|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 10:03 am | |
| MEMILIH RUMAH SAKIT YANG PAS UNTUK ANDA September 17th, 2010 | Author: eka-kusmawan - SpesialisBedah.com Sebagai pasien yang akan menghadapi pembedahan, anda datang ke suatu rumah sakit kemungkinan dari jalur yang tidak sama. Sebagian besar pihak pasien cenderung mencari tempat pelayanan kesehatan terdekat untuk mengatasi keluhan yang datangnya akut dan dianggap sebagai sesuatu yang emergensi. Maka rumah sakit terdekat akan menjadi pilihan. Berbeda dengan pasien yang datang ke rumah sakit tertentu atas rujukan dokter yang memeriksa pasien tersebut sebelumnya. Atau bisa juga atas rujukan teman, kerabat, testimoni orang lain, media promosi dan sebagainya.
Namun saat ini dengan kemajuan layanan kesehatan serta berkembangnya asuransi di bidang kesehatan, rumah sakit sebagai tempat pelayanan kesehatan di hilir banyak menjadi mitra pihak asuransi untuk melayani kliennya. Dengan demikian kesempatan untuk memilih rumah sakit bagi pengguna asuransi tentu lebih terbatas. Tergantung aturan yang ditetapkan, beberapa pengelola asuransi tersebut ada juga yang memberi keleluasaan penggunanya untuk menentukan salah satu dari sejumlah rumah sakit yang dapat dipilih.
Lebih banyak pilihan rumah sakit bagi pasien yang berada di perkotaan besar dibandingkan dengan mereka yang berdomisili di kota kecil atau daerah terpencil. Jelas ini akibat kebutuhan akan pelayanan kesehatan. Daerah yang ramai dengan perekonomian yang berkembang pastilah membutuhkan pusat layanan kesehatan yang makin banyak dan lebih spesifik pula. Hal ini berimplikasi juga pada tumbuhnya rumah sakit swasta yang berorientasi provit di kota-kota besar. Sekalipun ada juga rumah sakit yang dibangun oleh pihak non pemerintah di kota atau daerah terkebelakang yang lebih bermisi sosial.
Lalu yang menjadi pertanyaan apakah layanan di rumah sakit swasta lebih baik dibandingkan rumah sakit pemerintah? Belum tentu! Justru sudah banyak rumah sakit negeri yang telah mengantongi sertifikasi ISO dan lulus akreditasi sesuai standar yang telah ditetapkan oleh KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit dan Sarana Kesehatan) di tungkat nasional. Memang masih diakui kalau di rumah-rumah sakit yang berada di pelosok atau di kota kabupaten, yang sebagian besar merupakan rumah sakit pemerintah, kwalitas pelayanannya masih jauh di bawah dibandingkan rumah sakit rujukan di kota-kota besar. Hal ini tidak terlepas dari fasilias alat medis yang masih terbatas dan tenaga kesehatan yang juga masih kurang.
Sehingga kalau saja anda memiliki kesempatan untuk memilih rumah sakit sebagai tempat untuk menyelesaikan masalah kesehatan anda, setidaknya ada 5 hal yang menjadi perhatian. Tenaga dokter yang akan menangani anda, kwalitas pelayanan di rumah sakit tersebut, kelengkapan fasilitas penunjang medisnya, lokasi dan faktor biaya. Tentu pilihan di tangan anda, mana dari sisi tadi yang menjadi prioritas pertimbangan.
Bagi kebanyakan masyarakat yang kurang mampu, mereka lebih memilih rumah sakit pemerintah sebagai tempatnya berobat. Karena memang di rumah sakit pemerintah masih memungkinkan mereka menggunakan beberapa cara kemudahan dari sisi biaya. Apalagi pada masa sekarang pemerintah sudah banyak memberlakukan kebijakan yang bertujuan membantu pembiayaan rakyat untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang optimal. Jadi dengan alasan biaya, mereka yang memiliki kemampuan terbatas cenderung memilih rumah sakit pemerintah dibanding rumah sakit swasta. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 10:09 am | |
| HARUSKAH TAHAP PRE-OPERATIF ITU DIJALANKAN?..? July 26th, 2010 | Author: eka-kusmawan - Spesialis Bedah.com Persiapan operasi yang baik akan memberi pengaruh baik pula terhadap kondisi pasca operasi. Tapi tidak semua operasi membutuhkan langkah-langkah persiapan yang sama. Ada operasi yang memerlukan persiapan yang mendetail dengan memerlukan waktu beberapa hari, dari persiapan fisik dengan pemeriksaan laboratorium, rontgen, jantung dan lain-lain bahkan hingga menentukan hari baik dalam pelaksanaannya. Di sisi lain ada opersi yang sudah langsung bisa dijalankan begitu seorang dokter memutuskan bahwa dibutuhkan pembedahan sebagai jalan untuk mengatasi suatu penyakit. Seberapa serius dan pentingnya persiapan operasi (pre-operatif) itu diperlukan, tergantung dari beberapa hal.
Urgensi operasi. Operasi emergensi, yang jika ditunda akan berpengaruh terhadap beratnya penyakit dan bahkan mengancam nyawa akan menomorduakan masalah masalah kesehatan yang lain dalam persiapannya. Yang penting adalah operasinya dikerjakan dulu, yang lain diperhitungkan belakangan. Contoh kasus bedah seperti ini, misalnya perdarahan, hambatan pada jalan nafas, jepitan terhadap organ dalam tubuh dan lain-lain. Jadi pada pembedahan emergensi atau operasi cito, waktu pelaksanaan menjadi pertimbangan utama sehingga langkah persiapan operasinya bisa sedikit diabaikan dibandingkan dengan operasi memperbaiki bentuk hidung misalnya. Dan pasien pun didesak sehingga secara psikis tidak punya waktu untuk menyiapkan diri.
Kasus penyakit bedah. Sudah barang tentu operasi yang berat seperti bedah jantung akan memerlukan pemeriksaan yang lebih teliti dalam persiapannya dibandingkan dengan cuma operasi benjolan kecil di areal kulit lengan. Hal ini berkaitan juga dengan berat ringan dan lama tidaknya proses berlangsungnya pembedahan.
Pembiusan. Penderita yang akan dipersiapkan operasi dengan pembiusan umum membutuhkan puasa beberapa jam sebelum operasi dijalankan. Salah satu alasannya adalah untuk mengantisipasi terjadinya reflek muntah di saat penderita tidak sadar yang bisa menjadi fatal akibatnya kalau isi muntahan itu masuk ke dalam saluran nafas. Untuk jenis pembiusan regional, masalah ini bisa diabaikan apalagi jika hanya menyiapkan diri untuk operasi dengan pembiusan lokal. Oleh karena reaksi obat bius yang diberikan melalui peradaran darah dan gas isap akan dapat berpengaruh terhadap jantung, ginjal dan organ penting lainnya maka operasi dengan general anasthesi memerlukan gambaran fungsi organ organ tersebut melalui pemeriksaan yang dikerjakan saat mempersiapkan operasinya.
Umur. Secara fisiologis fungsi organ tubuh akan menurun seiiring dengan usia. Maka pada penderita yang sudah cukup usia –di atas 40 tahun- dibutuhkan evaluasi fungsi organ vital sebelum menjalani operasi dengan pembiusan umum, untuk menjamin kelancaran proses operasi dan pulihnya kondisi pasca operasi. Berkaitan pula dengan pembiusan, pada anak anak akan lebih nyaman menggunakan bius total sekalipun pada kasus yang sama pada penderita dewasa masih dimungkinkan dengan bius lokal. Sehingga persiapannya pun menjadi lebih lengkap.
Penyakit penyerta. Bagi penderita yang memiliki penyakit lain selain kasus bedah akan menjadi perhatian khusus bagi tim bedah sebelum menjalankan tindakan operasinya. Gangguan atau penyakit lain, sedikit tidak, pasti akan berpengaruh terhadap kelangsungan proses operasi. Penyakit seperti gangguan jantung, penderita diabetes, gangguan fungsi ginjal, fungsi pembekuan darah dan lainnya jika tidak harus menjalani operasi emergensi, sedapat mungkin dipastikan dulu bahwa penyakitnya tersebut dalam keadaan stabil dan memenuhi syarat untuk naik ke meja operasi. Keadaaan inilah yang mengakibatkan seorang penderita butuh waktu relatif lama dalam masa preoperatifnya.
Perawatan pasca operasi. Operasi besar yang membutuhkan perawatan ketat pasca operasinya akan memerlukan persiapan yang lebih matang. Dibandingkan dengan operasi katagori ringan atau sedang yang memungkinkan penderita boleh pulang setelah menjalani pembedahan. Begitu juga operasi bertahap dan menjadi bagian dari suatu rangkaian perawatan luka lama, biasanya tidak membutuhkan persiapan seserius operasi yang pertama. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 10:26 am | |
| PEMASANGAN ALAT MEDIS PADA TUBUH January 6th, 2010 | Author: eka-kusmawan - SpesialisBedah.com Salah satu ketakutan pasien masuk ke rumah sakit adalah bahwa kemungkinan mereka akan dilakukan suatu tindakan manipulatif terhadap tubuhnya seperti disuntik, dipasang infus, diambil darahnya untuk periksa lab dan lain-lain. Sekalipun hal itu tujuannya untuk kebaikan si pasien juga. Penggunaan alat medis serupa ini bisa jadi bertahan beberapa saat, beberapa jam atau bahkan berhari-hari terpasang di tubuh si pasien. Tidak saja ketakutan dan ketidaknyamanan itu dirasakan langsung oleh si penderita tapi terkadang yang melihatnyapun menjadi miris. Akan lebih ‘serem’ lagi kalau melihat pasien yang keluar dari kamar operasi dengan banyak macam selang yang tertancap di tubuhnya.
Yang paling umum dilihat di rumah sakit adalah pemakaian infus. Infus bisa dipasang di lengan bawah atau terkadang untuk mendapatkan akses pembuluh darah yang lebih besar, dipasangkan di bahu dekat leher. Kegunaannya selain memasukkan cairan dan memberikan komponen elektrolit atau nutrisi dalam bentuk cair, dengan dipasangnya infus maka menginjeksi obat yang langsung masuk ke pembuluh darah jadi lebih mudah dengan cukup melalui aliran infus saja. Sesuai kebutuhan bisa saja infuse dipasang di dua tempat atau lebih. Atau di satu pembuluh darah itu disambungkanlah beberapa cabang infus. Termasuk juga pada tindakan ini adalah pemasangan alat yang mengukur tekanan aliran darah di dekat jantung.
Catheter. Tabung saluran dari bahan elastis ini dimasukkan melalui saluran kemih bagian luar hingga masuk ke dalam kandung kencing. Gunanya untuk mengalirkan air seni dari dalam kandung kencing agar langsung bisa dikeluarkan. Dipakai untuk membantu mengalirkan urine pada pasien yang mengalami hambatan saluran kencing di bagian bawah kandung kemih atau dimanfaatkan untuk menghitung secara teliti berapa banyak voleme urine yang diproduksi tubuh dalam satuan waktu tertentu. Pada beberapa kasus dipakai juga sebagai sarana diagnostik dengan menilai kwalitas urine yang keluar. Pada pasien yang mobilitasnya terbatas dengan tidak leluasa untuk bangun atau bergerak dari tempat tidur, pemasangan kateter ini sangat membantu. Pada pasien kritis, urine yang telah ditampung dalam kantung setelah keluar dari kateter ini lebih banyak dimanfaatkan untuk menghitung keseimbangan cairan antara yang masuk dan keluar tubuh. Dan khusus untuk penanganan operasi saluran kemih sering digunakan three way catheter yaitu kateter dengan tiga cabang yang salah satunya dihubungkan dengan cairan infus untuk membasuh saluran kemih.
NGT (nasogastric tube) Suatu pipa yang dipasang melalui lobang hidung masuk hingga ke lambung. Dipakai untuk mengalirkan isi lambung ke luar sehingga tekanan di dalam perut dan terutama di sistem pencernaan dapat dikurangi. Hal ini diperlukan terutama untuk membantu pemulihan pasca operasi yang memanipulasi usus atau bagian sistem pencernaan lainnya. Dipasangkan pada pasien bisa sejak sebelum operasi atau pasca operasi. Untuk kondisi lain yang memerlukan pengurasan lambung pipa ini juga diperlukan. Di sisi lain, pada penderita yang oleh karena suatu sebab sukar atau tidak mampu menelan makanan, NGT dengan ukuran yang lebih kecil dimanfaatkan juga justru untuk memasukkan atau mengalirkan bahan makanan -yang tentu dalam bentuk tidak padat- langsung ke lambung.
ETT (Endo/OroTracheal Tube) Adalah saluran yang dipasang melalui celah mulut yang masuk hingga saluran nafas bagian atas –trachea-. Alat ini dipasang untuk membantu proses pernafasan pada pasien yang tidak mampu bernafas sendiri atau yang mengalami sumbatan jalan nafas di bagian atas. Biasanya akan dihubungkan dengan oksigen yang dipompakan baik secara manual atau dengan alat ventilator.
Drain. Merupakan saluran (drainage) yang dipasang sekitar luka operasi, diperlukan untuk mengalirkan cairan sisa atau cairan yang kemungkinan akan terbentuk lagi pada areal sekitar lapangan operasi. Cairan yang dialirkan ini bisa darah, nanah atau cairan lainnya dan bisa juga udara. Jelaslah drain digunakan setelah operasi selesai terutama untuk luka yang basah atau luka dengan celah maupun rongga yang cukup luas di dalam permukaan tubuh. Ada drain dengan vacuum yakni aliran yang disedot secara aktif dan ada yang disebut dengan drain pasif.
Epidural analgesia. Terkadang untuk kasus pasca operasi yang membutuhkan obat-obat penahan nyeri kuat, dokter anasthesi memberikan obat yang langsung masuk ke dalam susunan saraf melalui alat bersaluran yang dimasukkan di bagian tulang belakang.
Masih ada lagi beberapa tindakan bedah yang memerlukan pemasangan alat pada tubuh pasien yang tidak tampak dari luar, apakah alat itu nantinya perlu diangkat lagi ataukah tidak. Misalnya pemasangan fiksasi internal (plat, pen, screw dll) pada tulang yang patah, pemasangan lembaran mash pada hernia, pemasangan stant pada ureter, vp-shunt pada kasus hidrochepalus, alat pemicu jantung pada pasien jantungan dan lain-lain. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 10:31 am | |
| OPERASI BERTAHAP January 23rd, 2010 | Author: eka-kusmawan - SpesialisBedah.com Tidak selamanya sesuai dalam bayangan kita bahwa masalah bedah itu akan tuntas seiring dengan begitu selesainya satu tahapan operasi. Ada kasus tertentu yang membutuhkan penanganan bedah lebih dari sekali. Mengapa sampai begitu? Beberapa alasan yang mendasari antara lain kemampuan tubuh dalam merespon suatu trauma bedah tidak sama antara satu bagian dengan bagian tubuh lainnya, antara umur yang berbeda, kondisi preoperatif yang tidak sama dan karena ada perbedaan fase perkembangan suatu penyakit. Di bagian lain terkadang dokter bedah dihadapkan pada prioritas demi keselamatan seseorang pasien terhadap suatu kasus yang kompleks.
Pada penanganan kasus celah bibir yang meluas hingga ke langit-langit rongga mulut pada anak-anak, akan membutuhkan setidaknya 2 tahap operasi untuk memperoleh hasil terbaik. Begitu juga operasi membebaskan struktur vital pada alat gerak –lengan atau kaki- akibat pembengkakan hebat (compartment syndrome), tidak akan cukup diselesaikan dengan sekali operasi. Setelah membuka dan melepaskan jeratannya, beberapa hari berikutnya setelah pembengkakannya mereda barulah dibutuhkan operasi yang kedua untuk menutupnya kembali.
Atau pada kejadian lain dimana didapatkan luka terbuka luas yang sangat kotor akibat kecebur di selokan saat kecelakaan di jalan misalnya, kemungkinan besar memerulukan operasi bertahap, dengan mebersihkan luka sebagai penanganan tahap awal dan penanganan tahap selanjutnya adalah dengan menutup serta merapikan bekas luka tersebut ketika jaringan luka telah bersih dari kontaminasi dan bertumbuh. Jika kondisi pasien belum optimal, sedangkan pembedahan harus segera dijalankan, maka dengan mengejar waktu, seorang dokter bedah dimungkinkan untuk mengerjakan pembedahan definitive-nya pada kesempatan lain.
Misalnya dalam menghapi kasus trauma perut pada pasien tua daengan gizi buruk yang mengalami kerusakan hebat hingga ada perdarahan dan kebocoran usus besar, maka langkah terbaik adalah hentikan perdarahan, alirkan saluran cerna untuk sementara ke permukaan (colostomy) dan perbaiki kondisi pasien. Di kemudian hari jika kondisi telah membaik, barulah operasi penyambungan usus boleh dkerjakan. Contoh lain yang sampai memerlukan operasi hingga beberapa kali adalah pembedahan rekontruksi, baik yang dikerjakan pada bagian wajah, alat gerak ataupun di bagian tubuh lainnya.
Oleh karena dokter yang melakukan tindakan pembedahan berasal dari bidang keilmuwan yang berbeda dan memiliki spesialisasi yang mengkhusus, maka suatu pembedahan bisa saja ditangani oleh dua orang dokter (operator). Dua atau lebih operator ini bisa berasal dari bidang profesi yang berbeda (antara bedah, kebidanan, THT atau mata), bisa berasal dari sub-bidang bedah yang berlainan (antar bedah orthopedi, uologi, bedah saraf, bedah plastic, vaskuler, digestif, onkologi dan lainnya) atau bisa dari satu profesi dengan tingkat senioritas atau pengalaman yang berbeda.
Penanganan satu pasien oleh lebih dari satu operator ini bukanlah sesuatu yang tidak wajar dan tidak etis, namun sebaliknya pada keadaan tertentu justru dengan mengkonsultasikan suatu kasus yang di luar bidang serta kemampuannya, seorang dokter yang menjalankan konsultasi itu telah menunjukkan keprofesionalannya. Mekanisme konsultasi tersebut memang diharapkan sudah berlangsung dan dikomunikasikan kepada pasien atau keluarga sebelum proses pembedahan djalankan. Tapi tidak menutup kemungkinan juga bahwa di saat berlangsungnya proses pembedahan, bisa saja ditemukan sesuatu yang tidak terantisipasi sebelumnya sehingga mekanisme konsultasi berjalan di tengah sedang berlangsungnya pembedahan.
JIka kasus yang didapat merupakan kasus sulit yang membutuhkan bantuan dari yang lebih berpengalaman atau merupakan kasus dari satu bidang profesi, maka terjadi pengambilalihan operasi. Tapi jika kasus tersebut merupakan kasus tambahan dari keilmuwan yang berbeda maka pengerjaannya bisa dilakukan oleh 2 operator secara bersama dalam satu tahap operasi. Penanganan jenis ini biasanya disebut operasi bersama (joint operation).
Terlepas dari semua itu, apapun kasusnya, apakah diprediksi akan memerlukan lebih dari satu kali tahap operasi ataukah memerlukan lebih dari satu operator, satu hal yang terpenting adalah komunikasi. Komunikasi yang baik dan cermat harus dibangun antar dokter pelaksana pembedahan dengan pasien atau keluarga agar tercapai satu pengertian serta suatu ketenangan sehingga mendapatkan hasil terbaik dan pasien dapat sembuh seperti sediakala. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 10:37 am | |
| GAYA KOMUNIKASI DOKTER-PASIEN January 16th, 2010 | Author: eka-kusmawan - Spesialis Bedah.com Walaupun saat ini ada berbagai cara berkomunikasi antara dokter dan pasien, antara lain dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi, seperti lewat media masa atau secara online melalui internet,tetapi tetap masih diakui dan dirasakan bahwa berkomunikasi secara langsung lebih memiliki nilai tinggi dalam hal obyektifitas serta rasa kemanusiaannya. Sehingga masih akan tetap dibutuhkan.
Maka oleh karena itu banyak pihak yang menilai kwalitas layanan seorang dokter, salah satu indikatornya adalah dari cara dokter itu berkomunikasi dengan pengguna jasanya. Namun pada kenyataannya tidak semua dokter bisa berkomunikasi sesuai harapan pasien. Ada berbagai macam kendala yang para dokter hadapi ketika mereka berkomunikasi dengan pasiennya. Dilihat dari hambatan-hambatan tersebut didapatkan intinya terdiri dari 3 unsur utama, yakni waktu yang tersedia untuk menjalankan suatu komunikasi, gaya berkomunikasi dan isi komunikasi atau pembicaraan tersebut. Menilai dari cara berkomunikasi seorang dokter, baik secara verbal atau pun diiringi dengan bahasa tubuh, setidaknya dapat digolongkan dalam 4 tipe;
Dokter yang tidak memiliki waktu dan tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan baik. Menghadapi dokter semacam ini yang paling sulit. Jangankan menjelaskan keadaan penyakit kepada seorang pasien, untuk bertutur sapa dengan sesama dokter pun mereka terasa mempunyai hambatan. Biasanya dokter tipe ini tidak memiliki banyak pasien, kecuali ia berkemampuan lebih dan masih langka kehadirannya di suatu komunitas tertentu.
Dokter yang bisa berkomunikasi tapi tidak cukup memiliki waktu. Kelompok dokter ini biasanya sangat sibuk, baik oleh karena pasiennya yang banyak ataupun tugas pekerjaan di luar keprofesiannya menuntut mereka untuk menggunakan waktu seefektif mungkin. Tidak semua pasien puas dengan gaya dokter jenis ini. Boleh jadi kemampuannya dalam menyembuhkan pasien terkenal hebat, tapi mungkin saja sebagian pasien merasa kecewa karena tidak ada kesempatan untuk menanyakan sesuatu atau merasa tidak mendapat sentuhan optimal di saat sang dokter menjalankan pemeriksaan fisik. Kebanyakan dokter di Indonesia menjalankan prakteknya tidak membatasi jumlah pasien. Sedangkan di luar negeri, seorang dokter dalam menjalankan tugasnya di praktek atau poliklinik rawat jalan, waktu menjadi patokan utama. Sehingga jika waktu untuk seorang pasien (biasanya 20 – 30 menit) belum selesai, si dokter meminta pertanyaan lagi dari si pasien menyangkut hal-hal yang belum jelas. Dengan demikian kwalitas layanan terhadap seorang pasien memang terjaga betul.
Dokter dengan gaya berkomunikasi formal. Dimana pasien semata-mata menjadi obyek dari interaksi yang dibangun. Penuh dengan bahasa serta istilah medis, cenderung arus komunikasi satu arah, mendominasi pembicaraan dan terkadang bahkan ada kesan memarahi dalam memberikan nasehat ke pasien. Biasanya untuk golongan pasien yang tidak kritis, jenis dokter ini masih bisa diterima dengan baik. Cukup sudah dengan diberitahu sakitnya, diberi obat dan syukur-syukur sembuh, pasien sudah puas. Sekali pun mungkin saja ada rasa tertekan atau takut menghadapi dokternya.
Dokter yang memiliki waktu dan kemampuan berkomunikasi yang baik. Dokter jenis ini berusaha membina hubungan dengan pasiennya secara lebih terbuka, tidak selamanya formal, berempati, menjelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti pasien serta lebih memberikan waktu kepada pasien untuk mengungkapkan sesuatu. Dokter type ini biasanya memiliki kemampuan bersosialisasi lebih tebal dibanding yang lain. Memang dokter yang sejenis ini yang ideal dan banyak disenangi pasien. Tapi golongan ini masih bisa dibedakan lagi antara yang bergaya terlampau bersahabat hingga cenderung membuat mereka kurang teliti serta dalam memberikan penjelasan kurang mengedepankan sisi ilmiahnya, namun ada yang mampu mengkombinasikan kemampuan berkomunikasi serta penguasaan ilmu dan ketrampilannya dengan baik sehingga memiliki kharisma dan talenta yang baik pula. Yang mana menjadi pilihan pasien? Tentu berpulang pada kecocokan serta kebutuhan masing-masing pasien tersebut. Ada yang bilang, dengan dilihat dan disentuh saja oleh dokter A, seorang pasien sudah merasa dirinya sembuh. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 10:42 am | |
| TESTIMONI PEMBEDAHAN February 26th, 2010 | Author: eka-kusmawan- SpesialisBedah.com “Awalnya saya pikir operasi itu menakutkan, ehh.. ternyata tidak seperti yang saya bayangkan. Saya tidak merasakan sesuatu, tidur dengan nyaman, begitu bangun operasi sudah selesai…. Tahu begini mungkin sudah sejak dulu saya bersedia dioperasi…” kata seorang pasien yang baru menjalani operasi terhadap benjolan besar di bagian bahunya. Telah lama dia tidak berani memutuskan untuk operasi padahal sudah sering ia disarankan dan bahkan didesak oleh keluarga, teman dan dokter yang melihat keberadaan tumor tersebut sebelumnya.
Di sisi lain, ada justru pasien yang baru mengetahui kalau dengan jalan operasi permasalahan kronis yang dia hadapi jadi tuntas. Seperti yang diungkapkan pasien yang mengalami nyeri kronis di bagian pinggang dan telah beberapa kali mendapat pengobatan sebelumnya. “Sudah 3 tahun saya tersiksa oleh nyeri di pinggang ini. Belakangan ketahuan saya mengalami saraf kejepit di dekat pinggang. Akhirnya dengan operasi saya terbebas dari siksaan ini. Lagian operasinya tidak sakit sama sekali, singkat, tanpa ada bekas. Juga tidak perlu lama mondok di rumah sakit…”. Pasien ini baru beberapa bulan yang lalu menjalani pembedahan minimal invasif pada saraf tulang belakangnya.
Seorang ibu muda memberi pertimbangan kepada temannya. “Sudahlah Rik… kamu ga’ perlu khawatir kalau harus menjalankan sectio. Itu demi kesehatan bayimu… Lagian operasi itu ga serem kok.. Kamu pasti terus didampingi perawat selama di dalam kamar operasi. Dan bekas torehan di perutku ini buktinya, tidak terlalu tampak. Jadi penampilan masih tetep terjaga lho.. Kenapa mesti takut..??”
Ibu Idayati, seorang ibu rumah tangga berumur 43 tahun bercerita kepada temannya yang mengalami gejala seperti yang ia pernah rasakan sebelumnya. “Sejak dioperasi 2 tahun lalu penyakit saya tidak pernah kambuh. Coba saya tahu dari dulu, apa yang katanya orang orang itu kalo dibedah akan banyak menimbulkan masalah ternyata tidak bener…. mungkin tidak banyak biaya yang saya keluarkan untuk berobat ke sana kemari…”. Ibu ini menderita maag berkepanjangan dan terganggu oleh nyeri yang dirasakan di uluhati berulang kali. Ia pun telah ditangani beberapa dokter sebelum akhirnya diketahui mengidap batu kandung empedu. Sebelumnya sudah pula ia disarankan untuk operasi namun karena kekhawatirannya menyebakan ia ragu memutuskan operasi.
Dengan cara pembedahan juga terbukti memberikan hasil yang memuaskan, tidak perlu biaya mahal dan tidak mesti menderita berlama-lama. “Ahh.. ternyata cuma dengan operasi ringan kayak gini menyelesaikan masalah saya….” ungkap seorang anak muda yang bolak balik mengalami bisul di tempat yang sama. Sebelumnya ia merasa terganggu karena sakit, kemudian bisul di bokongnya itu pecah dan dirawat sampai berhari hari. Setelah sembuh lalu kumat lagi kejadian yang sama berulang kali. Barulah kemudian diselesaikan oleh dokter bedah dengan hanya menggunakan pembiusan lokal ketika benjolan bakal bisul itu muncul kembali untuk kesekian kalinya.
Pembedahan menjamin memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan cara alternatif. Seorang suami yang pernah menjalani operasi patah tulang di paha kanan pasca kecelakaan lalulintas bercerita kepada istrinya “ Ma.. untung papa dulu ngikutin saran dokter untuk dioperasi ya… Coba kalo tidak, bakalan seperti si Antok tuh… Sekarang ia baru nyesel, cacat, jalannya pincang..! Karena waktu ia kecelakaan dulu, patah tulang di kakinya dibawa ke dukun sih…”. Dan begitu juga pada kasus yang berbeda seorang istri mengungkapkan rasa syukur kepada suaminya “ Pa.. kita harus bersyukur nih… Kasihan ibu tetangga sebelah, sangat menderita dan jadi beban keluarga karena kanker payudaranya sudah parah! Coba waktu ketahuan tumornya masih kecil dulu sudah langsung dioperasi seperti mama dan tidak berobat ke alternatif, mungkin ia tidak seperti sekarang jadinya….”.
Dan sudah jelaslah, dengan tindakan operasi bisa membantu seseorang terhindar dari ancaman maut, kematian. Seperti apa yang dituturkan seorang ibu yang menceritakan kisah detik detik menegangkan yang terjadi pada anaknya saat jatuh dan kepalanya terbentuk pada benda keras. “Saya tidak bisa membayangkan kalau waktu itu anak saya yang belum juga sadar tidak dilakukan tindakan operasi di kepalanya, Mungkin sekarang saya tidak dapat melihatnya lagi… Saya juga ingin berterimakasih untuk dokter bedah yang berhasil mengeluarkan gumpalan darah di dalam otak anak saya sehingga dia selamat! Saya ingat saat itu dibutuhkan sekali keputusan yang cepat sehingga dokter pun dapat mengerjakannya dalam waktu yang tepat….!” |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 10:45 am | |
| APA YANG PERLU ANDA KETAHUI TENTANG KAMAR OPERASI? May 28th, 2008 | Author: eka-kusmawan -SpesialisBedah.com Sebagian besar pasien yang akan menjalani pembedahan merasa tidak tenang menghadapinya. Entah takut sebagian badannya akan diiris, khawatir akan komplikasi saat atau selesainya pembedahan atau pun seram akan suasana di kamar operasi. Dengan telah memahami akan penjelasan dokter bedah sebelumnya, apalagi telah menerima informasi dari orang lain yang telah pernah menghadapi hal yang sama, kekhawatiran itu bisa dikurangi. Dan berkenaan akan suasana kamar operasi, ada beberapa hal yang saya bisa ceritakan sehingga ketakutan anda pun berkurang.
Di lingkungan ruang operasi, selain terdiri dari beberapa ruang untuk tindakan pembedahan, juga dilengkapi dengan ruang penerimaan / persiapan yaitu ruangan khusus untuk menempatkan pasien dari luar lingkungan kamar operasi sebelum dilakukan tindakan bedah. Di ruangan ini, selain pasien di data ulang juga dimanfaatkan untuk pemeriksaan akhir sebelum naik ke meja operasi seperti pemeriksaan tekanan darah, nadi, pernafasan, berat badan dan evaluasi lainnya oleh dokter anasthesi (bius). Di ruangan ini pula si penderita memperoleh infus atau pun obat premedikasi yang berguna menenangkan kondisi penderita menjelang dibius di kamar tindakan. Biasanya juga dokter bedah akan melihat serta menyapa dan tentu oleh dokter yang baik akan diberikan penjelasan secara teknis prosedur apa yang akan dilakukannya nanti.
Jika Tim Bedah dan alat alat sudah siap, anda akan dibawa ke ruang operasi dimana di dalamnya dilengkapi banyak peralatan. Kamarnya bersih, tenang dan nyaman dengan tingkat sterilitas paling tinggi. Ada meja operasi di bagian tengah, di atasnya ada beberapa lampu sorot, panel2 untuk gas anasthesi beserta oksigen, peralatan serta mesin anasthesi, tiang infus, instrumen / peralatan bedah dan lain-lain. Melihat suasana dan lingkungan inilah bisanya penderita merasakan justru tidak tenang. Guna mengurangi ketakutan ini dengan pemberian obat praanasthesi yang optimal sebetulnya sudah memberikan efek ketenangan atau pun tidak ingat sama sekali dengan lingkungan atau suasana di ruangan ini.
Setelah selesainya pembedahan, anda akan ditempatkan di ruang observasi pasca operasi. Di ruang ini anda akan dipantau secara ketat perkembangan kondisi badan dari setelah menjalani pembiusan sampai pada keadaan stabil. Anda akan diberikan oksigen, diukur kondisi vital tubuh; tekanan darah, denyut nadi ataupun kondisi nafas anda. Dipantau juga adanya efek terhadap pembedahan yang dikerjakan sebelumnya, terutama terhadap kemungkinan terjadinya perdarahan kembali. Observasi dan evaluasi ini bisa dalam beberapa puluh menit sampai beberapa jam sebelum anda dipindahkan ke ruang perawatan. Lain halnya dengan penderita yang dalam kondisi kritis, pemantaunnya akan langsung dikerjakan di HCU sesaat setelah operasi.
Tentang orang-orang yang berada di lingkungan ruang operasi yang penampilannya khas menggunakan pakaian khusus itu, selain dokter bedah (operator) serta dokter ansthesi, mereka juga dibantu oleh beberapa orang paramedik, baik staf bedah maupun staf anasthesi. Dengan merekalah anda bisa bercerita dan tentu dengan layanan yang baik pula semestinya para staf di kamar operasi dapat memberi ketenangan kepada anda yang sebagian besar dapat dipastikan baru pertama kali masuk ke dalam lingkungan tersebut. Tapi pada keadaan tertentu, karena mereka sudah biasa dan menjadi rutinitas bekerja seperti itu menjadikan interaksi mereka (baca; percakapan yang tidak berhubungan dengan tugas), dapat mengesankan rasa empati terhadap pasien yang tidak disadari sedang ada di tengah2 mereka…
Diharap cerita ini akan memberi sedikit ketenangan bagi anda yang akan masuk ke kamar operasi, walaupun pasti anda tidak akan pernah berharap masuk ke situ…. atau anda sendiri sudah mengalaminya…?
Last edited by gitahafas on Tue Mar 01, 2011 2:47 pm; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 10:47 am | |
| KARAKTERISTIK PASIEN February 11th, 2010 | Author: eka-kusmawan - SpesialisBedah.com Secara umum karakter pasien dibedakan mejadi 2 tipe. Yang cenderung ingin mencari informasi lebih jelas –information seeking- dan ada yang tidak begitu mementingkan penjelasan dokter –non information seeking-. Para pasien yang jenis kedua hampir jarang ditemukan di era saat ini. Mungkin yang masih ada di pedesaan yang pendudukny masih polos, kalangan yang latar pendidikannya kurang, para pasien yang sudah terlampau percaya pada dokternya atau terlanjur menganggap therapi yang diberikan dokter selalu cocok dengan segala macam gejala penyakit yang dikeluhkan. Mereka tidak terlalu peduli apa nama penyakitnya, bagaimana bisa terjadi, bagaimana kemungkianan sembuh dan lain-lain. Sudah cukup dengan diberikan obat , menerima nasehat mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan. Begitu saja, tidak lebih.
Berbeda dengan yang kedua di atas, para pasien golongan pencari informasi akan lebih aktif bertanya kepada dokternya. Mereka belum merasa puas kalau dokter belum bisa atau pun belum sempat menjawab pertanyaan mereka. Didasari juga oleh pengaruh psikis, golongan pasien ini dibedakan lagi antara yang bisa menerima penjelasan dokter secara proporsional dan ada juga yang bertype agak ‘ngeyel’. Mereka yang rada cerewet ini terkadang belum cukup menerima sekali penjelasan dokter, banyak mengajukan pertanyaan yang sama, lebih banyak mengungkapkan keluhan dibanding mendengar informasi dokternya.
Lalu, apakah pasien kritis akan menyulitkan dokter…? Tidak juga! Seorang dokter yang tidak memiliki kompetensi yang cukup barangkali akan merasa tertekan untuk menjelaskan apa apa yang ditanyakan oleh si pasien. Berbeda dengan dokter yang cakap di bidang profesinya dan memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik tentu akan lebih senang berhadapan dengan pasien jenis ini. Karena penyampaian pesan yang diberikan oleh dokter lebih bisa diterima dan bermakna.
Yang juga menjadi masalah bagi dokter dalam berkomunikasi dengan pasien adalah apa yang bisa disebut dengan komunikasi berjenjang. Ini terutama terjadi pada pasien yang sedang dirawat di rumah sakit dan mempunyai banyak keluarga. Berjenjang, maksudnya dari satu anggota keluarga ke anggota keluarga lainnya. Setiap anggota keluarga akan menanyakan hal yang hampir sama tentang si pasien pada kesempatan yang berbeda. Penyebabnya, karena keluarga yang menerima informasi pertama tidak sempat atau tidak mampu menyampaikan penjelasan dokter ke anggota keluarga lainnya. Sehingga hal ini sedikit membebani dokter untuk menjelaskan hal yang sama berulang kali.
Menghadapi hal ini, solusinya adalah dengan memberikan penjelasan kepada keluarga yang berpengaruh dan bisa berkomunikasi dengan keluarga pasien yang lain. Atau bisa juga dengan mengumpulkan semua keluarga terlebih dulu sebelum dokter memberikan penjelasan tentang kondisi si pasien. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 10:51 am | |
| HAK HAK PASIEN January 31st, 2010 | Author: eka-kusmawan - SpesialisBedah.com Dalam perkembangan dunia informasi yang begitu pesat ini membuat banyak orang mulai terbuka wawasan dan dengan makin membaiknya tingkat sosial ekonomi membuat pula dampak pada kebutuhan yang makin meningkat terhadap kwalitas layanan penyedia jasa baik secara personal maupun kelompok atau institusi, termasuk dokter dan rumah sakit sebagai andalan penyedia jasa di bidang medis.
Ketidaksesuaian antara imbalan yang harus dikeluarkan pasien terhadap layanan yang diterima, sangat potensi untuk menimbulkan suatu tuntutan sebagai cetusan rasa tidak puas. Namun demikian tidak semua orang sesungguhnya mengetahui atau setidaknya mengerti akan hak-hak yang mestinya mereka dapatkan ketika sedang menerima penanganan dari petugas medis di tempat tempat pelayaan kesehatan, seperti tempat praktek, klinik, rumah sakit dan yang lainnya. Padahal masalah ini sudah dituangkan dalam bentuk tertulis melalui undang-undang, peraturan serta himbauan.
Apa saja hak-hak pasien tersebut? Jelas tercantum pada Undang Undang no.29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran pada Bab VII pasal 53 tertulis bahwa pasien dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak: mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 45 ayat (3), meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain, mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis, menolak tindakan dan mendapatkan isi rekaman medis. Dalam peraturan itu setidaknya ada 5 hal yang bisa dijelaskan lebih jauh.
Mendapat penjelasan secara lengkap Yang dimaksudkan adalah penjelasan yang minimal menerangkan tentang diagnosa penyakit pasien, tata cara tindakan medis beserta resiko yang mungkin ditimbulkannya, alternatif lain selain harus menjalani suatu tindakan tertentu, komplikasi yang bisa terjadi terhadap suatu tindakan medis dan prognosis atau kemungkinan sembuh yang bisa dijanjikan.
Meminta pendapat dari dokter lainnya. Merupakan salah satu bentuk kebebasan pasien untuk mencari pendapat dari satu atau lebih pihak dokter yang lain terhadap kasus yang sama, sehingga didapatkan gambaran yang lebih jelas sebelum pihak pasien memutuskan untuk menyetujui atau menolak suatu tindakan medis yang telah diinformasikan sebelumnya.
Mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhan. Dalam hal proses mendapatkan diagnosa yang lebih pasti akan membutuhkan beberapa pemeriksaan penunjang, begitu pula dalam hal penanggulangan terhadap penyakit yang telah diperoleh, sangat mungkin memerlukan beberapa obat termasuk barangkali memerlukan tindakan medis yang memanupulasi tubuh. Tentu saja jenis pemeriksaan dan pegobatan yang diberikan haruslah berdarsarkan standard yang ada (sesuai indikasi) tidak berlebihan demi kepentingan sepihak yang dapat merugikan pasien.
Menolak tindakan medis, dijamin oleh undang-undang. Jadi tidak perlu merasa melanggar aturan atau membangkang terhadap saran dokter jika pasien atau keluarga memang menilai bahwa tindakan yang akan dikerjakan nantinya bisa memberatkan atau merugikan si penderita dan keluarga. Dan biasanya untuk memastikan sikap ini pasien atau keluarga diwajibkan juga untuk menandatangani surat penolakan tindakan medis.
Mendapatkan isi rekaman medis. Hal ini dibutuhkan pasien bukan semata-mata sebagai koleksi arsip pribadi, namun yang lebih penting dari itu adalah sebagai bahan informasi kesehatan pasien ketika pasien tersebut dirujuk ke dokter atau tempat pelayanan kesehatan yang lain atau ketika pasein atas kemauannya sendiri berpindah dokter atau rumah sakit. Yang termasuk dalam rekam medik adalah catatan medis pasien yang dibuat oleh dokter, menyangkut catatan perkembangan klinis, therapy, hasil laboratorium dan hasil pemeriksaan penunjang lainnya. Untuk meringkas catatan ini, biasanya dibuatkan lembar yang lebih singkat yang disebut Resume Medis. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 11:04 am | |
| VERIFIKASI DALAM PEMBEDAHAN November 15th, 2009 | Author: eka-kusmawan - SpesialisBedah.com Kegiatan pembedahan di kamar operasi, oleh seorang sepuh ahli bedah dan pemerhati ‘patient safety’ lewat presentasinya pada pertemuan PERSI di Jakarta minggu kemarin, diibaratkan layaknya seperti balapan F1. Kekompakan, ketepatan, persamaan persepsi termasuk juga kesigapan dan kecepatan semua anggota team akan menjamin si pembalap melewati garis akhir sesuai harapan. Begitu juga harapan ini ditujukan kepada team pembedahan yang bekerja di kamar operasi, jika saja diterapkan secara desiplin maka kecelakaan kerja, kegagalan operasi dan permasalah lain yang menyangkut keselamatan pasien niscaya dapat dikurangi. Inilah yang kemudian dikenal dengan proses verifikasi terhadap pasien yang akan menjalani pembedahan. Apa saja verifikasi itu?
Sesuai kriteria yang telah ditetapkan WHO, setidaknya ada tiga tahapan untuk mengecek kembali kondisi penderita selama ada di lingkungan kamar operasi. Sign in, merupakan verifikasi pertama sesaat pasien tiba di ruang terima atau ruang persiapan. Harus dievaluasi kembali rekam medis pasien yang bersangkutan berkaitan dengan identitas, hasil pengukuran vital sign terakhir, kelengkapan dokumen termasuk surat persetujuan pembedahan atau inform concern. Lebih lanjut dicek juga tentang riwayat alergi, resiko kehilangan darah saat pembedahan, resiko gangguan pada jalan nafas dan keamanan prosedur anasthesi yang akan dikerjakan. Bahkan pada check list yang disusun oleh WHO itu, team diwajibkan pula untuk mengkonfirmasi lokasi pada tubuh yang akan dimanipulasi oleh pembedahan, di bagian mana, kiri atau kanan, depan atau belakang serta konfirmasi kesiapan peralatan serta cara anasthesi yang akan digunakan.
Pada tahap lanjut, verifikasi dilaksanakan ketika pasien sudah siap di atas meja operasi, sudah dalam keadaan terbius, dimana team anasthesi dalam keadaan siaga dan team bedah telah dalam posisi on sterile. Fase yang disebut time out ini, secara verbal setelah memperkenalkan diri team bedah kembali mengkonfirmasi tentang pasien, lokasi insisi pada tubuh pasien, prosedur yang akan dijalankan dan kemungkinan kesulitan teknik pembedahan yang dihadapi selama proses berlangsungnya operasi. Di sisi lain perawat bedah diwajibkan untuk menyatakan kesiapan alat / instrumen, keadaan sterilitas alat dan termasuk perhitungan jumlah kasa. Pada kesempatan ini diungkapkan juga mengenai obat antibiotika profilaksis yang telah diberikan beserta hasil pemeriksaan penunjang seperti x-ray dan lain-lain yang sewaktu waktu mungkin diperlukan operator ketika menjalankan operasinya. Tentang kemungkinan resiko pembiusan selama berlangsungnya operasi menjadi kewajiban team anasthesi untuk menyampaikannya.
Sesaat setelah selesai operasi, sebelum pasien dikeluarkan dari ruang operasi, dipastikan kembali akan beberapa hal menyangkut nama prosedur yang telah dikerjakan sebelumnya, perhitungan jumlah instrumen, jarum dan kasa secara benar –jika digunakan selama operasi- serta catatan jika ada permasalahan pada alat atau bahan habis pakai lainnya. Pemberian label sesuai identitas pasien pada jaringan yang telah diangkat dari tubuh pasien juga menjadi perhatian pada tahap ini. Dan dokter bedah sebagai operator beserta dokter anasthesi menyampaikan hal-hal yang perlu diperhatikan pada masa pemulihan pasien dan perawatan pasca operasi selanjutnya. Prosedur ini disebut tahap sign out.
Begitulah, jika evaluasi atau konfirmasi melalui pengisian checklist baik pada tahap sign in, time out dan sign out ini dijalankan secara benar niscaya out put terhadap upaya ‘patient safety’ akan lebih mudah dicapai. Dan cepat atau lambat proses ini menjadi prasyarat yang mesti dikerjakan jika instalasi atau unit kamar bedah suatu rumah sakit dinyatakan telah lulus akreditas.
Last edited by gitahafas on Tue Mar 01, 2011 11:24 am; edited 1 time in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 11:11 am | |
| PERLUNYA SELANG LAMBUNG February 17th, 2011 | Author: eka-kusmawan - SpesialisBedah.com Pemasangan pipa / selang lambung atau lebih dikenal dengan NGT (nasogastric tube) memiliki beberapa tujuan. Pada penanganan nyeri perut, perut kembung atau pada persiapan dan pasca operasi, pemasangan pipa ini bertujuan untuk mengurangi tekanan lambung dengan mengalirkan isi lambung keluar melalui pipa atau tube tersebut. Sedangkan NGT yang digunakan untuk memasukkan makanan ke dalam lambung, diperlukan pada penderita yang sulit untuk menelan makanan secara normal. Misalnya pada pasien yang tidak sadar, pasien dengan kelainan di bagian mulut atau pasien tua yang menderita penyakit kronis yang tidak mampu lagi menelan makanan.
Bisa juga NGT diperlukan untuk membasuh lambung dengan mengalirkan lalu menghisap kembali cairan lambung pada kasus keracunan bahan kimia yang tertelan. Namanya NGT, pemasangan pipa ini memang tidak mengenakkan karena dimasukkan melalui lobang hidung, menulusuri bagian belakang rongga mulut, masuk ke dalam tenggorokan dan berakhir ujungnya di dalam ruangan lambung. Ujung muara pipa di bagian luar tubuh biasanya dihubungkan dengan kantong atau tabung yang berisi cairan. Gunanya untuk menampung keluarnya cairan lambung dan mencegah masuknya udara ke dalam lambung.
Ukuran penampang NGT ini tidak sama. Disesuaikan penggunaannya dengan umur penderita dan tujuan pemasangan pipa itu. Jika tujuannya untuk menurunkan tekanan perut (decompresi) digunakan ukuran yang lebih besar, dibandingkan dengan yang tujuannya hanya untuk mengalirkan makanan (nutrisi). Begitu juga akan diperlukan pipa dengan penampang lebih kecil pada anak anak dibandingkan dewasa. Ukuran ini satuannya biasa disebut dengan Fr (French). 1 Fr menunjukkan penampang kurang lebih 0,3 mm.
Dan untuk NGT kisaran ukurannya ada yang 16 Fr hingga 8 Fr. Jadi jika anda melihat seorang pasien dikenakan pipa melalui lobang hidungnya, pastilah alat itu berhubungan dengan sistem pencernaan, terutama lambung, dengan berbagai tujuan. Kalau bukan untuk mengurangi tekanan dalam perut, mungkin saja diperlukan untuk memasukkan makanan… |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 11:17 am | |
| PENTINGNYA BERGERAK PASCA OPERASI November 2nd, 2008 | Author: eka-kusmawan - SpesialisBedah.com Kebanyakan dari pasien masih mempunyai kekhawatiran kalau tubuh digerakkan pada posisi tertentu pasca operasi akan mempengaruhi luka operasi yang masih belum sembuh yang baru saja selesai dikerjakan. Padahal tidak sepenuhnya masalah ini perlu dikhawatirkan, bahkan justru hampir semua jenis operasi membutuhkan mobilisasi atau pergerakan badan sedini mungkin. Asalkan rasa nyeri dapat ditahan dan keseimbangan tubuh tidak lagi menjadi gangguan, dengan bergerak, masa pemulihan untuk mencapai level kondisi seperti pra pembedahan dapat dipersingkat. Dan tentu ini akan mengurangi waktu rawat di rumah sakit, menekan pembiayaan serta juga dapat mengurangi stress psikis.
Dengan bergerak, hal ini akan mencegah kekakuan otot dan sendi sehingga juga mengurangi nyeri, menjamin kelancaran peredaran darah, memperbaiki pengaturan metabolisme tubuh, mengembalikan kerja fisiologis organ-organ vital yang pada akhirnya justru akan mempercepat penyembuhan luka. Menggerakkan badan atau melatih kembali otot-otot dan sendi pasca operasi di sisi lain akan memperbugar pikiran dan mengurangi dampak negatif dari beban psikologis yang tentu saja berpengaruh baik juga terhadap pemulihan fisik. Pengaruh latihan pasca pembedahan terhadap masa pulih ini, juga telah dibuktikan melalui penelitian penelitian ilmiah. Mobilisasi sudah dapat dilakukan sejak 8 jam setelah pembedahan, tentu setelah pasien sadar atau anggota gerak tubuh dapat digerakkan kembali setelah dilakukan pembiusan regional.
Pada saat awal, pergerakan fisik bisa dilakukan di atas tempat tidur dengan menggerakkan tangan dan kaki yang bisa ditekuk atau diluruskan, mengkontraksikan otot-otot dalam keadaan statis maupun dinamis termasuk juga menggerakkan badan lainnya, miring ke kiri atau ke kanan. Pada 12 sampai 24 jam berikutnya atau bahkan lebih awal lagi badan sudah bisa diposisikan duduk, baik bersandar maupun tidak dan fase selanjutnya duduk di atas tempat tidur dengan kaki yang dijatuhkan atau ditempatkan di lantai sambil digerak-gerakan. Di hari kedua pasca operasi, rata-rata untuk pasien yang dirawat di kamar atau bangsal dan tidak ada hambatan fisik untuk berjalan, semestinya memang sudah bisa berdiri dan berjalan di sekitar kamar atau keluar kamar, misalnya berjalan sendiri ke toilet atau kamar mandi dengan posisi infus yang tetap terjaga.
Bergerak pasca operasi selain dihambat oleh rasa nyeri terutama di sekitar luka operasi, bisa juga oleh beberapa selang yang berhubungan dengan tubuh, seperti; infus, cateter, pipa nasogastrik (NGT=nasogastric tube), drainage tube, kabel monitor dan lain-lain. Perangkat ini pastilah berhubungan dengan jenis operasi yang dijalani. Namun paling tidak dokter bedah akan mengintruksikan susternya untuk membuka atau melepas perangkat itu tahap demi tahap seiring dengan perhitungan masa mobilisasi ini. Untuk operasi di daerah kepala, seperti trepanasi, operasi terhadap tulang wajah, kasus THT, mata dan lain-lain, setelah sadar baik, sudah harus bisa menggerakkan bagian badan lainnya.
Akan diperhatikan masalah jalan nafas dan kemampuan mengkonsumsi makanan jika daerah operasinya di sekitar rongga mulut, hidung dan leher. Terhadap operasi yang dikerjakan di daerah dada, perhatian utama pada pemulihan terhadap kemampuan otot-otot dada untuk tetap menjamin pergerakan menghirup dan mengeluarkan nafas. Untuk operasi di perut, jika tidak ada perangkat tambahan yang menyertai pasca operasi, tidak ada alasan untuk berlama-lama berbaring di tempat tidur. Perlu diperhatikan kapan diit makanan mulai diberikan, terutama untuk jenis operasi yang menyentuh saluran pencernaan.
Yang luka operasinya berada di areal punggung, misalnya pada pemasangan fiksasi pada tulang belakang, kemampuan untuk duduk sedini mungkin akan menjadi target dokter bedahnya. Sedangkan operasi yang melibatkan saluran kemih dengan pemasangan cateter dan atau pipa drainage sudah akan memberikan keleluasaan untuk bergerak sejak dua kali 24 jam pasca operasi. Apalagi operasi yang hanya memperbaiki anggota gerak, seperti operasi patah tulang, sudah menjadi kewajiban pasien untuk menggerakkan otot dan persendian di sekitar areal luka operasinya secepat mungkin.
Sekali lagi, penjelasan di atas diperuntukkan bagi penderita yang menjalani operasi yang memerlukan rawat inap, sudah sadar baik, tidak terganggu keseimbangan cairan dan elektrolitnya dan terlepas dari beban psikis atau subyektifitas rasa nyeri seseorang, beberapa jam pasca operasi. Berbeda dengan pasien yang dirawat di ruang intensif yang memerlukan monitoring ketat. Masa dan cara mobilisasinya tentu sudah diatur dan dikerjakan oleh tenaga medis. Begitu juga sebaliknya, operasi dengan teknik minimal invasif akan memberikan keunggulan dalam hal mobilsasi. Pasien akan bisa lebih cepat dan leluasa bergerak pasca pembedahan.
Jika demikian, bukan menjadi alasan lagi kalau luka operasi akan terhambat sembuhnya bila dibawa beraktifitas biasa. Dan siapa bilang pasca operasi tidak boleh bergerak…? |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 11:26 am | |
| TUJUAN PEMBEDAHAN November 28th, 2009 | Author: eka-kusmawan - SpesialisBedah.com Tahukah anda bahwa pembedahan itu memiliki tujuan yang berbeda-beda. Pada satu tahap pembedahan pasti memiliki satu tujuan yang harus dicapai;
Kuratif. Pada umumnya tujuan inilah menjadi harapan banyak pasien yang menjalani operasi. Dengan banyak pengorbanan, baik fisik, mental serta material dan dengan terpaksa menghadapi satu tindakan yang mungkin sebelumnya belum pernah dibayangkan, mereka pastilah berharap hanya satu kali ini saja menanggung beban tersebut untuk selanjutnya bebas dari penyakit atau kelainan yang diderita. Habis operasi permasalahan selesai, begitu kira-kira hasil akhir yang diharapkan dari pelaksanaan operasi ini. Biasanya berhubungan dengan pengangkatan bagian tubuh yang tidak normal, rusak atau benda asing yang tersangkut di dalam tubuh pasien, misalnya operasi pengangkatan usus buntu, pengangkatan tumor jinak, pengambilan batu saluran kemih, mengeluarkan gumpalan darah, mengeluarkan material logam yang tertusuk ke dalam tubuh, memotong penyakit ambeyen dan lain-lain.
Diagnostik. Tidak selamanya operasi itu bertujuan untuk menyembuhkan. Bahwa ada kondisi tertentu dalam tahap mengetahui suatu penyakit yang kurang jelas, seseorang pasien diharuskan menjalani operasi. Dengan kata lain, operasi yang dilakukan bertujuan untuk menegakkan diagnose penyakit. Lebih banyak operasi biopsi termasuk dalam tujuan ini. Selain itu operasi explorasi, seperti explorasi laparotomi (memeriksa rongga perut) termasuk juga untuk mencari tahu keadaan yang sebenarnya dengan membuka bagian tubuh dan melihat langsung kelainan yang terjadi. Disebut pula inilah nilai diagnostik tertinggi dibandingkan dengan pemeriksaan penunjang lainnya.
Penyelamatan nyawa (life saving). Merupakan operasi yang bertujuan untuk menyelamatkan nyawa seorang pasien tanpa mempertimbangkan hal lain, bahkan bila perlu dengan mengorbankan sebagian organ penderita tersebut. Biasanya operasi dengan tujuan ini termasuk golongan operasi emergensi dan melibatkan salah satu dari tiga system fungsi tubuh, yakni jalan nafas, alat pernafasan dan system jantung pembuluh darah (cardiovascular). Maka yang termasuk operasi ini adalah penanganan terhadap kejadian perdarahan hebat, penuntasan terhadap sumbatan jalan nafas dan upaya untuk mengatasi gangguan pada fungsi pernafasan yang melibatkan paru-paru atau ruangan di sekitarnya. Memang keseringan dijumpai pada penanganan kasus trauma, meskipun mungkin juga terjadi pada kasus lainnya, seperti operasi amputasi untuk menghindari penyebaran infeksi atau penyebaran tumor ganas.
Refungsi. Pengembalian fungsi system organ akibat kerusakan atau penyakit menjadi tujuan utama, entah dilakukan secara emergensi ataupun secara berencana. Kelainan tersebut misalnya seperti sumbatan pada saluran pencernaan, saluran kencing, gangguan fungsi penglihatan, fungsi pendengaran dan lain-lain. Pada penanganan emergensi terhadap sumbatan total saluran cerna dapat dilakukan aliran pintas sehingga pembuangan tidak terganggu. Begitu juga bisa terjadi pada saluran kencing.
Preventif. Operasi bertujuan untuk mencegah terjadi sesuatu yang lebih buruk atau kambuh kembali akibat gangguan sebelumnya. Operasi hernia dengan pemasangan mash untuk memperkuat lapisan penutup, bertujuan memperkecil resiko akan kekambuhannya kembali. Pemasangan stand pada pembuluh darah yang menuju jantung atau stand pada saluran ureter mencegah terjadinya sumbatan kembali. Begitu juga pemasangan saluran yang mengaliri cairan dalam otak menuju rongga perut (vp-shunting) akan mencegah terjadinya hydrochepalus (penumpukan cairan dalam otak). Contoh lain pada pembuatan bypass di saluran cerna bagian atas pada operasi tumor pancreas, berfungsi untuk mencegah aliran balik makanan ke bagian atas.
Rekontruksi. Merupakan operasi yang bertujuan untuk memperbaiki struktur tubuh yang mengalami kerusakan atau yang mengalami kelainan bentuk (malformasi). Pada umumnya operasi ini melibatkan system penyanggah tubuh seperti kelainan pada tulang dan otot. Bisa kelainannya terbentuk sejak lahir namun bisa juga akibat kerusakan pasca trauma. Rekontruksi juga diterapkan pada pengembalian bentuk, setelah operasi yang terpaksan harus dilakukan sebelumnya, misalnya menutup defek akibat pengangkatan suatu tumor ganas. Operasi untuk membuat lobang dubur pada anak yang duburnya tidak terbentuk sejak lahir bisa juga dimasukkan sebagai kelompok operasi rekontruksi.
Estetika. Operasi dengan tujuan untuk memperbaiki penampilan demi kecantikan atau ketampanan seseorang digolongkan sebagai pembedahan estetik. Pembedahan yang saat ini laris diminati sekalipun dengan biaya mahal dan memang lebih mudah dilihat hasilnya serta dapat membawa kepuasan tersendiri. Dokter bedah pun semakin banyak yang mendalami ketrampilan ini yang terbentuk dalam kelompok profesi bedah plastik atau bedah estetik. Tergolong operasi jenis ini misalnya pembedahan untuk memancungkan hidung, memperlebar kelopak mata, mengencangkan kulit, menghilangkan tumpukan lemak dan masih banyak lagi.
Meskipun ada berbagai tujuan operasi seperti yang disebutkan di atas, namun dalam aplikasinya tidak menutup kemungkinan satu tahap pembedahan bisa mencakup lebih dari satu tujuan. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 11:30 am | |
| KAPAN PULANG DARI RUMAH SAKIT? March 3rd, 2010 | Author: eka-kusmawan- SpesialisBedah.com Sudah menjadi pertanyaan umum kebanyakan pasien yang dirawat di rumah sakit, “kapan saya boleh pulang dok..?”. Bagaimana pun nyamannya di rumah sakit, kalau dirawat dan mondok berlama-lama tentu membuat si sakit jadi bosan, jenuh dan menjadi tidak nyaman lagi. Tidak nyaman bukan saja dari keadaan psikis, melainkan juga dari sisi keuangan, ketergantungan akan bantuan orang lain -setidaknya untuk menemani di kamar- dan tanpa disadari akan mengurangi waktu produktif baik si pasien maupun orang terdekatnya.
Masalah lain yang juga merugikan kalau pasien dirawat berkelamaan di rumah sakit adalah merepotkan kerabat untuk membesuk. Hal ini memang tidak terlepas dari adat ketimuran kita, yang selalu ingin menunjukkan rasa empati dengan mengunjungi seseorang keluarga, sahabat atau kolega yang sedang dirawat di rumah sakit.
Lalu apa pertimbangan dokter untuk menahan atau memulangkan pasien dari status rawat inap? Perimbangannya ada beberapa. Yang pertama adalah kondisi fisik penderita secara umum. Ini menyangkut fungsi pernafasan, keadaan system peredaran darah dan suhu tubuh. Secara obyektif bisa diukur dari frekwensi nafas, tekanan darah, denyut nadi dan pengukuran suhu dengan thermometer. Bisa penderita merasakan baik-baik saja, tapi dari pengukuran pengukuran di atas didapatkan nilai yang meragukan, misalnya ternyata nafasnya sesak, tekanan darahnya masih rendah, denyut nadinya terlalu cepat dan panas badannya selalu di atas 38 derajat.
Untuk pasien yang dalam kondisi stabil, dengan nilai tanda vital (frekwensi nafas, tekanan darah, frekwensi denyut nadi dan temperature) masih dalam batas normal, belum tentu akan dipulangkan kalau tetap terganggu oleh keluhan. Keluhan tersebut dapat berupa rasa pusing, badan lemas, mual, muntah, diare atau rasa nyeri. Dan rasa sakit ini yang paling beresiko dikeluhkan oleh pasien pasca menjalani pembedahan.Walapun infus telah dilepas dan kondisi umum baik, tapi ketika penderita pasca operasi section cesaria berkata “…dok, kok perut saya terasa tak nyaman. Saya belum bisa buang angin sejak selasai operasi..” bisa akan menjadi pertimbangan penting sang dokter untuk tidak segera memulangkan pasien ini.
Ketepatan dosis obat dan hasil pemeriksaan lab merupakan pertimbangan lainnya. Pemberian obat injeksi terutama golongan antibiotika yang belum optimal dapat menghambat permintaan pasien untuk pulang dari rumah sakit. Misalkan juga pemberian khemotherapi dengan dosis tertentu. Bagi beberapa dokter dengan keahlian yang berbeda, tidak menutup kemungkinan patokan terhadap hasil laboratorium dapat menjadi pertimbangan utama. Pada penderita gagal ginjal yang menjalani cuci darah baik sebelum maupun setelah pembedahan, hasil nilai laboratorium fungsi ginjal dijadikan sebagai indikator keberhasilan. Contoh lain, seorang dokter ahli Penyakit Dalam akan berpedoman pada hasil pemeriksaan tombosit dan hematokrit darah untuk memantau perkembangan pasiennya yang dirawat karena penyakit demam berdarah.
Terutama untuk pasien bedah yang memerlukan perawatan luka khusus, menentukan juga apakah pasien tersebut bisa dipulangkan ataukah tetap memerlukan perawatan di rumah sakit. Pasien yang baru beberapa hari menjalani operasi dan di lukanya masih terpasang drain tentu dibutuhkan waktu yang tepat untuk melepaskan drain tersebut. Apalagi luka yang memerlukan evaluasi tiap hari, akan ada fase tertentu dimana lukanya dinilai sudah bisa dikerjakan secara rawat jalan. Atau bisa juga perawatan luka itu dijalankan dengan kunjungan rumah oleh petugas kesehatan. Dan sejak itulah pernderita sudah diijinkan untuk beralih menjadi pasien rawat jalan.
Di samping pertimbangan tersebut, pada keadaan tertentu pasien ‘terpaksa’ dikeluarkan dari rumah sakit dengan tujuan untuk mendapatkan pelayanan yang lebih baik yang belum dimiliki oleh rumah sakit bersangkutan. Mekanisme ini disebut juga rujukan. Jadi pasien yang memerlukan penanganan yang lebih -baik dari tenaga dokter maupun fasilitas penunjang- mengharuskan sang dokter dari satu rumah sakit mengirim atau merujuk pasiennya ke rumah sakit lainnya (rumah sakit rujukan).
Di luar pertimbangan medis, beberapa hal mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan. Seorang dokter untuk menahan atau memperbolehkan pulang pasiennya dari ruang rawat inap rumah sakit. Seorang ibu yang baru melahirkan dan mendapatkan bayinya dalam keadaan sakit yang mesti dirawat, mau tidak mau sang ibu pun sebaiknya tidak meninggalkan rumah sakit. Contoh lain, misalnya atas permintaan pasien yang sedang menunggu jaminan asuransinya sedang diproses, meminta agar dokter tidak memulangkan pasien tersebut.
Begitu sebaliknya, dengan alasan biaya, ingin pindah rumah sakit atau alasan lain, seorang pasien yang seharusnya belum diijinkan oleh sang dokter harus terpaksa pulang pada waktu yang belum saatnya boleh pulang. Memang dilemma, namun keduanya memiliki nilai kemanusiaan. Kejadian ini diistilahkan dengan “pulang Paksa”. Pulang paksa merupakan hak pasien dan sebelum memutuskan hal tersebut seharusnya pasien dan kelurga telah mendapatkan penjelasan tentang resiko yang mungkin terjadi jika si penderita dipaksa pulang. Dan untuk ini pihak rumah sakit biasanya memiliki blangko khusus yang diisi dan ditandatangani oleh pihak pasein sebagai tanda bukti bahwa menolak perawatan di rumah sakit tersebut memang atas kemauan pasien atau keluaganya sendiri. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Ilmu Bedah Tue Mar 01, 2011 11:37 am | |
| AHLI BEDAH IBARAT TUKANG BENGKEL September 11th, 2009 | Author: eka-kusmawan - SpesialisBedah.com Tahukah anda, mengerjakan operasi di tubuh manusia itu ibaratnya seperti memperbaiki kendaraan yang rusak? Apa itu terbatas hanya pada body saja, bagian interiornya, mesin penggerak atau di bagian vital lainnya. Disamping memerlukan ketrampilan tangan, juga harus dibantu dengan peralatan tertentu untuk mempermudah pengambilannya. Ada macam-macam instrumen bedah, seperti gunting, pinset, klem, retractor, pisau dan lain-lain yang kalau ingin disingkatkan, cuma ada 4 fungsi utamanya; menoreh, memotong, membuka dan memegang.
Dan bicara soal bedah, bagi kebanyakan orang akan dapat mempertanyakan beberapa hal, yang nantinya bisa juga digunakan untuk klasifikasi menurut apa yang dikerjakan, mengancam atau tidak, cara pengerjaan dan di bagian tubuh mana operasi itu dijalankan. Maka dikenallah pembedahan ringan atau berat, bedah emergensi atau berencana, bedah tertutup dan bedah terbuka, serta bedah sesuai dengan subbidang sistem organ, ada bedah orthopedi yang mengurusi tulang, bedah urologi yang menangani organ saluran kemih, bedah jantung dan seterusnya. Begitulah kebanyakan orang mengenal apa itu pembedahan. Namun jika dibahasakan secara awam, segala upaya pada tindakan bedah itu memiliki tujuan yang bisa dikatagorikan sebagai berikut;
Memotong. Tindakan itulah yang umumnya dikatakan orang. Ada juga yang mengistilahkan dengan kata ‘mengangkat’. Pengerjaan utama ini menjadi tujuan pokok dalam tindakan bedah. Padahal mungkin saja diawali atau disertai dengan jenis tindakan lainnya. Umumnya untuk operasi tumor, istilah pengerjaan ini lebih tepat digunakan. Bisa juga dilakukan dengan tujuan mengangkat benda asing dalam tubuh, mengangkat jaringan yang telah rusak dan menghilangkan bentukan yang tidak normal pada tubuh.
Mengalirkan. Tentu yang dialirkan adalah sesuatu yang tersumbat dan penumpukannya bisa menimbulkan masalah. Misalnya mengalirkan nanah pada kejadian abses atau bisul, mengalirkan air kencing pada kasus sumbatan di salurannya, mengalirkan isi usus yang bagian hilirnya tertutup total, mengalirkan udara yang terjerembab di ruang dada pada bagian luar paru dan lain-lain.
Menyambung. Mengembalikan sesuatu yang terputus atau nyaris terlepas. Seperti penyambungan pembuluh darah, saluran kencing, usus dan dapat pula dimaksudkan tujuan ini untuk mengembalikan bentukan tulang yang telah patah. Akan lebih jelas lagi contohnya pada upaya menyambung jari yang telah mengalami luka putus (amputatum).
Menutup. Tujuan ini sepertinya sudah jelas dapat dibayangkan. Menjahit suatu luka terbuka merupakan kasus yang paling sering didapat. Menutup suatu celah juga termasuk tujuan pada operasi hernia, kebocoran usus atau organ berongga lainnya, termasuk pengerjaan menutup pembuluh darah agar tidak ada aliran darah lagi yang berarti juga mencegah perdarahan lebih lanjut.
Menyisipkan bahan. Ada banyak operasi untuk bisa dijadikan contoh pada jenis upaya pembedahan ini terutama untuk tindakan minimal invasive, misalnya penyisipan stant pada bedah jantung atau stant yang dipasang di saluran kencing. Paling jelas kelihatan pada pembedahan menangani patah tulang yang dipasang internal fiksasi seperti plate dan screw di bagian fragmen tulang yang mengalami patah tersebut.
Melepaskan. Dikerjakan pada kasus perlengketan yang umumnya terjadi setelah sesuatu organ mengalami proses peradangan sehingga menyebabkan perlengketan pada jaringan lunak di sekitarnya. Lebih sering terdengar terjadi perlengketan usus di dinding perut, perlengketan organ paru pada dinding dada sehingga mengakibatkan paru tidak bisa mengembang. Atau mungkin saja perlengketan benda asing yang tertanam di dalam tubuh, yang sebelumnya entah sengaja dipasang ataupun sebagai akibat suatu kecelakaan.
Membersihkan. Jelas ditujukan untuk menghindari tubuh dari proses infeksi yang diakibatkan karena kotor dari material di luar tubuh, kotor karena produk tubuh yang harus dibuang dan kotor karena sebagai jaringan tubuh telah rusak atau mati.
Melekatkan. Tujuan tindakan ini pada umumnya untuk menghindari terbentuknya ruang kosong yang nantinya mudah terisi oleh cairan atau bagian jaringan lainnya yang merugikan bahkan merusak tubuh. Dilakukan juga sengaja untuk mengurangi keluhan, misalnya melekatkan atau mematikan sendi lutut guna mengatasi nyeri yang menyiksa berkepanjangan.
Memperbaiki bentuk. Kebanyakan tujuan operasi ini didapatkan pada pembedahan kosmetik atau bedah plastik . Bisa membuat yang besar menjadi lebih kecil, yang tumpul mejadi runcing, yang pendek bisa menjadi lebih panjang, yang kendur agar menjadi lebih kencang dan lain sebaginya.
Kesemua jenis tindakan pembedahan itu justru jarang menjadi tujuan satu satunya (single purpose). Lebih banyak satu proses operasi akan melewati beberapa tahap tadi, sehingga pembedahan itu sendiri merupakan rangkaian permainan atau lebih tepatnya ketrampilan tangan seorang operator, untuk mendapatkan tujuan akhir operasi, yakni penderita bisa pulih secara anatomis dan fungsional sesempurna mungkin serta terbebas dari beban fisik maupun psikis…. |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |