|
| |
| Author | Message |
|---|
gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Tue Aug 31, 2010 12:56 pm | |
| KESEHATAN SALURAN CERNA Sangat penting untuk mencermati frekuensi dan konsistensi buang air besar. Langkah ini bisa menyelamatkan nyawa anda. Dalam kondisi normal, tinja akan menyerupai bentuk pipa, perubahan bentuk tinja mengindikasikan adanya sesuatu yang mengganjal di saluran cerna, misalnya ada polip usus. Warna tinja juga menjadi salah satu indikator sehatnya saluran cerna, normalnya coklat kehijauan, tetapi bisa berubah terganntung apa yang kita makan
Waspadai perubahan frekuensi dan konsistensu buang air besar, karena ini bisa berhubungan dengan kanker usus besar ( kanker kolon ). Kalau terjadi perubahan kebiasaan buang air besar, teliti ada tidaknya darah pada tinja., sering orang menyangka dirinya mengalami ambeien ketika melihat tinjanya berdarah., padahal bisa saja darah itu berasal dari penyakit yang lebih serius, salah satunya yaitu kanker kolon.
Faktor resiko terjadinya kanker kolon: 1. Genetik ( riwayat kanker kolon dalam keluaga ). 2. Terlalu banyak mengkonsumsi daging merah. 3. Kurang makan serat, banyak makan lemak. 4. Penggunaan hormon tambahan, semisal yang didapat dari pil kecantikan yang mengandung hormon estrogen. 5. Kebiasaan merokok. 6. Kebiasaan minum alkohol. 7. Usia, risiko meningkat dengan bertambahnya usia, paling banyak terjadi pada usia 60-70 tahun. 8. Adanya riwayat polip pada kolon, khususnya polip jenis adenomatosa. 9. Ditemukan kejadian kanker ovarium, kanker uterus dan kanker payudara dalam keluarga. 10. Mengidap penyakit kolitis ( radang kolon ) ulseratif yang tidak diobati. 11. Kurang konsumsi buah buahan dan sayuran serta ikan. 12. Kurang beraktivitas fisik. 13. Berat badan berlebihan.
Umumnya kanker kolon lebih banyak terjadi pada usia diatas 50 tahun, meski belakangan ini ada kecenderungan terjadi pada usia muda. Deteksi dini masih menjadi langkah utama untuk menghindari akibat terburuk kanker kolon, sayangnya faktor edukasi masyarakat yang belum memadai membuat penderita tidak mengenali gejala gejala awal, sehingga sekitar 70% datang ke dokter sudah dalam keadaan stadium lanjut. Maka lakukanlah pemeriksaan colonoscopy setahun sekali mulai usia 50 tahun.
Sumber: Republika Minggu, 9 Maret 2008 dan Kompas Rabu 31 Maret 2010
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:30 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Fri Sep 10, 2010 12:03 pm | |
| KIAT MELANCARKAN PROSES PENCERNAAN Sabtu, 13 Februari 2010 | 19:34 WIB KOMPAS.com - Kembung, sakit perut yang mirip kejang, letih, lesu, apakah semuanya ini terkesan akrab? Kalau ya, kemungkinan penyebabnya adalah gangguan pada usus. Gangguan usus saat ini terjadi pada hampir seperempat anggota masyarakat. Anggota terbesarnya berusia antara 20-40 tahun, dan 2 dari 3 penderita terdiri dari wanita.
Dalam bukunya yang berjudul Lazy Girl's Guide to Good Health, Anita Naik mengatakan, gangguan ini sebenarnya disebabkan oleh gangguan pada saluran usus. Dalam keadaan biasa, saluran usus mendorong ampas makanan dengan gerakan kontraksi secara bertahap menuju lubang pelepasan. Tetapi kalau kontraksi usus tidak teratur, akan timbul kejang yang menyakitkan, kembung, gas, sembelit, dan diare. Dugaan penyebab utamanya adalah stres.
Anda dapat menolong diri sendiri dengan cara: - Belajar mengendalikan stres. Hubungan antara gangguan usus dan stres cukup jelas, oleh sebab itu, tindakan ini harus dijadikan langkah pertama. Para ahli berpendapat bahwa istirahat sendirian selama 20 menit setiap hari, berolahraga secara teratur (20 menit, tiga kali seminggu), dan belajar mengenali batas kemampuan diri sendiri dapat membantu menciptakan hidup yang lebih terbebas dari stres.
- Menyusun makanan setiap hari. Tidak tahan terhadap makanan tertentu dapat juga mengakibatkan gangguan usus, seperti gandum dan produk susu. Sebab, perut tidak dapat memecah makanan yang tidak dapat diterimanya, yang mengakibatkan kembung, kejang, dan terlalu banyak gas. Seandainya Anda menduga munculnya masalah seperti ini, cobalah berhenti makan makanan jenis ini dan mulai memasukkan jenis makanan ini secara bertahap ke dalam susunan makanan sehari-hari. Cara terbaik untuk melakukan ini adalah dengan membuat catatan harian yang berisi makanan, dan mencatat makanan apa saja yang nampaknya paling sering menyebabkan gangguan perut, dan kapan terjadinya. Dengan catatan, Anda dapat berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter, yang akan membantu kita melakukan perubahan yang diperlukan.
- Minta resep dokter. Meski gangguan usus tidak dapat hilang dengan obat begitu saja, dokter dapat memberikan resep untuk obat antikejang, yaitu alevrine atau mebeverine, yang menenangkan usus dan meredakan kejang; kapsul pepermin dapat membantu mencegah kembung dan gas dalam perut; tablet antidiare untuk mengatasi mencret.
- Menyantap makanan dalam porsi lebih kecil dan lebih sering. Dengan cara ini Anda dapat mencegah lambung terlalu penuh. Usahakan makan makanan yang rendah lemak dan rendah tepung, tetapi berkarbohidrat tinggi.
- Berolahraga secara teratur. Dengan meningkatkan jumlah latihan olahraga, kita dapat membantu usus bergerak lebih teratur dan mengatasi perut kembung.
- Kurangi jajan. Hindari makanan yang diproses, seperti gorengan, makanan manis, karena jenis ini bisa menghambat fungsi pencernaan. Jangan lupa tambahkan pula keragaman pilihan asupan. Kalau menyantap makanan yang itu-itu saja, sama halnya mengundang penyakit perut. Karena kelak, suatu saat akan terjadi "pemberontakan". Makan apa saja yang bisa diterima tubuh boleh, asal porsinya kecil. Jangan lupa, bahwa serat memang baik untuk pencernaan. Tetapi makan terlalu banyak serat bisa berakibat nyeri lambung, kembung, dan sering buang gas.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:31 pm; edited 7 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Thu Sep 30, 2010 3:30 pm | |
| MELANCARKAN PENCERNAAN Sabtu, 13 Februari 2010 | 19:34 WIB KOMPAS.com - Kembung, sakit perut yang mirip kejang, letih, lesu, apakah semuanya ini terkesan akrab? Kalau ya, kemungkinan penyebabnya adalah gangguan pada usus. Gangguan usus saat ini terjadi pada hampir seperempat anggota masyarakat. Anggota terbesarnya berusia antara 20-40 tahun, dan 2 dari 3 penderita terdiri dari wanita. Dalam bukunya yang berjudul Lazy Girl's Guide to Good Health, Anita Naik mengatakan, gangguan ini sebenarnya disebabkan oleh gangguan pada saluran usus. Dalam keadaan biasa, saluran usus mendorong ampas makanan dengan gerakan kontraksi secara bertahap menuju lubang pelepasan. Tetapi kalau kontraksi usus tidak teratur, akan timbul kejang yang menyakitkan, kembung, gas, sembelit, dan diare. Dugaan penyebab utamanya adalah stres.
