|
| | Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll | |
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Mon Aug 22, 2011 7:35 pm | |
| BEDA ALERGI DAN INTOLERANSI MAKANAN Lusia Kus Anna | Senin, 22 Agustus 2011 | 14:31 WIB Kompas.com - Reaksi yang timbul setelah mengasup makanan tertentu adalah hal yang wajar, tetapi kebanyakan disebabkan oleh intoleransi makanan daripada karena alergi. Kendati demikian gejalanya hampir sama sehingga orang sering salah mengidentifikasinya. Alergi terhadap makanan sebetulnya lebih jarang daripada yang diduga, diperkirakan hanya 0,1-5 persen penduduk menderita alergi ini. Alergi makanan terjadi karena reaksi sistem imun yang berpengaruh pada beberapa organ di tubuh. Jika Anda menderita alergi suatu makanan, bahkan setelah dimakan dalam jumlah kecil, reaksinya akan langsung timbul. Jika yang terpengaruh adalah sistem pencernaan, gejalanya bisa berupa rasa mual, muntah atau diare. Bisa juga berupa ruam-ruam atau gatal jika yang terpengaruh adalah kulit. Reaksi alergi yang mengancam jiwa disebut anafilaksis, karena menyebabkan gangguan pernapasan dan membuat tekanan darah sangat rendah. Sementara itu intoleransi makanan biasanya timbul secara bertahap dan tidak melibatkan sistem kekebalan tubuh. Jika Anda hanya menderita intoleransi makanan, Anda masih bisa mengonsumsi makanan tertentu dalam jumlah kecil tanpa Anda reaksi yang timbul. Penderita intoleransi makanan juga bisa melakukan pencegahan reaksi. Misalnya jika Anda menderita intoleransi laktosa, Anda bisa mengonsumsi susu bebas laktosa. Secara umum ada beberapa kondisi yang memicu intolerensi makanan, yakni:
- Ketiadaan enzim tertentu yang diperlukan untuk mencerna suatu makanan secara utuh, misalnya laktosa. - Sindrom iritasi perut. Kondisi ini akan menyebabkan kram, sembelit dan diare. - Keracunan makanan. Toksin seperti bakteri dalam makanan yang rusak bisa meneybabkan gangguan pencernaan yang parah. - Zat tambahan atau pengawet dalam makanan. - Stres berulang atau faktor psikologis. - Penyakit celiac. Orang yang menderita penyakit ini biasanya menderita gangguan pencernaan yang dipicu oleh gluten, protein yang ditemukan dalam roti dan tepung-tepungan. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Mon Aug 29, 2011 4:30 pm | |
| JANGAN ANGGAP REMEH ALLERGI MAKANAN Bramirus Mikail | Lusia Kus Anna | Senin, 29 Agustus 2011 | 13:44 WIB KOMPAS.com - Ada makanan tertentu yang jika terserap ke dalam tubuh melalui pencernaan akan memicu reaksi alergi. Alergi bisa menyerang siapa saja. Reaksinya bisa ringan, namun lama kelamaan bisa memberi efek serius, bahkan mengancam nyawa. Sebuah artikel yang dipublikasikan dalam Journal Pediatrics tahun 2011 menyimpulkan, 8 persen anak-anak Amerika di bawah usia 18 tahun mengalami alergi makanan yang berisiko pada kematian. Menurut American Academy of Asma, antara 150-200 orang Amerika meninggal setiap tahunnya akibat anafilaksis (reaksi alergi akut) Sedangkan pada tahun 2003 hingga 2006, alergi makanan menyebabkan sekitar 317.000 orang harus dirujuk ke bagian gawat darurat di rumah sakit, klinik rawat jalan dan klinik dokter. Berdasarkan hasil analsis, 90 persen reaksi alergi makanan muncul setelah seseorang mengonsumsi, susu, telur, kacang-kacangan, kedelai, gandum, ikan dan kerang. Gejala yang ditimbulkan biasanya meliputi gatal-gatal, bengkak, muntah dan diare. Jika pasien dengan anafilaksis tersebut tidak segera diobati dengan pemberian epinefrin (adrenalin sintetik yang disuntikkan ke dalam tubuh) maka bisa berakibat fatal. Sebagian besar reaksi alergi makanan terjadi secara langsung yaitu beberapa saat setelah mengonsumsi makanan. Reaksi alergi terhadap makanan jarang muncul setelah dua jam makan. Menurut pemaparan Sloane Miller, pakar alergi makanan, ada banyak cara untuk menghindari timbulnya alergi pada makanan:
Pertama, Hindari makanan tertentu yang dapat memicu alergi, dan konsultasikan dengan dokter spesialis alergi untuk memastikan Anda memang menderita alergi atau hanya intolerenasi makanan. Kenali juga jenis makanan yang bisa memicu alergi.
Kedua, Selalu berjaga-jaga dengan membawa obat-obatan yang memang Anda perlukan, misalnya antihistamin atau obat-obatan lain yang diberikan dokter sesuai tingkat keseriusan penyakitnya.
Ketiga, Menjalin hubungan yang kuat dengan kerabat, guru dan keluarga yang dapat membantu Anda ketika dalam keadaan darurat. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Mon Aug 29, 2011 4:57 pm | |
| ALERGI Alergi merujuk pada reaksi berlebihan oleh sistim imun kita sebagai tanggapan pada kontak badan dengan bahan-bahan asing tertentu. Berlebihan karena bahan-bahan asing ini umumnya dipandang oleh tubuh sebagai sessuatu yang tidak membahayakan dan tidak terjadi tanggapan pada orang-orang yang tidak alergi. Tubuh-tubuh dari orang-orang yang alergi mengenali bahan asing itu dan sebagian dari sistim imun diaktifkan. Bahan-bahan alergi disebut "allergens". Contoh-contoh dari allergens termasuk serbuk sari, tungau, jamur-jamur, dan makanan-makanan. Untuk mengerti bahasa alergi adalah sangat penting untuk mengingat bahwa allergens adalah bahan-bahan yang asing terhadap tubuh dan dapat menyebabkan reaksi alergi pada orang-orang tertentu. Ketika allergen bersentuhan dengan tubuh, dia menyebabkan sistim imun untuk mengembangkan reaksi alergi pada orang yang alergi terhadapnya. Ketika anda bereaksi secara tidak sesuai pada alergen yang umumnya tidak berbahaya pada orang-orang lain, anda mempunyai reaksi alergi dan dapat dirujuk sebagai alergi atau atopik. Oleh karananya, orang-orang yang cenderung mendapat alergi disebut alergi atau atopik.
Dokter anak austria bernama Clemens Pirquet (1874-1929) pertamakali menggunakan istilah alergi. Ia merujuk pada kedua imunitas yang menguntungkan dan hipersensitifitas yang berbahaya sebagai alergi. Kata alergi berasal dari kata-kata Greek "allos," yang berarti berbeda atau berubah dan "ergos," berarti bekerja atau beraksi. Alergi secara garis besar dirujuk sebagai "reaksi yang berubah". Kata alergi pertama kali digunakan pada tahun 1905 untuk menggambarkan reaksi-reaksi yang merugikan dari anak-anak yang diberikan suntikan-suntikan berulang dari serum kuda untuk melawan infeksi. Tahun berikutnya, istilah alergi diusulkan untuk menerangkan kereaktifan yang berubah yang tidak diharapkan ini.
Fakta-fakta Alergi - Diperkirakan sekitar 50 juta penduduk Amerika dipengaruhi oleh kondisi-kondisi alergi. - Biaya dari alergi di Amerika adalah lebih dari US$ 10 milyar setiap tahunnya. - Alergi rhinitis (alergi hidung) mempengaruhi sekitar 35 juta penduduk Amerika, 6 juta darinya adalah anak-anak. - Asma mempengaruhi 15 juta penduduk Amerika, 5 juta darinya adalah anak-anak. - Angka dari kasus-kasus asma berlipat ganda selama 20 tahun terakhir.
Sumber: Total Kesehatan Anda.com |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Mon Aug 29, 2011 4:59 pm | |
| PENYEBAB ALERGI Untuk membantu menjawab pertanyaan ini, marilah kita lihat pada beberapa contoh-contoh rumah tangga yang umum. Beberapa bulan setelah kedatangan seekor kucing didalam rumah, ayah mulai mendapat mata-mata yang gatal dan episode-episode dari bersin. Satu dari tiga anak mengembangkan batuk dan mencuit-cuit, terutama ketika kucing itu masuk kedalam kamar tidurnya. Ibu dan kedua anak lainnya tidak mengalami reaksi apa saja terhadap kehadiran kucing.
Bagaimana kita menjelaskan ini ? Sistim imun adalah mekanisme pertahanan yang diorganisir oleh tubuh melawan penyerbu-penyerbu asing, terutama infeksi-infeksi. Pekerjaannya adalah mengenali dan bereaksi terhadap bahan-bahan asing ini, yang disebut antigens. Antigens adalah bahan-bahan yang mampu menyebabkan produksi dari antibodi-antibodi. Antigens mungkin dapat atau tidak dapat menjurus pada reaksi alergi. Allergens adalah antigens tertentu yang menyebabkan reaksi alergi dan produksi dari IgE.
Tujuan dari sistim imun adalah memobilisasi kekuatannya pada tempat penyerangan dan menghancurkan musuh. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan menciptakan protein-protein pelindung yang disebut antibodi-antibodi yang khusus ditujukan melawan bahan-bahan asing tertentu. Antibodi-antibodi ini, atau immunoglobulins (IgG, IgM, IgA, IgD), adalah pelindung dan membantu menghancurkan partikel asing dengan melekatkan dirinya pada permukaannya, dengan begitu membuat mudah sel-sel imun lainnya untuk menghancurkannya. Bagaimanapun orang yang alergi, mengembangkan tipe spesifik dari antibodi yang disebut immunoglobulin E, atau IgE, sebagai tanggapan pada bahan asing tertentu yang umumnya tidak berbahaya, seperti dander kucing. Ringkasannya, immunoglobulins adalah grup dari molekul-molekul protein yang bekerja sebagai antibodi-antibodi.
Ada 5 macam tipe-tipe yang berbeda: IgA, IgM, IgG, IgD, dan IgE. IgE adalah antibodi alergi. Pada contoh binatang kucing, ayah dan anak perempuan termuda mengembangkan antibodi-antibodi IgE dalam jumlah besar yang ditujukan melawan allergen kucing, dander kucing. Ayah dan anak perempuan kini menjadi sensitif atau cenderung untuk mengembangkan reaksi-reaksi alergi pada ekspose yang berikutnya dan berulang pada allergen kucing. Secara khas, ada periode "sensitifitas" yang berkisar dari bulanan sampai tahunan sebelum reaksi alergi. Walaupun mungkin adakalanya terjadi reaksi alergi pada ekspose pertama kali pada allergen, pasti sebelumnya ada kontak sehingga sistim imun bereaksi dengan cara ini. IgE adalah antibodi yang dimiliki oleh kita semua dalam jumlah kecil.
Orang-orang yang alergi, bagaimanapun, menghasilkan IgE dalam jumlah yang besar. Secara normal, antibodi ini penting dalam melindungi kita dari parasit-parasit, namun tidak dari dander kucing atau allergens. Selama periode sensitifitas, IgE dander kucing diproduksi berlebihan dan melapisi sel-sel tertentu yang berpotensi meledak yang mengandung bahan-bahan kimia. Sel-sel ini mampu menyebabkan rekasi alergi pada ekspose berikutnya pada dander. Ini disebabkan oleh reaksi dari dander kucing dengan dander IgE mengiritasi sel-sel dan menjurus pada pelepasan beragam bahan-bahan kimia, termasuk histamine. Bahan-bahan kimia ini, pada gilirannya, menyebabkan peradangan dan gejala-gejala alergi yang khas. Ini adalah bagaimana sistim imun menjadi berlebihan dan disiapakn untuk menyebabkan reaksi alergi ketika distimulasi oleh allergen. Waktu ekspose pada dander kucing, ibu dan kedua anak lainnya menghasilkan klas-klas antibodi-antibodi lainnya, tidak satupun darinya menyebabkan reaksi alergi. Dalam anggota keluarga yang tidak alergi, partikel-partikel dander dieliminasi oleh sistim imun dan kucing itu tidak ada pengaruhnya pada mereka.
Sumber: Total Kesehatan Anda.com |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Mon Aug 29, 2011 5:00 pm | |
| SIAPA YANG BERISKO ALERGI DAN MENGAPA ? Alergi dapat berkembang pada umur berapa saja, kemungkinan bahkan didalam kandungan. Mereka umumnya terjadi pada anak-anak namun mungkin dapat menimbulkan gejala-gejala untuk pertama kalinya pada waktu dewasa. Asma mungkin berlangsung lama pada orang-orang dewasa sedangkan alergi hidung cenderung berkurang di usia tua.
Kenapa, mungkin anda tanya, beberapa orang sensitif (peka) terhadap allergen-allergen tertentu dimana kebanyakan tidak peka? Mengapa orang-orang alergi menghasilkan lebih banyak IgE dari pada yang tidak alergi? Kelihatannya faktor utama yang membedakannya adalah keturunan. Untuk beberapa waktu, telah diketahui bahwa kondisi-kondisi alergi cenderung berkelompok/berkerumun didalam keluarga-keluarga. Risiko anda sendiri mengembangkan alergi berhubungan dengan sejarah alergi dari orang tua anda. Jika tidak ada satupun orang tua anda alergi, kesempatan anda mendapat alergi adalah kira-kira 15%. Jika satu orang tua alergi, risiko anda meningkat sampai 30% dan jika kedua-duanya alergi, risiko anda lebih besar dari 60%.
Walaupun anda mungkin mewarisi kecenderungan mengembangkan alergi, anda mungkin kenyataanya tidak pernah mempunyai gejala-gejala. Anda juga tidak seharusnya mewarisi alergi yang sama atau penyakit-penyakit yang sama seperti orang tua anda. Masih belum jelas apa yang menentukan bahan-bahan apa yang memicu reaksi pada orang yang alergi. Apalagi, penyakit-penyakit yang mana mungkin dapat berkembang atau berapa beratnya gejala-gejala yang mungkin terjadi, belum diketahui.
Potongan utama lainnya dari teka-teki alergi adalah lingkungan. Adalah jelas bahwa anda harus mempunyai tendensi genetik dan di ekspose pada allergen sehingga mengembangkan alergi. Sebagai tambahan, lebih hebat dan ber-ulang-ulang ekspose pada allergen dan lebih awal terjadi didalam kehidupan, lebih mungkin alergi akan berkembang. Ada pengaruh-pengaruh penting lainnya yang dapat berkomplot untuk menyebabkan kondisi-kondisi alergi. Beberapa dari ini termasuk merokok, polusi, infeksi, dan hormon-hormon.
Sumber: Total Kesehatan Anda.com |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Mon Aug 29, 2011 5:03 pm | |
| KONDISI KONDISI UMUM ALERGI, GEJALA DAN TANDANYA Bagian-bagian tubuh yang cenderung bereaksi pada alergi termasuk mata-mata, hidung, paru-paru, kulit, dan perut. Walaupun beragam penyakit-penyakit alergi dapat timbul berbeda, mereka semua berasal dari tanggapan/reaksi imun yang berlebihan pada bahan-bahan asing pada orang-orang yang sensitif. Uraian-uraian singkat berikut akan menyajikan ikhtisar dari kelainan-kelainan alergi yang umum.
Alergi Rhinitis Alergi Rhinitis ("hay fever") adalah yang paling umum dari penyakit-penyakit alergi dan merujuk pada gejala-gejala hidung musiman yang disebabkan oleh serbuk sari. Alergi rhinitis sepanjang tahun atau alergi rhinitis abadi (perennial) umumnya disebabkan oleh allergen-allergen didalam rumah/ruangan, seperti tungau (dust mites), dander binatang, atau jamur-jamur. Juga dapat disebabkan oleh serbuk sari. Gejala-gejala berasal dari peradangan dari jaringan yang melapisi bagian dalam hidung (pelapis atau selaput-selaput lendir) setelah allergens dihirup. Area-area yang berdekatan, seperti telinga-telinga, sinus-sinus, dan tenggorokan dapat juga terlibat. Gejala-gejala yang paling umum termasuk: - Hidung meler - Hidung mampet - Bersin - Hidung gatal - Telinga-telinga dan tenggorokan yang gatal - Post nasal drip
Pada tahun 1819, seorang dokter inggris, John Bostock, pertama kali menggambarkan hay fever dengan merinci gejala-gejala hidung musiman sendirinya, yang dia sebut "summer catarrh". Kondisi disebut hay fever karena diperkirakan disebabkan oleh "new hay".
Asma Asma adalah persoalan pernapasan yang berasal dari peradangan dan kekejangan (spasm) dari saluran udara paru-paru (bronchial tubes). Peradangan menyebabkan penyempitan dari saluran-saluran udara, yang mana membatasi aliran udara kedalam dan keluar dari paru-paru. Asma paling sering, namun tidak selalu, dihubungkan dengan alergi-alergi. Gejala-gejala umum termasuk: - Sesak Napas - Mencuit-cuit (Wheezing) - Batuk - Sesak Dada
Alergi Mata-Mata Alergi mata-mata (allergic conjunctivitis) adalah peradangan dari lapisan-lapisan jaringan (membranes) yang menutupi permukaan dari bola mata dan permukaan bawah dari kelopak mata. Peradangan terjadi sebagai hasil dari reaksi alergi dan mungkin dapat menghasilkan gejala-gejala berikut: - Kemerahan dibawah kelopak dan mata keseluruhannya - Mata-mata yang berair dan gatal - Pembengkakkan dari membran-membran
Allergic Eczema Allergic eczema (atopic dermatitis) adalah alergi ruam yang umumnya tidak disebabkan oleh kontak kulit dengan allergen. Kondisi ini umumnya dihubungkan dengan alergi rhinitis atau asma dan menonjolkan gejala-gejala berikut: - Gatal, kemerahan, dan atau kekeringan dari kulit - Ruam (Rash) pada muka, terutama anak-anak - Ruam sekeliling mata-mata, pada lipatan-lipatan sikut, dan dibelakang lutut-lutut, terutama pada anak-anak yang lebih tua dan orang dewasa
HIVES Hives (urticaria) adalah reaksi-reaksi kulit yang timbul sebagai pembengkakkan-pembengkakkan yang gatal dan dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja. Hives dapat disebabkan oleh reaksi alergi, seperti pada makanan atau obat-obatan, namun mereka juga dapat terjadi pada orang-orang yang tidak alergi. Gejala-gejala hives yang khas adalah: - Raised red welts - Gatal yang hebat
Allergic Shock Allergic shock (anaphylaxis atau anaphylactic shock) adalah reaksi alergi yang mengancam nyawa yang dapat mempengaruhi sejumlah organ-organ pada waktu yang bersamaan. Tanggapan ini secara khas terjadi ketika allergen dimakan (contohnya, makanan) atau disuntikakan (contohnya sengatan lebah). Beberapa atau seluruh dari gejala-gejala berikut dapat terjadi: - Hives atau perubahan warna kemerahan dari kulit - Hidung mampet - Pembengkakkan dari tenggorokan - Sakit perut, mual dan muntah - Napas pendek, mencuit-cuit (wheezing) - Tekanan darah rendah atau shock
Shock merujuk pada sirkulasi darah yang tidak mencukupi kepada jaringan-jaringan tubuh. Shock paling umum disebabkan oleh kehilangan darah atau infeksi. Allergic shock disebabkan oleh pembuluh-pembuluh yang membesar dan "bocor", yang berakibat pada merosotnya tekanan darah.
Sumber: Total Kesehatan Anda.com |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Mon Aug 29, 2011 5:10 pm | |
| ADA DIMANA SAJA ALERGEN? Dimana-mana...... Kita telah melihat bahwa allergen-allergen adalah tipe-tipe spesial dari antigen-antigen yang menyebabkan reaksi-reaksi alergi. Gejala-gejala dan penyakit-penyakit yang ditimbulkan tergantung sebagian besar dari jalan masuknya dan tingkat ekspose pada allergen-allergen. Struktur kimia dari allergen-allergen mempengaruhi jalannya ekspose. Serbuk sari diudara, contohnya, akan berdampak sedikit pada kulit. Mereka mudah sekali terhirup dan jadi akan menyebabkan lebih banyak gejala-gejala hidung dan paru-paru dan membatasi gejala-gejala kulit. Sedangkan allergen-allergen yang ditelan atau disuntik mereka akan berjalan menuju bagian-bagian lain tubuh dan memprovokasi gejala-gejala yang jauh dari titik masuknya. Sebagai contoh, allergen-allergen didalam makanan mungkin dapat mempercepat pelepasan penengah-penengah (mediators) didalam kulit dan menyebabkan hives. Kita akan mengasumsikan bahwa allergen-allergen didefinisikan sebagai: sumber dari bahan-bahan yang menghasilkan alergi (sebagai contoh, kucing), bahannya sendiri (dander kucing), atau protein-protein spesifik yang memprovokasi tanggapan imun (contohnya, Feld1). Feld1, dari Felis domesticus (kucing yang jinak), adalah allergen kimia yang paling penting pada dander kucing. Allergen-allergen mungkin dapat terhirup, tercerna (termakan atau tertelan), dipakai pada kulit, atau disuntik kedalam tubuh baik sebagai obat atau dengan tidak hati-hati oleh sengatan serangga.
Didalam Udara Yang Kita Napas Bernapas dapat penuh risiko jika anda alergi. Disamping oksigen, udara mengandung variasi yang lebar dari partikel-partikel; beberapa beracun, beberapa berinfeksi, dan beberapa tidak berbahaya termasuk allergen-allergen. Penyakit-penyakit yang umum yang berasal dari allergen-allergen udara adalah hay fever, asma, dan conjunctivitis. Allergen-allergen berikut umumnya tidak berbahaya, namun dapat memicu reaksi-reaksi alergi ketika dihirup oleh individu-individu yang sensitif. - Serbuk sari: pohon-pohon, rumput-rumput, dan/atau rumput-rumput liar - Tungau - Protein-protein binatang: dander, kulit, dan/atau urin - Spora-spora jamur - Bagian-bagian serangga: kacoa-kacoa
Didalam Apa Yang Kita Makan Ketika makanan-makanan dan obat-obatan dicerna, allergen-allegen mungkin dapat mengakses kedalam aliran darah dan menjadi terpasang pada IgE tertentu didalam sel-sel pada tempat-tempat yang jauh seperti kulit atau selaput-selaput hidung. Kemampuan dari allergen-allergen untuk berpergian menerangkan bagaimana gejala-gejala dapat terjadi pada area-area yang berlainan dari saluran pencernaan. Reaksi-reaksi alergi makanan dapat mulai dengan pembengkakan lidah atau tenggorokan dan mungkin diikuti oleh kesemutan (tingling), mual, diare, atau kram perut. Kesulitan bernapas dengan hidung atau reaksi-reaksi kulit mungkin juga dapat terjadi. Dua grup utama allergen-allergen yang dicerna adalah: - Makanan: Makanan yang paling umum yang menyebabkan reaksi-reaksi alergi adalah susu sapi, ikan, kerang-kerangan, telur-telur, kacang-kacangan, kacang--kacang tumbuhan, kedele, dan gandum. - Obat-obatan (ketika diminum): contohnya, antibiotik-antibiotik dan aspirin
Menyentuh kulit Kita Allergic contact dermatitis adalah peradangan kulit yang disebabkan oleh reaksi alergi lokal. Mayoritas dari reaksi-reaksi kulit lokal ini tidak melibatkan IgE, namun disebabkan oleh sel-sel peradangan. Rash yang ditimbulkan adalah serupa dengan yang dari ivy rash yang beracun. Harus dicatat bahwa ketika beberapa allergen-allergen (contohnya, latex) bersentuhan dengan kulit, mereka diserap oleh kulit dan dapat juga berpotensi menyebabkan reaksi-reaksi keseluruh tubuh, tidak hanya pada kulit saja. Untuk kebanyakan orang, bagaimanapun, kulit adalah penghalang yang hebat yang hanya dapat dipengaruhi secara lokal. Contoh-contoh dari allergic contact dermatitis termasuk: - Latex (menyebabkan reaksi-reaksi IgE dan non-IgE) - Tumbuh-tumbuhan (poison ivy and oak) - Zat pewarna (Dyes) - Bahan-bahan kimia - Logam-logam (nickel) - Kosmetik-Kosmetik
Allergic contact dermatitis tidak melibatkan antibodi IgE, namun melibatkan sel-sel dari sistim imun yang diprogram untuk bereaksi ketika dipicu oleh allergen yang mensensitifkan. Menyentuh atau menggosok unsur/bahan yang pernah membuat anda sensitif sebelumnya dapat memicu rash kulit (skin rash).
Yang Disuntikkan Kedalam Tubuh Reaksi-reaksi yang paling berat dapat terjadi ketika allergen-allergen disuntikan kedalam tubuh dan mendapat akses langsung kedalam aliran darah. Akses ini membawa risiko dari reaksi umum, seperti anaphylaxis, yang dapat membahayakan nyawa. Berikut adalah allergen-allergen yang paling umum disuntikan yang dapat menyebabkan rekasi-rekasi alergi yang berat: - Racun serangga - Obat-obatan - Vaksin-vaksin (termasuk suntikan alergi) - Hormon-hormon (contohnya, insulin)
Sumber: Total Kesehatan Anda.com |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Tue Sep 06, 2011 3:47 pm | |
| ANGIOEDEMA, PEMBENGKAKAN KARENA GATAL GATAL Selasa, 06/09/2011 09:42 WIB Adelia Ratnadita - detikHealth Angioedema mirip dengan urtikaria yang merupakan gatal-gatal, bekas merah (pembengkakan atau bercak) dari berbagai ukuran, yang tiba-tiba muncul dan menghilang pada kulit. Angioedema merupakan jenis bengkak, bilur-bilur besar dan melibatkan lapisan kulit yang lebih dalam, terutama di dekat bibir dan mata. Dalam kebanyakan kasus angioedema tidak berbahaya, dan bahkan tanpa memerlukan pengobatan, dan tidak meninggalkan bekas pada kulit setelah sembuh. Dalam kasus pembengkakan dari angioedema dapat menyebabkan tenggorokan atau lidah menghalangi jalan napas dan menyebabkan kehilangan kesadaran, yang dapat mengancam nyawa.
Penyebab Peradangan di kulit dapat mengakibatkan gatal-gatal dan angioedema. Gatal-gatal dan angioedema kadang-kadang dapat dipicu ketika sel-sel tertentu yang disebut sel mast melepaskan bahan kimia histamin dan bahan lainnya ke dalam aliran darah dan kulit. Angioedema dapat disebabkan oleh reaksi alergi terhadap obat atau makanan. Banyak alergen yang telah diidentifikasi, antara lain:
1. Obat Meskipun hampir semua obat dapat menyebabkan gatal-gatal atau angioedema, namun beberapa penyebab umum adalah obat tekanan darah, ibuprofen, penisilin dan aspirin.
2. Makanan Pada orang sensitif, banyak makanan yang dapat menimbulkan alergi. Namun, makanan yang sering menimbulkan alergi adalah ikan, telur, kerang, susu, kacang, dan coklat. Beberapa alergen potensial lainnya termasuk aditif makanan seperti salisilat dan sulfida.
3. Alergen lainnya Kontak langsung dengan bulu binatang, lateks, serbuk sari, dan sengatan serangga adalah beberapa zat lain yang dapat menyebabkan gatal-gatal dan angioedema.
Beberapa pemicu tambahan yang dapat menyebabkan angioedema, antara lain:
1. Dermatographia Merupakan garis yang muncul pada daerah di mana kulit tergores, atau di mana tekanan diterapkan pada kulit akibat histamin yang menyebabkan pembengkakan di bawah kulit.
2. Faktor fisik Pada beberapa orang, faktor lingkungan dapat mengakibatkan pelepasan histamin. Air, panas, dingin, latihan, tekanan pada kulit, sinar matahari dan stres emosional adalah beberapa contoh faktor lingkungan yang dapat menyebabkan angioedema.
Gatal-gatal dan angioedema juga dapat terjadi sebagai respons terhadap produksi antibodi tubuh. Gangguan sistem kekebalan tubuh (kanker atau lupus), infeksi (hepatitis), transfusi darah, gangguan tiroid tertentu, atau bahkan dingin dapat menyebabkan angioedema. Bentuk warisan angioedema disebut angioedema herediter, yang terkait dengan tingkat rendah atau fungsi abnormal dari protein darah tertentu (C1 inhibitor). Inhibitor ini berperan dalam mengatur bagaimana fungsi sistem kekebalan tubuh.
Gejala 1. Sensasi tebal dan bengkak pada daerah yang terkena 2. Nyeri atau kehangatan di daerah yang terkena 3. Pada kasus yang berat, kesulitan menelan atau bernapas 4. Pembengkakan kulit 5. Melepuh (bula) di daerah pembengkakan yang parah
Meskipun angioedema dapat terjadi pada tangan, kaki, alat kelamin atau di dalam tenggorokan, biasanya terjadi pada daerah dekat mata atau bibir. Meskipun jarang, angioedema herediter lebih serius. Kondisi ini dapat menyebabkan pembengkakan tiba-tiba pada wajah, lengan, kaki, tangan, kaki, alat kelamin, saluran pencernaan, dan saluran napas.
Beberapa tanda dan gejala angioedema herediter, antara lain: 1. Kesulitan bernapas atau terhambat karena pembengkakan jalan napas 2. Pembengkakan mendadak pada wajah, lengan, kaki, saluran pencernaan, tangan, alat kelamin, dan kaki 3. Perut kram, sebagai akibat pembengkakan saluran pencernaan.
Pengobatan Pasien mungkin tidak memerlukan pengobatan dalam kasus gejala ringan angioedema. Antihistamin yang dapat menghalangi pelepasan histamin, adalah pengobatan standar untuk gatal-gatal dan angioedema.
Pengobatan angioedema dapat dengan, antara lain:
1. Obat tanpa resep a. Cetirizine b. Chlorpheniramine c. Diphenhydramine d. Loratadine
Chlorpheniramine, diphenhydramine atau antihistamin lainnya dapat menyebabkan kantuk. Namun, loratadine tidak.
2. Obat dengan resep dokter a. Hidroksizin b. Desloratiadine c. Levocetrirzine d. Fexofenadine
Kortikosteroid oral, seperti prednison dapat membantu mengurangi bengkak, kemerahan, dan gatal yang kadang-kadang dapat diresepkan untuk kasus yang parah dari angioedema.
Pengobatan untuk angioedema herediter: Obat-obat yang disebutkan di atas tidak efektif dalam mengobati angioedema herediter. Androgen tertentu seperti danazol, yang membantu mengatur kadar protein darah, adalah beberapa obat yang digunakan khusus untuk mengobati angioedema herediter dalam jangka panjang.
Penanganan darurat untuk angioedema Seseorang mungkin membutuhkan suntikan adrenalin (epinefrin) pada kondisi darurat untuk serangan parah dari angioedema. Pasien mungkin akan diresepkan dan diinstruksikan bagaimana cara menggunakan adrenalin, dan membawa adrenalin untuk digunakan dalam situasi darurat dalam kasus mereka telah mengalami serangan darurat angioedema berulang kali. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Thu Sep 08, 2011 10:21 am | |
| SINDROM MUNCHAUSEN, CARI SIMPATI DENGAN PURA PURA SAKIT Kamis, 08/09/2011 09:35 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth Sindrom ini adalah gangguan mental yang serius di mana seseorang memiliki kebutuhan mendalam atas perhatian orang lain dengan cara berpura-pura sakit atau terluka dengan disengaja. Penderita sindrom ini bisa membuat-buat gejala sakit, ingin melakukan operasi, atau mencoba mencurangi hasil tes laboratorium untuk meraih simpati. Sindrom Munchausen mempunyai sejumlah kondisi gangguan buatan, baik dibuat-buat ataupun ditimbulkan sendiri. Gangguan buatan dapat berupa psikologis atau fisik. Sindrom Munchausen merupakan gangguan yang misterius dan sulit untuk diobati. Bantuan medis penting untuk mencegah cedera serius hingga kematian yang mungkin disebabkan oleh tindakan membahayakan diri sendiri.
Gejala Gejala sindrom Munchausen berkutat pada berpura-pura memiliki penyakit atau cedera untuk memenuhi kebutuhan emosionalnya. Orang dengan sindrom Munchausen berusaha keras agar penipuannya tak terbongkar, sehingga mungkin sulit untuk melihat bahwa sebetulnya gejala mereka merupakan bagian dari gangguan mental yang serius. Orang dengan gangguan ini bukan bertujuan mendapat manfaat praktis dari kondisi medisnya seperti keluar dari pekerjaan atau memenangkan gugatan. Sindrom ini juga tidak sama dengan keadaan murung. Orang dengan dengan gangguan seperti depresi atau bipolar benar-benar percaya bahwa mereka sakit, sedangkan orang-orang dengan sindrom Munchausen tidak sakit, tetapi mereka ingin menjadi sakit. Gejala sindrom Munchausen antara lain:
1. Mendramatisir cerita tentang masalah kesehatannya 2. Sering rawat inap 3. Gejala penyakitnya tidak konsisten atau samar-samar 4. Kondisi kesehatan memburuk tanpa alasan yang jelas 5. Bersemangat menjalani uji kesehatan atau operasi yang berisiko 6. Memiliki pengetahuan terminologi medis dan penyakit yang luas 7. Mencari pengobatan dari banyak dokter atau rumah sakit yang berbeda 8. Memiliki beberapa pengunjung saat dirawat di rumah sakit 9. Enggan jika para profesional kesehatan berbicara dengan keluarga atau teman 10. Berdebat dengan staf rumah sakit 11. Sering meminta obat penghilang rasa sakit atau obat lain
Karena orang-orang dengan sindrom Munchausen ahli dalam berpura-pura memiliki gejala penyakit atau menimbulkan luka nyata pada diri mereka sendiri, terkadang sulit bagi para profesional medis dan orang yang bersimpati untuk mengetahui apakah penyakit yang nyata atau tidak. Orang dengan sindrom Munchausen membuat gejala atau menyebabkan penyakit dengan beberapa cara, yaitu:
1. Membuat riwayat kesehatan palsu, seperti: mengklaim telah menderita kanker atau HIV kepada orang yang dicintai, penyedia layanan kesehatan atau bahkan kelompok-kelompok internet
2. Memalsukan gejala penyakit, seperti: sakit perut, kejang atau pingsan.
3. Membahayakan diri sendiri. Mereka mungkin melukai atau membuat diri mereka sakit, seperti: menyuntikkan diri dengan bakteri, bensin, susu, atau kotoran. Dapat juga dengan cara meminum obat untuk meniru penyakit, seperti: pengencer darah, obat kemoterapi dan obat diabetes.
4. Mencegah penyembuhan.
5. Merusakkan. Memanipulasi instrumen medis, seperti: memanaskan termometer. Bisa juga mengutak-atik tes laboratorium, seperti: mencemari sampel urin mereka dengan darah atau zat lainnya.
Penyebab Penyebab sindrom Munchausen tidak diketahui. Orang dengan gangguan ini mungkin pernah mengalami penyakit parah ketika mereka masih muda atau mungkin pernah dilecehkan secara emosional atau fisik.
Perawatan dan obat-obatan Pengobatan sindrom Munchausen sulit sebab tidak ada terapi standar untuk kondisi tersebut. Karena orang dengan sindrom Munchausen ingin berperan sakit, maka mereka tidak bersedia untuk mencari pengobatan. Namun jika didekati dengan cara yang halus, dibujuk dengan niat ingin menyelamatkan mukanya, orang dengan sindrom Munchausen mungkin setuju untuk dirawat oleh penyedia kesehatan mental. Meskipun tidak ada pengobatan standar untuk sindrom Munchausen, pengobatan sering berfokus pada pengelolaan kondisi daripada mencoba untuk menyembuhkannya. Pengobatan umumnya termasuk psikoterapi dan konseling perilaku. Jika memungkinkan, terapi keluarga juga mungkin disarankan. Obat dapat digunakan untuk mengobati gangguan mental lainnya seperti depresi atau kecemasan. Dalam kasus yang parah, rawat inap psikiatri sementara mungkin diperlukan.
Sumber: MayoClinic, psychology today |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Thu Jan 26, 2012 7:39 pm | |
| 16 MITOS DAN FAKTA DONOR DARAH Bramirus Mikail | Asep Candra | Kamis, 26 Januari 2012 | 17:12 WIB KOMPAS.com - Donor darah merupakan salah satu bentuk tindakan sosial yang sangat mulia dan tidak mengenal pamrih. Namun sayang, masih sedikit orang yang tergerak hatinya untuk mau menyumbangkan darahnya. Kebanyakan orang takut mendonorkan darah karena menganggap itu menyakitkan, bisa membuat badan lemah dan rentan terkena penyakit. Padahal, itu tidak lebih hanyalah sebuah anggapan yang keliru. Untuk menghapus segala bentuk mitos tentang donor darah, konsultan bank darah di Medcity Moolchand New Delhi India Dr Rani Prem Kumar, membantu menjelaskan tentang kebenaran dari donor darah yang sebetulnya memberikan banyak manfaat seperti dikutip Healthmeup berikut ini :
1. Mitos : Donor darah bikin tekanan darah rendah. Fakta : Namun, banyak orang yang merasa setelah mendonorkan darah membuat mereka merasa lemah. Sekali lagi, ini tidak benar. Kenyataannya bahwa dibutuhkan satu atau dua hari untuk mengisi volume cairan dalam tubuh dan tiga bulan untuk regenerasi sel darah merah agar dapat menyumbangkan lebih banyak darah.
2. Mitos : Beristirahat penuh selama sehari setelah menyumbangkan darah. Fakta : Anda dapat dengan mudah melanjutkan kegiatan sehari-hari secara rutin setelah menyumbangkan darah, tetapi dengan catatan: * Cukupi kebutuhan cairan dengan meminum banyak air putih ata jus dalam waktu 24 jam setelah donor darah * Hindari paparan sinar matahari * Hindari mengemudi selama 2-3 jam berikutnya * Hindari merokok selama 4 jam * Hindari alkohol untuk 24 jam
3. Mitos : Donor Darah adalah suatu prosedur yang menyakitkan. Fakta : Menyumbangkan darah tidak menyakitkan sama sekali. Kita hanya merasakan sensasi seperti dicubit ketika jarum menusuk lengan.
4. Mitos : Saya tidak harus sering mendonorkan darah, karena itu bisa membuat tubuh saya lemah. Fakta : Orang yang sehat bisa mendonorkan darah empat kali dalam setahun.
5. Mitos : Donor darah membuat saya merasa stres, sakit kepala parah dan muntah? Fakta : Donor darah tidak dapat menyebabkan sakit kepala dan muntah jika tekanan darah Anda dalam batas normal sebelum melakukan donor darah.
6. Mitos : Donor menurunkan tingkat kekebalan tubuh. Fakta : Tingkat kekebalan tubuh Anda tidak terpengaruh hanya karena Anda mendonorkan darah.
7. Mitos: Mendonorkan darah dapat berfluktuasi terhadap tekanan darah dan kadar gula darah. Fakta: Donor darah tidak akan mempengaruhi tekanan darah dan kadar gula darah. Tetapi, seorang pasien diabetes yang sedang menerima insulin tidak dapat menyumbangkan darahnya.
8. Mitos : Sering donor darah membuat tubuh kekurangan zat besi. Fakta : Individu yang sehat dengan kebiasaan makan yang baik dapat mendonorkan darah empat kali setahun dengan jarak waktu tiga bulan. Ini tidak akan membuat kandungan zat besi dalam tubuh Anda berkurang.
9. Mitos : Donor darah butuhkan waktu lama. Fakta : Salah. Prosedur donor darah mulai dari registrasi (pendaftaran) sampai pengambilan darah berlangsung sekitar setengah jam.
10. Mitos: Sering ke rumah sakit untuk menyumbangkan darah menyebabkan infeksi? Fakta: Tidak benar. Seseorang tidak perlu merasa takut infeksi karena donor darah.
11. Mitos: Anda tidak bisa mendonorkan darah jika sedang mengonsumsi beberapa jenis obat. Fakta: Ini bukan mitos. Orang yang sedang mengambil beberapa jenis obat tertentu seperti aspirin, antibiotik, anti-hipertensi, steroid, hormon, antikoagulan, tidak bisa mendonorkan darahnya.
12. Mitos : Dapatkah seorang wanita hamil menyumbangkan darah? Fakta : Tidak, wanita hamil tidak diperbolehkan untuk menyumbangkan darah.
13. Mitos: Dapatkah saya mendonorkan darah, jika saya masih menyusui? Fakta: Tidak, ibu menyusui sebaiknya tidak mendonorkan darah selama paling sedikit enam minggu setelah melahirkan karena menyumbangkan darah mempengaruhi tingkat cairan di dalam tubuh dan juga dapat mempengaruhi pasokan ASI.
14. Mitos : Dapatkah saya mendonorkan darah, jika sudah mengkonsumsi alkohol sehari sebelumnya? Fakta : Tidak, tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi alkohol sehari sebelum menyumbangkan darah.
15. Mitos: Dapatkah saya mendonorkan darah, jika saya merokok secara teratur? Fakta: Ya, tapi Anda harus menjauhkan diri dari paparan asap rokok atau berhenti merokok satu jam sebelum dan setelah donor.
16. Mitos : Donor darah secara teratur dapat menyebabkan obesitas. Fakta : Menyumbangkan darah tidak mempengaruhi berat badan Anda. Namun, beberapa orang setelah donor darah memang cenderung makan lebih banyak dari biasanya. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Tue Feb 21, 2012 12:37 pm | |
| MANFAAT DONOR DARAH BAGI PENDONOR Selasa, 21 Februari 2012 09:00 WIB - Media Indonesia DONOR darah ternyata bermanfaat untuk penerima maupun juga pemberi donor. Pendonor bahkan meraup banyak manfaat kesehatan dari darah yang disumbangkan. Dikutip dari msn.com, donor darah dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Karena zat besi yang berlebihan di dalam darah dapat menyebabkan oksidasi kolesterol. Oksidasi ini akan menumpuk pada dinding arteri yang pada akhirnya akan memperbesar risiko terkena serangan jantung dan stroke. Donor darah juga dapat membantu tubuh untuk mengurangi jumlah sel darah merah dalam darah. Anda tidak perlu panik dengan berkurangnya sel darah merah. Sumsum tulang belakang akan segera mengisi ulang sel darah merah yang telah hilang. Oleh karena itu, donor darah menjadi langkah yang baik untuk menstimulasi pembuatan darah baru. Hal lainnya, donor darah merupakan langkah ampuh dalam menjalani program diet. Sebab dengan memberikan sekitar 450 ml darah, akan membantu proses pembakaran kalori sekitar 650 kalori. Jumlah kalori ini cukup untuk mengurangi lingkar pinggang Anda. Tunggu apa lagi? Yuk donor darah! (*/OL-06) |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Tue Feb 28, 2012 8:10 pm | |
| THALASEMIA, APAKAH PENYEBAB DAN GEJALANYA? Selasa, 28 Pebruari 2012 14:03 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Thalasemia memang merupakan salah satu penyakit menahun, yang diturunkan dalam keluarga, dan menyebabkan timbulnya anemia, mulai dari anemia ringan sampai berat. Anemia adalah kondisi di mana kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah dalam darah menurun. Hemoglobin berfungsi mengikat dan membawa oksigen ke seluruh tubuh. Menurut dokter Zubairi Djoerban, spesialis penyakit dalam dan guru besar FKUI, pada penderita thalasemia terjadi perubahan atau mutasi gen, yaitu pembawa kode genetik untuk pembuatan hemoglobin. Akibatnya kualitas sel darah merah tidak baik dan tidak dapat bertahan hidup lama, tidak bisa bertahan sepanjang hidup sel darah merah normal. Manifestasi yang dirasakan pasien adalah cepat capai, terlebih bila naik tangga atau harus berjalan cepat, apalagi berlari. Thalasemia memang diturunkan dari orangtua ke anaknya, baik laki-laki maupun perempuan. Bila gen penyebab thalasemia berasal dari kedua orangtua-nya (ayah dan ibu), maka seseorang dapat menderita thalasemia dengan manifestasi klinis sedang hingga berat.
Namun bila gen penyebab thalasemia hanya diturunkan dari salah satu orangtua, maka umumnya anak tersebut hanya menderita thalasemia dengan manifestasi klinis yang ringan, bahkan kadang tidak ada gejala klinis yang timbul. Orang dengan gen pembawa thalasemia namun tanpa gejala ini disebut pembawa sifat atau karier (carrier) thalasemia. Walaupun tanpa gejala, karier thalasemia tetap akan menurunkan gen pembawa sifat thalasemia ini pada keturunannya. Selanjutnya, Zubairi memaparkan, hemoglobin tersusun dari dua jenis rantai protein, yaitu rantai protein alpha globin dan rantai protein beta globin. Bila yang terganggu pembentukannya adalah rantai protein alpha globin, maka thalasemia yang timbul disebut thalasemia alpha. Bila yang terganggu adalah rantai protein beta, maka thalasemia yang timbul disebut thalasemia beta. Kedua tipe ini bisa ditemukan dalam bentuk ringan hingga berat. Ada yang dikenal sebagai thalasemia alpha mayor yaitu bila dua dari empat rantai genetik rantai protein alpha mengalami kelainan. Hal serupa berlaku bila rantai protein beta yang mengalami kelainan, disebut thalasemia beta mayor. Untuk menentukan tergolong jenis thalasemia mana yang diderita seseorang memerlukan pemeriksaan dan analisis genetika yang khusus. Apa gejala thalasemia? Gejala yang timbul tergantung berat ringannya penyakit. Tapi gejala yang umumnya ditemui adalah anemia, seperti dijelaskan di atas.
Pada karier thalasemia, bahkan tanpa gejala. Namun pada thalasemia berat kita dapat menemukan rasa lelah dan letih, kulit yang kekuningan (jaundice), perut yang membuncit karena adanya pembesaran hati dan limpa, warna urine yang lebih gelap atau gangguan pertumbuhan. Umumnya thalasemia berat didiagnosis sejak masa balita. Bahkan bayi yang lahir dengan thalasemia alpha mayor bisa meninggal tidak lama setelah dilahirkan. Biasanya bila dokter menemukan anemia, maka akan dilakukan pemeriksaan untuk mencari penyebab anemia tersebut mulai dari pemeriksaan darah rutin, pemeriksaan yang lebih spesifik, misalnya kadar feritin, hingga pemeriksaan sumsum tulang. Bila ditemukan kecurigaan diagnosis ke arah thalasemia, maka akan dilakukan analisis genetika, di mulai dengan elektroforesis hemoglobin. Riwayat keluarga dapat menjadi informasi penting dalam penegakan diagnosis.
Terapi yang diberikan tergantung pada berat ringan penyakitnya. Pada yang sangat ringan atau karier thalasemia, tentu tidak membutuhkan terapi. Pada kondisi yang lebih berat memerlukan transfusi, bahkan ada yang membutuhkan transfusi berkala. Kadang pada kondisi yang amat berat sehingga menimbulkan pembesaran limpa yang tidak terkompensasi lagi oleh badan, membutuhkan terapi bedah, limpa pun dibuang. Untuk pasien yang mengalami gejala thalasemia, Zubairi menyarankan agar berkonsultasi langsung dengan dokter di divisi hematologi departemen penyakit dalam. Dokter akan melihat perkembangan penyakitnya, efek samping pengobatan yang mungkin timbul serta membuat rencana pemeriksaan penunjang apa yang diperlukan. Selain itu, pengaturan diet yang baik dan seimbang akan membantu pasien. Jangan lupa pula bahwa pasien perlu didukung aspek kejiwaannya maupun aspek sosialnya, terutama pada pasien-pasien yang membutuhkan terapi rutin/berkala. Dukungan keluarga, pasangan atau calon pasangan amat diperlukan pasien. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Mon Mar 19, 2012 7:54 pm | |
| TERAPI SEL PUNCA, HARAPAN PENGOBATAN MASA DEPAN Asep Candra | Senin, 19 Maret 2012 | 08:07 WIB JAKARTA, KOMPAS - Terapi sel punca menjadi pengobatan berbagai penyakit di masa mendatang. Metode ini diterapkan di Indonesia tahun 2007 untuk penyakit jantung dan kini masih membutuhkan penelitian untuk mengetahui efek samping ataupun jenis ideal sel punca. ”Terapi sel punca sangat menjanjikan. Ini harapan baru bagi dunia kedokteran,” kata Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Prof Idrus Alwi dalam simposium Kursus Penyegar dan Penambah Ilmu Kedokteran (KPPIK) FKUI, Sabtu (17/3/2012), di Jakarta. Ia mengatakan, penerapan terapi sel punca (stem cell) terus berkembang di Indonesia. Pada tahun 2011, 20 penderita gangguan jantung menjalani terapi ini di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). ”Hasil terapi ini terbukti dapat memperbaiki sistem pompa jantung,” kata Idrus. Menurut dia, terapi sel punca cukup menjanjikan. Namun, masih banyak pertanyaan yang harus diketahui jawabannya, antara lain, jenis sel punca yang ideal, teknik pemberian yang paling efisien, dan waktu pemberian yang paling tepat. Di Asia Tenggara, Indonesia merupakan pelopor terapi sel punca pada infark miokard akut dengan penyuntikan sel punca pada otot jantung. Terapi ini diberikan kepada pasien penyakit jantung tahap akhir. RSCM ditunjuk sebagai pusat penelitian sel punca di bawah pengawasan Texas Heart Institute, Houston, Amerika Serikat. Lembaga ini merupakan perintis riset sel punca pada penyakit jantung tahap akhir. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Thu Apr 12, 2012 9:19 pm | |
| HEMOFILIA BUTUH PENANGANAN SERIUS KAMIS, 12 APRIL 2012, 17:22 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Stella Maris VIVAnews - Hemofilia merupakan gangguan pembekuan darah akibat kekurangan salah satu faktor pembekuan. Darah seorang penderita hemofilia umumnya tidak dapat membeku dengan sendirinya dan membutuhkan proses pembekuan lebih lama. Penderita hemofilia kebanyakan mengalami gangguan perdarahan di bawah kulit, seperti luka memar akibat benturan kecil, atau luka memar hanya gara-gara lelah usai melakukan aktivitas berat. Ada pula yang mengalami pembengkakan pada persendian, seperti lulut, pergelangan kaki, atau siku tangan. Dan, akan membahayakan jiwa jika pendarahan terjadi di area organ vital, seperti otak atau jantung. Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia, Prof. Dr. Djajadiman Gatot, SpA(K) mengatakan, mayoritas kasus hemofilia yang ditemui umumnya akibat faktor genetik atau keturunan, meski muncul sejumlah faktor pemicu lainnya.
Di Indonesia, diperkirakan ada sekitar 20 ribu orang terdeteksi hemofilia. "Hemofilia merupakan penyakit praduga dan butuh penanganan terus-menerus," ujarnya dalam konferensi pers menyambut hari hemofilia sedunia 17 April 2012, di RSCM, Jakata, 12 April 2012. Jika pasien hemofilia di sejumlah negara, seperti Thailand dan Malaysia, sudah menjadi tanggungan pemerintah, pasien di Indonesia seringkali masih kesulitan melakukan perawatan akibat terbentur biaya besar. Mulai dari biaya pengecekan darah hingga pembelian obat.Djajadiman mencontohkan biaya suntik untuk membantu membekukan darah yang mencapai Rp1,4 juta per suntik. Padahal, dalam sehari bisa 2-3 kali suntik. Bahkan jika sudah parah, harus menanggung obat seharga Rp5 juta. Di tengah kesulitan itu, ada dua hal yang harus diutamakan untuk memberikan penanganan terbaik bagi pasien hemofilia.
1. Tenaga Ahli Penderita hemofilia masih membutuhkan banyak ahli, seperti hematologi. Terutama untuk wilayah-wilayah pelosok. Dengan adanya tenaga ahli, seperti yang telah tersedia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, masyarakat tentu lebih mudah dalam melakukan perawatan.
2. Edukasi Hemofilia merupakan sebuah penyakit yang rata-rata tidak diketahui masyarakat awam. Pemberian dan penyebaran edukasi mengenai penanganan Hemofilia di Indonesia, dapat membantu membangun pondasi untuk menunjang fasilitas bagi pasien hemofilia. Edukasi ini juga dimaksudkan agar khalayak luas lebih mengetahui mengenai gejala umum bagi penderita hemofilia. |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12087 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll Sat Apr 14, 2012 8:15 am | |
| MENGHITUNG RISIKO ANAK TERLAHIR HAEMOFILIA JUM'AT, 13 APRIL 2012, 16:09 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Stella Maris VIVAnews - Hemofilia umumnya terjadi akibat faktor genetis. Bukan penyakit menular, tapi bersifat seumur hidup atau sulit disembuhkan. Ada dua jenis. Tipe A atau hemofilia klasik, terjadi akibat kekurangan faktor VIII pembekuan darah. Sedangkan tipe B terjadi akibat kekurangan faktor IX. Faktor-faktor ini merupakan protein dalam darah yang menyebabkan masalah dalam proses pembekuan darah. Hemofilia bisa dibilang terjadi akibat adanya mutasi pada gen yang menghasilkan Faktor VIII dan IX. Dan, mutasi gen ini terjadi pada kromosom X.
Pria hemofilia menikah dengan wanita sehat Ingat prinsip dasar keturunan. Wanita memiliki sepasang kromosom seks X dan X. Sementara pria memiliki kromosom X dan Y. Dalam pembuahan, jika pria menyumbangkan kromosom X, keturunan yang terjadi adalah anak perempuan. Jika pria menyumbangkan kromosom Y, maka keturunan yang terjadi adalah anak laki-laki. Artinya, semua anak perempuan akan menjadi pembawa sifat hemofilia (carrier), karena mewarisi kromosom X sang ayah yang membawa sifat hemofilia. Dan semua anak laki-laki tidak akan terkena hemofilia, karena mewarisi kromosom Y dari sang ayah.
Wanita hemofilia menikah dengan pria sehat Jika mereka mendapatkan anak laki-laki, anak tersebut memiliki kemungkinan terkena hemofilia sebesar 50 persen. Ini tergantung dari mana kromosom X pada anak laki-laki itu didapat. Jika anak laki-laki itu mewarisi kromoson X normal dari sang ibu, maka ia tidak akan memiliki sifat hemofilia. Tapi, jika ia mewarisi kromosom X pembawa gen hemofilia dari ibu, maka ia akan membawa sifat hemofilia. Ketika mereka memiliki anak perempuan, kemungkinan anak membawa sifat hemofilia juga 50 persen. Anak akan normal jika mewarisi kromosom X normal dari sang ibu. Sebaliknya, ia bisa membawa sifat hemofilia jika mewarisi kromosom X yang memiliki sifat hemofilia dari sang ibu. Meski mayoritas terjadi akibat faktor genetik, ada kasus di mana seorang anak terlahir hemofilia dari orangtua dan keluarga sehat. "Ini memungkinkan ketika terjadi mutasi genetik pada tubuh janin," kata Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia, Prof. Dr. Djajadiman Gatot, SpA(K), dalam diskusi menyambut hari hemofilia sedunia 17 April. (eh) |
|  | | | | Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll | |
|
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |