|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Tue Jun 29, 2010 10:44 am | |
| ILEUS Ileus (Ileus Paralitik, Ileus Adinamik) adalah suatu keadaan dimana pergerakan kontraksi normal dinding usus untuk sementara waktu berhenti. Seperti halnya penyumbatan mekanis, ileus juga menghalangi jalannya isi usus, tetapi ileus jarang menyebabkan perforasi.
PENYEBAB Ileus mungkin disebabkan oleh : - Suatu infeksi atau bekuan darah di dalam perut - Aterosklerosis yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke usus - Cedera pada pembuluh darah usus - Kelainan di luar usus, seperti gagal ginjal atau kadar elektrolit darah yang abnormal (misalnya rendah kalium, tinggi kalsium) - Obat-obat tertentu - Kelenjar tiroid yang kurang aktif.
24-72 jam setelah pembedahan juga biasa terjadi ileus.
GEJALA Gejala ileus adalah: - kembung - muntah - sembelit yang berat - kram perut.
DIAGNOSA Pada pemeriksaan dengan stetoskop, suara bising usus berkurang atau hilang sama sekali. Foto rontgen perut menunjukkan lingkaran usus yang menggembung. Kadang dilakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) untuk mengevaluasi keadaan.
PENGOBATAN Pembentukan gas dan cairan karena ileus harus dihilangkan. Kadang sebuah selang dimasukkan ke dalam usus besar melalui anus untuk mengurangi tekanan. Selang lainnya yang dihubungkan dengan alat penghisap, dimasukan melalui hidung menuju ke lambung atau usus halus, untuk mengurangi tekanan dan peregangan. Penderita tidak boleh makan atau minum apapun sampai krisisnya teratasi. Cairan dan elektrolit diberikan melalui infus.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:06 pm; edited 8 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Thu Jul 01, 2010 6:54 am | |
| PERITONITIS Peritonitis adalah peradangan yang biasanya disebabkan oleh infeksi pada selaput rongga perut (peritoneum). Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang membungkus organ perut dan dinding perut sebelah dalam.
PENYEBAB Peritonitis biasanya disebabkan oleh : 1. Penyebaran infeksi dari organ perut yang terinfeksi. Yang sering menyebabkan peritonitis adalah perforasi lambung, usus, kandung empedu atau usus buntu. Sebenarnya peritoneum sangat kebal terhadap infeksi. Jika pemaparan tidak berlangsung terus menerus, tidak akan terjadi peritonitis, dan peritoneum cenderung mengalami penyembuhan bila diobati. 2. Penyakit radang panggul pada wanita yang masih aktif melakukan kegiatan seksual 3. Infeksi dari rahim dan saluran telur, yang mungkin disebabkan oleh beberapa jenis kuman (termasuk yang menyebabkan gonore dan infeksi chlamidia) 4. Kelainan hati atau gagal jantung, dimana cairan bisa berkumpul di perut (asites) dan mengalami infeksi 5. Peritonitis dapat terjadi setelah suatu pembedahan. Cedera pada kandung empedu, ureter, kandung kemih atau usus selama pembedahan dapat memindahkan bakteri ke dalam perut. Kebocoran juga dapat terjadi selama pembedahan untuk menyambungkan bagian usus. 6. Dialisa peritoneal (pengobatan gagal ginjal) sering mengakibatkan peritonitis. Penyebabnya biasanya adalah infeksi pada pipa saluran yang ditempatkan di dalam perut. 7. Iritasi tanpa infeksi. Misalnya peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau bubuk bedak pada sarung tangan dokter bedah juga dapat menyebabkan peritonitis tanpa infeksi.
GEJALA Gejala peritonitis tergantung pada jenis dan penyebaran infeksinya. Biasanya penderita muntah, demam tinggi dan merasakan nyeri tumpul di perutnya. Bisa terbentuk satu atau beberapa abses. Infeksi dapat meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan (perlengketan, adhesi) yang akhirnya bisa menyumbat usus.
Bila peritonitis tidak diobati dengan seksama, komplikasi bisa berkembang dengan cepat. Gerakan peristaltik usus akan menghilang dan cairan tertahan di usus halus dan usus besar. Cairan juga akan merembes dari peredaran darah ke dalam rongga peritoneum. Terjadi dehidrasi berat dan darah kehilangan elektrolit. Selanjutnya bisa terjadi komplikasi utama, seperti kegagalan paru-paru, ginjal atau hati dan bekuan darah yang menyebar.
DIAGNOSA Foto rontgen diambil dalam posisi berbaring dan berdiri. Gas bebas yang terdapat dalam perut dapat terlihat pada foto rontgen dan merupakan petunjuk adanya perforasi. Kadang-kadang sebuah jarum digunakan untuk mengeluarkan cairan dari rongga perut, yang akan diperiksa di laboratorium, untuk mengidentifikasi kuman penyebab infeksi dan memeriksa kepekaannya terhadap berbagai antibiotika. Pembedahan eksplorasi merupakan teknik diagnostik yang paling dapat dipercaya.
PENGOBATAN Biasanya yang pertama dilakukan adalah pembedahan eksplorasi darurat, terutama bila terdapat apendisitis, ulkus peptikum yang mengalami perforasi atau divertikulitis. Pada peradangan pankreas (pankreatitis akut) atau penyakit radang panggul pada wanita, pembedahan darurat biasanya tidak dilakukan. Diberikan antibiotik yang tepat, bila perlu beberapa macam antibiotik diberikan bersamaan. Cairan dan elektrolit bisa diberikan melalui infus.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:07 pm; edited 7 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Thu Jul 01, 2010 6:56 am | |
| PERDARAHAN SALURAN CERNA Perdarahan bisa terjadi dimana saja di sepanjang saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus. Bisa berupa ditemukannya darah dalam tinja atau muntah darah,tetapi gejala bisa juga tersembunyi dan hanya bisa diketahui melalui pemeriksaan tertentu.
PENYEBAB Penyebab perdarahan pada saluran pencernaan : 1. Kerongkongan - Robekan jaringan - Kanker 2. Lambung - Luka kanker atau non-kanker - Iritasi (gastritis) karena aspirin atau Helicobacter pylori 3. Usus halus - Luka usus dua belas jari non-kanker - Tumor ganas atau jinak 4. Usus besar - Kanker - Polip non-kanker - Penyakit peradangan usus (penyakit Crohn atau kolitis ulserativa) - Penyakit divertikulum - Pembuluh darah abnormal di dinding usus (angiodisplasia) 5. Rektum : - Kanker - Tumor non-kanker 6. Anus - Hemoroid - Robekan di anus (fisura anus)
GEJALA Gejalanya bisa berupa: - muntah darah (hematemesis) - mengeluarkan tinja yang kehitaman (melena) - mengeluarkan darah dari rektum (hematoskezia)
Tinja yang kehitaman biasanya merupakan akibat dari perdarahan di saluran pencernaan bagian atas, misalnya lambung atau usus dua belas jari. Warna hitam terjadi karena darah tercemar oleh asam lambung dan oleh pencernaan kuman selama beberapa jam sebelum keluar dari tubuh. Sekitar 200 gram darah dapat menghasilkan tinja yang berwarna kehitaman. Penderita dengan perdarahan jangka panjang, bisa menunjukkan gejala-gejala anemia, seperti mudah lelah, terlihat pucat, nyeri dada dan pusing. Jika terdapat gejala-gejala tersebut, dokter bisa mengetahui adanya penurunan abnormal tekanan darah, pada saat penderita berdiri setelah sebelumnya berbaring.
Gejala yang menunjukan adanya kehilangan darah yang serius adalah denyut nadi yang cepat, tekanan darah rendah dan berkurangnya pembentukan air kemih. Tangan dan kaki penderita juga akan teraba dingin dan basah. Berkurangnya aliran darah ke otak karena kehilangan darah, bisa menyebabkan bingung, disorientasi, rasa mengantuk dan bahkan syok.
Gejala kehilangan darah yang serius bisa berbeda-beda, tergantung pada apakah penderita memiliki penyakit tertentu lainnya. Penderita dengan penyakit arteri koroner bisa tiba-tiba mengalami angina (nyeri dada) atau gejala-gejala dari suatu serangan jantung. Pada penderita perdarahan saluran pencernaan yang serius, gejala dari penyakit lainnya, seperti gagal jantung, tekanan darah tinggi, penyakit paru-paru dan gagal ginjal, bisa bertmbah buruk. Pada penderita penyakit hati, perdarahan ke dalam usus bisa menyebabkan pembentukan racun yang akan menimbulkan gejala seperti perubahan kepribadian, perubahan kesiagaan dan perubahan kemampuan mental (ensefalopati hepatik).
DIAGNOSA Adanya kehilangan darah yang serius, menyebabkan hasil pemeriksaan hematokrit menunjukkan konsentrasi sel darah merah yang rendah. Penyebab perdarahan bisa ditentukan dari gejala yang timbul. Nyeri perut karena makanan atau obat antasid, disebabkan oleh tukak lambung (ulkus gastrikum), dan perdarahan pada tukak sering tidak menimbulkan nyeri. Obat-obatan yang bisa merusak dinding lambung, seperti aspirin, bisa menyebabkan perdarahan lambung berupa ditemukannya darah dalam tinja.
Penderita perdarahan saluran pencernaan yang sebabnya tidak diketahui, dengan nafsu makan yang berkurang disertai penurunan berat badan, sebaiknya menjalani pemeriksaan untuk kemungkinan adanya kanker. Bila terdapat kesulitan menelan, diperiksa kemungkinan adanya kanker kerongkongan atau penyempitan kerongkongan. Diduga adanya sobekan di kerongkongan bila timbul muntah yang sangat kuat tepat sebelum terjadinya perdarahan. Sembelit atau diare yang menyertai perdarahan atau perdarahan yang tersembunyi dalam tinja, mungkin disebabkan oleh kanker atau polip pada usus bagian bawah, terutama pada penderita yang berusia diatas 45 tahun. Darah segar di permukaan tinja, bisa berasal dari wasir atau kanker rektum.
Pemeriksaan ditujukan untuk menemukan sumber perdarahannya. Pada permeriksaan rektum, dicari adanya wasir, robekaan rektum (fisura) dan tumor. Kemudian pemeriksaan dipilih berdasarkan pada apakah perdarahan ini dicurigai berasal dari saluran pencernaan bagian atas (kerongkongan, lambung, dan usus duabelas jari) atau saluran pencernaan bagian bawah (usus halus bagian bawah, usus besar, rektum dan anus).
Pada awalnya, kelainan pada saluran pencernaan bagian atas, biasanya diperiksa dengan memasukkan tabung melalui hidung, menuju ke lambung dan mengeluarkan cairannya. Cairan lambung yang seperti kopi disebabkan oleh pencernaan darah parsial, dan menunjukan bahwa perdarahannya lambat dan telah berhenti. Darah yang berwarna merah terang dan terus menerus, menunjukan perdarahan yang aktif dan berat.
Selanjutnya endoskopi sering digunakan untuk memeriksa kerongkongan, lambung dan usus dua belas jari, dan menemukan sumber perdarahannya. Jika tidak ditemukan gastritis atau tukak pada lambung maupun usus dua belas jari, bisa dilakukan biopsi. Biopsi dapat menentukan apakah perdarahannya berasal dari infeksi kuman Helicobacter pylori. Infeksi yang ditemukan lalu diobati biasanya akan membaik bila diberikan antibiotik.
Rontgen dengan barium enema atau endoskopi dilakukan untuk mencari polip dan kanker pada saluran pencernaan bagian bawah. Bagian dalam dari bagian bawah usus juga bisa diperiksa dengan anaskopi, sigmoidoskopi atau kolonoskopi. Bila pemeriksaan-pemeriksaan tersebut tidak berhasil menunjukan sumber perdarahan, bisa dilakukan angiografi atau skening setelah penyuntikan sel darah merah radioaktif. Cara ini terutama berguna untuk menyembuhkan perdarahan yang disebabkan oleh kelainan pada pembuluh darahnya.
PENGOBATAN Pada lebih dari 80% penderita, tubuh akan berusaha menghentikan perdarahan. Penderita yang terus menerus mengalami perdarahan atau yang memiliki gejala kehilangan darah yang jelas, seringkali harus dirawat di rumah sakit dan biasanya dirawat di unit perawatan intensif.
Bila darah hilang dalam jumlah besar, mungkin dibutuhkan transfusi. Untuk menghindari kelebihan cairan dalam pembuluh darah, biasanya lebih sering diberikan transfusi sel darah merah (PRC/Packed Red Cell) daripada transfusi darah utuh (whole blood). Setelah volume darah kembali normal, penderita dipantau secara ketat untuk mencari tanda-tanda perdarahan yang berlanjut, seperti peningkatan denyut nadi, penurunan tekanan darah atau kehilangan darah melalui mulut atau anus.
Perdarahan dari vena varikosa pada kerongkongan bagian bawah dapat diobati dengan beberapa cara. Diantaranya dengan memasukkan balon kateter melalui mulut ke dalam kerongkongan dan mengembangkan balon tersebut untuk menekan daerah yang berdarah. Cara lain ialah dengan menyuntikan bahan iritatif ke dalam pembuluh yang mengalami perdarahan, sehingga terjadi peradangan dan pembentukan jaringan parut pada pembuluh balik (vena) tersebut.
Perdarahan pada lambung sering dapat dihentikan melalui endoskopi. Dilakukan kauterisasi pembuluh yang mengalami perdarahan dengan arus listrik atau penyuntikan bahan yang menyebabkan penggumpalan di dalam pembuluh darah. Bila cara ini gagal, mungkin perlu dilakukan pembedahan.
Perdarahan pada usus bagian bawah biasanya tidak memerlukan penanganan darurat. Tetapi bila diperlukan, bisa dilakukan prosedur endoskopi atau pembedahan perut. Kadang-kadang lokasi perdarahan tidak dapat ditentukan dengan tepat, sehingga sebagian dari usus mungkin perlu diangkat.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:09 pm; edited 8 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Thu Jul 01, 2010 6:57 am | |
| POLIP DI USUS BESAR dan REKTUM Polip adalah pertumbuhan jaringan dari dinding usus yang menonjol ke dalam usus dan biasanya tidak ganas. Polip bisa tumbuh dengan atau tanpa tangkai dan ukurannya bervariasi. Polip paling sering ditemukan di rektum dan bagian bawah usus besar (kolon), dan jarang ditemukan di kolon bagian atas.
Sekitar 25% penderita kanker usus besar juga memiliki polip di tempat lain di usus besar. Jika polip adenomatosa di kolon tidak diangkat, kemungkinan akan menjadi ganas. Makin besar ukurannya, makin besar resiko terjadinya keganasan.
GEJALA Kebanyakan polip tidak menyebabkan gejala, tapi gejala paling sering terjadi adalah perdarahan dari rektum. Polip yang besar bisa menyebabkan kram, nyeri perut atau penyumbatan usus. Polip yang bertangkai panjang jarang turun ke bawah melalui anus. Polip besar dengan bentuk seperti jari (adenoma vilus) bisa mengeluarkan air dan garam, menyebabkan diare cair yang bisa menyebabkan menurunnya kadar kalium darah (hipokalemia). Jenis polip ini lebih sering berkembang menjadi keganasan (kanker).
DIAGNOSA Pada pemeriksaan colok dubur akan dapat dirasakan oleh jari tangan adanya polip di rektum. Selain itu, polip biasanya ditemukan pada pemeriksaan rutin sigmoidoskopi.
Bila pada sigmoidoskopi ditemukan polip, maka dilakukan kolonoskopi untuk memeriksa keseluruhan usus besar. Pemeriksaan ini dilakukan, karena seseorang sering memiliki polip lebih dari satu dan karena polip bisa bersifat ganas. Pada kolonoskopi juga dilakukan pengambilan contoh jaringan untuk biopsi dari daerah yang kelihatannya ganas.
PENGOBATAN Penderita diberi obat pencahar dan enema untuk mengosongkan usus. Lalu polip diangkat selama kolonoskopi dengan menggunakan pisau bedah atau lingkaran kawat yang dialiri arus listrik. Bila polip tidak memiliki tangkai atau tidak dapat diambil selama kolonoskopi, mungkin perlu dilakukan pembedahan perut.
Ahli patologi memeriksa polip yang telah diambil. Bila polip bersifat ganas, pengobatan tergantung kepada faktor-faktor tertentu. Contohnya, resiko penyebaran kanker lebih tinggi jika kanker sudah mencapai tangkai polip atau lebih dekat ke tempat pemotongan. Resiko penyebaran kanker juga bisa didasarkan pada hasil pemeriksaan ahli patologi terhadap penampakan polip di bawah mikroskop. Bila resikonya rendah, tidak diperlukan pengobatan lebih lanjut. Bila resikonya tinggi, bagian usus besar yang terkena diangkat melalui pembedahan dan potongannya disambungkan lagi.
Jika polipnya sudah diangkat, setahun kemudian dan dalam selang waktu yang ditentukan oleh dokternya, seluruh usus besar diperiksa dengan kolonoskopi. Bila pemeriksaan tidak mungkin dilakukan karena telah terjadi penyempitan usus besar, maka digunakan barium enema. Setiap polip yang baru harus diangkat.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:09 pm; edited 8 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Thu Jul 01, 2010 8:59 am | |
| HERNIA Hernia lebih dikenal dengan sebutan turun berok, klingsir, burut. Sementara dalam bidang kedokteran definisi hernia adalah keluarnya organ dari tempat dia seharusnya berada melalui suatu celah yang tak normal. Yang paling sering adalah hernia yang terletak di lipat paha ( hernia Inguinalis ). Hernia inguinalis dapat terjadi pada bayi, anak sampai orang dewasa dan orang tua. Pada bayi dan anak disebut hernia ini disebut hernia herediter ( keturunan ). Sementara pada orang dewasa dan orang tua sebutannya adalah hernia acquired ( didapat ).
Gejala yang pertama dirasakan ketika mengalami hernia adalah rasa berat di lipat paha yang timbul waktu tekanan dalam perut meningkat seperti waktu mengedan, batuk atau waktu mengangkat barang yang berat. Gejala selanjutnya akan terlihat berupa penonjolan didaerah lipat paha waktu tekanan didalam perut meningkat dan akan menghilang saat tekanan hilang. Penonjolan ini semakin lama akan semakin turun dan dapat masuk sampai ke kantong kemaluan ( scrotum ). Hal ini tergantung pada besarnya celah yang terjadi.
Jenis jenis hernia: 1. Hernia Inguinalis Meskipun lebih sering ditemukan pada laki laki, tetapi hernia ini juga bisa terjadi pada wanita. Letaknya di lipat paha.
2. Hernia Umbilikalis Hernia jenis ini terjadi didalam dan di sekitar umbilikus ( pusar ). Menimbulkan rasa sakit didaerah pusar. Lebih sering muncul setelah melahirkan, tetapi dapat juga terjadi setiap saat. Pada bayi biasanya terjadi secara bertahap pada umur 3-4 tahun.
3. Hernia Epigastrika Adalah hernia yang berkembang didaerah pertengahan perut atas, sepanjang garis yang ditarik dari titik bawah tulang dada ke pusar. Biasanya berukuran kecil dan terlokalisasi. Hernia jenis ini lebih sering menimbulkan rasa sakit dibanding hernia jenis lainnya.
4. Hernia Insisional atau Ventral Dapat terjadi didaerah manapun akibat insisi bedah, dan ukurannya bervariasi dari yang sangat kecil sampai sangat besar dan kompleks. Hernia ini terjadi akibat gangguan di area sekitar dinding perut yang dijahit. Hampir semua operasi perut bisa menimbulkan hernia ini dan mudah sekali kambuh jika tidak ditangani dengan baik.
5. Hernia Femoral Seperti hernia inguinal, hernia femoral berkembang didaerah pangkal paha, dibawah lipat paha. Bedanya, hernia ini justru 5x lebih sering terjadi pada wanita dibanding laki laki. Hal ini sangat berkaitan dengan bentuk panggul wanita yang lebih besar dibanding laki laki.
Pengobatan hernia adalah dengan operasi, dengan tujuan memgembalikan organ ( umumnya usus ) yang keluar dan menutup celah. Operasi harus sesegera mungkin dilakukan sebelum usus yang keluar dari rongga perut itu terjepit di celah . Operasi hernia bisa operasi secara terbuka ( diperlukan sayatan sepanjang 10 cm ) atau secara minimal invasive ( 3 buah sayatan kecil, 1 buah @ 1 cm dan 2 buah lagi @ 0,5 cm . Kedua jenis operasi ini memberi hasil yang sama. Umumnya operasi berlangsung 1 jam dan paien bisa pulang dalam 2 hari.
Sumber: Health First vol 8 Okt - Des 2009
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:19 pm; edited 9 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Mon Jul 05, 2010 8:26 pm | |
| NYERI PERUT Nyeri Perut adalah nyeri yang dirasakan di daerah perut.
PENYEBAB Nyeri perut bisa disebabkab oleh masalah di sepanjang saluran pencernaan atau di berbagai bagian perut, yang bisa berupa: - pecahnya kerongkongan - ulkus yang mengalami perforasi - irritable bowel syndrome - apendisitis - pankreatitis - batu empedu. Beberapa kelainan tersebut bersifat relatif ringan; yang lainnya mungkin bisa berakibat fatal.
GEJALA Sifat nyeri dan hubungannya dengan makan atau pergerakan bisa merupakan petunjuk untuk membantu menegakkan diagnosis. Bila anggota keluarga lainnya sudah pernah mengalami kelainan perut, (misalnya batu empedu), ada kemungkinan penderita mengalami kelainan yang sama. Apa yang terlihat pada penderita juga dapat menjadi petunjuk penting. Sebagai contoh, sakit kuning (kulit dan bagian putih mata yang berwarna kuning) menunjukan penyakit hati, kandung empedu atau saluran empedu.
DIAGNOSA Dilakukan pemeriksaan dengan meraba dinding perut, apakah terdapat nyeri tumpul dan massa yang abnormal. Jika dinding perut ditekan dengan lembut, penderita akan merasa sakit dan bila tekanannya mendadak dilepas, rasa sakitnya bisa tiba-tiba bertambah buruk. Gejala ini biasanya menunjukan adanya peradangan pada selaput rongga perut (peritonitis).
Pemeriksaan diagnostik untuk nyeri perut meliputi analisa darah dan air kemih, foto rontgen, USG dan CT scan. Pembedahan eksplorasi perut darurat sering dilakukan jika nyeri perut disebabkan oleh : - penyumbatan usus - organ yang pecah atau mengalami perforasi, seperti kandung empedu atau usus buntu. - abses (pengumpulan nanah).
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:18 pm; edited 11 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Tue Jul 06, 2010 9:43 am | |
| NYERI PERUT BISA KARENA MALABSORPSI Evy Rachmawati | Selasa, 8 April 2008 | 12:03 WIB Kompas.com - NYERI perut tidak selalu disebabkan oleh sakit maag. Pemahaman masyarakat mengenai enzim pencernaan dan fungsinya masih sangat rendah. Orang tidak tahu, bahwa nyeri yang dialaminya di perut disebabkan karena tubuh mengalami gangguan percernaan (maladigesti) yang selanjutkan menjadi gangguan penyerapan (malabsorpsi). Demikian disampaikan Staf Divisi Gastroenterologi Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran UI Dokter Ari Fahrial Syam dalam Media Seminar yang bertajuk Pentingnya Peranan Enzim pada Sistem Pencernaan di Hotel Le Meridien, Jakarta, Selasa (8/4). Menurut Dokter Ari, malabsorpsi disebabkan karena terganggunya enzim dalam tubuh. Enzim adalah suatu protein yang dibutuhkan tubuh untuk memecah makanan sehingga menjadi bagian yang lebih mudah diserap oleh dinding dalam usus.Dia merupakan protein berbentuk bundar yang diperlukan untuk semua reaksi kimia yang berlangsung di dalam tubuh. Sebagian kecil enzim diproduksi di kelenjar liur di bagian mulut. Namun kebanyakan enzim pencernaan diproduksi oleh kelenjar pankreas. Ada dua golongan enzim, yaitu enzim pencernaan yang berfungsi sebagai katalisator, dan enzim metabolisme yang bertanggung jawab untuk menyusun, memperbaiki dan membentuk kembali sel-sel dalam tubuh. Enzim pencernaan yang utama terdiri dari enzim protease (merombak protein), enzim lipase (merombak lemak) dan enzim ami lase (merombak hidrat arang).
Tanpa bantuan enzim, semua bahan makanan yang masuk tubuh kita hanya akan numpang lewat. Karena itu, enzim bertanggung jawab menjaga kesehatan dan proses metabolisme di dalam tubuh. Bila kurang enzim, perut mudah berontak saat mengkonsumsi makanan-makanan tertentu. Kurangnya satu jenis enzim umumnya disertai oleh kurangnya enzim yang lain. Ganguan enzim, lanjut Dr. Ari, dapat terjadi karena faktor genetik, dan gangguan pankreas. Gangguan enzim pencernaan juga bisa terjadi akibat kecenderungan pola makan masyarakat saat ini yang buruk seperti makan terburu-buru, makan berlebihan atau dalam jumlah banyak terutama makanan berlemak, dan jenis makanan yang kurang bervariasi. Usia yang makin bertambah juga menyebabkan enzim yang diproduksi tubuh makin turun.
Gangguan kekurangan enzim yang kronis dapat menyebabkan penderita mengalami malagizi (kurang gizi), yang menyebabkan berat badan berkurang dan daya tahan tubuh juga menurun. Gejala sindrom malabsorpsi yakni kembung pada perut, nafsu makan menurun, diare, perut tidak nyaman, dan suara usus yang meningkat. "Suara usus ini disebabkan gas yang berlebihan pada usus karena gangguan pencernaan," kata Dokter Ari. Bagaimana mengatasi malabsorpsi? Dokter Ari menganjurkan untuk melakukan diet yang tepat dengan mengurangi makanan yang berlemak, minum obat antibiotik, suplemen enzim pencernaan, dan vitamin dan mineral. "Jika tidak sembuh juga, harus menemui dokter," ujarnya.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:17 pm; edited 11 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Wed Jul 07, 2010 6:18 am | |
| NYERI PERUT? MUNGKIN ANDA KEKURANGAN ENZIM Author: admin 28 APR http://www.resep.web.id/kesehatan/nyeri-perut-mungkin-anda-kekurangan-enzim.htm Jika perut terasa nyeri, kembung, mual dan timbul perasaan tak nyaman di ulu hati, biasanya orang menganggap hal itu sebagai gejala penyakit maag. Namun, sudah minum obat maag banyak-banyak kok penyakitnya tak kunjung sembuh. Malah, kemudian terkena diare. Minum obat diare pun hanya efektif bekerja selama beberapa hari, setelah itu diarenya kambuh lagi. Kebiasaan orang Indonesia yang lebih suka menerka-nerka penyakit dan mengobati diri sendiri, menciptakan iklim dimana seseorang baru akan ke dokter jika penyakitnya sudah parah dan tubuh sudah tak bisa diajak kompromi. Kalau saja gejala itu sudah diketahui sejak awal, tentu penyakit tak perlu berlama-lama bersemayam dalam tubuh.
Seperti dikatakan dokter Gastroenterologi dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam, RS Cipto Mangunkusumo, Ari Fahrial Syam bahwa nyeri perut bisa diartikan macam-macam, tergantung posisinya. Jika lokasi nyeri perut ada di ulu hati, kemungkinan terkena penyakit cukup beragam yaitu radang pankreas, tukak usus dua belas jari, kanker pankreas, hepatitis, radang paru atau serangan jantung. Tetapi jika nyeri di perut kanan atas, kemungkinan terkena radang kandung empedu, hepatitis, radang pankreas dan radang paru. Sedangkan nyeri di perut kiri atas kemungkinan terkena nyeri limpa, infeksi virus dan tukak lambung.
Jika nyeri di sekitar pusar, kemungkinan terkena sumbatan usus halus, aneurisma aorta, radang pankreas dan gejala awal usus buntu. Nyeri di perut tengah kiri atau kanan, kemungkinan terkena batu ginjal, radang usus besar atau kanker usus besar. Kalau nyeri perutnya di perut bawah, lanjut dr Ari Fahrial, kemungkinan seseorang terkena usus buntu, usus besar, infeksi kandung kemih, kista ovarium, kehamilan ektopik, tumor usus hingga sindrom malabsorsi yang makin menggejala di masyarakat. Kekurangan Enzim. Sindrom malabsorsi terjadi akibat pola hidup dengan makan tidak seimbang. Sehingga proses penyerapan dan pencernaan makanan terganggu, karena sejumlah enzim untuk memecah bahan makanan itu tidak cukup. Sebagian bahan makanan yang masuk tubuh akan terbuang percuma.
“Pemahaman masyarakat tentang pengaruh enzim terhadap pencernaan masih sangat rendah. Orang selalu mengaitkan masalah pencernaan dengan penyakit maag,” katanya. Jika seseorang terkena sindrom malabsorsi, secara perlahan tubuh mengalami kurang gizi kronis, meski telah makan sesuai aturan “4 sehat 5 sempurna”. “Tubuh menjadi rentan terkena penyakit. Gampang terkena flu dan sakit-sakitan. Minum aneka suplemen vitamin dan mineral tidak membantu, karena yang dibutuhkan adalah sebenarnya enzim untuk membantu percernaan menyerap zat-zat makanan yang dibutuhkan tubuh,” tuturnya.
Untuk mengenali seseorang apakah terkena sindrom malabsorsi, menurut dr Ari Fahrial, caranya cukup mudah. Yaitu, selain mengalami gejala-gejala mirip penyakit maag, penderitanya juga sering bersendawa dan buang angin (kentut), gampang terkena diare dan sering terdengar dari dalam perut suara usus “kriuk-kriuk” seperti orang kelaparan.
“Untuk pastinya bisa konsultasi ke dokter. Dokter akan memeriksa feses (kotoran) apakah ditemukan adanya lemak, protein atau karbohidrat. Jika ada, itu tandanya anda terkena sindrom malabsorsi. Untuk mendukung hal itu akan dilakukan pemeriksaan enzim darah,” katanya. Ditanya faktor penyebab terjadinya gangguan enzim, dr Ari mengatakan, bisa secara genetik atau diturunkan dari orangtua, faktor usia akibat organ tubuh yang menua atau bisa juga disebabkan perubahan gaya hidup yang membuat kerja pankreas sebagai penghasil enzim untuk pencernaan tidak optimal.
Dijelaskan, tubuh membutuhkan sejumlah enzim dalam memproses makanan dalam saluran cerna. Enzim amilase untuk memecah amilum (karbohidrat), enzim laktase untuk mengurai laktosa, enzim lipase untuk memecah lemak (lipid) di usus halus menjadi gliserol dan asam lemak. Enzim pepsin untuk memecah protein di lambung serta enzim tripsin dan kimotripsin (enzim pankreas) yang memecah protein. Enzim merupakan protein berbentuk bundar yang diperlukan untuk semua reaksi kimia yang berlangsung di dalam tubuh. Sebagian kecil enzim diproduksi di kelenjar liur di bagian mulut. “Jika tubuh kekurangan enzim, perut mudah berontak saat mengkonsumsi makanan-makanan tertentu. Karena itu penderita mudah sekali terkena diare,” katanya.
Kebanyakan enzim pencernaan diproduksi oleh kelenjar pankreas. Di dalam tubuh terdapat dua golongan enzim yaitu enzim pencernaan yang berfungsi sebagai katalisator dan enzim metabolisme yang bertanggungjawab untuk menyusun, memperbaiki dan membentuk kembali sel-sel dalam tubuh. “Kurangnya satu jenis enzim umumnya disertai oleh kurangnya enzim yang lain. Ganguan kekurang enzim yang kronis dapat menyebabkan penderita mengalami kurang gizi, yang menyebabkan berat badan berkurang dan daya tahan tubuh juga menurun,” kata dr Ari.
Untuk mengatasi masalah kekurangan enzim ini, dr Ari Fahrian menyarankan, agar melakukan diet terutama mengurangi makanan yang berlemak, keju serta coklat. Selain juga banyak mengonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran sebagai gudang produksi “enzim”. “Bila gaya hidup tidak memungkinkan seseorang makan banyak buah dan sayur setiap hari, sudah ada obat untuk mengatasi malabsorbsi melalui suplementasi enzim,” kata Ari Fahrial yang pernah mendapat gelar dokter puskesmas berprestasi tahun 1993. Satu produk yang sebelumnya diresepkan dokter untuk mengatasi masalah kekurangan enzim adalah Enzyplex, produksi Medifarma Laboratories, Inc.
Seperti dikemukakan Brand Manager Enzyplex, dr Maria Margaretha mengatakan enzyplex kini dapat dibeli tanpa resep dokter. Produk tersebut juga dilengkapi dengan zat anti kembung dan vitamin B kompleks untuk membantu meningkatkan proses metabolisme. Maria menjelaskan Enzyplex yang diproduksi PT Mediafarma Laboratories dapat mengatasi gangguan enzim pencernaan akibat kecenderungan pola makan masyarakat yang buruk misalnya karena makan terburu-buru, makanan yang berlebihan terutama yang mengandung lemak. “Usia yang bertambah juga mengakibatkan enzim yang diproduksi tubuh kita semakin menurun,” kata Maria Margaretha.
Ketika ditanyakan apakah produk tersebut akan menimbulkan ketergantungan, Maria mengatakan, Enzyplex tidak mengandung bahan yang membuat seseorang tergantung pada produk tersebut. Namun, jika seseorang sudah menderita kekurangan enzim maka mau tak mau harus sering mengkonsumsi obat tersebut, bila tidak ingin mengalami derita sebelumnya. “Itulah sebabnya yang membuat orang seakan tergantung pada obat tertentu. Karena perasaan nyaman itu akan hilang begitu obat dihentikan, karena tubuh memang membutuhkan zat yang terkandung dalam obat tersebut. Jika tidak, lakukan hal yang alami seperti banyak-banyaklah mengkonsumsi buah dan sayuran sebagai pengganti suplemen obat tersebut,” kata Maria.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:19 pm; edited 12 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Thu Jul 08, 2010 8:05 pm | |
| NYERI PERUT BERULANG http://www.indonesiaindonesia.com Nyeri Perut Berulang merupakan suatu keadaan dimana nyeri perut terjadi sebanyak 3 kali atau lebih selama minimal 3 bulan. Lebih dari 10% anak usia sekolah menderita nyeri perut kambuhan (berulang). Hal ini paling sering ditemukan pada anak berumur 8-10 tahun, jarang ditemukan pada anak yang berumur kurang dari 4 tahun dan lebih sering ditemukan pada anak perempuan.
PENYEBAB Pada 5-10% kasus, nyeri perut disebabkan oleh suatu penyakit fisik: 1. Kelainan usus - Hiatus hernia - Hepatitis (peradangan hati) - Kolesistitis (peradangan kandung empedu) - Pankreatitis (peradangan pankreas) - Ulkus peptikum - Infestasi parasit (misalnya giardiasis) - Divertikulum Meckel - Penyakit Crohn - Tuberkulosis usus - Kolitis ulserativa - Apendisitis kronis
2. Kelainan saluran kemih-kelamin - Kelainan bawaan - Infeksi saluran kemih - Penyakit peradangan panggul (pada anak perempuan) - Kista ovarium (pada anak perempuan) - Endometriosis (pada anak perempuan)
3. Umum - Keracunan timah hitam - Purpura Henoch-Sch�nlein - Penyakit sel sabit - Alergi makanan - Porfiria - Anemia familial Mediterania - Angioedema herediter - Migren.
Pada 80-90% kasus, nyeri perut berulang lebih disebabkan oleh faktor psikis; biasanya dipicu atau semakin memburuk pada saat stres, cemas atau depresi. Kadang nyeri perut berulang disebabkan oleh kelainan fungsi pada organ dalam. Misalnya kelainan fungsi usus bisa terjadi jika makanan anak tidak sesuai, terutama jika anak tidak dapat menerima jenis makanan tertentu, seperti susu dan hasil olahan susu. Kelainan fungsi usus juga bisa disebabkan oleh sembelit yang terjadi karena berkurangnya pergerakan usus besar, yang kadang merupakan suatu reaksi terhadap pelatihan buang Air besar yang tidak tepat. Pada remaja putri, nyeri perut bisa disebabkan oleh kram otot di dalam rahim selama menstruasi (dismenore). Kadang pelepasan sel telur dari indung telur juga menyebabkan nyeri perut.
GEJALA Gejalanya berbeda-beda, tergantung kepada penyebabnya. Nyeri perut Akibat penyakit fisik biasanya tidak menghilang atau timbul dalam suatu siklus, seringkali dipicu oleh kegiatan atau makanan tertentu. Nyeri cenderung timbul pada sisi perut tertentu, tidak dirasakan di sekeliling pusar dan bisa menjalar ke punggung. Infeksi saluran kemih bisa menyebabkan nyeri perut atau nyeri pinggul bagian bawah. Nyeri bisa menyebabkan anak terbangun dari tidurnya.
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan (tergantung kepada penyebabnya): - nafsu makan berkurang - penurunan berat badan - demam berulang atau menetap - jaundice (sakit kuning) - bentuk dan warna tinja berubah - sembelit atau diare - di dalam tinja terdapat darah - muntah makanan atau darah - perut membengkak - nyeri atau pembengkakan sendi.
Gejala dari nyeri perut berulang Akibat kelainan fungsi organ tergantung kepada penyebabnya. Jika anak mengalami intoleransi laktosa, maka nyeri Akan timbul dalam waktu beberapa menit sampai 2 jam setelah anak minum susu atau mengkonsumsi hasil olahan susu. Jika anak menderita penyakit kandung empedu, nyeri perut timbul segera sesudah mengkonsumsi makanan berlemak.
Nyeri Akibat faktor psikis bisa terjadi setiap hari atau sewaktu-waktu. Kadang anak tidak merasakan nyeri selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.Nyeri biasanya bersifat tumpul, jarang menyebabkan anak terbangun dari tidurnya pada malam hari, tetapi anak mungkin Akan terbangun lebih awal dari biasanya. Nyeri perut Akibat faktor psikis paling sering dirasakan di sekitar pusar. Jika nyeri dirasakan semakin jauh dari pusar, maka semakin besar kemungkinan penyebabnya Adalah kelainan fisik. Nyeri psikis kadang menyerupai nyeri karena kelainan fisik, tetapi biasanya nyeri psikis sifatnya tidak berubah atau tidak semakin memburuk.
DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala utama dan gejala penyertanya, serta sifat dari nyeri perut yang dirasakan. Mendiagnosis nyeri perut yang berhubungan dengan faktor psikis mungkin Agak sulit. Biasanya tidak ditemukan kelainan fisik. Anak mungkin terpengaruh oleh stres di dalam keluarga, masalah keuangan atau perpisahan maupun kehilangan orang yang disayanginya.
PENGOBATAN Pengobatan tergantung kepada penyebabnya. Jika nyeri perut dipicu oleh suatu jenis makanan, maka sebaiknya dilakukan perubahan pola makan. Untuk mengurangi nyeri Akibat menstruasi bisa diberikan ibuprofen. Nyeri perut berulang Akibat faktor psikis merupakan nyeri yang timbul karena stres dan ketegangan. Orang tua dapat membantu dengan cara sebanyak mungkin mengurangi stres dan ketegangan, membantu anak menghadapi stres dan mendorong anak untuk masuk sekolah meskipun perutnya nyeri. Guru dapat membantu dengan memecahkan masalah yang dihadapi anak di sekolah. Jika setelah dilakukan berbagai usaha, anak masih merasakan nyeri perut (terutama pada saat anak mengalami depresi atau menghadapi masalah perkawinan orang tuanya di rumah), mungkin anak memerlukan bantuan dari Ahli jiwa.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:20 pm; edited 10 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Thu Jul 08, 2010 8:08 pm | |
| BAKTERI TERSEMBUNYI DALAM MAKANAN Hati-hati, bila hobi makan di warung pinggir jalan, bakteri bisa ikut jadi ’santapan’. Rabu, 18 Maret 2009, 10:23 WIB Petti Lubis VIVAnews - Soal rasa, makanan kaki lima, seperti gado-gado, bebek goreng, atau masakan padang memang tak kalah lezat bila dibandingkan dengan hidangan restoran atau yang dimasak sendiri. Tapi, perlu Anda sadari, di balik kelezatannya tersimpan risiko gangguan kesehatan yang tak kalah besar.
Air bersih yang kurang memadai dan pengolahan makanan yang asal jadi merupakan sumber utama tumbuh kembang bakteri dan kuman. Sayangnya, keberadaan bakteri di dalam jajanan seringkali tidak disadari. Akibatnya banyak orang mengesampingkan potensi penyakit yang timbul. Ketika mengalami diare, barulah rasa sesal bahkan kapok hinggap belakangan. Penyakit yang bisa timbul akibat mengonsumsi makanan yang tercemar bakteri, antara lain, diare, kolera atau penyakit muntaber, disentri, penyakit tipes atau typhoid dan, yang paling bikin penderitanya kelimpungan, yaitu hepatitis A
Kenali bahan makanan yang berpotensi menyimpan bakteri 1.Daging dan ayam setengah matang Potensi bakteri: Campolybacter jejuni, E. coli, Salmonella, Listeria monocytogenes. Penyakit yang mungkin timbul: Diare, kram perut, muntah, mual, demam. Pencegahan: Konsumsi makanan matang. Cuci peralatan masak setelah kontak dengan bahan mentah.
2. Susu segar yang belum steril Potensi bakteri: Campolybacter jejuni, Salmonella, Shigella Penyakit yang mungkin timbul: Diare, muntah, pusing, kram perut, demam Pencegahan: Konsumsi susu yang sudah dipasteurisasi
3. Telur mentah atau setengah matang Potensi bakteri: Salmonella Penyakit yang mungkin timbul: Diare, kram perut, muntah Pencegahan: Hindari mengkonsumsi bahan yang mengandung telur mentah, seperti adonan kue, dsb.
4. Sayur mentah dan buah segar (dengan kulit) Potensi bakteri: E.coli, Salmonella, Shigella, Listeria monocytogenes Penyakit yang mungkin timbul: Kembung, diare, muntah, dan kram perut Pencegahan: Cuci sayur dan buah dengan air matang sebelum dimakan
5. Beragam jenis salad, (egg salad, tuna salad, potato salad) Potensi bakteri: Salmonella, Staphylococcus aureus Penyakit yang mungkin timbul: Pusing, diare, demam, muntah, dan lemas Pencegahan: Jangan diamkan makanan masak di suhu ruang lebih dari 2 jam. Simpan dalam lemari es, dan panaskan sebelum dimakan
• VIVAnews
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:16 pm; edited 9 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Mon Aug 16, 2010 10:41 am | |
| DISENTRI Disentri adalah peradangan usus besar yang ditandai dengan sakit perut dan buang air besar. Buang iar besar ini berulang-ulang yang menyebabkan penderita kehilangan banyak cairan dan darah. Penyebab umum disentri adalah infeksi parasit Entamoeba histolytica yang menyebabkan disentri amuba dan infeksi bakteri golongan Shigella yang menjadi penyebab disentri basiler. Penderita perlu segera mendapatkan perawatan medis, jika tidak dapat mengancam jiwa.
Gejala * Buang air besar dengan tinja berdarah * Diare encer dengan volume sedikit * Buang air besar dengan tinja bercampur lender(mucus) * Nyeri saat buang air besar (tenesmus)
Perawatan Tujuan pengobatan adalah menghentikan segera gejala yang terjadi dan kemudian menghilangkan amuba dalam tubuh serta menyembuhkan luka akibat infeksi.
Pencegahan Pencegahan disentri dapat dilakukan dengan senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Langkah awal yang paling sederhana adalah membiasakan mencuci tangan sebelum makan dan mengkonsumsi makanan yang bersih dan sehat.
Sumber: Detik Health
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:16 pm; edited 7 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Mon Aug 16, 2010 11:03 am | |
| DIARE Diare adalah peningkatan volume, keenceran atau frekuensi buang air besar. Diare yang disebabkan oleh masalah kesehatan biasanya jumlahnya sangat banyak, bisa mencapai lebih dari 500 gram/hari. Orang yang banyak makan serat sayuran, dalam keadaan normal bisa menghasilkan lebih dari 500 gram, tetapi konsistensinya normal dan tidak cair. Dalam keadaan normal, tinja mengandung 60-90% air, pada diare airnya bisa mencapai lebih dari 90%.
PENYEBAB DIARE OSMOTIK Diare osmotik terjadi bila bahan-bahan tertentu yang tidak dapat diserap ke dalam darah, tertinggal di usus. Bahan tersebut menyebabkan peningkatan kandungan air dalam tinja, sehingga terjadi diare. Makanan tertentu (buah dan kacang-kacangan) dan heksitol, sorbitol juga manitol (pengganti gula dalam makanan dietetik, permen dan permen karet) dapat menyebabkan diare osmotik. Kekurangan laktase juga bisa menyebabkan diare osmotik. Laktase adalah enzim yang secara alami ditemukan dalam usus halus, yang mengubah gula susu (laktosa) menjadi glukosa dan galaktosa, sehingga dapat diserap ke dalam aliran darah. Jika orang mengalami kekurangan laktase minum susu atau makan produk olahan susu, maka laktosa tidak akan diubah tapi terkumpul di usus dan menyebabkan diare osmotik. Beratnya diare ini tergantung dari jumlah bahan osmotik yang masuk. Diare akan berhenti jika penderita berhenti memakan atau meminum bahan tersebut.
DIARE SEKRETORIK Diare sekretorik terjadi jika usus kecil dan usus besar mengeluarkan garam (terutama natrium klorida) dan air ke dalam tinja. Hal ini juga bisa disebabkan oleh toksin tertentu seperti pada kolera dan diare infeksius lainnya. Diare bisa sangat banyak, bahkan pada kolera bisa lebih dari 1 liter/hari. Bahan lainnya yang juga menyebabkan pengeluaran air dan garam adalah minyak kastor dan asam empedu (yang terbentuk setelah pengangkatan sebagian usus kecil). Tumor tertentu (misalnya karsinoid, gastrinoma dan vipoma, juga dapat menyebabkan diare sekretorik.
SINDROMA MALABSORBSI Sindroma Malabsorbsi juga bisa menyebabkan diare. Penderita sindroma ini tidak dapat mencerna makanannya secara normal. Pada malabsorbsi yang menyeluruh, lemak tertinggal di usus besar dan menyebabkan diare sekretorik, sedangkan adanya karbohidrat dalam usus besar menyebabkan diare osmotik. Malabsorbsi mungkin juga disebabkan oleh beberapa keadaan seperti: - Sariawan non-tropikal - Insufisiensi pankreas - Pengangkatan sebagian usus - Aliran darah ke usus besar yang tidak adekuat - Kekurangan enzim tertentu di usus halus - Penyakit hati.
DIARE EKSUDATIF Diare eksudatif terjadi jika lapisan usus besar mengalami peradangan atau membentuk tukak, lalu melepaskan protein, darah, lendir dan cairan lainnya, yang akan meningkatkan kandungan serat dan cairan pada tinja. Diare ini dapat disebabkan oleh berbagai macam penyakit seperti: - Kolitis ulserativa - Penyakit Crohn (enteritis regional) - Tuberkulosis - Limfoma - Kanker.
Jika mengenai lapisan rektum, penderita akan merasakan desakan untuk buang air besar dan sering buang air besar, karena rektum yang mengalami peradangan lebih sensitf terhadap peregangan oleh tinja.
PERUBAHAN PASASE USUS Perubahan pasase usus bisa menyebabkan diare. Untuk mendapatkan konsistensi yang normal, tinja harus tetap berada di usus besar selama waktu tertentu. Tinja yang terlalu cepat meninggalkan usus besar, akan berbentuk encer/cair. Tinja yang terlalu lama berada di usus besar, konsistensinya keras dan kering.
Banyak keadaan dan pengobatan yang dapat mempersingkat keberadaan tinja dalam usus, diantaranya: - Hipertiroid - Pengangkatan sebagian usus halus atau usus besar - Pembedahan perut - Pengobatan tukak yang memotong saraf vagus - Operasi bypass pada usus halus - Obat-obat antasid dan pencahar yang mengandung magnesium, prostaglandin, serotonin bahkan kafein.
PERTUMBUHAN BAKTERI BERLEBIH Pertumbuhan bakteri berlebih adalah pertumbuhan bakteri alami usus dalam jumlah yang sangat banyak atau pertumbuhan bakteri yang secara alami tidak ditemukan di usus. Hal ini bisa menyebabkan diare. Bakteri alami usus memegang peranan penting dalam proses pencernaan. Karena itu, gangguan pada bakteri usus bisa menyebabkan diare.
GEJALA Selain menimbulkan rasa tidak nyaman, rasa malu karena sering ke toilet dan terganggunya aktivitas sehari-hari; diare yang berat juga dapat menyebabkan kehilangan cairan (dehidrasi) dan kehilangan elektrolit seperti natrium, kalium, magnesium dan klorida. Jika sejumlah besar cairan dan elektrolit hilang, tekanan darah akan turun dan dapat menyebabkan pingsan, denyut jantung tidak normal (aritmia) dan kelainan serius lainnya. Resiko ini terjadi terutama pada anak-anak, orang tua, orang dengan kondisi lemah dan penderita diare yang berat. Hilangnya bikarbonat bisa menyebabkan asidosis, suatu gangguan keseimbangan asam-basa dalam darah.
DIAGNOSA Pertama-tama, dipastikan dulu apakah diarenya timbul tiba-tiba dan untuk sementara waktu atau menetap. Dilihat juga apakah: - penyebabnya adalah perubahan makanan - terdapat gejala lain seperti demam, nyeri dan ruam kulit - ada orang lain yang juga memiliki gejala yang sama.
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan contoh tinja. Pemeriksaan tinja meliputi bentuknya (cair atau padat), baunya, ditemukannya lemak, darah atau zat-zat yang tidak dapat dicerna, dan jumlahnya dalam 24 jam.
Bila diare menetap, dilakukan pemeriksaan mikroskopik tinja untuk: - mencari sel-sel, lendir, lemak dan bahan lainnya - menemukan darah dan bahan tertentu yang menyebabkan diare osmotik - mencari organisme infeksius, termasuk bakteri tertentu, amuba dan Giardia. Bila secara sembunyi-sembunyi mengkonsumsi pencahar, maka pencahar yang diminum bisa ditemukan dalam contoh tinja.
Untuk memeriksa lapisan rektum dan anus dapat dilakukan sigmoidoiskopi. Kadang-kadang perlu dilakukan biopsi (pengambilan contoh lapisan rektum untuk pemeriksaan mikroskop).
PENGOBATAN Diare merupakan suatu gejala dan pengobatannya tergantung pada penyebabnya. Kebanyakan penderita diare hanya perlu menghilangkan penyebabnya, misalnya permen karet diet atau obat-obatan tertentu, untuk menghentikan diare. Kadang-kadang diare menahun akan sembuh jika orang berhenti minum kopi atau minuman cola yang mengandung cafein. Untuk membantu meringankan diare, diberikan obat seperti difenoksilat, codein, paregorik (opium tinctur) atau loperamide. Kadang-kadang, bulking agents yang digunakan pada konstipasi menahun (psillium atau metilselulosa) bisa membantu meringankan diare Untuk membantu mengeraskan tinja bisa diberikan kaolin, pektin dan attapulgit aktif. Bila diarenya berat sampai menyebabkan dehidrasi, maka penderita perlu dirawat di rumah sakit dan diberikan cairan pengganti dan garam melalui infus. Selama tidak muntah dan tidak mual, bisa diberikan larutan yang mengandung air, gula dan garam.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:21 pm; edited 3 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Mon Aug 16, 2010 11:04 am | |
| KOLITIS KARENA ANTIBIOTIK Kolitis Karena Antibiotik adalah peradangan usus besar yang terjadi akibat penggunaan antibiotik.
PENYEBAB Banyak antibiotik yang mengubah keseimbangan jenis dan jumlah bakteri di dalam usus, memungkinkan penyakit tertentu menyebabkan bakteri berkembang biak. Bakteri yang yang paling sering menimbulkan masalah adalah Clostridium difficile, yang menghasilkan 2 racun yang bisa merusak lapisan pelindung dari usus besar. Antibiotik yang sering menyebabkan kelainan ini adalah clindamycin, ampicilin dan golongan sefalosporin (misalnya sefalotin). Antibiotik lainnya adalah penicillin, eritromisin, trimethoprim-sufametoksazole, chloramphenicol dan tetracycline. Pertumbuhan berlebih dari Clostridium difficile dapat terjadi bila antibiotik diberikan per-oral (melalui mulut) maupun lewat suntikan. Faktor resikonya meningkat sesuai umur, meskipun dewasa muda dan anak-anakpun bisa terkena. Pada kasus yang ringan, terjadi peradangan ringan pada lapisan usus. Pada kolitis berat, peradangannya meluas dan lapisannya mengalami ulserasi.
GEJALA Gejala biasanya mulai timbul ketika penderita mengkonsumsi antibiotik tersebut. Pada sepertiga kasus, gejala tidak muncul sampai 1-10 hari setelah pengobatan dihentikan, dan pada beberapa penderita, gejala tidak muncul dalam 6 minggu berikutnya. Gejala bervariasi mulai dari diare ringan sampai diare berdarah, nyeri perut dan demam. Pada kasus berat, dapat terjadi dehidrasi, tekanan darah yang rendah, megakolon toksik dan perforasi usus kecil, yang bisa berakibat fatal.
DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan sigmoidoskopi, yang bisa mengamati peradangan pada usus besar. Kolonoskopi bisa dilakukan bila bagian usus yang mengalami peradangan tidak dapat dijangkau oleh sigmoidoskopi. Ditemukannya Clostridium difficile pada biakan contoh tinja akan memperkuat diagnosis.
Pada tinja bisa dilakukan pemeriksaan untuk menemukan toksin yang dihasilkan oleh bakteri penyebabnya. Toksin dapat dideteksi pada 20% kasus yang ringan dan pada 90% kasus kolitis yang berat. Pemeriksaan laboratorium bisa menunjukkan peningkatan yang abnormal dari jumlah sel darah putih selama serangan yang berat berlangsung.
PENGOBATAN Jika terjadi diare yang berat, obat tersebut harus segera dihentikan, kecuali jika obat tersebut sangat diperlukan, bisa terus diberikan. Obat yang memperlambat kontraksi usus (misalnya difenoksilate), harus dihindari karena bisa memperpanjang penyakitnya.
Jika diare terjadi tanpa komplikasi, biasanya akan sembuh dalam dalam 10-12 hari setelah antiobiotik dihentikan. Jika gejala yang ringan bersifat menetap, bisa diberikan cholestyramine, yang akan mengikat toksin yang dihasilkan. Untuk kasus-kasus yang berat, metronidazole efektif melawan Clostridium difficile. Vankomycin diberikan pada kasus-kasus yang sangat berat atau yang resisten.
Pada 20% penderita, gejala-gejala tersebut bisa terjadi lagi dan harus diobati kembali. Jika diarenya berulang-ulang, mungkin diperlukan pemberian antibiotik jangka panjang. Beberapa penderita diobati dengan sediaan laktobacillus, yang diberikan per-oral (melalui mulut) atau melalui dubur, untuk membekali lagi usus dengan bakteri alaminya. Tetapi pengobatan ini tidak dilakukan secara rutin.
Meskipun jarang, penyakit ini bisa terjadi secara akut dan berbahaya, sehingga penderita harus dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan infus cairan, elektrolit dan transfusi darah. Pembuatan saluran yang menghubungakan usus halus dengan sebuah lubang di dinding perut yang bersifat sementara (ileostomi temporer) atau pengangkatan sebagian usus yang terkena, kadang-kadang diperlukan untuk menyelamatkan penderita.
Medicastore > Kategori Penyakit > Penyakit Sistem Pencernaan
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:15 pm; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Mon Aug 16, 2010 4:21 pm | |
| KOLITIS ULSERATIVA Kolitis Ulserativa merupakan suatu penyakit menahun, dimana usus besar mengalami peradangan dan luka, yang menyebabkan diare berdarah, kram perut dan demam.
Kolitis ulserativa bisa dimulai pada umur berapapun, tapi biasanya dimulai antara umur 15-30 tahun. Tidak seperti penyakit Crohn, kolitis ulserativa tidak selalu memperngaruhi seluruh ketebalan dari usus dan tidak pernah mengenai usus halus. Penyakit ini biasanya dimulai di rektum atau kolon sigmoid (ujung bawah dari usus besar) dan akhirnya menyebar ke sebagian atau seluruh usus besar.
Sekitar 10% penderita hanya mendapat satu kali serangan. Proktitis ulserativa merupakan peradangan dan perlukaan di rektum. Pada 10-30% penderita, penyakit ini akhirnya menyebar ke usus besar. Jarang diperlukan pembedahan dan harapan hidupnya baik.
PENYEBAB Penyebab penyakit ini tidak diketahui, namun faktor keturunan dan respon sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif di usus, diduga berperan dalam terjadinya kolitis ulserativa.
GEJALA Suatu serangan bisa mendadak dan berat, menyebabkan diare hebat, demam tinggi, sakit perut dan peritonitis (radang selaput perut). Selama serangan, penderita tampak sangat sakit. Yang lebih sering terjadi adalah serangannya dimulai bertahap, dimana penderita memiliki keinginan untuk buang air besar yang sangat, kram ringan pada perut bawah dan tinja yang berdarah dan berlendir.
Jika penyakit ini terbatas pada rektum dan kolon sigmoid, tinja mungkin normal atau keras dan kering. Tetapi selama atau diantara waktu buang air besar, dari rektum keluar lendir yang mengandung banyak sel darah merah dan sel darah putih. Gejala umum berupa demam, bisa ringan atau malah tidak muncul.
Jika penyakit menyebar ke usus besar, tinja lebih lunak dan penderita buang air besar sebanyak 10-20 kali/hari. Penderita sering mengalami kram perut yang berat, kejang pada rektum yang terasa nyeri, disertai keinginan untuk buang air besar yang sangat. Pada malam haripun gejala ini tidak berkurang. Tinja tampak encer dan mengandung nanah, darah dan lendir. Yang paling sering ditemukan adalah tinja yang hampir seluruhnya berisi darah dan nanah. Penderita bisa demam, nafsu makannya menurun dan berat badannya berkurang.
KOMPLIKASI 1. Perdarahan, merupakan komplikasi yang sering menyebabkan anemia karena kekurangan zat besi. Pada 10% penderita, serangan pertama sering menjadi berat, dengan perdarahan yang hebat, perforasi atau penyebaran infeksi. 2. Kolitis Toksik, terjadi kerusakan pada seluruh ketebalan dinding usus. Kerusakan ini menyebabkan terjadinya ileus, dimana pergerakan dinding usus terhenti, sehingga isi usus tidak terdorong di dalam salurannnya. Perut tampak menggelembung. Usus besar kehilangan ketegangan ototnya dan akhirnya mengalami pelebaran. Rontgen perut akan menunjukkan adanya gas di bagian usus yang lumpuh. Jika usus besar sangat melebar, keadaannya disebut megakolon toksik. Penderita tampak sakit berat dengan demam yang sangat tinggi. Perut terasa nyeri dan jumlah sel darah putih meningkat. Dengan pengobatan efektif dan segera, kurang dari 4% penderita yang meninggal. Jika perlukaan ini menyebabkan timbulnya lubang di usus (perforasi), maka resiko kematian akan meningkat. 3. Kanker Kolon (Kanker Usus Besar). Resiko kanker usus besar meningkat pada orang yang menderita kolitis ulserativa yang lama dan berat. Resiko tertinggi adalah bila seluruh usus besar terkena dan penderita telah mengidap penyakit ini selama lebih dari 10 tahun, tanpa menghiraukan seberapa aktif penyakitnya. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) secara teratur, terutama pada penderita resiko tinggi terkena kanker, selama periode bebas gejala. Selama kolonoskopi, diambil sampel jaringan untuk diperiksa dibawah mikroskop. Setiap tahunnya, 1% kasus akan menjadi kanker. Bila diagnosis kanker ditemukan pada stadium awal, kebanyakan penderita akan bertahan hidup.
Seperti halnya penyakit Crohn, kolitis ulserativa juga dihubungkan dengan kelainan yang mengenai bagian tubuh lainnya. Bila kolitis ulserativa menyebabkan kambuhnya gejala usus, penderita juga mengalami : - peradangan pada sendi (artritis) - peradangan pada bagian putih mata (episkleritis) - nodul kulit yang meradang (eritema nodosum) dan - luka kulit biru-merah yang bernanah (pioderma gangrenosum).
Bila kolitis ulserativa tidak menyebabkan gejala usus, penderita masih bisa mengalami : - peradangan tulang belakang (spondilitis ankilosa) - peradangan pada sendi panggul (sakroiliitis) dan - peradangan di dalam mata (uveitis).
Meskipun penderita kolitis ulserativa sering memiliki kelainan fungsi hati, hanya sekitar 1-3% yang memiliki gejala penyakit hati ringan sampai berat. Penyakit hati yang berat bisa berupa : - peradangan hati (hepatitis menahun yang aktif) - peradangan saluran empedu (kolangitis sklerosa primer), yang menjadi sempit dan terkadang menutup, dan - penggantian jaringan hati fungsional dengan jaringan fibrosa (sirosis).
Peradangan pada saluran empedu bisa muncul beberapa tahun sebelum gejala usus dari kolitis ulserativa timbul dan akan meningkatkan resiko kanker saluran empedu.
DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan tinja.
Pemeriksaan darah menunjukan adanya: - anemia - peningkatan jumlah sel darah putih - peningkatan laju endap darah.
Sigmoidoskopi (pemeriksaan sigmoid) akan memperkuat diagnosis dan memungkinkan dokter untuk secara langsung mengamati beratnya peradangan. Bahkan selama masa bebas gejalapun, usus jarang terlihat normal. Contoh jaringan yang diambil untuk pemeriksaan mikroskopik menunjukan suatu peradangan menahun.
Rontgen perut bisa menunjukan berat dan penyebaran penyakit. Barium enema dan kolonoskopi biasanya tidak dikerjakan sebelum pengobatan dimulai, karena adanya resiko perforasi (pembentukan lubang) jika dilakukan pada stadium aktif penyakit. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran penyakit dan untuk meyakinkan tidak adanya kanker.
Peradangan usus besar memiliki banyak penyebab selain kolitis ulserativa. Karena itu, dokter menentukan apakah peradangan disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit. Contoh tinja yang diperoleh selama pemeriksaan sigmoidoskopi diperiksa dibawah mikroskop dan dibiakkan. Contoh darah dianalisa untuk menentukan apakah terdapat infeksi parasit. Contoh jaringan diambil dari lapisan rektum dan diperiksa dibawah mikroskop. Diperiksa apakah terdapat penyakit menular seksual pada rektum (seperti gonore, virus herpes atau infeksi klamidia), terutama pada pria homoseksual. Pada orang tua dengan aterosklerosis, peradangan bisa disebabkan oleh aliran darah yang buruk ke usus besar.
Kanker usus besar jarang menyebabkan demam atau keluarnya nanah dari rektum, namun harus difikirkan kanker sebagai kemungkinan penyebab diare berdarah.
PENGOBATAN Pengobatan ditujukan untuk mengendalikan peradangan, mengurangi gejala dan mengganti cairan dan zat gizi yang hilang. Penderita sebaiknya menghindari buah dan sayuran mentah untuk mengurangi cedera fisik pada lapisan usus besar yang meradang. Diet bebas susu bisa mengurangi gejala. Penambahan zat besi bisa menyembuhkan anemia yang disebabkan oleh hilangnya darah dalam tinja.
Obat-obatan antikolinergik atau dosis kecil loperamide atau difenoksilat, diberikan pada diare yang relatif ringan. Untuk diare yang lebih berat, mungkin dibutuhkan dosis yang lebih besar dari difenoksilat atau opium yang dilarutkan dalam alkohol, loperamide atau codein. Pada kasus-kasus yang berat, pemberian obat-obat anti-diare ini harus diawasi secara ketat, untuk menghindari terjadinya megakolon toksik.
Sulfasalazine, olsalazine atau mesalamine sering digunakan untuk mengurangi peradangan pada kolitis ulserativa dan untuk mencegah timbulnya gejala. Obat-obatan ini biasanya diminum namun bisa juga diberikan sebagai enema (cairan yang disuntikkan ke dalam usus) atau supositoria (obat yang dimasukkan melalui dubur).
Penderita dengan kolitis berat menengah yang tidak menjalani perawatan rumah sakit, biasanya mendapatkan kortikosteroid per-oral (melalui mulut), seperti prednisone. prednisone dosis tinggi sering memicu proses penyembuhan. Setelah prednisone mengendalikan peradangannya, sering diberikan Sulfasalazine, olsalazine atau mesalamine. Secara bertahap dosis prednisone diturunkan dan akhirnya dihentikan. Pemberian kortikosteroid jangka panjang menimbulkan efek samping, meskipun kebanyakan akan menghilang jika pengobatan dihentikan.
Bila kolitis ulserativa yang ringan atau sedang terbatas pada sisi kiri usus besar (kolon desendens) dan di rektum, bisa diberikan enema dengan kortikosteroid atau mesalamine. Bila penyakitnya menjadi berat, penderita harus dirawat di rumah sakit dan diberikan kortikosteroid intravena (melalui pembuluh darah). Penderita dengan perdarahan rektum yang berat mungkin memerlukan transfusi darah dan cairan intravena.
Untuk mempertahankan fase penyembuhan, diberikan azathioprine dan merkaptopurin. Siklosporin diberikan kepada penderita yang mendapat serangan berat dan tidak memberikan respon terhadap kortikosteroid. Tetapi sekitar 50% dari penderita ini, akhirnya memerlukan terapi pembedahan.
Pembedahan Kolitis toksik merupakan suatu keadaan gawat darurat. Segera setelah terditeksi atau bila terjadi ancaman megakolon toksik, semua obat anti-diare dihentikan, penderita dipuasakan, selang dimasukan ke dalam lambung atau usus kecil dan semua cairan, makanan dan obat-obatan diberikan melalui pembuluh darah. Pasien diawasi dengan ketat untuk menghindari adanya peritonitis atau perforasi. Bila tindakan ini tidak berhasil memperbaiki kondisi pasien dalam 24-48 jam, segera dilakukan pembedahan, dimana semua atau hampir sebagian besar usus besar diangkat.
Jika didiagnosis kanker atau adanya perubahan pre-kanker pada usus besar, maka pembedahan dilakukan bukan berdasarkan kedaruratan. Pembedahan non-darurat juga dilakukan karena adanya penyempitan dari usus besar atau adanya gangguan pertumbuhan pada anak-anak. Alasan paling umum dari pembedahan adalah penyakit menahun yang tidak sembuh-sembuh, sehingga membuat penderita tergantung kepada kortikosteroid dosis tinggi.
Pengangkatan seluruh usus besar dan rektum, secara permanen akan menyembuhkan kolitis ulserativa. Penderita hidup dengan ileostomi (hubungan antara bagian terendah usus kecil dengan lubang di dinding perut) dan kantong ileostomi. Prosedur pilihan lainnya adalah anastomosa ileo-anal, dimana usus besar dan sebagian besar rektum diangkat, dan sebuah reservoir dibuat dari usus kecil dan ditempatkan pada rektum yang tersisa, tepat diatas anus.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:13 pm; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Mon Aug 16, 2010 4:22 pm | |
| KOLITIS ULSERATIVA Kolitis Ulserativa merupakan suatu penyakit menahun, dimana usus besar mengalami peradangan dan luka, yang menyebabkan diare berdarah, kram perut dan demam. Kolitis ulserativa bisa dimulai pada umur berapapun, tapi biasanya dimulai antara umur 15-30 tahun. Tidak seperti penyakit Crohn, kolitis ulserativa tidak selalu memperngaruhi seluruh ketebalan dari usus dan tidak pernah mengenai usus halus. Penyakit ini biasanya dimulai di rektum atau kolon sigmoid (ujung bawah dari usus besar) dan akhirnya menyebar ke sebagian atau seluruh usus besar. Sekitar 10% penderita hanya mendapat satu kali serangan. Proktitis ulserativa merupakan peradangan dan perlukaan di rektum. Pada 10-30% penderita, penyakit ini akhirnya menyebar ke usus besar. Jarang diperlukan pembedahan dan harapan hidupnya baik.
PENYEBAB Penyebab penyakit ini tidak diketahui, namun faktor keturunan dan respon sistem kekebalan tubuh yang terlalu aktif di usus, diduga berperan dalam terjadinya kolitis ulserativa.
GEJALA Suatu serangan bisa mendadak dan berat, menyebabkan diare hebat, demam tinggi, sakit perut dan peritonitis (radang selaput perut). Selama serangan, penderita tampak sangat sakit. Yang lebih sering terjadi adalah serangannya dimulai bertahap, dimana penderita memiliki keinginan untuk buang air besar yang sangat, kram ringan pada perut bawah dan tinja yang berdarah dan berlendir. Jika penyakit ini terbatas pada rektum dan kolon sigmoid, tinja mungkin normal atau keras dan kering. Tetapi selama atau diantara waktu buang air besar, dari rektum keluar lendir yang mengandung banyak sel darah merah dan sel darah putih. Gejala umum berupa demam, bisa ringan atau malah tidak muncul. Jika penyakit menyebar ke usus besar, tinja lebih lunak dan penderita buang air besar sebanyak 10-20 kali/hari. Penderita sering mengalami kram perut yang berat, kejang pada rektum yang terasa nyeri, disertai keinginan untuk buang air besar yang sangat. Pada malam haripun gejala ini tidak berkurang. Tinja tampak encer dan mengandung nanah, darah dan lendir. Yang paling sering ditemukan adalah tinja yang hampir seluruhnya berisi darah dan nanah. Penderita bisa demam, nafsu makannya menurun dan berat badannya berkurang.
KOMPLIKASI 1. Perdarahan, merupakan komplikasi yang sering menyebabkan anemia karena kekurangan zat besi. Pada 10% penderita, serangan pertama sering menjadi berat, dengan perdarahan yang hebat, perforasi atau penyebaran infeksi.
2. Kolitis Toksik, terjadi kerusakan pada seluruh ketebalan dinding usus. Kerusakan ini menyebabkan terjadinya ileus, dimana pergerakan dinding usus terhenti, sehingga isi usus tidak terdorong di dalam salurannnya. Perut tampak menggelembung. Usus besar kehilangan ketegangan ototnya dan akhirnya mengalami pelebaran. Rontgen perut akan menunjukkan adanya gas di bagian usus yang lumpuh. Jika usus besar sangat melebar, keadaannya disebut megakolon toksik. Penderita tampak sakit berat dengan demam yang sangat tinggi. Perut terasa nyeri dan jumlah sel darah putih meningkat. Dengan pengobatan efektif dan segera, kurang dari 4% penderita yang meninggal. Jika perlukaan ini menyebabkan timbulnya lubang di usus (perforasi), maka resiko kematian akan meningkat.
3. Kanker Kolon (Kanker Usus Besar). Resiko kanker usus besar meningkat pada orang yang menderita kolitis ulserativa yang lama dan berat. Resiko tertinggi adalah bila seluruh usus besar terkena dan penderita telah mengidap penyakit ini selama lebih dari 10 tahun, tanpa menghiraukan seberapa aktif penyakitnya. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kolonoskopi (pemeriksaan usus besar) secara teratur, terutama pada penderita resiko tinggi terkena kanker, selama periode bebas gejala. Selama kolonoskopi, diambil sampel jaringan untuk diperiksa dibawah mikroskop. Setiap tahunnya, 1% kasus akan menjadi kanker. Bila diagnosis kanker ditemukan pada stadium awal, kebanyakan penderita akan bertahan hidup.
Seperti halnya penyakit Crohn, kolitis ulserativa juga dihubungkan dengan kelainan yang mengenai bagian tubuh lainnya. Bila kolitis ulserativa menyebabkan kambuhnya gejala usus, penderita juga mengalami : - peradangan pada sendi (artritis) - peradangan pada bagian putih mata (episkleritis) - nodul kulit yang meradang (eritema nodosum) dan - luka kulit biru-merah yang bernanah (pioderma gangrenosum).
Bila kolitis ulserativa tidak menyebabkan gejala usus, penderita masih bisa mengalami : - peradangan tulang belakang (spondilitis ankilosa) - peradangan pada sendi panggul (sakroiliitis) dan - peradangan di dalam mata (uveitis).
Meskipun penderita kolitis ulserativa sering memiliki kelainan fungsi hati, hanya sekitar 1-3% yang memiliki gejala penyakit hati ringan sampai berat. Penyakit hati yang berat bisa berupa : - peradangan hati (hepatitis menahun yang aktif) - peradangan saluran empedu (kolangitis sklerosa primer), yang menjadi sempit dan terkadang menutup, dan - penggantian jaringan hati fungsional dengan jaringan fibrosa (sirosis).
Peradangan pada saluran empedu bisa muncul beberapa tahun sebelum gejala usus dari kolitis ulserativa timbul dan akan meningkatkan resiko kanker saluran empedu.
DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejala dan hasil pemeriksaan tinja.
Pemeriksaan darah menunjukan adanya: - anemia - peningkatan jumlah sel darah putih - peningkatan laju endap darah.
Sigmoidoskopi (pemeriksaan sigmoid) akan memperkuat diagnosis dan memungkinkan dokter untuk secara langsung mengamati beratnya peradangan. Bahkan selama masa bebas gejalapun, usus jarang terlihat normal. Contoh jaringan yang diambil untuk pemeriksaan mikroskopik menunjukan suatu peradangan menahun.
Rontgen perut bisa menunjukan berat dan penyebaran penyakit. Barium enema dan kolonoskopi biasanya tidak dikerjakan sebelum pengobatan dimulai, karena adanya resiko perforasi (pembentukan lubang) jika dilakukan pada stadium aktif penyakit. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran penyakit dan untuk meyakinkan tidak adanya kanker.
Peradangan usus besar memiliki banyak penyebab selain kolitis ulserativa. Karena itu, dokter menentukan apakah peradangan disebabkan oleh infeksi bakteri atau parasit. Contoh tinja yang diperoleh selama pemeriksaan sigmoidoskopi diperiksa dibawah mikroskop dan dibiakkan. Contoh darah dianalisa untuk menentukan apakah terdapat infeksi parasit. Contoh jaringan diambil dari lapisan rektum dan diperiksa dibawah mikroskop. Diperiksa apakah terdapat penyakit menular seksual pada rektum (seperti gonore, virus herpes atau infeksi klamidia), terutama pada pria homoseksual. Pada orang tua dengan aterosklerosis, peradangan bisa disebabkan oleh aliran darah yang buruk ke usus besar.
Kanker usus besar jarang menyebabkan demam atau keluarnya nanah dari rektum, namun harus difikirkan kanker sebagai kemungkinan penyebab diare berdarah.
PENGOBATAN Pengobatan ditujukan untuk mengendalikan peradangan, mengurangi gejala dan mengganti cairan dan zat gizi yang hilang. Penderita sebaiknya menghindari buah dan sayuran mentah untuk mengurangi cedera fisik pada lapisan usus besar yang meradang. Diet bebas susu bisa mengurangi gejala. Penambahan zat besi bisa menyembuhkan anemia yang disebabkan oleh hilangnya darah dalam tinja.
Obat-obatan antikolinergik atau dosis kecil loperamide atau difenoksilat, diberikan pada diare yang relatif ringan. Untuk diare yang lebih berat, mungkin dibutuhkan dosis yang lebih besar dari difenoksilat atau opium yang dilarutkan dalam alkohol, loperamide atau codein. Pada kasus-kasus yang berat, pemberian obat-obat anti-diare ini harus diawasi secara ketat, untuk menghindari terjadinya megakolon toksik.
Sulfasalazine, olsalazine atau mesalamine sering digunakan untuk mengurangi peradangan pada kolitis ulserativa dan untuk mencegah timbulnya gejala. Obat-obatan ini biasanya diminum namun bisa juga diberikan sebagai enema (cairan yang disuntikkan ke dalam usus) atau supositoria (obat yang dimasukkan melalui dubur).
Penderita dengan kolitis berat menengah yang tidak menjalani perawatan rumah sakit, biasanya mendapatkan kortikosteroid per-oral (melalui mulut), seperti prednisone. Prednisone dosis tinggi sering memicu proses penyembuhan. Setelah prednisone mengendalikan peradangannya, sering diberikan Sulfasalazine, olsalazine atau mesalamine. Secara bertahap dosis prednisone diturunkan dan akhirnya dihentikan. Pemberian kortikosteroid jangka panjang menimbulkan efek samping, meskipun kebanyakan akan menghilang jika pengobatan dihentikan.
Bila kolitis ulserativa yang ringan atau sedang terbatas pada sisi kiri usus besar (kolon desendens) dan di rektum, bisa diberikan enema dengan kortikosteroid atau mesalamine. Bila penyakitnya menjadi berat, penderita harus dirawat di rumah sakit dan diberikan kortikosteroid intravena (melalui pembuluh darah). Penderita dengan perdarahan rektum yang berat mungkin memerlukan transfusi darah dan cairan intravena. Untuk mempertahankan fase penyembuhan, diberikan azathioprine dan merkaptopurin. Siklosporin diberikan kepada penderita yang mendapat serangan berat dan tidak memberikan respon terhadap kortikosteroid. Tetapi sekitar 50% dari penderita ini, akhirnya memerlukan terapi pembedahan.
Pembedahan Kolitis toksik merupakan suatu keadaan gawat darurat. Segera setelah terditeksi atau bila terjadi ancaman megakolon toksik, semua obat anti-diare dihentikan, penderita dipuasakan, selang dimasukan ke dalam lambung atau usus kecil dan semua cairan, makanan dan obat-obatan diberikan melalui pembuluh darah. Pasien diawasi dengan ketat untuk menghindari adanya peritonitis atau perforasi. Bila tindakan ini tidak berhasil memperbaiki kondisi pasien dalam 24-48 jam, segera dilakukan pembedahan, dimana semua atau hampir sebagian besar usus besar diangkat.
Jika didiagnosis kanker atau adanya perubahan pre-kanker pada usus besar, maka pembedahan dilakukan bukan berdasarkan kedaruratan. Pembedahan non-darurat juga dilakukan karena adanya penyempitan dari usus besar atau adanya gangguan pertumbuhan pada anak-anak. Alasan paling umum dari pembedahan adalah penyakit menahun yang tidak sembuh-sembuh, sehingga membuat penderita tergantung kepada kortikosteroid dosis tinggi.
Pengangkatan seluruh usus besar dan rektum, secara permanen akan menyembuhkan kolitis ulserativa. Penderita hidup dengan ileostomi (hubungan antara bagian terendah usus kecil dengan lubang di dinding perut) dan kantong ileostomi. Prosedur pilihan lainnya adalah anastomosa ileo-anal, dimana usus besar dan sebagian besar rektum diangkat, dan sebuah reservoir dibuat dari usus kecil dan ditempatkan pada rektum yang tersisa, tepat diatas anus.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:11 pm; edited 5 times in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |