Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Diabetes Melitus

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 12 ... 23  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Apr 21, 2010 5:19 pm

PENYAKIT DM DI INDONESIA BAKAL MELEDAK DI TAHUN 2030
Bagus Kurniawan - detikHealth - Sabtu, 29/05/2010 12:45 WIB
Yogyakarta, Perubahan gaya hidup masyarakat mengakibatkan pola makan berubah tapi kurang olahraga. Jangan heran jika 20 tahun lagi atau 2030 Indonesia akan mengalami ledakan penderita Diabetes Miletus (DM). Saat ini Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar itu masuk 5 besar negara dengan penderita DM yang terbanyak. Negera urutan pertama penderita DM adalah India, kedua China, ketiga Amerika Serikat (AS) dan keempat Indonesia. Oleh karena harus ada upaya mulai sekarang agar jumlah penderita semakin bertambah.

Hal itu diungkapkan dr Agus Widiyatmoko, SpPD, MSc, Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam seminar Diabetes dan Kebutaan yang diselenggarakan Asri Medical Center (AMC) di gedung AMC di Jalan HOS Cokroaminoto, Yogyakarta, Sabtu (29/5/2010). "Bila tidak dicegah jumlahnya akan meningkat 3 kali lipat dari sekarang. Sedang negara-negara lain jumlahnya hanya meningkat 2 kali lipat karena sudah mulai melakukan pencegahan," kata Agus. Peningkatan itu diprediksi akibat penduduk Indonesia yang semakin makmur dan perubahan gaya hidup. Perubahan itu mengakibatkan pula berubahnya pola makan penduduk. "Itu salah satu penyebabnya. Banyak mengonsumsi makan tapi kurang aktifitas olahraga," katanya.

Agus mengatakan penderita DM itu ibaratnya kontrak sakit seumur hidup. Dengan demikian upaya yang bisa dilakukan adalah mampu mengontrolnya dan hidup sehat dengan DM. Selain itu DM juga bisa menimbulkan komplikasi penyakit lainnya seperti saraf, ginjal hingga kebutaan. "Karena itu bila ada penderita DM harus dihentikan agar jangan sampai komplikasi misalnya terjadi kebutaan seperti kasus penyanyi keroncong Mus Mulyadi," katanya Cara yang dilakukan lanjut Agus, adalah melakukan edukasi kepada masyarakat agar jangan salah persepsi terhadap DM terutama berkaitan dengan obat untuk penderita.

Selanjutnya melakukan diet atau mengatur pola makan, baik jumlah makanan yang harus dimakan setiap hari, jenis makanan yang dimakan dan waktu makan.
"Makan 3 kali sehari itu perlu karena tubuh perlu kalori tapi harus diatur. Ini yang kadang-kadang susah dilakukan dengan tepat oleh semua penderita," katanya.
Dia mengatakan olahraga rutin dua atau tiga kali sehari juga mampu mencegah. Olahraga mampu menurunkan kadar gula darah sekitar 10-15 persen. Olahraga yang disarankan adalah bukan olahraga dengan intensitas tinggi untuk membakar kalori, tapi efek yang ditimbulkan setelah olahraga.
"Idealnya 30 menit hingga 45 menit pada pagi hari sudah cukup atau dengan senam DM yang khusus diadakan bagi penderita," pungkasnya. (bgs/ir)


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 8:58 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Apr 21, 2010 7:10 pm

PENDERITA DM DI INDONESIA MENINGKAT
Kompas - Minggu, 30 Mei
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia sejak 2000 meningkat dan pada 2030 diperkirakan mencapai 21,3 juta orang. "Pada 2000 jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia mencapai 8,4 juta orang. Jumlah itu terus meningkat, dan pada 2030 diperkirakan mencapai 21,3 juta orang," kata pakar ilmu kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr Yunani Setyandrian, di Yogyakarta, Sabtu
(29/5/2010).

Menurut Yunani, hal itu menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia yang kebanyakan disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. "Diabetes melitus atau kencing manis merupakan penyakit gula yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi normal akibat tubuh kekurangan insulin," katanya. Ia mengatakan diabetes melitus menyebabkan penderita rentan terhadap infeksi, seperti infeksi saluran kencing, infeksi paru, dan infeksi kaki. Selain menyebabkan infeksi, diabetes melitus juga bisa menyebabkan kelainan yang terjadi pada pembuluh darah retina, dan bisa berakhir dengan kebutaan bagi penderitanya. "Kebutaan akibat diabetes melitus disebut retinopati diabetik. Kebutaan terjadi pada sekitar 60 persen penderita diabetes atau diabetisi yang berumur di atas 15 tahun," katanya. Yunani melanjutkan, retinopati diabetik muncul karena adanya kebocoran atau sumbatan pembuluh darah halus di retina, dan dapat menyebabkan pembentukan pembuluh darah yang rapuh. "Namun, pembuluh darah rapuh itu sebenarnya bisa dicegah dengan suntikan anti-VEGF ke dalam bola mata," kata dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini.

Ia mengatakan retinopati diabetik pada stadium awal biasanya tidak bergejala, sehingga sering penderita tidak menyadari. Akibatnya, sebagian penderita sering datang terlambat, hingga kebutaan kadang tidak bisa dihindarkan. "Sebenarnya kebutaan akibat retinopati diabetik bisa dicegah melalui fotokoagulasi laser yang tepat waktu. Untuk itu, para penderita diabetes melitus sebaiknya memeriksakan matanya lebih awal," katanya.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 8:59 am; edited 9 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri May 07, 2010 2:09 pm

TINGGI, BIAYA KESEHATAN AKIBAT DM
Selasa, 23 Februari 2010 | 10:38 WIB
KOMPAS.com — Diabetes, yang selama ini menjadi masalah kesehatan negara maju, kini juga menjadi persoalan kesehatan negara berkembang. Diabetes dan komplikasinya, seperti stroke dan penyakit jantung, akan menjadi beban ekonomi terbesar bagi negara-negara berkembang. "Diabetes telah bergeser dari persoalan kesehatan negara maju menjadi penyakit negara berkembang, seperti India dan China, dan ini akan menjadi beban pembiayaan kesehatan yang besar," kata Philip Clarke, peneliti dari University of Sydney School of Public Health.