Anda dapat menolong diri sendiri dengan cara: - Belajar mengendalikan stres. Hubungan antara gangguan usus dan stres cukup jelas, oleh sebab itu, tindakan ini harus dijadikan langkah pertama. Para ahli berpendapat bahwa istirahat sendirian selama 20 menit setiap hari, berolahraga secara teratur (20 menit, tiga kali seminggu), dan belajar mengenali batas kemampuan diri sendiri dapat membantu menciptakan hidup yang lebih terbebas dari stres.
- Menyusun makanan setiap hari. Tidak tahan terhadap makanan tertentu dapat juga mengakibatkan gangguan usus, seperti gandum dan produk susu. Sebab, perut tidak dapat memecah makanan yang tidak dapat diterimanya, yang mengakibatkan kembung, kejang, dan terlalu banyak gas. Seandainya Anda menduga munculnya masalah seperti ini, cobalah berhenti makan makanan jenis ini dan mulai memasukkan jenis makanan ini secara bertahap ke dalam susunan makanan sehari-hari. Cara terbaik untuk melakukan ini adalah dengan membuat catatan harian yang berisi makanan, dan mencatat makanan apa saja yang nampaknya paling sering menyebabkan gangguan perut, dan kapan terjadinya. Dengan catatan, Anda dapat berkonsultasi dengan ahli gizi atau dokter, yang akan membantu kita melakukan perubahan yang diperlukan.
- Minta resep dokter. Meski gangguan usus tidak dapat hilang dengan obat begitu saja, dokter dapat memberikan resep untuk obat antikejang, yaitu alevrine atau mebeverine, yang menenangkan usus dan meredakan kejang; kapsul pepermin dapat membantu mencegah kembung dan gas dalam perut; tablet antidiare untuk mengatasi mencret.
- Menyantap makanan dalam porsi lebih kecil dan lebih sering. Dengan cara ini Anda dapat mencegah lambung terlalu penuh. Usahakan makan makanan yang rendah lemak dan rendah tepung, tetapi berkarbohidrat tinggi.
- Berolahraga secara teratur. Dengan meningkatkan jumlah latihan olahraga, kita dapat membantu usus bergerak lebih teratur dan mengatasi perut kembung.
- Kurangi jajan. Hindari makanan yang diproses, seperti gorengan, makanan manis, karena jenis ini bisa menghambat fungsi pencernaan. Jangan lupa tambahkan pula keragaman pilihan asupan. Kalau menyantap makanan yang itu-itu saja, sama halnya mengundang penyakit perut. Karena kelak, suatu saat akan terjadi "pemberontakan". Makan apa saja yang bisa diterima tubuh boleh, asal porsinya kecil. Jangan lupa, bahwa serat memang baik untuk pencernaan. Tetapi makan terlalu banyak serat bisa berakibat nyeri lambung, kembung, dan sering buang gas.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:32 pm; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Mon Oct 04, 2010 3:48 pm | |
| KANKER USUS BESAR Peningkatan penderita kanker kolorektal, yakni kanker yang tumbuh di usus besar ( kolon ) atau rektum ( daerah antara usus besar dan anus ), pada kalangan muda Indonesia, sesuai data dari bagian Patologi Anatomi Universitas Indonesia tahun 2003-2007 mencapai 28,17% untuk usia dibawah 40 tahun. Padahal kanker kolorektal predominasinya adalah terjadi di usia 50 tahun keatas.
"Kalangan muda saat ini banyak yang memiliki kebiasaan makan yang salah, yakni asupan makanan yang tinggi lemak dan protein tapi rendah serat. Semakin parah karena aktivitas fisik yang kurang," ujar Aru W Sudoyo, pengajar dan peneliti kanker kolorektal pada FKUI, dalam acara media workshop bertepatan Bulan Peduli Kanker Kolorektal yang diadakan Yayasan Kanker Indonesia di Jakarta, Rabu ( 17/3 ).
Gejala kanker kolorektal: 1. Perubahan kebiasaan buang air besar yang meliputi frekwensi dan konsistensi, tanpa sebab yang jelas dan berlangsung lebih dari 6 minggu. 2. Ada bercak darah pada saat buang air besar. 3. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas. 4. Rasa sakit di perut atau bagian belakang. 5. Perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar.
Pasien kanker kolorektal banyak yang baru terdeteksi saat sudah pada stadium 3. Kondisi ini karena pasien sering tidak menyadari atau merasakan gejalanya. Kebanyakan kanker usus berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas ( adenoma ), yang awalnya membentuk polip usus. Sebenarnya polip mudah diangkat, tetapi sering adenoma tidak menunjukkan gejala apapun sehingga pasien merasa sehat sehat saja. Untuk itulah dianjurkan melakukan colonoscopy ( kolon diteropong dengan alat khusus ), rutin setahun sekali pada usia diatas 50 tahun, untuk deteksi dini.
Deteksi Kanker Kolorektal: 1. Pemeriksaan rektal dengan jari. 2. Pemeriksaan darah dalam tinja / darah samar. 3. Endoskopi / kolonoskopi. 4. Pemeriksaan rontgen dengan Barium Enema ( Colon Inloop ). 5. "Virtual Colonoscopy". 6. CT Scan. 7. Pemeriksaan DNA tinja ( dalam penelitian ).
Pengobatan pada kanker kolorektal adalah operasi pengangkatan usus, ditambah kemoterapi untuk membunuh sel sel kanker yang masih tertinggal. Pada pasien kanker stadium 2 dan 3, biasanya di rekomendasikan untuk 12x kemoterapi sedangkan untuk pasien stadium 4 cukup 6x. Untuk meningkatkan keberhasilan terapi pasien juga mendapat obat dengan menggunakan targeted therapy ( terapi fokus sasaran ). Cara ini membuat pasien tidak merasa mual dan tidak membuat rambut rontok.
Sumber: Kompas Kamis 18 Maret 2010 dan Kompas Rabu 31 Maret 2010
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:52 pm; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Mon Oct 04, 2010 3:50 pm | |
| SEMBELIT JANGAN DIANGGAP REMEH Kamis, 10 Juni 2010 | 08:04 WIB Oleh : Indira Permanasari JAKARTA, KOMPAS.com - Sembelit alias sulit buang air besar kerap dipandang enteng dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, sembelit yang dibiarkan berlarut-larut berpengaruh buruk bagi kesehatan, termasuk mengakibatkan kanker. Kebiasaan buang air besar juga bisa menjadi pertanda hadirnya penyakit lain. "Orang kerap abai meski berkali-kali hanya satu kali buang air besar dalam seminggu,” ujar Dadang Makmun, Sekretaris Jenderal Perkumpulan Gastroenterologi, dalam jumpa pers mengenai Konsensus Nasional Penatalaksanaan Konstipasi 2010 akhir pekan lalu. Bahkan, pernah terdapat kasus seseorang yang tidak buang air besar selama satu bulan.
Persoalan sembelit sebetulnya cukup umum atau ada di sejumlah negara. Di negara maju, seperti Amerika, gangguan ”ke belakang” akan menguras kantong. Kunjungan ke rumah sakit akibat konstipasi terhitung 2,5 juta orang setahun. Dari jumlah itu dan 100.000 orang terpaksa dirawat di rumah sakit. Di negeri itu, total pengeluaran untuk laksatif (obat pencahar) mencapai 800 juta dollar AS. ”Di Indonesia belum ada data nasional gangguan sembelit,” ujar Dadang. Dia mencontohkan, dari 2.397 pasien di RSUPN Cipto Mangunkusumo yang menjalani pemeriksaan kolonoskopi tahun 1998–2005, 9 persen dengan konstipasi. ”Diduga, jumlah penderita konstipasi di Indonesia cukup besar,” ujarnya. Sebesar 36,4 persen menderita wasir dan sekitar 8 persen di antaranya menderita tumor ganas atau kanker usus besar. Terkadang ditemukan pula polip. Semakin lama kotoran di dalam perut, kontak dengan dinding usus bertambah sehingga rawan menyebabkan perubahan atau mutasi sel pada dinding usus.
Konstipasi didefinisikan sebagai frekuensi buang air besar kurang dari normal dengan waktu lama, kesulitan, dan disertai rasa sakit saat mengeluarkan tinja. Faktor yang mendasari konstipasi, antara lain, adalah kurang gerak, kurang minum, kurang serat, sering menunda buang air besar, kebiasaan menggunakan obat pencahar, efek samping obat-obatan tertentu, dan depresi. Gangguan lebih berat, seperti usus terbelit, usus tersumbat, dan kanker usus besar, juga bisa menjadi penyebab. Proses buang air besar dimulai dari gerakan peristaltik usus besar yang mengantarkan tinja ke rektum (poros usus) untuk dikeluarkan. Tinja masuk dan meregangkan pipa poros usus diikuti relaksasi otot lingkar dubur dan kontraksi otot dasar panggul. Poros usus akan mengeluarkan isinya dengan bantuan kontraksi otot-otot dinding perut.
Dilihat dari waktu Ari Fahrial Syam dari Divisi Gastroenterologi RSUPN Cipto Mangunkusumo menegaskan, konstipasi dilihat dari waktu dan bentuk kotoran. Waktu transit makanan di dalam usus berkisar 12–72 jam. Frekuensi buang air besar kurang dari tiga kali dalam satu minggu sudah termasuk konstipasi. Konstipasi dapat pula ditengarai dari bentuk kotoran, antara lain bergumpal-gumpal kecil atau terlalu cair. Apalagi, seseorang harus menunggu lama atau harus mengejan untuk mengeluarkan tinja.
Dua jenis konstipasi Konstipasi dibagi menjadi konstipasi primer dan sekunder. Konstipasi primer merupakan konstipasi fungsional yakni tidak ditemukan kelainan organik maupun biokimiawi di dalam tubuh setelah pemeriksaan seksama. Adapun konstipasi sekunder merupakan konstipasi yang disebabkan penyakit lain, seperti kencing manis, hipotiroid, dan kanker usus besar. Jika usia seseorang berkisar 20–40 tahun, mengalami konstipasi sekunder, dan terdapat kelainan dalam pemeriksaan colok dubur, dokter akan memeriksa lebih lanjut. ”Untuk kasus demikian, penanganan tidak sekadar menghilangkan gejala konstipasinya, tetapi juga penyakit penyebabnya,” ujar Ari.
Dia mengatakan, penanganan konstipasi dimulai dengan perubahan gaya hidup selama 2–4 minggu. Rekomendasi yang diberikan, antara lain, adalah menambah masukan serat. Konsumsi serat masih menjadi masalah di Indonesia. Jumlah serat yang disarankan 25 gram. Namun, berdasarkan penelitian Kementerian Kesehatan, konsumsi serat masyarakat Indonesia di sejumlah kota masih 12,5 gram atau separuh dari rekomendasi. Serat yang disarankan ialah yang diperoleh dengan diet berimbang sayur dan buah 50–60 persen, protein 30 persen, dan lemak 20–30 persen. Konsumsi air disarankan memadai, yakni 30–60 cc per jam dan olahraga yang cukup. Serat bersifat menahan air sehingga bermanfaat untuk melembabkan, melunakkan, dan memberikan berat pada feses.
Penggunaan obat pencahar diperbolehkan dan sedapat mungkin tidak dikonsumsi dalam jangka waktu panjang. Obat laksatif bekerja dengan cara membuat kotoran menggumpal atau merangsang usus bergerak. Ari mengatakan, dalam konsensus terakhir, dua obat pencahar, yakni anthraquinone dan tegaserod sudah ditarik karena ada efek samping. Obat anthraquinone merusak dinding usus dan tegaserod berefek ke jantung.
Belakangan, bakteri probiotik menjadi salah satu alternatif menangani konstipasi. Probiotik merupakan bakteri hidup yang ditambahkan pada makanan dan mempunyai efek menguntungkan dengan meningkatkan kesehatan flora usus. Tingkat efektivitas tergantung galur (strain) bakteri tersebut. Beberapa jenis probiotik, antara lain Bifidobacterium animalis lactis, Bifidobacterium bifidus, Bifidobacterium brevis, Bifidobacterium infantis, Lactobacillus acidophilus, dan Lactobacillus rhamnosus. Makanan yang difortifikasi dengan probiotik, antara lain, adalah produk susu seperti yogurt.
Jadi jelas sudah, kita tidak boleh main-main dengan konstipasi. Jika berbagai cara penanggulangan konstipasi primer tidak berhasil, diperlukan pembedahan usus. Namun, agar tidak dipusingkan dengan konstipasi tentu lebih baik mencegahnya sedari dini dan menjaga kondisi pencernaan baik-baik. Seorang dokter ternama, Sir Arthur Hurst (1879–1944), terkenal dengan kata-katanya, ”Tidak ada organ di seluruh tubuh kita yang sangat disalahpahami, dijadikan kambing hitam, dan diperlakukan secara semena-semena seperti halnya usus besar”. Kasus sembelit sepertinya membuktikan ungkapan itu.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:32 pm; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Fri Oct 15, 2010 10:05 am | |
| AGAR TAK DIGANGGU SAKIT PERUT Kamis, 30/12/2010 13:31 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth Jakarta, Gangguan pencernaan seperti kembung, sakit perut atau kram perut merupakan masalah yang cukup sering dialami orang. Tapi ada caranya supaya perut tak diganggu oleh sakit-sakit itu. Gangguan pencernaan umumnya terjadi setelah orang makan, terutama maakn besar. Tapi beberapa orang bisa mengalaminya setiap saat dan sering. Salah satu penyebabnya adalah kebiasaan makan buruk yang membuat produksi enzim pencernaan tidak mencukupi. Ketika seseorang makan, maka tubuh akan melepaskan sekitar 22 jenis enzim pencernaan dari kelenjar ludah, lambung dan usus kecil. Setiap enzim memiliki tugas tersendiri, misalnya protease untuk memecah protein atau amilase untuk memecah karbohidrat. Enzim-enzim ini akan membantu tubuh mencerna dan menyerap nutrisi yang dibutuhkan. Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk membantu mencegah gangguan pencernaan dan meningkatkan kesehatan seperti dikutip dari Askmen.com, Kamis (30/12/2010) yaitu:
1. Mengonsumsi serat yang cukup setiap harinya Serat tidak hanya penting untuk menjaga proses pencernaan yang ada di perut saja, tapi juga penting bagi kesehatan pencernaan secara keseluruhan. Karenanya anjuran untuk mengonsumsi serat yang cukup bukanlah suatu hal yang klise. Selain itu hindari makanan yang bisa menimbulkan gas, seperti brokoli, kol, kembang kol dan minuman berkarbonasi. Serta mengonsumsi air yang cukup untuk membantu melumasi makanan dalam saluran cerna, membantu melarutkan sehingga proses penyerapan menjadi lebih mudah.
2. Mengunyah makanan dan makan sedikit demi sedikit Mengunyah merupakan salah satu bagian pencernaan yang paling penting, tapi sering terlupakan. Hal ini karena mengunyah berguna untuk memecah makanan, merangsang kelenjar ludah, lambung dan usus kecil untuk melepaskan enzim. Serta tidak makan terlalu banyak, karena makan yang berlebihan memicu produksi asam lebih tinggi di perut. Kondisi ini yang bisa menimbulkan rasa terbakar di perut dan gangguan pencernaan.
3. Olahraga teratur dan menghindari stres Studi ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Gastroenterology and Hepatology menunjukkan bahwa aktivitas fisik bisa mengurangi beberapa masalah pencernaan, seperti sakit perut, diare dan gejala sindrom iritasi usus besar (irritable bowel syndrome/IBS). Selain itu stres juga harus dikurangi, karena stres bisa mengurangi aliran darah ke perut dan produksi enzim pencernaan sehingga prosesnya menjadi lambat yang memicu timbulnya mulas, kembung dan sembelit.
4. Jangan berlebihan mengonsumsi antasida Antasida bekerja dengan cara menetralkan asam lambung, karenanya obat ini biasa dikonsumsi ketika kandungan asam yang berlebih naik ke kerongkongan sehingga timbul sensasi terbakar. Tapi bila antasida terlalu sering dikonsumsi bisa membuat perut kehilangan keasamannya yang membuat fungsi pencernaan rusak dan rentan terkena infeksi bakteri.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:53 pm; edited 10 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Fri Oct 15, 2010 10:08 am | |
| "CUCI PERUT" AGAR TERASA PLONG Rabu, 30/6/2010 | 10:16 WIB KOMPAS.com - Anda sering bermasalah dengan urusan "ke belakang"? Tinja begitu keras sehingga Anda harus mengejan kuat-kuat, dan sayangnya, kotoran tetap saja mampet di ujung. Hal ini biasanya terjadi karena Anda jarang mengonsumsi serat. Menurut dr Phaidon L. Toruan, MM, dalam bukunya Fat-Loss Not Weight-Loss: Gemuk tapi Ramping, kondisi lain yang hampir sama adalah IBS (Irritable Bowel Syndrome). Ini penyakit kronik yang terdiri atas kumpulan gejala akibat gangguan fungsional pada usus besar. Keluhannya bisa berupa nyeri pada perut kiri bawah yang beratnya bervariasi, frekuensi buang air besar yang tidak normal (bisa lebih dari tiga kali dalam sehari, atau kurang dari tiga kali dalam seminggu), bentuk tinja tidak normal (seperti pita, encer, atau bundar-bundar), tinja berlendir, kembung, rasa penuh, bersendawa, nafas berbau, perasaan yang tidak tuntas saat buang air besar, dan sering buang angin.
Pedoman diagnosis yang dibuat oleh para ahli menyatakan bahwa paling sedikit selama 12 minggu dalam 12 bulan pasien merasakan gejala di atas. Dua belas minggu tersebut tidak harus berturut-turut tapi jumlah total dalam 12 bulan. Biasanya IBS tidak diketahui penyebab yang pasti, tetapi kecemasan dan stres dapat memacu dan memperparah gejala.
Sebagian besar pasien IBS mengalami rasa nyeri pada bagian bawah perut, disertai kesulitan buang air besar atau diare, bahkan pada beberapa kasus kesulitan buang air besar dan diare terjadi secara bergantian. Keluhan yang timbul dapat sembuh dan kambuh kembali yang berlangsung sudah lama, dan seringkali dimulai pada masa anak-anak. Bila Anda mengalami IBS, tidak ada salahnya Anda melakukan proses "cuci perut" menggunakan bahan follium sennae dan ekstrak rhei. Saat ini ada tiga macam cara cuci perut.
Pertama, dengan menggunakan fiber. Fiber yang berfungsi sebagai sapu alam akan menyapu usus kita dan membersihkan sisa makanan yang nyelip.
Kedua, ada cara mekanik yang mulai populer, yakni colon hydrotherapy, memasukkan cairan ke dalam anus sampai agak penuh lalu dipijat, yang kemudian secara otomatis akan dikeluarkan lagi saat kita mulai merasa mulas. Cairan yang dimasukkan mengandung follium sennae.
Cara ketiga, bagi yang agak ngeri dengan cara mekanik, gunakanlah eucarbon -obat alami yang aman mengandung follium sennae dan ekstrak rhei, yang bekerja non-sistemik mengikat racun dan zat sisa metabolisme di dalam saluran pencernaan kita. Anda yang menderita IBS, sering merasa kembung, sembelit terkait wasir, atau rasa penuh di usus boleh mencoba menggunakan eucarbon. Gunakan malam dan pagi hari. Rasanya pun plong, seperti banyak sekali yang terbuang.
Hal ini juga disarankan agar Anda merasakan sensasi perut yang lebih ramping dan lega. Bukan hanya karena lemak perut yang menipis setelah program olahraga, diet, dan terapi lain, tapi juga karena isi perut yang tidak berguna -sampah metabolisme- dapat dibuang.
Jika Anda ingin menggunakan eucarbon, dosis yang tepat bagi dewasa dan remaja di atas usia 12 tahun adalah 1-2 tablet untuk tiga kali sehari. Sementara anak-anak usia 2 tahun ke atas dapat diberi 1/2 - 1 tablet, 3 kali sehari. Eucarbon dapat dikonsumsi bersamaan dengan waktu makan atau sesudahnya, disertai banyak minum.
Komposisi yang terkandung dalam eucarbon adalah: * Follium sennae dan ekstrak rhei: memiliki efek pencahar (memudahkan buang air besar) dan melunakkan tinja. * Carbo ligni: mengikat gas-gas dan menetralkan toksin. * Sulphur depuratum: bersifat desinfektan ringan. * Minyak esensial dari mint dan fennel: memiliki efek antispasmodik (antikejang) dan carmianative (memudahkan buang angin).
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:12 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Fri Oct 15, 2010 10:11 am | |
| SUSAH BAB, AWAS KANKER USUS! Kamis, 28 Februari 2008 | 17:27 WIB BILA Anda sering susah buang air besar, sering sakit perut atau sembelit sebaiknya waspada. Bisa jadi gangguan yang Anda alami merupakan salah satu bentuk gejala kanker usus besar atau kanker kolorektal. Seperti diungkap Dr Adil Pasaribu, Sp.B.KBD, dokter spesialis bedah kanker dari RS Dharmais Jakarta, sebagian orang saat ini mengabaikan gejala sakit perut, susah buang besar dan perubahan siklus buang air besar. Padahal, gejala-gejala itu merupakan bagian dari pertanda adanya penyakit kanker kolorektal. ¨Kebanyakan masyarakat tidak menyadari bahwa kanker dapat dipicu oleh gejala-gejala yang dianggap remeh seperti cara diet yang salah yang menyebabkan kebiasaan buang air besar dan sembelit, ungkap Dr. Adil di Jakarta, Kamis (28/2).
Menurut Aidil, perubahan siklus buang air besar memang merupakan gejala yang patut diwaspadai dalam mengantisipasi kanker kolorektal. Perubahan yang tidak wajar atau siklusnya melebihi waktu transit harus dicurigai sebagai gejala. ¨Normalnya, waktu transit yang dibutuhkan makanan dari sejak masuk hingga dikeluarkan lagi melalui anus tidak melebihi 48 hingga 72 jam. Jika waktunya melebihi angka tersebut, sebaiknya harus berhati-hati.
Selain perubahan siklus buang air besr, tanda lainnya yang bisa dideteksi sebagai gejala kanker usus besar adalah ditemukannya darah pada kotoran saat buang air besar. Tanda lainnya adalah penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, rasa sakit di perut atau bagian belakang, perut masih terasa penuh meskipun sudah buang air besar dan tidak ada rasa puas dan kadang-kadang dapat diraba adanya massa atau tonjolan pada perut.
Prevalensi meningkat Kanker kolorektal sendiri merupakan salah satu jenis kanker yang jumlah kasus atau tingkat prevalensinya cukup tinggi. Di Indonesia sejauh ini memang belum ada data akurat mengenai jumlah kasus secara rinci. "Tetapi di seluruh dunia, berdasarkan laporan terakhir, kanker kolorektal menempati urutan kedua dari daftar peenyakit kanker yang paling banyak diderita," ujarnya.
Meski belum ada data akurat, kata Adil, kasus kanker kolorektal di Indonesia cenderung mengalami peningkatan seiring dengan berubahnya gaya hidup masyarakat. Indikasi peningkatan itu misalnya dapat tercermin dari sebuah riset seorang peneliti di Semarang yang menemuan adanya kenaikan angka kejadian dari tahun 1970 hingga 1980. "Kalau sebelumnya angka kejadian per 1000 itu rata-rata pada perempuan 2,4 dan pada pria 2,2, ternyata kemudian ada peningkatan menjadi 3,1 hingga 3,2. Jika di tanah air ada peningkatan kasus, sebaliknya di negara maju angka kejadian kanker kolorektal justru menurun," terang Adil.
Di rumah sakit kanker Dharmais Jakarta sendiri, lanjut Adil, kanker kolorektal masuk dalam empat besar dari 10 jenis kanker yang paling banyak dialami para pasien. Kanker kolorektal banyak menyerang di usia 55-64 tahun. Namun saat ini cukup banyak juga usia 35-44 tahun yang telah menderita kanker usus besar dan rektum. Rata-rata mereka yang berobat menjadi sulit diobati karena sudah dalam stadium lanjut. "Oleh sebab itulah, penting artinya untuk mengetahui gejalanya dari awal dan menjaga kesehatan termasuk menghindari gaya hidup yang dapat memicu risiko terjadinya kanker ini seperti pola makan tak sehat, stres, merokok dan alkohol," jelasnya.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:30 pm; edited 5 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Fri Oct 15, 2010 10:36 am | |
| AWAS KANKER USUS DIBALIK LEZATNYA SOSIS Jumat, 4 April 2008 | 20:09 WIB Kompas.com - SIAPA tak kenal kelezatan sosis, makanan daging olahan ini sudah sangat akrab di lidah masyarakat dunia termasuk Indonesia. Namun, siapa sangka di balik kenikmatan makanan yang kaya gizi ini, terkandung lemak dan kolesterol tinggi sehingga bisa mengganggu kesehatan. Bahkan para ahli di Inggris belum lama ini kembali memperingatkan bahwa konsumsi sebatang sosis sehari dapat meningkatkan risiko kanker usus. Maka dari itulah, Anda sebaiknya berhati-hati mengonsumsi sosis atau produk daging olahan.
Seperti dilaporkan surat kabar The Star Jumat (4/4), Martin Wiseman dari World Cancer Research Fund (WCRF), memperingatkan konsumen akan ancaman penyakit kanker bila terlalu sering mengonsumsi makanan nan lezat ini. Ia juga mengingatkan konsumen untuk mewaspadai bacon dan menyatakan bahwa dengan hanya mengonsumsi 50 gram makanan daging olahan setiap hari dapat meningkatkan risiko mengidap kanker hingga 20 persen.
Hampir setahun lalu, Wiseman juga menyuarakan peringatan yang sama akan bahaya terlalu sering mengonsumsi daging olahan ini termasuk di dalamnya ham, pastrami, salami dan hot dog. Makanan daging olahan memang dibuat dari daging atau ikan yang telah dicincang kemudian dihaluskan, diberi bumbu dan zat pengawet. Ada yang kemudian diasap, dimasukkan dalam selonsong berbentuk bulat panjang simetris, baik yang terbuat dari usus hewan maupun pembungkus buatan (casing).
Wiseman menambahkan, laporan yang dirilis pihaknya mungkin bukan hal yang baru, tetapi yang justru ironis adalah hampir dua pertiga masyarakat khususnya di Inggris tidak sadar atau waspada akan isu ini. ¨Kami sekarang lebih yakin dari sebelumnya bahwa memakan daging olahahan dapat meningkatkan risiko mengidap kanker usus," ujarnya. Daging merah, termasuk di dalamnya sapi, babi, domba, sejauh ini dikaitkan dengan kanker usus. Meskipun demikian para ahli merekomendasikan bahwa daging merah boleh dikonsumsi secara moderat (kurang dari 500g per hari) selama mengandung nutrisi yang sangat penting.
"Banyak hasil penelitian ilmiah yang menemukan bahwa kanker usus lebih sering ditemukan pada orang yang sering mengonsumsi daging merah dan produk daging olahan," ungkap Sara Hiom, direktur informasi kesehatan Cancer Research di Inggris: Sementara itu David Spiegelhalter, seorang Professor Public Understanding of Risk dari Cambridge University, berpendapat satu di antara 18 pria memiliki kemungkinan mengalami kanker usus, sedangkan wanita satu di antara 20. Hitungan tersebut, menurut David Spiegelhalter adalah risiko seumur hidup.
Nilai gizi Sosis merupakan produk polahan daging yang mempunyai nilai gizi tinggi. Komposisi gizi sosis berbeda-beda, tergantung pada jenis daging yang digunakan dan proses pengolahannya. Produk olahan sosis kaya energi, dan dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat. Selain itu, sosis juga memiliki kandungan kolesterol dan sodium yang cukup tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan penyakit jantung, stroke, dan hipertensi jika dikonsumsi berlebihan.
Ketentuan mutu sosis berdasarkan Standar Nasional Indonesia (SNI 01-3820-1995) adalah: kadar air maksimal 67 persen, abu maksimal 3 persen, protein minimal 13 persen, lemak maksimal 25 persen, serta karbohidrat maksimal 8 persen. Kenyataannya, banyak sosis di pasaran yang memiliki komposisi gizi jauh di bawah standar yang telah ditetapkan. Hal tersebut menunjukkan pemakaian jumlah daging kurang atau penggunaan bahan tidak sesuai komposisi standar sosis.
Baca label dengan teliti Seiring dengan berkembangnya industri pangan, saat ini telah dikembangkan sebuah inovasi baru, yaitu sosis siap makan tanpa perlu dimasak atau dipanaskan terlebih dulu. Dengan begitu, sosis dapat dimakan sebagai snack. Saat ini juga mulai banyak dijual sosis steril, yaitu sosis yang dibuat melalui proses sterilisasi sehingga awet untuk disimpan pada suhu kamar, selama beberapa waktu. Sosis tersebut tinggal dibuka dari kemasannya dan langsung dapat dimakan.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah kandungan lemak sosis yang cukup tinggi. Konsumsi sosis sebagai snack hendaknya memperhatikan faktor-faktor kesehatan seperti obesitas dan kolesterol. Sosis dengan kadar lemak rendah dapat menjadi pilihan. Karena itu, sebaiknya membiasakan diri membaca label secara seksama sebelum memutuskan untuk membeli dan mengonsumsi sosis.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:50 pm; edited 8 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Fri Oct 15, 2010 1:56 pm | |
| ASPIRIN PANGKAS RISIKO KANKER USUS Jumat, 22 Oktober 2010 | 11:51 WIB Kompas.com - Aspirin dosis rendah yang dikonsumsi setiap hari dalam jangka panjang efektif untuk mengurangi risiko kanker kolorektal hingga seperempatnya. Risiko kematian akibat penyakit ini juga berkurang hingga sepertiganya. Sebelumnya aspirin dosis rendah juga disarankan untuk pasien yang memiliki risiko tinggi terkena serangan jantung dan stroke. Dalam pencegahan kanker kolon atau kanker usus, aspirin dalam dosis tinggi memang efektif namun memiliki efek samping perdarahan. Karena itu para ahli mencoba meneliti apakah jika dosisnya diturunkan, efek perlindungannya tetap sama. Dalam penelitian ini para ilmuwan menindaklanjuti empat riset yang dilakukan di Inggris dan Swedia antara tahun 1980-1990 mengenai dampak aspirin pada pasien kardiovaskular.
Secara umum, dari penelitian selama enam tahun, partisipan diminta mengonsumsi aspirin dalam dosis 1200 mg atau pil placebo. Lebih dari 14.000 pasien yang diikuti riwayat kesehatannya selama 18 tahun, 391 menderita kanker kolorektal. Mereka yang mengonsumsi aspirin, risiko kankernya berkurang hingga 24 persen dan risiko kematian bisa ditekan hingga 35 persen. Hasil riset ini konsisten pada empat penelitian. Sayangnya tidak ada data mengenai efek samping penggunaan aspirin dalam jangka panjang karena sejak awal studi ini didesain untuk meneliti penyakit kardiovaskular.
"Hasil studi ini menunjukkan penggunaan aspirin dosis rendah dalam jangka panjang dikombinasikan dengan skrining mampu mengurangi insiden kanker di seluruh bagian kolon dan rektum," kata Peter Rothwell, dari Universitas Oxford. Kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker yang paling umum terjadi pada pria dan wanita dewasa. Risiko kanker ini tampaknya lebih sering pada mereka yang pola makannya tinggi lemak dan rendah sayur serta buah segar. Risiko kanker kolorektal juga lebih tinggi pada perokok, peminum dan mereka yang kurang berolahraga.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:50 pm; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Mon Oct 18, 2010 4:59 am | |
| TES SIGMOIDOSKOPI DETEKSI KANKER KOLOREKTAL Rabu, 28 April 2010 13:20 WIB Media Indonesia Penulis : Ikarowina Tarigan ORANG dewasa yang menjalani pemeriksaan sigmoidoskopi di antara usia 55 dan 64, menurut temuan peneliti, bisa mengurangi risiko menderita dan meninggal akibat kanker kolorektal. Sigmoidoskopi merupakan pemeriksaan cepat dengan menggunakan sigmoidoscope, pipa tipis lentur yang digunakan untuk memeriksa ketidaknormalan di usus bagian bawah.
Kanker kolorektal merupakan kanker nomor tiga paling umum diderita oleh penduduk dunia, dengan satu juta diagnosis dan 600.000 kematian per tahunnya. Tingkat harapan hidup tetap bagus kalau kanker belum menyebar. Karena itu, deteksi dini merupakan kunci utama. Banyak negara menawarkan tes darah dalam tinja sebagai screening awal. Tapi cara ini, menurut peneliti, hanya mengurangi angka kematian sebesar 15 persen.
Sigmoidoscope Kelenturan perangkat ini memungkinkan dokter melihat kanker dan pertumbuhan tanpa gejala (dikenal dengan adenoma) dalam dubur dan bagian bawah usus besar. Sekitar dua per tiga kasus kanker kolorektal terjadi di area ini. Berbeda dengan kolonoskopi, sigmoidoskopi tidak memeriksa bagian atas usus besar.
Dengan melihat fakta bahwa sebagian besar penderita kanker usus besar distal (dubur dan usus besar bagian bawah) akan memiliki adenoma pada usia 60, peneliti berasumsi bahwa mengangkat adenoma melalui sigmoidoskopi akan menyediakan perlindungan jangka panjang. Dalam sebuah studi jangka panjang, peneliti Inggris menemukan bahwa melakukan tes screening kanker sekali saja dalam rentang usia tersebut bisa mengurangi kejadian kanker kolorektal hingga 33 persen.
"Hasil percobaan kami menunjukkan bahwa sigmoidoskopi lentur ini aman dan praktis. Pemeriksaan yang dilakukan pada kelompok usia antara 55 dan 64 menawarkan perlindungan jangka panjang dari kanker kolorektal," tutur peneliti dalam studi yang dipublikasikan online di The Lancet, Selasa (27/4). Angka kejadian kanker kolorektal distal, terang peneliti, turun sebanyak 50 persen setelah mulai diuji coba 16 tahun lalu di Inggris, Wales dan Skotlandia dengan 113.000 partisipan. Kasus kanker kolorektal di antara partisipan yang menjalani screening berkurang sebanyak 33 persen dan kematian turun sebanyak 43 persen.
"Hasil ini dibatasi pada kanker dubur dan usus besar bagian bawah. Angka kejadian kanker ini berkurang sebanyak 50 persen di antara partisipan yang menjalani screening," terang peneliti Wendy Atkin dari Imperial College London, dan teman-temannya.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 1:49 pm; edited 6 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Mon Oct 18, 2010 6:39 am | |
| KOLONOSKOPI BISA SELAMATKAN 32.000 JIWA Kamis, 8 Juli 2010 | 12:13 WIB WASHINGTON, KOMPAS.com — Sekitar 32.000 jiwa bisa terselamatkan setiap tahun jika mereka yang berusia di atas 50 tahun rutin memeriksakan diri lewat prosedur kolonoskopi. Penyakit kanker kolorektal adalah penyebab kematian utama di dunia dan menempati peringkat kedua di Amerika Serikat setelah kanker paru-paru. Namun jutaan orang masih belum menjalani pemeriksaan yang direkomendasikan, demikian laporan baru Lembaga Pusat Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) pekan ini.
Pemeriksaan kolonoskopi adalah salah satu prosedur yang disarankan guna mengetahui apakah seseorang menderita kanker kolorektal atau kanker usus besar. Prosedur ini biasanya dilakukan setelah serangkaian pemeriksaan klinis lainnya, seperti pemeriksaan fisik, pemeriksaan rektal dengan jari, dan pemeriksan laboratorium (pemeriksaan tinja).
"Tragisnya, satu dari tiga orang yang mestinya diperiksa untuk mengetahui apakah menderita kanker usus belum melakukannya," ungkap Direktur CDC Thomas Frieden dalam satu pernyataan. "Setiap tahun, sebanyak 12.000 jiwa diselamatkan dari hasil mamografi, dan sebanyak 32.000 jiwa lagi dapat diselamatkan jika setiap orang dewasa berusia 50 tahun atau lebih memeriksakan diri secara rutin untuk mengetahui kemungkinan kanker usus," katanya.
CDC, yang membandingkan angka itu dengan pemeriksaan kanker payudara (penyebab utama kedua kematian akibat kanker di kalangan perempuan AS), menyatakan, "Lebih dari 22 juta pria dan wanita belum menjalani pemeriksaan kanker usus yang berpotensi menyelamatkan nyawa." Data di AS pada 2008 menunjukkan, mereka yang memiliki asuransi kesehatan tercatat sebagai kalangan yang paling mudah mendapatkan akses kolonoskopi, yakni mencapai 66 persen, dibandingkan non-asuransi yang hanya 36 persen.
Gejala kanker kolorektal antara lain perubahan kebiasaan pada buang air besar (BAB), yang meliputi frekuensi dan konsistensi, tanpa sebab yang jelas. Perubahan ini bisa berlangsung lebih dari enam minggu. Gejala lain adalah adanya darah dalam tinja, nyeri perut di bagian belakang, penurunan berat badan, dan rasa penuh meski sudah BAB.
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:20 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Tue Oct 19, 2010 9:45 am | |
| COLON INLOOP Adalah pemeriksaan terhadap kolon / usus besar. Pemeriksaan ini menggunakan media kontras berupa barium sulfat yang dilarutkan dalam air lalu dimasukkan kedalam usus besar melalui anus. Biasanya pemeriksaan ini dilakukan dengan teknik kontras ganda yaitu dengan mengkombinasikan media kontras barium sulfat ( sebagai pelapis mukosa / coating ) dengan udara yang dimasukkan ( berfungsi supaya rongga dari usus besar mengembang ). Pemeriksaan ini membutuhkan persiapan minimal sehari sebelum pemeriksaan yaitu dengan pengaturan pola makan dan pemberian obat pencahar sehingga usus besar yang diperiksa betul betul dalam keadaan kosong supaya terlihat dengan jelas kelainan yang ada. Setelah pemeriksaan selesai, pasien dianjurkan untuk banyak minum air putih untuk mempercepat pengeluaran media kontras yang masih tersisa di dalam usus.
Indikasi pemeriksaan ini adalah: 1. Gangguan pola buang air besar. 2. Adanya darah sewaktu buang air besar. 3. Adanya kecurigaan tumor pada rongga perut. 4. Dugaan adanya invaginasi usus yang biasa dijumpai pada anak. 5. Megakolon Hirschprung. 6. Nyeri abdomen dengan sebab yang tidak jelas.
Kontraindikasi pemeriksaan ini adalah: 1. Adanya perdarahan usus yang masif. 2. Adanya kebocoran usus.
Sumber: Bunga Rampai Masalah Kesehatan Iluni FK 1983
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:22 pm; edited 2 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Tue Oct 19, 2010 10:28 am | |
| O M D ( OESOPHAGUS-MAAG-DUODENUM ) Indikasi pemeriksaan ini adalah: 1. Gangguan proses menelan. 2. Muntah muntah atau rasa mual yang belum diketahui sebabnya. 3. Kecurigaan varises oesophagus. 4. Kecurigaan adanya massa tumor di dalam lumen ( rongga ) dan atau di luar lumen saluran cerna atas. 5. Melacak sebab perdarahan tersembunyi pada saluran cerna atas.
Kontraindikasi pemeriksaan ini adalah: 1. Perdarahan saluran cerna atas yang masih berlangsung. 2. Sumbatan total saluran cerna atas.
Pemeriksaan ini memerlukan persiapan berupa puasa minimal 8 jam sebelum pemeriksaan, agar lambung dalam keadaan kosong. Pemeriksaan ini menggunakan media kontras barium sulfat berbentuk larutan pekat yang diminumkan kepada pasien sambil dilakukan pemotretan dalam berbagai posisi. Untuk mendapatkan hasil yang lebih detail saat ini dipakai tehnik kontras ganda dengan memberi pasien Nabicarbonate-Nacitrate yang membentuk gas dilambung sehingga diperoleh detail lambung dalam keadaan mengembang. Setelah pemeriksaan selesai pasien sangat dianjurkan untuk banyak minum air putih untuk memudahkan dan mempercepat pengeluaran media kontras.
Beberapa komplikasi pemeriksaan: 1. Aspirasi ( biasanya media kontras berbentuk inert seperti barium sulfat diganti dengan media kontras larut dalam air dengan kandungan dasarnya yodium ). 2. Kebocoran barium. 3. Allergi ( biasanya tipe reaksi lambat ).
Pemeriksaan radiologi konvensional dengan menggunakan media kontras saat ini merupakan pemeriksaan yang sederhana. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan ditemukannya sarana sarana diagnostik baru seperti endoskopi, virtual kolonografi dengan CT scan atau MRI dan lain sebagainya, pemeriksaan radiologi konvensional ini masih tetap dikerjakan di semua sentra kesehatan karena selain prosedurnya lebih sederhana, juga lebih cepat dan biaya lebih murah serta masih diperlukan sebagai pelengkap pemeriksaan pemeriksaan dengan teknologi canggih masa kini.
Sumber: Bunga Rampai Masalah Kesehatan Iluni FK 1983
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:23 pm; edited 4 times in total |
|  | | gitahafas Moderator


Number of posts: 12069 Age: 53 Location: Jakarta Registration date: 2008-09-30
 | Subject: Re: Kesehatan Saluran Cerna Tue Oct 19, 2010 10:58 am | |
| PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK UNTUK SALURAN PENCERNAAN Pemeriksaan yang dilakukan untuk sistem pencernaan terdiri dari: # Endoskop (tabung serat optik yang digunakan untuk melihat struktur dalam dan untuk memperoleh jaringan dari dalam tubuh) # Rontgen # Ultrasonografi (USG) # Perunut radioaktif # Pemeriksaan kimiawi.
Pemeriksaan-pemeriksaan tersebut bisa membantu dalam menegakkan diagnosis, menentukan lokasi kelainan dan kadang mengobati penyakit pada sistem pencernaan. Pada beberapa pemeriksaan, sistem pencernaan harus dikosongkan terlebih dahulu; ada juga pemeriksaan yang dilakukan setelah 8-12 jam sebelumnya melakukan puasa; sedangkan pemeriksaan lainnya tidak memerlukan persiapan khusus. Langkah pertama dalam mendiagnosis kelainan sistem pencernaan adalah riwayat medis dan pemeriksaan fisik. Tetapi gejala dari kelainan pencernaan seringkali bersifat samar sehingga dokter mengalami kesulitan dalam menentukan kelainan secara pasti. Kelainan psikis (misalnya kecemasan dan depresi) juga bisa mempengaruhi sistem pencernaan dan menimbulkan gejala-gejalanya.
Pemeriksaan Kerongkongan 1. Pemeriksaan barium. Penderita menelan barium dan perjalanannya melewati kerongkongan dipantau melalui fluoroskopi (teknik rontgen berkesinambungan yang memungkinkan barium diamati atau difilmkan). Dengan fluoroskopi, dokter bisa melihat kontraksi dan kelainan anatomi kerongkongan (misalnya penyumbatan atau ulkus). Gambaran ini seringkali direkam pada sebuah film atau kaset video. Selain cairan barium, bisa juga digunakan makanan yang dilapisi oleh barium, sehingga bisa ditentukan lokasi penyumbatan atau bagian kerongkongan yang tidak berkontraksi secara normal.
Cairan barium yang ditelan bersamaan dengan makanan yang dilapisi oleh barium bisa menunjukkan kelainan seperti: - selaput kerongkongan (dimana sebagian kerongkongan tersumbat oleh jaringan fibrosa) - divertikulum Zenker (kantong kerongkongan) - erosi dan ulkus kerongkongan - varises kerongkongan - tumor.
2. Manometri. Manometri adalah suatu pemeriksaan dimana sebuah tabung dengan alat pengukur tekanan dimasukkan ke dalam kerongkongan. Dengan alat ini (alatnya disebut manometer) dokter bisa menentukan apakah kontraksi kerongkongan dapat mendorong makanan secara normal atau tidak.
3. Pengukuran pH kerongkongan. Mengukur keasaman kerongkongan bisa dilakukan pada saat manometri. Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan apakah terjadi refluks asam atau tidak.
4. Uji Bernstein (Tes Perfusi Asam Kerongkongan). Pada pemeriksaan ini sejumlah kecil asam dimasukkan ke dalam kerongkongan melalui sebuah selang nasogastrik. Pemeriksaan ini digunakan untuk menentukan apakah nyeri dada disebabkan karena iritasi kerongkongan oleh asam dan merupakan cara yang baik untuk menentukan adanya peradangan kerongkongan (esofagitis).
Intubasi Intubasi adalah memasukkan sebuah selang plastik kecil yang lentur melalui hidung atau mulut ke dalam lambung atau usus halus. Prosedur ini bisa digunakan untuk keperluan diagnostik maupun pengobatan. Intubasi bisa menyebabkan muntah dan mual, tetapi tidak menimbulkan nyeri. Ukuran selang yang digunakan bervariasi, tergantung kepada tujuan dilakukannya prosedur ini (apakah untuk diagnosik atau pengobatan).
1. Intubasi Nasogastrik. Pada intubasi nasogastrik, sebuah selang dimasukkan melalui hidung menuju ke lambung. Prosedur ini digunakan untuk mendapatkan contoh cairan lambung, untuk menentukan apakah lambung mengandung darah atau untuk menganalisa keasaman, enzim dan karakteristik lainnya. Pada korban keracunan, contoh cairan lambung ini dianalisa untuk mengetahui racunnya. Kadang selang terpasang agak lama sehingga lebih banyak contoh cairan yang bisa didapat.
Intubasi nasogastrik juga bisa digunakan untuk memperbaiki keadaan tertentu: - Untuk menghentikan perdarahan dimasukkan air dingin - Untuk memompa atau menetralkan racun diberikan karbon aktif - Pemberian makanan cair pada penderita yang mengalami kesulitan menelan.
Kadang intubasi nasogastrik digunakan secara berkesinambungan untuk mengeluarkan isi lambung. Ujung selang biasanya dihubungkan dengan alat penghisap, yang akan mengisap gas dan cairan dari lambung. Cara ini membantu mengurangi tekanan yang terjadi jika sistem pencernaan tersumbat atau tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.
2. Intubasi Nasoenterik. Pada intubasi nasoenterik, selang yang dimasukkan melalui hidung lebih panjang, karena harus melewati lambung untuk menuju ke usus halus. Prosedur ini bisa digunakan untuk: - mendapatkan contoh isi usus - mengeluarkan cairan - memberikan makanan.
Sebuah selang yang dihubungkan dengan suatu alat kecil di ujungnya bisa digunakan untuk biopsi (mengambil contoh jaringan usus halus untuk diperiksa secara mikroskopik atau untuk analisa aktivitas enzim). Lambung dan usus halus tidak dapat merasakan nyeri, sehingga kedua prosedur diatas tidak menimbulkan nyeri.
Endoskopi Endoskopi adalah pemeriksaan struktur dalam dengan menggunakan selang/tabung serat optik yang disebut endoskop. Endoskop yang dimasukkan melalui mulut bisa digunakan untuk memeriksa: - kerongkongan (esofagoskopi) - lambung (gastroskopi) - usus halus (endoskopi saluran pencernaan atas). Jika dimasukkan melalui anus, maka endoskop bisa digunakan untuk memeriksa: - rektum dan usus besar bagian bawah (sigmoidoskopi) - keseluruhan usus besar (kolonoskopi).
Diameter endoskop berkisar dari sekitar 0,6 cm-1,25 cm dan panjangnya berkisar dari sekitar 30 cm-150 cm. Sistem video serat-optik memungkinkan endoskop menjadi fleksibel menjalankan fungsinya sebagai sumber cahaya dan sistem penglihatan. Banyak endoskop yang juga dilengkapi dengan sebuah penjepit kecil untuk mengangkat contoh jaringan dan sebuah alat elektronik untuk menghancurkan jaringan yang abnormal.
Dengan endoskop dokter dapat melihat lapisan dari sistem pencernaan, daerah yang mengalami iritasi, ulkus, peradangan dan pertumbuhan jaringan yang abnormal. Biasanya diambil contoh jaringan untuk keperluan pemeriksaan lainnya. Endoskop juga bisa digunakan untuk pengobatan. Berbagai alat yang berbeda bisa dimasukkan melalui sebuah saluran kecil di dalam endoskop: Elektrokauter bisa digunakan untuk menutup suatu pembuluh darah dan menghentikan perdarahan atau untuk mengangkat suatu pertumbuhan yang kecil Sebuah jarum bisa digunakan untuk menyuntikkan obat ke dalam varises kerongkongan dan menghentikan perdarahannya.
Sebelum endoskop dimasukkan melalui mulut, penderita biasanya dipuasakan terlebih dahulu selama beberapa jam. Makanan di dalam lambung bisa menghalangi pandangan dokter dan bisa dimuntahkan selama pemeriksaan dilakukan. Sebelum endoskop dimasukkan ke dalam rektum dan kolon, penderita biasanya menelan obat pencahar dan enema untuk mengosongkan usus besar. Komplikasi dari penggunaan endoskopi relatif jarang. Endoskopi dapat mencederai atau bahkan menembus saluran pencernaan, tetapi biasanya endoskopi hanya menyebabkan iritasi pada lapisan usus dan perdarahan ringan.
Laparoskopi Laparoskopi adalah pemeriksaan rongga perut dengan menggunakan endoskop Laparoskopi biasanya dilakukan dalam keadaan penderita terbius total. Setelah kulit dibersihkan dengan antiseptik, dibuat sayatan kecil, biasanya di dekat pusar. Kemudian endoskop dimasukkan melalui sayatan tersebut ke dalam rongga perut. Dengan laparoskopi dokter dapat: - mencari tumor atau kelainan lainnya - mengamati organ-organ di dalam rongga perut - memperoleh contoh jaringan - melakukan pembedahan perbaikan.
Rontgen 1. Foto polos perut. Foto polos perut merupakan foto rontgen standar untuk perut, yang tidak memerlukan persiapan khusus dari penderita. Sinar X biasanya digunakan untuk menunjukkan: - suatu penyumbatan - kelumpuhan saluran pencernaan - pola udara abnormal di dalam rongga perut - pembesaran organ (misalnya hati, ginjal, limpa).
2. Pemeriksaan barium. Setelah penderita menelan barium, maka barium akan tampak putih pada foto rontgen dan membatasi saluran pencernaan, menunjukkan kontur dan lapisan dari kerongkongan, lambung dan usus halus. Barium yang terkumpul di daerah abnormal menunjukkan adanya ulkus, erosi, tumor dan varises kerongkongan. Foto rontgen bisa dilakukan pada waktu-waktu tertentu untuk menunjukkan keberadaan barium. Atau digunakan sebuah fluoroskop untuk mengamati pergerakan barium di dalam saluran pencernaan. Proses ini juga bisa direkam. Dengan mengamati perjalanan barium di sepanjang saluran pencernaan, dokter dapat menilai: - fungsi kerongkongan dan lambung - kontraksi kerongkongan dan lambung - penyumbatan dalam saluran pencernaan.
Barium juga dapat diberikan dalam bentuk enema untuk melapisi usus besar bagian bawah. Kemudian dilakukan foto rontgen untuk menunjukkan adanya polip, tumor atau kelainan struktur lainnya. Prosedur ini bisa menyebabkan nyeri kram serta menimbulkan rasa tidak nyaman. Barium yang diminum atau diberikan sebagai enema pada akhirnya akan dibuang ke dalam tinja, sehingga tinja tampak putih seperti kapur. Setelah pemeriksaan, barium harus segera dibuang karena bisa menyebabkan sembelit yang berarti. Obat pencahar bisa diberikan untuk mempercepat pembuangan barium.
Parasentesis Parasentesis adalah memasukkan jarum ke dalam rongga perut dan mengambil cairannya. Dalam keadaan normal, rongga perut diluar saluran pencernaan hanya mengandung sejumlah kecil cairan. Cairan bisa terkumpul dalam keadaan-keadaan tertentu, seperti perforasi lambung atau usus, penyakit hati, kanker atau pecahnya limpa. Parasentesis digunakan untuk memperoleh contoh cairan untuk keperluan pemeriksaan atau untuk membuang cairan yang berlebihan. Pemeriksaan fisik (kadang disertai dengan USG) dilakukan sebelum parasentesis untuk memperkuat dugaan bahwa rongga perut mengandung cairan yang berlebihan. Selanjutnya daerah kulit (biasanya tepat dibawah pusar) dibersihkan dengan larutan antiseptik dan dibius lokal. Melalui kulit dan otot dinding perut, dimasukkan jarum yang dihubungkan dengan tabung suntik ke dalam rongga perut dimana cairan terkumpul. Sejumlah kecil cairan diambil untuk pemeriksaan laboratorium atau sampai 0,96 liter cairan diambil untuk mengurangi pembengkakan perut.
USG Perut USG menggunakan gelombang udara untuk menghasilkan gambaran dari organ-organ dalam. USG bisa menunjukkan ukuran dan bentuk berbagai organ (misalnya hati dan pankreas) dan juga bisa menunjukkan daerah abnormal di dalamnya USG juga dapat menunjukkan adanya cairan. Tetapi USG bukan alat yang baik untuk menentukan permukaan saluran pencernaan, sehingga tidak digunakan untuk melihat tumor dan penyebab perdarahan di lambung, usus halus atau usus besar. USG merupakan prosedur yang tidak menimbulkan nyeri dan tidak memiliki resiko. Pemeriksa menekan sebuah alat kecil di dinding perut dan mengarahkan gelombang suara ke berbagai bagian perut dengan menggerakkan alat tersebut. Gambaran dari organ dalam bisa dilihat pada layar monitor dan bisa dicetak atau direkam dalam filem video.
Pemeriksaan Darah Samar Perdarahan di dalam saluran pencernaan dapat disebabkan baik oleh iritasi ringan maupun kanker yang serius. Bila perdarahannya banyak, bisa terjadi muntah darah, dalam tinja terdapat darah segar atau mengeluarkan tinja berwarna kehitaman (melena). Jumlah darah yang terlalu sedikit sehingga tidak tampak atau tidak merubah penampilan tinja, bisa diketahui secara kimia; dan hal ini bisa merupakan petunjuk awal dari adanya ulkus, kanker dan kelainan lainnya. Pada pemeriksaan colok dubur, dokter mengambil sejumlah kecil tinja . Contoh ini diletakkan pada secarik kertas saring yang mengandung zat kimia. Setelah ditambahkan bahan kimia lainnya, warna tinja akan berubah bila terdapat darah.
Sumber: Medicastore
Last edited by gitahafas on Sun Jul 17, 2011 12:26 pm; edited 4 times in total |
|  | | |
Similar topics |  |
|
| | Permissions in this forum: | You cannot reply to topics in this forum
| |
| |
| |