|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Mon May 31, 2010 10:22 am | |
| LAPARASKOPI CIKAL BAKAL BEDAH MASA DEPAN Jumat, 11 Januari 2008 | 01:02 WIB Kompas.com JAKARTA, KCM - Teknik laparoskopi atau pembedahan minimal invasiv diperkirakan menjadi trend bedah masa depan. Bahkan pada 2010 mendatang, sekitar 70-80 persen tindakan operasi di negara-negara maju akan menggunakan teknik ini. "Di negara-negara maju seperti Eropa, Amerika, dan beberapa negara Asia seperti Jepang, secara perlahan teknik konvensional akan diganti menjadi teknik minimal invasif. Bahkan pada 2010 nanti sekitar 70 hingga 80 persen pembedahan akan menggunakan teknik minimal invasif," ungkap Dr. Errawan R. Wiradisuria, SpB(K)BD Sekjen Perhimpunan Bedah Endo-Laparoskopi Indonesia (PBEI) dalam diskusi Bedah Saluran Cerna dengan Teknik Bedah Invasif di RS International Bintaro, Tangerang, Selasa (8/1) kemarin. Menurut Errawan, teknik laparoskopi kini banyak diminati karena banyak keuntungan yang diperoleh pasien. Selain luka minimal, waktu operasi pun singkat dan masa penyembuhan pun menjadi lebih cepat.
Laparoskopi sendiri merupakan teknik bedah tanpa harus membuka dada atau perut, melainkan dilakukan lewat dua atau tiga lubang berdiameter masing- masing 2 hingga10 milimeter. Satu lubang untuk memasukkan kamera mini (endokamera) yang memindahkan gambaran bagian dalam tubuh ke layar monitor, sedangkan dua lubang lain menjadi jalan masuk peralatan bedah. Karena lukanya minimal, pemulihan menjadi lebih cepat, mengurangi nyeri pascaoperasi, dan rawat inap lebih singkat. Dari segi estetik juga menguntungkan karena parut/bekas luka yang ditinggalkan sangat kecil, tidak mengganggu penampilan.
Teknik laparoskopi menurut Errawan kini sudah banyak dilakukan untuk beragam kasus operasi di Indonesia. Bahkan beberapa Rumah Sakit telah menetapkan teknik laparoskopi sebagai prosedur baku untuk beberapa jenis operasi. "Di indonesia, teknik laparoskopi banyak paling banyak digunakan untuk pengangkatan batu dan kantung empedu, operasi usus buntu dan pelepasan perlengketan. Operasi ini juga digunakan untuk tumor usus, batu di saluran empedu, hernia dan gastric banding," terang Errawan.
Di Indonesia, teknik bedah laparoskopi mulai dikenal di awal 1990-an ketika tim dari RS Cedar Sinai California AS mengadakan live demo di RS Husada Jakarta. Selang setahun kemudian, Dr Ibrahim Ahmadsyah dari RS Cipto Mangunkusumo melakukan operasi laparoskopi pengangkatan batu dan kantung empedu (Laparoscopic Cholecystectomy) yang pertama. "Sejak 1997, Laparoscopic Cholecystectomy menjadi prosedur baku untuk penyakit-penyakit kantung empedu di beberapa rumah sakit besar di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia," ungkapnya. Telesurgery Robotic Bila di Indonesia, teknik laparoskopi masih digunakan untuk beberapa kasus dengan peralatan yang masih terbatas. Di negara-negara maju, teknik laparoskopi sudah memasuki tahap lanjutan (advanced laparoscopic), di mana pembedahan telah menggunakan robot (robotic surgery) dan koneksi via satelit untuk operasi jarak jauh (telepresence minimal invasive surgery). Pada teknik telepresence ini, operasi tetap dilakukan oleh dokter namun dengan bantuan tangan robot. Pasien dan dokter bisa berada di tempat berbeda. Adanya jarak dapat diatasi dengan bantuan koneksi satelit sehingga operasi tetap dilakukan dengan melihat layar monitor. "Teknik telepresence dengan robot pernah berhasil dilakukan di Bordeaux Prancis. Dokter hanya sebagai operator saja, pergerakan robot diatur memakai joystick. Hasilnya luar biasa, karena robot punya presisi yang sangat baik. Jadi segala hal yang awalnya mustahil, bisa menjadi kenyataan di masa depan," tandas Errawan.
Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 8:03 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Mon May 31, 2010 10:23 am | |
| LEBIH MENGUNTUNGKAN DENGAN BEDAH LAPARASKOPI Jumat, 11 Januari 2008 | 01:02 WIB Kompas.com - PERKEMBANGAN yang pesat di bidang teknologi kesehatan khususnya ilmu bedah telah mendatangkan manfaat dan keuntungan yang besar bagi kehidupan manusia. Ditemukannya teknik bedah Laparoskopi atau bedah minimal invasiv misalnya, kini telah mulai menggantikan teknik-teknik konvesional kecuali pada kasus-kasus tertentu. Laparoskopi, yang merupakan revolusi besar di bidang ilmu bedah, kini banyak dipilih karena prosedurnya yang mudah serta waktu operasi yang lebih singkat ketimbang konvesional. Rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk operasi menggunakan pencitraan pada monitor dengan memakai teleskop dan sistem endokamera ini rata-rata hanya berlangsung sekitar 30 menit sampai dua jam saja. Sedangkan operasi konvesional memerlukan waktu minimal dua hingga tiga jam. Operasi ini disebut invasif minimal karena tanpa harus membuka bagian tubuh dengan sayatan besar, tapi dengan sedikit sayatan saja. Alhasil, kerusakan pada jaringan tubuh pun dapat diminimalisir, pasien pun dapat pulih dengan lebih cepat.
"Banyak keuntungan yang dapat diperoleh dari teknik bedah laparoskopi ini. Operasi ini mengurangi kerusakan pada jaringan, mengurangi nyeri pasca bedah, penyumbuhan luka yang lebih cepat, serta pemulihan peristaltik (pergerakan) usus yang tidak terlalu lama," terang Dr. Errawan R Wiradisuria SpB(K)BD dari perhimpunan bedah Endo-Lapaoroskopi Indonesia (PBEI) dalam pemaparannya tentang "Bedah Saluran Cerna dengan Teknik Invasiv Minimal" di RS International Bintaro, Selasa (8/1). Khusus menyoal pemulihan peristaltik usus, lanjut Errawan, pada bedah laparoskopi memungkinkan lebih cepat terjadi mengingat organ (usus) tidak perlu dikeluarkan dari perut atau pun dipegang dokter. Peristaltik usus lebih akrab ditandai dengan buang angin atau kentut pasca operasi, dan ini merupakan salah satu tanda telah pulihnya fungsi alat pencernaan.
"Pada operasi konvesional untuk mengangkat empedu misalnya, dokter biasanya harus membuat sayatan sepanjang 20 sentimeter dan mengeluarkan lebih dulu usus dari perut dan kemudian memotong kantung empedu. Karena usus dipegang-pegang, biasanya butuh waktu lama untuk bergerak lagi setelah operasi," ujarnya. Namun dengan Laparoskopi, tambah Errawan. dokter tidak perlu memegang usus sehingga gerak peristaltik pun bisa lebih cepat terjadi. "Bila bising ususnya sudah positif, pasien boleh langsung minum. Oleh karena itu, rata-rata setelah dua hari pasca operasi laparoskopi, pasien boleh pulang," tambahnya.
Keuntungan lain dari teknik Laparoskopi menurut Errawan adalah hasil estetika operasi. "Untuk operasi usus buntu misalnya, luka bekas operasinya relatif tidak terlihat. Di bagian perut hanya 0,2 cm saja, di bagian atas bulu kemaluan hanya 0,5 cm dan dipusar hanya 1 cm saja. Padahal kalau operasi konvensional bisa disayat hingga 5cm atau 7cm," jelasnya. Kuntungan lain dari teknik laparoskopi menurut Errawan adalah mencegah pelengketan usus, mengingat pasien yang habis operasi besar apapun kemungkinan bisa mengalami pelengketan 20 hingga 40 persen. "Hanya nanti manifesnya akan sangat tergantung kepada individu," ujar Errawan. Bedah laparoskopi, yang biasanya memakan biaya minimal sekitar Rp30 juta, juga mendatangkan manfaat yang bersifat intangible bagi para pasien. Misalnya, masa pemulihan lebih cepat serta rawat inap lebih singkat sehingga pasien pun dapat segera kembali melakukan rutinitas semula. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Mon May 31, 2010 10:25 am | |
| LAPARASKOPI, BEDAH DENGAN SAYATAN KECIL Sabtu, 5 April 2008 | 15:18 WIB Kompas.com - KEMAJUAN teknologi telah membawa perkembangan berarti di dunia bedah. Laparaskopi diperkenalkan di awal tahun 1990an dengan metode sayatan kecil sepanjang 2-3 cm menolong pasien tidak perlu berlama-lama di rumah sakit dan menghabiskan banyak biaya. Didukung oleh perkembangan IT yang mutakhir, teknologi laparaskopi pun turut berkembang. Panjangnya sayatan yang diperlukan dalam metode bedah ini menjadi 0.5-2 cm saja. Dengan demikian, masa penyembuhan pasien lebih singkat lagi.