Komplikasi diabetes antara lain penyakit jantung koroner, stroke, neuropati diabetik (gangguan pada pembuluh saraf), amputasi, gagal ginjal, dan kebutaan. Bila terjadi komplikasi, bisa terjadi kecacatan, menurunnya usia harapan hidup, dan tingginya pembiayaan kesehatan untuk semua golongan masyarakat.
Dalam penelitiannya, Clarke dan timnya menguji data 11.140 pasien diabetes di 20 negara, meliputi komplikasi yang diderita pasien, biaya perawatan, dan lamanya tinggal di rumah sakit. Hasilnya diketahui bahwa biaya kesehatan akibat penyakit diabetes meningkat tajam, terutama di negara-negara miskin.

Saat ini diperkirakan 250 juta orang di dunia menderita diabetes, angka ini akan terus bertambah dengan jumlah terbanyak, sekitar tiga perempatnya berada di negara berkembang. Indonesia saat ini menduduki urutan keempat setelah Amerika Serikat, China, dan India. "Pasien di Asia dan Eropa Timur memiliki angka insiden stroke paling tinggi dibanding pasien dari negara maju. Pasien di negara berkembang juga lebih sedikit yang mendapat layanan kesehatan untuk penyakitnya dan lebih lama tinggal di rumah sakit," menurut laporan penelitian Clarke.

Pengeluaran per kapita China untuk biaya kesehatan diabetes diperkirakan 216 dollar AS (sekitar Rp 205.000) per tahun. Angka tersebut akan meningkat 10 kali lipat bila pasien mengalami komplikasi, misalnya stroke. "Cara paling efisien untuk mengurangi tingginya biaya kesehatan adalah dengan mencegah terjadinya komplikasi. Bila pasien secara rutin mengontrol tekanan darahnya, biaya kesehatan bisa dipangkas," kata Clarke. Dalam risetnya, Clarke melakukan survei di China, India, Malaysia, Filipina, Republik Ceko, Estonia, Hongaria, Lituania, Polandia, Rusia, Slowakia, Australia, Kanada, Perancis, Jerman, Irlandia, Italia, Belanda, Selandia Baru, dan Inggris.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 9:00 am; edited 9 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu May 13, 2010 9:38 am

GAYA HIDUP TINGKATKAN RISIKO DM
KILAS - Edisi Juni 2009 (Vol.8 No.11) Farmacia
Kaitan antara penyakit diabetes dan gaya hidup sudah lama dipercaya. Teori tersebut kembali diperkuat melalui hasil penelitian dari Amerika Serikat yang menganalisa keterkaitan antara gaya hidup dengan insiden diabetes. Penelitian ini berlagsung selama lebih dari 10 tahun pada 4883 laki-laki dan wanita yang berusia 65 tahun atau lebih. Faktor gaya hidup yang dianalisa adalah aktivitas fisik, pola makan, kebiasaan merokok dan konsumsi alcohol, serta berat badan.

Secara keseluruhan, peneliti menemukan ada penurunan sebesar 35% insiden diabetes pada mereka yang memiliki gaya hidup yang rendah risiko diabetes. Orang dengan aktivitas fisik dan pola makan yang bagus berpeluang 46% lebih rendah terjangkit diabetes. Sementara pada kelompok yang memiliki aktivitas fisik dan pola makan bagus serta tidak meminum alkohol maupun merokok, 82% lebih rendah untuk terjangkit diabetes.

Sebaliknya pada kelompok yang tidak memiliki gaya hidup sehat dalam 4 faktor yang dianalisa tadi, akan berpeluang 80% menderita diabetes. Kegemukan juga berperan besar dalam insiden diabetes. Ternyata pada kelompok yang sudah menerapkan gaya hidup sehat di 4 hal tersebut ditambah ia tidak obesitas serta lingkar pinggang kecil, 89%-nya tidak akan berkembang menjadi diabetes. Studi ini dipublikasikan di Archives of Internal Medicine.


Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 5:33 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat May 15, 2010 12:38 pm

KURANG TIDUR SATU MALAM SAJA BISA PICU RESISTENSI INSULIN
Jumat, 07/05/2010 16:00 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Leiden, Resistensi (penolakan) insulin biasanya terjadi pada orang yang mengalami obesitas. Tapi studi terbaru menemukan orang sehat sekalipun bila kurang tidur satu malam saja bisa mengalami resitensi insulin. Resistensi insulin adalah suatu kondisi dimana sel-sel tubuh menjadi kurang sensitif terhadap efek penurunan glukosa pada hormon insulin. Obesitas adalah salah satu penyebab resistensi insulin.

Tapi menurut sebuah studi baru yang diterbitkan dalam The Endocrine Society's Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism (JCEM), kurang tidur satu malam saja dapat memicu terjadinya resistensi insulin dan diabetes tipe 2. "Waktu tidur yang singkat pada masyarakat Barat dalam dekade terakhir ini, menyebabkan peningkatan prevalensi resistensi insulin dan diabetes tipe 2," ujar Esther Donga, MD Medical Center Universitas Leiden di Belanda dan penulis penelitian, seperti dilansir dari Medicalnewstoday, Jumat (7/5/2010).

Menurut Donga, hubungan antara peningkatan jumlah waktu tidur yang singkat dan prevalensi diabetes tidak mungkin terjadi secara kebetulan. Temuannya menunjukkan bahwa tidur malam yang singkat memiliki pengaruh yang lebih besar dari regulasi metabolik pada penemuan sebelumnya. Studi sebelumnya telah menemukan bahwa penurunan durasi tidur selama beberapa malam mengakibatkan gangguan toleransi glukosa. Tapi studi yang dilakukan Donga adalah studi pertama yang meneliti efek kurang tidur satu malam pada sensitivitas insulin.

