Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 17 ... 32  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Mon May 10, 2010 12:31 pm

NIKEL PADA PERHIASAN YANG BIKIN ALERGI
Sabtu, 05/06/2010 12:16 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Perhiasan merupakan sesuatu yang indah dan berharga serta yang jadi favorit kaum hawa. Tapi apa jadinya bila kulit sangat sensitif dan alergi terhadap perhiasan? Alergi perhiasaan biasanya mengacu pada suatu respons alergi terhadap nikel yang ditemukan di sebagian besar perhiasan. Bahkan emas berkarat tinggi sekalipun dapat memiliki kandungan nikel yang dapat menyebabkan masalah bagi sebagian orang.

Umumnya alergi nikel berkaitan dengan anting-anting dan perhiasan untuk tindikan tubuh lainnya. Selain pada perhiasan, nikel juga ditemukan dalam bahan tali jam, gesper ikat pinggang, kancing jeans atau bingkai kacamata. Alergi nikel dapat mempengaruhi orang-orang dari segala usia. Seseorang dapat mengalami alergi nikel setelah satu bersentuhan dengan nikel abaik secara berulang atau dalam jangka waktu lama. Gejala yang ditimbulkan dari alergi ini sebagian besar terjadi pada kulit yang bersentuhan dengan perhiasan mengandung nikel. Seperti dilansir dari Ehow, Jumat (4/6/2010), gejala-gejala alergi perhiasan adalah:

1. Ruam dan gatal-gatal pada kulit yang bersentuhan dengan perhiasan. Reaksi ini biasanya hanya terjadi pada kulit yang bersentuhan langsung, tapi tak jarang juga dapat menyebar ke jaringan di sekitarnya.
2. Rasa kesemutan dan gatal setelah perhiasan dikenakan selama sekitar 20 menit.
3. Benjolan pada kulit, kemerahan atau perubahan warna kulit Kering bercak kulit yang dapat menyerupai luka bakar
4. Alergi perhiasan dapat terjadi dengan cepat dan menjadi ruam lepuh, merah atau berair dalam beberapa hari setelah kontak langsung.

Untuk mengatasi dan meringankan gejala alergi perhiasan ini, dapat dilakukan cara sebagai berikut:

1. Jauhlah perhiasan yang mengandung nikel bersentuhan langsung dengan kulit
2. Bila kasus-kasus infeksi menyebabkan reaksi alergi terjadi, antibiotik mungkin diperlukan untuk meringankan keluhan
3. Menahan godaan untuk menggaruk daerah sekitar kulit yang gatal. Menggaruk dapat merusak kulit dan menyebabkan iritasi, serta memungkinkan bakteri untuk masuk ke kulit yang teriritasi. Setelah ini terjadi, infeksi dengan cepat dapat menyebar ke jaringan sekitarnya.
4. Bila masih ingin menggunakan perhiasan, Anda bisa gunakan stainless steel, emas murni atau 925 sterling perhiasan perak. Ini merupakan perhiasan yang bebas kandungan nikel.
5. Kunjungi dokter dermatologis (spesialis kulit) bila gejala dan keluhan yang kunjung reda.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 5:48 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Mon May 10, 2010 12:39 pm

TELINGA MAU PECAH GARA GARA ALLERGI SUARA
Rabu, 07/07/2010 08:10 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
London, Alergi makanan, alergi debu atau alergi dingin sudah jamak terjadi. Tetapi bagaimana jika orang mengalami alergi suara. Setiap mendengar suara, si penderita merasa kupingnya akan pecah. Tentu saja, alergi ini sangat mengganggu, karena hampir setiap menit manusia mendengarkan suara yang masuk ke telinganya, baik suara orang bicara, televisi atau suara lainnya. Tapi yang dialami Chris Singleton sungguh buruk. Suara-suara yang masuk ke telinganya terasa meneror bagai suara rem mobil melengking atau gemerincing lempeng yang membuatnya meringis, padahal bagi orang lain suara yang didengar biasa saja.

Akibat alergi suara ini, Chris kerap merasa aneh di telinga kirinya yang membuatnya semakin memburuk hingga akhirnya muncul sakit pada fisik di telinga ketika mendengar sura-suara tertentu. "Setiap hari terdengar seperti mesin Expresso, rem mobil melengking atau gemerincing lempeng yang bisa membuat saya meringis kesakitan. Semakin tinggi frekuensi atau mencapai volume tertentu, maka telinga saya benar-benar mulai terasa sakit. Hal ini seperti mimpi buruk bagi saya," ujar Chris, seperti dikutip dari Independent, Rabu (7/7/2010).

Keanehan ini baru dimulai pada tahun 2004, sejak kecil ia tidak pernah mengalami gangguan dengan pendengarannya serta tidak ada riwayat masalah telinga di keluarga.Awalnya ia mengira terkena infeksi telinga, namun setelah diberi antibiotk hal ini tidak juga berkurang. Ia mulai menghindari suara-suara yang membuatnya sakit hingga akhirnya memilih berkonsultasi dengan ahli THT (telinga hidung tenggorokan). Saat itulah Chris didiagnosis memiliki alergi suara. Hal ini tentu saja membuatnya cemas karena mengganggu karirnya yang bekerja sebagai musisi yang otomatis selalu berhadapan dengan suara-suara musik.

Akhirnya Chris menjelajahi internet untuk mencari solusi hingga ia menemukan bahwa dirinya memiliki kondisi yang disebut dengan hyperacusis.
Dalam perawatannya, terapis selalu menyuruh Chris untuk berhenti menggunakan penutup telinga dalam kehidupan sehari-hari, karena alat tersebut hanya memperkuat hipersensitif terhadap suara. Ketakutan terbesarnya adalah mengalami kerusakan permanen pada telingannya. Jika mendengar suara keras, langsung timbul perasaan cemas dan stres yang membuat otak menghasilkan zat untuk meningkatkan sensitivas terhadap suara.

"Gejala dari hyperacusis bisa membuat seseorang sangat marah, sedih atau cemas seperti yang dialami oleh Chris. Menemukan dirinya akan panik ketika mencoba untuk lari dari suara yang mempengaruhinya," ujar Angela King, spesialis audiologi di RNID (Royal National Institute for Deaf People). Angela menuturkan sebagian besar orang dengan hyperacusis menggunakan alat penutup telinga untuk memblokir suara. Meskipun bisa memberikan bantuan sesaat, tapi hal ini bisa menghambat kemajuan seseorang untuk beradaptasi dengan suara serta membuat kondisi bertambah buruk.

Terapis membantu bagaimana menghindari situasi bising dimanapun ia berada, dengan begitu ia juga bisa belajar mengendalikan pola kecemasannya. Hal ini tentu saja membantunya mengatasi rasa sakit dan penderitaan yang disebabkan oleh suara-suara tertentu. "Sekarang saya dilengkapi dengan semua pengetahuan ini dan membuat saya merasa baik-baik saja. Sekarang saya tahu hal apa saja yang harus dan tidak boleh saya lakukan," ungkap Chris yang baru menyelesaikan album keduanya, Lady Gasoline.

Orang dengan hyperacusis tidak dipengaruhi oleh jenis suara yang sama, tapi gejala yang timbul seringali sama. Hingga kini tidak ada yang benar-benar memahami penyebab dari hyperacusis. Namun diduga penyebabnya karena sering terpapar suara keras dalam jangka panjang sehingga merusak struktur halus telinga bagian dalam. Selain itu otak juga memainkan peran penting dalam pemrosesan sinyal suara dari telinga bagian dalam.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 5:50 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Mon May 10, 2010 12:42 pm

GARA GARA ALLERGI KACANG, CIUMAN BERAKHIR DI RUMAH SAKIT
Jumat, 09/07/2010 15:00 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Orang yang alergi terhadap kacang bisa mengalami reaksi yang parah dan berlebihan bila makan kacang atau produk kacang lainnya. Terbukti, seorang gadis yang alergi kacang harus dilarikan ke rumah sakit gara-gara berciuman dengan pacarnya yang makan sereal kacang. Laura Kukic, gadis belia yang berusia 14 tahun, mengalami shock setelah berciuman dengan pacarnya yang makan sarapan sereal hazelnut di pagi hari. Laura yang alergi kacang-kacangan langsung menunjukkan reaksi yang berlebihan.

Wajahnya mulai membengkak dan mengalami kesulitan bernapas. Setelah dibawa ke ruang UKS di sekolahnya, ia disuntikan Epipen dan petugas kesehatan segera memanggil ambulans. Laura kini sedang dalam tahap pemulihan penuh. Tapi pengalaman ini memberi peringatan pada anak-anak muda yang memiliki alergi yang sama, bahwa ciuman dapat berbahaya bahkan dapat berakhir di rumah sakit.

Pada hari itu, pacar Laura (16 tahun) sedang menunggu di tangga sekolah. "Beberapa anak sedang bersiap masuk kelas dan seperti biasa kami saling memberi ciuman. Itu hanya ciuman 'say hello'. Tidak ada yang berlebihan, bibir kami hanya bersentuhan singkat," jelas Laura, seperti dilansir dari Dailymail, Jumat (9/7/2010). Laura pertama kali didiagnosis dengan alergi kacang parah ketika dia berusia tiga tahun. Ia harus membawa 'Epipen' kemanapun ia pergi. Epipen digunakan untuk memberikan injeksi adrenalin ke dalam aliran darah, yang membalikkan reaksi alergi oleh penyempitan pembuluh darah dan membuka saluran udara.

Alergi pada remaja ini terjadi setiap kali kontak dengan kacang. Meski sedikit, tapi akibatnya dapat menimbulkan reaksi yang parah. Wajah bengkak, tenggorokan mengeras dan ia akan kesulitan bernapas. Kondisi ini disebut dengan anaphylactic shock. "Ini memberikan pelajaran pada saya dan Anda, bagaimana sesuatu yang dianggap aman akan beralih menjadi sesuatu yang berbahaya. Siapa bilang cinta hanya soal hati dan mawar?" pungkas Laura.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 5:56 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Mon May 10, 2010 12:45 pm

BILA DENYUT JANTUNG TAK BOLEH MENINGKAT
Senin, 02/08/2010 10:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
London, Kecepatan detak jantung manusia bergerak sesuai dengan aktivitasnya. Jika dalam kondisi santai detak jantung akan stabil tapi jika sedang naik tangga, jalan cepat atau berlari denyut jantung akan meningkat. Bagaimana jika denyut jantung tak boleh meningkat? Itulah repotnya yang dialami penderita Exercise-Induced Anaphylaxis (EIA). Penyakit langka ini bisa membuat penderitanya terbunuh jika ia mengalami peningkatan denyut jantung karena peningkatan denyut jantung akan menimbulkan reaksi alergi fatal.

Jika denyut jantung penderita EIA naik, maka alergi yang muncul berupa saluran udara menjadi tertutup dan sangat sulit bernapas. Alhasil, penderita EIA harus terus menjaga denyut jantungnya agar selalu stabil. Jalan tidak boleh cepat atau terburu-buru, tidak bisa naik turun tangga, menghindari olahraga dan tidak boleh panik. Hidup menjadi sangat datar bagi penderita EIA seperti yang dialami Ruth Holroyd (37 tahun) yang tidak bisa ekspresif dan bersikap spontan karena harus terus-terusan bersikap super hati-hati menjaga denyut jantungnya.

"Ketika saya mendapatkan serangan, kondisinya sangat menakutkan. Saya merasakan saluran udara saya menjadi tertutup dan sangat sulit bagi saya untuk tidak boleh menjadi panik. Reaksi alergi ini telah mengambil seluruh hidup saya, jadi saya tidak bisa memutuskan untuk lari atau berenang sesuka hati saya," ungkapnya, seperti dikutip dari Dailymail, Senin (2/8/2010). Kondisi ini tentu saja sangat menyiksa bagi Ruth, karena sebelum terserang EIA ia adalah seorang yang aktif dan reaksi alergi ini baru muncul setelah ia berusia di atas 30 tahun. Sebelumnya Ruth memang punya riwayat menderita asma dan juga berbagai alergi, tapi ia tidak pernah mendapatkan serangan alergi langka ini.

Serangan analfilatik ini baru dirasakannya sekitar tiga tahun lalu, saat ia sedang berjalan-jalan tiba-tiba mulai merasakan serak dan lama kelamaan ia harus bernapas dengan terengah-engah dan mulutnya bergetar. "Ketika saya pulang dan melihat cermin, saya hampir tidak mengenali diri saya sendiri karena wajah saya memerah dan timbul ruam yang besar-besar. Saya berusaha untuk menelepon ambulance tapi tidak bisa karena lidah saya membengkak dan tidak dapat berbicara," ujarnya. Ruth mengungkapkan bahwa dirinya sudah dua kali mendapatkan serangan seperti itu, karenanya ia harus berhati-hati dalam melakukan segala hal agar denyut jantungnya tidak meningkat yang dapat berakibat fatal bagi dirinya.

Salah satu gejala dari serangan EIA ini adalah saluran udara yang mulai menutup sehingga seseorang tidak bisa bernapas. Untuk mengatasinya dibutuhkan sebuah suntikan adrenalin dalam waktu beberapa menit, suntikan ini bisa mengurangi pembengkakan dan juga memungkinkannya untuk bernapas lebih lega. "EIA adalah suatu kondisi yang sangat langka dan bisa berakibat fatal jika seseorang tidak tahu bagaimana mengelolanya dengan benar. Hingga kini penyebabnya belum dapat diketahui dengan pasti," ujar Lindsey McManus, dari badan amal Allergy UK.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 5:51 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Wed May 12, 2010 6:16 am

10 TEMPAT PEMICU ALERGI
Rabu, 06/10/2010 11:45 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Alergi bisa dipicu oleh apa saja yang ada disekitar kita dan tergantung dari kerentanan masing-masing orang. Setidaknya ada 10 tempat pemicu alergi yang bisa jadi panduan untuk menghindari alergi. Sumber alergi yang selama ini diketahui adalah bulu binatang, jamur, debu, tungau (serangga kecil) atau serbuk sari yang dibawa dari luar rumah. Tapi bahan pemicu alergi atau biasa disebut alergen mungkin saja mengintai di tempat-tempat tertentu yang kadang tak terduga dan bisa membuat kondisi seseorang bertambah buruk. Dikutip dari Prevention, Rabu (6/10/2010) ada beberapa tempat yang bisa membuat seseorang bersin atau memicu munculnya alergi, yaitu:

1. Bantal sofa dan boneka mainan
Saat seseorang duduk di sofa atau bermain dengan boneka mainan, maka barang tersebut akan langsung kontak dengan kulit. Hal ini berarti ada kemungkinan serpihan kecil yang mengelupas memicu timbulnya tungau debu. Usahakan selalu membersihkan sofa dengan penyedot debut selama 10-15 menit setiap minggunya.

2. Rak buku
Debu yang menempel pada rak buku, termasuk bingkai foto atau barang lainnya yang menumpuk dapat memicu timbulnya alergi. Buku juga berkontribusi terhadap adanya kemungkinan alergen yang muncul dari percetakan, terutama jika kondisinya lembab. Usahakan untuk menjauhkan rak buku dan segala jenis rak lainnya dari kamar tidur, serta rajin membersihkan permukaan rak setidaknya sekali dalam seminggu.

3. Bantal tidur
Kehangatan dan kelembaban tubuh seseorang mendorong debu dan tungau tumbuh di bantal tidur, tidak peduli apakah bantal terbuat dari kapuk atau busa. Untuk mengatasinya usahakan mengganti bantal baru setiap tahunnya serta mengganti sarung bantal setiap seminggu sekali. Jika memungkinkan, tidak ada salahnya untuk mencuci bantal satu atau dua kali dalam sebulan.

4. Lantai kamar mandi
Beberapa orang terkadang mendapati dirinya bersin-bersin atau mengi ketika keluar dari kamar mandi. Kondisi ini kemungkinan akibat kelembaban yang terjebak pada lantai kamar mandi, sehingga debu tungau dan jamur dapat berkembang biak dengan leluasa. Sebaiknya membersihkan lantai kamar mandi setiap minggu. Selain itu tak ada salahnya untuk membuka jendela setelah selesai mandi, sehingga terjadi sirkulasi udara.

5. Segel di pinggiran pintu kulkas
Tempat tersebut merupakan salah satu daerah yang jarang dibersihkan, sehingga menjadi tempat perkembangbiakan yang ideal. Tempat tersebut biasanya kotor akibat adanya remah makanan yang jatuh atau tumpah saat keluar atau masuk kulkas dan lembab, sehingga jamur dapat tumbuh. Untuk mengatasinya lap segel dengan menggunakan kapas atau kain secara menyeluruh setiap minggu.

6. Pemanas makanan
Ternyata panci yang mendidih bisa menjadi pemicu alergi yang signifikan. Uap yang berembus dari panci atau wajan setiap harinya akan menempel di dinding, plafon, rak atas atau tempat-tempat disekitarnya. Untuk itu pastikan kipas kompor gas berfungsi dengan baik untuk mencegah kelembaban dan menghilangkan spot-spot tersebut.

7. Pakaian lembab
Membiarkan pakaian yang basah di keranjang baju atau mesin cuci bisa menyebabkan kuman, jamur dan bakteri tumbuh serta menyebar ke tumpukan cucian. Karena itu segeralah cuci pakaian yang lembab atau basah, dan jika memang memiliki alergi sebaiknya menggunakan deterjen cair agar tidak memperburuk alergi.

8. Rambut dan pakaian
Ketika seseorang tiba di rumah setelah bepergian, maka debu dan serbuk dari luar bisa menempel di rambut dan pakaiannya. Rambut yang panjang dan gaya rambut yang cenderung longgar lebih memudahkan alergen menempel. Untuk menghindarinya, gunakan pelindung rambut seperti topi atau scarf. Ketika tiba di rumah, gantilah dengan pakaian yang biasa digunakan di rumah dan membersihkan rambut dengan cara mencuci dan menyisirnya.

9. Akuarium ikan
Jika tidak dirawat dengan benar, maka akuarium berisi ikan-ikan yang lucu bisa menjadi pemicu timbulnya alergi. Jamur bisa tumbuh di dalam atau luar akuarium, serta makanan ikan yang berserakan juga dapat mengembangkan koloni tungau atau jamur. Untuk itu bersihkan akuarium secara teratur dengan mengelapnya hingga kering dan membersihkan pakan ikan yang berserakan.

10. Tamu yang memiliki hewan peliharaan
Tanpa disadari, tamu yang datang bisa membawa bulu binatang peliharaannya ke dalam rumah. Bulu yang ikut terbawa ini biasanya jika menempel di pakaian dan menyebar di furniture, meskipun hewan peliharaannya tidak dibawa. Jika diketahui teman atau saudara memiliki hewan peliharaan, tak ada salahnya untuk rajin membersihkan sofa atau mungkin melapisinya dengan filter HEPA yang dapat menangkap partikel kecil.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 5:53 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Thu May 13, 2010 10:55 am

ALERGI BERKURANG DENGAN YOGA
Sabtu, 03/07/2010 11:55 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Yoga menjadi salah satu alternatif pilihan olahraga yang memiliki banyak manfaat, sehingga makin banyak orang mengikuti kelas-kelas yoga. Salah satu manfaat yoga adalah mengurangi alergi. Setiap bernapas, orang menghirup partikel seperti debu, kuman, asap, bulu dan polutan (semua yang dapat menyebabkan alergi). Hidung berfungsi sebagai penyaring udara alami, melindungi tubuh dari kotoran. Pernapasan adalah elemen inti dari yoga. Bernapas melalui hidung, seperti yang dilakukan dalam Ayurvedic dan yoga tradisional dapat memberikan efek menenangkan pada tubuh.

Di antara teknik-teknik penyembuhan diri, napas bekerja dengan unik karena bernafas adalah satu-satunya cara untuk meningkatkan kesadaran, memelihara dan memperbaiki sistem tubuh lainnya. Denyut jantung, tekanan darah, sirkulasi, pencernaan, sekresi hormon dan mental, serta keadaan emosional semua dapat dikendalikan, dikelola dan disembuhkan melalui praktik pernapasan yang tepat. Seperti dilansir dari SheKnows, Sabtu (3/7/2010), berikut teknik pernapasan pada latihan yoga yang dapat mengurangi alergi:

1. Tarik napas melalui hidung dengan kemampuan penuh
2. Tahan napas
3. Ambil napas sedikit lagi, dan tahan. Ulangi sekali lagi. Latihan ini akan meningkatkan kemampuan paru-paru dan otot interkostal (otot-otot antara paru-paru yang membantu pernapasan).
4. Tahan selama 10 hitungan
5. Perlahan-lahan hembuskan napas melalui hidung, menggunakan otot perut untuk mendorong sedikit udara keluar.

Bagi penderita alergi, setelah melakukan teknik pernapasan ini, sebaiknya melakukan pencucian hidung (nasal rinsing). Hal ini untuk mengurangi partikel-partikel yang tetap terhirup di hidung dan sinus, yang dapat menyebabkan iritasi atau alergi.


GATAL ALERGI HILANG DENGAN AKUPUNTUR
Kamis, 24/12/2009 07:40 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Munich, Akupuntur biasa dilakukan untuk menghilangkan sakit kepala, pegal atau membuat tubuh merasa lebih baik. Kini akupuntur bisa mengurangi rasa gatal akibat alergi atau penyakit eksim. Eksim adalah istilah umum untuk menunjukan kondisi kulit yang mengalami peradangan, kering, merah dan gatal. Bentuk yang paling umum untuk orang yang mengalami eksim adalah mudah terkena alergi, demam atau asma.

Dalam penelitian terbaru, para peneliti dari Jerman ingin melihat efek jangka pendek dari akupuntur pada kondisi peradangan kulit dan gatal-gatal terhadap 30 orang yang mengalami eksim atopik (alergi kronis). Ditemukan bahwa terapi akupuntur yang dilakukan selama beberapa menit pada kulit pasien yang mengalami alergi bisa mengurangi rasa gatal yang ditimbulkan. Selain itu, jika pasien mengalami alergi lagi setelah melakukan akupuntur cenderung memiliki reaksi kulit yang lebih ringan. Hal ini dilaporkan dalam Journal Allergy.

"Temuan yang didapatkan ini masih bersifat subyektif dalam hal mengurangi gatal pada penderita alergi atau eksim atopik, karena 30 partisipan mendapatkan kondisi pengujian yang berbeda," ujar Dr Florian Pfab dari Technical University of Munich, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (24/12/2009).
Satu kelompok pasien yang memiliki gatal-gatal akibat alergi mendapatkan akupuntur dengan benar, yakni jarum diletakkan di titik-titik yang menurut pengobatan China berkaitan dengan gatal-gatal di kulit. Kelompok kedua, pasien mendapatkan akupuntur dengan posisi jarum tidak berdasarkan pengobatan China sedangkan kelompok ketiga tidak menerima perlakuan akupuntur.

Secara keseluruhan Pfab dan tim menemukan bahwa tingkat gatal yang paling rendah didapatkan pada kelompok satu, yakni mendapatkan akupuntur dengan titik-titik yang tepat dibandingkan dengan kelompok dua dan tiga. Kemudian saat terjadi gatal-gatal kembali, reaksi kulit yang dihasilkan tidak terlalu berat setelah dilakukan akupuntur dengan titik spesifik. Akupuntur adalah suatu teknik pengobatan yang telah digunakan sejak 2.000 tahun lalu untuk mengobati berbagai penyakit. Dengan menggunakan titik-titik akupuntur tertentu di kulit, akan merangsang energi yang sehat untuk masuk ke jaringan internal tubuh.

Penelitian modern juga telah menunjukkan akupuntur dapat membantu meringankan rasa sakit dengan mengubah sinyal-sinyal di antara sel saraf atau mempengaruhi dikeluarkannya berbagai zat kimia dari sistem saraf pusat. "Rasa sakit dan gatal memiliki kemiripan dalam mekanisme prosesnya, sehingga dampak akupuntur juga bisa dirasakan untuk mengurangi rasa gatal pada pasien yang alergi atau memiliki eksim," ujar Pfab.


Last edited by gitahafas on Wed Oct 20, 2010 10:06 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Fri May 28, 2010 6:50 pm

SINDROM AKIBAT ALERGI UDARA DINGIN
Kamis, 30/09/2010 15:00 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
California, Wajar, jika banyak orang yang tidak kuat udara dingin apalagi bagi yang tinggal di daerah tropis. Tapi jika alergi dinginnya sudah parah seperti tidak bisa kena angin itu tentu sudah merepotkan. Kondisi ini dialami oleh Shelly Vincent (39 tahun) yang telah menderita sindrom CAP (cyropyrin associated periodic) sejak lahir dan memiliki 10 anggota keluarga yang juga menderita penyakit ini, termasuk ibu dan anak perempuannya.

"Sesuatu yang sederhana seperti kipas angin di atas kepala bisa menyebabkan wajah atau bagian tubuh seperti mata memerah, kondisi ini terjadi satu atau dua jam setelah terpapar. Jika tidak segera dihangatkan, maka nyeri sendi yang ekstrim dan gejala flu akan segera menyerang," ungkap Vincent seperti dikutip dari Sheknows, Kamis (30/9/2010). Sindrom CAP adalah kelainan genetik langka yang dapat menyerang beberapa anggota keluarga. Bagi orang yang memiliki sindrom CAP, kondisi ini bisa menyebabkan gangguan neurologis jika terpapar udara dingin.

Biasanya seseorang akan mendapatkan gejala flu dan merasakan sakit di persendian setiap kali terpapar udara dingin atau terjadi penurunan suhu di sekitarnya. Diperkirakan penderita sindrom CAP ini sekitar 1-3 dari 1 juta orang, namun sulit untuk memastikannya karena sindrom CAP adalah kondisi yang relatif tidak dikenal. Dr Hal Hoffman, seorang profesor pediatrik dan kedokteran dari University of California di San Diego dan Rady Children’s Hospital menuturkan bahwa mutasi genetik ini dapat terjadi secara spontan sebelum pembuahan.

"Cryopyrin adalah protein yang diubah. Protein ini adalah pengendali sistem kekebalan tubuh yang penting, ketika diubah maka menghasilkan peradangan yang tidak terkontrol," ungkap Dr Hoffman. Dr Hoffman menuturkan derajat nyeri, demam, ruam, kelelahan dan dampak lainnya tergantung pada subtipe sindrom CAP yang dimilikinya. Terdapat tiga subtipe dari CAPS yang ditandai dengan keparahan gejala.

Ketiga subtipe tersebut adalah familial cold auto-inflammatory syndrome (FCAS), Muckle-Wells Syndrome (MWS) dan neonatal-onset multisystem inflammatory disease (NOMID) atau dikenal juga dengan chronic infantile neurologic cutaneous articular syndrome (CINCA). "Perbedaan utamanya adalah tingkat keparahan dengan FCAS yang paling ringan dan NOMID yang paling parah," ungkapnya. Pada FCAS serangan dipicu oleh paparan lingkungan dingin seperti kamar ber-AC atau angin sepoi-sepoi dingin. Untuk MWS sering dikaitkan dengan gangguan pendengaran dan gangguan ginjal parah yang disebut amylloidosis. Sedangkan pasien NOMID sering mengalami masalah neurologis yang signifikan dan pertumbuhan lutut abnormal.

Jika tidak diobati, gejala yang muncul bisa semakin parah misalnya untuk penderita MWS dapat mengalami gangguan pendengaran sejak remaja, atau mengalami gagal ginjal yang memerlukan dialisis (transplantasi). Untuk anak yang memiliki NOMID bisa mengalami kebutaan, tuli, keterlambatan perkembangan, kejang, pertumbuhan yang buruk dan kesulitan berjalan. Sindrom CAP bisa sangat membatasi kualitas hidup seseorang. Untuk mencegah munculnya gejala bisa menggunakan baju lengan panjang dan jaket meskipun cuacanya hangat, atau menggunakan bantuan obat-obatan untuk mencegah gejala dan perawatan. Namun dengan pengobatan yang baik, penderita sindrom CAP bisa hidup normal dan menghindari gejala gatal-gatal atau nyeri sendi yang biasa timbul saat terpapar udara dingin.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 5:47 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Fri May 28, 2010 6:54 pm

4 CARA MENGATASI ALERGI UDARA
Kamis, 25/3/2010 | 17:55 WIB
KOMPAS.com - Paling enggak enak kalau kita mulai bersin-bersin. Bangun tidur, bersin-bersin. Melihat kucing, bersin-bersin. Menghirup udara di luar, juga bersin-bersin. Sudah begitu, saat ada pemicunya, bersin tersebut tak juga mereda. Apa yang bisa kita lakukan bila hal ini terjadi? Tip dari majalah Women's Health mungkin bisa Anda coba:

1. Tutup jendela. Menutup jendela memang membuat udara lebih panas. Namun menghindari udara yang berkualitas buruk, atau ketika tanaman di luar rumah sedang berbunga, perlu dilakukan. Bila Anda memasang AC di dalam ruangan, pilih yang menggunakan filter, untuk membantu membersihkan udara di dalam rumah.

2. Ganti pakaian ketika pulang ke rumah. Ini memang hal biasa. Tetapi kadang-kadang karena keburu lapar atau kelelahan, Anda hanya mencuci tangan dan kaki, lalu makan. Mengganti pakaian setelah Anda beraktivitas di luar rumah dapat mengurangi jumlah alergen yang masuk ke dalam rumah melalui pakaian.

3. Kenakan sunglasses. Kacamata hitam dengan kualitas lensa yang baik akan menambahkan lapisan pelindung di antara serbuk spora di udara dan mata, atau bulu mata Anda.

4. Hindari sabun batangan. Menurut sebuah studi yang dipublikasikan di Trends in Immunology, menggunakan sabun batangan dapat mengurangi lapisan pelindung pada kulit yang sebenarnya melindungi Anda dari alergi yang sifatnya musiman. Karena itu, sebaiknya Anda memakai sabun cair saja.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 5:48 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Mon Jun 07, 2010 8:31 am

KETIKA ALERGI DATANG
Jumat, 19/2/2010 | 08:47 WIB
KOMPAS.com - Pada tahun 2000, Resource Limited (marketing research) melakukan penelitian di Inggris bagian selatan. Hasilnya, sekitar 70 persen penderita alergi baru mengetahui kalau dirinya alergi setelah lebih dari 7 tahun mengalami gejalanya. Saat terpapar alergen, tubuh memproduksi immunoglobulin E (IgE) yang berfungsi untuk menghancurkan zat yang dianggap berbahaya bagi tubuh. Kemudian IgE melekat di mast cell (jaringan sel yang memproduksi histamin ketika alergen masuk). Interaksi antara IgE dengan mast cell bermanifestasi dalam bentuk reaksi alergi yang biasa kita lihat (kulit gatal-gatal, mual atau bengkak di bagian tubuh tertentu). Tidak mustahil, kita sama seperti masyarakat Inggris Selatan. Terheran-heran mengapa tiba-tiba setiap pagi selalu bersin. Padahal sebelumnya tidak pernah.

Penelitian yang didanai oleh perusahaan farmasi Jerman, Altana Pharma, menyebutkan alergi yang dianggap baru timbul saat dewasa ternyata karena kita tidak menyadarinya. Atau karena ada perubahan hormon dan gaya hidup. Dr Danche Theno, SpP, spesialis alergi dari RS Pantai Indah Kapuk, menegaskan penelitian ini. "Alergi bisa terjadi pada siapa saja. Tingkat risiko alergi seseorang ditentukan oleh faktor genetik, lingkungan, dan daya tahan tubuh. Kalau daya tahan tubuh rendah, alergi mudah muncul," katanya.

Ada beberapa kenis alergi yang umum dikeluhkan oleh orang dewasa, yaitu alergi udara dingin, alergi parfum, alergi nikel (banyak diderita wanita, contohnya ketika memakai aksesori berbahan nikel), alergi tumbuhan, alergi alkohol, dan alergi telur. Alergi telur, misalnya, menurut penelitian Mayo Foundation for Medical Education and Research umum terjadi pada anak-anak. Namun, ada juga orang dewasa yang alergi telur. Baik yang dimakan atau yang terpapar di kulit.

Menurut American Academy of Allergy, Asthma and Immunology, zat penyebab alergi dalam telur adalah protein ovomukoid, ovalbumin, ovontransferin, dan lisozim. Zat-zat ini lebih banyak terdapat dalam putih telur. Protein-protein ini merangsang reaksi sistem kekebalan tubuh secara berlebihan. Akibatnya, tubuh kita menghasilkan antibodi untuk melawan protein telur yang sebenarnya tidak berbahaya.

Gejala alergi akan muncul beberapa menit atau beberapa jam setelah telur dikonsumsi atau terpapar di kulit. Biasanya berupa kulit yang terasa gatal dan menjadi merah, atau pembengkakan di beberapa bagian tubuh, seperti bibir atau mata. Ada juga orang yang jadi sulit bernafas akibat mengonsumsi telur.

Untuk mencegah gejala alergi muncul, perhatikan dengan seksama makanan yang dikonsumsi agar tidak mengandung telur. Saat makan di restoran, jangan segan bertanya ke pelayan apakah menu yang dipesan mengandung telur atau tidak. Jika gejala yang timbul berat, misalnya sesak nafas akut, segera ke dokter untuk mendapatkan suntikan epinefrin yang mengaktifkan adrenalin. Hormon adrenalin menyebabkan jantung bekerja lebih keras memompa darah sehingga persediaan oksigen meningkat. Tes alergi yang dianjurkan adalah tes darah dan skin test untuk mengetahui bahan apa di dalam telur yang menyebabkan reaksi alergi muncul.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 5:49 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Mon Jun 07, 2010 8:34 am

PERTANYAAN SEPUTAR ALERGI PADA ANAK
Senin, 18/10/2010 | 18:08 WIB
KOMPAS.com - Pertanyaan seputar alergi bisa menghantui para orangtua. Mulai dari seperti apa gejalanya, penyembuhannya, serta apakah bisa teridentifikasi sejak masa kandungan. Agar lebih jelas mengenai alergi pada anak (batita), berikut tanya-jawab seputar alergi dengan dr Iris Rengganis, SPPD, K-AI, FINASIM, divisi alergi imunologi klinik departemen ilmu penyakit dalam, FKUI/RSCM.

1. Orang awam kerap mengatakan, "bayi saya alergi susu". Apa sebenarnya yang dimaksud dengan alergi susu?
Alergi susu, artinya, bila minum susu, timbul alergi, biasanya berupa eksim atopi (dermatitis atopi). Alergi susu juga dapat dialami hingga dewasa. Memang, penggantian susu dengan susu kedelai adalah salah satu solusi, tetapi itu bukan satu-satunya solusi. Bisa juga dengan mengganti susu formula dengan susu yang dihidrolisis misal, Nan HA.

2. Bahan apa dalam susu yang menyebabkan alergi?
Bahan dalam susu yang menyebabkan alergi adalah proteinnya.

3. Apakah ASI dapat menjadi penyebab alergi susu dan harus dihentikan?
Bisa saja, karenanya, ibu harus diet makanan yang sering menyebabkan alergi, seperti susu, telur, makanan laut, vetsin, dan makanan lain yang dicurigai.

4. Gejala apa yang bisa dikenali bila anak menderita alergi khususnya makanan?
Gejala umumnya berupa gatal-gatal pada kulit yang disebut dermatitis atopi atau biduran/kaligata yang disebut urtikaria. Namun, dapat juga mengenai saluran napas berupa asma.

5. Benarkah pada ibu yang memiliki riwayat alergi makanan, terutama pada saat hamil menjadi alergi pada makanan tertentu, anaknya akan menderita alergi pada bahan makanan yang sama?
Belum tentu, bisa ya, bisa juga tidak. Alergi memang dapat diturunkan secara genetik, tetapi jenis alerginya tidak harus sama, bisa saja ibunya alergi makanan tertentu, aanknya menderita asma atau pilek alergi, atau juga anaknya alergi makanan yang sama jenisnya dengan ibu, tetapi bisa juga berbeda, misalnya anaknya alergi udang, ibunya alergi bukan udang.

6. Bila anak sudah pernah (terbukti) alergi terhadap produk susu, bisakah ibu memberikan makanan mengandung susu sperti biskuit, pancake, bubur susu, dan sebagainya?
Tidak bisa, harus dihindari. Jika anak terbukti memiliki alergi terhadap susu sebaiknya bukan hanya menghindari susu, tetapi harus menghindari produk susunya juga.

7. Bisakah ibu mencegah anak mewarisi bakat alergi ibu?
Genetik tidak dapat dicegah, tetapi dihindari. Bila orangtua telah diketahui memiliki riwayat alergi dan anak sudah pernah menunjukkan gejala alergi, sebaiknya hindari saja bahan-bahan yang menimbulkan reaksi alergi.

8. Bahan makanan apa saja yang bisa memicu alergi pada batita?
Alergi pada batita dapat berupa alergi terhadap; susu, telur, kacang, makanan laut, dan minyak ikan.

9. Bisakah alergi disembuhkan atau harus bagaimana bila ibu sudah mengetahui anak punya alergi terhadap bahan makanan tertentu?
Alergi tidak dapat disembuhkan, tetapi dikontrol. Alergi dipengaruhi dua faktor, yaitu faktor genetik yang tidak bisa diapa-apakan, dan faktor lingkungan yang harus dikontrol.

Jadi alergi dapat diketahui dari pengalaman pasien dan kita dalam melakukan tes alergi melalui uji tusuk kulit atau skin prick test, dan pemeriksaan darah IgE Atopi untuk mengetahui faktor pencetus. Dengan demikian pasien dapat mencegah kambuhnya penyakit alergi dengan cara menghindari penyebabnya.

10. Usia berapa anak bisa menjalani tes alergi dan bagaimana prosedurnya?
Tes alergi berupa uji tusuk kulit sudah dapat dilakukan pada usia 1 tahun, kurang dari 1 tahun juga bisa, hanya saja bayi terebut belum banyak paparannya, sehingga umumnya dilakukan pada anak usia di atas 1 tahun.

Prosedurnya adalah tidak minum antialergi atau antihistamin 3 hari sampai 1 minggu (tergantung jenis antihistaminnya). Hal ini untuk menghindari hasil negatif palsu.

Uji tusuk kulit pada anak 1 tahun sering dilakukan di paha, pada usia batita hingga dewasa biasanay dilakukan pada lengan bawah. Alergen ditetes di lengah bawah, kemudian tiap alergen yang ditetes, ditusuk dengan jarum khusus, lalu didiamkan 15 menit untuk menunggu reaksi yang muncul, setelah itu dilap dengan tisu dan tes siap dibaca. Reaksi positif dinyatakan dengan timbulnya bentol yang berukuran diameter 3mm.

(Laili Damayanti/Tabloid Nova)


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 5:51 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Mon Jun 07, 2010 9:24 am

MENGAPA HARUS TES ALERGI?
Jumat, 19/2/2010 | 08:16 WIB
KOMPAS.com - "Anak saya berumur 7 tahun, sejak tiga bulan ini menderita gatal-gatal disertai bentol-bentol di kulit. Bila makan obat alergi yang diberikan dokter, keluhannya hilang. Tetapi begitu obat dihentikan, maka bentol-bentol di kulitnya timbul kembali. Menurut dokter, kelainan yang diderita anak saya adalah urtikaria. Dokter menganjurkan untuk menghindari makanan yang mengandung udang, kepiting, dan kacang. Ia juga tidak boleh meminum minuman yang berisi zat pengawet. Semua nasihat dokter telah dituruti, namun bentol-bentol di kulit masih timbul kembali. Untuk itu dokter menganjurkan anak saya dites alergi di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

Apa manfaat tes tersebut? Bagaimana prosedur tes tersebut?"
Tes alergi memang dapat menunjang untuk menentukan penyebab alergi. Tetapi tes ini baru dapat digunakan bila telah dilakukan wawancara yang teliti mengenai timbulnya urtikaria pada anak Anda. Jadi misalnya pada riwayat penyakit didapatkan urtikaria timbul setelah makan kacang dan tes pun menunjukkan hasil positif terhadap alergen kacang, barulah dapat disimpulkan kemungkinan urtikaria karena kacang.

Sebaliknya dapat terjadi, tes alergi positif terhadap udang, padahal orang yang dites alergi bila makan udang tidak timbul alergi. Pada keadaan ini, tes alergi tidak dapat menunjang penyebab alergi. Selain tes alergi yang biasanya dilakukan di lengan, dapat juga dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk menentukan alergen penyebab serangan alergi.

Hanya pemeriksaan ini memakan waktu lama dan biayanya lebih mahal. Tes alergi berupa tes tusuk (prick test) dapat diketahui hasilnya dalam 15 menit. Prinsip tes ini adalah bahan alergen yang dicurigai (dalam bentuk cairan) diteteskan pada lengan dan dilakukan tusukan pada tetesan tersebut.

Bila penderita alergi terhadap salah satu bahan, maka akan timbul bentol dan kemerahan. Ukuran bentol menggambarkan derajat sensitivitas penderita terhadap alergen tersebut. Biasanya tes alergi ini dapat dilakukan pada anak di atas umur 4 tahun. Tes ini tidak dapat dilakukan bila terdapat kelainan di daerah kulit yang akan dites. Tes ini juga tidak dapat dilakukan bila pasien sedang dalam keadaan hamil.

Untuk menghindari pengaruh obat yang dapat mengurangi reaksi alergi pada tes tersebut, maka obat-obat yang termasuk golongan antihistamin tidak boleh dipakai sebelum tes. Jadi tes alergi dapat membantu, tetapi tidak memastikan penyebab alergi.

Prinsip pengobatan alergi adalah menghindari alergen, mengobati gejala dengan obat antialergi, serta terapi imun untuk mengurangi kepekaan terhadap alergen. Untuk urtikaria, bila penyebabnya dapat dikenal, maka penyebab tersebut perlu dihindari. Bila anak alergen terhadap makanan tertentu, maka makanan tersebut hendaknya dihindari. Untuk menghilangkan gejala urtikaria, dapat diberikan obat golongan antihistamin. Pada umumnya, untuk mengobati urtikaria tidak diperlukan terapi imun.

Sumber: Buku Panduan Hidup Sehat, Dari Alergi Sampai Gemuk, oleh dr Samsuridjal Djauzi


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 5:52 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Sat Jun 12, 2010 11:37 am

FOOD ALLERGY ATAU FOOD INTOLERANCE?
Kamis, 26/11/2009 | 15:28 WIB
KOMPAS.com - Pernahkah Anda mengalami gatal-gatal pada kulit usai menyantap udang, atau si kecil yang menjadi diare setelah meminum susunya? Apakah hal ini merupakan pertanda Anda mengalami alergi makanan, atau sekadar tidak dapat mentoleransi jenis makanan tertentu? Adakah perbedaan di antara keduanya?

Sebuah studi yang dipublikasikan di Annals of Allergy, Asthma & Immunology mendapati bahwa meskipun kebanyakan dari kita mudah mengenali gejala alergi makanan, namun mayoritas pasti tak dapat membedakan apakah yang dimaksud alergi makanan dan intoleransi makanan. Dengan sendirinya, kita juga tidak tahu bagaimana menangani masalah ini.

Persoalan alergi makanan ini bahkan sepintas tak pernah ditanggapi serius, padahal akibatnya bisa fatal. Sementara itu, intoleransi makanan justru tak begitu meresahkan karena hanya mengakibatkan ketidaknyamanan. "Sepertinya orang tidak menyadari bagaimana alergi makanan yang sesungguhnya, karena hal ini serius, dan mempengaruhi seluruh aspek kehidupan," kata Scott H. Sicherer, MD, profesor bidang pediatri di Mount Sinai School of Medicine dan penulis buku Understanding and Managing Your Child's Food Allergies. "Bayangkan jika kita tidak bisa minum susu atau makan telur. Bagi anak, hal ini bisa mempengaruhi semua situasi sosialnya," tambahnya. Si kecil tak bisa makan makanan yang umum dikonsumsi anak-anak di lingkungannya, atau tak bisa ikut menikmati hidangan pesta ulang tahun temannya, karena alergi dengan semua jenis olahan susu.

Anda juga ingin tahu apa perbedaan antara alergi makanan dan intoleransi makanan?

Alergi makanan
Alergi makanan terjadi ketika sistem imunitas salah menyerang protein di dalam makanan, demikian menurut Dr. Sicherer. Ketika tubuh salah menanggapi jenis makanan, seperti kacang, sebagai substansi asing, tubuh mulai membentuk antibodi untuk melawan substansi tersebut. Ketika dalam kesempatan lain tubuh menemukan makanan itu lagi, antibodi segera merasakannya, dan memberi sinyal pada sistem imunitas untuk bereaksi. Dan inilah yang menyebabkan bintik-bintik merah yang gatal, bibir atau lidah membengkak, pusing, pingsan, bahkan dalam beberapa kasus, kematian. "Gejala-gejala ini dapat terjadi sangat cepat setelah memakan makanan yang salah," katanya. "Beberapa orang sangat sensitif, dan sedikit makanan saja dapat memicu reaksi."

Yang umum terjadi: Pada anak-anak, tiga jenis makanan yang paling sering memicu alergi adalah susu sapi, kacang, dan telur. Menurut hasil studi, banyak orang yang mengira alergi susu sapi pada anak bisa digantikan dengan susu rendah lemak. Sedangkan makanan pemicu alergi pada orang dewasa adalah kerang-kerangan.

Kesalahpahaman lain: Masih menurut hasil studi, sekitar 40 persen orang mengira bahwa alergi tak akan sembuh saat anak bertambah besar. Sekitar 55 persen orang mengira alergi makanan bisa sembuh, dan 30 persen percaya ada pengobatan harian untuk orang-orang dengan alergi makanan. Semua ini tidak benar: alergi bisa menghilang seiring bertambahnya usia. Alergi susu pada anak, misalnya, kelak dapat diatasi oleh si anak, kata Ruchi Gupta, MD, MPH, asisten profesor pediatri di Children's Memorial Hospital Northwestern School of Medicine, dan penulis studi tersebut. Namun satu-satunya cara untuk mengatasi alergi secara efektif adalah menghindari makanan pemicunya. Anda bisa melakukan pemeriksaan ke dokter untuk mengetahui apakah Anda alergi makanan atau hal-hal tertentu.

Intoleransi makanan
Intoleransi makanan tidak ada hubungannya dengan sistem imun. Orang yang tidak dapat mentoleransi makanan tertentu kehilangan beberapa komponen dalam sistem pencernaan yang diperlukan untuk mencerna makanan tersebut. Contohnya, intoleransi laktosa terjadi pada orang-orang yang kekurangan enzim pencernaan laktat. "Intoleransi makanan tidak menakutkan, hanya membuat kita tidak nyaman," kata Dr Sicherer. Gejala-gejalanya pun cenderung berhubungan dengan pencernaan, seperti kram pada perut, diare, banyak buang angin, dan kembung. Namun beberapa tambahan makanan dapat menyebabkan ruam dan gatal-gatal atau serangan asma, yang seringkali dikira sebagai gejala alergi. Sebagian orang bahkan dapat mentoleransi makanan yang dimaksud bila dalam jumlah kecil saja.

Yang umum terjadi: Ada suatu kondisi dimana orang tidak dapat mencerna makanan yang mengandung tepung gandum, dan hal ini merupakan bentuk yang umum dari intoleransi makanan. Selain itu, kebanyakan orang juga memiliki tingkat intoleransi tertentu terhadap laktosa. Zat tambahan pada makanan, seperti pewarna makanan, dan sulfida pada anggur, juga sering memicu intoleransi yang kerap disalahartikan sebagai alergi, demikian pendapat Dr Gupta. Jika Anda tidak yakin makanan apa yang memicu masalah pencernaan Anda, hilangkan semua bahan yang mencurigakan dalam makanan Anda, dan konsumsi kembali secara berangsur-angsur.

Kesalahpahaman lain: Beberapa intoleransi makanan dapat diatasi. Anda bisa mengonsumsi obat yang mengandung laktat, yaitu enzim yang menghilang dalam intoleransi susu.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 5:53 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Sat Jun 12, 2010 12:14 pm

BAHAN BAHAN DI SABUN MANDI YANG MEMICU ALERGI
Senin, 22/03/2010 17:56 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Sabun mandi seharusnya berfungsi untuk membersihkan kulit seseorang dari berbagai macam debu dan kotoran. Tapi tak jarang bahan yang terkandung di dalam sabun mandi justru menjadi pemicu timbulnya alergi (alergen). Alergen yang terkandung dalam sabun kulit dapat menyebabkan dermatitis yaitu suatu peradangan di kulit yang menimbulkan kemerahan, gatal atau bentol kecil-kecil yang berisi cairan.

Dermatitis bisa disebabkan adanya kontak alergen dengan tubuh melalui kulit sehingga menyebabkan peradangan, jika penggunaannya tetap dilanjutkan maka berpotensi menyebabkan masalah kulit yang lebih parah. Salah satu cara tercepat untuk mengembangkan dermatitis adalah seringnya kontak kulit dengan sesuatu yang dapat memicu timbulnya alergi, salah satunya melalui sabun mandi. Seperti dikutip dari Howstuffworks, Senin (22/3/2010) ada beberapa bahan dari sabun mandi yang sering menjadi pemicu timbulnya alergi, yaitu:

1. Sodium lauryl sulfate (SLS)
SLS adalah bahan yang umum ditemukan dalam sabun atau sampo. SLS adalah sejenis detergen yang berfungsi memecah minyak dan lemak, fungsi lain dari bahan ini adalah membuat sabun berbusa ketika digosok ke tubuh. Beberapa mitos mengungkapkan bahwa minyak di tubuh bersifat kotor sehingga harus dihilangkan, tapi sebenarnya manusia masih membutuhkan minyak dalam jumlah tertentu sebagai perlindungan. Namun SLS bekerja dengan cara memecahkan zat berminyak yang dianggap asing termasuk lapisan minyak yang menjaga agar kulit tidak kering. Jika SLS yang digunakan terlalu berlebihan akan melemahkan lapisan minyak yang menjadi penghalang masuknya unsur alergen dari luar, sehingga benda-benda asing dari luar bisa masuk dengan mudahnya.

2. Paraben
Paraben merupakan salah satu zat yang diproduksi secara alami dari kelompok ester, zat ini digunakan sebagai bahan pembuat sabun, sampo, pasta gigi serta deodoran. Reaksi alergi yang timbul memang jarang terjadi, namun jika sering digunakan akan meningkatkan kemungkinan reaksi alergi. Paraben juga sering dikenal dengan nama parahydroxybenzoic.

3. Balsam Peru (myroxylon)
Bahan ini digunakan sebagai campuran sabun, sampo dan parfum yang membantu memperlambat penguapan. Sekitar 60-70 persen balsam peru dibuat dari senyawa cinnamein yang sudah dikenal berpotensi menyebabkan alergi, sementara 30-40 persennya tidak diketahui terbuat dari resin apa. Gejala reaksi yang paling umum adalah eksim di tangan atau ruam merah di kulit.

4. Wewangian
Bahan wewangian ini biasanya campuran dari ester, aldehid, keton, amina dan bahan lainnya, sehingga sulit untuk menentukan bahan mana yang menimbulkan alergi. Pewangi sebenarnya tidak benar-benar berkontribusi terhadap pembersihan kulit, tapi hanya sebagai bahan tambahan saja. Reaksi alergi yang ditimbulkan dari bahan ini adalah kulit kering dan gatal.

Jika setelah mandi kulit menjadi kering, gatal atau muncul ruam-ruam merah, maka sebaiknya periksa kandungan dari sabun mandi yang digunakan. Karena ada kemungkinan salah satu kandungannya bersifat alergen bagi Anda.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 5:56 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Tue Jun 15, 2010 9:01 pm

GATAL GATAL SETIAP MAKAN TELUR
Selasa, 22/9/2009 | 13:54 WIB
KOMPAS.com - Setiap kali makan telur, kulit Anda gatal-gatal? Padahal sebelumnya Anda tak pernah mengalami rasa gatal ini. Apakah ini yang disebut dengan alergi telur? Bagaimana cara mengatasinya? Apakah Anda tidak boleh makan telur lagi untuk selamanya? Menurut Riani Susanto, ND, CT, naturapathy doctor, dan detoxification specialist, alergi sebenarnya terjadi ketika daya tahan tubuh merespons terhadap sesuatu yang tidak tepat, yang biasanya tidak berbahaya. Ini adalah bagian dari mekanisme pertahanan tubuh kita.

Banyak orang mengalami reaksi setelah mengonsumsi makanan tertentu. Namun, kebanyakan bukan disebabkan alergi makanan (food allergy), melainkan food intolerance. Hanya sekitar 6-8% anak dan 4% orang dewasa yang benar-benar bermasalah dengan food allergy. Namun, banyak orang masih bingung dalam membedakan dua hal ini.

Untuk kasus seperti gatal-gatal setiap makan telur (padahal dulu baik-baik saja), kemungkinan yang terjadi adalah food intolerance. Kondisi ini lebih umum dan tidak berbahaya, walaupun gejalanya seperti food allergy. Food intolerance terjadi pada saat tubuh kita tidak bisa mencerna komponen yang terkandung dalam makanan tertentu, dalam hal ini adalah protein dari telur.

Food intolerance bisa menjadi food allergy jika kita tidak memperhatikan apa yang diperlukan tubuh kita. Sebagai pencegahan, Anda perlu berhenti total atau tidak mengonsumsi telur dalam jangka waktu tertentu. Atau, Anda juga bisa mengonsumsi wholefood enzyme atau vegetarian enzyme, untuk membantu menghancurkan protein yang terkandung dalam telur. Minumlah sebelum atau sesudah mengonsumsi makanan yang mengandung protein tinggi.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 6:01 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12087
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Tue Jun 15, 2010 9:05 pm

MENGATASI ALLERGI TELUR DENGAN TELUR
Rabu, 03/03/2010 10:46 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
New York, Alergi telur sering dialami anak-anak. Untuk menghindari alergi telur biasanya disarankan tidak makan telur. Tapi kini peneliti telah menemukan cara jitu untuk mengatasi alergi telur yakni dengan memberikan putih telur dalam dosis yang dinaikkan. Studi yang dilakukan Hopkins Children di AS menemukan bahwa anak-anak yang mengonsumsi telur dengan dosis protein yang lebih tinggi ternyata dapat mengatasi alergi telur yang dialaminya.

Penemuan telah dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Academy of Allergy, Asthma & Immunology pada 2 Maret 2010 seperti dilansir Indiavision, Rabu (3/2/2010). Penemuan sebelumnya di Hopkins Children juga menunjukkan pendekatan yang sama. Penemuan tersebut dikenal dengan oral immunotherapy, yang telah berhasil digunakan untuk mengobati alergi susu pada anak. Beberapa anak dalam penelitian alergi susu ini telah berhasil mengatasi keadaan mereka dan banyak yang mengalami gejala alergi lebih ringan setelah diterapi.

Kini para peneliti melaporkan hasil yang sangat menggembirakan pada anak-anak alergi yang terhadap telur. "Seperti yang kita lihat pada pasien dengan alergi susu sebelumnya, oral immunotherapy untuk anak alergi telur bekerja dengan cara yang sama, tapi dengan pelatihan sistem imun yang perlahan untuk menolerir alergen yang menyebabkan reaksi alergi," kata Robert Wood, MD, direktur Allergy & Immunology di Hopkins Children. Para peneliti mengatakan hasil awal ini membutuhkan pemantauan jangka panjang terhadap pasien. Mereka juga memperingatkan bahwa oral immunotherapy dapat dilakukan hanya terhadap alergi pediatrik yang terlatih.

Dalam penelitian selama 11 bulan terhadap 55 anak usia 5-18 tahun, peneliti memberikan putih telur dengan dosis yang dinaikkan kepada 40 pasien selama melakukan tantangan makanan yang diadakan di sebuah klinik di bawah pengawasan seorang dokter. Sementara 15 anak-anak menerima plasebo, makanan seperti putih telur tetapi tidak mengandung protein telur.

Di akhir penelitian, lebih dari separuh anak-anak yang makan telur (21 dari 40 anak) dapat menolerir 5 gram telur tanpa reaksi alergi. Sebaliknya, tak satupun anak yang makan telur plasebo mampu menolerir telur selama melakukan tantangan makanan tersebut. Para peneliti mengatakan gejala-gejala ringan hingga sedang yang muncul dari alergi telur ini berupa gatal serta pembengkakan pada mulut dan tenggorokan. Seperti dilansir Kidshealth, telur sebenarnya makanan yang bagus karena mengandung protein untuk pertumbuhan badan dan perkembangan otak anak. Ketika seseorang alergi terhadap telur, maka sistem kekebalan tubuhnya akan bereaksi berlebihan pada protein dalam telur.

Setiap makanan yang terbuat dari telur masuk ke sistem pencernaan maka tubuh orang yang alergi telur akan berpikir bahwa protein ini berbahaya.
Kemudian oleh sistem kekebalan tubuh direspons dengan menciptakan antibodi spesifik untuk melawan makanan yang dianggap tubuh berbahaya itu. Antibodi imunoglobulin E (IgE) akan memicu pelepasan bahan kimia tertentu ke dalam tubuh, salah satunya adalah histamin.

Nah, ketika orang yang alergi telur makan makanan yang mengandung telur, sistem kekebalan tubuhnya akan mengeluarkan bahan-bahan kimia untuk melindungi tubuh. Pelepasan bahan kimia inilah yang mempengaruhi sistem pernapasan, saluran pencernaan, kulit, dan sistem kardiovaskular. Alergi ini menyebabkan gejala seperti sesak napas, mual, sakit kepala, sakit perut dan gatal gatal-gatal. Kebanyakan orang yang alergi telur pada protein dalam putih telur, tetapi beberapa orang juga tidak bisa menolerir protein dalam kuning telur. Alergi telur biasanya muncul ketika batita dan bertambah serius ketika usianya mencapai 5 tahun.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 6:04 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
 

Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll

View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 32Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 17 ... 32  Next

 Similar topics

-
» Penyakit berjangkit (Latihan 2)
» Antisipasi penyakit LEVER!!!!
» Seksyen 21 Akta Pemusnahan Serangga Pembawa Penyakit
» Telefon bimbit bukan punca barah: Kajian
» Bayi Demam Panas

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-