"Jadi ini suatu kemajuan IT yang tentu membantu kita dalam dunia kedokteran. Bagaimana kita melakukan bedah dengan lubang-lubang kecil tanpa tangan kita masuk," ujar Direktur Eksekutif Pondok Indah Healthcare Group Dr. Hermansyur Kartowisastro pada konferensi pers Live Demo on Advance Laparascopic Surgery II di Jakarta, Sabtu (5/4). Laparaskopi adalah tindakan bedah yang tidak membutuhkan sayatan lebar karena menggunakan alat bantu kamera kecil yang dapat dimasukkan dalam rongga abdomen. Metode ini dikatakan makin berkembang dengan didukung oleh peralatan canggih yang disebut Endo Alfa.
Alat ini merupakan yang pertama di Indonesia dan yang ketiga di Asia, selain Jepang dan Hongkong. Endo Alfa dilengkapi dengan teknologi Narrow Brand Image (NBI) yang menangkap keganjilan-keganjilan pada rongga yang diperiksa dalam warna yang lebih spesifik. Dengan gambar yang lebih jelas, dokter dapat dengan tepat dan cepat mendeteksi keganasan kanker sejak dini.
Laparaskopik dimulai dengan tindakan pre-operasi seperti biasanya. Bedanya, kalau dulu pada saat bedah tangan dokter harus masuk untuk memeriksa benjolan atau indikasi kanker lain, sekarang hal itu tidak perlu dilakukan lagi di awal. Dokter bedah cukup melakukan metode yang tergolong bedah invasi minimal ini dengan empat lubang yang paling besar hanya berukuran 0.5-2cm dan kemudian memasukkan kamera untuk menemukan kanker.
Menurut Ketua Komite Medik RS Puri Indah Dr. Sigit Tjahyono, perkembangan Laparaskopik sendiri yang awalnya hanya untuk rongga-rongga abdomen, sekarang sedang bergerak menuju penerapannya untuk rongga-rongga lain. "Sekarang laparaskopik tidak hanya untuk perut saja. Bisa untuk ortopedi, keilmuan bedah syaraf, keilmuan ginekolog, bedah torax, jantung, tumor paru, empedu," ujar Sigit dalam presentasi sebelumnya. Menurut keterangan Sigit, banyak rumah sakit di daerah sudah bisa melakukan Laparaskopi namun alat mutakhir Endo Alfa hanya ada satu, yaitu di Jakarta. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Mon May 31, 2010 10:27 am | |
| LAPARASKOPI Adalah suatu tindakan bedah minimal invasif, yang awalnya digunakan untuk bedah digestif ( bedah bagian perut dan saluran pencernaan ), namun saat ini telah meluas sebagai terapi terkini penanggulangan batu empedu dan beragam penyakit kandungan. Artinya pada saat pembedahan, bagian tubuh pasien tidak perlu disayat panjang dan dibuka, cukup dibuat lubang yang sangat kecil ( 10 mm ). Tindakan pembedahan menggunakan kamera fiber optik yang dimasukkan kedalam lubang kecil tadi, untuk melacak sumber penyakit. Bila sumber penyakit telah diketahui, lalu diangkat dan dikeluarkan dari dalam tubuh melalui lubang yang sangat kecil tersebut.
Biasanya dibuat sayatan kecil pertama dibawah lipatan pusar untuk memasukkan gas CO2, yang bertujuan untuk menggembungkan perut pasien sehingga usus tertekan kebawah dan nampak 'ruang' didalam perut untuk pengoperasian. Maka dimasukkan trocar ( alat seperti pipa berukuran 2-10 milimeter dengan klep untuk akses kamera dan alat alat operasi yang dibutuhkan selama pembedahan ). Setidaknya ada 3 trocar yang dipasang di tubuh, namun bila dibutuhkan akan dipasang trocar ke 4. Trocar pertama diletakkan dibawah pusar tadi. Trocar kedua, kira kira 4cm dari tulang dada ( antara dada dan pusar ). Dan trocar ketiga dipasang di pertengahan trocar kedua, agak kesebelah kanan ( dibawah tulang iga ). Trocar keempat hanya dipasang bila dibutuhkan, yaitu disebelah kanan bawah.
Trocar pertama berfungsi sebagai tempat dimasukkannya kamera, melalui kamera yang dihubungkan dengan layar monitor, dokter akan melihat organ organ tubuh pasien dan bagian yang perlu dioperasi. Di layar monitor organ organ tubuh gambarnya diperbesar 20x sehingga tampak sangat jelas. Trocar kedua, ketiga dan keempat adalah trocar kerja, yang digunakan sebagai akses masuk alat alat operasi.
Kelebihan Laparaskopi dibanding operasi biasa: 1. Luka operasi sangat kecil. 2. Perdarahan sangat sedikit. 3. Setelah pembedahan tidak terlalu sakit 4. Penggunaan kamera membuat daerah yang akan dioperasi tampak lebih jelas. 5. Lama pembedahan lebih singkat. 6. Rawat inap menjadi lebih pendek. 7. Dapat segera melakukan aktifitas harian. 8. Dapat membantu mendiagnosa penyakit yang bahkan tidak terdeteksi oleh alat penunjang diagnosa lainnya, sekaligus menindaklanjutinya. 9. Dapat melakukan eksplorasi yang sangat luas dan tindakan major dengan akses yang minimal untuk setiap penyakit bedah.
Kerugian laparaskopi 1. Pada saat memasukkan alat menembus ke rongga perut, dapat melukai usus dan pembuluh darah. 2. Efek samping penggunaan gas CO2, dapat terjadi gejala kelebihan gas CO2 di dalam darah, kalau operasi berlangsung terlalu lama. 3. Membutuhkan keahlian / ketrampilan dokter bedah yang tinggi. 4. Memerlukan peralatan yang lebih rumit dan bervariasi dibandingkan operasi cara konvensional.
Indikasi pembedahan dengan Laparaskopi: 1. Operasi empedu. 2. Operasi usus buntu. 3. Operasi hernia. 4. Operasi perlengketan usus. 5. Operasi kista ovarium. 6. Operasi tumor rongga perut. 7. Operasi pernanahan hati. 8. Operasi tumor usus. 9. Operasi TBC usus. 10.Operasi trauma, biopsi, ascites, diagnotik, dll.
Melakukan diagnostik dengan laparaskopi lebih akurat dibandingkan dengan menggunakan USG, CT Scan atau MRI karena dengan menggunakan laparaskopi dokter dapat melihat secara langsung penyakit apa yang ada di perut pasien. Operasi laparaskopi dewasa ini sudah banyak dilakukan dalam berbagai prosedur operasi, bahkan dalam banyak kasus sudah dapat menggantikan prosedur operasi yang konvensional ( laparatomi ) karena berbagai keuntungan dan kelebihan dari prosedur laparaskopi ini. Kalau diperlukan suatu prosedur operasi, maka saat ini operasi laparaskopi menjadi pilihan utama, kecuali secara teknik tidak memungkinkan.
Sumber: Info Serpong edisi 53/V/januari 2010 Seputar Indonesia Senin 8 Februari 2010 Bunga Rampai Masalah Kesehatan Iluni FK 1983 Dokter Kita Edisi 4 Tahun V April 2010
Last edited by gitahafas on Thu Jul 08, 2010 9:12 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Mon May 31, 2010 10:39 am | |
| PELAYANAN BEDAH LAPARASKOPINDI RS BINTARO BEJANA - Edisi Februari 2008 (Vol.7 No.7 Farmacia Di tahun 2010, sekira 70-80% prsedur pembedahan konvensional diharapkan sudah beralih ke bedah minimal invasif. Penemuan teknik bedah Laparoskopi di akhir abad ke-20 merupakan sebuah revolusi di bidang ilmu bedah. Bedah laparoskopi menggunakan teknik bedah minimal invasif yang memiliki banyak keuntungan dibandingkan bedah konvensional.