Dalam studi ini, peneliti mengamati sembilan orang yang sehat, setelah tidur malam normal (sekitar delapan jam), dan setelah empat jam tidur malam.
Sensitivitas insulin setiap peserta penelitian diukur dengan menggunakan metode klem euglycemic hyperinsulinemic. Metode ini menggunakan kateter untuk infus glukosa dan insulin ke dalam aliran darah dan kemudian menentukan sensitivitas insulin dengan mengukur jumlah glukosa yang diperlukan untuk mengkompensasi tingkat insulin meningkat tanpa menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah rendah).

"Data kami menunjukkan bahwa sensitivitas insulin tidak tetap orang yang sehat, namun tergantung pada durasi tidur di malam sebelumnya," kata Donga.
Donga mengatakan bahwa efek negatif dari tidur malam yang singkat pada toleransi glukosa yang diproduksi, setidaknya terjadi hanya dengan kurang tidur satu malam. Dia juga menambahkan bahwa penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi apakah intervensi yang bertujuan meningkatkan durasi tidur mungkin bermanfaat dalam menstabilkan tingkat glukosa pada pasien dengan diabetes.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 3:01 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat May 15, 2010 12:42 pm

LIBURAN BIKIN PENYAKIT DIABETES MENINGKAT
Kamis, 08/07/2010 16:13 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Penyakit diabetes yang tidak dapat disembuhkan hanya dapat diatasi dengan mengontrol gaya hidup dan pola makan. Tapi saat liburan, orang dengan diabetes seakan terlena dan mengabaikan semua pantangannya, sehingga banyak pasien yang mengalami peningkatan gula darah. "Saat liburan, pasien diabetes yang biasa kontrol ke saya, mengalami peningkatan gula darah yang cukup tinggi," ujar Prof DR dr Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE, President Elect 2009-2011 Persadia (Persatuan Diabetes Indonesia), dalam acara Peluncuran Kampanye Siaga 140 di Harum Manis Resto, Jakarta, Kamis (8/7/2010).

Prof Sidartawan menuturkan bahwa pasien diabetes yang kebanyakan adalah orang tua, biasanya akan mengabaikan pantangannya demi bisa bersenang-senang dengan anak dan cucunya saat liburan. Ini sangat mengkhawatirkan bila terjadi terus-menerus. Karena penyakit diabetes sangat rentan dengan komplikasi penyakit berbahaya.

Asal tahu saja, ada dua jenis komplikasi yang terjadi pada penyakit diabetes, yaitu mikrovaskular dan makrovaskular.
Mikrovaskular (pembuluh darah kecil) meliputi pembuluh darah ke mata, ginjal dan saraf. Sedangkan makrovaskular (pembuluh darah besar) meliputi pembuluh darah ke otak, jantung dan kaki.

"Mungkin terlihat sepele, hanya kelebihan kadar gula dalam darah. Tapi dampaknya bisa mengenai seluruh organ vital di tubuh," pungkas Prof Sidartawan.
Bila komplikasi mengenai mikrovaskular, maka orang dengan diabetes akan mengalami kebutaan, gagal ginjal dan gangguan saraf (baal atau mati rasa). Dan jika mengenai makrovaskular, maka orang diabetes akan mengalami stroke, penyakit jantung dan kelumpuhan.

Maka dari itu, meski musim liburan, lebaran atau hari-hari besar yang menyediakan banyak makanan yang menggiurkan, orang dengan diabetes tetap harus hati-hati dalam menjaga pola makan dan tetap teratur melakukan olahraga, agar tidak berakibat fatal dan merenggut kebahagiaan Anda dengan seketika. Orang dengan diabetes benar-benar harus menjaga makanan dan teratur olahraga agar gula darahnya tidak meningkat dan menyebabkan komplikasi penyakit yang lebih berbahaya.



Last edited by gitahafas on Wed Jul 14, 2010 7:40 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat May 15, 2010 12:46 pm

KURUS BUKAN JAMINAN BEBAS DM
Selasa, 11/05/2010 15:06 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Salah satu faktor risiko diabetes melitus (DM) adalah kegemukan. Namun tidak berarti bahwa tubuh kurus benar-benar bebas risiko, sebab yang terpenting adalah komposisi lemak tubuh. Ketua Perhimpunan Edukator Diabetes Indonesia, Dr. dr. Aris Wibudi, Sp.PD., KEMD membenarkan hal itu di acara bincang media dengan tema 'Nutrisi Seimbang untuk Cegah dan Atasi Diabetes', Selasa (11/5/2010) di Jakarta. Menurutnya, tubuh yang sehat adalah tubuh yang berotot.

"Makin banyak otot semakin baik, karena otot memberi pertahanan pada tubuh terhadap gangguan-gangguan metabolisme," ungkap Dr. Aris yang juga berdinas di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Ia mencontohkan, salah seorang temannya memiliki badan kurus, sangat takut makan dan menjalankan diet dengan sangat ketat. Meski demikian kadar gula darahnya tetap tinggi, karena dia jarang berolah raga. Orang itu kurus, tetapi tidak ada ototnya.

Karena yang dilihat adalah komposisi lemak, maka berat badan kadang tidak bisa menjadi patokan. Berat badan tinggi tidak masalah asal tidak berlebihan, dan memiliki lebih banyak otot daripada lemak. "Sebagai contoh, berat badan Ade Rai tentu lebih tinggi dibanding saya. Tetapi saya punya ransel seperti ini, dia tidak punya," tambah Dr. Aris, sambil memegangi lemak di pinggang yang disebutnya 'ransel'. Lingkar pinggang memang menunjukkan faktor risiko DM. Jika seorang pria memiliki lingkar pinggang di atas 90 cm, atau wanita memiliki lingkar pinggang di atas 85 cm, maka risikonya lebih tinggi untuk terkena DM.

Sedangkan untuk menghilangkan lemak, caranya cukup sederhana dan bisa dilakukan kapan saja. Berjalan kaki sebanyak 1.000 langkah setiap hari menurutnya sudah cukup untuk mengurangi risiko DM. Memang tidak semua langkah bisa dihitung sebagai olahraga. Head of Division Nutrifood Research Center, Susana, STP, M.Sc., PDEng menilai, jalan-jalan di mall tidak termasuk olah raga karena terlalu santai. "Jalan-jalan di mall itu terlalu santai. Sebentar-sebentar berhenti, toleh sana toleh sini. Yang seperti itu tidak efektif untuk menghilangkan lemak," kata Susana.

Sementara jika menggunakan treadmill, target denyut nadi permenit bisa dihitung dengan rumus: (220-umur)X 65%. Misalnya jika umurnya 55 tahun, maka perhitungannya adalah: (220-55) X 65% = 107,25/menit. Bisa juga dipermudah menjadi 107 hingga 108 per menit. Untuk mencapai target tersebut, tidak boleh lebih dari 45 menit dalam satu hari. Patokannya jika saat treadmill sampai tidak bisa diajak ngobrol karena napasnya tersengal, maka itu berarti berlebihan. Demikian juga bila masih bisa bernyanyi dengan merdu, itu artinya masih kurang.
(up/ir)


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 3:04 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat May 15, 2010 12:49 pm

8 CARA KONTROL GULA DARAH
Selasa, 30/03/2010 16:15 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Gula dalam darah dapat naik maupun turun sesuai dengan aktifitas dan makanan yang dikonsumsi. Stroke, serangan jantung dan diabetes dapat diakibatkan dari kadar gula darah yang tinggi. Maka itu perlu dilakukan kontrol terhadap gula darah agar tubuh tetap sehat. Gula atau glukosa adalah sumber energi untuk sel tubuh. Rata-rata tingkat glukosa darah normal pada manusia adalah sekitar 4 mM (4 mmol/L atau 72 mg/dL).

Ketika kadar gula darah berada di luar kisaran normal, hal itu bisa menjadi indikator kondisi medis. Gula darah tinggi yang terus-menerus disebut hiperglikemia atau jika rendah seperti hipoglikemia. Diabetes mellitus ditandai dengan hiperglikemia dan merupakan penyakit yang paling menonjol terkait dengan kegagalan pengontrolan gula darah. Seperti dilansir dari menshealth, Selasa (30/3/2010), berikut cara untuk mengontrol gula darah:

1. Latihan Olahraga
Olahraga setidaknya 20 sampai 30 menit setiap hari. Tidak berolahraga dan makan yang buruk dapat memperburuk resistensi insulin seseorang. Pilihlah olahraga yang disukai agar tidak merasa bosan.

2. Menambahkan kayu manis pada makanan
Studi menunjukkan kayu manis dapat meningkat sensitivitas insulin. Ini berarti tubuh akan membutuhkan lebih sedikit hormon insulin untuk menjaga kadar gula darah. Menambahkan kayu manis ke dalam makanan pencuci mulut dapat menekan kadar gula darah tanpa menghilangkan rasa manis.

3. Jika glukosa darah tinggi, konsumsi asam alpha lipoic
"Suplemen ini tidak terkalahkan sebagai nutrisi gula darah dan diresepkan di Eropa," kata Jonny Bowden, Ph.D., C.N.S., penulis The Most Effective Natural Cures on Earth. Bowden merekomendasikan 300 mg dua kali sehari.

4. Hindari minuman penambah energi yang manis
Ilmuwan University of Massachusetts baru-baru ini menemukan bahwa olahraga meningkatkan sensitivitas insulin sebesar 40 persen ketika defisit 500 kalori telah dibuat, tetapi tidak menghasilkan peningkatan bila energi yang terbakar segera diganti dengan karbohidrat pada minuman berenergi yang manis.

5. Monitor glukosa
Hal ini akan memungkinkan untuk mengetahui bagaimana makanan dan minuman tertentu mempengaruhi gula darah. Cukup dengan menusuk jari 2 jam setelah makan. Jumlahnya tidak boleh lebih dari 139 mg/dL, dan seharusnya tidak kurang dari 100 mg/dL. Jika keluar dari jangkauan tersebut, berarti Anda memerlukan tes toleransi glukosa oral.

6. Untuk camilan, konsumsilah labu atau biji bunga matahari
Sedikit camilan ini tidak akan mempengaruhi gula darah. Dan menurut sebuah studi dari 2.006 peneliti Universitas Tufts, camilan-camilan ini kaya magnesium yang dapat melawan resistensi insulin.

7. Makan setiap 2 hingga 3 jam sekali
Makan 2-3 jam sekali bisa berupa buah atau jus minim gula. Makan dengan frekuensi ini akan membantu menjaga kestabilan gula darah dan mencegah makan terlalu banyak.

8. Cek kesehatan
Jika Anda menggunakan thiazide diuretik untuk hipertensi, konsultasikan pada dokter untuk beralih ke ACE inhibitor. Pada tahun 2006, tinjauan Hypertension terhadap 59 obat, ditemukan ada hubungan yang kuat antara kadar kalium rendah yang disebabkan oleh diuretik dan peningkatan gula darah.
(mer/ir)


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 3:12 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat May 15, 2010 12:53 pm

TANDA TANDA TERKENA DIABETES
Kamis, 24/12/2009 10:53 WIB Irna Gustia, Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Banyak pengalaman beberapa orang ketika buang air kecil lalu air seninya dikerubuti semut. Itu adalah salah satu tanda-tanda diabetes yang gampang diketahui. Tapi ada banyak lagi tanda-tanda diabetes yang perlu diwaspadai. "Kalau seseorang pipisnya dikerubuti semut, itu bisa jadi tanda awal dari penyakit diabetes," ujar dr Dante Saksono H, SpPD, PhD, saat dihubungi detikHealth, Kamis (24/12/2009).

Kenapa bisa seperti itu?
Menurutnya, seseorang yang memiliki penyakit diabetes maka air seni yang dibuang masih mengandung gula. Ini terjadi karena ketika gula darah yang masuk ke dalam tubuh di proses oleh organ ginjal tidak terserap sempurna oleh tubuh. Kemudian akan dikeluarkan oleh tubuh melalui air seni atau pipis.

"Kalau kadar gulanya dalam darah tinggi, maka hasil saringannya sudah pasti masih mengandung gula atau bersifat manis," ujar dokter berusia 36 tahun ini. dr Dante mengatakan sebenarnya diabetes melitus artinya adalah air mancur yang manis, dan air mancur disini dapat diartikan sebagai pipis atau air seni. Penyakit diabetes adalah gangguan penggunaan glukosa yang terjadi di dalam tubuh. Diabetes tidak terjadi secara begitu saja. Sebelum seseorang didiagnosis menderita diabetes, mereka mengalami fase normal, lalu meningkat menjadi prediabetes dan akhirnya menderita diabetes.

Penyakit ini sering disebut dengan silent killer. Penyakit ini tidak langsung menyebabkan kematian tapi komplikasi yang dihasilkan dari diabetes ini bisa menurunkan kualitas hidup seseorang hingga berakhir dengan kematian.Jika penderita diabetes bisa mengontrol kadar gula darahnya dengan baik, maka komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit ini bisa dicegah. Komplikasi dari diabetes ini bisa menyerang hampir seluruh organ tubuh manusia. Tanda-tanda seseorang terkena diabetes seperti dilansir dari diabeteslibrary adalah:

1. Sering buang air kecil
Buang air kecil akan menjadi sering jika terlalu banyak glukosa dalam darah. Jika insulin (yakni hormon yang mengendalikan gula darah) tidak ada atau sedikit maka ginjal tidak dapat menyaring glukosa untuk kembali ke dalam darah. Kemudian ginjal akan menarik tambahan air dari darah untuk menghancurkan glukosa. Hal ini membuat kandung kemih penuh dan membuat seseorang sering pipis.

2. Sering merasa haus
Karena sering buang air kecil, Anda akan menjadi lebih sering haus, karena proses penghancuran glukosa yang sulit maka air di dalam darah tersedot untuk menghancurkannya. Sehingga seseorang perlu minum lebih banyak untuk menggantikan air yang hilang.

3. Berat badan turun cepat
Terutama terjadi pada penderita diabetes tipe 1 (faktor genetik). Pankreas pada penderita diabates berhenti membuat insulin akibat serangan virus pada sel-sel pankreas atau respons autoimun yang membuat tubuh menyerang sel-sel yang memproduksi insulin. Akibatnya tubuh akan kesulitan mencari sumber energi karena sel-sel tidak memperoleh glukosa. Kemudian tubuh mulai memecah jaringan otot dan lemak untuk energi sehingga berat badan terus menyusut.

Pada penderita diabetes tipe 2 (faktor perubahan gaya hidup), penurunan berat badan terjadi secara bertahap dengan peningkatan resistensi insulin sehingga penurunan berat badan tidak begitu terlihat.

4. Merasa lemah dan gampang kelelahan
Karena produksi glukosa terhambat sehingga sel-sel makanan dari glukosa yang harusnya didistribusikan ke semua sel tubuh untuk membuat energi jadi tidak berjalan. Karena sel energi tidak mendapat asupan sehingga orang akan merasa cepat lelah.

5. Sering kesemutan di kaki dan tangan
Gejala ini disebut neuropati. Terjadi secara bertahap dari waktu ke waktu karena glukosa dalam darah tinggi akan merusak sistem saraf. Pada penderita diabetes tipe 2 kejadiannya secara bertahap, dan orang-orang sering tidak menyadari bahwa itu salah satu pertanda. Kondisi gula darah tinggi kemungkinan telah terjadi beberapa tahun sebelum diagnosa. Kerusakan saraf dapat menyebar tanpa pengetahuan kita.

6. Penglihatan kabur, kulit kering atau gatal, sering infeksi atau luka dan memar, yang membutuhkan penyembuhan dalam waktu lama merupakan tanda-tanda lain dari diabetes.

Jika melihat ada tanda-tanda itu maka Anda punya alasan untuk khawatir soal diabetes.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 3:36 pm; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun May 16, 2010 6:08 pm

WASPADAI ANCAMAN DIABETES MELITUS
Kamis, 13 November 2008 | 16:09 WIB
Kompas.com - JAKARTA, KAMIS - Diabetes mellitus atau DM kini menjadi ancaman serius bagi umat manusia di dunia. Pada tahun 2003, Badan Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan, 194 juta jiwa atau 5,1 persen dari 3,8 miliar penduduk dunia usia 20-79 tahun menderita DM dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 333 juta jiwa. Sebagian penderita diabetes mengalami komplikasi yang membahayakan keselamatan jiwa.

Di Indonesia, penderita diabetes juga mengalami kenaikan dari 8,4 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2020. Tingginya angka kesakitan itu menjadikan Indonesia menempati urutan keempat dunia setelah Amerika Serikat, India dan China sebagaimana dicantumkan dalam Diabetes Care tahun 2004. Survei Kesehatan Rumah Tangga atau SKRT memberi gambaran terjadinya peningkatan prevalensi DM dari tahun 2001 sebesar 7,5 persen menjadi 10,4 persen pada tahun 2004.

"Peningkatan angka kejadian diabetes itu seiring de ngan meningkatnya faktor risiko di antaranya obesitas atau kegemukan, kurang aktivitas fisik, kurang mengonsumsi makanan berserat tinggi, tinggi lemak, merokok, dan kelebihan kolesterol," kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Departemen Kesehatan, Yusharmen, dalam seminar sehari bertema Pengendalian Faktor Risiko dan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus, Kamis (13/11), di Kantor Depkes, Jakarta.

"Diabetes atau kencing manis adalah penyakit metabolisme yang ditandai tingginya kadar gula dalam darah. Penyakit ini juga sering disebut dengan the great imitator karena dapat menyerang semua organ tubuh dan menimbulkan keluhan," kata Yusharmen. Penyakit ini timbul perlahan-lahan, sehingga seseorang tidak menyadari berbagai perubahan dalam dirinya.

Penyakit itu ditandai dengan gejala antara lain banyak minum atau mudah haus, banyak kencing dengan frekuensi 3-4 kali terutama pada malam hari, banyak makan atau mudah lapar, mudah lelah serta kadang berat badan menurun drastis. "Diagnosis diabetes ditegakkan bila seseorang memiliki gejala-gejala itu dan pada pemeriksaan darah sewaktu hasilnya lebih besar dari 200 atau pada pemeriksaan gula darah puasa minimal 8 jam hasilnya lebih dari 126," ujarnya.

Penyebab diabetes cenderung diturunkan, bukan ditularkan. Anggota keluarga diabetes memiliki kemungkinan besar terserang penyakit ini dibanding dengan anggota keluarga yang tidak menderita diabetes. Selain itu, diabetes dapat disebabkan virus seperti rubela dan human coxsackievirus B4. "Sebenarnya diabetes dapat dikendalikan dengan antara lain kontrol gula darah secara teratur, makan dengan gizi seimbang dan terencana, tidak merokok, dan berolah raga secara teratur," kata dia.


Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 9:43 am; edited 12 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu May 27, 2010 11:55 am

PENYEBAB DM
Mungkin kita tidak sadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita telah melakukan beberapa hal yang justru menjadi pemicu penyakit kencing manis. Sekalipun mungkin hal-hal yang sepele, namun dalam hidup ini berlaku hukum “tabungan”, yaitu apa yang kita lakukan menjadi tabungan di masa mendatang. Apa yang kita tabung sedikit demi sedikit akan terasa hasilnya bertahun-tahun kemudian. Begitu pun dengan penyakit. Mulai dari segelas minuman favorit hingga suka menonton TV hingga larut. Siapa nyana kalau itu bisa meningkatkan risiko kencing manis atau diabetes?

1. Teh manis
Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes. Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.

2. Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan. Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah.

3. Suka ngemil
Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah. Pengganti: Buah potong segar.

4. Kurang tidur.
Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik. Solusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.

5. Malas beraktivitas fisik
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan. “Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding bersepeda,” kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat.
Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya. Solusi: Bersepeda ke kantor.

6. Sering stres
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.
Solusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat.

7. Kecanduan rokok
Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup atau lifestyle tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga. Pengganti: Permen bebas gula. Cara yang lebih progresif adalah mengikuti hipnoterapi. Pilihlah ahli hipnoterapi yang sudah berpengalaman dan bersertifikat resmi.

8. Menggunakan pil kontrasepsi
Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik. Solusi: Batasi waktu penggunaan pil-pil hormonal, jangan lebih dari 5 tahun.

9. Takut kulit jadi hitam
Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh, termasuk gula darah. Solusi: Gunakan krim tabir surya sebelum “berjemur” di bawah sinar matahari pagi selama 10-15 menit.

10. Keranjingan soda
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses’ Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.
Related Posts with Thumbnails Read more: http://indodiabetes.com/10-kebiasaan-pemicu-diabetes-atau-kencing-manis.html#ixzz0upeO4tKf


Last edited by gitahafas on Wed Aug 18, 2010 7:05 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu May 27, 2010 11:57 am

PENGIDAP DM MENINGKAT PESAT
Senin, 15 November 2010 | 04:36 WIB
JAKARTA, KOMPAS — Prevalensi diabetes pada penduduk Asia telah meningkat dua hingga lima kali lipat dalam dua dekade terakhir dibandingkan dengan penduduk negara-negara Eropa. Kondisi itu juga menyumbangkan tingkat kematian akibat diabetes lebih tinggi di wilayah Asia. Hal itu mengemuka dalam temu media terkait penyelenggaraan Jakarta Diabetes Meeting (JDM) ke-19 di Jakarta, Sabtu (13/11/2010). Setiap tanggal 14 November diperingati sebagai Hari Diabetes Sedunia. Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik berupa ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin atau penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin. Diabetes ditandai metabolisme glukosa abnormal sehingga gula darah tinggi dan profil lemak darah berubah.

Lebih dari 110 juta orang di Asia menderita diabetes dengan proporsi yang tak berimbang antara usia tua dan muda. Tidak seperti di negara Barat yang umumnya dialami oleh kaum yang lebih tua. Dante Saksono Harbuwono, selaku Ketua Panitia JDM, mengatakan, Asia dan warga negara Barat, seperti Eropa, memiliki perbedaan genetika untuk diabetes karena setiap daerah memiliki pola genetik masing-masing. Secara genetik, bangsa Asia lebih cenderung mengalami resistensi insulin dibandingkan dengan kulit putih. Selain itu, tingginya penderita diabetes di Asia dipengaruhi perubahan pola konsumsi ke arah makanan kurang serat dan tinggi lemak. Di samping itu, aktivitas fisik berkurang.

Terkait keturunan
Diabetes melitus (DM) tipe dua umumnya terkait genetis atau keturunan yang juga dipengaruhi dan dipicu faktor risiko, seperti pola makan kurang sehat, kurang beraktivitas fisik, merokok, minum minuman beralkohol, obesitas, hipertensi hiperglikemia, dan hiperkolesterol. Di Indonesia, gambaran kasus diabetes tak terlalu menggembirakan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksikan kenaikan pengidap diabetes melitus tipe 2 sebanyak 8,4 juta orang pada tahun 2000, meningkat pesat menjadi 21,3 juta pada tahun 2010. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (2007), diabetes melitus menduduki peringkat kedua sebagai penyebab kematian pada kelompok usia 45-54 tahun di perkotaan. Adapun di pedesaan, diabetes melitus menduduki peringkat keenam dengan jumlah proporsi kematian sebesar 5,8 persen.

Pembicara lain, Ketua Panitia Global Diabetes Walk and Fun Day, Em Yunir, mengungkapkan, diabetes harus dikendalikan. Penyakit itu progresif dan serius lantaran dapat menyebabkan berbagai komplikasi dan kematian. Komplikasi kronis ditandai dengan kerusakan dan akhirnya kegagalan berbagai organ, seperti mata, ginjal, saraf, jantung, dan otak. Penanganan diabetes tidak hanya melalui obat, tetapi juga lewat penyuluhan agar masyarakat mempertahankan aktivitas fisik dan menjaga pola makan serta menghindari faktor risiko lainnya, seperti merokok. Dia menambahkan, di kalangan penderita diabetes, organisasi diabetes mempunyai peran signifikan dalam manajemen diabetes. Organisasi diabetes di Indonesia terdiri dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Perhimpunan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dan Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia). (INE)


Last edited by gitahafas on Thu Jan 27, 2011 10:19 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu May 27, 2010 12:01 pm

TEST STRIP
Hi, Teman-teman diabetisi, Anda pasti sudah tahu bahwa hampir semua alat test gula darah yang kita gunakan memerlukan test strip, bukan? Nah, kali ini saya mau sharing info bagus dan berharga untuk kaum kita diabetisi.

Pada tanggal 13/08/2009 FDA (BPOM Amerika) menerbitkan sebuah peringatan tentang bahaya menggunakan test strip GDH-PQQ (glucose dehydrogenase pyrroloquinoline quinone) bagi mereka yang menjalani terapi gula non-glucose tertentu, karena bisa memberikan hasil test gula darah yang salah. Kesalahan pembacaan hasil test strip GDH-PQQ dapat menyembunyikan “hypoglacemia” (gula darah rendah) secara signifikan. Dan jika hasil test kadar gula darah ini dipakai sebagai dasar pemberian insulin dalam dosis terlalu tinggi (overdosis) akan menyebabkan kematian.

GDH-PQQ strip adalah sebuah metodelogy mengukur kadar gula darah yang tidak bisa membedakan glucose dengan gula non-glucose seperti “maltose“, “xylose“, dan “galactose” yang bisa ditemukan di dalam obat tertentu atau pasien yang sedang menjalani terapi obat-obatan tertentu yang mengandung gula non-glucose.

FDA merekomendasi untuk mengambil langkah hindari menggunakan strip GDH-PQQ kepada pasien diabetes yang menjalani terapi produk interfering.
Dalam kurun waktu 1997 – 2009 FDA menerima 13 laporan kematian yang dihubungkan dengan test strip GDH-PQQ. Kematian terjadi pada tempat-tempat pelayanan kesehatan. Beberapa laporan mengindikasikan terjadi luka serius seperti kadar gula rendah, syaraf yang memburuk, kurang oksigen dalam jaringan, kerusakan otak dan koma muncul sebelum kematian.

FDA bekerjasama dengan produksen-produksen untuk mengatasi masalah test strip GDH-PQQ dan terus mencermati kasus-kasus yang terjadi yang berhubungan dengan produk-produk yang dimaksud. Saya juga teluri informasi ini lebih jauh dan menemukan bahwa peringatan tentang bahaya menggunakan test strip GDH-PQQ juga disiarkan oleh situs US Recall News dan Institute for Safe Medication Practices (ISMP).

Lantas produksen dan merk apa yang menggunakan test strip GDH-PQQ? Rasanya tidak etis jika saya cantumkan dalam artikel ini. Tapi jika Anda ingin mengetahui produksen dan merk apa yang test stripnya menggunakan GDH-PQQ saya persilahkan Anda ke TKPnya langsung dan linknya disini.
Sebagai tambahan, produksen test strip GDH-PQQ mungkin akan segera mengubah produk mereka ke metode non-GDH-PQQ. Oleh sebab itu penyedia jasa kesehatan dan pasien harus mengacu pada label alat atau konsultasikan dengan produksen untuk mengetahui jenis metode yang digunakan.

Gunakan monitor glukosa dan strip tes yang spesifik terhadap glukosa (glucose specific). Metoda pemeriksaan ini bisa dilakukan di laboratorium. Hubungi perusahaan yang memproduksi alat monitor glukosa dan strip tes untuk memastikan metoda yang digunakan. Monitor glukosa dan strip tes yang spesifik terhadap glukosa adalah yang memiliki metoda glucose oxidase (GOD), hexokinase, glucose dehydrogenase dengan nicotinamide adenine dinucleotide (GDH-NAD), atau glucose dehydrogenase dengan flavin-adenine dinucleotide (GDH-FAD).

Sumber Link:
1. FDA
2. Glucosesafety.com
3. US Recall News
4. Institute for Safe Medication Practices (ISMP)
5. Produksen dan merk glucose meter yang menggunakan test strip GDH-PQQ
Update : (07/06/2010 | 23:30)

Artikel ini menimbulkan banyak pertanyaan yang dilayangkan kepada saya berkisar tentang ciri-ciri test strip metode GDH-PQQ. Sampai saat ini saya belum menemukan informasi yang memberikan petunjuk ciri-ciri kasat-matanya.

Di situs resmi FDA pun tidak memberikan informasi ini. Dugaan sementara (pendapat saya) ini mungkin berhubungan dengan bahan (bisa jadi bahan kimia) yang digunakan dalam strip tersebut. Saya sangat berterima kasih jika Anda mempunyai account Facebook.com atau Twitter.com tolong disebarluaskan di Facebook dan Twitter. You might also like: Read more: http://indodiabetes.com/fda-rekomendasi-tidak-gunakan-glucose-meter-gdh-pqq.html#ixzz0upgcAd34


Last edited by gitahafas on Wed Aug 18, 2010 7:02 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu May 27, 2010 12:03 pm

PRA DIABETES
PraDiabetes / PreDiabetes | Beberapa bulan terakhir saya mendapatkan cukup banyak email dari pembaca blog saya ini. Dan setelah saya amati dengan benar-benar email yang masuk kebanyakan menanyakan tentang apa itu PRADIABETES? Untuk menjawab pertanyaan itu sebenarnya sangat mudah, akan tetapi yang menjadi persoalan bagi saya adalah bahwa pertanyaan itu merupakan salah satu bukti bahwa sosialisasi tentang bahaya penyakit kencing manis di Indonesia masih sangat rendah, untuk itu saya postingkan artikel ini secara khusus untuk menjawab pertanyaan tentang APA ITU PRADIABETES?

Sebelum seseorang menderita kencing manis atau diabetes melitus (DM) tipe 2, hampir selalu melewati keadaan yang disebut PRADIABETES. PRADIABETES adalah jika KADAR GULA DARAH seseorang lebih tinggi dari normal, tetapi tidak cukup tinggi untuk dapat didiagnosis diabetes.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa selama pradiabetes telah terjadi kerusakan di tubuh, terutama jantung dan sistem peredaran darah. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa jika kadar gula darah dapat dikontrol selama pradiabetes, maka kejadian DM tipe 2 dapat dicegah atau diperlambat.

Terdapat dua macam pemeriksaaan yang dapat dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang mengalami pradiabetes, yaitu Gula Darah Puasa (GDP) dan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO). Seseorang yang akan melakukan pemeriksaan GDP, perlu puasa pada malam harinya. Pada pemeriksaan GDP, gula darah diukur pada pagi harinya sebelum makan. Pada pemeriksaan TTGO gula darah diukur setelah puasa dan kemudian dua jam setelah mengonsumsi minuman tinggi gula.

Setelah dilakukan pemeriksaan tersebut, kadar gula darah akan dicek untuk melihat apakah seseorang memiliki metabolisme normal, pradiabetes, atau diabetes. Jika kadar GDP abnormal maka disebut sebagai gula darah puasa terganggu. Sedangkan jika hasil TTGO abnormal maka disebut sebagai toleransi glukosa terganggu. Seseorang disebut sebagai pradiabetes jika kadar GDP mencapai 100 mg/dl s/d <126 mg/dl atau hasil TTGO 140 mg/dl s/d <200 mg/dl.

Siapa Saja yang Perlu Melakukan Pemeriksaan?
Orang dengan pradiabetes sering kali tidak merasakan gejala diabetes. Oleh karena itu, apabila usia Anda sudah mencapai usia 45 tahun atau lebih dan memiliki berat badan berlebih, sebaiknya melakukan pemeriksaan gula darah untuk deteksi awal pradiabetes.

Pada orang dewasa berusia kurang dari 45 tahun dan berat badan berlebih, dokter Anda mungkin akan menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan pradiabetes jika Anda memiliki faktor risiko lain untuk diabetes atau pradiabetes, misalnya anda mempunyai keturunan orangtua yang kena kencing manis. Jika kadar gula darah Anda normal, pemeriksaan dapat dilakukan setiap tiga tahun sekali.

Bagaimana Mencegah Pradiabetes Menjadi Diabetes?
Penelitian yang dilakukan Program Pencegahan Diabetes menyatakan bahwa sekitar 11% orang dengan pradiabetes akan berkembang menjadi DM tipe 2 rata-rata setelah tiga tahun. Penelitian lain menyatakan bahwa banyak orang dengan pradiabetes akan berkembang menjadi diabetes setelah sepuluh tahun. Selain itu, orang dengan pradiabetes memiliki risiko penyakit jantung 1,5 kali lipat lebih besar daripada orang normal. Meskipun demikian, pradiabetes merupakan suatu keadaan yang dapat ditata laksana.

Seseorang dengan pradiabetes dapat dicegah untuk menjadi DM tipe 2 dengan mengubah diet dan meningkatkan aktivitas fisik. Diet dan aktivitas fisik bahkan lebih baik daripada penggunaan obat dalam memperlambat perkembangan pradiabetes menjadi diabetes. Perkembangan pradiabetes menjadi diabetes dapat diturunkan sebanyak 58% dengan melakukan aktivitas fisik sedang setiap hari selama 30 menit dan menurunkan berat badan sebanyak 5-10%. Salah satu aktivitas fisik sedang yang mudah mudah dilakukan adalah berjalan.

Dengan mengubah gaya hidup atau lifestyle, kadar gula darah yang meningkat pada sebagian orang dengan pradiabetes dapat kembali normal. Mengingat risiko penyakit jantung yang lebih besar pada orang dengan pradiabetes, maka faktor risiko penyakit jantung yang lain juga perlu diperhatikan seperti merokok, tekanan darah tinggi, dan kolesterol tinggi. Semoga posting ini bermanfaat bagi anda. Disarikan dari berbagai sumber. Read more: http://indodiabetes.com/apa-itu-pradiabetes-prediabetes.html#ixzz0upfv8uPi


Last edited by gitahafas on Wed Aug 18, 2010 7:01 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu May 27, 2010 12:04 pm

DIABETISI LEBIH SENSITIF PADA CUACA PANAS
Rabu, 30 Juni 2010 | 08:42 WIB
KOMPAS.com — Udara yang panas memang membuat kebanyakan orang merasa tidak nyaman. Namun, untuk penderita diabetes (diabetesi), udara panas dan kelembaban bisa berbahaya. Salah satu komplikasi dari diabetes, baik tipe 1 maupun 2, adalah gangguan kemampuan tubuh untuk beradaptasi pada kenaikan temperatur udara. Hal tersebut tentu berbahaya, khususnya di musim panas, karena bisa membuat suhu tubuh lebih panas.

Gangguan kerusakan saraf tersebut diperkirakan dialami 60-70 persen penderita diabetes di Amerika. Kadar gula darah yang tinggi bisa merusak saraf yang lembut sehingga memengaruhi kemampuannya mengirim pesan. Kerusakan saraf bisa terjadi di seluruh organ tubuh, termasuk kulit.

Dalam sebuah penelitian, para ahli membandingkan reaksi tubuh para diabetesi dengan orang yang sehat saat mereka terpapar cuaca panas. Para responden penelitian itu menggunakan alat pengukur suhu kulit, jumlah keringat, dan temperatur keseluruhan. Ketika suhu turun, jumlah keringat pada orang sehat naik secara proporsional sehingga temperatur mereka tetap konstan.

Pada responden yang diabetes, tubuh mereka tidak merespons adanya kenaikan suhu. Penelitian di Mayo Clinic menunjukkan, para diabetesi lebih sering mengalami gangguan kesehatan di musim panas akibat kepanasan atau dehidrasi.




Last edited by gitahafas on Tue Jul 13, 2010 6:36 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
 

Diabetes Melitus

View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 23Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 12 ... 23  Next

 Similar topics

-
» Diabetes Melitus
» IH -- Actos, a diabetes drug being used for scarring alopecia
» Type of diet for diabetes recovery
»  Diabetes, depression, dementia, heart disease, and hair loss - all linked
» Diabetes (Gula Darah)

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-