Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Kesehatan Saluran Cerna

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1 ... 5, 6, 7 ... 12 ... 18  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Sun Jun 13, 2010 12:59 pm

CARA MUDAH USIR FLU PERUT
Oleh Metro TV News | Metro TV – Kam, 10 Mar 2011 18.02 WIB
Mungkin di antara Anda sudah pernah mengalami flu perut. Ya, gangguan perut akibat virus ini kerap bikin tak nyaman karena memicu muntah dan diare. Flu perut, atau dalam istilah medisnya disebut viral gastroenteritis, merupakan infeksi yang umum yang dapat memicu mual, muntah dan diare. Untuk meringankan dan memulihkan gangguan ini, ada beberapa cara mudah yang harus dilakukan, antara lain:

* Untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang, orang dewasa dan anak-anak berusia di atas 10 tahun bisa mengonsumsi minuman olahraga seperti Gatorade.
* Anak-anak kecil dapat minum cairan pengganti yang dibuat khusus untuk anak-anak.
* Hindari minum jus buah, soda atau produk lain yang banyak mengandung gula, yang justru dapat memperparah diare.
* Jangan terlalu banyak menelan cairan sekaligus. Sebaiknya minum cairan pengganti sedikit demi sedikit setiap 30 menit sampai 60 menit.
* Bayi harus terus minum ASI atau susu formula, dan orang dewasa harus berusaha untuk makan makanan tawar dalam porsi kecil.
* Jangan mengonsumsi obat anti-diare kecuali dokter Anda menyarankannya.(go4/*)


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:06 pm; edited 10 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Tue Jun 15, 2010 8:33 am

MUAL DAN MUNTAH
Mual adalah perasaan tidak enak di dalam perut yang sering berakhir dengan muntah.
Muntah adalah pengeluaran isi lambung melalui mulut.

PENYEBAB
Mual dan muntah disebabkan oleh pengaktivan pusat muntah di otak.
Muntah merupakan cara dramatis tubuh untuk mengeluarkan zat yang merugikan.
Muntah dapat disebabkan karena makan atau menelan zat iritatif atau zat beracun atau makanan yang sudah rusak.

Beberapa orang menjadi mual dan mungkin muntah karena mengendarai perahu, mobil atau pesawat terbang.
Muntah bisa terjadi selama kehamilan, terutama pada mingu-mingu pertama dan pada pagi hari.
Banyak obat-obatan, termasuk obat anti kanker dan pereda nyeri golongan opiat seperti morfin, dapat menyebabkan mual dan muntah.
Penyumbatan mekanis pada usus akan menyebabkan muntah karena makanan dan cairan berbalik arah dari sumbatan tersebut.
Iritasi atau peradangan lambung, usus atau kandung empedu, juga dapat menyebabkan muntah.

Masalah psikis juga dapat menyebabkan mual dan muntah (muntah psikogenik).
Ada muntah yang disengaja, yaitu pada penderita bulimia untuk menurunkan berat badannya.
Muntah yang disengaja, merupakan respon keadaan untuk memperoleh keuntungan, seperti untuk menghindari pergi ke sekolah.
Muntah psikogenik juga dapat terjadi karena ancaman atau situasi yang tidak disukai yang menyebabkan kecemasan.
Muntah bisa merupakan ekspresi dari permusuhan, sebagai contoh ketika seorang anak muntah selama marah. Atau muntah mungkin disebabkan oleh pertentangan psikologis yang kuat. Sebagai contoh, seorang wanita yang ingin memiliki anak bisa muntah pada tanggal atau mendekati tanggal dimana dulu dia mengalami operasi pengangkatan rahim.

GEJALA
Mual, muntah kering dan salivasi yang berlebihan sering terjadi sesaat sebelum terjadinya muntah.
Meskipun penderita umumnya merasa tidak enak badan selagi muntah, tetapi setelah terjadinya muntah akan timbul rasa nyaman.

DIAGNOSA
Untuk mengetahui penyebabnya, dokter akan menanyakan gejala-gejala lain yang menyertainya.
Dilakukan pemeriksaan sederhana seperti pemeriksaan darah dan air kemih lengkap, dan kemudian pemeriksaan darah yang lebih rumit dan pemeriksan rontgen dan USG dari kandung empedu, pankreas, lambung dan usus.

PENGOBATAN
Bila penyebab fisiknya diketahui, maka segera diobati.
Bila masalahnya memiliki dasar psikis, pengobatan bisa terdiri dari penanaman kembali rasa percaya diri atau obat-obatan yang diresepkan.
Mungkin perlu melakukan pertemuan rutin dengan seorang ahli jiwa untuk membantu memecahkan masalah yang rumit.
Untuk menekan rasa mual, bisa diberikan obat anti muntah.

Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:35 pm; edited 11 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Jun 17, 2010 4:04 pm

KENAPA BISA IKUT MUAL SAAT MELIHAT ORANG MUNTAH?
Vera Farah Bararah - detikHealth - Selasa, 22/06/2010 15:00 WIB
Jakarta, Terkadang jika melihat orang lain muntah, secara spontan orang juga merasakan mual dan ikutan ingin muntah. Apakah ini menandakan kalau muntah itu menular? Muntah adalah gejala dari kondisi tubuh yang tidak fit. Banyak penyakit yang ditandai dengan gejala muntah-muntah. Meski demikian muntah tidaklah menular, kondisi ini disebut dengan Sympathetic vomiting. Hal ini terjadi ketika melihat, mencium atau mendengar suara orang muntah menyebabkan orang lain menjadi mual dan ingin muntah. Kejadian ini cukup umum terjadi di masyarakat dan beberapa ilmuwan telah menganggap bahwa hal ini adalah suatu sifat simpatik yang memang telah berkembang di dalam diri manusia.

Sympathetic vomiting mungkin akan tampak sebagai reaksi sederhana atas suatu pemandangan atau bau muntah yang tidak menyenangkan.
Selain itu bau yang ditimbulkan saat seseorang muntah secara luas dianggap sebagai bau paling buruk dan bisa menyebabkan orang didekatnya merasa mual. Seperti dikutip dari UIMC.discoveryhospital.com, Selasa (22/6/2010) muntah itu sendiri bukanlah kondisi yang menular dan merupakan salah satu reaksi dari kondisi dalam tubuh. Namun jika muntah ini disebabkan oleh penyait infeksi, maka infeksi itulah yang bisa menular. Meskipun hal ini mungkin hanya suatu reaksi terhadap aroma tak sedap, ada kemungkinan tubuh memiliki reaksi bawah sadar dengan kondisi di sekitarnya tersebut. Faktor lainnya adalah ada kemungkinan seseorang memiliki perut yang sensitif.

Beberapa ahli berpendapat bahwa dorongan untuk muntah bisa dikontrol dengan mengonsumsi makanan dan minuman tertentu serta mencoba untuk membuat tubuh rileks melalui tarik napas dan meditasi. Jika seseorang merasa mual, cobalah untuk perlahan-lahan mengonsumsi minuman berkarbonasi, melangkah keluar untuk mendapatkan udara segar atau mengalihkan pikiran dengan aktivitas lain. Satu hal yang pasti jangan langsung melakukan latihan atau berolahraga, karena beberapa jenis kondisi yang mengharuskan pengerahan tenaga bisa memicu mual.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:38 pm; edited 10 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Tue Jun 22, 2010 12:32 pm

REFLUKS ASAM
Refluks Asam (Refluks Gastroesofageal) adalah pengaliran kembali isi lambung ke dalam kerongkongan.

Lapisan lambung melindungi lambung dari asam lambung. Karena kerongkongan kekurangan lapisan pelindung semacam ini, maka asam lambung yang mengalir kembali ke dalam kerongkongan, menyebabkan
- nyeri
- peradangan (esofagitis)
- kerusakan kerongkongan.
Tingkat peradangan tergantung dari keasaman isi lambung, volume asam lambung dalam kerongkongan dan kemampuan untuk mengeluarkan cairan yang mengalami regurgitasi dari kerongkongan.

PENYEBAB
Asam mengalami refluks bila katup kerongkongan tidak berfungsi dengan baik.
Dalam posisi berbaring, yang berperan dalam terjadinya refluks ini adalah gaya gravitasi.

GEJALA
Gejala yang paling nyata dari refluks asam ini adalah perasaan terbakar di belakang tulang dada.
Nyeri ini dirasakani di dalam dada dan bisa menjalar ke leher, tenggorokan bahkan ke wajah.
Nyeri disebabkan oleh pengaliran kembali (refluks) asam dari lambung ke kerongkongan.
Nyeri biasanya timbul setelah makan atau ketika berbaring.

Rasa terbakar dapat disertai dengan keluarnya isi lambung ke dalam mulut atau produksi air liur yang berlebihan.
Jumlah air liur yang banyak, yang terjadi jika asam lambung mengiritasi kerongkongan bagian bawah yang meradang disebut water brash.
Komplikasi dari refluk asam ini adalah :
- penyempitan kerongkongan (striktur esofageal peptikum)
- tukak kerongkongan
- perubahan pre-kanker pada lapisan kerongkongan (sindroma Barret).

Peradangan esofagus (kerongkongan) menyebabkan nyeri selama menelan dan perdarahan yang biasanya ringan, tetapi bisa juga berat.
Penyempitan menyebabkan kesulitan menelan makanan padat bertambah buruk.

Tukak esofageal peptik adalah luka terbuka yang terasa nyeri pada lapisan kerongkongan.
Nyeri ini biasanya dirasakan di belakang tulang dada atau tepat di bawahnya dan dapat dihilangkan dengan antasida.
Penyembuhan dengan menggunakan obat yang mengurangi asam lambung memakan waktu 4-12 minggu. Penyembuhan tukak biasanya lambat, cenderung kambuh dan biasanya setelah sembuh menyebabkan penyempitan kerongkongan.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya.
Pemeriksaan rontgen dan esofagoskopi, pengukuran tekanan dari katup kerongkongan bawah (manometri), pemeriksaan keasaman (pH) kerongkongan dan tes Bernstein (pemeriksaan asam kerongkongan), kadang-kadang perlu dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis dan mencari komplikasinya.
Biopsi atau tes Bernstein merupakan pemeriksaan diagnostik terbaik untuk membuktikan bahwa gejala disebabkan oleh refluks asam.
Biopsi juga merupakan satu-satunya pemeriksaan yang dapat dipercaya untuk mendeteksi sindroma Barret.

Pada tes Bernstein, larutan asam ditempatkan di kerongkongan bawah.
Tes tersebut menunjukan suatu refluks asam bila gejalanya cepat timbul dan kemudian menghilang ketika diberikan larutan garam di kerongkongan bawah.
Esofagoskopi bisa menunjukkan sejumlah penyebab yang mungkin dan komplikasinya.
Pemeriksaan mikroskopik dari sampel biopsi yang diambil dari kerongkongan, bisa secara akurat mengidentifikasi refluks asam, bahkan jika peradangan tidak tampak pada pemeriksaan esofagoskopi.

Pemeriksaan rontgen dilakukan setelah penderita minum larutan barium dan berbaring dengan posisi kepala lebih rendah dari kaki dapat menunjukan refluks barium dari lambung ke kerongkongan. Dokter dapat menekan perut untuk meningkatkan refluk.
Pemeriksaan rontgen setelah menelan barium juga dapat menunjukkan tukak kerongkongan atau penyempitan kerongkongan.
Pengukuran tekanan pada katup kerongkongan bawah menunjukan kekuatannya dan dapat membedakan katup yang normal dari katup yang berfungsi buruk.

PENGOBATAN
Beberapa cara dapat dilakukan untuk menghilangkan refluks asam :
1. Meninggikan kepala pada saat tidur kurang lebih 15 cm, dapat menjauhkan aliran asam dari kerongkongan ketika penderita tidur
2. Menghindari kopi, alkohol dan bahan lain yang merangsang lambung dengan kuat untuk memproduksi asam
3. Mengkonsumsi antasid satu jam setelah makan dan sebelum tidur untuk menetralisasi asam lambung dan mengurangi kebocoran dari katup kerongkongan bawah
4. Memakan obat seperti cimetidine dan ranitidine dapat mengurangi keasaman lambung
5. Menghindari makanan tertentu (seperti lemak dan coklat), merokok dan obat-obatan tertentu (contohnya antikolinergik), karena hal-hal tersebut meningkatkan kecenderungan untuk terjadinya kebocoran pada katup kerongkongan bawah
6. Bisa diberikan obat-obat kolinergik (misalnya betanekol, metoclopramide), untuk memperkuat penutupan katup kerongkongan bawah.

Pada perdarahan kerongkongan yang berat, diperlukan pembedahan darurat.
Penyempitan kerongkongan dapat diobati dengan terapi obat dan terapi pelebaran berulang, dengan menggunakan balon maupun logam.
Omeprazole atau lansoprazole atau pembedahan dapat mengurangi peradangan berat, perdarahan, penyempitan, tukak atau gejala yang tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan apapun.
Omeprazole dan lansoprazole adalah obat yang paling efektif untuk menyembuhkan peradangan kerongkongan yang disebabkan refluks dengan cepat.
Sindroma Barret, suatu keadaan pre-kanker, dapat menghilang ataupun menetap, setelah suatu pengobatan yang menghilangkan gejala-gejalanya.

Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:40 pm; edited 9 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Tue Jun 22, 2010 12:34 pm

ASAM LAMBUNG BISA MEMPERBURUK GEJALA ASMA
Minggu, 21/11/2010 07:59 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Sekilas tidak saling berhubungan, sebab gangguan asma terjadi di saluran napas sedangkan refluks asam lambung terjadi di saluran pencernaan. Namun pada beberapa kasus, asma bisa memburuk saat asam lambung naik ke kerongkongan. Refluks atau naiknya asam lambung ke kerongkongan terjadi saat katup yang menghubungkan lambung dengan kerongkongan tidak menutup sempurna. Kondisi ini ditandai dengan rasa nyeri atau panas di sekitar dada dan kerongkongan.

Karena letak kerongkongan dekat dengan tenggorokan yang merupakan saluran napas, cukup masuk akal jika naiknya asam lambung bisa mempengaruhi asma. Terlebih data Advancements in Allergy and Asthma Care (AAAC) menunjukkan 50-80 persen dari 15 juta penderita asma di Amerika juga punya riwayat refluks.

"Karena gejala refluks asam lambung adalah nyeri dada dan panas di kerongkongan, jarang yang mengira jika serangan asma juga bisa menandakan refluks asam lambung," ungkap Debra Peterson, seorang praktisi kesehatan AAAC di Minnesotta, Amerika Serikat. Peterson mengatakan para ahli belum bisa memastikan bagaimana keduanya bisa saling mempengaruhi, sebab hingga kini berbagai penelitian tentang hal itu masih terus dikembangkan. Namun seperti dikutip dari Foxnews, Minggu (21/11/2010), beberapa dugaan berikut ini diyakini bisa menjelaskannya.

1. Asma memburuk ketika asam lambung yang naik ke kerongkongan terhirup oleh paru-paru
2. Naiknya asam lambung menyebabkan rongga dada menyempit sehingga terjadi sesak napas
3. Asam lambung di kerongkongan merangsang saraf brocheolus (saluran napas di paru-paru) untuk menyempit
4. Sebaliknya, asma juga bisa memicu refluks karena obat-obat pelega saluran napas (bronkodilator) seperti teofilin diketahui memiliki efek samping meningkatkan sekresi atau pengeluaran asam lambung.

Peterson menambahkan, asma yang dipicu oleh asam lambung biasanya dicirikan dengan kekambuhan saat pola makan tidak teratur, setelah minum alkohol dan saat berbaring. Tak jarang ia justru memberikan obat maag golongan penghambat pompa proton pada pasiennya untuk mengobati asma semacam ini. Sementara itu untuk memastikan hubungan asma dan asam lambung, para ilmuwan dari Duke University di North Carolina baru-baru ini menyuntikkan cairan asam ke lambung tikus. Hasilnya, peningkatan kadar asam lambung terbukti mengurangi sistem imun sehingga banyak tikus yang terserang asma.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:45 pm; edited 13 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Tue Jun 22, 2010 12:36 pm

SENDAWA, BUANG ANGIN, TANDA KURANG ENZIM?
Asep Candra | Rabu, 9 April 2008 | 13:19 WIB
Kompas.com - BILA Anda termasuk orang yang punya masalah dengan perut dan pencernaan, misalnya sering merasa kembung, sendawa, atau pun buang angin, sebaiknya waspada. Bisa jadi Anda termasuk salah satu orang yang kekurangan enzim pencernaan. Perut yang terasa penuh akibat timbulnya gas berlebihan di dalam sistem pencernaan, baik di dalam lambung, usus halus dan usus besar kerapkali dianggap masyarakat umum sebagai problem atau gejala sakit maag. ¨Rasa penuh di perut atau sebah, kembung dan nyeri lambung memang sering disalahartikan masyarakat sebagai sakit maag. Padahal gejala itu belum tentu maag, melainkan bisa juga gangguan lain misalnya kekurangan enzim,¨ ungkap Dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, dalam seminar media tentang enzim di Jakarta Selasa (7/4) kemarin.

Dr Ari menjelaskan, nyeri perut memang tak selalu identik dengan sakit maag, tetapi bisa jadi berbagai macam penyakit mulai dari yang ringan sampai berat. Penentuan atau diagnosanya juga sangat tergantung dari lokasi atau bagian saluran cerna mana yang bermasalah atau terasa sakit, apakah itu bagian atas (dari mulut sampai usus 12 jari) atau pun bawah (dari usus 12 jari sampai dubur) . ¨Gejala klinis gangguan saluran cerna bisa sangat beragam apakah itu di saluran cerna atas atau bawah. Jadi untuk memastikannya, jangan mengambil kesimpulan dan mengobatinya sendiri, tetapi sebaiknya memang harus melalui pemeriksaan dokter,¨ tegasnya. Namun begitu, ada pula beberapa gejala yang mudah dikenali bila Anda memang mengalami gangguan seperti misalnya kekurangan enzim atau sindrom malabsorbsi atau maldigesti. ¨Gejalanya seperti kembung pada perut, nafsu makan menurun, diare, perut tidak nyaman atau suara usus meningkat karena adanya gas yang berlebihan,¨ terang Dr Ari.

Sindrom ini lanjutnya terjadi karena adanya penyerapan makanan yang terganggu akibat kurangnya enzim pencernaan. Tanpa enzim yang cukup dalam pencernaan, makanan tidak bisa diserap oleh usus sehingga proses metabolisme terganggu. Bahkan menurut sebuah data penelitian di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta pada 2002, gangguan enzim (maldigestasi) ini merupakan penyebab utama diare kronik non infeksi yakni prosentasenya mencapai 62,6 persen. ¨Penyebab gangguan enzim ini bisa beragam mulai dari faktor genetika seperti misalnya banyak orang Indonesia yang kekurangan enzim laktese, gangguan pankreas hingga faktor usia yang menyebabkan produksi enzim tubuh semakin menurun,¨ jelas Dr Ari.

Gangguan enzim, lanjutnya bisa terjadi pada seseorang biasanya ketika makan berlebihan atau terlalu banyak, terutama lemak. Atau bisa pula disebabkan pola makan yang buruk seperti terburu-buru atau meningkatnya asam lambung sehingga menghalangi fungsi enzim. ¨Untuk mengetahui adanya ganggun enzim, dokter biasanya melakukan pemeriksaan mulai dari wawancara, periksa fisik hingga tes darah dan feses di laboratorium. Biasanya dokter akan memberi obat-obatan, vitamin dan mineral atau pun enzim pencernaan,¨ terangnya. Untuk mengatasinya juga bisa dilakukan dengan cara suplementasi enzim atau menerapkan diet atau pola makan yang tepat seperti mengurangi konsumsi makanan berlemak seperti daging, coklat atau keju.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:02 pm; edited 15 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Tue Jun 22, 2010 12:38 pm

WASPADAI GANGGUAN ENZIM PENCERNAAN
Selasa, 6 Juli 2010 | 08:54 WIB
Kompas.com - Banyak ahli kesehatan berpendapat, hidup sehat dimulai dari pencernaan yang baik. Maklum, pencernaan yang sehat mampu menyerap nutrisi dari setiap makanan secara maksimal. Pencernaan yang sehat juga dapat menetralisir racun, serta melawan bakteri dan virus yang membahayakan tubuh. Singkatnya, pencernaan yang baik akan membuat sirkulasi darah menjadi lancar, metabolisme tubuh dan fungsi organ pun menjadi prima. Sebaliknya, gangguan sistem pencernaan akan menimbulkan gangguan pula pada sistem kerja tubuh. Ada beberapa masalah gangguan pencernaan yang sering dikeluhkan banyak orang. Yang paling populer adalah sakit maag. Penyakit ini muncul ketika produksi asam lambung meningkat dan melukai dinding lambung. Keluhan lain yang sering muncul adalah naiknya asam lambung sampai ke kerongkongan. Dalam dunia kedokteran, penyakit ini dikenal dengan istilah gastro esophageal reflex disease (GERD).

Tapi, gangguan pencernaan tidak melulu berhubungan dengan asam lambung. Masalah juga bisa terjadi di seputar enzim pencernaan. "Gangguan pencernaan karena enzim sering dipicu kurangnya pasokan enzim pencernaan dalam saluran pencernaan," kata Suhanto Kasmali, dokter umum dan Kepala Bidang Pelayanan Medik Rumah Sakit Mediros, Jakarta Timur. Biasanya, gangguan enzim pencernaan ini datang setelah makan. Gejalanya, perut terasa kembung. Rasa kembung tersebut muncul karena terdapat gas berlebihan dalam lambung. Alhasil, orang yang mengalami gangguan produksi enzim ini kerap bersendawa atau buang angin. Karena kesibukan Gangguan enzim biasanya muncul karena pola makan yang tidak sehat. Umumnya, gangguan ini menyerang orang yang memiliki banyak kesibukan. Maklum, kesibukan kadang membuat kita lalai untuk menelan asupan makanan yang sehat.

Misalnya, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang kalorinya kosong, kurang menelan makanan yang cukup gizi, atau bahkan tidak cukup mengonsumsi makanan. "Akhirnya makanan yang harus dicerna tidak seimbang dengan jumlah enzim," kata Dwi L Riyantoro, Over The Counter (OTC) Division Head PT Darya-Varia Laboratoria. Selain karena pola makan yang tidak sehat, faktor usia juga ikut mempengaruhi produksi enzim. Semakin bertambah usia seseorang, semakin sedikit enzim yang diproduksi dalam tubuh.

Ada tiga enzim yang berfungsi mengolah makanan. Pertama, enzim lipase yang berfungsi merombak lemak. Kedua, enzim protease yang bertugas memecah protein. Ketiga, enzim amylase yang bekerja merombak hidrat arang. Ketiga enzim ini bekerja sama mengolah makanan yang masuk ke perut. Tanpa enzim yang cukup, makanan tak dapat diserap usus karena tidak tercerna sempurna. Jadinya, sebagian makanan yang masuk akan terbuang percuma. Alhasil, tubuh akan kekurangan gizi meski penderitanya sudah banyak menyantap makanan. Daya tahan tubuh juga menjadi lemah, sehingga gampang terseraizg penyakit.

Untuk mengatasi gangguan enzim ini, tentu Anda harus mengubah pola makan menjadi pola makan sehat. Anda juga bisa mengonsumsi produk enzim pencernaan yang umumnya berbentuk kapsul. Dengan mengonsumsi produk enzim, jumlah enzim dalam tubuh akan bertambah sehingga mencukupi kebutuhan pencernaan setelah makan.

Dokter Suhanto menyarankan, Anda tak peruu mengonsumsi produk enzim selama tidak ada keluhan. "Karena tubuh kita sudah memproduksi enzim tersebut," ujarnya.Gangguan enzim sebenarnya bisa disembuhkan jika penderitanya kembali menjalani pola makan yang sehat. Dengan pola makan sehat, maka tubuh akan akan menemukan kembali keseimbangan produksi enzim. Tapi, jika gangguan pencernaan masih menyerang, bisa jadi itu bukan karena faktor enzim belaka. Ada baiknya Anda memeriksakan diri ke dokter untuk mencari tahu penyebab masih munculnya gangguan tersebut. (Kontan/Sanny Cicilia Simbolon )


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:50 pm; edited 10 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Wed Jun 23, 2010 7:43 am

GASTROESOPHAGEAL REFLUKS
Pada gastroesophageal reflux (penyakit gastroesophageal reflux (GERD)), asam perut dan enzim mengalir kembali dari perut menuju kerongkongan, menyebabkan peradangan dan nyeri pada kerongkongan.
* Reflux terjadi ketika otot berbentuk cincin yang secara normal mencegah isi perut pada perut dari mengalir kembali menuju kerongkongan (esophageal sphincter bagian bawah) tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
* Gejala yang paling umum adalah rasa panas dalam perut (nyeri terbakar dibelakang tulang payudara).
* Diagnosa tersebut didasarkan pada gejala-gejala.
* Pengobatan adalah menghindari bahan-bahan pemicu (seperti alkohol dan makanan asam) dan menggunakan obat-obatan yang mengurangi asam perut.

Lapisan perut melindungi perut dari efek asam itu sendiri. Karena kerongkongan mengeluarkan lapisan pelindung serupa, asam perut dan enzim yang mengalir ke belakang (reflux) menuju kerongkongan secara rutin menyebabkan gejala-gejala dan pada beberapa kasus kerusakan.

Asam dan enzim mengalir kembali ketika esophageal sphincter bagian bawah, otot berbentuk cincin yang secara normal mencegah isi perut mengalir kembali menuju kerongkongan, tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ketika seseorang berdiri atau duduk, gravitasi membantu untuk mencegah isi perut mengalir kembali menuju kerongkongan, yang menjelaskan kenapa reflux bisa memburuk ketika seseorang sedang berbaring. Reflux juga lebih mungkin untuk terjadi segera setelah makan, ketika jumlah dan keasaman isi di dalam perut lebih tinggi dan otot sphincter tidak mungkin untuk bekerja sebagaimana mestinya. Faktor yang menyebabkan terjadinya reflux termasuk pertambahan berat badan, makanan berasam, coklat, minuman berkafein dan berkarbonat, alkohol, merokok tembakau, dan obat-obatan tertentu. Jenis obat-obatan yang bertentangan dengan fungsi esophageal sphincter bagian bawah termasuk apa yang memiliki efek antikolinergik (seperti berbagai antihistamin dan beberapa antihistamin), Penghambat saluran kalsium, progesteron, dan nitrat. Alkohol dan kopi juga berperan dengan merangsang produksi asam. Penundaan pengosongan perut (misal, disebabkan diabetes atau penggunaan opioid) bisa juga memperburuk refluks.

GEJALA
Rasa panas dalam perut ( rasa terbakar di belakang tulang payudara) adalah gejala yang paling jelas pada gastroesophageal reflux. Kadangkala nyeri tersebut bahkan menjalar ke leher, tenggorokan, dan wajah. Rasa panas dalam perut kemungkinan disertai dengan muntah, dimana isi perut mencapai mulut.
Peradangan pada kerongkongan (esophagitis) bisa menyebabkan pendarahan yang biasanya ringan tetapi bisa jadi besar. Darah kemungkinan dimuntahkan atau keluar melalui saluran pencernaan, menghasilkan kotoran berwarna gelap, kotoran berwarna ter (melena) atau darah merah terang, jika pendarahan cukup berat.

Borok kerongkongan, adalah luka terbuka pada lapisan kerongkongan, bisa dihasilkan dari refluks berulang. Mereka bisa menyebabkan nyeri yang biasanya berlokasi di belakang tulang payudara atau persis di bawahnya, mirip dengan lokasi panas dalam perut.
Penyempitan (stricture) pada kerongkongan dari reflux membuat menelan makanan keras meningkat lebih sulit. Penyempitan pada saluran udara bisa menyebabkan nafas yang pendek dan berbunyi mengik. Gejala-gejala lain pada gastroesophageal reflux termasuk nyeri dada, luka tenggorokan, suara parau, ludah berlebihan (water brash), rasa bengkak pada tenggorokan (rasa globus), dan peradangan pada sinus (sinusitis).

Dengan iritasi lama pada bagian bawah kerongkongan dari refluks berulang, lapisan sel pada kerongkongan bisa berubah (menghasilkan sebuah kondisi yang disebut kerongkongan Barrett). Perubahan bisa terjadi bahkan pada gejala-gejala yang tidak ada. Kelainan sel ini adalah sebelum kanker dan berkembang menjadi kanker pada beberapa orang.

DIAGNOSA
Gejala-gejala menunjukkan pada diagnosis, dan pengobatan bisa dimulai tanpa tes diagnosa yang rinci. Tes khusus biasanya disiapkan untuk situasi dimana diagnosa tersebut tidak jelas atau pengobatan tidak memiliki gejala-gejala terkontrol. Penelitian pada kerongkongan menggunakan endoskop (pipa pelihat elastis), penelitian sinar X, alat-alat penekan (manometry) pada esophageal sphincter bagian bawah, dan tes pH kerongkongan (keasaman) kadangkala diperlukan untuk membantu memastikan diagnosa dan untuk memeriksa komplikasi.

Endoskopi bisa memastikan diagnosa tersebut jika dokter menemukan bahwa orang tersebut mengalami esophagitis atau kerongkongan barrett. Endoskopi juga membantu mengeluarkan kanker esophageal. Sinar-X digunakan setelah minum carian barium (sebuah bahan yang menguraikan secara singkat saluran pencernaan) dan kemudian berbaring pada mencondongkan kepala lebih rendah dari kaki bisa menunjukkan reflux pada barium dari perut menuju kerongkongan. Seorang dokter bisa menekan perut untuk meningkatkan kemungkinan reflux. Sinar X digunakan setelah barium ditelan juga bisa menampakkan borok esophageal atau penyempitan kerongkongan.

Alat-alat penekan pada esophageal sphincter bagian bawah mengindikasi kekuatan sphincter dan bisa membedakan sphincter normal dari yang fungsinya buruk. Informasi yag diperoleh dari tes ini membantu dokter memutuskan apakah operasi adalah pengobatan yang sesuai.

Beberapa dokter meyakini bahwa tes terbaik untuk gastroesophageal reflux adalah tes pH esophageal. Pada tes ini, pipa tipis, elastis dengan sensor pemeriksa pada ujung dipasang melalui hidung dan menuju kerongkongan bagian bawah. Ujung lainnya pada pipa ini ditempelkan pada sebuah monitor yang dipakai orang tersebut pada sabuknya, monitor tersebut merekam kadar asam pada kerongkongan, biasanya untuk 24 jam. Disamping memastikan seberapa banyak reflux terjadi, tes ini mengidentifikasi hubungan antara gejala-gejala dan reflux dan terutama sekali sangat membantu untuk orang yang mengalami gejala-gejala yang tidak umum pada reflux. Tes pH kerongkongan diperlukan untuk semua orang yang dipertimbangkan untuk operasi untuk memperbaiki gadtroesophageal reflux. Sebuah alat baru (menggunakan sebuah pH elektroda kecil yang ditanamkan yang mengirimkan sebuah sinyal) tersedia untuk orang yang tidak dapat menggunakan pipa di hidung mereka.

PENGOBATAN
Banyak obat-obatan digunakan untuk mengobati gastritis dan peptic ulcer juga membantu mencegah dan mengobati gastroesophageal reflux. Antacid digunakan pada waktu tidur, misalnya, seringkali sangat membantu. Antasid bisa biasanya meringankan nyeri pada borok kerongkongan dengan mengurangi jumlah asam yang sampai ke kekerongkongan. Meskipun begitu, proton pump inhibitor, obat-obatan yang paling kuat untuk mengurangi produksi asam, biasanya pengobatan yang paling efektif untuk gastroesophageal reflux, karena bahkan asam dalam jumlah kecil bisa menyebabkan gejala-gejala signifikan. Obat-obatan yang diperlukan untuk penyembuhan yang mengurangi asam perut melebihi periode 4 sampai 12 minggu. Borok tersebut sembuh dengan lambat, cenderung untuk berulang, dan, ketika kronik dan berat, bisa meninggalkan penyempitan kerongkongan setelah penyembuhan.

Penyempitan kerongkongan diobati dengan obat-obatan dan mengulangi pembesaran, yang kemungkinan menggunakan balon atau pembesar yang semakin besar (bougies). Jika pembesaran sangat berhasil, penyempitan tidak secara serius membatasi apa yang seseorang makan.
Kerongkongan barrett tidak tampak ketika pengobatan meringankan gejala-gejala. Oleh karena itu, orang dengan kerongkongan barrett diminta untuk melakukan penelitian endoskopi setiap 2 sampai 3 tahun untuk memastikan kondisi tersebut tidak menjadi kanker.

Operasi adalah salah satu pilihan untuk orang yang gejala-gejalanya tidak bereaksi terhadap obat-obatan untuk orang yang mengalami esophagitis yang berlangsung lama bahkan setelah gejala-gejala ringan. Sebagai tambahan, operasi kemungkinan pengobatan yang dianjurkan untuk orang yang tidak suka prospek untuk menggunakan obat-obatan untuk beberapa tahun. prosedur invasive secara minimal dilakukan melalui laparoscope tersedia. Meskipun begitu, 20 sampai 30 % orang yang mengalami prosedur ini mengalami efek samping, paling umum kesulitan menelan dan merasa kembung atau perut tidak nyaman setelah makan.

PENCEGAHAN
Beberapa peralatan kemungkinan digunakan untuk meringankan gastroesophageal reflux. Mengangkat kepala pada tempat tidur kira-kira 6 inci mencegah asam mengalir dari kerongkongan sebagaimana seseorang tidur. Makanan dan obat-obatan yang menjadi penyebab harus dihindari, sama seperti merokok. Seorang dokter bisa meresepkan sebuah obat (misal, bethanechol atau metoclopramide) untuk membuat sphincter bagian bawah lebih ketat. Kopi, ‘alkohol, minuman yang mengandung asam seperti jus jeruk, minuman cola, dan saus salad yang berbahan dasar cuka, dan bahan-bahan lain yang secara kuat merangsang perut untuk menghasilkan asam atau yang menghambat pengosongan perut harus dihindari sebaiknya.

Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:01 pm; edited 12 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Wed Jun 23, 2010 7:22 pm

OPERASI ATAU MEDIKASI UNTUK MEMADAMKAN HEARTBURN?
GERAI - Edisi April 2008 (Vol.7 No.9) Farmacia
Efikasi obat lama seperti antasid atau sukralfat untuk gejala-gejala GERD, masih cukup kuat, bahkan dibanding pembedahan.
Heartburn atau rasa terbakar di dalam epigastrium dan dada bagian bawah akibat iritasi esophagus merupakan kasus yang sering ditemui dalam praktik sehari-hari para gastroenterologis. Rasa terbakar ini kadang diikuti rasa pahit di tenggorokan dan di rongga mulut. Kebanyakan heartburn adalah gejala dari GERD, meskipun kondisi seperti hiatal hernia juga menimbulkan sensai sama seperti heartburn.

GERD disebabkan jika ada gangguan pada katup di ujung esophagus sehingga terjadi refluk, yakni asam lambung mengalir kembali ke pipa makanan ini. Asam lambung inilah yang menyebabkan rasa terbakar, iritasi suara, dan memicu batuk kronis. Rata-rata 20% penduduk Amerika Serikat dewasa mengalami gejala GERD setidaknya sekali seminggu. GERD parah akan menyebabkan tukak (ulcers)

Komplikasi GERD yang disebut Barrett esophagus merupakan faktor risiko kuat kanker esophagus, keganasan yang kasusnya meningkat dalam 20 tahun terakhir. Barrett esophagus terjadi bila sel-sel dinding intestinal ditemukan di esofagus. Pilihan terapi untuk GERD atau heartburn adalah operasi atau dengan medikamentosa yang berfungsi mengurangi produksi asam lambung. Sebuah penelitian yang dipublikasikan tahun 2001 menyatakan bahwa operasi tidak lebih baik dari pemberian obat-obatan dalam hal ini antasida.

Studi yang dilakukan peneliti dari University Southwestern Medical Center di Dallas ini dipublikasikan di Journal of the American Medical Association. Dr. Stuart Spechler, kepala divisi gastroenterologi di Dallas Veterans Affairs Medical Center merancang studi follow-up pada pasien yang selama 10 tahun terakhir mendapat terapi untuk keluhan GERD. Kemudian ditentukan apakah mereka yang menjalani operasi merasa lebih baik dibandingkan yang hanya mendapat obat-obatan saja.

Ada 239 pasien yang terlibat. Meskipun secara keseluruhan pasien merasa puas dengan terapi apapun yang mereka terima, namun yang mengejutkan adalah dua pertiga pasien operasi masih tetap menggunakan obat anti-refluks secara rutin. Pasien yang menjalani operasi juga rata-rata mengalami esophageal strictures atau penyempitan esofagus akibat bekas luka dibandingkan pasien yang hanya mendapat terapi obat. Pada kedua kelompok, tidak ad aperbedaan signifikan dalam perkembangan kanker esophagus dan komplikasi GERD.

Penemuan ini cukup menarik dan menurut peneliti pasien bisa mempertimbangkan manfaat dan kerugian dari pilihan terapi yang harus mereka jalani. Pembedahan memang masih merupakan terapi efektif pada pasien GERD, jika pengobatan dengan obat terbukti gagal. Antasida merupakan obat yang hingga kini masih dipercaya mengatasi tukak lambung dan juga GERD. Selain antasida juga dikenal obat untuk mengatasi luka lambung dan juga GERD yakni sukralfat. Tidak seperti obat lain yang juga digunakan untuk mengobati tukak lambung, sukralfat merupakan sukrosa alumunium sulfat kompleks yang mengikat asam hidroklorida (HCL) di lambung dan bertindak seperti penyangga asam dengan properti sitoprotektif.

Studi yang pernah dilakukan Ephgrave dkk membandingkan sukralfat dan antasida dan efeknya terhadap kolonisasi mikroba. Ternyata kolonisasi mikroba di saluran gastric lebih banyak pada kelompok penerima antasida dibandingkan penerima sukralfat. Kolonisasi mikroba di jalur ini berkaitand dengan insiden pneumonia paskaoperasi. Baik sukralfat maupun antasida aman dan efektif mencegak tukak pada pasien pascaoperasi yang dirawat di ICU. Namun dalam kaitannya dengan efek obat terhadap pH, maka akan lebih banyak pathogen baru ditemukan pada penerima antasida dibandingkan terapi dengan sukralfat.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 11:53 am; edited 10 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Jun 24, 2010 8:08 am

KURANG OKSIGEN PERPARAH TUKAK LAMBUNG
Jum'at, 15 Juli 2011 - 14:17 wib Dwi Indah Nurcahyani - Okezone
KURANG oksigen tak hanya berpengaruh pada gangguan pernapasan, tapi juga organ tubuh termasuk lambung. Bahkan, luka di lambung makin parah ketika oksigen kurang terpasok. Banyak keadaan membuat seseorang mengalami gangguan pernapasan. Biasanya, berada di atas ketinggian seperti pegunungan, berada di ruangan tertutup tanpa sirkulasi udara yang baik, ataupun sirkulasi udara baik tapi dipenuhi asap rokok. Kekurangan oksigen akut lambat laun menyebabkan gangguan pada organ tubuh yang disebut hipoksia. Hipoksia sendiri merupakan suatu keadaan kekurangan oksigen yang bisa menyebabkan permasalahan kesehatan karena akan berpengaruh pada organ-organ tubuh, seperti sistem jantung, pembuluh darah, lambung, serta sistem pernapasan. Khusus untuk lambung, kerusakan yang terjadi bisa berupa lesi kecil, tukak (ulkus), hingga kebocoran lambung. Demikian seperti dikutip dari sebuah penelitian oleh Dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP dari bidang Ilmu Biomedik Universitas Indonesia. “Proses terjadinya suatu penyakit harus diteliti. Saya ingin melihat penyebab lambung itu ada faktor keseimbangan, ada faktor yang bersifat merusak, seperti asam lambung, rokok, alkohol, dan obat-obat rematik. Tapi di sisi lain ternyata lambung itu memiliki sistem pertahanan tubuh,” katanya kepada wartawan usai sidang disertasi di Ruang Senat Pratista Sutomo Tjokronegoro, Departemen Patologi Anatomi FKUI, Jakarta, Jumat (15/7/2011).

“Faktor-faktor itu tergantung dari ketebalan dinding lambung, aliran darah, dan bagaimana pergerakan lambung. Jadi apabila keseimbangan terganggu, misalnya asam lambung terlalu banyak, obat rematik terlalu banyak, rokok dan alkohol terlalu banyak, maka akan mengakibatkan kerusakan,” tukasnya. Atas landasan pemikiran tersebut, Dr Ari pun melakukan penelitian selama kurang lebih 3 tahun. “Tikus percobaan saya kondisikan kekurangan oksigen. Dari hasil penelitian ini, kita berhasil melihat suatu contoh bahwa ketika binatang mengalami kekurangan oksigen dalam tubuh, terutama di lambung, maka akan menyebabkan kerusakan,” sambungnya. Penelitian ini mengungkap bahwa lambung akan mengalami proses kerusakan yang bertahap berupa pembentukan tukak, yaitu luka pada lambung yang makin lama makin dalam. Namun seiring perjalanan waktu, tukak tersebut mengalami penyembuhan berupa epitelisasi.

Ketika lambung rusak, sebenarnya tubuh melakukan adaptasi. Proses adaptasi terjadi dikarenakan faktor molekuler yang meningkat pada awalnya dan menurun seiring dengan perjalanan waktu. Keadaan hipoksia ternyata membuat tubuh beradaptasi dengan menginduksi berbagai faktor molekuler penting. Selain itu, hipoksia juga memicu tubuh melakukan proses proteksi. Penelitian tentu menjadi perhatian bagi para klinisi untuk mencegah terjadinya hipoksia pada berbagai keadaan penyakit sehingga pasien dapat terhindar dari luka pada permukaan dalam lambung. Melihat hubungan antara kejadian pada organ dan pola molekuler di atas, maka diharapkan para klinisi dapat melakukan upaya pencegahan dan pengobatan yang tepat dalam mengatasi permasalahan pada lambung jika terjadi hipoksia sistemik kronis.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:56 pm; edited 12 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Jun 24, 2010 12:34 pm

30% PERDARAHAN PADA LAMBUNG BISA SEMBUH TANPA OBAT
Jumat, 15/07/2011 17:16 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Tubuh memiliki kemampuan untuk dapat bisa menyembuhkan diri sendiri bila kondisi tubuh dalam keadaan prima. 30 persen pendarahan pada lambung bahkan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa obat. Hal ini disampaikan DR. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPH-KGEH, MMB, FINASIM, FACP, usai acara Sidang Disertasi dan Promosi Doktor di FKUI berjudul Patofisiologi Molekuler Perkembangan Lesi Mukosa Gaster Tikus pada Hipoksia Sistemik Kronis: Tinjauan Ekspresi Hypoxia Inducible Factor-1α, Heat Shock Factor-1 dan Heat Shock Protein 70, Jakarta, Jumat (15/7/2011). "Jika orang mengalami pendarahan pada lambung, 30 persen itu akan sembuh spontan, tanpa obat," ujar DR Ari dari Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM.

Di dalam lambung, terdapat keseimbangan berupa faktor-faktor perusak seperti asam lambung, rokok, alkohol atau obat rematik. Di sisi lain lambung memiliki sistem pertahanan tubuh yang tergantung pada ketebalan dinding lambung, aliran darah, pergerakan lambung. Apabila keseimbangan lambung terganggu, misal asam lambung dan asap rokok terlalu banyak, maka akan menyebabkan kerusakan. "Dalam penelitian saya, tikus percobaan yang mengalami suatu keadaan kekurangan oksigen (hipoksia) yang berlangsung secara menyeluruh di seluruh tubuh, ternyata juga membuat lambungnya mengalami kerusakan. Tapi dengan perjalanan waktu lambung akan mengalami perbaikan (epitelisasi)," jelas DR Ari.

Artinya, tubuh sebenarnya bisa beradaptasi. Menurut DR Ari, dalam proses adaptasi ada faktor-faktor molekuler penting antara lain Hypoxia Inducible Factor-1 α (HIF-1α) yang merupakan master gen yang berperan untuk menginduksi gen lain untuk melakukan berbagai fungsi antara lain pembentukan pembuluh darah dan sel darah, metabolisme energi dan pembetukan sel. "Nah ini yang saya buktikan dalam penelitian ini dengan model tikus ini. Dan ternyata ada hubungan dengan faktor-faktor molekuler ini, bahwa HIF-1α itu meningkat dan HIF-1α yang akhirnya berperan untuk faktor gen yang lain, untuk pembentukan pembuluh darah, pembentukan sel darah merah kemudian juga faktor-faktor yang lain," jelas DR Ari.

DR Ari juga menyampaikan bahwa sebenarnya tubuh dapat beradaptasi. Jika jaringan kekurangan oksigen, akan ada peningkatan protein-protein seperti sitoglobin yang membuat kadar oksigen dalam jaringan menjadi normal. "Nah, hikmahnya adalah bagaimana kita bisa mempertahankan bahwa tubuh siap dengan adaptasi tersebut. Meski hipoksia, tubuh bisa beradaptasi mengatasi keadaan tersebut," jelas bapak 3 anak ini. Tapi tentu saja jika tubuh mengalami sakit bukan berarti Anda mesti diam saja dan tidak melakukan apa-apa. Artinya, jika tubuh mulai merasa sakit, makan adalah hal yang terpenting. Karena ketika tikus mengalami hipoksia tikus mengalami penurunan berat badan, maka makan perlu diperhatikan. Kemudian oksigen juga harus tetap dipertahankan dengan baik.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:58 pm; edited 12 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Fri Jun 25, 2010 8:58 pm

IRRITABLE BOWEL SYNDROME
Irritable Bowel Syndrome ( IBS ) adalah gangguan stress pencernaan,
Kesibukan menuntut kita untuk menjalani kebiasaan yang serba praktis dan instan, serta memiliki pola istirahat yang tidak teratur, belum lagi tingkat stress yang melanda. Akibatnya kita rentan terhadap gangguan stress pencernaan yang disebut sebagai Irritable Bowel Syndrome tadi.

Gejalanya dapat berupa nyeri perut, diare dan konstipasi ( sembelit ). Lebih sering menyerang wanita daripada pria.
Sebaiknya gangguan pencernaan ini tidak diabaikan, sembelit misalnya, dapat membuat luka di usus besar. Dari luka tersebut kemudian bisa timbul polip usus yang bisa menjadi kanker usus. Nyeri perut sering kambuh dengan jangka waktu berulang, setidaknya terjadi 3 hari setiap bulan, dalam 3 bulan terakhir. Kekambuhan ditunjukkan dengan peningkatan gangguan dan onset yang berhubungan dengan perubahan frekuensi atau bentuk dari diare atau konstipasi. Jika kriteria tersebut telah dipenuhi dalam 3 bulan terakhir dengan onset gejala setidaknya 6 bulan, sudah dapat dipastikan pasien menderita IBS ( penegakan diagnosa ). Nyeri IBS biasanya terlokalisasi, tetapi pada nyeri yang mendalam sakitnya akan menyebar.

Riset kedokteran menunjukkan bahwa ada kaitan antara pencernaan yang sehat dengan daya tahan tubuh, ini dikarenakan sebanyak 80% sel daya tahan tubuh berada di usus. Dahulu usus hanya dipandang sebagai gudang penyimpanan makanan dan tong sampah tempat sisa makanan. Namun belakangan ini diketahui triliunan mikroflora berada dalam usus, dan berperan penting bagi kesehatan tubuh kita. Saluran cerna yang sehat dapat membuat tubuh kita tetap prima disaat situasi mulai kurang kondusif, orang yang saluran cernanya bagus akan mempunyai immunitas yang lebih bagus. Ada sekitar 100-400 jenis flora usus, yang bisa menghasilkan antibiotika alami yang menjaga keutuhan dinding usus, proses metabolisme serta meningkatkan kekebalan tubuh.

Sumber: Seputar Indonesia Kamis 15 April 2010


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:02 pm; edited 12 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Fri Jun 25, 2010 9:01 pm

IRRITABLE BOWEL SYNDROME
Irritable bowel syndrome (IBS) adalah gangguan pada seluruh saluran pencernaan yang menyebabkan nyeri perut dan sembelit atau diare.
* Faktor bahan-bahan dan emosi yang berubah-ubah bisa memicu gejala-gejala pada IBS.
* Seorang dokter biasanya mendiagnosa IBS berdasarkan gejala-gejala tetapi melakukan tes untuk mengesampingkan masalah-masalah lain.
* Makan teratur adalah sering terbaik, dan obat-obatan biasanya bisa menghilangkan gejala-gejala khusus.

IBS mempengaruhi sekitar 10 sampai 15% populasi umum. Beberapa tetapi tidak seluruh penelitian menduga wanita dengan IBS lebih mungkin berkonsultasi dengan seorang dokter. IBS adalah gangguan paling umum didiagnosa oleh gastroenterologist (dokter yang spesialisasi pada gangguan saluran pencernaan).
IBS biasanya diklasifikasikan sebagai”gangguan fungsional” karena penyakit ini merusak fungsi aktivitas normal tubuh, seperti gerakan usus, sensitivitas saraf usus atau kerja dari otak yang mengontrol beberapa fungsi tersebut. Meskipun fungsi normal dirusak, tidak ada struktur yang abnormal yang dapat terlihat dengan endoscope (pipa fleksible pelihat), sinar X, atau tes darah. Sehingga, IBS diidentifikasi dengan cirri khas dari gejala-gejala dan jika diperlukan hasil tes terbatas.

PENYEBAB
Penyebab IBS tidak jelas. Pada beberapa pasien IBS, saluran cerna khususnya yang sensitif terhadap rangsangan-penderita dapat mengalami ketidaknyamanan karena gas usus atau kontraksi yang pada orang lain tidak menimbulkan gangguan. Meskipun perubahan gerakan usus besar yang terjadi pada IBS dapat terlihat berhubungan dengan kontraksi usus yang abnormal, tidak semua penderita IBS mengalami kontraksi abnormal, dan sebagian besar mengalami, kontraksi abnormal tidak selalu merupakan gejala.

Faktor emosional (misal, stress, gelisah, depresi, dan takut), makanan, obat-obatan, hormon, atau iritan kecil bisa memicu atau memperburuk serangan (penyakit atau serangan) pada IBS. Untuk beberapa orang, makanan kalori-tinggi atau makanan tinggi-lemak kemungkinan bisa memicu. Untuk orang lain, gandum, produk susu, kopi, teh, atau buah jeruk tampaknya bisa membuat gejala-gejala tersebut. karena banyak produk makanan yang mengandung beberapa bahan-bahan, yang kemungkinan sulit untuk mengidentifikasi pemicu khusus. Yang lain menemukan bahwa makan terlalu cepat atau makan setelah jangka waktu yang terlalu lama tanpa makanan menjadi pemicu. Meskipun begitu, hubungannya tidak konsisten. Seseorang tidak selalu mendapatkan gejala-gejala setelah pemicu biasa, dan gejala-gejala seringkali muncul tanpa berbagai pemicu yang jelas. Hal ini tidak jelas bagaimana seluruh pemicu tersebut berhubungan dengan penyebab IBS.

GEJALA
IBS cenderung terjadi di usia remaja dan 20-tahunan, menyebabkan serangan pada gejala-gejala yang berulang pada periode yang tidak teratur. Serangan pada akhir hidup dewasa tidak umum tetapi tidak langka. Serangan hampir selalu terjadi ketika seseorang sadar, dan jarang membuat seseorang terjaga dari tidur.

Gejala-gejala termasuk nyeri perut berhubungan dengan atau diringankan dengan melakukan buang air besar (defekasi), perubahan pada frekwensi kotoran (seperti sembelit atau diare) atau konsistensi, perluasan perut (distention), lendir pada kotoran, dan rasa tidak sepenuhnya kosong setelah buang air besar. Nyeri tersebut bisa menimbulkan rasa sakit atau kram yang terus menerus muncul, biasanya di sepanjang perut bagian bawah. Kembung, gas, mual, sakit kepala, lelah, depresi, gelisah, dan sulit konsentrasi adalah gejala-gejala lainnya. Pada umumnya, karakter dan lokasi nyeri tersebut, memicu (faktor yang mempercepat), dan pola pada gerakan isi perut secara relatif konsisten sepanjang waktu. Meskipun begitu, gejala-gejala bisa meningkat atau menurun pada tingkat keparahannya dan juga berubah sepanjang waktu.

DIAGNOSA
Kebanyakan orang dengan IBS terlihat sehat. Uji fisik umumnya tidak menunjukkan apapun yang tidak umum kecuali kadangkala kelembutan di sepanjang usus besar. Dokter biasanya melakukan beberapa tes-misal, tes darah, penelitian kotoran, dan sigmoidoskopi-untuk membedakan IBS dari penyakit Crohn, ulcerative colitis, kanker (sebagian besar pada orang yang berusia lebih dari 40 tahun), collagenous colitis, lymphocytic colitis, dan banyak penyakit lainnya yang bisa menyebabkan nyeri perut dan perubahan pada kebiasaan buang air. Hasil tes ini biasanya normal pada orang dengan IBS, meskipun kotoran tersebut kemungkinan berair, dan prosedur sigmoidoskopi bisa menyebabkan kejang dan nyeri yang tidak umum. Dokter biasanya melakukan tes lagi-seperti ultrasound perut, sinar X pada usus, atau colonoscopi-pada orang tua dan pada mereka yang mengalami gejala-gejala yang tidak umum untuk IBS, seperti demam, kotoran berdarah, berat badan hilang, dan muntah.
Gangguan saluran pencernaan lain (seperti radang usus buntu, penyakit batu empedu, borok, dan kanker) bisa terbentuk pada seseorang dengan IBS, terutama setelah usia 40 tahun. dengan demikian, jika gejala seseorang berubah secara signifikan atau tidak biasanya untuk IBS, penelitian lebih lanjut kemungkinan diperlukan.

PENGOBATAN
Pengobatan berbeda dari orang ke orang. Jika makanan atau jenis stress tertentu muncul untuk membuat masalah, mereka harus menghindari jika mungkin. Untuk kebanyakan orang, khususnya mereka yang cenderung untuk sembelit, kegiatan fisik teratur membantu menjaga fungsi saluran pencernaan secara normal.

Pada umumnya, diet normal adalah terbaik. Kebanyakan orang lebih baik sering makan, makanan porsi kecil dibandingkan tidak sering dengan porsi makanan besar (misal, lima atau enam kali makanan porsi kecil dibandingkan tiga porsi makanan besar setiap hari). Orang dengan perut kembung dan peningkatan gas (gas dalam perut) harus menghindari kacang-kacangan, kubis, dan makanan lain yang sulit untuk dicerna. Sorbitol, dan pemanis buatan digunakan pada makanan diet dan pada beberapa obat-obatan dan mengunyah permen karet, harus tidak dikonsumsi dalam jumlah besar. Fruktosa, gula yang ditemukan dalam buah-buahan, berry, dan beberapa tanaman, harus dimakan hanya dalam jumlah sedikit. Diet rendah lemak membantu beberapa orang, terutama mereka yang perutnya terlalu lambat atau terlalu cepat kosong. Orang yang mengalami baik IBS dan kekurangan laktosa harus mengkonsumsi produk susu tidak berlebihan. Bahkan pasien dengan kekurangan laktosa bisa kemungkinan harus mengkonsumsi segelas susu dalam jumlah sedikit sepanjang hari.

Sembelit seringkali dihilangkan bisa dengan mengkonsumsi lebih banyak serat. Orang yang mengalami sembelit bisa menggunakan satu sendok teh gandum dengan sedikit air dan cairan lain pada setiap makanan, atau mereka bisa menggunakan suplemen psyllium mucilloid dengan 2 gelas air. Menambahkan serat makanan bisa membuat gas dalam perut dan kembung. Kadangkala, beberapa gas dalam perut kemungkinan dikurangi dengan mengganti serat sintetis buatan (seperti methylcellulose). Obat pencuci perut termasuk yang mengandung sorbitol, lactulose, atau polyethylene glycol, dan obat pencuci mulut perangsang seperti yang mengandung bisacodyl atau gliserin. Lubiprostone, obat pencuci perut terbaru, bisa juga menghilangkan sembelit.

Relaksan otot-halus, seperti dicyclomine, bisa menghilangkan nyeri perut tetapi sering menyebabkan efek samping anticholinergic, seperti mulut kering, penglihatan buram, atau kesulitan berkemih. Obat-obatan anti diare, seperti diphenoxylate atau loperamide, membantu orang dengan diare, sebagaimana obat-obatan seperti alosetron, yang mengurangi efek serotonim, penghantar bahan kimia di dalam tubuh. Minyak aromatik, seperti minyak pepermin, seringkali membantu gejala-gejala gas dalam perut dan kram. Antidepresan, tekhik modifikasi perilaku (seperti terapi perilaku kognitif), psiko terapi, dan hypnotis seringkali sangat efektif untuk mengendalikan gejala-gejala pada IBS. Penggunaan jangka panjang pada antidepresan dalam dosis yang rendah atau lebih tinggi yang layak aman. Antidepresan bisa tidak hanya menghilangkan nyeri dan gejala-gejala lain tetapi juga bisa membantu menghilangkan masalah-masalah tidur dan depresi atau gelisah.

Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:52 pm; edited 10 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Tue Jun 29, 2010 10:40 am

SERING DIARE ATAU SEMBELIT, AWAS IBS!
Senin, 29 Maret 2010 | 16:04 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Apakah Anda sering sembelit atau diare tanpa penyebab yang jelas? Jika gangguan itu datang saat Anda sedang banyak pekerjaan atau stres, maka besar kemungkinan Anda mengalami irritable bowel syndrome alias sindrom iritasi usus besar atau sering disebut juga kolon spastik. Irritable bowel syndrome (IBS) adalah diagnosis bagi orang yang terus-menerus terganggu oleh sembelit, diare, kembung, mual, sakit perut atau perasaan tidak enak, entah sendiri-sendiri atau gabungan. IBS merupakan kondisi kronis yang mungkin terjadi secara hilang-timbul dalam hidup.

Menurut dr Ari Fahrial Syam, SpPD, konsultan lambung pencernaan dari RS MH Thamrin Jakarta, IBS dialami oleh 20 persen penduduk dan lebih banyak diderita perempuan. Namun karena tanda dan gejalanya sering hanya berupa keluhan gangguan pencernaan biasa dan terjadi sekali-sekali, banyak orang tidak pergi ke dokter.

"Orang sering kali menyamakan IBS dengan gangguan maag, padahal IBS memiliki ciri rasa tidak enak di bagian perut bawah, sedangkan penyakit maag terjadi di bagian perut atas," tutur dr Ari. Selain itu, IBS memiliki gejala khusus berupa perubahan dari buang air normal dengan bentuk tinja padat setiap hari menjadi beberapa kali BAB dengan hasil encer. "Gejala utama penyakit ini adalah sembelit atau justru diare berturut-turut," tambah dr Ari.

Penyebab IBS belum diketahui sehingga belum ada obatnya. Pengobatan yang dilakukan oleh dokter hanya untuk menghilangkan gejala. Penelitian menunjukkan, penderita IBS cenderung memiliki usus yang sensitif sehingga beraksi berlebihan pada rangsang, yang bagi orang lain tidak berpengaruh. Misalnya karena makanan pedas, berlemak, atau minum kopi. Meski IBS menimbulkan ketidaknyamanan, hal itu tidak menimbulkan gangguan permanen pada usus dan tidak menyebabkan perdarahan lambung atau penyakit serius seperti kanker.

Untuk mencegah, pilihlah makanan secara berhati-hati. Jika makanan tertentu tampaknya memicu gejala, jangan dikonsumsi lagi. Kadang-kadang diet tinggi serat bisa cukup membantu. Jangan lupa untuk minum banyak cairan karena cairan membantu mengurangi sembelit dan menggantikan cairan tubuh yang diserap oleh serat. Stres juga memperburuk IBS. Itu sebabnya segera kelola stres Anda dengan bantuan teknik relaksasi, seperti meditasi, hipnosis, atau olahraga teratur.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:57 pm; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Tue Jun 29, 2010 10:43 am

DARI MAAG BERKEMBANG JADI KANKER
Minggu, 21 November 2010 | 17:46 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta - Rasa nyeri di sekitar perut dan ulu hati kerap menyerang Endri Kurniawati, 35 tahun, sejak 2004. Semula, ia menduga hal itu sebagai bagian dari sakit maag. Oleh dokter yang memeriksanya, keluhan itu pun dianggap sebagai bagian dari maag. Dia disarankan agar menjaga pola makan dan berpantang mengudap makanan tertentu. Kebanyakan orang memang menganggap rasa sakit seperti yang dirasakan Endri di sekitar perut dan ulu hati itu adalah gejala maag. Stres dan tidak teraturnya makan sering kali menjadi faktor pemicu penyakit tersebut.

Perempuan yang berwirausaha di bidang batik itu baru mendapatkan kepastian tentang penyakitnya tersebut pada 2007. Saat itu ia meminum susu dan seruas jari dodol durian. Padahal teh, cokelat, kopi, susu, dan mi goreng merupakan jenis makanan dan minuman yang amat dihindari oleh Endri. "Kalau makan makanan itu, istilahnya saya salah makan. Perut langsung sakit dan bengkak, sampai saya enggak bisa napas," kata perempuan berdarah Madura itu. Saat berobat, dokter yang memeriksa menawarinya untuk melakukan endoskopi (peneropongan) dan biopsi (pengambilan jaringan untuk pemeriksaan mikroskopik) lambung. Endri pun menuruti saran dokter. "Saat itulah ketahuan ada infeksi Helicobacter pylori di lambung saya," katanya.

Penyakit Endri ini dikenal dengan nama gastritis--peradangan lapisan lambung yang kronis--disebabkan Helicobacter pylori. Dokter kemudian memberikan antibiotik ganda selama lima hari. Tahun lalu, ketika Endri menjalani tes UBT (urea breath test), bakteri itu sudah tak ada di lambungnya. Namun sesekali dia mengaku masih merasakan sakit di perut jika salah makan. "Mungkin itu sisa bakterinya," ujarnya.

Dokter spesialis penyakit dalam, Ari Fahrial Syam, mengingatkan pasien yang memiliki keluhan sakit maag untuk waspada terhadap keberadaan bakteri ini. Bakteri helico, kata dosen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu, memang satu-satunya bakteri yang bisa hidup di lambung. Kuman lain tak bisa hidup karena adanya asam lambung. Keberadaan bakteri ini ditemukan oleh dua peneliti Australia, Barry J. Marshall dan J. Robin Warren, pada 1982. Pada 2005 keduanya mendapat hadiah Nobel di bidang kesehatan.

Ari Fahrial, yang merupakan ahli gastroenterologi, juga pernah melakukan penelitian mengenai bakteri ini pada 2003 dan melakukan penelitian mengenai penggunaan antibiotik selama tujuh hari pada 2005 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo. Antibiotik memang obat yang dapat menghilangkan bakteri dalam lambung. Ari menyarankan penggunaan dua macam antibiotik yang dikombinasikan dengan obat anti-asam lambung untuk penderita yang positif terkena bakteri helico. "Penggunaan obat akan efektif jika dilakukan selama tujuh hari," kata peraih Young Clinician Award pada World Congress of Gastroenterology Bangkok 2002 itu.

Meski memiliki gejala yang sama dengan maag, Ari menyarankan orang yang merasa sakit maag dengan keluhan tambahan, seperti turunnya berat badan, muka pucat, dan tinja yang dikeluarkan berwarna hitam untuk segera memeriksakan kemungkinan adanya bakteri ini. Jika dibiarkan, bakteri ini akan menyebabkan kanker lambung."Jika tidak diobati, kuman ini bisa menyebabkan kanker lambung," kata Ari. Keberadaan bakteri dalam lambung ini dapat dideteksi melalui dua cara, yaitu dengan cara endoskopi/biopsi atau dengan cara melakukan tes UBT.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:45 pm; edited 8 times in total
Back to top Go down
View user profile
 

Kesehatan Saluran Cerna

View previous topic View next topic Back to top 
Page 6 of 18Goto page : Previous  1 ... 5, 6, 7 ... 12 ... 18  Next

 Similar topics

-
» Kesehatan Saluran Cerna
» Kesehatan Saluran Kemih
» [Tips] menjaga kesehatan
» PENERBITAN BUKU KESEHATAN
» Kesehatan Tulang dan Otot

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-