Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : 1, 2, 3 ... 16 ... 32  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Fri Dec 18, 2009 7:49 am

SINDROM STEVEN JOHNSON ( SSJ )
Merupakan penyakit darurat dalam bidang ilmu kesehatan kulit dan kelamin, karena pasiennya nampak sangat menyeramkan dengan seluruh tubuh hingga bagian wajah nampak terkelupas, hitam serta berdarah, yang disebabkan oleh allergi terhadap obat obatan. Obat apapun bisa menimbulkan allergi, meskipun hanya berupa parasetamol, obat penurun panas, maupun antibiotik, sulfa, carbamazepin, barbiturat atau dilantin. Dan sifatnya sangat individual pada masing masing orang. Disinilah pentingnya kesadaran kita untuk mencatat obat obat yang pernah menimbulkan allergi terhadap dirinya.

Tanda tanda utama :
1. Kelainan pada kulit berupa bercak bercak perdarahan dibawah kulit.
2. Bercak merah bulat pada kulit dengan bagian tengah terdapat lepuh kecil hingga kulit terkelupas luas, basah dan berdarah.
3. Kelainan pada mukosa ( hidung, mata, mulut, kelamin ), bentuknya bisa berupa bibir terkelupas dan berdarah, kelamin lepuh terkelupas dan konjungtivitis ( radang selaput bola mata ).

Gejala gejala seperti diatas bisa timbul dengan cepat , antara lain dalam waktu satu atau dua hari setelah minum obat. Bercak bercak merah akan tampak dihampir seluruh tubuh disertai kelainan pada mukosa. Gejala lainnya dapat berupa demam 39 - 40 derajat Celcius, badan lesu, sakit tenggorokan dan sakit kepala.Jika hal itu terjadi segera hentikan pemberian semua obat yang sedang dikonsumsi dan bawalah pasien ke rumah sakit. karena SSJ dapat menimbulkan kematian akibat sepsis, pneumonia dan gagal ginjal akut. Juga dapat menimbulkan kebutaan. Di rumah sakit pasien akan diberi cairan infus dan pengobatan melalui intravena/pembuluh darah berupa obat anti allergi. Antibiotik akan diberikan yang berspektrum luas dan jarang menimbulkan allergi, sebagai pelindung terhadap infeksi. Selain itu juga diberikan diet tinggi kalori dan tinggi protein. Untuk mata, pengobatannya dilakukan sesuai kelainan yang terjadi. Untuk kulitnya sendiri tidak ada pengobatan khusus, bila sakit bisa menggunakan salep burnazin atau salep antibiotika. SSJ bukanlah akibat malpraktek, tetapi terjadi pada seseorang karena reaksi terhadap obat yang sifatnya sangat individual ( unik ) pada masing masing orang.

Sumber: Health First vol 8 Okt - Des 2009


YANG HARUS DILAKUKAN SAAT TERKENA REAKSI ALLERGI PARAH
Kamis, 04/08/2011 15:53 WIB Adelia Ratnadita SKG - detikHealth
Jakarta, Reaksi yang muncul akibat alergi bisa beracam-macam mulai dari yang ringan hingga berat. Apa yang harus dilakukan jika reaksi alergi yang muncul tergolong berat dan bisa membahayakan nyawa? Reaksi alergi yang membahayakan nyawa disebut dengan anafilaksis. Kondisi ini bisa menyebabkan terjadinya syok, penurunan tekanan darah yang mendadak dan kesulitan bernapas. Pada orang yang memiliki alergi, anafilaksis dapat terjadi setelah beberapa menit terpapar zat penyebab alergi yang spesifik (alergen). Tapi bisa juga reaksi yang muncul tertunda (delayed reaction) atau tanpa pemicu yang jelas. Pemicu anafilaksis yang umum seperti dari obat-obatan (terutama golongan penicilin), makanan (kacang tanah, ikan, kerang dan udang serta sengatan serangga (lebah, tawon dan semut api) Anafilaksis yang tidak segera ditangani bisa menyebabkan kematian dalam waktu setengah jam. Sebuah pil antihistamin, seperti diphenhydramine, tidak cukup untuk mengobati anafilaksis. Obat-obat ini dapat membantu meringankan gejala alergi, tetapi bekerja terlalu lambat untuk membantu reaksi yang parah.

Berikut ini tanda dan gejala yang muncul jika seseorang mengalami anafilaksis, seperti dikutip dari MayoClinic, Kamis (4/8/2011) antara lain:
1. Reaksi kulit termasuk gatal-gatal dan kulit memerah atau pucat
2. Pembengkakan pada wajah, mata, bibir atau tenggorokan
3. Penyempitan saluran napas, menyebabkan mengi dan kesulitan bernapas
4. Denyut nadi lemah dan cepat
5. Mual, muntah atau diare
6. Pusing, pingsan atau tidak sadarkan diri

Jika muncul tanda-tanda anafilaksis, sebaiknya jangan menunggu untuk melihat apakah gejala membaik. Tapi segeralah mencari perawatan darurat. Ada beberapa hal yang perlu dilakukan jika seseorang mengalami anafilaksis yaitu:

1. Membaringkan seseorang yang terkena reaksi alergi anafilaksis.
2. Melonggarkan pakaian yang ketat dan menutupinya dengan selimut.
3. Jangan memberikan apa pun untuk minum.
4. Jika orang tersebut muntah atau terjadi pendarahan dari mulut, maka posisikan tubuh supaya tidak tersedak.
5. Untuk mengobati serangan alergi bisa diberikan epinephrine autoinjector, seperti EpiPen dan Twinject
6. Penggunaan epinephrine autoinjector dilakukan dengan menekan autoinjector pada paha.
7. Jika tidak ada tanda-tanda bernapas, batuk atau gerakan, maka segera lakukan cardiopulmonary resuscitation (CPR).
8. Segera hubungi dokter atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan darurat bahkan jika gejala mulai membaik. Karena masih ada kemungkinan gejala berulang.
9. Biasanya diperlukan pemantauan di rumah sakit selama beberapa jam.

Jika sudah punya riwayat jenis reaksi alergi yang parah di masa lalu, tanyakan kepada dokter mengenai peresepan epinephrine autoinjector untuk serangan anafilaksis mendadak.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 05, 2011 10:28 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Tue Jan 26, 2010 12:13 pm

ALLERGI
Allergi dapat diartikan sebagai reaksi menyimpang terhadap kontak atau terekspose ( terpajan ) zat asing dengan akibat timbulnya gejala.
Baha bahan yang menimbulkan hipersensitivitas disebut allergen, dapat berupa tungau debu rumah, serbuk sari, spora jamur ( allergen hirup ), obat, makanan dan gigitan serangga.

Allergi dapat timbul pada semua umur, mulai dari bayi hingga usia lanjut.
Reaksi allergi juga merupakan interaksi antara faktor keturunan/genetik dan faktor lingkungan. Selain itu, serangan allergi seperti asma dan eksim muncul bila ada masalah emosi. Untuk mengontol allergi kita harus tahu allergen yang berperan sebagai faktor pencetus dengan melakukan test allergi.

Test allergi dapat dilakukan pada kulit dan darah.
Test allergi pada kulit ada 2 macam:
1. Skin prick test ( test tusuk kulit )
Dilakukan pada penderita asma, rhinitis allergi, konjungtivitis allergi dan eksim atopi.
Test ini dilakukan dengan menusuk kulit di area lengan bawah yang telah ditetesi ekstrak allergen.

2. Patch test ( test tempel )
Dilakukan untuk penderita allergi jenis eksim kontak/dermatitis kontak.
Test tempel dilakukan dengan menempel bahan bahan tertentu di kulit punggung dan didiamkan selama 48 jam.

Pemeriksaan darah dapat berupa pemeriksaan antibodi IgE spesifik ( IgE atopi ).

Jenis jenis allergi:
1. Asma bronkhial ( bengek ) adalah penyakit kronis yang ditandai adanya hipersensitivitas saluran napas yang menyebabkan penyempitan saluran napas.
2. Rhinitis allergi, gejala allergi yang terjadi pada hidung, berupa bersin bersin disertai gatal pada hidung, hidung tersumbat, ingus yang encer.
3. Urticaria/biduran/kaligata, bentol bentol merah pada kulit dan gatal, dapat tersebar diseluruh bagian kulit.
4. Dermatitis atopi, gejala eksim yang kerap timbul pada masa kanak kanak. Sering menghinggapi daerah pipi dan lipatan.
5. Konjungtivitis allergi, gejala allergi pada mata, mata gatal, merah dan berair. Sering menyertai rhinitis allergi.
6. Allergi makanan, makanan yang dapat menimbulkan allergi adalah susu sapi, telur ayam, ikan, makanan laut. Gejalanya berupa bentol, gatal, bahkan sesak napas.
7. Allergi obat.

Mencegah allergi:
1. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
2. Tidak memelihara binatang di dalam rumah.
3. Hindari rokok/asap rokok dan polusi asap lainnya.
4. Untuk penderita asma, hindari penggunaan pewangi ruangan, parfum atau obat anti nyamuk.
5. Jangan menggunakan pendingin ruangan ( AC ) terlalu dingin.
7. Hindarilah makanan, minuman, maupun obat obatan yang diduga menimbulkan allergi.

Sumber: Dr.dr. Iris Rengganis Sp PD-KAI
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Sun Jan 31, 2010 8:30 am

GEJALA DAN GAMBARAN KLINIS ALLERGI OBAT
Gambaran klinis reaksi allergi obat bisa bermacam macam dari reaksi ringan hingga berat, bahkan bisa berakibat fatal, yaitu kematian.
Selain pada kulit reaksi allergi ini juga menyerang rongga mulut, bibir, kelopak mata, alat kelamin, tangan, kaki, lidah dan tenggorokan.
Mekanisme reaksi allergi ini terjadi melalui mekanisme immunologik.
Efek allergi ini merupakan reaksi hipersensitivitas ( reaksi tubuh yang berlebihan terhadap suatu obat tertentu ).

Obat yang sering menimbulkan allergi.
1. Antibiotika Penisillin dan turunannya ( Ampisilin, Amoksisilin, Kloksasilin ).
2. Antibiotika Sulfonamide.
3. Obat antidemam dan antinyeri ( asam salisilat, metamezol, metampiron, parasetamol ).

Gejala dan gambaran klinis allergi obat:
1. Kulit memerah disertai bintil bintil kecil seperti cacar, gatal, tersebar hampir pada sebagian besar tubuh dan mengenai kedua belah badan yang sama ( simetris ).

2. Timbul urticaria, yaitu kulit merah/pucat disertai penonjolan setempat maupun meluas ke seluruh tubuh yang timbul dengan cepat dan hilang perlahan lahan dalam waktu 24 jam disertai rasa gatal, tersengat, tertusuk.

3. Terdapat bercak merah kebiru biruan atau gelembung diatas kulit yang merah kebiruan dan timbul berkali kali pada tempat yang sama, biasanya terjadi di mukosa seperti sekitar mulut/bibir, penis pada laki laki.

4 Terjadi perdarahan dalam kulit yang tidak hilang bila ditekan berupa bercak merah kecoklatan, gatal, biasanya terjadi di tungkai bawah.

5. Terjadi radang pembuluh darah disertai demam, nyeri sendi, biasa terjadi pada tungkai bawah, dapat terjadi penonjolan kemerahan yang nyeri disertai demam yang biasanya terjadi pada ekstensor tungkai bawah.

6. Kemerahan menyeluruh pada kulit yang biasanya disertai sisik.

7. Peubahan warna kulit menjadi agak gelap, warna bibir jadi kebiru biruan, keluar gelembung kecil sampai besar pada kulit yang berisi cairan, rambut kepala rontok dan bahkan kulit akan mengelupas.

8. Adanya penonjolan bernanah seperti jerawat yang mula mula bintik bintik kecil kemudian berubah menjadi komedo, biasanya terjadi pada wajah dan badan.

Sumber: Suara Pembaruan Minggu, 31 Januari 2010
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Sun Jan 31, 2010 11:58 am

KORBAN ALERGI OBAT
Minggu, 8 November 2009 | 02:55 WIB Kompas.com - dr Samsuridjal Djauzi
Saya mengalami radang tenggorok dan berobat ke dokter dekat rumah. Saya mendapat terapi antibiotik, antidemam, dan obat alergi. Dua hari setelah itu timbul kemerahan di kulit dan mata terasa gatal. Kemerahan bertambah dan saya kembali ke dokter. Dikatakan saya menderita alergi obat. Obat antibiotik dan obat demam dihentikan dan diberi obat alergi yang lebih kuat. Ternyata kemerahan di kulit bertambah dan kali ini disertai kemerahan pada mata serta bintik bintik di kemaluan. Saya jadi khawatir dan kembali ke dokter saya. Kali ini dokter saya merasa perlu merujuk ke dokter spesialis penyakit dalam karena menurut beliau alergi saya termasuk berat.

Dokter spesialis penyakit dalam kemudian menganjurkan saya dirawat karena khawatir terjadi Sindrom Steven Johnson yang merupakan bentuk alergi berat. Saya menuruti nasihatnya dan ternyata memang kelainan kulit bertambah. Merahnya seperti bekas terbakar disertai gelembung. Bibir saya kering dan mulut juga ada luka-luka. Kelainan di kemaluan juga bertambah dan sekarang timbul gelembung cair.

Saya sulit makan sehingga mendapat infus dan obat diberikan melalui suntikan. Saya sungguh tak menyangka bisa mengalami kelainan seperti ini, padahal saya sudah patuh pada semua perintah dokter. Ilmu kedokteran sudah maju sekarang, apakah alergi obat tidak dapat diramalkan? Apakah ada tes untuk mengetahui apakah seseorang alergi terhadap suatu obat atau tidak? Jika alergi obat terjadi, kenapa tak dapat dikendalikan meski sudah diketahui sejak dini?

Saya dirawat delapan hari dan keluar dari rumah sakit dengan keadaan kulit belum pulih. Untunglah keadaan mata tak parah dan cepat pulih, begitu pula dengan organ vital saya. Saya hanya sopir taksi, biaya pengobatan di rumah sakit membebani keluarga. Istri saya terpaksa menjual gelangnya.
Terima kasih atas penjelasan Dokter.
M di B

Alergi obat memang sulit diramalkan, tetapi kita dapat berusaha mengurangi risiko terjadinya. Caranya dengan menggunakan obat jika perlu saja.
Alergi obat dapat timbul pada obat yang diresepkan dokter, tetapi juga dapat terjadi pada obat bebas yang biasa dijual di warung. Jika penggunaan obat tidak sering dilakukan tentu risiko alergi juga menurun. Cara lain adalah setiap orang mencatat obat yang pernah menimbulkan alergi pada tubuhnya. Meski ada obat yang digolongkan berisiko tinggi menimbulkan alergi obat, timbulnya alergi obat pada seseorang dapat disebabkan obat yang berbeda.

Selain nama obat, perlu juga diketahui nama generiknya karena nama dagang obat berbeda, padahal isinya sama. Misalnya obat parasetamol (nama generik) tersedia di apotek dalam beberapa merek lain. Jika seseorang alergi terhadap suatu merek, kemungkinan dia juga akan alergi terhadap kedua merek tersebut karena keduanya mengandung parasetamol.

Risiko alergi terhadap suatu obat berbeda-beda. Obat sulfa, misalnya, termasuk sering menimbulkan alergi. Karena itu sebelum memakai obat ada baiknya dokter bertanya kepada pasien adakah pengalaman alergi obat. Jika ada dengan obat apa. Seperti yang Anda alami, tidak mudah menetapkan obat mana yang menimbulkan alergi jika Anda minum beberapa obat bersamaan. Mungkin alergi terhadap antibiotik, tetapi bisa juga terhadap obat demam. Sebaliknya pasien yang pernah mengalami alergi obat jangan lupa menyampaikan pengalamannya kepada dokter agar tak diberi obat serupa.

Dalam hidup kita tak mungkin bebas dari obat. Tetapi, penggunaan obat harus dilakukan rasional, minum obat atas indikasi yang tepat. Kejadian alergi obat semakin sering karena jumlah obat yang tersedia bertambah terus dan pasien yang menggunakan obat di Indonesia juga banyak. Karena itu, dokter dan pasien perlu menyadari, jika diperlukan obat kita dapat memetik manfaat obat tersebut, juga menghadapi risiko efek samping, termasuk alergi obat. Kesadaran ini tidak perlu menyebabkan kita takut minum obat, tetapi kita harus hati-hati, gunakan hanya jika ada indikasi, lapor dokter jika ada reaksi tak diinginkan, termasuk reaksi alergi.

Di masyarakat masih ada kesalahpahaman. Jika timbul reaksi alergi obat dianggap dokter salah memberikan obat. Untunglah pemahaman tersebut sekarang sudah berkurang meski sesekali masih juga terjadi, bahkan ada pasien menuntut dokter karena dia mengalami alergi obat. Di negara yang layanan kesehatannya sudah maju, seperti di Amerika Serikat, kejadian alergi obat berat (misalnya Steven Johnson) masih ada sekitar 300 kejadian setiap tahun. Tetapi, karena masyarakat sudah memahami alergi obat, mereka tidak lagi menyalahkan dokter.

Sebenarnya sudah dikembangkan tes untuk meramalkan alergi obat, tetapi belum akurat. Jadi, cara terbaik adalah menggunakan obat jika perlu saja, komunikasi yang baik dengan dokter, terutama pengalaman alergi obat, dan memantau reaksi yang timbul setelah minum obat. Saya memahami beban yang dihadapi keluarga Anda akibat alergi obat yang berat ini. Mudah-mudahan Anda sudah dapat bekerja kembali dan Anda sekeluarga sehat selalu.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 19, 2010 2:34 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Mon Apr 19, 2010 11:45 am

ALERGI JUGA BISA MEMATIKAN
Kamis, 8 Juli 2010 | 08:36 WIB
Kompas.com - Alergi tidak hanya mengganggu kualitas hidup penderita, namun juga bisa menyebabkan komplikasi yang kadang mengancam jiwa. Salah satu jenis alergi yang dampaknya mematikan adalah alergi obat. "Di negara maju, alergi makanan, khususnya kacang, bisa menyebabkan gangguan kesehatan yang berat. Namun di Indonesia, kasus alergi obat yang paling sering menimbulkan akibat fatal," papar dr.Zakiudin Munasir, Sp.A (K), ahli alergi imunologi dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI/RSCM Jakarta.

Apabila setelah minum obat Anda merasakan timbul gatal, tebal atau bengkak, dan kemerahan pada mukosa mulut dan tanpa disertai demam, maka layak dicurigai terkena angioderma. Hendaknya langsung mendapatkan pengobatan medis karena bisa berakibat pada sesak napas. Obat-obatan yang diperkirakan sering menyebabkan alergi antara lain golongan penisilin, obat analgetik-antipiretik dan parasetamol. "Banyak pasien yang mengalami syok setelah mendapatkan obat-obatan golongan tersebut," kata dr.Zaki.

Gejala alergi obat bisa bervariasi dari yang ringan sampai yang berat, bahkan disertai dengan gangguan kesadaran. Pertolongan yang terlambat diberikan juga bisa berakibat fatal bagi pasien. Kasus alergi obat cukup sering dijumpai. Itu sebabnya kita harus menggunakan obat secara rasional, artinya hanya menggunakan obat jika perlu dan obat digunakan dengan cara yang benar.


Last edited by gitahafas on Sun Oct 17, 2010 1:03 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Wed Apr 21, 2010 5:56 pm

MAKANAN PENCETUS ALERGI
Kamis, 8 Juli 2010 | 08:18 WIB
Kompas.com - Tak sedikit orang yang menghindari makanan jenis tertentu, pada umumnya makanan laut atau produk susu sapi, karena khawatir mengalami gangguan alergi makanan. Alergi makanan adalah reaksi alergi yang timbul akibat kita mengonsumsi makanan yang mengandung zat yang bisa menimbulkan alergi atau disebut juga alergen. Hal ini terjadi karena sistem imun kita menolak kehadiran alergen yang dianggap sebagai benda asing yang mengancam.

Di Indonesia, lima besar makanan pencetus alergi, khususnya pada anak-anak adalah kelompok crustacea (kepiting, udang), kacang, makanan laut, telur, serta susu sapi. Alergi makanan, lebih sering terjadi pada anak-anak dibanding orang dewasa. Penelitian menunjukkan 20 persen anak berusia setahun pernah mengalami alergi makanan. "Hal ini terjadi karena sistem maturitas usus anak belum sempurna," kata dr.Zakiudin Munasir, Sp.A(K), pakar alergi anak.

Reaksi alergi bisa muncul dalam berbagai gejala yang bervariasi. Mulai dari gatal-gatal di daerah mulut, lidah, atau bibir bengkak, hingga sesak napas, diare, serta timbul ruam di kulit. Gejala ini bisa mencul dalam hitungan menit sampai dua jam setelah orang mengonsumsi makanan tertentu yang dicurigai sebagai pencetus alergi. Pada bayi dan anak, faktor alergi terjadi karena genetik atau keturunan. SElain itu faktor lingkungan juga berperan. "Pemberian makanan pendamping ASI terlalu dini, yakni sebelum anak berusia kurang dari 3 bulan, atau justru terlambat, yakni lebih dari 6 bulan juga akan meningkatkan risiko alergi," papar dr.Zaki.

Cara mengatasi alaergi makanan yang terbaik adalah menghindari makanan pencetus alergi. Misalnya saja hanya memberikan ASI selama 6 bulan pertama usia bayi. "Anak yang memiliki bakat alergi dari orangtuanya sebaiknya berhati-hati dalam pemberian makanan tertentu," katanya.
Mengetahui dengan pasti penyebab alergi memang tidak mudah. Namun kita juga bisa mencatat satu demi satu makanan yang dimakan serta dicatat bila ada gejala-gejala alergi yang timbul. Dengan cara demikian, pada akhirnya kita dapat mengenali makanan mana yang jadi pencetus alergi.


Last edited by gitahafas on Sun Oct 17, 2010 1:04 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Sat May 01, 2010 12:35 pm

ANAFILAKSIS ( REAKSI ALLERGI AKUT )
Anafilaksis adalah suatu reaksi alergi yang bersifat akut, menyeluruh dan bisa menjadi berat.
Anafilaksis terjadi pada seseorang yang sebelumnya telah mengalami sensitisasi akibat pemaparan terhadap suatu alergen.
Anafilaksis tidak terjadi pada kontak pertama dengan alergen.
Pada pemaparan kedua atau pada pemaparan berikutnya, terjadi suatu reaksi alergi. Reaksi ini terjadi secara tiba-tiba, berat dan melibatkan seluruh tubuh.

PENYEBAB
Anafilaksis bisa tejadi sebagai respon terhadap berbagai alergen.
# Penyebab yang sering ditemukan adalah: Gigitan/sengatan serangga
# Serum kuda (digunakan pada beberapa jenis vaksin)
# Alergi makanan
# Alergi obat.
Serbuk sari dan alergen lainnya jarang menyebabkan anafilaksis.

Anafilaksis mulai terjadi ketika alergen masuk ke dalam aliran darah dan bereaksi dengan antibodi IgE. Reaksi ini merangsang sel-sel untuk melepaskan histamin dan zat lainnya yang terlibat dalam reaksi peradangan kekebalan.
Beberapa jenis obat-obatan (misalnya polymyxin, morfin, zat warna untuk rontgen), pada pemaparan pertama bisa menyebabkan reaksi anafilaktoid (reaksi yang menyerupai anafilaksis).
Hal ini biasanya merupakan reaksi idiosinkratik atau reaksi racun dan bukan merupakan mekanisme sistem kekebalan seperti yang terjadi pada anafilaksis sesungguhnya.

GEJALA
Sistem kekebalan melepaskan antibodi. Jaringan melepaskan histamin dan zat lainnya.
Hal ini menyebabkan penyempitan saluran udara, sehingga terdengar bunyi mengi (bengek), gangguan pernafasan; dan timbul gejala-gejala saluran pencernaan berupa nyeri perut, kram, muntah dan diare.

Histamin menyebabkan pelebaran pembuluh darah (yang akan menyebabkan penurunan tekanan darah) dan perembesan cairan dari pembuluh darah ke dalam jaringan (yang akan menyebabkan penurunan volume darah), sehingga terjadi syok.
Cairan bisa merembes ke dalam kantung udara di paru-paru dan menyebabkan edema pulmoner.
Seringkali terjadi kaligata (urtikaria) dan angioedema. Angioedema bisa cukup berat sehingga menyebabkan penyumbatan saluran pernafasan.
Anafilaksis yang berlangsung lama bisa menyebabkan aritimia jantung.

Gejala-gejala yang bisa ditemui pada suatu anafilaksis adalah:
- kaligata
- gatal di seluruh tubuh
- hidung tersumbat
- kesulitan dalam bernafas
- batuk
- kulit kebiruan (sianosis), juga bibir dan kuku
- pusing, pingsan
- kecemasan
- berbicara tidak jelas
- denyut nadi yang cepat atau lemah
- jantung berdebar-debar (palpitasi)
- mual, muntah
- diare
- nyeri atau kram perut
- bengek
- kulit kemerahan.

DIAGNOSA
Pemeriksaan fisik menunjukkan:
- kaligata di kulit dan angioedema (pembengkakan mata atau wajah)
- kulit kebiruan karena kekurangan oksigen atau pucat karena syok.
- denyut nadi cepat
- tekanan darah rendah.
Pemeriksaan paru-paru dengan stetoskop akan terdengar bunyi mengi (bengek) dan terdapat cairan di dalam paru-paru (edema pulmoner).

PENGOBATAN
Anafilaksis merupakan keadaan darurat yang memerlukan penanganan segera.
Bila perlu, segera lakukan resusitasi kardiopulmonal, intubasi endotrakeal (pemasangan selang melalui hidung atau mulut ke saluran pernafasan) atau trakeostomi/krikotirotomi (pembuatan lubang di trakea untuk membantu pernafasan).

Epinefrin diberikan dalam bentuk suntikan atau obat hirup, untuk membuka saluran pernafasan dan meningkatkan tekanan darah.
Untuk mengatasi syok, diberikan cairan melalui infus dan obat-obatan untuk menyokong fungsi jantung dan peredaran darah.
Antihistamin (contohnya diphenhydramine) dan kortikosteroid (misalnya prednison) diberikan untuk meringankan gejala lainnya (setelah dilakukan tindakan penyelamatan dan pemberian epinefrin).

PENCEGAHAN
Hindari alergen penyebab reaksi alergi.
Untuk mencegah anafilaksis akibat alergi obat, kadang sebelum obat penyebab alergi diberikan, terlebih dahulu diberikan kortikosteroid, antihistamin atau epinefrin.

Sumber: Medicastore
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Sat May 08, 2010 10:25 am

MAKAN ES KRIM YANG BERAKHIR CACAT DAN TAK BISA BICARA
Sabtu, 25/09/2010 12:30 WIB Irna Gustia - detikHealth
Belfast, Jangan anggap remeh alergi makanan karena bisa berakibat fatal hingga kematian. Gara-gara punya alergi, seorang gadis harus mengalami koma selama empat minggu dan saat tersadar tubuhnya menjadi cacat dan tak bisa bicara. Seperti dilansir thesun, Sabtu (25/9/2010), peristiwa tragis itu dialami oleh Rachel Devine, gadis Irlandia berusia 25 tahun. Pada musim panas tahun lalu, Rachel dan pasangannya Chris Mee (27 tahun) pergi berlibur ke Turki.
Karena udara yang panas saat sedang menikmati liburan di hari keduanya, Rachel membeli dua sendok es krim untuk dirinya dan pasangannya di sebuah kedai es krim. Rachel tidak tahu kalau es krim tersebut mengandung susu kambing yang belakangan diketahui saat kecil ia pernah alergi susu kambing.

Baru satu suapan es krim, Rachel sudah merasakan ada yang tidak beres pada tubuhnya. Mulutnya bengkak dan menjadi susah bernapas. Obat inhaler untuk asma yang selalu dibawa-bawa Rachel juga tidak membuatnya menjadi lebih baik. Rachel juga sempat menyuntikkan adrenalin EpiPen yang selalu dibawanya jika mengalami kasus-kasus shock yang serius. Tapi obat-obatan itu tidak cepat membantunya, Rachel pingsan di tempat kejadian. Otaknya kekurangan oksigen dan Rachel mengalami koma. Rachel kemudian mendapat pengobatan darurat di Turki. Dokter yang menangani menduga dia terkena serangan jantung dan menemukan otaknya sudah kekurangan oksigen.

Di Izmir, Rachel mendapat perawatan intensif dan ditemukan adanya pembengkakan otak. Setelah delapan hari pengobatan di Turki, ia diterbangkan dengan pesawat jet medis swasta langsung ke Royal Victoria Hospital di Belfast. Semua biaya perawatan dan perjalanan ditanggung oleh perusahaan asuransi perjalanan pasangan tersebut. Sesampai di Belfast, dokter yang menanganinya lebih pesimistis lagi dan memberitahukan keluarganya untuk bersiap-siap menerima kejadian yang buruk. Pengalaman beberapa pasien yang koma membuat dokter tidak berani memberikan harapan yang tinggi kepada keluarga Rachel.

Ajaibnya, setelah empat minggu koma Rachel akhirnya tersadar. Rachel mengaku ketika tersadar mengira dirinya mengalami kecelakaan pesawat dalam perjalanan ke Turki. Meski otaknya selamat, namun Rachel tidak dapat berjalan dan berbicara. Kini ia bertekad sembuh dengan mengikuti program rehabilitasi untuk melawan sakitnya. Dari satu-dua buah kata yang diucapkan, kini ia sudah bisa mengucapkan 5-6 kata dan mulai berlatih berdiri. Rachel mengaku ingin menjalani hidupnya seperti dulu dan bekerja lagi. Ia ingin bisa menyetir mobil lagi, bernyanyi sambil main piano dan menari salsa kegemarannya.

Dokter mengatakan Rachel sangat beruntung karena alergi langka dan ekstrim yang menyerangnya bisa membunuhnya. Ketika seorang alergi makanan pada awalnya mungkin terasa gatal-gatal kulit dan suara serak. Kemudian saluran udara mulai menyempit sehingga jantung tidak bisa memompa udara dengan baik akibatnya tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup. Ketika tubuh kekurangan oksigen, otak menjadi sangat peka. Sehingga jika tidak cepat tertolong orang yang alergi makanan bisa berakibat fatal.

Makanan-makanan yang bisa membuat alergi umumnya berupa susu, telur, kacang-kacangan atau makanan laut. Memang sulit bagi orang yang menderita alergi untuk memilih makanannya karena kadang-kadang tidak sadar memakannya dari makanan yang sudah diolah atau ada dalam kandungan makanan lain. Penderita alergi parah disarankan untuk membawa suntikan adrenalin EpiPen untuk mengurangi dampak jika ada kondisi darurat yang menyerangnya.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 26, 2010 11:52 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Sun May 09, 2010 12:14 pm

ALLERGI UANG TUNAI YANG SUSAH SEMBUH
Rabu, 21/07/2010 14:15 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Purfleet, Salah satu cara untuk mengatasi alergi adalah dengan menghindari pemicunya. Seorang ibu terpaksa harus menggunakan kartu kredit untuk belanja dan keperluan lainnya karena tidak bisa pegang uang tunai akibat alergi. Alergi yang diderita ibu bernama Yvonne Simon ini memang unik. Setiap kali bersentuhan dengan uang logam maupun uang kertas, wanita beriusia 33 tahun ini langsung mengalami ruam di sekujur tubungnya.

Reaksinya sangat parah, karena disertai bengkak di daerah yang mengalami ruam. Kadang-kadang butuh waktu beberapa hari untuk sembuh, sehingga ia jadi sering bolos kerja. "Bahkan kadang berlangsung selama beberapa pekan sebelum bengkaknya mereda," ungkap Yvonne, dikutip dari Dailystar, Rabu (21/7/2010). Berbulan-bulan lamanya ia mengalami penderitaan itu, hingga akhirnya teman-temannya menyarankan untuk berobat ke dokter. Akhirnya diketahui, pemicunya adalah logam pada koin serta pewarna dalam uang kertas.

Yvonne sempat mencoba menghindari kontak langsung dengan cara menggunakan sarung tangan. Namun celakanya, hasil tes juga menunjukkan bahwa ia alergi terhadap latex pada sarung tangan tersebut. Apa boleh buat, sejak saat itu ia memilih menggunakan kartu kredit daripada mengikuti saran dokter untuk mengenakan sarung tangan katun. Karena merupakan reaksi dari sistem kekebalan tubuh, pada umumnya alergi tidak dapat disembuhkan. Namun beberapa cara bisa dilakukan untuk meredakan gejalanya, seperti dikutip dari Mayo Clinic sebagai berikut:

1. Menghindari pemicu
2. Menggunakan obat antialergi
3. Injeksi imunoterapi
4. Injeksi epinephrine untuk kasus yang sangat parah.


Last edited by gitahafas on Sun Oct 17, 2010 1:05 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Sun May 09, 2010 7:59 pm

ALLERGI GELOMBANG ELEKTRO, PASIEN TERPAKSA HIDUP DI HUTAN
Jumat, 05/03/2010 10:40 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Stockholm, Hidup di zaman serba elektronik membuat penderita alergi gelombang elektromagnetik sangat menderita. Si penderita harus mengungsi ke hutan agar terbebas dari paparan gelombang elektromagnetik. Seperti yang dialami Per Segerback, laki-laki berusia 54 tahun yang terpaksa harus tinggal di sebuah pondok sederhana dalam tengah hutan atau sekitar 75 km timur laut dari Stockholm, Swedia.

Tanpa teman, Segerback harus hidup berdampingan dengan serigala, beruang dan rusa yang berkeliaran bebas melewati pintu depan rumahnya yang dikelilingi oleh cagar alam. Segerback terpaksa tinggal di hutan cagar alam karena fisiknya sakit jika terpapar berbagai teknologi elektronik. Segerback menderita penyakit hipersensitivitas terhadap gelombang elektromagnetik atau Electro-Hypersensitivity (EHS). Alergi ini menyebabkan dirinya mengalami reaksi fisik yang parah terhadap radiasi elektromagnetik yang dihasilkan oleh teknologi seperti komputer, televisi dan telepon genggam. Walaupun jaraknya cukup jauh.

Seperti kejadian musim panas tahun lalu. Ketika itu Segerback sedang jalan-jalan, tiba-tiba ia diliputi rasa mual dan dalam hitungan detik sudah tak sadarkan diri. Setelah diselidiki, ternyata disebabkan oleh seorang pria yang berjarak 100 meter dari Segerback tengah menggunakan telepon genggam untuk chatting dan teleponnya berdering. Seperti dikutip dari Popsci, Jumat (5/3/2010), gejala yang timbul jika penderita EHS terpapar radiasi elektromagnetik seperti sensasi terbakar atau kesemutan di kulit, pusing, mual, sakit kepala, gangguan tidur dan kehilangan memori.

Dalam kasus-kasus ekstrem seperti Segerback bisa juga melibatkan masalah di pernapasan, denyut jantung hingga kehilangan kesadaran diri.
Segerback pertama kali merasakan gejala seperti pusing, mual, sakit kepala, rasa panas serta muncul bercak-bercak merah di kulitnya pada akhir tahun 1980-an. Kondisi tersebut semakin memburuk, tapi dokter perusahaan tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Segerback menduga radiasi dikantornya yang dikombinasikan dengan asap beracun dari merek komputer baru menjadi pemicunya. Sebuah telepon genggam yang digunakan untuk membuat atau menerima panggilan dan mencari sinyal akan menimbulkan tingkat radiasi yang tinggi. Segerback terpaksa harus berada pada jangkauan tertentu untuk menghindari munculnya gejala-gejala tersebut. Hal ini dikarenakan setiap merek dan model telepon genggam menghasilkan sinar radiasi yang berbeda-beda.

Swedia adalah satu-satunya negara di dunia yang mengakui EHS sebagai gangguan fungsional. Kasus yang terjadi pada Segerback telah membuat pemerintahan menciptakan kebijakan khusus untuk mengatasi kondisi tersebut. Menurut data statistik di Swedia, sekitar 3 persen atau 250.000 orang memiliki EHS sehingga dibutuhkan rumah yang memang bebas elektronik dan jika diperlukan adanya instalasi pelindung logam. EHS dibagi menjadi empat tahapan, yaitu:

1. Kombinasi ringan, tahapan ini hanya menunjukkan gejala umum seperti sakit kepala serta masalah pada konsentrasi dan memori saat bekerja dengan peralatan elektronik.
2. Gejala yang timbul lebih lama setelah bekerja dengan alat elektronik, seringkali gejala ini memerlukan perawatan medis. Reaksi ini biasanya timbul di sekitar menara transmisi atau relay antena.
3. Ketidakmampuan untuk bekerja penuh waktu, frekuensi timbulnya gejala atau sakit semakin sering.
4. Reaksi akut akibat polusi elektromagnetik baik dilingkungan tertutup atau terbuka, hal ini menyebabkan seseorang harus tinggal di daerah pedesaan atau sekitar hutan.

Perawatan yang bisa diberikan bagi pasien EHS adalah sebisa mungkin menghindari kontak dengan gelombang elektromagnetik untuk mengurangi timbulnya gejala. Selain itu UK Health Protection Agency mengungkapkan pengobatan seperti pemberian antioksidan, terapi perilaku kognitif serta akupuntur diduga bisa membantu.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 26, 2010 12:00 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Sun May 09, 2010 8:06 pm

ALLERGI PARAH SEMBUH DENGAN BULU ANJING
Selasa, 06/04/2010 10:04 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
London, Bulu binatang biasanya memicu alergi dan bikin orang bersin-bersin. Tapi tidak buat Danny Pearce. Bocah 11 tahun yang menderita alergi parah itu, justru sembuh alerginya dengan menggunakan obat 'bulu anjing'. Danny menjadi orang pertama di Inggris yang berhasil disembuhkan dari reaksi alergi parah dengan bulu binatang. Danny diberi pengobatan dengan menggunakan obat baru yang terbuat dari bulu hewan. Setetes kecil obat yang terbuat dari bulu hewan diberikan tiga kali seminggu dan telah mampu membantu membangun sistem kekebalan.

Saat didiagnosa menderita alergi yang parah, Danny baru berusia 3 tahun. Dirinya selalu pingsan ketika harus berada di dekat atau di sekitar anjing. Tapi kini ia bahkan bisa berjalan-jalan dengan hewan kesayangannya tersebut. "Saya selalu menyukai anjing, tapi dulu saya tidak bisa menyentuh dan mendekatinya. Dengan pengobatan ini semuanya telah berubah, sekarang saya bisa menyentuh dan mengelus hingga 10 anjing selama akhir pekan. Kini semua impian saya bisa terwujud," ujar Danny, seperti dikutip dari Dailymail, Selasa (6/4/2010).

Sebelumnya keluarga tidak menyadari bahwa Danny memiliki alergi dengan hewan anjing. Saat itu keluarga memelihara seekor anjing, tapi setiap kali Danny mendekati anjing tersebut ia langsung jatuh, matanya bengkak dan tertutup serta tidak sadarkan diri selama 30 menit. Akhirnya keluarga membawa Danny ke rumah sakit dan mengetahui bahwa Danny memiliki alergi parah terhadap bulu binatang. "Tes kulit yang dilakukan Danny menunjukkan ia alergi terhadap anjing, kuda, kucing, rumput dan pepohonan. Bahkan matanya bisa bengkak jika ia duduk di kursi yang sempat diduduki oleh pemilik anjing," ujar Jonathan, sang ayah.

Danny akhirnya dirujuk ke konsultan paediatrik Adam Fox di London. Dari sana ia ditawarkan obat yang terbuat dari bulu anjing sebagai bentuk pengobatan. Dokter dan keluarga berharap obat tersebut dapat secara bertahap menghilangkan alergi yang ada dan membangun sistem kekebalan tubuhnya. Meskipun sempat memberikan efek buruk saat diberikan dosis pertama kali, tapi tubuhnya segera bisa menolerir hal tersebut setiap setengah jam selama empat hari. Dalam tes berikutnya ia berhasil membuat perbedaan besar. Kini Danny memiliki kehidupan yang lengkap dan ia bisa bermain di taman tanpa ada rasa khawatir.


Last edited by gitahafas on Sun Sep 26, 2010 12:03 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Sun May 09, 2010 8:14 pm

SULITNYA MENDETEKSI 2 PENYAKIT ALLERGI YANG MEMATIKAN
Selasa, 19/01/2010 11:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Reaksi alergi bisa bermacam-macam mulai dari gatal-gatal, kepala pusing, mual, pingsan hingga yang parah seperti sindrom Stevens-Johnson dan Toxic Epidermal Necrolysis. Sulitnya mendeteksi membuat siapa saja rentan terhadap kedua alergi yang mematikan ini. Reaksi alergi ini paling sering ditemui akibat konsumsi obat tertentu, tapi beberapa kasus ditemukan akibat infeksi atau penyakit. Kedua reaksi alergi ini dapat mengancam hidup penderitanya. Seperti dikutip dari MayoClinic, Selasa (19/1/2010) inilah penjelasan kedua reaksi alergi ini, yaitu:

Sindrom Stevens-Johnson
Sindrom Stevens-Johnson (SJS) adalah kelainan serius pada kulit dan selaput lendir akibat reaksi dari obat atau adanya infeksi, kondisi ini sangat jarang terjadi. Seringkali reaksi ini dimulai dengan gejala mirip penyakit flu, dan diikuti dengan ruam merah yang menyebar hingga akhirnya lapisan kulit bisa mati dan mengelupas. Sindrom ini merupakan kondisi medis darurat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit. Perawatan yang diberikan terfokus pada menghilangkan penyebab, mengendalikan serta meminimalkan timbulnya komplikasi. Penyembuhan setelah terkena SJS bisa mencapai mingguan atau bulanan, tergantung dari tingkat keparahan kondisi pasien. Jika disebabkan oleh obat-obatan, maka pasien harus menghindarinya secara permanen.

Tanda dan gejala dari SJS biasanya meliputi pembengkakan di muka, lidah membengkak, sakit pada kulit, ruam kulit berwarna merah atau ungu yang menyebar dalam hitungan jam atau hari, melepuh pada kulit dan selaput lendir terutama di mulut, hidung dan mata serta kulit yang mengelupas. Beberapa hari sebelumnya muncul demam, sakit tenggorokan, batu dan mata seperti terbakar. SJS memerlukan perhatian medis yang segera, terutama jika gejala-gejala tersebut sudah muncul. Penyebab pasti SJS tidak selalu dapat diidentifikasi dengan pasti, biasanya akibat reaksi alergi dari obat, infeksi atau penyakit tertentu.

Obat-obatan yang terkait dengan SJS adalah obat anti asam urat (allopurinol), obat anti peradangan non-steroid (NSAID), obat untuk infeksi seperti sulfonamid dan penisilin dan obat untuk kejang-kejang (antikonvulsan). Infeksi yang dapat meyebabkan SJS adalah herpes, influenza, HIV, difteri, tifus dan hepatitis. Dalam beberapa kasus SJS dapat disebabkan oleh terapi radiasi atau sinar ultraviolet. SJS adalah suatu reaksi alergi yang sangat langka dan tak bisa diduga. Sampai saat ini tidak ada tes yang tersedia untuk membantu memprediksi siapa yang lebih berisiko.

Toxic Epidermal Necrolysis
Toxic Epidermal Necrolysis (TEN) adalah gangguan kulit yang dapat mengancam hidup dan ditandai dengan kelainan kulit melepuh atau mengelupas dari lapisan atas kulit. Gangguan ini dapat disebabkan oleh reaksi obat seperti penisilin atau akibat penyakit lain. Sekitar sepertiga dari semua kasus yang didiagnosis tidak dapat diketahui penyebabnya. TEN menyebabkan kulit mengelupas sehingga meninggalkan daerah besar yang terlihat seperti tersiram air panas. Kehilangan lapisan kulit ini dapat menyebabkan hilangnya cairan dan garam serta memudahkan terjadinya infeksi. Gejala yang paling umum dari TEN adalah kulit mengelupas seperti lembaran, rasa tidak nyaman, badan demam dan kondisi ini bisa menyebar ke mata, mulut hingga alat kelamin. Terkadang gejala yang ditimbulkan mirip dengan kondisi penyakit kulit lainnya.

Pengembangan dari penyakit ini bisa terjadi dengan cepat, biasanya dalam waktu 3 hari. Perawatan yang diberikan rumah sakit seringkali masuk ke unit luka bakar. Pengobatan khusus yang diberikan pada pasien biasanya tergantung dari kondisi kesehatan secara menyeluruh, usia dan riwayat kesehatan, keparahan kondisi dan toleransi terhadap obat, prosedur atau terapi tertentu. Pengobatan yang diberikan bisa berupa isolasi untuk mencegah infeksi, melindungi luka dengan perban, pemberian cairan dan elektrolit melalui intravena dan antibiotik. Perawatan yang diterima bisa gabungan semuanya atau hanya salah satu saja.

Baik SJS atau pun TEN jika kondisinya parah bisa mengakibatkan kematian. Angka kematian untuk TEN sekitar 30-35 persen, sedangkan untuk SJS sebesar 5-15 persen. Berdasarkan beberapa penelitian dan observasi didapatkan rasio penderita untuk TEN sebesar 1 dari 1,4 juta penduduk sedangkan untuk SJS 1-3 dari 1 juta penduduk. "Sindrom Stevens-Johnson dan TEN merupakan alergi berat di kulit dan mukosa (selaput lendir), tapi alergi ini sangat jarang terjadi dan bisa juga disebabkan oleh non-obat. Sebaiknya waspadai apapun gejala yang timbul," ujar Dr Dante Saksono, SpPD, PhD saat dihubungi detikhealth, Selasa (19/1/2010).


Last edited by gitahafas on Sun Sep 26, 2010 12:06 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Sun May 09, 2010 8:20 pm

ALLERGI PARAH SETELAH MEWARNAI RAMBUT
Rabu, 02/12/2009 13:00 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
London, Hati-hati jika Anda senang mewarnai rambut. Seorang gadis di Inggris sempat mengalami alergi yang sangat parah setelah mengecat rambutnya karena bahan cat rambutnya memicu reaksi eksim. Atas penderitaan yang dialami, pengadilan menghukum pemilik salon untuk membayar kompensasi 20 ribu poundsterling kepada gadis tersebut. Kasus tersebut dialami Charlotte Gilchrist di tahun 2004 saat ia berusia 16 tahun. Saat itu ia mengalami reaksi alergi yang sangat parah setelah melakukan pewarnaan rambut di sebuah salo. Akibat alergi ini Charlotte terpaksa tidak sekolah beberapa hari dan mengharuskannya dirawat di rumah sakit.

Charlotte pergi ke salon untuk mengubah warna rambutnya karena akan menghadiri acara pesta dansa di sekolahnya. Tapi setelah melakukan pewarnaan, bukan hanya rambutnya yang berubah tapi wajahnya menjadi bengkak dan dirinya tidak bisa melihat selama 5 hari. Sesaat setelah rambutnya diwarnai, Charlotte mulai merasakan gatal di kepalanya kemudian diikuti oleh rasa terbakar. Rasa sakit yang tak tertahankan tersebut mengharuskannya meninggalkan sekolah keesokan hari dan kembali ke salon tersebut. Namun, dirinya hanya mendapatkan perawatan yang disebut dengan pendinginan tapi tidak memberikan pengaruh apapun.

"Saya sangat takut, ketika bangun keesokan harinya bagian kanan wajahku bengkak, ada cairan bening yang keluar dari kepala dan membuat saya tidak bisa melihat. Dapatkah Anda bayangkan itu semua terjadi hanya karena cat pewarna rambut?" ujar Charlotte, seperti dikutip dari Dailymail, Rabu (2/12/2009). Ketika kembali ke salon, petugas hanya mengungkapkan bahwa hal ini akibat salah dalam penggunaan shampo, padahal shampo tersebut telah digunakannya selama bertahun-tahun dan tidak pernah bermasalah. Charlotte memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dan dokter memberinya antihistamin untuk mengurangi pembengkakan. Tapi dibutuhkan waktu hingga lima hari untuk mengurangi peradangan dan mengembalikan penglihatannya. "Lima hari tanpa bisa melihat apapun, itu sangat mengkhawatirkan dan saat terbangun di malam hari kepala menjadi sangat gatal dan menyakitkan," ungkapnya.

Charlotte akhirnya menempuh jalur hukum dan menuntut pemilik salon tersebut. Pengadilan pada 1 Desember 2009 akhirnya memenangkan kasusnya dan mewajibkan pemilik salon untuk memberi kompensasi sebesar 20.000 poundsterling. Apa yang dialami oleh Charlotte merupakan reaksi eksim atau penyakit kulit yang sangat serius, kini Charlotte dilarang keras untuk mewarnai rambutnya. Dan sebuah penelitian terbaru di Wales menunjukkan sekitar 84 persen petugas salon mengecat rambut kliennya tanpa melihat instruksi terlebih dahulu.

"Sebaiknya lakukan tes kulit terlebih dahulu jika ingin mewarnai rambut Anda, karena hal ini bisa terjadi pada siapapun dan terkadang beberapa orang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki kulit yang sangat sensitif. Sehingga tes kulit harus dilakukan terlebih dahulu," ujar Charlotte yang kini berusia 21 tahun.
Meskipun sampai saat ini penyebab reaksi eksim belum diketahui, tapi biasanya seringkali disebabkan oleh kombinasi antara kulit kering, kulit yang teriritasi serta kurang berfungsinya sistem kekebalan tubuh.

Komplikasi yang bisa ditimbulkan akibat reaksi alergi ini seseorang bisa mengalami neurodermatitis yang jika terjadi dalam waktu lama bisa mengubah warna kulit, infeksi kulit serta komplikasi pada mata yang jika tidak ditangani dengan cepat bisa mengakibatkan kerusakan mata permanen. Karena itu sebaiknya jangan sembarangan jika ingin mewarnai rambut Anda, pilihlah tempat yang memang sudah mendapatkan pelatihan serta pastikan Anda tidak memiliki reaksi alergi apapun dan tidak memiliki kulit sensitif.


Last edited by gitahafas on Sun Oct 17, 2010 1:06 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Mon May 10, 2010 12:00 pm

WANITA BERISIKO ALAMI ALERGI OBAT DAN KULIT MELEPUH
Senin, 19/10/2009 11:45 WIB Fatichatun Nadhiroh - detikHealth
Surabaya, Wanita lebih banyak mengalami risiko mengalami alergi dibanding pria. Itu setelah diketahui tiap hari pasien yang berkunjung ke RSU dr Soetomo Surabaya. Meski setiap harinya 1 pasien berobat di Divisi Penyakit Tropik-Infeksi SMF Ilmu Penyakit Dalam, namun sebagian adalah wanita.
"Wanita lebih rentan mengalami alergi dan berakibat fatal hingga menin ggal dunia. Sedangkan pria risiko alergi masih belum fatal," kata staf Divisi Alergi-Imunologi Klinik Ilmu Penyakit Dalam RSU dr Soetomo Surabaya, dr Ari Baskoro SpPD K-AI, Senin (19/10/2009).

Ari menambahkan, hingga kini belum diketahui mengapa wanita lebih rentan dibanding pria. Perbandingan risiko alergi obat antara wanita dan pria yakni 10:1. Namun hingga kini kalangan medis belum menemukan penyebab pasti mengapa wanita lebih rentan mengalami alergi obat. Hingga kini, kata dia, masyarakat belum banyak tahu bahwa obat bisa menimbulkan alergi. Terbukti banyak pemberitaan tentang alergi obat. Dalam pandangan mereka, obat berfungsi menyembuhkan penyakit yang diderita, bukan menimbulkan alergi. Padahal, reaksi tubuh saat dimasuki obat tertentu bisa berbeda bahkan malah balik menyerang kekebalan tubuh sendiri.

"Jika ada kasus alergi obat selama ini pasien dan dokter sama-sama dirugikan. Kondisi pasien bertambah parah karena tubuhnya melepuh, sementara dokter dituduh sebagai penyebabnya karena dianggap melakukan mal praktek," tambahnya.

Dia pun menyarankan agar semua orang segera ke dokter bila mengalami gatal, sesak nafas, biduren, sakit kepala hingga pingsan usai 30 menit minum obat usai minum obat, baik yang dijual bebas maupun yang diresepkan oleh dokter. Hal ini agar segera ditangani sejak dini, agar tidak berakibat fatal. Sebab itu berarti ada sistem imun tubuh yang tidak benar dan sensitif. "Segera pergi ke dokter agar cepat ditangani, agar nyawa pasien yang mengalami alergi obat bisa cepat diselamatkan," tegasnya.


Last edited by gitahafas on Sun Oct 17, 2010 1:09 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 12118
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll   Mon May 10, 2010 12:16 pm

MAKAN DAGING BISA MENIMBULKAN ALLERGI PARAH
Selasa, 02/03/2010 12:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Virginia, Selama ini orang hanya mengenal beberapa makanan saja yang berpotensi memicu timbulnya alergi seperti kacang-kacangan atau susu. Tapi mengonsumsi daging juga memiliki potensi menimbulkan alergi parah yang di luar perkiraan sebelumnya dan disebut dengan anafilaksis. Anafilaksis adalah suatu reaksi alergi akut yang bisa terjadi di seluruh tubuh dan bersifat alergi berat. Reaksi ini biasanya tidak terjadi pada kontak pertama dengan alergen, tapi terjadi setelah terkena paparan berikutnya dan secara tiba-tiba. Anafilaksis mulai terjadi apabila ada alergen yang masuk ke dalam aliran darah dan bereaksi dengan antibodi IgE.

Studi ini dilakukan oleh peneliti dari Amerika Serikat dan melibatkan 60 pasien yang memiliki alergi parah. Didapatkan bahwa senyawa di dalam daging yang dikenal sebagai alfa-galaktosa sebagai penyebabnya. Hasil ini juga telah dipresentasikan dalam pertemuan American Academy of Allergy, Asthma & Immunology di New Orleans. Tim peneliti memeriksa sampel darah untuk melakukan tes antibodi terhadap alfa-galaktosa. Partisipan ini terdiri dari 22 orang dari University of Virginia, 20 orang dari University of Tennessee dan 18 orang dari John James Medical Center di Australia. Semua partisipan mengalami anafilaksis tapi tidak tahu apa penyebabnya.

Peneliti menemukan bahwa sistem kekebalan protein yang disebut dengan antibodi IgE muncul pada 25 partisipan yang sebelumnya tidak bisa dijelaskan apa penyebabnya. Adanya antibodi IgE pada gugus gula ini lebih besar penyebarannya pada populasi manusia secara keseluruhan. "Dulu kami berpikir bahwa alergi terhadap daging adalah kejadian yang sangat jarang, tapi kenyataannya tidak seperti itu," ujar ketua penelitian Dr Scott Commins dari University of Virginia, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (2/3/2010).

Dr Commins menambahkan alfa-galaktosa diproduksi oleh sebagian besar mamalia, tapi pada manusia dan kera besar justru memproduksi antibodi untuk gula. Masalah bisa muncul ketika tubuh seseorang memproduksi antibodi IgE pada gugus gula dan kemudian mengonsumsi daging atau produk susu yang mengandung gula, sehingga mengakibatkan adanya reaksi yang tertunda. "Reaksi ini bisa muncul hanya dalam waktu beberapa menit saja," ungkap Dr Commins.


Last edited by gitahafas on Tue Oct 19, 2010 6:05 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
 

Allergi, Penyakit Autoimun, Penyakit Genetik, Sel Punca, Bayi Tabung, dll

View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 32Goto page : 1, 2, 3 ... 16 ... 32  Next

 Similar topics

-
» Penyakit berjangkit (Latihan 2)
» Antisipasi penyakit LEVER!!!!
» Pemeriksaan awal elak penyakit kronik
» Seksyen 21 Akta Pemusnahan Serangga Pembawa Penyakit
» Pellbagai Punca Sakit Dada

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-