Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Ilmu Bedah

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : 1, 2, 3 ... 10, 11, 12  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Ilmu Bedah   Fri Dec 18, 2009 8:28 am

KUNJUNGAN PRA OPERASI
Dilakukan oleh dokter ahli anestesi ( ahli bius ).
Bertujuan untuk memeriksa persiapan terakhir sebelum operasi ( re check ), apakah semua prosedur standar telah dilakukan sesuai dengan kondisi pasien. Selain itu untuk memeriksa kondisi fisik dan psikologis pasien sebelum menjalani operasi, apakah ada perubahan perubahan yang dapat menimbulkan komplikasi seperti tekanan darah meningkat, suhu tubuh naik, dll.
Pendekatan psikologis penting untuk mengurangi rasa cemas ( anxietas ), terutama pada pasien yang emosional.

Berdasarkan penelitian, pendekatan yang baik terhadap pasien akan sangat menurunkan keluhan yang dapat terjadi pasca operasi seperti rasa nyeri dan mual mual ataupun muntah muntah. Bila masih terdapat kekurangan, dokter akan melengkapinya dengan pemeriksaan laboratorium, konsultasi, dan lainnya. Biasanya bila ada masalah yang serius, dokter bedah akan mendiskusikannya lebih dalam dengan dokter anestesi.

Dalam kunjungan pra operasi juga dilakukan wawancara dengan pasien atau keluarganya.
Biasanya wawancara akan berisi seputar riwayat penyakit yang pernah atau sedang dialami, riwayat operasi yang pernah dialami beserta komplikasinya, reaksi allergi terhadap obat obatan serta kebiasaan pasien seperti merokok, minum alkohol, obat penenang atau narkotika.

Pemeriksaan lain terkait dengan kunjungan pra operasi adalah pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan apakah inform consent telah ditanda tangani oleh pasien atau keluarga. Pemeriksaan fisik antara lain ditekankan pada keadaan umum pasien, bentuk tubuh ( seperti obesitas ), sistim pernafasan atau sistim persyarafan. Sementara pemeriksaan laboratorium terdiri dari pemeriksaan rutin seperti darah, urine serta fungsi fungsi perdarahan dan pembekuan. Sedangkan pemeriksaan laboratorium khusus dilkakukan bila ada indikasi.

Bila pemeriksaan diatas telah dilakukan maka dokter anestesi akan merencanakan tehnik dan obat obatan anestesi yang sesuai dengan kondisi fisik pasien, lama puasa, premedikasi dan sedasi. Hal ini bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi yang mungkin terjadi, sekaligus menentukan prognosis, misalnya pasien dengan asma bronkhial atau kelainan paru paru kronis sebaiknya dilakukan dengan anestesia regional bila memungkinkan dan menghindari obat obat yang dapat mempengaruhi sistim pernafasan. Sementara puasa bertujuan untuk menghindari terjadinya aspirasi pneumonia yang disebabkan muntahan berupa isi lambung yang masuk ke paru paru yang keasamannya dapat merusak jaringan paru ( pneumonia aspirasi ).

Semua tehnik anestesi mempunyai resiko.
Komplikasi dapat terjadi dari yang ringan sampai berat.
Meskipun jarang tetapi pneumonia aspirasi dapat terjadi, terutama pada operasi yang dilakukan secara emergensi.

Dengan kemajuan ilmu kedokteran, perkembangan tehnik dan obat obatan anestesia, ditambah fasilitas sistim alarm dan monitoring serta ditunjang dengan tenaga dokter dan paramedis yang berpengalaman maka anestesia atau pembiusan adalah suatu prosedur yang cukup aman.

Sumber: Health First vol 8 Okt - Des 2009


Last edited by gitahafas on Wed Jun 02, 2010 8:15 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Fri Jan 15, 2010 11:27 am

PERSIAPAN SEBELUM KE KAMAR OPERASI
Rabu, 25/08/2010 09:21 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Menunggu saat untuk dioperasi butuh persiapan fisik dan mental agar tidak gelisah. Persiapan yang baik juga dapat mencegah komplikasi yang muncul sebagai risiko di setiap prosedur pembedahan. Adanya luka dalam setiap pembedahan membuka peluang bagi bakteri atau mikroba lain untuk masuk dan menyebabkan infeksi. Begitupun setelah dijahit, pasien masih harus berhadapan dengan banyak faktor yang mempengaruhi proses penyembuhan luka. Berikut ini beberapa tips untuk mencegah infeksi serta mempercepat proses penyembuhan luka, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (24/8/2010).

1. Apabila memungkinkan, lakukan olahraga ringan beberapa hari sebelum menjalani operasi.
Dalam kondisi bugar, jantung dan paru-paru akan lebih mudah menyalurkan oksigen ke jaringan sehingga proses penyembuhan luka bisa lebih cepat.

2. Hentikan penggunaan obat-obat antipenggumpalan darah seperti warfarin, konsultasikan dengan dokter jika sedang dalam masa pengobatan.

3. Perbanyak minum air putih, kira-kira 2 liter perhari selama beberapa minggu sebelum operasi.
Jangan sampai tubuh mengalami dehidrasi, sebab distribusi oksigen ke jaringan akan terhambat sehingga penyembuhan luka menjadi lebih lama.

4. Apabila akan menjalani operasi besar, pastikan dokter atau perawat mengukur kadar cairan tubuh karena dehidrasi bisa terjadi tanpa didahului tanda-tanda tertentu.

5. Patuhi jika ada anjuran untuk berpuasa beberapa jam sebelum operasi.

6. Sebelum menjalani operasi, gunakan sabun antiseptik untuk mandi.
Tujuannya untuk mengurangi risiko infeksi oleh bakteri jahat yang menempel di tubuh.

7. Jika merasa gelisah, mintalah dokter untuk menjelaskan prosedur yang akan
dijalankan dan berapa lama waktu yang dibutuhkan.

8. Tanyakan juga kemungkinan efek yang akan terjadi selama masa pemulihan, supaya bisa ikut mengamati sendiri apabila ada yang tidak normal setelah operasi.

9. Jangan menerima karangan bunga di ruang perawatan, karena akan menarik debu yang susah dibersihkan.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 14, 2010 4:23 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Fri Jan 15, 2010 1:26 pm

GUNTING DAN LAP TERTINGGAL DALAM PERUT
Senin, 31 Mei 2010 | 09:48 WIB
GLASGOW, KOMPAS.com - Tindakan pembedahan atau operasi kerap menimbulkan risiko bagi pasien. Kelalaian para ahli bedah dalam menjalankan tugasnya bisa mengancam pasien kapan saja, seperti yang dilaporkan Dewan Kesehatan di Skotlandia belum lama ini. NHS Greater Glasgow and Clyde seperti dilansir AP Senin (31/5/2010) menyebutkan, para dokter dan perawat kerap tidak sadar telah meninggalkan beragam jenis benda dan alat kesehatan dalam tubuh pasien setelah operasi. Benda-benda seperti gunting, jarum suntik, kain, atau pecahan tulang akibat bor kerap ditemukan di dalam tubuh pasien pascaoperasi. Dan yang lebih mengerikan, beberapa pasien ini juga secara tidak sengaja tertusuk organnya saat menjalani pembedahan. Menurut data NHS Greater Glasgow and Clyde, ada sekitar 12 barang yang ditemukan tertanam pada tubuh pasien pascaoperasi sejak Januari 2008. Enam pasien di antaranya kedapatan tubuhnya masih menyimpan kain atau lap yang ditinggalkan dokter atau perawat. Akibat kelalaian itu, tidak ada pasien yang dilaporkan meninggal. Tetapi tiga pasien di antaranya mengalami sakit. Dewan itu menyatakan, sistem dan prosedur ketat yang selama ini ditegakkan terbukti tidak selalu berjalan sebagaimana mestinya. Tindakan kelalaian itu dilaporkan terjadi di sejumlah rumah sakit seperti Glasgow Royal Infirmary, Southern General Hospital, Stobhill Hospital, Victoria Infirmary dan Royal Hospital for Sick Children.

USAI OPERASI, SPON TERTINGGAL DIDALAM TUBUH PEREMPUAN INI SELAMA PULUHAN TAHUN
Republika – Sen, 1 Agu 2011
REPUBLIKA.CO.ID, SYUDNEY-- Seorang perempuan Australia yang hidup selama lebih dari 15 tahun dengan spon operasi sebesar buah anggur terjahit di dalam tubuhnya. Spon itu berada di dalam tubuh setelah ia menjalani operasi perut. Si perempuan akan menuntut dokternya karena bertindak ceroboh, demikian satu laporan pada Senin. Helen O'Hagan menyatakan spon itu tertinggal di dalam rongga perutnya oleh ahli bedah Samuel Sakker selama operasi kolektomi -- operasi penganggkatan semua atau sebagian usus besar, demikian laporan Sydney Morning Herald. Ia menderita kram, demam dan kehilangan kendali perut dan baru mengetahui keberadaan spon itu setelah menjalani pemeriksaan sinar-X pada Oktober 2007. Selama masa itu, spon tersebut "terbungkus dan melekat di dalam kantung cairan", kata Morning Herald. O'Hagan memperoleh hak untuk menuntut Sakker karena bertindak ceroboh dan pelanggaran kontrak sehubungan dengan kejadian itu, kendati dokter yang kini sudah pensiun tersebut meminta kasus itu ditolak sebab sudah terlalu lama baru perempuan tersebut melakukan tindakan hukum. Hakim Leonard Levy menerima pendapat bahwa O'Hagan telah dirongrong masalah kesehatan dalam waktu lama, telah dirawat di rumah sakit sebanyak 23 kali sejak 1970, sehingga ia mulanya tak mencari jawaban mengenai bagaimana spon bisa "bermukim" di dalam tubuhnya. Penundaan tuntutan terjadi sebab kenyataan bahwa ahli bedah yang mengangkat spon itu ditempatkan di beberapa negara bagian selama tiga tahun berikutnya dan baru Mei lalu memberitahu O'Hagan bahwa benda tersebut telah ditinggalkan oleh Sakker.


Last edited by gitahafas on Sun Aug 21, 2011 11:33 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Fri Jan 15, 2010 3:54 pm

TERTINGGAL DI PERUT
Kamis, 18 Februari 2010 | 17:51 WIB
IVANCICE, KOMPAS.com - Seorang staf medis di Republik Ceko dikenakan tindakan indisipliner setelah satu alat bedah sepanjang satu kaki ditemukan di dalam perut seorang perempuan yang dioperasi lima bulan lalu. Pasien tersebut, Zdenka Kopeckova (66), berulangkali mengeluh menderita sakit perut parah setelah operasi gynaekologi di satu rumah sakit sakit di kota Ivancice, bagian tenggara negeri itu. "Saya mengatakan tak ada orang yang menolong saya dan saya tak tak dapat hidup seperi ini sampai akhir hayat saya. Saya akan meminum pil, menenggak segelas alkohol dan gantung diri," kata perempuan tersebut, setelah alat mirip kape ditemukan satu pekan lalu dan berhasil dikeluarkan. Kopeckova akan menuntut ganti rugi atas kekhilafan tersebut dan menyatakan staf rumah sakit mulanya berusaha menutup-tutupi kesalahan itu. "Tidak ada yang dapat mereka lakukan selain menyarankan Kopeckova meminum penghilang rasa sakit," katanya staf tersebut.

"Saya memberi tahu kepala dokter bedah bahwa seandainya saya tak merasa sakit, saya takkan mengeluh. Saya bukan seorang hypochondria," katanya.
Kopeckova sempat meminta pemeriksaan dengan sinar-X, namun pihak rumah sakit menolak. Alasannya, radiasi dari sinar X bisa membahayakan kesehatan.
Hypochondriasis atau hypochondria, yang seringkali dirujuk sebagai fobi kesehatan, ini istilah untuk merujuk kepada orang yang memiliki rasa khawatir yang berlebihan terhadap penyakitnya.

Direktur Rumah Sakit Ivancice, Jaromir Hruber mengatakan prosedur operasi mestinya telah dilakukan oleh staf medis dan seorang staf rumah sakit yang tak disebutkan jatidirinya. Namun, dia mengatakan paramedis yang terlibat dalam operasi bedah Kopeckova akan dikenakan tindakan indisipliner. "Prosedur medis di Ivancice kelihatannya sempurna jika dilihat sepintas. Ada dokumentasi dan daftar alat yang digunakan, tapi orang yang melakukan pemeriksaan, tak melaporkan ada benda yang hilang," kata Hrubes.


Last edited by gitahafas on Thu Jul 08, 2010 9:20 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Thu Jan 21, 2010 5:40 am

USAI OPERASI, BANYAK BENDA TERTINGGAL DI PERUT
Rabu, 17 November 2010 | 10:56 WIB
Kompas.com - Karena kelalaian dokter bedah, tiap tahunnya cukup banyak terjadi kasus tertinggalnya instrumen operasi dalam perut pasien. Dalam sebuah penelitian di Amerika Serikat, kasus paling banyak terjadi pada bedah ginekologi (kandungan). Dari analisa terhadap lebih dari 1,9 juta data kasus operasi pada anak-anak di rumah sakit di AS antara tahun 1998 hingga 2005 ditemukan 413 kasus tertinggalnya benda asing di tubuh pasien, yang berarti kemungkinannya adalah 0,02 persen pada tiap operasi.

Kebanyakan error tersebut, 21,5 persen atau 0,13 per 1000 pasien bedah gastrointestinal (pencernaan). Namun angka paling tinggi adalah pada kasus bedah ginekologi, yakni 0,96 per 1000 pasien. "Remaja berusia kurang dari 18 tahun yang mengalami operasi ginekologi, seperti pengangkatan kista memiliki risiko 4 kali lebih besar dibanding anak yang menjalani operasi lainnya," kata Dr.Fizan Abdullah dari Johns Hopkins Childrens Center, Baltimore, AS.

Hasil penelitian ini menunjukkan beberapa prosedur lebih beresiko dibanding prosedur lainnya. Selain itu, kasus serupa terus terjadi meski telah ada protokol baku di ruang operasi. "Angka kejadian kasus ini cukup signifikan mengingat setiap harinya terdapat ribuan prosedur bedah pada anak-anak," kata Fizan. Ia menambahkan, pada kasus bedah ginekologi, penyebabnya bukan karena dokter bertindak lalai. "Ini sangat berkaitan dengan anatomi tubuh yang dioperasi. Misalnya saja bagian pelvic yang memang sulit dijangkau sehingga beresiko tertinggalnya spons atau benda-benda kecil lainnya," paparnya.

Meski ada benda asing di dalam tubuh, namun menurut Faizan hal itu tidak selalu berakibat kematian. Seringkali pasien harus melakukan operasi ulang untuk mengambil benda asing tersebut dan ini berarti bertambahnya biaya. Faizan menyarankan agar para dokter bedah dan tim perawat melakukan pengecekan dan penghitungan alat-alat operasi yang dipakai, jangan sampai berkurang dan malah tertanam di tubuh pasien.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 14, 2010 3:43 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Thu Jan 21, 2010 5:55 am

ALAT BEDAH DIPASANG SENSOR AGAR TAK TERTINGGAL DALAM TUBUH
Rabu, 06/10/2010 17:05 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Peralatan bedah terutama kain kasa seringkali tertinggal di dalam tubuh pasien. Untuk mengurangi risiko kecelakaan semacam itu, alat bedah akan dipasangi sensor khusus yang memudahkan pengecekan. Sensor tersebut menggunakan frekuensi radio, sehingga mudah dideteksi keberadaannya saat digunakan dalam operasi pembedahan. Dengan demikian, risiko tertinggal di dalam tubuh pasien bisa ditekan.

Teknologi yang digunakan sama seperti microchips pada kalung binatang peliharaan. Namun untuk lebih menjamin keamanan, disarankan untuk mengombinasikannya dengan pengecekan manual dan pemindaian sinar-X. Prosedur ini diharapkan bisa menghindari kecelakaan yang sering terjadi dalam pembedahan. Dalam beberapa kasus, spons atau kasa tertinggal di perut dan menyebabkan nyeri kronis beberapa waktu kemudian. "Setiap benda asing masuk ke tubuh dalam jangka panjang pasti punya risiko infeksi," ungkap Dr Christopher Rupp, dokter bedah dari University of North California (UNC).

Cara kerja sensor ini cukup dengan melewatkan tongkat pendeteksi ke permukaan tubuh pasien. Jika ada alat yang tertinggal di dalam, tongkat itu akan memberikan sinyal tertentu saat melintas di atasnya. Dikutip dari Healthday, Rabu (6/10/10) efektivitas sensor ini telah diuji oleh para ahli di UNC. Saat diuji dalam 1.600 operasi yang telah dilakukan, hasilnya cukup akurat dibandingkan dengan pengecekan secara manual. Hasil pengujian awal ini telah dipresentasikan dalam acara Annual Clinical Congress of the American College of Surgeons yang digelar di Chicago baru-baru ini.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 14, 2010 3:45 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Thu Mar 04, 2010 8:46 pm

MAKAN SEBELUM OPERASI DAPAT MEMPERCEPAT MASA PEMULIHAN
Sabtu, 02/10/2010 11:03 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
London, Lebih dari 100 tahun protokol medis, pasien biasanya tidak diperbolehkan makan setidaknya 12 jam sebelum menjalani operasi. Namun ada pendekatan baru yang mengubah kebiasaan tersebut, makan sebelum operasi justru dapat mempercepat masa pemulihan. Dilansir dari Dailymail, Sabtu (2/10/2010), pendekatan baru ini dipelopori di akhir tahun sembilan puluhan oleh ahli bedah Denmark, Profesor Henrik Kehlet. Menurutnya, protokol medis lama tidak memperbolehkan pasien makan 12 jam sebelum operasi. Selain itu, bila pasien menjalani operasi perut, maka ia pun tidak boleh makan sampai seminggu setelah operasi dan hanya boleh bergerak di tempat tidur selama berminggu-minggu.

Dengan demikian, tidak mengherankan bila pasien sering mengalami penurunan berat badan yang dramatis, khususnya bagi orang yang lemah dan usia lanjut. Bila dibiarkan seperti ini, pasca operasi pasien justru lebih lemah dan rentan terhadap infeksi, sehingga akan memakan waktu laama untuk pemulihan. Bertentangan dengan tradisi konvensional, Prof Kehlet justru merekomendasikan pasien untuk diberi makanan yang kaya karbohidrat seperti kentang dan pasta sampai 6 jam sebelum operasi, serta minuman berenergi tinggi sampai 2 jam sebelum operasi. Selain itu, setelah operasi pun pasien sebaiknya makan sesegera mungkin. Pasien juga hendaknya bangun dan banyak bergerak di hari berikutnya, bukan hanya beristirahat di tempat tidur.

"Bergerak juga merupakan hal yang penting. Tidak bergerak dan hanya tidur di tempat tidur dalam waktu yang lama akan meningkatkan risiko infeksi sehingga dapat memperpanjang penyakit," jelas Prof Kehlet. Prof Kehlet juga mempertanyakan semua prosedur standar dan menyingkirkan semua prosedur bila tidak mendukung penyembuhan dan pemulihan pasien. Menurutnya, alasan utama untuk tidak memperbolehkan pasien makan sebelum operasi adalah risiko kesulitan bernapas karena makanan dari lambung masuk ke paru-paru. Tetapi risiko ini ternyata sangat minimal.

Sebelumnya juga diperkirakan usus benar-benar menutup sampai tujuh hari setelah anestesi umum. Sekarang diketahui kebanyakan pasien memiliki fungsi usus yang memadai untuk mempromosikan makanan dan minuman melalui usus hanya beberapa jam setelah operasi. Pendekatan Prof Kehlet telah diikuti di Inggris sejak tahun 2002, dipelopori oleh seorang ahli bedah kolorektal di Yeovil District Hospital dan St Mark's Hospital. Cara baru yang dinamakan Enhanced Recovery (ER) ini telah diam-diam merevolusi perawatan pra dan pasca operasi untuk pasien. "ER jelas merupakan kisah sukses, namun baru ada 72 rumah sakit di Inggris menggunakan teknik ini," ujar Ian Jenkins, dokter bedah di St Mark's Hospital, London.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 14, 2010 3:49 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Thu Mar 04, 2010 8:53 pm

APA YANG TERJADI JIKA TIBA TIBA TERBANGUN SAAT OPERASI?
Sabtu, 23/10/2010 13:00 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Virginia, Saat operasi, pasien seharusnya dibius agar tidak merasakan sakit atau mendengar suara alat-alat. Tapi apa yang terjadi jika pasien tiba-tiba terbangun saat operasi? Inilah yang dialami oleh Carol Weiher saat melakukan pembedahan pada mata kanannya tahun 1998, ia tiba-tiba terbangun dan setelah itu ia mendengar kalimat 'Potong lebih dalam, tarik lebih keras'. Saat itu ia sangat ingin teriak atau menggerakkan jarinya dan memberi tanda bahwa ia terjaga. Tapi relaksan otot yang diterimanya membuat ia tidak bisa mengendalikan gerakan.

"Saya hanya bisa berdoa, memohon, memaki, berteriak di dalam hati dan berusaha melakukan sesuatu yang bisa saya lakukan. Tapi saya tahu bahwa saya tidak bisa melakukan apa-apa," ujar Weiher yang tinggal di Reston, Virginia, seperti dikutip dari CNN, Sabtu (23/10/2010). Weiher adalah salah satu dari sedikit orang yang mengalami kesadaran anestesi (anesthesia awareness). Meskipun biasanya pasien tidak ingat apa-apa mengenai operasi yang dijalaninya karena diberikan anestesi umum, tapi sekitar 1-2 dari 1.000 orang bisa terbangun saat operasi.

Sebagian besar kasus yang terjadi adalah seperti yang dialami Weiher, yaitu hanya terbangun dan sadar akan lingkungan sekitarnya. Tapi beberapa orang lainnya ada yang mengalami rasa sakit parah hingga nantinya ia memiliki masalah psikologis atau trauma. "Saya berpikir mungkin ada yang salah dengan hidup saya, dan saya merasa seperti di neraka. Saat itu saya hanya ingin berkata pada orang-orang bahwa saya terjaga dan bisa mendengar pembicaraan dan alat-alat operasi tersebut," ungkapnya.

Dokter mengungkapkan anestesi umum yang dilakukan biasanya aman dan tidak membuat pasien terbangun di tengah-tengah operasi. Karenanya dokter akan mengumpulkan riwayat medis pasien terlebih dahulu termasuk kebiasaan konsumsi alkohol dan obat-obatan yang diminum. Hal ini penting untuk menentukan dosis obat anestesi yang tepat.

Seseorang yang mendapatkan anestesi umum akan merasa seperti tidur siang. Selama tidur otak akan berada di dalam kondisi paling aktif, tapi di sisi lain akan menekan aktivitas sistem saraf pusat. Sedangkan obat anestesi yang diberikan akan membuat otak menjadi kurang aktif dan konsumsi oksigen berkurang, sehingga seseorang menjadi tidak sadar diri. "Terbangun ditengah-tengah operasi atau anesthesia awareness kemungkinan berhubungan dengan kesalahan manusia atau peralatan yang digunakan dalam memberi obat anestesi," ujar Dr Alexander Hannenberg, ketua American Society of Anesthesiologists.

Hannenberg mengungkapkan seseorang yang terluka parah, kehilangan banyak darah, pasien dengan fungsi jantung terganggu atau perempuan yang membutuhkan operasi caesar mendadak beresiko mengalami efek samping dari dosis tinggi anestesi yang diberikan. Diperkirakan sekitar 4.000 orang di seluruh dunia memiliki pengalaman terbangun saat operasi (anesthesia awareness). Orang yang memiliki masalah dengan jantung atau paru-paru, konsumsi alkohol setiap hari dan penggunaan jangka panjang obat opiat berisiko mengalami hal tersebut.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 14, 2010 3:50 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Tue Mar 16, 2010 12:38 pm

PASIEN DALAM KONDISI SADAR SAAT JANTUNGNYA DI BEDAH
Selasa, 14/12/2010 11:31 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Bangalore, Operasi jantung tanpa pembiusan total kembali dilakukan, kali ini di Bangalore India. Pasien dalam keadaan sadar sepenuhnya dan masih bisa diajak bercakap-cakap sembari para dokter sibuk mengutak-atik isi rongga dadanya. Pasien yang menjalani operasi tersebut, Bolmax Periera yang merupakan seorang pastor hanya mendapatkan bius lokal agar bagian leher ke bawah mati rasa. Teknik ini disebut injeksi epidural, yakni penyuntikan bius melalui tulang punggung.

Namun Bolmaz tidak pingsan atau hilang kesadaran, bahkan terus diajak bercakap-cakap oleh para dokter selama operasi yang berlangsung di Fortis Hospital, Bangalore tersebut. Selama operasi berlangsung, Bolmax bahkan sempat meminta bantal tambahan untuk mengganjal kepalanya agar lebih nyaman. Dokter sengaja mengajak Bolmax untuk terus bercakap-cakap bukan tanpa alasan apalagi sekedar membunuh rasa bosan. Dokter melakukannya untuk melihat respons otak melalui perangkat canggih yang terhubung dengan beberapa titik pembuluh darah di tubuh Bolmax.

Ini adalah salah satu kelebihan operasi jantung yang dilakukan dalam kondisi pasien sadar, yakni dokter bisa memonitor aktivitas otaknya. Dari situ bisa diketahui jika ada risiko penggumpalan darah di arteri yang terbawa ke otak dan bisa menyebabkan stroke. Jika selama operasi pasien masih lancar berkomunikasi, dokter akan menilai kondisi otaknya tidak ada masalah. Sebaliknya jika ada masalah, maka dokter bisa memanfaatkan gejala itu sebagai peringatan dini untuk segera melakukan tindakan pencegahan agar tidak terjadi stroke.

Bagi pasien sendiri, khususnya Bolmax, teknik operasi yang unik ini justru membuatnya lebih rileks karena bisa mencengarkan apa yang sedang dilakukan para dokter terhadap jantungnya. Ia juga tidak merasa butuh menggunakan earphone seperti saran dokter untuk mengurangi ketegangan. "Rasanya menyenangkan sekali ketika mendengar para dokter mengatakan pada saya 'ini dia jantungmu'. Ketika itu saya menyadari betul dada saya sudah terbelah," ungkap Bolmax seperti dikutip dari Sky.com, Selasa (14/12/2010 (up/ir)



Last edited by gitahafas on Tue Dec 14, 2010 3:54 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Fri May 14, 2010 10:33 pm

ORANG YANG DIBIUS SEBENARNYA TIDAK TIDUR TAPI MIRIP KOMA
Jumat, 31/12/2010 10:31 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
New York, Pasien yang dibius total biasanya terlihat seperti orang yang tidur nyenyak. Tapi peneliti Amerika menuturkan bahwa kondisi tersebut lebih mirip dengan koma dibanding tidur nyenyak. "Anestesi umum adalah koma farmakologis dan bukan tidur," ujar Dr Nicholas Schiff dari Weill Cornell Medical College di New York, seperti dikutip dari Foxnews, Jumat (31/12/2010). Peneliti menuturkan obat anestesi umum lebih mirip dengan obat yang digunakan untuk menginduksi koma. Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine ini berdasarkan studi selama 3 tahun untuk mengetahui persamaan dan perbedaan dari kondisi tidur, anestesi dan koma. Dokter dan pasien menggambarkan anestesi umum seperti layaknya orang yang tidur, padahal yang terjadi adalah ada perbedaan signifikan antara kondisi orang yang tidur dan fase anestesi umum.

Saat tidur biasanya melibatkan beberapa tahapan yang harus dilalui hingga akhirnya seseorang tertidur dengan nyenyak. Sedangkan pada anestesi umum pasien biasanya dibawa hingga ke fase tertentu dan dibiarkan dalam posisi itu selama operasi. Fase ini sangat menyerupai ketika seseorang sedang koma.
"Saat diberikan anestesi umum, otak menjadi sangat sangat tenang dan kegiatan neuron atau saraf dikurangi secara dramatis. Kondisi ini terjadi pada orang yang koma," ujar Dr Shiff. Para ahli anestesi umumnya tahu cara yang aman untuk menjaga pasien tetap berada dalam fase tertentu, tapi kebanyakan tidak akrab dengan mekanisme saraf yang terjadi pada orang koma untuk membantunya mempertahankan hidup.

Pemulihan atau menyadarkan orang yang diberi anestesi umum jauh lebih cepat dari koma. Untuk itu para ahli bisa mempelajari bagaimana cara orang bangun dari anestesi sebagai model untuk memprediksi tahapan dari koma. Diharapkan ada strategi-strategi baru yang bisa dilakukan untuk membantu dokter menyadarkan pasien yang koma.


Last edited by gitahafas on Sat Jan 01, 2011 1:33 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Mon May 31, 2010 9:57 am

PENGGANTI OBAT BIUS, PASIEN DIBEKUKAN SEBELUM OPERASI
Senin, 27/09/2010 11:21 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Massachussets, Di masa mendatang, pasien bedah tidak lagi membutuhkan obat bius. Dokter akan mengganti darahnya dengan cairan pendingin sampai suhu tubuhnya membeku, sehingga selama operasi terhindar dari kerusakan otak dan organ vital lainnya. Dikutip dari Telegraph, Senin (27/9/2010), teknik pembekuan ini dikembangkan oleh Harvard Medical School di Massachusetts dan telah sukses diujikan pada hewan. Uji coba pada manusia untuk pertama kalinya akan segera dilakukan dalam waktu dekat ini.

Dalam prosedur ini, darah pasien diganti dengan cairan pendingin yang secara drastis akan menurunkan suhu tubuh pasien hingga 10 derajat celcius. Pada suhu ini, jaringan tulang, otak dan organ lain aman dari kerusakan meski aliran darah dihentikan sementara. Menariknya, ketika mencapai suhu tubuh serendah itu manusia biasanya sudah tidak bernyawa. Manusia bisa segera mati ketika suhu tubuhnya telah berada di bawah 22 derajat celcius, sementara suhu normal tubuh manusia adalah 37 derajat celcius. Dr Hasan Alam, ahli bedah yang memimpin riset tersebut mengatakan prosedur ini cocok dilakukan untuk kondisi darurat pada korban penembakan, penusukan atau kecelakaan lalu lintas. Dengan membekukan korban, dokter menjadi punya lebih banyak waktu untuk menangani lukanya.

"Jika suhu inti tubuh dan otak diturunkan hingga 10 atau 15 derajat celcius, jaringan akan terlindung dari kerusakan hingga 60 atau bahkan 190 menit berikutnya," ungkap Dr Alam. Meski tubuhnya dibekukan hingga mendekati level kematian, namun pasien dapat dengan mudah dikembalikan ke suhu normal sebelum operasi. Tingkat keberhasilan untuk menghidupkannya kembali dikatakan mencapai 90 persen.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 14, 2010 3:56 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Mon May 31, 2010 9:59 am

PENTINGNYA KENTUT SETELAH OPERASI
Jumat, 09/04/2010 13:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Setelah operasi pasien umumnya tidak boleh makan, minum dan tetap tinggal di rumah sakit sampai pasien tersebut berhasil mengeluarkan gas dari tubuhnya. Kenapa kentut penting setelah operasi? Menunggu sampai kentut kadang menjadi suatu hal yang tidak nyaman bagi beberapa orang terutama bagi kaum perempuan. Tapi buang angin setelah operasi merupakan hal penting yang harus diberitahukan kepada dokter atau suster. Karena hal ini menunjukkan adanya kemajuan dari dalam diri pasien tersebut. Seperti dikutip dari About.Surgery, Jumat (9/4/2010) karena obat bius atau anestesi yang digunakan untuk operasi tidak hanya membuat pasien tertidur dan tidak merasakan apa-apa, tapi juga membuat usus kecil dan besar dari pasien tersebut juga 'tertidur'. Selama operasi usus atau isi perut tertidur dan tidak melakukan gerakan apapun yang melewati sistem pencernaan, maka secara otomatis hal ini menandakan tidak ada gas yang melewatinya.

Setelah operasi selesai dilakukan dan orang tersebut sudah sadar, maka seseorang harus berhasil mengeluarkan gas di dalam tubuhnya terlebih dahulu. Jika gas dalam tubuh sudah berhasil dikeluarkan (sudah kentut) maka hal ini menandakan bahwa bagian isi perut sudah bangun dari tidurnya dan dapat bekerja kembali. Kebanyakan ahli bedah tidak akan mengizinkan pasiennya untuk pulang atau keluar dari rumah sakit jika belum kentut, karena hal itu menandakan sistem pencernaannya belum berfungsi secara normal, kecuali jika ada hal lain yang membuat situasinya berbeda. Jika seseorang yang belum bisa kentut sudah memaksakan diri untuk makan, minum atau keluar dari rumah sakit, dikhawatirkan usus belum mampu bekerja normal sehingga memungkinkan terjadinya penyumbatan saat makanan tersebut melewati usus. Bagi seseorang yang baru selesai melakukan operasi sebaiknya tidak menganggap remeh sebuah kentut, karena ketut bisa menandakan sudah normalnya kembali sistem pencernaan orang tersebut.

MAKANAN YANG PERLU DIHINDARI PASCA OPERASI
Kamis, 11/08/2011 08:13 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Proses operasi atau pembedahan biasanya memerlukan masa pemulihan yang panjang. Beberapa operasi memerlukan diet khusus untuk mempercepat pemulihan dengan menghindari beberapa makanan pasca operasi. Apa saja? Meski ada operasi yang tidak memerlukan diet modifikasi, tetapi beberapa operasi seperti operasi di bagian perut, kantung empedu, gigi dan bariatrik (penurunan berat badan) membutuhkan diet khusus untuk membantu mempercepat penyembuhan, mengurangi rasa sakit dan menjadi terjadinya komplikasi. Berikut beberapa makanan yang perlu dihindari setelah operasi, seperti dilansir Lifemojo Kamis (10/8/2011):

1. Operasi perut
Diet modifikasi setelah operasi perut memungkinkan perut dan saluran pencernaan untuk beristirahat. Washington Hospital Center menunjukkan bahwa Anda harus mengikuti diet rendah residu selama dua minggu setelah operasi. Makanan yang mudah dicerna dan meninggalkan residu kecil dalam usus dapat membantu pemulihan. Hindari makanan tinggi serat, makanan pedas, makanan berminyak, minuman bersoda dan alkohol. Hindari juga makanan yang dapat menyebabkan gas, kram dan diare.

2. Operasi kantung empedu
Kantong empedu membantu untuk mencerna lemak. Tanpa kandung empedu, tubuh harus bekerja lebih keras untuk mencerna lemak. Akibatnya, Anda mungkin mengalami gejala seperti diare atau kembung setelah operasi kantung empedu. Pasien usai operasi kantung empedu perlu menghindari makanan yang tinggi kolesterol, lemak, makanan yang digoreng dan makanan yang disiapkan dalam mentega atau minyak juga harus dihindari. Anda juga harus menghindari makanan olahan termasuk roti putih, kue dadar dan nasi putih. Anda mungkin juga perlu menghindari margarin, mayones dan lemak lainnya.

3. Operasi bariatrik
Operasi bariatrik juga disebut sebagai operasi penurunan berat badan atau operasi bypass lambung. Operasi ini juga memerlukan perubahan dalam diet. Operasi ini membuat perut lebih kecil sehingga makan lebih sedikit. Bypass lambung juga mengubah cara tubuh menyerap makanan, yaitu dengan menyerap lebih sedikit kalori setelah operasi. Untuk 2 sampai 3 minggu pertama setelah operasi, Anda perlu menghindari makanan padat. Diet akan terdiri dari cairan dan makanan bubur. Anda harus menghindari popcorn, kacang-kacangan dan makanan berserat seperti jagung dan seledri, karena dapat menyebabkan ketidaknyamanan di lapisan perut. Ketika makan makanan padat, hindari minum karena cairan akan mengisi perut lebih cepat.

4. Operasi gigi
Operasi mulut sementara dapat mengubah cara Anda makan. Pencabutan gigi, pembedahan rahang atau implan gigi dapat membuat sulit untuk makan makanan tertentu. Sehari setelah operasi gigi, Anda harus diet cair. Selama 2 minggu pertama setelah operasi atau sesuai kebijaksanaan dokter, Anda harus makan makanan lunak, seperti kentang tumbuk atau selai kacang. Anda harus menghindari makanan yang keras dan renyah, seperti kacang-kacangan, biji-bijian, keripik, apel, jagung rebus dan sayuran mentah.


Last edited by gitahafas on Thu Aug 11, 2011 9:43 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Mon May 31, 2010 10:01 am

MUSIK MEMPERCEPAT MASA PEMULIHAN SETELAH OPERASI?
Selasa, 28/12/2010 13:17 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
London, Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa musik bisa meredakan stres dan bahkan rasa nyeri. Kini para peneliti ingin membuktikan seberapa besar manfaatnya dalam mempercepat masa pemulihan setelah operasi. Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan teori yang mengatakan bahwa musik bisa meningkatkan toleransi terhadap rasa nyeri. Selain itu, musik diyakini bisa meningkatkan sistem kekebalan sehingga mengurangi kebutuhan akan konsumsi obat-obatan. Dikutip dari Daily Express, Selasa (28/12/2010), tak kurang dari 120 pasien di Barts and The London NHS Trust di London akan dilibatkan dalam penelitian ini. Para partisipan akan diperdengarkan jenis musik tertentu, sebelum dan sesudah menjalani tindakan medis berupa operasi pembedahan.

Penelitian yang didanai oleh The Public Engagement Foundation ini juga akan memonitor tingkat kegelisahan, tekanan darah serta denyut jantung pasien lalu memandingkannya dengan kelompok pasien yang tidak mendengarkan musik. Menurut teori, musik akan membuat pasien lebih tenang sehingga ritme jantungnya lebih stabil. Kelak jika teori tersebut terbukti, musik bisa dimanfaatkan sebagai terapi penunjang di rumah sakit. Di antaranya untuk ibu-ibu yang melahirkan serta pasien yang menjalani bedah ortopedi, termasuk penggantian sendi lutut dan tulang panggul.

Sebelumnya, sebuah penelitian di Cleveland Clinic telah membuktikan bahwa mendengarkan musik selama 1 jam/hari bisa meredakan nyeri hingga 20 persen pada penderita nyeri punggung. Selain membuat otot menjadi rileks, musik juga menghambat pelepasan hormon stres kortisol. Menurut penelitian tersebut, efeknya lebih optimal jika yang diperdengarkan adalah jenis musik kesukaan. Namun dalam penelitian terbaru di London, para ahli menggunakan jenis musik tertentu yang dibuat secara khusus agar memberikan efek terapetik maksimal.


Last edited by gitahafas on Sat Jan 01, 2011 1:32 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Mon May 31, 2010 10:03 am

AGAR TAK TERJADI KECELAKAAN SAAT KHITAN
Rabu, 29 Juli 2009, 13:46 WIB Petti Lubis, Mutia Nugraheni
VIVAnews - Bagi Anda yang memiliki putra dan sedang merencanakan untuk melakukan khitan padanya, pertimbangkan secara matang sisi keamanan dan kesehatan. Terutama dalam memilih tenaga medis yang akan melakukan khitan. Beberapa waktu ini makin banyak saja kasus kesalahan yang dilakukan pada saat khitan. Salah satunya seperti kasus salah potong alat vital pada 13 Juli 2009, yang dialami Udin (9) di Riau, Kecamatan Belilas, Kabupaten Indragiri Hulu, Riau. Tentunya Anda tidak ingin hal tersebut terjadi pada buah hati Anda. Untuk itu, lebih hati-hati dan selektif dalam memilih tenaga medis untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan.

Khitan, sunat atau sering juga disebut sirkumsisi merupakan tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup depan penis atau preputium. Hal ini bertujuan untuk membersihkannya dari berbagai kotoran penyebab penyakit yang mungkin melekat pada ujung penis yang masih ada preputiumnya.
Menurut dokter Hindra, saat dihubungi VIVAnews melalui telepon cara tersebut merupakan tindakan medis yang harus dilakukan sesuai standar kesehatan yang berdasarkan Undang-undang Kesehatan No: 23 tahun 1992.

Menurut Undang-undang Kesehatan No: 23 tahun 1992,pasal 15 ayat 2 tindakan medis hanya dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai keahlian dan kewenangan untuk itu dan dilakukan sesuai dengan tanggung jawab profesi serta berdasarkan pertimbangan tim ahli. Untuk itu, pilihlah tenaga medis yang menurut Anda memiliki cukup keahlian dan berkredibilitas baik.

Untuk meyakinkan, Anda bisa berkonsultasi dulu dengan dokter. Tanyakan sedetail mungkin terkait dengan keamanan dan resikonya. "Sebelum khitan bisa konsultasi dulu dengan dokter anak atau dokter umum. Untuk tindakannya, akan dilakukan oleh dokter bedah atau dokter umum. Anak juga harus dalam keadaan sehat sebelum dikhitan, untuk memastikannya sebaiknya dilakukan pemeriksaan fisik dan darah," kata dokter Hindra.

"Pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan jantung, paru-paru, hati, tangan, kaki dan beberapa bagian tubuh lain untuk mengetahui kesehatan fisiknya. Sedangkan pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah ada permasalah pada pembekuan darahnya. Jika ada, saat dikhitan anak akan diberikan zat pembeku darah agar tidak terjadi pendarahan hebat," tambah dokter Hindra.

Jika anak demam atau dalam keadaan sakit, sebaiknya ditunda hingga kondisinya benar-benar sehat. Tentunya agar tidak terjadi masalah kesehatan yang nantinya bisa timbul pasca di khitan. Untuk usia, saat masih bayi khitan sudah bisa dilakukan, syaratnya berat bayi minimal 3 kilogram dan dalam keadaan sehat. Menanggapi opini yang beredar kalau anak obesitas akan mengalami masalah jika di khitan, dokter Hindra menepisnya. "Berat badan tidak mempengaruhi, asalkan anak dalam keadaan sehat khitan bisa dilakukan dan tidak menimbulkan efek apa-apa," kata dokter Hindra.

Terkait tindakan medis yang harus dilakukan dalam kasus salah potong saat khitan, dokter Hindra mengungkapkan perlu dilihat per kasus. "Yang terpotong adalah saluran kemih, untuk itu perlu diperiksa oleh dokter yang ahli urologi dan tentunya harus diteliti lagi oleh dokter bedah apakah penis bisa direkonstruksi kembali atau tidak," ujar dokter Hindra. Dokter Hindra juga mengingatkan sebelum dikhitan, pastikan si anak tidur cukup dan tidak dalam keadaan lelah saat dikhitan. Jika ada masalah pasca khitan seperti pendarahan, pembengkakan atau nyeri yang tidak bisa diatasi dengan obat penahan rasa sakit, segera kembali periksa ke dokter.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 14, 2010 3:45 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Ilmu Bedah   Mon May 31, 2010 10:18 am

BALI MILIKI PUSAT PELATIHAN BEDAH
Sabtu, 3 Juli 2010 | 10:11 WIB
Kompas.com - Pusat pelatihan khusus untuk bedah bagi para dokter bedah dan para perawat yang disebut Asian Pacific Surgical Training Center (APSTC) telah dibuka di Bali. Pusat pelatihan ini didirikan oleh B.Braun Medical Indonesia, produsen alat-alat teknologi kesehatan asal Jerman. Pusat pelatihan ini dilengkapi dengan teknologi terbaru dan mutakhir, termasuk peralatan laparascopy pada ruang pelatihan. Teknologi kedokteran, khususnya untuk penanggulangan penyakit jantung koroner, berkembang amat pesat dalam dua dasawarsa terakhir.

Selain bedah bypass jantung dengan mencangkokkan pembuluh darah dari paha untuk menggantikan arteri jantung yang tersumbat, dunia kedokteran terus mengembangkan teknik intervensi koroner yang noninvasif. Teknik paling populer saat ini adalah intervensi koroner perkutan, yaitu tindakan tanpa operasi yang dilakukan untuk melebarkan penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner (angioplasti koroner atau percutaneous transluminal coronary angioplasty/PTCA) yang diawali dengan penggunaan balon beserta tindakan terkait, seperti pengerokan pembuluh darah, pengeboran pembuluh darah (aterektomi), atau pemasangan stent (bidai) dalam pembuluh darah.

Prof. Aryono D. Pusponegoro, Ketua Kolegium Ilmu Bedah Indonesia, mengatakan, “Training center ini sangat membantu kami para dokter bedah di Indonesia dalam memperluas pengetahuan dan meningkatkan kemampuan khususnya prosedur pembedahan minimal invasif," katanya dalam siaran pers. “Adanya pusat pelatihan ini diharapkan dapat mensejajarkan kompetensi para dokter bedah Indonesia dengan para dokter bedah lainnya di negara-negara Asia Pasifik, seperti Malaysia, Vietnam, India, dan sebagainya, dan juga dapat meningkatkan kepercayaan pasien-pasien di Indonesia," kata Manogaran Ayalsamy, Presiden direktur PT.B.Braun Medical Indonesia.


Last edited by gitahafas on Tue Dec 14, 2010 3:41 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile Online
 

Ilmu Bedah

View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 12Goto page : 1, 2, 3 ... 10, 11, 12  Next

 Similar topics

-
» KEBAIKAN MAJLIS ILMU
» Ilmu Bedah
» mengenai ilmu hitam melalui panggilan telefon
» Oksigen dan Ilmu
» Ilmu Rei-ki... Sesat???!!!

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-