Adalah George Kelling yang mengenalkan metode laparoskopi di tahun 1901. Kelling penasaran dan ingin tahu bagaiman reaksi organ jika ditempatkan di sebuah rongga udara? Ia lantas menciptakan metode menggunakan alat untuk meneropong rongga abdomen. Dengan cystoskope, ia bisa melihat rongga abdomen seekor anjing.
Tiga puluh satu tahun kemudian, Pablo Luis Mirizzi seorang dokter dari Argentina melakukan operasi Cholangiography untuk pertama kali. Sejarah panjang pun bergulir. Teknik bedah minimal invasif ini terus mengalami perkembangan. Hingga memasuki abad milennium, bedah laparoskopi tak terbendung dan hampir menggantikan operasi-operasi dengan teknik konvensional kecuali pada kasus-kasus tertentu seperti kelainan kongenital (cacat bawaan), bedah kosmetik dan lain-lain.
Menurut Dr. Errawan R. Wiriadisuria SpB(K)BD dari Perhimpunan Bedah Endo-Laparoskopi Indonesia (PBEI), di tahun 2010, sekitar 70-80% prosedur pembedahan diharapkan sudah beralih ke bedah minimal invasif. "Karena hasilnya lebih optimal. Dengan bedah minimal invasif rasa sakit bisa diturunkan dan pemulihan pasien jauh lebih cepat," jelas Errwan.
Laparoskopi adalah bagian dari tekni endoskopi, berasal dari kata lapar yang berarti abdomen dan oskopi yang artinya melihat melalui skope. Laparoskopi memang khusus untuk melihat rongga perut atau rongga di luar usus melalui pencitraan pada monitor video menggunakan teleskop dan sistem endokamera. Selain laparoskopi, juga dikenal gastroskopi (khusus melihat saluran cerna bagian atas), kolonoskopi (usus besar), dan endoskopi retrograde kolagio-pankreatografi/ERCP untuk saluran empedu dan pankreas.
Bedah laparoskopi berbeda dengan bedah konvensional karena laparoskopi hanya membutuhkan akses minimal ke tubuh pasien. Pada bedah konvensional, sayatan di perut bisa sepanjang belasan sentimeter. Sementara, pada bedah laparoskopi, akses yang dibutuhkan hanya 2 milimeter sampai 10 milimeter. Tak ada lagi cerita benang jahit dalam laparoskopi.
Dengan bedah laparoskopi, paling-paling hanya dibutuhkan empat hingga lima lubang kecil untuk memasukkan alat. Lantaran akses yang dibutuhkan kecil, tindakan penjahitan tak dibutuhkan lagi. Lubang kecil yang dihasilkan cukup ditutup dengan plester pembalut (band aid) khusus. Setelah luka tersebut kering pun, tak akan ada bekas luka parut memanjang yang kadang menakutkan.
Bedah laparoskopi menggunakan minimal tiga lubang sebagai akses. Lubang pertama dibuat di bawah pusar. Fungsinya untuk memasukkan kamera super mini, yang terhubung ke monitor, ke dalam tubuh. Lewat lubang itu pula, sumber cahaya dimasukkan. Sementara, dua lubang lain diposisikan sebagai jalan masuk peralatan bedah seperti penjepit atau gunting.
Sebelum operasi dimulai, perut bakal dipompa dengan gas CO2 agar menggembung dan peralatan bedah dapat leluasa "menari-nari" di dalam tubuh. Setelah itu, trocart, pipa berdiameter 2 milimeter sampai 10 milimeter, dimasukkan. Trocart mempunyai katup yang berfungsi menutup rapat perut agar CO2 tak keluar kembali dan perut tetap menggelembung. Melalui lubang trocart itulah, peralatan bedah masuk ke tubuh.
Laparoskopi bisa diindikasikan untuk kasus-kasus eletif (terencana), emergensi, maupun untuk kasus yang sulit (advance laparoscopic). Untuk kasus yang terencana, laparoskopi dilakukan untuk kolesistektomi, apendiktomi, adesiolisis, maupun hernia repair. Dalam kondisi darurat, laparoskopi bertindak untuk kasus kebocoran apendik, mendiagnosis trauma, dan kebocoran usus duodenal.
Advance laparoscopic sudah sampai pada teknik dan indikasi yang lebih rumit. Misalnya needlescopic surgery, gastric banding, hand assisted laparoscopic surgery (HALS), laparoscopic resection (pemotongan usus besar), dan yang tengah dikembangkan robotic surgery maupun telesurgery.
Menurut Errawan, dengan pembedahan minimal, maka rasa nyeri dan kerusakan jaringan bisa dikurangi. Penyembuhan luka pasca operasi pun lebih cepat. Yang tak bisa dilupakan, pemulihan peristaltik juga menjadi lebih cepat. "Karena sentuhan terhadap usus juga minimal, sehingga begitu operasi selesai maka gerakan usus bisa cepat pulih. Pasien bisa cepat buang angin yang menjadi tanda bahwa gerakan peristaltik usus sudah kembali normal," ujar dokter sehari-hari berpraktik di RS Persahabatan ini. Masih ada keuntungan lain yakni mencegah perlengketan atau adesi pascaoperasi. Tergantung SDM dan Peralatan
Laparoskopi adalah operasi yang keberhasilannya sangat tergantung pada kemampuan dokter dan ketersediaan alat. "Ketergantungan laparoskopi pada alat sangat tinggi," tegas Errawan.
Karena itu dalam laparaskopi ada istilah conversion atau penyesuaian. Misalnya ditemukan indikasi lain dari yang sudah terdiagnosa sebelumnya, misalnya terjadi perlengketan usus, maka insisi yang seharusnya hanya 3 milimeter bisa menjadi 10 cm. Angka kejadian konversi sekitar 30%. Kemungkinan adanya konversi harus dibicarakan dengan pasien sebelum tindakan.
Laparoskopi juga memiliki kelemahan yang banyak terkait dengan alat. Misalnya gambar yang 2 dimensi di layar, dan dibutuhkan penyesuian berkaitan dengan adanya sensasi baru (new tactile sensation), interaksi di antara visual dan operatif (hand and eyes coordination), kurangnya persepsi kedalaman (lack of depth perception), dan pergerakan yang berlawanan pada kamera.
Dokter yang melakukan juga harus sangat terlatih. Dijelaskan Errawan, basic ilmu seorang ahli laparoskopik adalah dokter bedah (bedah yang menggunakan pisau hanya ada dua yakni spesialis bedah dan obgin). Dokter bedah harus mengikuti kursus dasar laparoskopi yang diawali teori, simulasi dan praktik pada binatang (babi). Setelah dasar dikuasai dilanjtkan dengan basic advance course. Setelah itu dia harus magang pada ahli laparoskopi. Ada ketentuan untuk berapa lama dan berapa jumlah pasien yang ditangani. Magang dilanjutkan dengan supervisi sebelum dinyatakan layak dan mendapat surat kompetensi.
Karena keterbatasan SDM dan peralatan yang mahal, maka belum banyak rumah sakit di Indonesia yang menyediakan layanan ini. RS Internasional Bintaro, adalah salah satunya. Laparoskopi di RSIB masuk dalam pelayanan Endoskopi saluran cerna. Ruang pelayanan endoskopi RSIB terletak bersebelahan dengan ruangan bedah agar kebersihan dan sterilisasi ruangan dapat terjaga. Pemantauan pasca operasi juga sangat diperhatikan dengan dimaksimalkannya ruang pemulihan.
Ruang pemulihan RSIB sengaja ditempatkan bersebelahan dengan ICU, sehingga penanganan intensif dapat dengan cepat diberikan bila pasien mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Kenyamanan rupanya sangat diutamakan RSIB. Selain tidak disatukan dengan pelayanan umum, di ruang pemulihan ini pasien bisa bertemu dengan keluarga maupun dokter setiap saat. Pasien pun diharapkan cepat pulih dan merasa puas dengan layanan petugas RSIB.
Sejarah Laparoskopi di Indonesia * 1990 Tim RS Cedar Sinai, California Amerika Serikat mengadakan live demo di RS Husada Jakarta. *1991 Dr Ibrahim Ahmadsyah dkk (RSCM) melakukan operasi pengangkatan batu dan kantung empedu (Laparaoscopic Cholecystomy) yang pertama di Jakarta *31 Januari 1994 di Bandung didirikan Perhimpunan Bedah Endo-Laparoskopi Indonesia (PBEI). *1997 Sejak tahun ini Laparaoscopic Cholecystomy menjadi prosedur baku untuk penyakit-penyakit kantung empedu (symptomatic gall blader) di beberapa rumah sakit besar di Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia. *1998 Dr. Barlian Sutedja dkk (RS Pluit) melakukan pertama bedah minimal invasif dalam operasi eksplorasi saluran empedu/Laparoscopic Common Bile Duct Exploration (LCBDE). *2003 Dr. Errawan Wiriadisuria (RS Persahabatan) melakukan operasi bedah minimal invasif pemotongan usus dan penyambungan usus besar (laparoscopic colonic resection).
Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 8:02 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Jun 01, 2010 6:15 am | |
| TINDAKAN BEDAH MINIMAL INVASIF LAINNYA: 1. Arthroskopi ( Bedah Orthopedi / Bedah Tulang ). 2. Endoskopi ( Bedah Digestif / saluran cerna ). 3. Kolonoskopi ( Bedah Digestif / saluran cerna ).
Endoskopi Endoskopi adalah pemeriksaan struktur dalam dengan menggunakan selang/tabung serat optik yang disebut endoskop. Endoskop yang dimasukkan melalui mulut bisa digunakan untuk memeriksa: - kerongkongan (esofagoskopi) - lambung (gastroskopi) - usus halus (endoskopi saluran pencernaan atas). Jika dimasukkan melalui anus, maka endoskop bisa digunakan untuk memeriksa: - rektum dan usus besar bagian bawah (sigmoidoskopi) - keseluruhan usus besar (kolonoskopi).
Diameter endoskop berkisar dari sekitar 0,6 cm-1,25 cm dan panjangnya berkisar dari sekitar 30 cm-150 cm. Sistem video serat-optik memungkinkan endoskop menjadi fleksibel menjalankan fungsinya sebagai sumber cahaya dan sistem penglihatan. Banyak endoskop yang juga dilengkapi dengan sebuah penjepit kecil untuk mengangkat contoh jaringan dan sebuah alat elektronik untuk menghancurkan jaringan yang abnormal.
Dengan endoskop dokter dapat melihat lapisan dari sistem pencernaan, daerah yang mengalami iritasi, ulkus, peradangan dan pertumbuhan jaringan yang abnormal. Biasanya diambil contoh jaringan untuk keperluan pemeriksaan lainnya. Endoskop juga bisa digunakan untuk pengobatan. Berbagai alat yang berbeda bisa dimasukkan melalui sebuah saluran kecil di dalam endoskop: Elektrokauter bisa digunakan untuk menutup suatu pembuluh darah dan menghentikan perdarahan atau untuk mengangkat suatu pertumbuhan yang kecil Sebuah jarum bisa digunakan untuk menyuntikkan obat ke dalam varises kerongkongan dan menghentikan perdarahannya.
Sebelum endoskop dimasukkan melalui mulut, penderita biasanya dipuasakan terlebih dahulu selama beberapa jam. Makanan di dalam lambung bisa menghalangi pandangan dokter dan bisa dimuntahkan selama pemeriksaan dilakukan. Sebelum endoskop dimasukkan ke dalam rektum dan kolon, penderita biasanya menelan obat pencahar dan enema untuk mengosongkan usus besar. Komplikasi dari penggunaan endoskopi relatif jarang. Endoskopi dapat mencederai atau bahkan menembus saluran pencernaan, tetapi biasanya endoskopi hanya menyebabkan iritasi pada lapisan usus dan perdarahan ringan.
Laparoskopi Laparoskopi adalah pemeriksaan rongga perut dengan menggunakan endoskop Laparoskopi biasanya dilakukan dalam keadaan penderita terbius total. Setelah kulit dibersihkan dengan antiseptik, dibuat sayatan kecil, biasanya di dekat pusar. Kemudian endoskop dimasukkan melalui sayatan tersebut ke dalam rongga perut. Dengan laparoskopi dokter dapat: - mencari tumor atau kelainan lainnya - mengamati organ-organ di dalam rongga perut - memperoleh contoh jaringan - melakukan pembedahan perbaikan.
Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 8:02 pm; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Jun 01, 2010 6:18 am | |
| TOTAL HIP REPLACEMENT Anda yang bermasalah dengan persendian pinggul, baiknya mulai mempertimbangkan Total Hip Replacement ( THR ) sebagai solusi, apalagi sekarang THR dapat dilakukan dengan minimally invasive surgery yang jauh lebih memudahkan. THR adalah prosedur operasi dimana tulang dan kartilago ( tulang halus ) persendian pinggul yang rusak diganti dengan sendi artifisial. Sendi pinggul artifisial ( implan ) yang dipersiapkan untuk mengganti kartilago terdiri atas bagian batang yang terbuat dari titanium atau campuran cobalt / chromium. Bagian bolanya terbuat dari keramik atau campuran cobalt / chromium yang dibuat selicin mungkin untuk memudahkan pergerakan di dalam rongga mangkok. Sementara mangkoknya terbuat dari logam, ultrahigh molecular weight polyethylene, atau gabungan logam dan polyethylene.
Ada beberapa metode pemasangan implan: 1. Cemented Hip Implant Implan difiksasi dengan menggunakan semen tulang. Direkomendasikan bagi mereka yang berusia diatas 60 tahun, penderita rheumatoid arthritis, bagi pasien yang masih muda namun kualitas dan densitas tulangnya buruk.
2. Porous Hip Implant Implan dipasang tanpa semen. Direkomendasikan untuk mereka yang berusia dibawah 50 tahun, aktif atau pasien dengan kualitas tulang yang baik.
3. Hybrid Hip Implant Merupakan gabungan dari kedua cara diatas.
Last edited by gitahafas on Fri Jul 09, 2010 4:49 am; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Jun 01, 2010 6:22 am | |
| EFEKTIF ATASI BATU EMPEDU AKTIF Jumat, 07 Agustus 2009, 16:34 WIB Republika.co.id JAKARTA-- Teknologi medis terus berkembang termasuk metode dan teknik operasi yang digunakan. Salah satunya, metode untuk mengatasi gangguan empedu akut. Teknik operasi konvensional bukan lagi pilihan satu-satunya. Kini,pasien bisa memilih teknik yang menawarkan jaminan efektifitas dan efisiensi atasi gangguan akut empedu. Teknik bedah yang diberi nama Laparoskopi atau bedah invasif minimal ini telah menjadi buah bibir dunia kedokteran diawal tahun 1990-an. Berbeda dengan teknik bedah konvensional yang mengandalkan kejelian teknik menyayat dokter ahli bedah, teknik itu membutuhkan bantuan teknologi seperti kamera endokopis, monitor dan instrumen-instrumen khusus. Teknik bedah Laparoskopi tidak membutuhkan sayatan lebar dalam melakukan eksplorasi. Bagian tubuh pasien yang disayat hanya sepanjang 0.2-2 cm pada empat titik hingga membentuk pola jajaran genjang. Nantinya, kamera mini dimasukan ke dalam bagian pusar. Kamera itu yang akan memandu dokter melihat posisi empedu. Sementara, tiga titik lain digunakan untuk memasukan alat pencapit (tokar) yang mengantikan fungsi pisau dan gunting pada bedah konvensional. Ahli bedah Teknik Laporoskopi sekaligus founding Fathers teknik Lapaorskopi di Indonesia, Dr. Hermansyur Kartowisatro menyatakan teknik bedah invasif minimal sekarang telah menjadi gold standar dari berbagai macam operasi seperti kelainan empedu, appenditis akut dan penyakit berat lain yang membutuhkan tingkat efisiensi maksimal. "Saat pengangkatan empedu misalnya, penggunaan teknik bedah konvensional tidak memungkinkan dokter melihat seluruh bagian organ tubuh. Gerak dokter begitu terbatas, hal ini yang kerap menimbulkan kesulitan. Berbeda dengan teknik bedah Laparoskopi. Teknik ini memungkinkan dokter dengan jarak yang lebih dekat bisa menjangkau seluruh organ dengan arahan yang jelas," ungkapnya kepada Republika Online, Kamis (6/  . Keunggulan Selain menawarkan gerak dokter yang begitu luas, teknik bedah laparoskopi dikatakan Hermansyur juga memiliki keunggulan-keunggulan lain seperti, teknik bedah laparoskopi bersifat kosmetik pada penggangkatan empedu (cholecystectomy) yaitu 2 cm pada epigastrium, 1.5-2 cm pada umbilicus dan 0.5 cm pada sebela kanan abdominal. Titik-titik tersebut membentuk pola jajaran genjang pada tubuh. Berbeda dengan operasi konvensional yang membutuhkan sayatan yang dalam dan lebar. Saat menjalani operasi, pasien tidak diberikan analgetik dalam jumlah besar. Hal ini disebabkan sayatan hanya berkisar antara 0.2-2 cm sehingga kemungkinan rasa sakit pada pasien berkurang. Masalah pasca operasi, teknik bedah Laparoskopi ini memungkinkan tidak munculnya bekas (scar) pada bedah. Insisi atau toorehan kecil untuk maksuknya trokar (alat operasi) memang membutuhkan benang untuk menjahit .Karena kategori luka terhitung kecil, resiko infeksi juga kecil. Terkait masa penyembuhan, pasien tidak membutuhkan waktu lama. Teknik bedah ini menjamin waktu rawat psien hanya berlangsung tiga hari hingga menurunkan biaya rumah sakit. "Rata-rata masa penyembuhan pasien bedah konvensional membutuhkan waktu 6.75 hari sedangkan pasien yang menggunakan bedah Laparoskopi hanya 2.75 hari. Ini kan bedanya sangat signifikan,pasien pun bisa menekan biaya rumah sakit dan pengobatnya," jelasnya. Keunggulan lainnya, masalah pendarahan yang kerap terjadi pada pengangkatan empedu dapat diminimalisir oleh teknik bedah ini."Resiko pendarahan memang sulit dihindari mengingat posisi anatomi empedu. Perlu diperhatikan disini, teknik bedah laparoskopi memungkinkan resiko pendarahan bisa ditekan," ujar Hemansyur Proses Operasi Setelah pasien batu empedu akut didiagnosa dokter untuk segera diangkat melalui operasi, maka proses pengangkatan pun dimulai. Langkah pertama yang dilakukan membuat empat titik pada bagian epigastrum, umbilicus dan sebelah kanan abdominal. Khusus memasukan alat kamera endoskopis, dokter melalui jalur pusar. Tahapan selanjutnya, masukan alat pencapit (tokar) pada tiga bagian. Tokar pertama mencari posisi empedu. Tokar kedua dan ketiga menjadi penganti tangan dokter. Pada pasien dengan pembuluh darah yang mengecil, lemak menempel pada empedu. Hal ini disebabkan lemak melihat infeksi pada empedu. Langkah pembersihan lemak dilakukan dokter dengan memberi pemanas pada tokar. Pemanas ini mencegah pendarahan berlebih saat mengelupas lemak. Usai membersihkan lemak, dokter kemudian mencari saluran yang menghubungkan antara empedu dan lever. Saluran tersebut dipotong dan dikaitkan dengan menggunakan semacam perekat plastik. "Biasanya memang menggunakan bahan yang terbuat dari bahan tembaga namun penggunaan plastik jauh lebih efektif, " tutur Hermansyur.Usai memotong saluran, pengangkatan pun dilakukan. Empedu pun ditarik dan dikeluarkan melalui salah satu titik terdekat. Keseluruhan proses operasi memakan waktu dua-tiga jam. Meski terlihat sederhana, Hermansyur menyatakan operasi pengangkatan empedu tidaklah mudah. Posisi empedu yang sulit diprediksi menjadi kesulitan tersendiri bagi para dokter."operasi ini sama berbahayanya dengan jenis operasi lain," tuturnya. Hermansyur menjelaskan, pengangkatan empedu menggunakan teknik laparoskopis bisa mengalami kegagalan walau prosentasenya kecil. "Hanya 10% teknik bedah ini mengalami kegagalan. Ada kemungkinan empedu terikat saluran. Dengan mempertimbangkan keselamatan pasien dilakukan pola operasi konvensional," tegasnya. Terkait biaya, pasien harus membayar 20-30 juta rupiah. Faktor pemeliharaan alat-alat operasi menjadi perhitungan tersendiri. Dikatakan Hermasnyur, terdapat alat-alat operasi yang hanya bisa dipakai satu kali operasi saja. Sudah bisa ditebak, harga alat tersebut bisa mencapai jutaan rupiah. Meski begitu Hermansyur bisa menjamin bahwa biaya operasi laparoskopis dengan konvensional tidak jauh berbeda. "Dari segi level biaya operasi, Memang operasi bedah konvensional berada dibawah Laparoskopi. Tapi itu belum dihitung biaya tambahan rumah sakit dan obat. Karena itulah secara keseluruhan tak berbeda jauh," kata dia. PERANGKAT KOMPRESI CEGAH PEMBEKUAN DARAH KILAS - Edisi Mei 2010 (Vol.9 No.10) Farmacia Selama ini, diperkirakan sekitar 30 hingga 50 persen pasien operasi penggantian panggul atau lutut akan mengalami pembekuan darah jika tidak dilakukan pencegahan dengan obat pengencer darah. Kini sebuah temuan baru mendapati bahwa perangkat kompresi dapat mengatasi hal yang sama dan bekerja sebaik obat dalam mencegah pembekuan darah setelah operasi penggantian panggul. Bahkan perangkat ini dianggap lebih aman. Dalam studi tersebut, peneliti melihat perangkat kompresi yang membalut di sekitar kaki dan memompanya, membantu mencegah pembekuan. Biasanya, perangkat ini hanya digunakan di rumah sakit karena bentuknya besar dan membatasi gerakan. Tetapi bentuk perangkat yang baru relatif lebih kecil sehingga dapat digunakan di luar rumah sakit. "Perangkat ini berguna sebagai pengencer darah untuk mengurangi gumpalan darah setelah penggantian panggul, ia juga unggul dari segi keamanannya," kata peneliti, Dr. Douglas E. Padgett, kepala rekonstruksi dewasa dan penggantian tulang sendi di Rumah Sakit untuk Bedah Khusus di New York City. Temuan tersebut menurut Padgett memiliki potensi mengubah paradigma tentang bagaimana kita mencegah pembekuan darah setelah penggantian panggul. Dengan efikasi yang sama dan biaya yang sebanding namun keamananan secara nyata terlihat lebih baik. Untuk menemukan hal itu, Padgett dan rekannya secara acak menunjuk 410 pasien yang menjalani oeparasi penggantian panggul untuk mendapatkan obat pengencer darah atau menggunakan perangkat kompresi. Pemeriksaan USG 10 sampai 12 hari setelah operasi menemukan, pendarahan besar menimpa 6 persen pasien yang menerima obat pengencer darah, namun tidak ada pada mereka yang menggunakan perangkat kompresi. Studi ini diterbitkan di Journal of Bone & Joint Surgery edisi Maret.
Last edited by gitahafas on Wed Feb 02, 2011 9:35 am; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Wed Jun 23, 2010 7:59 pm | |
| ARTHROSKOPI SENDI BAHU Untuk memperbaiki kerusakan akibat cedera bahu, bisa dilakukan dengan prosedur arthroskopi. Arthroskopi bahu adalah suatu prosedur tindakan operasi pada bahu dengan menggunakan kamera yang dihubungkan dengan monitor. Seperti tindakan endoskopi lainnya, kelebihan tehnik ini adalah sayatan yang minimal, aman, nyaman, serta hanya membutuhkan waktu perawatan selama satu hari.
Arthroskopi dapat diterapkan untuk kelainan yang disebabkan oleh cedera olah raga dan kaku sendi ( frozen shoulder ) yang gagal dengan cara konservatif. Frozen shoulder adalah suatu gangguan bahu yang sedikit atau sama sekali tidak menimbulkan rasa sakit, tidak memperlihatkan kelainan pada foto rontgen, tetapi menunjukkan adanya pembatasan gerak baik secara aktif maupun pasif pada semua pola gerak.
Prosedur arthroskopi juga bisa diterapkan pada: 1. Dislokasi bahu yang baru ( fresh ) atau lama ( neglected ). 2. Bahu yang sering keluar masuk ( habitual dislokasi bahu ). 3. Diagnostik kelainan sendi bahu. 4. Robekan otot atap bahu ( rotator cuff tear ). 5. Lesi Bankart. 6. Lesi SLAP. 7. Pengapuran sendi bahu. 8. Pecahan tulang lepas. 9. Impigment Syndrome.
Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 8:00 pm; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Wed Jun 30, 2010 7:38 pm | |
| OPERASI PADA CEDERA LUTUT Anterior Cruciate Ligament ( ACL ) adalah urat didalam sendi yang menjaga kestabilan sendi lutut agar sendi lutut tidak bergeser kearah depan. Cedera ACL sering terjadi pada olahraga high impact, seperti pada sepak bola, futsal, tennis, badminton, bola basket dan olah raga bela diri.
Pasien dengan cedera ACL dapat menjalani hidup seperti biasa, misalnya berjalan, namun akan sulit melakukan aktivitas high impact, misalnya berlari atau melompat. Bahkan kadang kadang aktivitas turun naik tangga juga sudah sangat mengganggu karena lutut terasa nyeri. Sekali saja ACL putus, jangan berharap akan bisa sembuh dengan sendirinya. Jika dibiarkan, maka tulang rawan sendi lutut akan rusak sehingga menimbuikan perkapuran sendi pada usia dini. Pada penderita cedera ACL dibawah usia 40 tahun, karena aktivitas masih sangat tinggi, maka tindakan operasi adalah pilihan yang terbaik.
Operasi untuk cedera ACL yang sekarang dilakukan adalah dengan tehnik Arthroscopy, yakni suatu operasi bedah sayatan minimal, dimana seluruh prosedur dilakukan dengan menggunakan kamera, tidak ada luka besar di lutut. Setelah operasi pasien akan langsung dapat merasakan lututnya sangat stabil, dan kira kira setelah enam bulan rehabilitasi, pasien akan dapat kembali melakukan aktivitas high impact sports.
Bila cedera ACL terjadi pada anak, dahulu dokter bedah enggan untuk mengoperasi dan merekonstruksi sendi lutut anak yang mengalami cedera ACL karena beresiko mengganggu pertumbuhan plate ( pelat sendi ) si anak. Kekhawatiran tersebut didasarkan bahwa sebelum seorang anak mencapai usia kematangan tulang, sekitar 12-13 tahun pada anak perempuan dan 14-15 tahun pada anak laki laki, operasi ini dapat membuat pertumbuhan plate menjadi tidak seimbang. Jika hal itu terjadi, maka kaki si anak bisa mengalami ketidak seimbangan hingga kecacatan. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa masalah yang ditimbulkan oleh resiko pertumbuhan plate jauh lebih kecil dbandingkan dengan resiko kerusakan permanen pada lutut jika operasi ACL tidak segera dilakukan.
Sumber: Health First vol 8 Okt-Des 2009
HARUSKAH CEDERA LUTUT ACL DI OPERASI? Rabu, 15/12/2010 10:37 WIB detik health Dok, saya mengalami cedera lutut dan divonis harus operasi ACL Rupthure recontructrion. Adakah cara lain yang bisa saya jalani selain operasi? Dan kalau memang dioperasi kira-kira biayanya berapa? Terimakasih.
Irwansyah (Pria Menikah, 29 Tahun), andry_77@myself.com Tinggi Badan 165 Cm dan Berat Badan 55 Kg
Jawaban Sendi lutut dibentuk dari tulang paha, tulang tibia (tulang kering pada tungkai bawah kaki) dan tulang tempurung lutut. ACL (anterior cruciate ligament) adalah salah 1 dari 4 ligamen utama dalam sendi lutut yang menghubungkan tulang paha dengan tulang tibia. ACL merupakan ligamen(jaringan ikat) di lutut yang sering sekali mengalami cedera. Sekitar 50% cedera ACL seringkali disertai dengan cedera struktur lainnya dalam sendi lutut seperti kerusakan meniskus (bantalan tulang), tulang rawan dan ligamen lainnya. Hal tersebut dapat terlihat dari hasil magnetic resonance imaging (MRI). Sebesar 70% cedera ACL terjadi melalui mekanisme non-kontak dan 30% terjadi karena mekanisme kontak langsung (terbentur) dengan orang atau benda. Penelitian menunjukkan bahwa atlet wanita lebih sering mengalami cedera ACL dibandingkan atlet wanita pada beberapa bidang olahraga tertentu.
Jika seseorang mengalami cedera ACL, beberapa saat kemudian pasien akan merasa nyeri, bengkak dan lutut tidak stabil. Beberapa jam kemudian, bengkak akan menjadi sangat besar, gerakan lutut tidak bebas, nyeri disekitar sendi dan rasa tidak nyaman saat berjalan. Jika diagnosis ruptur ACL sudah ditegakkan, tatalaksananya dapat dibagi 2, non operasi atau operasi. Pemilihan tersebut berdasarkan pertimbangan usia, ketidakmampuan yang dialami secara fungsional dan kebutuhan fungsional. Usia terlalu muda atau terlalu tua, memiliki kesulitan masing-masing untuk menjalani prosedur operasi.
Operasi pada usia terlalu muda dapat merusak bagian epifisis tulang yang bergfungsi supaya tulang bertambah panjang. Ketidakmampuan secara fungsi artinya, bagaimana keluhan pasien karena ruptur ACL tersebut, mulai dari pasien tanpa keluhan walaupun mengalami ruptur ACL sampai pasien yang sering tidak stabil lututnya setiap melangkah. Sementara pertimbangan keperluan fungsional, adalah melihat bagaimana aktivitas sehari-harinya. Apakah pasien lebih banyak duduk untuk pekerjaannya atau atlet yang memerlukan luttunya untuk berlari. Pada sebagian pasien dengan ruptur ACL, kadang dapat cukup berhasil dengan menjalani program rehabilitasi selama 3-4 bulan. Sekitar 15% pasien dapat bertahan dengan kondisi ACL ruptur walaupun mengalami rasa tidak stabil di lututnya.
Pada kondisi seperti ini, program rehabilitasi yang terarah dapat mengembalikan kondisi mendekati keadaan seperti sebelum cedera. Pasien akan diberikan edukasi mengenai hal yang tidak boleh dilakukan dan kadang disertai pemakain support lutut yang sesuai. Tetapi pada kondisi tersebut, tetap ada risiko untuk terjadi cedera sekunder karena ketidakstabilan lutut. Pemilihan operasi biasanya disarankan jika cederanya mengenai lebih dari satu struktur di lutut (misal cedera ACL dan meniskus), pasien dengan keluhan ketidakstabilan yang nyata sehingga akan menyebabkan cedera sekunder.
Operasi untuk ACL ruptur memiliki angka kesuksesan 82-95%. Tujuan operasi adalah mencegah ketidakstabilan lutut dan mengembalikan fungsi ACL yaintu menjaga kestabilan lutut sehingga pasien dapat berjalan bahkan berolahraga tanpa keluhan. Saran saya, sebaiknya Pak Irwansyah melihat kembali pada keluhan yang dialami Bapak, apakah kondisi ketidakstabilan dilutut tersebut menggangu aktivitas, adakah rasa nyeri dan diskusikan kembali dengan dokter. Dalam diskusi tersebut dapat ditanyakan bagaimana kemungkinannya jika tidak menjalani operasi atau jika menjalani operasi. Dapatkan informasi juga, apa saja program rehabilitasi yang akan dijalani setelah operasi tersebut.
Last edited by gitahafas on Mon Jan 03, 2011 10:13 am; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Thu Jul 01, 2010 8:38 pm | |
| ATASI KERINGAT BERLEBIHAN DENGAN OPERASI PERMANEN Friday, 05 November 2010 Seputar Indonesia BERKERINGAT merupakan bagian dari proses metabolisme tubuh. Namun ada sebagian orang yang menganggap keringat yang dikeluarkan tidak wajar. Misalnya keringat yang berlebihan, apalagi pada bagian tubuh tertentu seperti telapak tangan dan ketiak. Selain mengganggu, keringat pada kedua bagian tubuh ini juga menyebabkan bau. Dr Lee Kheng Hin, konsultan ahli bedah saraf di Gleneagles Medical Centre, Singapura menjelaskan, telapak tangan berkeringat adalah kondisi umum yang terjadi di negara-negara Asia. Faktor genetik sering dikaitkan karena 20% dari pasien memiliki anggota keluarga lain yang juga terkena dampak.
“Telapak berkeringat menyebabkan banyak masalah psikologis dan sosial. Misalnya, seorang pengusaha akan merasa malu dan khawatir memberikan tangan yang dingin dan berkeringat ke calon mitra bisnis karena akan menimbulkan keraguan akan ketulusan. Ketiak bau keringat yang tidak cukup diselesaikan hanya dengan deodoran, merupakan masalah besar. Penderita tidak hanya mengeluh masalah berhubungan dengan orang karena hal ini, tetapi juga menodai dan merusak pakaian yang bagus,” ungkap dia.
Untuk menangani masalah tersebut, mereka bisa melakukan dengan operasi yang menggunakan metode minimal invasif yang baru. Proses operasi ini dibantu kamera video miniatur dan hanya membutuhkan lubang kecil di setiap ketiak. Pada kasus sederhana, waktu operasi setiap sisinya berlangsung sekira 10 sampai 15 menit.
Rasa nyeri dan bekas luka pascaoperasi hanya berlangsung selama satu hari tanpa membutuhkan perawatan intensif. Beberapa bahkan bisa pulang pada hari yang sama. Alhasil, biaya minimal. Beberapa pasien bahkan kembali bekerja pada hari yang sama setelah pulang dari rumah sakit. “Wajah dan ketiak dengan keringat berlebih juga dapat diatasi melalui video endoskopi simpatektomi.
Penelitian lokal menyebut 50% pasien telah menjalani perawatan ini untuk mengatasi keringat berlebihan pada kaki. Prosedur ini aman jika dilakukan oleh ahli bedah yang berpengalaman,” ulasnya. (okezone)
Last edited by gitahafas on Tue Dec 14, 2010 5:06 pm; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Thu Jul 01, 2010 8:40 pm | |
| PENANGANAN HERNIA MINIM RISIKO Friday, 05 November 2010 Seputar Indonesia DI DUNIA kedokteran,Lichtenstein bukanlah sebuah teknik baru untuk menangani hernia.Namun hingga saat ini,teknik ini masih dianggap cara yang paling tepat untuk menangani hernia dengan risiko minimal. Hernia atau yang populer dengan istilah turun berok, secara umum adalah penonjolan isi suatu rongga melalui jaringan ikat tipis yang lemah pada dinding rongga. Dinding rongga yang lemah itu membentuk suatu kantong dengan pintu berupa cincin. Bisa juga dikatakan bahwa hernia merupakan penyakit akibat turunnya buah zakar seiring melemahnya lapisan otot dinding perut.
Dikatakan oleh Ketua Perhimpunan Hernia Indonesia (PERHERI), Dr Barlian Sutedja SpB bahwa hernia bisa terjadi di semua umur.Walaupun banyak pada terjadi pada usia produktif, namun penyakit ini juga bisa menimpa pada anak-anak. “Tidak hanya pada orang dewasa, anak kecil juga bisa mengalaminya. Hernia jika sudah diderita sangat mengganggu kualitas hidup terutama jika pengobatannya tidak tuntas,”ujar dia dalam acara workshop dan demonstration dengan topik ”Learn from the Expert” Tension Free Open Technique of Inguinal Hernia Repair Workshop (the Lichtenstein Technique) yang diadakan oleh PERHERI dan Ahli Bedah Umum Indonesia (PABI) di Rumah Sakit Gading Pluit,Sabtu (30/10).
Masih dikatakan Barlian, hernia merupakan penyakit yang dirasakan berulang-ulang oleh si penderita. Faktor yang pemicu terjadinya hernia itu, di antaranya terjadi peninggian tekanan di dalam rongga perut (karena kehamilan, batuk kronis, sering mengangkat benda berat), menahan kencing atau BAB (mengeden). Sementara hernia yang terjadi pada anak-anak,lebih disebabkan oleh kurang sempurnanya procesus vaginalis untuk menutup seiring dengan turunnya testis atau buah zakar.
Sementara pada orang dewasa, karena adanya tekanan yang tinggi dalam rongga perut dan karena faktor usia yang menyebabkan lemahnya otot dinding perut,maka hernia dapat terjadi. ”Semakin lama didiamkan, maka penyakit ini semakin mengganggu dan membutuhkan biaya yang besar.Waspadai timbulnya penyakit ini,” tutur Barlian. Pada penderita yang belum mencapai tingkat keparahan, hernia tidak mempunyai keluhan rasa sakit.
Namun, keluhan berupa nyeri hebat akan semakin dirasakan ketika terjadi penjepitan di dalam usus. Dan secara fisik adalah timbulnya tonjolan atau sebagian isi dari perut keluar. Perlu diketahui, penyakit hernia akan semakin meningkat sesuai dengan penambahan umur. Hal ini mungkin disebabkan oleh melemahnya jaringan penyangga ataupun karena ada penyakit yang menyebabkan tekanan dalam perut meningkat. Hernia pada dinding perut merupakan penyakit yang sering dijumpai dan memerlukan suatu tindakan pembedahan.
Oleh sebab itu,untuk meningkatkan kualitas hidup si pasien, penanganan hernia dengan bedah laparoskopi dirasakan perlu. Dikatakan oleh Barlian, awalnya penyakit ini diatasi dengan menggunakan operasi laparoskopi dengan biaya mahal, namun sekarang teknik Lichtenstein menjadi salah satu teknik yang banyak digunakan. “Dengan menggunakan teknik anestesi lokal, teknik Lichtenstein hernia repair ini mampu meminimalisasi risiko operasi dan menekan biaya operasi,” ujarnya.
Barlian menjelaskan, dahulu saat menggunakan laparoskopi, operasi ini dilakukan dengan menarik jaringan kemudian dijahit dan sekarang tidak berfungsi karena dirasa jaringan akan lemah, sehingga bisa sobek dan berlubang lagi. Nah pada teknik Lichtenstein, operasi bisa dilakukan tanpa tegangan (tension free) sehingga nyeri pasca operasi bisa diminimalisasi.
Professor Parviz K Amid, seorang pakar dan salah seorang pionir dari teknik lichtenstein dari UCLA, USA, membenarkan bahwa teknik lichtenstein merupakan cara tepat menangani hernia.Teknik ini memiliki banyak keunggulan, seperti mengurangi sakit, yaitu dengan tidak menghilangkan saraf-saraf yang tidak perlu. Karena pada operasi sebelumnya yang tidak menggunakan teknik ini, ada bagian syaraf-syaraf yang terpotong sehingga pascaoperasi si penderita masih mengalami rasa sakit.
”Dengan teknik lichtenstein, operasi dilakukan tanpa menarik jaringan, melainkan menambalnya dengan mesh. Mesh ini berbentuk tipis, transparan, dengan bahan yang terbuat dari monofilamentdan polipropylenesehingga tidak menimbulkan alergi dan bisa diterima tubuh,” ujar profesor of clinical surgery dari David Giffen School of Medician at UCLA ini di acara yang sama.(inggrid namirazswara)
Last edited by gitahafas on Tue Dec 14, 2010 4:04 pm; edited 7 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Sat Jul 03, 2010 10:38 am | |
| BEDAH INVASIF MINIMAL KURANGI KOMPLIKASI Selasa, 23 November 2010 | 10:08 WIB Jakarta, Kompas - Bedah jantung invasif minimal mengurangi komplikasi setelah operasi. Selain itu, metode tersebut dapat menekan hambatan psikologis pasien. Hal itu terungkap dalam simposium ”Continuing Medical Education of Cardiothoracic and Vascular Surgery Minimally Invasive and Pitfalls in Common Practice of Cardiothoracic and Vascular Surgery” di Rumah Sakit Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita di Jakarta, Senin (22/11). Pada kesempatan itu juga diadakan demonstrasi langsung bedah invasif minimal terhadap seorang pasien berusia 51 tahun.
Kepala UPF Bedah Jantung RSJPD Harapan Kita Maizul Anwar mengatakan, bedah jantung invasif minimal merupakan metode yang memungkinkan dokter mengoperasi tanpa membuka rongga dada pasien. Dalam operasi jantung konvensional, dokter membuat sayatan sepanjang 15 cm di tengah tulang dada pasien, sedangkan invasif minimal hanya sekitar 5 cm ke bagian samping dari dada sehingga tidak terlalu sakit. Lewat lubang dimasukkan alat operasi dan kamera. Situasi bagian dalam tubuh pasien ditampilkan lewat layar monitor, sedangkan operasi dilakukan manual.
Dengan bedah invasif minimal komplikasi dapat diminimalkan. Salah satu pembicara, Stephan Jacobs, selaku konsultan bedah jantung Zurich University Hospital mengatakan, dengan sayatan kecil, infeksi pada tulang dada secara dramatik berkurang, rasa sakit juga berkurang, dan penyembuhan lebih cepat sehingga masa tinggal di rumah sakit berkurang 2-3 hari dibanding bedah konvensional. Akibatnya, biaya juga berkurang.
”Dalam waktu dua hingga tiga jam mereka sudah bangun kembali. Infeksi pada tulang dada juga bisa dihindari,” ujarnya. Direktur Pelayanan RSJPD Harapan Kita Ulfah Rahajoe mengatakan, jenis kasus yang bisa ditangani sangat bergantung pada pengalaman dokter bedah
BEDAH MINIMAL INVASIF February 19th, 2010 | Author: eka-kusmawan - SpesialisBedah.com Sejak ditemukan endoskopi di awal tahun sembilan puluhan, perkembangan teknik bedah minimal invasif ini semakin luas digunakan untuk berbagai macam jenis operasi. Teknik bedah yang mengandalkan kamera, monitor dan beberapa alat bedah khusus ini, setidaknya dalam 5 tahun terakhir sudah banyak dipakai di rumah sakit rumah sakit besar di Indonesia. Bahkan untuk 3 tahun mendatang DepKes telah merencanakan penyediaan alat ini hingga ke berbagai rumah sakit daerah. Dan untuk itu pelatihan menggunakan alat ini sekarang menjadi materi wajib dalam kurikulum pendidikan bedah di Indonesia.
Pembedahan minimal invasif (minimal invasive surgery) memiliki pengertian bahwa jika dibandingkan dengan pembedahan konvensional dengan cara terbuka (open surgery) untuk menangani kasus yang sama, hanya diperlukan sayatan yang sangat minimal. Sehingga dengan teknik ini trauma atau kerusakan jaringan tubuh pasien dapat diminimalisir dan bekas luka operasi yang ditimbulkan di permukaan kulit pun sangat sedikit.
Teknik bedah ini dikerjakan dengan cara memasukkan alat ke dalam tubuh pada lokasi dekat dengan obyek organ yang dioperasi melalui instrumen bersaluran yang hanya membutuhkan torehan di permukaan kulit 1- 2 cm saja. Melalui alat semacam pipa inilah dimasukkan kabel fiber optik yang memiliki kamera video di ujungnya dan terkoneksi dengan monitor yang ditempatkan tidak jauh dari pasien dan dokter operator. Dengan cara yang sama dan melalui lobang yang berbeda dimasukkan juga peralatan bedah lainnya yang berfungsi untuk memotong, menyisihkan, memegang atau pun menghentikan perdarahan. Kesemua pergerakan alat dalam tubuh pasien saat melakukan operasi ini dipantau lewat monitor. Sehingga dengan demikian, disamping untuk keperluan diagnostik, melalui alat yang dimasukkan dengan cara yang sama pada 2 lokasi berdekatan lainnya, kegiatan operasi bisa dijalankan dibawah kendali tangan seorang operator.
Pada awalnya, penggunaannya terbatas untuk keperluan operasi di dalam rongga perut (laparoscopy). Tindakan sederhana yang bisa dikerjakan adalah mengangkat usus buntu (apendik), operasi kandung empedu, melakukan penutupan celah hernia dan penyisihan terhadap organ-organ yang mengalami perlengketan berat. Namun dalam perkembangannya teknik ini dipakai juga untuk operasi di bidang bedah saraf, bedah orthopedi, urologi, onkologi dan lainnya, termasuk untuk keperluan operasi organ kandungan dan THT. Saat sekarang teknik ini sudah dapat digunakan untuk operasi pengangkatan tumor yang besar di dalam perut, memotong dan menyambung organ saluran cerna.
Selain memiliki keunggulan mengurangi kerusakan jaringan tubuh, bedah minimal invasif terbukti juga mengurangi rasa nyeri, memperpendek waktu rawat di rumah sakit dan mempercepat masa pemulihan. Dengan begitu, walaupun dari biaya tindakan operasinya lebih mahal, namun beberapa pengguna mengungkapkan bahwa biaya keseluruhan selama dirawat di rumah sakit ternyata dapat pula ditekan.
Resiko menjalankan teknik bedah invasif tetap saja ada, antara lain; perdarahan, infeksi, cedera organ dalam dan tidak menutup kemungkinan untuk dilakukan pengalihan (konversi) ke bedah terbuka jika ditemukan kegagalan pada pembedahan cara ini. bersangkutan. (INE)
Last edited by gitahafas on Tue Mar 01, 2011 2:49 pm; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Wed Jul 07, 2010 5:52 am | |
| CANGKOK OVARIUM BIKIN WANITA SUBUR SEKALIGUS PANJANG UMUR Merry Wahyuningsih - detikHealth - Kamis, 01/07/2010 13:16 WIB Tokyo, Wanita yang menderita kanker harus menjalani terapi untuk mempertahankan hidupnya, dengan risiko kehilangan kesuburan. Tapi dengan cangkok ovarium, kini wanita dapat mengembalikan kesuburan sekaligus memperpanjang harapan hidup. Sebuah studi mengungkapkan bahwa wanita yang melakukan transplantasi atau cangkok ovarium dapat mempertahankan kesuburannya sekaligus dapat hidup lebih lama dan merasa segar kembali. Terapi kanker yang dapat menghilangkan kesuburan wanita, membuat banyak pasien muda mengambil jaringan ovariumnya dan membekukannya sebelum dilakukan terapi. Ovarium ini kemudian akan ditransplantasi kembali ke tubuhnya, dengan harapan akan mengembalikan kesuburannya.
"Selain mengembalikan kesuburan, operasi transplantasi ovarium bahkan dapat meningkatkan usia atau kemungkinan hidup lebih dari 40 persen," ujar Dr Noriko Kagawa, pemimpin studi dari Klinik Kato Ladies di Tokyo, seperti dilansir dari Dailymail, Kamis (1/7/2010). Meski Dr Kagawa menekankan bahwa masih banyak penelitian yang harus dilakukan, tapi penelitian ini sudah cukup menjanjikan. Biasanya, wanita yang sudah kehilangan kesuburan dan menjadi infertil, tidak terlalu tertarik dengan pria. Tapi hasil studi menunjukkan bahwa dengan transplantasi ini, wanita yang sudah tua bahkan akan menjadi 'muda' dan aktif kembali. Ini juga membuatnya dapat memperpanjang usia.
Dalam percobaan yang menggunakan tikus ini, Dr Kagawa menjelaskan bahwa tikus yang menerima 2 ovarium akan bertahan hidup rata-rata 915 hari, yang menerima 1 ovarium bertahan 877 hari. Sedangkan tikus yang tidak menerima cangkok ovarium hanya dapat bertahan rata-rata 525 hari. Belum diketahui pasti mengapa ovarium dapat memperpanjang usia, tapi menurut Dr Kagawa ini dimungkinkan karena transplantasi ovarium dapat mendorong kelanjutan fungsi hormon normal dalam tubuh. (mer/up)
Last edited by gitahafas on Wed Jul 21, 2010 10:02 am; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Thu Jul 08, 2010 8:57 pm | |
| ROBOT PENYELAMAT LEHER PADA OPERASI KELENJAR TIROID TEKNIKA - Edisi Agustus 2010 (Vol.10 No.1) Farmacia Tiroid, yang berfungsi mengatur metabolisme, hanya sebesar buah kiwi. Kanker atau tumor jinak bisa meningkatkan ukuran tiroid hingga dua kali lipat. Untuk menjangkaunya saat operasi tidak ada cara lain kecuali menyayat leher pasien. Luka parut yang ditinggalkannya tentu menjadi hal yang menakutkan atau secara estetik tidak sedap dipandang.
Suatu teknik operasi baru menggunakan robot bisa menyelamatkan leher dari pisau bedah. Dr. David Terris, kepala Medical College of Georgia Department of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, berhasil mengembangkan operasi tiroid bedah minimal, dengan sayatan hanya berukuran kurang dari 1 inci. Tekniknya dikenal dengan nama The daVinci Surgical System. Dalam teknik ini, dokter bedah menjangkau tiroid melalui ketiak. Ini merupakan pilihan terbaik jika pasien tidak menginginkan skar di leher.
David dan timnya menggunaka teknik robotik yang mereka bantu kembangkan di Amerika, dan sudah dimuat dalam jurnal Otolaryngologic Clinics of North America. Saat operasi, pasien cukup mengangkat lengan sedikit untuk memberikan jalur sebagai navigator yang gambarnya divisualisasikan ke monitor tiga dimensi yang bentuknya mirip robot. Robot ini membuat operasi aman dan mudah dikendalikan dari kejauhan. Untuk mencapai tiroid, dokter bedah mendapatkan akses dari 2-3 inci insisi di ketiak, kemudian mereka menyusuri kulit dan lemak hingga mencapai dua otot leher yang besar. Ibarat lorong panjang untuk mencapai tiroid sehingga tidak mungkin tanpa bantuan teleksop dan instrumen yang panjang.
Memang operasi dengan teknik ini membutuhkann waktu lebih lama, kurang dari dua jam dibandingkan operasi melalui leher yang hanya kurang dari satu jam. Kini ahli bedah Korea paling banyak menggunakan robotic thyroidectomy.
Last edited by gitahafas on Tue Dec 14, 2010 4:33 pm; edited 8 times in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |