini yang menyebutkan 1 dari 13 orang dewasa menderita diabetes. Menurut laporan terbaru yang dikeluarkan bertepatan dengan peringatan hari diabetes internasional (14/11) ini, disebutkan 552 juta orang akan menderita diabetes dalam dua dekade mendatang, baik yang terdiagnosa atau pun tidak. Kenaikan jumlah penderita ini terjadi secara global, bahkan di Afrika yang penyakit infeksi masih jadi persoalan utama diperkirakan terjadi peningkatan penderita diabetes sampai 90 persen.
Menurut WHO, saat ini di seluruh dunia terdapat 346 juta penderita diabetes, di mana 80 persennya terjadi di negara berkembang. WHO juga menyebutkan jumlah tersebut akan naik dua kali lipat di tahun 2030 sesuai perkiraaan federasi diabetes internasional. "Jumlah peningkatan ini adalah angka yang kredibel, tetapi terbukti atau tidak kami belum bisa mengatakannya," kata Gojka Roglic, ketua unit diabetes WHO seperti dikutip kantor berita Associated Press. Ia menjelaskan, kenaikan jumlah penderita lebih disebabkan karena faktor penuaan daripada epidemi obesitas. Kebanyakan kasus adalah diabetes tipe dua dan mayoritas diderita orang berusia pertengahan. Penyakit ini berkaitan erat dengan kegemukan dan gaya hidup sedentari. "Penyakit ini mengkhawatirkan karena diabetes adalah penyakit serius dan memperpendek usia. Tetapi itu tidak perlu terjadi jika kita mengambil langkah pencegahan," paparnya.
Usia produktif Di Indonesia menurut data Riset Kesehatan Dasar 2007 terdapat 14 juta (5,4 persen) penduduk yang menderita diabetes. Sementara itu diketahui 10 persen penduduk mengalami pradiabetes yang akan berkembang menjadi diabetes dalam 5 tahun mendatang jika tidak diintervensi. "Dulu diabetes adalah penyakit orang lanjut usia, tapi kini banyak menyerang orang muda bahkan remaja. Jika gula darahnya tidak terkontrol di usia produktif mereka bisa kena serangan jantung atau harus cuci darah," kata dr.Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD, di Jakarta (14/11). Untuk meningkatkan tatalaksana diabetes, menurut dr.Budiman Darmo Widjojo, Sp.PD, dokter-dokter umum terus dilatih untuk menanangi diabetes melitus. "Yang diutamakan adalah dokter puskesmas atau dokter keluarga karena mereka adalah garda terdepan pelayanan kesehatan. Mereka dilatih untuk menatalaksana, termasuk dalam pemberian obat dan edukasi pasien," kata Ketua Jakarta Diabetes Meeting 2011. Ia menjelaskan, tujuan utama dari tatalaksana diabetes adalah mengendalikan kadar gula darah. "Kalau terkendali maka risiko komplikasi akan bisa dihindari," paparnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Tue Nov 15, 2011 9:38 am | |
| 4 MITOS PENGHAMBAT PENGOBATAN DM Lusia Kus Anna | Asep Candra | Selasa, 15 November 2011 | 08:08 WIB KOMPAS.com - Diabetes melitus merupakan penyakit kronik yang kini banyak diderita orang-orang berusia produktif. Karena itu diperlukan penanganan jangka panjang karena penyakit ini akan diderita seumur hidup. Sayangnya kebanyakan pasien diabetes melitus sering mengingkari diagnosis dokter atas penyakitnya. Karena sulit menerima kenyataan, akibatnya banyak pasien yang menunda-nunda berkonsultasi dengan dokter. "Berbeda dengan di negara lain, di Indonesia ada hambatan kultural yang menyebabkan banyak pasien DM yang terlambat ditangani. Mereka datang ke dokter saat penyakitnya sudah mengalami komplikasi," kata dr.Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD, ahli endokrin metabolik dari FKUI Jakarta. Menurut dr.Tri Juli secara umum ada beberapa mitos salah yang sering menghambat pasien DM untuk berobat.
1. Sulit menerima penyakitnya tidak bisa sembuh. "Kebanyakan pasien ingin penyakitnya seperti batuk pilek yang bisa sembuh setelah minum obat. Padahal DM adalah penyakit seumur hidup yang harus dikelola dengan baik jika ingin tetap sehat dan hidup normal," papar Tri Juli.
2. Tidak mau mengganti obat Penggunaan obat-obatan untuk mengendalikan gula darah tidak bisa hanya mengandalkan satu regime saja. "Terkadang diperlukan penyesuaian dosis dan jenis obat. Namun pasien sering menolak dengan beralasan dengan obat yang lama gula darahnya sudah terkontrol," katanya.
3. Khawatir efek samping Takut ginjalnya rusak adalah alasan banyak pasien menolak mengonsumsi obat dalam jangka panjang. Padahal menurut Tri Juli jika gula darah tidak dikendalikan dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan ginjal dan organ internal lainnya.
4. Menolak memakai insulin Organ pankreas juga bisa rusak dan berhenti menghasilkan insulin. Karena itu diperlukan pasokan insulin dari luar. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Tue Nov 15, 2011 9:51 am | |
| 5 HAL BIKIN ANDA BERISIKO DM Bramirus Mikail | Asep Candra | Senin, 14 November 2011 | 16:57 WIB KOMPAS.com - Diabetes mellitus atau kencing manis adalah penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurangan insulin baik absolut maupun relatif. Akhir-akhir ini, penyakit diabetes menjadi momok menakutkan karena jumlah penderitanya yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Tanda awal yang dapat diketahui bahwa seseorang menderita kencing manis bisa langsung dilihat dari efek peningkatan kadar gula darah, di mana peningkatan kadar gula dalam darah mencapai nilai 160 - 180 mg/dL. Ada beberapa kondisi khusus yang dapat dijadi patokan dalam menilai risiko Anda mengidap diabetes.
1. Kelebihan berat badan dan kurang aktif Dari semua yang didiagnosis diabetes tipe 2, lebih dari 85 persen dari mereka mengalami kelebihan berat badan. Obesitas pada lemak perut telah dikaitkan dengan risiko tinggi diabetes. Berat badan berlebih akan memicu resistensi insulin dan yang menyebabkan gula darah tinggi. Seseorang yang cenderung kurang aktivitas fisik juga berada pada risiko mengidap diabetes dua kali lipat lebih tinggi. Hanya dengan menambahkan kegiatan aktivitas fisik dan mengubah gaya hidup tidak hanya akan menurunkan resistensi insulin, tetapi juga akan membantu Anda mengurangi berat badan. Penelitian menunjukkan, kehilangan hanya beberapa kilogram berat badan dapat mencegah atau menunda diabetes tipe 2.
2. Makan berlebih Jika Anda penggemar berat dari makanan tinggi lemak, bergula dan secara rutin mengonsumsinya, maka secara tidak langsung Anda sudah membuat menu untuk mengarahkan perkembangan diabetes. "Orang tidak pernah berpikir tentang apa yang mereka makan karena merasa nyaman dan sudah terbiasa. Perilaku ini akan menempatkan mereka pada risiko diabetes," kata Dr Stewart Harris, seorang dokter keluarga dari University of Western Ontario’s Schulich School of Medicine and Dentistry. Harris menambahkan, kebiasaan mengonsumsi gorengan, minum pop, saus salad dan kue, berkontribusi meningkatkan peluang seseorang mengalami kenaikan berat badan, yang pada gilirannya meningkatkan resistensi insulin dan menempatkan Anda pada risiko yang lebih besar terkena diabetes. Bahkan Anda juga bisa mengembangkan kolesterol tinggi dan hipertensi, masalah yang sering ditemukan pada orang dengan diabetes dan berhubungan dengan penyakit jantung. "Cobalah makan makanan favorit Anda dalam porsi yang lebih kecil dan kurangi asupan lemak," sarannya.
3. Keluarga diabetes Jika keluarga dekat Anda ada yang didiagnosis mengidap diabetes tipe 2 (ibu atau ayah, saudara) - maka risiko Anda mendapatkan diabetes akan jauh lebih tinggi ketimbang mereka yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan diabetes. Selain sejarah keluarga, banyak orang tidak tahu bahwa etnis juga turut berpengaruh dalam pengembangan risiko diabetes. Anda akan lebih mungkin untuk mengembangkan diabetes tipe 2 jika berasal dari latar belakang Aborigin, Asia Selatan, Asia, Afrika atau Hispanik. Anda tidak dapat mengubah gen Anda, tetapi dapat mengubah tingkat risiko. Jika setiap orang dalam rumah tangga Anda dapat memilih makanan yang sehat dan rutin melakukan aktivitas fisik, bukan tidak mungkin akan keluar dari masalah ini.
4. Punya problem khas perempuan Perempuan tertentu lebih rentan terserang diabetes dibandingkan yang lain. Mereka adalah kelompok wanita dengan sindrom ovarium polikistik, ketidak seimbangan hormonal wanita yang dapat menyebabkan menstruasi yang tidak teratur. Ibu yang pernah melahirkan bayi besar (lebih dari 4.000 gram) juga berisiko mengalami diabetes. Sedangkan pada wanita hamil yang menderita diabetes gestasional - diabetes ditemukan hanya selama kehamilan - tujuh kali lebih mungkin untuk memiliki diabetes tipe 2 di kemudian hari dibanding yang tidak. Tapi anda tidak perlu cemas. Seperti pada orang-orang berisiko tinggi lainnya, Anda hanya perlu merubah pola diet dan tetap aktif bergerak. Jika Anda telah didiagnosis dengan pradiabetes, mengambil obat untuk menurunkan gula darah mungkin bisa menjadi pilihan bermanfaat.
5. Usia lebih dari 40 tahun Meskipun benar bahwa diabetes tipe 2 lebih banyak didiagnosis pada orang yang lebih muda, namun penyakit ini masih lebih banyak ditemukan setelah seseorang menginjak usia 40 tahun. "Itu sebabnya kami menyarankan skrining rutin diabetes harus dimulai pada usia 40 tahun," kata Harris. Namun, pada orang yang berisiko, skrining diabetes bisa dilakukan sebelum usia 40 tahun. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Tue Nov 15, 2011 4:38 pm | |
| PENGOBATAN DM TAK RUSAK GINJAL Lusia Kus Anna | Asep Candra | Selasa, 15 November 2011 | 09:50 WIB KOMPAS.com - Diabetes merupakan penyakit kronik yang berlangsung seumur hidup dan tidak dapat disembuhkan. Kendati demikian penyakit yang ditandai dengan meningkatnya kadar gula darah ini bisa dikendalikan. Selain perubahan gaya hidup sehat, sebagian pasien perlu mengonsumsi obat atau suntik insulin untuk mengendalikan kadar gula darahnya. Menurut dr.Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD, kepatuhan mengonsumsi obat merupakan syarat penting dalam pengendalian gula darah. "Seperti halnya penyakit hipertensi atau pun lupus, pasien terkadang perlu terus menerus rutin mengonsumsi obat," paparnya dalam acara media edukasi pada peringatan Hari Diabetes Sedunia di Jakarta (14/11/11). Kendati demikian menurut Tri Juli, sebagian besar penyandang diabetes merasa khawatir obat-obatan yang dikonsumsi jangka panjang tersebut akan merusak ginjal. "Obat-obatan yang dipakai dalam waktu lama seperti diabetes, hipertensi, atau pengencer darah, sudah diset aman untuk ginjal," tegas pengajar dari Divisi Metabolik Endokrin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini. Ia menjelaskan, jika penyandang diabetes sudah terlebih dulu menderita gangguan ginjal, maka obat yang diberikan akan disesuaikan oleh dokter. "Yang pasti, kerusakan ginjal yang dialami pasien diabetes bukan karena obat-obatnya, tapi akibat kadar gula darahnya terlalu tinggi selama bertahun-tahun," paparnya. Ditambahkan olehnya, diabetes merupakan ancaman yang serius. Kadar gula darah yang tinggi bisa mengakibatkan rusaknya pembuluh darah, saraf, dan struktur internal lainnya. "Karena termakan mitos yang salah, termasuk dalam soal obat, banyak pasien yang takut berobat dan malah terjadi komplikasi," pungkasnya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Wed Nov 16, 2011 10:46 am | |
| KONTROL RUTIN SANGAT PENTING BAGI PENDERITA DM Rabu, 16 November 2011 09:56 WIB REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Sekitar 7,7 persen masyarakat Indonesia tidak tahu dirinya menderita Diabetes Melitus (DM). Persentase ini setara dengan 11 juta orang. Angka didasarkan data Kementrian Kesehatan 2007. Data itu juga menunjukkan, hanya sekitar 23 persen yang faham dirinya menderita DM. Angka ini setara tiga juta orang. "Dari data ini bisa disimpulkan kebanyakan orang tidak faham apa itu diabetes. Selain itu masyarakat juga tidak faham mengenai penyakit diabetes. Mereka beranggpan penyakit DM seperti flu atau masuk angin. Sekali minum obat lansung sembuh," ujar ahli penyakit dalam, dr Tri Juli Edi Tarigan Sp PD (K).Hal ini, menurutnya, dikarenakan pengetahuan dan kultur masyarakat yang masih minim mengenai DM. Kebanyakan masyarakat tidak mengatahui DM bersifat selamanya. Penyakit yang disebabkan gagal atau kurang berfungsinya insulin ini akan menempel terus pada penderita. Malas kontrol menjadi faktor berikutnya. Dokter yang akrab disapa TJ ini mengatakan, "Orang Indonesia beranggapan sekali kontrol penyakit beres. Begitu datang control, gula darah sudah melambung atau terlalu rendah. Komplikasi sudah terjadi.” Padahal, untuk diabetesi, kontrol rutin sangat penting. Kontrol ini untuk menentukan jenis dan dosis obat. Jenis, dosis, dan jadwal kunjungan berbeda tergantung kadar gula. Saat ini diabetesi yang dirawat RSCM kebanyakan menggunakan obat oral. Jumlahnya kira-kira 47 persen. Obat suntik sekitar 30 persen, sedangkan yang mengkombinasikan diperkirakan 23 persen. Faktor selanjutnya adalah, ketakutan ginjal rusak. TJ mengatakan hal ini tidak benar. Ginjal rusak pada penderita diabetes dikarenakan kadar gula yang tinggi. Obat untuk penderita diabetes dan pengencer darah sudah dirancang tidak menyebabkan kerusakan ginjal. Diabetes telah menjadi penyakit pembunuh nomer dua di Indonesia. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Wed Nov 16, 2011 7:05 pm | |
| DM 2x LEBIH BESAR BERISIKO STROKE Rabu, 16 November 2011 17:42 WIB REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Penderita diabetes dua kali lebih besar berisiko stroke. Hal ini dikatakan pengajar dari Divisi Metabolik Endokrin Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) dr Tri Juli Edi Tarigan Sp PD (K)."Diabetes adalah pemicu. Penyakit ini juga bukan penyebab langsung kematian. Penyakit ini bisa menyebabkan komplikasi. Penderita diabetes juga memiliki kemungkinan terkena amputasi nonkecelakaan. Sebesar 75 persen diabetesi meninggal karena serangan jantung," ujarnya di Jakarta, Rabu (16/11). Diabetes adalah penyakit yang disebabkan gagal atau kurang berfungsinya insulin. Insulin dihasilkan organ pankreas. Fungsi insulin seperti 'corong' yang menyalurkan gula ke dalam sel. Jika 'corong' ini tidak ada atau kurang berfungsi maksimal, gula tidak tersalurkan ke dalam sel. Akibatnya, gula yang dimakan masuk ke dalam darah. Sel yang tidak dapat makan akan kelaparan dan merusak dirinya sendiri. Penyakit ini memiliki tipe satu dan dua. Tipe satu pankreas dalam keadan rusak dan tidak memproduksi insulin. Akibatnya tubuh menderita defisit absolut insulin. Pada tipe dua, terjadi kerusakan sel tubuh meski jumlah insulin memadai. Hal ini mengakibatkan terjadinya defisit relatif insulin. Diabetes adalah penyakit yang berkaitan dengan gaya hidup seseorang. "Dulu diabetesi usianya berkisar 50 sampai 60. Sekarang umur dua puluh bahkan belasan sudah kena," kata dokter yang kerap disapa TJ ini. Kebiasaan makan tidak teratur baik jumlah maupun porsinya, merokok, dan kurang olahraga menjadi pemicu. Masyarakat harus meningkatkan kesadaran terhadap penyakit ini. TJ mengatakan, masyarakat biasanya tidak menyadari terkena diabetes. Ketika kontrol telah terjadi komplikasi. Akibatnya pengobatan harus segera diberikan. Saat ini diabetes telah menjadi pemunuh nomer dua setelah stroke. Penyakit ini sebetulnya bisa dicegah. "Perhatikan porsi dan frekuensi makan. Rajin konsumsi sayur dan buah. Jangan lupa olahraga. Minimal 30 menit, tiga sampai lima kali seminggu," imbuh TJ. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Thu Nov 17, 2011 7:18 pm | |
| KAPAN ORANG DENGAN DM TIPE 2 BUTUH INSULIN? Kamis, 17/11/2011 07:47 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Penggunaan insulin biasanya dibutuhkan oleh orang dengan diabetes tipe 1. Tapi orang dengan diabetes tipe 2 juga ada yang membutuhkan insulin. Kapan insulin dibutuhkan? "Tidak ada cara sederhana untuk mengetahui kapan seorang pasien dengan diabetes tipe 2 membutuhkan insulin sebagai pengobatan terbaiknya, tapi ada pedomannya," ujar Dr Richard Hellman, ahli endokrin yang juga mantan presiden dari American Association of Clinical Endocrinologists, seperti dikutip dari MSN.Health, Kamis (17/11/2011). Dr Hellman menuturkan secara umum jika pasien memiliki kadar hemoglobin A1C yang lebih tinggi dibanding dengan orang yang menggunakan insulin, maka disarankan ia menggunakan terapi insulin dalam perawatannya. American Diabetes Association merekomendasikan nilai hemoglobin A1C sebaiknya 7 persen atau kurang, sedangkan American College of Endocrinology dan American Association of Clinical Endocrinologists merekomendasikan nilainya 6,5 persen atau kurang. "Selain itu jika Anda tidak bisa menurunkan kadar A1C melalui cara diet, olahraga atau obat lain, maka Anda mungkin perlu insulin untuk menurunkannya," ujar Dr Hellman. Namun, penggunaan insulin biasanya tidak direkomendasikan jika orang tersebut tidak mampu mengelola sesuatu dengan baik, memiliki keterbatasan dalam penglihatan dan ketangkasan serta tidak ada dukungan dari keluarga. Hal ini karena tujuan dari penggunaan insulin adalah untuk meniru kinerja alami dari pankreas yang sehat dalam menghasilkan hormon yang konsisten serta untuk mengatasi gula darah yang terlalu rendah. Sebelum menggunakan insulin, dokter akan mendiskusikan terlebih dahulu dengan pasien mengenai jadwal penyuntikan insulin, serta memilih tipe dari insulin yang akan digunakan. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Thu Nov 24, 2011 4:42 pm | |
| YANG KELIRU SOAL DM TAPI MASIH DIPERCAYA Kamis, 24/11/2011 14:03 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Diabetes bisa menyerang siapa saja tanpa memandang jenis kelamin atau usia. Tapi sayangnya masih ada mitos-mitos yang dipercaya oleh masyarakat mengenai diabetes. Mitos yang berkembang bisa memicu kesalahpahaman mengenai penyakit diabetes. Kondisi ini tidak hanya meningkatkan jumlah penderita diabetes tapi juga membuat hidup penderita diabetes menjadi lebih sulit. Berikut ini 6 mitos seputar diabetes yang masih banyak dipercaya oleh masyarakat, seperti dikutip dari health24, Kamis (24/11/2011) yaitu:
1. Makan terlalu banyak gula bisa menyebabkan diabetes Keyakinan ini merupakan kesalahpahaman yang paling umum di masyarakat, padahal diabetes disebabkan oleh pankreas yang tidak bekerja sebagaimana mestinya. Normalnya pankreas memproduksi hormon insulin yang membantu membawa glukosa ke sel sebagai sumber energi, tapi saat diabetes pankreas berhenti atau kurang memproduksi insulin yang membuat glukosa tidak bisa masuk ke dalam sel. Sebagian besar penyebab diabetes dipengaruhi oleh faktor genetik serta gaya hidup seperti jarang melakukan aktivitas fisik dan pola makan yang buruk. Terlalu banyak mengonsumsi gula memang bisa menjadi pemicu, tapi ia bukan penyebab utama diabetes.
2. Orang dengan diabetes harus mengikuti diet khusus Banyak orang percaya penderita diabetes harus mengonsumsi makanan hambar dan tidak bisa menikmati makanan lezat karena harus diet khusus. Padahal ia bisa melakukan diet sehat yang sama seperti non-diabetes yaitu makan diet seimbang, banyak serat, membatasi gula dan karbohidrat, sedikit garam dan minum cukup air. Tapi sayangnya, banyak orang yang tidak melakukan pola seperti ini, sehingga ketika didiagnosis diabetes ia merasa harus melakukan diet khusus.
3. Orang dengan diabetes tidak bisa mengonsumsi karbohidrat Karbohidrat bukanlah musuh bagi pasien diabetes karena tubuh membutuhkannya agar bisa berfungsi optimal dan menjadi sumber bahan bakar. Namun hal yang harus dipahami adalah memilih jenis karbohidrat yang tepat (nasi merah, roti gandum, sereal tinggi serat) serta porsi yang tidak berlebihan.
4. Orang dengan diabetes harus menghindari buah-buah tertentu Buah-buah tertentu memang ada yang memiliki nilai GI (glucose index) tinggi sehingga cepat menaikkan kadar gula darah (pisang, anggur) yang bisa dikonsumsi saat berolahraga. Serta ada pula yang lambat dicerna karena kadar GI rendah (apel, pir dan golongan berri) yang bisa menjadi cemilan sehat untuk penderita diabetes. Jadi waktu konsumsi buah yang harus diperhatikan.
5. Hanya orang gemuk yang bisa terkena diabetes Banyak orang yang mempercayai kabar ini. Meski kelebihan berat badan dan obesitas bisa meningkatakn risiko diabetes tipe 2, tapi bertubuh kurus tidak menjadi jaminan perlindungan dari diabetes karena ada banyak faktor lain yang berpengaruh seperti riwayat keluarga, usia, etnis dan pola hidup.
6. Penggunaan insulin menunjukkan kondisi diabetes yang buruk Diabetes merupakan penyakit yang membutuhkan manajemen tepat dalam mengelolanya. Seperti halnya dengan diabetes tipe 1 yang mana pankreas tidak memproduksi insulin, maka suntikan injeksi merupakan perawatan yang tepat. Insulin sendiri membantu memperlambat atau mencegah komplikasi diabetes dan menajdi salah satu obat yang paling aman bagi penderita diabetes. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Mon Nov 28, 2011 2:44 pm | |
| TRIK OLAHRAGA AMAN UNTUK PENDERITA DM SENIN, 28 NOVEMBER 2011, 12:48 WIB Mutia Nugraheni VIVAnews - Menjaga gula darah agar tetap stabil, merupakan hal wajib bagi para penderita diabetes. Tak hanya harus mengatur pola makan, tetapi juga berolahraga secara teratur. Cara ini, bisa mengurangi risiko komplikasi dan meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes. Menurut American College of Sports Medicine, penderita diabetes sebaiknya berolahraga setiap hari. Namun, sebelum olahraga ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar tidak terjadi hipoglikemia (kadar gula darah rendah secara abnormal) atau hiperglikemia (kadar gula darah tinggi secara abnormal) dan memperburuk kondisi tubuh. Agar efek olahraga makin maksimal dan tentunya aman bagi penderita diabetes, perhatikan hal-hal berikut yang dilansir dari prevention.com.
- Periksa gula darah sebelum berolahraga. Jika kadarnya >300 mg/dL dan tak ada keton, berolahragalah secara hati-hati. Keton adalah asam yang diproduksi oleh tubuh setiap kali mengubah lemak menjadi energi.
- Periksa urin atau darah untuk mengetahui kadar keton sebelum berolahraga. Sebaiknya tunda berolahraga jika gula kadar gula darah lebih besar dari 250 mg/dl dan terdapat keton.
- Minum air putih sebelum, saat dan setelah berolahraga. Jangan sampai tubuh kekurangan cairan.
- Konsumsi cemilan yang mengandung karbohidrat tinggi jika kadar gula <100 mg/dL. Anda bisa mengonsumsi buah, yogurt atau biskuit cracker.
- Periksa kaki Anda sebelum dan sesudah berolahraga. Kurangi risiko luka dengan mengenakan sepatu yang nyaman dan lakukan jenis olahraga yang tak terlalu berat.
- Dianjurkan untuk melakukan olahraga yang berintensitas rendah, seperti yoga atau pilates, bagi yang memiliki masalah penglihatan karena diabetes. Itu karena gerakan yang sangat aktif bisa memperparah kondisi mata. (umi)
Last edited by gitahafas on Mon Jan 16, 2012 9:33 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Mon Jan 16, 2012 9:33 am | |
| DIABETES PASTI DITURUNKAN PADA ANAK? Lusia Kus Anna | Rabu, 28 Desember 2011 | 13:24 WIB Kompas.com — Faktor keturunan memang berperan besar dalam timbulnya penyakit diabetes. Namun, seseorang tak otomatis menderita diabetes walau ada riwayat diabetes dalam keluarganya. Selama gaya hidup sehat dijalankan, diabetes tipe 2 bisa dicegah. Diabetes dicirikan dengan kadar gula darah yang tinggi, yang secara perlahan-lahan akan menyebabkan kerusakan permanen pada sel-sel di seluruh tubuh. Pada orang yang sehat, sel akan menggunakan glukosa untuk energi. Namun, pada penderita diabetes, hal ini tak bisa dilakukan akibat gangguan fungsi insulin.
Karena tubuh tidak bisa mendapatkan energi yang cukup dari gula, tubuh akan mengolah zat-zat lain di dalam tubuh untuk diubah menjadi energi, yakni lemak dan protein. Kabar baiknya, meski seseorang secara genetik lebih rentan menderita diabetes, penyakit ini bisa dihindari jika dilakukan perubahan gaya hidup. Olahraga secara rutin terbukti menurunkan risiko diabetes. Bahkan, jika kita sudah terdiagnosis diabetes melitus, olahraga secara teratur akan mengurangi risiko komplikasi. Hal itu dinyatakan para pakar dalam jurnal American College of Sport Medicine tahun 2010. Disebutkan bahwa aktivitas fisik akan meningkatkan kontrol gula darah dan mencegah timbulnya penyakit ini.
Lantas, olahraga apa yang terbaik? Para pakar kebugaran merekomendasikan kombinasi antara olahraga kardio dan latihan beban. Dalam penelitian terungkap, pria dan wanita pasien diabetes melitus yang memiliki gaya hidup kurang aktif kemudian melakukan latihan kardio tiga kali seminggu dan olahraga angkat beban dua kali seminggu memiliki level gula darah jangka panjang yang lebih baik. The American College of Sport Medicine merekomendasikan, latihan kardio sebaiknya dilakukan minimal 150 menit setiap minggu. Ini berarti Anda bisa melakukan olahraga jalan cepat, berlari, atau berenang tiga kali dalam seminggu masing-masing 50 menit, atau cukup 30 menit, dan dilakukan lima kali dalam seminggu. Tambahkan dengan latihan angkat beban dua kali dalam seminggu. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Wed Jan 18, 2012 7:28 pm | |
| 7 PEMICU YANG KURANG DIKENAL TERHADAP DIABETES Bramirus Mikail | Asep Candra | Selasa, 17 Januari 2012 | 13:52 WIB KOMPAS.com — Epidemi diabetes di seluruh dunia terus memburuk. Saat ini diperkirakan 366 juta orang menderita penyakit tersebut. Angka kematian akibat penyakit diabetes mencapai 4,6 juta kematian per tahun dan biaya kesehatan yang harus dikeluarkan mencapai 465 miliar dollar AS setiap tahun. Angka penderita diabetes tersebut dibuat berdasarkan data internasional, baik diabetes tipe-1 maupun tipe-2 pada tahun lalu. Penyakit diabetes tipe-2 adalah jenis diabetes yang paling umum, dengan jumlah kasus mencapai hampir 90 persen dari semua jenis diabetes. Parahnya, banyak dari mereka yang tidak sadar bahwa dirinya telah mengidap diabetes. Tentu saja, jika diabetes tipe-2 tidak benar-benar dikendalikan atau diobati, maka risiko terkena serangan jantung, mengalami kebutaan, atau bahkan kehilangan anggota tubuh lain akan semakin meningkat. Pilihan seperti menjalani terapi obat-obatan dan diet yang sehat adalah cara paling efektif untuk mengelola diabetes. Di samping itu, ada pula solusi mengendalikan diabetes dengan cara mengelola berat badan yang tepat. Kelebihan berat badan, asupan nutrisi yang tidak tepat, dan tingginya kadar kolesterol LDL dalam darah merupakan faktor-faktor yang paling dikenal terkait peningkatan risiko diabetes. Namun, ada sejumlah faktor lain yang selama ini kurang dikenal, tetapi berkontribusi terhadap peningkatan risiko berkembangnya diabetes. Berikut ini adalah tujuh faktor pemicu terhadap diabetes tipe-2:
1. Melewatkan sarapan Sekelompok ilmuwan Australia menemukan bahwa melewatkan sarapan pagi dapat mengarah ke penurunan kadar gula darah yang signifikan. Akibatnya, orang akan cenderung mempunyai keinginan untuk mengonsumsi makanan manis sehingga meningkatkan risiko diabetes.
2. Penumpukan lemak perut atau lingkar pinggang terlalu besar Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa pinggang terlalu besar berhubungan erat dengan risiko lebih tinggi menderita diabetes tipe-2. Bahkan jika Anda tidak gemuk, tetapi pinggang Anda lebih dari 37 inci (untuk pria) atau 31,5 inci (untuk perempuan), maka faktor ini cukup untuk meningkatkan risiko Anda mengidap diabetes.
3. Tidak cukup tidur Hasil penelitian yang dilakukan di Boston University menunjukkan bahwa hanya mendapatkan waktu tidur 5 jam setiap malam terkait dengan 50 persen kemungkinan lebih tinggi mengidap penyakit diabetes tipe-2 ketimbang jika Anda mendapatkan waktu tidur 7-8 jam.
4. Mendengkur Sekelompok peneliti dari Yale University menganalisis data dari 1.200 orang yang menderita sleep apnea, dan menemukan bahwa kondisi ini dikaitkan dengan risiko dua kali lebih tinggi terkena diabetes.
5. Minum jus Setelah mempelajari 70.000 relawan perempuan, ilmuwan Amerika sampai pada kesimpulan bahwa minum hanya 180 mililiter jus buah yang diproduksi secara komersial setiap hari berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes sebesar 18 persen. Sementara itu, mereka yang makan buah-buahan segar (bukan jus) memiliki risiko lebih rendah untuk menderita diabetes tipe-2.
6. Kerja "shift" Sebuah studi di Harvard University telah menunjukkan bahwa kerja shift (khususnya dalam periode jangka panjang) memiliki hubungan dengan peningkatan risiko lebih tinggi terkena diabetes, yaitu sebesar 50 persen.
7. Masalah pada ovarium Secara khusus, kondisi seperti sindrom ovarium polikistik telah dikaitkan dengan peningkatan risiko lebih tinggi mengidap diabetes tipe-2 sebesar 10 persen. Sindrom ovarium polikistik merupakan kelainan endokrinopati yang paling banyak dijumpai pada wanita usia reproduksi. Sindrom ini ditandai dengan kumpulan beberapa gejala, seperti gangguan haid, gangguan ovulasi, hiper-androgenism, dan gambaran ovarium polikistik. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Sun Feb 05, 2012 5:50 pm | |
| 6 HAL YANG DILAKUKAN AGAR GULA DARAH TIDAK TINGGI Kamis, 02/02/2012 17:29 WIB Adelia Ratnadita - detikHealth Jakarta, Mengendalikan kadar gula darah agar tetap normal memang cukup sulit, karena banyak hal yang mempengaruhi. Tapi jangan khawatir, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mencegah kadar gula darah tinggi. Kadar gula darah yang tinggi tidak hanya dipengaruhi oleh makanan, karena demam atau stres dapat meningkatkan gula darah meskipun sementara. Ketika kadar gula darah tinggi biasanya muncul perasaan cemas atau menyalahkan diri sendiri. Berikut 6 hal yang dapat dilakukan ketika gula darah terlalu tinggi seperti dikutip dari Health, Kamis (2/2/2012) antara lain:
1. Tes gula darah sebelum makan dan 2 jam setelah makan Tes ini dapat untuk mengetahui seberapa baik obat mengendalikan gula darah. Tes ini juga akan menjelaskan jenis makanan yang meningkatkan gula darah dan dengan demikian harus dihindari.
2. Mencari pola Jika gula darah tinggi di pagi hari pada satu saat, hal tersebut bukan merupakan masalah besar. Jika terus terjadi, dengan peningkatan cukup bermakna. Ketika terjadi peningkatan gula darah yang cukup sering, maka hal yang terpenting adalah mencari pola. Kalau gula darah tinggi setiap pagi, mungkin berarti hati memproduksi terlalu banyak gula pada malam. Kondisi ini membutuhkan obat baru atau obat tambahan.
3. Membuat beberapa perubahan kecil Mungkin dapat mencoba untuk mendapatkan lebih banyak olahraga, atau membatasi karbohidrat.
4. Meninjau ulang makanan dan minuman yang telah dikonsumsi Ketika mendapati pemeriksaan gula darah cukup tinggi, maka perlu meninjau ulang makanan atau minuman yang telah dikonsumsi. Setelah menemukan hal yang mungkin menjadi pemicunya, maka sebaiknya menghindari makanan tersebut.
5. Tenang Tidak hanya makanan atau minuman yang dapat meningkatkan gula darah. Gula darah dapat meningkat ketika seseorang sedang memiliki banyak stres. Maka ketika mendapati pemeriksaan gula darah sedang tinggi, sebaiknya lebih santai dan rileks.
6. Pertimbangkan untuk konsultasi dengan dokter Jika berpikir telah melakukan banyak cara untuk mengendalikan kadar gula darah, namun tidak berhasil. Sebaiknya konsultasi dengan dokter dan mengonsumsi obat-obatan tertentu sesuai yang diresepkan. Diabetes adalah penyakit progresif dari waktu ke waktu, sel-sel beta dalam pankreas yang memproduksi insulin dapat berhenti membuat insulin. Dokter akan menganalisis lebih mendalam dan melakukan pengujian tambahan untuk mengetahui apakah ada masalah yang lebih besar. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Sun Feb 05, 2012 5:52 pm | |
| 7 CARA UNTUK MENGONTROL PORSI MAKAN PENDERITA DIABETES Kamis, 02/02/2012 09:06 WIB Adelia Ratnadita - detikHealth Jakarta, Bila memiliki diabetes tipe 2, maka perlu untuk mengukur porsi makan dengan benar. Sehingga tahu berapa banyak kalori dan karbohidrat yang dikonsumsi dan bagaimana makanan tersebut akan mempengaruhi gula darah. Memang sangat sulit untuk mengatur dan menepati porsi makan. Membatasi porsi dapat membantu menurunkan berat badan dan akhirnya mencegah komplikasi. Sebuah studi di tahun 2004 dari 329 orang yang kelebihan berat ditemukan bahwa, 38 persen dari mereka yang berlatih mengontrol porsi selama 2 tahun, maka dapat kehilangan 5 atau lebih dari berat badan. Maka meskipun sangat sulit untuk mengatur dan menepati porsi makan, namun hal tersebut dapat sangat bermanfaat untuk menjaga gula darah dan kenaikan berat badan. Berikut 8 cara mudah untuk mengontrol porsi makan seperti dikutip dari Health, Kamis (2/2/2012) antara lain:
1. Jangan melewatkan makan Jika merasa kelaparan, biasanya justru lebih mungkin untuk makan denganporsi ekstra besar. Bagi kebanyakan orang, rencana terbaik adalah dengan makan 3 kali sehari. "Orang perlu makan minimal 3 kali sehari, untuk menghindari agar tidak lebih dari 5 jam tanpa makan," kata Nadine Uplinger, juru bicara American Dietetic Association.
2. Mengukur dan menimbang makanan "Mengukur dan menimbang makanan sangat penting bagi penderita diabetestipe 2," kata LuAnn Berry, RD, seorang pendidik diabetes bersertifikat di University of Pittsburgh Medical Center di Passavant.
3. Memiliki pedoman porsi atau ukuran makanan Memiliki pedoman untuk mengatur porsi atau ukuran makanan sangat penting, terutama ketika harus memilih ukuran porsi dengan cepat dan tepat.
4. Teliti melihat label makanan Ukuran porsi makanan biasanya tercantum pada label makanan, termasuk memuat kandungan nutrisi. Sebagai contoh, satu kemasan makanan yang tertulis sebagai dua porsi. Sehingga jika memakan 1 kemasan utuh, berarti akan mendapatkan dua kali lipat kalori, lemak, dan informasi karbohidrat per porsi untuk mengetahui berapa banyak yang dikonsumsi.
5. Menggunakan piring pengontrol porsi makanan Piring pengontrol porsi makanan berupa piring dengan sekat-sekat. Pada umumnya piring tersebut dapat membantu mengukur karbohidrat, protein dari lauk pauk, dan sayuran. Pada penelitian tahun 2007 Juni, para peneliti di University of Calgary secara acak 130 orang dengan diabetes tipe 2 untuk menggunakan piring pengontrol porsi makan atau piring biasa. Secara keseluruhan, 17 persen dari mereka yang menggunakan piring pengontrol porsi makan dapat kehilangan 5 persen atau lebih dari berat badan.
6. Mengembangkan kebiasaan baik saat makan diluar Pertama, mengisi piring dengan sayuran hijau. Sedapat mungkin telah kenyang dengan memakan sayuran hijau sebelum makan makanan lainnya. Saat makan diluar sebaiknya juga memesan makanan dengan porsi yang sesuai, misalnya hanya memesan setengah porsi.
7. Merencanakan makanan Tuliskan rencana makanan yang akan dikonsumsi selama beberapa hari. Sebaiknya rencana makanan yang akan dikonsumsi juga disertai dengan porsi atau ukurannya. Setelah merencanakan, maka berusahalah untuk menepatinya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Sun Feb 05, 2012 5:55 pm | |
| 12 CARA AGAR TIDAK TERKENA DIABETES Jumat, 03/02/2012 13:57 WIB Adelia Ratnadita - detikHealth Jakarta, Diabetes merupakan penyakit yang cukup menakutkan, namun sebenarnya penyakit ini merupakan penyakit yang dapat dicegah. Banyak orang yang telah mengetahui menderita diabetes, tetapi kurang berusaha untuk menguranginya dengan pola hidup sehat. Pola hidup sehat tersebut dapat termasuk, menurunkan berat badan, mengurangi makan, berolahraga, serta selalu memantau kadar gula darah. Kira-kira apa yang harus dilakukan agar tidak terkena diabetes? Berikut 12 cara agar tidak terkena diabetes seperti dikutip dari Prevention, Jumat (3/2/2012):
1. Menurunkan berat badan Bahkan pada orang yang obesitas, 70 persen lebih rendah untuk terserang diabetes jika menurunkan berat badannya sebanyak 5 persen, meskipun tidak berolahraga.
2. Pilih makanan pembuka yang tepat Makan sayuran sebelum hidangan utama dapat membantu mengontrol kadar gula darah. Dalam penelitian dari Arizona State University, orang dengan diabetes tipe 2 atau kondisi prekursor yang disebut resistensi insulin memiliki kadar gula darah lebih rendah jika mengonsumsi sekitar 2 sendok makan cuka sebelum makan tinggi karbohidrat. "Cuka mengandung asam asetat, yang dapat menonaktifkan enzim pengolah pati tertentu, sehingga memperlambat pencernaan karbohidrat. Bahkan, efek cuka mungkin mirip dengan obat penurun gula darah acarbose (Precose)," kata ketua peneliti Carol Johnston, PhD.
3. Perbanyak jalan kaki Berjalanlah sebanyak mungkin setiap hari, maka tubuh akan lebih sehat bahkan jika tidak mengalami penurunan berat badan. Orang-orang dalam studi di Finlandia yang berolahraga hingga 4 jam seminggu, atau sekitar 35 menit sehari dapat menurunkan risiko diabetes hingga 80 persen.
4. Mengonsumsi sereal yang tepat Memilih sereal tepat dapat membantu mengontrol kadar gula darah. Asupan tinggi dari biji-bijian keseluruhan juga terkait dengan tingkat yang lebih rendah dari kanker payudara, diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, dan stroke. Sereal adalah salah satu sumber terbaik dari biji-bijian.
5. Mengonsumsi kopi Jika sangat menyukai kopi, tidak masalah jika terus minum kopi. Beradasarkan hasil penelitian dari Harvard School of Public Health menemukan bahwa, peminum kopi lebih dari 6 cangkir sehari memiliki risiko 29-54 persen lebih rendah terkena diabetes tipe 2 selama 18 tahun studi.
6. Menghindari makanan cepat saji Menghindari makanan cepat saji selain dapat menghindarkan dari kondisi obesitas juga dapat menurunkan risiko diabetes.
7. Mengurangi konsumsi daging Menurut hasil penelitian, wanita yang makan daging merah setidaknya 5 kali seminggu memiliki risiko 29 persen lebih tinggi utuk diabetes tipe 2 dibandingkan orang yang makan kurang dari sekali seminggu.
8. Mengonsumsi kayu manis Berdasarkan hasil sebuah penelitian, kayu manis dapat mengurangi gula darah sekitar 10 persen. Senyawa dalam kayu manis dapat mengaktifkan enzim yang merangsang reseptor insulin. Kayu manis juga telah terbukti membantu menurunkan kolesterol dan trigliserida, yaitu lemak darah yang dapat menyebabkan risiko diabetes.
9. Santai dan rileks untuk hindari stres Stres dapat menyebabkan jantung untuk berdetak lebih cepat, napas lebih cepat, dan memicu kadar gula darah meningkat. Stres kronis dapat meningkatkan kadar gula darah. Maka, jika sedang mengalami stres sebaiknya lebih bersantai dan rileks.
10. Mendapatkan waktu tidur yang cukup Sebuah studi dari Yale University yang melibatkan 1.709 pria menemukan bahwa, pria yang secara teratur mendapat kurang dari 6 jam tidur, dua kali lipat menaikkan risiko diabetes. Sehingga mendapatkan waktu tidur yang cukup dapat menurunkan risiko diabetes.
11. Menikah Berdasarkan hasil penelitian, wanita yang hidup sendiri adalah 2,5 kali lebih mungkin untuk terserang diabetes dibandingkan wanita yang hidup dengan pasangan. Hasil penelitian tersebut telah diterbitkan dalam Diabetes Care. Wanita yang tinggal sendirian juga lebih mungkin untuk merokok dan kurang cenderung memiliki kebiasaan diet sehat dan mengonsumsi alkohol.
12. Memantau kadar gula darah Sebuah tes darah sederhana dapat mengungkapkan apakah kadar gula darah menempatkan pada risiko untuk kondisi diabetes. Orang dengan pradiabetes, kadar gula darah sedikit tinggi, antara 100-125 mg/dl, sering mengembangkan kasus diabetes dalam 10 tahun. Memantau kadar gula darah secara rutin, dapat untuk mengetahui kapan harus melakukan tindakan pencegahan diabetes. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Diabetes Melitus Fri Feb 10, 2012 8:37 pm | |
| OBAT DIABETES AMAN DIGUNAKAN ASAL... Bramirus Mikail | Lusia Kus Anna | Jumat, 10 Februari 2012 | 16:13 WIB Kompas.com - Bila pasien diabetes sudah mengatur makan dan melakukan cukup olahraga tetapi gula darah masih belum terkendali, maka diperlukan bantuan obat untuk menambah pengeluaran insulin atau pun menurunkan resistensi insulin. Ada berbagai macam obat diabetes, baik yang oral atau suntikan. Pada obat oral biasanya dimulai dengan dosis relatif kecil kemudian dinaikkan bertahap jika perlu. Seperti halnya obat lain yang tidak bebas dari efek samping, demikian juga halnya dengan obat diabetes. Efek samping ini bisa timbul bila obat diberikan terlalu banyak atau reaksi individu. Beberapa penelitian terbaru bahkan mengindikasikan adanya kaitan antara obat diabetes dengan peningkatan risiko kanker. Semua obat ada efek sampingnya. Oleh karena itu setelah obat itu diedarkan, ada yang disebut post surveilens," kata Dr. Ronald Hukom Sp.PD- KHOM, dokter penyakit dalam yang juga pakar di bidang kanker ini saat dimintai pendapatnya mengenai penggunaan obat-obatan diabetes yang dapat memicu kanker. Ronald mengatakan, post surveilens diartikan sebagai pengawasan terhadap obat yang sudah diedarkan secara luas dan disetujui oleh badan yang berwenang, untuk kemudian dilihat sejauh mana efek samping yang mungkin ditimbulkan obat tersebut dalam jangka waktu yang lama. Di Indonesia pengawasan tersebut dilakukan secara ketat dan dicatat oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Ronald menilai, masyarakat tidak perlu cemas terkait adanya temuan yang menunjukkan risiko penggunaan obat-obatan diabetes seperti misalnya metformin, insulin dan sulfonylureas terhadap perkembangan kanker pankreas. Karena menurutnya, sepanjang bisa menjaga dosis dan ditangani oleh orang yang ahli, obat tersebut tidak akan berbahaya. "Obat metformin obat bagus untuk diabetes dan murah. Buktinya tidak ada badan pengawas obat yang menarik dan menyebut obat ini berbahaya," kata dokter yang sehari-hari berpraktik di RS.Kanker Dharmais Jakarta ini. Sekali pun ada efek sampingnya, namun jika risikonya jauh lebih kecil dibanding manfaatnya maka tidak perlu dikhawatirkan. "Tak perlu cemas sepanjang diawasi dan digunakan dengan dosis yang benar," tambahnya. Ronald juga menyarankan agar setiap dokter memberikan penjelasan kepada pasien tentang efek samping obat yang mungkin ditimbulkan apabila digunakan dalam jangka waktu lama. Hal ini dimaksudkan agar pasien juga dapat menggunakannya dengan batas yang wajar.
"Kalau masih khawatir, konsultasikan kepada dokter yang memberikan obat. Karena efek samping obat pada setiap orang berbeda-beda," jelasnya. Menurut Ronald, setiap obat punya efek samping berbahaya jika dalam penggunannya tidak mengikuti prosedur yang berlaku. Ia mengambil contoh penggunaan obat kemoterapi. Obat kemoterapi dapat dikategorikan obat yang berbahaya karena bisa mendatangkan kanker. "Artinya, setelah beberapa tahun memakai obat kemoterapi seseorang bisa kena kanker. Tapi dengan pemberian dosis yang tepat dan sesuai hal itu tidak akan membahayakan," katanya. Sementara itu Dr. Rianto Setiabudy, SpFK(K), Guru Besar dari Departemen Farmakologi dan Terapeutik, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengatakan, bardasarkan literatur yang ada, ia tidak pernah menemukan ada data yang menunjukkan bahwa penggunaan obat diabetes memicu efek samping berbahaya. "Kita disini punya Badan POM. Kalau ada sesuatu yang membahayakan masayarakat, Badan POM pasti bertindak," cetusnya. Tetapi menurut Riyanto, obat-obatan tersebut masih mungkin menjadi berbahaya jika dalam penggunaannya dilakukan sendiri (self medicine) - tanpa berkonsultasi kepada dokter. "Bukan maksudnya saya suruh orang untuk ke dokter. Tapi obat-obatan diabetes itu termasuk obat keras. Kalau digunakan tanpa pengawasan itu yang bisa berbahaya," katanya Ia juga menghimbau agar masyarakat menghindari kebiasaan mengobati penyakitnya sendiri. "Kalau penyakitnya ringan mungkin tidak apa-apa. Tapi kalau seperti diabetes, hipertensi dan jantung, mereka harus ke dokter," tambah Riyanto. |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |