Image
 
HomeHome  PortalPortal  GalleryGallery  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  MemberlistMemberlist  UsergroupsUsergroups  RegisterRegister  Log inLog in  

Share | 
 

 Kesehatan Saluran Cerna

View previous topic View next topic Go down 
Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 10 ... 18  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:09 pm

CABUT GIGI HARUS HATI HATI
Rabu, 10 Februari 2010 | 17:12 WIB
KOMPAS.com — Benarkah cabut gigi itu berbahaya dan bisa berakibat fatal? "Prinsipnya, cabut gigi itu aman dan tidak berbahaya, kok," kata drg Benny Poliman, MKes, dari RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta. Sebagai ilustrasi, setiap hari, di seluruh dunia, ribuan kali dilakukan pencabutan gigi, dan buktinya aman-aman saja. Kalaupun ada yang kemudian menjadi fatal, bisa jadi itu hanya kasus. Misalnya, ternyata pasien punya penyakit berat tertentu sebelumnya. Gigi memiliki beberapa bagian, antara lain email sebagai bagian terluar, lalu di bawahnya ada dentin, dan bagian paling dalam adalah pulpa. Jika yang rusak email-nya, masih bisa ditambal. Begitu pula bila yang rusak bagian dentin, masih bisa dirawat.

Namun, jika yang rusak adalah bagian pulpa, maka harus dilakukan perawatan saraf. Pulpa adalah suatu rongga di bawah dentin, di mana di dalamnya terdapat berbagai elemen jaringan seperti pembuluh darah dan persarafan. "Masih belum dicabut, tapi harus dilakukan perawatan saraf. Sebetulnya, meskipun tinggal akar dan dalam kondisi mati, gigi masih bisa dipertahankan. Cuma, biaya perawatannya memang mahal. Semuanya tergantung pasien. Dokter memberi informasi, pasien sendiri yang menentukan," lanjut Benny.

Dibereskan dulu
Gigi harus dicabut karena berbagai alasan. Pada beberapa kasus, jika gigi tidak dicabut, maka bisa terjadi focal infection. "Bakteri dari gigi busuk bisa terbawa peredaran darah ke mana-mana, ke organ tubuh vital seperti jantung atau ginjal dan organ-organ lainnya," kata Benny.

Namun, gigi juga tak boleh dicabut sembarangan. "Harus sesuai prosedur. Pasien harus ditanya terlebih dulu, apakah memiliki riwayat penyakit dalam seperti diabetes atau darah tinggi. Penyakit diabetes, misalnya, akan memengaruhi penyembuhan luka, selain ditakutkan bisa menyebabkan infeksi. Contoh lain, pada penderita hipertensi, yang bisa menyebabkan perdarahan," kata Benny.

Sering kali pasien tidak menyampaikan atau bahkan tidak tahu riwayat penyakit yang ia punya. "Ini yang kadang-kadang membuat dokter kecolongan dan bahkan berakibat fatal. Cabut gigi, kan, termasuk operasi juga. Jadi, sebaiknya standar prosedurnya dilakukan dengan benar," jelas dokter gigi yang juga praktik di RS Royal Trauma, Jakarta Barat, ini.

Pasien yang baru saja menjalani operasi besar seperti jantung, atau pasien yang tengah menjalani perawatan kanker, juga tak bisa sembarangan mencabut gigi. Jika pasien ternyata memiliki penyakit-penyakit "berat" seperti di atas, atau baru saja menjalani operasi besar (misalnya operasi by pass), maka pencabutan gigi harus dikonsultasikan dengan dokter penyakit dalam yang merawatnya, atau malah ditunda. "Biasanya, sih, sebelum operasi besar, seperti operasi by pass, dilakukan check up menyeluruh, termasuk gigi. Kalau tidak, bisa repot," kata Benny.

Prinsipnya, sebelum menjalani operasi yang besar, sebaiknya giginya dibenarkan terlebih dulu. "Pasalnya, setelah operasi, pasien harus beristirahat lama untuk perawatan pasca-operasi. Jika terjadi apa-apa dengan gigi pada masa perawatan ini, maka tidak bisa dilakukan perawatan gigi."

Atau pada pasien kanker yang harus menjalani perawatan dengan penyinaran. "Setelah penyinaran,­ maka selama 5 tahun tidak boleh dicabut giginya. Kalau ada gigi yang bolong atau jelek, sebaiknya dibereskan dulu sebelum penyinaran. Jika tidak, bisa terjadi osteoradionekrose. Pada pasien penyakit jantung yang diberi obat pengencer darah, jika ada gigi yang harus dicabut, maka 5 hari sebelum dan sesudah pencabutan, ia harus berhenti minum obat pengencer darah. Dan harus dikonsultasikan dengan dokter jantung," papar Benny lagi.

Pilihan terakhir
Pergi ke dokter gigi, bagi kebanyakan orang, memang masih merupakan "momok". "Kebanyakan orang jarang ke dokter gigi, kecuali giginya sudah sangat mengganggu dan sakitnya tidak hilang-hilang. Biasanya, mereka sudah mencoba minum obat painkiller (penghilang rasa sakit) lebih dulu. Kalau tidak sembuh juga, barulah dia ke dokter gigi," kata Benny.

Meminum obat-obatan painkiller memang boleh-boleh saja. "Sebetulnya enggak apa-apa. Obat-obat painkiller itu, kan, dijual bebas di apotek dan bukan hanya untuk sakit gigi saja. Tapi, minum obat-obatan painkiller tidak akan menyembuhkan sakit giginya. Mengurangi rasa sakit iya, tapi tidak menyembuhkan. Jika terjadi infeksi pada gigi, maka gigi harus dibersihkan kumannya, yang busuk dibuang, lalu diberi antibiotik, dan sebagainya."
Prinsipnya, gigi harus dipertahankan karena dengan berkurangnya gigi, fungsi pencernaan akan terganggu. "Pencabutan gigi sebetulnya merupakan pilihan terakhir," pungkas Benny. (Nova/Hasto Prianggoro)


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:50 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:13 pm

PERLUKAH GERAHAM BUNGSU DICABUT?
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth - Rabu, 07/04/2010 09:27 WIB
Jakarta, Geraham bungsu pada orang dewasa memang tidak memiliki fungsi yang vital. Beberapa orang justru mengalami masalah ketika gigi tersebut mulai tumbuh dan memilih untuk mencabutnya. Haruskah dicabut? Geraham bungsu seperti dilansir dari Mayo Clinic adalah geraham ketiga pada orang dewasa, yang pertumbuhannya dimulai pada usia belasan tahun. Pada beberapa orang tumbuh di atas usia 20 atau 30 tahun, bahkan ada yang tidak tumbuh sama sekali. Menurut drg Roni Cahyadi dari Family Dental Care yang dihubungi DetikHealth Selasa (5/4/2010), geraham bungsu tidak menimbulkan masalah jika tumbuhnya normal.

Keluhan muncul apabila tumbuhnya tidak normal, baik tumbuh di dalam rahang (embedded) maupun tumbuh ke samping (impacted).
Masalah yang mungkin terjadi adalah terdesaknya gigi depan oleh geraham yang baru tumbuh. Jika tulang rahang tidak cukup besar untuk menampung gigi baru, maka susunan gigi menjadi berantakan. Masalah lainnya adalah pemumpukan sisa makanan, mengingat geraham bungsu letaknya sering tidak terjangkau saat menyikat gigi. Jika sisa makanan menumpuk, maka bakteri mudah tumbuh dan memicu infeksi pada gusi. Tak ada pilihan lain, jika sampai muncul masalah-masalah tersebut maka geraham bungsu harus dicabut. Kadang butuh operasi kecil, jika pencabutan biasa tidak memungkinkan. Untuk itu biasanya dilakukan foto rontgen sebelum dicabut.

Lantas perlukah dicabut apabila tumbuhnya normal, atau tumbuh tidak normal tetapi tidak menimbulkan masalah?
Ada silang pendapat di kalangan doker gigi. Beberapa berpendapat, tidak perlu dicabut selama tidak ada keluhan. Yang penting harus dipastikan kesehatan gigi dan gusi selalu terjaga. Pendapat lain mengatakan, geraham bungsu sebaiknya dicabut sebelum timbul masalah. "Karena pada dasarnya tidak punya fungsi, maka sebaiknya dicabut sebelum jadi masalah. Tapi tetap harus diperiksa dulu untuk memastikan perlu tidaknya pencabutan," kata drg Roni.


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:10 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:16 pm

JANGAN SEMBARANG CABUT GIGI BERLUBANG
Kamis, 14 Mei 2009, 07:02 WIB Petti Lubis
VIVAnews - Sekecil apapun lubang pada gigi, sebaiknya memang dirawat secara tuntas. Pasalnya, semakin cepat ditangani, semakin minim kerugian yang ditanggung. Karenanya, jangan tunggu sakit, baru ke dokter gigi. Ketika dideteksi lubang gigi dangkal, masih memungkinkan dilakukan penambalan sebagai langkah perawatan. Namun, jika Anda memiliki lubang gigi yang sudah menembus saraf, dengan abses (nanah) dalam tulang rahang, biasanya dokter akan menganjurkan untuk melakukan perawatan saluran akar.

Prinsipnya, perawatannya adalah menghilangkan sumber infeksi, membentuk dan membersihkan saluran akar, kemudian diisi dengan bahan khusus, supaya tidak ada ruang kosong dan mencegah kuman masuk ke dalam tulang rahang. Namun, mungkin karena saking tidak kuatnya menahan nyeri gigi, tidak sedikit pasien yang ingin giginya secepatnya dicabut. Padahal, kendati lubang pada gigi sudah mencapai akar, jika masih ada jaringan sehat, pasien tidak perlu menjalani operasi pencabutan gigi. Jika seluruh jaringan gigi yang rusak dan membusuk diangkat tuntas, rasa sakit yang sebelumnya dialami, akan hilang seketika,

Jadi, jika gigi masih bisa dipertahankan, sebaiknya jangan sembarang dicabut. Apalagi, bila gigi yang sudah tanggal itu tidak segera diganti. Karena, ruang kosong pada gusi lama kelamaan akan mengganggu keseimbangan pengunyahan. Misalnya, Anda terpaksa mengunyah pada satu sisi, yang akan berdampak pada kerusakan sendi rahang. Kelainan ini bisa ditandai ketika membuka dan menutup mulut terdengar suara ‘klak’, ‘klak’ pada sendi rahang. Bila dibiarkan bisa-bisa rahang tidak bisa menutup, setelah membuka lebar, misalnya ketika menguap. Anda tidak ingin hal itu terjadi, bukan? Selepas perawatan saluran akar selesai, masih ada satu tahap lagi yang diperlukan, yaitu pembuatan restorasi (tambalan atau mahkota tiruan). Restorasi ini penting untuk mengembalikan bentuk, fungsi dan melindungi gigi yang sudah dirawat agar dapat bertahan seterusnya dalam mulut.

Nah, jika semua masalah gigi Anda sudah ditangani tuntas, langkah selanjutnya adalah merawat gigi secara tepat, dengan cara menggosok gigi minimal 2 kali sehari. Setelah sarapan dan sebelum tidur. Menggosok gigi sebelum tidur penting sekali. Sebab, selama tidur tidak ada aktivitas sehingga proses pembusukan akan lebih cepat terjadi. Namun, ada pendapat lain yang mengatakan, jangan langsung menggosok gigi sehabis makan. Mengapa? Setelah makan, hasil fermentasi sisa makanan berupa senyawa bersifat asam dan membuat lingkungan sekitar gigi bersuasana asam. Dalam beberapa menit derajat keasaman tadi akan meningkat. Bila menyikat gigi pada saat derajat keasaman dalam mulut masih pada tingkat kritis, ternyata dapat memicu dekalsifikasi (hilangnya garam kalsium) pada email gigi, yang diduga bisa mempercepat kerusakan gigi. Jadi, sebaiknya tunda menyikat gigi segera setelah makan, setidaknya sekitar 20-30 menit sesudah makan. • VIVAnews


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:12 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:18 pm

KAPAN GIGI HARUS DICABUT?
Jumat, 12 Februari 2010 | 15:08 WIB
KOMPAS.com - Banyak alasan kenapa gigi harus dicabut. Berikut beberapa diantaranya:

- Jika gigi sudah rusak parah, misalnya karies yang tak bisa ditolong lagi.
- Alasan mencari tempat untuk perawatan ortho. Jika ada gigi yang berdempetan atau bertumpuk, maka harus dicabut, sekalipun itu gigi sehat.
- Alasan pembuatan gigi palsu. Misalnya pada lubang bekas gigi yang dicabut tapi tidak dibuatkan gigi palsu dalam jangka waktu lama. Akibatnya, gigi di sebelahnya menjadi miring dan gigi antagonisnya (lawannya) bisa memanjang.
- Gigi patah vertikal atau goyang akibat kecelakaan, dan tidak bisa dipertahankan lagi.
- Gigi yang berada di daerah patahan tulang rahang.
.- Gigi yang menyebabkan kista atau sinusitis.
- Gigi goyang yang tidak bisa dipertahankan lagi akibat penyakit gusi.
- Letak anatomi gigi yang tidak menguntungkan. Misalnya, gigi bungsu yang tumbuh tidak normal atau miring, sehingga membuat sisa-sisa makanan tidak bisa dibersihkan. Lama-kelamaan gigi akan bolong, dan membuat gigi di depan gigi bungsu ikut-ikutan bolong. Nah, daripada menjalar, sebaiknya gigi bungsu ini dicabut.
- Biaya mahal. Misalnya, gigi seharusnya mendapat perawatan karena karies berat, tetapi karena waktu dan biaya yang mahal, akhirnya pasien memilih dicabut giginya.


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:52 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:20 pm

BAHAYA MEMUTIHKAN GIGI DIRUMAH
Sabtu, 6 November 2010 | 09:32 WIB
Kompas.com - Gigi yang berwarna kuning, terlihat abu-abu, atau cokelat bisa membuat pemiliknya menjadi kurang pede untuk tersenyum. Karena itu pemutihan gigi atau bleaching banyak dilakukan untuk mereka yang mendambakan warna gigi putih seperti mutiara. Masalahnya, tindakan bleaching tersebut bisa berdampak buruk bagi gigi, apalagi jika dilakukan sendiri di rumah.

Tindakan bleaching di rumah biasanya menggunakan baking soda, abu, serta hidrogen perioksida. Teknik ini cukup populer karena dianggap lebih rumah ketimbang harus perawatan gigi di klinik gigi. Para dokter gigi di Inggris baru-baru ini mengeluarkan pernyataan mengenai bahaya melakukan bleaching di rumah. Bahaya tersebut antara lain penipisan enamel yang melapisi gigi sehingga gigi menjadi transparan dan warnanya justru akan terlihat lebih gelap.

"Penggunaan baking soda berulang kali pada gigi bisa menipiskan enamel gigi sehingga gigi jadi sensitif, bahkan rapuh," kata profesor Anthony Eder, dokter gigi dari London Tooth Whitening Centre. Proses pemutihan gigi pada dasarnya bekerja seperti obat pembersih lantai untuk mengikis kotoran di permukaan. Bahan-bahan kimia yang ada memang bisa menyingkirkan kotorannya, tapi jika terus dilakukan bisa merusak gigi. Tindakan pemutihan gigi sebenarnya aman, selama dilakukan dengan prosedur yang tepat oleh dokter gigi. Lagipula, tidak semua orang bisa melakukan pemutihan gigi. Hal lain yang perlu diketahui adalah proses bleaching tidak menjamin warna gigi akan putih seperti mutiara karena rentang warna gigi tiap orang berbeda.


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:13 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:22 pm

LEBIH BAIK TIDAK MEMUTIHKAN GIGI SENDIRI
Senin, 25 Januari 2010 | 19:17 WIB
KOMPAS.com - Gigi putih memang kunci untuk senyum menawan. Ketika Anda ingin punya gigi putih, hal ini dapat diperoleh dalam sekejap mata. Misalnya dengan meminta perawatan khusus dokter gigi yang berspesialis di bidang kecantikan gigi. Para peminat perawatan pemutihan gigi ini cenderung makin tinggi. ''Kita diminta untuk menciptakan gigi yang putih bersinar layaknya porselen dengan cara menggunakan bleaching yang saat ini sedang tren,'' tutur dokter gigi asal New York, Dr Gerald P. Curatola.

Namun, pemutihan gigi juga bisa dilakukan sendiri di rumah. Sebab saat ini krim dan replika gigi yang dipakai untuk menaruh krim atau gel pemutihnya dapat dengan mudah ditemukan di apotik. Cara dengan mengoleskan krim pemutih pada replika gigi, lalu replika dipasangkan ke gigi kita. Pemakaian kedua bahan ini tidak boleh terlalu sering, karena selama proses pelepasan replika tersebut dari gigi, zat kimia bernama peroksida yang ada pada krim pemutih akan melepaskan radikal bebas karsinogen (penyebab kanker dan tumor), dan menyebabkan bakteri baik yang dibutuhkan di dalam mulut mati. Hal ini membuat enamel atau lapisan gigi menjadi mudah keropos.

''Supaya tetap aman, kurangi intensitas menggunakan gel pemutih di rumah hanya satu kali setiap 3 bulan,'' tutur Curatola. Cara lain, setelah menggunakan gel berkumur-kumurlah segera dengan air putih (mineral) untuk membuang sisa peroksida. Setelah diberi krim pemutih, gigi kita akan lebih sensitif. Karena itu sebaiknya Anda selalu menggunakan pasta gigi biasa untuk memperkuat enamel gigi agar tidak keropos (bukan pasta gigi pemutih yang membuat gigi makin sensitif). ''Gunakan juga sikat gigi yang lembut setelah proses pemutihan,'' ungkapnya.


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:22 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:25 pm

UNTUNG RUGI KESEHATAN DARI MEMUTIHKAN GIGI
Sabtu, 17/07/2010 12:30 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Senyum manis dengan gigi yang putih cemerlang tentunya menjadi idaman dari setiap orang. Untuk mendapatkan hal itu, banyak orang yang melakukan pemutihan gigi atau bleaching. Apa saja untung dan rugi kesehatan dari melakukan pemutihan gigi? Bleaching gigi biasanya dilakukan untuk menghilangkan warna gigi yang kuning atau kusam akibat sisa-sisa makanan seperti kopi, coklat, rokok, obat atau ada juga yang warnanya berubah karena terjadi perubahan struktur di dalam gigi. Dilansir dari Health24, Sabtu (17/7/2010), berikut beberapa keuntungan dan kerugian melakukan pemutihan gigi:

Keuntungan
1. Gigi yang gelap atau kusam dari dibersihkan dalam waktu yang relatif singkat (dari 4-5 hari hingga 3 atau 4 minggu)
2. Meningkatkan rasa kepercayaan diri dan efek psikologis yang ditimbulkannya
3. Orang bisa mengontrol tingkat keputihan giginya

Kerugian
1. Orang perlu memakai zat pemutih (bleaching trays) selama enam sampai delapan jam per hari untuk mendapatkan efek yang maksimal. Padahal bahan kimia yang digunakan untuk memutihkan gigi dapat mengubah persepsi rasa dan mengganggu pencernaan.
2. Sering melakukan pemutihan gigi bisa mengakibatkan hipersensitif gigi
3. Iritasi pada jaringan lunak
4. Sakit tenggorokan
5. Kesulitan untuk menggigit
6. Bleaching gigi juga bisa bikin kecanduan atau ketagihan

Dan menurut drg Armasastra Bahar, PhD, anggota Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), gigi yang berwarna gading sebenarnya lebih baik dibandingkan dengan gigi putih, karena gigi yang terlalu putih menunjukkan struktur yang kurang kuat.(mer/ir)


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:23 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:27 pm

AMANKAH MEMUTIHKAN GIGI?
Vera Farah Bararah - detikHealth - Rabu, 24/03/2010 11:30 WIB
Jakarta, Gigi putih cemerlang menjadi idaman yang membuat seseorang terlihat menarik saat tersenyum sehingga bisa meningkatkan kepercayaan diri. Segala cara dilakukan untuk bikin gigi putih termasuk melakukan pemutihan (bleaching) gigi.

Seberapa aman proses bleaching itu?
"Proses memutihkan gigi atau bleaching bisa dibilang aman tapi bisa juga dibilang tidak aman, ini tergantung dari bahan dan dosis yang digunakan. Jika menggunakan peroksida umumnya bisa menyebabkan gigi menjadi rusak," ujar drg Armasastra Bahar, PhD, saat dihubungi detikHealth, Rabu (24/3/2010).

Bleaching gigi biasanya dilakukan untuk menghilangkan warna gigi yang kuning atau kusam akibat sisa-sisa makanan seperti kopi, coklat, rokok, obat atau ada juga yang warnanya berubah karena terjadi perubahan struktur di dalam gigi. drg Armasastra menuturkan bleaching gigi bisa saja dilakukan jika warnanya memang sudah sangat mengganggu dan dapat menurunkan kepercayaan diri seseorang.

Tapi menurutnya gigi yang berwarna gading lebih baik dibandingkan dengan gigi putih, karena gigi yang terlalu putih menunjukkan struktur yang kurang kuat.
"Jika warna gigi berubah akibat sisa-sisa makanan maka bisa dihilangkan dengan perawatan ke dokter gigi dan tidak perlu di bleaching, tapi jika perubahan akibat intrinsik atau faktor dari dalam struktur gigi tersebut maka kondisi ini tidak bisa dihilangkan," ujar dokter yang juga anggota Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI).

drg Armasastra menjelaskan selama ini ada dua cara yang dilakukan untuk memutihkan gigi (bleaching) yaitu:
1. Membuat lapisan tipis pada gigi dengan menggunakan bahan tertentu.
Tapi ini biasanya hanya bertahan beberapa bulan saja lalu warna gigi akan kembali seperti semula dan proses ini membuat seseorang harus mengulanginya lagi.

2. Teknik bleaching dengan menggunakan bahan yang dapat mengubah warna gigi dari dalam atau mengubah struktur giginya, dan proses ini bisa berbahaya karena dapat mempengaruhi struktur gigi secara keseluruhan.

"Menurut saya gigi yang bersih dan sehat jauh lebih bagus dibandingkan dengan gigi yang putih, jadi sebaiknya rawatlah gigi dengan menggosok gigi secara teratur dan benar serta menggunakan sikat dan pasta gigi yang tepat," ujar dokter dari FKG UI ini. Selain itu hindari menyikat gigi langsung setelah makan, karena saat habis makan kadar pH dalam mulut berubah dan menyikat gigi bisa menyebabkan lapisan email gigi menipis. Sebaiknya tunggulah selama 30 menit setelah makan, baru menyikat gigi. Dan juga sebaiknya gunakan pasta gigi yang mengandng flouride karena bisa memperkuat struktur gigi dan mencegah gigi menjadi bolong.


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:24 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:29 pm

BAHAYA MEMUTIHKAN GIGI DIRUMAH
Sabtu, 6 November 2010 | 09:32 WIB
Kompas.com - Gigi yang berwarna kuning, terlihat abu-abu, atau cokelat bisa membuat pemiliknya menjadi kurang pede untuk tersenyum. Karena itu pemutihan gigi atau bleaching banyak dilakukan untuk mereka yang mendambakan warna gigi putih seperti mutiara. Masalahnya, tindakan bleaching tersebut bisa berdampak buruk bagi gigi, apalagi jika dilakukan sendiri di rumah.

Tindakan bleaching di rumah biasanya menggunakan baking soda, abu, serta hidrogen perioksida. Teknik ini cukup populer karena dianggap lebih rumah ketimbang harus perawatan gigi di klinik gigi. Para dokter gigi di Inggris baru-baru ini mengeluarkan pernyataan mengenai bahaya melakukan bleaching di rumah. Bahaya tersebut antara lain penipisan enamel yang melapisi gigi sehingga gigi menjadi transparan dan warnanya justru akan terlihat lebih gelap.

"Penggunaan baking soda berulang kali pada gigi bisa menipiskan enamel gigi sehingga gigi jadi sensitif, bahkan rapuh," kata profesor Anthony Eder, dokter gigi dari London Tooth Whitening Centre. Proses pemutihan gigi pada dasarnya bekerja seperti obat pembersih lantai untuk mengikis kotoran di permukaan. Bahan-bahan kimia yang ada memang bisa menyingkirkan kotorannya, tapi jika terus dilakukan bisa merusak gigi. Tindakan pemutihan gigi sebenarnya aman, selama dilakukan dengan prosedur yang tepat oleh dokter gigi. Lagipula, tidak semua orang bisa melakukan pemutihan gigi. Hal lain yang perlu diketahui adalah proses bleaching tidak menjamin warna gigi akan putih seperti mutiara karena rentang warna gigi tiap orang berbeda.


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:46 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:31 pm

KIKIR GIGI DAN RISIKONYA
Vera Farah Bararah - detikHealth - Selasa, 12/01/2010 11:40 WIB
Jakarta, Mengikir gigi kadang-kadang dilakukan orang untuk meratakan gigi atau memotong gigi yang terlalu panjang agar penampilan terlihat lebih apik. Ilmu kesehatan menyarankan agar hati-hati dalam mengikir gigi karena ada risiko yang harus ditanggung. drg Arma Sastra Bahar PhD mengatakan hal yang perlu diperhatikan dalam mengikir gigi adalah ketebalan dari email gigi. Email gigi yang berkurang akan membuat gigi lebih cepat rusak.

"Kikir gigi yang selama ini dilakukan biasanya mengikis email atau bagian ujung dari gigi orang tersebut, sehingga lapisan emailnya menjadi berkurang," ujar drg Arma saat dihubungi detikHealth, Selasa (12/1/2010). Email merupakan lapisan terluar dari gigi dan dibentuk oleh sel-sel yang disebut dengan ameloblast. Fungsi email gigi mencegah gigi agar tidak berlubang. Meskipun lapisan email gigi ini sangat keras tapi rentan terhadap asam yang berasal dari makanan atau hasil metabolisme dan fermentasi makanan yang dikonsumsi. Orang yang sering makan asam juga bisa mempercepat kerusakan email gigi.

Bagian gigi terdiri dari email gigi, mahkota gigi, gusi, ruang pulpa, leher gigi, dentin, tulang alveolar, saluran akar, cementum dan ligamen periodontal. drg Arma menuturkan jika setelah dikikir lapisan gigi yang tersisa masih jauh dari pulpa,-- yaitu bagian tengah gigi yang terdiri dari saraf dan pembuluh darah--, maka hal ini tak masalah untuk dilakukan. Tapi berbeda halnya jika ketebalan email dari gigi tersebut sudah tipis.

"Kalau setelah dikikir hasilnya dekat dengan bagian pulpa gigi maka bisa berbahaya. Karena jaringan tersebut terbuka akan membuat gigi lebih sensitif, mudah bolong serta sangat rentan terkena infeksi yang nantinya bisa berakibat pada kerusakan gigi itu sendiri," ujar dokter yang juga masih aktif mengajar di FKG-UI ini.
Untuk alasan itulah kikir gigi harus dilakukan oleh dokter atau orang yang ahli. Jika ketebalan dari email ini tidak memungkinkan untuk dikikir, maka sebaiknya kikir gigi tidak dilakukan. Karena tidak ada manfaat yang bisa diambil dari hal ini, tapi justru bisa merusak gigi orang tersebut.

"Dengan mempertimbangkan masalah ini, setahu saya tradisi kikir gigi pun sekarang hanya sebagai simbolis atau ritual saja dan tidak benar-benar mengikir atau mengikis gigi. Karena memang jika dilihat tidak ada manfaat dari kikir gigi ini sendiri kecuali hanya ritual saja," ungkap drg Arma. Jika Anda ingin melakukan kikir hanya agar gigi terlihat rapi saja, sebaiknya dipertimbangkan kembali apa manfaat dan kemungkinan kerugian yang bisa didapat dari hal ini. Jika ketebalan dari email gigi memang tidak memungkinkan, sebaiknya kikir gigi jangan dilakukan.


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:21 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:34 pm

BERAPA BANYAK JUMLAH GIGI YANG DIBUTUHKAN?
Vera Farah Bararah - detikHealth - Rabu, 20/01/2010 08:17 WIB
Jakarta, Orang dewasa memiliki 32 gigi termasuk gigi bungsu di belakang yang pada banyak orang telah dicabut. Bagaimana jika jumlah gigi kurang dari itu? Berapa jumlah gigi yang benar-benar dibutuhkan? Gigi manusia berevolusi terakhir kali pada saat seseorang memasuki usia 45-50 tahun atau dikatakan telah lebih dari cukup dalam menemani perjalanan manusia. Gigi yang rusak atau busuk bisa terjadi sejak masa anak-anak, tapi jika kerusakan sudah parah atau tidak mendapat dukungan lagi dari gusi maka biasanya gigi sudah tidak bisa dipertahankan. Untuk mengganti gigi yang rusak banyak orang memilih implan gigi agar jumlah giginya lengkap.

Fungsi inti dari gigi adalah membantu seseorang untuk makan (mengunyah dan merobek makanan) serta berbicara. Nah, peneliti menemukan untuk menunjang fungi minimum dari gigi setidaknya diperlukan 20 dari 32 gigi yang ada. Karenanya jika masih memiliki gigi lebih dari 20 tidak terlalu bermasalah kalau tak menggunakan gigi palsu. Tapi bagi orang yang hanya memiliki jumlah gigi sebanyak 20, dokter gigi berpendapat masih tetap bisa bekerja dengan baik asalkan memusatkan kerjanya pada gigi depan. Gigi depan merupakan bagian gigi yang penting secara penampilan, sedangkan gigi geraham adalah bagian gigi yang paling sulit dan mahal dalam hal melakukan pengobatan.

Seperti dikutip dari Independent, Rabu (20/1/2010) orang yang sudah berusia lebih dari 40 tahun biasanya akan mulai kehilangan mahkota atau lapisan dari gigi. Sehingga dibutuhkan pemeliharaan yang lebih rumit dibandingkan dengan orang dewasa muda. Profesor Jimmy Steele, ketua dari sekolah kedokteran gigi di Newcastle University menuturkan hal ini akan mendorong meningkatnya biaya perawatan.

Saat ini fungsi dari gigi tidak hanya sebatas membantu mengunyah atau berbicara, tapi juga pada faktor estetika atau penampilan. Meskipun jumlah gigi yang dimiliki lebih dari 20, tapi jika akibat gigi yang hilang dapat merusak penampilan maka implan gigi tetap dilakukan oleh sebagian orang. Meskipun minimal hanya 20 gigi yang dibutuhkan, bukan berarti seseorang bebas mencabut atau tidak merawat giginya dengan baik. Karena gigi merupakan salah satu organ yang penting dalam tubuh. Kehilangan satu gigi saja sudah termasuk dalam bentuk kecacatan.


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:46 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:40 pm

CARA KAWAT GIGI BERAKSI
Kamis, 29/07/2010 09:25 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Kawat gigi digunakan untuk membantu memperbaiki penampilan gigi yang berantakan. Alat ini bisa digunakan oleh anak-anak maupun orang dewasa. Bagaimana cara kerja kawat gigi ini? Kawat gigi membantu gigi agar bisa tumbuh sesuai dengan tempatnya atau dalam posisi lurus serta memperbaiki posisi gigi yang kurang tepat. Beberapa kawat gigi ada yang menggunakan kawat baja atau brackets, sedangkan yang lebih moderen lagi menggunakan perangkat yang bisa diubah dengan bahan plastik. Kawat gigi bisa membantu mencegah tumbuhnya gigi di posisi yang salah. Gigi yang salah posisi dapat mempengaruhi gusi, karena nantinya gusi akan menjadi lemah sehingga gigi menjadi mudah copot. Kawat gigi juga berguna untuk memperbaiki pengucapan seseorang yang terhambat karena kondisi gigi yang salah, mengurangi sakit pada rahang akibat kondisi gigi yang buruk serta untuk merapikan gigi. Saat kunjungan pertama, dokter akan melakukan pemeriksaan X-ray untuk memeriksa dan mencari lokasi yang tepat dari gigi, struktur tulang dan bagaimana ruang yang ada antar gigi. Nantinya kawat yang diberikan akan mendorong gigi ke arah yang sebenarnya. Karena kawat akan bertindak sebagai kompresor yang memberikan penekanan pada gigi sehingga terjadi resorpsi tulang. Setelah kawat gigi direkatkan ke gigi, maka sistem kabel lengkungan dan karet akan memindahkan gigi ke posisinya. Hal ini terjadi sebagai peregangan lembut dan tekanan yang stabil dari membran periodontal pada satu sisi gigi dan menekan gigi yang lainnya.

Perubahan dalam membran periodontal menyebabkan gigi tidak menempel di posisinya. Namun kawat dan karet yang ada tetap memberikan tekanan pada gigi, sehingga tulang akan tumbuh untuk mendukung gigi ke posisi yang benar. Seperti dikutip dari Livestrong, Kamis (29/7/2010) perubahan tekanan yang diberikan oleh kawat dan karet akan memberikan pengaruh terhadap osteoclast dan osteoblast yang berfungsi membentuk tulang pada gigi. Ketika kabel yang melengkung dan karet yang memberikan tekanan bekerja pada gigi, maka akan mengendurkan membran periodontal dan memungkinkan osteoclast untuk memindahkan gigi di rahang. Saat gigi sudah berada di posisi yang baru, maka osteoblast akan membangun tulang untuk menstabilkan gigi dan memastikan gigi berada di posisi yang benar. Hal ini tidak hanya membuat gigi berada di tempat yang tepat, tapi juga membuat struktur tulang lebih padat serta merapikan gigi. Terdapat beberapa alasan yang membuat seseorang harus menggunakan kawat gigi yaitu bentuk gigi bengkok, gangguan pernapasan, adanya ruang antar gigi, gigi yang tumbuhnya bertumpuk (overcrowding) dan juga overbite.


YANG HARUS DIHINDARI PEMAKAI KAWAT GIGI
Lusia Kus Anna | Sabtu, 6 Agustus 2011 | 12:41 WIB
Kompas.com - Kawat gigi atau braces merupakan bagian dari perawatan orthodonti untuk mempercantik gigi yang kurang rapi. Berbeda dengan dahulu, kini braces memiliki berbagai tampilan yang trendi dan bergaya sehingga makin banyak orang tertarik menggunakannya. Yang penting untuk diperhatikan para pengguna kawat gigi adalah masalah kebersihan dan kesehatan gigi. Bagian kawat, karet, dan materi lain yang dipakai di gigi bisa menarik sisa makanan dan plak yang akan menodai gigi, bahkan menimbulkan lubang jika kita malas membersihkannya. Dokter gigi merekomendasikan agar pengguna kawat gigi menyikat gigi setiap kali selai makan atau ngemil dengan pasta gigi yang mengandung fluoride, serta secara teliti membersihkan makanan yang mungkin masih terselip di sela kawat gigi. Ketika memakai kawat gigi, kebanyakan makanan masih bisa kita konsumsi terutama jika kita memotongnya menjadi bagian kecil. Akan tetapi ada beberapa jenis makanan yang sebaiknya dihindari.

- Makanan keras dan permen
Makanan yang terlalu keras, snack, serta permen yang keras sebaiknya dihindari karena bisa menyebabkan kawat bengkok, pecah, atau pun terlepas dari karet. Bila Anda ingin makan buah atau makanan yang keras, sebaiknya pototng-potong menjadi bagian kecil.
Jika ingin makan kacang, tumbuklah sebentar, sementara itu sebaiknya permen tidak digigit tetapi dihidap. Sebaiknya hindari pula menggigit es batu.

- Makanan yang lengket
Makanan atau permen yang lengket akan menempel pada gigi dan bagian-bagian kawat sehingga berpotensi merusak karet dan kawatn. Jika ada yang tersangkut umumnya juga lebih sulit dibersihkan.

- Makanan dengan kadar keasaman tinggi
Makanan yang mengandung asam yang tinggi, seperti lemon, jeruk nipis atau soda bisa merusak enamel gigi dan menyebabkan warna gigi tidak rata. Dampaknya akan jelas terlihat sesudah braces dilepas.


Last edited by gitahafas on Sun Aug 07, 2011 9:05 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:43 pm

KAWAT GIGI
20-02-2009 | drg. Enny Tyasandarawati Hardono, Sp.Ort - Medicastore > Artikel Kesehatan

Perawatan dengan Kawat Gigi
Kawat gigi yang dalam bahasa Belanda disebut behel atau dalam bahasa Inggris disebut dengan braces, saat ini pemakaiannya sedang diminati. Mereka yang memakai kawat gigi dalam dunia kedokteran gigi, disebut sebagai pasien dengan perawatan orthodontik (ortho: lurus, donti: gigi). Jadi, perawatan dengan kawat gigi adalah perawatan untuk meluruskan kembali/menata ketidakteraturan letak gigi (mal oklusi). Ketidakteraturan letak gigi (mal oklusi) ini menyebabkan gigi susah dibersihkan sehingga makanan mudah melekat dan membuat gigi berlubang (karies).

Penyebab gigi tidak beraturan
Penyebab ketidakteraturan letak gigi (mal oklusi) ini karena adanya ketidakharmonisan ukuran gigi dengan rahang atau dengan otot sekitar mulut. Hal ini disebabkan antara lain oleh faktor genetik/keturunan, pola makan, dan perilaku. Pola makan yang membiasakan anak untuk terlalu lama makan makanan lunak menyebabkan rahang kurang berkembang. Demikian juga dengan perilaku yang tidak baik seperti menghisap jari, pemakaian dot yang terlalu lama, bernafas melalui mulut, maupun cara menelan yang salah.

Penggunaan Behel: siapa dan kapan
Yang memerlukan perawatan orthodontik adalah mereka yang memiliki gigi geligi yang tidak beraturan sehingga gigi geligi tampak maju mundur, gigi gingsul, gigi jarang, juga keadaan yang menyebabkan letak gigi geligi sedemikian rupa karena ukuran rahangnya lebih maju (rahangnya cakil atau tonggos).

Perawatan orthodontik ini sebaiknya dilakukan sejak diketahui adanya kelainan, dapat dilakukan pada anak- anak, remaja maupun dewasa. Pada anak-anak yaitu ketika memasuki tahap pergantian gigi susu ke periode gigi tetap, sekitar umur 6 tahun. Walaupun pada saat itu masih belum perlu memakai kawat gigi, kecuali pada kasus yang berhubungan dengan rahang. Normalnya adalah pada usia 11-12 tahun (pada masa akhir gigi bercampur).

Lama Perawatan
Lamanya perawatan orthodontik ini tergantung pada keparahan mal oklusi, jenis perawatan, dan kerjasama (ko-operatif-an) pasien untuk mematuhi jadwal kontrol. Jadwal kontrol bertujuan untuk mengaktifkan alat orthodontik yang dilakukan tiap 3-4 minggu sekali. Hal yang biasanya dirasakan pasien setelah kontrol adalah rasa kencang pada gigi geliginya.

Mengenal Alat Orthodontik
Perawatan orthodontik dapat dilakukan dengan alat lepasan (removable appliance), alat cekat (fix appliance) maupun kombinasi.

Alat lepasan (removable appliance)
Alat lepasan (removable appliance) dapat memperbaiki kelainan letak gigi derajat ringan dengan hasil yang memuaskan.
Untuk alat orthodontik yang lepasan terdiri dari:
* Plat dasar yang terbuat dari akrilik dan menempel pada langit langit rahang atas atau pada dasar mulut rahang bawah.
* Bagian aktif yang terbuat dari kawat stainless steel yang berfungsi untuk menggerakkan gigi ke tempat yang diinginkan.
* Bagian retensi untuk menahan agar alat tidak terlepas dari mulut.

Alat cekat (fix appliance)
Alat cekat (fix appliance) yaitu alat yang direkatkan pada tiap tiap gigi dan terdiri dari:
* Bracket dan band
Bracket ini bahannya dapat logam atau bukan logam seperti porselen, komposit, plastik. Bahan-bahan ini mempunyai warna yang mendekati warna gigi. Band (cincin) gigi disemenkan pada gigi geraham.
* Archwire (busur kawat)
* Pengikat yang menyatukan busur kawat dengan bracket, terbuat dari kawat halus atau karet. Untuk karet ini, produsen alat ortho menyediakan bermacam macam warna.

bracesKarena bahan-bahan untuk alat ini kebanyakan masih didatangkan dari luar negeri, maka biaya perawatan dengan alat ini lebih mahal. Pemasangan alat ini sebaiknya dilakukan oleh dokter gigi spesalis yaitu dokter gigi yang memperoleh pendidikan lanjutan dan gelar khusus orhodontist. Perawatan orthodontik dengan alat cekat relatif lebih singkat dibandingkan dengan alat lepasan.
Sesudah masa perawatan aktif selesai dan gigi geligi sudah terletak pada posisi yang diinginkan, maka untuk menjaga kestabilan hasil perawatan digunakan retainer. Alat ini dapat berupa alat lepasan maupun berupa alat cekat pasif. Alat retainer digunakan selama 6 bulan sampai 1 tahun.

Saran dari Dokter
Hal yang perlu diperhatikan bagi mereka yang memerlukan perawatan orthodontik yaitu kebiasaan dan perilaku sehat untuk menjaga kebersihan gigi dan rongga mulut. Caranya adalah dengan menyikat gigi setiap kali sesudah makan dengan sikat gigi khusus, hindari makan makanan yang lengket dan manis, hindari juga makanan yang keras (sebaiknya dipotong kecil-kecil). Kadang terjadi sariawan sebagai reaksi dari alat dalam rongga mulut, biasanya hal tersebut akan hilang dengan sendirinya. Jika ada bagian dari alat yang lepas atau menusuk, disarankan untuk segera datang ke dokter gigi yang merawat. Bagi anda yang merasa membutuhkan perawatan orthodontik, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu pada dokter gigi anda.


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:45 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:47 pm

PERMEN KARET CEGAH KERUSAKAN GIGI
Vera Farah Bararah - detikHealth - Jumat, 05/02/2010 11:30 WIB
Queensland, Permen karet biasanya dikonsumsi orang jika sedang merasa gugup atau saat olahraga. Tapi mengunyah permen karet secara teratur juga bisa berguna untuk mencegah kerusakan gigi. "Permen karet yang baik untuk mencegah kerusakan gigi adalah yang tidak mengandung gula. Mengunyah permen karet bebas gula akan memiliki dampak positif terhadap kesehatan gigi," ujar Profesor Laurence Walsh, ketua Dental School di University of Queensland, seperti dikutip dari ABCnet, Jumat (5/2/2010).

Prof Walsh menuturkan manfaat lain yang bisa didapat dengan mengunyah permen karet adalah meningkatkan produksi air liur, hal ini berguna untuk membantu melindungi gigi, menjaga gigi agar tetap bersih serta dapat memperkuat lapisan enamel gigi. "Mengunyah permen karet juga bisa melatih otot-otot wajah dan gigi dan juga membuat sel-sel kelenjar air liur bekerja lebih baik dan efisien. Serta mempengaruhi jenis-jenis bakteri yang tumbuh di mulut seseorang," ungkap Prof Walsh.

Orang yang memiliki risiko tinggi mengalami kerusakan gigi adalah orang yang melakukan diet tidak benar, sering mengonsumsi minuman bersoda atau minuman olahraga, gaya hidup yang tidak sehat serta mengonsumsi obat tertentu yang bisa mempengaruhi produksi air liur. Permen karet yang bisa memberikan manfaat positif bagi gigi adalah permen bebas gula dan mengandung protein susu yang dapat melepaskan mineral untuk membantu memperbaiki gigi serta menghambat proses pembusukan.

"Pembusukan adalah awal dari timbulnya rongga besar yang lama kelamaan bisa mengakibatkan kerusakan. Hal ini penting karena keusakan gigi sulit sekali untuk disembuhkan serta bisa menimbulkan infeksi lainnya," ujar Prof Walsh. Tak ada salahnya untuk mengunyah permen karet bebas gula sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat. Tapi jangan meninggalkan kebiasaan sehat lain seperti sikat gigi minimal 2 kali sehari serta memeriksakan gigi setiap 6 bulan sekali.


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:17 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
gitahafas
Moderator
Moderator


Number of posts: 11711
Age: 53
Location: Jakarta
Registration date: 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Saluran Cerna   Thu Apr 22, 2010 7:52 pm

4 PERUSAK GIGI
Minggu, 24 Oktober 2010, 13:00 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Mutia Nugraheni
VIVAnews - Kerusakan gigi tak hanya dipicu kebiasaan malas menyikat gigi. Ada sejumlah kebiasaan yang mungkin tak Anda sangka bisa memicu permasalahan gigi.
Berikut empat pemicu kerusakan gigi yang tidak diketahui banyak orang, seperti dikutip dari Shine.

1. Minuman asam
Penelitian terbaru Universitas Birmingham menemukan, konsumsi minuman suplemen olahraga memicu erosi gigi serius dan infeksi. Peneliti menguji dua minuman yang tidak disebutkan namanya dan menemukan kandungan yang dapat meluruhkan email gigi. Kondisi itu kemungkinan akibat tingkat keasaman yang bertentangan keseimbangan PH normal mulut. Soda dengan bahan kimia seperti asam aspartam juga dapat membuat bagian gigi mengalami aus. Bahkan, jus yang sangat asam juga dapat menyebabkan infeksi dan erosi dari waktu ke waktu.

2. Olesan Lipstik
Menurut penelitian tim dari Universitas Sao Paulo, Brazil, lipstik yang mengandung parafin dapat mengikis enamel gigi. Saat enamel terkikis, gigi menjadi berpori dan menciptakan tempat tumbuhnya bakteri. Efeknya adalah kerusakan gigi, infeksi dan patah. Sebaiknya, pilih lipstik yang tidak mengandung parafin.

3. Karbohidrat
Produk camilan berkarbohidrat tinggi juga tidak baik untuk gigi. Setelah dipecah menjadi gula sederhana efeknya sama dengan gula yang menempel pada gigi. Gula menyebabkan bakteri dan plak yang menyebabkan penyakit gusi dan rongga gigi.

4. Terlalu sering menyikat gigi
Menurut American Dental Association, terlalu sering menyikat gigi bisa membuat abrasi pada gigi. Akibatkanya gigi menjadi lebih sensitif dan mudah merasa ngilu. Untuk menghindarinya, pilih sikat gigi yang yang berbulu lembut dan pasta gigi khusus untuk gigi sensitif.


Last edited by gitahafas on Sun Nov 21, 2010 2:05 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
View user profile
 

Kesehatan Saluran Cerna

View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 18Goto page : Previous  1, 2, 3 ... 10 ... 18  Next

 Similar topics

-
» Kesehatan Saluran Cerna
» Kesehatan Saluran Kemih
» [Tips] menjaga kesehatan
» PENERBITAN BUKU KESEHATAN
» Kesehatan Tulang dan Otot

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-